Anda di halaman 1dari 30

PRESENTASI KASUS

HIPEREMESIS GRAVIDARUM




PEMBIMBING :
dr.H.Rahardjo, SpOG.M.Kes

OLEH :
Rio Jaya Abadi
FK UKRIDA 11 2012 084






KEPANITERAAN KLINIK OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
Periode 15 April -22 Juni 2013
Rumah Sakit Bethesda Lempuyangwangi
Yogyakarta
1
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .................................................................................................................. 1
BAB I ............................................................................................................................. 3
TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................................ 3
I. PENDAHULUAN .............................................................................................. 3
II. DEFINISI ........................................................................................................ 4
III. ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO ............................................................ 4
IV. PATOFISIOLOGI ............................................................................................... 5
V. KOMPLIKASI ...................................................................................................... 9
VI. KLASIFIKASI ................................................................................................... 10
VII. DIAGNOSIS .................................................................................................... 10
VII. DIAGNOSIS BANDING ................................................................................. 11
VIII. PEMERIKSAAN PENUNJANG .................................................................... 11
IX. PENATALAKSANAAN
(1)(2)(3)(4)(5)
................................................................... 13
X. PROGNOSIS
(3)(4)
................................................................................................ 16
XI. PENCEGAHAN
(4)
............................................................................................. 16
BAB II .......................................................................................................................... 18
PRESENTASI KASUS ................................................................................................ 18
BAB III ........................................................................................................................ 25
ANALISA KASUS ...................................................................................................... 25
BAB IV ........................................................................................................................ 27
KESIMPULAN DAN SARAN.................................................................................... 27
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................. 29


2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas penyertaan-
Nya kami dapat menyelesaikan tulisan ini dalam rangka pemenuhan tugas referat
yang merupakan satu bagian dari proses pembelajaran kami dalam kepaniteraan
klinik bagian Ilmu Kebidanan dan Kandungan di Rumah Sakit Umum Bethesda
Lempuyangwangi, Yogyakarta.
Tulisan ini membahas mengenai hyperemesis gravidarum melalui sebuah
contoh kasus. Banyak kesulitan dan hambatan yang kami lalui selama penyusunan
tulisan ini. Meskipun demikian, melalui pembelajaran ini, kami sangat terbantu
untuk lebih memahami dan mengenali gambaran yang sesungguhnya dari kelainan
ini. Oleh karena itu, kami berterima kasih kepada dr. H. Rahardjo, Sp.OG, M.Kes,
dr. Trianto Susetyo, Sp.OG, dan dr. Theresia Avilla Ririel, Sp.OG, Sp.OG selaku
dokter pembimbing kami yang telah memberikan bimbingan dan dukungan bagi
kami selama masa pembelajaran kami di bagian ini. Kami juga berterima kasih
kepada teman-teman dan pihak lain yang turut memberikan dukungan dalam
proses pembelajaran dan penyusunan tulisan ini.
Banyak segi yang masih kurang dalam tulisan ini, oleh karena itu kami
membuka diri untuk koreksi dan masukan yang akan sangat berguna untuk
perbaikan kami di masa yang akan datang. Semoga apa yang dimuat dalam tulisan
ini dapat bermanfaat bagi semua pembacanya.

Yogyakarta, 12 Juni 2013
Penulis
3
BAB I
TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN
Mual dan muntah,pening,perut kembung, dan badan terasa lemah
terjadi hampir pada 50% kasus ibu hamil, dan terbanyak pada usia kehamilan 6-
12 minggu. Keluhan mual muntah sering terjadi pada waktu pagi sehingga
dikenal juga dengan morning sickness.Juga terdapat keluhan
ptialisme,hipersalivasi yaitu banyak meludah.Epulis gravidarum, infeksi
gingivitis dapat menyebabkan perdarahan gusi.
Mual dan muntah disebabkan oleh kombinasi hormone estrogen dan
progesterone, walaupun hal ini tidak diketahui dengan pasti dan hormone human
chorionic gonadotropin juga berperan dalam menimbulkan mual dan
muntah.Gastroesophageal reflux terjadi kurang lebih 80 % dalam kehamilan, dan
dapat disebabkan oleh kombinasi menurunnya tekanan sfingter esophageal
bagian bawah, meningkatnya tekanan intragastrik, menurunnya kompetensi
sfingter pilori dan kegagalan mengeluarkan asam lambung.
(1)

Mual dan muntah yang normal menjadi evolusi dari mekanisme
pelindung wanita hamil dan embrionya dari zat berbahaya dalam makanan,
seperti mikroorganisme patogen pada produk daging dan racun dalam tanaman,
dengan dampak yang maksimal selama embriogenesis (masa paling rentan dalam
kehamilan).Hal ini didukung penelitian yang menunjukkan bahwa lebih sedikit
wanita yang mual dan muntah mengalami keguguran dan kelahiran mati.
(2)

Hiperemesis gravidarum ditandai dengan mual dan muntah persisten
yang berhubungan dengan ketosis dan penurunan berat badan (> 5% dari berat
sebelum hamil).Hiperemesis gravidarum dapat menyebabkan deplesi
volume,ketidakseimbangan asam basa dan elektrolit, kekurangan gizi, dan
bahkan kematian.Hiperemesis berat yang membutuhkan perawatan di rumah
sakit terjadi pada 0,3-2% kehamilan.
(2)



4
II. DEFINISI
Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi pada awal
kehamilan sampai umur kehamilan 20 minggu.
(1)

Hipermesis gravidarum adalah muntah persisten tanpa penyebab yang
jelas berkaitan dengan ketonuria dan penurunan berat badan.
(3)

Hiperemesis gravidarum adalah muntah-muntah yang terjadi pada
kehamilan trimester pertama yang bisa menyebabkan dehidrasi, gangguan
elektrolit, nutrisi dan metabolic yang mungkin membutuhkan rawat
inap.Walaupun terbatas pada trimester pertama, namun dari 20% pasien gejala
masih terus berlanjut selama kehamilan.
(4)

Hiperemesis gravidarum didefinisikan sebagai muntah cukup berat
yang menyebabkan penurunan berat badan, dehidrasi, alkalosis karena hilangnya
asam klorida dan hipokalemia.
(5)


III. ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Tidak
ada bukti bahwa penyakit ini belum diketahui secara pasti. Tidak ada bukti
bahwa penyakit ini disebabkan oleh faktor toksik juga tidak ditemukan kelainan
biokimia, perubahan-perubahan anatomik yang terjadi pada otak, jantung, hati
dan susunan syaraf, disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat
kelemahan tubuh karena tidak makan dan minum. Hiperemesis tampaknya
berhubungan dengan tingginya atau cepatnyakenaikan serum kehamilan yang
berhubungan dengan hormon. Meskipun stimulus yang tepat belum diketahui,
penyebab diduga termasuk human chorionic gonadotropin (hCG), estrogen,
progesteron, leptin, hormon pertumbuhan plasenta, prolaktin, tiroksin, dan
hormon adrenocortical. Studi olehGoodwin dan rekan kerja (2008) menunjukkan
keterlibatan sistem vestibular.Tampaknya tidak ada keraguan bahwa dalam
beberapa tapi tidak hampir semuakasus yang parah, terdapat komponen
psikologis yang saling mempengaruhi (Buckwalter dan Simpson, 2002). Dalam
beberapa kasus hiperemesis dilakukan terminasi elektif (Poursharif dan rekan,
2007). Danuntuk alasan yang tidak diketahui, janin perempuan meningkatkan
risiko sebesar 1,5 kali lipat
(5)
.
5
Faktor lain yang meningkatkan risiko untuk masuk
termasukhipertiroidisme pada kehamilan, kehamilan mola sebelumnya, diabetes,
penyakit gastrointestinal, dan asma (Fell dan rekan kerja, 2006). Selain itu juga
ada faktor lain seperti berat badan lebih, gestasi lebih dari satu, merokok dan
nullipara. Hyperemesis juga muncul pada 26% penderita kehamilan mola.
(4)

IV. PATOFISIOLOGI
Dasar patofisiologi dari hiperemesis gravidarum masih kontroversial.
Hiperemesis gravidarum terjadi sebagai interaksi kompleks faktor biologis,
psikologis, dan sosial budaya. Teori-teori yang berkembang antara lain
(2)(3)(4)(6)

Perubahan hormonal
Wanita dengan hiperemesis gravidarum sering memiliki kadar hCG yang
tinggi yang menyebabkan hipertiroidisme sementara. hCG fisiologis dapat
merangsang reseptor thyroid-stimulating hormone (TSH) pada kelenjar tiroid.
Puncak kenaikan hCG pada trimester pertama. Beberapa wanita dengan
hiperemesis gravidarum memiliki tanda klinis hipertiroidisme. Namun, dalam
porsi yang lebih besar (50-70%), nilai TSH rendahdan tiroksin bebas (T4) tinggi
(40-73%) serta tidak ada tanda klinis hipertiroidisme, beredarnya antibodi tiroid,
atau pembesaran tiroid. Dalam hiperemesisgravidarum dengan hipertiroidisme
transien, fungsi tiroid kembali normal pada tengah trimester kedua tanpa
pengobatan antitiroid. Hipertiroidisme secara klinis dan antibodi tiroid biasanya
tidak ada.
Sebuah laporan pada sebuah keluarga yang unik dengan hipertiroidisme
kehamilan berulang yang terkait dengan hiperemesis gravidarum menunjukkan
mutasi dalam domain ekstraselular dari reseptor TSH yang membuatnya menjadi
responsif terhadap tingkat hCG yang normal. Dengan demikian, kasus
hiperemesis gravidarum dengan hCG normal dapat disebabkan oleh berbagai
isotypes hCG.
Sebuah korelasi positif antara tingkat serum hCG elevasi dan tingkat T4
bebas telah ditemukan, dan beratnya mual tampaknya terkait dengan tingkat
stimulasi tiroid. hCG tidak dapat secara independen terlibat dalam etiologi
hiperemesis gravidarum, tetapi mungkin secara tidak langsung terlibat dengan
kemampuannya untuk merangsang kelenjar tiroid. Peningkatan hCG terkait
6
dengan peningkatan imunoglobulin M, komplemen, dan limfosit. Dengan
demikian, proses imunitas mungkin bertanggung jawab untuk hCG peningkatan
hCG dalam darah atau isoform hCG dengan aktivitas yang lebih tinggi pada
tiroid. Namun ada kritik terhadap teori ini, bahwa (1) mual dan muntah adalah
gejala tidak biasa terjadi pada hipertiroidisme, (2) tanda-tanda hipertiroidisme
biokimia tidak universal dalam kasus hiperemesis gravidarum, dan (3) beberapa
studi telah gagal untuk mengkorelasikan tingkat keparahan gejala dengan
kelainan biokimia
(2)

Tingkat estradiol yang tinggi mungkin berhubungan dengan tingkat
keparahan mual dan muntah pada pasien yang sedang hamil.
Progesteronmemuncak pada trimester pertama dan menurunkan aktivitas otot
polos, namun, studi telah gagal untuk menunjukkan hubungan antara tingkat
progesteron dan gejala mual dan muntah pada wanita hamil. Lagiou et al
mempelajari secara prospektif 209 wanita dengan mual dan muntah yang
menunjukkan bahwa kadar estradiol yang berkorelasi positif sementara kadar
prolaktin terbalik terkait dengan mual dan muntah dalam kehamilan dan tidak ada
korelasi dengan estriolatau progesteron.

Disfungsi gastrointestinal
Disritmia lambung telah dikaitkan dengan morning sickness. Disritmia
dikaitkan dengan mual. Mekanisme yang menyebabkan disritmia lambung
termasuk tingkat estrogen atau progesteron yang tinggi, gangguan tiroid, kelainan
dalam tonus vagusdan simpatik, dan sekresi vasopresin sebagai respon gangguan
volume intravaskular. Progesteron juga didugamenyebabkan mual dan muntah
dengan cara menghambatmotilitas lambung dan irama kontraksi otot-otot
poloslambung.Banyak dari faktor-faktor ini hadir pada awal kehamilan. Faktor-
faktor tersebut diduga lebih parah atau saluran pencernaan lebih sensitif terhadap
perubahan neural/humoral pada penderita hiperemesis gravidarum.

Disfungsi hepatic
Penyakit hati, biasanya terdiri dari elevasi serum transaminase ringan,
terjadi pada hampir 50% pasien dengan hiperemesis gravidarum. Penurunan
asam lemak oksidasi (FAO) mitokondria telah diduga berperan dalam
patogenesis penyakit hati ibu terkait dengan hiperemesis gravidarum. Wanita
7
heterozigot untuk kerusakan FAO denganhiperemesis gravidarum terkait dengan
penyakit hati sambil membawa janin dengan defek FAO akibat akumulasi asam
lemak dalam plasenta dan menghasilkan spesies oksigen reaktif. Kelaparan juga
memicu lipolisis perifer dan beban peningkatan asam lemak di sirkulasi ibu-
janin, dikombinasikan dengan pengurangan kapasitas mitokondria untuk
mengoksidasi asam lemak pada ibu heterozigotdengan defek FAO, juga dapat
menyebabkan hiperemesis gravidarum danliver injury, meskipun demikian janin
tidak terpengaruh.

