Anda di halaman 1dari 238

Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

1


Ahmad Sarwat, Lc
FIQIH
MINORITAS







Seri Fiqih Islami
DU CENTER PRESS
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

3




0


Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


4











Judul Buku
Fiqih Minoritas
Penulis
Ahmad Sarwat, Lc
Editor
Aini Aryani, LLB
Penerbit
DU CENTER PRESS

Cetakan
Pertama Peb 2010


Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

5
Daftar Isi
Pengantar 9
Muslim Minoritas 13
Minoritas Muslim Dalam Al-Quran 13
Minoritas Muslim di Masa Rasulullah SAW 14
Negeri Muslim Minoritas 15
Data Prosentase Penduduk Muslim Minoritas 17
Pertumbuhan Muslim di Barat 20
Bom Waktu Demografis Bernama Islam 21
Umat Islam di Negeri Minoritas Butuh Syariah 23
Karekteristik Fiqih Minoritas 25
1. Ijtihad Kontemporer 25
2. Kontektual bukan Tektual 26
3. Memudahkan bukan Memberatkan 27
4. Pendapat Jumhur bukan Pribadi 29
5. Beda Keadaan Beda Fatwa 29
6. Menerima Kedaruratan 31
Problem Fiqih Minoritas 35
Bolehkah Muslim Tinggal di Negeri Kafir 36
Bolehkah Menjadi Bagian Dari Pemerintahan 38
Pendapat Yang Membolehkan Ikut Parlemen 42
a. Syekh Shaleh Alfauzan 42
b. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz 42
c. Pendapat Syaikh Al Utsaimin 43
d. Pendapat Imam Al-Izz Ibnu Abdis Salam 44
e. Pendapat Ibnu Qayyim Al-Jauziyah 45
Islam vs Barat 47
Barat Lebih Islami dari Umat Islam? 47
Boikot Amerika Berarti Juga Boikot Tahu dan Tempe 53
Haruskah Kita Boikot Produk Asing? 57
Hukum Wisata ke Negeri Non Muslim 61
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


6
Agama & Aqidah 71
Ahli Kitab Sekarang dan di Masa Nabi Sama? 71
Saudara Non Muslim sebagai Ahli Waris 79
Baru Masuk Islam Lantas Meninggal Dunia... 82
Apa yang Harus Dilakukan Kalau Masuk Islam? 85
Mencela Agama Orang Lain 90
Mendoakan Non Muslim 94
Haruskan Ijin Orang Tua untuk Masuk Islam? 97
Para Nabi & Rasul Beragama Islam? 102
Shalat & Puasa 107
Shalat Seorang di Luar Negeri dan Musafir 107
Shalat Jumat di Negara Mayoritas Non Muslim 113
Hanya 7 Muslim, Shalat Jumatnya Bagaimana? 119
Status Puasa Ketika dalam Pesawat 18 Jam Perjalanan 122
Berpuasa dalam Musim Dingin? 124
Makanan 129
Keharaman Makanan di Negara Minoritas Muslim 129
Minum Dari Bekas Minum Orang Kafir, Najiskah? 134
Halalkan Makan dari Piring Non-muslim 136
Ragu Diundang Makan di Rumah Non Muslim 140
Makanan Parcel Natal Apakah Halal? 142
Non Muslim Menanyakan Kenapa Babi Haram? 146
Etika Pergaulan 151
Menghadiahkan Quran kepada Keluarga Non Muslim 151
Memberi Salam Lebih Dahulu kepada Non Muslim 154
Membagi Daging Kurban Buat Non Muslim 157
Menyapa Non Muslim dengan Ucapan Selamat Pagi 160
Bersentuhan dengan Orang Kafir, Batalkah Wudhu? 163
Tetangga yang Beragama Lain 165
Selamat Natal dan Hari Raya Agama Lain 169
Muslim Pakai Topi Natal, Haramkah? 180
Pernikahan 185
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

7
Pernikahan Beda Agama 185
Pengantin Pria di Luar Negeri 188
Nikah dengan Wanita Non Muslim 190
Foto Perkawinan Non-Muslim 195
Non Muslim Najis? 199
Hukum Transplantasi Organ dari Non Muslim 199
Hukum Menerima Transfusi Darah dari Non Muslim 202
Makan Pemberian non Muslim dan Menjabat Tangan 204
Pekerjaan 209
Manual Menjalankan Agama Islam di Jepang 209
Kerja di Luar Negeri = Membantu Orang Kafir? 215
Wanita Ke Luar Negeri Tanpa Mahram 219
Menjadi TKI Ilegal, Halalkah Rejeki Saya? 225
Penutup 233
Tentang Penulis 235
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

