Anda di halaman 1dari 21

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Medis
1. Anatomi dan fisiologi mulut

Gambar 2. Anatomi mulut
( www.google.com/image/anatomioris )

a. Mulut (oris)
Mulut merupakan jalan masuk menuju system pencernaan
dan berisis organ aksesori yang bersifat dalam proses awal
pencernaan. Secara umum terdiri dari 2 bagian yaitu :
1) Bagian luar (vestibula) yaitu ruang diantara gusi, gigi, bibir dan
pipi.
2) Bagian rongga mulut (bagian) dalam yaitu rongga yang
dibatasi sisinya oleh tulang maksilaaris, palatum dan
mandibularis di sebelah belakang bersambung dengan faring.
Selaput lender mulut ditutupi ephitelium yang ber lapis-lapis ,
dibawahnya terletak kelenjar-kelenjar halus yang mengeluarkan
lendir, selaputini kaya akan pembuluh daraah juga memuat
banyak ujung saraf asesoris. Di sebelah luar mulut ditutupi oleh
kulit dan di sebelah dalam ditutupi oleh selaput lendir mukosa.
Ada beberapa bagian yang perlu diketahui ;
1) Palatum
a) Palatum durum yang tersusun atas tajuk-tajuk palatum dari
sebelah depan tulang maksilaris.
b) Palatum mole terletak dibelakang yang merupakan lipatan
menggantung yang dapat bergerak, terdiri dari jaringan
fibrosa dan selaput lendir.
b. Rongga mulut
1) Bagian gigi terdapat gigi (anterior) tugasnya memotong yang
sangat kuat dan gigi osterior tugasnya menggiling. Pada
umumnya otot-otot pengunyah di persarafi oleh cabang
motorik dari saraf cranial ke 5. Dan proses mengunyah di
control oleh nucleus dalam batang otak. Perangsangan
formasio retikularis dekat pusat batang otak untuk pengecapan
dapat menimbulakan pergerakan mengunyah secara ritmis
dan kontinu.
Mengunyah makanan bersifat penting untuk pencernaan
semua makanan, terutama untuk sebagian besar buah dan
syur-sayuran mentah karena zat ini mempunyai membrane
selulosa yang tidak dapat dicerna diantara bagian-bagian zat
nutrisi yang harus di uraikan sebelum dapat digunakan.
Manusia memiliki susunan gigi primer dan sekunder ;
a) Gigi primer, dimulai dari tuang diantara dua gigi depan
yang terdiri dari 2 gigi seri, 1 taring, 3 geraham dan untu
total keseluruhan 20 gigi
b) Gigi sekunder, terdiri dari 2 gig seri, 1 taring, 2 premoral
dan 3 geraham utuk total keseluruhan 32 buah.
Gigi ada 2 macam yaitu :
a) Gigi sulung, mulai tumbuh pada anak-anak umur 6-7 bulan
b) Gigi tetap (gigi permanen) tumbuh pada umur 6-18 tahun
jumlahnya 32 buah
Fungsi gigi adalah dalam proses matrikasi (pengunyahan).
Makanan yang masuk kekedalam mulut di potong menjaid
bagian-bagian kecil dan bercamput dengan saliva unutk
membentuk bolus makanan yang dapat ditelan.
2) Lidah
Indera pengecap terdiri dari kurang lebih 50 sel-sel epitel
bebrapa diantaranya disebut sel sustentakular dan yang
lainnya di sebut sel pengecap.
Lidah berfungsi untuk menggerakan makan saat
dikunyah atau ditelan. Lidah terdiri dari otot serat lintang dan
dilapisi selaput lendir. Dibagian pangkal lidah terdapat
epiglottis berfungsi untuk menutup jalan nafas pada waktu
menelan supaya makanan tidak masuk kejalan nafas. Kerja
otot dapat di gerakkan 3 bagian ;
a) Radiks lingua = Pangkal lidah
b) Dorsum lingua = Punggung lidah
c) Apek lingua = Ujung lidah
Pada lidah terdapat indera peraba dan perasa antara lain ;
a) Asin dibagian lateral lidah
b) Manis dibagian ujung dan anterior lidah
c) Asam, dibagian lateral lidah
d) Pahit dibagian belakang lidah
3) Kelenjar ludah
Yaitu kelenjar yang memiliki duktus yaitu duktus duktus wartoni
dan duktus stensoni. Kelenjar ii mensekresikan saliva jedalan
rongga oral di hasilkan di dalam rongga mulut dipersarafi oleh
saraf tak sadar.
a) Kelenjar parotis, letaknya dibawah depan dari telinga
diantara proses mastoid kiri dan kanan mandibularis pada
duktus stensoni.
b) Kelenjar submaksilaris terletak dibawah fongga mulut
bagian belakang, dukts wartoni
c) Kelenjar subliingualis, dibawah selaput lendir, bermuara di
dasar rongga mulut.
Fungsi saliva :
a) Memudahkan makan utnuk dikunyah oleh gigi dan dibentuk
menjado bolus
b) Mempertahankan bagian mulut dan lidah agar tetap
lembab, sehingga memudahkan lidah bergerak utnuk
bericara
c) Mengandung ptyalin dan amylase, suatu enzyme yang
dapat mengubah zat tepung menjadi maltose polisakarida
d) Seperti zat buangan seperti asam urat dan urea serta obat,
virus, dan logam, disekresi kedalam saliva
e) Sebagai zat anti bakteri dan anti body yang berfungsi untuk
memberikan rongga oral dan membantu memelihara
kesehatan oral serta mencegah kerusakan gigi.
(Syaifuddin, 2006)
2. Pengertian Palatoskisis