Perubahan lipid
Jarnfelt-Samsioe et al menemukan tingkat trigliserida, kolesterol total,
dan fosfolipid yang lebih tinggi pada wanita dengan hiperemesis gravidarum
dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak muntah dan wanita yang tidak hamil.
Hal ini mungkin terkait dengan kelainan fungsi hati pada wanita hamil. Namun,
Ustundkk menemukan penurunan tingkat kolesterol total, kolesterol LDL, apoA
dan apoB pada wanita dengan hiperemesis gravidarum dibandingkan dengan
kontrol.

Infeksi
Helicobacter pylori adalah bakteri yang ditemukan di dalam perut yang
dapat memperburuk mual dan muntah dalam kehamilan. Studi telah menemukan
bukti yang bertentangan tentang peran H pylori di gravidarum hiperemesis.
Penelitian terbaru di Amerika Serikat tidak menunjukkan hubungan dengan
hiperemesis gravidarum. Namun, mual dan muntah persisten luar trimester kedua
mungkin disebabkan oleh ulkus peptikum aktif yang disebabkan oleh infeksi H
pylori.

Vestibular dan penciuman
Penciuman yang terlalu sensitif dapat menjadi faktor yang berkontribusi
terhadap mual dan muntah selama kehamilan. Banyak ibu hamil mual karena bau
masakan makanan, khususnya daging. Kesamaan mencolok antara hiperemesis
gravidarum danmotion sickness menunjukkan bahwa gangguan vestibular
subklinis mungkin bertanggjawab untuk beberapa kasus hiperemesis gravidarum.

8
Genetik
Dalam studi meneliti hiperemesis gravidarum pada keluarga, penelitian
menunjukkan aspek genetik yang mungkin untuk hiperemesis. Sebuah studi yang
dilakukan pada544.087 kehamilan dari registri kelahiran wajib Norwegia 1967-
2005. Penelitian ini menunjukkan bahwa anak-anak perempuan yang lahir dari
kehamilan dengan hiperemesis memiliki risiko 3% memiliki hiperemesis pada
kehamilan mereka sendiri. Wanita yang lahir dari kehamilan tanpa
hiperemesismemiliki risiko 1,1%. Dalam survei diberikan kepada ibu yang
memiliki kehamilan dengan komplikasi hiperemesis, tingkat hiperemesis tinggi
di antara saudara. Hal ini terutama di pada saudara kandung. Secara keseluruhan,
data menunjukkan bahwa predisposisi genetik mungkin memainkan peran dalam
hiperemesisgravidarium.

Penelitian biokimia
Hiperemesis gravidarum dikaitkan dengan aktivasi saraf
simpatikberlebihandan produksi tumor necrosis factor (TNF)-alpha yang
berlebihan. Peningkatan adenosin juga terjadi, adenosin berfungsi menekan
aktivasi saraf simpatik yang berlebihan dan produksi sitokin, peningkatan plasma
adenosin dalam hiperemesis gravidarum bersifat modulator. Trofoblasyang
dipicu sitokin dapat menginduksi sekresi hCG.
Imunoglobulin C3 dan C4 dan limfosit secara signifikan lebih tinggi pada
wanita dengan hiperemesis gravidarum. Keseimbangan T-helper 1/T-helper 2
menurun pada wanita dengan hiperemesis gravidarum, yang menghasilkan
kekebalan humoral meningkat. Peningkatan DNA janin telah ditemukan dalam
plasma ibu dari wanita dengan hiperemesis gravidarum, dan DNA yang
meningkat berasal dari trofoblas yang telah dihancurkan oleh sistem kekebalan
tubuh ibu yang hiperaktif. Dengan demikian, hiperemesis gravidarum ini
dimediasi oleh penyimpangan imunitas pada kehamilan.

Masalah psikologis
Perubahan fisiologis yang berhubungan dengan kehamilan berhubungan
dengan keadaan psikologis wanita dan nilai-nilai budaya. Respon psikologi dapat
mempengaruhi dan memperburuk mual dan muntah selama kehamilan. Meskipun
demikian, hiperemesis gravidarum biasanya menjadi penyebab stres
9
psikologisbukan sebaliknya. Dalam kasus yang sangat tidak biasa, kasus
hiperemesis gravidarum dapat mewakili penyakit jiwa, termasuk konversi atau
gangguan somatisasi atau depresi mayor.
V. KOMPLIKASI
Hiperemesis gravidarum yang menyebabkan komplikasi mual dan muntah
pada hamil muda bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan
tidak imbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. Berikut adalah
komplikasi yang bisa terjadi pada hyperemesis gravidarum
1. Hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan
lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang
tidak sempurna terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton asetik,
asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah.
2. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan karena muntah
menyebabkan dehidrasi sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang.
Natrium dan khlorida darah dan klorida air kemih turun. Selain itu juga dapat
menyebabkan hemokonsentrasi sehingga aliran darah ke jaringan berkurang.
3. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi
lewat ginjal menambah frekuensi muntah muntah lebih banyak, dapat
merusak hati dan terjadilah lingkaran setan yang sulit dipatahkan
Selain dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit dapat terjadi pula
beberapa komplikasi lain yang parah namun jarang terjadi seperti di bawah ini
(5)
:
Depressionsebab atau akibat
Esophageal ruptureBoerhaave syndrome
Hypoprothrombinemiavitamin K
Renal failuremungkin membutuhkan dialisis
Wernicke encephalopathydefisiensi thiamin, gejala khas dengan triad
konfusi, ataxia dan kelainan pada mata.
Sindroma Mallory-Weiss perdarahan, pneumothorax,pneumomediastinum,
pneumopericardium.
10
VI. KLASIFIKASI
Secara klinis, hiperemesis gravidarum dibedakan atas 3 tingkatan, yaitu
(1)
:
1. Tingkat I
Muntah yang terus menerus, timbul intoleransi terhadap makanan dan
minuman, berat badan menurun, nyeri epigastrium, muntah pertama keluar
makanan, lender dan sedikit cairan empedu, dan yang terakhir keluar
darah.Nadi meningkat sampai 100x/ menit dan tekanan darah sistolik
menurun.Mata cekung dan lidah kering, turgor kulit berkurang dan urin sedikit
tetapi masih normal.
2. Tingkat II
Gejala lebih berat, segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan, haus
hebat, subfebril, nadi cepat dan lebih dari 100 140x/ menit,tekanan darah
sistolik kurang dari 80 mmHg, apatis, kulit pucat, lidah kotor, kadang ikterus,
aseton, bilirubin dalam urin, dan berat badan cepat menurun.
3. Tingkat III
Walaupun kondisi tingkat III sangat jarang, yang mulai terjadi adalah
gangguan kesadaran (delirium-koma), muntah berkurang atau berhenti, tetapi
dapat terjadi ikterus , sianosis, nistagmus, gangguan jantung, bilirubin, dan
proteinuria dalam urin.
VII. DIAGNOSIS
o Amenorea yang disertai muntah hebat, pekerjaan sehari-hariterganggu.
o Fungsi vital : nadi meningkat 100 kali per menit, tekanan darah menurun
pada keadaan berat, subfebril dan gangguan kesadaran(apatis-koma)
o Fisik : Dehidrasi, kulit pucat, ikterus, sianosis, berat badan menurun, pada
vaginal toucher uterus besar sesuai besarnya kehamilan, konsistensi lunak,
pada pemeriksaan inspekulo serviks berwarna biru (livide).
Pada keluhan hiperemesis yang berulang perlu dipikirkan untuk
konsultasi psikologi.Diagnosis hiperemesis gravidarum tidak sukar. Harus
ditentukan adanya kehamilan muda dan muntah yang terus-menerus, sehingga
mempengaruhi aktivitas pasien. Bila diagnosis hiperemesis gravidarum sudah
11
ditegakkan secara klinis maka kehamilan mola dan gestasi multipel harus
diperiksa karena bisa muncul bersama dengan hiperemesis gravidarum pada
30% kasus.
(4)

