Anda di halaman 1dari 67

LARUTAN INFUS PADA BAYI

DAN ANAK
PENYAJI
Dr. Thabrani Putra
Dr. Elfita Linda
Dr. Meillyssa C. Hutabarat
PEMBIMBING
Dr. Kalis Joko Purwanto, Sp. A
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MENGGALA
KABUPATEN TULANG BAWANG
PROPINSI LAMPUNG
2014
PENDAHULUAN
Kehilangan cairan terjadi setiap saat dan
mutlak harus diganti

Kehilangan cairan normal dibagi 3 kategori
yaitu kehilangan cairan insensibel, produksi
urin, dan kehilangan cairan melalui tinja

Kehilangan cairan abnormal akibat penyakit
berupa pengurangan asupan atau
peningkatan pengeluaran cairan.
PENDAHULUAN
Pemberian cairan akibat kehilangan cairan
karena penyakit dapat secara oral ataupun
parenteral

Pemberian cairan secara intravena pada
bayi dan anak sakit perlu diperhatikan
pemilihan jenis cairan,
jumlah dan lama pemberian
keadaan penyakit dan gejala klinik lainnya
KOMPOSISI CAIRAN TUBUH
Cairan extraseluler
20-25 % dari berat badan

Terdiri dari plasma, cairan interstitial (bufer
volume plasma) dan cairan transelular
(cairan serebrospinal, cairan sinovial,
cairan digestif, intraokular, cairan pleural
dan peritoneal)
KOMPOSISI CAIRAN TUBUH
Cairan extraseluler
Mengandung ion-ion natrium, klorida,
bikarbonat, oksigen, glukosa, asam lemak
dan asam amino, dan karbon dioksida

Cairan intraseluler
35-40% dari berat badan
Terdiri dari ion kalium, magnesium dan
fosfat





KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT
Diatur oleh sistem tubuh yaitu perubahan
jumlah cairan, perubahan kadar natrium,
klorida, fosfor dan ion hidrogen
Sistem pengatur jumlah cairan tubuh
osmoreseptor dalam hipothalamus
produksi hormon antidiuretik diuresis
Sistem pengaturan kadar NaCl dalam darah
vascular volume stretch reseptor di sinus
karotikus kelenjar korteks suprarenalis
hormon aldosteron
KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT
Pusat haus (thirst centre) keseimbangan
cairan tubuh perasaan haus cairan
menjadi hipertonik

pH dipertahankan antara 7,35-7,45

Cara mempertahankan pH cairan tubuh :
Sistem Buffer
Homeostasis respiratorik
Homeostasis ginjal

