Anda di halaman 1dari 50

McGirt Lamberth Robert Uniplaita

102011088
Penyakit Geriatri
Skenario
Penderita Tn. S, 77 tahun dibawa ke UGD RS UKRIDA
dengan keluhan utama sejak pagi hari bangun
pusing,sekelilingnya berputar disertai rasa mual mau
muntah, keadaan seperti ini sudah dialami berulang-
ulang.Bila bangun dari duduknya lutut terasa nyeri,
berbunyi kretek-kretek dan sakit bila naik turun tangga,
bila bicara agak cadel kadang-kadang kesulitan untuk
menemukan kata yang tepat dan bila minum air sering
tersedak,sehingga takut minum. Tanda-tanda lumpuh
tidak ada. Kalau mau jalan,mulainya berat sekali, jalan
dengan langkah kecil-kecil,kelihatannya kaku dan
waktu berhenti agak kesulitan. Bila menceritakan
riwayat hidup dan pekerjaan masa lalu cukup jelas,
tetap peristiwa yang baru terjadi beberapa saat sering
lupa dan mudah tersinggung. Riwayat kencing manis
ada sejak 6 tahun yang lalu.
Anamnesa
Keluhan Utama: sejak pagi hari bangun
pusing,sekelilingnya berputar disertai rasa mual mau
muntah, keadaan seperti ini sudah dialami berulang-ulang.
Keluhan Penyerta: bila bangun dari duduknya lutut terasa
nyeri, berbunyi kretek-kretek dan sakit bila naik turun
tangga, bila bicara agak cadel kadang-kadang kesulitan
untuk menemukan kata yang tepat dan bila minum air
sering tersedak,sehingga takut minum. Kalau mau
jalan,mulainya berat sekali, jalan dengan langkah kecil-
kecil
Riwayat Penyakit Dahulu: riwayat kencing manis ada sejak
6 tahun yang lalu
WD( Working Diagnosis)
Osteoatrhitis
Osteoarthritis adalah penyakit sendi degeneratif, dimana
terjadi suatu gangguan yang seakan-akan merupakan
proses penuaan dan ditandai dengan adanya degenerasi
pada tulang rawan sendi, disertai pertumbuhan tulang
baru pada tepi sendi atau boy spur. Osteoarthritis genu
bilateral sering terjadi pada mereka yang sudah lanjut
usia, terutama di atas 40 tahun.

Etiologi
Sampai saat ini, etiologi pasti dari osteoarthritis
belum diketahui dengan jelas. Ternyata tidak ada satu
faktor pun yang jelas sebagai proses destruksi rawan
sendi, akan tetapi beberapa faktor predeposisi
terjadinya osteoarthritis telah diketahui.
Faktor resiko yang berperan dalam osteoarthritis
dibedakan menjadi :
Faktor predisposisi umum, antara lain umur, jenis
kelamin, kegemukan, hereditas, hipermobilitas,
merokok, densitas tulang, humoral, dan penyakit
rematik lainnya.
Faktor mekanik, antara lain trauma, bentuk sendi,
penggunaan sendi yang berlebihan karena aktivitas
atau kurang gerak.

Pemeriksaan Fisik dan
Penunjang
Pada pemeriksaan fisik, gejala klinik yang paling
menonjol adalah nyeri yang menghebat dan adanya
kaku sendi. Selain itu, ditemukan juga krepitus,
pembengkakan sendi, nyeri tekan, rasa panas lokal,
terbatasnya pergerakan, dan pada keadaan yang lanjut
dapat terjadi deformitas sendi.
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah
pemeriksaan radiologi. Gambaran radiologic
osteoarthritis dapat berupa :
Pembentukan osteofit pada tepi sendi
Penyempitan celah sendi akibat penipisan rawan sendi
Kista dengan dinding sklerotik pada daerah
subchondral
Perubahan bentuk ujung tulang

