Anda di halaman 1dari 8

IBU KOTA JAWA TIMUR PINDAH 12 KALI

Oleh: Yousri Nur Raja Agam MH


Kilas Balik Setelah Peristiwa Bersejarah 10 November 1945 di Surabaya. Terhitung sejak
tanggal 11 November 1945, ibukota Provinsi Jawa Timur tergusur ke luar kota. Gubernur
Jawa Timur RMTA Suryo beserta staf terpaksa pindah kantor ke berbagai tempat di luar kota
Surabaya. Ada 12 tempat yang sempat menjadi ibukota Jawa Timur di luar Kota Surabaya, sejak
tanggal 11 November 1945 hingga 24 Desember 1949 atau empat tahun lebih. Selama dalam
pengungsian itu, tiga kali penggantian Gubernur Jawa Timur. Pertama kali Gubernur Suryo
diganti oleh dr.Moerdjani dan yang selanjutnya dr.Moerdjani diganti oleh Gubenur Samadikun,
Tentara Sekutu Mengamuk
Gubernur Jatim Mengungsi
SEJARAH Pemerintahan Provinsi Jawa Timur, masih banyak yang belum terungkap secara jelas
kepada masyarakat, terutama untuk generasi muda dan generasi yang akan datang. Salah satu
informasi dan catatan sejarah yang layak untuk disebarluaskan tersebut, adalah sejarah
perjuangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Arek-arek Suroboyo setelah peristiwa
heroik tanggal 10 November 1945.
Sejak siang hingga malam pada hari Sabtu, tanggal 10 November 1945 itu, situasi di Kota
Surabaya benar-benar mencekam. Desingan peluru dan dentuman meriam tidak henti-hentinya
menghujani Kota Surabaya. Asap membubung ke udara, akibat kebakaran dan bumi hangus di
seluruh pelosok Kota Surabaya.
Warga kota Surabaya berhamburan ke luar rumah menyelamatkan diri. Mereka mengamsi
pakaian untuk segera mengungsi. Kecuali para pemuda, yang tua dan perempuan muda, bersama
anak-anak kecil dan bayi, berbondong-bondong menuju ke luar kota. Mengungsi ke daerah yang
dianggap aman. Tidak banyak barang yang dibawa, selain pakaian yang dipakai serta beberapa
potong pakaian yang dibungkus. Rumah ditinggalkan begitu saja, sehingga banyak pula rumah
yang diduduki dan ditempati oleh serdadu Sekutu dan Belanda. Awalnya rumah-rumah itu dijaga
oleh para pejuang, namun kemudian para pemuda pejuang Arek-arek Suroboyo itu pun ikut
mengungsi.
Tidak hanya penduduk yang merasa tidak aman, kedudukan Gubernur Jawa Timur, RMTA Suryo
selaku kepala pemerintahan bersama stafnya juga terancam. Untuk mempertahankan kedudukan
Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang merupakan bagian dari Pemerintah Republik Indonesia
merdeka, maka gubernur Jawa Timur beserta stafnya terpaksa mengungsi ke daerah yang
aman. Segala kegiatan pemerintahan diatur dari daerah pengungsian. Dengan demikian, maka
ibukota Provinsi Jawa Timur ikut pindah dari Kota Surabaya ke daerah pengungsian di luar kota.
Kedudukan gubernur Jawa Timur beserta stafnya terus didesak oleh pasukan Belanda yang
membonceng di belakang tentara Sekutu. Gubernur dan ibukota Pemerintah Provinsi Jawa Timur

tergusur. Tidak hanya pindah pada satu tempat, tetapi berpindah-pindah sampai 12 tempat di
kota dan desa di pelosok Jawa Timur.
Dari catatan sejarah yang ada, sejak tanggal 10 November 1945 hingga akhir tahun 1949, terjadi
tiga kali penggantian gubernur, yakni Gubernur RMTA Suryo kepada dr.Moerdjani dan Gubernur
Militer Kolonel Soengkono, serta Wakil Gubernur Samadikun yang ikut berpindah-pindah.
