Anda di halaman 1dari 6

PENDAHULUAN

Menurut Carole Wade dan Carol Tavris emosi adalah situasi stimulus yang
melibatkan perubahan pada tubuh dan wajah, aktivasi pada otak, penilaian kognitif,
perasaan subjektif dan kecenderungan melakukan kegiatan, yang dibentuk seluruhnya
oleh peraturan-peraturan yang terdapat disuatu kebudayaan. Emosi adalah sebagai
suatu suasanayang kompleks (a complex feeling state) dan getaran jiwa (a strid up
state) yang menyertai atau munculnya sebelum dan sesudah terjadinya perilaku.
(syamsudin, 2005:114).
Setiap anak memiliki emosi yang berbeda-beda biasanya hal itu tergantung
dari suasana hatinya dan kadang juga dipengaruhi dari situasi lingkungannya.
Perasaan emosi anak ada yang negative dan ada juga yang positif. Perasaan marah
dan takut merupakan emosi negative, sedangkan perasaan senang atau gembira
merupakan emosi positif pada anak.
Gejala-gejala emosional pada anak separti perasaan sayang, marah, takut,
bangga dan rasa malu, cinta dan benci, harapan-harapan dan putus asa, perlu
dicermati dan dipahami dengan baik. Sebagai pendidik mengetahui setiap aspek
tersebut dan hal yang lain merupakan suatu yang terbaik sehingga perkembangan
anak-anak sebagai peserta didik berjalan dengan normal dan mulus tanpa mengalami
gangguan sedikitpun.
Emosi dapat juga didefinisikan sebagai suatu suasana yang kompleks dan
getaran jiwa yang menyertai atau muncul sebelum/sesudah terjadinya prilaku. Gejala-
gejala seperti takut, cemas, marah, dongkol, iri, cemburu, senang, kasih saying,
simpati, dan sebagainya merupakan proses manifestasi dari keadaan emosional pada
diri seseorang.