Gejala Klinis
Umur: >50 tahun
Pemeriksaan sendi: nyeri setempat,
pembengkakan tulang,jaringan
lunak,krepitasi,efusi
Ciri rasa sakit pada sendi: memburuk dengan
banyak gerak dan reda saat istirahat, tidak kaku
di pagi hari atau kurang dari 30 menit
Patofisiologi
Perubahan-perubahan yang terjadi pada osteoarthritis adalah
sebagai berikut :
Degradasi tulang rawan sendi yang timbul sebagai akibat
ketidakseimbangan antara regenerasi dan degenerasi rawan
sendi melalui beberapa tahap, yaitu fibrasi, pelunakan,
permecahan, dan pengelupasan. Proses ini berlangsung cepat
dan lambat. Untuk proses cepat akan terjadi dalam waktu 10-15
tahun, sedangkan yang lambat terjadi dalam 20-30 tahun.
Akhirnya permukaan sendi menjadi botak tanpa lapisan rawan
sendi.
Osteofit, bersama timbulnya degenerasi tulang rawan sendi,
selanjutnya diikuti reparasi tulang rawan sendi. Reparasi berupa
pembentukan osteofit di tulang subchondral.
Skierosis subchondral, pada tulang subchondral terjadi reparasi
berupa sklerosis, yaitu pemadatan atau penguatan tulang tepat
di bawah lapisan rawan yang mulai rusak.
Sinovitis adalah inflamasi. Sinovitis dapat meningkatkan cairan
sendi. Cairan lutut yang mengandung bermacam-macam enzim
akan tertekan ke dalam celah-celah rawan. Hal ini akan
mempercepat proses perusakan tulang rawan.

Terapi
Terapi fisik memegang peranan sangat penting.
Latihan otot yang teratur akan memperbaiki gangguan
fungsional penderita, mengurangi ketergantungan
pada orang lain, dan mengurangi nyeri. Terapi
pemanasan dapat dilakaukan dengan cara : diaterm,
ultrasound, sinar infra merah, dsb. Pemanasan selama
15-20 menit dikatakan cukup efektif untuk mengurangi
nyeri dan kaku sendi.
Obat-obatan umumnya hanya bersifat simptomatik untuk
mengurangi nyeri. Pada tahap awal dapat dicoba
dengan analgetik sederhana, bila tidak ada perbaikan
dapat diberikan anti-inflamasi non steroid.
Prognosis
Mengingat osteoarthritis adalah penyakit degeneratif,
maka dapat dimengerti bahwa penyakit ini bersifat
progresif sesuai dengan usia. Namun jika diketahui
secara dini dan belum menimbulkan deformitas,
maka perjalanan penyakit dapat dihambat dengan
cara membuat atau berusaha memperbaiki stabilitas
sendi.

Preventif
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah
osteoarthritis :
Bergeraklah. Olahraga yang melatih kekuatan otot di
sekitar sendi akan membantu mencegah kerusakan
kartilago pada sendi.
Aturlah postur tubuh. Postur tubuh yang baik akan
melindungi sendi Anda dari tekanan yang berlebihan,
terutama pada leher, punggung, pinggul, dan lutut.
Lakukan variasi berbagai aktifitas fisik atau olahraga.
Berikan waktu untuk istirahat bagi tubu setelah
melakukan olahraga berat seperti angkat beban.
Stress yang berulang pada sendi dalam waktu yang
lama dapat menyebabkan osteoartritis.


Epidemiologi
Osteoarthritis adalah penyakit sendi yang paling
umum di dunia. Di populasi Barat, penyakit ini
merupakan penyakit tersering yang menyebabkan
nyeri, kehilangan fungsi dan kemampuan pada orang
dewasa. Bukti radiologi osteoarthritis terlihat pada
mayoritas manusia di atas 65 tahun dan 80% dari
mereka berusia di atas 75 tahun.
Hipotensi Ortostatik
Tekanan darah merupakan faktor yang sangat penting
bagi sistem sirkulasi. Peningkatan atau penurunan
tekanan darah akan mempengaruhi homeostasis tubuh.
Jika sirkulasi darah menjadi tidak memadai lagi, maka
akan terjadi gangguan pada sistem transpor O2, CO3,
serta hasil metabolisme lainnya.Tekanan darah memiliki
sifat yang dinamis. Pada perubahan posisi tubuh, dari
tidur ke berdiri, tekanan darah akan mengadakan
penyesuaian untuk dapat menunjang kegiatan tubuh. Hal
tersebut adalah normal bila penurunan tekanan darah
sistolik kurang dari 30 mmHg yang disertai peningkatan
frekuensi denyut jantung 11 hingga 20 kali permenit.