Gambar 3. Labiopalatoskisis
( sumber www.google/image/labiopalatoskisis )
Labio/Palato skisis merupakan kongenital yang berupa adanya
kelainan bentuk pada struktur wajah (Ngastiah, 2005)
Palatoskisis adalah fissura garis tengah pada polatum yang
terjadi karena kegagalan 2 sisi untuk menyatu karena perkembangan
embriotik (Wong, Donna L. 2003)
Labio Palato skisis merupakan suatu kelainan yang dapat
terjadi pada daerah mulut, palato skisis (subbing palatum) dan labio
skisis (sumbing tulang) untuk menyatu selama perkembangan embrio
(Hidayat, Aziz, 2005)
Palatoskisis adalah kelainan congenital sumbing akibat
kegagalan fusi palatum pada garis tengah dan kegagalan fusi dengan
septum nasi untuk menyatu karena perkembangan embriotik.
(Asuhan Kebidanan Neonatu, Bayi, dan Anak Balita, 2010)
3. Klasifikasi
Jenis belahan pada labioskizis atau labiopalatoskizis dapat
sangat bervariasi, bisa mengenai salah satu bagian atau semua
bagian dari dasar cuping hidung, bibir, alveolus dan palatum durum,
serta palatum molle. Suatu klasifikasi membagi struktur-struktur yang
terkena menjadi beberapa bagian berikut.
a. Palatum primer meliputi bibir, dasar hidung, alveolus, dan palatum
durum di belahan foramen insisivum.
b. Palatum sekunder meliputi palatum durum dan palatum molle
posterior terhadap foramen.
c. suatu belahan dapat mengenai salah satu atau keduanya,
palatum primer dan palatum sekunder dan juga bisa berupa
unilateral atau bilateral.
d. terkadang terlihat suatu belahan submukosa. Dalam kasus ini
mukosanya utuh dengan belahan mengenai tulang dan jaringan
otot palatum.

