Anda di halaman 1dari 4

Praktikum mengenai sediaan apus darah kali ini bertujuan untuk mengamati

dan menilai berbagai unsure sel darah pada manusia seperti sel darah merah
(eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit). Berdasarkan
Murtiati, dkk (2010), sediaan apus darah juga dapat digunakan untuk
mengidentifikasi adanya parasit seperti malaria, microfilaria, dan lain-lain. Namun
pada praktikum kali ini hanya dilakukan pengamatan untuk mengetahui deskripsi
bentuk dari berbagai sel darah dan menilai persentase sel darah yang teramati.
Sediaan apus darah dilakukan dengan menggunakan bahan darah segar
yang berasal dari kapiler atau vena OP. OP pada praktikum ini adalah nurhayati.
Pertama praktikan mengambil darah dari ujung jari telunjuk tangan kiri
menggunakan blood lancet atau slat suntik kemudian mencampurkannya dengan
EDTA supaya tidak cepat membeku. Setelah itu praktikan menaruhnya ke kaca
objek. Kemudian menyentuhkan kaca penutup ke tetesan darah hingga darah
melebar. Selanjutnya membentuk sudut 30-40
0
dengan kaca penutup, lalu
digerakkan ke kiri membentuk apusan darah yang tidak terlalu tipis ataupun terlalu
tebal karena jika terlalu tebal maka saat pengamatan di bawah mikroskop akan
terlihat tidak jelas karena sel darah bertumpuk.
Setelah mendapat sediaan yang bagus (tidak tebal dan tipis), maka
membiarkannya hingga kering, setelah itu meneteskan metanol ke atas sediaan
hingga bagian yang terlapisi darah tertutup semuanya dan membiarkannya selama 5
menit. Fungsi metanol adalah untuk memfiksasi darah sehingga darah tidak hilang
saat diamati. Selanjutnya sediaan diteteskan dengan giemsa yang telah diencerkan
dengan air dan membiarkannya selama 20 menit dan membilasnya dengan air dan
mengeringkannya. Fungsi giemsa adalah untuk mewarnai darah sehingga mudah
dibedakan dan dapat terlihat jelas saat diamati. Waktu perendaman ini sebaiknya
jangan terlalu lama karena darah bisa tidak terlihat akibat pewarnaan yang terlalu
pekat.
Selanjutnya setelah sediaan apus darah telah selesai, maka dilakukan
pengamatan dengan menggunakan mikroskop untuk memeriksa sediaan apus
darah. Sebelum pengamatan sediaan apus darah diteteskan minyak emersi terlebih
dahulu, tujuan pemberian minyak emersi ini yaitu untuk mencegah kerusakan pada
mikroskop. Dengan perbesaran lemah (100x), praktikan hanya melihat bulat-bulat
kecil yang sangat banyak dan belum terlihat jelas perbedaan antara leukosit, eritrosit
dan trombosit.
Setelah menggunakan pembesaran 400x, praktikan menemukan ukuran
eritrosit yang kecil , berbentuk bulat bikonkaf tidak berinti, dan berwarna ungu
bening. Warna ungu ini akibat pewarnaan dengan giemsa, sehingga warna darah
yang semula merah, setelah diamati di mikroskop berubah menjadi ungu. Hal ini
sesuai dengan literatur yaitu eritrosit berbentuk cakram bikonkaf atau cakram pipih,
sel tidak berinti dan tidak punya organel seperti sel-sel lain. Eritrosit berukuran
sekitar 7,5m dan bagian pusat lebih tipis dan lebih terang dari bagian tepinya.
Selain itu, eritrosit mengandung hemoglobin yang berfungsi untuk mentransport
O
2
(Dikaamelia, 2008).
Pembentukan eritrosit atau eritropoiesis terjadi di sumsum merah yang
terletak pada tulang belakang, sternum (tulang dada), tulang rusuk, tengkorak,
tulang belikat, tulang panggul serta tulang-tulang anggota badan (kaki dan tangan).
Eritrosit berumur pendek. Tidak adanya inti pada eritrosit menyebabkan eritrosit
tidak mampu mensintesis protein untuk tumbuh, atau untuk memperbanyak diri
(Dikaamelia, 2008). Namun dengan tidak adanya inti pada eritrosit dan dengan
bentuk yang berupa bikonkaf maka eritrosit memiliki kemampuan yang optimal
dalam mengikat oksigen sehingga kebutuhan akan oksigen menjadi terpenuhi. Itu
sebabnya apabila seseorang menderita penyakit sel sabit, yaitu penyakit yang
disebabkan karena struktur eritrositnya berbentuk seperti bulan sabit, memiliki
kemampuan mengikat oksigen yang lebih sedikit sehingga membuat penderita
menjadi anemia dan lemah.