VII. DIAGNOSIS BANDING
Apendisitis
Penyakit bilier
Fatty liver
Hepatitis
Pankreatitis
Gastroesophageal reflux disease
Ulkus peptikum
Nefrolitiasis
Hyperthyroidism

VIII. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium :
Urinalisis untuk keton dan berat jenis: Merupakan tanda kelaparan, keton
dapat membahayakan perkembangan janin. Gravitasi spesifik yang tinggi
terjadi dengan penurunan volume.
Serum elektrolit dan keton: Menilai status elektrolit untuk mengevaluasi
kalium atau natrium, mengidentifikasi alkalosis metabolik atau asidosis, dan
mengevaluasi fungsi ginjal.
Enzim hati dan bilirubin: tingkat transaminase. Peningkatan dapat terjadi pada
sebanyak 50% dari pasien dengan hiperemesis gravidarum. Kenaikan
transaminase ringan sering normal kembali setelah mual berhenti. Bila enzim
hati tinggi secara signifikan, mungkin tanda kondisi lain yang mendasarinya
seperti hepatitis (virus, iskemik, autoimun), atau beberapa etiologi lainnya.
Amilase / lipase: tingkat amilase meningkat pada sekitar 10% pasien dengan
hiperemesis gravidarum. Lipase, bila dikombinasikan dengan amilase, dapat
meningkatkan spesifisitas dalam mendiagnosis pankreatitis sebagai suatu
etiologi.
12
TSH, tiroksin bebas: Hiperemesis gravidarum sering dikaitkan dengan
hipertiroidisme transien dan menekan tingkat TSH pada 50-60% kasus.
Namun, tiroksin bebas yang tinggi mungkin menunjukkan hipertiroidisme,
sehingga memerlukan pemeriksaan lebih lanjut dan pengobatan.
Kultur urin: Ini dapat diindikasikan karena infeksi saluran kemih yang sering
terjadi pada kehamilan dan dapat berhubungan dengan mual dan muntah.
Tingkat Kalsium: Pertimbangkan mengukur tingkat Ca + +. Beberapa kasus
yang jarang terjadi menunjukkan hiperkalsemia yang terkait dengan
hiperemesis gravidarum, akibat hiperparatiroidisme.
Hematokrit: Meningkat karena volume cairan tubuh berkurang.
Leukosit : Leukositosis dengan shift to the left.
Panel hepatitis: Jika secara klinis mengindikasikan, hepatitis A, B, atau C
mungkin susah dibedakan dengan hiperemesis gravidarum.

Pemeriksaan radiologi
USG obstetribiasanya diperlukan pada pasien dengan HEG untuk
mengevaluasi kehamilan kembar atau penyakit trofoblas.
Pemeriksaan radiologi tambahan umumnya tidak diperlukan kecuali presentasi
klinis atipikal (misalnya, mual dan / atau muntah awal setelah 9-10 minggu
usia kehamilan, mual dan / atau muntah bertahan setelah 20-22 minggu,
eksaserbasi akut) atau gangguan lain adalah disarankan berdasarkan anamnesis
atau temuan pemeriksaan fisik.
Jika diindikasikan secara klinis, melakukan ultrasonografi perut bagian atas
untuk mengevaluasi pankreas dan / atau traktus bilier.
Dalam kasus yang jarang terjadi, perut CT scan atau bahkan MRI dapat
diindikasikan jika apendisitis sedang dipertimbangkan sebagai penyebab mual
dan muntah dalam kehamilan.

Pemeriksaan invasif
Pada pasien dengan nyeri perut atau perdarahan gastrointestinal bagian atas,
endoskopi gastrointestinal bagian atas tampaknya aman pada kehamilan,
meski pengawasan yang hati-hati disarankan.
13
IX. PENATALAKSANAAN
(1)(2)(3)(4)(5)