GANGGUAN CAIRAN PADA ANAK DAN BAYI
Dehidrasi berdasarkan tonisitas darah, yaitu
1. Dehidrasi isotonik/dehidrasi isonatremia : kesadaran koma, penurunan
berat badan, turgor kulit jelek, selaput lendir dan kulit kering, nadi
lemah dan cepat, dan penurunan tekanan darah.
2. Dehidrasi hipotonik/dehidrasi hiponatremia : konsentrasi elektrolit darah
turun (natrium plasma <130 mEq/L), kesadaran apatis, penurunan berat
badan, turgor kulit jelek, selaput lendir dan kulit basah, nadi sangat
lemah, tekanan darah sangat rendah.
3. Dehidrasi hipertonik/ dehidrasi hipernatremia : konsentrasi elektrolit
darah naik (natrium plasma >150 mEq/L), keadaan iritabel, kejang,
hiperefleksi, penurunan berat badan, selaput lendir dan kulit kering
sekali, nadi cepat dan keras, penurunan tekanan darah.
GANGGUAN CAIRAN PADA ANAK DAN BAYI
Dehidrasi berdasarkan derajatnya, yaitu :
Dehidrasi ringan yaitu bila kehilangan
cairan 5% dari Berat badan.
Dehidrasi sedang yaitu bila kehilangan
cairan 5 10 % dari berat badan.
Dehidrasi berat yaitu bila kehilangan cairan
>10 % dari berat badan.
GANGGUAN CAIRAN PADA ANAK DAN BAYI
Dehidrasi hiponatremia
Biasanya disertai hipovolemia
Dijumpai pada diare, peritonitis atau insufisiensi
adrenal akibat infeksi akut, perdarahan adrenal,
penghentian pengobatan steroid mendadak.
Pengobatan dengan pemberian cairan intravena
mengandung natrium untuk memperbaiki sirkulasi
sistemik, ginjal dan mengembalikan fungsi
osmoreseptor ADH.
Hiponatremia dikoreksi bila kadar Na < 120 mEq.
Kadar Natrium < 110 mEq akan terjadi gangguan
serebral sehingga perlu diobati dengan natrium
hipertonik (NaCl 3%).
Defisit Na (mEq/l) = ( 135 kadar Na sekarang ) x
0,3 x BB (dalam 6 jam)
GANGGUAN CAIRAN PADA ANAK DAN BAYI
Dehidrasi hipernatremia
Dijumpai pada diare, hiperpireksia, hiperventilasi,
pemberian elektrolit peroral berlebihan, diabetes
insipidus nefrogenik, ginjal kronik, hiperkalsemia,
hipokalemia.
Merupakan kegawatan medik pada anak karena
menyebabkan kerusakan otak permanen dan
Cerebral palsy
Pengobatan dengan pemberian cairan secara
bertahap selama 48-72 jam
Kejang sering terjadi saat terapi cairan diberikan dan
setelah kadar natrium serum mencapai normal
kembali
TERAPI CAIRAN DEHIDRASI DENGAN
HIPERNATREMIA
Harris (1976) (dilaksanakan dalam waktu 36 jam atau
lebih)
Bila syok, berikan cairan natrium 0,45 % dalam
larutan dextrosa 2,5 % sebanyak 20 ml/kg BB/jam
Bila tidak ada syok atau sudah teratasi, lanjutkan
pemberian plasma 20 ml/kg BB.
Larutan NaCl 0,3 % dalam larutan dextrosa 4,3 %
sebanyak 50 100 ml/kgBB selama 24 48 jam
diberikan tergantung dari derajat dehidrasi.
Tambahkan kalium sebanyak 20 mEq/l ke dalam
larutan infus yang diberikan setelah diuresis ada.
Tambahkan 10 ml larutan kalsium glukonas 10% ke
dalam larutan infus selama lebih 24 jam.
Berikan cairan rumatan dengan menambahkan
kehilangan cairan yang masih tetap berlangsung.
TERAPI CAIRAN DEHIDRASI DENGAN
HIPERNATREMIA
Robson (1979)
1 jam pertama berikan cairan ringer laktat 40
ml/kgBB.
1 jam kedua berikan darah/plasma 10 ml/kgBB
Pada jam ke 3-10 berikan glukosa 5-10 %
sebanyak 60 ml/kgBB, natrium laktat 1/6 mol
sebanyak 20ml/kgBB, kalium sebanyak 2
mEq/kg BB, kalsium glukonas 10% dengan
jumlah maksimum 10ml dimasukan ke dalam
500ml cairan infus
Pada dehidrasi disertai hipernatremia hebat (Na
serum >200 mEq/l) dilakukan peritoneal dialisis.
GANGGUAN CAIRAN PADA ANAK DAN BAYI
Hipokalemia
Kadar kalium plasma < 3,5 mEq/l
Dijumpai pada pemasukan yang kurang, alkalosis,
hipersekresi insulin, hiperaldosteronisme, renal tubular
asidosis, pemberian diuretik, diare, muntah, dan
pengisapan cairan lambung
Gejala : kelemahan umum, meteorismus, peristaltik usus
menurun, gangguan irama dan melemahnya bunyi jantung.
Pada EKG terdapat kelainan gelombang yang merendah
dan melebar, depresi segmen ST, munculnya gelombang U
dan interval PR yang memanjang.
Hipokalemia dikoreksi bila kadar kalium kurang dari 2,5
mEq
Pemberian kalium intravena dianjurkan dengan dosis 3 7
mEq/kgBB dengan konsentrasi maksimal 40 80 mEq/l.
Defisit K (mEq/l) = ( 3,5 Kadar K sekarang )x 0,3x BB
(diberikan dalam 24 jam)
GANGGUAN CAIRAN PADA ANAK DAN BAYI
Hiperkalemia
Dijumpai pada pemasukan berlebihan, asidosis,
katabolisme jaringan yang meningkat, destruksi
sel, gagal ginjal dan insufisiensi adrenal
Kadar kalium 6 7 mEq/l : gelombang T tinggi
dan sempit, interval QT memendek
kadar kalium 7 8 mEq/l akan terlihat
melambatnya depolarisasi seperti komplek QRS
melebar dan gelombang P yang rendah, melebar
atau menghilang
Bila kadar kalum lebih meningkat lagi akan
terjadi fibrilasi ventrikel dan cardiac standstill
TERAPI HIPERKALEMIA
Semua pemberian kalium distop
Suntikan natrium bicarbonat intravena 2,5
mEq/kgBB untuk menaikan PH yang dapat
menurunkan sementara kalium serum
Berikan kalsium glukonas 10 % sebanyak 0,5
ml/kgBB secara intravena dalam waktu 2 4 menit
untuk mengurangi efek buruk kalium pada jantung
Berikan glukosa 10% intravena sebanyak
40ml/kgBB dan insulin 1 unit setiap 30 ml glukosa
10 % agar kalium masuk ke dalam sel.
Bila kadar kalium serum > 7 mEq/l dan terdapat
anuria atau oliguria, harus dialisis peritoneal atau
hemodialisis.
GANGGUAN CAIRAN PADA ANAK DAN BAYI
Asidosis Metabolik
Dijumpai pada kehilangan fixed base, infeksi,
kelaparan, dehidrasi, diabetes, kegagalan
homeostasis ginjal
Pada diare akibat kehilangan bikarbonat sering
disertai metabolik anaerob dengan terbentuk asam
dan benda keton sehingga pH darah turun.
Pengobatan dengan pemberian korektor basa
dalam cairan intravena ringer laktat maupun ringer
asetat.
Pada penderita dengan kasu dapat menggunakan
cairan diatas dan ditambah larutan natrium
bikarbonas 8,4 %( meylon)
Kebutuhan NaHCO3 (mEq) = base excess x 0,3 x
BB
GANGGUAN CAIRAN PADA ANAK DAN BAYI
Asidosis Respiratorik
Terjadi karena tekanan parsial CO
2
dalam darah
naik sehingga kadar asam karbonat juga naik
Dijumpai pada edema paru, emfisema
paru,fibrosis, keracunan morfin, poliomielitis,
penyaki jantung bawaan
Koreksi pada keadaan ini ditujukan kepada
penyebab retensi CO2.
NaHCO3 pada umumnya tidak digunakan kecuali
bila terdapat hipoksia dan asidosis metabolik.
Sedatif penekan pusat pernafasan atau
penggunaan oksigen berlebihan akan mengurangi
pacu pusat pernafasan dan mungkin
menyebabkan pengurangan ventilasi pernafasan
GANGGUAN CAIRAN PADA ANAK DAN BAYI
Alkalosis Metabolik
Dijumpai pada muntah, stenosis pilorus, obstruksi
duodenum, terlalu banyak makan
Biasanya terjadi pada diare dehidrasi berat bila
pemberian natrium bikarbonat sebagai korektor
diberikan berlebihan
Dianjurkan pemberian larutan natrium bikarbonat
dibagi dua yaitu setengah kebutuhan diberikan
langsung intravena (bolus) dan setengah sisanya
diberikan secara drip melalui infus cairan.
Pemberian bolus ini jangan terlalu cepat karena
dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah otak
Kecepatan pemberian yang dianjurkan 1 ml/menit.
GANGGUAN CAIRAN PADA ANAK DAN BAYI
Alkalosis Respiratorik
Dijumpai pada infeksi sistem saraf pusat dan
keracunan salisilat
Koreksi alkalosis respiratorik dilakukan dengan
menggunakan sungkup (paper bag) untuk
menambah inspirasi CO2 (rebreathing system).
Bila terdapat hiperventilasi kronik, sensitivitas
pusat pernafasan terhadap CO2 akan
bertambah sehingga penggunaan sistem
rebreathing merupakan suatu indikasi kontra.
JENIS CAIRAN INTRAVENA
Cairan intravena terdiri dari cairan kristaloid,
cairan koloid, dan kombinasi
Cairan kristaloid terdiri dari cairan hipotonik,
isotonik, dan hipertonik
Cairan koloid terdiri dari Albumin, HES
(Hidroxy Ethyl Starch), Dextran, Gelatin.
Cairan kombinasi terdiri dari KaEn 1 B,
Cairan 2 A, Cairan G:B 4:1, Cairan DG,
Cairan Natrium Bicarbonat (Meylon), Cairan
RLD, Cairan G:Z 4:1






