Anda di halaman 1dari 107

1.

Rencana kegiatan yang berisi


pengembangan seluruh area perkembangan
anak : fisik, emosional, bahasa, seni, dan
kognitif
2. Mencakup bahasan yang luas meliputi
seluruh disiplin ilmu : sosial, intelektual, dan
konsep diri anak
3. Dibangun atas pengetahuan yang sudah
siap dipelajari dan dilaksanakan anak
(aktivitas pengetahuan utama) untuk
menghubungkan pengetahuan mereka dan
menerima konsep serta keterampilan baru
4. Menggunakan bahan dari berbagai disiplin ilmu
atau mata pelajaran untuk membantu anak
memecahkan masalah yang dihadapi, membuat
hubungan yang bermakna dan memberi
kesempatan untuk menggali perkembangan
konseptual
5. Mengembangkan pengetahuan & pemahaman;
proses; dan keterampilan untuk digunakan dan
diterapkan serta untuk mempelajari pengetahuan
6. Berisi pengembangan intelektual, penemuan inti
pembelajaran, dan alat penerimaan ilmu yang
berbeda sesuai dengan gaya belajar anak
7. Memberi kesempatan anak untuk
mengembangkan budaya dan bahasa
keluarganya sambil mengembangkan
kemampuan dalam bersosialisasi dengan
budaya dan bahasa di sekitarnya
8. Berisi tujuan yang realistik dan dapat
dicapai oleh sebagian besar anak pada
usianya
9. Menggunakan teknologi dan bersifat
filosofis dalam proses pembelajaran
Seperangkat rencana program pendidikan
Berisi berbagai bahan ajar dan
pengalaman belajar
Diprogram, direncanakan, dan dirancang
secara sistematik atas dasar norma yang
berlaku
Pengaturan cara yang digunakan
Dijadikan pedoman pembelajaran
Kurikulum
COR
E
HIDDEN
INTI
TERSEMBU-
NYI
Direncanakan
secara terstruktur
Tidak direncanakan
secara terstruktur
1. Bagi Penulis, acuan dalam membuat
bahan ajar
2. Bagi Guru, acuan dalam membuat
persiapan dan pelaksanaan
pembelajaran
3. Bagi Kepala Sekolah, acuan dalam
melaksanakan supervisi pelaksanaan
kurikulum
4. Bagi Masyarakat, acuan dalam
menentukan kebutuhan output sekolah
1. Pengamatan yang teratur
untuk mempelajari individu
anak dan kelompok/kelas
2. Menilai hubungan
masing-masing anak
sebelum
merumuskan tujuan
3. Mempelajari
minat, pengalaman,
dan pertanyaan
anak
4. Menentukan strategi,
bahan, dan pengalaman
yang akan diberikan
pada anak untuk
mencapai tujuan
pembelajaran
5. Melaksanakan
perencanaan
dengan baik dan
menambah
pemikiran baru
OLEH :
IKA BUDI MARYATUN
Seperangkat rencana
Seperangkat pengaturan kegiatan
pengembangan dan pendidikan
Dirancang sebagai pedoman dalam
menyelenggarakan kegiatan pendidikan
Program pendidikan
Untuk anak usia dini
Dilaksanakan secara holistik
Dapat digunakan dalam memberikan
layanan kegiatan pengembangan dan
pendidikan pada semua jenis program
Umum
Mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini
Sebagai persiapan untuk hidup dan dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungannya
Khusus : Anak mampu
1. Melakukan ibadah, mengenal ciptaan Tuhan
dan mencintai sesama.
2. Mengelola ketrampilan tubuh, termasuk
gerakan-gerakan yang mengontrol gerakan
tubuh, gerakan halus, dan gerakan kasar,
serta menerima rangsangan sensorik
(panca indra).
3. Menggunakan bahasa untuk pemahaman
bahasa pasif dan dapat berkomunikasi
secara efektif yang bermanfaat untuk
berpikir dan belajar.
4. Berpikir logis, kritis, memberi alasan, memecahkan
masalah, dan menemukan hubungan sebab akibat.
5. Mengenal lingkungan alam & sosial, peranan
masyarakat, dan menghargai keragaman sosial
dan budaya. Serta mengembangkan konsep diri
dan kontrol diri.
6. peka terhadap irama, nada, birama, berbagai
bunyi, bertepuk tangan, serta menghargai hasil
karya yang kreatif.
7. Menolong diri sendiri, mengembangkan
keterampilan hidup, serta sikap positif terhadap
belajar
Sebagai pedoman dalam
menyelenggarakan kegiatan pendidikan
anak usia dini
Pada berbagai jenis lembaga
pengembangan anak usia dini pada PAUD
1. Berorientasi pada kebutuhan anak
Layanan pendidikan, kesehatan & gizi
2. Belajar melalui bermain
Bermain bereksplorasi, menemukan &
memanfaatkan benda-benda sekitar
3. Kreatif & inovatif
Mengembangkan rasa ingin tahu, berpikir kritis,
menemukan hal baru
4. Lingkungan yang kondusif
Perhatikan keamanan & kenyaman anak
5. Menggunakan pembelajaran terpadu
Pembelajaran bermakna dengan mengenalkan
berbagai konsep pada anak
6. Mengenmbangkan keterampilan hidup
Pembiasaan mandiri, disiplin,
bersosialisasi, keterampilan diri
7. Menggunakan berbagai media & sumber
belajar
Dari alam atau sengaja disiapkan
8. Pembelajaran yang berorientasi pada prinsip-
prinsip perkembangan anak
ciri-cirinya :
a. Anak terpenuhi kebutuhan fisiknya, merasa aman &
tentram secara psikologis
b. Pembelajaran berulang
c. Belajar emlalui interaksi sosial
d. Minat belajar melalui minat & keingintahuan
e. Memperhatikan perbedaan individu
f. Sederhana ke rumit dsb
8. Stimulasi terpadu
Dalam satu kegiatan dikembangkan beberapa aspek
sekaligus.
FORMAL : TK/RA
NONFORMAL : TPA & KB
INFORMAL
1. STANDAR TINGKAT PENCAPAIAN
PERKEMBANGAN
2. STANDAR PENDIDIK DAN TENAGA
KEPENDIDIKAN
3. STANDAR ISI, PROSES, DAN
PENILAIAN
4. STANDAR SARANA DAN PRASARANA,
PENGELOLAAN, DAN PEMBIAYAAN

