Anda di halaman 1dari 19

1

LAPORAN KASUS

1) Identitas Pasien
Nama : Roni Pandan
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tgl Lahir : 6 Juni 1976
Umur : 37 Tahun
No. RM : 649206
MRS : 1 Februari 2014
Ruangan : Lontara III BD Kamar 1 bed 1
Jaminan : Jamkesda

2) Anamnesis
KU : Nyeri kepala
AT : Nyeri kepala dialami sejak 3 jam yang lalu sebelum pasien masuk
rumah sakit wahidin akibat kecelakaan kerja. Pasien tidak memiliki
riwayat mual dan muntah menyemprot, pasien tidak memiliki riwayat
kejang. Ada riwayat pingsan selama 15 menit setelah pasien
terjatuh.
MT : Pasien sedang bekerja melas di sebuah supermarket, tiba-tiba pasien
terjatuh dari ketinggian 4 meter dengan kepala membentur lantai.

3) Pemeriksaan Fisis
PRIMARY SURVEY
A : Clear
B : Pernapasan 22x/menit, dada mengembang simetris kiri=kanan, Bunyi
napas vesikuler
C : TD 130/80 mmHg, Nadi 84 x/menit reguler, kuat angkat
D : GCS 14 (E
3
M
6
V
5
), pupil isokor 2,5 mm / 2,5 mm, RC +/+
E : Suhu 36,7C

2

SECONDARY SURVEY
Regio periorbita dextra
I : hematoma periorbita (+), oedema (+)
P : nyeri tekan (+), krepitasi (-)
Regio temporal dextra
I : Vulnus ekskoriasi ukuran 4x5 cm
P : Nyeri tekan (+), krepitasi (-)

4) Pemeriksaan Penunjang
Hasil Pemeriksaan laboratorium tanggal 1 Februari 2014.
PARAMETER NILAI NILAI RUJUKAN
WBC 16,74 x 10
3
/uL 4,00 10,0
RBC 4,88 x 106/uL 4,00 6,00
HGB 15,1gr/dL 12 16
HCT 43,0 % 37,0 48,0
PLT 224 x 106/Ul 150 400
CT 830 4 10
BT 3,00 1 7
PT 12,1 control 12,3 10 14
INR 1,01
APTT 28,6 control 22,8 22,0 30,0
HBsAg (ICT) Non Reactive Non Reactive
Anti HCV (ICT) Non Reactive Non Reactive
GDS 127 mg/dL 140
Ureum 21 mg/dL 10 50
Kreatinin 1,0 mg/dL L (<1,3), P(<1,1)
SGOT 24 U/L <38
SGPT 12 U/L <41
Natrium 143 mmol/l 136 145
Kalium 4,1 mmol/l 3,5 5,1
3

Klorida 111 mmol/l 97 111

Hasil pemeriksaan Foto Thorax posisi AP pada tanggal 1 Februari 2014

Corakan bronchovascular dalam batas normal
Tidak tampak proses spesifik aktif pada kedua paru
Cor : CTI dalam batas normal, aorta normal
Kedua sinus dan diafragma baik
Tulang-tulang intak
Kesan:
Tidak tampak kelainan radiologik pada foto thorax ini





4

Hasil pemeriksaan Foto Cervical tanggal 1 Februari 2014

Alignment cervical baik tidak tampak listhesis, kurva lordotik fisiologis
tampak melurus (muscle spasme)
Tidak tampak fraktur dan destruksi tulang
Mineralisasi tulang baik
Celah sendi tervisualisasi baik
Soft tissue yang tervisualisasi baik
Kesan :
Tidak tampak kelainan radiologik pada foto cervical ini.