JENIS CAIRAN INTRAVENA
Cairan Kristaloid
Cairan hipotonik didistribusikan ke ekstraseluler
dan intraseluler, biasa digunakan pada dehidrasi
kronik dan hipernatremi akibat diabetes insipidus
Cairan hipotonik tidak dapat digunakan sebagai
cairan resusitasi pada kegawatan
Contoh cairan hipotonik : dextrosa 5%
JENIS CAIRAN INTRAVENA
Cairan Kristaloid
Cairan isotonik terdiri dari NaCl 0,9%, ringer
laktat dan plasmalit
Cairan isotonik efektif meningkatkan isi
intravaskuler dan diperlukan jumlah 4x lebih
besar dari kehilangannya.
Efektif sebagai cairan resusitasi, waktu yang
diperlukan lebih pendek dibanding cairan koloid
JENIS CAIRAN INTRAVENA
Cairan Kristaloid
Cairan hipertonik mengandung natrium dan
mempunyai efek inotropik positif
Bermanfaat untuk luka bakar karena dapat
mengurangi edema pada luka bakar, edema
perifer dan mengurangi jumlah cairan yang
dibutuhkan.
Contoh cairan hipertonik : NaCl 3%
CONTOH CAIRAN KRISTALOID
Ringer Laktat
Mengandung Natrium 130 mEq/L, Kalium 4
mEq/l, Klorida 109 mEq/l, Kalsium 3 mEq/l dan
Laktat 28 mEq/L
Larutan ini dimetabolisme di hati dan sebagian
kecil di ginjal menjadi piruvat kemudian
dikonversi menjadi CO
2
dan H
2
O atau glukosa
yang akan membentuk HCO3.
Digunakan untuk mengatasi kehilangan cairan
ekstra seluler akut seperti pada dehidrasi berat
karena diare murni dan DBD
CONTOH CAIRAN KRISTALOID
Ringer Asetat
Mengandung Natrium 130 mEq/l, Klorida 109
mEq/l, Kalium 4 mEq/l, Kalsium 3 mEq/l dan
Asetat 28 mEq/l,
Larutan ini dimetabolisme di otot menjadi
bikarbonat
Digunakan untuk mengoreksi keadaan asidosis
metabolik
Dapat mengganti pemakaian Ringer Laktat

CONTOH CAIRAN KRISTALOID
Glukosa 5%, 10% dan 20%
Berisi Dextrosa 50 gr/liter, 100 gr/liter, 200
gr/liter.
Glukosa 5% digunakan pada gagal jantung
Glukosa 10% dan 20% digunakan pada
hipoglikemia, gagal ginjal akut dengan anuria
dan gagal ginjal akut dengan oliguria

CONTOH CAIRAN KRISTALOID
NaCl 0,9%
Terdiri dari 154 mEq/L Natrium dan 154
mEq/L Klorida
Digunakan pada DBD, syok kardiogenik,
asidosis diabetikum, insufisiensi
adrenokortikal dan luka bakar.
Pada anak dan bayi sakit penggunaan
NaCl biasanya dikombinasikan dengan
Glukosa 5%.

