Anda di halaman 1dari 130

RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN

TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAWU


(2011-2030)

Disusun Oleh
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL KELAUTAN, PESISIR DAN
PULAU-PULAU KECIL
BALAI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL KUPANG

Didukung oleh
PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

2010

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

RINGKASAN

Sedang dalam penyelesaian

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

KATA PENGANTAR

Sedang dalam penyelesaian

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

SUSUNAN TIM
Penanggung Jawab :
Kepala Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kupang
Drs. M Saefudin, M.Si
Dr.Yesaya Mau, M.Si

Nara Sumber :
Project Leader Savu Sea Project TNC-IMP

Penyusun:
Ir. Ferdy J. Kapitan, M.Si (DKP Provinsi NTT)
Melchias Liklikwatil, ST, MT (Bappeda Provinsi NTT)
Ir. Izaak Angwarmasse, M.Si (DKP Provinsi NTT)
Ir. Jotham Ninef (Undana)
Jhoni Ruhi (Dinas pariwisata NTT)
Muh.Helmi (Tim P4 KKP Laut Sawu)
Bobby A. Rianto (BKKPN Kupang)
Maria Goreti Ladha, MS (BKKPN Kupang)
Hirmen Syofyanto (Savu Sea Project TNC-IMP)
Alexander S. Tanody (Savu Sea Project TNC-IMP)
Yusuf Fajariyanto (Savu Sea Project TNC-IMP)
Elisa Iswandono, S.Pi, MP (BBKSDA NTT)
Johannes Subijanto (TNC-IMP)
Imran Amin (TNC-IMP)
Airef Darmawan (TNC-IMP)

Tim Asistensi :
Sesditjen KP3K
Direktur KKJI KP3K
Direktur Pengawasan PSDKP
Kepala Dinas Kelauatan dan perikanan NTT
Kepala Bappeda NTT
Direktorat Pemerintahn Umum dan Otonomi Daerah
Drs. Riyanto Basuki M.Si ( Direktorat KKJI)
Suraji (Direktorat KKJI)

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

DAFTAR ISI

Sedang dalam penyelesaian


BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Maksud
C. Tujuan
BAB II KONDISI UMUM KAWASAN
A. Kondisi Bio-Fisik kawasan
Keanekaragaman Hayati
Kondisi Oseanografi Perairan
Iklim, Musim dan Hidrologi
Keragaman dan Kesehatan Karang
Keragaman Ikan Karang
Mangrove
Tumbuhan Lamun
Penyu
Setasea
Perikanan
Pelagis kecil
Pelagis besar.
Ikan demersal
UdangKepiting
Komoditas perikanan jenis lainnya
Industri Perikanan
Budidaya Laut
Jenis dan Jumlah Alat Penangkapan Ikan
Jenis Spesies yang Dilindungi
Panjang Garis Pantai
Jumlah Pulau
Aksesibilitas
Pelayaran
B. Kependudukan (Demografi)
C. Kondisi Ekonomi, Sosial dan Budaya Masyarakat
Ekonomi
Sosial
Budaya
Kearifan Lokal
D. Kelembagaan
E. Rencana Pembangunan dan Rencana Tata Ruang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah

BAB III RENCANA STRATEGIS PENGELOLAAN


A. Visi dan Misi Pengelolaan
B. Tujuan Pengelolaan
C. Sasaran Pengelolaan
D. Analisis Lingkungan Strategis
E. Landasan Hukum
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

BAB IV PROGRAM DAN KEGIATAN PENGELOLAAN


1. Program
2. Kegiatan Pokok Pengelolaan
3. Rencana Kegiatan Pengelolaan (Rincian dari kegiatan pokok pengelolaan)
3.1 Program Pengelolan dan Konservasi Sumberdaya laut, dengan kegiatan pokok:
3.1.1 Penetapan kawasan TNP Laut Sawu yang professional
3.1.2 Pengelolaan kawasan TNP Laut Sawu
3.1.3 Pengelolan Perikanan Tangkap dan Budidaya Laut
3.1.4 Pengelolaan keanekaragaman hayati dan ekosistem TNP Laut Sawu
3.1.5 Perlindungan dan pengamanan kawasan
3.1.6 Pengembangan industri dan jasa kelautan yang lestari
3.1.7 Pengembangan pemanfaatan wisata bahari
3.1.8 Pengembangan Sistem Pemantauan dan Penanggulangan bencana
3.1.9 Pengembangan Pengelolaan laut dalam
3.1.10 Pengelolaan menghadapi perubahan iklim
3.1.11 Pengelolaan populasi setasea
3.1.12 Penelitian, pengembangan dan penerapan ilmu dan teknologi kelautan.
3.1.13 Pengembangan mekanisme monitoring dan evaluasi
3.2 Program Pengembangan Kapasitas Pengelolaan Sumberdaya laut dan Lingkungan Hidup, dengan
kegiatan pokok:
3.2.1 Peningkatan kapasitas kelembagaan pengelola TNP Laut Sawu ;
3.2.2 Perencanaan dan pengendalian pengelolaan;
3.2.3 Pengembangan kelembagaan mandiri berbentuk Badan Layanan Umum
3.2.4 Pengembangan sistem pengelolaan kolaborasi TNP Laut Sawu
3.2.5 Pengembangan kerjasama kemitraan pengelolaan TNP Laut Sawu;
3.2.6 Pendanaan pengelolaan TNP Laut Sawu;
3.2.7 Penyelenggaraan urusan tata usaha & rumah tangga perkantoran;
3.2.8 Pengembangan peraturan yang mendukung pengelolaan TNP Laut Sawu
3.3 Program Penyadaran, Peningkatan Partisipasi dan Pemberdayaan Masyarakat di Dalam dan Sekitar
TNP Laut Sawu
3.3.1 Peningkatan kesadaran partisipasi masyarakat dan pendidikan lingkungan;
3.3.2 Pengembangan partisipasi masyarakat
3.3.3 Pemberdayaan masyarakat pesisir
3.3.4 Pengembangan mata pencaharian yang berkelanjutan
3.3.5 Pengembangan upaya pemanfaatan perikanan yang berkelanjutan
3.4 Program Peningkatan Akses Informasi Sumberdaya laut dan Lingkungan Hidup,
3.4.1 Pengembangan mekanisme penyebarluaan informasi dan komunikasi
3.4.2 Pengembangan Bank Data TNP Laut Sawu
3.5 Pengembangan lain
3.5.1 Pengelolaan pelayaran
3.5.2 Pengembangan jejaring kawasan konservasi perairan

BAB V PENGELOLAAN KAWASAN TNP LAUT SAWU


A. Jejaring Kawasan Konservasi Perairan
B. Penataan Kawasan TNP Laut Sawu
C. Identifikasi Daerah-Daerah Penting di Kawasan TNP Laut Sawu
D. Alokasi Kawasan TNP Laut Sawu
E. Zonasi TNP Laut Sawu

BAB VI PENUTUP

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

DAFTAR TABEL
Sedang dalam penyelesaian

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

DAFTAR GAMBAR
Sedang dalam penyelesaian

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara penting dengan tingkat keanekaragaman terumbu karang
yang tinggi dan berhubungan dekat dengan ekosistem sebagaimana ekosistem
tersebut menyediakan kehidupan bagi masyarakat pesisir dan sekitarnya. Sebagai
bagian dari Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) dimana wilayah Indonesia
timur, Timor Leste, Malaysia, Philipina, Papua Nugini dan Kepulauan Solomon
termasuk, mempunyai keanekaragaman terumbu karang paling kaya di Bumi. Untuk
itu Pemerintah Republik Indonesia berkomitmen penuh mendukung Regional Plan of
Action Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security
utamanya terkait dengan upaya Marine Protected Areas (MPAs) Established and
Effectively Managed and therefore Region-wide Coral Triangle MPA System
(CTMPAS) in place and fully functional. Kementerian Kelautan dan Perikanan juga
telah menghasilkan Rencana Aksi Nasional Coral Triangle Intitative (CTI) yaitu
terkelolanya dan berfungsi dengan baik kawasan konservasi perairan. Upaya ini
dilakukan antara lain dengan membentuk dan menguatkan ketahanan jejaring
Kawasan Konservasi Perairan/ Taman Nasional Perairan (KKP/TNP) dengan prioritas
pada eko-wilayah dari sebuah bentang wilayah luas. Sebagai bukti komitmen tersebut
Pemerintah Indonesia bertekad mewujudkan kawasan konservasi laut menjadi 10 juta
ha pada tahun 2010 dan 20 juta hektar pada tahun 2020.

Laut Sawu yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah
satu daerah yang terletak di dalam Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan berbatasan
dengan wilayah pesisir barat Timor Leste. Daerah ini merupakan wilayah lintasan
arus lintas Indonesia (Arlindo), dimana Arlindo adalah pertemuan dua massa arus dari
Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Laut Sawu memanjang dari barat ke timur
sepanjang 600 km dan dari utara ke selatan sepanjang 250 km. Perairan Laut Sawu
bagi pembangunan di Provinsi NTT bermakna strategis, karena hampir sebagian
besar Kabupaten/Kota di NTT sangat tergantung kepada Laut Sawu. Lebih dari 65 %
potensi lestari sumberdaya ikan di provinsi ini disumbang oleh Laut Sawu.
Laut Sawu memiliki sebaran tutupan terumbu karang dengan keragaman hayati
spesies yang sangat tinggi di dunia serta merupakan habitat kritis sebagai wilayah
perlintasan 18 jenis mamalia laut, termasuk 2 spesies paus yang langka, paus biru dan
paus sperma. Laut Sawu juga merupakan habitat yang penting bagi lumba-lumba,
duyung, ikan pari manta dan penyu. Disamping, Laut Sawu merupakan daerah utama
jalur pelayaran di Indonesia wilayah ini juga sebagai salah satu instrumen untuk
menangani perubahan iklim, ketahanan pangan (food security) dan pengelolaan laut
dalam (deep sea). Namun demikian, di kawasan Laut Sawu juga terdapat berbagai
permasalahan seperti perusakan terumbu karang, penurunan populasi hewan penting,
praktek penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, dan lain sebagainya. Atas
dasar itu kemudian Laut Sawu dideklarasikan oleh pemerintah sebagai taman nasional
perairan dengan nama Taman Nasional Perairan Laut Sawu melalui Keputusan
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

10

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No. KEP.38/MEN/2009 tanggal
8 Mei 2009 yang meliputi perairan seluas lebih dari 3.5 juta hektar, yang terdiri dari 2
bagian yaitu Wilayah Perairan Selat Sumba dan Sekitarnya seluas 567.165,64 hektar
dan Wilayah Perairan Pulau Sabu-Rote-Timor-Batek dan Sekitarnya seluas
2.953.964,37 hektar. Selain itu Kabupaten Alor sebelumnya telah menetapkan
Kawasan Konservasi Perairan Daerah Alor seluas 400,000 hektar pada bulan Maret
2009. Kedua kawasan tersebut menjadikan kawasan konservasi perairan di Laut Sawu
seluas 3.9 juta hektar.
Tujuan pencadangan taman nasional ini adalah mewujudkan kelestarian sumberdaya
ikan dan ekosistemnya sebagai bagian wilayah ekologi perairan laut Sunda Kecil
(Lesser Sunda Marine Eco-Region), melindungi dan mengelola ekosistem perairan
Laut Sawu dan sekitarnya, sebagai platform pembangunan daerah (bidang perikanan,
pariwisata, masyarakat pesisir, pelayaran, ilmu pengetahuan dan konservasi) serta
meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui mata pencaharian yang
berkelanjutan (sustainable livelihood).
Menindak lanjuti pencadangan wilayah ini sebagai taman nasional dan untuk
menjamin keberlanjutan pengelolananya, Balai Kawasan Konservasi Perairan
Nasional (BKKPN) Kupang telah membentuk Tim Penyusunan Draft Awal Rencana
Pengelolaan Taman Nasional Perairan Laut Sawu yang keanggotaanya terdiri dari
para pihak dari Perguruan Tinggi (UNDANA), Kementerian Kelautan dan Perikanan,
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT, Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi
NTT, Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Provinsi NTT, Tim P4 KKP
Laut Sawu serta TNC-IMP. Tim ini bertugas menyiapkan bahan dan materi draft
rencana pengelolaan, menyusun draft rencana pengelolaan, melakukan evaluasi draft
awal dan melakukan sosialisasi/publikasi draft rencana pengeloaan.

Pengelolaan TNP Laut Sawu, dipastikan terintegrasi baik dalam batas kawasan,
zonasi, strategi pengelolaan termasuk dalam proses dan pelaksanaanya. Pengelolaan
sumberdaya kawasan yang adaptif di Laut Sawu melalui pemanfaatan yang lestari
untuk mencapai tujuan pengelolaan perikanan berkelanjutan. Sesuai amanat peraturan
perundang-undangan yang berlaku, maka setelah deklarasi TNP Laut Sawu harus
diikuti pembuatan rencana strategis, penyusunan rencana zonasi, penyusunan rencana
pengelolaan dan penyusunan rencana aksi yang dalam setiap tahapannya melibatkan
peran serta masyarakat pesisir di 14 kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara
Timur. Rencana Pengelolaan ini sesuai juga dengan perkembangan dan rencana
pembangunan nasional dan daerah yaitu: 1)Undang-Undang No.31 tahun 2004
tentang Perikanan jo Undang-Undang No.45 tahun 2009 tentang Perubahan atas
Undang-Undang No 31 tahun 2004 tentang Perikanan 2) Undang-undang Nomor 27
Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil 3) Peraturan
Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan 4)
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No Per.16/Men/2008 tentang Perencanan
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan pulau-Pulau Kecil 5) Peraturan Menteri Kelautan
dan Perikanan No Per.02/Men/2009 tentang Tata Cara Penetapan Kawasan
Konservasi Perairan dan 6) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

11

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


Per.Men/2010 tentang Penyusunan Pedoman Rencana Pengelolaan Kawasan
Konservasi Perairan.
B. Maksud
Maksud penyusunan Rencana Pengelolaan (RP) Taman Nasional Perairan (TNP)
Laut Sawu adalah untuk memastikan tersedianya dokumen perencanaan pengelolaan
TNP Laut Sawu yang integratif, adaptif dan kolaboratif sehingga dapat mendorong
arah, kebijakan dan rencana strategis pembangunan Laut Sawu yang berkelanjutan.
Penyusunan Rencana Pengelolaan TNP Laut Sawu disusun untuk mengembangkan
Kawasan Konservasi Perairan Nasional yang memiliki ketahanan terhadap dampak
perubahan-perubahan untuk pembangunan perikanan yang berkelanjutan, pelestarian
keanekaragaman hayati, pengembangan wisata bahari, perhubungan, pendidikan dan
penelitian serta pemberdayaan untuk kesejahteraan masyarakat. Sehingga keberadaan
TNP Laut Sawu dapat terwujud sebagai; 1) pusat kelestarian sumber daya alam hayati
laut dan ekosistemnya dalam mendukung upaya peningkatan kesejahteraan
masyarakat; 2) pusat perlindungan dan pengelolaan tipe-tipe ekosistem penting; 3)
sumber pemanfaatan sumberdaya alami bagi kepentingan rekreasi, wisata pendidikan,
penelitian serta bentuk lain yang tidak bertentangan dengan prinsip koservasi; 4)
lokasi pengembangan program pengelolaan sumber daya ikan dan lingkungannya
oleh masyarakat dan atau masyarakat adat terkait dengan praktek-praktek budaya
tradisional; 5) pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan program interpretasi
sumberdaya alam dan lingkungannya dalam rangka mendukung upaya konservasi,
rekreasi, pendidikan, dan penelitian dan 6) pusat pengawetan ekosistem asli yang
dikelola dengan sistem zonasi.

C. Tujuan
Tujuan penyusunan RP-TNP Laut Sawu ini adalah untuk menghasilkan rencana yang
menyeluruh dan lengkap dan sesuai dengan kondisi yang ada dengan mengantisipasi
perkembangan untuk mencapai Kawasan Konservasi Perairan Nasional yang
memiliki ketahanan terhadap dampak perubahan-perubahan melalui pengelolaan
secara kolaboratif dan adaptif untuk pembangunan perikanan yang berkelanjutan,
pelestarian keanekaragaman hayati, pengembangan wisata bahari, perhubungan,
pendidikan dan penelitian serta pemberdayaan untuk kesejahteraan masyarakat.
Sasaran dari penyusunan rencana Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Nasional
Laut Sawu dan jejaringnya yang secara adminsitratif melingkupi sekitar 14
kabupaten/kota di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur meliputi Kabupaten
Kupang, Kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kabupaten Sabu
Raijua, Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Sumba
Timur, Kabupaten Sumba Tengah, Kabupaten Sumba Barat dan Kabupaten Sumba
Barat Daya, Kabupaten Alor, Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Lembata dan
Kotamadya Kupang;, dinas/instansi, masyarakat serta pemangku kepentingan lainnya.

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

12

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


BAB II
KONDISI UMUM KAWASAN
A. Kondisi Bio-Fisik kawasan
Keanekaragaman Hayati
Perairan Laut Sawu berada pada wilayah CTI atau wilayah segitiga terumbu karang,
yaitu wilayah yang memiliki keanekaragaman terumbu karang dan keanekaragaman
hayati laut lainnya (termasuk ikan) tertinggi di dunia, yang meliputi Philipina,
Indonesia sampai Kepulauan Solomon.

TNP Laut Sawu

Gambar ... Peta wilayah segitiga terumbu karang


Wilayah perairan Laut Sawu terletak di bentang laut Paparan Sunda Kecil yang
dikelilingi oleh rangkaian kepulauan yaitu Pulau Timor, Sabu, Sumba, Flores dan
Kepulauan Alor merupakan wilayah lintasan arus lintas Indonesia (Arlindo), dimana
Arlindo adalah pertemuan dua massa arus dari Samudera Pasifik dan Samudera
Hindia. Laut Sawu memanjang dari barat ke timur sepanjang 600 km dan dari utara
ke selatan sepanjang 250 km.
Laut Sawu dan sekitarnya merupakan daerah upwelling tetap sehingga sebagian jenis
paus bertempat tinggal di laut tersebut. Laut Sawu termasuk dibagian selatan segitiga
karang dunia dan menyokong beragam habitat karang dan pelagis paling produktif.
Secara oseanografi, kawasan ini termasuk diantaranya arus laut Indonesia yang
terkenal kuat. Kombinasi arus yang kuat dan tebing laut curang menyebabkan
pengaduan arus dingin yang mungkin merupakan faktor utama pemicu ketangguhan
terhadap ancaman terbesar akan peningkatan suhu permukaan laut terkait perubahan
iklim. Laut Sawu dapat menjadi tempat perlindungan bagi kehidupan laut dan sumber
daya perikanan yang produktif diantara perubahan iklim global.

Kondisi Oseanografi Perairan


Perairan Laut sawu sangat dinamis, merupakan pertemuan 2 massa arus besar, massa
air dari Samudera Hindia dan Laut Banda. Laut yang dalam dengan menjadikan laut
sawu bagaikan kolam raksasa yang sangat dinamis akibat pergerakan massa air laut.
Fenomena upwelling atau pengadukan massa air laut dalam yang dingin dan air
______________________________________________________________________________13
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


permukaan yang hangat menjadikan daerah ini merupakan daerah dengan
produktifitas perairan yang sangat tinggi. Kedalaman perairan yang mencapai 4000
meter dan tebing tebing curam merupakan ciri dominan bentang laut di laut sawu

Gambar . Kondisi topografi perairan Laut Sawu


Bathimetri

Perairan TNP Laut Sawu memiliki karakteristik dan bentuk dasar perairan yang
bervariasi yaitu karakteristik dasar perairan dengan tipe dasar perairan landai (flat),
bergelombang sampai dengan curam. Pada umumnya morfologi dasar laut Taman
Nasional Perairan Laut Sawu untuk daerah dekat pantai (nearshore) relatif datar.
Daerah datar ini merupakan continental shelf yang terletak dengan range 100 300
meter dari pantai yang kemudian disambung dengan tebing karang (continental slope)
yang dalam. Kedalaman perairan di Laut Sawu memiliki kisaran dari 0 - 3497 meter
seiring dengan bertambahnya jarak dari pantai menuju laut lepas dengan perairan
terdalam di Laut Sawu yaitu 3497 meter.

Gambar . Peta Bathimetri Laut Sawu (Sumber: Dishidros, 2006)

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

14

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


Pola Pasang Surut

Menurut Wyrtky (1961), Perairan Laut Sawu memiliki tipe pasang surut campuran
condong ke harian ganda, dimana dalam satu hari terjadi dua kali pasang dan dua kali
surut, dengan amplitude yang jauh berbeda antara pasang dan surut pertama dengan
pasang dan surut kedua.

Gambar 2. Kondisi pasang surut Perairan Laut Sawu (Wyrtky, 1961)


Pola Arus

Pola arah arus Perairan Laut Sawu secara umum di perairan Laut Flores arus dominan
bergerak dari arah barat menuju ke arah timur, sedangkan untuk perairan Laut Timor
arah arus dominan berasal dari arah timur menuju ke arah barat. Kecepatan arus
tertinggi di Perairan Laut Sawu terjadi pada musim peralihan I. Pada musim barat
(bulan Desember - Februari) di utara Perairan Nusa Tenggara Timur (Laut Flores)
arus bergerak dari arah barat Laut Flores (massa air berasal dari Laut Jawa) menuju
ke timur ke arah Laut Banda, sedangkan perairan di sebelah selatan Nusa Tenggara
Timur arus bergerak dari timur (massa air berasal dari Laut Arafuru dan Laut Banda)
menuju ke arah barat (ke Laut Timor dan Samudra Hindia) dan sebagian masuk ke
perairan Laut Sawu. Kondisi arus di selatan perairan Nusa Tenggara Timur ini hampir
sama dengan kondisi arus pada musim lainnya. Pada musim peralihan I (bulan MaretMei), di Perairan Utara Nusa Tenggara Timur terjadi pertemuan antara massa air dari
Laut Jawa, Selat Makasar dan Laut Banda. Dikarenakan massa air yang berasal dari
arah Barat (dari Laut Jawa) lebih besar menyebabkan arus disekitar pesisir utara Nusa
Tenggara Timur bergerak menyusuri pantai menuju ke arah timur.

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

15

Musim Barat

Musim Timur

Musim Peralihan I

Musim Peralihan II

Gambar . Pola arus Laut Sawu pada musim Barat (Desember), Peralihan I (April), Timur
(Juni), dan musim Peralihan II (Oktober).

Kondisi arus pada musim timur (Juni-Agustus) terutama di daerah sekitar pesisir
hampir sama dengan kondisi arus pada musim peralihan I, hal yang berbeda adalah
massa air yang bergerak di lepas pantai bergerak dominan dari arah timur (Laut
Banda) menuju barat (Laut Jawa). Kondisi arus di lepas pantai bagian utara Nusa
Tenggara Timur ini juga kondisinya lebih kencang dari pada kecepatan arus pada
musim lainnya. Pada musim peralihan II (September-November), massa air yang
dominan di perairan utara Nusa Tenggara Timur berasal dari Selat Makasar. Arus
yang berasal dari arah utara tersebut bertemu dengan arus dari arah Laut Banda yang
kemudian berbelok ke arah timur menyusuri garis pantai dan akhirnya menuju Laut
Banda.
Pola Angin

Pola angin pada periode musim Barat (periode Desember sampai Februari), angin
didominasi oleh angin barat yang bertiup paling kuat pada Bulan Desember (>11
meter/detik) yang kemudian melemah pada bulan Januari dan makin lemah di Bulan
Februari seiring masuknya periode peralihan satu. Pada periode peralihan satu (Maret
sampai dengan Mei) dominasi angin barat mulai hilang seiring dengan munculnya
angin dari arah utara, timur serta tenggara dengan persentase kejadian dan kekuatan

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


yang hampir sama. Periode selanjutnya yaitu periode Musim Timur (Juni sampai
dengan Agustus), frekuensi kejadian angin didominasi oleh angin yang berasal dari
arah Timur dengan kekuatan 1 - 5 meter/detik. Pada periode peralihan dua yaitu pada
Bulan September - November, dominasi angin timuran yang mengalami pembelokkan
arah menjadi tenggara perlahan-lahan mulai digantikan oleh angin yang berasal dari
arah barat seiring mulai masuknya periode Musim Barat. (Sumber : Analisis data
angin Stasiun Meterorologi El Tari Kupang, 2009)

Musim Barat

Musim Timur

Musim Peralihan I

Musim Peralihan II

Gambar 4. Windrose Laut Sawu Bulan Januari Desember (Sumber : Analisis data angin
Stasiun Meterorologi El Tari Kupang, 2009)

Iklim, Musim dan Hidrologi


Konfigurasi geografis NTT sebagai provinsi kepulauan dan letaknya pada posisi
silang di antara dua benua yaitu Asia dan Australia, dan di antara dua samudra yaitu
Hindia dan Pasifik, menentukan karakteristik iklim di wilayah ini. Wilayah Provinsi
NTT secara umum termasuk ke dalam tipe iklim tropis, dengan variasi suhu dan
penyinaran matahari yang rendah. Secara umum kondisi iklim di NTT adalah iklim
tropis dengan kisaran suhu rata-rata 26,43 C 28,85 C , kelembaban udara
62,80%-86,37% dan curah hujan rata-rata tahunan 1000 3500 mm. Angin pada
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

17

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


umumnya kencang, kondisi ini sangat berpengaruh pada kegiatan pertanian dan
perikanan. Pada musim hujan sering terjadi badai yang kuat.
Rata-rata suhu minimum dan maksimum,
masing-masing, 24 dan 320C, dengan panjang
hari 12 jam. Pola umum iklim wilayah ini
adalah pola musim hujan musim kemarau.
Musim hujan berlangsung antara November dan
Maret, dan musim kemarau antara April dan
Oktober. Pola iklim demikian dikendalikan oleh
pola angin moonsoon dari Tenggara yang relatif
kering dan dari arah Barat Laut, yang membawa
banyak uap air. Konfigurasi kepulauan dan topografi wilayah juga merupakan
pengendali iklim lokal yang berpengaruh terhadap karakteristik iklim lokal.
Akibatnya, keragaman iklim antar wilayah di daerah ini juga sangat besar. Dari aspek
curah hujan, rata-rata curah hujan tahunan bervariasi antara 850 mm di daerah-daerah
seperti Sabu, Maumere, dan Waingapu, hingga lebih dari 2500 mm di Ruteng,
Kuwus, dan Lelogama.

Secara umum, iklim wilayah NTT termasuk ke dalam kategori iklim semi-arid,
dengan periode hujan yang hanya berlangsung 3-4 bulan, dan periode kering 8-9
bulan. Kondisi iklim demikian mendeterminasi pola pertanian tradisional NTT yang
hanya mengusahakan tanaman semusim, yang ditanam dalam periode musim hujan.
Keadaan demikian juga mempengaruhi produktivitas tenaga kerja pertanian, yang
tergolong sangat rendah (jumlah jam kerja <5 jam/minggu), akibat dari waktu kerja
bertani yang hanya berlangsung 3-4 bulan dalam setahun. Persoalan cura hujan di
NTT juga diperparah oleh pengaruh iklim global, terutama fenomena elnino dan
lanina, serta fenomena perubahan iklim global yang kurang menguntungkan. Dampak
dari pengaruh iklim global dimaksud antara lain adalah waktu onset dan offset musim
hujan yang sulit diprediksi, dan fenomena kondisi musim kemarau dan musim hujan
yang ekstrim. Akibatnya adalah antara lain: kekeringan, gagal tanam, gagal panen,
banjir, dan gangguan hama dan penyakit tanaman yang serius.

Di wilayah Provinsi NTT terdapat 27 DAS dengan luas keseluruhan 1.527.900 Ha.
Sungai yang terpanjang di wilayah Nusa Tenggara Timur adalah Sungai Benenai (100
Km), yang mencakup Kabupaten TTS, TTU dan Belu dengan DAS seluas : 4500km
di Kabupaten Belu. DAS terluas adalah DAS Benenai, seluas 329.841 Ha.
Dari aspek vulkanik dan kegempaan, NTT memiliki 11 gunung berapi aktif
(vulkanik) dengan ketinggian antara 600 2.200 meter di atas permukaan laut.
Gunung api tersebut menyebar dari pulau Flores hingga Lembata. Semuanya pernah
erupsi, yang berlangsung dalam kurun waktu tahun 1881 sampai 2007. Hingga saat
ini sebagian di antaranya masih aktif, satu diantaranya yang saat ini sedang aktif yaitu
gunung Egon di kabupaten Sikka. Gejala alam yang dapat menyebabkan kerawanan
bencana di provinsi NTT adalah letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami,

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

18

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


gelombang pasang, tanh longsor dan banjir. Salah satu fenomena alam yang terjadi
adalah adanya arus dingin di Selat Kepa, Alor.
Keragaman dan Kesehatan Karang
Laut Sawu merupakan salah satu kawasan
yang memiliki potensi terumbu karang. Data
hasil mencatat 220 jenis karang (60 genera
dan 17 family) terdapat di perairan laut
sawu. TNP Laut sawu yang merupakan
bagian dari Eko-region Sunda Kecil tercatat
jumlah spesies karang pada perairan Lesser
Sunda sebanyak 532 spesies dan terdapat 11
spesies endemik dan sub endemik.

Terumbu karang tumbuh subur di perairan dangkal di pesisir dan di pulau-pulau di


Nusa Tenggara Timur, dan umumnya termasuk kategori terumbu karang pantai
(fringing reef). Terumbu karang di perairan NTT memiliki keanekaragaman jenis
yang tinggi diperkirakan ada sekitar 220 jenis karang (Ninef, 2008) (550 jenis
Hoeksema, 2007) dan merupakan tempat hidup bagi sekitar 350 jenis ikan karang.
Kondisi terumbu karang di perairan Nusa Tenggara Timur (termasuk TNP Laut
Sawu) saat ini berdasarkan persentase tutupan karang keras (hard corals) adalah :
kondisi buruk/rusak 23,5 %, kondisi sedang/cukup 58,8 %, dan kondisi baik/bagus
17,6 % (Ninef, 2008). Kondisi terumbu karang di perairan Nusa Tenggara Timur
menurut kabupaten menunjukkan bahwa terumbu karang yang masih dalam kondisi
baik), Sumba Timur (PP KK = 37,74%), Kupang dan Kota Kupang (PP KK =
33,40%), Rote Ndao (PP KK = 29,74%) dan Flores Timur (PP KK = 29,55%).
Sedangkan terumbu karang yang dalam kondisi rusak/jelek umumnya dijumpai di
perairan, Sikka (PP KK = 16,14%), TTU (PP KK = 18,40%) dan Lembata (PP KK =
23,67%) (Ninef, 2008).

Hasil pengambilan data sekunder ekosistem terumbu karang di Kota Kupang dan Kabupaten
Kupang dengan kawasan yang mewakili adalah Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Teluk
Kupang menyatakan bahwa kondisi terumbu karang Teluk Kupang yang masih dalam
kondisi bagus sekitar 18,4%, kondisi sedang sekitar 51,0% dan dalam kondisi rusak/
buruk sekitar 30,6%. Hasil penelitin Tahun 2006 di Kabupaten Rote Ndao menunjukan
prosentase penutupan karang berkisar 7.2% - 40,2 % yang meliputi Pulau Nuse, Ndao, Doo,
Ndana, Landu dan Nuse Manuk dan persentase tersebut merupakan kelompok kategori buruk
sampai sedang. Prosentase penutupan karang di Kabupaten Alor berkisar dari 5% - 83.1% atau
masuk dalam kelompok kategori buruk sampai bagus Tahun 2005 dan Tahun 2007 di Pulau
Kangge, Kambing, Rusa, Batang, Lapang, Buaya, Ternate, Pura dan Treweng, memiliki
prosentase penutupan karang dalam kelompok kategori terendah yaitu 5%, sedangkan di Pulau
Treweng dan di Pulau Lapang memiliki prosentase penutupan karang tertinggi 83.1%. Hasil
pengambilan data ekosistem terumbu karang Tahun 2007 untuk penutupan karang pada
Kabupaten Sumba Timur yang diambil dalam lokasi Haharu, Londalima, Kanatang, Warakiri,
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

19

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


Yumbu, Watumbeka dan Kambaniru berkisar antara 10% - 85.7% atau masuk dalam
kelompok kategori buruk sampai bagus.
Keragaman Ikan Karang
Berdasarkan hasil survei reconaissance 2001-2002, ditemukan 336 jenis ikan karang.
Beberapa jenis predator ikan karang besar dilaporkan masih banyak terlihat di
beberapa lokasi pengamatan. Ikan-ikan di
terumbu karang yang ditemui di TNP Laut
Sawu ini dapat dikategorikan menjadi tiga
kelompok yaitu ikan target (ikan-ikan yang
mempunyai nilai ekonomis tinggi serta
menjadi target usaha penangkapan dan
perikanan), ikan indikator (ikan-ikan yang
dapat dijadikan indikator dalam menilai suatu
ekosistem terumbu karang dalam keadaan baik
atauhancur)sertaikan-ikanyang
dikelompokan dalam "major grup" (ikan-ikan yang menjadi penghuni terumbu karang
serta ikan-ikan dominan di ekosistem terumbu karang). Contoh ikan-ikan target
adalah ikan-ikan yang masuk kedalam famili Serranidae, Lutjanidae, Lethrinidae,
Nemipteridae, Mullidae, Kyphosidae, Carangidae dan lain-lain. Ikan-ikan yang
masuk kedalam kategori ikan indikator adalah famili Chaetodontidae. Sedangkan
ikan-ikan yang masuk kedalam kategori major grup adalah Holocentridae,
Malacanthidae,Aulostomidae,Apogonidae,Phempheridae,Ephipidae,
Pomacanthidae, Labridae, Scaridae, Balistidae, Bleniidae, Gobiidae, Ostraciidae
dan lain-lain.

Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh nelayan yang melakukan penangkapan


ikan karang dimana sering juga tertangkap ikan karang dalam keadaan bertelur dalam
kawasan perairan laut sawu terdapat pada perairan Kab. Kupang; kab. Rote Ndao;
Kab. Sabu Raijua; Kab. Sumba Timur; Kab. Alor dan Kab. Lembata. Pada kawasankawasan tersebut memiliki tempat yang sangat spesifik disertai dengan musim
spawning. Fokus studi perikanan karang adalah grouper dan snaper. Berdasarkan
informasi yang disampaikan oleh nelayan yang melakukan penangkapan ikan tuna
dimana sering juga tertangkap ikan tuna dalam keadaan bertelur dalam kawasan
perairan laut sawu terdapat pada perairan Kab. Kupang; kab. Rote Ndao; Kab. Sabu
Raijua; Kab. Sumba Timur; dan Kab. Lembata. Pada kawasan-kawasan tersebut
memiliki tempat yang sangat spesifik disertai dengan musim spawning

Mangrove
Hasil survei Tahun 1995 mengindentifikasi11 (sebelas) spesies mangrove di masingmasing pulau-pulau Timor, Rote, Sabu dan Semau. Sedangkan hasil paduserasi Tata
Guna Hutan Kawasan (TGHK) dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP)
hutan mangrove di Nusa Tenggara Timur terdapat kurang lebih 9 (sembilan) famili
yang terbagi dalam 15 (lima belas) spesies antara lain: bakau Genjah (Rizhophora
mucronata), bakau Kecil (Rizhophora apiculata), bakau Tancang (Bruguiera spp),
bakau Api-api (Avicennia spp), bakau Jambok (Xylocorpus spp), bakau Bintaro
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

20

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


(Cerbera manghas), bakau Wande(Hibiscus tiliaceus) dan lain-lain. Luas hutan
mangrove di provinsi Nusa Tenggara Timur adalah 51.850 Ha Kerusakan hutan
mangrove di NTT tercatat kurang lebih 9.989 Ha dalam kondisi rusak berat
sedangkan rusak ringan seluas 8.453 Ha.
Tumbuhan Lamun
Hasil data analisa citra landsat pada tahun 2008 mencatat luasan ekosistem Seagrass
di laut sawu mencapai 4.320 ha, terutama pada pulau Sumba dan Rote. Sedikitnya
terdapat 10 (sepuluh jenis) lamun dalam 2 family di TNP Laut Sawu yakni Family
Pomagetonaceae Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Halodule pinnifolia,
Halodule uninervis, Syringodium isoetifolium dan Family Hydrocharitaceae
Halophila ovalis, Halophila minor, Halophila decipiens, Thalassia hemprichii,
Enhalus acoroides
Penyu
Laut sawu merupakan habitat kritis bagi kehidupan organisme migrasi seperti penyu.
Di dunia penyu ditemukan 7 spesies penyu dan yang menakjubkan adalah 6 spesies
diantaranya ditemukan di laut sawu. Spesies penyu tersebut diantaranya adalah penyu
hijau (Chelonia midas); Lepidochelys olivacea; Eretmochelys imbricate; Caretacareta; Natator depresur; Dermochelys coriacea. Berdasarkan informasi dari
masyarakat, penyu tersebut bertelur di pantai Sumba Barat, Sumba Timur, Kupang,
TTS, Alor, Lembata dan Flores Timur. Tomascik et al (2007) melaporkan bahwa
penyu yang ada dikawasan laut sawu ditemukan bertelur pada beberapa pulau
diantaranya Pulau Timor, Pulau Dana (Rote), Solor-Alor, Semau dan Pulau Batek,
namun demikian informasi mengenai jumlah telur dan populasi belum diketahui
secara pasti.

Setasea
Mamalia laut yang ditemukan di Laut Sawu terdiri
dari 18 spesies paus yaitu : Paus sperma (Physeter
macrocephalus), Paus sperma cebol (Kogia
simus), Paus sperma kerdil (Kogia breviceps),
Paus pemandu sirip pendek (Globicephala
macrorhyncus), Paus pembunuh (Orcinus orca),
Paus pembunuh palsu (Pseudorca crassidens),
Paus pembunuh kerdil (Feresa attenuate), Paus
kepala semangka (Peponocephala electra),
Beaked whales (Mesoplodon sp.), Paus paruh
cuvier (Ziphius cavirostis), Paus hidung botol (Hyperoodon sp.), Paus minke
(Balaenoptera acutorostrata), Paus bryde (Balaenoptera brydei), Paus bryde kerdil
(Balaenoptera edeni), Paus sei (Balaenoptera borealis), Paus sirip (Balaenoptera
physalus), Paus biru (Balaenoptera musculus), Paus bongkok (Megaptera
novaeangliae). Untuk spesies lumba-lumba yaitu : Lumba-lumba paruh panjang
(Stenella longirostris), Lumba-lumba totol (Stenella attenuate), Lumba-lumba
bergaris (Stenella coeruleoalba), Lumba-lumba gigi kasar (Steno bredanensis),
Lumba-lumba abu-abu (Grampus griseus), Lumba-lumba hidung botol (Tursiops

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

21

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


truncates), Short-beaked common dolphin (Delphinus delphis), Long-beaked
common dolphin (Delphinus capensis), Lumba-lumba fraser (Lagenodelphis hosei),
Indo-Pacific humpback dolphin (Sousa chinensis), Irrawaddy dolphin (Orcaella
brevirostris), Lumba-lumba tak bersirip (Neophocaena phocaenoides); dan 1 spesies
Dugong yaitu Dugong dugong (Kahn, 2002). Selanjutnya dijelaskan bahwa 18 dari 27
spesies setases di dunia melakukan migrasi dari lautan pasifik melewati Laut Banda,
Laut Flores dan Laut Sawu menuju Laut India termasuk paus Biru dan Paus Sperma.
Perikanan
Berdasarkan data yang tersedia dan yang dapat dikumpulkan terlihat bahwa produksi
perikanan terdiri atas 3 (tiga) jenis yaitu jenis ikan pelagis, ikan demersal dan non
ikan. Hasil tabulasi data menunjukan bahwa jumlah hasil tangkapan ikan pelagis
sebesar 9,243,192.90 ton, ikan demersal 4,545,980.42 ton dan non ikan sebesar
1,632,210.84 ton. Produksi ikan pelagis, demersal dan non ikan terbanyak terdapat di
Kabupaten Manggarai Barat yaitu pelagis 7,446,046.69 ton dan demersal sebanyak
3,758,831.28 ton serta non ikan sebanyak 1,630,886.24 ton. Sedangkan kabupaten
yang paling sedikit memproduksi ikan adalah pada Kabupaten TTS yaitu produksi
ikan pelagis sebanyak 45.142 ton dan ikan demersal terendah pada Kabupaten Flores
Timur sebesar 8.71 ton.