5

Hasil pemeriksaan CT-Scan Kepala tanggal 1 Februari 2014

Kesan:
Bone window : fraktur zygomatica maxillaris dextra
Brain window : EDH frontal dextra, Kontusio cerebri frontal dextra

5) Resume
Seorang laki-laki usia 37 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan
nyeri kepala yang dialami sejak 3 jam yang lalu akibat kecelakaan kerja,
6

mual (-), muntah (-), kejang (-), riwayat pingsan (+). Dari pemeriksaan
fisis ditemukan GCS 14 (E
3
M
6
V
5
), pupil isokor 2,5 mm / 2,5 mm,
hematom dan nyeri tekan pada regio periorbita dextra serta tampak vulnus
ekskoriasi dan nyeri tekan pada regio temporal dextra. Hasil pemeriksaan
laboratorium ditemukan leukositosis (WBC 16.740 /uL), tidak ada
gangguan perdarahan, fungsi hepar dan ginjal. Hasil CT-Scan kepala
ditemukan kesan fraktur zygomatica maxillaris dextra, EDH frontal dextra,
dan kontusio cerebri frontal dextra.

6) Diagnosis
TCR GCS 14 (E
3
M
6
V
5
)
Epidural hematoma regio frontal dextra
Kontusio cerebri frontal dextra

7) Rencana terakhir
O2 4 lpm via NK
Head up 30
o

IVFD NaCl 0,9% 20 tetes/menit
Antibiotik : Ceftriaxon 1-2 gr/hari secara IV
H
2
antagonis : Ranitidin 50 mg setiap 6-8 jam secara IV
Analgetik : Ketorolac 30 mg / 8jam / iv
Rencana Kraniotomi
7

EPIDURAL HEMATOMA

I. PENDAHULUAN
Epidural hematom adalah suatu akumulasi darah yang terletak diantara
meningen (membran duramater) dan tulang tengkorak yang terjadi akibat trauma.
Duramater merupakan suatu jaringan fibrosa atau membran yang melapisi otak
dan medulla spinalis. Epidural dimaksudkan untuk organ yang berada disisi luar
duramater dan hematoma dimaksudkan sebagai masa dari darah.
1,2,3

Epidural hematom sebagai keadaan neurologist yang bersifat emergency
dan biasanya berhubungan dengan linear fraktur yang memutuskan arteri yang
lebih besar, sehingga menimbulkan perdarahan. Venous epidural hematom
berhubungan dengan robekan pembuluh vena dan berlangsung perlahan-lahan.
Arterial hematom terjadi pada middle meningeal artery yang terletak di bawah
tulang temporal. Perdarahan masuk ke dalam ruang epidural, bila terjadi
perdarahan arteri maka hematom akan cepat terjadi.
15

II. INSIDEN DAN EPIDEMIOLOGI
Di Amerika Serikat, 2% dari kasus trauma kepala mengakibatkan
hematoma epidural dan sekitar 10% mengakibatkan koma. Secara Internasional
frekuensi kejadian hematoma epidural hampir sama dengan angka kejadian di
Amerika Serikat. Orang yang beresiko mengalami EDH adalah orang tua yang
memiliki masalah berjalan dan sering jatuh
.2,9

60 % penderita hematoma epidural adalah berusia dibawah 20 tahun, dan
jarang terjadi pada umur kurang dari 2 tahun dan di atas 60 tahun. Angka
kematian meningkat pada pasien yang berusia kurang dari 5 tahun dan lebih dari
55 tahun. Lebih banyak terjadi pada laki-laki dibanding perempuan dengan
perbandingan 4:1.
9

Tipe- tipe :
6

1. Epidural hematoma akut (58%) perdarahan dari arteri
2. Subacute hematoma ( 31 % )
3. Cronic hematoma ( 11%) perdarahan dari vena
8

III. ETIOLOGI
Epidural hematom terjadi akibat suatu trauma kepala, biasanya
disertai dengan fraktur pada tulang tengkorak dan adanya laserasi arteri. Epidural
hematom juga bisa disebabkan akibat pemakaian obat obatan antikoagulan,
hemophilia, penyakit liver, penggunaan aspirin, sistemik lupus erimatosus, fungsi
lumbal. Spinal epidural hematom disebabkan akibat adanya kompresi pada
medulla spinalis. Gejala klinisnya tergantung pada dimana letak terjadinya
penekanan.
2,9