Pemeriksaan Fisik dan
Penunjang
Fisik:
Tanggapan laju denyut saat berdiri
Fungsi regulatorik vasomotor
Tekanan negatif bagian bawah badan

Penunjang:
Hitung darah lengkap untuk anemia dan ketika guaiak
feses positif
Glukosa darah puasa
ECG untuk denyut irreguler
CT atau MRI untuk menghindari diagnosis kelainan
SSP

Etiologi
Penurunan tekananan darah yang drastis saat
perubahan posisi dapat terjadi oleh banyak
penyebab. Penyakit diabetes mellitus dan
penggunaan obat yang berkepanjangan merupakan
penyebab yang paling sering ditemukan.

Gejala Klinis
Dapat asimtomatik namun dapat pula menimbulkan gejala
seperti kepala terasa ringan, pusing, gangguan
penglihatan, lemah, berdebar, gemetar, gangguan
pendengaran
Patofisiologi
Pada seseorang berdiri, 500-800 ml darah akan
berpindah ke daerah abdomen dan ekstremitas
bawah sehingga berakibat terjadinya penurunan
besar volume balik vena secara tiba-tiba ke
jantung, menyebabkan penurunan curah jantung
dan stimulasi pada aorta karotis dan baroreseptor
kardiopulmonal yang akan mencetuskan refleks
simpatis. Akibatnya terjadi peningkatan denyut
jantung, kontraktilitas otot jantung dan resistensi
vascular untuk mempertahankan tekanan darah
sistemik menjadi stabil
Terapi
Pemberian obat-obat yang dapat menyebabkan
hipotensi ortostatik hendaknya dikurangi atau
dihentikan sama sekali. Aktivitas fisik yang dilakukan
secara teratur, seperti berjalan, cukup mampu
mengurangi timbulnya gejala. Tidur dengan posisi
kepala terangkat kurang lebih 30 cm dan alas tidur
dapat memperbaiki hipotensi ortostatik melalui
mekanisme berkurangnya tekanan arteri ginjal yang
selanjutnya akan merangsang pelepasan renin dan
meningkatkan volume darah.