Tingkat kelainan bibir sumbing bervariasi, mulai dari yang
ringan hingga yang berat. Beberapa jenis bibir sumbing yang
diketahui :
a. Unilateral Incomplete. Jika celah sumbing terjadi hanya disalah
satu sisi bibir dan memanjang hingga ke hidung.
b. Unilateral Complete. Jika celah sumbing yang terjadi hanya
disalah satu sisi sisi bibir dan memanjang hingga ke hidung.
c. Bilateral Complete. Jika celah sumbing terjadi di kedua sisi bibir
dan memnajang hingga ke hidung.
4. Etiologi Labio Palatoskisis
Ada beberapa etiologi yang dapat menyebabkan terjadinya kelainan
Labio palatoschizis, antara lain:
a. Faktor Genetik
Merupakan penyebab beberapa palatoschizis, tetapi tidak dapat
ditentukan dengan pasti karena berkaitan dengan gen kedua
orang tua. Diseluruh dunia ditemukan hampir 25 30 % penderita
labio palatoscizhis terjadi karena faktor herediter. Faktor dominan
dan resesif dalam gen merupakan manifestasi genetik yang
menyebabkan terjadinya labio palatoschizis. Faktor genetik yang
menyebabkan celah bibir dan palatum merupakan manifestasi
yang kurang potensial dalam penyatuan beberapa bagian kontak.
b. Insufisiensi zat untuk tumbuh kembang organ selama masa
embrional, baik kualitas maupun kuantitas (Gangguan sirkulasi
foto maternal). Zat zat yang berpengaruh adalah:
1) Asam folat
2) Vitamin C
3) Zn
Apabila pada kehamilan, ibu kurang mengkonsumsi asam folat,
vitamin C dan Zn dapat berpengaruh pada janin. Karena zat - zat
tersebut dibutuhkan dalam tumbuh kembang organ selama masa
embrional. Selain itu gangguan sirkulasi foto maternal juga
berpengaruh terhadap tumbuh kembang organ selama masa
embrional.
c. Pengaruh obat teratogenik.Yang termasuk obat teratogenik
adalah:
1) Jamu
Mengkonsumsi jamu pada waktu kehamilan dapat
berpengaruh pada janin, terutama terjadinya labio
palatoschizis. Akan tetapi jenis jamu apa yang menyebabkan
kelainan kongenital ini masih belum jelas. Masih ada penelitian
lebih lanjut
2) Kontrasepsi hormonal.
Pada ibu hamil yang masih mengkonsumsi kontrasepsi
hormonal, terutama untuk hormon estrogen yang berlebihan
akan menyebabkan terjadinya hipertensi sehingga
berpengaruh pada janin, karena akan terjadi gangguan
sirkulasi fotomaternal.
3) Obat obatan yang dapat menyebabkan kelainan kongenital
terutama labio palatoschizis. Obat obatan itu antara lain :
a) Talidomid, diazepam (obat obat penenang)
b) Aspirin (Obat obat analgetika)
c) Kosmetika yang mengandung merkuri & timah hitam
(cream pemutih)
d. Faktor lingkungan
Beberapa faktor lingkungan yang dapat menyebabkan Labio
palatoschizis, yaitu:
1) Zat kimia (rokok dan alkohol)
Pada ibu hamil yang masih mengkonsumsi rokok dan alkohol
dapat berakibat terjadi kelainan kongenital karena zat toksik
yang terkandung pada rokok dan alkohol yang dapat
mengganggu pertumbuhan organ selama masa embrional.