IV. ANATOMI OTAK
Otak di lindungi dari cedera oleh rambut, kulit dan tulang yang
membungkusnya, tanpa perlindungan ini, otak yang lembut yang membuat kita
seperti adanya, akan mudah sekali terkena cedera dan mengalami kerusakan.
Selain itu, sekali neuron rusak, tidak dapat di perbaiki lagi. Cedera kepala dapat
mengakibatkan malapetaka besar bagi seseorang. Sebagian masalah merupakan
akibat langsung dari cedera kepala. Efek-efek ini harus dihindari dan di temukan
secepatnya dari tim medis untuk menghindari rangkaian kejadian yang
menimbulkan gangguan mental dan fisik dan bahkan kematian.
1

Tepat di atas tengkorak terletak galea aponeurotika, suatu jaringan fibrosa,
padat dapat di gerakkan dengan bebas, yang memebantu menyerap kekuatan
trauma eksternal. Di antar kulit dan galea terdapat suatu lapisan lemak dan lapisan
membrane dalam yang mngandung pembuluh-pembuluih besar. Bila robek
pembuluh ini sukar mengadakan vasokontriksi dan dapat menyebabkan
kehilangan darah yang berarti pada penderita dengan laserasi pada kulit kepala.
Tepat di bawah galea terdapat ruang subaponeurotik yang mengandung vena
emisaria dan diploika. Pembuluh-pembuluh ini dapat emmbawa infeksi dari kulit
kepala sampai jauh ke dalam tengkorak, yang jelas memperlihatkan betapa
pentingnya pembersihan dan debridement kulit kepala yang seksama bila galea
terkoyak.
1

Pada orang dewasa, tengkorak merupakan ruangan keras yang tidak
memungkinkan perluasan intracranial. Tulang sebenarnya terdiri dari dua dinding
9

atau tabula yang di pisahkan oleh tulang berongga. Dinding luar di sebit tabula
eksterna, dan dinding bagian dalam di sebut tabula interna. Struktur demikian
memungkinkan suatu kekuatan dan isolasi yang lebih besar, dengan bobot yang
lebih ringan . tabula interna mengandung alur-alur yang berisiskan arteria
meningea anterior, media, dan posterior. Apabila fraktur tulang tengkorak
menyebabkan terkoyaknya salah satu dari arteri-arteri ini, perdarahan arterial yang
di akibatkannya, yang tertimbun dalam ruang epidural, dapat manimbulkan akibat
yang fatal kecuali bila di temukan dan diobati dengan segera.
Pelindung lain yang melapisi otak adalah meninges. Ketiga lapisan
meninges adalah dura mater, arachnoid, dan pia mater
1

1. Dura mater cranialis, lapisan luar yang tebal dan kuat. Terdiri atas dua
lapisan:
Lapisan endosteal (periosteal) sebelah luar dibentuk oleh periosteum yang
membungkus dalam calvaria
Lapisan meningeal sebelah dalam adalah suatu selaput fibrosa yang kuat
yang berlanjut terus di foramen mgnum dengan dura mater spinalis yang
membungkus medulla spinalis
2. Arachnoidea mater cranialis, lapisan antara yang menyerupai sarang laba-
laba
3. Pia mater cranialis, lapis terdalam yang halus yang mengandung banyak
pembuluh darah.