Prognosis
Penderita diabetes dengan tekanan darah tinggi yang
juga mengalami hipotensi ortostatik, memiliki prognosis
yang buruk. Jika penyebabnya adalah volume darah
yang rendah atau obat tertentu, keadaan ini bisa diatasi
dengan segera.
Preventif
Tindakan pencegahannya dapat dibedakan menjadi :
Primer : menghindari faktor penyebab, yaitu penggunaan
obat yang memicu terjadinya jatuh, penyakit medis, dan
lingkungan yang mendukung atau sesuai untuk lansia.
Sekunder : mengobati penyakit medis, menghindari atau
mengatur dosis untuk pemakaian obat-obat berisiko,
mengobati dampak yang timbul akibat jatuh, mengatur
lingkungan yang sesuai dengan lansia, melaith
kemandirian pasien.
Tertier : rehabilitasi, antara lain penggunaan tongkat,
pengoptimalan AKS, dukungan lingkungan sekitar,
melatih kemandirian pasien.
Epidemiologi
Hipotensi ortostatik dapat terjadi pada segala tingkatan
usia. Hanya saja kecenderungan peningkatan jumlah
kasusnya menunjukkan seiring dengan pertambahan
usia. Diduga 20% pasien yang berobat jalan dengan
usia di atas 60 tahun dan 30% dengan usia di atas 75
tahun menderita gangguan ini. Morbiditas dan
mortalitas akibat jatuh pada usia lanjut sering
berhubungan dengan gangguan ini.
Diabetes Melitus tipe II
Diabetes melitus tipe II didahului oleh adanya periode
abnormalitas homeostatis glukosa yang diklasifikasi
sebagai ketidakseimbangan glukosa puasa atau
ketidakseimbangan toleransi glukosa. Pada lansia,
GTG dapat mencapai 50-92%, dimana GTG ada yang
masuk kriteria toleransi glukosa terganggu,ada yang
masuk kriteria diabetes melitus. Umumnya diabetes
orang dewasa hampir 90%, masuk diabetes tipe II.
Dimana 50% adalah pasien berumur lebih dari 60
tahun.
Pemeriksaan Fisik dan
Penunjang
Fisik:
Pasien diabetes pada usia lanjut tidak ditemukan adanya
kelainan-kelainan yang sehubunga dengan diabetes
misalnya kaki diabetes dan tumbuhnya jamur pada tempat-
tempat tertentu
Penunjang:
Glukosa plasma atau serum
Gejala klasik + glukosa sewaktu 200 mg%
Gejala kalsik + glukosa plasma puasa 126 mg%
Glukosa plasma 2 jam pada TTGO 200mg%
Glukosuria
Ketonuria
Glycated hemoglogin ( hemoglobin A1)
Abnormalitas lipoprotein
Etiologi
Etiologi diabetes mellitus tipe II (non-insulin-dependent
diabetes mellitus, NIDDM) bahkan kurang jelas dipahami.
Namun ada dua faktor telah diidentifikasi :
Gangguan sekresi insulin basal. Pelepasan insulin
seringkali normal, tapi cepatnya pelepasan insulin tidak
sesuai dengan makanan yang masuk, mengakibatkan
kegagalan penanganan normal beban karbohidrat.
Resistensi insulin. Kecacatan respon jaringan terhadap
insulin diyakini memainkan peran utama. Fenomena ini
disebut resistensi insulin dan disebabkan oleh reseptor
insulin cacat pada sel target atau tidak mampu mengenali
sel target. Resistensi insulin terjadi pada pasien dnegan
obesitas dan kehamilan. Pada individu normal yang
menjadi gemuk atau hamil, sel B akan meningkatkan
jumlah insulinnya untuk mengimbangi kondisi tersebut.
Pasien yang mempunyai kerentanan genetik untuk
diabetes tidak dapat mengkompensasi karena cacat pada
sekresi insulin.
Gejala Klinis
Polinuria
Polidipsia
Polifagia
Disfungi ereksi (pria)
Balanoposthitis
Luka sulit sembuh
Mata kabur
Asimptomatik pada mulut
Patofisiologi
Pada pasien paruh baya dan tua, terdapat predisposisi
genetik yang kuat untuk diabetes tipe 2. Gen tertentu
yang bertanggung jawab dalam munculnya diabetes
mellitus tipe 2 belum ditemukan. Pasien dengan riwayat
keluarga diabetes memiliki kemungkinan yang lebih
besar untuk mengembangkan penyakit ini dengan
bertambahnya usia mereka. Pasien lansia dengan
resistensi insulin perifer dan glukosa, pelepasan insulin
akan berkurang dan berisiko mengembangkan diabetes
tipe 2 dibandingkan yang tidak resisten.Fisiologis dan
faktor lingkungan menyebabkan predisposisi genetik
majemuk. Kadar testosteron rendah pada pria dan kadar
testosteron yang lebih tinggi pada wanita merupakan
faktor risiko untuk pengembangan diabetes. Lansia
individu yang memiliki asupan tinggi lemak dan gula dan
asupan rendah karbohidrat kompleks lebih mungkin
untuk mengembangkan diabetes.

Terapi
Tujuan utama pengolahan pasien DM :
Jangka pendek : menghilangkan keluhan/gejala DM dan
mempertahankan rasa nyaman dan sehat.
Jangka panjang : mencegah penyulit, baik
makroangiopati, mikroangiopati maupun neuropati,
dengan tujuan akhir menurunkan morbiditas dan
mortilitas DM.
Cara : menormalkan kadar glukosa, lipid, insulin.
Mengingat mekanisme dasar kelainan DM tipe-2 adalah
terdapatnya faktor genetik, tekanan darah, resistensi
insulin dan insufisiensi sel beta pankreas, maka cara-
cara untuk memperbaiki kelainan dasar yang dapat
dikoreksi harus tercermin pada langkah pengelolaan.
Kegiatan : mengelola pasien secara holistik,
mengajarkan perawatan mandiri dan melakukan promosi
perubahan perilaku.
Prognosis
Terapi intensif dan agresif berpotensi menguntungkan.