9
Pengantar

5

Segala puji bagi Allah, Tuhan Yang Maha Agung.
Shalawat serta salam tercurah kepada baginda Nabi
Muhammad SAW, juga kepada para shahabat, pengikut
dan orang-orang yang berada di jalannya hingga akhir
zaman.
Ketika Penulis diminta untuk menjadi pembicara
dalam Daurah Syariah di Jepang di tahun 2008 yang
diselenggarakan oleh KMII, disana muncul banyak
pertanyaan terkait dengan teknis menjadi muslim yang
baik di negeri yang mayoritas non-muslim. Mulai dari
masalah shalat yang tidak diberikan waktu oleh pihak
kantor tempat bekerja, masalah najis, menentukan arah
kiblat, sampai masalah memilih makanan halal. Yang
terakhir ini terutama disampaikan para ibu yang
kebingungan mendapatkan makanan halal di negeri
Sakura itu.
Tahun 2010, ketika diminta berceramah di Singapore
oleh masyarakat muslim Indonesia yang menetap disana
atas undangan KBRI Singapura, pertanyaan-pertanyaan
serupa juga muncul lagi. Kali ini bahkan pihak panitia
meminta Penulis untuk membuat tulisan atau coretan
kecil, sekedar bisa dijadikan catatan buat saudara kita
disana.
Rupanya kenyataan hidup di negeri yang mayoritas
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


10
non-muslim memang punya karakteristik tersendiri.
Tidak bisa begitu saja disamakan dengan hidup di
negeri kita Indonesia yang mayoritas muslim.
Banyak perkara yang terasa mudah diatasi di negeri
kita, namun jadi lumayan rumit juga ketika kita hidup di
negeri asing yang jarang-jarang penduduk muslimnya.
Misalnya, di Indonesia kita bisa dengan mudah
mengatakan haram mengucapkan selamat natal kepada
umat Kristiani, dengan segudang dalil yang bisa dengan
mudah kita dapatkan di berbagai kesempatan.
Tetapi akan jadi repot ketika kita hidup di suatu
masyarakat yang nyaris semua teman pergaulan kita
merayakan natal. Apakah dimungkinkan bagi seorang
muslim untuk setidaknya- berbasa-basi kepada
tetangga kanan kiri yang merayakan natal itu? Apakah
memang mutlak haram untuk sekedar menyatakan
penghormatan kepada sesama manusia yang kebetulan
beda keyakinan? Ataukah pemahaman dan dalil lain
yang bisa dijadikan second opinion buat seorang muslim
untuk bisa tetap bermasyarakat di tengah mayoritas
non-muslim?
Jadi pertanyaan besarnya adalah bagaimana caranya
menjadi muslim di negeri minoritas? Dan lebih
mendasar lagi barangkali, apakah dimungkinkan bagi
seorang muslim untuk hidup di negeri yang mayoritas
non muslim? Kalau memang terlarang, apa dalil yang
kuat untuk mengharamkannya? Apakah mutlak
keharaman tinggal di negeri non muslim?
Tentu pertanyaan mendasar ini cukup hangat untuk
dikupas dan dikaji. Sejauhmana Islam dapat tetap
dipeluk dan dijalankan, di negeri yang mayoritas
penduduknya non muslim.
Diskusi kedua, kalau seandainya memang
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

11
dimungkinkan kita hidup sebagai muslim dengan tetap
menjalankan syariat dengan taat, tentunya ada banyak
kendala yang sulit dihindari. Lalu adakah hukum
syariah dimungkinkan berbeda-beda penerapannya di
tiap negeri, sesuai dengan kondisinya?
Hal-hal apa saja yang bisa membedakan penerapan
syariat Islam? Dalam hal apa saja dimungkinkan terjadi
keringanan dalam penerapan syariah?
Perlukan disusun sebuah fiqih khusus untuk negeri
yang minoritas?
Dalam banyak kesempatan, penulis sebenarnya
sudah cukup sering mengangkat masalah ini, baik
sebagai sebuah tema ceramah, mau pun lewat jawaban
dari pertanyaan yang tiba-tiba dilontarkan para hadirin.
Berangkat dari masalah-masalah inilah, penulis
kemudian merasa perlu untuk menyusun sebuah tulisan
kecil, yang sekiranya nanti dapat dijadikan acuan bagi
umat Islam yang barangkali kebetulan harus tinggal di
negeri mayoritas non muslim.
Semoga tulisan ini bisa memberikan pencerahan ala
kadarnya, yang menjelaskan duduk masalah tiap hal
yang sering dipertanyakan itu.
Penulis tentu tidak bisa berlepas diri dari kenyataan
adanya perbedaan pandangan dari para fuqaha sendiri,
yang ternyata cukup intens dalam mempertahankan
pendapat masing-masing.
Sehingga penulis pun sadar bahwa tulisan ini
tentunya tidak akan meredakan perbedaan pendapat
yang memang sudah ada sejak zaman dahulu.
Namun harapan penulis, setidaknya tulisan ini bisa
dijadikan salah satu sumber rujukan yang dapat
mencerahkan, dalam arti kata, menjelaskan dengan adil
tentang kenapa terjadi perbedaan pandangan di antara
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