2) Gangguan metabolik (DM)
Untuk ibu hamil yang mempunyai penyakit diabetessangat
rentan terjadi kelainan kongenital, karena dapat menyebabkan
gangguan sirkulasi fetomaternal. Kadar gula dalam darah yang
tinggi dapat berpengaruh padatumbuh kembang organ selama
masa embrional.
3) Penyinaran radioaktif
Untuk ibu hamil pada trimester pertama tidak dianjurkan terapi
penyinaran radioaktif, karena radiasi dari terapi tersebut dapat
mengganggu proses tumbuh kembang organ selama masa
embrional.
e. Infeksi, khususnya virus (toxoplasma) dan klamidial . Ibu hamil
yang terinfeksi virus (toxoplasma) berpengaruh pada janin
sehingga dapat berpengaruh terjadinya kelainan kongenital
terutama labio palatoschizis.
5. Patofisiologi Labio Palatoskisis
Kegagalan penyatuan atau perkembangan jaringan lunak dan
atau tulang selama fase embrio pada trimester I. Terbelahnya bibir
dan atau hidung karena kegagalan proses nosal medial dan
maksilaris untuk menyatu terjadi selama kehamilan 6-8 minggu.
Palatoskisis adalah adanya celah pada garis tengah palato yang
disebabkan oleh kegagalan penyatuan susunan palato pada masa
kehamilan 7-12 minggu. Penggabungan komplit garis tengah atas
bibir antara 7-8 minggu masa kehamilan.
6. Manifestasi Klinis Labio Palatoskisis
a. Deformitas pada bibir
b. Kesukaran dalam menghisap/makan
c. Kelainan susunan archumdentis.Distersi nasal sehingga bisa
menyebabkan gangguan pernafasan.
d. Gangguan komunikasi verbal
e. Regurgitasi makanan.
f. Pada Labio skisis
g. Distorsi pada hidung
h. Tampak sebagian atau keduanya
i. Adanya celah pada bibir
j. Tampak ada celah pada tekak (unla), palato lunak, keras dan
faramen incisive.
k. Ada rongga pada hidung.
l. Distorsi hidung
m. Teraba ada celah atau terbukanya langit-langit saat diperiksa
dengan jari
n. Kesukaran dalam menghisap/makan.
7. Pemeriksaan Penunjang Labio Palatoskisis
a. Pemeriksaan darah rutin (misalnya hitung darah lengkap)
b. Foto Rontgen
c. MRI
8. Penatalaksanaan
Pada bayi yang langit2nya sumbing barrier ini tidak ada sehingga
pada saat menelan bayi bisa tersedak. Kemampuan menghisap bayi
juga lemah, sehingga bayi mudah capek pada saat menghisap,
keadaan ini menyebabkan intake minum/makanan yg masuk menjadi
kurang.
a. Untuk membantu keadaan ini biasanya pada saat bayi baru lahir
di pasang:
1) Pemasangan selang Nasogastric tube, adalah selang yang
dimasukkan melalui hidung..berfungsi untuk memasukkan
susu langsung ke dalam lambung untuk memenuhi intake
makanan.
2) Pemasangan Obturator yang terbuat dr bahan akrilik yg
elastis, semacam gigi tiruan tapi lebih lunak, jd pembuatannya
khusus dan memerlukan pencetakan di mulut bayi. Beberapa
ahli beranggarapan obturator menghambat pertumbuhan
wajah pasien, tp beberapa menganggap justru mengarahkan.
Pada center2 cleft spt Harapan Kita di Jakarta dan Cleft Centre
di Bandung, dilakukan pembuatan obturator, karena pasien
rajin kontrol sehingga memungkinkan dilakukan
penggerindaan oburator tiap satu atau dua minggu sekali
kontrol dan tiap beberapa bulan dilakukan pencetakan ulang,
dibuatkan yg baru sesuai dg pertumbuhan pasien.
3) Pemberian dot khusus dot khusus, dot ini bisa dibeli di apotik2
besar. Dot ini bentuknya lebih panjang dan lubangnya lebih
lebar daripada dot biasa; tujuannya dot yang panjang menutupi
lubang di langit2 mulut; susu bisa langsung masuk ke
kerongkongan; karena daya hisap bayi yang rendah, maka
lubang dibuat sedikit lebih besar.
b. Operasi dengan beberapa tahap, sebagai berikut :
1) Umur 3 bulan (rule over ten) : Operasi bibir dan
alanasi(hidung), evaluasi telinga.
2) Umur 10-12 bulan : Qperasi palato/celah langit-langit, evaluasi
pendengaran dan telinga.
3) Umur 1-4 tahun : Evaluasi bicara, speech theraphist setelah 3
bulan pasca operasi.
4) Umur 4 tahun : Dipertimbangkan repalatoraphy atau dan
Pharyngoplasty.
5) Umur 6 tahun : Evaluasi gigi dan rahang, evaluasi
pendengaran.
6) Umur 9-10 tahun : Alveolar bone graft (penambahan tulang
pada celah gusi).
7) Umur 12-13 tahun : Final touch, perbaikan-perbaikan bila
diperlukan.
8) Umur 17 tahun : Evaluasi tulang-tulang muka, bila diperlukan
advancementosteotomy LeFORTI