Pada pengamatan di praktikum ini tidak ditemukan eritrosit yang berbentuk
selain bikonkaf, itu artinya OP tidak menderita kelainan struktur eritrosit. Kelainan
pada struktur eritrosit dapat disebabkan karena faktor genetika ataupun lingkungan.
Kemudian didapatkan beberapa jenis leukosit, namun praktikan tidak mampu
mengidentifikasinya apakah termasuk basofil, eosinofil, batang, neutrofil, limfosit
ataupun monosit. Hal tersebut karena keterbatasan pembesaran pada mikroskop
yang digunakan sehingga tidak dapat terlihat dengan jelas bentuk dari inti sel
leukosit tersebut. Penggolongan leukisit menjadi 5 macam merupakan
penggolongan berdasarkan ukuran sel, bentuk nukleus, da ada tidaknya granula
sitoplasma sehingga perlu pengamatan yang lebih teliti dan perbesaran mikroskop
yang baik serta dapat pula dibantu dengan menggunakan minyak emersi.
Berdasarkan referensi, sel neutrofil memiliki granula kecil berwarna merah
muda dalam sitoplasmanya. Nukleusnya memiliki tiga sampai lima lobus yang
terhubungkan dengan benang kromatin tipis. Diameternya mencapai 9 m samapai
12 m. Sel eosinofil memiliki granula sitoplasma yang kasar dan besar, dengan
pewarnaan oranye kemerahan. Sel ini memiliki nukleus berlobus dua, dan
berdiameter 12 m sampai 15 m. Berfungsi sebagai fagositik lemah. Sedangkan
basofil memiliki sejumlah granula sitoplasma besar yang bentuknya tidak beraturan
dan akan berwarna keunguan sampai hitam serta memperlihatkan nukleus
berbentuk S. diameternya sekitar 12 m sampai 15 m (Sloane, 2003).
Untuk kelompok leukosit yang merupakan agranulosit yaitu lomfosit dan
monosit, diperoleh data berdasarkan refernsi bahwa limfosit bergaris tengah 6-8 m,
20-30% dari leukosit darah, memiliki inti yang relatif besar, bulat sedikit cekung pada
satu sisi. Sitoplasmanya sedikit dan kandungan basofilik dan azurofiliknya sedikit
(Efendi, 2003). Sedangkan monosit merupakan sel leukosit yang besar 3-8% dari
jumlah leukosit normal, diameter 9-10 um tapi pada sediaan darah kering diameter
mencapai 20 m atau lebih. Inti biasanya eksentris, adanya lekukan yang dalam
berbentuk tapal kuda (Efendi, 2003).
Menurut referensi yang kami peroleh, jenis sel darah putih yang paling
banyak adalah netrofil dengan presentase sebesar 50-70 %, sedangkan yang paling
sedikit adalah basofil, yaitu 0,1-0,4 %.
Monosit berfungsi untuk membunuh bakteri, fungsi monosit ini sama dengan
neutrofil, hanya jumlahnya saja yang berbeda. Jumlah monosit yang tinggi
menunujukkan disel sedang terjadi infeksi. Berdasarkan pengamatan, jumlah monsit
sedikit, sehingga neutrofilpun kurang aktif dalam merespon perusakan jaringan.
Dengan kata lain, jumlah neutrofil dalam darah yang seharusnya mempunyai
kadar/jumlah yang tinggi dalam darah menjadi menurun jumlahnya. Limfosit
berfungsi sebagai elemen kunci dalam respon kekebalan tubuh. Kadar limfosit yang
banyak diduga karena sedikitnya jumlah neutofil dalam darah. Sehingga untuk
mempertahankan kekebalan tubuh, maka limfositlah yang bekerja secara aktif.
Neutrofil berhubungan dengan pertahanan tubuh terhadap infeksi bakteri
serta proses peradangan kecil lainnya, serta biasanya juga yang memberikan
tanggapan pertama terhadap infeksi bakteri; aktivitas dan matinya neutrofil dalam
jumlah yang banyak menyebabkan adanya nanah. Eosinofil terutama berhubungan
dengan infeksi parasit, dengan demikian meningkatnya eosinofil menandakan
banyaknya parasit. Basofil terutama bertanggung jawab untuk memberi reaksi alergi
antigen dengan jalan mengeluarkan histamin kimia yang menyebabkan peradangan.
Limfosit lebih umum dalam sistem limfa. Darah mempunyai tiga jenis limfosit
yaitu Sel B membuat antibodi yang mengikat patogen lalu menghancurkannya. (Sel
B tidak hanya membuat antibodi yang dapat mengikat patogen, tapi setelah adanya
serangan, beberapa sel B akan mempertahankan kemampuannya dalam
menghasilkan antibodi sebagai layanan sistem 'memori'). Sel T mengkoordinir
tanggapan ketahanan (yang bertahan dalam infeksi ) serta penting untuk menahan
bakteri intraseluler. Sel natural killer merupakan sel pembunuh alami (natural killer,
NK) yang dapat membunuh sel tubuh yang tidak menunjukkan sinyal bahwa dia
tidak boleh dibunuh karena telah terinfeksi atau telah menjadi kanker.
