Anda di halaman 1dari 30

Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 1



OSOCA SKENARIO B BLOK 2
VISUM ET REPERTUM
2.1 Skenario Kasus
Nn. Nikita, usia 19 tahun, berkelahi dengan Nn Rika pada tanggal 20 Oktober 2012 pukul
20.00 WIB. Nn. Nikita menderita luka cakar dibagian muka dan tangan. Nn. Nikita
merasa tidak ada itikad baik dari Nn. Rika untuk meminta maaf, sehingga pada pukul
22.00 WIB, Nn Nikita pergi ke RSMP untuk di visum. Dari pemeriksaan dokter IGD
RSMP didapatkan hasil:
a. 3 luka cakar pada pipi kanan dengan ukuran :
Luka pertama panjang 8 cm. lebar 1 cm
Luka kedua panjang 5cm, lebar 0,5 cm
Luka ketiga panjang 3 cm, lebar 0,3 cm
b. 2 luka cakar tangan sebelah kanan bawah dengan ukuran :
Luka pertama panjang 10 cm, lebar 0,5 cm
Luka kedua panjang 5 cm, lebar 0,5 cm
Dokter IGD tidak memberitahukan kepada Nn. Nikitta bahwa surat tersebut bukan surat
hasil visum. Dua hari kemudian, Nn. Nikita melapor ke Polsek Seb. Ulu 1 dengan
membawa surat yang dianggapnya hasil visum dari dokter IGD RSMP. Namun
kepolisian meminta Nn. Nikita untuk di visum kembali.
2.2 Identifikasi Masalah
1) Nn. Nikita, usia 19 tahun, berkelahi dengan Nn. Rika pada tanggal 20 Oktober 2012
dengan menderita luka cakar dibagian muka dan tangan.
2) Nn. Nikita merasa tidak ada itikad baik dari Nn. Rika untuk meminta maaf sehingga
pada pukul 22.00 WIB Nn. Nikita pergi ke RSMP untuk di visum
3) Dari hasil pemeriksaan dokter IGD RSMP dokter IGD tidak memberitahu kepada Nn.
Nikita bahwa surat tersebut bukan surat hasil visum
4) Dua hari kemudian, Nn Nikita melapor ke Polsek Seb. Ulu 1 dengan membawa surat
yang dianggap hasil visum dari dokter IGD RSMP, namun kepolisian meminta Nn
Nikita untuk divisum kembali


Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 2

2.3 Analisis Masalah
1. Nn. Nikita, usia 19 tahun, berkelahi dengan Nn. Rika pada tanggal 20 Oktober 2012
dengan menderita luka cakar dibagian muka dan tangan.
a. Bagaimana tindakan medis yang dilakukan dokter dalam kasus luka cakar?
Tindakan medis yang dilakukan (Margareta, Shinta. 2012)
1. Bagian tubuh yang terluka dibersihkan lalu dikeringkan dengan kain yang
sangat halus
2. bila terjadi pendarahan pada luka, dokter akan menghentikan dengan menekan
pada bagian lukanya selama beberapa menit sampai aliran darah yang keluar
berhenti
3. mengoleskan antiseptik pada luka dan biarkan luka terbuka karena luka cakar
tidak termasuk dalam luka berat

b. Termasuk dalam katagori derajat luka yang mana luka cakar itu?
Dalam UU No 1 / 1946 KUHAP derajat luka (Afandi, Dedi. 2008) terbagi atas 2
bagian :
1) Luka ringan dalam KUHAP pasal 352 yang berbunyi :
penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk
menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian, diancam, sebagai penganiayaan
ringan, dengan pidana penjara paling lama tiga bulan
2) Luka berat dalam KUHAP pasal 90 yang berbunyi :


o jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak dapat diharapkan akan
sembuh secara sempuma,atau yang menimbulkan bahaya maut;
o untuk selamanya tidak mampu menjalankan tugas jabatan atau
pekerjaan yang merupakanmata pencaharian;
o kehilangan salah satu pancaindera;
o mendapat cacat berat;
o menderita sakit lumpuh;
o terganggunya daya pikir selama lebih dari empat minggu.
Jadi pada kasus Nn. Nikita bahwa penganiayaan yang dialami
termasuk dalam derajat luka ringan, karena Nn. Nikita masih bisa
Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 3

melakukan aktivitas dan dia juga tidak mengalami bahaya maut, serta
tidak kehilangan salah satu panca inderanya.

c. Bagaimana menurut pandangan islam tentang orang yang berkelahi?
1. Bukankah orang kuat itu dengan menang bergulat, tetapi orang yang kuat
ialah orang yang dapat mengausai dirinya ketika marah (HR:bukhari-muslim)
2. Hadis riwayat Imran bin Hushain ra., ia berkata:
Ya`la bin Munyah atau Ibnu Umayyah berkelahi dengan seorang lelaki
sehingga mereka berdua saling menggigit yang lain. Maka menariklah yang
digigit tangannya dari mulut orang yang menggigit, sehingga menanggalkan
satu gigi depan Ibnu Mutsanna dan dua gigi depannya. Keduanya lalu
meminta penyelesaian kepada Nabi saw., beliau bersabda: Jika salah seorang
kamu menggigit seperti hewan jantan menggigit, maka tidak ada diyat
baginya (Shahih Muslim No.3168)
3. Hadis riwayat Abdullah bin Mas`ud ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Perkara yang pertama kali akan diselesaikan di
antara manusia pada hari kiamat nanti, ialah perkara darah (pembunuhan).
(Shahih Muslim No.3178)
Rasul saw melarang memukul wajah, bahkan dalam peperangan pun dilarang
memukul wajah, sebagaimana diriwayatkan dalam shahih Muslim hadits
no.2612).
Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya laki-laki yang paling dibenci oleh
Allah ialah yang sangat bermusuhan. (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Nn. Nikita merasa tidak ada itikad baik dari Nn. Rika untuk meminta maaf sehingga
pada pukul 22.00 WIB Nn. Nikita pergi ke RSMP untuk di visum
a. Apa hubungannya tidak ada itikad baik dengan meminta maaf?
Itikad baik dengan meminta maaf berhubungan antara satu sama lain, karena
sebelum meminta maaf pastilah harus memiliki keinginan agar bisa meminta
maaf, jadi apabila tidak ada itikad baik maka meminta maaf tidak akan terjadi dan
dalam kasus ini tidak adanya itikad baik dapat menyebabkan adanya rasa dendam
Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 4

yang menyebabkan seseorang harus meminta maaf agar tidak adanya terjadi
kesalah pahaman.

b. Apa jenis visum yang dilakukan oleh Nn Nikita?
Jenis Visum yang dilakukan oleh Nn. Nikita adalah visum seketika dimana korban
pada saat itu juga langsung divisum tanpa memerlukan proses perawatan dan
pemeriksaan lanjutan.