CONTOH CAIRAN KOLOID
Albumin
Terdiri dari albumin endogen dan eksogen
Albumin eksogen ada 2 jenis yaitu human serum
albumin yang diproduksi dari serum manusia
dan albumin dari plasma manusia yang
dimurnikan (Purified protein fraction)
Tersedia dengan kadar 5% atau 25% dalam
garam fisiologis
Komplikasi : hipokalsemia, depresi fungsi
miokardium, reaksi alergi terutama
Digunakan pada sindroma nefrotik dan DSS

CONTOH CAIRAN KOLOID
HES (Hidroxy Ethyl Starch)
Senyawa kimia sintetis yang menyerupai
glikogen dan dibentuk dari hidroksilasi
aminopektin
Tersedia larutan 6% dalam garam fisiologis dgn
tekanan onkotiknya 30 mmHg dan
osmolaritasnya 310 mosm/l
Komplikasi : adanya gangguan mekanisme
pembekuan darah bila dosisnya melebihi 20 ml/
kgBB/ hari.
CONTOH CAIRAN KOLOID
Dextran
Campuran polimer glukosa yang dihasilkan dari
pengembangbiakkan bakteri Leucomostoc
mesenteriodes pada media sukrosa.
Tersedia 2 jenis dextran yaitu dextran 40 dan 70.
Dextran 70 tersedia pada konsentrasi 6% dalam
garam fisiologis
Dextran 40 tersedia pada konsentrasi 10% dalam
garam fisiologis atau glukosa 5%
Digunakan untuk sindroma nefrotik dan DSS
Komplikasi : gagal ginjal akut, reaksi anafilaktik dan
gangguan pembekuan darah
CONTOH CAIRAN KOLOID
Gelatin
Digunakan sebagai cairan resusitasi orang dewasa dan
bencana alam karena efek volume expander yang baik
Terdapat 2 bentuk sediaan yaitu Modified Fluid Gelatin
(MFG) dan Urea Bridged Gelatin (UBG)
Komplikasi : reaksi anafilaksis.

CONTOH CAIRAN KOMBINASI
KaEn 1 B
Mengandung Natrium 38,5 mEq/L, Klorida 38,5 mEq/L.
Dextrose 37,5 gr/L
Digunakan sebagai cairan rumatan pada penyakit
bronkopneumonia, status asmatikus dan bronkiolitis
Cairan 2 A
Terdiri dari glukosa 5% dengan NaCl 0,9 % dan
campuran glukosa 10% dengan NaCl 0,9 %,
perbandingan 1 : 1
Glukosa 5% dengan NaCl 0,9 % digunakan pada diare
dengan komplikasi dan bronkopneumoni dengan
komplikasi.
Glukosa 10% dengan NaCl 0,9 % digunakan pada
bronkopneumoni dengan dehidrasi


CONTOH CAIRAN KOMBINASI
Cairan G:B 4:1
Mengandung 500 cc glukosa 5% dan 25 cc Natrium
Bikarbonat 1,5 %
Cairan DG
Terdiri dari Natrium 61 mEq/L, Kalium 18mEq/L serta
Laktat 27 mEq/L dan Klorida 52 mEq/L serta Dextrosa 25
g/L
Digunakan pada diare dengan komplikasi
Cairan Natrium Bicarbonat (Meylon)
Mengandung natrium 25 mEq/25ml dan bicarbonat 25
mEq/25ml.
Digunakan pada keadaan asidosis akibat defisit
bicarbonat.




CONTOH CAIRAN KOMBINASI
Cairan RLD
Terdiri dari 1 bagian Ringer laktat dan 1 bagian Glukosa
5%
Digunakan pada demam berdarah dengue
Cairan G:Z 4:1
Terdiri dari 4 bagian glukosa 5-10% dan 1 bagian NaCL
0,9%
Digunakan pada dehidrasi berat karena diare murni
PRINSIP TERAPI CAIRAN
Pemilihan cairan berdasarkan status
hidrasi pasien, konsentrasi elektrolit dan
kelainan metabolik yang ada.
Tujuan terapi cairan yaitu untuk
mengganti kehilangan cairan akut dan
rumatan untuk mengganti kehilangan
harian.
Bila pemberian cairan peroral, personde atau
gastrostomi tidak memungkinkan, tidak
mencukupi atau membahayakan penderita,
terapi cairan intra vena diberikan
PRINSIP TERAPI CAIRAN
Terapi pemeliharaan atau rumatan
Kebutuhan cairan pengganti rumatan ini dihitung
berdasarkan kilogram berat badan
Setiap kenaikan suhu 1
o
C diatas suhu tubuh
37
o
C kebutuhan cairan ditambah 12%.
Kebutuhan cairan rumatan harus dikurangi 12%
pada setiap penurunan suhu 1
o
C dibawah suhu
tubuh normal
PRINSIP TERAPI CAIRAN
Terapi defisit
Sebagai pengganti air dan elektrolit yang hilang
secara abnormal (Previous Water Losses=PWL)
yang berjumlah antara 5-15% berat badan.
Digunakan pada kondisi diare, muntah akibat
stenosis pilorus, kesulitan pemasukan oral dan
asidosis karena diabetes
Berdasarkan PWL, derajat dehidrasi dibagi atas
ringan yaitu kehilangan cairan sekitar 3-5% berat
badan, dehidrasi sedang kehilangan cairan
sekitar 6-9% berat badan dan dehidrasi berat
kehilangan cairan berkisar 10% atau lebih berat
badan.
PRINSIP TERAPI CAIRAN
Terapi pengganti kehilangan cairan yang masih
tetap berlangsung
Digunakan pada kondisi muntah dan diare yang
masih tetap berlangsung, pengisapan lendir,
parasentesis dan lainnya
Jumlah kehilangan CWL diperkirakan 25
ml/kgBB/24 jam untuk semua umur.

