Anda di halaman 1dari 4

PERENCANAAN PEMBANGUNAN DI BAWAH TEKANAN DINAMIKA POLITIK

Era reformasi bagi sebagian orang merupakan saat refleksi terhadap jati diri bangsa
yang semakin hilang oleh bias perjalanan sejarah kemerdekaan dimana lembar-lembarnya
masih menyisakan misteri yang sulit dipahami. Demikian halnya dengan perencanaan
pembangunan bangsa. Bagi Diana Conyers dan Peter Hills (1984), perencanaan adalah suatu
proses berkelanjutan yang melibatkan keputusan-keputusan atau pilihan-pilihan tentang
alternatif pemanfaatan sumber daya yang ada dengan maksud mencapai tujuan tertentu di
masa yang akan datang. Sebagai suatu proses, perencanaan berkaitan erat dengan tahapan-
tahapan proses tertentu baik yang sudah tertata maupun tahapan-tahapan yang berkembang
sesuai dinamika lingkungan. Tahapan-tahapan dalam perencanaan ini akan melibatkan
berbagai aspek di luar perencanaan, termasuk aspek politik. Conyers dan Hills menegaskan
bahwa salah satu implikasi yang paling signifikan dari keterkaitan antara perencanaan,
pembuatan kebijakan dan pelaksanaan adalah kenyataan bahwa perencanaan tidak dapat
dianggap terpisah dari lingkungan sosial, administrasi dan khususnya lingkungan politik
dimana ia harus beroperasi. Hal ini penting, terutama untuk mempertimbangkan sistem
politik di negara yang bersangkutan (misalnya cara dimana para pemimpin politik berkuasa,
apakah menggunakan sistem satu partai atau multi partai dan derajat sentralisasi atau
desentralisasi), ideologi politik pemerintah yang berkuasa dan struktur sosial masyarakat.
Memahami pengaruh dinamika politik terhadap perencanaan pembangunan dapat
dimulai dengan pemahaman atas makna pembangunan. Siagian (2009) berpendapat bahwa
pembangunan merupakan rangkaian usaha mewujudkan pertumbuhan dan perubahan secara
terencana dan sadar yang ditempuh oleh suatu negara bangsa menuju modernitas dalam
rangka pembinaan bangsa (nation building). Salah satu ide pokok yang dimunculkan dari
pengertian ini adalah bahwa pembangunan dilakukan secara terencana, baik dalam arti jangka
panjang, jangka menengah maupun jangka pendek. Perencanaan menjadi salah satu bagian
dari proses pembangunan yang diidentifikasi memiliki tantangan di bidang politik dimana
tantangan itu sudah mulai dirasakan sejak NKRI dideklarasikan kemerdekaannya.
Lima perkembangan geopolitik yang dibeberkan Siagian dapat menimbulkan
ancaman terhadap proses pembangunan akibat perang dunia, perang regional maupun perang
lokal yaitu: Pertama, di berbagai bagian dunia masih terdapat despot yang memerintah
bangsanya dengan tangan besi secara diktator dan proses demokratisasi di bidang politik
tidak terjadi sama sekali. Kedua, berbagai negara masih terus memperkuat dan memperluas
hegemoninya di bidang politik, ekonomi dan militer. Ketiga, di banyak negara terdapat
gerakan-gerakan separatis (misalnya berdasarkan suku dan atau agama) yang jika dibiarkan
akan mengancam eksistensi negara yang bersangkutan . Keempat, Di banyak negara timbul
gerakan-gerakan ekstrim fundamentalis yang juga merupakan ancaman terhadap kedaulatan
dan kemerdekaan negara yang bersangkutan. Kelima, masih adanya pandangan tentang
supremasi bangsa tertentu yang antara lain berakibat pada pelecehan martabat bangsa lain dan
menolak kehadiran bangsa lain itu di negara yang bersangkutan.
Perkembangan geopolitik sebagaimana dikemukakan di atas akan menimbulkan
kekacauan dan perang yang dengan sendirinya akan berdampak pada proses perencanaan,
dimana agenda-agenda perencanaan seperti penyusunan rencana, penetapan rencana,
pengendalian pelaksanaan rencana dan evaluasi terhadap pelaksanaan rencana tidak dapat
berjalan sebagaimana mestinya. Dalam sejarah perencanaan pembangunan di Indonesia, hal
ini pernah terjadi antara Tahun 1947 sampai dengan 1969. Pada tahun 1947 terbentuk Panitia
Pemikir Siasat Ekonomi, yang ketuanya pada saat itu adalah Drs. Mohammad Hatta. Hasil
dari panitia ini berupa rencana dengan tajuk Dasar Pokok daripada Plan Mengatur Ekonomi
Indonesia. Keadaan negara pada saat itu mengakibatkan plan tersebut tidak dapat
dilaksanakan, sampai akhirnya dibuat dokumen lain berupa perencanaan beberapa sektor
perekonomian yang dikenal sebagai Plan Produksi Tiga tahun RI. Rentang waktu dari plan
itu antara 1948 sampai dengan 1950. Plan inipun tidak dapat dilaksanakan. Dengan terbentuk
Republik Indonesia Serikat, dari tahun 1950 sampai dengan 1952 telah dibuat berbagai jenis
rencana darurat dalam menyelesaikan masalah mendesak, namun situasi dan kondisi
kehidupan bernegara pada saat itu menyebabkan berbagai rencana inipun gagal dilaksanakan.
