Anda di halaman 1dari 1

Evaluasi Pemilu Legislatif

Pemilu legislatif telah berlangsung dengan aman dan damai. Itu adalah prestasi sekaligus
menunjukan kematangan demokrasi kita.

Namun, seiring dengan berjalannya Pemilu Legislatif 9 April 2014, Komisi Pemilihan Umum
(KPU) perlu merenung, dan mencari tahu tentang fenomena kertas suara tertukar dan kertas
suara yang sudah tercoblos. Hal lain yang harus menjadi catatan adalah masih terdengamya isu
politik uang dalam berbagai bentuk.

Seperti diberitakan, terdapat 590 tempat pemungutan suara (TPS) menggelar pemungutan suara
ulang karena surat suara tertukar. Jumlah itu tersebar di sejumlah provinsi. KPU menjadwalkan
pemungutan suara ulang selesai pada 15 April 2014. Dibandingkan dengan jumlah TPS di
seluruh Indonesia yang meneapai lebih dari 500.000 TPS, bisa saja jumlah TPS yang melakukan
pemungutan suara ulang terbilang kecil, sekitar 0,09 persen. Meski -demikian, kita berharap
KPU tak memandang pemungutan suara ulang kecil dari sisi persentase semata-mata. Yang lebih
penting adalah mencari latar belakang mengapa itu semua teijadi dan untuk perbaikan di
kemudian hari.

Pemilihan umum legislatif mernang kompleks karena model kertas suara berbeda-beda antara
satu daerah pemilihan.dan daerah pemilihan lain. Karena kompleksitas pemilu itulah KPU harus
lebih berhati-hati dalam mendistribusikan surat suara sehingga tak perlu sampai terjadi
pemungutan suara ulang yang tentunya membutuhkan biaya tambahan dan mengganggu
psikologis pemilih. Namun, kita memahami pemungutan suara ulang harus dilakukan untuk
menyelamatkan suara pemilih dan calon legislator di daerah pemilihan tersebut.

Hal lain yang perlu menjadi catatan penyelenggara pemilihan umum adalah keluhan di sejumlah
tempat bahwa surat suara sudah tercoblos. Kejadian itu sebetulnya tak perlu terjadi seandainya
prosedur standar untuk memeriksa terlebih dahulu surat suara dilakukan para penyelenggara
pemilu di daerah.

Terlepas dari pelaksanaan pemilu legislatif, kini semua pihak perlu berkonsentrasi ke tahap
penghitungan suara manual berjenjang yang saat ini sampai tahap kelurahan. Suara rakyat yang
telah dinyatakan dalam Pileg 9 April harus diawasi dan dikawal sampai penetapan suara nasional
oleh KPU pada 5-7 Mei. Penetapan suara nasional itulah yang akan menentukan komposisi kursi
di DPR dan juga pencalonan presiden dan wakil presiden 9 Juli 2014. Undang-Undang Pemilu
Presiden mensyaratkan hanya parpol atau gabungan parpol yang memperoleh 25 persen suara
nasional atau 20 persen kursi DPR (112 kursi) yang berhak mengajukan calon presiden dan calon
wapres.

Kita berharap catatan dalam pemilu legislatif, termasuk politik uang yang masih masif terjadi,
menjadi perhatian KPU dan Bawaslu untuk menggelar Pemilu Presiden 9 Juli 2014. Kedewasaan
rakyat pemilih saat menjalankan ritual demokrasi hendaknya juga diimbangi dengan kerja
profesional penyelenggara pemilu di lapangan.