c. Apa saja jenis-jenis visum?
Jenis visum et repertum pada orang hidup (Universitas Sumatera Utara,2011)
terdiri dari :
1. Visum seketika adalah visum yang dibuat seketika oleh karena korban tidak
memerlukan tindakan khusus atau perawatan dengan perkataan lain korban
mengalami luka - luka ringan
2. Visum sementara adalah visum yang dibuat untuk sementara berhubung
korban memerlukan tindakan khusus atau perawatan. Dalam hal ini dokter
membuat visum tentang apa yang dijumpai pada waktu itu agar penyidik dapat
melakukan penyidikan walaupun visum akhir menyusul kemudian
3. Visum lanjutan adalah visum yang dibuat setelah berakhir masa perawatan
dari korban oleh dokter yang merawatnya yang sebelumnya telah dibuat visum
sementara untuk awal penyidikan. Visum tersebut dapat lebih dari satu visum
tergantung dari dokter atau rumah sakit yang merawat korban.
4. Visum orang mati

d. Apakah Prosedur Nn. Nikita dalam melakukan visum itu benar?
Salah, karena dalam melakukan visum ada prosedur yang harus dilakukan seperti
mulai dari melaporkan ke pihak kepolisi hingga akhirnya penyerahan surat
keterangan ahli.
e. Bagaimana prosedur melakukan visum yang benar?
Prosedur melakukan visum (Afandi, Dedi. 2008) yaitu:
1. Penerimaan korban yang dikirim oleh penyidik.
2. Penerimaan surat permintaan keterangan ahli.
3. Pemeriksaan korban secara medis.
Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 5

4. Pengetikan surat keterangan ahli/Visum et Repertum.
5. Penandatanganan surat keterangan ahli(VeR).
6. Penyerahan benda bukti yang telah selesai diperiksa.
7. Penyerahan surat keterangan ahli(VeR).

f. Apa manfaat dari visum ?
Manfaat visum (Afandi, Dedi. 2008) yaitu :
1. Bagi penyidik (Polisi/Polisi Militer) visum et repertum berguna untuk
mengungkapkan perkara.
2. Bagi Penuntut Umum (Jaksa) keterangan itu berguna untuk
menentukan pasal yang akan didakwakan,
3. bagi Hakim sebagai alat bukti formaluntuk menjatuhkan pidana atau
membebaskan seseorang dari tuntutan hukum.

g. Siapa saja yang berhak meminta visum?
Yang berhak meminta visum adalah
1. Penyidik dan pengadilan dengan membawa korban sebagai barang bukti
sesuai dengan isi KUHP 133 (UU No.29,2004)
2. Hakim Pidana, Hakim perdata, Hakim agama (Universitas Sumatera
Utara,2011)

h. Siapa saja yang berhak membuat izin untuk mengeluarkan surat hasil visum?
Yang berhak membuat visum terdapat pada pasal 133 (UU No.29,2004) yaitu:
1. Ahli kedokteran kehakiman
2. Dokter atau ahli lainnya

i. Apa saja sumber-sumber hukum yang terkait dengan visum?
Sumber-sumber hukum yang terkait dengan visum (UU No.29,2004) yaitu:
1. Pasal 133 KUHAP :
1. Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang
korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena
peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan
Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 6

permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau
dokter dan atau ahli lainnya.
2. Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas
untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan
bedah mayat.
2. Yang berwenang meminta keterangan ahli adalah penyidik dan penyidik
pembantu sebagaimana bunyi pasal 7(1) butir h dan pasal 11 KUHAP.

j. Bagaimana sistematika pemeriksaan visum yang benar?
Sistematika pemeriksaan visum pada mayat (Afandi, Dedi. 2008) yaitu:
1. LABEL MAYAT
o Label dari kepolisian
o Pada ibu jari kaki
o Label ini disimpan
pemeriksa
o Catat warna, bahan label
dan tulisan
2. TUTUP MAYAT
o Catat : Jenis bahan, corak
dan lain lain
o Penutup mayat
3. BUNGKUS MAYAT
4. PAKAIAN
o Dicatat satu persatu dari
atas sampai kebawah,
antara lain bahan, warna
dasar, corak, dll.
5. Perhiasan : Bahan, Warna,
Merk, Inisial, dll.
6. Benda benda disamping
mayat.
7. Tanda tanda kematian
o Lebam mayat
o Kaku mayat
o Suhutubuh mayat
o Pembusukan
o Lain lain.
8. Identifikasi umum
o Jenis kelamin
o Bangsa/keturunan
o Umur
o Warna kulit
o Keadaan gizi
o Tinggi/panjang badan
o Berat badan
o Zakar sirkumsisi
o Striae albicantes
Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 7

9. Identifikasi Khusus
o Rajah/tato
o Jaringan parut
o Kapalan ( callus )
o Kelainan kulit
o Anomali/cacat tubuh
10. Pemeriksaan kepala
11. Pemeriksaan mata
o Terbuka/tertutup
o Tanda kekerasan
o Lendir
o Bola mata
o Mata palsu
o Cornea
o Iris
o Pupil ( ukurannya )
12. Pemeriksaan daun telinga
13. Mulut/Rongga mulut
o Data gigi geligi
o Penting untuk identifikasi
14. Leher
15. Dada
16. Perut
17. Punggung
18. Pinggang
19. Anus
20. Alat kelamin
21. Anggota gerak atas
22. Anggota gerak bawah.

3. Dari hasil pemeriksaan dokter IGD RSMP dokter IGD tidak memberitahu kepada Nn.
Nikita bahwa surat tersebut bukan surat hasil visum
a. Bagaimana bagian dari surat visum yang sah dan sahih?
Setiap visum et repertum harus dibuat memenuhi ketentuan umum (Afandi, Dedi.
2008)
1. Diketik di atas kertas berkepala surat instansi pemeriksa
2. Bernomor dan bertanggal
3. Mencantumkan kata Pro Justitia di bagian atas kiri (kiri atau tengah)
4. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
5. Tidak menggunakan singkatan, terutama pada waktu mendeskripsikan temuan
pemeriksaan
6. Tidak menggunakan istilah asing
7. Ditandatangani dan diberi nama jelas
8. Berstempel instansi pemeriksa tersebut
9. Diperlakukan sebagai surat yang harus dirahasiakan
Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 8

10. Hanya diberikan kepada penyidik peminta visum et repertum. Apabila ada
lebih dari satu instansi peminta, misalnya penyidik POLRI dan penyidik POM,
dan keduanya berwenang untuk itu, maka kedua instansi tersebut dapat diberi
visum et repertum masing-masing asli
11. Salinannya diarsipkan dengan mengikuti ketentuan arsip pada umumnya, dan
disimpan sebaiknya hingga 20 tahun

b. Bagaimana contoh pembuatan surat visum yang sah?
Contoh visum et repertum (Alit, Ida Bagus Putu. 2006)
RUMAH SAKIT SANGLAH DENPASAR
BAGIAN/SMF/INSTALASI KEDOKTERAN FORENSIK
Telp : 227912 227915 Ext. 111