Dengan demikian ibukota Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga ikut berpindah-pindah.
Tempat-tempat kedudukan gubernur Jawa Timur yang sekaligus menjadi ibukota Provinsi Jawa
Timur setelah tergusur dari Kota Surabaya, pertama kali pindah ke Sepanjang, Kewedanaan
Taman, wilayah Kabupaten Sidoarjo. Tidak lama di sini, pindah ke Mojokerto, lalu ke Kediri
dan ke Malang. Di sini pun didesak oleh tentara Balenda dan gubernur mengungsi ke Blitar, terus
naik ke lereng Gunung Wilis sebelah barat Kediri dan kembali ke Malang. Situasi yang semakin
genting memaksa gubernur beserta staf mengungsi ke Jombang dan terus ke satu tempat
Bojonegoro. Dari sini terpaksa pindah lagi ke Madiun dan ke Nganjuk. Baru setelah Penyerahan
Kedaulatan oleh Pemerintah Hindia Belanda kepada Pemerintah RIS (Republik Indonesia
Serikat) tahun 1949, ibukota Provinsi Jawa Timur kembali ke Kota Surabaya.
Sepanjang, Taman Sidoarjo
HARI pertama berpindahnya ibukota Provinsi Jawa Timur tanggal 11 November 1945 dari Kota
Surabaya, adalah Sepanjang, masuk dalam wilayah Kewedanaan Taman, Kabupaten Sidoarjo.
Pada hari itu pasukan Sekutu yang diwakili Inggris dengan perlengkapan mesin perang yang
lengkap, tank dan mortir dan didukung pesawat-pesawat terbang terus menyerang dan
membombardir Kota Surabaya. Pertempuran yang mendapat perlawanan dari pasukan TKR
(Tentara Keamanan Rakyat) dan warga kota Surabaya terasa tak seimbang. Atas saran dari
pimpinan TKR, Gubernur Jawa Timur RMTA Suryo bersama staf Pemprov Jatim memindahkan
kedudukan pemerintahan daerah ke Sepanjang, wilayah Kewedanaan Taman, Kabupaten
Sidoarjo.
Mengetahui kedudukan pusat pemerintahan Jawa Timur pindah ke Sepanjang, pihak Sekutu
menyerang kedudukan gubernur itu. Hanya dua hari di Sepanjang, gubernur memindahkan
ibukota Provinsi Jawa Timur ke Mojokerto. Selama berada di Mojokerto, sebagai ibukota dalam
pengungsian yang ke-dua, suasana makin mencekam. Serbuan tentara Sekutu yang dihadang
pasukan TKR akhirnya jebol juga.
Pada tanggal 17 November 1945, gubernur Jatim terpaksa hijrah ke pedalaman, di Kediri sebagai
ibukota Jatim dalam pengungsian yang ke-tiga. Pertempuran mempertahankan kemerdekaan RI
terus berlangsung, kendati ibukota Provinsi Jawa Timur berada di Kdiri, Kordinasi dan
konsolidasi anatar gubernur dengan pimpinan TKR, serta pemerintah pusat tetap berlangsung
melalui kurir dan radio.
Walaupun ibukota Jawa Timur pindah ke Kediri, ibukota Keresidenan Surabaya yang dipimpin
Residen Sudirman tetap berada di Mojokerto. Demikian pula dengan Pemerintah Kota Surabaya
yang ikut mengungsi setelah Balaikota Surabaya diduduki oleh Belanda yang membonceng

Sekutu. tetap bertahan di Mojokerto. Walikota Surabaya, Radjamin Nasution membagi stafnya
menjadi dua bagian. Satu kelompok staf yang berada di pengungsian di Mojokerto, yang lainnya
berada di rumah pribadi Radjamin di Alun-alun Rangkah Surabaya.