c. Syarat Palatoplasti
Palatoskizis ini biasanya ditutup pada umur 9-12 bulan
menjelang anak belajar bicara, yang penting dalam operasi ini
adalah harus memperbaiki lebih dulu bagian belakangnya agar
anak bisa dioperasi umur 2 tahun. Untuk mencapai kesempurnaan
suara, operasi dapat saja dilakukan berulang-ulang. Operasi
dilakukan jika berat badan normal, penyakit lain tidak ada, serta
memiliki kemampuan makan dan minum yang baik.
Untuk mengetahui berhasil tidaknya operasi harus ditunggu
sampai anak tersebut belajar bicara antara 1-2 tahun. Jika sengau
harus dilakukan tetapi bicara (fisioterapi otot-otot bicara). Jika
terapi bicara tidak berhasil dan suara tetap sengau, maka harus
dilakukan faringoplasti saat anak berusia 8 tahun.
9. Komplikasi Labio Palatoskisis
Komplikasi yang terjadi pada pasien dengan Labio
palatoschizis adalah:
a. Kesulitan berbicara hipernasalitas, artikulasi, kompensatori.
Dengan adanya celah pada bibir dan palatum, pada faring terjadi
pelebaran sehingga suara yang keluar menjadi sengau.
b. Maloklusi pola erupsi gigi abnormal. Jika celah melibatkan
tulang alveol, alveol ridge terletak disebelah palatal, sehingga
disisi celah dan didaerah celah sering terjadi erupsi.
c. Masalah pendengaran otitis media rekurens sekunder. Dengan
adanya celah pada paltum sehingga muara tuba eustachii
terganggu akibtnya dapat terjadi otitis media rekurens sekunder.
d. Aspirasi. Dengan terganggunya tuba eustachii, menyebabkan
reflek menghisap dan menelan terganggu akibatnya dapat terjadi
aspirasi.
e. Distress pernafasan. Dengan terjadi aspirasi yang tidak dapat
ditolong secara dini, akan mengakibatkan distress pernafasan
f. Resiko infeksi saluran nafas. Adanya celah pada bibir dan
palatum dapat mengakibatkan udara luar dapat masuk dengan
bebas ke dalam tubuh, sehingga kuman kuman dan bakteri
dapat masuk ke dalam saluran pernafasan.
g. Pertumbuhan dan perkembangan terlambat. Dengan adanya
celah pada bibir dan palatum dapat menyebabkan kerusakan
menghisap dan menelan terganggu. Akibatnya bayi menjadi
kekurangan nutrisi sehingga menghambat pertumbuhan dan
perkembangan bayi.
h. Asimetri wajah. Jika celah melebar ke dasar hidung alar cartilago
dan kurangnya penyangga pada dasar alar pada sisi celah
menyebabkan asimetris wajah.
i. Penyakit peri odontal. Gigi permanen yang bersebelahan dengan
celah yang tidak mencukupi di dalam tulang. Sepanjang
permukaan akar di dekat aspek distal dan medial insisiv pertama
dapat menyebabkan terjadinya penyakit peri odontal.
j. Crosbite. Penderita labio palatoschizis seringkali paroksimallnya
menonjol dan lebih rendah posterior premaxillary yang colaps
medialnya dapat menyebabkan terjadinya crosbite.
k. Perubahan harga diri dan citra tubuh. Adanya celah pada bibir dan
palatum serta terjadinya asimetri wajah menyebabkan perubahan
harga diri da citra tubuh.

B. Konsep Dasar Keperawatan
1. Pengkajian bayi baru lahir
1. Biodata.
1) Identitas bayi.
2) Identitas orang tua.

2. Riwayat Kesehatan.
1) Riwayat penyakit sekarang.
Cara lahir, apgar score, cara lahir, kesadaran.
2) Riwayat perinatal.
Lama kehamilan, penyakit yang menyertai kehamilan.
3) Riwayat persalinan.
Cara persalinan, trauma persalinan.

