Anda di halaman 1dari 11

Penatalaksanaan Medis

Penatalaksanaan medis dan perawatan setelah dilakukan sectio caesarea (Cuningham,


F Garry, 2005 : 614)
1. Perdarahan dari vagina harus dipantau dengan cermat
2. Fundus uteri harus sering dipalpasi untuk memastikan bahwa uterus tetap berkontraksi
dengan kuat
3. Analgesia meperidin 75-100 mg atau morfin 10-15 mg diberikan, pemberian narkotik
biasanya disertai anti emetik, misalnya prometazin 25 mg
4. Eriksa aliran darah uterus palingsedikit 30 ml/jam
5. Pemberian cairan intra vaskuler, 3 liter cairan biasanya memadai untuk 24 jam pertama
setelah pembedahan
6. Ambulasi, satu hari setelahpembedahan klien dapat turun sebertar dari tempat tidur dengan
bantuan orang lain
7. Perawatan luka, insisi diperiksa setiap hari, jahitan kulit (klip) diangkat pada hari keempat
setelah pembedahan
8. Pemeriksaan laboratorium, hematokrit diukur pagi hari setelah pembedahan untuk
memastikan perdarahan pasca operasi atau mengisyaratkan hipovolemia
9. Mencegah infeksi pasca operasi, ampisilin 29 dosis tunggal, sefalosporin, atau penisilin
spekrum luas setelahjanin lahir

Infus RL ; 20 tetes/menit drip Cynto sanpai 12 jam
- Injeksi gentamicin 2x 80 gram
- Observasi VS / kontraksi uterus
- KIE

Diagnosa Keperawatan
A. Diagnosa Umum (Doengoes, 2000)
a. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan efek samping dari anaesthesi.
b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka post operasi.
c. Nyeri akut berhubungan dengan proses pembedahan.
d. Resiko injury berhubungan dengan kelemahan fisik, efek anaesthesi, obat-obatan (penenang,
analgesik) dan imobil terlalu lama.
e. Gangguan pola nafas berhubungan dengan posisi klien (Brunnert dan suddart)

B. Diagnosa Tambahan (Doengoes, 2000)
Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret.
Resiko retensi urine berhubungan dengan anaesthesi, bedah pelvis, dan kurang gerak.
Kurang pengetahuan berhubungan dengan salah memahami informasi.
Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang prosedur pembedahan.
Nausea berhubungan dengan efek anaesthesi, narkotika, ketidaseimbangan elektrolit.
Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksoia,
lemah, nyeri, mual.
Konstipasi berhubungan dengan efek anaesthesi
2.10. Fokus Intervensi dan Rasional
a. Gangguan pola nafas berhubungan dengan posisi klien
Tujuan : pola nafas klien normal
Intervensi :
- Kaji pola nafas klien (rasionalnya : mengetahui supali oksigen)
- Monitor TTV (apakah mengalami kenaikan)
- Beri posisi kepala lebih tinggi dari kaki, semi fowler (posisi nyaman, membantu pola
nafas efektif)
- Beri tarapi oksigen (membantu dalam suplai oksigen)
b. Kurang volume cairan berhubungan dengan perdarahan (Doenges, 2000)
Tujuan : memenuhi kebutuhan cairan sesuai kebutuhan tubuh
Kriteria Hasil : intake dan out put seimbang
Intervensi :
1) Observasi perdarahan (mengetahui jumlah darah yang keluar)
2) Monitor intake dan out put cairan
3) Monitor tanda-tanda vital (apakah mengalami kenaikan)
4) Kolaborasi pemberian cairan elektrolit sesuai program (memenuhi kebutuhan tubuh akan
cairan elektrolit yang seimbang)
c. Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat (kulit tak utuh)
(Nanda Nic Noc, 2005)
Tujuan : tidak ada tanda-tanda infeksi (rubor, kalor, dolor, fungiolesa), jumlah leukosit dalam
batas normal
Intervensi :
- Kaji lebar luka, kedalaman, panjang, warna, panas/tidak, merah atau hitam
(mengetahui seberapa besar resiko infeksi)
- Inspeksi lebar luka/insisi bedah
- Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas
d. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan efek anestesi
Tujuan : mengatasi masalah gangguan pertukaran gas
Intervensi :
- Kaji status pernapasan secaraperiodik, catat adanya perubahan pada usaha tingkatan
hipoksia
- Auskultasi bunyi paru secara periodic, catat kualitas bunyi napas, wheezing, ekspirasi
memanjang dan observasi kesimetrisan gerakan dada
- Kaji adanya sianosis
- Auskultasi irama dan bunyi jantung
- Bantu klien untuk beristirahat dengan menjaga ketenangan lingkungan
- Posisikan klien dalam posisi nyaman (fowler atau semi fowler)
- Ajarkan dan motivasi klien untuk melakukan pernapasanmulut/ bibir (pursed lip)
- Monitor keseimbangan intake dan output cairan
- Monitor saturasi oksigen (bila Pulse Oximetri ada)
e. Nyeri akut berhubungan dengan proses pembedahan
Tujuan : nyeri berkurang, pasien terlihat rileks
Intervensi :
- Kaji tingkat, skala nyeri
- Beri posisi nyaman (mengurangi nyeri)
- Ajarkan teknik relaksasi (mengurangi nyeri)
- Beri kompres dingin (mengurangi nyeri dan menghentikan pendarahan)
- Kolaborasi pemberian obat analgetik (mengurangi nyeri)