Pemerintahan Kota Surabaya dalam pengungsian tetap dijabat oleh Radjamin dengan selalu
berkordinasi dengan Residen Sudirman dan Gubernur Suryo. Saat itu diu gedung Balaikota
Surabaya pihak Belanda sudah menugaskan Mr.O.J.C.Becht sebagai Kepala Urusan
Pemerintahan (Haminte) Surabaya. Dalam situasi sulit itu, Radjamin wira-wiri pergi pulang dari
Surabaya ke Mojokerto. Bahkan, saat Mojokerto mendapat serangan tentara Belanda, kedudukan
ibukota Pemerintah Kota Surabaya dalam pengasingan pindah ke Tulungagung.
Sebagai walikota Surabaya de-facto di bawah Pemerintahan RI, tetap Radjamin Nasution, kata
wartawan senior dari LKBN Antara Surabaya Wiwiek Hidayat (alm) yang tinggal di Jalan
Jimerto 19-21 Surabaya, berdekatan dengan Balaikota Surabaya. Sebab, sebagai walikota
Surabaya, ia setia dan selalu berkordinasi dengan Residen Sudirman dan Gubernur Suryo.
Namun saat itu, secara de-jure, kantor Balaikota di Surabaya sudah dikuasai oleh Haminte
Mr.O.J.C.Becht. Hanya dua bulan Surabaya dijabat oleh O.J.C.Becht, kemudian jabatan walikota
Surabaya diserahkan kepada Kepala Pengadilan Negeri Surabaya, Mr.Indrakoesoema mulai
tahun 1946. Hanya tiga bulan menjadi walikota Surabaya, Indrakoesoema kembali ke instansinya
Kementerian Kehakiman. Jabatan walikota Surabaya kemudian diserahkan kepada Mr.Soerjadi.
Saat ibukota Pemprov Jatim berada di Kediri, kegiatan yang berhubungan dengan
kepamongprajaan, pengajaran, kesehatan, perekonomian dan lain-lain tetap berada satu
kordinasi. Komunikasi dengan Pemerintahan Kabupaten dan Kota, tetap pula berkoordinasi
dengan para residen. Jawa Timur waktu itu mempunyai tujuh keresidenan, yaitu: Surabaya,
Madiun, Kediri, Besuki, Malang, Bojonegoro dan Madura.
Ada yang menarik saat itu, yakni mata uang yang digunakan untuk belanja masih uang Jepang.
Pada tanggal 26 Oktober 1946, Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan mata uang rupiah.
Peristiwa ini mendapat sambutan rakyat di Jawa Timur, karena berbelanja dengan mata uang
negaranya sendiri.
Seetelah setahun ibukota Jawa Timur berada dalam pengungsian, tanggal 15 November 1946
diparaf naskah Perjanjian Linggarjati antara Pemerintah RI dengan pihak Belanda. Kendati
demikian Belanda tidak melaksanakan perjanjian Linggarjati yang mengatur tentang gencatan
senjata. Namun perjanjian ini dilanggar oleh pihak Belanda. Situasi bukannya menjadi aman,
tetapi menjadi tidak menentu. Apalagi kemudian tanggal 14 Januari 1947, Belanda melanggar
batas wilayah yang sudah disepakati.
Ternyata, kedudukan ibukota Provinsi Jawa Timur di Kediri mulai terusik. Pihak Belanda mulai
melakukan serangan-serangan bersenjata. Untuk menghindari hal yang tidak menguntungkan,
Gubernur Suryo beserta stafnya memindahkan pusat pemerintahan Jawa Timur dalam
pengungsian yang ke-empat ke Kota Malang pada bulan Februari 1947.