Pelagis kecil. Ikan pelagis kecil umumnya terdiri dari ikan-ikan berukuran kecil
seperti ikan selar, teri, terbang,
kembung, tenggiri,layar dan lain-lain.
Ikan pelagis kecil memiliki sifat
schooling(bergerombol)dan
berimigrasi tidak terlalu jauh, sehingga
penyebarannya pada suatu perairan
tidak merata. Ikan pelagis kecil
tersebar pada perairan yang lebih
dangkal atau dekat permukaan dan di
daerah perairan yang sering terjadi up
welling, yang merupakan daerah subur
karena pengangkatan zat hara ke permukaan. Jenis ikan pelagis kecil berpotensi
besar dan bernilai ekonomis tinggi adalah kembung, lemuru, teri, laying,
terbang dan selar. Ikan-ikan pelagis kecil ini terutama dipasarkan untuk
konsumsi lokal, sebagian pasar regional dan umpan hidup penangkapan ikan
pelagis besar.

Pelagis besar. Ikan pelagis besar antara lain terdiri dari cakalang, tongkol, tuna
madidihang; mata besar: albacore dan cucut, ikan pelagis besar merupakan
hasil perikanan laut utama yang diekspor. Ikan pelagis besar banyak terdapat di
perairan laut dalam. Semua jenis tuna hampir terdapat di perairan NTT,
terkecuali tuna sirip biru utara (Thunnus thynnus) dan tuna sirip biru selatan
(Thunnus atlanticus). Pola ruaya (migrasi) jenis ikan tuna mencakup stok lokal
yang terdapat di perairan NTT dan stok migrasi dari perairan laut wilayah NTT
yang pada waktu-waktu tertentu akan bermigrasi ke perairan NTT.
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

22

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

Ikan demersal. Ikan-ikan demersal merupakan kelompok ikan yang tinggal di


dasar / dekat dasar perairan. Ikan demersal tersebar di seluruh perairan dengan
kecendrungan kepadatan populasi dan potensi yang tinggi pada daerah sekitar
pantai.Ikan demersal menurut kategori nilai ekonomis terdiri dari kelompok
utama sebanyak 24 % (kerapu, bambangan, bawal putih, kakap, manyung, kuwe
dan nomei) kelompok komersial kedua sebanyak 17 % (bawal hitam, gerotgerot, cucut), kelompok komersial ketiga 37 % (pepetek, beloso, mata merah,
kerong-kerong, gabus laut, besot dan sidat) dan kelompok ikan rucah sebanyak
22 % (srinding, lidah, sebelah, kapas-kapas, wangi batu dan kipper). Jenis-jenis
ikan demersal tersebar di seluruh perairan NTT terutama sepanjang pantai utara
Flores, perairan pulau-pulau kecil dan kawasan perairan terumbu karang, ikanikan demersal ini dijual untuk konsumsi domestik dan pasar ekspor.

UdangKepiting. Jenis-jenis udang penaeid, borong, windu dan jenis crustecea


lain seperti kepiting, rajungan merupakan komoditas perikanan bernilai
ekonomis tinggi dan banyak terdapat di Kabupaten-Kabupaten Kupang, Ngada,
Belu, Alor dan Flores Timur. Komoditas kelompok ini umumnya ditangkap
dengan perangkap (bubu) dan jaring.
Komoditas perikanan jenis lainnya. Hasil perikanan lain seperti cumi-cumi,
kerang-kerangan, teripang, ikan hias laut dan rumput laut merupakan komoditas
bernilai ekonomis tinggi juga. Cumi-cumi terdapat di Kabupaten-Kabupaten
Manggarai, Flores Timur, Sumba Timur, Ende dan Ngada. Kerang-kerangan
terutama kerang mutiara hasil budidaya, batu loa, japing-japing dan mata tujuh
(abalon) merupakan komoditas berpotensi pasar baik. Kerang-kerangan kecuali
mutiara, teripang dan rumput laut terdapat pada sebagian besar perairan NTT,
sedangkan mutiara sebagai induk alam budidaya terdapat di perairan Kabupaten
Kupang, Flores Timur, Alor, Lembata, Sikka dan Manggarai. Potensi lain
adalah budidaya laut yang mulai dikembangkan di pantai pulau-pulau di
provinsi NTT

Industri Perikanan
Sektor industri perikanan yang terdapat dikawasan kabupaten/kota yang wilayah
perairannya termasuk dalam Kawasan TNP Laut Sawu kondisinya cukup beragam.
Kegiatan bisnisnya diusahakan berupa industri perorangan maupun perusahaan.
Industri perikanan baik yang dikelola secara perorangan maupun perusahaan dapat
dikelompokkan menjadi jenis usaha budidaya, jenis usaha pengolahan, dan jenis
usaha penampungan.
Kabupaten yang memiliki industri perikanan dengan 3
(tiga) jenis usaha (budidaya, pengolahan, dan
penampungan) adalah Kabupaten Lembata dan
Kabupaten Flores Timur. Rata-rata jenis usaha budidaya
yang dilakukan terbanyak adalah budidaya mutiara yang
keseluruhan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan
besar, sedangkan jenis usaha budidaya lainnya masih
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

23

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


terbatas pada budidaya ikan kerapu dan lobster. Untuk jenis usaha pengolahan ikan
masih terbatas pada 5 (lima) Kabupaten/Kota yaitu Kota Kupang (tuna loin, abon
ikan, dan Sei ikan), Kabupaten Lembata (ikan asin dan rumput laut), Kabupaten
Flores Timur (tuna loin dan rumput laut), Kabupaten Manggarai (abon dan pindang
ikan), dan Kabupaten Sumba Timur (Ikan beku).
Industri perikanan jenis usaha penampungan hasil masih didominasi oleh jenis
penampungan ikan segar dan hasil laut lainnya seperti cumi, lobster, udang, teripang,
sirip hiu, dll dan ini pun baru berada pada 8 (delapan) Kabupaten/Kota. Di kawasan
kabupaten/kota yang wilayah perairannya termasuk dalam Kawasan Taman Nasional
Perairan (TNP) Laut pada 3 (tiga) Kabupaten (Sumba Barat, Sumba Tengah, Sumba
Barat Daya) yang belum memiliki industri perikanan baik jenis usaha budidaya,
pengolahan, maupun penampungan. Hasil tangkapan nelayan selama ini masih
terfokus pada pemenuhan konsumsi local.
Budidaya Laut
Untuk budidaya laut, yang berkembang pesat budidaya rumput laut. Perairan NTT
sangat cocok untuk budidaya rumput laut karena memiliki salinitas yang tinggi dan
stabil sepanjang tahun. Selain itu, perairannya jernih dan bebas cemaran. Selama
periode 2000-2007 produksi rumput laut meningkat dengan pesat. Relatif mudahnya
pemeliharaan, investasi yang relatif rendah, tersedianya pasar untuk produk, serta
cepat menghasilkan uang menarik minat masyarakat untuk membudidayakannya.
Selama kurun tersebut, jumlah pembudidaya meningkat dengan pesat. Jumlah ini
diperkirakan akan terus bertambah dengan semakin banyaknya nelayan kecil yang
beralih menjadi pembudidaya. Demikian pula, petani lahan kering yang tinggal di
desa-desa pesisir banyak yang beralih ke pemeliharaan rumput laut karena kegiatan
ini dapat dilaksanakan hampir sepanjang tahun.

Jenis dan Jumlah Alat Penangkapan Ikan


Jenis dan jumlah alat penangkapan ikan pada 14 (empat belas) Kabupaten/Kota yang
wilayah perairannya dalam TNP Laut Sawu jenis yang digunakan untuk melakukan
penangkapan ikan berturut-turut jenis pancing (29.910), gilnet (23.878), dan alat
pancing tonda (7.391). Sedangkan penggunaan jenis alat tangkap yang masih
tergolong sedikit penggunaannya adalah pole and line dan purse seine.
Penggunaan jenis alat tangkap gilnet tertinggi
berdasarkan wilayah kabupaten berada pada
wilayah Kabupaten Sumba Timur sebanyak
8.089 unit dan diikuti oleh Kabupaten Rote
Ndao sebesar 5.671 unit, sedangkan 11
(sebelas) Kabupaten/Kota lainnya untuk
pengunaan jenis alat tangkap gilnet berada di
bawah 3.000 unit.
Penggunaan jenis alat tangkap bagan terbanyak di Kabupaten Manggarai Barat
sebanyak 628 unit diikuti oleh Kabupaten Timor Tengah Selatan 132 unit, Flores
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

24

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


Timur 61 unit, dan Kota Kupang sebanyak 50 unit sedangkan yang terendah
menggunakan jenis alat tangkap bagan berada pada Kabupaten Kupang sebanyak 7
unit. Penggunaan jenis alat tangkap purse seine terbanyak digunakan di Kota Kupang
78 unit, disusul Kabupaten Lembata 54 unit, Kabupaten Sumba Barat Daya 50 unit,
Kabupaten Kupang 49 unit dan penggunaan terendah ada di Kabupaten Manggarai
sebanyak 22 unit. Penggunaan jenis alat tangkap pole and line tertinggi
penggunaannya berada pada Kabupaten Timor Tengah Selatan sebanyak 133 unit,
diikuti Kabupaten Flores Timur dan Kota Kupang masing-masing sebanyak 53 unit
dan 4 unit berada di Kabupaten Lembata, sedangkan untuk kabupaten lainnya
penggunaan pole and line tidak ada dan/atau tidak terdata dengan baik. Berdasarkan
jenis alat tangkap sebanyak 9 (sembilan) jenis yang digunakan dapat dilihat pada
kabupaten yang berada di pulau Sumba bahwa alat tangkap ikan yang digunakan
masih terbatas pada jenis 5 (lima) jenis saja yaitu gilnet, pole and line, pancing,
pancing tonda, dan alat tangkap lainnya

Jenis Spesies yang Dilindungi


Di kawasan perairan TNP Laut Sawu terdapat beberapa jenis hewan yang dilindungi,
antara lain Penyu sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu hijau (Chelonia mydas),
Lumba-lumba (Delphi nusdelphis, Stenella longiotris, Tursiops truncatus), ikan
napoleon (Cheilinus undulatus) Kima (Tridacna sp), Lola (Trochus sp), Ketam kelapa
(Birgus latro) dan semua jenis paus. Penyu dijumpai di seluruh perairan TNP Laut
Sawu demikian juga dengan ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) dijumpai di daerah
hampir seluruh terumbu karang, ikan ini biasanya tersebar pada daerah-daerah karang
yang kondisinya masih relatif baik. TNP Laut Sawu juga merupakan habitat kritis
bagi paus biru

Panjang Garis Pantai


Total panjang garis pantai di 14 (empat belas)
Kabupaten/Kota yang terdiri dari Kota Kupang,
Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Timor Tengah
Selatan, Alor, Lembata, Flores Timur, Manggarai,
Manggarai Barat, Sumba Timur, Sumba Tengah,
Sumba Barat dan Sumba Barat Daya yang
merupakan bagian TNP Laut Sawu adalah sebesar
4.291,06 km dari total panjang garis Pantai
Provinsi NTT yaitu 5.700 km. Kabupaten Manggarai Barat memiliki garis pantai
terpanjang yaitu 836.80 km dan garis pantai terpendek pada Kota Kupang yaitu 21.88
km.

Jumlah Pulau
Jumlah pulau yang termasuk dalam Kawasan TNP Laut Sawu dan Provinsi Nusa
Tenggara Timur ini adalah Sebanyak 312 (tiga ratus dua belas) buah pulau yang
berada di 9 (sembilan) Kabupaten yaitu Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Alor,
Lembata, Flores Timur, Manggarai, Manggarai Barat, Sumba Timur, Sumba Barat
dan yang merupakan Kawasan TNP Laut Sawu. Kabupaten yang memiliki pulau
terbanyak adalah Kabupaten Manggarai Barat yakni sebanyak 228 (dua ratus dua
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

25

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


puluh delapan) buah pulau, namun demikian ada 4 (empat) Kabupaten/Kota yang
tidak memiliki pulau yaitu Kota Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Sumba
Tengah dan Sumba Barat Daya.
Aksesibilitas
Akses untuk memasuki kawasan TNP Laut
Sawu dapat dilakukan melalui darat, laut dan
udara. Seluruh jalur perhubungan ini berpusat di
Kupang sebagai ibukota Provinsi NTT dan
terhubung secara langsung dengan 14
kabupaten/kota di kawasan TNP Laut Sawu.
Jalur perhubungan darat di kawasan TNP Laut
Sawu diklasifikasi dalam jalan negara, provinsi
dan kabupaten. Kondisi jalan negara umumnya
baik namun jalan provinsi dan kabupaten
sebagian dalam kondisi rusak dan ada juga yang tidak beraspal. Transportasi darat
merupakan fasilitas yang dominan dipergunakan masyarakat di kawasan TNP Laut
Sawu. Sampai saat ini sekurang-kurangnya 471 armada angkutan darat berupa bis
yang beroperasi dan tersebar di 20 terminal resmi yang menghubungkan daerahdaerah di kawasan Laut Sawu. Disamping bis, alat transportasi tidak resmi yang
banyak beroperasi adalah ojek sepeda motor. Terdapat beberapa trayek angkutan laut
yang menghubungkan daerah-daerah di kawasan Laut Sawu dalam Provinsi NTT dan
provinsi lain dilayani oleh kapal Pelni. Kapal Ferry merupakan sarana perhubungan
laut yang paling banyak digunakan masyarakat dikawasan TNP Laut Sawu, karena
selain biaya yang relatif murah juga efektif untuk mengangkut hasil produksi yang
akan diantar pulaukan. Namun kelancaran arus transportasi ini seringkali terkendala
terutama akibat cuaca buruk yang sering melanda perairan NTT. Faktor ini dominan
menonjol terutama pada musim barat, yang puncaknya pada sekitar bulan Nopember
Pebruari. Penerbangan antar kabupaten tidak seluruhnya berlangsung secara kontinyu
setiap hari. Umumnya maskapai penerbangan memberlakukan hari-hari tertentu untuk
melayani rute setiap kabupaten. Penerbangan yang kontinyu hanya berlaku bagi
kabupaten Alor, Sumba Timur, Sumba Barat dan Sikka.

Pelayaran
Sebagai wilayah kepulauan peranan transportasi laut sangat penting dan cukup
potensial untuk dikembangkan. Di NTT terdapat lebih dari 42 pulau yang terpencil
yang memerlukan sarana dan prasarana angkutan / perhubungan laut yang memadai.
Data arus kunjungan kapal laut di pelabuhan laut di NTT sampai dengan Tahun 2006
sebanyak 1.778.674 kunjungan dan terbanyak di Kabupaten Flores Timur. Pada tahun
tersebut penumpang yang naik dipelabuhan laut sebanyak 2.398.977 penumpang,
turun sebanyak 2.231.355 penumpang. Volume bongkar muat barang dan hewan pada
setiap pelabuhan laut paling menonjol di Tenau Kupang, walaupun khusus untuk
muat barang terbanyak di Atapupu (3.049.382 ton). Barang yang dibongkar pada
tahun 2006 di Kupang sebanyak 753.384 ton, sedangkan yang dimuat 702.367 ton.
Hewan yang dibongkar 775.990 ekor, sementara yang dimuat 723.458 ekor, kegiatan

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

26

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


pelayanan sistem transportasi laut dilayani oleh pelabuhan lokal, regional dan
nasional yang tersebar disetiap
Nusa Tenggara Timur mempunyai posisi geografis strategis dalam kaitan dengan alur
laut kepulauan Indonesia (ALKI) karena mempunyai 3 simpul sehingga berpeluang
mendapatkan nilai tambah dari setiap lalulintas kapal yang lewat. Namun demikian
kondisi tersebut menjadi sumber kerawanan wilayah apabila tidak ada pengawasan
dan pengendalian secara ketat.
B. Kependudukan (Demografi)
Total penduduk di NTT sebesar 4.448.873 jiwa dengan rasio 2.214.421 adalah
perempuan dan 2.234.452 laki laki. Kepadatan penduduk 91,98 jiwa per Km2 dengan
laju pertambahan penduduk 1.79% pertahun. Berdasarkan data yang tersedia di
Kabupaten/Kota yang wilayah perairannya dalam dan sekitar TNP Laut Sawu jumlah
Kecamatan terbesar yang memiliki pantai ada di Kabupaten Kupang sebanyak 29
Kecamatan yang mencakup 102 Desa/Kelurahan, disusul Kabupaten Alor dengan 17
Kecamatan yang mencakup 107 Desa/Kelurahan, Kabupaten Sumba Timur dengan 15
Kecamatan yang mencakup 51 Desa/Kelurahan.
Dilihat dari jumlah rumah tangga
perikanan yang berada di pantai pada 14
(empat belas) Kabupaten/Kota yang
wilayah Perairannya berada disekitar dan
dalam Kawasan TNP Laut Sawu
terbanyak berada pada Kabupaten
Manggarai Barat (7.242 KK) disusul
Kabupaten Rote Ndao (4.914 KK),
Kabupaten Alor (4.262 KK), Sumba
Timur (4.068 KK), Flores Timur (3.546
KK), Lembata (3.069) dan kabupaten
lainnya berada di bawah 2.000 KK

Komposisi penduduk NTT menurut umur, memperlihatkan presentase penduduk usia


15-64 tahun paling besar jumlahnya yaitu 57,15% (2.542.948 jiwa), dan diikuti
persentase anak-anak (0-14 tahun) sebesar 37,84% (1.683.679 jiwa), sedangkan
penduduk usia 65 tahun ke atas paling kecil yakni 4,99% (222.246 jiwa) dari total
penduduk NTT
Tingkat kepadatan penduduk tahun 2007 menggambarkan bahwa rerata jumlah
penduduk yang mendiami setiap kilometer persegi sebesar 92 orang. Apabila dilihat
menurut kabupaten/kota, maka rerata tingkat kepadatan penduduk tertinggi berada di
Kota Kupang yaitu 1.785,57 orang/km2, sedangkan Kabupaten Sumba Timur,
Kabupaten Sumba Tengah dan Kabupaten Alor merupakan kabupaten dengan tingkat
kepadatan penduduk terendah yaitu 31,87/km2, 40,80/km2 dan 62,47/km2.

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

27

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


B. Kondisi Ekonomi, Sosial dan Budaya Masyarakat
Ekonomi
Perkembangan penyerapan tenaga kerja menurut sektor menunjukkan bahwa Sektor
Pertanian masih merupakan sektor utama yang menyerap tenaga kerja. Penyerapan
tenaga kerja di sektor pertanian menunjukkan kecendrungan meningkat dari 68,53
persen pada tahun 2007 menjadi 69,42 persen pada tahun 2008, kondisi ini
menunjukkan bahwa sektor pertanian masih merupakan sektor andalan sebagian besar
masyarakat NTT, meskipun dari bulan ke bulan berfluktuasi sesuai musim tanam
yang ada di daerah. Di ujung musim penghujan pada bulan Februari jumlah tenaga
kerja pada sektor pertanian menunjukkan kecenderungan meningkat karena sebagian
tenaga kerja yang sebelumnya bekerja pada sektor lain seperti tenaga buruh di sektor
kontruksi dan tenaga kerja informal di sektor jasa-jasa akan beralih pekerjaan ke se
sektor pertanian di tambah pula dengan tenaga kerja anggota keluarga petani.
Sementara pada bulan Agustus yang merupakan awal musim kemarau dimana
pertanian cenderung menurun aktifitasnya, akan di ikuti pula dengan pengalihan
pekerjaan dari tenaga keerja sektor pertanian ke sektor kontruksi dan tenaga kerja
informal di sektor jasa-jasa dan kondisi ini mengakibatkan fluktuasinya tenaga kerja
pada sektor pertanian. Tabel ...menunjukan jumlah dan proporsi tenaga kerja
menurut lapangan usaha pada tahun 2007-2008. Pada tahun 2007 penduduk yang
bekerja di sektor pertanian mencapai 68,53 persen dan naik menjadi 69,42 persen
pada tahun 2008. Kondisi tersebut mengisyaratkan bahwa sektor perekonomian di
luar sektor pertanian mulai berkembang.

Tabel .. Jumlah dan Proporsi Tenaga Kerja menurut Lapangan Usaha Tahun
2007-2008
Lapangan Usaha
Pertanian
Pertambangan
Industri
Listrik, Gas & Air
Kontruksi
Perdagangan
Komunikasi
Keuangan
Jasa-jasa
Lainnya
Jumlah

2007
JumlahProporsi (%)
1.377.29368,53
17.5870,88
165.4308,23
2.0330,10
49.9552,49
131.0006,52
*80.4644,00
**7.2230,36
**178.6588,89
-2.009.643100,00

Ket : *) angkutan dan pergudangan **) Keuangan dan jasa erusahaan


Sumber Data: BPS, 2008(hasil sakernas 2005-2008)

Jumlah
1.448.074
18.544
140.866
2.626
47.529
141.387
97.102
10.059
179.918
2.086.105

2008
Proporsi (%)
69,42
0,89
6,75
0,13
2,28
6,78
4,65
0,48
8,62
100,00

***) Jasa kemasyarakatan

Sosial
Populasi nelayan menempati 5% dari total penduduk NTT dan jumlah nelayan
cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Akan tetapi, sebagian besar nelayan
tersebut baru mampu beroperasi di wilayah perairan pantai (<12 mil). Operasi
penangkapan kebanyakan dilakukan secara harian (one day fishing operation) karena
sebagian besar hanya memiliki perahu tanpa motor dan motor tempel perairan di luar
12 mil hingga batas ZEE hampir belum terjamah oleh nelayan yang berdomisili di
NTT.
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

28

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


Rendahnya teknologi penangkapan mengakibatkan ketimpangan pemanfaatan
sumberdaya karena para nelayan hanya terkonsentrasi di perairan pantai. Dengan
semakin padatnya jumlah nelayan yang beroperasi di perairan pantai, maka semakin
meningkat pula tekanan terhadap sumberdaya perairan. Kondisi ini diperparah oleh
dipraktekkannya cara-cara penangkapan yang tidak ramah lingkungan, bahkan
destruktif. Meningkatnya tekanan dan praktek yang merusak berdampak pada
kelestarian ekosistem laut dangkal, terutama mangrove dan terumbu karang. Tingkat
kerusakan untuk kedua jenis ekosistem pantai tersebut rata-rata mencapai 70%.
Selain masalah kerusakan ekosistem pantai, pengawasan dan pengamanan potensi
sumberdaya ikan juga sangat lemah. Dengan sangat terbatasnya jumlah pelabuhan
perikanan dan tenaga pengawas sumberdaya, praktek IUU fishing (illegal, unreported
and unregulated fishing), termasuk pencurian ikan oleh nelayan dari provinsi lain dan
nelayan asing, masih sangat tinggi. Kondisi wilayah kepulauan dengan tempat-tempat
pendaratan liar yang tersebar menyulitkan pencatatan jumlah ikan yang didaratkan
maupun yang diantarpulaukan (diekspor). Hingga saat ini, di NTT baru terdapat 1
Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) dan 6 Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) yang
tersebar di beberapa kabupaten.
Nusa Tenggara Timur memiliki keragaman suku, bahasa dan kesenian Daerah di
setiap wilayahnya yang sangat bervariasi. Hal ini ditunjukan dengan begitu
banyaknya Suku bangsa yang mendiami setiap daerah di Provinsi NTT. Persebaran
Suku bangsa di NTT sangat dipengaruhi oleh letak geografis Provinsi NTT yang
terdiri dari begitu banyak pulau. Misalnya di pulau Timor, suku bangsa yang
mendiaminya terdapat Suku Helong, Dawan, Tetun, Kemak dan Marae. Di pulau
Rote terdapat Suku Rote. Di Pulau Flores terdapat suku Manggarai Riung, Ngada,
Ende Lio, Nagekeo, Sikka-Krowe Muhang, Lamaholot, Kedang dan Labala, serta
pulau-pulau lainnya dengan keanekaragaman sukunya masing-masing. Secara
terperinci, suku-suku bangsa yang mendiami pulau-pulau yang ada di Provinsi NTT
dapat dilihat pada tabel .. dibawah ini.
Tabel ... Suku Bangsa di NTT berdasarkan Tempat Asal
No
1.

Nama Suku
Suku Helong

2.

Dawan

3.
4.
5.
6.

Tetun
Kemak
Marae
Rote

7.

Sabu

8.

Sumba

9.

Manggarai Riung

10.

Ngada

Tempat asal
Pulau Timor di Kab. Kupang (Kec. Kupang Tengah dan
Kupang Barat) Pulau Semau di Kab.Kupang
Pulau Timor di Kab. Kupang (Kec. Amarasi, Amfoang,
Kupang Timur, Kupang Tengah), Kab. TTS, Kab. TTU
dan Kab. Belu (bagian perbatasan dengan TTU)
Pulau Timor di Kab. Belu
Pulau Timor di Kab. Belu
Pulau Timor di Kab. Belu
Pulau Rote di Kab. Rote Ndao Pulau Timor (sepanjang
pantai utara) dan Pulau Semau di Kab. Kupang
Pulau Sabu dan Pulau Raijua di Kab. Sabu Raijua
Beberapa daerah di Pulau Sumba
Pulau Sumba (Kab. Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba
Barat dan Sumba Barat Daya)
Pulau Flores di Kab. Manggarai, Manggarai Timur dan
Manggarai Barat
Pulau Flores di Kab. Ngada

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

29

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


11.
12.
13.
14.

Ende Lio
Nagekeo
Sikka-Krowe Muhang
Lamaholot

Pulau Flores di Kab. Ende


Pulau Flores di Kab. Nagekeo
Pulau Flores di Kab. Sikka
Pulau Flores, Pulau Adonara dan Pulau Solor di Kab.
Flotim ( Sebagian pulau Lomblen di Kab. Lembata
Pulau Lomblen (ujung timur) di Kab. Lembata
Pulau Lomblen (ujung selatan) di Kab. Lembata
Pulau Alor di Kab. Alor

15. Kedang
16. Labala
17. Alor
Sumber : Taman Budaya NTT

Tingkat keahlian dan pendidikan yang rendah pada angkatan kerja NTT, 70,99 persen
pendidikan rata-rata sekolah dasar. Sedangkan pada tahun 2008 rata-rata angkatan
kerja di NTT di tinjau dari tingkat pendidikan yang tidak/belum pernah sekolah,
tidak/belum pernah tamat SD, meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 70,99 persen
pada tahun 2007 menjadi 71,83 persen pada tahun 2008. Dengan demikian
peningkatan kualitas tenaga kerja perlu menjadi perhatian dalam rangka pertumbuhan
ekonomi daerah kedepan. Tingkat produktifitas tenaga kerja diperoleh dengan
membandingkan PDRB harga konstan menurut sektor pada tahun tertentu dengan
jumlah tenaga kerja yang berkerja pada sektor tersebut, dengan demikian kita dapat
mengetahui berapa rupiah yang dihasilkan per tenaga kerja pada sektor tersebut. Hasil
perbandingan dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel ... Jumlah dan Proporsi Tenaga Kerja menurut Lapangan Usaha Tahun 20072008 dan Produktivitas Tenaga Kerja menurut Sektor (Rp. Ribu Harga konstan 2000)
Lapangan Usaha

2007
Jumlah

Pertanian
Pertambangan
Industri
Listrik, Gas & Air
Kontruksi
Perdagangan
Komunikasi
Keuangan
Jasa-jasa
Lainnya

1.377.293
17.587
165.430
2.033
49.955
131.000
*80.464
**7.223
***178.658
2.009.643

Proporsi
(%)

68,53
0,88
8,23
0,10
2,49
6,52
4,00
0,36
8,89
100,00

2008
Produktivitas

3.222,3
8.016,7
1.040,2
21.013,3
13.802,2
13.119,8
9.225,4
46.621,9
14.218,9

Jumlah

1.448.074
18.544
140.866
2.626
47.529
141.387
97.102
10.059
179.918
2.086.105

Proporsi
(%)

69,42
0,89
6,75
0,13
2,28
6,78
4,65
0,48
8,62
100,00

Produktivitas

3.114
8.013
1.221
16.840
15.236
13.198
8.903
40.030
14.979
121534

130280.7Jumlah
Ket : *) angkutan dan pergudangan **) Keuangan dan jasa erusahaan ***) Jasa kemasyarakatan
Sumber Data: BPS, 2008(hasil sakernas 2005-2008

Setiap suku yang mendiami daerah-daerah di Provinsi NTT juga memiliki bahasa
daerah yang berbeda-beda pula. Bahasa daerah merupakan alat komunikasi yang
sangat vital dan digunakan oleh setiap suku dalam berinteraksi, melakukan kegiatankegiatan ritual/keagamaan, upacara/pesta adat dan lain sebagainya. Secara geografis,
persebaran bahasa daerah di seluruh wilayah di NTT dapat dilihat pada tabel dibawah
ini.

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

30

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


Tabel ... Bahasa Daerah di NTT berdasarkan Tempat Asal
No
Nama Bahasa Daerah
1. Bahasa Kupang, Melayu Kupang, Dawan, Helong,
Tetun, Bural
2.Bahasa Rote
3.Bahasa Sabu
4.Bahasa Tewo Kedebang, Blagar, Lamuan Abui,
Adeng, Katola, Taangla, Pui, Kolana, Kui, Pura
Kang Samila, Kule, Aluru, Kayu, Kaileso
5.Bahasa Melayu, Larantuka, Lamaholot, Kedang,
Krawe, Palue, Sikka, Lio, Lio Ende, Nagekeo,
Ngada, Ramba, Ruteng, Manggarai, Bajo, Komodo
6.Bahasa Kambera, Wewewa, Anakalang, Lamboya,
Mamboro, Wanokaka, Loli, Kodi
Sumber : Taman Budaya NTT

Tempat asal
Pulau Timor dan pulau-pulau
kecil di sekitarnya
Pulau Rote
Pulau Sabu dan Raijua
Pulau Alor dan pulau-pulau di
sekitarnya

Pulau Flores dan pulau-pulau


sekitarnya
Pulau Sumba dan pulau-pulau
kecil di sekitarnya

Budaya
Keanekaragaman suku bangsa dan bahasa daerah di setiap wilayah NTT juga sangat
mempengaruhi kesenian daerah yang dimiliki oleh tiap-tiap daerah. Setiap daerah di
NTT memiliki kesenian : tarian daerah, lagu daerah, alat musik daerah dan seni tenun
ikat daerah yang memiliki karakteristik dan perbedaan satu dengan lainnya. Kesenian
daerah tersebut (tarian/lagu/alat music/tenun ikat) digunakan oleh setiap suku di NTT
dalam melaksanakan acara-acara ritual/keagamaan, upacara adat, pesta perkawinan,
penyambutan tamu, dan lain sebagainya.
Kearifan Lokal
Masyarakat pesisir sekitar perairan Laut Sawu memiliki sejumlah kearifan lokal
dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan. Kearifan lokal masyarakat pesisir di
NTT dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan dapat dijumpai pada masyarakat
Helong (Kupang), Sumba, Alor, Solor, Rote, Timor dan Lamalera (Lembata).
Beberapa dari kearifan lokal ini sudah mengalami degradasi, namun ada yang masih
tetap eksis dampai dengan saat ini. Tradisi penangkapan paus secara tradisional oleh
masyarakat Lamalera di Kabupaten Lembata merupakan salah satu kearifan lokal
yang masih berlaku sampai dengan saat ini. Tradisi perburuan paus oleh masyarakat
Lamalera sudah berlangsung ratusan tahun sejak nenek moyang mereka dan tetap
mempertahankan ketradisionalannya hingga saat ini.

Masyarakat Sumba memiliki prinsip bekerja


berdasarkan waktu. Apapun yang dikerjakan
harus dengan memperhatikan tahun dan membuat
segala sesuatu tepat pada waktunya. Keselamatan
dan kehidupan masyarakat akan ditentukan oleh
ketepatan waktu dalam melaksanakan sesuatu
perkerjaan. Prnsip masyarakat Sumba adalah :
Maka paji wulangu, maka tutu ndaungu (jika
kehidupan mengikuti prinsip maka kita akan
selamat). Pelanggaran terhadap prinsip tersebut akan membuat orang tersebut akan
mengalami kesusahan dalam hidupnya.
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

31

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


Masyarakat Timor/Atoni Pah Meto, hidup dalam kultur lahan kering dan terikat pada
ritus ritus tertentu. Berbagai aktifitas yang berkaitan dengan peri kehiduapan dan
kemasyarakat selalu didahuli dengan ritual tertentu, antara lain : tait nuta ma nopo
(membakar tebasan), tsifo nopo (mendinginkan lahan yg sudah dibakar), tsimo suan
(memilih bibit dan menanam), toit ulan (mendatangkan hujan), tofa lele
(membersihkan lahan), eka hoe (membendung aliran air), tatam pen tauf
(persembahkan hasil panen), dll.
Masyarakat Sabu memiliki ritual Hole yang merupakan aktifitas kehidupan
berdasarkan jadwal tertentu seperti memanggil nira, memanggil hujan, menolak
kekuatan gaib, atau keseluruhan upacara dari mulai menanam, memanen sampai
pada persembhan hasil panen. Hole merupakan ritual puncak dari sebagian besar
ritual dalam kebudayaan orang sabu. Hole menggambarkan cognitive culture atau
orientasi budaya yang merupakan pandangan hidup yang membentuk sikap individual
maupun sikap sosial dan kultural. Hole juga dijadikan landasan berkomunikasi
simbolik melalui ungkapan syair-syair juiga melalui simbol artefak dlam konteks
kulturalnya. Hole dalam konteks internal menggambarkan budaya kognitif
individual yang membimbing bagaimana individu dalam tata kehidupan sosial. Dalam
konteks eksternal, Hole merupakan aspek sosial budaya yang orang sabu ciptakan
dalam relasi antar personal dengan orang lain. Jadi peta kognitif masyarakat Sabu
menghayati hole sebagai ungkapan syukur bagi kemakmuran manusia, hewan dan
tumbuhan yang dalam satu kesatuan telah memberikan mereka hidup. Falsafah hidup
masyarakat Rote erat kaitannya dengan pohon lontar. Seluruh bagian dari npohon
lontar menjiwai sebagian besar perikehidupan kemasyarakatan orang Rote. Falsafah
ini membuat Masyarakat Rote menjadi orang yang pekerja keras untuk mencapai
kesuksesan dalam kehidupan.

Pola hidup kebaharian telah dianut oleh masyarakat Lamaholot sejak dulu kala.
Pemanfaatan hasil laut diutamakan pula untuk meningkatkan kesejahteraan hidup
masyarakatnya. Kewajiban menjaga kesembangan dengan merapkan hak, kewajiban
dan larangan dalam pemanfaatan hasil laut. Hak yang dimaksud merupakan hak adat
yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat. Kewajibannya antara lain harus
menjaga kelestarian lingkungan laut. Sedangkan larangan antara lain berupa daerah
tangkapan dan jenis ikan yang diperbolehkan ntuk ditangkap. Peran musyawarah adat
akan sangat menentukan dalam setiap hal yang terjadai dalam pemanfataan hasil laut
tersebut.

D. Kelembagaan
Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang, adalah Unit
Pelaksana Teknis (UPT) Pusat yang berada di Lingkup Ditjen KP3KDKP yang
Bertanggung jawab Langsung kepada Direktur Jenderal KP3K-DKP. BKKPN
ditetapkan melalui Peraturan Menteri (PERMEN) No.19/MEN/2007 tanggal 15
November 2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Kawasan Konservasi
Perairan Nasional, dengan Jenjang struktural setingkat eselon III.a. Wilayah kerja
meliputi 12 Provinsi di Indonesia bagian timur; NTT, NTB, Sulsel, Sultra, Sulbar,
Sulteng, Gorontalo, Sulut, Maluku Utara, Maluku, Irian Jaya Barat dan Papua.
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

32

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


BKKPN mempunyai tugas melaksanakan pemangkuan, pemanfaatan dan pengawasan
kawasan konservasi perairan nasional yang bertujuan untuk melestarikan sumberdaya
ikan dan lingkungannya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku
dan memiliki fungsi:
a. Penyusunan rencana, program dan evaluasi di bidang pemangkuan, pemanfaatan
dan pengawasan kawasan konservasi perairan nasional
b. Pelaksanaan pemangkuan, pemanfaatan dan pengawasan kawasan konservasi
perairan nasional
c. Pelaksanaan pemberdayaan dan peningkatan kesadaran masyarakat (Public
Awareness) didalam dan sekitar kawasan konservasi perairan nasional
d. Pelaksanaan bimbingan pemangkuan, pemanfaatan dan pengawasan kawasan
konservasi perairan nasional
e. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga
Selanjutnya struktur organisasi lingkup unit pelaksana teknis BKKPN adalah:

BALAI KAWASAN KONSERVASI


PERAIRAN NASIONAL (BKKPN)

Subbagian Tata Usaha

Seksi Program dan Evaluasi

Seksi Pendayagunaan dan


Pengawasan

Kelompok Jabatan Fungsional


Berdasarkan tinjauan produk unit pengelola kawasan konservasi adalah satuan unit
organisasi pengelola kawasan konservasi yang berbetuk UPT pusat, SKPD atau UPT
daerah atau bagian unit dari satuan organisasi yang menangani konservasi wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil serta pengelolaannya dijabarkan dalam bentuk Rencana
Pengelolaan, dan rencana strategis serta rencana aksi.
E. Rencana Pembangunan dan Rencana Tata Ruang
Laut Sawu merupakan bagian dari Ekoregion Sunda Kecil yaitu salah satu ekoregion
dari kawasan Segitiga Karang dunia (Coral Triangle) (Green and Mous, 2008).
Segitiga Karang adalah pusat keanekaragaman sumberdaya hayati laut di dunia dan
merupakan prioritas bagi konservasi laut secara global. Wilayah ini mencakup hanya
2% dari perairan laut dunia, namun memiliki sekitar 76% spesies terumbu karang dan
37% spesies ikan karang yang ada di dunia. Kawasan Segitiga Karang mencakup 550
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

33

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


juta ha perairan laut yang meliputi 6 negara di Asia Tenggara dan Melanesia yaitu
Indonesia, Pilipina, Malaysia (Sabah), Timor Leste, Papua New Guinea, dan
Kepulauan Solomon.Ekoregion Sunda Kecil terletak paling selatan dari 11 ekoregion
dalam kawasan Segitiga karang (Gambar ). Ekoregion ini mencakup wilayah seluas
358.000 km2 yang meliputi dua negara yaitu Indonesia dan Timor Leste. Di
Indonesia, wilayah Sunda Kecil ini mencakup empat provinsi yaitu Provinsi Bali,
Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku. Program pengembangan
jejaring KKP yang tangguh di Ekoregion Sunda Kecil ini telah mengidentifikasi KKP
yang telah ada, KKP yang diusulkan, dan daerah-daerah penting yang paling sesuai
untuk dikembangkan menjadi KKL. Daerah-daerah penting ini juga diidentifikasi
untuk memenuhi prinsip-prinsip jejaring KKP yang tangguh, seperti yang
dikemukakan di atas. Selain itu, program ini juga telah mengidentifikasi habitat laut
dalam, daerah ruaya dan daerah migrasi mamalia laut.