Kaidah pertumbuhan dan perkembangan
anak usia dini (0-6 Tahun)
Aktualisasi potensi semua aspek
perkembangan bukan pada pencapaian
kecakapan akademik
Aspek nilai-nilai agama dan moral, fisik,
kognitif, bahasa, dan sosial-emosional
1. Tahap usia 0 - < 2 tahun, terdiri atas kelompok usia:
a. 3 - < 6 bulan
b. 6 - < 9 bulan
c. 9 - < 12 bulan
d. 12 - < 18 bulan
e. 18 - < 24 bulan
2. Tahap usia 2 < 4 tahun, terdiri atas kelompok usia:
a. 2 < 3 tahun
b. 3 < 4 tahun
3. Tahap usia 4 6 tahun, terdiri atas kelompok usia :
a. 4 < 5 tahun
b. 5 6 tahun
Memuat kualifikasi dan kompetensi yang
dipersyaratkan bagi :
guru,
guru pendamping,
Pengasuh
tenaga kependidikan
Pendidik anak usia dini adalah profesional yang
bertugas :
merencanakan,
melaksanakan proses pembelajaran,
menilai hasil pembelajaran,
melakukan pembimbingan,
pengasuhan dan perlindungan anak didik
Bertugas di berbagai jenis layanan baik pada
jalur pendidikan formal maupun nonformal
Formal terdiri dari guru dan guru pendamping;
Pendidik PAUD nonformal terdiri dari guru, guru
pendamping, dan pengasuh
bertugas melaksanakan :
administrasi,
pengelolaan,
pengembangan,
pengawasan,
pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan
pada lembaga PAUD
PAUD Formal terdiri dari Pengawas, Kepala
TK/RA, Tenaga Administrasi, dan Petugas
Kebersihan
PAUD Nonformal terdiri dari Penilik, Pengelola,
Administrasi, dan Petugas Kebersihan
Meliputi :
struktur program,
alokasi waktu,
perencanaan,
pelaksanaan,
penilaian
dilaksanakan secara terintegrasi/terpadu s
esuai dengan tingkat perkembangan, bakat/minat dan
kebutuhan anak
Mempertimbangkan potensi dan kondisi
setempat
Struktur meliputi :
bidang pengembangan pembentukan perilaku
bidang pengembangan kemampuan dasar
melalui kegiatan bermain dan pembiasaan
Bentuk Kegiatan Layanan
Alokasi waktu
Rombongan belajar :
4.2.1 Kelompok usia 0 - <1 tahun 1 : 4 anak;
4.2.2 Kelompok usia 1 - <2 tahun 1 : 6 anak;
4.2.3 Kelompok usia 2 - <3 tahun 1 : 8 anak;
4.2.4 Kelompok usia 3 - <4 tahun 1 : 10 anak;
4.2.5 Kelompok usia 4 - <5 tahun 1 : 12 anak;
4.2.6 Kelompok usia 5 - 6 tahun 1 : 15 anak.
Kalender Pendidikan
Perencanaan: Pengembangan Rencana
Pembelajaran, Prinsip-prinsip,
Pengorganisasian
Pelaksanaan : Penataan Lingkungan Main,
Pengorganisasian Kegiatan,
1. Teknik Penilaian :
Pengamatan,
penugasan,
unjuk kerja,
pencatatan anekdot,
percakapan/dialog,
laporan orang tua,
dokumentasi hasil karya anak (portofolio),
deskripsi profil anak
2. Lingkup
3. Proses
4. Pengelolaan hasil
5. Tindak lanjut
Meliputi :
jenis,
kelengkapan,
kualitas fasilitas yang digunakan dalam
menyelenggarakan proses
penyelenggaraan PAUD
OLEH :
Ika Budi Maryatun
Kata DAP dicetuskan oleh NAEYC
(National Association for the
Education of Young Children) pada
tahun 1998
NAEYC lahir dari Dep Pendidikan USA
untuk merumuskan kurikulum dan
program yang sesuai dgn AUD
Keberhasilan sosialisasi NAEYC
tentang kurikulum untuk PAUD karena
DAP memberikan panduan
pembelajaran berdasarkan jenjang
usia anak
Perencanaan yang bermakna dan
sesuai dengan perkembangan anak
sebagai penerapan pengetahuan
mengenai perkembangan anak dalam
lembaga PAUD
Program pembelajaran yang
direncanakan untuk AUD berdasarkan
pengetahuan mengenai
perkembangan anak
DAP berdasarkan pada pertimbangan
data dan kenyataan tentang anak

