Anda di halaman 1dari 9

6. Bagaimana epidemiologi, etiologi, cara penularan, dan patofisiologi difteri?

1. Definisi
Difteria adalah suatu penyakit bakteri akut terutama menyerang tonsil, faring,laring,
hidung, adakalanya menyerang selaput lendir atau kulit serta kadang-kadang
konjungtiva atau vagina. Timbulnya lesi yang khas disebabkan oleh cytotoxin spesifik
yang dilepas oleh bakteri. Lesi nampak sebagai suatu membran asimetrik keabu-
abuan yang dikelilingi dengan daerah inflamasi. Tenggorokan terasa sakit, sekalipun
pada difteria faucial atau pada difteri faringotonsiler diikuti dengan kelenjar limfe
yang membesar dan melunak. Pada kasus-kasus yang berat dan sedang ditandai
dengan pembengkakan dan oedema di leher dengan pembentukan membran pada
trachea secara ektensif dan dapat terjadi obstruksi jalan napas.6
Difteri hidung biasanya ringan dan kronis dengan satu rongga hidung
tersumbat dan terjadi ekskorisasi (ledes). Infeksi subklinis (atau kolonisasi )
merupakan kasus terbanyak. Toksin dapat menyebabkan myocarditis dengan heart
block dan kegagalan jantung kongestif yang progresif,timbul satu minggu setelah
gejala klinis difteri.5 Bentuk lesi pada difteri kulit bermacam-macam dan tidak dapat
dibedakan dari lesi penyakit kulit yang lain, bisa seperti atau merupakan bagian dari
impetigo.(Kadun,2006)
2. Penyebab
Penyebab penyakit difteri adalah Corynebacterium diphtheriae. Berbentuk
batang gram positif, tidak berspora, bercampak atau kapsul. Infeksi oleh kuman
sifatnya tidak invasive, tetapi kuman dapat mengeluarkan toxin, yaitu exotoxin.
Exotoxin yang diproduksi oleh bakteri merupakan suatu protein yang tidak tahan
terhadap panas dan cahaya. Bakteri dapat memproduksi toksin bila terinfeksi oleh
bakteriofag yang mengandung toksigen.Toxin difteri ini, karena mempunyai efek
patoligik meyebabkan orang jadi sakit. Ada tiga type variants dari Corynebacterium
diphtheriae ini yaitu : type mitis, type intermedius dan type gravis.Corynebacterium
diphtheriae dapat dikalsifikasikan dengan cara bacteriophage lysis menjadi 19 tipe.
Tipe 1-3 termasuk tipe mitis, tipe 4-6 termasuk tipe intermedius, tipe 7 termasuk tipe
gravis yang tidak ganas, sedangkan tipe-tipe lainnya termasuk tipe gravis yang
virulen.Corynebacterium diphtheriae ini dalam bentuk satu atau dua varian yang tidak
ganas dapat ditemukan pada tenggorokan manusia, pada selaput mukosa.1,2,5
Organisme ini terlokalisasi di tenggorokan yang meradang bila bakteri ini
tumbuh dan mengeluarkan eksotoksin yang ampuh. Sel jaringan mati, bersama
dengan leukosit, eritosit, dan bakteri membentuk eksudat berwarna kelabu suram yang
disebut pseudomembran pada faring. Di dalam pseudomembran, bakteri berkembang
serta menghasilkan racun. Jika pseudomembran ini meluas sampai ke trakea, maka
saluran nafas akan tersumbat dan si penderita akan kesulitan bernafas. Sebelum era
vaksinasi, racun yang dihasilkan oleh kuman ini sering meyebabkan penyakit yang
serius, bahkan dapat menimbulkan kematian. Tapi sejak vaksin difteri ditemukan dan
imunisasi terhadap difteri digalakkan, jumlah kasus penyakit dan kematian akibat
kuman difteri menurun dengan drastis.