Pada prinsipnya penatalaksanaan pada hiperemesis gravidarum adalah
suportif. Perubahan gaya hidup dan diet dapat membantu pasien. Pasien diedukasi
untuk menghindari bau-bauan yang tidak enak, makan jenis makanan karbohidrat
yang kering dan tidak terlalu berasa.Makan porsi kecil tapi sering. Jarak anatara
makanan padat dan cair minimal 2 jam.
1. Diet
Selama hamil ada kenaikan kebutuhan akan kalori sampai dengan
80.000 kcal. Terutamapada 20 minggu terakhir.National Research Council
1989 menganjurkan untukmemberikan kalori tambahan pada ibu hamil 300
kcal / hari selama hamil. Bilakebutuhan ini tidak tercukupi maka kebutuhan
energi ini akan diambil dari persediaanprotein tubuh yang seharusnya
disediakan untuk keperluan pertumbuhan janin (Hytten, 1991).
(7)
Wanita
kebutuhan kalorinya kurang lebih 25 kkal/kg, sedangkan pria 30 kkal/kg.
Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III.
Makanan hanya berupa roti kering dan buah-buahan.Cairan tidak diberikan
bersama makanan tetapi 1 2 jam sesudahnya. Makanan ini kurang dalam
semua zat zat gizi, kecuali vitamin C, karena itu hanya diberikan selama
beberapa hari.
Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang. Secara
berangsur mulai diberikan makanan yang bernilai gizi tinggi. Minuman tidak
diberikan bersama makanan. Makanan ini rendah dalam semua zat-zal gizi
kecuali vitamin A dan D.
Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan.
Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan.
Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali Kalsium.
2. Cairan parenteral
Pilihan cairan adalah normal saline (NaCl 0,9%). Cairan dextrose tidak
boleh diberikan karena tidak mengandung sodium yang cukup untuk
mengkoreksi hiponatremia. Suplemen potasium boleh diberikan intravena
sebagai tambahan. Pemberian nutrisi parenteral lebih baik dihindari, bila
pasien tidak dapat makan per oral, lebih baik melalui nasogastric tube yang
14
lebih tidak invasif, nutrisi parenteral bisa meningkatkan resiko komplikasi
seperti trombosis vena, selulitis, endokarditis bakterial dan pneumonia.
Berikut perhitungan cairan untuk rehidrasi.
(8)


Diunduh dari http://www.merckmanuals.com/
3. Obat-obatan.
Antiemetik seperti Metoclopramide, 5-10 mg diminum setiap 8 jam
dapat digunakan selanjutnya. Promethazine, 12,5 mg oral atau rektal setiap 4
jam, atau dimenhydrinate 50-100 mg oral q4-6h, dapat ditambahkan juga.
Ondansetron 4-10 mg oral atau IV setiap 8 jam dapat digunakan.
Obat-obatan yang digunakan antara lain adalah vitaminB6 (piridoksin),
antihistamin dan agen-agen prokinetik.American College of Obstetricians and
Gynecologists(ACOG) merekomendasikan 10 mg piridoksin ditambah 12,5mg
doxylamine per oral setiap 8 jam sebagai farmakoterapilini pertama yang aman
dan efektif. Dalam sebuah randomizedtrial, kombinasi piridoksin dan
doxylamine terbuktimenurunkan 70% mual dan muntah dalam kehamilan
(6).

Selain itu perlu ditambahkan juga Thiamine 100 mg IV minimal
selama 3 hari untuk mencegah Wernickes encephalophaty. Pemberian
vitamin B6 ternyata tidak memberikan manfaat secara medis
(4)
.

4. Terapi psikologik
Perlu diyakinkan kepada penderita bahwa penyakit dapat
disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan
serta menghilangkan masalah dan konflik, yang kiranya dapat menjadi latar
belakang penyakit ini.
5. Penghentian kehamilan
15
Pada sebagian kecil kasus keadaan tidak menjadi baik, bahkan mundur.
Usahakan mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatrik jika memburuk.
Delirium, kebutaan, takikardi, ikterus, anuria dan perdarahan merupakam
manifestasi komplikasi organik. Dalam keadaan demikian perlu
dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk melakukan
abortus terapuetik sering sulit diambil, oleh karena disatu pihak tidak boleh
dilakukan terlalu cepat, tetapi dilain pihak tidak boleh menunggu sampai
terjadi gejala irreversibel pada organ vital.
6. Observasidan isolasi
Observasi dan isolasi dilakukan dalam kamar yang tenang cerah dan
peradaran udara yang baik hanya dokter dan perawat yang boleh keluar masuk
kamar sampai muntah berhenti dan pasien mau makan. Catat cairan yang
masuk dan keluar selama 24 jam. Kadang-kadang dengan isolasi saja gejala-
gejala akan berkurang atau hilanhg tanpa pengobatan
Dibuat daftar kontrol cairan yang masuk dan yang dikeluarkan. Air
kencing perlu diperiksa sehari-hari terhadap protein, aseton, khlorida dan
bilirubin. Suhu dan nadi diperiksa setiap 4 jam dan tekanan darah 3 kali sehari.
Dilakukan pemeriksaan hematokrit pada permulaan dan seterusnya menurut
keperluan. Bila selama 24 jam penderita tidak muntah dan keadaan umum
bertambah baik dapat dicoba untuk diberikan minuman, dan lambat laun
minuman dapat ditambah dengan makanan yang tidak cair. Dengan
penanganan diatas, pada umumnya gejala-gejala akan berkurang dan keadaan
akan bertambah baik.
7. Pengobatan alternatif
Terapi alternatif seperti akupunktur dan jahe telah diteliti untuk
penatalaksanaan mual dan muntah dalam kehamilan.Akar jahe (Zingiber
officinale Roscoe) adalah salah satu pilihan nonfarmakologik dengan efek
yang cukup baik.Bahan aktifnya, gingerol, dapat menghambat pertumbuhan
seluruh galur H. pylori, terutama galur Cytotoxin associated gene (Cag) A+
yang sering menyebabkan infeksi. Empat randomizedtrials menunjukkan
16
bahwa ekstrak jahe lebih efektif mengatasi mual muntah daripada plasebo dan
efektivitasnya sama dengan vitamin B6. Efek samping berupa refluks
gastroesofageal dilaporkan pada beberapa penelitian, tetapi tidak ditemukan
efek sampingsignifikan terhadap keluaran kehamilan.Dosisnya adalah 250 mg
kapsul akar jahe bubuk per oral, empat kali sehari.Terapi akupunktur untuk
meredakan gejala mual dan muntah masih menjadi kontroversi.Penggunaan
acupressure pada titik akupuntur Neiguan P6 di pergelangan lengan
menunjukkan hasil yang tidak konsisten dan penelitiannya masih terbatas
karena kurangnya uji yang tersamar. Dalamsebuah studi yang besar
didapatkan tidak terdapat efek yang menguntungkan dari penggunaan
acupressure,4 namun The Systematic Cochrane Review mendukung
penggunaan stimulasi akupunktur P6 pada pasien tanpa profilaksis antiemetik.
Stimulasi ini dapat mengurangi risiko mual.Terapi stimulasi saraf tingkat
rendah pada aspek volar pergelangan tangan juga dapat menurunkan mual dan
muntah serta merangsang kenaikan berat badan.