TERAPI CAIRAN PADA BEBERAPA PENYAKIT
BAYI DAN ANAK

Demam Berdarah Dengue
Pada keadaan derajat I dan II, pemberian cairan diperlukan bila
Anak terus menerus muntah, minum tak mau, demam tinggi,
Nilai hematokrit cenderung meningkat pada pemeriksaan
rutin.
Jenis cairan yang direkomendasi WHO adalah:
Kristaloid
1. Ringer Laktat atau Dextrose 5% dalam larutan Ringer
Laktat (RLD)
2. Ringer Asetat atau Dextrose 5% dalam larutan Ringer
Asetat (RAD)
3. Larutan NaCl 0,9% atau Dextrose dalam NaCl 0,9%
Koloid
1. Dextran
2. Plasma

TERAPI CAIRAN PADA BEBERAPA PENYAKIT
BAYI DAN ANAK

Demam Berdarah Dengue
Pada keadaan derajat I dan II tanpa peningkatan hematokrit
:
Pasien tak dapat minum atau muntah terus menerus
infus NaCl 0,9 % : Dektrose 5% (1 : 3) tetesan
rumatan sesuai berat badan.
Pemeriksaan Hb, Ht dan trombosit setiap 6 12 jam.
Diuresis diukur tiap 24 jam, awasi perdarahan yang
terjadi.
Perbaikan klinis dan laboratoris pulang
Kadar Ht cenderung naik dan trombosit menurun infus
Ringer Laktat tetesan disesuaikan sebagai DBD
derajat I dan II dengan peningkatan hematokrit >20%.


TERAPI CAIRAN PADA BEBERAPA PENYAKIT
BAYI DAN ANAK

Demam Berdarah Dengue
Pada keadaan derajat I dan II dengan peningkatan
hematokrit :
infus RL atau NaCL 0,9% atau RLD5 atau NaCl 0,9% +
D5 6-7 ml/kgBB/jam dengan kecepatan 2
tetes/kgbb/menit
Monitor tanda vital, kadar hematokrit serta trombosit tiap
6 jam, selanjutnya evaluasi 12-24 jam
Bila selama observasi keadaan umum membaik 5
ml/kgBB/jam dengan kecepatan 1 tetes/kgbb/menit
tetap stabil 3 ml/kgBB/jam hentikan pada 24-48 jam
Anak tampak gelisah, nafas cepat, frekuensi nadi
meningkat, diuresis kurang, tekanan nadi < 20 mmHg,
peningkatan Ht 15 ml/kgBB/jam dengan kecepatan 4
tetes/kgbb/menit


TERAPI CAIRAN PADA BEBERAPA PENYAKIT
BAYI DAN ANAK

Demam Berdarah Dengue
Pada keadaan derajat I dan II dengan peningkatan
hematokrit :
Bila terjadi distress pernafasan dan Ht naik
cairan koloid 20-30 ml/kgBB/jam dengan
kecepatan 5-7 tetes/kgbb/menit
Bila Ht turun transfusi darah 10 ml/kgBB/jam
dengan 2-3 tetes/kgbb/menit.
Bila keadaan klinis membaik maka cairan
disesuaikan.


TERAPI CAIRAN PADA BEBERAPA PENYAKIT
BAYI DAN ANAK

Demam Berdarah Dengue
Pada keadaan derajat III dan IV dengan syok :
Infus kristaloid (RL atau NaCl 0,9%) 20 ml/kgBB
secepatnya (berikan dalam bolus selama 30
menit) dan oksigen 2 liter/menit
Pada derajat IV cairan diguyur 100-200 ml
Observasi tensi dan nadi tiap 15 menit,
hematokrit dan trombosit tiap 4-6 jam.
Periksa elektrolit dan gula darah


TERAPI CAIRAN PADA BEBERAPA PENYAKIT
BAYI DAN ANAK

Demam Berdarah Dengue
Pada keadaan derajat III dan IV dengan syok :
Bila dalam waktu 30 menit syok belum teratasi,
tetesan RL dilanjutkan 15-20 ml/kgBB dengan
kecepatan 4-5 tetes/kgBB/menit ditambah
plasma 10-20 ml/kgBB dengan kecepatan 2-5
tetes/kgBB/menit maksimal 30 ml/kgBB.
Observasi keadaan umum, tekanan darah, nadi
tiap 15 menit dan periksa Ht tiap 4-6 jam