3. Cara Penularan
Sumber penularan penyakit difteri ini adalah manusia, baik sebagai penderita
maupun sebagai carier . Cara penularannya yaitu melalui kontak dengan penderita
pada masa inkubasi atau kontak dengan carier. Caranya melalui pernafasan atau
droplet infection. Masa inkubasi penyakit difteri ini 2 5 hari, masa penularan
penderita 2-4minggu sejak masa inkubasi, sedangkan masa penularan carier bisa
sampai 6 bulan. Penyakit difteri yang diserang terutama saluran pernafasan bagian
atas. 3
Ciri khas dari penyakit ini ialah pembekakan di daerah tenggorokan, yang berupa
reaksi radang lokal, dimana pembuluh-pembuluh darah melebar mengeluarkan sel
darah putih sedang sel-sel epitel disitu rusak, lalu terbentuklah disitu membaran putih
keabu-abuan(psedomembrane). Membran ini sukar diangkat dan mudah berdarah. Di
bawah membran ini bersarang kuman difteri dan kuman-kuman ini mengeluarkan
exotoxin yang memberikan gejala-gejala yang lebih berat dan Kelenjer getah bening
yang berada disekitarnya akan mengalami hiperplasia dan mengandung toksin.
Eksotoksin dapat mengenai jantung dapat menyebabkan miyocarditisct toksik atau
mengenai jaringan perifer sehingga timbul paralisis terutama pada otot-otot
pernafasan. Toksini ini juga dapat menimbulkan nekrosis fokal pada hati dan ginjal,
malahan dapat timbul nefritis interstisial. Penderita yang paling berat didapatkan pada
difterifauncial dan faringea karena terjadi penyumbatan membran pada laring dan
trakea sehingga saluran nafas ada obstruksi dan terjadi gagal napas, gagal jantung
yang bisa mengakibatkan kematian, ini akibat komplikasi yang seriing pada
bronkopneumoni.

7. Bagaimana riwayat alamiah penyebaran penyakit?
Perjalanan penyakit dimulai dengan terpaparnya individu sebagai penjamu
yang rentan (suseptibel) oleh agen kausal. Paparan (exposure) adalah kontak atau
kedekatan (proximity) dengan sumber agen penyakit. Konsep paparan berlaku untuk
penyakit infeksi maupun non-infeksi. Contoh, paparan virus hepatitis B (HBV) dapat
menginduksi terjadinya hepatitis B, paparan stres terus-menerus dapat menginduksi
terjadinya neurosis, paparan radiasi menginduksi terjadinya mutasi DNA dan
menyebabkan kanker, dan sebagainya. Arti induksi itu sendiri merupakan aksi yang
mempengaruhi terjadinya tahap awal suatu hasil, dalam hal ini mempengaruhi awal
terjadinya proses patologis. Jika
terdapat tempat penempelan (attachment) dan jalan masuk sel (cell entry) yang tepat
maka paparan agen infeksi dapat menyebabkan invasi agen infeksi dan terjadi infeksi.
Agen infeksi melakukan multiplikasi yang mendorong terjadinya proses perubahan
patologis, tanpa penjamu menyadarinya.
Periode waktu sejak infeksi hingga terdeteksinya infeksi melalui tes
laboratorium/ skrining disebut window period. Dalam window period individu
telah terinfeksi, sehingga dapat menularkan penyakit, meskipun infeksi tersebut
belum terdeteksi oleh tes laboratorium. Implikasinya, tes laboratorium hendaknya
tidak dilakukan selama window period, sebab infeksi tidak akan terdeteksi. Contoh,
antibodi HIV (human immuno-deficiency virus) hanya akan muncul 3 minggu hingga
6 bulan setelah infeksi. Jika tes HIV dilakukan dalam window period, maka
sebagian besar orang tidak akan menunjukkan hasil positif, sebab dalam tubuhnya
belum diproduksi antibodi.