V. PATOFISIOLOGI
Pada hematom epidural, perdarahan terjadi di antara tulang tengkorak dan
dura meter. Perdarahan ini lebih sering terjadi di daerah temporal bila salah satu
cabang arteria meningea media robek. Robekan ini sering terjadi bila fraktur
tulang tengkorak di daerah bersangkutan. Hematom dapat pula terjadi di daerah
frontal atau oksipital.
8

Arteri meningea media yang masuk di dalam tengkorak melalui foramen
spinosum dan jalan antara durameter dan tulang di permukaan dan os temporale.
Perdarahan yang terjadi menimbulkan hematom epidural, desakan oleh hematoma
10

akan melepaskan durameter lebih lanjut dari tulang kepala sehingga hematom
bertambah besar.
8

Hematoma yang membesar di daerah temporal menyebabkan tekanan pada
lobus temporalis otak kearah bawah dan dalam. Tekanan ini menyebabkan bagian
medial lobus mengalami herniasi di bawah pinggiran tentorium. Keadaan ini
menyebabkan timbulnya tanda-tanda neurologik yang dapat dikenal oleh tim
medis.
1

Tekanan dari herniasi unkus pda sirkulasi arteria yang mengurus formation
retikularis di medulla oblongata menyebabkan hilangnya kesadaran. Di tempat ini
terdapat nuclei saraf cranial ketiga (okulomotorius). Tekanan pada saraf ini
mengakibatkan dilatasi pupil dan ptosis kelopak mata. Tekanan pada lintasan
kortikospinalis yang berjalan naik pada daerah ini, menyebabkan kelemahan
respons motorik kontralateral, refleks hiperaktif atau sangat cepat, dan tanda
babinski positif.
1

Dengan makin membesarnya hematoma, maka seluruh isi otak akan
terdorong kearah yang berlawanan, menyebabkan tekanan intracranial yang besar.
Timbul tanda-tanda lanjut peningkatan tekanan intracranial antara lain kekakuan
deserebrasi dan gangguan tanda-tanda vital dan fungsi pernafasan.
1

Karena perdarahan ini berasal dari arteri, maka darah akan terpompa terus
keluar hingga makin lama makin besar. Ketika kepala terbanting atau terbentur
mungkin penderita pingsan sebentar dan segera sadar kembali. Dalam waktu
beberapa jam , penderita akan merasakan nyeri kepala yang progersif memberat,
kemudian kesadaran berangsur menurun. Masa antara dua penurunan kesadaran
ini selama penderita sadar setelah terjadi kecelakaan di sebut interval lucid.
Fenomena lucid interval terjadi karena cedera primer yang ringan pada Epidural
hematom. Kalau pada subdural hematoma cedera primernya hamper selalu berat
atau epidural hematoma dengan trauma primer berat tidak terjadi lucid interval
karena pasien langsung tidak sadarkan diri dan tidak pernah mengalami fase
sadar.
8

Sumber perdarahan :
8

Artery meningea ( lucid interval : 2 3 jam )
11

Sinus duramatis
Diploe (lubang yang mengisis kalvaria kranii) yang berisi a. diploica dan
vena diploica

Hematom epidural akibat perdarahan arteri meningea media,terletak antara
duramater dan lamina interna tulang pelipis.
Os Temporale (1), Hematom Epidural (2), Duramater (3), Otak terdorong kesisi
lain (4)
(Dikutip dari kepustakaan 8)

Epidural hematoma merupakan kasus yang paling emergensi di bedah
saraf karena progresifitasnya yang cepat karena durameter melekat erat pada
sutura sehingga langsung mendesak ke parenkim otak menyebabkan mudah
herniasi trans dan infra tentorial.Karena itu setiap penderita dengan trauma kepala
yang mengeluh nyeri kepala yang berlangsung lama, apalagi progresif memberat,
harus segera di rawat dan diperiksa dengan teliti.
8,10


VI. GAMBARAN KLINIS
Saat awal kejadian, pada sekitar 20% pasien, tidak timbul gejala apa apa.
Tapi kemudian pasien tersebut dapat berlanjut menjadi pingsan dan
bangun bangun dalam kondisi kebingungan.
Beberapa penderita epidural hematom mengeluh sakit kepala
Muntah muntah
12