3. Pemeriksaan Fisik.
1) Keadaan umum.
Kesadaran.
Vital sign.
Antropometri.
2) Kepala.
Apakah ada trauma persalinan, adanya caput, chepal hematom,
tanda forcep.
3) Mata.
Apakah ada katarak, neonatal, btenorhoe.
4) Sistem gastrointestinal.
Apakah palatum keras dan lunak, apakah bayi menolak untuk disusui,
muntah / distensi abdomen, stomatitis, BAB.
5) Sistem pernafasan.
Apakah ada kesulitan bernafas, takipneu, bradipneu, teratur / tidak,
bunyi nafas
6) Tali pusat.
Periksa apakah ada pendarahan, tanda infeksi, keadaan dan jumlah
pembuluh darah ( 2 arteri, 1 vena ).
7) Sistem genitourinaria.
Apakah hipospadia, epispadia, testis, BAK,
8) Ekstrimitas.
Cacat bawaan, kelainan bentuk, jumlah, bengkak, posisi / postur
normal / abnormal.
9) Sistem muskuluskletal.
Tonus otot, kekuatan otot, kaku ?, lemah ?, asimetris.
10) Kulit
Pustula, abrasi, ruam ptekie.

4. Pemeriksaan Fisik.
1) Apgar Score.
2) Frekuensi kardiovaskuler.
Apakah takikardi, bradikardi / normal.
3) Sistem neurologis.
Refleks moro = tidak ada, asimetris / hiperaktif.
4) Refleks mengisap = kuat / lemah.
Refleks menjejak = baik / buruk.
Koordinasi refleks menghisap dan menelan.
5. Pemeriksaan Laboratorium.
1) Sampel darah tali pusat.
2) Jenis ketonuria.
3) Hematokrit.
2. Pengkajian palatoskisis
1. Identitas klien : Meliputi nama,alamat,umur
2. Keluhan utama : Alasan klien masuk ke rumah sakit
3. Riwayat Kesehatan
a) Riwayat Kesehatan Dahulu
Mengkaji riwayat kehamilan ibu, apakah ibu pernah mengalami
trauma pada kehamilan Trimester I. bagaimana pemenuhan nutrisi
ibu saat hamil, obat-obat yang pernah dikonsumsi oleh ibu dan
apakah ibu pernah stress saat hamil.
b) Riwayat Kesehatan Sekarang
Mengkaji berat/panjang bayi saat lahir, pola pertumbuhan,
pertambahan/penurunan berat badan, riwayat otitis media dan infeksi
saluran pernafasan atas.
c) Riwayat Kesehatan Keluarga
Riwayat kehamilan, riwayat keturunan, labiopalatoskisis dari
keluarga, penyakit sifilis dari orang tua laki-laki.
4. Pemeriksaan Fisik
a) Inspeksi kecacatan pada saat lahir untuk mengidentifikasi
karakteristik sumbing.
b) Kaji asupan cairan dan nutrisi bayi
c) Kaji kemampuan hisap, menelan, bernafas.
d) Kaji tanda-tanda infeksi
e) Palpasi dengan menggunakan jari
f) Kaji tingkat nyeri pada bayi

a) Observasi infeksi bayi dan keluarga
b) Kaji harga diri / mekanisme kuping dari anak/orangtua
c) Kaji reaksi orangtua terhadap operasi yang akan dilakukan
d) Kaji kesiapan orangtua terhadap pemulangan dan kesanggupan
mengatur perawatan di rumah.
e) Kaji tingkat pengetahuan keluarga