Karena itu tes HIV hendaknya ditunda hingga paling sedikit 12 minggu (3 bulan)
sejak waktu
perkiraan paparan. Jika seorang telah terpapar oleh virus tetapi hasil tes negatif, maka
perlu dipertimbangkan tes ulang 6 bulan kemudian.Selanjutnya berlangsung proses
promosi pada tahap preklinis, yaitu keadaan patologis yang ireversibel dan
asimtomatis ditingkatkan derajatnya menjadi keadaan dengan manifestasi klinis
(Kleinbaum et al., 1982; Rothman, 2002). Melalui proses promosi agen kausal akan
meningkatkan
aktivitasnya, masuk dalam formasi tubuh, menyebabkan transformasi sel atau
disfungsi sel, sehingga penyakit menunjukkan tanda dan gejala klinis. Dewasa ini
telah dikembangkan sejumlah tes skrining atau tes laboratorium untuk mendeteksi
keberadaan tahap preklinis penyakit (US Preventive Services Task Force, 2002;
Barratt et al., 2002; Champion dan Rawl, 2005). Waktu sejak penyakit terdeteksi oleh
skrining hingga timbul manifestasi klinik, disebut sojourn time, atau detectable
preclinical period (Brookmeyer, 1990; Last, 2001; Barratt et al., 2002). Makin
panjang sojourn time, makin berguna melakukan skrining, sebab makin panjang
tenggang waktu untuk melakukan pengobatan dini (prompt treatment) agar proses
patologis tidak termanifestasi klinis. Kofaktor yang mempercepat progresi menuju
penyakit secara klinis pada sojourn time (detectable preclinical period) disebut
akselerator atau progresor (Achenbach et al., 2005). \Waktu yang diperlukan mulai
dari paparan agen kausal hingga timbulnya manifestasi klinis disebut masa inkubasi
(penyakit infeksi) atau masa laten (penyakit kronis). Pada fase ini penyakit belum
menampakkan tanda dan gejala klinis, disebut penyakit subklinis (asimtomatis).
Masa inkubasi bisa berlangsung dalam hitungan detik pada reaksi toksik atau
hipersentivitas. Contoh, gejala kolera timbul beberapa jam hingga 2-3 hari sejak
paparan dengan Vibrio cholera yang toksigenik. Pada penyakit kronis masa inkubasi
(masa laten) bisa berlangsung sampai beberapa dekade. Kovariat yang berperan dalam
masa laten (masa inkubasi), yakni faktor yang meningkatkan risiko terjadinya
penyakit secara klinis, disebut faktor risiko. Sebaliknya, faktor yang menurunkan
risiko terjadinya penyakit secara klinis disebut faktor protektif.
Selanjutnya terjadi inisiasi penyakit klinis. Pada saat ini mulai timbul tanda
(sign) dan gejala (symptom) penyakit secara klinis, dan penjamu yang mengalami
manifestasi klinis disebut kasus klinis. Gejala klinis paling awal disebut gejala
prodromal. Selama tahap klinis, manifestasi klinis akan diekspresikan hingga terjadi
hasil akhir/ resolusi penyakit, baik sembuh, remisi, perubahan beratnya penyakit,
komplikasi, rekurens, relaps, sekuelae, disfungsi sisa, cacat, atau kematian. Periode
waktu untuk mengekspresikan penyakit klinis hingga terjadi hasil akhir penyakit
disebut durasi penyakit.
Kovariat yang mempengaruhi progresi ke arah hasil akhir penyakit, disebut
faktor prognostik (Kleinbaum et al., 1982; Rothman, 2002). Penyakit penyerta yang
mempengaruhi fungsi individu, akibat penyakit, kelangsungan hidup, alias prognosis
penyakit, disebut ko-morbiditas (Mulholland, 2005). Contoh, TB dapat menjadi ko-
morbiditas HIV/AIDS yang meningkatkan risiko kematian karena AIDS pada wanita
dengan HIV/AIDS (Lopez-Gatell et al., 2007).