X. PROGNOSIS
(3)(4)
Dengan penanganan yang baik prognosis hiperemesis gravidarum sangat
memuaskan tidak ada efek buruk yang kemudian terjadi pada ibu maupun janin.
Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri setelah 2-3 minggu, namun demikian
pada tingkatan yang berat, penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin yang
menjadi pegangan bagi kita untuk menilai maju mundurnya pasien adalah adanya
aseton dam urin dan berat badan sangat turun.
Penanganan yang buruk seperti nutrisi dan elektrolit yang tidak adekuat
menyebabkan rendahnya kadar thiamin, riboflavin, vitamin B6, dan vitamin A.
Wernickes enchephalopathy terjadi karena defisit thiamin. Hiponatremia yang
terjadi dapat menyababkan myelinosis pontine sentral. Selain itu jangka panjang
dapat terjadi berat bayi lahir rendah, perdarahan antepartum, kelahiran preterm
dan berbagai kelainan fetal.
XI. PENCEGAHAN
(4)

Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum perlu dilaksananakan
dengan jalan memberikan penerangan tentang kehamilan dan persalinan sebagai
17
suatu proses yang fisiologik, memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-
kadang muntah merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan
hilang setelah kehamilan 4 bulan, menganjurkan mengubah makanan sehari-hari
dengan makanan dalam jumlah kecil, tetapi lebih sering dan diusahakan banyak
makan karbohidrat dan berupa makanan kering.Bila merasa lapar lebih baik
makan jangan ditahan. Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya
dihindarkan. Makanan dan minuman seyogyanya disajikan tidak dalam keadaan
panas atau sangat dingin. Dapat juga ditambahkan suplemen berupa
multivitamin. Defekasi yang teratur hendaknya dapat dijamin, menghindarkan
kekurangan karbohidrat merupakan faktor yang penting, oleh karenanya
dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula.























18
BAB II
PRESENTASI KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama pasien : Ny. EY
Umur :26 tahun
Pendidikan : D3
Pekerjaan : Karyawan swasta
Suku : sunda
Agama : Islam
Golongan darah : AB Rhesus positif
Alamat :Jl. Pakualaman, Yogyakarta
No. RM :35 98 34
Masuk RS : 15 Mei 2013 Pukul 10.30 WIB

*****************************************************************
Nama Suami : Tn. Y
Usia :32 tahun
Pendidikan :
Pekerjaan :TNI
Suku Bangsa :Jawa
Agama : Islam
Golongan darah : A Rhesus positif



II. DATA DASAR
Dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 15 Mei 2013, pk 10.30 WIB
Keluhan utama :
Muntah-muntah sejak 3 hari sebelum masuk RS.
Keluhan tambahan :
-Lemas

19
Riwayat penyakit sekarang :
Pasien datang dengan keluhan muntah-muntah sejak 3 hari sebelum
masuk RS.Selain itu pasien juga merasa lemas.Muntah-muntah sebanyak 5
kali dalam sehari makan masih bisa sedikit-sedikit, muntah berisi air dan
makanan tidak ada darah kurang lebih setengah gelas aqua setiap muntah,
muntah didahului mual dan tidak menyemprot. Selama hamil keluar flek(-),
lendir(-), darah(-), air-air(-), keputihan(-).Pasien merasa bertambah kurus dan
berat badan turun.Sebelumnya tidak pernah sakit seperti ini.Pasien belum
mengkonsumsi obat apapun.BAB 1 kali sehari, warna coklat,mencret(-).
BAK lancar kuning jernih 2-3x sehari kurang lebih setengah gelas
aqua.Demam(-), nyeri perut(-), sakit kepala(-), gatal-gatal di tubuh(-).
Pasien mengaku hamil 7 minggu. HPHT tanggal 1 April 2013.
Taksiran partus tanggal 8 Januari 2014. Pasien sudah kontrol satu kali ke
bidan dengan hasil tes plano(+) pada usia kehamilan 3 minggu, tidak
dilakukan USG dan disarankan untuk makan yang banyak. Pasien mengaku
sebelum hamil dan saat hamil pasien tidak pernah menderita hipertensi.

Perangai Pasien :
Selama pemeriksaan pasien kooperatif.

Riwayat Haid
- Menarche :13 tahun
- Siklus : 28 hari, teratur
- Lamanya :7 hari
- Nyeri haid : Tidak
- Banyaknya : 2-3kali ganti pembalut per hari

Riwayat KB
- KB suntik per bulan sejak 2004-2006


Riwayat Pernikahan
- Menikah satu kali , lama pernikahan 10 tahun.
20

Riwayat Obstetri
1. Laki laki,BBL 2600 gr,Spontan,Dokter spesialis
2. Hamil ini

Riwayat Penyakit Dahulu
- Riwayat Hipertensi : Disangkal
- Riwayat Diabetes Melitus : Disangkal
- Riwayat Penyakit Jantung : Disangkal
- Riwayat Asma :Disangkal
- Riwayat Alergi :Disangkal
- Riwayat sakit maag : Disangkal
- Riwayat Operasi :Disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga
- Riwayat Hipertensi :Disangkal
- Riwayat Diabetes Melitus : Disangkal
- Riwayat Penyakit Jantung : Disangkal
- Riwayat Asma :Disangkal
- Riwayat Keganasan : Disangkal

Catatan penting selama antenatal care :-

III. PEMERIKSAAN FISIK
Pada tanggal 15 Mei 2013, pk 10.30 WIB
1. Status Generalis
Keadaan umum :Tampak Sakit Ringan
Kesadaran : Compos Mentis
Berat badan :41 kg
Berat badan 3 bulan lalu : 42 kg
Tinggi badan : 157cm
Index massa tubuh :16.6Kg/m
2

Tanda-tanda vital
21
Tekanan darah : 100/70 mmHg
Frekuensi nadi :112x/mnt, isi cukup, reguler
Pernafasan :24x/mnt
Suhu : 36,8
o
C
Mata :Palpebra cekung(-/-), edema(-/-).
Konjungtiva pucat (-/-), Sklera ikterik (-/-)
Dada : Simetris saat statis dan dinamis, retraksi (-)
Paru : Sonor, vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-)
Jantung : Bunyi jantung I II reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen :Sikatrik bekas operasi (+) quadran kanan bawah,
Turgor <2, Nyeri tekan(-), nyeri lepas(-)
Ekstremitas : Akral hangat, edema (-), pucat (-), CRT<2

2. Status Obstetri Ginekologi
a. Pemeriksaan Luar
Abdomen datar, nyeri tekan(-)
b. Pemeriksaan dalam
Inspekulo : Portio livid, ostium tertutup, fluor (-), fluksus (-),
Periksadalam : Uterus membesar sesuai usia kehamilan, nyeri(-),
massa adnexa(-/-)

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG DIAGNOSTIK
Laboratorium
Tanggal:15 Mei 2013
KETON:Negatif