PROJUSTITIA

VISUM ET REPERTUM
NO: KF 24/VR/VIII/2006

Berhubung dengan surat Saudara: I Nyoman Suriana, BRIPDA, NRP: delapan empat
nol sembilan nol tiga enam empat, Nomor Polisi B garis miring tiga ratus dua puluh sembilan
garis miring enam romawi garis miring dua ribu enam garis miring Sek.Mgs, tertanggal dua
puluh juni dua ribu enam, maka kami yang bertanda tangan dibawah ini dokter IDA
BAGUS PUTU ALIT, DFM, Sp.F, dokter pemerintah pada Bagian Instalasi Kedokteran
Forensik Rumah Sakit Sanglah Denpasar menerangkan bahwa kami pada tanggal dua puluh
sembilan juni dua ribu enam pukul enam belas lewat tiga puluh menit Waktu Indonesia
Bagian Tengah telah melakukan pemeriksaan terhadap korban dengan nomor rekam medis
nol satu nol lima tiga sembilan empat satu yang berdasarkan surat tersebut..............................

Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 9

Nama : Maryati
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : Lima belas tahun
Kewarganegaraan : Indonesia
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Jalan Uluwatu tiga puluh empat Jimbaran Kuta Badung

Pada pemeriksaan ditemukan:
a. Perempuan tersebut adalah seorang wanita berumur lima belas tahun dengan kesadaran
baik, emosi tengang, rambut rapi, penampilan bersih, sikap selama pemeriksaan
membantu ...............................................................................................................................
b. Pakaian rapi, tanpa robekan ...................................................................................................
c. Tanda kelamin sekunder sudah berkembang .........................................................................
d. Keadaan umum jasmaniah baik, tekanan darah seratus sepuluh per tujuh puluh milimeter
air raksa, denyut nadi sembilan puluh dua kali per menit, pernapasan dua puluh kali per
menit ......................................................................................................................................
e. Luka-luka : tidak ditemukan adanya luka-luka pada korban .................................................
f. Pemeriksaan Kandungan:
Rahim: Puncak rahim setinggi satu jari dibawah pusat dan teraba benda keras
berbentuk bulat pada dasar rahim serta terdengar denyut jantung janin ..........................
g. Pemeriksaan Alat Kelamin:
Mulut alat kelamin : Pada kedua bibir kecil kemaluan tidak tampak kemerahan ..........
Selaput dara : Terdapat robekan lama pada selaput dara hingga ke dasar sesuai
dengan arah jarum jam tiga dan jam sembilan.................................................................
Leher rahim : Tampak merah keunguan dengan permukaan licin, lunak ...........
h. Pada pemeriksaan tes kehamilan PPT hasilnya positif ..........................................................
i. Pada pemeriksaan USG tanggal dua puluh juli dua ribu enam didapatkan janin tunggal
dalam rahim sesuai dengan umur kehamilan dua puluh lima sampai dua puluh enam
minggu

Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 10

KESIMPULAN
Robekan lama selaput dara menandakan memang telah terjadi persetubuhan yang sudah lama
terjadi. Dari hasil pemeriksaan fisik, tes kehamilan dan USG memang benar yang
bersangkutan hamil yang merupakan akibat dari persetubuhan yang terjadi kurang lebih dua
puluh lima sampai dua puluh enam minggu yang lalu ................................................................

Demikian Visum et Repertum ini saya buat dengan sebenar-benarnya dengan mengingat
sumpah jabatan berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana ...............................

Denpasar, Dua puluh Juli Dua ribu enam
Dokter Pemeriksa,



dr. Ida Bagus Putu Alit, DFM, Sp.F.
NIP. 132 281 815

c. Apa dampak bagi dokter apabila tidak memberitahu bahwa itu adalah hasil visum?
Dokter tidak memberitahukan surat tersebut kepada pasiennya maka akan terjadi
kesalahpahaman antara dokter dan pasien itu, dan akan berdampak lebih jauh lagi
apabila pasien tersebut menuntut dokter tersebut karena ia merasa telah dibohongi
oleh dokter tersebut.

d. Apakah tindakan dokter IGD RSMP itu sesuai dan benar?
Salah, karena
1. perbuatannya tidak memberikan inform consent yang jelas
Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 11

2. perbuatannya yang melakukan visum tanpa surat keterangan dari pihak
kepolisian

e. Bagaimana komunikasi efektif dokter dan pasien dalam penyampaian informed
consent?
Komunikasi efektif dokter dan pasien dalam penyampaian informed consent
(Konsil Kedokteran Indonesia, 2006), yaitu:
1. Tanyakan, menanyakam keluhan pasien, menanyakan apakah ada yang
dikhawatirkan pasien.
2. Gunakan bahasa yang mudah dimengerti, sesuai tingkat pemahaman pasien
(Bisa dilihat mulai dari usia pasien, latar belakang pendidikan pasien, sosial
budaya pasien).
3. Tidak dianjurkan memakai bahasa atau menggunakan istilah kedokteran.
Kalaupun harus menggunakannya, berilah penjelasan pada pasien.
4. Tidak perlu tergesa-gesa atau sekaligus, pemberian informasi bisa dilakukan
secara bertahap.
5. Jika menyampaikan berita buruk, gunakan kata atau kalimat persiapan atau
pendahuluan.
6. Hindari memakai kata-kata yang bersifat mengancam.
7. Gunakan kata atau kalimat yang menimbulkan semangat atau meyakinkan
pasien.
8. Ulangi pesan penting dalam pembicaraan.
9. Pastikan pasien atau keluarganya mengerti apa yang disampaikan.
10. Menanggapi reaksi psikologis pasien yanb timbul, terlihat dari ucapan atau
sikap.
11. Menyimpulkan apa yang telah disampaikan.
12. Beri kesempatan pasien atau keluarganya untuk berbicara dan bertanya.


4. Dua hari kemudian, Nn Nikita melapor ke Polsek Seb. Ulu 1 dengan membawa surat
yang dianggap hasil visum dari dokter IGD RSMP, namun kepolisian meminta Nn
Nikita untuk divisum kembali.
a. Apaka tindakan Nn. Nikita sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku?
Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 12

Belum, karena sesuai dengan pengertian dari visum itu sendiri Visum Et Repertum
adalah keterangan (laporan) tertulis yang dibuat oleh seorang dokter atas
permintaan penyidik tentang apa yang dilihat dan ditemukan terhadap manusia,
baik hidup atau mati ataupun bagian atau diduga bagian dari tubuh manusia
berdasarkan keilmuannya untuk kepentingan peradilan. Dalam kasus diatas Nn.
Nikita tidak melakukan proses visum secara sistematis yakni melakukan visum
tanpa permintaan dari peniyidik terlebih dahulu. Jadi tindakan yang dilakukan
dokter bukanlah visum, tapi hanya pemeriksaan biasa.