PENGKAJIAN
1. Riwayt Kesehatan
Riwayat kehamilan, riwayat keturunan, labiotalatos kisis dari keluarga,
berat/panjang bayi saat lahir, pola pertumbuhan, pertambahan/penurunan
berat badan, riwayat otitis media dan infeksi saluran pernafasan atas.
2. Pemeriksaan Fisik
a4.2.3 Persyarafan
Reflek pada bayi :
A. Babinski
Jari jari kaki ekstensi ketika telapak kaki diusap. Pada penderita labio
palatoschizis reflek babinski positif
B. Galant
Melengkungkan badan ke arah sisi yang di stimulasi ketika dilakukan
pengusapan di sepanjang tulang belakang. Pada penderita labio
palatoschizis reflek gallant positif
C. Moro
Ekstensi tiba tiba kea rah luar dan kembali kea rah garis tengah ketika bayi
terkejut akibat suara keras / perubahan posisi yang cepat. Pada penderita
labio palatoschizis reflek moro positif
D. Palmar
Menggenggam objek dengan jari ketika telapak tangan disentuh. Pada
penderita labio palatoschizis reflek palmar positif
E. Placing
Usaha untuk mengangkat dan meletakkan kaki di tepi permukaan kaki ketika
kaki disentuh di bagian atasnya. Pada penderita labio palatoschizis reflek
placing positif
F. Plantar
Fleksi jari jari kaki ke arah dalam, ketika tumit telapak kaki diusap. Pada
penderita labio palatoschizis reflek plantar positif
G. Righting
Berusaha untuk mempertahankan kepala pada posisi tegak. Pada penderita
labio palatoschizis reflek ini positif
H. Rooting
Memiringkan kepala ke arah pipi yang diberi stimulus sentuhan. Pada
penderita labio palatoschizis reflek ini positif
I. Sucking
Menghisap objek yang diletakkan dalam mulut. Pada penderita labio
palatoschizis reflek ini negative karena muara tuba eustachiinya terganggu
J. Stepping
Membuat gerakan melangkah ketika digendong pada posisi tegak dengan
kaki menyentuh permukaan. Pada penderita labio palatoschizis reflek ini
positif.DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh atau tidak efektif dalam
meneteki ASI b/d ketidakmampuan menelan/kesukaran dalam makan
sekunder dari kecacatan dan pembedahan.
2. Risiko aspirasi b/d ketidakmampuan mengeluarkan sekresi sekunder
dari palato skisis
3. Risiko infeksi b/d kecacatan (sebelum operasi) dan atau insisi
pembedahan
4. Kurang pengetahuan keluarga b/d teknik pemberian makan, dan
perawatan dirumah
5. Nyeri b/d insisi pembedahan

INTERVENSI

DX I
Tujuan : Nutrisi yang adekuat dapat dipertahankan yang ditandai adanya
peningkatan berat badan dan adaptasi dengan metode makan yang sesuai
1) Observasi intak dan output
2) Timbang berat badan sesuai indikasi
3) Observasi kemampuan menelan dan mengisap
4) Gunakan dot botol yang lunak yang besar, atau dot khusus dengan
lubang yang sesuai untuk pemberian minum
5) Tempatka dot pada samping bibir mulut bayi dan usahakan lidah
mendorong makan/minuman kedalam
6) Berikan posisi tegak lurus atau semi duduk selama makan
7) Berikan makan pada anak sesuai dengan jadwal dan kebutuhan
8) Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemenuhan nutrisi

DX II
Tujuan : Anak akan bebas dari aspirasi
1) Kaji status pernafasan selama pemberian makan
2) Gunakan dot agak besar, rangsang hisap dengan sentuhan dot pada
bibir
3) Perhatikan posisi bayi saat memberi makan, tegak atau setengah
duduk
4) Beri makan secara perlahan
5) Lakukan penepukan punggung setelah pemberian minum

DX III
Tujuan : Anak tidak menunjukan tanda-tanda infeksi sebelum dan sesudah
operasi, luka tampak bersih, kering dan tidak edema.
1) Berikan posisi yang tepat setelah makan, miring kekanan kepala agak
sedikit tinggi supaya makanan tertelan dan mencegah aspirasi yang dapat
berakibat pnemonia
2) Observasi tanda-tanda infeksi.
3) Lakukan perawatan luka dengan hati-hat dengan menggunakan teknik
steril
4) Perhatikan posisi jahitan, hindari jangan kontak dengan alat-alat yang
tidak steril, misalnya alat tenun dan lainnya.
5) Hindari gosok gigi pada anak kira-kira 1-2 minggu
6) Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian antibiotik