Gambar...Jejaring Kawasan Konservasi Perairn di Eko-region Sunda Kecil


Tinjauan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) ditelaah terhadap pola
dan struktur ruang nasional di wilayah NTT. Pola ruang secara garis besar terdiri dari
kawasan lindung dan kawasan budi daya. Kawasan lindung merupakan adalah
kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian hidup yang
mencakup sumber daya alam, sumber daya buatan dan nilai sejarah budaya bangsa
untuk kepentingan pembangunan yang berkelanjutan. Pengembangan Kawasan
prioritas ditetapkan dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi, keseimbangan
pengembangan wilayah, keseimbangan ekosistem dan keamanan wilayah. Kawasan
Prioritas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah adalah :
a. Pada intinya arahan pengembangan yang diterapkan pada kawasan andalan, yang
telah diidentifikasi, bertujuan untuk menanggulangi permasalahanpermasalahan
yang ada agar potensi-potensi yang terkandung dapat dimanfaatkan dan
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

34

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


didayagunakan seoptimal mungkin, dalam rangka pengembangan wilayah yang
lebih luas.
b. Kawasan Pesisir dan Laut meliputi 9 Satuan Kawasan Pengembangan Pesisir Laut
Terpadu (SKPLT) yaitu: SKPLT- Selat Ombai-Laut Banda, SKPLT- Laut Sawu I,
SKPLT- Laut Sawu II, SKPLT- Laut Sawu III, SKPLT Laut Flores, SKPLTSelat Sumba, SKPLT- Laut Timor, SKPLT- Laut Hindia, SKPLT- Selat Sape;
c. Kawasan prioritas yang ditetapkan untuk keamanan wilayah meliputi awasan
pulau-pulau terluar, seperti pulau Batek, Ndana, Salura, Mengkudu dan Kotak
Pola Pemanfaatan ruang wilayah Provinsi menggambarkan sebaran kawasan
lindung dan kawasan budidaya serta kawasan tertentu.

Arahan pengembangan sistim perwilayahan ditetapkan dengan memperhatikan


kosistem kepulauan yang dibagi menjadi tiga wilayah pengembangan :
a. Wilayah Pengembangan I meliputi Timor Barat, Rote dan Alor, dengan
pengembangan komoditi unggulan pertanian lahan kering, hortikultura,
peternakan dan kelautan serta pengembangan basis kegiatan penunjang terdiri dari
lahan basah, perkebunan, pariwisata dan pertambangan;
b. Wilayah Pengembangan II meliputi Flores dan Lembata, dengan pengembangan
komoditi unggulan pertanian lahan basah, hortikultura, perkebunan, kelautan dan
pariwisata serta pengembangan penunjang lahan kering, dan pertambangan;
c. Wilayah Pengembangan III meliputi Sumba, dengan pengembangan utama
komoditi unggulan untuk lahan basah, lahan kering, hortikultura, peternakan,
kelautan, dan pariwisata serta pengembangan penunjang perkebunan dan
pertambangan;- terencana dan terarah yang berkelanjutan berwawasan
lingkungan, sehingga dapat berdaya guna dan berhasil guna bagi hidup dan
kehidupan manusia

Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi NTT telah disusun untuk jangka
waktu 15 tahun ke depan dalam periode 2006-2015. Tujuan utama RTRW adalah
sebagain upaya untuk memadukan berbagai kepentingan, khususnya sektoral dan
kepentingan di daerah agar tidak terjadi benturan-benturan pengelolaan dalam upaya
pemanfaatan ruang yang terbatas sifatnya. Dengan srahan spasial pembangunan
diarahkan pada :arahan pemantapan kawasan lindung, arahan pengembangan
kawasan budidaya, pola pengembangan kota-kota, pola pengembangan system
prasarana dan sistem prasarana Ekonomi.
Tujuan skala internal Provinsi NTT dalam mencapai target dan sasaran pembangunan
NTT dalam RTRW 2006-2020 adalah :
1. Pemantapan kawasan yang berfungsi lindung guna menjaga dan melestarikan
keseimbangan lingkungan
2. Mengoptimalkan pemanfaatan potensi dan sumberdaya wilayah dengan
memperhatikan prinsip pembangunan berkelanjutan.

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

35

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


Untuk kebijakan pengembangan kawasan kelautan dan perikanan diarahkan pada :
1. Usaha rehabilitasi dalam mengamankan dan pemulihan habitat sumberdaya
perikanan baik melalui pengawasan terhadap kegiatan penangkapan ikan dengan
menggunakan bahan peledak dan pengembangan hutan-hutan bakau.
2. Usaha ekstenfikasi dan intensifikasi tetap memperhatikan daya dukung
lingkungan dan ekosistem perairan darat maupun laut
3. Pengembangan usaha-usaha pola tani budidaya pantai, darat dan laut dalam
mencari sumber dan pembinaan habitat serta pengembangan pola desa dalam
mendukung pengembangan wilayah marine dan kawasan lindung perairan laut.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi NTT Tahun
2009-2013 yang selanjutnya disingkat RPJMD Provinsi NTT, merupakan penjabaran
lebih lanjut dari visi, misi dan agenda Kepala Daerah sebagaimana yang disampaikan
kepada masyarakat dan para wakil rakyat di lembaga Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah dan RPJM Nasional.
RPJMD Provinsi NTT memuat gambaran umum kondisi daerah Nusa Tenggara
Timur, gambaran pegelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan, isu-isu
strategis dan arah kebijakan, kebijakan umum dan program pembangunan daerah,
indikasi rencana program prioritas, penetapan indikator kinerja daerah, pedoman
transisi dan kaidah pelaksanaan.

Dokumen RPJMD Provinsi NTT Tahun 2009-2013 disusun dengan mengacu dan
memperhatikan dokumen perencanaan nasional yaitu Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Nasional Tahun 2005-2025 (Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007) dan
RPJM Nasional 2004-2009 (Perpres Nomor 7 Tahun 2005) serta dokumen-dokumen
perencanaan tingkat provinsi, yaitu RPJPD Tahun 2005-2025 (Perda Nomor 1 Tahun
2008) dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi 20062020 atau RTRWP (Perda
Nomor 9 Tahun 2005). Hal ini untuk menghasilkan sinergitas antara dokumen
rencana baik dalam aspek kewilayahan, ruang yang berkarakter lokal.

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

36

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


BAB III
RENCANA STRATEGIS PENGELOLAAN
A. Visi dan Misi Pengelolaan
Visi dan Misi pengelolaan TNP Laut Sawu mengacu pada misi dan visi Direktorat
Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan,
yaitu:
1. Visi :
Terwujudnya Pengelolaan Taman Nasional Perairan Laut Sawu yang
berkelanjutan guna menjamin keberlangsungan keanekaragaman hayati laut,
nilai budaya dan kesejahteraan masyarakat
2. Misi :
a. Mengembangkan upaya pemanfaatan sumberdaya laut di TNP Laut Sawu
secara optimal dan berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat dan daerah.
b. Menerapkan sistem pengelolaan kawasan TNP Laut Sawu yang adaptif untuk
menjamin kelestarian sumberdaya laut dan ekosistemnya serta
pemanfaatannya bagi kesejahteraan masyarakat,;
c. Mengintegrasikan fungsi kawasan dengan pembangunan wilayah Provinsi
Nusa Tenggara Timur di dalam dan sekitar TNP Laut Sawu ;
d. Mengembangkan kelembagaan dan sistem pengelolaan TNP Laut Sawu yang
berbasis ekosistem, kehati-hatian, keterpaduan, adaptif dan partisipatif.

B. Tujuan Pengelolaan
Pengelolaan TNP Laut Sawu diarahkan melalui pendekatan kehati-hatian, keterpaduan,
berbasis ekosistem, adaptif dan partisipatif. Pemaduserasian kebijakan dan program
antara pemangku kepentingan dalam berbagai tingkatan sangat penting agar proses
pembangunan di kawasan TNP Laut Sawu dapat dilaksanakan secara selaras dan
berkelanjutan. Tujuan pengelolaan Taman Nasional Perairan Laut Sawu dijabarkan
berdasarkan misi, yaitu:
Misi 1. : Mengembangkan upaya pemanfaatan sumberdaya laut di TNP Laut Sawu secara
optimal dan berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat dan daerah, mencakup tujuan:
a. Peningkatan kegiatan identifikasi, inventarisasi, monitoring dan evaluasi, serta
pengawasan pemanfaatan sumberdaya laut dan ekosistemnya;
b. Pengembangan mekanisme pemanfaatan sumberdaya laut dan ekosistemnya
secara optimal dan berkelanjutan;
c. Pengembangan adopsi kearifan lokal dalam pemanfaatan sumberdaya laut yang
selaras dengan keberlanjutan sumberdaya laut dan ekosistemnya;
d. Pengembangan pemanfaatan jasa lingkungan dan ekowisata;
e. Pengelolaan dan pengembangan industri kelautan di TNP Laut Sawu dengan tetap
memperhatikan keberlanjutan sumberdaya laut.
f. Pengembangan upaya pengelolaan perikanan secara berkelanjutan
g. Pengembangan strategi pengelolaan sumberdaya laut di kawasan TNP Laut Sawu
ditinjau dari aspek sosial, budaya dan ekonomi masyarakat

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

37

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


Misi 2.: Menerapkan sistem pengelolaan kawasan TNP Laut Sawu yang adaptif untuk
menjamin kelestarian sumberdaya laut dan ekosistemnya serta pemanfaatannya bagi
kesejahteraan masyarakat, mencakup tujuan:
a. Pembangunan, pengelolaan, pemeliharaan dan mengembangkan Bank Data TNP
Laut Sawu yang dihimpun dari berbagai kegiatan penelitian, pengembangan dan
penerapan ilmu dan teknologi kelautan dan menyebarluaskannya dalam sistem
informasi data potensi sumberdaya alam TNP Laut Sawu serta memanfaatkannya
untuk menunjang pengelolaan TNP L Sawu.
b. Pembangunan dan penerapan sistem pemantauan status sumberdaya laut dan
ekosistemnya;
c. Penyelenggaraan Sistem Pemantauan dan Penanggulangan Bencana di TNP Laut
Sawu serta rehabilitasinya sebagai sub sistem dari sistem pencegahan dan
penanggulangan bencana alam nasional dan daerah
d. Pengembangan skema Penelitian, Pengembangan, Penerapan Ilmu Pengetahuan
dan Teknologi Kelautan yang mendukung pengembangan TNP Laut Sawu
sebagai center of excellence keanekaragaman hayati laut (marine biodiversity);
e. Pengembangan skema pengelolaan ekosistem laut dalam guna pelestarian dan
pemanfaatannya secara optimal.
f. Pembangunan, pengembangan dan penerapan skema pengelolaan terpadu dan
adaptif dalam kerangka antisipasi perubahan iklim
g. Pengembangan dan penerapan skema pengelolaan habitat dan populasi jenis-jenis
biota laut utamanya jenis-jenis langka dan/atau bernilai ekonomi tinggi
h. Pengembangan dan penerapan skema pengelolaan populasi dan habitat setasea
dalam kerangka memfungsikan secara optimal TNP Laut Sawu sebagai koridor
utama.
i. Pengembangan dan penerapan sistem pengawasan dan pengamanan kawasan yang
effektif dalam kerangka menunjang pengelolaan TNP L Sawu yang fungsional;
j. Perumusan dan penerapan regulasi, perangkat dan penegakan hukum yang kuat,
komprehensif dan effektif serta memperhatikan kearifan local dalam kerangka
menunjang pengelolaan TNP L Sawu yang fungsional.
k. Pengembangan sumberdaya manusia yang kompeten dan berdedikasi dalam
kerangka menunjang pengelolaan TNP L Sawu yang fungsional.

Misi 3.: Mengintegrasikan fungsi kawasan dengan pembangunan wilayah Provinsi Nusa
Tenggara Timur di dalam dan sekitar TNP Laut Sawu, mencakup tujuan:
a. Penguatan status titik referensi sebagai titik ikat batas kawasan TNP Laut Sawu;
b. Penguatan sistem penataan ruang nasional, provinsi dan kabupaten/kota;
c. Pewujudan pengelolaan alur pelayaran, jaringan pipa dan kabel bawah laut
d. Pewujudan pengelolaan sumber pencemaran dari daratan
Misi 4.: Mengembangkan kelembagaan dan sistem pengelolaan TNP Laut Sawu yang
berbasis ekosistem, kehati-hatian, keterpaduan, adaptif dan partisipatif, mencakup tujuan:
a. Pengembangan institusi pengelola TNP Laut Sawu;
b. Pengembangan profesionalisme sumberdaya manusia (SDM) yang mampu
mendukung pengelolaan TNP Laut Sawu;
c. Peningkatan sarana dan prasarana pengelolaan TNP Laut Sawu
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

38

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


d. Pengembangan sistem pendanaan yang berkelanjutan
e. Pengembangan sistem perencanaan, monitoring dan evaluasi pengelolaan TNP
Laut Sawu;
f. Pengembangan mekanisme kerjasama pengelolaan dengan para pihak;
g. Pengembangan sistem pengelolaan kolaboratif TNP Laut Sawu;
h. Pemberdayaan masyarakat pesisir untuk pengembangan dalam rencana
pengelolaan jangka panjang TNP Laut Sawu
C. Sasaran Pengelolaan
Untuk mewujudkan hal tersebut, maka kebijakan pembangunan TNP Laut Sawu
ditekankan pada pengendalian perikanan tangkap, pengembangan budidaya perikanan
laut dan peningkatan nilai tambah melalui perbaikan mutu dan pengembangan produk,
pemberdayaan kelembagaan dan masyarakat, mewujudkan pengembangan ekowisata;
meningkatkan pengawasan dan pengendalian sumber laut; merehabilitasi ekosistem
habitat pesisir dan laut; serta kelembagaan kolaboratif. Sebagai kawasan yang berbasis
konservasi, TNP Laut Sawu diarahkan untuk; 1) menjamin terpeliharanya proses ekologis
yang menunjang sistem penyangga kehidupan bagi kelangsungan pembangunan dan
kesejahteraan manusia (perlindungan system penyangga kehidupan; 2) menjamin
terpeliharanya keanekaragaman jenis genetik dan tipe ekosistemnya sehingga mampu
menunjang pembangunan Iptek yang memungkinkan pemenuhan kebutuhan manusia
yang menggunakan sumberdaya laut untuk kesejahteraan (pelestarian sumber plasma
nuftah); 3) mengendalikan cara-cara pemanfaatan sumberdaya laut sehingga terjamin
kelestariannya (pemanfaatan secara lestari) akibat sampingan penerapan Iptek yang
kurang bijaksana, kurang harmonisnya penggunaan Tata Ruang daratan pesisir dan
wilayah laut yang dapat mengakibatkan timbulnya gejala erasi genetik, polusi, penurunan
potensi dan kualitas sumberdaya laut dan 4) membangun kemampuan kawasan untuk
dapat mandiri dan professional dalam pengelolaan secara kelembagaan, personil dan
pendanaan berkelanjutan dengan tetap memperhatikan asas keterpaduan, kehati-hatian
dan keadilan.

Sasaran pengelolaan TNP Laut Sawu diuraikan sebagai berikut:


Misi 1.: Mengembangkan upaya pemanfaatan sumberdaya laut di TNP Laut Sawu secara
optimal dan berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat dan daerah, dengan sasaran:
a) Peningkatan kegiatan identifikasi, inventarisasi, monitoring dan evaluasi, serta
pengawasan pemanfaatan sumberdaya laut dan ekosistemnya;
1) Terinventarisasinya sumberdaya pesisir dan laut, tersedianya data potensi
sumberdaya pesisir dan laut untuk pemanfaatan berkelanjutan;
2) Terpantaunya lokasi-lokasi kritis ekosistem di TNP Laut Sawu dari kegitan
merusak dan penangkapan berlebih.
b. Pengembangan mekanisme pemanfaatan sumberdaya laut dan ekosistemnya
secara optimal dan berkelanjutan:
1) Adanya petunjuk teknis pemanfaatan sumberdaya laut secara berkelanjutan;
2) Adanya model pemanfaatan sumberdaya laut
c. Pengembangan adopsi kearifan lokal dalam pemanfaatan sumberdaya laut yang
selaras dengan keberlanjutan sumberdaya laut dan ekosistemnya:

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

39

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

d.

e.

f.

g.

h.

1) Tersedianya informasi dan data praktek-praktek kearifan lokal dalam


pemanfaatan sumberdaya laut secara berkelanjutan;
2) Terlaksananya praktek-praktek kearifan lokal yang diadopsi dan/atau
menggiatkan kembali kearifan lokal yang telah ada dalam pemanfaatan
sumberdaya laut secara berkelanjutan
3) Adanya panduan/petunjuk teknis monitoring dan evaluasi praktek-praktek
kearifan lokal dalam pemanfaatan sumberdaya laut secara berkelanjutan;
Mengatur pengelolaan dan pengembangan industri kelautan di TNP Laut Sawu
dengan tetap memperhatikan keberlanjutan sumberdaya laut;
1) Adanya keterpaduan sektor-sektor terkait yang mencakup sarana dan
prasarana, Ilmu dan teknologi, sumber daya manusia serta pendanaan
Pengembangan pemanfaatan jasa lingkungan dan ekowisata:
1) Tersedianya informasi jenis, potensi dan daya dukung pemanfaatan jasa
lingkungan, pariwisata alam dan budaya;
2) Adanya petunjuk teknis dan prosedur pemanfaatan jasa lingkungan, pariwisata
alam dan budaya yang disyahkan oleh yang berwenang;
3) Terselenggaranya promosi pemanfaatan jasa lingkungan dan pariwisata alam
dan budaya
4) Terwujudnya pemanfaatan jasa lingkungan, pariwisata alam dan budaya
5) Tersediannya desain pengembangan pemanfaatan jasa lingkungan, pariwisata
alam dan budaya
Pengembangan upaya pengelolaan perikanan secara berkelanjutan:
1) Tersedianya data pendugaan populasi dan sebaran ikan ekonomis penting
sebagai dasar dalam pemanfaatan secara berkelanjutan;
2) Terbentuknya sistem pengembangan upaya pemanfaatan perikanan yang
berkelanjutan dengan pemerintah daerah setempat (termasuk perizinan,
alokasi, mekanisme dan pemberian tanda)
Pengembangan strategi pengelolaan sumberdaya laut di kawasan TNP Laut Sawu
ditinjau dari aspek sosial, budaya dan ekonomi masyarakat:
1) Terciptanya iklim yang memungkinkan berkembangnya potensi dan daya
yang dimiliki dimiliki masyarakat melalui kegiatan pemberdayaan
masyarakat.
2) Adanya strategi penyadaran penguatan kapasitas dan pemberian akses kepada
masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya.
3) Tersedianya akses pemanfaatan sumberdaya ikan dan ekosistemnya dengan
memperhatikan aspek spesifik lokasi, adaptif, kebersamaan dan kemitraan,
keterpaduan, keberlanjutan, dan kelestarian
4) Penguatan sumber daya manusia dengan pelatihan dan penguatan
kelembagaan dengan pembentukan kelompok masyarakat konservasi.
Pemberdayaan masyarakat pesisir untuk pengembangan dalam rencana
pengelolaan jangka panjang TNP Laut Sawu adalah dengan;
1) Adanya pengembangan mata pencarian alternative,
2) Tersedianya teknologi alternatif ramah lingkungan, dan peningkatan
kesadaran dan tanggung jawab masyarakat pesisir dalam pengelolaan dan
pemanfaatan sumberdaya di dalam kawasan TNP Laut Sawu

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

40

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


Misi 2.: Menerapkan sistem pengelolaan kawasan TNP Laut Sawu yang adaptif untuk
menjamin kelestarian sumberdaya laut dan ekosistemnya serta pemanfaatannya bagi
kesejahteraan masyarakat, dengan sasaran:
a. Pembangunan, pengelolaan, pemeliharaan dan mengembangkan Bank Data TNP
Laut Sawu yang dihimpun dari berbagai kegiatan penelitian, pengembangan dan
penerapan ilmu dan teknologi kelautan dan menyebarluaskannya dalam sistem
informasi data potensi sumberdaya alam TNP Laut Sawu serta memanfaatkannya
untuk menunjang pengelolaan TNP L Sawu.
1) Teridentifikasinya kebutuhan baseline data dan system analisisnya yang
meliputi data tentang karakteristik laut, baku mutu laut, bathimetry,
hydrography, oceanography, cuaca, data sumberdaya hayati dan non hayati,
lempeng tanah dasar laut, gempa di laut, tsunami, data tentang pulau-pulau,
peta laut, kependudukan pesisir dan data lain yang diperlukan
2) Tersusunnya system bank data yang selalu dapat diakses, diperbaharui dan
menjadi referensi serta umpanbalik dalam system pengelolaan TNP Laut
Sawu;
3) Tersedianya perangkat penunjang system Bank Data, termasuk jejaring
kelembagaan pengelola, peralatan, dan pendanaan.
4) Terwujudnya jejaring penunjang dan pengguna dan diseminasi/akses system
bank data.
b. Pembangunan dan penerapan sistem pemantauan status sumberdaya laut dan
ekosistemnya;
1) Teridentifikasinya kebutuhan/prioritas jenis sumberdaya dan ekosistem laut
yang memerlukan pemantauan.
2) Tersedianya panduan teknis/protokol monitoring sumberdaya laut berdasarkan
sesuai kebutuhan dan prioritas;
3) Terlaksananya monitoring SD Laut Sawu secara berkala (reguler)
4) Terselenggaranya analisis hasil monitoring sumberdaya perikanan dan
kelautan sebagai masukan dan umpanbalik regular bagi pengelolaanTNP Laut
Sawu sekaligus sebagai bagian dari Bank Data;
5) Tersusunnya dan tersedianya profil status perikanan dan kelautan TNP Laut
Sawu yang selalu terperbaharui
c. Penyelenggaraan Sistem Pemantauan dan Penanggulangan Bencana di TNP Laut
Sawu serta rehabilitasinya sebagai sub sistem dari sistem pencegahan dan
penanggulangan bencana alam nasional dan daerah;
1) Teridentifikasinya potensi dan klasifikasi bencana alam di Laut Sawu,
termasuk diantaranya bencana Tsunami, Badai Alam yang sangat destruktif
dan malapetaka laut yang sifatnya dahsyat (massive/catastrophic/imminent
danger) sesuai dengan peraturan perundangan dan hukum laut internasional
yang berlaku
2) Tersedianya sarana dan prasarana yang diperlukan termasuk peralatan,
perlengkapan yang berteknologi tepat guna dan hasil uji-coba, membuat
petunjuk teknis dalam keadaan darurat (Contingency Plan), sistem peringatan
dini, penyediaan sumberdaya manusia yang ahli, terlatih, sistem pengamanan
lingkungan dan pengaturan logistik.

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

41

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


3) Terpadunya dan terlaksananya system peringatan dini dan penanggulangannya
dalam penyelenggaraan tatakelola baik di tingkat propinsi maupun
kabupaten/kota NTT.
d. Pengembangan skema Penelitian, Pengembangan, Penerapan Ilmu Pengetahuan
dan Teknologi Kelautan yang mendukung pengembangan TNP Laut Sawu
sebagai center of excellence keanekaragaman hayati laut (marine biodiversity);
1) Tersedianya analisis kebutuhan penelitian dan pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang relevan dengan upaya pelestarian dan
pemanfaatan sumberdaya laut yang berkelanjutan di TNP L Sawu;
2) Tersusunnya skema program penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi dalam rangka pengembangan TNP Laut Sawu sebagai center of
excellence keanekaragaman hayati laut (marine biodiversity)
3) Tersusunnya rancangan rinci kajian pokok pengembangan penelitian dan
pendidikan di TNP Laut Sawu termasuk penelitian pemantauan degradasi dan
rehabilitasi terumbu karang, rehabilitasi terumbu karang dengan manipulasi
substrat terumbu karang, perilaku dan agregasi berpijah ikan ekonomis
penting, pengembangan potensi wisata bahari, pemanfaatan sumberdaya
terumbu karang dan konsekuensinya bagi pengelolaan kawasan konservasi,
dampak lingkungan kegiatan ekonomi alternatif di dekat kawasan konservasi,
dan kearifan local serta system komunikasi dan disseminasinya.
4) Terbentuknya jejaring stakeholder kunci untuk menunjang skema Penelitian,
Pengembangan, Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kelautan yang
mendukung pengembangan TNP Laut Sawu, baik di dalam maupun luar
negeri, termasuk penggalangan keahlian, pendanaan, sarana dan prasarana dan
kemitraan.
e. Pengembangan skema pengelolaan ekosistem laut dalam guna pelestarian dan
pemanfaatannya secara optimal;
1) Terselenggaranya upaya diseminasi dan meningkatnya pemahaman tentang
perubahan iklim dan kemungkinan dampaknya di lingkup stakeholder kunci
TNP L Sawu.
2) Tersusunnya perencanaan terpadu tata ruang pesisir, laut dan daratan yang
juga memasukkan factor antisipasi perubahan iklim.
3) Terpetakannya masyarakat dan ekosistem ekosistem pesisir dan laut
utama/penting yang terpengaruh atau berpengaruh terhadap ketahanan
perubahan iklim, seperti mangrove, terumbu karang dan padang lamun.
4) Terselenggaranya pengelolaan secara terkoordinir ekosistem pesisir dan laut
utama/penting yang terpengaruh atau berpengaruh terhadap ketahanan
perubahan iklim, seperti mangrove, terumbu karang dan padang lamun,
termasuk penataan dan rambu-rambu pembatasan alih fungsi
f. Pembangunan, pengembangan dan penerapan skema pengelolaan terpadu dan
adaptif dalam kerangka antisipasi perubahan iklim;
1) Terselenggaranya pengkajian potensi sumberdaya laut dalam dan penyusunan
skema pengembangan pengelolaan dan pemanfaatannya secara lestari
termasuk kondisi geografi kelautan, potensi energi alternatif non konvensional
dan sumberdaya kelautan non hayati.

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

42

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


2) Terbentuknya kerjasama antar lembaga dan stakeholder kunci untuk
pengelolaan laut dalam wilayah TNP L Sawu dan sekitarnya serta
pemanfaatannya secara lestari dengan mengutamakan kelestarian biodiversitas
langka dan terancam serta memperhatikan kearifan lokal.
g. Pengembangan dan penerapan skema pengelolaan habitat dan populasi jenis-jenis
biota laut utamanya jenis-jenis langka dan/atau bernilai ekonomi tinggi;
1) Tersedianya data dan informasi tentang sebaran, pola hidup dan dinamika
serta ancaman terhadap habitat dan populasi jenis-jenis biota langka dan/atau
bernilai ekonomi tinggi di perairan TNP L Sawu
2) Tersedianya kerangka pengelolaan dan petunjuk teknis/protokol pengelolaan
habitat dan populasi jenis-jenis biota langka dan/atau bernilai ekonomi tinggi
di perairan TNP L Sawu
3) Terlaksananya program pengelolaan habitat dan populasi jenis-jenis biota
langka dan/atau bernilai ekonomi tinggi di perairan TNP L Sawu, termasuk
monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan pengelolaan habitat dan
populasi.
h. Pengembangan dan penerapan skema pengelolaan populasi dan habitat setasea
dalam kerangka memfungsikan secara optimal TNP Laut Sawu sebagai koridor
utama;
1) Tersedianya data dan informasi tentang sebaran, pola hidup dan dinamika
serta ancaman terhadap habitat dan populasi Setasea di perairan TNP L Sawu
dan sekitarnya
2) Tersusunnya skema pengelolaan Setasea di perairan TNP L Sawu terasuk
identifikasi dan pengaturan alat tangkap, musim (selama migrasi paus),
pengaturan aktifitas penangkapan (terutama ikan tuna) dan kode etik untuk
menghindarkan by-catch; identifikasi dan pengaturan alur pelayaran tertentu
dan koridor Setasea untuk lintasan kapal,, pengaturan eksplorasi
pertambangan (pembatasan seismik, dsb.).
3) Terkoordinasinya pengaturan dan pelaksanaan penggunaan perairan TNP L
Sawu antar stakeholder kunci sekaligus komitmen dan partisipasi termasuk
dalam penggunaan alur lintasan, pengendalian polusi dan pemantauan dalam
rangka menjamin kelestarian habitat dan populasi Setasea.
4) Memperkuat hukum adat yang memiliki nilai konservasi Setasea yang tinggi.
i. Pengembangan dan penerapan sistem pengawasan dan pengamanan kawasan yang
effektif dalam kerangka menunjang pengelolaan TNP L Sawu yang fungsional;
1) Tersedianya peta ancaman dan kerawanan terhadap sumberdaya kawasan serta
perbaharuannya secara berkala.
2) Tersusunnya skema pengamanan kawasan yang disusun secara kolaboratif
antar stakeholder kunci.
3) Tersusunnya protokol pengamanan terpadu
4) Terbentuknya tim pengamanan terpadu antar lembaga penegakan hukum dan
komponen masyarakat serta dukungan sarana-prasarana yang memadai.
5) Terlaksananya pengawasan dan pengamanan kawasan secara terpadu
berdasarkan ketentuan yang sesuai dan berlaku serta evaluasi secara berkala
untuk mengukur effektivitasnya serta dampaknya terhadap kelestarian
sumberdaya.

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

43

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


j. Perumusan dan penerapan regulasi, perangkat dan penegakan hukum yang kuat,
komprehensif dan effektif serta memperhatikan kearifan local dalam kerangka
menunjang pengelolaan TNP L Sawu yang fungsional.
1) Tersusunnya peraturan perundang-undangan yang mendukung efektifitas
pengelolaan TNP L Sawu berdasarkan kajian komprehensif dan konsultasi
para pihak, termasuk peraturan adat setempat yang dapat memperkuat hukum
positif.;
2) Tersosialisasinya peraturan perundang-undangan kepada masyarakat dan
penegak hukum;
3) Terlaksananya komitmen penerapan para penegak hukum dan masyarakat
dalam penegakan hukum secara konsisten serta evaluasinya dalam rangka
meningkatkan effektivitas pengelolaan sumberdaya TNP L Sawu secara
berkesinambungan
k. Pengembangan sumberdaya manusia yang kompeten dan berdedikasi dalam
kerangka menunjang pengelolaan TNP L Sawu yang fungsional.
1) Teridentifikasinya kebutuhan SDM dan kompetensinya untuk peningkatan
kapasitas untuk pengelolaan effektif TNP Laut Sawu
2) Tersusunnya rancangan skema peningkatan kapasitas SDM untuk pengelolaan
TNP L Sawu dengan mengutamakan peningkatan kompetensi serta SDM di
daerah.
3) Terkonsolidasinya komitmen para pihak untuk meningkatkan kapasitas SDM
pengelolaan serta dukungannya dalam penerapannya.
4) Terlaksananya program peningkatan kapasitas SDM untuk pengelolaan TNP
L Sawu yang fungsional melalui berbagai jalur, termasuk pendidikan,
pelatihan, magang, pendampingan, perbantuan tenaga ahli, penjenjangan karir,
dsb

Misi 3.: Mengeintegrasikan fungsi kawasan dengan pembangunan wilayah Provinsi Nusa
Tenggara Timur, dengan sasaran:
a. Penguatan status titik referensi sebagai titik ikat batas kawasan TNP Laut Sawu;
1) Kesepakatan bersama antara pengelola TNP Laut Sawu dan Pemerintah
Provinsi NTT sera pemerintah Kabupaten/Kota di dalam dan sekitar kawasan
TNP Laut Sawu yang dituangkan dalam Berita Acara serta tercantum secara
jelas dalam peta batas TNP yang menjadi acuan para pemangku kepentingan;
2) Pada setiap titik referensi batas dilengkapi dengan tanda berupa pelampung
dan atau lampu suar.
b. Penguatan penataan dan penetapan zonasi TNP Laut Sawu sebagai bagian
integral dari sistem penataan ruang nasional, provinsi dan kabupaten/kota;
1) Menyeleraskan RTRWP/K, tata ruang laut dan pesisir dan zonasi TNP laut
Sawu;
2) Menyerasikan pola pemanfaatan dalam kawasan TNP Laut Sawu sesuai
dengan RPJPP&M di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota;
3) Mengesahkan dokumen rencana Zonasi TNP Laut Sawu oleh Dirjen KP3K
dan diketahui oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur dan Forum Konsultasi
masyarakat NTT;

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

44

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


4) Mengintegrasikan Zonasi TNP Laut Sawu dalam Tata Ruang Wilayah
Provinsi Nusa Tenggara Timur serta Kabupaten/Kota di dalam dan sekitar
TNP Laut Sawu dan menjadi acuan bagi para pihak didalam implementasinya;
5) Tersedianya tanda/rambu-rambu zonasi di lapangan dan panduan pengetahuan
pengenalan batas zonasi TNP Laut Sawu;
6) Dokumen rencana zonasi TNP Laut Sawu dapat diketahui dan dipahami oleh
pemangku kepentingan dan masyarakat
c. Pewujudan pengelolaan alur pelayaran, jaringan pipa dan kabel bawah laut;
1) Mengelola kerentanan alur pelayaran dan Alur Laut Kepulauan Indonesia
(ALKI) terhadap pengelolaan TNP Laut Sawu serta mengintegrasikan
jaringan pipa dan kabel bawah laut dengan menjadikannya sebagai aset
pendukung terhadap pengelolaan kawasan untuk meningkatkan pertumbuhan
ekonomi kawasan dan pengembangan wilayah serta mempertahankan
pertahanan dan keamanan nasional;
2) Mensinergikan pengelolaan TNP Laut Sawu dengan wilayah ALKI dan alur
pelayaran kapal.
d. Pewujudan pengelolaan sumber pencemaran dari daratan;
1) Penguatan regulasi/peraturan untuk kualitas air dalam TNP Laut Sawu dan
peraturan kearah darat;
2) Mengidentifikasi aktivitas-aktivitas yang berdampak pada ekosistem laut di
dalam TNP Laut Sawu;
3) Mempelajari DAS dan ekosistem mangrove selama musim kering dan basah,
aliran sungai, muara, daerah di dekat pembangunan perkotaan, desa, tambang,
dan segala jenis eksploitasi yang dapat mempengaruhi kualitas air di dalam
TNP Laut Sawu.

Misi 4.: Memantapkan sistem pengelolaan TNP Laut Sawu yang berbasis ekosistem,
kehati-hatian, keterpaduan, adaptif dan partisipatif, dengan sasaran:
a. Pengembangan institusi pengelola TNP Laut Sawu;
1) Hasil assesment tentang struktur organisasi pengelelola TNP Laut Sawu yang
sesuai dengan kebutuhan pengelolaan TNP Laut Sawu dan terisi oleh tenaga
profesional.
2) Penetapan lembaga pengelola professional dan mandiri menuju kea rah
lembaga Badan Layanan Umum
b. Pengembangan profesionalisme sumberdaya manusia (SDM) yang mampu
mendukung pengelolaan TNP Laut Sawu;
1) Adanya uraian tugas dan jabatan untuk setiap formasi;
2) Daftar kualifikasi dan jumlah kebutuhan pegawai;
3) Hasil assessment atas kebutuhan pendidikan, pelatihan, penyegaran yang
sesuai dengan standar minimum pengelolaan;
4) Terlaksananya pelatihan-pelatihan berdasarkan analisa kebutuhan
5) Daftar kebutuhan pendidikan, pelatihan, penyegaran yang sesuai dengan
standar minimum pengelolaan;
6) Ada rencana promosi dan mutasi pegawai yang jelas;
7) Adanya pedoman tentang pembinaan (mentoring dan conselling) bagi setiap
pegawai (hubungan bawahan atasan);

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

45

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

c.

d.

e.

f.

g.

8) Adanya mekanisme penilaian kinerja, pemberian sanksi dan penghargaan


yang jelas dan proporsional.
Peningkatan sarana dan prasarana pengelolaan TNP Laut Sawu:
1) Tersedianya sarana prasarana pengelolaan TNP Laut Sawu sesuai dengan
kebutuhan dan stndar;
2) Terpeliharanya sarana prasarana;
3) Adanya kriteria kelayakan operasional sarana prasarana (kepentingan
replacement).
Pengembangan sistem pendanaan yang berkelanjutan;
1) Tersedianya analisa kebutuhan pendanaan yang rasional;
2) Adanya standarisasi pembiayaan untuk setiap jenis kegiatan pengelolaan;
3) Adanya analisa peluang penggalangan sumber pendanaan yang berkelanjutan;
4) Tersedianya mekanisme pendanaan alternative;
5) Pengelolaan keuangan yang professional, transparan dan akuntabel.
Pengembangan sistem perencanaan, monitoring dan evaluasi pengelolaan TNP
Laut Sawu:
1) Tersusunnya rencana pengelolaan jangka menengah dan pendek (setiap 5 dan
1 tahun) TNP Laut Sawu yang bisa dijadikan acuan bagi para pihak;
2) Tersusun dan terlaksananya sistem monitoring dan evaluasi pengelolaan TNP
Laut Sawu sebagai umpan balik perencanaan dan pengelolaan.
Pengembangan mekanisme kerjasama pengelolaan dengan para pihak:
1) Tersedianya analisa kebutuhan jenis kegiatan yang akan dikerjasamakan dan
tersosialisasikan kepada publik;
2) Tersedianya panduan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan
kerjasama;
3) Adanya analisa dan identifikasi profil parapihak dalam rangka pengembangan
kerjasama.
4) Terbangunnya kerjasama dengan kelembagaan lokal
Pengembangan sistem pengelolaan kolaboratif TNP Laut Sawu:
1) Adanya analisa peran parapihak dalam pengelolaan kolaboratif yang
mengakomodir semua kepentingan di tingkat nasional, Provinsi Nusa
Tenggara Timur serta Kabupaten/Kota di dalam sekitar TNP Laut Sawu;
2) Terwujudnya kesepahaman para pihak tentang sistem pengelolaan kolaboratif;
3) Terbentuknya kelembagaan dan mekanisme pengelolaan kolaboratif yang
mewakili kepentingan para pihak;
4) Adanya mekanisme monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan
pengelolaan kolaboratif sesuai dengan kebutuhan yang adaptive.