Saat ibukota Jawa Timur berada di Kota Malang, Pemerintah Pusat menunjuk Jawa Timur
sebagai tuan rumah Rapat Pleno Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang berlangsung

tanggal 25 Februari 1947 hingga 6 Maret 1947. Acara ini menarik perhatian dunia luar. Selain
diikuti wartawan dalam negeri, bebeberapa wartawan luar negeri juga hadir meliput kegiatan
Sidang Pleno KNIP itu. Berdasarkan hasil Sidang Pleno KNIP di Malang itu, akhirnya tanggal
24 Maret 1947, Perjanjian Linggarjati ditandatangani oleh pihak belanda dan Indonesia di
Jakarta,
Pertempuran di lapangan masih terus terjadi antara tentara Belanda dengan TRI (Tentara
Republik Indonesia). Pihak Belanda masih saja melanggar isi naskah Perjanjian Linggarjati yang
sudah diparaf. Pihak Belanda menyerbu ke wilayah pedalaman. Akibatanya pada bulan Maret
1947, Ibukota Keresidenan Surabaya yang dipimpin Residen Sudirman yang berkedudukan di
Mojokerto terpaksa menyingkir ke Jombang dan Walikota Surabaya Radjamin Nasution pindah
ke Tulungagung.
RMTA Suryo Diganti dr.Moerdjani
KENDATI Pemerintahan dalam pengasingan, dengan ibukota Provinsi Jawa Timur berada di
Kota Malang, Gubernur Jatim RMTA Suryo mendapat promosi jabatan. Pemerintah Pusat
mengangkat Suryo menjadi anggota DPA (Dewan Pertimbangan Agung) yang berkedudukan di
Jogjakarta yang saat itu menjadi ibukota Republik Indonesia.
Terhitung sejak 1 Juni 1947, Pemerintah Pusat menunjuk RP Soeroso sebagai Gubernur Jawa
Timur. Penunjukan RP Soeroso mendapat reaksi keras di Jawa Timur, sehingga akhirnya
Pemerintah Pusat secara resmi menetapkan dr.Moerdjani sebagai pengganti RMTA Suryo.
Pihak Belanda benar-benar tidak menaati hasil Perundingan Linggarjati. Pusat pemerintahan
Provinsi Jawa Timur di Kota Malang diserbu pasukan militer bersenjata. Pertempuran dengan
pasukan Indonesia tidak terelakkan. Gubernur Moerdjani terpaksa mengungsi ke Kota Blitar.
Ibukota Provinsi Jawa Timur untuk yang ke-lima kalinya pindah ke Kota Blitar. Dengan
didudukinya Kota Malang oleh Belanda, maka wilayah kekuasaan Jawa Timur makin mengecil.
Perlawanan dari para pejuang membuat pihak Belanda sadar. Mereka tidak mungkin bisa
kembali menjajah Indonesia seperti sebelum Perang Dunia II. Untuk itulah, pihak Belanda
menggunakan taktik lain, dengan membuat gagasan mendirikan Negara Indonesia Serikat.
Gagasan itu disampaikan oleh Gubernur Jenderal Belanda H.J.van Mook pada Konferensi
Malino, sebuah kota kecil di tenggara Makassar bulan April 1946. Gagasan itu dipertegas dalam
Konferensi Denpasar tanggal 23-28 Desember 1946.
Nah, dalam Konferensi Denpasar inilah Belanda membentuk Negara Indonesia Timut (NIT)
yang merupakan negara bagian pertama dari negara Serikat yang akan didirikan tersebut.
Belanda semakin giat membentuk negara-negara baru di seluruh Indonesia. Tujuannya untuk
memperlemah kedudukan Negara Republik Indonesia yang waktu itu beribukota di Jogjakarta.
Pemerintahan Provinsi jawa Timur yang dipimpin Gubernur dr.Moerdjani mendapat serangan
besar-besaran dari Belanda pada tanggal 21 Juli 1947. Serangan ini dikenal dengan Aksi Militer
I. Dalam aksi militer ini pasukan Belanda dengan cepat berhasil menduduki beberapa kota di

wilayah kekuasaan RI. Di wilayah yang sudah dikuasai, Belanda segera membentuk negara
bagian, seperti NIT.