Kejang kejang
Pasien dengan epidural hematom yang mengenai fossa posterior akan
menyebabkan keterlambatan atau kemunduran aktivitas yang drastis.
Penderita akan merasa kebingungan dan berbicara kacau, lalu beberapa
saat kemudian menjadi apneu, koma, kemudian meninggal.
Respon chusing yang menetap dapat timbul sejalan dengan adanya
peningkatan tekanan intara kranial, dimana gejalanya dapat berupa :
1. Hipertensi
2. Bradikardi
3. Bradipneu
kontusio, laserasi atau tulang yang retak dapat diobservasi di area trauma
Dilatasi pupil, lebam, pupil yang terfixasi, bilateral atau ipsilateral kearah
lesi, adanya gejala gejala peningkatan tekanan intrakranial, atau herniasi.
Adanya tiga gejala klasik sebagai indikasi dari adanya herniasi yang
menetap, yaitu:
1. Coma
2. Fixasi dan dilatasi pupil
3. Deserebrasi
Adanya hemiplegi kontralateral lesi dengan gejala herniasi harus dicurigai
adanya epidural hematom

VII. GAMBARAN RADIOLOGI
Dengan CT-scan dan MRI, perdarahan intrakranial akibat trauma kepala
lebih mudah dikenali.
2

Foto Polos Kepala
Pada foto polos kepala, kita tidak dapat mendiagnosa pasti sebagai
epidural hematoma. Dengan proyeksi Antero-Posterior (A-P), lateral dengan sisi
yang mengalami trauma pada film untuk mencari adanya fraktur tulang yang
memotong sulcus arteria meningea media.
10


13


Fraktur impresi dan linier pada tulang parietal, frontal dan temporal
(Dikutip dari kepustakaan 7)

Computed Tomography (CT-Scan)
Pemeriksaan CT-Scan dapat menunjukkan lokasi, volume, efek, dan
potensi cedara intracranial lainnya. Pada epidural biasanya pada satu bagian saja
(single) tetapi dapat pula terjadi pada kedua sisi (bilateral), berbentuk bikonfeks,
paling sering di daerah temporoparietal. Densitas darah yang homogen
(hiperdens), berbatas tegas, midline terdorong ke sisi kontralateral. Terdapat pula
garis fraktur pada area epidural hematoma, Densitas yang tinggi pada stage yang
akut ( 60 90 HU), ditandai dengan adanya peregangan dari pembuluh darah.
6,8,16



Gambar 1. Gambaran CT-Scan Hematoma Epidural di Lobus Fronal kanan.
(Di kutip dari kepustakaan 9)

14


Gambar 2. Gambaran CT-Scan fraktur tulang frontal kanan di anterior sutura
coronalis (Di kutip dari kepustakaan 9)

Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI akan menggambarkan massa hiperintens bikonveks yang menggeser
posisi duramater, berada diantara tulang tengkorak dan duramater. MRI juga dapat
menggambarkan batas fraktur yang terjadi. MRI merupakan salah satu jenis
pemeriksaan yang dipilih untuk menegakkan diagnosis.
9,10,16


Gambar 3. Gambaran MRI Hematoma Epidural.
(Di kutip dari kepustakaan 4)

VIII. DIAGNOSIS BANDING
1. Hematoma subdural
Hematoma subdural terjadi akibat pengumpulan darah diantara dura mater
dan arachnoid. Secara klinis hematoma subdural akut sukar dibedakan dengan
15

hematoma epidural yang berkembang lambat. Bisa di sebabkan oleh trauma hebat
pada kepala yang menyebabkan bergesernya seluruh parenkim otak mengenai
tulang sehingga merusak a. kortikalis. Biasanya di sertai dengan perdarahan
jaringan otak. Gambaran CT-Scan hematoma subdural, tampak penumpukan
cairan ekstraaksial yang hiperdens berbentuk bulan sabit.
10


Hematoma Subdural Akut
(Dikutip dari kepustakaan 4)

2. Hematoma Subarachnoid
Perdarahan subarakhnoid terjadi karena robeknya pembuluh-pembuluh
darah di dalamnya.
10


Kepala panah menunjukkan hematoma subarachnoid, panah hitam menunjukkan
hematoma subdural dan panah putih menunjukkan pergeseran garis tengah ke
kanan
(Di kutip dari kepustakaan 4)
16