D. Analisis Lingkungan Strategis


Strategi dan kebijakan TNP Laut Sawu diarahkan pada 1) pembangunan di wilayah
pesisir, pulau-pulau kecil, harus memenuhi kriteria pembangunan berkelanjutan
(sustainable development); 2) penerimaan devisa negara melalui pemanfaatan sumber
daya kelautan dan perikanan termasuk jasa-jasa kelautan; 3) mendorong ekonomi lokal
untuk tumbuh dan menciptakan lapangan kerja dengan mendayagunakan sumber daya
yang tersedia secara baik, 4) perbaikan gizi masyarakat melalui peningkatan konsumsi
ikan; 5) menjaga kelestarian sumber daya.
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

46

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


LINGKUNGAN
INTERNAL

LINGKUNGAN
EKSTERNAL

Kekuatan (strength)
a. UPT/BKKPN Kupang
b. Peraturan Perundangan
bidang Kelautan dan perikanan
c. Potensi Kawasan TNP Laut
Sawu
d. Jumlah Sumber Daya
Manusia
Peluang (Opportunity)
a. Komitmen Pimpinan
Nasional dan daerah
b. Adanya dukungan dan para
pihak (Pemerintah Provinsi
dan Kabupaten/Kota, LSM,
swasta, universitas )
c. Dukungan masyarakat
terhadap konservasi
d. Wisata bahari dan budaya
yang cukup tinggi

Kelemahan ( Weakness )
a. Petunjuk opreasional dan teknis
b.Kualitas Sumber daya manusia
c. Dana operasional pengelolahan
(anggaran) yang tidak memadai
d. Sarana dan prasarana yang
belum memadai

Ancaman (Threat)
a. Perubahan Iklim : Kenaikan
muka air laut dan kenaikan suhu
permukaan laut (menyebabkan
bleaching dan penyakit).
b. Polusi : Plastik, limbah kimia,
suara
c. Gangguan keamanan kawasan
oleh kapal nelayan dari luar
kawasan Penangkapan ikan
ilegal (Illegal fishing), merusak
dan penangkapan ikan berlebih
(overfishing).
d.DampakPembangunan,
sedimentasi,konversi,pelayaran,
terhadap keutuhan ekosistem

Identifikasi kekuatan pendorong dan penghambat


Faktor
internal

Faktor
eksternal
Peluang (Opportunity)
a. Komitmen Pimpinan
Nasional dan daerah
b. Adanya dukungan dan para
pihak (Pemerinta Provinsi, dan
Kabupaten/Kota, LSM, swasta,
universitas )
c. Dukungan masyarakat
terhadap konservasi
d. Wisata bahari dan budaya
yang cukup tinggi

Kekuatan (strength)
a. UPT/BKKPN Kupang
b. Peraturan Perundangan bidang
Kelautan dan perikanan
C. Potensi Kawasan TNP Laut Sawu
d. Jumlah Sumber Daya Manusia

Kelemahan ( Weakness )
a. Petunjuk opreasional dan teknis
b. Kualitas Sumber daya manusia
c. Dana operasional pengelolahan
(anggaran) yang tidak memadai
d. Sarana dan prasarana yang
belum memadai

Pendorong
Strategi
a. Koordinasi dengan instansi terkait
dalam rangka perlindungan dan
pengawasan TNP Laut Sawu
b. Koordinasi dengan Pemerintah
daerah dalam rangka pengelolaan
pariwisata
c. Koordinasi dengan Pemeritah
daerah dalam rangka peningkatan
kesejahteraan masyarakat di sekitar
TNP Laut Sawu

Status Quo
Strategi
a. Capacity building(peningkatan
kapasitas) secara kontinyu tenaga
SDM yang ada melalui pendidikan
dan pelatihan sehingga mempunyai
kemampuan dan kualifikasi yang
memadai
b. Membuka peluang kerjasama
dengan berbagai organisasi/lembaga
terkait lainnya baik di lingkup
nasional maupun internasional serta
lebih meningkat apresiasi para pihak
untuk lebih peduli pada TNP Laut
Sawu
C. Pengembangan dan
penambahan fasilitas dan
infrastrukturyang mendukung
pelaksanaan kegiatan kegiatan yang
dilaksanakan oleh TNP Laut Sawu,
serta perawatan perlengkapan dan
fasilitas secara berkala untuk
menghindari kerusakan dan ongkos
perbaikan yang mahal

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

47

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


Ancaman (Threat)
a. Perubahan Iklim : Kenaikan
muka air laut dan kenaikan
suhupermukaanlaut
(menyebabkanbleaching
dan penyakit).
b. Polusi : Plastik, limbah
kimia, suara
c. Gangguankeamanan
kawasan oleh kapal nelayan
dariluarkawasan,
penangkapan ikan ilegal
(Illegal fishing), merusak
dan penangkapan ikan
berlebih (overfishing).
d. DampakPembangunan,
sedimentasi,konversi,pelaya
ran, terhadap keutuhan
ekosistem

Status Quo
Strategi
a. Peningkatan kualitas dan kuantitas
kegiatan pengawasan dan pengamanan
kawasan dengan dukungan sumber
daya manusia yang berkualitas, sarana
prasarana pengamanan,dana
operasioanal yang memadai di dukung
dengan sistem pengamanan terpadu
dan efektif serta koordinasi dan
kerjasama yang mantap dengan
institusi penegak hokum lainnya
b. Mengoptimalkan sarana dan
prasarana

Penghambat
Strategi
a.Meningkatkan koordinasi dengan
instansi terkait dalam rangka
pengamanan kawasan

E. Landasan Hukum
Pengelolaan TNP Laut Sawu berlandaskan kepada peraturan perundangan yang berlaku
sebagai berikut :
1. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4433);
2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 1125, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah, terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4739);
3. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4725);
4. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 84,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4739);
5. Undang-undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang pengelolaan Lingkungan Hidup
6. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumberdaya
Ikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 134, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4779);
7. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan,
Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik
Indonesia sebagaimana telah diubah, terakhir dengan Peraturan Presiden Republik
Indonesia Nomor 20 Tahun 2008;
8. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Tugas
Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah diubah,
terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2008;
9. Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 sebagaimana telah diubah,
terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 58/M Tahun 2008;
______________________________________________________________________________48

RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


10. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.07/MEN/2005 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kelautan dan Perikanan sebagaimana
telah diubah, terakhir dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor
PER.04/MEN/2009;
11. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.17/MEN/2008 tentang
Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil;
12. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.02/MEN/2009 tentang
Tata Cara Penetapan Kawasan Konservasi Perairan;
13. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor Kep.38/Men/2009 tentang
Pencadangan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Laut Sawu dan Sekitarnya
di Provinsi Nusa Tenggara Timur

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

49

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


BAB IV
PROGRAM DAN KEGIATAN PENGELOLAAN
1. Program
Berdasarkan visi, misi, tujuan, sasaran dan kebijakan pengelolaan TNP Laut Sawu, maka
program pembangunan pengelolaan jangka panjang TNP Laut Sawu meliputi 5 (lima)
program yang mengacu pada program pembangunan nasional, program pembangunan
Kementerian Kelautan dan Perikanan, program pembangunan bidang KP3K dan program
pembangunan Provinsi NTT.
Tujuan pembangunan jangka panjang tahun 20052025 adalah mewujudkan bangsa yang
maju, mandiri, dan adil sebagai landasan bagi tahap pembangunan berikutnya menuju
masyarakat adil dan makmur dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun1945. Sebagai
ukuran tercapainya Indonesia yang maju, mandiri, dan adil, pembangunan nasional dalam
20 tahun mendatang diarahkan pada pencapaian sasaran-sasaran pokok untuk mencapai
visi dan misi pembangunan tersebut. Untuk mencapai sasaran pokok sebagaimana
dimaksud di atas, pembangunan jangka panjang membutuhkan tahapan dan skala
prioritas yang akan menjadi agenda dalam rencana pembangunan jangka menengah.
Setiap sasaran pokok dalam delapan misi pembangunan jangka panjang dapat ditetapkan
prioritasnya dalam masing- masing tahapan. Dalam mewujudkan visi pembangunan
nasional tersebut ditempuh melalui 8 (delapan) misi pembangunan nasional sebagai
berikut:
1. Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan
beradab berdasarkan falsafah Pancasila.
2. Mewujudkan bangsa yang berdaya-saing
3. Mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan hukum
4. Mewujudkan Indonesia aman, damai, dan bersatu
5. Mewujudkan pemerataan pembangunan dan berkeadilan
6. Mewujudkan Indonesia asri dan lestari
7. Mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri, maju,kuat, dan
berbasiskan kepentingan nasional
8. Mewujudkan Indonesia berperan penting dalam pergaulan dunia internasional

Kementerian Kementerian Kelautan dan Perikanan telah mengembangkan suatu Grand


Strategy (The Blue Revolution Policies) yang mengarah kepada:
1. Memperkuat Kelembagaan dan SDM secara Terintegrasi.
2. Mengelola Sumberdaya laut secara Berkelanjutan.
3. Meningkatkan Produktivitas dan Daya Saing Berbasis Pengetahuan.
4. Memperluas Akses Pasar Domestik dan Internasional.
Terkait dengan itu Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (KP3K)
telah mengembangkan suatu program Mengelola Sumberdaya laut secara Berkelanjutan
melalui:

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

50

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


1. Pemanfaatan sumberdaya laut secara optimal dan berkelanjutan.
2. Konservasi kawasan dan jenis biota perairan yang dilindungi dikelola secara
berkelanjutan.
3. Pengembangan pulaupulau kecil menjadi pulau bernilai ekonomi tinggi.
4. Membebaskan Indonesia dari kegiatan Illegal, Unreported & Unregulated (IUU)
Fishing serta kegiatan yang merusak sumberdaya laut.
BKKPN Kupang sebagai UPT di daerah menjabarkannya dalam program yaitu :
1. Memelihara daya dukung sumberdaya laut serta meningkatkan kualitas
lingkungan kawasan konservasi perairan nasional
2. Meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat didalam dan sekitar
kawasan konservasi perairan
3. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga ekosistem baik
jenis dan genetiknya
4. Memberi motivasi kepada masyarakat untuk ikut aktif langsung, baik secara
berkelompok maupun individu untuk menjaga lingkungan perairan sekitarnya
5. Mengembangkan konservasi sumber daya ikan melalui upaya perlindungan,
pelestarian dan pemanfaatan yang berkelanjutan pada level ekosistem, jenis dan
genetik

Pemerintah Provinsi NTT dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah berdasarkan


kondisi wilayah dan masyarakat NTT, dan menurut perkembangan selama dasawarsa
terakhir, serta memperhatikan berbagai kemajuan, tantangan dan ancaman pembangunan
selama dua dasawarsa ke depan maka visi Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur
2005-2025 dirumuskan sebagai berikut: NUSA TENGGARA TIMUR YANG MAJU,
MANDIRI, ADIL DAN MAKMUR DALAM BINGKAI NEGARA KESATUAN
REPUBLIK INDONESIA. Untuk mencapai visi di atas, yang memuat tujuan
pembangunan yang sarat dengan makna, maka misi pembangunan merupakan usaha
konkret interpretasi untuk mewujudkan visi pembangunan yang masih umum dan
abstrak, maka disusunlah misi pembangunan NTT selama periode tersebut sebagai
berikut:
1. Mewujudkan masyarakat NTT yang bermoral, beretika, berbudaya dan
beradab berdasarkan falsafah Pancasila;
2. Mewujudkan manusia NTT yang berkualitas dan berdaya saing global;
3. Mewujudkan masyarakat NTT yang demokratis berlandaskan hukum;
4. Mewujudkan NTT sebagai wilayah yang berketahanan ekonomi, social
budaya, politik dan keamanan;
5. Mewujudkan NTT sebagai wilayah yang memiliki keseimbangan dalam
pengelolaan lingkungan;
6. Mewujudkan posisi dan peran NTT dalam pergaulan antar negara, daerah dan
masyarakat;
7. Mewujudkan Nusa Tenggara Timur sebagai provinsi kepulauan dan
masyarakat maritime

Dua agenda penting yang berkaitan dengan pengelolaan TNP Laut Sawu dalam RPJMD
termuat dalam agenda ketiga pembangunan ekonomi dan agenda keenam konsolidasi tata
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

51

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


ruang dan lingkungan hidup. Agenda ketiga pembangunan ekonomi, kebijakan
pembangunan ekonomi diarahkan pada antara lain :
1. Membuka lapangan kerja baru pada sektor-sektor ekonomi yang dapat menyerap
tenaga kerja
2. Membuka dan memperluas pemasaran bagi produk-produk pertanian dan
perikanan serta hasil industrinya.
3. Menciptakan iklim investasi dan usaha yang kondusif dalam sektor ekonomi
unggulan
4. Mengurangi ekonomi biaya tinggi dalam perdagangan dan distribusi produkproduk pertanian dan olahannya.
5. Meningkatkan kapasitas dan kerjasama kelembagaan petani/nelayan untuk
melindungi petani dari permainan harga.
6. Mengembangkan produk unggulan daerah berbasis klaster dan pemberdayaan
ekonomi lokal
7. Meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk pertanian, perikanan dan
kehutanan
8. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pangan, baik sumber energi maupun
protein hewani (ternak dan ikan).
9. Meningkatkan pengawasan dan pengamanan sumberdaya ikan.
10. Mengembangkan industri pariwisata berbasis pariwisata bahari dan kepulauan
(coastal tourism).

Selain itu pada agenda keenam konsolidasi tata ruang dan lingkungan hidup kebijakan
pembangunan provinsi NTT diarahkan pada :
1. Menyeralaskan kebijakan penataan ruang Nasional, wilayah Provinsi dan
wilayah Kabupaten/Kota;
2. Melakukan review Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi NTT, sesuai dengan
regulasi dan kondisi terkini;
3. Memantapkan konsolidasi terhadap produk hukum, dokumen rencana tata ruang
wilayah, rencana detail tata ruang kawasan dan rencana teknis tata ruang
kawasan agar lebih komprehensif dan sinergis dan sejalan dengan
kecenderungan perubahan yang terjadi,
4. Menjabarkan Rencana Tata Ruang Wilayah kedalam Rencana Detail Kawasan
dan Rencana Teknis Kawasan, sesuai dengan kebutuhan pembangunan wilayah,
5. Mensosialisasikan produk hukum dan rencana tata ruang yang telah ada;
6. Mensinergikan dan mengoptimalkan pemanfaatan rencana tata ruang dengan
rencana sektoral,
7. Meningkatkan peran penegakan hukum dalam pemanfaatan dan pengendalian
pemanfaatan ruang serta kesesuaian antara status kepemilikan lahan dengan
arahan rencana tata ruang;
8. Mengotimalkan peran Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah Provinsi NTT
dalam perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang;
9. Mengembangkan sistem informasi tata ruang untuk kepentingan perencanaan,
pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang.

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

52

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


2. Kegiatan Pokok Pengelolaan
Dalam mengimplementasikan masing-masing program yang berkaitan dengan
pembangunan pengelolaan TNP Laut Sawu ditetapkan kegiatan pokok, yaitu:
1) Program Pengelolaan dan Konservasi Sumber Perikanan dan Kelautan, dengan
kegiatan pokok:
a. Penetapan kawasan TNP Laut Sawu yang professional
b. Pengelolaan kawasan TNP Laut Sawu;
c. Pengelolaan perikanan tangkap dan budidaya laut;
d. Pengelolaan keanekaragaman hayati dan ekosistem TNP Laut Sawu;
e. Perlindungan, pengawasan dan pengamanan kawasan;
f. Pengembangan industri kelautan yang lestari
g. Pengembangan pemanfaatan jasa lingkungan dan wisata alam;
h. Pengembangan Sistem Pemantauan dan Penanggulangan bencana alam
i. Pengembangan Pengelolaan laut dalam
j. Pengembangan mekanisme menghadapi perubahan iklim
k. Pengelolaan populasi setasea
l. Pengelolaan sumber pencemaran dari daratan
m. Penelitian, pengembangan dan penerapan ilmu dan teknologi kelautan.
n. Pengembangan mekanisme monitoring dan evaluasi
2) Program Pengembangan Kapasitas Pengelolaan Sumberdaya laut, dengan
kegiatan pokok:
a. Peningkatan kapasitas kelembagaan pengelola TNP Laut Sawu ;
b. Perencanaan dan pengendalian pengelolaan;
c. Pengembangan kelembagaan mandiri berbentuk Badan Layanan Umum
d. Pengembangan sistem pengelolaan kolaborasi;
e. Pengembangan kerjasama kemitraan pengelolaan TNP Laut Sawu;
f. Pendanaan pengelolaan TNP Laut Sawu;
g. Penyelenggaraan urusan tata usaha & rumah tangga perkantoran;
h. Pengembangan peraturan yang mendukung pengelolaan TNP Laut Sawu
3) Program Penyadaran, Peningkatan Partisipasi dan Pemberdayaan Masyarakat di
Dalam dan Sekitar TNP Laut Sawu, dengan kegiatan pokok:
a. Peningkatan kesadaran masyarakat dan pendidikan lingkungan;
b. Pengembangan partisipasi masyarakat;
c. Pemberdayaan masyarakat pesisir
d. Pengembangan mata pencaharian yang berkelanjutan
e. Pengembangan upaya pemanfaatan perikanan yang berkelanjutan
f. Penguatan kelembagaan dan kelompok masyarakat
g. Pengembangan Desa Mandiri Pesisir
4) Program Peningkatan Akses Informasi Sumberdaya laut, dengan kegiatan
pokok:
a. Pengembangan sistem informasi dan komunikasi TNP Laut Sawu
b. Pengembangkan Bank Data TNP Laut Sawu
5) Program Pengembangan lainnya
a. Pengelolaan pelayaran
b. Pengembangan jejaring kawasan konservasi perairan

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

53

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


3. Rencana Kegiatan Pengelolaan (Rincian dari kegiatan pokok pengelolaan)
Pengelolaan kawasan harus memperhatikan daya dukung dan hubungan dari potensi
sumberdaya alam dan kegiatan yang telah ada saat ini. Potensi ini sangat didukung oleh
keberadaan ekosistem yang masih eksis. Standar pelayanan minimal Pengelolaan TNP
Laut Sawu dilakukan dengan memperhatikan standar pelayanan minimal Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, yang meliputi aspek pelayanan dalam
perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan perencanaan Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
Berdasarkan kegiatan pokok pengelolaan TNP Laut Sawu maka diuraikan dalam bentuk
kegiatan-kegiatan pengelolaan berdasarkan skala prioritas pengelolaan setiap 5 (lima)
tahun dalam kerangka pengelolaan jangka panjang TNP Laut Sawu ke depan, yaitu:
3.1 Program Pengelolan dan Konservasi Sumberdaya laut, dengan kegiatan pokok:
3.1.1 Penetapan kawasan TNP Laut Sawu yang professional
Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No
PER.02/MEN/2009 tentang tata cara penetapan kawasan konservasi perairan,
setelah dicadangkan maka harus memenuhi beberapa hal. TNP Laut Sawu adalah
kawasan konservasi perairan yang mempunyai ekosistem asli yang dimanfaatkan
untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, kegiatan yang menunjang
perikanan berkelanjutan, wisata perairan dan rekreasi.
Penetapan TNP Laut Sawu sebagai Kawasan Konservasi Perairan akan dilakukan
setelah tersedianya informasi dan data yang cukup meliputi lokasi dan luas
kawasan konservasi perairan dengan batas-batas koordinat yang jelas, satuan unit
organisasi di tingkat pemerintah untuk melakukan pengelolaan, evaluasi oleh
pejabat yang ditunjuk terhadap beberapa aspek. Setelah sweluruh unsure
pendukung penetapan terpenhui selanjutnya Menteri dapat mengeluarkan aturan
penetapan untuk selanjutnya mengumumkan dan mensosialisasikan kepada
masyarakat dan menunjuk panitia penataan batas kawasan yang terdiri dari unsurunsur pejabat pemerintah dan pemerintah daerah.

3.1.2 Pengelolaan kawasan TNP Laut Sawu


Pengelolaan kawasan TNP Laut Sawu dilaksanakan dalam rangka efektifitas
pengelolaan yang bertujuan untuk memperoleh kepastian hukum yang jelas
dengan pembagian ruang-ruang pengelolaan berdasarkan fungsi peruntukan yang
diwujudkan ke dalam bentuk kegiatan evaluasi fungsi kawasan, rekonstruksi batas
luar kawasan dan penataan zonasi TNP Laut Sawu
Upaya membangun Pengelolaan TNP haruslah didasarkan atas aturan-aturan
tertulis serta prinsip-prinsip yang dapat menjamin keberlangsungan keberadaan
Lembaga Pengelola TNP secara jangka panjang, yang diterima oleh para
pemangku kepentingan. Adapun prinsip-prinsip yang perlu dikembangkan dalam
kelembagaan pengelolaan TNP adalah: sikap keterbukaan, Berbasis kepada
kebutuhan para pemangku kepentingan, Jenjang pengawasan yang efektif dengan
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

54

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


struktur yang efisien, dapat dipertanggungjawabkan, kejelasan wilayah
kewenangan pengelolaan, berikut peran dan tanggung jawab berdasar protokol
yang menunjang, Adanya kelengkapan protokol yang mengatur sistem TNP,
mengakomodasi dan memfasilitasi norma dan lembaga setempat, dikelola secara
profesional dan legal, menerapkan prinsip dan norma hukum dalam rangka
pengelolaan.
Usaha-usaha pengelolaan kawasan guna mendukung system penyangga
kehidupan di TNP Laut Sawu, dengan memperhatikan kegiatan yang ada saat ini,
maka pembinaan daya dukung sumberdaya yang tidak bisa ditinggalkan, adalah:
1) perlindungan sumberdaya alam dari eksploitasi yang tidak terkendali terutama
di zona inti, termasuk zona perikanan perikanan berkelanjutan serta pengelolaan
dan perlindungan keanekaragaman keanekaragaman hayati dari ancaman
kepunahan; 2) rehabilitasi ekosistem dan habitat yang rusak di pesisir (terumbu
karang, mangrove, padang lamun, dan estuaria); 3) pengembangan teknologi
berwawasan lingkungan, termasuk teknologi tradisional dalam pengelolaan
sumberdaya alam, pengelolaan limbah, dan teknologi yang ramah lingkungan; 4)
pengembangan pola pemanfaatan sumberdaya yang berbasiskan masyarakat

3.1.3 Pengelolan Perikanan Tangkap dan Budidaya Laut


Perikanan merupakan salah satu sektor ekonomi penting bagi masyarakat di
wilayah pesisir TNP Laut Sawu, khususnya masyarakat nelayan dan
pembudidaya. Dengan melihat potensi yang ada, maka sektor perikanan dan
kelautan menjanjikan prospek yang cukup baik bagi peningkatan kesejahteraan
masyarakat melalui perolehan pendapatan asli daerah dari kegiatan pemanfaatan
sumberdaya perikanan. Secara umum dapat dilihat hingga saat ini hasil produksi
untuk sektor perikanan masih sangat bergantung pada jenis perikanan laut dan
belum diimbangi dengan kegiatan kegiatan budidaya perikanan. Untuk dapat
meningkatkan perekonomian masyarakat maka usaha-usaha budidaya ini perlu
untuk terus dikembangkan di samping tetap menjaga kelestarian sumberdaya
alam hayati tersebut dari kepunahan.

Strategi dalam pengelolaan sumberdaya perikanan dan budidaya laut dalam


rencana pengelolaan jangka panjang TNP Laut Sawu adalah sebagai berikut :
1) Mendorong pembuatan aturan/ batasan alat tangkap, ukuran ikan yang
ditangkap, daerah perikanan, dan musim tangkapan untuk mencapai perikanan
yang berkelanjutan berdasarkan hasil dari taksiran data statistik perikanan,
analisa ancaman kritis dan perencanaan para pemangku kepentingan yang
terlibat.
2) Memastikan informasi dan status terkini ancaman kritis, hasil tangkapan
perikanan, potensi sumberdaya daya kelautan dan perikanan tercatat dan
teranalisa dengan baik.
3) Memformulasikan kebutuhan aturan/batasan alat tangkap, ukuran ikan yg
ditangkap, daerah perikanan dan musim tangkap berdasarkan informasi
terkini.

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

55

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


4) Mendorong pembuatan sistem perijinan yang didukung oleh peraturan
perundang-undangan bagi kapal perikanan komersil yang beroperasi di
wilayah cadangan perikanan yang maksimum lestari berimbang yang dapat di
atur dan dikelola.
5) Sistem perijinan yang mendukung pengelolaan perikanan yang berkelanjutan
bidangg perikanan tangkap dan budidaya
6) Mencegah dan merintangi praktek perikanan yg menyalahi hukum, tidak
dilaporkan dan tidak di atur (IUU fishing) di dalam TNP Laut Sawu.
7) Pembinaan sarana dan prasarana perikanan budidaya melalui penyusunan
rencana, inventarisasi, identifikasi, analisis kebutuhan, dan pemanfaatan
sarana-prasarana perikanan budidaya serta bimbingan, pemanfaatan sarana
prasarana serta verifikasi dan pengujian lapangan
8) Melakukan kegiatan pengembangan dan teknologi perikanan budidaya
melalui penyusunan rencana, inventarisasi, identifikasi, kajian kebutuhan
teknologi dalam rangka optimalisasi perikanan budidaya.

Komoditi perikanan karang paling banyak dieksploitasi adalah gropuer (jenis


kerapu) snapper (jenis kakap) dan tuna. Jenis-jenis ikan ini memiliki harga jual
yang relatif lebih mahal dibandingkan lainnya dan belum ada pembatasan
penangkapan. Pola perdagangan ikan grouper dan snapper khusunya memiliki trend
lain yaitu pemasaran ikan dalam keadaan hidup. Sebagian nelayan menggunakan
racun/potassium untuk membius ikan sehingga dapat ditangkap dalam
keadaanhidup. Harga ikan hidup jauh lebih mahal dibandingkan ikan yang sudah
mati. Ikan tuna merupakan salah satu jenis ikan ekonomis penting di Indonesia dan
memiliki banyak permintaan dari pasar internasional. Jumlah permintaan tidak
dapat dipenuhi semua dari hasil penangkapan ikan tuna di Indonesia. Peningkatan
permintaan ini terutama disebabkan oleh adanya peningkatan masyarakat
mengkonsumsi ikan sejak dasawarsa terakhir ini. Tingginya permintaan ikan tuna
dengan harga yang relatif lebih mahal daripada jenis ikan-ikan lain, menyebabkan
armada penangkapan ikan tuna semakin banyak di Indonesia. Teknologi
penangkapan ikan tuna juga semakin maju. Kondisi menyebabkan masalah terhadap
sumberdaya perikanan tuna dunia, termasuk di perairan laut Indonesia. Umumnya
perairan Indonesia yang menjadi fishing ground ikan tuna, telah mengalami tangkap
jenuh (fully exploited), bahkan sudah mengalami tangkap lebih (overfishing).

Tekanan eksploitasi penangkapan yang dapat menyebabkan overfishing dan cara


menangkap destructive menjadi permasalahan utama dalam pengelolaan perikanan
karang. Kerusakan ekosistem terumbu karang akan menyebabkan sumberdaya ikan
karang berkurang sehingga perekonomian nelayan dari hasil penangkapan ikan
karang juga akan terganggu. Permasalahan ini harus diantisipasi melalui
pengelolaan perikanan karang berbasis ekosistem, metode penangkapan sampai
pada pola perdagangan yang harus memperhatikan sumber ikan yang bebas cara
tangkap merusak.
Pengelolaan perikanan karang berbasis ekosistem dan kebijakan perdagangan yang
memperhatikan aspek lingkungan memiliki ruang lingkup manjemen yang
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

56

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


komprehensif. Hal ini menyangkut pengelolaan kawasan secara menyeluruh.
Pengelolaan ini dapat diterapkan secara efektif pada suatu kawasan konservasi.
Pencadangan Laut Sawu sebagai Taman Nasional Perairan dapat menjadi
momentum dalam pengelolaan perikanan karang sesuai prinsip-prinsip ekosistem
dengan tetap memperhatikan aspek ekonomi dalam perdagangannya.
Peningkatan kapasitas tangkap nelayan dengan alat tangkap selektif dan
memperhatikan kondisi sumberdaya ikan, peningkatan prasarana perikanan, seleksi
zonasi TNP berdasarkan spawning, nursery dan fishing ground, pengawasan illegal
fishing, penegakan peraturan dan perizinan perikanan dan studi lanjutan
sumberdaya perikanan dan baseline data perikanan merupakan hal penting dalam
menjamin pengelolaan sumberdaya perikanan di TNP Laut Sawu.
Pengelola TNP Laut Sawu bersama para pemangku kepentingan lainnya harus
mammpu merencanakan operasional, mengendalikan dan mengevaluasi kegiatan
perikanan tangkap, pengawasan dan pengendalian sumber daya kelautan dan
perikanan, melalui pengembangan sarana dan prasarana, pengembangan teknologi
serta pengawasan dan pengendalian sumber daya kelautan dan perikanan,
berdasarkan ketentuan dan prosedur yang berlaku untuk pemanfaatan sumber daya
kelautan dan perikanan secara optimal dan berkelanjutan
3.1.4 Pengelolaan keanekaragaman hayati dan ekosistem TNP Laut Sawu
Pengelolaan keanekaragaman hayati dan ekosistem TNP Laut Sawu bertujuan
untuk melestarikan sumberdaya laut dan ekosistemnya sesuai tujuan penunjukan
dan penetapan TNP Laut Sawu, untuk dapat memenuhi fungsi perlindungan
sistem penyangga kehidupan, pengawetan dan keanekaragaman jenis serta
ekosistemnya, serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya kelautan dan
perikanan dan ekosistemnya secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan bagi
kepentingan penelitian ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya,
budaya, wisata alam dan peran serta masyarakat.
Hal ini akan diwujudkan ke dalam bentuk kegiatan survey dan monitoring
sumberdaya alam (ekologi kawasan, karang, mangrove, setasea, penyu, daerah
pemijahan ikan, habitat burung pantai, pola pemanfaatan sumberdaya alam dan
potensi wisata alam) dan pengelolaan ekosistem, habitat, dan populasi (pemulihan
ekosistem mangrove, restoking jenis ikan melalui kegiatan rehabilitasi, restorasi
dan pengembangan budidaya laut dan penangkaran satwa.
Eksplorasi survei-survei dan monitoring haruslah berjalan secara rutin, instensif
dan berkelanjutan, kegiatan survei dan eksplorasi diperlukan untuk mencari
potensi-potensi sumberdaya kelautan dan perikanan baru yang mungkin menjadi
kunci dalam pelestarian kawasan.
Monitoring yang berkelanjutan akan menjamin keterbaharuan data, sehingga
analisa mengenai status dan kondisi sumberdaya kelautan dan perikanan menjadi
lebih representatif. Survei dan monitoring yang dilakukan bukan hanya terhadap
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

57

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


sumberdaya kelautan dan perikanan tetapi juga interaksi dan dampak
pemanfaatannya.
3.1.5 Perlindungan dan pengamanan kawasan
Kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan TNP Laut Sawu difokuskan
pada pencegahan dan pemberantasan kejahatan pencurian atau pengambilan hasil
laut tanpa izin (illegal fishing) seperti penggunaan bahan peledak/bahan kimia
(potasium cyanida) dalam penangkapan ikan yang dapat menimbulkan kerusakan
ekosistem yang lebih luas baik dari segi ekonomi, ekologi, dan sosial budaya.
Beberapa faktor penyebab utama terjadinya illegal fishing adalah: (1) bahan
peledak/bahan kimia masih dianggap sebagai alat/bahan yang dapat
mendatangkan keuntungan besar dengan mudah dan cepat; (2) adanya jaringan
penadah hasil tangkapan Illegal fishing; (3) adanya jaringan pemasok bahan baku
peledak (Amonium nitrat) dan kimia (potassium cyanida); (4) lemahnya
penegakan hukum; (5) tingginya permintaan ikan hidup di luar negeri; (6) kondisi
sosial ekonomi masyarakat di dalam kawasan; serta (7) SDM, sarana prasarana
dan dana operasional perlindungan yang belum memadai.
Kerugian yang sangat besar dari segi ekologi dimana ratusan jenis tumbuhan,
karang dan satwa di di dalamnya terancam kelangsungan hidupnya dan untuk
memulihkan diri kembali membutuhkan waktu yang lama. Kepunahan satu unsur
akan mempengaruhi kondisi ekosistem karena fungsinya tidak bisa digantikan
oleh unsur yang lain. Kerugian yang nyata dan dapat langsung dilihat adalah
rusak/matinya rumput laut akibat penggunaan bahan kimia (potasium cyanida).
Oleh karena itu berbagai langkah/upaya untuk mengurangi, mencegah dan
memberantas kegiatan yang bersifat merusak serta peredaran tumbuhan dan satwa
yang dilindungi terus dilakukan secara fungsional maupun gabungan (kolaborasi)
bersama dengan Pemda disekitar kawasan TNP Laut Sawu, LSM serta berbagai
elemen masyarakat. Kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan TNP Laut
Sawu akan diwujudkan melalui kegiatan: 1) pengamanan kawasan baik yang
bersifat fungsional maupun gabungan dalam bentuk patroli rutin/reguler dan
patroli mendadak; 2) peningkatan kapasitas petugas pengawasan dan
kelembagaan perlindungan dalam bentuk pendidikan dan pelatihan, penyegaran,
studi banding dan magang bagi pengawaas perikanan dan PPNS; 3) proses
penyelesaian hukum atas perkara/kasus pelanggaran yang terjadi di dalam
kawasan TNP Laut Sawu.

Untuk menjamin terselenggaranya pengelolaan TNP Laut Sawu maka dengan


merujuk kepada penyelenggaraan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil secara terpadu dan berkelanjutan, dilakukan pengawasan terhadap
pelaksanaan ketentuan di bidang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil, oleh pejabat tertentu yang berwewenang di bidang pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sesuai dengan sifat pekerjaaannya dan diberikan
wewenang kepolisian khusus.
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

58

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


Pengawasan merupakan kegiatan yang dilakukan dalam rangka menjamin
tercapainya tujuan perencanaan pengelolaan Laut Sawu. Pengawasan ditujukan
kepada pengaturan, pembinaan dan pelaksanaan perencanaan pengelolaan Laut
Sawu serta standar pelayanan minimal Pengelolaan Laut Sawu secara terpadu dan
berkelanjutan. Pengawasan terhadap pengaturan dilakukan melalui peninjauan
keberadaan dan fungsi regulasi yang sudah disusun, dengan melihat konsistensi
penerapan, relevansi dan kemungkinan penyesuaiannya.
Pengawasan Pemerintah dan pemerintah daerah dilakukan dengan melibatkan
peranmasyarakat.Peranmasyarakatdapatdilakukanmelalui
POKMASWAS/SISWASMAS dengan menyampaikan laporan dan/atau
pengaduan kepada Pemerintah dan pemerintah daerah dan/atau pengaduan kepada
pihak yang berwenang. Dalam hal penyimpangan dalam penyelenggaraan
pengelolaan Laut Sawu pihak yang melakukan penyimpangan dapat dikenai
sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
3.1.6 Pengembangan industri dan jasa kelautan yang lestari
Pengelolaan dan pengembangan industri dan jasa kelautan di TNP Laut Sawu
diarahkan dalam memperkuat pembangunan di Provinsi NTT guna mendorong
ekonomi kerakyatan melalui penguatan sarana dan prasarana, ilmu dan teknologi
dan sumberdaya manusia sehinggamemperkuat peran serta masyarakat di dalam
dan sekitar TNP Laut Sawu. Optimalisasi industri dan jasa kelautan lestari lebih
diarahkan melalui pengembangan bioteknologi, energi baru dan terbarukan, air
murni dan sejenis.
3.1.7 Pengembangan pemanfaatan wisata bahari
Daya tarik wisata kawasan TNP Laut Sawu dapat dikelompokkan menjadi tiga,
yaitu : daya tarik wisata berbasis alam, wisata berbasis budaya dan kehidupan
masyarakat, serta daya tarik wisata berbasis wisata buatan. Beberapa dari
kawasan tersebut telah berkembang dan dikelola secara professional serta pangsa
pasarnya dari wisatawan mancanegara. Panorama bawah laut dengan berbagai
jenis ikan dan terumbu karang yang sangat indah merupakan produk utama yang
terdapat di kawasan ini. Jadi pengembangan obyek wisata yang akan dilakukan
terhadap pengembangan: wisata menyelam dunia, keragaman biota laut yang
tinggi, migrasi mamalia laut, berselancar, memancing wisata dan tempat
peneluran penyu utama.

Pengembangan pemanfaatan jasa lingkungan dan wisata alam di TNP Laut Sawu
dilaksanakan dalam rangka mengembangkan produk-produk jasa lingkungan dan
wisata alam yang mampu menghasilkan manfaat ekonomi dari sumberdaya alam
yang ada di dalam kawasan guna menyediakan ruang usaha bagi masyarakat,
pemerintah daerah dan dunia usaha dengan menciptakan iklim usaha yang
kompetitif, menciptakan infrastruktur dasar bagi pengembangan wisata yang
didukung dan diwujudkan dengan kegiatan promosi dan penyebaran informasi
potensi pariwisata TNP Laut Sawu (ekspose); pengembangan pengelolaan wisata,
pemberlakuan ijin dan karcis masuk serta adanya mekanisme perizinan dan
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

59

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


standarisasi bagi usaha pariwisata alam di zona pemanfaatan pariwisata TNP Laut
Sawu. Selain itu juga perlu dikembangkan potensi jasa lingkungan yang
bermanfaat bagi lingkungan dan msayarakat.
Kawasan TNP Laut Sawu mempunyai potensi dan daya tarik wisata yang sangat
tinggi, diantaranya adalah :
Kawasan TNP Laut Sawu merupakan koridor migrasi lebih dari 14 spesies
mamalia laut (paus, lumba-lumba dan dugong), dengan didukung bentang laut
dengan transisi kedalaman dari perairan dangkal ke perairan dalam hanya
beberapa ratus meter saja dari pantai sehingga sangat berpotensi untuk dijadikan
wisata melihat paus.
Diving dan snorkeling di Rote, Sabu dan beberapa tempat lainnya
Berselancar (surfing) dan berlayar (sailing) di Nembrala Kab. Rote.
Wisata pantai; Semua Kabupaten yang termasuk kawasan TNP mempunyai
pantai yang dijadikan obyek wisata pantai.