Preventif
Diabetes mellitus mempengaruhi lebih dari 100 juta orang di
seluruh dunia dan, karena faktor-faktor risiko yang diketahui
dapat dimanipulasi, misalnya pengembangan diabetes tipe 2
berpotensi dapat dimodifikasi. Sejumlah uji klinis telah
membahas hipotesis ini melalui modifikasi diet, aktivitas fisik,
dan terapi obat. Dalam subkelompok pasien lebih dari 60 tahun,
pengurangan resiko diabetes melalui perubahan gaya hidup,
setidaknya sama besar seperti yang diamati dalam populasi
penelitian secara keseluruhan. Dengan demikian, pengurangan
substansial dalam kejadian diabetes diproduksi oleh gaya hidup
(58%) atau metformin (31%).
Epidemiologi
pada populasi lebih dari 65 tahun, hampir 18% sampai
20% mengidap diabetes. Pasien dengan kelainan
metabolisme karbohidrat yang telah diamati termasuk
pasien lansia 20% menjadi 25% yang memenuhi kriteria
untuk toleransi glukosa. Insiden diabetes mellitus adalah
sekitar 2 per 1.000 di antara mereka yang lebih tua dari
45 dan meningkat bagi individu lebih dari 75 tahun.
Prevalensi jauh lebih tinggi di Hispanik yang lebih tua,
Afrika Amerika, penduduk asli Amerika (Indian),
Skandinavia, Jepang, dan Mikronesia. Individu dengan
diabetes mellitus yang lebih tua dari 65 biasanya memiliki
diabetes noninsulin-dependent diabetes (NIDDM).
Demensia
Secara klinis munculnya demensia pada seorang usia
lanjut sering tidak disadari karena perjalanan penyakitnya
yang progesif namun perlahan. Selain itu pasien dan
keluarga juga sering menganggap bahwa penurunan
fungsi kognitif yang terjadi pada awal demensia
merupakan suatu hal yang wajar pada seorang yang
sudah menua. Akibatnya, penurunan fungsi kognitif terus
akan berlanjut sampai akhirnya mulai mempengaruhi
status fungsional pasien dan pasien akan jatuh pada
ketergantungan kepada lingkungan sekitarnya.

Pemeriksaan Fisik dan
Penunjang
Etiologi
the mini mental status
examination (MMSE)
CT/MRI kepala


Beberapa kelainan otak
struktural (misalnya,
hydrocephalus tekanan
normal, hematoma
subdural), gangguan
metabolisme (misalnya,
hipotiroidisme, kekurangan
vitamin B12), dan racun
(misalnya, memimpin)
menyebabkan kerusakan
lambat kognisi yang dapat
mengatasi dengan
pengobatan. Penurunan ini
kadang-kadang disebut
demensia reversibel
Gejala Klinis
Alzheimer Disease: kemampuan sosial masih ada
meskipun kemampuan kognitif menurun, perubahan
sifat ( jalan-jalan tanpa tujuan, perilaku seks
menyimpang, agresif)
Dementia Lewy Bodies: penyimpangan kognitif
berfluktuasi, ditandai dengan rigiditas dan
bradikinesia, jarang tremor.
Patofisiologi
Pada demensia vaskular patologi yang dominan adalah
adanya infark multipel dan abnormalitas substansia alba
(white matter). Petanda anatomis pada fronto-temporal
dementia (FTD) adalah terjadinya atrofi yang jelas pada
lobus temporal daun/ atau frontal, yang dapat dilihat pada
pemeriksaan pencitraan saraf ( neuroimaging) seperti
MRI dan CT. Sementara pada demensia dengan Lewy
body, gambaran neuropatologinya adalah adanya Lewy
body di seluruh korteks, amigdala, cingulated cortex, dan
substansia nigra.
Terapi
Kolinesterase inhibitor
Efek farmakologik obat-obatan ini adalah dengan
menghambat enzim kolinesterase, dengan hasil
meningkatnya kadar asetilkolin di jaringan otak.
Antioksidan
Antioksidan yang telah diteliti dan memberikan hasil yang
cukup baik adalah alfa tokoferol (vitamin E). pemberian
vitamin E dapat mmperlambat progresi penyakit
Alzheimer menjadi lebih berat.
Memantin
Efek terapinya diduga adalah melalui pengaruhnya pada
glutaminergic excitotoxicity dan fungsi neuron di
hipokampus.