IX. PENATALAKSANAAN
1. Memperbaiki/mempertahankan fungsi vital
Usahakan agar jalan nafas selalu babas, bersihkan lendir dan darah yang
dapat menghalangi aliran udara pemafasan. Bila perlu dipasang pipa
naso/orofaringeal dan pemberian oksigen. Infus dipasang terutama untuk
membuka jalur intravena : guna-kan cairan NaC10,9% atau Dextrose in saline.
12,15
2. Mengurangi edema otak
Beberapa cara dapat dicoba untuk mengurangi edema otak:
12,15

a.Hiperventilasi
Bertujuan untuk menurunkan paO2 darah sehingga mencegah
vasodilatasi pembuluh darah. Selain itu suplai oksigen yang terjaga dapat
membantu menekan metabolisme anaerob, sehingga dapat mengurangi
kemungkinan asidosis. Bila dapat diperiksa, paO2 dipertahankan > 100
mmHg dan paCO2 diantara 2530 mmHg.
b.Cairan hiperosmoler
Umumnya digunakan cairan Manitol 1015% per infus untuk
menarik air dari ruang intersel ke dalam ruang intra-vaskular untuk
kemudian dikeluarkan melalui diuresis. Untuk memperoleh efek yang
dikehendaki, manitol hams diberikan dalam dosis yang cukup dalam
waktu singkat, umumnya diberikan : 0,51 gram/kg BB dalam 1030 menit.
Cara ini berguna pada kasus-kasus yang menunggu tindak-an bedah. Pada
kasus biasa, harus dipikirkan kemungkinan efek rebound; mungkin dapat
dicoba diberikan kembali (diulang) setelah beberapa jam atau keesokan
harinya.
c.Kortikosteroid
Penggunaan kortikosteroid telah diperdebatkan manfaatnya sejak
beberapa waktu yang lalu. Pendapat akhir-akhir ini cenderung menyatakan
bahwa kortikosteroid tidak/kurang ber-manfaat pada kasus cedera kepala.
Penggunaannya berdasarkan pada asumsi bahwa obat ini menstabilkan
sawar darah otak.
Dosis parenteral yang pernah dicoba juga bervariasi :
17

Dexametason pernah dicoba dengan dosis sampai 100 mg bolus
yang diikuti dengan 4 dd 4 mg. Selain itu juga Metilprednisolon pernah
digunakan dengan dosis 6 dd 15 mg dan Triamsinolon dengan dosis 6 dd
10 mg.
d.Barbiturat
Digunakan untuk membius pasien sehingga metabolisme otak
dapat ditekan serendah mungkin, akibatnya kebutuhan oksigen juga akan
menurun; karena kebutuhan yang rendah, otak relatif lebih terlindung dari
kemungkinan kemsakan akibat hipoksi, walaupun suplai oksigen
berkurang. Cara ini hanya dapat digunakan dengan pengawasan yang
ketat.
e.Cara lain
Pada 24/48 jam pertama, pemberian cairan dibatasi sampai 1500--
2000 ml/24 jam agar tidak memperberat edema jaringan. Ada laporan
yang menyatakan bahwa posisi tidur dengan kepala (dan leher) yang
diangkat 30 akan menurunkan tekanan intrakranial.
Posisi tidur yang dianjurkan, terutama pada pasien yang berbaring
lama, ialah: kepala dan leher diangkat 30. sendi lutut diganjal,
membentuk sudut 150. telapak kaki diganjal, membentuk sudut 90
dengan tungkai bawah
3. Terapi Operatif
Operasi di lakukan bila terdapat :
Volume hamatom > 30 ml ( kepustakaan lain > 44 ml)
Keadaan pasien memburuk
Pendorongan garis tengah > 5 mm
fraktur tengkorak terbuka, dan fraktur tengkorak depres dengan kedalaman
>1 cm
EDH dan SDH ketebalan lebih dari 5 mm dan pergeseran garis tengah
dengan GCS 8 atau kurang
Tanda-tanda lokal dan peningkatan TIK > 25 mmHg
18