Peningkatan wisata memerlukan perencanaan dan pengelolaan cermat, termasuk


peraturan yang jelas, untuk menjamin terwujudmyua pariwisata yang
berkelanjutan, serta melindungi kelestarian sumberdaya alam yang merupakan
fondasi dari kegiatan wisata itu sendiri. Strategi dalam pengelolaan pariwisata
dalam rencana pengelolaan jangka panjang TNP Laut Sawu adalah mendorong
pembangunan pariwisata bahari yang ramah lingkungan dan berkelanjutan untuk
memastikan pelayanan jasa lingkungan yang memberikan manfaat secara ekologi,
ekonomi dan sosial terhadap masyarakat lokal.
3.1.8 Pengembangan sistem pemantauan dan penanggulangan bencana
Pengelola TNP Laut Sawu mengembangkan system pencegahan dan
penanggulangan bencana dan fenomena kelautan sebagai bagian yang terintegrasi
dengan system pencegahan dan penanggulangan bencana nasional. Bencana
kelautan yang disebabkan oleh fenomena alam yang perlu diwaspadai meliputi
gempa bumi, tsunami, rob, angin topan dan serangan hewan secara musiman.
Sedangkan pencemaran lingkungan yang harus diantisipasi adalah fenomena red
tide, pencemaran minyak, pencemaran logam berat, sampah, pestisida, limbah
domestic dan disperse termal.
3.1.9 Pengembangan pengelolaan laut dalam
Informasi dan pengetahuan tentang laut dalam (deep ocean) di TNP Laut Sawu
masih sangat sedikit jika tidak dapat dikatakan tidak ada. Hal ini menyebabkan
pengelolaan di laut dalam ditempatkan pada posisi yang kurang penting dikaitkan
dengan pengembangkan strategi pengelolaan TNP Laut Sawu. Pengelolaan laut
dalam membutuhkan pengumpulan data dan informasi serta evaluasi kritis untuk
memenuhi data dasar dan evaluasi yang benar.
Untuk meninjau status ekologi laut dalam, memerlukan informasi yang cukup
mendasar terutama yang relevan dengan pengelolaan dan penelitian kawasan
untuk diketahui yaitu kepekaan fauna terhadap dampak pengelolaan. Selanjutnya
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

60

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


sifat dan gradien biota laut yang tidak seragam mulai dari batas kedalaman lebih
dari 200 m dasar lereng benua harus diketahui untuk mengembangkan
pemantauan rencana dan peraturan yang berlaku. Kemudian proses
mempertahankan tingkat keanekaragaman jenis di laut-dalam harus diketahui
dampak yang mempengaruhinya, jika makanan benar-benar terbatas di laut
dalam, maka gangguan proses ketersediaan dan pemanfaatan mungkin merupakan
proses yang paling sensitif dari ekosistem laut dalam TNP Laut Sawu
3.1.10 Pengelolaan menghadapi perubahan iklim
Perubahan iklim merupakan ancaman besar bagi ekosistem laut, spesies, dan
produktivitas baik di daerah tropis maupun kutub. Ekosistem TNP Laut Sawu
tidak terkecuali juga akan menghadapi ancaman tersebut, tetapi dengan keadaan
alamnya, posisi dan pengelolaan yang baik maka ekosistem TNP laut Sawu akan
dapat bertahan hidup dari dampak perubahan iklim tersebut termasuk pemutihan
karang, kenaikan permukaan laut, naiknya kadar asam laut dan ancaman badai
tropis.
Hal penting untuk mengatasi dampak perubahan iklim perlu dipersiapkan sejak
dini, yakni dibutuhkan kesadaran bersama bahwa ancaman yang timbul harus
disikapi secara proaktif dengan mengembangkan dan menerapkan strategi
adaptasi dan membangun fleksibilitas yang cukup dalam sistem manajemen untuk
memungkinkan respon yang adaptif.
Pengelola TNP Laut Sawu akan mengontrol perubahan iklim tersebut dengan
menggunakan strategi antara lain; menerapkan strategi penyebaran resiko untuk
mengatasi ketidakpastian perubahan iklim, melindungi daerah-daerah kritis yang
tahan terhadap perubahan iklim dan yang berfungsi sebagai tempat perlindungan
untuk mensuplai daerah yang terkena dampak, memahami dan mempertahankan
konektivitas antara habitat untuk meningkatkan penambahan kembali secara
bersama-sama dan pemulihan untuk menjaga hubungan fungsional antar habitat
terkait serta mengelola ekosistem agar kesehatan dan ketahanannya tetap terjaga
dengan memonitor beberapa indikator keefektifan tindakan ini sebagai dasar bagi
pengelolaan adaptif.

3.1.11 Pengelolaan populasi setasea


TNP Laut Sawu sebagai bagian dari Ekoregion Sunda Kecil, adalah daerah di
Indonesia di mana upaya untuk mendapatkan informasi terkait dengan setasea
telah lama dilakukan baik terhadap untuk setasea kelautan dan habitat asosiasi
mereka "di perairan laut dan sekitar pesisir". Laut Sawu merupakan habitat
koridor kritis secara regional penting, bagi paus biru & paus sperma, yang juga
menggunakan Laut Sawu untuk makan dan melahirkan keturunan mereka. Paus
biru -hewan terbesar yang pernah hidup- dapat digunakan sebagai "flagship
spesies atau simbolis" untuk TNP Laut Sawu. Wisata mamalia laut & ekowisata
di NTT memiliki potensi tinggi. Paus dari Laut Sawu dapat mempromosikan
pembangunan pariwisata berbasis alam tersebut untuk kepentingan masyarakat
lokal. Beberapa lokasi di laut Sawu masih kekurangan informasi sehingga harus
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

61

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


segera dilengkapi dengan data melalui survei dan penelitian di kedua habitat
pesisir dan laut dan spesies. Upaya ini harus dikaitkan oleh pengelola TNP Laut
Sawu melalui membangun kapasitas pada semua aspek pengelolaan kolaborasi
tingkat lokal.
Untuk melestarikan paus dan spesies mamalia laut lainnya, upaya pengelolaan
khusus harus diterapkan terutama pada aktivitas di lepas pantai, industri pelayaran
dan perikaan skala besar. Pengurangan penggunaan jarring insang dan driftnet
dapat menghindari seperti by-catch dan terbelit jarring yang menjadi ancaman
utama untuk kehidupan hewan laut bermigrasi di Laut Sawu. Sebaliknya, pole
and line serta perikanan hand line ideal untuk kegiatan perikanan tangkap skala
besar di Laut Sawu.
Manajemen Berbasis Ekosistem (Ecosystems Based Management/EBM)
merupakan mekanisme yang efektif untuk mengelola Laut Sawu pemanfaatan dan
pelestarian sumberdaya. Manajemen Berbasis Ekosistem ini akan mendukung
pemanfaatan multi-aspek di TNP Laut Sawu melalui Sistem Zonasi yang jelas.
3.1.12 Penelitian, pengembangan dan penerapan ilmu dan teknologi kelautan.
Pengelola TNP Laut Sawu harus menunjang pengembangan ilmu pengetahuan
dan penelitian yang terkait dengan pengelolaan kawasan. TNP Laut Sawu perlu
bekerjasama dengan mitra dari LSM dan lembaga-lembaga penelitian. Strategi
pengelolaan pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian di TNP Laut Sawu
ini dengan merancang rencana pengembangan penelitian dan pendidikan di TNP
Laut Sawu seperti penelitian pemantauan degradasi dan rehabilitasi terumbu
karang, rehabilitasi terumbu karang dengan manipulasi substrat terumbu karang,
perilaku dan agregasi berpijah ikan ekonomis penting, pemanfaatan sumberdaya
terumbu karang dan konsekuensinya bagi pengelolaan kawasan konservasi,
dampak lingkungan kegiatan ekonomi alternatif di dekat kawasan konservasi, dll.

Bidang-bidang penelitian, pengembangan dan penerapan IPTEK kelautan


meliputi antara lain kegiatan penelitian dasar dan terapan untuk meningkatkan
pemahaman tentang biologi, kimiawi, fisika, geologi dan dasar laut serta tanah
dibawahnya , proses dan interaksi laut dan pantai dengan hidrologi, cuaca , serta
pengaruh laut dan pantai terhadap masyarakat dan komunitas di sekitar lautlingkungan serta pengembangan metodologi dan instrumen untuk meningkatkan
pemahaman tentang laut.
Perlu dikembangkan kegiatan-kegiatan penelitian lain yang mengkaji potensi
perikanan yang dapat dkembangkan sebagai alternatif mata pencaharian yang
berkelanjutan. Salah satu pemicu tekanan terhadap kawasan TNP Laut Sawu
adalah tingginya ketergantungan masyarakat terhadap sumber daya laut di
kawasan TNP Laut Sawu, oleh karena itu perlu dikembangan penelitian-penelitian
pengembangan mata pencaharian alternatif yang berkelanjutan (alternative
sustainable livelihood) yang tidak mengganggu kelestarian sumberdaya kelautan
dan perikanan di kawasan TNP Laut Sawu sehingga diharapkan tekanan terhadap
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

62

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


kawasan TNP Laut Sawu akan berkurang seperti melalui pengembangan usaha
budidaya perikanan laut dan pengembangan industri rumah tangga untuk
mendukung sektor lainnya (pariwisata, perikanan, dll).
3.1.13 Pengembangan mekanisme monitoring dan evaluasi
Monitoring, atau yang selanjutnya disebut pemantauan, dan evaluasi dilakukan
dengan mengamati dan memeriksa kesesuaian antara penyelenggaraan
pengelolaan Laut Sawu dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Apabila hasil pemantauan dan evaluasi terbukti terjadi penyimpangan
administratif dalam penyelenggaraan pengelolaan Laut Sawu, Menteri, Gubernur,
dan Bupati/Walikota mengambil langkah penyelesaian sesuai dengan
kewenangannya.
Pemantauan adalah melihat kesesuaian pelaksanaan perencanaan dengan arah,
tujuan, dan ruang lingkup yang menjadi pedoman dalam rangka menyusun
perencanaan berikutnya. Pemantauan pelaksanaan program dan/atau kegiatan oleh
SKPD meliputi realisasi pencapaian target, penyerapan dana, dan kendala yang
dihadapi. Hasil pemantauan pelaksanaan program dan/atau kegiatan disusun
dalam bentuk laporan triwulan untuk disampaikan kepada Bappeda. Kepala
Bappeda melaporkan hasil pemantauan dan supervisi rencana pembangunan
kepada kepala daerah, disertai dengan rekomendasi dan langkah-langkah yang
diperlukan.
Evaluasi pelaksanaan rencana adalah bagian dari kegiatan perencanaan
pembangunan yang secara sistematis mengumpulkan dan menganalisis data dan
informasi untuk menilai pencapaian sasaran, tujuan dan kinerja pembangunan.
Evaluasi ini dilaksanakan berdasarkan indikator dan sasaran kinerja yang
tercantum dalam dokumen rencana pembangunan. Indikator dan sasaran kinerja
mencakup masukan (input), keluaran (output), hasil (result), manfaat (benefit) dan
dampak (impact).
3.2 Program Pengembangan Kapasitas Pengelolaan Sumberdaya laut dan
Lingkungan Hidup, dengan kegiatan pokok:
3.2.1 Peningkatan kapasitas kelembagaan pengelola TNP Laut Sawu ;
Peningkatan kapasitas kelembagaan TNP Laut Sawu dilaksanakan dalam rangka
membangun kelembagaan pengelolan yang mantap yang didukung dengan
sumberdaya manusia yang berkualitas berdasarkan kualifikasi dan kompetensi
yang sesuai dengan kebutuhan pengelolaan. Hal ini diwujudkan dalam bentuk
kegiatan: 1) penyusunan rencana formasi SDM, 2) peningkatan kemampuan dan
profesionalisme SDM pengelola TNP Laut Sawu melalui pendidikan dan latihan,
penyegaran, magang dan studi banding untuk mendukung pengelolaan yang
efektif.

3.2.2 Perencanaan dan pengendalian pengelolaan;


Perencanaan dan pengendalian pengelolaan kawasan TNP Laut Sawu
dilaksanakan dengan tujuan pengelolaan kawasan didasarkan dan mengacu pada
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

63

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


perencanaan yang sistematis berdasarkan skala prioritas yang didukung dengan
mekanisme pengendalian dan pembinaan serta akuntabilitasnya. Hal ini akan
diwujudkan melalui kegiatan penyusunan rencana pengelolaan 20 tahun, 5 tahun
dan tahunan dengan monitoring dan evaluasi terhadap setiap pelaksanaan
kegiatan.
3.2.4 Pengembangan kelembagaan mandiri berbentuk Badan Layanan Umum
Dalam Permen PAN Nomor 18 Tahun 2008 dijelaskan bahwa BKKPN Kupang
sebagai UPT: (1) adalah satuan kerja yang bersifat mandiri yang melaksanakan
tugas teknis operasional tertentu dan/atau tugas teknis penunjang tertentu dari
organisasi induknya; (2) Organisasi atau satuan kerja yang bersifat mandiri adalah
satuan kerja yang diberikan kewenangan mengelola kepegawaian, keuangan, dan
perlengkapan sendiri dan tempat kedudukannya terpisah dari organisasi induk; (3)
Tugas teknis operasional adalah tugas untuk melaksanakan kegiatan teknis
tertentu yang secara langsung berhubungan dengan masyarakat dan (4) tugas
teknis penunjang adalah tugas untuk melaksanakan kegiatan teknis tertentu dalam
rangka mendukung pelaksanaan tugas organisasi induknya.

Kedudukan BKKPN Kupang berada di bawah unsur pelaksana Direktorat


Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Kedudukan tersebut didasarkan
pada kesesuaian ruang lingkup tugas dan fungsi BKKPN dalam melaksanakan
tugas; unit organisasi induknya; hubungan pertanggungjawaban antara BKKPN
Kupang dengan Ditjen KP3K; efektivitas, kebutuhan koordinasi, dan hubungan
kerja dalam pelaksanaan tugas dan fungsi. Sementara itu BKKPN Kupang
berkaitan dengan pengembangan aktifitasnya : (1) tidak bersifat pembinaan dan
tidak berkaitan langsung dengan perumusan dan penetapan kebijakan publik; (2)
tidak mengenal batas wilayah administrasi pemerintahan tertentu dan (3) tidak
membawahkan UPT lainnya.

Dalam rangka peningkatan kapasitas kelembagaan BKKPN , ada 3 (tiga) tataran


pokok yang menjadi fokus diantaranya adalah : (1) sistem (kerangka aturan dan
kebijakan pendukung); (2) lembaga (tata cara, sumberdaya, struktur organisasi,
pengambilan keputusan budaya kerja) serta (3) individu (pengetahuan,
keterampilan, kompetensi dan etos kerja). Oleh karena kewenangan pengelolaan
Kawasan Konservasi Laut (KKL) menurut PP Nomor 38 Tahun 2007 adalah
Pemerintah Pusat yang mana kewenangannya berupa penetapan kebijakan, norma,
standar, dan kriteria pengelolaan sumberdaya kelautan wilayah nasional dan ZEE.
Disisi lain, Pemerintah Provinsi NTT dengan kewenangan pelaksanaan kebijakan
pengelolaan sumberdaya kelautan di wilayah laut kewenangan provinsi) dan
Pemerintah Kabupaten/Kota didalam kawasan memiliki kewenangan dalam hal
pelaksanaan kebijakan pengelolaan sumberdaya kelautan di wilayah laut
kewenangan kabupaten. Dalam kaitan dengan kewenangan pengelolaan tersebut,
pendanaan pengelolaan KKL untuk tahap awal pengelolaan dapat dianggarkan
oleh Pemerintah Pusat melalui APBN; Pemerintah Provinsi melalui APBD
Provinsi dan Pemerintah Kab/Kota melalui APBD Kab/Kota.

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

64

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


Untuk menjamin kelangsungan dan kemandirian pengelolaan TNP Laut Sawu
maka upaya pengembangan kelembagaan mandiri berbentuk Badan Layanan
Umum (BLU) diharapkan dapat menjadi pola pengelolaan keuangan lembaga
pengelola TNP Laut Sawu. BLU dapat ditentukan oleh Menteri/Gubernur, dengan
lingkup kerjanya meliputi 14 kabupaten/kota. Secara substantive hal ini terkait
dengan pengadaan barang; secara teknis teknis berprinsip pada Kinerja Layanan
Layak kelola. Untuk itu dalam 3 tahun kedepan direncanakan lembaga pengelola
TNP Laut Sawu dapat menjadi BLU dengan beberapa persyaratan antara lain
adalah : (1) membuat pernyataan kesanggupan meningkatkan kinerja; (2)
memiliki pola tata kelola yang jelas; (3) memiliki Renstra Bisnis Anggaran; (4)
memiliki Standar Pelayanan Minimal; (5) mampu membuat Laporan Keuangan
Pokok (proposal laporan keuangan) dan (6) membuat Laporan Audit.

3.2.4 Pengembangan sistem pengelolaan kolaborasi TNP Laut Sawu


Pengembangan sistem pengelolaan kolaborasi TNP Laut Sawu merupakan
pelaksanaan suatu kegiatan atau penanganan suatu masalah dalam rangka
membantu meningkatkan efektivitas pengelolaan TNP Laut Sawu secara bersama
dan sinergis oleh para pihak atas dasar kesepahaman dan kesepakatan bersama
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hal ini diwujudkan
dalam bentuk kegiatan: 1) pembentukan mekanisme pengelolaan kolaboratif
dengan membuat rancangan/model mekanisme pengelolaan bersama, penerapan
model mekanisme pengelolaan bersama, pembentukan wadah/ruang konsultasi
pengelolaan bersama TNP Laut Sawu dan penetapan (kedudukan, fungsi & peran
para pihak dalam pengelolaan kolaborasi); 2) Penguatan forum konsultasi para
pihak dengan memfasilitasi pelatihan/kursus, memfasilitasi pertemuan rutin di
tingkat, Kecamatan 3 bulan sekali, Kabupaten 6 bulan sekali dan provinsi setahun
sekali; 3) Formulasi dan penerapan mekanisme keluhan (Grievance mechanism)
dengan merancang mekanisme dan impelementasinya.

Legitimasi kelembagaan merupakan komponen yang sangat penting terkait


Kelembagaan Kolaborasi TNP Laut Sawu. Lembaga ini merupakan kolaborasi
antara stakeholder terkait yang melibatkan unsur pemerintah, swasta dan
masyarakat untuk mengelola kawasan konservasi baik di tingkat provinsi maupun
kabupaten/kota dengan mengadaptasikan berbagai pendekatan sesuai kesepakatan
bersama. Dalam upaya pengelolaan TNP, diperlukan Lembaga kolaborasi yang
akan menentukan kebijakan dan program dan kegiatan kerja, pengusulan
anggaran, pengawasan kegiatan, pemantauan dan evaluasi program dan kegiatan,
penyelesaian permasalahan dan penyampaian informasi. Selain itu tugasnya
adalah melibatkan masyarakat, perguruan tinggi, swasta dan para pemangku
kepentingan (stakeholders) lain dalam pengelolaan TNP.

Kelembagaan yang terbentuk terkait dengan konservasi sumberdaya pesisir dan


laut meliputi tingkat provinsi, dan kabupaten/kota. Bentuk pengelolaan TNP Laut
Sawu harus dikelola secara terpadu (terintegrasi) dan kolaboratif. Fungsi utama
dari lembaga ini adalah untuk mengintegrasikan kegiatan-kegiatan dinas/intansi
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

65

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


daerah, masyarakat, LSM dan swasta di TNP Laut Sawu. Lembaga kolaborasi
mengemban tiga fungsi utama yaitu :
a) Fungsi perencanaan: mengkoordinasikan perencanaan pemanfaatan ruang dan
sumberdaya, memfasilitasi peran serta masyarakat dalam perumusan
kebijakan pengelolaan; mengupayakan transparansi melalui penyelenggaraan
konsultasi publik sebelum dokumen perencanaan yang terkait dengan
ditetapkan secara resmi; memfasilitasi perencanaan dan pelaksanaan mitigasi
bencana.
b) Fungsi pengawasan : mengkoordinasikan pelaksanaan pemanfaatan ruang dan
sumberdaya; memfasilitasi pelaksanaan pengawasan dan pengendalian
terhadap kegiatan; menyebarluaskan informasi mengenai kebijakan yang
berkaitan dengan pengelolaan kawasan; mengkoordinasikan bantuan teknis
dan pendanaan dalam rangka pengelolaan; memfasilitasi penyelesaian
sengketa dalam pemanfaatan ruang atau sumberdaya; mengadakan pertemuan
atau rapat koordinasi secara periodik dengan instansi dan bidang terkait dan
atau setiap saat apabila dianggap penting dan atau sesuai dengan kebutuhan.
c) Fungsi Lingkungan Hidup : melakukan pemantauan dan pengkajian terhadap
kondisi, khususnya dalam kaitannya dengan setiap rencana pemanfaatan ruang
dan sumberdaya TNP Laut Sawu, baik yang berasal dari instansi pemerintah,
swasta maupun masyarakat; menyampaikan rekomendasi kepada Lemabaga
Pengelola untuk penetapan keputusan dalam perijinan kegiatan di TNP Laut
Sawu; melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap dampak pemanfaatan
ruang dan sumberdaya, baik dari dalam maupun dari luar kewenangan
kabupaten; melaksanakan tugas-tugas lain sepanjang berkaitan dengan
pengelolaan TNP Laut Sawu.

Setiap Rencana Pengelolaan, kebijakan, program, Rencana Zonasi diharuskan


untuk mendapat masukan dan rekomendasi dari Lembaga Kolaborasi. Persetujuan
berhubungan dengan pengembangan dan implementasi dari Rencana Pengelolaan,
dan memberikan peluang bagi masyarakat setempat untuk ikut mengelola
kawasan (jenis atau komunitas ekologi) bersama-sama dengan Lembaga
Pengelola. Kelembagaan Pengelolaan TNP tersebut melibatkan para pemangku
kepentingan. Melalui sistem kelembagaan pengelolaan diharapkan upaya-upaya
pengelolaan TNP yang efektif dan efisien, melalui perencanaan dan pendanaan
terpadu, dapat tercapai.

3.2.5 Pengembangan kerjasama kemitraan pengelolaan TNP Laut Sawu;


Pengembangan kerjasama kemitraan pengelolaan TNP Laut Sawu merupakan
wujud dari paradigma pengelolaan kawasan konservasi sebagai bagian dari
tanggung jawab banyak pihak dengan menjalin kerjasama-kerjasama dalam
mendukung pengelolaan melalui pengembangan kerjasama dengan
institusi/lembaga/pihak lain dalam rangka efektifitas dan peningkatan kapasitas
pengelolaan (pemerintah, LSM, lembaga pendidikan, kelompok/lembaga
masyarakat) lingkup lokal, regional, nasional dan internasional serta
pengembangan mekanisme kerjasama pengelolaan (penyusunan MoU kerjasama

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

66

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


pengelolaan TNP Laut Sawu, penyusunan rencana kerja bersama, pelaksanaan
rencana kerja bersama dan monitoring & evaluasi bersama).
3.2.7

Pendanaan pengelolaan TNP Laut Sawu;


Pendanaan pengelolaan TNP diarahkan guna mendukung pengelolaan TNP Laut
Sawu yang efektif secara berkelanjutan dalam bentuk penyusunan rencana
anggaran kebutuhan pengelolaan, merancang mekanisme pendanaan
berkelanjutan, penetapan standar biaya komponen pengelolaan TNP Laut Sawu
dan akuntabilitas pendanaan yang mencakup pengelolaan keuangan, administrasi
keuangan, pelaporan dan pengawasannya. Kebijakan pengembangan kawasan
konservasi perairan menjadi penting diperhatikan. Dari segi pendanaan, perlu
mengakomodirnya dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah melalui
APBD. Kelaikan finansial dan atau operasional pada pilihan-pilihan pengelolaan
sumberdaya alam TNP Laut Sawu melalui (1) inventarisasi dan merumuskan
pilihan-pilihan bagi operasi dan pendanaan kerangka pengelolaan sumberdaya
alam Laut Sawu, dengan memfokuskan pada pengelolaan jejaring TNP dan
perikanan; (2) melakukan perkiraan pembiayaan pilihan-pilihan pengelolaan
tersebut di atas; dan (3) mengkaji sumberdana potensial untuk pembiayaan
pengelolaan. Didapatkan pilihan-pilihan biaya maupun penghasilan termasuk
sumber pengeluaran utama dan potensi kebutuhan/kekurangan dana untuk
implementasi pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam, alternatif potensi
sumber dana untuk menutup biaya pengelolaan.

Teridentifikasinya kebutuhan pembiayan dan sumber pendanaan yang diperlukan


bagi pengelolaan kawasan dan dukungan teknis yang memadai dalam
pelaksanaannya. Sehingga didapatkan Rencana Pembiayaan dan Pendanaan
Berkelanjutan bagi KKP Laut Sawu. Model pembiayaan dan keuangan untuk
pengelolaan TNP Laut Sawu didasarkan prinsip-prinsip perancangan pengelolaan
antara lain prosentase pada kawasan yang dilindungi secara ketat, prosentase pada
kawasan multi guna serta sistem perijinan bagi nelayan kecil, menengah dan
besar. Berdasarkan hal tersebut maka kerangka pengelolaan pemanfaatan
sumberdaya alam, dalam kaitannya dengan struktur pengelolaan, termasuk
sumber pengeluaran utama dan potensi kebutuhan/kekurangan dana untuk
implementasi pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam, alternatif potensi
sumber dana untuk menutup biaya pengelolaan. Pilihan model operasional, yakni
strategi investasi rendah dan tinggi. Dalam skenario ini perbedaan tingkat
investasi meliputi berbagai kebijakan dan upaya pengelolaan yang berbeda
berdasarkan kebutuhan pendanaan. Skenario investasi tingkat rendah
mencerminkan upaya pengelolaan yang minimal lebih memfokuskan pada
aktivitas utama yakni pada pengawasan daerah perlindungan melalui sistem
zonasi.

Sedangkan skenario investasi tinggi meliputi semua biaya utama pada cakupan
kegiatan dan usaha yang besar termasuk juga biaya untuk wilayah yang dilindungi
seperti pemantauan biologi, pengembangan masyarakat dan manajemen
kolaborasi.Dengan memperhatikan pada hubungannya tanggung-jawab dan
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

67

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


institusi pengelolaan yang ada. Untuk tujuan studi, area pengelolaan atau " areaof-interest" juga menjadi bahan pertimbangan. Secara keilmuan, disampaikan area
pengelolaan berupa daerah lindung (no take zone) seluas 30% dari kawasan
pesisir dari pantai sampai kedalaman 200 meter merupakan scenario investasi
rendah, sedangkan daerah perlindungan dengan jarak hingga 5 mil laut sebagai
skenario investasi tinggi. Inventarisasi dan analisa sumber-sumber pembiayaan
yang memungkinkan untuk pengelolaan TNP Laut Sawu yakni alokasi
pemerintah, donor dan bantuan, perikanan dan pariwisata. Terkait dengan tujuan
pengelolaan TNP Laut Sawu semua pihak perlu untuk merumuskan mekanisme
pendanaannya, pemanfaatan dan penggunaannya serta aturan perundangundangan untuk setiap sumber pembiayaan. Khusus dalam bidang pariwisata,
sumber pendapatan tidak hanya berasal dari atraksi dan daerah tujuan wisata, tapi
juga dapat diperoleh dari unsur pendukung lainnya seperti fasilitas wisata,
transportasi, penginapan, penanganan didarat, dan lain-lain. Penerapan inisiatif
baru, terutama pembagian pendapatan sektor perikanan dengan setiap pemerintah
daerah yang berada di dalam TNP Laut Sawu merupakan proses yang butuh
perhatian utama. Dalam upaya menjamin pendanaan yang berkelanjutan, maka
secara operasional perencanaan program dan pendanaan pengelolaan TNP dapat
disesuaikan dengan siklus perencanaan program dan pendanaan tahunan
pemerintah, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Sinkronisasi program
kerja juga sangat diperlukan dengan pemerintah pusat (DKP). Pengelolaan
keuangan harus bersifat dinamis dan harus berlangsung untuk jangka waktu yang
tidak terbatas, oleh karena itu akan diperlukan dana yang berkesinambungan
dalam pengelolaannya.

3.2.7 Penyelenggaraan urusan tata usaha & rumah tangga perkantoran;


Penyelenggaraan urusan tata usaha dan rumah tangga perkantoran ditujukan guna
mendukung kelancaran pelaksanaan tugas tugas ketata usahaan dan rumah tangga
perkantoran sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pengelolaan TNP Laut
Sawu secara keseluruhan dalam bentuk kegiatan pengelolaan gaji, honorarium
dan tunjangan, penyelenggaraan operasional perkantoran, perawatan sarana dan
prasarana, serta penyelenggaraan tata usaha perkantoran, kearsipan, perpustakaan
dan dokumentasi (Pencetakan/penerbitan/ penggandaan/laminasi /dokumentasi).
Fasilitas dan perlengkapan yang didukung dalam rangka mendukung
kelembagaan pengelola Laut Sawu terdiri dari:
a. fasilitas: domisili
b. fasilitas penunjang:
1. penunjang kebutuhan dasar perkantoran
2. penunjang kinerja kelembagaan
3. penunjang aksesibilitas kegiatan
c. perlengkapan:
i. perangkat lunak
ii. perangkat keras:

Indikasi program utama merupakan petunjuk yang memuat usulan program


utama, perkiraan pendanaan beserta sumbernya, instansi pelaksana, dan waktu
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

68

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


pelaksanaan dalam rangka mewujudkan pemanfaatan ruang yang sesuai dengan
rencana tata ruang. Indikasi program utama merupakan acuan utama dalam
penyusunan program Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Laut Sawu yang
merupakan kunci dalam pencapaian tujuan Pengelolaan Laut Sawu, serta acuan
sektor dalam menyusun rencana strategis beserta besaran investasi. Indikasi
program utama lima tahunan disusun untuk jangka waktu rencana 20 (dua puluh)
tahun.
3.2.8 Pengembangan peraturan yang mendukung pengelolaan TNP Laut Sawu
Pengembangan peraturan yang mendukung pengelolaan TNP Laut Sawu
dimaksudkan sebagai bentuk pengintegrasian peraturan perundangan bidang
konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya ke dalam rancangan
peraturan daerah sehingga arah pengembangan dan pembangunan di Provinsi
Nusa Tenggara Timur selalu sejalan tujuan pengelolaan TNP Laut Sawu yaitu
dengan mendorong penyusunan rancangan Perda yang mendukung pengelolaan
TNP seperti rancangan Perda pengelolaan kolaboratif TNP Laut Sawu,
pengaturan alat tangkap, tata ruang wilayah provinsi dan kabupaten dan
pemberlakuan karcis masuk dan tarif atas kegiatan wisata dalam kawasan, dll.

3.3 Program Penyadaran, Peningkatan Partisipasi dan Pemberdayaan Masyarakat


di Dalam dan Sekitar TNP Laut Sawu, dengan kegiatan pokok:
3.3.1 Peningkatan kesadaran partisipasi masyarakat dan para pihak lainnya
dalam pendidikan lingkungan;
Peningkatan kesadaran masyarakat dan penjangkauan dimaksudkan untuk lebih
meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi
sumberdaya kelautan dan perikanan dan ekosistemnya. Sehingga dapat lebih
berperan aktif secara langsung dalam kegiatan pelestarian dan pengamanan
sumberdaya kelautan dan perikanan yang terdapat dalam kawasan TNP Laut Sawu.
Untuk mewujudkan maksud tersebut, beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan
yaitu : penyuluhan dan sosialisasi, pembinaan kelompok masyarakat/generasi muda,
pembentukan dan pembinaan Kader Konservasi (KK), pengembangan kerjasama
penerapan kurikulum muatan lokal berbasis pengelolaan sumberdaya kelautan dan
perikanan, serta monitoring dan evaluasi.

Pengelolaan TNP Laut Sawu yang efektif sangat ditentukan oleh tingkat kesadaran,
pemahaman dan pengetahuan masyarakat lokal tentang pentingnya menjaga
kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan yang berada di kawasan tersebut,
dengan tetap melakukan upaya pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya secara
optimal berdasarkan aspek sosial ekonomi dan lingkungan. Upaya yang perlu
dilakukan dalam hal penyadartahuan masyarakat adalah penerapan program
pendidikan konservasi melalui berbagai penyuluhan, pelatihan dalam jangka waktu
tertentu dan berkala yang meliputi tema-tema :
x Pentingnya konservasi sumberdaya alam dan lingkungan
x Tujuan pembentukan TNP Laut Sawu dari aspek konservasi lingkungan dan
keterkaitannya dengan kondisi sosekbud masyarakat lokal

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

69

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


x Sistem dan klasifikasi zonasi kawasan serta kaitannya terhadap pola
matapencaharian masyarakat
x Berbagai bentuk upaya perikanan tangkap yang bersifat merusak dan dampaknya
terhadap keberlanjutan eksosistem sumberdaya serta taraf hidup/kesejahteraan
masyarakat lokal.Perlu juga disampaikan perikanan tangkap yang ramah
lingkungan berdasarkan hasil riset dan dampak positifnya terhadap usaha
matapencaharian masyarakat
x Berbagai bentuk perikanan budidaya yang destructive dan ramah lingkungan
berdasakan hasil riset di beberapa wilayah di Indonesia ataupun di negara lain
x Pengembangan program matapencaharian alternatif di TNP Laut Sawu

Pelaksanaan program TNP Laut Sawu perlu mendapat respon positif dari
masyarakat lokal serta pihak lain yang berkepentingan terhadap sumberdaya dan
lingkungan. Respon positif dimulai dari penumbuhan kesadaran akan pentingnya
menjaga kelesetraian sumberdaya dan lingkungan hingga ke taraf mendukukung
implementasi program dan berupaya mengubah perilaku yang negatif terhadap
ekosistem/lingkungan. Upaya penumbuhan respon positif dan pengubahan perilaku
masyarakat dapat ditempuh dengan sistem pemasaran sosial (social marketing) :
menjual ide/gagasan tentang urgensi TNP. Lembaga pengelola dan pihak yang
terkait terhyadap pembentukan TNP harus mampu mempertajam, menggali,
menganalisa secara komperhensif isu-isu sosial yang berkembang dalam
masyarakat terkait TNP. Dinamika sosial kemasyarakatan akam mudah dipahami
dan dianalisa dengan melakukan pengkajian terhadap konektor sosial baik dalam
bentuk individu maupun lembaga/institusi yang bersifat profit orientied dan non
profit orientied (nirlaba). Melalui pengkajian ini diharapkan dapat terbentuk peta
sosial yang sangat mempengaruhi dinamika sosial masyarakat dalam konteks
pemanfaatan sumberdaya laut pada kawasan tertentu dalam batas yuridis TNP.

3.3.2 Pengembangan partisipasi masyarakat


Pengembangan partisipasi masyarakat dimaksudkan untuk mendorong peran aktif
masyarakat semakin meningkat di lapangan, sehingga pengelolaan TNP Laut Sawu
menjadi lebih efektif dan efisien serta dapat dukngan penuh dari masyarakat serta
semua pihak. Hal ini diwujudkan melalui kegiatan perlindungan sumberdaya laut,
pengawasan berbasis masyarakat, perbaikan kualitas lingkungan, rehabilitasi (bersih
pantai, penanaman pohon bakau), pengamanan preventif masyarakat, penguatan
aturan di tingkat desa, dan akses terhadap kebijakan dan informasi pengembangan
TNP Laut Sawu.
3.3.3 Pemberdayaan masyarakat pesisir
Pemberdayaan masyarakat dimaksudkan untuk mendorong peningkatan
pendayagunaan potensi yang terdapat di masyarakat, untuk mempercepat
peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan serta dukungannya terhadap
kawasan dalam pelestarian sumberdaya kelautan dan perikanan melaui kegiatankegiatan : penguatan kapasitas masyarakat dan kelompok pengguna sumberdaya
laut, pengembangan usaha ekonomi masyarakat pengguna sumberdaya kelautan dan
perikanan di dalam dan sekitar kawasan, pengembangan usaha ekonomi alternatif
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

70

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


yang berkelanjutan bagi masyarakat dan kelompok pengguna sumberdaya kelautan
dan perikanan serta pengembangan Desa Pesisir Mandiri (DPM) sebagai wahana
pengembangan potensi lokal kearah harmonisasi interaksi manusia dengan alamnya.
Pengembangan desa pesisir mandiri di TNP Laut Sawu di arahkan pada kekuatan
kelembagaan sosial dan ekonomi masyarakat desa pesisir sendiri serta kemampuan
pengelolaan sumberdaya yang berkelanjutan. Di sisi lain pemenuhan kebutuhan
dasar seperti pangan, air bersih, energi, kesehatan, dan pendidikan merupakan hal
mendasar untuk dipersiapkan. Upaya pengembangan desa pesisir tersebut dilakukan
dengan penyertaan bantuan untuk stimultan usaha, kemitraan dengan berbagai
pihak dan peningkatan kapasitas SDM pesisir. Beberapa kebijakan yang penting
untuk diperkuat pada tingkat daerah untuk memperkuat desa adalah kebijakan
pengelolaan sumberdaya pesisir, tata ruang, perikanan, pengembangan keuangan
mikro, dan tata pemerintahan desa. Pemerataan pengembangan infrastruktur,
dukungan dan perlindungan terhadap kemandirian desa.

Strategi operasional pembangunan desa pesisir yang dirumuskan oleh masyarakat


sendiri yang bisa difasilitasi unsur masyarakat lainnya (LSM, atau perguruan tinggi)
berupa langkah aksi untuk berbagai aspek pembangunan, yang prosesnya tetap
mengacu pada prinsip-prinsip pembangunan desa pesisir mandiri. Pengembangan
kapasitas organisasi sosial dan organisasi pemerintahan desa sebagai salah satu
bentuk implementasi praktek pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat.
Sementara itu, pengembangan kapasitas organisasi pemerintahan desa diperlukan
untuk perbaikan efisiensi kerja, perbaikan pelayanan, dan perluasan jaringan.
Pemberian akses pemanfaatan sumberdaya ikan dan ekosistemnya kepada
masyarakat lokal dan tradisional dengan memperhatikan aspek spesifik lokasi,
adaptif, kebersamaan dan kemitraan, keterpaduan, keberlanjutan, dan kelestarian
serta dalam pelaksanaannya tidak mengubah status dan fungsi kawasan, tidak
memberikan hak kepemilikan atas kawasan dan hanya hak pemanfaatan yang
diatur, serta merupakan bagian pengelolaan yang dilakukan secara utuh.
3.3.4 Pengembangan mata pencaharian yang berkelanjutan
Studi mata pencaharian alternatif di TNP Laut Swu yang telah dilakukan
diharapkan dapat diadopsi oleh masyarakat dengan bantuan dan pendampingan dari
pemerintah dan stakeholder terkait pada saat tahap implementasi TNP Laut Sawu.
Studi mata pencaharian alternatif yang telah dilakukan ini menghasilkan
rekomendasi jenis dan bentuk kegiatan usaha mata pencaharian alternatif yang
sesuai dengan karakteristik/kondisi masyarakat dan geofisik lokasi, layak dari sisi
bisnis, dapat diterima secara sosial budaya masyarakat setempat, dapat dilaksanakan
secara teknis, ramah lingkungan dan dan memiliki tingkat keberlanjutan yang tinggi
yang dapat dikembangkan oleh masyarakat di masing-masing Kabupaten yang
termasuk dalam kawasan Taman Nasional Perairan Laut Sawu.

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

71

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


3.4 Program Peningkatan Akses Informasi Sumberdaya laut dan Lingkungan
Hidup, dengan kegiatan pokok:
3.4.1 Pengembangan mekanisme penyebarluaan informasi dan komunikasi
Pengembangan sistem informasi dan komunikasi TNP Laut Sawu dimaksudkan
untuk mempermudah dan mempercepat akses informasi dan komunikasi seputar
TNP Laut Sawu kepada masyarakat luas (nasional dan internasional) sebagai media
pendidikan, penyuluhan dan juga promosi. Untuk mewujudkan hal tersebut, akan
dilakukan kegitan-kegiatan sebagai berikut : pengembangan data base, publikasi
melalui media massa (TV, Radio, Surat kabar dan majalah), pembuatan brosur,
buletin, leaflet dan poster), website dan pameran.

3.4.2 Pengembangan Bank Data TNP Laut Sawu


Pengembangkan Bank Data TNP Laut Sawu yang dihimpun dari berbagai kegiatan
penelitian, pengembangan dan penerapan ilmu dan teknologi kelautan. Didalamnya
memiliki elemen berupa data yang menyediakan informasi, prosedur pemanfaatan
data yang membantu pengguna mengoperasikan, dan membuat serta menyelesaikan
data tersebut. Pengembangan data termasuk juga basis data untuk system informasi
geografis dan system informasi kelautan denga menyesuaikan kepada kelompok
referensi yang sesuai.
3.5. Pengembangan lain
3.5.2 Pengelolaan pelayaran
TNP Laut Sawu dengan potensi alur pelayaran yang strategis dan sangat
berkepentingan terhadap pembangunan di sektor pelayaran baik dalam arus
perdagangan dan wisata. Sehubungan dengan itu perhatian terhadap pelayaran
dapat dilakukan dengan membangun prasarana dan sarana perhubungan dengan
kapasitas dan kualitas pelayanan memadai serta sebagai wilayah yang relatif dekat
dengan wilayah perbatasan, maka terjangkaunya pelayanan perhubungan ke seluruh
wilayah perbatasan dapat dijadikan sebagai prioritas dalam pembangunannya
Laut Sawu merupakan jalur pelayaran lokal dan internasional dengan lalu lintas
yang padat. Pengelolaan melalui peraturan yang mengatur tentang hal ini seperti
penutupan musiman daerah tertentu untuk kapal barang, peraturan ketat pada
kecepatan, aturan dilarang membuang sampah di laut dan keamanan kapal (untuk
menghindari tenggelam/rusaknya kapal di daerah ini) perlu disusun agar hal ini bisa
dikelola dengan baik. Pengelolaan terhadap keamanan dan kenyamanan pelayaran
dengan titik berat pada aspek-aspek: pengembangan titik asal dan tujuan pelayaran,
pengembangan jalur-jalur pelayaran dan Pengembangan armada pelayaran.