USG
15 Mei 2013
Usia Gestasi:7 minggu
Yolk sac +


22
V. RESUME
Perempuan G2P1A0 hamil 7 minggu datang dengan keluhan muntah-muntah
dan lemas 3 harisebelum masuk Rumah Sakit.Antenatal Care baru satu kali di
bidan.Selama ANC tidak ditemukan riwayat hipertensi.Muntah-muntah sebanyak
5 kali dalam sehari makan masih bisa, muntah berisi air dan makanan, darah(-)
kurang lebih setengah gelas aqua, muntah didahului mual dan tidak menyemprot.
Selama hamil keluar flek(-), lendir(-), darah(-), air-air(-), keputihan(-). HPHT 1
April 2013.Sebelumnya tidak pernah sakit seperti ini.BAK kurang, BAB
normal.Demam(-), nyeri perut(-), sakit kepala(-), gatal-gatal di tubuh(-).
Dari pemeriksaan fisik didapatkan, pasien compos mentis, dengan tekanan
darah 100/70 mmHg, nadi 112 x/menit, nafas 24x/menit, suhu 36,8
0
C. Pada
pemeriksaan fisik ditemukan berat badan kurang(BMI<19,8), portio livid.
Dari pemeriksaan penunjang USG didapatkan ada janin tunggal di dalam
rahim, dari pemeriksaan lab didapatkan keton negatif

VI. DIAGNOSA KERJA
Ibu :Hyperemesis gravidarumpada G2P1A0 Hamil 7 minggu
Janin : Janin tunggal hidup

VII. DIAGNOSA BANDING
Hyperthyroidism
Hepatitis
Gastroesophageal reflux disease
Ulkus peptikum
Nefrolitiasis
Pankreatitis

VIII. RENCANA PENATALAKSANAAN
1. Rencana Diagnostik
Periksa laboratorium darah lengkap,dan urinalisa
2. Rencana Terapi
IVFD:KA-ENMg3+Neurobion 1 amp + RL + D5NS = 1:1:1
23
Medis :Ranitidine 2 x 50 mg i.v., Ondansetron 3 x 10 mg iv, Vitamin
C 1 x 500 mg PO, Asam folat 1 x 5 mg PO
3. Rencana Edukasi
Menjelaskan kepada pasien, suami pasien, beserta keluarga pasien
tentang keadaan muntah-muntah berlebihan pada kehamilan dan
tatalaksananya antara lain untuk mengatur makan sedikit-sedikit tapi sering
diutamakan karbohidrat kering, hindari makanan berminyak, berlemak atau
pedas. Makanan padat dan cair pemberiannya minimum terpisah 2 jam.

PROGNOSIS
Ibu
Quo ad vitam : bonam
Quo ad functionam : bonam
Quo ad sanactionam :bonam
Janin :bonam

24
IX. FOLLOW UP

Tanggal : 16/5/2012
S = Mual(+), muntah(+) 1 x
O = KU : baik, Kesadaran : CM
TD= 120/80 mmHg, N= 80x/m teratur, RR=20x/m teratur, Suhu= 36,8
0
C
Abdomen = nyeri tekan(-)
A= G2P1A0 Hamil 7 minggu dengan Hyperemesis gravidarum
P= Cek pemeriksaan keton
Makan sedikit-sedikit tapi sering
Ranitidine 2 x 50 mg i.v., Ondansetron 3 x 10 mg iv, Vitamin C 1 x 500
mg PO, Asam folat 1 x 5 mg PO
Tanggal : 17/5/2012
S=Mual (-), muntah (-),
O= KU : baik, Kesadaran : CM
TD= 120/80 mmHg, N= 88x/m teratur, RR=18x/m teratur, Suhu= 36,5
0
C
Abdomen = nyeri tekan(-)
A=G2P1A0 Hamil 7 minggu dengan hyperemesis gravidarum perbaikan
P=
Makan biasa
Ranitidine 2 x 250 PO, Antacid 2 x 1 PO, Vitamin C 1 x 500 mg PO,
Asam folat 1 x 5 mg PO
Tanggal : 18/4/2012
S=Mual (-), muntah (-),
O=KU : baik, Kesadaran : CM
TD= 110/70 mmHg, N= 80x/m teratur, RR=20x/m teratur, Suhu= 36,5
0
C
Abdomen = nyeri tekan(-)
A=G2P1A0 Hamil 7 minggu dengan hypermesis gravidarum perbaikan
P=Rencana Pulang
Makan biasa
Ranitidine 2 x 250 PO, Antacid 2 x 1 PO, Vitamin C 1 x 500 mg PO,
Asam folat 1 x 5 mg PO