TERAPI CAIRAN PADA BEBERAPA PENYAKIT
BAYI DAN ANAK

Demam Berdarah Dengue
Pada keadaan derajat III dan IV dengan syok :
Bila syok teratasi, cairan dikurangi menjadi 10
ml/kgBB/jam dengan kecepatan 2-3
tetes/kgbb/menit, dipertahankan 24 jam atau
klinis stabil dan Ht < 40%.
Selanjutnya cairan diturunkan 5 ml kemudian 3
ml/kgBB/jam.
Pemberian cairan tidak melebihi 48 jam setelah
syok teratasi.
Observasi klinis, tekanan darah, nadi, jumlah
urine tiap jam.
TERAPI CAIRAN PADA BEBERAPA PENYAKIT
BAYI DAN ANAK

Demam Berdarah Dengue
Pada keadaan derajat III dan IV dengan syok :
Pemeriksaan Ht dan trombosit tiap 4-6 jam
sampai keadaan umum baik.
Apabila syok belum dapat teratasi, hematokrit
menurun tetapi masih > 40% berikan darah
dalam volume kecil 10ml/kg BB.
Apabila tampak perdarahan masif, berikan darah
segar 20 ml/kgBB dan dilanjutkan cairan
kristaloid 10 ml/kgBB/jam.
Syok masih belum teratasi pasang CVP, bila
normal (> 10 mmH
2
O) maka berikan dopamin
TERAPI CAIRAN PADA BEBERAPA PENYAKIT
BAYI DAN ANAK

Diare
Pemberian cairan melalui intravena diberikan pada
penderita diare akut dengan dehidrasi berat.
Cairan yang diberikan adalah Ringer Laktat atau garam
normal, 100 mg/kgBB mulai diberi segera.
Bila penderita bisa minum berikan oralit sewaktu cairan iv
dimulai
Jumlah pemberian cairannya sebagai berikut:
1 bulan 1 tahun : 1 jam I = 30 ml/kgBB, 5 jam II = 70
ml/kgBB
> 1 tahun : jam I = 30 ml/kgBB. 2 jam II = 70 ml/kgBB


TERAPI CAIRAN PADA BEBERAPA PENYAKIT
BAYI DAN ANAK

Diare
Ulangi bila nadi masih lemah atau tidak teraba.
Nilai kembali penderita tiap 1-2 jam.
Bila rehidrasi belum tercapai percepat tetesan iv.
Berikan oralit 5ml/kgBB/jam bila penderita bisa minum untuk
memberi tambahan kalium dan basa.
Setelah 6 jam (bayi) atau 3 jam (anak) nilai lagi keadaan
penderita.
Bila tanda-tanda rehidrasi masih belum berubah atau
bertambah buruk dan terutama bila penderita juga
mengeluarkan tinja cair beberapa kali, jumlah total cairan
yang diberikan untuk rehidrasi harus ditingkatkan.
DIARE DENGAN BEBERAPA KOMPLIKASI
Malnutrisi energi protein ringan, sedang dan berat
tipe marasmus dengan diare dehidrasi berat
Jenis cairan : DD atau 2a + KCl 10 mEq/500 cc
Jumlah cairan = PWL+ NWL+ CWL (dalil Darrow)
Cara dan lama pemberian cairan sama dengan diare
dehidrasi berat
Malnutrisi energi protein berat tipe marasmik-
kwaskoiskor atau tipe kwaskioskor dengan diare
dehidrasi berat.
Jenis cairan : DG atau 2a + KCl 10 mEq/500 cc
Jumlah cairan : 4/5 (PWL+ NWL+ CWL)
Cara dan lama pemberian cairan sama dengan diare
dehidrasi berat

DIARE DENGAN BEBERAPA KOMPLIKASI
Diare dehidrasi berat dengan bronkopneumoni
tanpa disertai kelainan jantung.
Jenis cairan : DG atau 2a + KCl 10 mEq/500 cc
Jumlah cairan : PWL+ NWL+ CWL
Cara dan lama pemberian cairan sama dengan
penatalaksanaan diare dengan dehidrasi berat.
Diare dehidrasi berat dengan malnutrisi energi
protein ringan, sedang, berat tipe marasmus
disertai bronkopneumoni tanpa kelainan jantung.
Jenis cairan : DG atau 2a + KCl 10 mEq/500 cc
Jumlah cairan dan kecepatan pemberian sama seperti
diare dehidrasi berat dengan bronkopneumoni.
DIARE DENGAN BEBERAPA KOMPLIKASI
Diare dehidrasi berat dengan malnutrisi energi
protein berat tipe marasmik-kwasioskor dan tipe
kwaskoiskor yang disertai bronkopneumoni tanpa
kelainan jantung.
Jenis cairan : DG atau 2a +KCl 10 mEq/500cc
Jumlah cairan dan kecepatan pemberian sama seperti
diare dehidrasi berat dengan malnutrisi energi protein
berat tipe marasmik-kwaskioskor dan tipe kwashioskor
DIARE DENGAN BEBERAPA KOMPLIKASI
Diare dehidrasi berat dengan kelainan jantung
bawaan / CHD dengan right to left shunt disertai
dehidrasi berat.
Jenis cairan : DG atau 2a + KCl 10 mEq/500cc
Jumlah cairan : PWL+ NWL+ CWL
Cara dan lama pemberian cairan sama dengan
penatalaksanaan diare dengan dehidrasi berat
CHD dengan left to right shunt disertai dehidrasi
berat.
Jenis cairan : DG atau 2a + KCl 10 mEq/500 cc
Jumlah cairan : 4/5 (PWL+ NWL+ CWL)
Cara dan lama pemberian cairan sama dengan
penatalaksanaan diare dengan dehidrasi berat
DIARE DENGAN BEBERAPA KOMPLIKASI
CHD dengan gagal jantung.
Jenis cairan : DG atau 2a + KCl 10 mEq/500 cc
Jumlah cairan dan kecepatan pemberian sama seperti
dengan left to right shunt disertai dehidrasi berat.
Diare dehidrasi berat yang disertai kejang.
Jenis cairan : DG atau 2a +KCL 10 mEq/500 cc
Jumlah cairan : PWL+ NWL+ CWL