b. Apa itu visum et repertum?
Visum et Repertum (Afandi, Dedi. 2008) yaitu : Keterangan tertulis yang dibuat oleh
dokter atas permintaan tertulis (resmi) penyidik tentang pemeriksaan medis
terhadap sesorang manusia baik hidup maupun mati atau pun bagian tubuh manusia,
berupa temuan dibawah sumpah dan untuk kepentingan peradilan.

c. Apakah tindakan kepolisian yang meminta Nn. Nikita di visum kembali termasuk
visum et repertum?
Bukan, karena visum et repertum itu adalah surat yang apabila sudah ada hasil
dari pihak kepolisian
d. Apa saja macam-macam visum Et Repertrum?
1. visum et repertum TKP
o Hub sebab akibat luka yang ditemukan pada tubuh korban
o Saat kematiaan korban
o Barang bukti yang ditemukan
o Cara kematian korban jika mugkin
2. visum et repertum jenazah
3. visum et repertum korban hidup
o Dibuat setelah pemeriksaan selesai, korban tidak perlu dirawat lebih lanjut
atau meninggal
o Visum et reprtum sementara dibuat seltelah pemeriksaan selesai, korban
masih perlu mendapat perawatan lebih lanjut.
Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 13

o Visum et repertum lanjutan, dibuat bila :
o Setelah perawatan korban sembuh
o Setelah mendpaat perwatan korban meninggal
o Perawatan belum selesia apsien pindah ke RS atau dokter lain
o Perawatan belum selesia korban pulang paksa atau melarikan diri.
4. visum et repertum jenazah penggalian
5. visum et repertum barang bukti

e. Bagaimana kedudukan visum et repertum dalam tindakan pidana?
Termasuk sebagai alat bukti sebagai yang dijelaskan dalam pasal 184 ayat 1
yaitu pada bagian c
1) Keterangan saksi
2) Keterangan ahli
3) Surat
4) Petunjuk
5) Keterangan dakwah
pasal 187 huruf c KUHP yang berbunyi
Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan
keahliannya mengenai sesuatu hal atau seseuaru keadaan yang diminta secara
resmi dari padanya

f. Bagaimana tata cara permohonan visum et repertum ?
Menurut sibermedik (2008). yaitu
1. Permohonan harus secara tertulis, tidak dibenarkan secara lisan melalui
telepon atau pos.
2. Korban adalah barang bukti, maka permohonan surat Visum et Repertum
harus diserahkan sendiri oleh petugas kepolisian bersama: korban, tersangka,
atau barang bukti lain kepada dokter.
3. Tidak disarankan mengajukan permintaan Visum et Repertum tentang sesuatu
peristiwa yang telah lampau, mengingat rahasia kedokteran.
4. Permintaan diajukan kepada dokter ahli pemerintah sipil atau ahli kedoteran
kehakiman pemerintah sipil untuk korban yang meninggal dunia.

g. Bagaimana prosedur melakukan pengaduan visum ke pihak kepolisian ?
Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 14

Prosedur melakukan pengaduan visum (Afandi, Dedi. 2008), yaitu:
1. pelaporan
Proses pertama bisa diawali dengan laporan atau pengaduan ke kepolisian.
o Siapa yang bsia melapor?
Korban
Saksi
o Siapa saja yang mengetahui bahwa ada tindak kejahatan.
2. penyidikan
Setelah menerima pelaporan . polisi melakukan penydiidkan, Penydiikan
adalah serangakaian tindakan penyidik untuk mencari serta mengumpulkan
bukti untuk membuat jelas tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan
tersangkanya.
3. Penuntutan
Penuntutan adalah tindakan penuntut umum untuk melimpahkan perkara ke
pengadilan negri yang berwewenang.
4. persidangan
Mengadili adalah serangkaian tindakan hakim untuk menerima, memaksa dan
memutus perkara pidana berdasarkan asas bebas
5. eksekusi pemutusan siding
Bila semua pihak setuju dengan putusan pengadilan,maka putusan akan
memiliki kekuatan hukum tetap, dan disusul dengan pelaksanaan eksekusi.

2.4 Merumuskan Hipotesis
Nn Nikita, 19 tahun, diminta melakukan visum kembali karena adanya kesalahan dalam
prosedur permintaan visum dan kurangnya komunikasi efektif dalam menyampaikan
informed consent yang dilakukan dokter IGD RSMP.


2.5 Kerangka KonseP
Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 15

























Berkelahi
Luka Cakar
Tidak Ada Itikad Baik
Permintaan Visum tanpa
Surat Pengantar Kepolisian
Keluar Hasil Pemeriksaan
Pengaduan Pihak Berwajib
Kurang komunikasi Efektif
tentang Infomen consent
Kwsalahan Prosedur
Permintaan Visum
Pemeriksaan di tolak
Visum ulang
Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 16


2.6 Kesimpulan
Dari hasil tutorial skenario B blok II dapat disimpulkan Nn Nikita, 19 tahun, diminta
melakukan visum kembali karena adanya kesalahan dalam prosedur permintaan visum
dan kurangnya komunikasi efektif dalam menyampaikan informed consent yang
dilakukan dokter IGD RSMP.




























Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 17


I. Komunikasi efektif dokter dan Pasien (Konsil Kedokteran Indonesia,2006)
Dalam profesi kedokteran, komunikasi dokter-pasien merupakan salah satu
kompetensi yang harus dikuasai dokter. Kompetensi komunikasi menentukan
keberhasilan dalam membantu penyelesaian masalah kesehatan pasien. Selama ini
kompetensi komunikasi dapat dikatakan terabaikan, baik dalam pendidikan maupun
dalam praktik kedokteran/kedokteran gigi.
Di Indonesia, sebagian dokter merasa tidak mempunyai waktu yang cukup
untuk berbincang-bincang dengan pasiennya, sehingga hanya bertanya seperlunya.
Akibatnya, dokter bisa saja tidak mendapatkan keterangan yang cukup untuk
menegakkan diagnosis dan menentukan perencanaan dan tindakan lebih lanjut. Dari
sisi pasien, umumnya pasien merasa dalam posisi lebih rendah di hadapan dokter
(superior-inferior), sehingga takut bertanya dan bercerita atau hanya menjawab sesuai
pertanyaan dokter saja.
Tidak mudah bagi dokter untuk menggali keterangan dari pasien karena
memang tidak bisa diperoleh begitu saja. Perlu dibangun hubungan saling percaya
yang dilandasi keterbukaan, kejujuran dan pengertian akan kebutuhan, harapan,
maupun kepentingan masing-masing. Dengan terbangunnya hubungan saling
percaya, pasien akan memberikan keterangan yang benar dan lengkap sehingga dapat
membantu dokter dalam mendiagnosis penyakit pasien secara baik dan memberi obat
yang tepat bagi pasien.
Komunikasi yang baik dan berlangsung dalam kedudukan setara (tidak
superior-inferior) sangat diperlukan agar pasien mau/dapat menceritakan
sakit/keluhan yang dialaminya secara jujur dan jelas. Komunikasi efektif mampu
mempengaruhi emosi pasien dalam pengambilan keputusan tentang rencana tindakan
selanjutnya, sedangkan komunikasi tidak efektif akan mengundang masalah.
a. Sikap Profesional Dokter
Sikap profesional seorang dokter ditunjukkan ketika dokter berhadapan
dengan tugasnya (dealing with task), yang berarti mampu menyelesaikan tugas-
Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 18