1. Seluruh aspek perkembangan anak saling
terkait satu dengan lainnya dan saling
mempengaruhi.

2. Perkembangan memiliki urutan yang runtut.

3. Setiap anak memiliki proses perkembangan
yang berbeda.

4. Pengalaman sebelumnya mempengaruhi
perkembangan
5. Proses perkembangan sesuatu yang dapat
diperkirakan menuju ke arah yang lebih
kompleks, terorganisasi dan terinternalisasi.

6. Perkembangan dan pembelajaran
dipengaruhi oleh konteks budaya dan sosial
yang beragam.
7. Anak sebagai pebelajar aktif

8. Perkembangan dan pembelajaran
dipengaruhi kematangan secara biologis dan
lingkungan
9. Bermain sebagai alat bagi anak dalam
menunjukan tahap perkembangannya.

10. Perkembangan anak akan lebih
meningkat, jika anak diberikan
kesempatan untuk melatih keterampilan
yang baru dan meningkatkan
keterampilan yang sudah dimiliknya
sekarang.

11. Anak memiliki beragam cara untuk
belajar dan mencari tahu serta
memiliki berbagai cara untuk
menunjukan apa yang diketahuinya.

12. Anak akan lebih mudah belajar jika
anak merasa merasa aman dan
nyaman.
OLEH :
IKA BUDI MARYATUN
(Adapted From NEST)
Dikembangkan Oleh Maria Motessori
(1870 1957)
Awalnya diperuntukan bagi ABK
Bertujuan mengoptimalkan seluruh
kemampuan anak melalui stimulasi yang
dipersiapkan
Setiap anak memiliki keunikan
Keunikan setiap anak :
1. Masa peka (sensitive period)
Lahir 6 th : masa eksplorasi sensoris
Menciptakan pengetahuannya melalui pengalaman-
pengalaman sensoris
Usia 6-12 tahun : eksplorasi konsep
Mengembangkan kekuatan berpikir abstrak dan
imajinasi
Usia 12-18 tahun : eksplorasi humanistik
Memahami posisi di masyarakat dan tahu cara
berkontribusi pada dunia
Usia 18-24 tahun : eksplorasi khusus
Menemukan keberadaan diri bagian dari dunianya
2. Daya serap pikiran (absorbent mind)
Anak belajar secara tidak sadar dari
lingkungannya
Anak sudah memiliki kemampuan, langkah dan
irama belajar sendiri-sendiri dalam dirinya
Anak mampu mengembangkan konsentrasi,
disiplin diri, namun memerlukan lingkungan
yang dapat mendukungnya
Pada masa perkembangan awal, anak
berkembang melalui pengalaman sensori bukan
karena imajinasinya