Prognosis
Preventif
Demensia biasanya
progresif. Namun, tingkat
perkembangan bervariasi
secara luas dan
tergantung pada
penyebabnya. Demensia
memperpendek harapan
hidup, tetapi perkiraan
kelangsungan hidup
bervariasi.
Pencegahan dan
perlindungan terjadinya
cidera kepala ynag berat
Tidak merokok
Tetap selalu aktif secara
fisik dan mengupayakan
tidur cukup
Epidemiologi
Setelah usia 65 tahun, prevalensi demensia meningkat
dua kali lipat setiap pertambahan usia 5 tahun. Secara
keseluruhan prevalensi demensia pada populasi berusia
lebih dari 60 tahun adalah 5,6%. Penyebab tersering
demensia di Amerika Serikat dan Eropa adalah penyakit
Alzheimer, di Asia diperkirakan demensia vaskular
merupakan penyebab tersering demensia. Tipe
demensia lain yang lebih jarang adalah demensia tipe
Lewy body, demensia fronto-temporal (FTD), dan
demensia pada penyakit Parkinson.
Parkinson
Penyakit Parkinson (PP) adalah suatu kelainan fungsi
otak yang disebabkan oleh proses degenerative
progresif sehubungan dengan proses menua di sel-sel
substansia nigra pars compacta (SNc) dan karakteristik
ditandai dengan tremor waktu istirahat, kekuatan otot
dan sendi (rigidity), kelambanan gerak dan bicara
(bradikinesia), dan instabilitas posisi tegak (postural
instability).

Pemeriksaan Fisik dan
Penunjang
Kriteria diagnosis klinis :
Didapatkan 2 dari 3 tanda cardinal gangguan motorik:
tremor, rigiditas, bradikinesia, atau
Didapatkan 3 dari 4 tanda motorik: tremor, rigiditas,
bradikinesia, ketidakstabilan postural
Selain itu dapat dilakukan pemeriksaan penunjang
seperti CT-scan, MRI
Etiologi
Faktor Genetik:
Ditemukan 3 gen yang menjadi penyebab gangguan
degradasi protein dan mengakibatkan protein beracun tak
dapat didegradasi di ubiquitin-proteasomal
pathway.Menyebabkan peningkatan apoptosis di sel-sel
SNc.
Faktor Lingkungan:
Proses stress oksidatif di ganglia basalis, selain itu juga
pemaparan pada pestisida, konsumsi air sumur, dan
kehidupan pedesaan
Faktor usia:
Proses menua mempermudah terjadi degenerasi di SNc tapi
memerlukan penyebab lain.
Faktor ras:
Penderita parkinso lebih banyak dari orang kulit putih
Faktor Cidera
Stres
Jenis kelamin
Gejala Klinis
Mulai pada satu sisi( hemiparkinsonism )
Tremor saat istirahat muncul unilateral
Perkembangan lambat
Rigiditas
Akinesia/bradikinesia

Patofisiologi
Secara umum dapat dikatakan bahwa Penyakit
Parkinson terjadi karena penurunan kadar dopamin
akibat kematian neuron di substansia nigra pars
compacta (SNc) sebesar 40-50% yang disertai dengan
inklusi sitoplasmik eosinofilik (Lewy bodies) dengan
penyebab multifaktor.

Terapi
Ada 6 macam obat utama yang dipergunakan :
Obat yang mengganti dopamin (Levodopa, Carbidopa)
Agonis dopamin (bromocriptine, pergolide, pramipexole,
ropinirol)
Antikolinergik (benztropin, triheksifenidil, biperiden)
Penghambat Monoamin oxidase/MAO (selegiline)
Amantadin
Penghambat Cetechol 0-Methyl Transferase/COMT
(tolcapone, entacapone)

