Anda di halaman 1dari 5

Tangguh 0706291426 Dept.

Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 1

Minyak, Terorisme, dan Keamanan Nasional Amerika


Review Mata Kuliah Hubungan Luar Negeri dan Keamanan Amerika
Michael T. Klare, “The Deadly Nexus: Oil, Terrorism, and America’s National Security”, dalam Current
History Vol. 101 No. 659, 414-420

Sumber primer pendanaan teroris nomor satu dunia adalah kebijakan impor minyak Amerika Serikat
(AS) yang buruk sekali, sebagaimana terilustrasikan dalam kutipan berikut.

“You steal our wealth and oil at paltry prices because of your international influence and military threats. This theft is
indeed the biggest theft ever witnessed by mankind in the history of the world.” - Osama bin Laden

Review ini akan membahas tentang artikel Michael T. Klare (2002), “The Deadly Nexus: Oil,
Terrorism, and America’s National Security”. Dalam review ini, penulis akan mengedepankan terlebih
dahulu gagasan Klare dalam artikelnya dengan analisis kritis terhadap substansi pandangan Klare, kemudian
membahas pandangan dan gagasan para cendekia terhadap isu hubungan antara minyak, terorisme, dan
keamanan nasional AS. Sebagai penutup, penulis akan mengkaji pendekatan apa yang lebih baik diadopsi
AS dalam merespon dilema hubungan minyak, terorisme, dan keamanan nasional AS ini.

Pandangan Michael T. Klare terhadap Hubungan antara Minyak, Terorisme, dan Keamanan
Nasional Amerika
Dalam artikelnya, Klare mengungkapkan bahwa terdapat hubungan dekat antara terorisme, pencarian
minyak global, dan keamanan nasional AS, seperti dalam isu Al Qaeda dan jaringan teror internasional
lainnya, Saddam Hussein dan Irak, rezim Islam di Iran, faksi-faksi Islam ekstrem di Arab Saudi, kerusuhan
internal di negara-negara baru merdeka di lembah Laut Kaspia, konflik separatis dan agama di Indonesia,
perang gerilya di Kolombia, dan hubungan tegang antara AS dengan Presiden Hugo Chávez di Venezuela.
Klare juga mengungkapkan bahwa bukan hanya AS yang terperangkap dalam hubungan antara minyak,
terorisme, dan konflik: Rusia terus memerangi pemberontak dan ekstremis Islam di Grozny (Chechnya) dan
Asia Tengah yang kaya minyak dan gas; China bekerjasama dengan Rusia di Asia Tengah dan juga
memerangi separatis Uighur di wilayah kaya minyak Xinjiang. Menurut Klare, hubungan terorisme, minyak,
dan keamanan nasional dalam kasus-kasus ini substansial, namun apakah hubungan ini kebetulan geografis
atau memiliki mekanisme dalam yang lebih fundamental? Hal ini yang dikaji Klare, hingga ia sampai pada
kesimpulan bahwa tiga faktor memiliki signifikansi penuh dalam hal ini: 1) kepentingan strategis minyak, 2)
kekayaan yang dihasilkan dari produksi minyak, serta 3) hubungan antara produksi minyak dan naiknya
rezim-rezim otoriter.
Menurut Klare, minyak menjadi sangat terkait dengan konflik karena minyak menjadi isu keamanan
nasional, karena minyak menjadi tenaga penggerak perang modern (tank, pesawat, helikopter, kapal perang)
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 2