1. Para pendidik dilatih secara khusus tentang
filosofi dan metode Montessori.
2. Terjalin kemitraan dengan orangtua.
3. Kelas merupakan kelompok heterogen yang
terdiri dari beragam usia.
4. Bermacam-macam bahan dan pengalaman
pembelajaran Montessori diberikan kepada anak
secara cermat dan berurutan sesuai kebutuhan
anak.
5. Penjadwalan yang teratur yang memberikan
kesempatan pada anak untuk terlibat dalam
pemecahan masalah dan terlibat secara
mendalam dalam pembelajaran.
6. Suasana kelas mendorong interaksi sosial yang
mendukung pembelajaran kooperatif.
1. Materi sensorial
Anak berlatih memperluas dan memperhalus persepsi
sensorinya
Materi yang digunakan adalah alat-alat yang mengandung
konsep tentang ukuran, bentuk, warna, suara, tekstur, bau,
berat ringan
2. Materi konseptual
Merupakan bahan-bahan konkret untuk melatih anak
membaca, menulis, matematika dan pengetahuan
sosial
3. Materi kehidupan praktis (sehari-hari)
Pembelajaran yang diberikan banyak ditemukan
dalam kehidupan sehari-hari
menyapu lantai, mencuci piring, menyiram tanaman,
mengancingkan baju
Dikembangkan Oleh Lucy Sprague
Mitchell, Caroline Pratt, Harriet Johnson
(1878 1967)
Berawal dari Nursery School, bagian dari
Biro Eksperimen Pendidikan
Dipengaruhi oleh kajian John Dewey yang
meyakini bahwa kekuatan pendidikan
untuk mempengaruhi dan meningkatkan
masyarakat
the whole child anak secara keseluruhan
1. Perkembangan berawal dari simple ke
kompleks.
2. Sifat individual terjadi secara kontinum
3. Peningkatan perkembangan memerlukan
waktu yang lama dan hal-hal baru yang
dipelajari
4. Anak mempunyai motivasi dalam dirinya
untuk secara aktif terlibat dengan
lingkungan
5. Percaya diri anak terbentuk dari
pengalaman dengan orang lain dan objek
dalam berinteraksi
6. Pertumbuhan dan perkembangan
melibatkan konflik antara individu dan orang
lain
Anak merupakan pembelajar aktif,
peneliti, eksplorer, dan artis.
Belajar terjadi dalam konteks sosial yang
memungkinkan anak belajar melalui
interaksi dengan lingkungannya
Pemahaman perkembangan kognitif dan
afektif merupakan suatu interkoneksi atau
tidak terpisah-pisah.
Terfokus pada tema yang paling menarik bagi
anak
Masyarakat merupakan lingkungan pendidikan
Seni dan ilmu sentra pengalaman dan aktivitas
yang membantu anak menemukan makna di
dunia sekitar
Bermain dengan material yang bersifat buka tutup
Balok, air, kayu, kertas, materi-materi seni dan
tanah liat
Bebas memilih permainan yang diinginkan
Didorong untuk belajar dengan cara mereka
sendiri
Bermain merupakan jantung dari pendekatan
interaksi perkembangan
1. Kompetensi,
Bagaimana individu menggunakan keterampilan
dan pengetahuannya dalam hidup.
2. Individualitas,
Menekankan fungsi otonomi, kemampuan untuk
membuat pilihan, mengambil inisiatif, risiko
kegagalan, dan menerima bantuan tanpa kehilangan
kebebasan.
3. Sosialisasi,
Tingkat pertama berkaitan dengan control dan
memikir ulang, adaptasi dan internalisasi perilaku ;
tingkat kedua mengacu kepada perkembangan
hubungan dengan orang lain yang ditandai dengan
kepedulian, kejujuran, tanggungjawab dan
kerjasama.
1. Memahami perkembangan anak
2. Potensi dasar pengetahuan
3. Memilih dan menyusun materi-
materi
4. Mengetahui anak secara individual
5. Sebagai fasilitator
Dikembangkan Oleh David
Weikart (1960an)
Mulai digunakan pada tahun 1962
Melibatkan anak sebagai
pembelajar aktif
Anak sebagai pembelajar aktif yang
menggunakan sebagian besar waktunya di
dalam learning center yang beragam
Merencanakan-melakukan-mengulang (plan
do - rewiew)
Guru membantu anak untuk memilih apa yang akan
mereka lakukan setiap hari
melaksanakan rencana mereka
mengulang kembali yang telah mereka pelajari.
Pengalaman kunci (key experience)
Penggunaan catatan anekdot untuk
mencatat kemajuan yang diperoleh anak
1. Benda-benda yang dapat dieksplor
anak
2. Manipulasi benda-benda oleh anak
3. Pilihan bagi anak tentang apa yang
harus dilakukan anak
4. Bahasa anak
5. Dukungan dari orang dewasa
1. Representasi kreatif,
2. Bahasa dan keaksaraan,
3. Inisiatif dan hubungan sosial,
4. Gerakan,
5. Misk,
6. Klasifikasi,
7. Seriasi,
8. Bilangan,
9. Ruang,
10. Waktu
Strategi interaksi yang positif
Berfokus pada kekuatan anak
Membangun hubungan dengan anak
Mendukung ide-ide bermain anak
Mengembangkan ketrampilan dalam
bertanya
Mengajak anak untuk memecahkan
masalah jika terjadi konflik sosial
Dikembangkan Oleh Diane Trister Dodge
(1978 - sekarang)