DAFTAR PUSTAKA
Wilkinson M. Judith. 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi NIC dan
Kriteria Hasil NOC, Edisi 7. Jakarta:EGC

Nurjannah Intansari. 2010. Proses Keperawatan NANDA, NOC &NIC. Yogyakarta : mocaMedia

Mochtar, Rustam. 1998. Synopsis Obstetric dan Ginekologi. EGC. Jakarta

Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis obstetric. Jakarta: EGC.

Prawirohardjo, S. 2000. Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan neonatal.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.

http//:www.SC/sectio-caesarea.html

http// : www.SC/LP-Sectio-Caesarea.htm

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/104/jtptunimus-gdl-umilatifah-5199-3-babiip-f.pdf
http://kti-kebidanan.goodluckwith.us/tag/latar-belakang-operasi-sesar
http://aif27.blogdetik.com/2011/07/11/asuhan-kebidanan-pada-ny-
%E2%80%98t%E2%80%99-g2p10001-uk-39-minggu-janin-tunggal-hidup-intra-uteri-letak-
kepala-dengan-riwayat-sectio-caesaria-atas-indikasi-cpd-di-ruang-bersalin-rsia-muslimat-
jomba/
http://bankjudul.wordpress.com/2011/03/22/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-tingkat-
kecemasan-pada-pasien-pre-operasi-apendiktomi-di-bangsal-bedah-brsd-raa-soewondo-pati/
http://eprints.undip.ac.id/18349/1/M_Mukhlis_Rudi_P.pdf

Asuhan Keperawatan Pasien Ny.E dengan Post SC dengan indikasi CPD
di Ruang Cempaka RS-BLUD Kota Tanjungpinang
I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny.E
Umur : 21 Tahun
Status Perkawinan : Kawin
Agama : Islam
Suku : Melayu
Pendidikan : SMA
Nama Suami : Tn.A
Umur Suami : 24 Tahun
Alamat : Jln Brig. Katamso
Pekerjaan : Swasta
Diagnosa Medis : Post SC dengan indikasi CPD
Tanggal Masuk RS : 17-12-2011
II. KELUHAN UTAMA
Klien menyatakan masuk ke RS tannggal 17 desember jam 11.00 wib, klien telah didiagnosa panggul
sempit oleh dokter karena dari itu klien harus di SC. Setelah selesai SC, klien mengatakan nyeri pada
daerah insisi, nyeri terjadi hampir setiap 20 menit sekali dengan skala nyeri 5, Wajah klien tanpak
meringis, klien tanpak memegangi bekas perutnya/bekas luka operasi, , Terdapat kemerahan pada
sekitar luka, klien mengatakan badannya panas.
III. RIWAYAT PERSALINAN DAN KELAHIRAN SAAT INI
No Tipe persalinan BB waktu lahir Keadaan bayi
waktu lahir
Umur sekarang
1 Sectio cesaria 3500 gram Sehat 1 hari