3.5.2 Pengembangan jejaring kawasan konservasi perairan


TNP Laut Sawu sebagai bagian dari kawasan Eko-region Sunda Kecil memiliki
keterkaitan kuat dengan kawasan konsersasi periran sekitarnya. Keterkaitan dalam
bentuk jejaring ini merupakan keterkaitan yang mempresentasikan daya lenting
spesies dan habitatnya untuk mencapai keseimbangan ekosistem melalui
pengelolaan bersama. Jejaring tersebut mempunyai peranan yang penting dalam
mempertahankan keanekaragaman hayati di kawasan tersebut. Jejaring di sekitar
TNP Laut Sawu akan (1)menggambarkan, menjaga dan memelihara
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

72

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


keanekaragaman hayati; (2) memberikan model pemanfaatan KKP yang
mendukung ekosistem setempat; (3) menjaga atau melindungi tempat biota laut
yang dilindungi dari berbagai ancaman; (4) menjaga keberadaan potensi
sumberdaya perikanan laut, serta (5) upaya memperluas dan meningkatkan
ketahanan KKP.
Keterkaitan (connectivity) merupakan kata kunci pengembangan jejaring kawasan
konservasi perairan. Adanya keterkaitan bioekologis merupakan pertimbangan
dasar untuk mengelola beberapa KKP dalam satu sistem pengelolaan bersama untuk
mewujudkan KKP yang tahan (resilient) terhadap ancaman dan dapat berfungsi
efektif untuk mendukung perikanan berkelanjutan. Pengelola TNP laut Sawu
melaksanakan kerja sama antar unit organisasi pengelola di eko-region sunda kecil.

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

73

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


BAB V
PENGELOLAAN RUANG KAWASAN TNP LAUT SAWU
A. Jejaring Kawasan Konservasi Perairan
Semua bagian TNP Laut Sawu akan dikelola untuk mendukung perikanan yang
berkelanjutan dan mengurangi resiko dampak buruk bagi spesies yang bermigrasi seperti
lumba-lumba, paus, hiu, duyung, penyu dan habitat laut dalam yang kritis seperti gunung
bawah laut dan palung. Jenis aturan yang berlaku di wilayah tersebut masih akan
didiskusikan tetapi mungkin akan memasukan pembatasan penggunaan alat tangkap
untuk beberapa kegiatan perikanan, penutupan sementara atau musiman wilayah tangkap
untuk kegiatan perikanan dan pengujian seismik. Untuk merancang jejaring TNP Laut
Sawu yang tangguh perlu menerapkan prinsip-prinsip ketangguhan yang telah digunakan
di banyak tempat di dunia. Prinsip-prinsip ketangguhan tersebut meliputi:
x keterwakilan KKP yang dikembangkan melindungi 20-30% habitat penting.
x ulangan habitat yang dilindungi diwakili di 2 atau 3 lokasi bagian KKP yang
berbeda.
x habitat penting dalam pemilihan bagian KKP, wilayah upwelling, habitat penyu,
tempat bertelur ikan, dan daerah migrasi merupakan daerah prioritas yang dilindungi.
x keterkaitan jarak maksimun antar bagian KKP yang satu dengan yang lain berkisar
100 - 200 km.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip tersebut, diharapkan TNP Laut Sawu yang dibangun
akan dapat memberikan perlindungan terhadap keanekaragaman hayati, menjamin
perikanan yang berkelanjutan dan mendukung pariwisata. Penerapan prinsip-prinsip ini
juga akan membuat habitat penting akan lebih tahan terhadap efek peningkatan suhu
permukaan laut atau perubahan iklim.

Konfigurasi Laut Sawu sesuai dengan kriteria jejaring KKP dalam skala kecil dan
memenuhi semua kriteria ketangguhan untuk rancangan jejaring KKP yang tangguh dan
untuk banyak macam habitat bahkan melampaui target persentasi yang direkomendasikan
yaitu 20-30%. Hal tersebut terjadi karena KKP di Indonesia memperbolehkan
pemanfaatan yang beragam (multiple use) dan hanya beberapa persen saja dari setiap
KKP yang termasuk dalam zona larang tangkap setelah proses zonasi selesai dilakukan
untuk setiap KKP.
Selain itu, batas daerah yang diidentifikasi sebagai Wilayah Penting dan Wilayah Penting
Laut Dalam / Batas Negara tidak dimaksudkan sebagai batas yang sudah pasti dari KKP.
Daerah tersebut telah diidentifikasi sebagai daerah yang miliki fitur-fitur penting untuk
konservasi dan di daerah tersebut konflik atau ancaman dari kegiatan pembangunan
masih minim. Batas pasti dari KKP harus dikonsultasikan secara baik dengan pemerintah
daerah, para pihak terkait dan masyarakat setempat setelah dilakukan survei lebih jauh
tentang habitat dan sosio-ekonomi di tingkat lokal dan sebelum dideklarasikan.
Harus diakui bahwa perancangan akhir dari jejaring mungkin masih perlu disempurnakan
untuk menampung perencanaan tata ruang lokal dan provinsi serta menampung keinginan
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

74

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


masyarakat setempat. Sangat penting untuk menggunakan data yang dikumpulkan pada
tingkat lokal untuk mendapatkan rancangan final jejaring KKP karena pada saat ini data
sosio-ekonomi pada skala Ekoregion Sunda Kecil masih sangat sedikit. Kebanyakan data
habitat diperoleh dari citra satelit, sehingga pemeriksaan data tersebut di lapangan pada
tingkat lokal sangat diperlukan untuk memastikan kondisi saat ini dan akurasi dari fiturfitur yang perlu dikonservasi untuk setiap KKP dan Wilayah Penting.
Selain itu perlu dicari peluang atau alasan untuk membuat KKP di luar jejaring TNP Laut
Sawu karena adanya dukungan dari masyarakat setempat atau para pihak atau adanya
informasi baru mengenai kondisi habitat, distribusi spesies atau faktor sosio-ekonomi,
Inisiatif seperti ini layak didukung dan dapat digabungkan dalam jejaring KKP yang telah
direvisi. Dengan mengidentifikasi jejaring yang memiliki persentase lebih besar dari pada
persentase yang diperlukan, ada fleksibilitas dalam implementasi pembuatan jejaring
pada tingkat lokal dan hal ini penting untuk menjamin agar hasil akhir jejaring dapat
diterima oleh semua pihak
B. Penataan Kawasan TNP Laut Sawu
Taman Nasional Perairan Laut Sawu terletak di Ecoregion Lesser Sunda pada koordinat
118 54 54,44 BT - 124 23 17,.089 BT dan 8045 49,964 LS - 11 9 43,919 LS.
Tata batas TNP Laut Sawu merupakan salah-satu elemen penting dalam rangka
mengelola kawasan. Laut Sawu telah dicadangkan sebagai Taman Nasional Perairan Laut
Sawu dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 38 Tahun 2009 Tentang
Pencadangan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Laut Sawu dan sekitarnya di
Provinsi NTT yaitu seluas 3,5 juta hektar. Pencadangan ini terbagi menjadi 2 wilayah
yaitu wilayah perairan Selat Sumba dan sekitarnya seluas 567.165,64 ha meliputi 6
Kabupaten yaitu : Kabupaten Sumba Timur, Kab. Sumba Tengah, Kab. Sumba Barat,
Kab. Sumba Barat Daya, Kab. Manggarai dan Kab. Manggarai Barat dan Wilayah
perairan Pulau Timor-Rote-Sabu-Batek dan sekitarnya seluas 2.953.964,37 ha yang
meliputi 5 Kabupaten yaitu : Kabupaten Sumba Timur, Kab. Sabu Raijua, Kab. Rote
Ndao, Kab. Kupang, dan Kab. Timor Tengah Selatan.

Tata batas suatu kawasan konservasi merupakan salah satu elemen penting dalam rangka
mengelola kawasan. Tata cara penataan batas kawasan konservasi telah diatur dalam
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No 2 Tahun 2009 Pasal 25 dan 26. Menurut
Pasal 25 penataan batas kawasan konservasi perairan dilakukan berdasarkan penetapan
kawasan konservasi perairan dengan tahapan kegiatan:
a. perancangan penataan batas;
b. pemasangan tanda batas;
c. pengukuran batas;
d. pemetaan batas kawasan;
e. sosialisasi penandaaan batas kawasan konservasi perairan;
f. pembuatan berita acara tata batas; dan
g. pengesahan batas kawasan konservasi perairan.

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

75

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

Gambar .. Peta Batas Taman Nasional Laut Sawu di Provinsi Nusa Tenggara Timur
Sebelum berlanjut pada pemasangan tanda batas ataupun tahapan selanjutnya, pada tahap
perancangan penataan batas perlu sudah diselesaikan. Untuk kepentingan perancangan
penataan batas perlu adanya verifikasi titik-titik batas yang ada dipeta dengan kondisi
lapangan. Verifikasi titik-titik koordinat batas ini dilakukan dengan menggunakan
pendekatan GIS, yaitu dengan membandingkan titik-titik batas TNP Laut Sawu yang ada
di SK Menteri dengan garis pantai Peta Rupa Bumi Indonesia Skala 1: 25.000. Adapun
beberapa titik batas TNP. Laut Sawu yang berhasil di verifikasi adalah sebagai berikut:

Gambar ... Peta Rekomendasi Verifikasi Batas TNP Laut Sawu


Titik-titik yang ditunjukkan oleh peta di atas yaitu titik 3,4,5,7,12 dan 13, adalah titiktitik yang berdasarkan verifikasi dengan menggunakan Peta Rupa Bumi Indonesia Skala
1: 25.000 dinilai perlu di periksa kembali Berdasarkan peta RBI sebagian titik tersebut
sukar dijangkau karena berada jauh ke dalam wilayah yang tidak terdapat jalan untuk
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

76

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


mencapainya. Kondisi ini tentu akan memberikan kesulitan tersendiri untuk menjangkau
lokasi apabila selanjutnya diadakan kegiatan pemasangan tanda batas TNP.
Berdasarkan informasi yang ditampilkan pada Gambar 2, titik yang telah diverifikasi
belum keseluruhan, masih ada banyak titik yang belum diverifikasi menggunakan Peta
Rupa Bumi Indonesia Skala 1: 25.000. Adapun titik-titik yang perlu untuk selanjutnya
diverifikasi adalah: titik batas 1, 2, 9, 10, 14, 15, 16, 17 dan 18. Kedepannya titik-titik
yang belum diverifikasi ini agar dapat ditindak lanjuti sehingga langkah-langkah untuk
menyelesaikan tahap-tahap dalam penataan batas kawasan ini dapat dilengkapi.
Sosialisasi penandaan batas perlu dilakukan pada setiap tahapan pelaksanaan kegiatan
penataan batas agar stakeholder terkait serta masyarakat mengetahui informasi tentang
letak, fungsi dan pentingnya dari batas kawasan TNP Laut Sawu ini. Dengan lengkapnya
tahap-tahap dalam penataan batas kawasan ini, pengelolaan kawasan dapat lebih mudah
artinya selanjutnya fokus kegiatan dapat berlanjut kepada pengalokasian kawasan
tersebut. Dimana pengalokasian kawasan akan berarti pembagian-pembagian kawasan
menurut peruntukan-peruntukan tertentu sesuai dengan kondisi keanekaragaman hayati,
pola-pola pemanfaatan berikut serta ancaman terkait dengan aktifitas masyarakat sekitar
dan lain sebagainya. Inti dari pengalokasian ini adalah pembagian kawasan menjadi zonazona sesuai dengan rencana pengelolaan jangka panjang yang disusun dan disepakati
bersama.

Strategi pengelolaan tata batas kawasan yang akan dilakukan dalam rencana pengelolaan
jangka panjang TNP Laut Sawu adalah sebagai berikut :
1) Memperkuat status kawasan dengan menjadikan titik referensi sebagai titik ikat
batas kawasan TNP Laut Sawu dan tata batas TNP Laut sawu serta zonasi TNP
Laut Sawu terintegrasi dalam tata ruang wilayah Provinsi NTT dan telah diberi
marka/rambu untuk memudahkan implementasinya sesuai fungsi peruntukan serta
tersosialisasikan ke seluruh stakeholder.
2) Menetapkan status kawasan dan zonasi TNP Laut Sawu yang mempunyai aspek
legalitas yang kuat dan diterima/diakui semua lapisan stakeholder di wilayah TNP
Laut Sawu dan nasional.
3) Mengintegrasikan titik referensi menjadi titik ikat tata ruang, batas kawasan dan
Provinsi NTT serta di 14 Kabupaten/Kota.
4) Mensosialisasikan titik referensi dan zonasi ke seluruh stakeholder dengan tata
batas kawasan dan zonasi dgn marka yg jelas agar masyarakat, pengguna dan para
pemangku kepentingan di dalam kawasan mengetahui dan mengerti dengan jelas
tata batas kawasan dan zonasi dengan marka yang jelas di lapangan.

C. Identifikasi Daerah-Daerah Penting di Kawasan TNP Laut Sawu


Basis data untuk menyusun rencana pengelolaan TNP Laut Sawu masih terus dilengkapi
dan proses untuk melengkapi basidata ini masih terus berjalan. Adapun untuk mengetahui
tingkat keanekaragaman hayati di wilayah TNP Laut Sawu tersebut berdasarkan data
yang telah tersedia, dilakukan analisis sederhana yaitu dengan menggabungkan data
habitat penting, spesies dan parameter lingkungan ke dalam suatu unit perencanaan.
______________________________________________________________________________77
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


Keberadaan unit perencanaan ini sebagai landasan untuk melakukan tindakan
pengelolaan wilayah. Karena dalam unit perencanaan, setiap satuan/elemennya telah
diketahui luasnya.
Secara teknis, satu satuan unit perencanaan dibuat dalam bentuk heksagon dengan luas
100 ha atau sekitar 1 km2. Selanjutnya data-data tersebut digabungkan dengan cara
menggabungkan informasi atributnya. Data dan informasi yang dipergunakan dalam
penilaian keanekaragaman hayati adalah 4 habitat utama wilayah pesisir yaitu terumbu
karang, padang lamun, estuari dan hutan bakau. Selain itu ditambah dengan informasi
spesies seperti tempat peneluran penyu, areal penting untuk penyu, lokasi dimana dugong
dahulu sering terlihat, daerah yang diidentifikasi sebagai persistent pelagic habitats (PPH)
dan Satellite Island. PPH ini menurut Kahn (2008) adalah sebagai daerah pelagis yang
konsisten dalam perubahan musiman untuk parameter oseanografi seperti Suhu
Permukaan Laut (SPL) dan peningkatan produktivitas primer. Untuk Nusa Tenggara ini
terjadi di beberapa pulau sepanjang pantai selatan pada bulan Mei - Oktober karena pada
saat itu terjadi upwelling musiman yang kuat. Oleh karena itu daerah ini dimasukkan
sebagai daerah yang penting mengingat kondisi kesuburan dan kemungkinannya sebagai
daerah dengan produktivitas primer yang tinggi sehingga ikan banyak berkumpul mencari
makan di daerah ini. Daerah yang diidentifikasi sebagai Satellite Island menurut Kahn
(2008) adalah daerah dekat daratan besar belum berada di posisi terpencil, berada dekat
kontur 200m. Daerah ini diidentifikasi sebagai habitat dengan keanekaragaman hayati
yang termasuk komponen pesisir dan kelautan yang penting.

Gambar. Peta Tingkat Keanekaragaman Hayati Wilayah Pesisir


Gambar . menunjukkan tingkat keanekaragaman hayati yang diperoleh dari proses
penggabungan data-data tersebut diatas. Terlihat bahwa di beberapa lokasi memiliki
tingkat keanekaragaman hayati yang lebih tinggi daripada yang lain. Hal ini terjadi
karena pada lokasi tersebut ada banyak terdapat habitat penting, spesies penting dan juga
parameter kelautan lain yang dipergunakan dalam penilaian ini. Penilaian ini hanya
berlaku untuk wilayah pesisir saja, mengingat untuk wilayah lepas pantai belum banyak
______________________________________________________________________________78
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


informasi yang didapatkan. Selain itu, karena sifat analisis yang digunakan dan juga
keterbatasan kerincian data, maka peta tingkat keanekaragaman hayati yang ditampilkan
diatas tidak dapat memberikan jawaban mengenai aspek kualitas dari keanekaragaman
hayati tersebut.
Terkait dengan Rencana Pengelolaan TNP Laut Sawu, hasil dari penilaian tingkat
keanekaragaman hayati ini dapat digunakan sebagai masukan dan informasi awal dalam
meletakkan, merencanakan daerah-daerah inti di dalam Taman Nasional Perairan Laut
Sawu ini. Adapun daerah yang teridentifikasi memiliki tingkat keanekaragaman hayati
yang tinggi antara lain adalah sekitar Rote Barat, Sabu Raijua, sebelah tenggara Sumba
Timur. Daerah dengan tingkat keanekaragaman hayati sedang ada di sekitar perairan
Kab. Kupang, Semau, Rote Timur maupun sebelah selatan Manggarai (P. Mules).

Populasi setasea yang luar biasa di Laut Sawu memerlukan pengelolaan dan pendekatan
terpadu terhadap ancaman yang berdampak pada populasi. Selain rencana zonasi yang
akan membatasi alat tangkap agar menghindarkan cetacean tertangkap, cetacean harus
memiliki rencana pengelolaan yang komprehensif yang akan mengatur kegiatan di luar
batas-batas kawasan TNP Laut Sawu. Ancaman utama untuk setasea adalah by-catch,
polusi suara, limbah kimia dan benturan oleh kapal atau perahu. Sedangkan untuk
dugong, selain pembatasan alat tangkap untuk mengurangi penangkapan, strategi
pengelolaan yang efektif adalah membatasi gangguan dari biota lain yaitu dengan
menciptakan zona "tidak ada gangguan/ no disturbance" untuk dugong yang akan
membatasi akses ke daerah-daerah di mana dugong paling sering ditemukan. Hal ini
memerlukan pengumpulan informasi lebih lanjut tentang populasi dugong, jumlah
populasi dan kebiasaan mereka. Perburuan tradisional harus diatur secara ketat dan
memantau target populasi serta menjaga kelestarian padang lamun sebagai feeding
ground mereka.

Berdasarkan survey yang telah dilakukan, kawasan TNP Laut Sawu merupakan habitat
paling tidak bagi 6 spesies penyu yaitu :
1) Penyu hijau (Chelonia mydas) ditemukan di perairan Kabupaten Kupang, Rote Ndao,
Sabu, Manggarai, Sumba, dan TTS;
2) Penyu sisik (Eretmochelys imbricata) ditemukan di perairan Kabupaten Kupang, Rote
Ndao, Sabu, Manggarai, Sumba, dan TTS;
3) Penyu lekang (Lepidochelys olivacea) ditemukan di perairan Kabupaten TTS;
4) Penyu belimbing (Dermochelys coriacea) ditemukan di perairan Kabupaten Kupang,
Sumba, dan TTS;
5) Penyu pipih (Natator depressus) ditemukan di perairan Kabupaten Rote Ndao dan
Sabu;
6) Penyu tempayan (Caretta caretta) ditemukan di perairan Sumba.

Ancaman utama yang teridentifikasi dari proses RAK (Rencana Aksi Konservasi) untuk
penyu adalah by-catch dan eksploitasi penyu. Ancaman lainnya yaitu penambangan pasir
pantai peneluran penyu. Eksploitasi penyu selalu sulit untuk dikelola terutama di daerah
dimana penduduk tradisional mengkonsumsi penyu dan telur penyu. Informasi yang lebih
lanjut tentang tingginya ancaman dan dampak pada populasi penyu perlu dikumpulkan.
______________________________________________________________________________79
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


Dengan informasi yang sudah didapatkan, perlindungan penyu akan melibatkan lebih dari
sekedar zonasi daerah perairan laut tetapi juga melindungi pantai untuk bertelur penyu,
mencari alternatif sumber protein yang lain, program kesadaran masyarakat, dan
pelibatan masyarakat dalam pengawasan, monitoring dan menlindungi penyu dan pantai
peneluran penyu.

Gambar . Peta Area Peneluran Penyu di wilayah perairan NTT


Wilayah perairan Laut Sawu merupakan salah satu wilayah penangkapan ikan tuna yang
masih sangat produktif di Indonesia. Armada penangkapan ikan tuna dari luar NTT
seperti Sulawesi, Jawa, Bali dan NTB juga melakukan penangkapan di wilayah ini. Data
statistik perikanan NTT (2009) menyebutkan bahwa produksi ikan tuna (termasuk
tongkol dan cakalang) mencapai 14.968,5 Ton. Perikanan pelagis khususnya perikanan
tuna memiliki reputasi buruk dalam ikut tertangkapnya (by-catch) cetacean. Sektor
perikanan pelagis di dalam kawasan TNP Laut Sawu dapat diatur melalui zonasi dengan
membatasi ukuran kapal, alat tangkap yang digunakan, kuota tangkapan ikan, dan
penutupan musiman (selama migrasi paus). Dengan adanya zonasi yang mengatur
tentang perikanan di TNP Laut Sawu selain untuk mengatur kegiatan penangkapan juga
melindungi kepentingan nelayan lokal yang hampir semuanya masih nelayan tradisional
dari nelayan-nelayan luar yang mempunyai armada dan alat tangkap yang lebih besar dan
teknologi lebih tinggi sehingga dapat meningkatkan hasil tangkapan dan pendapatan
nelayan lokal.

Eksploitasi ikan hias hidup (ikan karang dan invertebrata), karang hidup untuk
diperdagangkan dan diekspor merupakan ancaman perusakan terumbu karang dan
spesies-spesies ikan karang yang dilindungi selain penangkapan dengan bom dan
potasium. Hal ini dikarenakan proses pengambilan ikan-ikan hias tersebut yang hidup di
terumbu karang berpotensi untuk merusak karang. Dengan adanya zonasi yang
diperuntukkan melindungi spesies-spesies ikan yang dilindungi dan terumbu karang yang
______________________________________________________________________________80
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


didalamnya diatur juga pembatasan alat tangkap, atau pembatasan ekspor ikan hidup dan
karang akan menjadi cara yang efisien untuk mengelola masalah ini.
Run off daratan, limbah kimia, plastik, sampah, polusi, dan sedimentasi diidentifikasi
merupakan sumber ancaman dari darat. Dalam rangka untuk menanganinya, perlu
dibangun kolaborasi dengan unit pengelolaan daratan dan meningkatkan
regulasi/peraturan untuk kualitas air dalam kawasan TNP dan peraturan kearah daratnya.
Langkah pertama adalah mengidentifikasi aktivitas-aktivitas yang berdampak pada
ekosistem laut di dalam kawasan TNP. Ini termasuk mempelajari DAS selama musim
kemarau dan hujan, aliran sungai, daerah di dekat pembangunan perkotaan, desa,
tambang, dan segala jenis eksploitasi yang dapat mempengaruhi kualitas air di dalam
kawasan TNP. Kebiasaan membuang sampah di tengah laut oleh penumpang maupun
ABK kapal penyeberangan juga merupakan sumber ancaman pencemaran perairan di
kawasan TNP. Oleh karena itu perlu juga membuat peraturan untuk hal ini.

Target konservasi untuk Laut Sawu adalah kombinasi habitat dan spesies yang
mencirikan wilayah ini yang dapat dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu : Terumbu
karang dan ekosistem serta spesies yang berasosiasi, dan Perairan Pantai dengan asosiasi
spesies pelagis atau migrasi. Pada dua kelompok tersebut, target bervariasi sesuai dengan
prioritas konservasi dari masing-masing wilayah Laut Sawu (Selat Sumba, Tirosa-Batek,
dan KKLD Alor yang merupakan jejaring MPA TNP Laut Sawu). Terumbu karang dan
ekosistem serta spesies yang berasosiasi, yaitu : terumbu karang, mangrove, padang
lamun, ikan yang berasosiasi (dengan target spesies seperti : ikan Napoleon dan Kima
Raksasa (Giant clam), penyu, dan dugong. Daerah Perairan Pantai yaitu : mamalia laut/
cetacean, ikan pelagis (terutama ikan Tuna). Selain target konservasi juga ditambah
dengan target kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian hal ini sesuai dengan visi dari
TNP Laut Sawu untuk melindungi keanekaragaman hayati untuk mempertahankan
kehidupan dan budaya masyarakat pesisir dan membantu mereka bertahan terhadap
munculnya ancaman. Dengan memfokuskan upaya dalam melindungi habitat, diharapkan
dapat melindungi spesies-spesies yang terdapat di dalam habitat tersebut. Namun strategi
ini harus dikombinasikan dengan strategi lainnya yaitu strategi untuk perikanan,
budidaya, pariwisata, dan lainnya untuk menjaga atau meningkatkan status mereka.
Seperti kasus untuk penyu, dugong dan paus, yang semuanya merupakan spesies yang
termasuk dalam daftar merah IUCN.

Target konservasi dipengaruhi oleh beberapa ancaman, yang bertindak bersama-sama


untuk mempengaruhi kelangsungan hidup mereka. Berdasarkan informasi dari survei,
pemantauan, informasi wawancara, dan pengamatan yang dilakukan, didapatkan
peringkat ancaman utama untuk setiap target konservasi di Laut Sawu. Ancaman utama
peringkat tertinggi terbagi ke dalam 3 kelompok :
1. Ancaman Dari Luar (pervasive threats)
a. Perubahan Iklim : Kenaikan muka air laut dan kenaikan suhu permukaan laut
(menyebabkan bleaching dan penyakit).
b. Polusi : Plastik dan limbah kimia.

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

81

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


2. Ancaman Lokal
a. Penangkapan ikan ilegal (illegal fishing), merusak seperti penggunaan bom,
racun dan penangkapan ikan berlebih (overfishing).
b. Hilangnya habitat karena konversi habitat untuk pengembangan daerah pesisir
(lahan dan konstruksi) seperti budidaya tambak dan penambangan.
c. Sedimentasi dan run-off daratan yanag berasal dari aktifitas pertambangan,
pertanian dan pembangunan pesisir.
3. Ancaman tambahan yang berdampak khusus terhadap spesies sensitif (mamalia
laut/cetacean, penyu, dugong)
a. Benturan dengan kapal/perahu
b. Polusi suara yang berasal dari kapal, sonar, penambangan minyak lepas pantai
c. Penangkapan : terkena/terbelit jaring nelayan dan long lines

Ancaman ini tidak hanya mempengaruhi habitat dan spesies yang berasosiasi di
dalamnya tetapi mengubah keseimbangan dalam ekosistem yang rapuh. Terumbu karang
mungkin dapat bertahan dengan setiap ancaman secara terpisah, tetapi ketika ancaman
tersebut dikombinasikan (misalnya : pemboman ikan, sedimentasi) mereka akan
kehilangan ketahanan/resilient mereka untuk pulih dari tekanan alami seperti badai atau
dampak dari pemanasan global.
D. Alokasi Kawasan TNP Laut Sawu
Laut Sawu sebagai wilayah sentral dari TNP yang telah dicadangkan sebagai kawasan
konservasi laut, merupakan kawasan laut yang memiliki keanekaragaman perikanan dan
sumberdaya laut lainnya yang cukup tinggi. Keadaan ini perlu dijaga agar
keanekaragaman hayati tersebut lestari dan fungsi-fungsi ekonomi dan ekologisnya tetap
dapat berjalan dengan baik. Selain terkait dengan keanekaragaman hayati tersebut di atas,
Laut Sawu juga merupakan salah satu wilayah penting sebagai batas terluar NKRI
dengan negara lain. Alokasi kawasan untuk setiap tipe zona di dalam TNP Laut Sawu
adalah sebagai berikut : 1.Zona Inti (Core Zone); 2. Zona Perikanan Berkelanjutan
(Sustainable Fisheries Zone); 3. Zona Pemanfaatan (Use Zone) dan 4. Zona Lainnya
(Others Zone)

Untuk mengakomodasi agar kegiatan menjaga keanekaragaman hayati dan juga


kepentingan strategis lain dapat berjalan harmonis, maka diperlukan pengaturan
pemanfaatan yang sifatnya berkelanjutan. Pengaturan pemanfaatan berkelanjutan ini
memerlukan pengelolaan yang menyeluruh seperti aspek kebijakan dan kesadaran
masyarakat atau pengguna sumberdaya alam tersebut, termasuk didalamnya sumberdaya
ikan.

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

82

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

Gambar ... Peta Tutupan Terumbu Karang di TNP Laut Sawu


Pembagian alokasi pemanfaatan di dalam TNP memerlukan proses kajian ilmiah,
kebijakan dan diskusi antara berbagai pihak terkait/stakeholder untuk akhirnya dapat
merumuskan dan juga menyepakati alokasi wilayah yang ada didalam TNP tersebut.
Basis data untuk kepentingan perencanaan dan alokasi kawasan di atas sebagian besar
diambil dari studi terdahulu dalam rangka perancangan jejaring kawasan konsevasi laut
di ekoregion Lesser Sunda. Lainnya dari data seperti data ALKI, Kawasan Strategis,
Area perikanan diambil dari draft RTWRP Provinsi NTT tahun 2010 yang berasal dari
Bappeda. Untuk langkah-langkah selanjutnya, kelengkapan basis data yang berasal dari
survey, masukan informasi dari masyarakat dan stakeholder serta identifikasi daerahdaerah dengan tipe pemanfaatan sumber daya yang berbeda perlu menjadi prioritas
sebelum melangkah jauh ke analisis dalam rangka penataan kawasan atau pembuatan
zonasi kawasan. Berdasarkan data dan informasi yang tersedia terlihat pada gambar ...
peta tutupan terumbu karang di kawasan TNP Laut Sawu.

Selain keanekaragaman hayati yang berada diwilayah pesisir, wilayah Laut Sawu dikenal
sebagai daerah migrasi mamalia laut. Berdasarkan informasi dari Benjamin Kahn (2009),
wilayah perairan Laut Sawu mempunyai koridor-koridor penting perlintasan mamalia
laut. Perlintasan-perlintasan tersebut penting artinya terkait dengan upaya pengelolaan
wilayah TNP Laut Sawu itu sendiri. Artinya didalam pengelolaan nanti, wilayah yang
menjadi bagian dari koridor perlintasan tersebut juga harus dalam pokok perhatian.

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

83

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

Gambar .... Peta Koridor Penting Untuk Migrasi Mamalia Laut


Selain faktor di atas yang masih terkait dengan aspek keanekaragaman hayati, dalam
pengalokasian kawasan atau dalam perencananaan dan pengelolaan TNP kedepan, perlu
memasukkan aspek human use/pemanfaatan. Aspek tersebut digunakan sebagai bagian
dari elemen penting dalam analisis dan penyusunan kebijakan terkait dengan
pengalokasian kawasan itu sendiri. Tidak dengan serta-merta dengan keberadaan TNP ini
menjadi tertutup segala kemungkinan terkait dengan pemanfaatan, tapi bagaimana cara
mensinergikan dan mensinkronisasikan beragam kepentingan menjadi selaras dengan
tujuan TNP itu sendiri. Salah satu aspek yang terkait dengan pemanfaatan ini adalah
adanya rencana dibangunnya jalur kabel bawah laut seperti tampak pada peta dibawah
ini. Rencana jalur kabel bawah laut dimulai dari Kota Kupang yang kemudian menuju ke
Kab. Ende dengan melewati kawasan TNP Laut Sawu di sebelah utara Pulau Semau dan
selanjutnya jalur menuju ke perairan Nusa Tenggara Barat dengan melewati kawasan
TNP Laut Sawu di perairan Selat Sumba.

Gambar ..... Peta Rencana Jalur Kabel FO Bawah Laut


______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

84

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


Hal yang lebih penting lagi adalah keberadaan jalur pelayaran yang melintas di wilayah
perairan Provinsi Nusa Tenggara Timur termasuk di dalamnya keberadaan Alur Lintas
Kepulauan Indonesia (ALKI). Laut Sawu termasuk dalam jalur ALKI III yaitu alur laut
kepulauan yang dapat dipergunakan untuk melaksanakan Hak Lintas Alur Laut
Kepulauan untuk pelayaran dengan jalur dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia atau
sebaliknya, melintasi Laut Maluku, Laut Seram, Laut Banda, Selat Ombai, dan Laut
Sawu.

Gambar . Peta Jalur Pelayaran di wilayah perairan NTT

Gambar Peta ALKI di wilayah perairan NTT

E. Zonasi TNP Laut Sawu


Strategi utama untuk pengelolaan TNP Laut Sawu adalah dengan menyusun suatu
rencana zonasi yang komprehensif dan membagi kawasan-kawasan di TNP Laut Sawu
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

85

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


menjadi zona-zona peruntukan. Zonasi di dalam Taman Nasional Perairan Laut Sawu
didasarkan pada data ekologi yang ada, pemahaman prinsip-prinsip ekologi dan
konservasi, kebutuhan sosial-ekonomi dan budaya masyarakat lokal, dan kelayakan
penerapannya. Peraturan-peraturan akan disusun untuk setiap zona untuk memastikan
kelangsungan flora dan fauna Taman Nasional, ekosistem, dan masyarakat lokalnya.
Zonasi TNP Laut Sawu adalah pembagian kawasan menjadi beberapa zona melalui
penetapan batas-batas fungsional sesuai dengan potensi sumberdaya dan daya dukung
serta proses-proses ekologis yang berlangsung sebagai satu kesatuan ekosistem.
Perumusan zonasi di TNP Laut Sawu penting untuk pengatur penggunaan ruang yang
multifungsi berpotensi dan menimbulkan kompetisi, konflik, dan perbedaan kepentingan.
Sehingga perlu ada penetapan zonasi untuk mengelompokkan kegiatan yang kompatibel
dan memisahkan yang tidak kompatibel. Sekaligus dapat mengatasi konflik pemanfaatan
sumberdaya, serta untuk memandu pemanfaatan jangka panjang, pembangunan dan
pengelolaan sumberdaya didalam rencana pengembangan wilayah konservasi.
Penataan zonasi TNP Laut Sawu didasarkan pada potensi, karakteristik dan tujuan
kawasan dengan memperhatikan aspek ekologi, sosial budaya, dan ekonomi. Penetapan
zona dapat dipahami seperti membuat kisi-kisi spasial di atas lingkungan pesisir dan laut.
Zona-zona yang dibuat memisahkan pemanfaatan sumberdaya yang saling bertentangan
dan menentukan yang mana kegiatan-kegiatan dilarang dan diijinkan untuk setiap zona
peruntukan. Zonasi juga dapat dianggap sebagai suatu upaya untuk menciptakan suatu
keseimbangan antara kebutuhan-kebutuhan pembangunan dan konservasi.
Pertimbangan dalam menentukan zona-zona pada kawasan konservasi laut, yaitu
penentuan fungsi yang dominan untuk satu area; hal ini dapat dibangun dengan mengacu
pada prioritas pembangunan provinsi NTT dan Kabupaten/Kota sekitar kawasan TNP
Laut Sawu (RTRP/RTRWK) dan dalam penentuan kegiatan-kegiatan yang dapat berjalan
berdampingan, pengaturan dan perlindungan, kegiatan yang sudah rasional saat ini dan
kawasan dilindungi atau tanpa peruntukan yang ditujukan untuk kontingensi kawasan
konservasi. Penentuan zona-zona dilakukan dengan sangat memperhatikan pola umum
kebijakan dan arahan pengelolaan kawasan. Secara spesifik, TNP Laut Sawu dibangun
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bidang/aspek-aspek pemenuhan
kebutuhan sehari-hari, konservasi ekosistem, maupun kebutuhan masyarakat akan
berfungsi baiknya obyek dan operator wisata di kawasan ini.

Rencana zonasi TNP Laut Sawu ini akan dituangkan dalam Peta Zonasi dengan
kedetailan skala 1 : 250.000. Pada Permen Kelautan dan Perikanan RI No. 2 Tahun 2009
disebutkan bahwa skala yang digunakan untuk penetapan kawasan konservasi perairan
adalah minimal 1 : 250.000. Zonasi di TNP Laut Sawu mengacu pada pembagian zonasi
yang telah diatur di Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2001
Tentang Konservasi Sumberdaya Ikan. Sistem zonasi untuk TNP Laut Sawu mencakup
dan meliputi kawasan pesisir dan laut. Usulan sistem zonasi untuk TNP Laut Sawu terdiri
dari 4 tipe zona yang memiliki kriteria, peruntukan dan peraturan-peraturan khusus untuk
masing-masing zona, zona-zona tersebut yaitu :
1. Zona Inti (Core Zone)
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

86

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


Zona inti merupakan bagian-bagian kawasan konservasi perairan yang memiliki
kondisi alam baik biota ataupun fisiknya masih asli dan/ belum diganggu oleh
manusia yang mutlak dilindungi, berfungsi untuk perlindungan keterwakilan
keanekaragaman hayati yang asli dan khas. Zona inti mempunyai luas minimal 15 %
dari habitat penting serta harus melalui kajian terlebih dahulu, dengan kriteria antara
lain meliputi :
a. Merupakan daerah pemijahan, pengasuhan dan/atau alur ruaya;
b. Merupakan habitat biota perairan tertentu yang prioritas dan khas/endemik,
langka dan/atau kharismatik.
c. Mempunyai keanekaragaman jenis biota perairan beserta ekosistemnya;
d. Mempunyai ciri khas ekosistem alami, dan mewakili formasi biota tertentu yang
masih asli;
e. Mempunyai kondisi perairan yang relatif masih asli dan tidak atau belum
diganggu manusia;
f. Mempunyai luasan yang cukup untuk menjamin kelangsungan hidup jenis-jenis
ikan tertentu untuk menunjang pengelolaan perikanan yang efektif dan menjamin
berlangsungnya proses bio-ekologis secara alami;
g. Mempunyai ciri khas sebagai sumber plasma nutfah bagi kawasan konservasi
perairan.

2. Zona Perikanan Berkelanjutan (Sustainable Fisheries Zone)


Zonasi Perikanan Berkelanjutan adalah bagian kawasan konservasi perairan yang
karena letak, kondisi dan potensinya mampu mendukung kepentingan pelestarian
pada zona inti dan zona pemanfaatan. Kriteria dari Zona Perikanan Berkelanjutan
meliputi :
a. Memiliki nilai konservasi, tetapi dapat bertoleransi dengan pemanfaatan budidaya
ramah lingkungan dan penangkapan ikan dengan alat dan cara yang ramah
lingkungan;
b. Mempunyai karakteristik ekosistem yang memungkinkan untuk berbagai
pemanfaatan ramah lingkungan dan mendukung perikanan berkelanjutan;
c. Mempunyai keanekaragaman jenis biota perairan beserta ekosistemnya;
d. Mempunyai kondisi perairan yang relatif masih baik untuk mendukung kegiatan
multifungsi dengan tidak merusak ekosistem aslinya;
e. Mempunyai luasan yang cukup untuk menjamin pengelolaan budidaya ramah
lingkungan, perikanan tangkap berkelanjutan, dan kegiatan sosial ekonomi
masyarakat;
f. Mempunyai karakteristik potensi dan keterwakilan biota perairan bernilai
ekonomi.