Dasar filosofinya adalah guru harus
mampu menggunakan bermacam-macam
strategi untuk memenuhi kebutuhan anak
dalam aspek perkembangan sosial,
emosional, fisik, kognisi dan bahasa
1. Teori dan riset tentang otak oleh Maslow,
Erickson, Piaget, Vygotsky, Smilansky dan
Gardner
2. Pemahaman cara belajar anak sebagai proses
yang kontinum
3. Menekankan pada setting lingkungan
pembelajaran dalam sentra, mengatur jadwal
kegiatan sehari-hari, mengorganisasi pilihan
waktu- belajar, dan menciptakan komunitas
kelas
4. Guru berperan menjadi pengamat dan
menggunakan bermaca strategi untuk
memandu pembelajaran
5. Bermitra dengan orangtua untuk
mendukung pembelajaran
1. Anak belajar di dalam sentra
2. Material yang digunakan harus beragam
dan diorganisasi
3. Kelas dirancang untuk bisa menerima
anak dari berbagai latar belakang
4. Anak terlibat secara aktif
5. Belajar melalui investigasi dan bermain
Dikembangkan Oleh
Loris Malaguzzi (akhir
perang dunia ke-2 -
sekarang)
1. Anak sebagai individu yang kompeten,
kuat, suka menemukan, dan penuh
ide
2. Lingkungan sebagai guru ketiga harus
dirancang dengan baik
3. Adanya hubungan di antara anak,
guru, dan orangtua
4. Dokumentasi sebagai penguatan
terhadap pengalaman anak
5. Perencanaan yang fleksibel
6. Provokasi guru pada anak
dengan memperhatikan minat
anak dan
mendorong/mengembangkan
lebih jauh pemikiran dan
tindakan
7. Seratus bahasa dari anak
sebagai representasi ide-ide
anak
1. Perbandingan guru : anak di kelas
2 : 25
2. Anak, guru, dan keluarga
bersama-sama mendorong
pembelajaran
3. Kegiatan proyek dalam kelompok
kecil, maks 5 anak/kelompok
4. Konflik dalam pergaulan anak
dipandang sebagai proses kognisi
bukan sosial interaksi
1. Ruang/tempat yang digunakan harus bisa
menarik dan mengundang minat anak
2. Segala sesuatu dan tempat harus
mengandung unsur pendidikan
3. Setiap sentra dan sekolah memiliki area
pusat budaya
4. Menekankan pada berbagai macam media
5. Anak dan orangtua membantu untuk
mengumpulkan dan mengelola bahan-
bahan main yang digunakan
1. Kurikulum dirancang berdasarkan
minat anak
2. Guru memfasilitasi anak untuk
memperluas proyek
3. Anak juga mengerjakan kegiatan
seperti pada umumnya
4. Guru mengamati, mendiskusikan,
dan menginterpretasikan setiap
kegiatan yang dilakukan bersama
anak
1. Membangun pengetahuan dan pemahaman
anak
2. Menjadi seorang pendengar yang baik dan
observer.
3. Mendokumentasikan hasil kerja anak dan
mendiskusikannya dengan guru-guru yang
lain setiap minggu.
4. Menjadi partner bagi anak di dalam proses
pembelajaran.
5. Pedagogista, guru sebagai koordinator,
konsultan pendidikan
Tujuan Pembelajaran :
1. Pengetahuan (knowledge)
Fakta-fakta, informasi, cerita,
konsep, dan banyak unsur dari
pikiran
2. Ketrampilan (skills)
Ketrampilan berbeda dengan
pengetahuan. Pengetahuan harus
dapat menjadi suatu ketrampilan
3. Disposisi (disposition)
Kebiasaan berpikir yang
digabungan dengan hati
Kemampuan prososial,
motivasi, peduli, dan empati
kepada anak lain
Berkembang dengan baik
melalui mengamati
(observing) dan meniru
(modelling)
Bawaan dari lahir untuk
memaknai pengalaman,
bertanya, mencari jawaban, dll
Tidak bisa diajarkan melalui
instruksi
harus diwujudkan dalam tingkah
laku, diekspresikan dan
digunakan
disposisi yang hilang, tidak
akan bisa kembali lagi
4. Perasaan (feelings)
Dipelajari melalui pengalaman
Tidak dapat dipelajari melalui instruksi,
paksaan, atau doktrinasi
Memberi kesempatan untuk terlibat aktif,
menentukan pilihan, dan mengambil
keputusan
1. Sesuai tujuan akademik
Ketika mengajarkan pengetahuan, konsep,
informasi dan ketrampilan
2. Sesuai tujuan intelektual
Ketika mengajarkan unsur-unsur
pengalaman yang melibatkan disposisi :
menganalisa, mensintesa, menghipotesa,
hubungan sebab akibat, meramalkan dan
menginvestigasi
Hearts and Minds
Dari pengamatan dan
penyelidikan
Dikembangkan oleh CCCRT (Creative
Center for Childhood Research and
Training) Florida, USA
Dilaksanakan di Creative Preschool
asuhan Pamela
Di Indonesia bernama BCCT (Beyond
Center and Cyrcle Time)
Kemudian akan diganti dengan nama
SELING (Sentra & Lingkaran)
1. Main Sensorimotor
anak belajar melalui panca indera dan
hubungan fisik dengan lingkungan
Dengan menyediakan kesempatan untuk
berhubungan dengan bermacam-macam
bahan dan alat permainan di dalam dan di
luar ruangan.
2. Main Peran, atau simbolik, main
pura-pura, fantasi, imajinasi atau main
drama. Untuk perkembangan kognisi,
sosial dan emosi anak.

