Anda di halaman 1dari 3

Pemerintahan yang Gagal?

Written by Melda Kamil


Wednesday, 11 May 2011 14:36 - Last Updated Wednesday, 11 May 2011 14:42
PEMERINTAHAN YANG GAGAL?


Suatu negara dibentuk dalam tatanan yang sesuai dengan harapan masyarakat pembentuknya.
Jika dikatakan bahwa negara dibuat berdasarkan kontrak sosial (du contrat social/social
contract ) maka perlu kita kaji
lagi kontrak sosial yang bagaimana yang telah kita jadikan tiang berdirinya negara ini?

Paling tidak kita dapat melihat kembali ke Pembukaan UUD 1945 dimana para "founding
fathers" kita meletakkan kontrak sosial tersebut. Negara harus melakukan semua tindakannya
berdasarkan Pancasila dan melaksanakan kewajibannya termasuk untuk menjaga kedaulatan,
melindungi warga negara, menjaga dan memanfaatkan kekayaan alam Indonesia untuk
kepentingan rakyatnya, dan menjalin hubungan internasional yang bermartabat.

Saat ini di kalangan rakyat telah terjadi krisis kepercayaan kepada Pemerintah di segala lini,
baik pada badan legislatif, eksekutif maupun yudikatif. Rakyat kehilangan harapan kepada
Pemerintahan yang Baik (Good Governance) karena kerap kali kebijakan pihak eksekutif
seperti tidak mememuhi kebutuhan rakyat dan melindungi kepentingan rakyat, kehebohan baru
terjadi ketika dampak buruk sudah di depan mata. Rakyat kehilangan harapan karena pihak
legislatif nampak berputar-putar dengan pembelaannya kepada kepentingan rakyat namun
ketika sampai pada keputusan maka kebijakan yang diambil kurang memenuhi rasa keadilan
masyarakat. Harapan terhadap pihak yudikatif dan penegak hukumjuga semakin pupus ketika
tersangka dan terpidana bebas bergerak dan bahkan berkeliaran tanpa hambatan. Tidak cukup
itu saja, ternyata dalam hubungan dengan Negara lain, yang bersentuhan dengan hukum
internasional, Pemerintah Indonesia juga tidak memperlihatkan ketegasan yang
ditunggu-tunggu oleh segenap rakyat.

Kejadian seperti perlindungan yang tidak layak kepada WNI yang menjadi TKI di luar negeri,
merupakan satu coreng yang menodai kepercayaan rakyat akan pemerintahnya. Salah seorang
pakar HAM dari EU menyatakan bahwa pada prinsipnya perlindungan atas pekerja migran itu
bersifat resiprositas, dalam arti jika memang mereka dilindungi di dalam negeri dalam taraf
tertentu maka kita bisa meminta perlindungan dalam taraf yang sama kepada Pemerintah dari
negara asing dimana TKI kita berada. Pertanyaannya sekarang, apakah sudah ada upaya yang
1 / 3
Pemerintahan yang Gagal?
Written by Melda Kamil
Wednesday, 11 May 2011 14:36 - Last Updated Wednesday, 11 May 2011 14:42
cukup dari Pemerintah untuk itu?

Belum lagi lepas amarah rakyat kepada Malaysia karena melakukan provokasi perbatasan
kepada Indonesia, telah terjadi lagi penangkapan kapal ikan Malaysia yang dianggap
melakukan "illegal fishing" di perairan Indonesia, yang kemudian dibantah keras oleh
Pemerintah Malaysia. Jika di daerah yang perbatasannya saja sudah jelas seperti itu masih
rawan konflik bagaimana dengan daerah yang masing "pending to delimitation"?
Permasalahannya kini adalah kapan kita bisa mempunyai perbatasan yang definitif dengan
negara tetangga seperti Malaysia di daerah yang rawan konflik seperti di kawasan laut
Kalimantan Timur? Perundingan yang terus berlangsung belum memperlihatkan hasil yang
memuaskan. Indonesia harus berjuang keras untuk mempertahankan kepentingannya di forum
perundingan itu karena itu adalah perwujudan penjagaan kedaulatan Indonesia sebagaimana
janji kontrak sosial yang telah diberikan. Kita tidak seharusnya mengkompromikan kepentingan
Indonesia hanya untuk kemajuan formal yang hanya akan jadi produk hukum yang akan
disesali oleh anak cucu kita. Sementara belum tercapai kesepakatan yang tidak merugikan itu
maka "peaceful display of sovereignty" harus terus-menerus dilakukan, karena kedaulatan itu
harus dijaga dengan segala "available means". Lalu jika ada kapal ikan kita yang ditangkap
karena dianggap "trespassing" (seperti yang terjadi di daerah perbatasan Indonesia-Australia)
maka Pemerintah harus siap membantu dengan segala upaya karena itulah janji yang telah
diberikan dalam kontrak sosial yaitu menlindungi warga negaranya dimanapun mereka berada
baik mereka sebagai pelaku maupun korban kejahatan (yurisdiksi nasionalitas), sebagaimana
selalu dilakukan oleh negara-negara berdaulat.