Sedangkan trombosit yang teramati yaitu trombosit berukuran sangat kecil
terlihat seperti titik atau bercak yang berada di luar sel dan berwarna ungu. Hal ini
sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa trombosit adalah sel darah tak
berinti, berbentuk cakram dengan diameter 1 - 4 mikrometer dan volume 7 8 fl..
Nilai normal trombosit bervariasi sesuai metode yang dipakai. Jumlah trombosit
normal menurut Deacie adalah 150 400 x 109 / L. Bila dipakai metode Rees Ecker
nilai normal trombosit 140 340 x 109/ L, dengan menggunakan Coulter Counter
harga normal 150 350 x 109/L.
Dari ketiga macam sel darah yang teramati diperoleh persentasenya yaitu
eritrosit sebanyak 70% dari lapang pandang yang diamati, leukosit sebanyak 10%
dan trombosit sebanyak 20%. Berdasarkan referensi juga disebutkan bahwa
persentase sel darah merah (eritrosit) pada tubuh merupakan yang paling besar.
Sedangkan leukosit memiliki jumlah yang lebih sedikit daripada sel eritrosit. Dalam
Sloane (2003), disebutkan bahwa jumlah eritrosit pada laki-laki sehat mencapai 4,2
hingga 5,5 juta sel per mm
3
dan sekitar 3,2 hingga 5,2 juta per mm
3
pada wanita
sehat, sedangkan jumlah normal leukosit adalah 7000 sampai 9000 per mm
3
dan
trombosit berjumlah 250.000 sampai 400.000 per mm
3
. Hal tersebut sesuai dengan
hasil pengamatan yaitu jumlah eritrosit > trombosit > leukosit. Meskipun berjumlah
paling sedikit dari ketiga sel darah yang ada, fungsi leukosit pada tubuh sangat
penting, dimana dalam keadaan sakit atau terserang benda asing maka jumlah
leukosit dapat meningkat.

G. KESIMPULAN
1. Cara pembuatan sediaan apus darah pada praktikum kali ini adalah
menggunakan prinsip Romanowski dengan Giemsa.
2. Cara yang digunakan yaitu dengan menggunakan darah vena OP dan
mencampurkannya dengan EDTA. Darah yang sudah diteteskan pada kaca
objek selanjutnya diapus dengan menggunakan kaca penutup dengan
membentuk sudut 30-40
0
dengan segera menggeserkannya ke kiri. Setelah
mendapat sediaan yang bagus yaitu tidak terlalu tipis dan tidak terlalu tebal
maka dibiarkan hingga kering, setelah itu meneteskan metanol ke atas
sediaan hingga bagian yang terlapisi darah tertutup dan membiarkannya
selama 5 menit. Setelah itu meliputi sediaan dengan giemsa yang telah
diencerkan dengan air dan membiarkannya selama 20 menit dan bilas
dengan air dan mengeringkannya.
3. Proses pemeriksaan sediaan apus darah dilakukan dengan
meneteskan setetes minyak emersi pada bagian apus darah. Dengan
perbandingan lemah (10x), praktikan hanya melihat bulat-bulat kecil yang
sangat banyak dan belum terlihat jelas perbedaan antara leukosit, eritrosit
dan trombosit. Kemudian praktikan menggunakna lensa objektif 40x dan
dengan perbesaran ini.Untuk mendapatkan hal lainnya, lensa objek dapat
diperbesar hingga 100 x.
4. Hal yang diamati pada eritrosit yaitu ukuran, bentuk, dan warna. Pada
leukosit, yang diamati yaitu jumlah, jenis, dan morfologi. Serta pada trombosit,
yang diamati yaitu morfologi.
5. Cara menghitung jenis sel darah yaitu dari ujung kiri bawah kaca objek
ke atas dan mencari hingga terdapat 10 jenis sel darah, kemudian
menggesernya ke kanan dan menghitungnya dari bawah ke atas hingga
berjumpa 10 sel darah lagi, dan seterusnya hingga terdapat 100 leukosit
(secara zig-zag). Diperoleh persentase eritrosit sebesar 70%, leukosit 10%
dan trombosit sebesar 20%.
6. Ukuran eritrosit kecil, berbentuk bulat bikonkaf tidak berinti, dengan
warna ungu bening. Leukosit berbentuk bulat berinti di tengah dengan warna
ungu. Sedangkan trombosit berukurab sangat kecil terlihat seperti titik
berwarna gelap.