Main Peran dibagi atas 2 jenis :
1. Main Peran Makro, Anak berperan
sesungguhnya dan menjadi seseorang
atau sesuatu
2. Main Peran Mikro, Anak memegang
atau menggerak-gerakkan benda-benda
berukuran kecil untuk menyusun
adegan

3. Main Pembangunan

a. Main pembangunan bahan sifat
cair/bahan alam
bermain dengan menggunakan bahan bahan cair
seperti air, krayon, spidol cat dengan kuas, pensil,
pulpen, playdough, ublegh, pasir, lumpur, biji-bijian
seperti beras, kacang kedelai, kacang hijau dll

b. Main Pembangunan
Terstruktur
bermain dengan
mempergunakan balok
unit,balok berongga, balok
berwarna, lego, puzzle dan lain
lain
Dilaksanakan menggunakan 4 pijakan
(schafolding) :
1. Pijakan Lingkungan
Menata lingkungan belajar
Menyiapkan kegiatan dalam sentra
Menyiapkan alat main yang akan digunakan
2. Pijakan sebelum main
Doa, salam, & menyapa anak satu persatu
Apersepsi materi
Membuat aturan main dalam sentra
3. Pijakan selama main
Memberi waktu main (45 1 jam)
Membimbing anak menyelesaikan tugasnya
Memperluas bahasa dan gagasan dengan
pertanyaan terbuka
Mengamati & mendokumentasikan kemajuan
anak
4. Pijakan setelah main
Bersama anak membereskan alat main
Recalling,
Menghubungkan dengan konsep yang akan
dipelajari selanjutnya
1. Asas Psikologis
Hal-hal yang mengacu pada aspek
psikologi
- tahap perkembangan
- kebutuhan psikologis
2. Asas Sosiologis
Mengacu pada gejala sosial
- hubungan individu dengan individu,
golongan, dan masyarakat
3. Asas Filosofis
Mengarah pada falsafah bangsa
& pendidikan yang dianut
4. Asas Teknologi/Organisatoris
Mengacu pada perkembangan &
kebutuhan masyarakat
PRINSIP-PRINSIP UMUM PENGEMBANGAN
KURIKULUM
1. RELEVANSI :
Relevansi ke luar : komponen-komponen
kurikulum sesuai dengan tuntutan,
kebutuhan, perkembangan masyarakat
Relevansi ke dalam : konsistensi antar
komponen-komponen kurikulum
keterpaduan internal
2. FLEKSIBILITAS :
Kurikulum solid tetapi pada pelaksanaannya
memungkinkan terjadinya penyesuaian
3. KONTINUITAS :
Adanya kesinambungan sebab proses
belajar siswa berlangsung secara
berkesinambungan
4. PRAKTIS :
Biasa disebut efisien, dengan biaya
yang murah dapat dilaksanakan
dengan mudah
5. EFEKTIVITAS :
Keberhasilan yang tinggi baik dari segi
kuantitas maupun kualitas
Daftar cek
Dialog dengan siswa
Observasi
Logbook atau buku harian
Hasil kerja siswa
Tes saringan
Portfolio
Wawancara dan percakapan
Angket
Evaluasi diri siswa
Asesmen sebagai bagian dari mediasi
Tes pencapaian prestasi
Tes kemampuan atau penguasaan tertentu
ALIRAN PENDIDIKAN KONSEP KURIKULUM
A. Pendidikan Klasik
1. Perenialisme (Eropa)
- Pendidikan untuk ningrat
- Liberal Art (bukan hal-hal praktis)
- Hal-hal yang klasik
2. Essensialisme (Amerika)
Pendidikan untuk mencari
nafkah
SUBJEK AKADEMIS
B. Pendidikan Pribadi
1. Progresif (John Dewey)
- Learning by doing
- Student active learning
2. Romantik-Naturalisme (J.J.Rousseau)
- Menekankan pada hukum alam
- Belajar menurut keinginan anak
HUMANISTIK
C. Pendidikan Teknologis (eksistensialisme) TEKNOLOGIS
D. Pendidikan Interaksional REKONSTRUKSI SOSIAL
KURIKULUM SUBJEK AKADEMIS