8. Bagaimana upaya deteksi dini terhadap KLB?

Deteksi Dini KLB Deteksi dini KLB merupakan kewaspadaan terhadap timbulnya
KLBdengan mengidentifikasi kasus berpotensi KLB, pemantauan wilayah setempat
terhadap penyakit-penyakit berpotensi KLB dan penyelidikan dugaan KLB
1. Identifikasi Kasus Berpotensi KLB Setiap kasus berpotensi KLB yang datang ke
Unit PelayananKesehatan, diwawancarai kemungkinan adanya penderita lain
disekitar tempat tinggal, lingkungan sekolah, lingkunganperusahaan atau asrama
yang kemudian dapat disimpulkandugaan adanya KLB. Adanya dugaan KLB pada
suatu lokasitertentu diikuti dengan penyelidikan.
2. Pemantauan Wilayah Setempat Penyakit Berpotensi KLB Setiap Unit Pelayanan
Kesehatan merekam data epidemiologipenderita penyakit berpotensi KLB
menurut desa atau kelurahan. Setiap Unit Pelayanan Kesehatan menyusun tabel
dan grafikpemantauan wilayah setempat KLB sebagaimana lampiran 3grafik
PWS-KLB. Setiap Unit Pelayanan Kesehatan melakukan analisis terusmenerus
dan sistematis terhadap perkembangan penyakit yangberpotensi KLB di
daerahnya untuk mengetahui secara diniadanya KLB. Adanya dugaan peningkatan
penyakit dan faktor resiko yangberpotensi KLB diikuti dengan penyelidikan.
3. Penyelidikan Dugaan KLB Penyelidikan dugaan KLB dilakukan dengan cara :
(a). Di Unit Pelayanan Kesehatan, petugas kesehatanmenanyakan setiap
pengunjung Unit Pelayanan Kesehatantentang kemungkinan adanya peningkatan
sejumlahpenderita penyakit yang diduga KLB pada lokasi tertentu.
(b). Di Unit Pelayanan Kesehatan, petugas kesehatan menelitiregister rawat inap
dan rawat jalan terhadap kemungkinanadanya peningkatan kasus yang dicurigai
pada lokasitertentu berdasarkan alamat penderita, umur dan jeniskelamin atau
karakteristik lain.
(c). Petugas kesehatan mewawancarai kepala desa, kepala asrama dan setiap orang
yang mengetahui keadaan masyarakat tentang adanya peningkatan penderita
penyakityang diduga KLB.
(d). Membuka pos pelayanan di lokasi yang diduga terjadi KLBdan menganalisis
data penderita berobat untuk mengetahuikemungkinan adanya peningkatan
penyakit yang dicurigai.
(e). Mengunjungi rumah-rumah penderita yang dicurigai ataukunjungan dari
rumah ke rumah terhadap semua penduduktergantung pilihan tim penyelidikan

9. Apa yang disebut dengan pandemik, endemik, serta wabah?
Pandemik : Pandemic adalah terjadinya suatu masalah kesehatan dengan frekuensi
yang meningkat tinggi dalam waktu singkat dan mencakup suatu wilayah yang sangat
luas. Menurut WHO, dikatakan sebagai suatu pandemic jika memenuhi ketiga syarat
berikut:
1)Timbulnya penyakit bersangkutan merupakan suatu hal yang baru pada populasi
bersangkutan
2)Agen penyebab penyakit menginfeksi manusia dan menyebabkan sakit serius
3)Agen penyebab penyakit menyebar dengan mudah dan berkelanjutan pada manusia
Suatu penyakit atau keadaan tidak dapat dikatakan sebagai pandemi hanya karena
menewaskan banyak orang. Sebagai contoh, kelas penyakit yang dikenal sebagai
kanker menimbulkan angka kematian yang tinggi namun tidak digolongkan sebagai
pandemi karena tidak ditularkan.