Lama persalinan : 1 Jam
Posisi fetus : Kepala
Tipe kelahiran : Sectio sesarea
Penggunaan analgetik dan anastesi : Spinal
Masalah selama persalinan : -
IV. DATA BAYI SAAT INI
Bayi dilahirkan secara SC pada tanggal 18 desember 2011 jam 13.40 dengan Berat 3500 gr dan
panjang 47 cm, nilai AFGAR Score 8 dimana bayi menangis, aktif, tidak sianosis, jantung bayi 120
x/menit.
V. KEADAAN PSIKOLOGI IBU
Orang terdekat dengan klien adalah suami dan ibunya. Didalam keluarga Ny.E menggunakan
komunikasi secara terbuka yang diputuskan secara bersama. Hubungan klien dengan anggota
keluarga, teman dan masyarakat baik. Klien dan keluarga berharap agar cepat sembuh dan dapat
pulang kerumah secepatnya karena klien merasa terganggu dengan lingkungan yang bising/ ramai.
Pola interaksi klien dengan keluarga dan orang lain baik, tidak ada masalah. Klien lega karena operasi
telah selesai dilakukan Klienmenyatakan cemas saat sebelum melaksanakan operasi hal ini
dikarenakan ia takut terjadisesuatu pada dirinya saat operasi karena pertama kalinya klien
melahirkan dengan di sesar.
VI. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Klien menyatakan selama ini baik saat megandung maupun tidak, belum pernah mengalami sakit
yang serius ataupun masuk RS, biasanya hanya batuk atau demam biasa saja.
VII. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
klien menyatakan kedua orang tuanya baik suaminya tidak memiliki penyakit keturunan maupun
penyakit menular. ia dan suaminya tidak memiliki riwayat penyakit keturunan


VIII. RIWAYAT GINEKOLOGI
Menarche usia : 11 tahun
Siklus menstruasi : teratur / tidak, 14 hari
Karakteristik mens : biasa
G 1 P 1 A 0
HMT : April 2010 (tanggalnya klien lupa)
HPL : 18 Desember 2011
Keluhan selama kehamilan ini :
- Trimester I : mual muntah
- Trimester II : Tidak ada
- Trimester III : Sering merasakan sakit saat berjalan
IX. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Klien mengatakan baru pertama kali melahirkan dengan jalan sectio caesaria dan klien tidak pernah
menderita penyakit yang berbahaya atau penyakit yang menular dan tidak ada pula alergi terhadap
makanan ataupun obat-obatan. Namun klien juga pernah mengalami demam biasa, batuk dan pilek.
Jika hal ini terjadi klien mengatasinya cukup dengan membeli obat yang dijual di toko-toko. Jika
obat-obat tersebut tidak mengurangi rasa sakit, maka klien memeriksakan kesehatannya di klinik
atau puskesmas terdekat tempat tinggal klien.

X. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Pasien menyatakan dalam keluarga tidak ada penyakit keturunan
XI. PEMERIKSAAN FISIK
Tanggal 19 Desember 2011
Keadaan umum : Baik BB : 55 kg, TB : 158 cm
TTV : N : 82x/menit, TD : 140/90 mmHg, RR : 22 x/menit, S : 38, 3C
Kepal : wajah klien simetris, kebersihan kepala baik, rambut klien panjang lurus, tidak ada
benjolan dan kelainan pada kepala, penyebaran rambut merata
Mata : mata simetris, tidak strabismus, pupil Isokor, skrera anikterik, konjungtiva anemis
Hidung : posisi hidung simetris, letak septum nasal ditengah, tidak terdapat pernafasan
cuping hidung,keadan hidung tampak bersih.
Telinga : Telinga simetris, tidak terdapat serumen,
Mulut : Bibir lembab, gigi terdapat karies, mulut dan lidah bersih
Leher : Posisi leher baik, terdapat kelenjar tyroid, tidak ada pembesaran kelenjar tyroid
Thorakss : bentuk dada bulat, mamae simetris, putting menonjol,ASI belumlancar
Abdomen : Terdapat linia nigra dan linia alba, TFU 2 jari dibawah pusat, terdapat luka post SC
kira kira dengan panjang 15 cm dengan keadaan kering, tidak ada tanda-tanda infeksi,klien
mengatakan perut terasa nyeri, nyeri seperti tertusuk-tusuk dengan sekala nyeri 5, lama nyeri 10-15
detik.
Genitalia : Tidak diperiksa
Anus dan rectum : Tidak diperiksa
Muskuloskletal : pergerakan otot dan sendi baik
XII. KELUARGA BERENCANA
Klien mengatakan akan berencana menggunakan alat KB suntik 3 bulan.