TERAPI CAIRAN PADA BEBERAPA PENYAKIT
BAYI DAN ANAK

Kolera
Cairan yang diberikan yaitu:
Ringer Laktat dengan kecepatan 1 jam I = 10 tetes/
kgBB/ menit, 7 jam berikut = 3 tetes/ kgBB/ menit.
Bila terdapat syok, cairan diguyur, selanjutnya pemberian
cairan seperti diatas.
4 jam kemudian hanya diberikan oralit saja, kemudian
boleh pulang

TERAPI CAIRAN PADA BEBERAPA PENYAKIT
BAYI DAN ANAK

Bronkopneumoni
Anak sangat sesak nafas memerlukan pemberian
cairan intravena dan oksigen.
Cairan yang digunakan KaEn1B disertai dengan
pemberian KCl 10 mEg/500 ml botol infus.
Cairan dihentikan secara bertahap sesuai dengan
keadaan klinis pasien
Perhitungan jumlah cairan berdasarkan rumus Darrow, yaitu
:
- BB 3-10 kg = 105 mg/kgBB/24 jam
- BB 10-15 kg = 85 mg/kgBB/24 jam.
- BB 15-25 kg = 65 mg/kgBB/24jam.

TERAPI CAIRAN PADA BEBERAPA PENYAKIT
BAYI DAN ANAK

Bronkopneumoni
Pada neonatus, cairan yang digunakan GB 4:1.
Kebutuhan cairan :
- Umur 1 hari = 60 cc/kgBB/hari
- Umur 2 hari = 70 cc/kgBB/hari
- Umur 3 hari = 80 cc/kgBB/hari
- Umur 4 hari = 90 cc/kgBB/hari
- Umur 5 hari = 100 cc/kgBB/hari
- Umur 6 hari = 110 cc/kgBB/hari
- Umur 7 hari = 120 cc/kgBB/hari
- Umur 8 hari = 130 cc/kgBB/hari
- Umur 9 hari = 140 cc/kgBB/hari
- Umur 10-14 hari = 150 cc/kgBB/hari
- Umur 15-30 hari = 160 cc/kgBB/hari

TERAPI CAIRAN PADA BEBERAPA PENYAKIT
BAYI DAN ANAK

Bronkopneumoni
Tetesan dibagi rata dalam 24 jam
Cairan dihentikan secara bertahap sesuai keadaan klinis.
Bronkopneumoni dengan dehidrasi karena intake kurang,
cairan yang digunakan DG 10 % atau 2A 10%.
Kebutuhan cairan dalam 24 jam :
(PWL+NWL+CWL) x BB
Previous water loss = 5-15% dari berat badan.
Normal water loss = urin + insensible water loss.
Concomitant water loss : 25 ml/kgBB/hari.
Cara pemberian : 4 jam I = kebutuhan, 20 jam II =
kebutuhan.
TERAPI CAIRAN PADA BEBERAPA PENYAKIT
BAYI DAN ANAK

Bronkopneumoni
Bronkopneumoni dengan Congestive Heart Failure gunakan
Glukosa 10% + KCl 6 mEg/ 250 cc.
Bila dekompensatio kordis telah teratasi, diganti 2a + KCl.
Jumlah cairan yang digunakan BB x (maintanance +
kenaikan suhu).
Bronkopneumoni dengan CHD tanpa heart failure, gunakan
adalah 2A-KCl.
Bila ada dehidrasi bukan karena GE, cairannya DG.
Jumlah cairan :
- Left to right shunt = xBB x ( maintenance + NWL + PWL).
- Right to left shunt = 1 x BB x (maintenance + NWL + PWL).
- Bila disertai PEM berat = x BB (maintenance + NWL ).
TERAPI CAIRAN PADA BEBERAPA PENYAKIT
BAYI DAN ANAK

Status Asmatikus
Cairan yang digunakan KaEn 1B + KCl 5 mEg/kolf.
Bila ada dehidrasi hendaknya diberikan cairan hipertonik.
Untuk BB 10-20 kg = 100-150 ml/jam sedangkan BB >21 kg
= 200 ml/jam.
Cairan ini diberikan sampai terjadi diuresis.
Bila sudah terjadi diuresis teruskan dengan cairan rumatan
TERAPI CAIRAN PADA BEBERAPA PENYAKIT
BAYI DAN ANAK