Pada tahun 1952 terbentuklah Biro Perancang Negara, di bawah Kementerian Negara Urusan
Pembangunan, yang dijabat oleh Ir. H. Djuanda. Usaha mereka telah menghasilkan Rencana
Pembangunan Lima Tahun (RPLT) 1956-1960. Sayangnya, kehidupan politik dalam negeri
pada saat itu telah menghambat pelaksanaan RPLT ini. Melalui dekrit presiden 5 Juli 1959,
yang mengembalikan konstitusi negara kepada UUD 1945, dibentuklah Dewan Perancang
Nasional (Depernas) yang diketuai oleh Mr. Muhammad Yamin. Tugas dari dewan ini adalah
menyusun rencana pembangunan nasional. Lembaga ini berhasil menyusun Rencana
Pembangunan Semesta Berencana (Comprehensive National Development Plan) untuk
jangka waktu 1961-1969. Melalui Penetapan Presiden No 12 tahun 1963 (Penpres 12/1963),
Depernas dirubah menjadi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Kehidupan politik bangsa bernegara pada saat itu, yang ditandai dengan Perjuangan
Pembebasan Irian Barat, kemudian Penentangan berdirinya negara Malaysia serta berujung
pada Pemberontakan G 30 S/PKI, telah mengakibatkan terhambatnya proses pembangunan
berencana. Masa bergejolak ini berakhir dengan mundurnya Presiden Soekarno yang ditandai
dengan penyerahan kekuasaannya kepada Mayjen Soeharto melalui Surat Perintah 11 Maret
1966 (Supersemar). Pemerintahan baru di tangan Soeharto ini kemudian berusaha
memperbaiki perekonomian negara dengan dikeluarkannya Instruksi Presidium Kabinet No.
15/EK/IN/1967 yang menugaskan Bappenas membuat rencana pemulihan ekonomi dengan
dokumen yang dihasilkan berupa Rencana Pembangunan Lima Tahun I (Repelita I), untuk
kurun waktu tahun 1969 sampai dengan tahun 1973.
Gambaran sejarah perkembangan perencanaan pembangunan di Indonesia di atas
menunjukkan bahwa hampir dua puluh tahun lebih, Indonesia telah mengalami suatu periode
dimana pergolakan politik yang terjadi di tanah air sangat menghambat bahkan
menggagalkan proses perencanaan pembangunan nasional. Hal positip yang bisa dipelajari
yakni bahwa proses perencanaan pembangunan sangat erat kaitannya dengan konsep ruang
dan waktu. Perencanaan sebagai suatu proses akan berjalan baik bukan saja dipengaruhi oleh
kemampuan aktor-aktor yang berperan di dalamnya tetapi juga sangat membutuhkan ruang
politik yang kondusif dan mendukung terselenggaranya proses perencanaan yang berkwalitas.
Setidaknya hal ini dapat dilihat dari periode kepemimpinan Soeharto dimana situasi politik
dikendalikan sedemikian rupa terutama melalui intervensi pihak militer sehingga proses
perencanaan dapat berjalan sesuai agendanya, bahkan output yang dihasilkan dari proses
perencanaan juga cukup terukur. Salah satu keberhasilan yang dapat dilihat yakni adanya
swasembada pangan sebagai dampak dari proses perencanaan pembangunan yang dibuat
pada saat itu. Tentu saja keberhasilan ini tidak menjustifikasi bahwa apa yang dilakukan
Soeharto baik adanya, sebab sekalipun secara ekonomi kita berhasil meningkatkan
pendapatan nasional namun aspek-aspek lain seperti demokrasi, humanisme dan HAM telah
dikorbankan. Konteks pembangunan yang dikembangkan pada jaman Soeharto adalah
konteks pembangunan ekonomi bukan pembangunan nasional sebab pembangunan nasional
tidak hanya melihat peningkatan ekonomi sebagai indikatornya tetapi semua aspek yang
berkaitan seperti pembangunan fisik, pembangunan pendidikan, pembangunan politik,
pembangunan sosial, pembangunan administrasi dan sebagainya.
Tantangan terbesar justru datang pada era pasca lengsernya Soeharto. Kompleksitas
perencanaan pembangunan kita semakin rumit ketika lingkungan perencanaan semakin sulit
dikendalikan. Euforia politik telah menempatkan aktor-aktor politik memiliki peran yang
amat dominan dalam menentukan kebijakan pembangunan bangsa. Lagi-lagi perencanaan
pembangunan kembali tidak bisa berkutik ketika berhadapan dengan dinamika politik era
reformasi. Tidak ada yang perlu disalahkan dalam kondisi ini sebab kita sendiri sedang
terjebak dalam kendali sistem internasional yang dibangun oleh negara-negara yang oleh
Siagian dikatakan sebagai negara yang terus ingin memperkuat dan memperluas
hegemoninya di bidang politik, ekonomi dan militer. Yang dapat kita lakukan saat ini adalah
menempatkan politik dan perencanaan pembangunan dalam posisi tawar yang sama agar
keduanya dapat berkreasi secara elegan demi pembangunan bangsa. Bila jalan ini juga buntu
maka kita perlu memperbaiki aspek fundamental politik bangsa kita agar sesuai dengan jiwa
dasar bangsa ini yaitu Pancasila dan UUD 1945. Mungkinkah akan muncul dekrit baru untuk
kembali ke rahim pertiwi bila dinamika politik telah membawa bangsa ini keluar dari
genggaman hakiki kemerdekaan?