Endemik : Endemic adalah terjadinya suatu masalah kesehatan yang umumnya
dikarenakan penyakit, dengan frekuensi yang tetap pada suatu wilayah tertentu dalam
waktu yang lama.
Suatu infeksi penyakit dikatakan sebagai endemik bila setiap orang yang terinfeksi
penyakit tersebut menularkannya kepada tepat satu orang lain (secara rata-rata). Bila
infeksi tersebut tidak lenyap dan jumlah orang yang terinfeksi tidak bertambah secara
eksponensial, suatu infeksi dikatakan berada dalam keadaan tunak endemik (endemic
steady state). Suatu infeksi yang dimulai sebagai suatu epidemi pada akhirnya akan
lenyap atau mencapai keadaan tunak endemik, bergantung pada sejumlah faktor,
termasuk virulensi dan cara penularan penyakit bersangkutan.
Dalam bahasa percakapan, penyakit endemik sering diartikan sebagai suatu penyakit
yang ditemukan pada daerah tertentu. Sebagai contoh, AIDS sering dikatakan
"endemik" di Afrika walaupun kasus AIDS di Afrika masih terus meningkat
(sehingga tidak dalam keadaan tunak endemik). Lebih tepat untuk menyebut kasus
AIDS di Afrika sebagai suatu epidemi.
Wabah : kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang
jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim
pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan mala petaka

10. Bagaimana langkah investigasi KLB?

1. Identifikasi outbreak
Outbreak adalah peningkatan kejadian kasus penyakit yang lebih banyak daripada
ekspektasi normaldi di suatu area atau pada suatu kelompok tertentu, selama suatu
periode waktu tertentu. Informasitentang potensi outbreak biasanya datang dari
sumber-sumber masyarakat, yaitu laporan pasien(kasus indeks), keluarga pasien,
kader kesehatan, atau warga masyarakat. Tetapi informasi tentangpotensi outbreak
bisa juga berasal dari petugas kesehatan, hasil analisis data surveilans,
laporankematian, laporan hasil pemeriksaan laboratorium, atau media lokal
(suratkabar dan televisi).Hakikatnya outbreak merupakan deviasi (penyimpangan)
dari keadaan rata-rata insidensiyang konstan dan melebihi ekspektasi normal
Karena itu outbreak ditentukan dengan caramembandingkan jumlah kasus
sekarang dengan rata-rata jumlah kasus dan variasinya di masa lalu(minggu,
bulan, kuartal, tahun). Besar deviasi yang masih berada dalam ekspektasi
normal bersifatarbitrer, tergantung dari tingkat keseriusan dampak yang
diakibatkan bagi kesehatan masyarakat dimasa yang lalu. Sebagai ancar-ancar
kuantitatif, pembuat kebijakan dapat menggunakan mean+3SDsebagai batas untuk
menentukan keadaan outbreak. Batas mean+/- 3SD lazim digunakan
dalambiostatistik untuk menentukan observasi ekstrim yang disebut outlier
(Duffy dan Jacobsen, 2001),jadi suatu kondisi yang sesuai dengan definisi
epidemi/ outbreak. Sumber data kasus untuk menenetukan terjadinya outbreak: (1)
Catatan surveilans dinaskesehatan; (2) Catatan morbiditas dan mortalitas di rumah
sakit; (3) Catatan morbiditas danmortalitas di puskesmas; (4) Catatan praktik
dokter, bidan, perawat; (5) Catatan morbiditas upayakesehatan sekolah (UKS).