tugasnya sesuai peran dan fungsinya; mampu mengatur diri sendiri seperti
ketepatan waktu, pembagian tugas profesi dengan tugas-tugas pribadi yang lain
(dealing with one-self); dan mampu menghadapi berbagai macam tipe pasien serta
mampu bekerja sama dengan profesi kesehatan yang lain (dealing with others). Di
dalam proses komunikasi dokter-pasien, sikap profesional ini penting untuk
membangun rasa nyaman, aman, dan percaya pada dokter, yang merupakan
landasan bagi berlangsungnya komunikasi secara efektif (Silverman, 1998). Sikap
profesional ini hendaknya dijalin terus-menerus sejak awal konsultasi, selama
proses konsultasi berlangsung, dan di akhir konsultasi.
Contoh sikap dokter ketika menerima pasien:
o Menyilakan masuk dan mengucapkan salam.
o Memanggil/menyapa pasien dengan namanya.
o Menciptakan suasana yang nyaman (isyarat bahwa punya cukup waktu,
o menganggap penting informasi yang akan diberikan, menghindari tampak lelah).
o Memperkenalkan diri, menjelaskan tugas/perannya (apakah dokter umum,
spesialis, dokter keluarga, dokter paliatif, konsultan gizi, konsultan tumbuh
kembang, dan lainlain).
o Menilai suasana hati lawan bicara
o Memperhatikan sikap non-verbal (raut wajah/mimik, gerak/bahasa tubuh) pasien
o Menatap mata pasien secara profesional yang lebih terkait dengan makna
menunjukkan perhatian dan kesungguhan mendengarkan.
o Memperhatikan keluhan yang disampaikan tanpa melakukan interupsi yang tidak
perlu.
o Apabila pasien marah, menangis, takut, dan sebagainya maka dokter tetap
menunjukkan raut wajah dan sikap yang tenang.
o Melibatkan pasien dalam rencana tindakan medis selanjutnya atau pengambilan
keputusan.
o Memeriksa ulang segala sesuatu yang belum jelas bagi kedua belah pihak.
o Melakukan negosiasi atas segala sesuatu berdasarkan kepentingan kedua belah
pihak.
o Membukakan pintu, atau berdiri ketika pasien hendak pulang.
b. SAJI, Langkah-langkah Komunikasi
Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 19

Ada empat langkah yang terangkum dalam satu kata untuk melakukan komunikasi,
yaitu SAJI (Poernomo, Ieda SS, Program Family Health Nutrition, Depkes RI, 1999).
S = Salam
A = Ajak Bicara
J = Jelaskan
I = Ingatkan
Secara rinci penjelasan mengenai SAJI adalah sebagai berikut.
1. Salam:
Beri salam, sapa dia, tunjukkan bahwa Anda bersedia meluangkan waktu untuk
berbicara dengannya. KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA
2. Ajak Bicara:
Usahakan berkomunikasi secara dua arah. Jangan bicara sendiri. Dorong agar
pasien mau dan dapat mengemukakan pikiran dan perasaannya. Tunjukkan bahwa
dokter menghargai pendapatnya, dapat memahami kecemasannya, serta mengerti
perasaannya. Dokter dapat menggunakan pertanyaan terbuka maupun tertutup
dalam usaha menggali informasi.
3. Jelaskan:
Beri penjelasan mengenai hal-hal yang menjadi perhatiannya, yang ingin
diketahuinya, dan yang akan dijalani/dihadapinya agar ia tidak terjebak oleh
pikirannya sendiri. Luruskan persepsi yang keliru. Berikan penjelasan mengenai
penyakit, terapi, atau apapun secara jelas dan detil.
4. Ingatkan:
Percakapan yang dokter lakukan bersama pasien mungkin memasukkan berbagai
materi secara luas, yang tidak mudah diingatnya kembali. Di bagian akhir
percakapan, ingatkan dia untuk hal-hal yang penting dan koreksi untuk persepsi
Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 20

yang keliru. Selalu melakukan klarifikasi apakah pasien telah mengerti benar,
maupun klarifikasi terhadap hal-hal yang masih belum jelas bagi kedua belah
pihak serta mengulang kembali akan pesan-pesan kesehatan yang penting.
II. Visum Et Repertum (Universitas Sumatera Utara, 2008).

Visum et repertum adalah laporan tertulis untuk peradilan yang dibuat dokter
berdasarkan sumpah/janji yang diucapkan pada waktu menerima jabatan dokter, memuat
berita tentang segala hal yang dilihat dan ditemukan pada barang bukti berupa tubuh
manusia/benda yang berasal dari tubuh manusia yang diperiksa sesuai pengetahuan
dengan sebaik-baiknya atas permintaan penyidik untuk kepentingan peradilan.

Visum et repertum merupakan pengganti barang bukti,Oleh karena barang bukti
tersebut berhubungan dengan tubuh manusia (luka, mayat atau bagian tubuh). KUHAP
tidak mencantum kata visum et repertum. Namun visum et repertum adalah alat bukti
yang sah. Bantuan dokter pada penyidik : Pemeriksaan Tempat Kejadian Perkara (TKP),
pemeriksaan korban hidup, pemeriksaan korban mati. Penggalian mayat, menentukan
umur seorang korban / terdakwa, pemeriksaan jiwa seorang terdakwa, pemeriksaan
barang bukti lain (trace evidence).

Yang berhak meminta visum et repertum adalah :
1. Penyidik
2. Hakim pidana
3. Hakim perdata
4. Hakim agama

Yang berhak membuat visum et repertum.(KUHAP Pasal 133 ayat 1) :
a. Ahli kedokteran kehakiman
b. Dokter atau ahli lainnya.

a. Prosedur Permintaan Visum Et Repertum

Tata cara permintaan visum et repertum sesuai peraturan perundang undang adalah
diminta oleh penyidik, permintaan tertulis, dijelaskan pemeriksaan untuk apa, diantar
Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 21

langsung oleh penyidik, mayat dibuat label, tidak dibenarkan visum et repertum diminta
tanggal yang lalu (Universitas Sumatera Utara, 2008).