serta esensial dalam kelancaran fungsi ekonomi global. Penulis setuju pada pernyataan bahwa keamanan
energi adalah isu keamanan nasional. Khususnya dalam kasus AS, hal ini didukung oleh testimoni Mantan
Presiden AS Jimmy Carter, “Our decision about energy will test the character of the American people and
the ability of the President and the Congress to govern this nation. This difficult effort will be the „moral
equivalent of war,‟ except that we will be uniting our efforts to build and not to destroy,”1 serta Presiden
FedEx Fred Smith dan Jenderal (Purn.) Charles F. Wald, US Air Force. 2 Bahkan, alasan resmi invasi AS
terhadap Irak pada April 2001 adalah untuk meningkatkan akses Barat kepada minyak Irak, “President
Bush's Cabinet agreed in April 2001 that 'Iraq remains a destabilising influence to the flow of oil to
international markets from the Middle East' and because this is an unacceptable risk to the US 'military
intervention' is necessary.”3
Kembali kepada Klare. Ia mengungkapkan bahwa Presiden Franklin Roosevelt menempa aliansi
politik dengan keluarga kerajaan Arab Saudi dan menjanjikan perlindungan militer AS. Hal ini memancing
permusuhan terhadap AS oleh masyarakat Arab dan menghasilkan ancaman kekerasan teroris yang terus
berulang. Hubungan minyak, terorisme, dan keamanan nasional juga terang sekali di kawasan Laut Kaspia,
di mana AS menyediakan bantuan militer kepada Azerbaijan dan Georgia untuk mengamankan pipa saluran
minyak Azerbaijan-Georgia/Turki, serta Xinjiang, di mana China berusaha menekan gerakan separatis
Uighur Turk. Hubungan minyak dan keamanan nasional akan menjadi faktor yang makin penting karena
cadangan minyak AS berkurang sementara AS menjadi makin bergantung pada sumber-sumber minyak
asing.
Klare kemudian mengungkapkan bahwa minyak juga terkait dengan konflik dan kekerasan melalui
perannya dalam menghasilkan kekayaan besar bagi mereka yang menerima royalti dan ganjaran lainnya
atas eksploitasi cadangan minyak suatu negara. Republik Kongo pecah oleh perang sipil 1997-1999 yang
memperebutkan kendali atas pendapatan minyak. Konflik-konflik revolusioner atau distributif menjadi
umum ditemukan di negara-negara lainnya: perjuangan bawah tanah di Arab Saudi, yang antikeluarga
kerajaan yang mengakumulasi kekayaan dari ekspor minyak, menghasilkan reaksi dukungan dan rekrutmen
kelompok-kelompok militant, serta respon kerajaan yang bertangan besi; ketidakpuasan atas maldistribusi
pendapatan minyak di Nigeria memunculkan kelompok-kelompok oposisi bersenjata; di Kolombia, tentara
pemerintah bertempur melawan Revolutionary Armed Forces of Colombia dan Army of National Liberation

1 Baca testimoni selengkapnya di “Jimmy Carter; Energy Security – May 12, 2009”
http://lugar.senate.gov/energy/hearings/pdf/111/051209_Carter.pdf
2 Baca selengkapnya di “Remarks of Frederick W. Smith - Chairman, President, and CEO, FedEx

Corporation - Co-Chairman, Energy Security Leadership Council - Monday, February 23, 2009 - The
National Press Club” http://lugar.senate.gov/energy/hearings/pdf/111/051209_Smith.pdf serta “Testimony of
General Charles F. Wald - United States Air Force (Ret.) - Member, Energy Security Leadership Council -
Before the U.S. Senate - Committee on Foreign Relations - May 12, 2009”
http://lugar.senate.gov/energy/hearings/pdf/111/051209_Wald.pdf
3 Sunday Herald (Inggris), “Official: US oil at the heart of Iraq crisis”, 6 Oktober 2002,

http://www.sundayherald.com/print28285
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 3

yang mengklaim bahwa pemerintah pusat menjuang kekayaan minyak Kolombia kepada perusahaan-
perusahaan asing dengan mengorbankan para pekerja miskin; Gerakan Aceh Merdeka mengeluh bahwa
pemerintah pusat Indonesia telah menguasai seluruh pendapatan minyak di Aceh sementara memperlakukan
rakyat lokal sebagai warga kelas dua.
Klare juga mengungkapkan bahwa minyak juga terkait dengan konflik dan kekerasan melalui peran
minyak dalam membiakkan dan memelihara rezim-rezim otoriter. Pola yang berulang adalah suatu
negara yang relatif lemah tiba-tiba menemukan minyak, memperoleh pendapatan minyak yang massif, dan
menggunakannya untuk meningkatkan kekuasaan dan otoritas eksekutif. Hal ini membawa kepada
pembentukan aparat keamanan negara yang rumit yang menekan partai-partai oposisi, memenjarakan atau
membunuh atau mengeliminasi tokoh-tokoh yang berseberangan. Kekuatan oposisi yang bertahan tak punya
pilihan selain membentuk organisasi-organisasi bawah tanah dan menggunakan kekerasan, termasuk
terorisme, untuk membawa perubahan pada pemerintahan. Terry Lynn Karl menyebut Venezuela “petro-
state” (negara minyak) ketika menggambarkan hubungan ini dengan menggunakan kasus Venezuela. Iran,
Aljazair, Nigeria, Saddam Hussein di Irak, serta negara-negara penyuplai minyak di kawasan Kaspia
menunjukkan pengulangan pola tersebut.
Menegaskan hal ini, Richard G. Luger mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan minyak
nasional, yang mengendalikan 79% cadangan minyak dunia, beberapa dikuasai rezim nondemokratis, dan
AS mentransfer ratusan milyar dolar per tahun ke beberapa di antara rezim-rezim tersebut. Pendapatan
energi mendukung rezim-rezim represif dengan menyediakan bagi mereka sumber-sumber untuk menggaji
birokrasi yang korup dan satuan polisi yang represif. Luger mencontohkan kerjasama Rusia-Venezuela, di
mana Presiden Venezuela Hugo Chavez menyelesaikan transaksi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin
senilai $3 miliar untuk memperoleh teknologi militer Rusia, 24 jet tempur Sukhoi dan 53 helikopter,
sementara Putin memperoleh izin pengembangan bagi raksasa gas alam Rusia, Gazprom. Contoh lainnya
adalah kelompok Hezbollah, yang secara finansial didukung pemerintah Iran, yang mendapat kebanyakan
pendapatan pemerintahnya dari penjualan minyak; serta reformasi demokratik yang terhalang di Azerbaijan
dan Kazakhstan yang kaya energi. 4