Terapi Pembedahan
Terapi Rehabilitasi

Prognosis
Obat-obat yang diberikan hanya untuk menekan
gejala-gejala parkinson, sedangkan perjalanan
penyakit ini belum bisa dihentikan sampai saat ini.
Tapi dengan treatment yang tepat, kebanyakn pasien
parkinson dapat hidup produktif beberapa tahun
setelah diagnosis.
Preventif
Penyakit Parkinson terjadi ketika sekitar 80 persen dari
sel-sel saraf tertentu dalam otak menjadi terganggu
karena tidak mampu memproduksi cukup dopamin.
Dopamine adalah kimia yang diperlukan yang membantu
dalam fungsi otot, keseimbangan gerakan dan
koordinasi. Parkinson tidak terfokus pada setiap etnis
dan mempengaruhi baik pria maupun wanita.

Epidemiologi
Di Amerika Serikat, ada sekitar 500.000 penderita
parkinson. Di Indonesia sendiri, dengan jumlah
penduduk 210 juta orang, diperkirakan ada sekitar
200.000-400.000 penderita. Rata-rata usia penderita
di atas 50 tahun dengan rentang usia-sesuai dengan
penelitian yang dilakukan di beberapa rumah sakit di
Sumatera dan Jawa- 18 hingga 85 tahun.
DD
Vertigo
Vertigo adalah adanya sensasi gerakan atau rasa gerak
dari tubuh atau lingkungan sekitarnya dengan gejala lain
yang timbul terutama dari jaringan otonomik yang
disebabkan gangguan alat keseimbangan tubuh. Vertigo
bukan gejala pusing saja, tetapi merupakan kumpulan
gejala atau satu sindroma yang terdiri dari gejala
somatik (nistagmus, unstable), otonomik (pucat, keringat
dingin, mual, muntah), dan pusing.
Pemeriksaan Fisik
dan Penunjang Etiologi
Pemeriksaan
kardiovaskuler
Pemeriksaan neurotologik
Tes romberg dan tes
langkah tandem
Pemijatan sinus karotis
Elektronistamografi
(ENG)

Asal terjadinya vertigo
dikarenakan adanya
gangguan pada sistem
keseimbangan tubuh.
Bisa berupa trauma,
infeksi, keganasan,
metabolik, toksik,
vaskular, atau autoimun.
Gejala Klinis dan Patofisiologi
Gejala Vertigo
Vestibular
Vertigo Non
Vestibular
Sifat vertigo
Serangan
Mual/muntah
Gangguan
pendengaran
Gerakan
pencetus
Situasi
pencetus
rasa berputar
episodik
+
+/-
gerakan kepala
-
melayang,
hilang
keseimbangan
kontinu
-
-
gerakan obyek
visual
keramaian, lalu
lintas
Gejala Vertigo
Vestibular
Perifer
Vertigo
Vestibular
Sentral
Bangkitan
vertigo
Derajat vertigo
Pengaruh
gerakan
kepala
Gejala otonom
(mual,
muntah,
keringat)
Gangguan
pendengaran
(tinitus, tuli)
Tanda fokal
otak
lebih
mendadak
berat
++


++

+


-

lebih lambat
ringan
+/-


+

-


+
Terapi Prognosis
Terapi kausasif
Terapi simptomatik
Terapi rehabilitasi
Vertigo dengan masalah
pada telinga dalam
biasanya dapat sembuh
sendiri, namun jika tidak,
dapat menggunakan obat

Vertigo akibat lesi otak
tergantung dari besar yang
timbul pada SSP.
Preventif
Epidemiologi
Tidur dengan kepala sedikit
lebih tingi dengan 2 atau 3
bantal
Hindari membungkuk saat
mengambil barang
Hidari memanjangkan leher,
misalnya saat meraih barang
di rak yang tinggi
Berdasarkan survey
neurologus dari populasi
umum, prevalesnsi dalam
satu tahun pada
penderita vertigo adalah
4,9%, pada penderita
vertigo migrain adalah
0,89%, dan Benign
Proxymal Positional
Vertigo adalah 1,6 %.
Kesimpulan
Dari gejala-gejala yang dialami oleh Tuan S
menunjukkan bahwa Tuan S menderita penyakit yang
biasanya menyerang lansia, yaitu demensia,
Parkinson, vertigo, osteoarthritis, hipotensi ortostatik,
diabetes mellitus.