3. Zona Pemanfaatan (Use Zone); dan


Zonasi Pemanfaatan merupakan bagian kawasan konservasi perairan yang letak,
kondisi dan potensi alamnya diutamakan untuk kepentingan pariwisata alam perairan
dan/atau kondisi/jasa lingkungan serta untuk kegiatan penelitian dan pendidikan.
Zona pemanfaatan mempunyai kriteria sebagai berikut :
a. Mempunyai daya tarik pariwisata alam berupa biota perairan beserta ekosistem
perairan yang indah dan unik;
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

87

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


b. Mempunyai luasan yang cukup untuk menjamin kelestarian potensial dan daya
tarik untuk dimanfaatkan bagi pariwisata dan rekreasi;
c. Mempunyai karakter objek penelitian dan pendidikan yang mendukung
kepentingan konservasi;
d. Mempunyai kondisi perairan yang relatif masih baik untuk berbagai kegiatan
pemanfaatan dengan tidak merusak ekosistem aslinya;
4. Zona lainnya.
Zona lainnya merupakan zona di luar zona inti, zona perikanan berkelanjutan, dan
zona pemanfaatan yang karena fungsi dan kondisinya ditetapkan sebagai zona
tertentu antara lain seperti zona pelayaran dan lain sebagainya. Zona lainnya memiliki
kriteria tertentu sesuai karakteristik kawasan dan tujuan pengelolaannya di luar dari
zona inti, zona perikanan berkelanjutan, dan zona pemanfaatan.

Di dalam zona-zona tersebut dalam perkembangan nantinya akan dibentuk juga sub-sub
zona yang diharapkan dapat melindungi kelangsungan hidup sumberdaya hayati dan
mengakomodir kepentingan konservasi, kebutuhan sosial ekonomi dan budaya
masyarakat dan faktor-faktor lainnya.
Usulan peraturan-peraturan yang sesuai disusun secara khusus untuk setiap tipe zona di
dalam TNP Laut Sawu.Usulan peraturan-peraturan untuk masing-masing zona adalah
sebagai berikut :
1. Zona Inti (Core Zone)
Zona Inti TNP adalah kawasan tanpa pemanenan.
Zona Inti diperuntukkan bagi perlindungan mutlak habitat dan populasi ikan;
penelitian; dan pendidikan.
Kegiatan perlindungan mutlak habitat dan populasi ikan meliputi : perlindungan
proses-proses ekologis yang menunjang kelangsungan hidup dari suatu jenis atau
sumberdaya ikan dan ekosistemnya; penjagaan, pencegahan dan pembatasan
kegiatan-kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan keutuhan potensi
kawasan dan perubahan fungsi kawasan; dan pemulihan dan rehabilitasi
ekosistem.
Kegiatan penelitian yang diperbolehkan yaitu : penelitian dasar menggunakan
metode observasi untuk pengumpulan data dasar; penelitian terapan menggunakan
metode survei untuk tujuan monitoring kondisi biologi dan ekologi dan
pengembangan untuk tujuan rehabilitasi.
Ijin penelitian diberikan oleh Pengelola TNP, tergantung pada terpenuhinya
semua persyaratan yang ditetapkan, termasuk persetujuan atas usulan penelitian
tersebut (tertulis) oleh Kepala Pengelola TNP Laut Sawu atau pejabat yang
ditunjuk.
Kegiatan pendidikan meliputi pendidikan, penyuluhan konservasi dan tidak
bersifat ekstraktif.
Dilarang keras untuk mengambil, menggali, mengganggu atau memindahkan
setiap sumberdaya alam (hayati maupun non-hayati).

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

88

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


2. Zona Perikanan Berkelanjutan (Sustainable Fisheries Zone)
Zona Perikanan Berkelanjutan diperuntukkan untuk : perlindungan habitat dan
populasi ikan; penangkapan ikan dengan alat dan cara yang ramah lingkungan;
budidaya ramah lingkungan; pariwisata dan rekreasi; penelitian dan
pengembangan; dan pendidikan.
Kegiatan perlindungan habitat dan populasi ikan yang diperbolehkan yaitu :
Perlindungan proses-proses ekologis yang menunjang kelangsungan hidup dari
suatu jenis atau sumberdaya ikan dan ekosistemnya; Pengamanan, pencegahan
dan/atau pembatasan kegiatan-kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan
keutuhan potensi kawasan dan perubahan fungsi kawasan; Pengelolaan jenis
sumberdaya ikan beserta habitatnya untuk dapat menghasilkan keseimbangan
antara populasi dan habitatnya; Alur migrasi biota perairan; Pemulihan.
Kegiatan Penangkapan ikan dengan alat dan cara yang ramah lingkungan
meliputi: alat tangkap yang sifatnya pasif dan semi aktif; dan cara memperoleh
ikan dengan memperhatikan daya dukung habitat dan/atau tidak mengganggu
keberlanjutan sumber daya ikan serta disesuaikan dengan standar alat
penangkapan ikan yang ditetapkan Pemerintah, Pemerintah Daerah dan/atau
kearifan lokal.
Alat tangkap yang sifatnya pasif adalah alat tangkap yang menetap, yang mana
ikan mendatangi alat tersebut sehingga tertangkap antara lain Jaring Angkat (Lift
Net), Jaring insang, Bagan Perahu/rakit (boat/raft lift net), Bagan Tancap (bamboo
platform lift net), Jaring Serok (scoop net), Jaring angkat lainnya (Other Lift Net),
Bubu (Portable Trap), dan Perangkap Lain (Other Trap).
Alat tangkap yang sifatnya semi aktif antara lain Rawai Tuna (Tuna Long Line),
Rawai Hanyut (Drift Long Line), Rawai Tetap (Set Long Line), Huhate (Pole and
Line), Pancing Tonda (Troll Line), Pancing Ulur (Hand Line), Sero (Guiding
Barrier), dan Jermal (Stow Net).
Kegiatan yang diperbolehkan untuk penangkapan ikan meliputi : penangkapan
ikan ramah lingkungan untuk tujuan komersial; dan penangkapan ikan ramah
lingkungan bukan untuk tujuan komersial.
Penangkapan ikan ramah lingkungan untuk tujuan komersial meliputi kegiatan
penangkapan ikan untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi baik untuk konsumsi
sendiri maupun untuk dijual.
Penangkapan ikan bukan untuk tujuan komersial meliputi kegiatan penangkapan
ikan dalam kawasan konservasi perairan dalam rangka pariwisata, penelitian dan
pengembangan serta pendidikan. Kegiatan tersebut tidak didasarkan pada nilai
tukar ekonomis dan/atau nilai tambah ekonomis dan mengutamakan pada
pencapaian tujuan kegiatan pariwisata, penelitian dan pengembangan serta
pendidikan.
Kegiatan budidaya ikan yang diperbolehkan di zona ini meliputi : budidaya ikan
ramah lingkungan untuk tujuan komersial; dan budidaya ikan ramah lingkungan
bukan untuk tujuan komersial.
Budidaya ikan untuk tujuan komersial meliputi kegiatan budidaya ikan untuk
pemenuhan kebutuhan ekonomi baik untuk konsumsi sendiri maupun untuk
dijual.

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

89

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


Budidaya ikan bukan untuk tujuan komersial adalah kegiatan budidaya ikan
dalam kawasan konservasi perairan dalam rangka wisata, penelitian dan
pengembangan serta pendidikan. Kegiatan tersebut tidak didasarkan pada nilai
tukar ekonomis dan/atau nilai tambah ekonomis dan mengutamakan pada
pencapaian tujuan kegiatan wisata, penelitian dan pengembangan serta
pendidikan.
Kegiatan pariwisata dan rekreasi yang diperbolehkan meliputi : pariwisata minat
khusus; perahu pariwisata; pariwisata mancing; dan pembuatan foto, video, dan
film.
Jumlah dan ijin wisatawan yang berkunjung disesuaikan dengan daya dukung
kawasan yang dikelola oleh Pengelola TNP;
Penutupan musiman atau minimisasi tekanan wisata ditetapkan jika diperlukan
untuk mencegah gangguan pembiakan atau proses pemijahan ikan;
Kegiatan penelitian dan pengembangan yang diperbolehkan meliputi : penelitian
dasar untuk kepentingan konservasi, penelitian terapan untuk kepentingan
konservasi dan penelitian pengembangan untuk kepentingan konservasi.
Ijin penelitian diberikan oleh Pengelola TNP Laut Sawu, tergantung pada
terpenuhinya semua persyaratan yang ditetapkan, termasuk persetujuan atas

usulan penelitian tersebut (tertulis) oleh Kepala Pengelola TNP atau pejabat yang
ditunjuk.
Kegiatan pendidikan yang diperbolehkan meliputi pendidikan untuk memberikan
motivasi dalam rangka pengelolaan TNP berdasarkan nilai dan fungsinya,
meliputi aspek: biologi, ekologi, sosial ekonomi dan budaya, tata kelola dan
pengelolaan kawasan konservasi perairan.
Dilarang keras mengambil atau mengganggu semua sumberdaya alam, termasuk
penambangan karang mati, batu dan/ atau pasir;
Penambatan kapal dilarang kecuali pada mooring buoy yang dipasang khusus atau
diperairan dengan dasar 100 % pasir atau perairan yang lebih dalam dari 30
meter;

3. Zona Pemanfaatan (Use Zone)


Zona Pemanfaatan diperuntukkan untuk : perlindungan dan pelestarian habitat
dan populasi ikan; pariwisata dan rekreasi; penelitian dan pengembangan; dan
pendidikan.
Kegiatan perlindungan dan pelestarian habitat dan populasi ikan yang
diperbolehkan meliputi : perlindungan proses-proses ekologis yang menunjang
kelangsungan hidup dari suatu jenis atau sumberdaya alam hayati dan
ekosistemnya; penjagaan dan pencegahan kegiatan-kegiatan yang dapat
mengakibatkan perubahan keutuhan potensi kawasan dan perubahan fungsi
kawasan; pengelolaan jenis sumberdaya ikan beserta habitatnya untuk dapat
menghasilkan keseimbangan antara populasi dan daya dukung habitatnya; alur
migrasi biota perairan; pemulihan dan rehabilitasi ekosistem.
Kegiatan pariwisata dan rekreasi yang diperbolehkan meliputi : berenang;
menyelam; pariwisata tontonan; pariwisata minat khusus; perahu pariwisata;
olahraga permukaan air; dan pembuatan foto, video dan film.

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

90

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


Kegiatan penelitian dan pengembangan yang diperbolehkan meliputi : penelitian
dasar untuk kepentingan pemanfaatan dan konservasi, penelitian terapan untuk
kepentingan pemanfaatan dan konservasi, dan pengembangan untuk kepentingan
konservasi.
Kegiatan yang diperbolehkan di zona pemanfaatan untuk pendidikan meliputi :
Pendidikan tentang pemeliharaan dan peningkatan keanekaragaman hayati;
Pendidikan tentang perlindungan sumberdaya masyarakat lokal; Pendidikan
tentang pembangunan perekonomian berbasis ekowisata bahari; Pendidikan
tentang pemeliharaan proses ekologis dan sistem pendukung kehidupan;
Pendidikan tentang promosi pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan;
Pendidikan tentang promosi upaya tata kelola untuk perlindungan lingkungan
Taman Nasional Perairan.

4. Zona Lainnya (Others Zone)


Zona lainnya diperuntukkan untuk : Zona rehabilitasi untuk mengembalikan
ekosistem kawasan yang rusak menjadi atau mendekati kondisi ekosistem
alamiahnya; dan Zona khusus untuk kepentingan aktivitas, sarana penunjang
kehidupan kelompok masyarakat dan/atau masyarakat adat yang tinggal di
wilayah tersebut dan kepentingan umum anatara lain berupa sarana
telekomunikasi, fasilitas transportasi dan jaringan Iistrik.
Peruntukan zona lainnya untuk kegiatan rehabilitasi dengan kriteria meliputi :
Adanya perubahan fisik, sifat fisik dan hayati yang secara ekologi berpengaruh
kepada kelestarian ekosistem yang pemulihannya diperlukan campur tangan
manusia; Adanya invasi spesies yang mengganggu jenis atau biota asli dalam
kawasan; Pemulihan kawasan sekurang-kurangnya memerlukan waktu 5 (lima)
tahun.
Peruntukan zona lainnya untuk perlindungan/kegiatan khusus dengan kriteria
meliputi : terdapat sekelompok masyarakat dan sarana penunjang kehidupannya
yang memanfaatkan kawasan perairan tersebut sebelum dicadangkan/ditetapkan
sebagai TNP; merupakan wilayah ruaya biota perairan tertentu yang dilindungi;
terdapat sarana prasarana seperti telekomunikasi, fasilitas transportasi, jaringan
listrik, pelabuhan, alur pelayaran, sebelum wilayah tersebut dicadangkan/
ditetapkan sebagai TNP; pemanfaatan lain disesuaikan kebutuhan zona dengan
memperhatikan daya dukung lingkungan dan tidak merusak fungsi TNP.

Zonasi yang diusulkan dan peraturan untuk TNP Laut Sawu harus secara terus menerus
disosialisasikan dan didiskusikan dengan semua stakeholder lokal, khususnya masyarakat
di dalam dan yang berdekatan dengan TNP Laut Sawu. Bahan-bahan penyuluhan seperti
flip chart, pedoman tentang sejarah alam, poster, denah dan peta didesain untuk
menyajikan pemikiran tentang pengelolaan TNP Laut Sawu kepada masyarakat lokal dan
membimbing diskusi. Masukan dari kelompok masyarakat dalam TNP Laut Sawu juga
dipertimbangkan dalam rangka penyesuaian terhadap rencana pengelolaan. Setelah
keputusan tentang langkah-langkah pengelolaan disusun, maka bahan penyuluhan akan
disiapkan untuk memastikan bahwa informasi tentang peraturan-peraturan itu jelas dan
dipahami dengan baik oleh masyarakat sasaran.

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

91

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


Peraturan zonasi TNP Laut Sawu akan disebarkan ke semua pengguna TNP Laut Sawu.
Pedoman bergambar dan poster akan dibagikan di desa-desa di dalam dan sekitar
kawasan, yang menjelaskan sistem zonasi dan peraturan-peraturannya. Pedoman dan
poster dibagikan pada pertemuan-pertemuan masyarakat untuk memberikan penjelasan
tentang pengelolaan TNP Laut Sawu. Dalam pertemuan seperti itu program penegakan
peraturan juga akan dibahas, termasuk tanggung jawab masyarakat setempat, pentingnya
pengelolaan-bersama dan sanksi bagi pelanggaran peraturan TNP Laut Sawu.

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

92

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


BAB VI
PENUTUP
Pelaksanaan pembangunan TNP Laut Sawu secara berkelanjutan merupakan tanggung
jawab semua pihak. Rencana Pengelolaan TNP Laut Sawu Tahun 2011 2030 ini
merupakan dokumen kebijakan publik sebagai penjabaran Visi, Misi dan Agenda
Nasional, Popinsi dan Kabuapten/Kota yang disetujui dan dilegitimasikan dalam
Peraturan Menteri/Dirjen dan menjadi instrument penting untuk mengarahkan dan
mengendalikan kegiatan program pembangunan bagi semua pelaku untuk mewujudkan
kelestaraian TNP Laut Sawu kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian komitmen
yang terbangun dalam perencanaan harus dipatuhi dan diimplementasi, karena
didalamnya ditetapkan secara sadar arah dan tujuan sasaran pembangunan semua pihak
yang akan dicapai sampai tahun 2030.

Untuk itu, semua pihak yang terkait dalam pengelolaan TNP Laut Sawu, diharapkan
untuk mampu mendukung substansi RP TNP Laut Sawu ini secara partisipatif. Bagi
pengelola TNP Laut Sawu, RP TNP Laut Sawu ini merupakan pedoman untuk
penyusunan Rencana Pengelolaan Lima dan Satu Tahun, pengakuan pentingnya peran
serta para pemangku kepentingan, dan merupakan dasar dalam evaluasi dan pelaporan
kinerja pengelolaan TNP Laut Sawu Periode Tahun 2011 2015 dengan memperhatikan
beberapa asas.
Asas keterpaduan menunjukkan adanya pengintegrasian dan kesinergisan kebijakan dan
pelaksanaan berbagai sektor pemerintahan pada semua tingkat pusat, pemerintahan
daerah, juga termasuk keterpaduan antara kegiatan ekosistem darat dan ekosistem laut.
Asas keterpaduan ini berarti menghilangkan kepentingan/arogansi sektor, tetapi
membangun tanggung jawab bersama dalam mengelola sumber daya kelautan bagi
kepentingan bangsa dan negara. Asas kehati-hatian merupakan asas yang sudah diakui
dan diterapkan secara internasional terutama di negara-negara maju dengan
menggunakan metode dan teknologi maju. Asas kemandirian harus memberdayakan
kemampuan yang ada dan berusaha keras untuk tidak bergantung pada pihak luar. Oleh
karena itu, pembinaan sumber daya manusia harus terus-menerus dilakukan.
Kemandiriaan harus mengembangkan capacity-building dan tekad yang kuat dari
pemerintah dan semua pihak agar sumber daya laut memberikan manfaat optimal bagi
kesejahteraan bangsa. Asas pengelolaan berbasis ekosistem dan ekologis bahwa suatu
kegiatan oleh satu sektor atau oleh masyarakat akan menimbulkan dampak bagi kegiatan
lain, misalnya kegiatan yang dilakukan di darat tanpa perhitungan dengan baik akan
menimbulkan dampak negatif bagi kualitas di laut. Asas ini tidak beda dengan asas
keterpaduan. Demikian juga suatu kegiatan harus memperhatikan pertimbangan ekologis
karena saling terkait. Asas berkeadilan ini berhubungan erat dengan asas peran serta
masyarakat, di mana masyarakat harus menikmati sumber daya kelautan. Artinya
keadilan harus dilaksanakan, jangan sampai mereka yang memiliki modal yang mampu
menguasai sumber daya kelautan, sementara masyarakat yang tinggal di sekitar laut tidak
mendapatkannya. Di lain pihak, masyarakat juga harus bekerja keras untuk terlibat dalam
membangun sumber daya laut tersebut, sehingga terjadi keseimbangan yang pada
akhirnya akan tercapai kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

93

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


DAFTAR PUSTAKA
Sedang dalam penyelesaian

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

94

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN

Sedang dalam penyelesaian

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

95

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

LAMPIRAN

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

96

Draft ini tidak untuk disebarluaskan


CATATAN PROSES PENYUSUNAN
Sedang dalam penyelesaian

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

97

MATRIK PROGRAM DAN RENCANA KEGIATAN PENGELOLAAN TNP LAUT SAWU TAHUN 2011-2030
No
1
1

Program
2
Pengelolan dan
Konservasi
Sumberdaya laut

Kegiatan Pokok (fokus kegiatan)


3
1.1. Penetapan kawasan TNP Laut Sawu

Kegiatan
4
1.1.1. Evaluasi rencana penetapan
1.1.2. Surat Menteri
1.1.3. Penunjukan Unit organisasi

Butir Kegiatan
5

1.1.4. Mengumumkan dan


mensosialisasikan
1.1.5. Penunjukan Panitia penataan
batas
1.1.6. Penataan Batas kawasan

1.2. Pengelolaan kawasan TNP Laut


Sawu

1.2.1. Penataan kawasan

a. perancangan penataan batas;


b. pemasangan tanda batas;
c. pengukuran batas;
d. pemetaan batas kawasan;
e. sosialisasi penandaaan batas
kawasan konservasi perairan;
f. pembuatan berita acara tata
batas; dan
g. pengesahan batas kawasan
konservasi perairan.
Penataan zonasi TNP Laut Sawu
Padu serasi zonasi TNP Laut Sawu
dengan RTRW
Provinsi/Kabupaten/Kota
Penataan batas zonasi
Rekonstruksi titik zonasi
Digitasi zonasi dan
sumberdayalaut kawasan
Dokumentasi zonasi
Evaluasi zonasi

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

No
1

Program
2

Kegiatan Pokok (fokus kegiatan)


3
1.3. Pengelolan Perikanan tangkap dan
budidaya laut

Kegiatan
4
1.3.1. Pembuatan aturan/ batasan
alat tangkap, ukuran ikan yang
ditangkap, daerah perikanan, dan
musim tangkapan
1.3.2. Penerbitan informasi dan
status terkini

Butir Kegiatan
5
hasil dari taksiran data statistik
perikanan, analisa ancaman kritis
dan perencanaan para pemangku
kepentingan yang terlibat.
ancaman kritis, hasil tangkapan
perikanan, potensi

1.3.3. Formulasi kebutuhan


aturan/batasan alat tangkap, ukuran
ikan yg ditangkap, daerah perikanan
dan musim tangkap berdasarkan
informasi terkini.
1.3.4. Pembuatan sistem perijinan
bagi kapal perikanan komersil
1.3.5. Sistem perijinan yang
mendukung pengelolaan perikanan
yang berkelanjutan bidang
perikanan tangkap dan budidaya
1.3.6. Mencegah dan merintangi
praktek perikanan yg menyalahi
hukum, tidak dilaporkan dan tidak di
atur (IUU fishing) di dalam TNP
Laut Sawu.
1.3.7. Pembinaan sarana dan
prasarana perikanan budidaya

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

Penyusunan rencana,
Inventarisasi,
Identifikasi,
Analisis kebutuhan,
Pemanfaatan sarana-prasarana
perikanan budidaya,
Bimbingan,
Pemanfaatan sarana prasarana
Verifikasi
Pengujian lapangan

99

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

No
1

Program
2

Kegiatan Pokok (fokus kegiatan)


3

1.4. Pengelolaan keanekaragaman hayati


dan ekosistem TNP Laut Sawu

1.5. Perlindungan dan pengamanan


kawasan

1.6. Pengembangan industri dan jasa


kelautan yang lestari

Kegiatan
4
1.3.8. Melakukan kegiatan
pengembangan dan teknologi
perikanan budidaya

Butir Kegiatan
5
Penyusunan rencana,
Inventarisasi,
Identifikasi,
Kajian kebutuhan teknologi

1.4.1. Survey & monitoring sumber


daya kelautan dan perikanan

Rapid Ecological Asessment


Monitoring karang
Monitoring Penyu
Monitoring mangrove
Monitoring SPAGS
Monitoring setasea
Monitoring habitat burung pantai
Survey & monitoring pola
pemanfaatan sumberdaya kealuatn
dan perikanan
Survey & monitoring potensi
wisata bahari
Pemulihan/rehabilitasi
Restocking
Pengamanan fungsional :
Patroli rutin/reguler
Patroli mendadak/insidentil
Pengamanan gabungan
Patroli rutin/reguler
Patroli mendadak/insidentil
Pemetan daerah rawan gangguan
Proses hukum/penyelesaian kasus
secara hukum

1.4.2. Pengelolaan ekosistem,


habitat & populasi
1.5.1. Pengamanan kawasan TNP
Laut Sawu

1.5.2. Penegakan hukum atas


pelanggaran & gangguan dalam
kawasan TNP Laut Sawu
1.6.1. Pengembangan bioteknologi
kelautan
1.6.2. Pengembangan energi
terbarukan
1.6.3. Pengembangan air murni

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

Identifikasi, Kemitraan
Percontohan

100

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

No
1

Program
2

Kegiatan Pokok (fokus kegiatan)


3
1.7. Pengembangan pemanfaatan jasa
lingkungan dan wisata alam

Kegiatan
4
1.7.1. Pengembangan wisata bahari

Butir Kegiatan
5
Promosi & penyebaran informasi
potensi pariwisata TNP laut Sawu
(expose)
Pengembangan pengelolaan wisata
Pemebrlakukan ijin& karcis masuk
Penetapan mekanisme perizinan &
standarisasi usaha pariwisata alam

1.7.2. Pengembangan wisata budaya


1.8. Pengembangan Sistem Pemantauan
dan Penanggulangan bencana alam

1.9. Pengembangan Pengelolaan laut


dalam
1.10. Pengelolaan menghadapi perubahan
iklim

1.8.1. Sosialisasi penanggulangan


bencana
1.8.2. Simulasi penanggulangan
bencana
1.8.3. Pengembangan fasilitas
evakuasi dan pemulihan
1.9.1. Studi awal
1.9.1 Studi lanjutan
1.10.1. Kolaborasi antara lembaga
pemerintah, organisasi konservasi,
sektor swasta, dan masyarakat local
1.10.2. Reformasi kebijakan untuk
membangun fleksibilitas dalam
perencaanaan pengelolaan TNP Laut
Sawu secara formal secaraberkala
melaksanakan tinjauan dan revisi
terhadap zonasi dan dan strategi
manajemen
1.10.3. Penerapan manajemen
adaptif di TNP laut Sawu untuk
memungkinkan respon yang efektif
terhadap perubahan iklim, tuntutan,
dan tekanan pd kawasan
1.10.4. Memperkuat tingkat

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

Identifikasi, Kemitraan
Percontohan

101

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

No
1

Program
2

Kegiatan Pokok (fokus kegiatan)


3

1.11. Pengelolaan populasi setasea

Kegiatan
4
dukungan ilmiah untuk TNP Laut
Sawu agar sesuai dengan kondisi
local untuk memastikan kawasan
dikelola, dirancang dan berhasil
bertahan terhadap perubahan iklim.
1.11.1. Kelengkapan data analisis
dan REA - untuk lokasi-lokasi yang
belum diketahui
1.11.2. Mengembangkan dan
mendukung tim lokal yang kuat
1.11.3. Pelatihan dan peningkatan
kapasitas bagi tim lokal secara
langsung bersamaan dengan
kegiatan survei dan penelitian
1.11.4. Studi kelayakan Wisata
Pematanauan Paus Pariwisata,
menyelam / surfing dalam
pengembangan pariwisata TNP Laut
Sawu
1.11.5. Pendanaan jangka panjang
untuk perlindungan dan pengelolaan
berkelanjutan
1.11.6. Mengembangkan suatu
komite penasehat teknis untuk
pembangunan berkelanjutan di
daerah termasuk pengelolaan
keanekaragaman hayati dan
limpahan khususnya setasea
1.11.7. Survei dan pelatihan
lapangan yang intensif untuk
membangun kapasitas pemantauan
untuk megafauna
1.11.8. Kampanye Polusi di Laut
(Plastik dll) di Laut Sawu pada alat

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

Butir Kegiatan
5

102

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

No
1

Program
2

Pengembangan
Kapasitas
Pengelolaan
Sumberdaya Laut

Kegiatan Pokok (fokus kegiatan)


3

1.12. Penelitian, pengembangan dan


penerapan ilmu dan teknologi kelautan.
1.13. Pengembangan mekanisme
monitoring dan evaluasi
2.1. Peningkatan kapasitas kelembagaan
pengelola TNP Laut Sawu

2.2. Perencanaan dan pengendalian


pengelolaan

2.3. Pengembangan kelembagaan


mandiri berbentuk Badan Layanan
Umum

Kegiatan
4
angkut Feri, kapal dll
1.11.9. Pelibatan operator wisata
secara aktif untuk melaporkan
keberadaan paus (penampakan dan
terdampar)

Butir Kegiatan
5

2.1.1. Penyusunan rencana formasi


SDM pengelola TNP Laut Sawu

Menyusun kulaifikasi dan


klasifikasi kebutuhan SDM TNP
laut Sawu

2.1.2. Peningkatan kemampuan &


profesionalisme pengelola TNP Laut
Sawu
2.1.3. Peningkatan sarana prasarana

Diklat/kursus/penyegaran
Magang, studi banding

2.2.1. Penyusunan program &


rencana kerja/teknis

Penyusunan rencana pengelolaan


5 tahun
1 tahun
Penyusunan
juklak/juknis/pedoman
Evaluasi pengelolaan TNP

2.2.2. Monitoring & evaluasi


2.3.1. Penyusunan pernyataan
kesanggupan meningkatkan kinerja;

Pengembangan dan pembangunan


gedung kantor
Pengadaan alat & mesin
Pemeliharaan

2.3.2. Penyusunan pola tata kelola


jelas;
2.3.3. Penyusunan Renstra Bisnis
Anggaran;

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

103

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

No
1

Program
2

Kegiatan Pokok (fokus kegiatan)


3

2.4. Pengembangan sistem pengelolaan


kolaborasi

2.5. Pengembangan kerjasama kemitraan


pengelolaan TNP Laut Sawu

Kegiatan
4
2.3.4. Penyusunan Standar
Pelayanan Minimal;
2.3.5. Penyusunan Laporan
Keuangan Pokok (proposal laporan
keuangan)
2.3.6. Ketersediaan Laporan Audit
2.4.1. Pembentukan mekanisme
pengelolaan kolaborasi

2.4.2. Penguatan peran Forum Para


Pihak
2.4.3. Formulasi & penerapan
mekanisme keluhan (Greivence
mechanism)
2.5.1. Pengembangan kerjasama
dengan institusi/lembaga/pihak lain
dalam rangka efektifitas dan
peningkatan kapasitas pengelolaan
(pemerintah, LSM, lembaga
pendidikan, kelompok/lembaga
masyarakat) lingkup lokal, regional,
nasional dan internasional
2.5.2. Pengembangan mekanisme
kerjasama pengelolaan

Butir Kegiatan
5

Membuat rancangan/model
mekanis pengelolaan kolaborasi
Penerapan model mekanisme
pengelolaan kolaborasi
Pembentukan lembaga
pengendali/pengawas pengelolaan
kolaborasi
Penetapan (kedudukan, fungsi,
peran)
Memfasilitasi pelatihan

Merancang mekanisme
Implementasi
Evaluasi
Kerjasama teknis:penelitian, ilmu
pengetahuan&pendidikan (tenaga
ahli)
Kerjasama operasional pengelolaan
(tenaga, dana, sarpras)
Monitoring & evaluasi kerjasama

Penyusunan MOU kerjasama


pengelolaan TNP Laut Sawu
Penyusunan rencaa kerja bersama
Pelakasanaan rencaa kerja bersama
Monitoring & evaluasi bersama

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

104

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

No
1

Program
2

Kegiatan Pokok (fokus kegiatan)


3

2.6. Pendanaan pengelolaan TNP Laut


Sawu

Kegiatan
4
2.5.3. Penelitian ilmiah untuk
meningkatkan pemahaman
ketahanan, termasuk faktor yang
menentukan ketahanan dan
konektivitas, dan pedoman prinsip
desain jejarin TNP Laut Sawu

2.6.1. Penyusunan rencana anggaran


kebutuhan pengelolaan
2.6.2. Mekanisme pendanaan
berkelanjutan
2.6.3. Penetapan standar biaya
komponen pengelolaan TNP laut
Sawu

Butir Kegiatan
5
Kerjasama dalam survei/kajian
potensi pengembangan perikanan
berkelanjutan di
Provinsi/Kabupaten Kota di NTT
Kerjasama untuk pengkajian
metode dan alat tangkap yang
ramah lingkungan serta
pengembangan jenis budidaya laut
lain
Kerjasama dalam ujicoba
pengembangan jenis budidaya laut
lain
Penyusunan rincian kebutuhan
perkegiatan
Penerapan pendanaan
berkelanjutan
Penyusunan standar biaaya
komponen pengelolaan TNP laut
Sawu berdasarkan syarat
profesionalisme
Pengelolaan keuangan
Administrasi keuangan
Pelaporan
Pengawasan

2.6.4. Akuntabilitas pendanaan

2.7. Penyelenggaraan urusan tata usaha


& rumah tangga perkantoran

2.7.1. Pengelolaan gaji, honorarium


& tunjangan
2.7.2. Penyelenggaraan operasional
perkantoran

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

Penyediaan gaji, honorarium &


tunjangan
Rapat-rapat
koordinasi/konsultasi/kerja/dinas
Pengadaan ATK
Langganan daya & jasa

105

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

No
1

Program
2

Kegiatan Pokok (fokus kegiatan)


3

2.8. Pengembangan peraturan yang


mendukung pengelolaan TNP Laut Sawu

Penyadaran,
Peningkatan
Partisipasi dan
Pemberdayaan
Masyarakat di
Dalam dan Sekitar
TNP Laut Sawu

3.1. Peningkatan kesadaran masyarakat


dan pendidikan lingkungan

Kegiatan
4
2.7.3. Perawatan sarana & prasarana

Butir Kegiatan
5
Perawatan gedung/bangunan
Perawatan peralatan
Perawatan angkutan air
Perawatan kendaraan bermotor

2.7.4. Penyelenggaraan tata usaha


perkantoran, kearsipan,
perpustakaan & dokumentasi
2.8.1. Mendorong penyusunan
rancangan Perda yang mendukung
pengelolaan TNP laut Sawu

Pencetakan/penerbitan/penggandaa
n/laminasi/dokumentasi

3.1.1. Penyuluhan/sosialisasi

3.1.2. Pembinaan kelompok


masyarakat/generasi muda
3.1.3. Pembentukan dan pembinaan
kader konservasi
3.1.4. Pengembangan kerjasama
penerapan kurikulum muatan lokal
berbasis pengelolaan kelautan dan
perikanan di sekolah dasar dan
menengah
3.1.5. Monitoring persepsi

Dukungan dalam penyusuan


rancangan Perda:
Pengelolaan kolaboratif TNP
Laut Sawu
Pengaturan alat tangkap
Tata ruang wilayah
Pemberlakukan karcis masuk &
tarif atas kegiatan wisata dalam
kawasan
Sosialisasi pengelolaan TNP laut
Sawu
Sosialisasi peraturan perundanganundangan
Pembinaan KPA, KSM, KK,
Karang Taruna, Pramuka, KN, dll
Pelatihan pembentukan KK
Pembinaan KK

Pelatihan & penyegaran guru


konservasi
Kerjasama kegiatan luar kelas
Evaluasi
Monitoring persepsi masyarakat
terhadap pengelolaan TNP Laut
Sawu
Monitoring & Evaluasi

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

106

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

No
1

Program
2

Kegiatan Pokok (fokus kegiatan)


3
3.2. Pengembangan partisipasi
masyarakat

Kegiatan
4
3.2.1. Pengembangan kapasitas
masyarakat dalam pemanfaatan
sumberdaya kelautan dan perianan
secara lestari
3.2.2. Penguatan keterlibatan
masyarakat dalam pengelolaan TNP
Laut Sawu

3.2.3. Pengembangan mata


pencaharian masyarakat secara
berkelanjutan (sustainable
livelihood)
3.3. Pemberdayaan masyarakat pesisir

3.4. Pengembangan mata pencaharian


yang berkelanjutan
3.5. Pengembangan upaya pemanfaatan
perikanan yang berkelanjutan

3.3.1. Penguatan kapasitas


masyarakat pengguna sumberdaya
laut
3.3.2. Pengembangan usaha
ekonomi masyarakat pengguna
sumberda kelautan dan perikanan di
sekitar TNP Lut Sawu
3.4.1. Pelatihan dan pengembangan
ekowisata bagi kelompok
masyarakat di dalam kawasan
3.5.1. Peningkatan kapasitas tangkap
nelayan dengan alat tangkap selektif
dan memperhatikan kondisi
sumberdaya ikan,
3.5.2. Penerapan zonasi TNP
berdasarkan spawning, nursery dan
fishing ground, pengawasan illegal
fishing.

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

Butir Kegiatan
5
Pelatihan perancangan dan
pengelolaan kawasan konservasi
laut

Penguatan kelompok-kelompok
pengguna sumberddaya (nelayan
dan pembudidaya) melalui
pertemuan reguler dan pelatihan
pengorganisasian masyarakat,
analisis sosial
Pengembangan mata pencaharaian
alternatif untuk mengurangi
tekanan atas sumberdaya dan
meningkatkan peluang-peluang
ekonomi masyarakat
Pelatihan manajemen usaha
Pelatihan teknis usaha perikanan

Bantuan modal kerja untuk


meningkatkan skala usaha
masyarakat pengguna sumberdaya
kelautan dan perikanan

Peningkatan sarana prasarana


perikanan,

Mengendalikan dan mengevaluasi


kegiatan perikanan tangkap,

107

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

No
1

Program
2

Kegiatan Pokok (fokus kegiatan)


3

3.6. Pengembangan Desa Pesisir Mandiri

Peningkatan Akses
Informasi Sumber
Daya Laut

4.1. Pengembangan mekanisme


penyebarluaan informasi dan komunikasi

Kegiatan
4
3.5.3. Penegakan peraturan dan
perizinan perikanan
3.5.4. Studi lanjutan sumberdaya
perikanan dan baseline data
perikanan
3.5.5. Pengembangan teknologi serta
pengawasan dan pengendalian
sumber daya kelautan dan
perikanan,
3.6.1. Penguatan kelembagaan dan
kelompok masyarakat
3.6.2. Peningkatan kondisi
kesehatan bagi masyarakat pesisir di
dalam TNP Laut Sawu
3.6.3. Pelestarian warisan budaya
masyarakat pesisir di TNP Laut
Sawu terutama daerah dengan
kondisi masyarakat yang unik dan
khas
4.1.1. Publikasi melalui media
massa (TV, Radio, Surat Kabar &
majalah)
4.1.2. Pembuatan brosur, bulettin,
leaflet, kalender & poster

4.1.3. Pameran

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

Butir Kegiatan
5
Pengawasan dan pengendalian
sumber daya kelautan dan
perikanan,

Penyiapan materi/program
Memfasilitasi kunjungan/peliputan
media
Penyiapan materi
Merancang desain
Pencetakan bahan
Penyebarluasan
Monitoring dan evaluasi
Merancang desain dan menyiapkan
materi
Pelaksanaan pameran tingkat lokal,
regional, nasional dan internasional

108

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

No
1

Program
2

Kegiatan Pokok (fokus kegiatan)


3
4.2. Pengembangkan Bank Data TNP
Laut Sawu

Kegiatan
4
4.2.1. Pengembangan Data Base

4.2.2. Website

Pengembangan
sektor lain

5.1. Pengelolaan pelayaran


5.2. Pengembangan jejaring kawasan
konservasi perairan

Butir Kegiatan
5
Merancang desain
Pemasukan update data
Penyajian & pengelolaan data
Merancang desain
Pemasukan update data
Penyajian & pengelolaan data

5.1.1. Pengelolaan keamanan dan


kenyamanan pelayaran
5.2.1. Kerja sama antar unit
organisasi pengelola

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

109

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

MATRIK INDIKATOR RENCANA KEGIATAN DAN PROGRAM PENGELOLAAN TNP LAUT SAWU TAHUN 2011-2030
No
1

Program
2
Pengelolaan dan
Konservasi
Sumberdaya Laut

Kegiatan
3
1.1 Penetapan kawasan TNP Laut Sawu
1.1.1 Evaluasi rencana penetapan
1.1.2 Surat Menteri
1.1.3 Penunjukan Unit organisasi
1.1.4 Mengumumkan dan mensosialisasikan
1.1.5 Penunjukan Panitia penataan batas
1.1.6 Penataan Batas kawasan
1.2 Pengelolaan kawasan TNP Laut Sawu

Indikator Capaian
4

Zonasi ditetapkan Dirjen KP3K dan


disepakati oleh Pemrov dan para pihak
di NTT
Zonasi terintegrasi kedalam RTRW
Provinsi NTT dan Kab/Kota
Ada tanda zonasi yang jelas dilapangan
1.2.1 Penataan kawasan
1.3 Pengelolan Perikanan tangkap dan budidaya
laut
1.3.1 Pembuatan aturan/ batasan alat tangkap, ukuran
ikan yang ditangkap, daerah perikanan, dan musim
tangkapan
1.3.2 Penerbitan informasi dan status terkini

1.3.3 Formulasi kebutuhan aturan/batasan alat tangkap,


ukuran ikan yg ditangkap, daerah perikanan dan musim
tangkap berdasarkan informasi terkini.