Minyak, Terorisme, dan Keamanan Nasional Amerika: Suatu Ulasan Pandangan Ahli
Pandangan Klare memiriki kemiripan dengan pandangan beberapa ahli. Contohnya adalah Luger, yang
mengungkapkan bahwa terdapat enam alasan mengapa ketergantungan terhadap minyak dan gas alam
adalah masalah keamanan nasional, sebagaimana diungkapkan The Lugar Energy Initiative, yaitu 1)
gangguan suplai dalam skala besar akan menekan ekonomi dunia, 5 2) bahwa sifat sumber-sumber energi

4 Richard G. Luger, “Energy Security IS National Security”, The Lugar Energy Initiatives,
http://lugar.senate.gov/energy/security/
5 Baca testimoni para ahli pada hearing Senate Foreign Relations Committee, 30 Maret 2006,

http://lugar.senate.gov/energy/hearings/pdf/060330/HuntingtonTestimony060330.pdf, bahwa gangguan


Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 4

adalah terbatas, sehingga pada titik di mana negara-negara berkompetisi demi suplai yang tak cukup, minyak
akan semakin menyebabkan konflik, 3) penggunaan energi sebagai senjata,6 4) penggunaan pendapatan
energi untuk menopang rezim-rezim nondemokratis, 5) perubahan iklim global, yang disebabkan oleh
peningkatan jumlah gas rumah kaca di atmosfer karena pembakaran bahan bakar fosil, serta 6) biaya harga-
harga energi yang tinggi terhadap negara-negara berkembang. 7
Pandangan Klare sedikit berbeda dengan pandangan beberapa ahli. Roger Stern (2005), misalnya,
menunjukkan bahwa kepentingan strategis minyak selama ini telah terlalu digembar-gemborkan.
Menurutnya, oil weapon (senjata minyak, embargo minyak selektif terhadap suatu negara), yang selama ini
secara luas diyakini dapat menjatuhkan kelangkaan terhadap AS, menjadi tak terlalu masuk akal dan
mungkin terjadi apabila sifat-sifat ekonomi, geografis, dan militer dari calon pengguna dan korban
dipertimbangkan. Hal ini terkonfirmasi dengan kegagalan senjata tersebut merugikan AS. Demikian juga,
Stern tak menemukan bukti tentang kelangkaan sumber di masa yang akan datang yang dapat mengimbangi
defisit strategis calon pengguna senjata minyak. 8
Pandangan Klare juga sedikit berbeda dengan hasil evaluasi Keith Crane et. al. (2007). Crane et. al.
secara kritis mengevaluasi hubungan yang umum dikemukakan antara impor minyak AS dan keamanan
nasional AS. Risiko utama bagi AS dalam ketergantungannya pada minyak adalah biaya ekonomi suatu
gangguan besar dalam suplai minyak global. Di sisi lain, kajian Crane et. al. menemukan bahwa tak ada
bukti bahwa para eksportir minyak telah dapat menggunakan embargo atau ancaman embargo untuk
memperoleh tujuan-tujuan politik dan kebijakan luar negeri kunci. Pendapatan minyak juga tak relevan
dengan kemampuan kelompok-kelompok teroris untuk melancarkan serangan. 9
Intinya, artikel Klare melupakan satu hal. Klare tidak menjelaskan bagaimana minyak menyebabkan
terorisme, kecuali tentang bagaimana kebijakan AS dan negara-negara besar lainnya dalam eksploitasi
minyak akhirnya menciptakan situasi yang mengundang terorisme. Ilustrasi hubungan kausal yang
ditawarkan Klare adalah sebagai berikut.