Indikasi operasi di bidang bedah saraf adalah untuk life saving dan
untuk fungsional saving. Jika untuk keduanya tujuan tersebut maka operasinya
menjadi operasi emergenci. Biasanya keadaan emergenci ini di sebabkan oleh lesi
desak ruang.
Indikasi untuk life saving adalah jika lesi desak ruang bervolume :
> 25 cc desak ruang supra tentorial
> 10 cc desak ruang infratentorial
> 5 cc desak ruang thalamus
Sedangkan indikasi evakuasi life saving adalah efek masa yang signifikan :
Penurunan klinis
Efek massa dengan volume > 20 cc dengan midline shift > 5 mm dengan
penurunan klinis yang progresif.
Tebal epidural hematoma > 1 cm dengan midline shift > 5 mm dengan
penurunan klinis yang progresif.

KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi adalah:
12,15
Kelainan neurologik (deficit neurologis), berupa sindrom gegar otak dapat
terjadi dalam beberapa jam sampai beberapa bulan.
Kondisi yang kacau, baik fisik maupun mental
Kematian

PROGNOSIS
Prognosa biasanya tergantung dari besarnya lesi, lokasi lesi, Kesadaran
saat masuk operasi, kematian tidak akan terjadi untuk pasien pasien yang belum
koma sebelum operasi. Kematian terjadi sekitar 9% pada pasien epidural
hematom dengan kesadaran yang menurun. 20% terjadi kematian terhadap pasien
pasien yang mengalami koma yang dalam sebelum dilakukan pembedahan.
12,15

19

DAFTAR PUSTAKA
1. Anderson S. McCarty L., Cedera Susunan Saraf Pusat, Patofisiologi, edisi 4,
Anugrah P. EGC, Jakarta,1995, 1014-1016
2. Anonym,Epiduralhematoma,www.braininjury.com/epidural-subdural-
hematoma.html.
3. Anonym,Epidural hematoma, www.nyp.org
4. Anonym, Intracranial Hemorrhage, www.ispub.com
5. Buergener F.A, Differential Diagnosis in Computed Tomography, Baert
A.L. Thieme Medical Publisher, New York,1996, 22
6. Dahnert W, MD, Brain Disorders, Radioogy Review Manual, second
edition, Williams & Wilkins, Arizona, 1993, 117 178
7. Ekayuda I., Angiografi, Radiologi Diagnostik, edisi kedua, Balai Penerbit
FKUI, Jakarta, 2006, 359-366
8. Hafid A, Epidural Hematoma, Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi kedua, Jong
W.D. EGC, Jakarta, 2004, 818-819
9. Mc.Donald D., Epidural Hematoma, www.emedicine.com
10. Markam S, Trauma Kapitis, Kapita Selekta Neurologi, Edisi kedua,
Harsono, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 2005, 314
11. Mardjono M. Sidharta P., Mekanisme Trauma Susunan Saraf, Neurologi
Kilinis Dasar, Dian Rakyat, Jakarta, 2003, 254-259
12. Price D., Epidural Hematoma, www.emedicine.com
13. Paul, Juhls, The Brain And Spinal Cord, Essentials of Roentgen
Interpretation, fourth edition, Harper & Row, Cambridge, 1981, 402-404
14. Sain I, Asuhan Keperawatan Klien Dengan Trauma Kapitis,
http://iwansain.wordpress.com/2007
15. Soertidewi L. Penatalaksanaan Kedaruratan Cedera Kranio Serebral,
Updates In Neuroemergencies, Tjokronegoro A., Balai Penerbit FKUI,
Jakarta, 2002, 80
16. Sutton D, Neuroradiologi of The Spine, Textbook of Radiology and
Imaging, fifth edition, Churchill Living Stone, London,1993, 1423