Suatu peristiwa yang tidak bisa dilupakan waktu itu dalam sejarah perjuangan di Jawa Timur,
adalah kejadian yang sangat menyakitkan, adalah peristiwa Gerbong Kereta Api Maut. Pada
tanggal 23 November 1947 suatu rangkaian gerbong kereta api barang, dimuati tawanan dari
Bondowoso ke Surabaya. Akibat tidak ada udara, tidak diberi makan dan minum, serta berdesakdesaknya manusia di dalam gerbong tertutup itu, dari 100 orang tawanan, sebanyak 46 orang
tewas dalam perjalanan. Sesampai di stasiun Wonokromo Surabaya, mayat-mayat yang
bergelimpangan itu dimasukkan ke dalam truk untuk dimakamkan. Sedangkan yang masih hidup
digiring ke penjara Kalisosok Surabaya. Peristiwa gerbong maut itu hingga kini menjadi
catatan hitam dalam sejarah perjuangan rakyat Jawa Timur.
Aksi Militer I berakhir setelah Persetujuan Renvile tanggal 17 Januari 1948. Akibat perjanjian
itu, wilayah Jawa Timur makin sempit, yakni hanya meliputi Keresidenan Madiun, Kediri,
Bojonegoro dan sebagi Keresiden Surabaya dan Keresidenan Malang. Daerah yang dikuasai
Belanda, segera membentuk negara, yaitu Negara Madura beribukota di Pamekasan tanggal 20
Februari 1948 dan Negara Jawa Timur dengan ibukota Surabaya tanggal 26 November 1948.
Keberadaan negara boneka ini juga merupakan pengepungan terhadap wilayah Republik
Indonesia.
Di saat Belanda sudah siap mengadudomba antar daerah, terjadi pemberontakan PKI (Partai
Komunis Indonesia) Muso di Madiun tanggal 18 September 1948. Pemberontakan itu, berhasil
ditumpas TNI (Tentara Nasional Indonesia). Di samping Gubernur Sipil dr.Moerdjani,
pemerintah menetapkan pula Kolonel Sungkono sebagai Gubernur Militer Jawa Timur.
Situasi ini, ternyata dimanfaatkan oleh pihak Belanda untuk mengatur strategi melemahkan
kedudukan pemerintahan RI. Belasnda melancarkan serangan yang dikenal dengan sebutan Aksi
Militer II tanggal 19 Desember 1948. Ibukota RI di Jogjakarta juga digempur dan berhasil
diduduki. Belanda bahkan berhasil menawan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad
Hatta, serta beberapa pejabat pemerintahan RI.
Aksi Militer II ini di Jatim, membuat kedudukan Gubernur Jawa Timur terdesak, sebab Belanda
berhasil menduduki Kota Blitar tanggal 21 Desember 1948. Gubernur Jatim dr.Moerdjani
bersama stafnya terpaksa menyingkir ke sebuah desa di lereng Gunung Wilis. Dari lereng
Gunung Wilis yang dijadikan sebagai ibukota Jawa Timur dalam pengungsian yang ke-enam ini,
Gubernur Moerdjani berkoordinasi dengan Gubernur Militer Kolonel Soengkono mengendalikan
pemerintahan Jawa Timur.
Walaupun sudah menyingkir ke lereng Gunung Wilis, ternyata pihak Belanda tidak puas.
Kedudukan gubernur pun diserang dan Gubernur Moerdjani dan Wakil Gubernur Doel Arnowo,
serta beberapa pejabat Pemprov Jatim ditangkap. Mereka dibawa ke Surabaya dan ditawan di
Hotel Sarkies, di Jalan Embong Malang Surabaya. Hotel ini sudah dibongkar, letaknya di dekat
Hotel Tunjungan sekarang.