25
BAB III
ANALISA KASUS
Ny.EY26 tahun G2P1A0 H7 minggu datang dengan keluhan mual muntah 3 hari
dan lemas sebelum masuk Rumah Sakit.Penegakkan diagnosis hiperemesis
gravidarum didapat dari amenorea, mual muntah yang dirasa berat, uterus
membesar sesuai kehamilan, dan portio livid. Komplikasi dari hiperemesis
gravidarum yaitu tanda-tanda dehidrasi dan kurang asupan antara lain didapatkan
lemas, urin kurang, berat badan berkurang, nadi 112x/menit. Dari USG didapatkan
janin tunggal intra uterine hidup dan telah disingkirkan kehamilan mola dan
gestasi multiple.
Untuk rencana diagnostik seharusnya diperiksa laboratorium darah lengkap,
diff. count, elektrolit(Na, K, Cl), urinalisa, TSH, T3, T4, liver function test,
amylase/lipase untuk menyingkirkan diagnosa banding. Selain itu pasien juga
dipantau balance cairan yaitu jumlah cairan yang masuk dikurangi jumlah cairan
keluar (IWL dan urin output) setiap hari.
Untuk tatalaksana, pasien harus dirawat karena sulit makan dan ada penurunan
berat badan karena banyak cairan dan makanan yang keluar dari muntah.Pasien
dirawat di ruang isolasi agar secara psikologis lebih tenang dan mempermudah
pengawasan. Terapi di RS pada prinsipnya adalah rehidrasi, pengaturan diet dan
farmakologik. Untuk terapi cairan seharusnya tidak perlu diberikan beberapa
cairan seperti D5NS atau RL, tetapi prinsipnya diberikan cairan yang dapat
memenuhi kebutuhan elektrolit dan nutrisi pasien. Untuk rehidrasi, mengkoreksi
ketidakseimbangan elektrolit dan memenuhi kebutuhan kalori diberikan IVFD:
KA-ENMG3 (Tiap 1000 cc mengandung NaCl 1,75 gr, KCl 1,5 gr, Natrium laktat
2,24 gram, dan dextrose anhidrat 100 gram) 2920cc/24 jam berdasarkan rumus
Holliday-Segar(1500+20 x (41-20)= 2920 cc) karena pasien sulit makan minum
maka rehidrasi dibantu per intravena. Kebutuhan kalori harian pasien 41kg x 25
kkal = 1025 kkal ditambah kebutuhan kalori ibu hamil tiap hari 300 kkal menjadi
1325 kkal, dicukupkan dengan infus KA-ENMG3 dengan kandungan 100 gr/L (1
gram = 4kkal) total 3 x 400 = 1200 kkal dibantu dengan makanan seperti biskuit
dan kacang-kacangan dalam jumlah kecil tetapi sering dan jarak antara makanan
padat dan cair minimal 2 jam. Secara farmakologis seharusnya diberikan
Thiamine 1 x 100 mg ivuntuk mencegah Wernickes encephalopathy, lalu anti
26
mual muntah Ondansetron 3 x 10 mg i.v. juga boleh diberikan, namun neurobion
dan ranitidine tidak perlu diberikan karena tidak ada bukti dapat memperbaiki
kondisi pasien. Secara per oral, vitamin C dan asam folat tidak perlu diberikan,
seharusnya pyridoxine 3 x 10 mg dan doxylamine 3 x 12,5 mg. Untuk pengobatan
alternative boleh diberikan kapsul akar jahe bubuk 4 x 250 mg.
Prognosis quo ad vitam, quo ad functionam bonam, dan quo ad sanationam ibu
dan janin bonam karena dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan riwayat antenatal
care (ANC) dan tata laksana yang baik maka tanda vital, fungsi organ, dan
kemungkinan untuk pasien sembuh cukup tinggi. Edukasi yang diberikan pada
pasien selain minum obat, berikan penjelasan juga mengenai faktor resiko
terhadap hyperemesis gravidarum.


















27

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan :
Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi pada awal kehamilan sampai
umur kehamilan 20 minggu.Kejadian hyperemesis cukup sering pada ibu hamil
walaupun tidak menyebabkan kematian namun mempunyai dampak buruk terhadap
ibu dan janin bila tidak ditangani dengan benar. Setelah mengkonfirmasi adanya
kehamilan intra-uterine dan mengeksklusi hyperthyroidism, maka tatalaksana awal
bersifat suportif, termasuk memastikan tidak ada penyakit lain yang menjadi
penyebab serta modifikasi diet. Terapi farmakologis untuk pasien dengan gejala yang
berat atau berkelanjutan setelah menimbang resiko dan manfaat serta informed
consent.Untuk kasus yang refrakter disarankan pemberian suplemen nutrisi untuk
menyelamatkan jiwa ibu dan bayi.Tata laksana komprehensif termasuk istirahat,
modifikasi diet dan menjaga asupan cairan. Jikaterjadi komplikasi hiperemesis
gravidarum, penata-laksanaanutama adalah pemberian rehidrasi dan perbaikan
elektrolit.Terapi farmakologi dapat diberikan jika dibutuhkan, sepertipiridoksin,
doxylamine, prometazin, dan meto-klopramindengan memperhatikan kontraindikasi
dan efek sampingnya.Beberapa terapi alternatif sudah mulai diteliti untuk
penatalaksanaanhiperemesis gravidarum, seperti ekstrak jahe danakupuntur, dengan
hasil yang bervariasi.Diagnosis yang cepat dan tatalaksana yang tepat pada
hiperemesis gravidarum akan mengurangi resiko komplikasi baik pada ibu maupun
pada janin.Edukasi pasien penting untuk mencegah hiperemesis gravidarum dan
komplikasinya dan mengurangi resiko perawatan pasien di RS.

Saran :
Pencegahan dengan memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang
muntah merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang rata-
rata setelah kehamilan 4 bulan, menganjurkan mengubah makanan sehari-hari dengan
makanan dalam jumlah kecil, tetapi lebih sering dan diusahakan banyak makan
karbohidrat dan berupa makanan kering.Bila merasa lapar lebih baik makan jangan
ditahan. Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan.
28
Makanan dan minuman seyogyanya disajikan tidak dalam keadaan panas atau sangat
dingin. Dapat juga ditambahkan suplemen berupa multivitamin. Ibu diedukasi untuk
memperbanyak makan karena berat badan masih kurang 7 kg dari berat badan ideal
minimum(BMI 19,8). Diusahakan berat badan ibu naik 0,5 kg per minggu, sehingga
total kenaikan berat badan selama kehamilan kurang lebih 16-20 kg.



29
DAFTAR PUSTAKA

1. Prawirohardjo, Sarwono.Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka, 2009. ISBN
978-9790-8150-25-8.
2. Dotun A Ogunyemi. Hyperemesis Gravidarum. MedScape Reference. [Online]
MedScape, August 6, 2011. [Cited: Juni 6, 2013.]
http://emedicine.medscape.com/article/254751-overview#showall.
3. Cristiane Guberman, Jeffrey Greenspan, T. Murphy Goodwin. Renal, Urinary
Tract, Gastrointestinal, & Dermatological Disorders in Pregnancy. [book auth.] T.
Murphy Goodwin, Lauren Nathan, Neri Laufer Alan H. DeCherney. CURRENT
Diagnosis and Treatment Obstetric and Gynecology 10th Edition. United States : The
McGraw-Hill Companies, 2007.
4. Hyperemesis Gravidarum : Literature Review. Philip, Binu. 3, Wisconsin :
Wisconsin Medical Journal, 2003, Vol. 102. ISSN 1098-1861.
5. Diane M. Twickler, George D. Wendel, Jr.Williams Obstetric 23rd edition. United
States : The McGraw-Hill Companies, Inc, 2010. ISBN: 978-0-07-170285-0.
6. Kevin Gunawan, Paul Samuel Kris Manengkei, Dwiana Ocviyanti.Diagnosis dan
Tatalaksana Hiperemesis Gravidarum. 2011, Vol. 61, 11.
7. Hariadi, R.Ilmu Kedokteran Fetomaternal. Surabaya : Himpunan Kedokteran
Fetomaternal Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia, 2004.
8. Roberts, Kenneth B. The Merck Manual. Dehydration. [Online] Merck, May 2007.
[Cited: Juni 7, 2013.]
http://www.merckmanuals.com/professional/pediatrics/dehydration_and_fluid_therap
y_in_children/dehydration_in_children.html.

Anda mungkin juga menyukai