Sumber : Pendidikan Klasik (filsafat perenialisme, esensialisme)
1. orientasi masa lalu
2. asumsi : ilmu, nilai, budaya telah solid
3. tugas pendidikan memelihara & mewariskan ilmu, nilai budaya
4. guru adalah ekspert & model
Karakteristik kurikulum :
1. kurikulum menekankan isi/materi ajaran
2. isi kurikulum berasal dari disiplin ilmu (solid-sistematis)
3. peranan guru sangat dominan
4. penyajian : ekspositori & inkuiri
PENDEKATAN DALAM PERKEMBANGAN KURIKULUM
SUBJEK AKADEMIS
1. Pendekatan berdasarkan struktur pengetahuan
2. Pendekatan bersifat integratif (integrated
curriculum)
Thema yang membentuk kesatuan (unifying theme)
Menyatukan beberapa disiplin ilmu (contoh social
studies)
Menyatukan berbagai metode belajar
3. Pendekatan fundamentalis
Mata pelajaran membaca menulis berhitung
Mata pelajaran lain dipelajari tanpa dihubungkan
dengan kebutuhan praktis
KURIKULUM HUMANISTIK
Sumber : Pendidikan Pribadi (filsafat eksistensialisme)
1. orientasi ke masa sekarang
2. asumsi : anak punya potensi
3. pendidikan ibarat bertani
4. guru adalah psikolog, bidan, motivator, fasilitator
Karakteristik kurikulum :
1. siswa adalah subjek, punya peran utama
2. isi/bahan sesuai minat/kebutuhan siswa
3. menekankan keutuhan pribadi
4. penyampaian : discovery, inquiry, penekanan masalah
KURIKULUM KONFLUEN
Menekankan keutuhan pribadi, individu merespon secara
utuh (pikiran, perasaan, tindakan) dasarnya Gestalt
Ciri :
Partisipasi
Integrasi
Relevansi
Pribadi anak
Tujuan : mengembangkan pribadi yang utuh
Metode belajar konfluen :
Mengidentifikasi topik/tema yang mengandung self-judgment
Materi disampaikan dalam bentuk open-ended
KURIKULUM TEKNOLOGIS
Sumber : Pendidikan Teknologis (filsafat realisme)
1. orientasi ke masa sekarang dan y.a.d
2. menekankan kompetensi
3. kompetensi diuraikan menjadi perilaku yang dapat diamati
4. peranan guru tidak dominan (dapat diganti alat-alat teknologi)
5. pendidikan bersifat ilmiah (science, experimental, terukur0
6. pendidikan - sistem
Karakteristik kurikulum :
1. tujuan dirinci menjadi objektif
2. menekankan isi (uraian kompetensi)
3. disain pengajar disusun sistemik (menggunakan analisis
approach)
4. isi disajikan dalam media tulis & elektronik
5. evaluasi menggunakan tes objektif
KURIKULUM REKONSTRUKSI SOSIAL
Sumber : Pendidikan Interaksional (filsafat pragmatisme)
1. orientasi ke masa lalu dan sekarang
2. asumsi : manusia mahluk sosial
3. menekankan pemecahan problema masyarakat
4. tujuan pendidikan pembentukan masyarakat lebih baik
5. pendidikan adalah kerjasama : interaksi guru-siswa-siswa
Karakteristik kurikulum :
1. tujuan pemecahan masalah masyarakat
2. isi kurikulum ; problema dalam masyarakat
3. metode mengajar kooperatif / gotong royong / kerja kelompok
4. guru & siswa belajar bersama
Departemen Pendidikan Nasional
Materi 10-Penyusunan KTSP-
2000
BAB I. PENDAHULUAN
BAB II. TUJUAN PENDIDIKAN
BAB III. STRUKTUR dan
MUATAN KURIKULUM
BAB IV. KALENDER
PENDIDIKAN
KTSP
(Dokumen
1)
Latar Belakang (Dasar Pemikiran
Penyusunan KTSP)
Analisis SWOT Kondisi Sekolah
Kekuatan
Kelemahan
Peluang
Ancaman