Keamanan nasional Minyak Terorisme

Satu koreksi penulis adalah bahwa Klare tak menjelaskan relevansi minyak dengan terorisme. Dalam
artikel Klare, ada satu variabel yang hilang, yaitu pelaksanaan kebijakan oleh negara-negara besar tersebut
yang mengeksploitasi minyak di negara-negara lain sedemikian rupa sehingga tercipta perasaan ketakadilan

suplai dapat menyebabkan PNB AS turun 5% atau lebih dan menyebabkan resesi berat, serta bahwa
gangguan suplai minyak telah menjadi preseden Sembilan dari sepuluh resesi terakhir di AS
6 Senjata energi= intimidasi atau pemerasan oleh negara-negara kaya sumber energi kepada negara lain

dengan ancaman memotong suplai


7 Luger, “Energy Security IS National Security ”, ibid.
8 Roger Stern, “Oil market power and United States national security ”, diperoleh dari

http://www.pnas.org/content/103/5/1650.full.pdf+html 27 November 2009 22:01


9 Keith Crane et. al., Imported Oil and U.S. National Security (Indiana: RAND Corporation, 2009)
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 5

dalam aktor-aktor yang lebih lemah yang bermain dalam hal ini. Hal ini terefleksikan dalam pernyataan
Osama bin Laden yang penulis kutip di awal review. Apabila AS dan negara-negara besar tersebut berusaha
memenuhi kebutuhan minyaknya dengan cara-cara yang dipandang lebih adil dan dapat lebih diterima,
seperti eksploitasi bersama atas cadangan minyak, takkan ada usaha-usaha kekerasan dalam bentuk
terorisme yang ditujukan untuk mengambil kembali pendapatan minyak sebagai haknya. Namun, koreksi ini
tak mengubah sebagian besar substansi artikel Klare, yang dapat penulis setujui.

Penutup: Menjawab Dilema Hubungan Minyak, Terorisme, dan Keamanan Nasional AS


Klare menutup artikelnya dengan menyebutkan bahwa dalam respon terhadap dilema ini, AS dapat
mengadopsi dua pendekatan: 1) meningkatkan ketergantungan atas kekuatan militer untuk melindungi akses
AS terhadap sumber-sumber minyak asing; atau 2) berusaha mereduksi konsumsi minyak impor dan
bergantung semata-mata atas kekuatan pasar untuk memperoleh kebutuhannya. Apabila AS ingin
mengurangi eksposur terhadap terorisme dan menghindari keterlibatan pada konflik-konflik di luar negeri,
Klare mengungkapkan bahwa AS harus mengambil pilihan kedua.
Penulis sepakat dengan respon kedua dalam artikel Klare, yaitu agar AS berusaha mereduksi konsumsi
minyak impor dan bergantung semata-mata atas kekuatan pasar untuk memperoleh kebutuhannya. Hal itu
serupa dengan buku Keith Crane et. al., Imported Oil and U.S. National Security, yang mengkaji biaya dan
keuntungan ekonomi, politik, dan militer dari kebijakan-kebijakan potensial untuk mengurangi tantangan
terhadap keamanan nasional AS yang terkait dengan impor minyak, dan menyimpulkan bahwa AS akan
paling efektif mereduksi biaya terhadap keamanan nasional AS dalam mengimpor minyak apabila AS
mendukung pasar minyak yang berfungsi baik dan menahan diri dari memaksakan kontrol harga atau
melakukan pencatuan pada saat-saat terjadi gangguan suplai serta berbagai adopsi kebijakan-kebijakan
energi lainnya. 10 Hal itu juga serupa dengan cara yang ditunjukkan buku Jay Hakes (2008), A Declaration of
Energy Independence: How Freedom from Foreign Oil Can Improve National Security, Our Economy, and
the Environment, tentang cara-cara agar AS dapat memutus hubungan antara konsumsi minyak, terorisme,
dan khususnya perang di Irak, serta memperoleh kebebasan energi dan memecahkan krisis energinya. Buku
ini menguraikan tujuh cara-cara yang secara ekonomi dan politik mungkin dijalankan agar AS dapat
menggunakan dan memproduksi energi dengan lebih efisien, dan tak satupun menyebutkan sumber-sumber
energi asing.11 Intinya adalah menjauh dari penggunaan kekuatan militer untuk menjamin akses kepada
minyak asing dan bergantung pada konservasi, pasar, dan sumber-sumber energi alternatif.

10 Ibid.
11 Cara-cara tersebut antara lain: 1) simpan cadangan darurat yang massif, 2) kendarai mobil-mobil
berbahan bakar alternatif, 3) membawa bahan bakar alternative ke pasar, 4) menggunakan sumber daya
listrik, 5) mengadopsi kebijakan pajak energi yang dapat diterima baik oleh kalangan liberal maupun
konservatif, 6) menjadikan konservasi energi suatu kewajiban patriotik, 7) berdoa. Baca Jay Hakes, A
Declaration of Energy Independence: How Freedom from Foreign Oil Can Improve National Security, Our
Economy, and the Environment (New Jersey: Wiley, 2008)