2. Investigasi kasus
DEFINISI KASUS Peneliti melakukan verifikasi apakah kasus-kasus yang
dilaporkan telah didiagnosisdengan benar (valid). Peneliti outbreak
mendefinisikan kasus dengan menggunakan seperangkatkriteria sebagai berikut:
(1) Kriteria klinis (gejala, tanda, onset); (2) Kriteria epidemiologis (karakteris-tik
orang yang terkena, tempat dan waktu terjadinya outbreak); (3) Kriteria
laboratorium (hasilkultur dan waktu pemeriksaan) (Bres, 1986). Definisi kasus
harus valid (benar), baku, dan sebaiknya seragam. Definisi kasus yang bakudan
seragam penting untuk memastikan bahwa setiap kasus didiagnosis dengan cara
yang sama,konsisten, tidak tergantung pada siapa yang mengidentifikasi kasus,
maupun di mana dan kapankasus tersebut terjadi. Definisi kasus yang baku
memungkinkan dilakukannya perbandingan jumlahkasus penyakit yang terjadi di
suatu waktu atau tempat dengan jumlah kasus yang terjadi di waktuatau tempat
lainnya. Sebagai contoh, dengan definsi kasus baku dapat dibandingkan jumlah
kasusDemam Berdarah Dengue (DBD) yang terjadi pada Januari 2010 di
Surakarta dengan jumlah kasuspada Februari 2010 di kota itu. Demikian pula
dapat dibandingkan jumlah kasus DBD yang terjadipada Januari 2010 di Surakarta
dengan jumlah kasus pada Januari 2010 di Jakarta. Dengan definisikasus standar,
maka jika ditemukan perbedaan jumlah kasus maka merupakan perbedaan
yangsesungguhnya, bukan karena perbedaan dalam mendiagnosis (CDC, 2010a).
Penggunaan definisikasus seperti yang direkomendasikan Standar Surveilans
WHO memungkinkan pertukaran informasitentang kejadian penyakit-penyakit
secara internasional.Dengan menggunakan definisi kasus, maka individu yang
diduga mengalami penyakit akandimasukkan dalam salah satu klasifikasi kasus.
Berdasarkan tingkat ketidakpastian diagnosis, kasusdapat diklasifikasikan
menjadi: (1) kasus suspek (suspected case, syndromic case), (2) kasus
mungkin(probable case, presumptive case), dan (3) kasus pasti (confirmed case,
definite case)
3. Investigasi kausa
WAWANCARA DENGAN KASUS Intinya, tujuan wawancara dengan kasus dan
nara sumber terkaitkasus adalah untuk menemukan kausa outbreak. Dengan
menggunakan kuesioner dan formulirbaku, peneliti mengunjungi pasien (kasus),
dokter, laboratorium, melakukan wawancara dan doku-mentasi untuk memperoleh
informasi berikut: (1) Identitas diri (nama, alamat, nomer telepon jikaada); (2)
Demografis (umur, seks, ras, pekerjaan); (3) Kemungkinan sumber, paparan, dan
kausa; (4)Faktor-faktor risiko; (5) Gejala klinis (verifikasi berdasarkan definisi
kasus, catat tanggal onset gejalauntuk membuat kurva epidemi, catat komplikasi
dan kematian akibat penyakit); (6) Pelapor(berguna untuk mencari informasi
tambahan dan laporan balik hasil investigasi). Pemeriksaan klinisulang perlu
dilakukan terhadap kasus yang meragukan atau tidak didiagnosis dengan
benar(misalnya, karena kesalahan pemeriksaan laboratorium).Informasi tentang
masing-masing kasus yang diwawancara/ ditemui dimasukkan dalamtabel
outbreak (=line listing). Dalam tabel outbreak, variabel-variabel tentang
informasi kasusdiletakkan pada kolom, sedang urutan kasus diletakkan pada baris.
Ikhtisar informasi tentang kasusyang dicatat dalam tabel outbreak berguna untuk
merumuskan teori/ hipotesis tentang sumber,kausa, dan cara penyebaran penyakit.