SESUAI KARAKTERISTIK SEKOLAH
1. Filosofi
2. Visi Sekolah
3. Misi Sekolah
4. Tujuan Sekolah
5. Prinsip Pembelajaran
6. Tata Tertib
TAHAP 1 : HASIL BELAJAR SISWA
apa yang harus dicapai siswa berkaitan dengan
pengetahuan, keterampilan, dan sikap setelah
mereka menamatkan sekolah
TAHAP 2 : SUASANA PEMBELAJARAN
suasan pembelajaran seperti apa yang
dikehendaki untuk dicapai hasil belajar itu
TAHAP 3 : SUASANA SEKOLAH
suasana sekolah sebagai lembaga/organisasi
pembelajaran seperti apa yang diinginkan untuk
mewujudkan hasil belajar siswa
MELIPUTI KOMPONEN :
LINGKUP PENGEMBANGAN
MUATAN LOKAL
KEGIATAN PENGEMBANGAN DIRI
PENGATURAN BEBAN MENGAJAR
DIBUAT PER BULAN
KTSP
(Dokumen
2)
A. SILABUS DARI SK/KD YANG
DIKEMBANGKAN PUSAT
B. SILABUS DARI SK/KD YANG
DIKEMBANGKAN SEKOLAH
(MULOK, MAPEL
TAMBAHAN)