XIII. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tanggal 17 desember 2011
Lab:
Hematologi :
HB : 13,0gr %
LEUCOSIT : 6600 MM3
ERITROSIT : 4,7 Jt/mm3
TROMBOSIT : 315000 mm3
PCV : 40 V%
GDA : 86 mg/dl
CHOLESTEROL : 205
TRIGELISERIDA : 90
SGOT : 29
SGPT : 22
BILL TOTAL : 0,6
BILL DIREK : 0,2
BILL INDIREK : 0,4
CREATININ : 0,4

XIV. TERAPI YANG DIPEROLEH
- Cefadroxil 2x1 gr/IV
- Tramadol 3x1 gr/IV
- Megazing 1x1 gr/IV
- VIT C 1x1 gr/IV
- Keterolak 3x1 gr/IV
- RL % 20 tts/i
- Paracetamol 1 tab

XV. ANALISA DATA
Data Etiologi Probblem
DS:
- Pasien menyatakan nyeri pada bagian bekas
operasi
- Pasien menyatakan nyeri terjadi hampir setiap
20 mnt sx
DO:
- Wajah pasien tanpak meringis
- Pasien tanpak memegangi bekas
perutnya/bekas luka operasi
- Terdapat nyeri tekan
- Skala nyeri 5

DS:
- Pasien menyatakan nyeri pada bagian bekas
operasi
- Pasien menyatakan nyeri terjadi hampir setiap
20 mnt sx

DO:
- Wajah pasien tanpak meringis
- Pasien tanpak memegangi bekas
perutnya/bekas luka operasi

Insisi pembedahan
Janin










Dilakukan Sc







Nyeri











Resiko tinggi
infeksi





- Jumlah Leukosit 24.000
- Terdapat kemerahan pada sekitar luka



DS :
- Ttv S : 38,1 C TD : 140/90 mmHg
- Kulit teraba hangat

DO :
- Klien mengatakan badannya panas
- Kelurga mengatakan klien demam









Poses penyembuhan
luka











Hipertermi





A. Prioritas Masalah
- Nyeri
- Resiko tinggi infeksi
- Hipertermi

B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman nyeri b/d insisi pembedahan
2. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosdur invasif, pecah ketuban, kerusakan
kulit, penuruna hemoglibin (Hb), pemajanan ada patogen
3. Hipertermi b/d proses penyembuhan luka

Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan pelepasan mediator nyeri (histamin, prostaglandin) akibat
trauma jaringan dalam pembedahan (section caesarea) .
b. Intoleransi aktivitas b/d tindakan anestesi, kelemahan, penurunan sirkulasi
c. Gangguan Integritas Kulit b.d tindakan pembedahan
d. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan / luka kering bekas operasi.
e. Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang prosedur pembedahan,
penyembuhan dan perawatan post operasi.
f. Defisit perawatan diri b/d kelemahan fisik akibat tindakan anestesi dan pembedahan
3. Rencana Kperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan pelepasan mediator nyeri (histamin, prostaglandin) akibat
trauma jaringan dalam pembedahan (section caesarea)
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan nyeri klien
berkurang / terkontrol dengan kriteria hasil :
Mengungkapkan nyeri dan tegang di perutnya berkurang
Skala nyeri 0-1 ( dari 0 10 )
TTV dalam batas normal ; Suhu : 36-37
0
C, TD : 120/80 mmHg, RR :18-20x/menit, Nadi :
80-100 x/menit
Wajah tidak tampak meringis
Klien tampak rileks, dapat berisitirahat, dan beraktivitas sesuai kemampuan


Intervensi :
Lakukan pengkajian secara komprehensif tentang nyeri meliputi lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas, intensitas nyeri dan faktor presipitasi.
Observasi respon nonverbal dari ketidaknyamanan (misalnya wajah meringis) terutama
ketidakmampuan untuk berkomunikasi secara efektif.
Kaji efek pengalaman nyeri terhadap kualitas hidup (ex: beraktivitas, tidur, istirahat, rileks,
kognisi, perasaan, dan hubungan sosial).
Ajarkan menggunakan teknik nonanalgetik (relaksasi, latihan napas dalam,, sentuhan
terapeutik, distraksi.).
Kontrol faktor - faktor lingkungan yang yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap
ketidaknyamanan (ruangan, suhu, cahaya, dan suara).
Kolaborasi untuk penggunaan kontrol analgetik, jika perlu.
b. Intoleransi Aktivitas b.d kelemahan, penurunan sirkulasi
Tujuan : Kllien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi
Kriteria Hasil : klien mampu melakukan aktivitasnya secara mandiri
Intervensi :
Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas
Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi luka dan kondisi tubuh umum
Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari.
Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan /kondisi klien
Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas







DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, M E, 2000, Rencana Askep pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian
perawatan pasien, Jakarta : EGC.
Manuaba, Ida Bagus Gde, (1998), Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana,
EGC. Jakarta.
Prawirohardjo, S. 2000. Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawiroharjo,(1999)., Ilmu Kebidanan, Edisi 2 Cetakan II Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. Jakarta.
Winkjosastro, Hanifa, 2005, Ilmu Kebidanan, Jakarta : Yayasan Bina Pustaka