Anda di halaman 1dari 27

MASALAH DALAM MASA NIFAS

DEMAM NIFAS
Demam ( 38
0
C) yang terjadi 24 jam setelah persalinan atau
demam yang terjadi pada 2 hari pada 10 hari pertama
postpartum
Penyebab Demam Nifas
Infeksi Uterus (metritis)
Kelainan Mamae ( Bendungan ASI, mastitis, abses mamae)
Infeksi traktus urinarius (sistitis, pielonefritis)
Tromboplebitis
Peritonitis



Faktor Risiko
Status sosioekonomi
Proses persalinan
Tindakan persalinan
Bakteriologi
Cara terjadinya infeksi
Tangan pemeriksa/penolong
Droplet infection
Banyak kuman patogen di RS
Koitus pada akhir kehamilan
Infeksi intrapartum
1. Metritis
Infeksi uterus setelah persalinan, dapat menyebakan kematian
ibu.
Akibat dari kontaminasi flora normal vagina
Gejala & tanda klinis
Demam (38
0
-39
0
C)-menggigil, nadi cepat
Nyeri suprapubik, nyeri tekan uterus
Lokia berbau-nanah
Leukosit 15.000 30.000 sel/uL
Perdarahan pervaginam, syok
Terapi Berikan antibiotik sampai ibu bebas demam selama
48 72 jam
Ampisilin 2 g IV setiap 6 jam
+ Gentamisin 5 mg/kgBB IV tiap 24 jam
+ Metronidazol 500 mg IV tiap 8 jam
Jika ada perdarahan transfusi (bila perlu)
Demam masih ada setelah th/ 72 jam dicari lebih teliti
penyebabnya
Tdk ada perbaikan th/ konservatif (ada peritonitis)
laparotomi
Uterus terinfeksi dan nekrotik histerektomi subtotal
2. Infeksi adneksa
Umumnya hanya terkena dalam bentuk
perisalpingitis tanpa menyebabkan oklusi
Dapat terjadi abses ovarium:
Mungkin akibat invasi bakteri melalui robekan di kapsul
ovarium
Biasanya unilateral
Bila ruptur peritonitis
3. peritonitis
Peritonitis nifas bisa terjadi karena meluasnya
Metritis disertai nekrosis dan dehisensi insisi uterus
pelvioperitonitis :
demam, perut bawah nyeri
Nanah dalam kavum douglas
Peritonitis umum krn kuman yg sangat
patogen:
Suhu sangat tinggi, nadi cepat dan kecil, perut kembung
dan nyeri, ada defense musculaire.
Muka penderita, yang mula-mula kemerah-merahan,
menjadi pucat, mata cekung
4. Flegmon parametrium
>> metritis pasca SC selulitis parametrium yg parah dan
membentuk suatu daerah indurasi (flegmon) di antara
lembar-lembar ligamentum latum
Biasanya unilateral
Serviks dan segmen bawah uterus
sering ikut terinfeksi (peradangan hebat,
meluas sampai dinding panggul dan ureter) histerektomi
supraservikal
5. Abses pelvik
Flegmon parametrium yg mengalami supurasi
massa fluktuatif ligamentum latum
Harus dilakukan drainase pus dengan
kolpotomi dan antibiotik adekuat
Bila pecah ke dalam peritoneum
peritonitis
6. Infeksi perineum, vulva, vagina &
serviks
Gejala & Tanda Klinis
Demam - mengigil
Rasa nyeri serta panas pada tempat infeksi
Pada kasus berat seluruh vulva edema, ulserasi, terutup oleh
eksudat
Disuria dengan/tanpa retensi urin
Fluor yang purulen
Terapi
Drainase dan pemberian antibiotik
KELAINAN MAMAE
Galaktokel
Akumulasi ASI di satu atau lebih lobus mamae akibat penyumbatan
ductus oleh sekret yang mengental
Sekret yang berlebih menimbulkan gejala-gejala penekanan
Dapat sembuh spontan atau memerlukan aspirasi
Gangguan Sekresi ASI
Agalaktia kekurangan mutlak sekresi payudara (jarang), dapat
menghasilkan sedikit ASI dari putingnya pada hari 3-4 masa nifas
Poligalaktia sekresi payudara sangat berlebih




Mamae Aksesorius
Satu dari beberapa ratus wanita memiliki satu atau lebih payudara
aksesorius (polymastia)
Polymastia tidak memiliki makna obstetris, namun jika terjadi
pembesaran ketidaknyamanan
Biasanya terletak berpasangan pada masing-masing sisi dinding
toraks atau abdomen, di bawah payudara utama, di aksila, bahu,
panggul, selangkangan atau paha
Kelainan Papila Mamae
Papilla inverted
Setiap hari selama bulan-bulan terakhir kehamilan harus
dilakukan upaya menarik puting keluar dengan tangan


Fisura papilla
Fisura hampir selalu menyebabkan nyeri saat menyusui & terkadang
mempengaruhi fungsi sekretorik, bersifat reversibel
Dapat memudahkan masuknya bakteri piogenik
Terapi:
- Lindungi fisura papilla dengan pelindung dan obat-obat topikal
- Jika tidak berhasil bayi sebaiknya tidak menyusu pada payudara
yang sakit untuk sementara payudara tersebut dikosongkan
secara reguler dengan pompa sampai lesi sembuh sempurna