Pada saat bersamaan, terjadi peristiwa yang menyedihkan, Menteri Pembangunan dan Pemuda
PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) Soepeno, gugur ditembak tentara Belanda di
Desa Genter, Kabupaten Nganjuk. Saat itu Soepeno sedang mencari kedudukan ibukota Jawa
Timur dalam pengungsian yang merupakan bagian dari PDRI dan Gubernur Jatim dr.Moerdjani.
Dialihkan kepada Samadikun
UNTUK mengatasi keadaan, Gubernur Militer Kolonel Soengkono menugaskan Wakil Gubernur
Samadikun meneruskan perjuangan dari Lodoyo, Blitar Selatan bersama Bupati Blitar Darmadi.
Lodoyo, menjadi ibukota Jawa Timur ke-tujuh yang berada dalam pengungsian.
Walaupun menghadapi keadaan yang sukar, namun Pemerintah Republik Indonesia di Jawa
Timur tetap melakukan gerilya. Kemudian tanggal 15 Maret 1949 datang instruksi PDRI
(Pemerintah Darurat Republik Indonesia) yang berpusat di Bukittinggi, Sumatera Barat. Menteri
Dalam Negeri (Mendagri) PDRI Mr.Soesanto Tirtoprodjo, mengirim delegasi A.Gapar
Wirjosoedibjo menemui Wagub Samadikun. Kepada Samadikun diberi tugas istimewa untuk
berkeliling Jawa Timur, mengadakan hubungan langsung dengan para residen yang ada di
wilayah Jawa Timur.
Tugas itu dilaksanakan Wagub Samadikun dengan menyusuri jalan-jalan desa dan gunung.
Wagub berhasil menemui Residen Malang R.Aboebakar Kartowinoto di Desa Sinurejo,
Tumpang, Malang. Perjalanan diteruskan ke Mojowarno, Jombang untuk menemui Residen
Surabaya, R.Soedirman. Tetapi diperoleh kabar duka yang menyebutkan, Residen Soedirman
sudah meninggal dunia Desa Jogos, Kediri tanggal 9 April 1949. Walaupun tidak bertemu
dengan R.Soedirman, pesan bisa disampaikan kepada Wakil Residen Surabaya M.Soetadji di
Desa Gudo, Jombang.
Dari Jombang, Wagub Samadikun, terus berjalan menuju Bojonegoro. Perjalanan ke Bojonegoro
melalui daerah kering dan tandus melewati Gunung Kendeng yang merupakanb perbatasan
Kabupaten Nganjuk dengan Kabupaten Bojonegoro. Rombongan sampai di rumah Residen
Bojonegoro Mr.Tandiono Manu di Desa Deling, Kabupaten Bojonegoro. Setelah acara
pertemuan dengan aparat pemerintahan se Keresidenan Bojonegoro, pejalanan Wagub
Samadikun dilanjutkan ke Madiun.
Long-march ke Madiun ini melalui Gunung Pandan dan Gunung Wilis, lewat Desa Gemagah
akhirnya sampai di Desa Seran, perkebunan Kandangan, Kabupaten Madiun. Saat itu, kawasan
ini menjadi pusat Markas Polisi Jawa Timur yang dipimpin M.Jasin, Komandan Mobrig (Mobile
Brigade) sekarang diubah menjadi Brimob (Brigade Mobil). Di sinilah Wagub Jatim Samadikun
bertemu dengan Residen Madiun Pamoedji dan Wakil Residen Sidarta.
Usai bertemu dengan residen Madiun, Wagub Samadikum mengakhiri pertemuannya dengan
Residen Besuki R.Soekartono dan Residen Kediri R.Soewondo. Dengan demikian Wagub
Samadikun sudah selesai melaksanakan tugas istimewa yang diberikan Mendagri PDRI,
Mr.Soesanto Tirtoprodjo.

Hasil pertemuan dengan seluruh residen di Jawa Timur itu ditulis dalam laporan khusus yang
diberi nama Djungkring Salaka tertanggal 22 Mei 1949 oleh Wagub Samadikun. Laporan itu
dikirim kepada Mendagri PDRI Mr.Soesanto Tirtoprodjo ke kediamannya di Desa Nglorok,
Pacitan oleh Bupati Madiun Pamoedji tanggal 27 Mei 1949.