Seperti yang telah di cantumkan dalam pasal 133 KUHP ayat 1 Dalam hal penyidik
untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati
yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan
permintaan keterangan ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. Ayat 2
Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis,
yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan
mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. Ayat 3 Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran
kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh
penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat,
dilakukan dengan diberi cap jabatan yang diletakkan pada ibu jari atau bagian lain badan
mayat (Universitas Sumatera Utara, 2008).

b. Bentuk dan Isi Visum Et Repertum
Bentuk dan isi visum et repertum (Universitas Sumatera Utara, 2008).
1. Pro justisia, pada bagian atas, untuk memenuhi persyaratan yuridis, pengganti
materai.
2. Visum et repertum, menyatakan jenis dari barang bukti atau pengganti barang bukti
3. Pendahuluan, memuat identitas dokter pemeriksa pembuat visum et repertum,
identitas peminta visum et repertum, saat dan tempat dilakukanya pemeriksaan dan
identitas barang bukti (manusia), sesuai dengan identitas yang tertera di dalam surat
permintaan visum et repertum dari pihak penyidik dan lebel atau segel
4. Pemberitaan atau hasil pemeriksaan, memuat segala sesuatu yang di lihat dan
ditemukan pada barang bukti yang di periksa oleh dokter, dengan atau tanpa
pemeriksaan lanjutan (pemeriksaan laboratorium), yakni bila dianggap perlu, sesuai
dengan kasus dan ada tidaknya indikasi untuk itu
5. Kesimpulan, memuat inti sari dari bagian pemberitaan atau hasil pemeriksaan, yang
disertai dengan pendapat dokter yang bersangkutan sesuai dengan pengetahuan dan
pengalaman yang dimilikinya
6. Penutup, yang memuat pernyataan bahwasanya visum et repertum tersebut dibuat atas
sumpah dokter dan menurut pengetahuan yang sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya
Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 22


c. Jenis-jenis Visum Et Repertum
Jenis visum et repertum pada orang hidup (Universitas Sumatera Utara, 2008), terdiri dari
1. Visum seketika adalah visum yang dibuat seketika oleh karena korban tidak
memerlukan tindakan khusus atau perawatan dengan perkataan lain korban mengalami
luka - luka ringan
2. Visum sementara adalah visum yang dibuat untuk sementara berhubung korban
memerlukan tindakan khusus atau perawatan. Dalam hal ini dokter membuat visum
tentang apa yang dijumpai pada waktu itu agar penyidik dapat melakukan penyidikan
walaupun visum akhir menyusul kemudian
3. Visum lanjutan adalah visum yang dibuat setelah berakhir masa perawatan dari korban
oleh dokter yang merawatnya yang sebelumnya telah dibuat visum sementara untuk
awal penyidikan. Visum tersebut dapat lebih dari satu visum tergantung dari dokter atau
rumah sakit yang merawat korban.

III. Hukum Kedokteran (Universitas Sumatera Utara, 2008).

KUHAP menjamin tegaknya kebenaran, keadilan dan kepastian hukum bagi seseorang
dalam pemeriksaan atas terdakwa, hakim senantiasa berpedoman pada sistem pembuktian
yang digariskan dalam Pasal 183 KUHAP, yaitu sistem Negatif menurut Undang-Undang
(Negatif Wettelijk).
Alat bukti yang sah menurut undang-undang sesuai dengan apa yang disebut dalam Pasal 184
ayat (1) KUHAP, adalah:
1. Keterangan Saksi

Berdasarkan tata urutan alat-alat bukti dalam KUHAP tersebut, maka akan didengar atau
menjadi saksi utama (kroon getugie) ialah saksi korban. Saksi korban ialah orang yang
dirugikan akibat terjadi kejahatan atau pelanggaran tersebut. Oleh karena itu, adalah
wajar jika ia didengar sebagai saksi yang pertama-tama dan ia merupakan saksi utama
atau kroon getugie. Akan tetapi, dalam praktek tidak menutup kemungkinan saksi lain
didengar keterangannya terlebih dahulu, misalnya jika pada sidang yang telah ditetapkan
saksi korban tidak hadir, sesuai dengan asas pemeriksaan cepat. Saksi ini diharapkan
dalam proses acara pidana ialah saksi yang ia mendengar, ia mengalami, atau ia melihat
Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 23

dengan mata kepala sendiri, dan bukan saksi, yang ia mendengar atau memperoleh
keterangan dari orang lain. Saksi terakhir ini disebut sebagai testimonium d auditu.

Menurut pendapat Andi Hamzah, sesuai penjelasan KUHAP yang menyatakan:
Kesaksian de auditu tidak diperkenankan sebagai alat bukti, dan selaras pula dengan
tujuan hukum acara pidana yaitu mencari kebenaran materil, dan pula untuk perlindungan
terhadap hak-hak asasi manusia dimana keterangan seorang saksi yang hanya mendengar
dari orang lain, tidak terjamin kebenarannya maka kesaksian de auditu patut tidak dipakai
di Indonesia

Syarat formil, menurut Pasal 160 ayat (3) KUHAP dikatakan bahwa sebelum
memberi keterangan, saksi wajib mengucapkan sumpah atau janji menurut cara agamanya
masing-masing, bahwa ia akan memberikan keterangan yang sebenarnya dan tidak lain
daripada yang sebenarnya. Penjelasan Pasal 161 ayat (2) tersebut menunjukkan bahwa
pengucapan sumpah merupakan syarat mutlak.

Sumpah atau janji dapat dilakukan sebelum atau sesudah saksi memberikan
keterangan di muka persidangan, kecuali dalam hal-hal tertentu. Syarat materiil, bahwa
keterangan seorang saja tidak dapat dianggap sah sebagai alat pembuktian (Unus Testis
Nullum Testis). Akan tetapi keterangan seorang saksi, adalah cukup untuk membuktikan
salah satu unsur kejahatan yang dituduhkan.

Terhadap penilaian seorang saksi, hakim harus sungguh-sungguh memperhatikan:
a. Persesuaian antara keterangan saksi satu dengan lain
b. Persesuaian antara keterangan saksi dengan alat bukti lain
c. Alasan yang mungkin dipergunakan oleh saksi untuk memberikan keterangan
yang tertentu
d. Cara hidup dan kesusilaan saksi serta segala sesuatu yang pada umunya dapat
mempengaruhi dapat tidaknya keterangan itu diberikan.

Saksi menurut sifatnya dapat dibagi atas:
1) Saksi A Charge (memberatkan terdakwa): saksi A Charge adalah saksi dalam
perkara pidana yang dipilih dan diajukan oleh penuntut umum, dikarenakan
kesaksiannya yang memberatkan terdakwa
Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 24

2) Saksi A De Charge (menguntungkan terdakwa): saksi A De Charge adalah saksi
yang dipilih atau diajukan oleh penuntut umum atau terdakwa atau penasihat
hukum, yang sifatnya meringankan terdakwa
2. Keterangan Ahli (Verklaringen Van Een Deskundige; Expert Testimony)

Keterangan ahli ialah keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian
khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna
kepentingan pemeriksaan (Pasal 1 butir 28 KUHAP). Sedangkan menurut Pasal 186 KUHAP,
keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan. Keterangan ahli
itu dapat juga sudah diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum
yang dituangkan dalam bentuk laporan dan dibuat mengingat sumpah di waktu menerima
jabatan atau pekerjaan.