I. PEMBAHASAN
1. Pengertian Perasaan dan Emosi
Perasaan sulit untuk didefinisikan secara persis. Menurut Chaliplin,
adalah perasaan sebagai pengalamanyang disadari yang diaktifkan oleh
perangsang eksternal maupun bermacam-macam keadaan jasmani. Menurut
Max Scheber, membagi perasaan menjadi empat kelompok, yaitu :
a. Perasaan Pengindraan, yaitu yang berhubungan denngan pengindraan,
misalnya rasa panas, dingin, dan lain-lain.
b. Perasaan Vital, yaitu yang dialami seseorang yang berhubungan keadaan
tubuh, misalnya rasa lelah, lesu, segar, dan lain-lain.
c. Perasaan Psikis, yaitu perasaan yang menyebabkan perubahan- perubahan
psikis, misalnyarasa senang, sedih, dan lain-lain.
d. Perasaan Pribadi, yaitu perasan yang dialami seseorang secara pribadi,
misalnya terasing, suka, tidak suka.
Perasaan merupakan bagian dari emosi, tidak terdapat perbedaan yang
jelas antara perasaan dan emosi. Emosi bersifat lenbih intens dari perasaan,
lebih ekspresif, ada kecenderungan untuk meletrus dan emosi dapat timbul
dari kombinasi beberapa perasaan, sehingga emosi mengandung arti yang
lebih kompleks dari perasaan (Yusuf, L.N, 2004).
Cara-cara menyambut suatu situasi yang didasarkan pada kebiasaan
atau bersifat rasional tidak lagi memadai, mungkin individu yang
bersangkutan akan tergangggu. Marah atau mendongkol, misalnya hal ini
berarti bahwa, individu tadi mengalami suatu perasaan atau mungkin sekali
suatu emosi. (Buchori. M, 1982).
2. Karakteristik Perkembangan Emosi Remaja
Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode badai dan
tekanan, suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari
perubahan fisik dan kelenjar. Meningginya emosi terutama karena anak laki-
laki dan perempuan berada dibawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi
baru, sedangkan selama masa kanak-kanak ia kurang mempersiapkan diri
untuk menghadapi keadaan-keadaan itu (Anonim, 2012).
Tidak semua remaja mengalami masa badai dan tekanan. Namun benar
juga bila sebagian besar remaja mengalami ketidak stabilan dari waktu ke
waktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri pada pola prilaku baru
dan harapan sosial yang baru. (Hurlock, 2002 ).
Pola emosi remaja adalah sama dengan pola emosi kanak-kanak. Jenis
emosi yang secara normal dialami adalah cinta/kasih sayang, gembira, amarah
,takut dan cemas, cemburu, sedih, dan lain-lain. Perbedaan yang terlihat
terletak pada macam dan derajat rangsangan yang mengakibatkan emosinya,
dan khususnya pola pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan
emosi remaja (Anonim, 2012).
3. Hubungan Antara Emosi dan Tingkah Laku
Anonim, 2012. Teori yang membahas mengenai hubungan antara
emosi dan gejala- gejalanya kejasmanian termasuk di dalam tingkah lakunya.
a. Teori Sentral
Bedasarkan teori yang dikemukakan oleh W.B. Cannon gejala
kejasmanian timbul akibat dari emosi yang dialami oleh individu.Sehingga,
individu mengalami emosi lebih dahulu baru kemudian mengalami
perubahan-perubahan dalam jasmaninya.
b. Teori Perifir
Teori ini dikenal dengan teori James-Lange karena W. James dan C.
Lange dalam waktu yang hampir bersamaan menemukan teori tentang
emosi yang mirip. Mereka berpendapat bahwa perubahan psikologis yang
terjadi dalam emosi disebabkan oleh karena adanya perubahan fisiologis.
perubahan fisiologi ini menyebabkan perubahan psikologis yang disebut
emosi. Menurut teori ini orang susah karena menangis, orang senang
karena tertawa bukan tertawa karena senang.
c. Teori Kedaruratan Emosi
Teori ini dikenal dengan teori Cannon-Bard karena teori W.B.
Cannon diperkuat oleh P.Bard. teori ini menyatakan bahwa emosi
merupakan reaksi yang diberikan oleh organisme dalam situasi emergensi
atau darurat (Gerungan, W.A.1988).
Dari teori di atas semakin memperjelas hubungan antara emosi dan
gejala kejamanian atau tingkah laku. Emosi dapat berfungsi sebagai motif
yang memotivasi atau menyebabkan timbulnya semacam kekuatan agar
individu berbuat atau bertingkah laku. Tingkah laku yang ditimbulkan oleh
emosi tersebut dapat bersifat positif maupun negatif. Emosi dapat
menimbulkan akibat positif maupun negatif. Sebaiknya kita dapat
mengelola emosi agar tidak menimbulkan dampak negative yang tidak di
inginkan (Anonim, 2012).
4. Perbedaan Individu dalam Perkembangan Remaja
Menurut Buchori, M. 1982. Banyak factor yang mempengaruhi
perkembangan emosi remaja individu. Kepribadian, lingkungan, pengalaman,
kebudayaan, pendidikan. Pendidikan merupakan variable yang sangat
berperan dalam perkembangan emosi individu. Perbedaan individu juga dapat
dipengaruhi oleh adanya perbedaan kondisi atau keadaan individu yang
bersangkutan, antara lain:
a) Kondisi dasar individu
Berkaitan dengan struktur pribadi individu. Misalnya, ada yang
mudah marah, ada juga yang susah marah.
a) Kondisi psikis individu pada suatu waktu
Misalnya saat sedang kalut, seseorang mudah tersinggung di
banding dalam keadaan normal.
b) Kondisi jasmani individu
Pada saat sedang sakit biasanya lebih mudah perasa atau lebih
mudah marah.
II. KESIMPULAN
1. Perasaan merupakan bagian dari emosi, tidak terdapat perbedaan yang jelas
antara perasaan dan emosi. Emosi bersifat lenbih intens dari perasaan, lebih
ekspresif, ada kecenderungan untuk meletrus dan emosi dapat timbul dari
kombinasi beberapa perasaan, sehingga emosi mengandung arti yang lebih
kompleks dari perasaan.
2. Karakteristik Perkembangan Emosi Remaja, yaitu Pola emosi remaja adalah
sama dengan pola emosi kanak-kanak. Jenis emosi yang sevara normal
dialami adalah cinta/kasih sayang, gembira, amarah, takut dan cemas,
cemburu, sedih, dan lain sebagainya.
3. Hubungan anatara emosi dan tingkah laku, yaitu Emosi dapat sebagai motif
yang memotivasi atau menyebabkan timbulnya semacam kekuatan agar
individu berbuat atau bertingkah laku. Tingkah laku yang ditimbulkan oleh
emosi tersebut dapat bersifat positif maupun negatif.
4. Perbedaan individu dalam perkembangan remaja, yaitu kondisi dasar
individu, kondisi psikis individu pada suatu waktu, kondisi jasmani dan
individu.
III. SARAN
Jika tingkah laku emosional atau perasaan yang akan timbul, maka
lakukanlah suatu dorongan yang memadai, agar tidak timbulnya situasi
yang menganggu.







DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2012. Perkembangan Emosi Remaja. http://www.anneahira.com diakses 20
Juni 2012
Anonim, 2012. Perasaan dan Emosi. http://elearning.unesa.ac.id/aditya-wirawantoro-
putra/emosi. diakses 20 Juni 2012
Anonim, 2012. Psikologi Tentang Emosional. http://www.anakciremai.com. diakses
20 Juni 2012
Buchori, M, 1982. Psikologi Pendidikan . Aksara Baru. Jakarta.
Gerungan, W.A. (1988). Psikologi Sosial. Eresco. Jakarta.
Yusuf, L.N, (2004). Psikologi Anak dan Remaja. Remaja Rosdakarya. Bandung.