Beberapa hari yang lalu kita juga dibuat gundah ketika mendengar adanya benda-benda cagar
budaya yang akan dibawa dan ditempatkan di Malaysia, kenapa hal ini bisa terjadi? Rasa
kebangsaan yang biasanya ditunjukkan dengan menjaga kebudayaan sendiri agar tidak diambil
negara lain nampaknya sudah mulai menipis, sehingga bisa terjadi didirikan satu museum di
negara orang lain yang berisikan benda-benda warisan nenek moyang kita (Museum Kerinci).
Alangkah baiknya jika museum itu didirikan di negara kita sendiri, apakah di daerah setempat
atau di ibukota negara dimana bangsa lain yang datang bisa melihat dan mengaguminya.
UNESCO sebagai lembaga di bawah PBB telah melahirkan banyak konvensi yang bertujuan
melindungi warisan budaya baik "tangible" maupun "intangible", bahkan termasuk warisan
budaya yang ada di dasar laut, seperti harta kapal karam. Sudah sepatutnya Indonesia
melindungi warisan budayanya untuk kepentingan pembelajaran sejarah bagi generasi yang
akan datang, jika lembaga dunia saja melindungi kepentingan negara pemilik warisan budaya
itu, maka Pemerintah kita harus tegas terhadap pihak-pihak yang tidak beritikad baik.

Pembajakan di laut pun menjadi topik yang hangat beberapa waktu terakhir ini. Sebagai
peserta Konvensi Hukum Laut Tahun 1982 sudah seharusnya Indonesia memerangi bajak laut
ini, apalagi jika dampaknya merugikan kepentingan Indonesia, seperti pembajakan laut yang
2 / 3
Pemerintahan yang Gagal?
Written by Melda Kamil
Wednesday, 11 May 2011 14:36 - Last Updated Wednesday, 11 May 2011 14:42
terjadi di wilayah Selat Malaka yang merupakan jalur tersibuk di dunia. Bahkan kali ini
benar-benar menimpa kapal Indonesia di perairan paling rawan dewasa ini yaitu di perairan
Somalia. Jika Indonesia menghindari penyelesaian yang tegas terhadap kasus ini maka
lengkaplah sudah kegagalan Pemerintah Indonesia baik dalam hubungannya dengan negara
lain maupun dalam negeri sendiri seperti KKN yang merajalela, ketidakberpihakan kepada
kaum marjinal, hukum yang diperjualbelikan sesuai kepentingan, premanisme bahkan mungkin
mafia, tata pemerintahan yang sarat birokrasi, penataan pembangunan yang tidak merata,
perlindungan lingkungan yang setengah hati, dll.

Keberhasilan pembangunan seharusnya tidak hanya dapat dilihat dari sekedar angka-angka
GDP, laju inflasi, tingkat investasi, dsb, akan tetapi perlu dibuktikan dengan berkurangnya berita
buruk setiap harinya dan pulihnya kepercayaan rakyat. Benarkan telah gagal Pemerintahan ini?
Memang miris untuk mengakui suatu kegagalan, akan tetapi keberhasilan hanya bisa didapat
bila kita bisa mengakui kegagalan dan belajar dari kegagalan itu. Sudah saatnya Pemerintah
Indonesia berhenti menutupi kegagalan, namun bangkit dari kegagalan itu dan berupaya keras
memenuhi kontrak sosialnya kepada seluruh masyarakat Indonesia.


Melda Kamil Ariadno

Ketua Lembaga Pengkajian Hukum Internasional

Pengajar Senior Hukum Internasional

Fakultas Hukum Universitas Indonesia

3 / 3