Mastitis
Infeksi parenkimal kelenjar mamae, paling sering karena Staphylococcus aureus
Gelaja & Tanda Klinis
Demam-menggigil,takikardi, mialgia
Payudara merah, bengkak dan nyeri, mengeras, lebih hangat, biasanya
unilateral
Penatalaksanaan
dikloksasilin 4x500 mg atau Eritromisin 3x250 mg p.o selama 10 hari
Parasetamol 500 mg p.o
Kompres hangat sebelum menyusui
Evaluasi 3 hari
Sekitar 10% wanita dengan mastitis, mengalami abses mamae

Abses Mamae
Gejala & Tanda Klinis
Demam yg menetap dalam waktu 48 72 jam
Payudara merah, bengkak, dan nyeri
Teraba fluktuasi, kadang keluar nanah
Penatalaksanaan
Kloksasilin 4x500 mg atau Eritromisin 3x250 mg p.o selama 10 hari
Parasetamol 500 mg p.o
Drainase abses
Bendungan ASI
Terjadi selama 24 jam pertama setelah sekresi laktasi
Gejala & tanda klinis
Demam , biasanya 3-5 hari nifas (37,8 - 39
0
C)
Demam berlangsung tidak lebih dari 16 jam
Payudara bengkak dan nyeri (Unilateral / bilateral)
Penatalaksanaan
Menyangga payudara dengan bra yang pas
Kompres hangat, memijat payudara, dan pemberian analgesik
Memompa payudara dan mengeluarkan ASI secara manual (bila perlu)

SUBINVOLUSI UTERUS
Suatu keadaan menetapnya atau terjadinya retardasi involusi uterus.
Proses ini disertai pemanjangan masa pengeluaran lokhia dan perdarahan
uterus yang berlebihan atau ireguler, bahkan dapat terjadi perdarahan hebat.
Uterus teraba lebih besar dan lebih lunak dibanding normal untuk periode nifas
tertentu
Etiologi Retensi sisa plasenta dan Infeksi
Penatalaksanaan
Metilergonovin 0,2 mg setiap 3-4 jam selama 24 48 jam
Pemberian antibiotik
INKONTINENSIA URINE
Inkontinensia urine ketidakmampuan menahan air kencing
Disebabkan oleh perubahan otot & fasia di dasar panggul, desensus
dinding depan vagina disertai sisto-uretrokel, kadang dijumpai pada
penderita dengan prolapsus total uterus & vagina dengan kontinensia
urine yang baik
Prevalensi gangguan meningkat dengan bertambahnnya umur & paritas
Usia15 tahun atau lebih 10%, usia 35-65 tahun 12%, usia
>65 tahun 16%
Nulipara 5%, pada wanita dengan anak satu mencapai 10%
& meningkat sampai 20% pada wanita dengan 5 anak
Jenis Inkontinesia Urine
Stress Inkontinence lemahnya mekanisme penutup
Urgency Inkontinence keluarnya urine secara involunter
dihubungkan dengan keinginan yang kuat untuk mengosongkannya
Overflow Incontinence keluarnya urine secara involunter ketika
tekanan intravesikal melebihi tekanan maksimal uretra akibat dari
distensi kandung kemih tanpa adanya aktifitas detrusor
Fistula urine sebagian besar akibat persalinan, dapat terjadi
langsung pada waktu tindakan operatif seperti seksio sesar, perforasi
dan kranioklasi, dekapitasi, atau ekstraksi dengan cunam, partus lama




Pada umumnya keluhan penderita yaitu:
Kencing keluar pada waktu batuk, tertawa, bersin
dan latihan.
Keluarnya kencing tidak dapat ditahan.
Kencing keluar menetes pada keadaan kandung
kencing penuh.

Pemeriksaan penunjang
USG, CT scan, IVP identifikasi kelainan patologi &
kelainan anatomi
Sistourethroskopi untuk identifikasi kelainan
patologi seperti fistula, ureter ektopik maupun
divertikulum
Sistometri menunjukan keadaan kandung kemih
yang hiperaktif, normal maupun hipoaktif
Penanganan Konservatif
Latihan otot dasar panggul
Terapi Obat
Agonis alpha adrenergik
Efedrin
Phenilpropanololamine
Estrogen
Pemakaian Pressarium

Penanganan Operatif
Untuk keadaan inkontinesia urine sedang berat

INKONTINENSIA ALVI
Inkontenensia Alvi ketidakmampuan
mengontrol pengeluaran feses atau flatus
Faktor predisposisi
DM
Stroke
Trauma spinal cord
Partus pervaginam
dsb

Inkontenensia Alvi pada Masa Nifas
Paling sering akibat dari partus pervaginam
Partus pervaginam gangguan muskulus sphinter ani ext/int atau
kerusakan n. Pudenda akibat kompresi & iskemia selama
persalinan
Epidemiologi
35 % primipara & 44% multipara asimptomatik
13 % primipara & 23% multipara simptomatik

Faktor predisposisi
Perpanjangan kala 2
Forceps delivery
Episiotomy

Terapi Konservatif
Latihan otot dasar panggul
Loperamide 2-3 x 2-4 mg/hari (max. 16 mg/hari)

Terapi Operatif
Sphincteroplasty

MATUR NUWUN