Sejak tercapainya Persetujuan Room-Royen tanggal 7 Mei 1949, PDRI di Jawa makin kuat. Ini
karena dibentuknya Komisariat di Jawa dengan Komisaris Mr.Soesanto Tirtoprodjo yang
merangkap Menteri Kehakiman. Sedangkan menteri lainnya, J.Kasimo sebagai Menteri
Persediaan Makan Rakyat, KH Maskoer sebagai Menteri Agama dan RP Soeroso sebagai
Mendagri.
Kordinasi dengan Presiden PDRI Mr.Sjafruddin Prawiranegara yang berada di Bukittinggi,
Sumatera Barat berjalan dengan lancar. Sementara itu, perjanjian tentang penarikan tentara
Belanda dari Jogjakarta sebagai kelanjutan KMB (Konferensi Meja Bundar) di Denhag semakin
jelas. Bahkan, akhirnya tanggal 8 Juli 1949, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad
Hatta beserta beberapa pejabat pemerintah pusat kembali dari pengasingan.
Presiden RI Soekarno kemudian mengumumkan, kembalinya pemerintahan Republik Indonesia
dan berakhirnya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dipimpin Mr.Sjafruddin
Prawiranegara. Wakil Gubernur Jatim Samadikun, dikukuhkan menjadi Gubernur Jawa Timur,
menggantikan dr.Moerdjani.
Setelah empat tahun ibukota Provinsi Jawa Timur mengungsi dengan berpindah-pindah di 12
tempat di beberapa desa, kabupaten dan kota di Jawa Timur, maka tanggal 24 Desember 1949,
secara resmi ibukota Jawa Timur kembali ke Kota Surabaya. Ke 12 tempat yang pernah menjadi
kedudukan Gubernur Jawa Timur, selama masa pengungsian. menurut mantan pejabat Pemprov
Jatim, Ir.Oerip Soedarman, dapat disebut sebagai ibukota Jawa Timur. Ke 12 tempat itu adalah:
Sepanjang (Taman, Sidoarjo), Kota Mojokerto, Kota Kediri, Kota Malang, Kota Blitar, Lereng
Gunung Wilis, Lodoyo (Blitar Selatan), Desa Sinurejo (Tumpang, Kabupaten Malang), Desa
Mojowarno (Jombang), Desa Deling (Kabupaten Bojonegoro) dan Desa Seran (kawasan
perkebunan Kandangan, Kabupaten Madiun).
Tiga hari kemudian, tanggal 27 Desember 1949, seluruh wilayah Republik Indonesia, kecuali
Irian Barat atau Irian Jaya, diserahkan kedaulatannya oleh Pemerintah Belanda kepada
Pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS).
Ada yang patut diketahui oleh generasi muda, bahwa saat Indonesia berbentuk negara serikat
dengan nama RIS, di Jawa Timur ada dua negara yang dibentuk Belanda sebagai boneka.
Negara Jawa Timur yang berdiri berdasarkan Konferensi Bondowoso dan Negara Madura
dengan ibukota Pamekasan. Setelah Penyerahan Kedaulatan, kedua negara itu kembali
bergabung dengan negara RI tanggal 27 Februari 1950.
Pemerintahan Militer di Jawa Timur dengan Gubernur Militer Kolonel Soengkono, dihapus. Hal
ini dinyatakan berdasarkan Perintah Kepala Staf Angkatan Darat tanggal 30 Mei 1950
No.338/KSAD/1 H.50 dan Keputusan Menteri Partahanan tanggal 1 Agustus 1950

No.357/MP/50. Dengan adanya keputusan ini, maka segala urusan pemerintahan dan keamanan
diserahkan kepada Gubernur Jatim Samadikun.