4. Melakukan pencegahan dan pengendalian
Bila investigasi kasus dan kausa telah memberikan fakta di pelupuk mata tentang
kausa, sumber, dancara transmisi, maka langkah pengendalian hendaknya segera
dilakukan, tidak perlu melakukan studianalitik yang lebih formal. Prinsipnya,
makin cepat respons pengendalian, makin besar peluangkeberhasilan
pengendalian. Makin lambat repons pengendalian, makin sulit upaya
pengendalian,makin kecil peluang keberhasilan pengendalian, makin sedikit kasus
baru yang bisa dicegah.Prinsip intervensi untuk menghentikan outbreak sebagai
berikut: (1) Mengeliminasi sumberpatogen; (2) Memblokade proses transmisi; (3)
Mengeliminasi kerentanan (Greenberg et al., 2005;Aragon et al., 2007). Sedang
eliminasi sumber patogen mencakup: (1) Eliminasi atau inaktivasi pato-gen; (2)
Pengendalian dan pengurangan sumber infeksi (source reduction); (3)
Pengurangan kontakantara penjamu rentan dan orang atau binatang terinfeksi
(karantina kontak, isolasi kasus, dan seba-gainya); (4) Perubahan perilaku
penjamu dan/ atau sumber (higiene perorangan, memasak dagingdengan benar,
dan sebagainya); (5) Pengobatan kasus.Blokade proses transmisi mencakup: (1)
Penggunaan peralatan pelindung perseorangan(masker, kacamata, jas, sarung
tangan, respirator); (2) Disinfeksi/ sinar ultraviolet; (3) Pertukaranudara/ dilusi;
(4) Penggunaan filter efektif untuk menyaring partikulat udara; (5)
Pengendalianvektor (penyemprotan insektisida nyamuk Anopheles, pengasapan
nyamuk Aedes aegypti,penggunaan kelambu berinsektisida, larvasida, dan
sebagainya).Eliminasi kerentanan penjamu (host susceptibility) mencakup: (1)
Vaksinasi; (2) Pengobatan(profilaksis, presumtif); (3) Isolasi orang-orang atau
komunitas tak terpapar (reverse isolation); (4)Penjagaan jarak sosial
(meliburkan sekolah, membatasi kumpulan massa).
5. Melakukan studi analitik (jika perlu)
Dalam investigasi outbreak, tidak jarang peneliti dihadapkan kepada teka-teki
menyangkut sejumlahkandidat agen penyebab. Fakta yang diperoleh dari
investigasi kasus dan investigasi kausa kadangbelum memadai untuk
mengungkapkan sumber dan kausa outbreak. Jika situasi itu yang terjadi,maka
peneliti perlu melakukan studi analitik yang lebih formal. Desain yang digunakan
lazimnyaadalah studi kasus kontrol atau studi kohor retrospektif. Seperti desain
studi epidemiologi analitiklainnya, studi analitik untuk investigasi outbreak
mencakup: (1) pertanyaan penelitian; (2) signi-fikansi penelitian; (3) desain studi;
(4) subjek; (5) variabel-variabel; (6) pendekatan analisis data; (7)interpretasi dan
kesimpulan.Contoh, 75 orang menghadiri sebuah acara kenduri di sebuah desa.