Jika hal itu tidak diberikan pada waktu pemeriksaan penyidik atau penuntut umum,
maka pada pemeriksaan di sidang diminta untuk memberikan keterangan dan dicatat dalam
berita acara pemeriksaan. Keterangan tersebut diberikan setelah ia mengucapkan sumpah atau
janji di hadapan hakim (penjelasan Pasal 186 KUHAP).

3. Surat

Surat menurut A.Pitlo adalah pembawa tanda tangan bacaan yang berarti, yang
menterjemahkan suatu isi pikiran. Tidak termasuk kata surat, adalah foto dan peta, sebab
benda ini tidak memuat tanda bacaan. Adapun contoh-contoh dari alat bukti surat itu, adalah
Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang dibuat oleh polisi, BAP Pengadilan, Berita Acara
Penyitaan, Surat Perintah Penahanan, Surat Izin Penggeledahan, Surat Izin Penyitaan, dan
lain-lainnya. Aspek fundamental surat sebagai alat bukti diatur pada Pasal 184 ayat (1)
huruf c KUHAP.

Kemudian secara substansial tentang bukti surat ini ditentukan oleh Pasal 187 KUHAP
yang berbunyi: surat sebagaimana tersebut pada Pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas
sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, adalah:

Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 25

a. Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang
berwenang atau yang dibuat dihadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian
atau keadaan yang didengar, dilihat atau yang dialaminya sendiri, disertai dengan
alasan yang jelas dan tegas tentang keterangannya itu;
b. Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat yang
dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi
tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu
keadaan;
c. Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya
mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi daripadanya;
d. Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat
pembuktian yang lain.

Andi Hamzah berpendapat bahwa surat di bawah tangan masih mempunyai nilai jika ada
hubungannya dengan isi dari alat pembuktian yang lain.

4. Petunjuk

Pasal 188 ayat (1) KUHAP memberi definisi petunjuk adalah sebagai perbuatan, kejadian
atau keadaan, yang karena persesuaiannya, baik antarasatu dengan yang lain, maupun dengan
tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa
pelakunya.

Petunjuk sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), hanya dapat diperoleh dari keterangan
saksi, surat dan keterangan terdakwa (Pasal 188 ayat (2) KUHAP). Menurut Pasal 188 ayat
(3) KUHAP yang mengatakan bahwa penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu petunjuk
dalam setiap keadaan tertentu dilakukan oleh hakim dengan arif lagi bijaksana, setelah ia
mengadakan pemeriksaan dengan penuh kecermatan dan keseksamaan berdasarkan hati
nuraninya. Disini tercermin bahwa pada akhirnya persoalannya diserahkan kepada hakim,
dengan demikian menjadi sama dengan pengamatan hakim sebagai alat bukti. Apa yang
disebut pengamatan oleh hakim (eigen waarneming van dde rechter) harus dilakukan selama
sidang, apa yang telah dialami atau diketahui oleh hakim sebelumnya tidak dapat dijadikan
dasar pembuktian, kecuali kalau perbuatan atau peristiwa itu telah diketahui oleh umum.

Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 26

5. Keterangan Terdakwa

Dapat dilihat dengan jelas bahwa keterangan terdakwa sebagai alat bukti tidak perlu
sama atau berbentuk pengakuan. Semua keterangan terdakwa hendaknya didengar, apakah itu
berupa penyangkalan, pengakuan ataupun pengakuan sebagian dari perbuatan atau keadaan.
Keterangan terdakwa tidak perlu sama dengan pengakuan, karena pengakuan sebagai alat
bukti mempunyai syarat-syarat:
a. Mengaku ia yang melakukan delik yang didakwakan
b. Mengaku ia bersalah.

Keterangan terdakwa sebagai alat bukti dengan demikian lebih luas pengertiannya dari
pengakuan terdakwa, bahkan menurut Memorie van Toelichting Ned Sv. Penyangkalan
terdakwa boleh juga menjadi alat bukti sah. D.Simons, agak keberatan mengenai hal ini,
karena hak kebebasan terdakwa untuk mengaku atau menyangkal harus dihormati, oleh sebab
itu suatu penyangkalan terhadap suatu perbuatan mengenai suatu kedaaan tidak dapat
dijadikan bukti.

Tetapi suatu hal yang jelas bebeda antara keterangan terdakwa (erkentenis) sebagai alat
bukti dengan pengakuan terdakwa (bekentenis) ialah bahwa keterangan terdakwa yang
menyangkal dakwaan, tetapi membenarkan beberapa keadaan atau perbuatan yang menjurus
kepada terbuktinya perbuatan sesuai alat bukti lain merupakan alat bukti.

Istilah visum et repertum ini masih dipertahankan sampai sekarang biarpun telah ada
keinginan untuk merubahnya ke bahasa Indonesia. Hal ini ternyata dalam naskah RUU
Kedokteran Kehakiman yang dibuat oleh Projek Badan Pembinaan Hukum Nasional
Departemen Kehakiman 1977/ 1978 dimana istilah visum diganti dengan surat bedah mayat
lengkap sebagai pengganti istilah visum mayat sekarang.

Dalam KUHAP Visum Et Repertum diatur dalam beberapa Pasal yaitu: Pasal 133 ayat (1)
KUHAP yang berbunyi:
Dalam hal penyelidikan untuk kepentingan peradilan mengenai seorang korban, baik
luka, keracunan maupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana,
berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau
ahli lainnya.
Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 27


Pasal 133 ayat (2) KUHAP yang berbunyi:
Permintaan keterangan ahli sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara
tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan mayat dan/atau pemeriksaan bedah mayat

Pasal 134 ayat (1) KUHAP yang berbunyi:
Dalam hal sangat diperlukan pembuktian bedah mayat tidak mungkin lagi dihindari,
penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga korban.

Pasal 134 ayat (2) KUHAP yang berbunyi:
Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan dengan sejelas-jelasnya tentang
maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut.

Pasal 135 KUHAP yang berbunyi
Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan perlu melakukan penggalian mayat,
dilakukan menurut ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 133 ayat (2) dan Pasal 134
ayat (1) undang-undang ini.
Dalam KUHP juga terdapat pengaturan yang berhubungan dengan visum et repertum yaitu:

Pasal 222 KUHP yang berbunyi:
Barang siapa dengan sengaja menghalang-halangi, merintangi atau menggagalkan
pemeriksaan mayat untuk pengadilan, dihukum penjara selama-lamanya sembilan bulan atau
setinggi-tingginya Rp.4.500,-
Pasal 216 ayat (1) KUHP yang berbunyi:
Barang siapa dengan sengaja tidak menurut perintah atau tuntutan. Yang dilakukan menurut
peraturan undang-undang oleh pegawai negeri yang diwajibkan pengawasi pegawai negeri
yang diwajibkan atau dikuasakan untuk menyelidiki atau memeriksa perbuatan yang dapat
dihukum, demikian juga barang siapa dengan sengaja mencegah, merintangi atau
menggagalkan sesuatu perbuatan yang dilakukan oleh salah seorang pegawai negeri itu,
dalam menjalankan sesuatu peraturan undang-undang, dihukum penjara selama-lamanya
empat bulan dua minggu atau denda setinggi-tingginya Rp.9000.-.

Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 28

Pasal 216 ayat (2) KUHP yang berbunyi: Yang disamakan dengan pegawai negeri
yang dimasukkan dalam bahagian pertama dari ayat di atas ini, ialah segala seorang yang
menurut peraturan undang-undang selalu atau sementara diwajibkan menjalankan sesuatu
pekerjaan umum.

Alat-alat bukti yang sah yang dibenarkan oleh undang-undang dalam Pasal 184 ayat
(1) KUHAP, yang secara garis besar meliputi:
1. Keterangan saksi
2. Keterangan ahli
3. Surat
4. Petunjuk
5. Keterangan terdakwa

Visum et repertum adalah hasil pemeriksaan seorang dokter, tentang apa yang
dilihatnya, apa yang diketemukannya, dan apa yang ia dengar, sehubungan dengan seseorang
yang luka, seseorang yang terganggu kesehatannya, dan seseorang yang mati. Dari
pemeriksaan tersebut diharapkan akan terungkap sebab-sebab terjadinya kesemuanya itu
dalam kaitannya dengan kemungkinan telah terjadinya tindak pidana.

Aktivitas seorang dokter ahli kehakiman sebagaimana tersebut di atas, dilaksanakan
berdasarkan permintaan dari pihak yang berkompeten dengan masalah tersebut.
Visum et repertum termasuk kedalam alat bukti surat dan sebagai pengganti alat bukti (corpus
delicti).Visum et repertum merupakan surat yang dibuat atas sumpah jabatan, yaitu jabatan
sebagai seorang dokter, sehingga surat tersebut mempunyai keotentikan.

Sebagaimana dalam Pasal 184 ayat (1) dan Pasal 187 KUHAP, maka visum et
repertum dalam bingkai alat bukti yang sah menurut undang-undang, masuk dalam kategori
alat bukti surat. Dalam proses selanjtnya, visum et repertum dapat menjadi alat bukti
petunjuk. Yang demikian itu didasarkan oleh karena petunjuk sebagaimana tersebut dalam
Pasal 188 ayat (1) KUHAP hanya dapat diperoleh dari:
1) Keterangan saksi
Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 29

2) Surat
3) Keterangan terdakwa

Proses awal visum et repertum yang selanjutnya disebut sebagai alat bukti surat yang untuk
memperoleh visum et repertum tersebut berasal dari kesaksian dokter terhadap seorang
menunjukkan bahwa di dalamnya telah terselip alat bukti berupa keterangan saksi.
Dari pemaparan tersebut dapat ditarik kesimpulan:64
1) Untuk adanya visum et repertum harus ada terlebih dahulu keterangan saksi
2) Alat bukti surat sesungguhnya merupakan penjabaran dari visum et repertum
3) Dari alat bukti tersebut, dapat diperoleh alat bukti baru yaitu petunjuk. Dengan
demikian, antara keterangan saksi, visum et repertum, alat bukti surat dan petunjuk
merupakan empat serangkai yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.

Visum et reperum dapat dikatakan merupakan sarana utama dalam penyidikan perkara
tindak pidana yang menyebabkan korban manusia, baik hidup maupun mati. Visum et
repertum mempunyai daya bukti dalam suatu perkara pidana apabila kalau bunyi visum
tersebut telah dibacakan dimuka sidang pengadilan. Apabila tidak, maka visum tersebut tidak
berarti apa pun. Hal ini karena visum dibuat dengan sumpah jabatannya. Visum merupakan
tanda bukti, sedangkan korban yang diperiksa adalah bahan bukti.

Nilai visum et repertum hanya merupakan keterangan saja bagi hakim, dan hakim
tidak wajib mengikuti pendapat dokter yang membuat visum et repertum tersebut. Visum et
repertum merupakan alat bukti yang sah sepanjang visum et repertum tersebut memuat
keterangan tentang apa yang dilihat oleh dokter pada benda yang diperiksanya.67Pendapat
seorang ahli tidak selalu sama dengan ahli lainnya walaupun pendapat-pendapat ahli tersebut
didasarkan pada data pemeriksaan yang sama. Maka wajarlah apabila hakim kadang kala
menolak bagian pendapat dan kesimpulan dari seorang ahli yang ditulis dalam visum et
repertum. Akan tetapi, seyogyanya hakim tidak menolak bagian yang memuat keterangan
segala apa yang dilihat dan didapat seorang dokter dalam melaksanakan tugasnya, yakni
memeriksa dan meneliti barang bukti yang ada

Skenario B Blok II

FK UMP 2012 |Blok II Etika, Hukum & Komunikasi Medik Page 30

Apabila saat pemeriksaan perkara di pengadilan terdapat keragu-raguan bagi hakim
meskipun sudah ada visum et repertum, selalu ada kemungkinan untuk memanggil dokter
pembuat visum et repertum itu ke muka sidang pengadilan untuk mempertanggungjawabkan
pendapatnya, dan dengan demikian ada bentuk dalam memberikan kesaksian ahli yang
tertulis maupun yang tidak tertulis.68 Hakim juga dapat melakukan hal lain saat mengalami
keragu-raguan yaitu memanggil dokter lain untuk memberikan pertimbangan dari hasil
pemeriksaan dalam visum yang telah dibuat. Dan akhirnya hakim akan mengambil
kesimpulan menurut pendapatnnya, yang mana yang akan dipakainya dalam memutuskan
suatu perkara pidana.
Apabila hakim menerima hasil kesimpulan dokter dalam visum tersebut, maka dianggap
sudah diambil alih kesimpulan atau pendapat dokter dan hakim akan menjatuhkan hukuman
terhadap orang yang benar-benar bersalah dan membebaskan orang yang tidak bersalah.

Umumnya hakim tidak mungkin tidak sependapat dengan hasil pemeriksaan dokter pada
bagian pemeriksaan karena dokter melukiskan keadaan yang sebenarnya dari apa yang dilihat
dan didapatinya pada korban baik hidup maupun mayat. Tetapi, hakim dapat tidak sependapat
dengan dokter pada bagian kesimpulan karena kesimpulan ini ditarik berdasarkan
pengamatan yang subjektif. Biarpun visum et repertum yang dibuat dokter telah lama
memberi peranan yang menolong di sidang pengadilan, tetapi ada visum et repertum yang
tidak membantu jalannya sidang karena tidak dibuat dengan teliti dan disampaikandengan
bahasa kedokteran yang tidak dapat dimengerti oleh pihak pengadilan, kesimpulannya tidak
sesuai dengan bukti-bukti yang ada dan lain-lain.