1.3.4 Pembuatan sistem perijinan bagi kapal perikanan


komersil

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

Asumsi
5

Tersedianya
teknologi yang
tepat untuk
memasang tanda
batas kawasan &
zonasi

untuk mencapai perikanan yang


berkelanjutan berdasarkan
Informasi sumberdaya daya kelautan dan
perikanan tercatat dan teranalisa dengan
baik.
yang beroperasi di wilayah cadangan
perikanan yang maksimum lestari
berimbang yang dapat di atur dan
dikelola.

informasi terkini
kebutuhan
aturan/batasan alat
tangkap, ukuran
ikan yg ditangkap,
daerah perikanan
dan musim tangkap

sistem perijinan yang didukung oleh


peraturan perundang-undangan bagi

110

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

No
1

Program
2

Kegiatan
3

Indikator Capaian
4
kapal perikanan komersil

1.3.5 Sistem perijinan yang mendukung pengelolaan


perikanan yang berkelanjutan bidang perikanan
tangkap dan budidaya
1.3.6 Mencegah dan merintangi praktek perikanan yg
menyalahi hukum, tidak dilaporkan dan tidak di atur
(IUU fishing) di dalam TNP Laut Sawu.
1.3.7 Pembinaan sarana dan prasarana perikanan
budidaya
1.3.8 Melakukan kegiatan pengembangan dan
teknologi perikanan budidaya

1.4 Pengelolaan keanekaragaman hayati dan


ekosistem TNP Laut Sawu

Protokol monitoring sumebrdaya laut


telah ditetapkan oleh Dirjen KP3K
Kegiatan monitoring SDA Laut
terlaksana sesuai protokol
Tersedianya petugas yang memiliki
keahlian khusu dalam kegaiatn
monitoring

Asumsi
5

dalam rangka
optimalisasi
perikanan
budidaya.
Tersedianya
peraturan
perundangan yang
membuka peluang
untuk
pengembangan
karir pegawai
melalui spesialisasi
keahlian

1.4.1 Survey & monitoring sumber daya laut


1.4.2 Pengelolaan ekosistem, habitat & populasi
1.5 Perlindungan dan pengamanan kawasan

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

Tahun 2013 tidak terjadi lagi pemboman


ikan, dan peracunan ikan turun sampai
50% dari kondisi 2011
masyarakat terlibat langsung dalam
kegiatan pengamanan kawasan
Semua kasus pelanggaran diselesaikan
secara hukum berdasarkan peraturan
perundangan yang berlaku

Dukungan saran
prasarana yaitu
Kapal Layar Motor
(KLM) dan speed
boat cukup
Dukungan politik
dari pemerintah
daerah untuk

111

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

No
1

Program
2

Kegiatan
3

Indikator Capaian
4

Asumsi
5
memberantas
peredaran bahan
peledak/cyanida/
otasiom secara
tegas
Komitmen penegak
hukum dalam
penyelesaian
kasus-kasus
pelanggaran secara
tegas

1.5.1 Pengamanan kawasan TNP Laut Sawu


1.5.2 Penegakan hukum atas pelanggaran & gangguan
dalam kawasan TNP Laut Sawu
1.6 Pengembangan industri kelautan yang lestari
1.7 Pengembangan pemanfaatan jasa lingkungan
dan wisata alam

Tersedia desain teknik pengembangan


sarana prasarana wisata di zona
pemanfaatan pariwisata
Tersedia protokol untuk setiap jenis
kegiatan wisata
Mekanisme perijinan pengusahaan
pariwisata yang dapat membangun iklim
investasi & izin masuk
Adanya dampak dan mafaat ekonomi
secara nyata bagi masyarakat dan
pemerintah daerah

Tersedianya
kesepahaman
konsep
pengembangan
pariwisata antara
pengelola dan
pemerintah daerah
& masyarakat
Infrastruktur dasar
untuk menunjang
pariwisata (air
bersih, listrik,
telekomunikasi &
sistem transpotasi
tersedia secara
memadai)

1.7.1 Pengembangan wisata bahari dan budaya

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

112

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

No
1

Program
2

Kegiatan
3
1.8 Pengembangan Sistem Pemantauan dan
Penanggulangan bencana alam

1.9 Pengembangan Pengelolaan laut dalam

Indikator Capaian
4
Tersedianya sistem pencegahan dan
penanggulangan bencana dan fenomena
alam kelautan
Tersedianya informai dan data tentang :
Pertama, kepekaan fauna terhadap
dampak pengelolaan. Kedua, sifat dan
gradien biota laut yang tidak seragam
mulai dari batas kedalaman lebih dari
200 m kdasar lereng benua. harus
diketahui untuk mengembangkan
pemantauan rencana dan peraturan yang
berlaku. Ketiga, proses mempertahankan
tingkat keanekaragaman jenis di lautdalam harus diketahui agar dampak yang
menmpengaruhinya dapat.Keempat, jika
makanan benar-benar terbatas di laut
dalam, maka gangguan proses
ketersediaan dan pemanfaatan mungkin
merupakan proses yang paling sensitif
dari ekosistem laut dalam TNP Laut
Sawu

Asumsi
5

1.9.1 Studi awal


1.9.2 Studi lanjutan
1.10 Pengelolaan menghadapi perubahan iklim

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

Tersedianya mekanis untuk mengatasi


ketidakpastian perubahan iklim,
melindungi daerah-daerah kritis yang
tahan terhadap perubahan iklim dan
yang berfungsi sebagai tempat
perlindungan untuk mensuplai daerah
yang terkena dampak, memahami dan
mempertahankan konektivitas antara
habitat untuk meningkatkan
penambahan kembali secara bersama-

113

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

No
1

Program
2

Kegiatan
3

Indikator Capaian
4
sama dan pemulihan untuk menjaga
hubungan fungsional antar habitat terkait
serta mengelola ekosistem agar
kesehatan dan ketahanannya tetap
terjaga dengan memonitor beberapa
indikator keefektifan tindakan ini
sebagai dasar bagi pengelolaan adaptif.

Asumsi
5

1.10.1 Kolaborasi antara lembaga pemerintah,


organisasi konservasi, sektor swasta, dan masyarakat
local
1.10.2 Reformasi kebijakan untuk membangun
fleksibilitas dalam perencaanaan pengelolaan TNP
Laut Sawu secara formal secaraberkala melaksanakan
tinjauan dan revisi terhadap zonasi dan dan strategi
manajemen
1.10.3 Penerapan manajemen adaptif di TNP laut
Sawu untuk memungkinkan respon yang efektif
terhadap perubahan iklim, tuntutan, dan tekanan pada
kawasan
1.10.4 Memperkuat tingkat dukungan ilmiah untuk
TNP Laut Sawu agar sesuai dengan kondisi local untuk
memastikan kawasan dikelola, dirancang dan berhasil
bertahan terhadap perubahan iklim.
1.11 Pengelolaan populasi setasea
1.11.1 Kelengkapan data analisis dan REA - untuk
lokasi-lokasi yang belum diketahui
1.11.2 Mengembangkan dan mendukung tim lokal
yang kuat
1.11.3 Pelatihan dan peningkatan kapasitas bagi tim
lokal secara langsung bersamaan dengan kegiatan
survei dan penelitian
1.11.4 Studi kelayakan Wisata Pematanauan Paus
Pariwisata, menyelam / surfing dalam pengembangan
pariwisata TNP Laut Sawu

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

114

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

No
1

Program
2

Kegiatan
3
1.11.5 Pendanaan jangka panjang untuk perlindungan
dan pengelolaan berkelanjutan
1.11.6 Mengembangkan suatu komite penasehat teknis
untuk pembangunan berkelanjutan di daerah termasuk
pengelolaan keanekaragaman hayati dan limpahan
khususnya setasea
1.11.7 Survei dan pelatihan lapangan yang intensif
untuk membangun kapasitas pemantauan untuk
megafauna
1.11.8 Kampanye Polusi di Laut (Plastik dll) di Laut
Sawu pada alat angkut Feri, kapal dll
1.11.9 Peliibatan operator wisata secara aktif untuk
melaporkan keberadaan paus (penampakan dan
terdampar)
1.12 Penelitian, pengembangan dan penerapan ilmu
dan teknologi kelautan.
1.13 Pengembangan mekanisme monitoring dan
evaluasi
2.1 Peningkatan kapasitas kelembagaan pengelola
TNP Laut Sawu

Indikator Capaian
4

Formasi personel TNP Laut Sawu


disusun berdasarkan kualifikasi & yang
dibutuhkan
SDM Pengelola telah dididik & dilatih
sesuai dengan tupoksi
Tersedianya sarana prasarana untuk
mendukung pengelolaan yang efektif
sesuai kebutuhan

Pengembangan
Kapasitas
Pengelolaan Sumber
Daya Kelautan dan
Perikanan

Asumsi
5

Sistem perkerutan
staff sesuai dengan
formasi dan
kulaifikasi yang
dibutuhkan
Sistem pendidikan
& pelatihan SDM
sesuai dengan
kebutuhan
Dukungan dari
pemerintah
nasional

2.1.1 Penyusunan rencana formasi SDM pengelola


TNP Laut Sawu
2.1.2 Peningkatan kemampuan & profesionalisme
pengelola TNP Laut Sawu
______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

115

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

No
1

Program
2

Kegiatan
3
2.1.3 Peningkatan sarana prasarana
2.2 Perencanaan dan pengendalian pengelolaan

2.2.1 Penyusunan program & rencana kerja/teknis


2.2.2 Monitoring & evaluasi
2.3 Pengembangan kelembagaan mandiri
berbentuk Badan Layanan Umum
2.3.1 Penyusunan pernyataan kesanggupan
meningkatkan kinerja;
2.3.2 Penyusunan pola tata kelola yang jelas;
2.3.3 Penyusunan Renstra Bisnis Anggaran;
2.3.4 Penyusunan Standar Pelayanan Minimal;
2.3.5 Penyusunan Laporan Keuangan Pokok (proposal
laporan keuangan)
2.3.6 Ketersediaan Laporan Audit.
2.4 Pengembangan sistem pengelolaan kolaborasi

Indikator Capaian
4

Dokumen rencana teknis/juknis untuk


setiap kegiatan ditetapkan oleh Kepala
Balai
Penetapan dokumen dilakukan setiap 6
bulan sekali

Terbentuknya Badan Layanan Umum


TNP Laut Sawu

Mekanisme pengelolaan kolaboratif


MoU para pihak dalam peengelolaan
kolaboratif
Protokol mekanisme kerja pengelolaan
kolaboratif
Dokumen mekanisme keluhan yang
disepakati para pihak yang relevan

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

Asumsi
5

Stakeholder kunci
(Pemda, KP3K &
masyarkat) sepakat
membangun
pengelolaan
kolaborasi
Kespahaman para
pihak untuk
membangun
mekanisme kerja
Kesepahaman para
pihak dalam
pengembangan
protokol
mekanisme

116

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

No
1

Program
2

Kegiatan
3

Indikator Capaian
4

Asumsi
5
keluhan

2.4.1 Pembentukan mekanisme pengelolaan kolaborasi


2.4.2 Penguatan peran Forum Para Pihak
2.4.3 Formulasi & penerapan mekanisme keluhan
(Greivence mechanism)
2.5 Pengembangan kerjasama kemitraan
pengelolaan TNP Laut Sawu

Dokumen kerjasama & MoU antara


pengelola dengan pihak yang relevan
Penelitian ilmiah untuk meningkatkan
pemahaman ketahanan, termasuk faktor
yang menentukan ketahanan dan
konektivitas, dan pedoman prinsip
desain jejarin TNP Laut Sawu

Arahan kebijakan
teknis KP3K
tentang
pengembangan
kerjasama

Dokumen rencana anggaran pengelolaan


tahunan
Dokumen mekanisme pendanaan
berkelanjutan
Dokumen standar biaya berdasarkan
kebutuhan
Dokumen petunjuk penggunaan
anggaran

Sumber dana yang


jeas
Standar biaya yang
disusun
berdasarkan
kondisi lapangan
dapat diadaptasi

2.5.1 Pengembangan kerjasama dengan


institusi/lembaga/pihak lain dalam rangka efektifitas
dan peningkatan kapasitas pengelolaan (pemerintah,
LSM, lembaga pendidikan, kelompok/lembaga
masyarakat) lingkup lokal, regional, nasional dan
internasional
2.5.2 Pengembangan mekanisme kerjasama
pengelolaan
2.6 Pendanaan pengelolaan TNP Laut Sawu

2.6.1 Penyusunan rencana anggaran kebutuhan


pengelolaan
2.6.2 Mekanisme pendanaan berkelanjutan
2.6.3 Penetapan standar biaya komponen pengelolaan
TNP laut Sawu

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

117

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

No
1

Program
2

Kegiatan
3
2.6.4 Akuntabilitas pendanaan
2.7 Penyelenggaraan urusan tata usaha & rumah
tangga perkantoran

2.7.1 Pengelolaan gaji, honorarium & tunjangan


2.7.2 Penyelenggaraan operasional perkantoran
2.7.3 Perawatan sarana & prasarana
2.7.4 Penyelenggaraan tata usaha perkantoran,
kearsipan, perpustakaan & dokumentasi
2.8 Pengembangan peraturan yang mendukung
pengelolaan TNP Laut Sawu

Penyadaran,
Peningkatan
Partisipasi dan
Pemberdayaan
Masyarakat di Dalam
dan Sekitar TNP
Laut Sawu

2.8.1 Mendorong penyusunan rancangan Perda yang


mendukung pengelolaan TNP laut Sawu
3.1 Peningkatan kesadaran masyarakat dan
pendidikan lingkungan

Indikator Capaian
4

Asumsi
5

Kegiatan operasional perkantoran


Protokol perawatan sarana prasarana
Sarana prasarana berfungsi dengan baik

Draft masukan untuk rancangan Perda


yang mendukung TNP Laut Sawu

Agenda
penyusunan
rancangan Perda
diinformasikan ke
pengelola

Rencana kerja penyuluhan

3.1.1 Penyuluhan/sosialisasi
3.1.2 Pembinaan kelompok masyarakat/ generasi muda
3.1.3 Pembentukan dan pembinaan kader konservasi
3.1.4 Pengembangan kerjasama penerapan kurikulum
muatan lokal berbasis pengelolaan kelautan dan
perikanan di sekolah dasar dan menengah
3.1.5 Monitoring persepsi
3.2 Pengembangan partisipasi masyarakat
Praktek pemanfaatan SDA Laut yang
ramah lingkungan
3.2.1 Pengembangan kapasitas masyarakat dalam

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

118

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

No
1

Program
2

Kegiatan
3
pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perianan secara
lestari
3.2.2 Penguatan keterlibatan masyarakat dalam
pengelolaan TNP Laut Sawu
3.2.3 Pengembangan mata pencaharian masyarakat
secara berkelanjutan (sustainable livelihood)
3.3 Pemberdayaan masyarakat pesisir

Indikator Capaian
4

Asumsi
5

3.3.1 Penguatan kapasitas masyarakat pengguna


sumberdaya laut
3.3.2 Pengembangan usaha ekonomi masyarakat
pengguna sumberda kelautan dan perikanan di sekitar
TNP laut Sawu
3.4 Pengembangan mata pencaharian yang
berkelanjutan
3.4.1 Pelatihan dan pengembangan ekowisata bagi
kelompok masyarakat di dalam kawasan
3.5 Pengembangan upaya pemanfaatan perikanan yang
berkelanjutan
3.5.1 Peningkatan kapasitas tangkap nelayan dengan
alat tangkap selektif dan memperhatikan kondisi
sumberdaya ikan,
3.5.2 Penerapan zonasi TNP berdasarkan spawning,
nursery dan fishing ground, pengawasan illegal
fishing,
3.5.3 Penegakan peraturan dan perizinan perikanan

3.5.4 Studi lanjutan sumberdaya perikanan dan


baseline data perikanan
3.5.5 Pengembangan teknologi serta pengawasan dan
pengendalian sumber daya kelautan dan perikanan,
3.6 Pengembangan Desa Pesisir Mandiri
3.6.1 Penguatan kelembagaan dan kelompok
masyarakat

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

119

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

No
1

Program
2

Peningkatan Akses
Informasi Sumber
Daya Kelautan dan
Perikanan

Kegiatan
3
3.6.2 Peningkatan kondisi kesehatan bagi masyarakat
pesisir di dalam TNP Laut Sawu
3.6.3 Pelestarian warisan budaya masyarakat pesisir di
TNP Laut Sawu - terutama daerah dengan kondisi
masyarakat yang unik dan khas
3.7.3 Pelestarian warisan budaya masyarakat pesisir di
TNP Laut Sawu - terutama daerah dengan kondisi
masyarakat yang unik dan khas
4.1 Pengembangan mekanisme penyebarluaan
informasi dan komunikasi

Pengembangan lain

Asumsi
5

Adanya MoU dengan media


Terbitnya bulettin, brosur, leaflet dan
poster secara berkala
4.1.1 Publikasi melalui media massa (TV, Radio, Surat
Kabar & majalah)
4.1.2 Pembuatan brosur, bulettin, leaflet, kalender &
poster
4.1.3 Pameran
4.2 Pengembangkan Bank Data TNP Laut Sawu

Indikator Capaian
4

Data dan informasi terbaharui secara


reguler
Website TNP Laut Sawu on-line dan
diakses secara global

4.2.1 Pengembangan Data Base


4.2.2 Website
5.1 Pengelolaan pelayaran
5.2 Pengembangan jejaring KKP

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

120

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

MATRIK RENCANA TATA WAKTU PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN PENGELOLAAN N LAUT SAWU 2011-2030
N
o

1
1

Program
2
Pengelolaan dan Konservasi Sumber Perikanan dan Kelautan
1.1 Penetapan kawasan TNP Laut Sawu
1.1.1 Evaluasi rencana penetapan
1.1.2 Surat Menteri
1.1.3 Penunjukan Unit organisasi
1.1.4 Mengumumkan dan mensosialisasikan
1.1.5 Penunjukan Panitia penataan batas
1.1.6 Penataan Batas kawasan
1.1.6.1 Perancangan penataan batas
1.1.6.2 Pemasangan tanda batas
1.1.6.3 Pengukuran batas
1.1.6.4 Pemetaan batas kawasan
1.1.6.5 Sosialisasi penandaaan batas kawasan konservasi perairan
1.1.6.6 Pembuatan berita acara tata batas;
1.1.6.7 Pengesahan batas kawasan konservasi perairan
1.2.1 Penataan kawasan
1.2.1.1 Penataan zonasi TNP Laut Sawu
1.2.1.2 Padu serasi zonasi TNP Laut Sawu dengan RTRW Provi/KabKota
1.2.1.3 Penataan batas zonasi
1.2.1.4 Rekonstruksi titik zonasi
1.2.1.5 Digitasi zonasi dan sumberdayalaut kawasan
1.2.1.6 Dokumentasi zonasi
1.2.1.7 Evaluasi zonasi
1.3 Pengelolan Perikanan tangkap dan budidaya laut
1.3.1 Pembuatan aturan/ batasan alat tangkap, ukuran ikan yang ditangkap,
daerah perikanan, dan musim tangkapan
1.3.2 Penerbitan informasi dan status terkini

Tata Waktu Pelaksanaan Kegiatan

Volume/satuan
3

2011-2015

2016-2020

2021-2025

2026-2030

Mulai Tahun 2011


Mulai Tahun 2011
Mulai Tahun 2011
Mulai Tahun 2011
Mulai Tahun 2011
Mulai Tahun 2011
Mulai Tahun 2011
Mulai Tahun 2011
Mulai Tahun 2011
Mulai Tahun 2011
Mulai Tahun 2011

Tahun 2011
Mulai Tahun 2011
Setiap 5 Tahun
Setiap 5 Tahun
Setiap 5 Tahun
Setiap 5 Tahun
Setiap 5 Tahun
Setiap 5 Tahun
Mulai Tahun 2011
Mulai Tahun 2011

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

121

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

N
o

Program

Volume/satuan

Tata Waktu Pelaksanaan Kegiatan


2011-2015

1.3.3 Formulasi kebutuhan aturan/batasan alat tangkap, ukuran ikan yg


ditangkap, daerah perikanan dan musim tangkap berdasarkan informasi
terkini.
1.3.4 Pembuatan sistem perijinan bagi kapal perikanan komersil
1.3.5 Sistem perijinan yang mendukung pengelolaan perikanan yang
berkelanjutan bidang perikanan tangkap dan budidaya
1.3.6 Mencegah dan merintangi praktek perikanan yg menyalahi hukum,
tidak dilaporkan dan tidak di atur (IUU fishing) di dalam TNP Laut Sawu.
1.3.7 Pembinaan sarana dan prasarana perikanan budidaya
1.3.8 Melakukan kegiatan pengembangan dan teknologi perikanan budidaya
1.4 Pengelolaan keanekaragaman hayati dan ekosistem TNP Laut Sawu
1.4.1 Survey & monitoring sumber daya laut
1.4.1.1 Rapid Ecological Asessment
1.4.1.2 Monitoring karang
1.4.1.3 Monitoring Penyu
1.4.1.4 Monitoring Mangrove
1.4.1.5 Monitoring SPAGS
1.4.1.6 Monitoring Setasea
1.4.1.7 Monitoring Habitat burung pantai
1.4.1.8 Survey & monitoring pola pemanfaatan sumberdaya kelautan dan
perikanan
1.4.1.9 Survey & monitoring potensi wisata bahari
1.4.2 Pengelolaan ekosistem, habitat & populasi
1.4.2.1 Pemulihan/rehabilitasi
1.4.2.1 Restocking
1.5 Perlindungan dan pengamanan kawasan
1.5.1 Pengamanan kawasan TNP Laut Sawu
1.5.1.1 Pengamanan fungsional :
- Patroli rutin/reguler
- Patroli mendadak/insidentil
1.5.1.2 Pengamanan gabungan
- Patroli rutin/reguler

2016-2020

2021-2025

2026-2030

Mulai Tahun 2011

Mulai Tahun 2011


Mulai Tahun 2011
Setiap bulan
Setiap bulan
Setiap bulan

10 Tahun sekali
2 Tahun sekali
Setiap bulan
2 Tahun sekali
Setiap bulan
Setiap bulan
2 Tahun sekali
Setiap bulan
2 Tahun sekali
2 Tahun sekali
5 Tahun sekali

15 hari/bulan
15 hari/bulan
15 hari/bulan

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

122

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

N
o

Program

Volume/satuan

Tata Waktu Pelaksanaan Kegiatan


2011-2015

- Patroli mendadak/insidentil
1.5.1.3 Pemetan daerah rawan gangguan
1.5.2 Penegakan hukum atas pelanggaran & gangguan dalam kawasan TNP
Laut Sawu
1.5.2.1 Proses hukum/penyelesaian kasus secara hukum

15 hari/bulan

1.6 Pengembangan industri kelautan yang lestari


1.6.1 Pengembangan bioteknologi kelautan
1.6.2 Pengembangan energi terbarukan
1.6.2 Pengembangan air murni
1.7 Pengembangan pemanfaatan jasa lingkungan dan wisata alam
1.7.1 Pengembangan wisata bahari dan budaya
1.7.1.1 Promosi & penyebaran informasi potensi pariwisata TNP Laut Sawu
(expose)
1.7.1.2 Pengembangan pengelolaan wisata
1.7.1.3 Pemberlakukan ijin& karcis masuk
1.7.1.4 Penetapan mekanisme perizinan & standarisasi usaha pariwisata
alam
1.8 Pengembangan Sistem Pemantauan dan Penanggulangan bencana alam
1.8.1 Sosialisasi penanggulangan bencana
1.8.2 Simulasi penanggulangan bencana
1.8.3 Pengembangan fasilitas evakuasi dan pemulihan
1.9 Pengembangan Pengelolaan laut dalam
1.9.1 Studi awal
1.9.1 Studi lanjutan
1.10 Pengelolaan menghadapi perubahan iklim
1.10.1 Kolaborasi antara lembaga pemerintah, organisasi konservasi, sektor
swasta, dan masyarakat local
1.10.2 Reformasi kebijakan untuk membangun fleksibilitas dalam
perencaanaan pengelolaan TNP Laut Sawu secara formal secaraberkala
melaksanakan tinjauan dan revisi terhadap zonasi dan dan strategi manajemen

Setiap Tahun

2016-2020

2021-2025

2026-2030

Setiap Tahun

Setiap Tahun

Setiap Tahun
Setiap Tahun
Setiap Tahun

Setiap Tahun
Mulai Tahun 2012
Mulai Tahun 2012
Mulai Tahun 2013

Setiap Tahun
Setiap Tahun
Setiap Tahun
Mulai Tahun 2012
Mulai Tahun 2015
Setiap Tahun
Setiap Tahun

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

123

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

N
o

Program

Tata Waktu Pelaksanaan Kegiatan


2011-2015

1.10.3 Penerapan manajemen adaptif di TNP laut Sawu untuk memungkinkan


respon yang efektif terhadap perubahan iklim, tuntutan, dan tekanan pada
kawasan
1.10.4 Memperkuat tingkat dukungan ilmiah untuk TNP Laut Sawu agar sesuai
dengan kondisi local untuk memastikan kawasan dikelola, dirancang dan
berhasil bertahan terhadap perubahan iklim.
1.11 Pengelolaan populasi setasea
1.11.1Kelengkapan data analisis dan REA - untuk lokasi-lokasi yang belum
diketahui
1.11.2 Mengembangkan dan mendukung tim lokal yang kuat
1.11.3 Pelatihan dan peningkatan kapasitas bagi tim lokal secara langsung
bersamaan dengan kegiatan survei dan penelitian
1.11.4 Studi kelayakan Wisata Pematanauan Paus Pariwisata, menyelam /
surfing dalam pengembangan pariwisata TNP Laut Sawu
1.11.5 Pendanaan jangka panjang untuk perlindungan dan pengelolaan
berkelanjutan
1.11.6 Mengembangkan suatu komite penasehat teknis untuk pembangunan
berkelanjutan di daerah termasuk pengelolaan keanekaragaman hayati dan
limpahan khususnya setasea
1.11.7 Survei dan pelatihan lapangan yang intensif untuk membangun kapasitas
pemantauan untuk megafauna
1.11.8 Kampanye Polusi di Laut (Plastik dll) di Laut Sawu pada alat angkut
Feri, kapal dll
1.11.9 Peliibatan operator wisata secara aktif untuk melaporkan keberadaan
paus (penampakan dan terdampar)

Volume/satuan

2021-2025

2026-2030

Setiap Tahun

2.1 Peningkatan kapasitas kelembagaan pengelola TNP Laut Sawu


2.1.1 Penyusunan rencana formasi SDM pengelola TNP Laut Sawu

Setiap Tahun

2.1.1.1 Menyusun kualifikasi dan klasifikasi kebutuhan SDM TNP laut Sawu

Tahun 2012

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

2016-2020

Setiap Tahun

124

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

N
o

Program

Volume/satuan

Tata Waktu Pelaksanaan Kegiatan


2011-2015

2016-2020

2021-2025

2026-2030

2.1.2 Peningkatan kemampuan & profesionalisme pengelola TNP Laut Sawu


2.1.2.1 Diklat/kursus/penyegaran
2.1.2.1 Magang, studi banding
2.1.3 Peningkatan sarana prasarana
2.1.3.1 Pengembangan dan pembangunan gedung kantor
2.1.3.2 Pengadaan alat & mesin
2.1.3.3 Pemeliharaan
2.2 Perencanaan dan pengendalian pengelolaan
2.2.1 Penyusunan program & rencana kerja/teknis
2.2.1.1 Penyusunan rencana pengelolaan
- 5 tahun
- 1 tahun
2.2.1.1 Penyusunan juklak/juknis/pedoman
2.2.2 Monitoring & evaluasi
2.2.2.1 Evaluasi pengelolaan TNP laut Sawu
2.3 Pengembangan kelembagaan mandiri berbentuk Badan Layanan
Umum
2.3.1 Penyusunan pernyataan kesanggupan meningkatkan kinerja;
2.3.2 Penyusunan pola tata kelola yang jelas;
2.3.3 Penyusunan Renstra Bisnis Anggaran;
2.3.4 Penyusunan Standar Pelayanan Minimal;
2.3.5 Penyusunan Laporan Keuangan Pokok (proposal laporan keuangan)
2.3.6 Ketersediaan Laporan Audit.
2.4 Pengembangan sistem pengelolaan kolaborasi
2.4.1 Pembentukan mekanisme pengelolaan kolaborasi
2.4.2 Penguatan peran Forum Para Pihak
2.4.2.1 Merancang mekanisme dan bentuk
2.4.3.1 Pembentukan lembaga pengendali/pengawas pengelolaan kolaborasi
2.4.3.2 Penetapan (kedudukan, fungsi, peran)
2.4.3.3 Penguatan peran Forum Para Pihak
- Memfasilitasi pelatihan

Setiap Tahun
Setiap Tahun
Setiap Periode
Setiap 2 Tahun
Setiap Tahun

Setiap 5 Tahun
Setiap Tahun
Setiap Periode
Setiap Tahun

Mulai Tahun 2011


Setiap Tahun
Setiap Tahun
Setiap Tahun
Setiap Tahun
Setiap Tahun

Sampai 2013
Mulai 2011
Sampai 2013
Mulai 2012
Setiap Tahun

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

125

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

N
o

Program

Volume/satuan

Tata Waktu Pelaksanaan Kegiatan


2011-2015

2.4.3 Formulasi & penerapan mekanisme keluhan (Greivence mechanism)


2.4.3.1 Merancang mekanisme
2.4.3.2 Implementasi
2.4.3.3 Evaluasi
2.5 Pengembangan kerjasama kemitraan pengelolaan TNP Laut Sawu
2.5.1 Pengembangan kerjasama dengan institusi/lembaga/pihak lain dalam
rangka efektifitas dan peningkatan kapasitas pengelolaan (pemerintah, LSM,
lembaga pendidikan, kelompok/lembaga masyarakat) lingkup lokal, regional,
nasional dan internasional
2.5.1.1 Kerjasama teknis:penelitian, ilmu pengetahuan&pendidikan (tenaga
ahli)
2.5.1.2 Kerjasama operasional pengelolaan (tenaga, dana, sarpras)
2.5.1.3 Monitoring & evaluasi kerjasama
2.5.1.4 Penelitian ilmiah untuk meningkatkan pemahaman ketahanan, termasuk
faktor yang menentukan ketahanan dan konektivitas, dan pedoman prinsip
desain jejaringTNP Laut Sawu
2.5.2 Pengembangan mekanisme kerjasama pengelolaan
2.5.2.1 Penyusunan MOU kerjasama pengelolaan TNP Laut Sawu
2.5.2.2 Penyusunan rencana kerja bersama
2.5.2.3 Pelakasanaan rencana kerja bersama
2.5.2.4 Monitoring & evaluasi bersama
2.6 Pendanaan pengelolaan TNP Laut Sawu
2.6.1 Penyusunan rencana anggaran kebutuhan pengelolaan
2.6.1.1 Penyusunan rincian kebutuhan perkegiatan
2.6.2 Mekanisme pendanaan berkelanjutan
2.6.2.1 Penerapan pendanaan berkelanjutan
2.6.3 Penetapan standar biaya komponen pengelolaan TNP laut Sawu
2.6.4 Penyusunan standar biaya komponen pengelolaan TNP laut Sawu
berdasarkan syarat profesionalisme
2.6.4 Akuntabilitas pendanaan
2.6.4.1 Pengelolaan keuangan
2.6.4.2 Administrasi keuangan

2016-2020

2021-2025

2026-2030

Sampai 2013
Mulai 2012
Setiap 5 Tahun

Setiap Periode
Setiap Periode
Setiap Tahun

Setiap Periode
Setiap Tahun
Setiap Tahun
Setiap Tahun
Setiap Tahun
Setiap Periode
Setiap Tahun
Setiap Tahun

Setiap Tahun
Setiap Tahun

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

126

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

N
o

Program

Volume/satuan

Tata Waktu Pelaksanaan Kegiatan


2011-2015

2.6.4.3 Pelaporan
2.6.4.4 Pengawasan
2.7 Penyelenggaraan urusan tata usaha & rumah tangga perkantoran
2.7.1 Penyediaan gaji, honorarium & tunjangan
2.7.1.1 Pengelolaan gaji, honorarium & tunjangan
2.7.1.2 Penyediaan gaji, honorarium & tunjangan
2.7.2 Penyelenggaraan operasional perkantoran
2.7.2.1 Rapat-rapat koordinasi/konsultasi/kerja/dinas
2.7.2.2 Pengadaan ATK
2.7.2.3 Langganan daya & jasa
2.7.3 Perawatan sarana & prasarana
2.7.3.1 Perawatan gedung/bangunan
2.7.3.2 Perawatan peralatan
2.7.3.3 Perawatan angkutan air
2.7.3.4 Perawatan kendaraan bermotor
2.7.4 Penyelenggaraan tata usaha perkantoran, kearsipan, perpustakaan &
dokumentasi
2.7.5. Pencetakan/penerbitan/penggandaan/laminasi/ dokumentasi
2.8 Pengembangan peraturan yang mendukung pengelolaan TNP Laut
Sawu
2.8.1 Mendorong penyusunan rancangan Perda yang mendukung
pengelolaan TNP laut Sawu
2.8.1.1 Dukungan dalam penyusuan rancangan Perda :
2.8.1.2 Pengelolaan kolaboratif TNP Laut Sawu
2.8.1.3 Pengaturan alat tangkap
2.8.1.4 Tata ruang wilayah
2.8.1.5 Pemberlakukan karcis masuk & tarif atas kegiatan wisata dalam
kawasan
Penyadaran, Peningkatan Partisipasi dan Pemberdayaan Masyarakat di
Dalam dan Sekitar TNP Laut Sawu
3.1 Peningkatan kesadaran masyarakat dan pendidikan lingkungan

2016-2020

2021-2025

2026-2030

Setiap Tahun
Setiap Tahun

Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun

Setiap Tahun
Setiap Tahun
Setiap Tahun
Setiap Tahun
Setiap Tahun

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

127

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

N
o

Program

Volume/satuan

Tata Waktu Pelaksanaan Kegiatan


2011-2015

3.1.1 Penyuluhan/sosialisasi
3.1.1 Sosialisasi pengelolaan TNP laut Sawu
3.1.2 Sosialisasi peraturan perundangan-undangan
3.1.3 Pembinaan kelompok masyarakat/generasi muda
3.1.4.1 Pembinaan KPA, KSM, KK, Karang Taruna, Pramuka, KN, dll
3.1.4.2 Pembentukan dan pembinaan kader konservasi
3.1.4.3 Pelatihan pembentukan KK
3.1.4.4 Pembinaan KK
3.1.5 Pengembangan kerjasama penerapan kurikulum muatan lokal berbasis
pengelolaan kelautan dan perikanan di sekolah dasar dan menengah
3.1.5.1 Pelatihan & penyegaran guru konservasi
3.1.5.2 Kerjasama kegiatan luar kelas
3.1.5.3 Evaluasi
3.1.5.4 Monitoring & evaluasi
3.1.6 Monitoring persepsi masyarakat terhadap pengelolaan TNP Laut Sawu
3.1.6.1 Monitoring & Evaluasi
3.2 Pengembangan partisipasi masyarakat
3.2.1 Pengembangan kapasitas masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya
kelautan dan perianan secara lestari
3.2.2 Pelatihan perancangan dan pengelolaan kawasan konservasi laut
3.2.3 Penguatan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan TNP Laut Sawu
3.2.4 Penguatan kelompok-kelompok pengguna sumberddaya (nelayan dan
pembudidaya) melalui pertemuan reguler dan pelatihan pengorganisasian
masyarakat, analisis social
3.3 Pemberdayaan masyarakat pesisir
3.3.1 Penguatan kapasitas masyarakat pengguna sumberdaya laut
3.3.2 Pelatihan manajemen usaha
3.3.3 Pelatihan teknis usaha perikanan
3.3.4 Pengembangan usaha ekonomi masyarakat pengguna sumberda
kelautan dan perikanan di sekitar TNP laut Sawu
3.3.5 Bantuan modal kerja untuk meningkatkan skala usaha masyarakat
pengguna sumberdaya kelautan dan perikanan

2016-2020

2021-2025

2026-2030

Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun

Setiap Tahun
Setiap Tahun
Setiap Tahun
Setiap Tahun
Setiap 2 Tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap Tahun
Setiap Tahun
Setiap Tahun

Setiap Tahun
Setiap Tahun
Setiap Tahun
Setiap Tahun

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

128

Draft ini tidak untuk disebarluaskan

N
o

Program

Volume/satuan

Tata Waktu Pelaksanaan Kegiatan


2011-2015

4.1.2.5
Monitoring dan
3.4 Pengembangan
mataevaluasi
pencaharian masyarakat secara berkelanjutan
4.2
Pengembangan
Data Base dan Website
(sustainable
livelihood)
4.2.1
Merancang desain
3.4.1 Pengembangan
mata pencaharaian alternatif untuk mengurangi
4.2.2
Pemasukan
update data
tekanan
atas sumberdaya
dan meningkatkan peluang-peluang ekonomi
4.2.3
Penyajian & pengelolaan data
masyarakat
4.3
Pameran
3.4.1.1
Pelatihan dan pengembangan ekowisata bagi kelompok masyarakat di
4.3.1
dalamMerancang
kawasan desain dan menyiapkan materi
4.3.2
Pelaksanaan pameran
tingkat lokal,
regional,yang
nasional
dan
3.5 Pengembangan
upaya pemanfaatan
perikanan
berkelanjutan
internasional
3.5.1 Peningkatan kapasitas tangkap nelayan dengan alat tangkap selektif
Pengembangan
lain kondisi sumberdaya ikan,
dan memperhatikan
5.1
3.5.2Pengelolaan
Penerapan pelayaran
zonasi TNP berdasarkan spawning, nursery dan fishing
5.2
Pengembangan
ground,
pengawasanjejaring
illegal kawasan
fishing, konservasi perairan
3.5.3 Penegakan peraturan dan perizinan perikanan
3.5.4 Studi lanjutan sumberdaya perikanan dan baseline data perikanan
3.5.5 Pengembangan teknologi serta pengawasan dan pengendalian sumber
daya kelautan dan perikanan,
3.6 Pengembangan Desa Pesisir Mandiri
3.6.1 Penguatan kelembagaan dan kelompok masyarakat
3.6.2 Peningkatan kondisi kesehatan bagi masyarakat pesisir di dalam TNP
Laut Sawu
3.6.3 Pelestarian warisan budaya masyarakat pesisir di TNP Laut Sawu terutama daerah dengan kondisi masyarakat yang unik dan khas
Peningkatan Akses Informasi Sumber Daya Kelautan dan Perikanan

2016-2020

2021-2025

2026-2030

Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap Tahun
bulan/tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap Tahun
Setiap
bulan/tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap Tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap
bulan/tahun
Setiap Tahun
Setiap Tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun

Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun

4
4.1 Pengembangan mekanisme penyebarluaan informasi dan komunikasi
4.1.1 Publikasi melalui media massa (TV, Radio, Surat Kabar & majalah)
4.1.1.1 Penyiapan materi/program
4.1.1.2 Memfasilitasi kunjungan/peliputan media
4.1.2 Pembuatan brosur, bulettin, leaflet, kalender & poster
4.1.2.1 Penyiapan materi
4.1.2.2 Merancang desain
4.1.2.3 Pencetakan bahan
4.1.2.4 Penyebarluasan

Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun
Setiap bulan/tahun

______________________________________________________________________________
RENCANA PENGELOLAAN 20 TAHUN TAMAN NASIONAL PERAIRAN LAUT SAW U(2011-2030)

129
130