DX IV
Tujuan : Orang tua dapat memahami dan dapat mendemonstrasikan dengan
metode pemberian makan pada anak, pengobatan setelah pembedahan dan,
harapan perawat sebelum dan sesudah operasi.
1) Jelaskan prosedur operasi sebelum dan sesudah operasi
2) Ajarkan pada ornag tua dalam perawatan anak ; cara pemberian
makan/minum dengan alat, mencegah infeksi, dan mencegah aspirasi, posisi
pada saat pemberian makan/minum, lakukanpenepukan punggung,
bersihkan mulut setelah makan

DX V
Tujuan : Rasa nyaman anak dapat dipertahankan yang ditandai dengan anak
tidak menangis, tidsk lsbil dan tidak gelisah.
1) Kaji pola istirahat bayi dan kegelisahan
2) Tenangkan bayi
3) Bila klien anak, berikan aktivitas bermain yang sesuai dengan usia dan
kondisinya
4) Lakukan tekhnik manajaemen nyeri (distraksi)
5) Kolaborasi dalam pemberian analgetik sesuai program


IMPLEMENTASI
DX I
Mengobservasi intake dan output
Menimbang berat badan sesuai indikasi
Mengobservasi kemampuan menelan dan mengisap
Menggunakan dot botol yang lunak yang besar, atau dot khusus
dengan lubang yang sesuai untuk pemberian minum
Mempatkan dot pada samping bibir mulut bayi dan usahakan lidah
mendorong makan/minuman kedalam
Memberikan posisi tegak lurus atau semi duduk selama makan
Memberikan makan pada anak sesuai dengan jadwal dan kebutuhan
Mengkolaborasi dengan tim gizi dalam pemenuhan nutrisi

DX II
Mengkaji status pernafasan selama pemberian makan
Menggunakan dot agak besar, rangsang hisap dengan sentuhan dot pada
bibir
Memperhatikan posisi bayi saat memberi makan, tegak atau setengah
duduk
Memberi makan secara perlahan
Melakukan penepukan punggung setelah pemberian minum

DX III
Memberikan posisi yang tepat setelah makan, miring kekanan kepala agak
sedikit tinggi supaya makanan tertelan dan mencegah aspirasi yang dapat
berakibat pnemonia
Mengobservasi tanda-tanda infeksi.
Melakukan perawatan luka dengan hati-hat dengan menggunakan teknik
steril
Memperhatikan posisi jahitan, hindari jangan kontak dengan alat-alat yang
tidak steril, misalnya alat tenun dan lainnya.
Menghindari gosok gigi pada anak kira-kira 1-2 minggu
Mengkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian antibiotik

DX IV
Jelaskan prosedur operasi sebelum dan sesudah operasi
Ajarkan pada ornag tua dalam perawatan anak ; cara pemberian
makan/minum dengan alat, mencegah infeksi, dan mencegah aspirasi, posisi
pada saat pemberian makan/minum, lakukanpenepukan punggung,
bersihkan mulut setelah makan

DX V
Kaji pola istirahat bayi dan kegelisahan
Tenangkan bayi
Bila klien anak, berikan aktivitas bermain yang sesuai dengan usia dan
kondisinya
Lakukan tekhnik manajaemen nyeri (distraksi)
Kolaborasi dalam pemberian analgetik sesuai program
























DAFTAR PUSTAKA

Betz, Cecily, dkk. 2002. Buku Saku Keperawatan Pedriatik. Jakarta ; EEC.
Hidayat, Aziz Alimul. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta :
Salemba Medika.
Nelson. 1993. Ilmu Kesehatan Anak bagian 2. Jakarta; Fajar Interpratama.
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EEC.
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EEC.
Wong, Dona L.2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pedriatik. Jakarta : EEC.
http://mvzpry.blogspot.com/2009/05/bab-i-pendahuluan.html