Terdapat 5 jenismakanan dihidangkan. Esok harinya mulai berjatuhan sejumlah
kasus penyakit, sehingga disimpul-kan terjadi outbreak karena makanan
terkontaminasi (foodborne disease). Makanan mana dari ke 4jenis tersebut yang
mengandung agen kausal dan merupakan penyebab outbreak? Karena
sebagianbesar kasus telah terjadi, maka peneliti melakukan studi kohor
retrospektif untuk menjawab perta-nyaan tersebut. Data yang dikumpulkan
disajikan dalam
6. Mengkomunikasikan temuan
Temuan dan kesimpulan investigasi outbreak dikomunikasikan kepada berbagai
pihak pemangkukepentingan kesehatan masyarakat. Dengan tingkat rincian yang
bervariasi, pihak-pihak yang perludiberitahu tentang hasil penyelidikan outbreak
mencakup pejabat kesehatan masyarakat setempat,pejabat pembuat kebijakan dan
pengambil keputusan kesehatan, petugas fasilitas pelayanankesehatan, pemberi
informasi peningkatan kasus, keluarga kasus, tokoh masyarakat, dan
media.Penyajian hasil investigasi dilakukan secara lisan maupun tertulis (laporan
awal dan laporan akhir).Pejabat dinas kesehatan yang berwewenang hendaknya
hadir pada penyajian hasil investigasioutbreak. Temuan-temuan disampaikan
dengan bahasa yang jelas, objektif dan ilmiah, dengankesimpulan dan
rekomendasi yang dapat dipertanggungjawabkan.Peneliti outbreak memberikan
laporan tertulis dengan format yang lazim, terdiri dari: (1)introduksi, (2) latar
belakang, (3) metode, (4) hasil-hasil, (5) pembahasan, (6) kesimpulan, dan
(7)rekomendasi. Laporan tersebut mencakup langkah pencegahan dan
pengendalian, catatan kinerjasistem kesehatan, dokumen untuk tujuan hukum,
dokumen berisi rujukan yang berguna jika terjadisituasi serupa di masa mendatang
7. Mengevaluasi dan meneruskan surveilans Pada tahap akhir investigasi outbreak,
Dinas Kesehatan Kota/ Kabupaten dan peneliti outbreak perlumelakukan evaluasi
kritis untuk mengidentifikasi berbagai kelemahan program maupun
defisiensiinfrastruktur dalam sistem kesehatan. Evaluasi tersebut memungkinkan
dilakukannya perubahan-perubahan yang lebih mendasar untuk memperkuat
upaya program, sistem kesehatan, termasuksurveilans itu sendiri. Investigasi
outbreak memungkinkan identifikasi populasi-populasi yangterabaikan atau
terpinggirkan, kegagalan strategi intervensi, mutasi agen infeksi, ataupun
peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar kelaziman dalam program kesehatan.
Evaluasi kritis terhadap kejadianoutbreak memberi kesempatan kepada penyelidik
untuk mempelajari kekurangan-kekurangandalam investigasi outbreak yang telah
dilakukan, dan kelemahan-kelemahan dalam sistemkesehatan, untuk diperbaiki
secara sistematis di masa mendatang, sehingga dapat mencegahterulangnya
outbreak.



Widoyono.2005.Penyakit Tropis Epidemiologi Penularan dan Pemberantasannya.Erlanggga:
Jakarta.
Iskandar,Nurbaiti,dkk.editor;Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok.Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.2000.Hal 177-178.
Bustan, M.N.2006. Pengantar Epidemiologi, Edisi Revisi. Rineka Cipta: Jakarta.
Nasri, Noor,1997. Dasar Epidemiologi. Rineka Cipta: Jakarta
K.J.Rothman, Modern Epidemiology.Boston: Little, Brown (1982)
D.G. Kleinbaum, L.L. Kupper and H. Morgenstern, Epidemiologic Research: Principleand
Quantitative Methods. New York: Van Nostrand Reinhold (2002)
Achenbach TM, Ruffle TM. The child behavior checklist and relatedforms for assessing
behavioral/emotional problems andcompetencies. Pediatr Rev. 2000;21:265-71
Duffy ME, Jacobsen BS (2001). Univariate descriptive statistics. In: Barbara Hazard Munro
(ed.):Statistical methods for health care research. Philadelphia, PA: Lippincott
DepKes (2004). Keputusan Menteri Kesehatan No. 1479/MenKes/SK/X/2003, tentang
pedomanpenyelenggaraan sistem surveilans epidemiologi penyakit menular dan penyakit
tidak menularterpadu. Jakarta: DepKes RI.