Gagal Jantung
Jenis cairan yang diberikan yaitu cairan yang tanpa natrium
Jumlah cairan dapat dikurangi menjadi 75-80% dari
kebutuhan rumatan atau dapat dibatasi sampai 65
cc/kgBB/hari
Bila anak dengan gizi kurang, pemberian cairannya dapat
diberikan sebanyak 80-100 cc/kgBB/ hari dan maksimal
1500 cc/hari.
Pemberian cairan ini harus terus dipantau, mengingat kerja
pernafasan yang meningkat akan dapat menyebabkan
meningkatnya kebutuhan cairan.
Pemantauan secara klinis ( turgor, pola pernafasan, balance
antara masukan dan keluar) serta laboratorik (analisa gas
darah, elektrolit).
TERAPI CAIRAN PADA BEBERAPA PENYAKIT
BAYI DAN ANAK

Syok Kardiogenik
Cairan yang dipilih adalah NaCl 0,9%, diberikan secara
perlahan-lahan untuk mengkoreksi hipovolemia.
Bila terdapat tanda-tanda perbaikan fungsi miokardium,
teruskan infus hingga syok teratasi.
Jumlah cairan yang diberikan sebanyak 10 cc/kgBB dengan
kecepatan tetesan minimal.
Pemberian cairan ini dapat memperbaiki fungsi jantung
sementara, tapi untuk selanjutnya harus diberikan dukungan
inotropik untuk memperbaiki kontraktilitas miokardium.
TERAPI CAIRAN PADA BEBERAPA PENYAKIT
BAYI DAN ANAK

Sindroma Nefrotik
Cairan yang dipilih adalah plasma segar, albumin, atau
dextran.
Bila hipovolemia disertai komplikasi infeksi, plasma segar
dapat diberikan, tapi bila tidak ada, albumin sebagai koloid
pengganti sudah cukup memadai.
Jumlah cairan yang diberikan awalnya sejumlah 20
ml/kgBB/jam walaupun diperlukan lebih banyak lagi.
Pemberian plasma ini perlu observasi ketat dan
pengawasan terhadap nadi, tekanan darah, tekanan vena
jugularis dan perbedaan suhu di sentral dan perifer.
Kontraindikasi : tekanan vena yang meninggi, kardiomegali
dan adanya edema pulmonal.

TERAPI CAIRAN PADA BEBERAPA PENYAKIT
BAYI DAN ANAK

Gagal Ginjal Akut
Jenis cairan yang dipakai adalah:
- Pada penderita anuria diberikan glukosa 10-20%.
- Pada penderita oliguria diberikan glukosa 10% : NaCl
0,9% = 3:1.
Bila dipakai vena sentral dapat diberikan larutan glukosa 30-
40%.
Cairan diperhitungkan berdasarkan IWL + jumlah urin 1 hari
sebelumnya + cairan yang keluar dengan muntah, feses,
slang nasogastrik,dan lain-lain.
Bila usia < 5th = 30 ml/kgBB/hari, bila usia > 5 th = 20
ml/kgBB/hari.
Bila penderita sering muntah diberikan per infus

TERAPI CAIRAN PADA BEBERAPA PENYAKIT
BAYI DAN ANAK

Bayi Berat Badan Lahir Rendah
Bila pemberian oral belum memungkinkan maka diberikan
cairan intravena Dextrosa 5% dan Natrium Bikarbonat 1,5%
dengan perbandingan 4:1
Bila pada hari ke 3 makanan oral masih belum bisa, berikan
protein yaitu cairan aminofusin pediatrik dengan dosis 20
ml/kgbb/hari dengan kecepatan 1 tetes/kgbb/hari.
Pemberian cairan intravena dihentikan bila telah bisa makan
secara oral yang dilakukan secara bertahap

Sepsis Pada Neonatus
Pada keadaan ini diberikan larutan Dextrosa 5% dan
Natrium Bikarbonat 1,5% dengan perbandingan 4:1
TERAPI CAIRAN PADA BEBERAPA PENYAKIT
BAYI DAN ANAK

Hipoglikemi
Hari pertama diberikan glukosa 20% 2 ml/kgbb intravena
kemudian dilanjutkan dengan Glukosa 5-10% 75 ml/kgbb/24
jam dengan kecepatan 3 tetes/kgbb/menit.
Hari ke 2 dilanjutkan dengan Glukosa 5% dan NaCl 0,9%
dengan perbandingan 4:1 100 ml/kgbb dengan kecepatan 4
tetes/kgbb/menit.
Hari ketiga mulai pemberian makanan secara oral dan
cairan intravena dihentikan secara bertahap.
Bila pada 24 jam pertama kadar gula darah masih dalam
keadaan hipoglikemi beri kortison 5-10 mg/kgbb.
Bila pemberian oral belum memungkinkan, diberikan
Dextrosa 5% dan Natrium Bikarbonat 1,5% dengan
perbandingan 4:1

TERAPI CAIRAN PADA BEBERAPA PENYAKIT
BAYI DAN ANAK

Sindroma Gawat Nafas Neonatal
Cairan yang digunakan adalah campuran larutan Glukosa
5% dan Natrium Bikarbonat dengan perbandingan 4:1.
Cairan pada 24 jam pertama yaitu 68- 80 ml/kgbb dengan
kecepatan 3-4 tetes/kgbb/menit kemudian dinaikkan secara
bertahap sampai 150 ml/kgbb/hari dengan kecepatan 6
tetes/kgbb/menit pada hari ketujuh.
Bila ginjal telah berfungsi dan diuresis telah timbul maka
bayi harus diberikan elektrolit berupa natrium dan kalium 3-
2 mEg/kgbb.
Bila terjadi asidosis metabolik lakukan koreksi terhadap
keadaan ini.