12
para ulama. Sehingga kalau pun kita berbeda
pandangan, namun jarak perbedaan itu tidak harus
bermuara kepada perpecahan apalagi permusuhan.
Sebab masing-masing kita sudah saling mengenal alur
berpikir masing-masing, yang dalam batasan tertentu,
sangat dimungkinkan dalam syariah Islam.
Akhirnya penulis berharap agar karya ini dapat
dimanfaatkan sebaik-baiknya. Semoga dapat menjadi
amal kebajikan buat penulis dan juga yang membacanya
Al-Faqir ilallah
Ahmad Sarwat, Lc
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

13
Bab Pertama
Muslim Minoritas
Minoritas Muslim Dalam Al-Quran
Di dalam Al-Quran Al-Kariem disebutkan keadaan
minoritas umat Islam. Salah satunya di dalam ayat
berikut ini.

Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah
sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan
perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang
yang berbuat kerusakan. (QS. Al-A'raf : 86)

Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


14

Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih
berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi
(Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan
menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat
menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat
dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki
dari yang baik-baik agar kamu bersyukur. (QS. Al-
Anfal : 26)
Minoritas Muslim di Masa Rasulullah SAW
Dalam sejarah Nabi SAW, umat Islam awal mulanya
pernah mengamali masa minoritas, terutama ketika
dakwah baru saja diperkenalkan di kota Mekkah.
Sampai tiga tahun berdakwah, jumlah pemeluk agama
Islam hanya berkisar 30 orang saja.
Dan saat itu hukum syariah memang belum terlalu
menjadi titik tekan dalam risalah samawi. Penekanan
dakwah masih terkonsentrasi pada penanaman
keimanan dan aqidah. Namun bukan berarti di masa
awal dakwah tidak ada masalah fiqih dan syariah.
Shalat sebagai tiang agama dan salah satu rukun
Islam telah diwajibkan, meski belum berbentuk shalat 5
waktu. Shalat yang diwajibkan saat itu adalah shalat
malam, sebagaimana disebutkan di dalam ayat kedua
yang turun.

Hai orang yang berselimut (Muhammad),
bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

15
sedikit (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari
seperdua itu sedikit (QS. Al-Muzzammil : 1-3)
Di masa itu dakwah Islam masih bersifat rahasia,
terutama di 3 tahun pertama. Selanjutnya, dakwah
sudah bersifat terbuka, karena ada perintah untuk
membuka diri. Saat itulah berbagai cobaan dan ujian
harus dihadapi oleh Rasulullah SAW dan para
shahabatnya.
Negeri Muslim Minoritas
Menurut catatan statistik dewasa ini, jumlah umat
Islam di dunia mencapai 1,5 1,6 milyar. Dengan jumlah
seperti ini, berarti umat Islam adalah 1/4 penduduk
muka bumi. Karena bumi dewasa ini didiami oleh
paling kurang 6 milyar jiwa.
Sebagian umat Islam itu tinggal di negara-negara
tertentu dalam jumlah besar, sehingga mereka menjadi
mayoritas. Namun sebagian lagi hidup di negara-negara
lain dalam jumlah kecil, sehingga mereka menjadi
minoritas.
Umat Islam di dunia ini bisa kita bagi berdasarkan
perbandingan jumlah dengan pemeluk agama lain
menjadi dua jenis. Pertama, negeri dengan penduduk
mayoritas muslim. Kedua, negeri dengan penduduk
minoritas muslim.
Kalau kita bicara tentang negeri dengan penduduk
minoritas muslim, kita juga bisa membaginya menjadi 2
jenis lagi.
Pertama, minoritas yang asalnya mayoritas. Dahulu
umat Islam di negeri itu terhitung mayoritas, namun
sejalan dengan sunnatullah, umat Islam mengalami
penurunan kualitas dan berpengaruh kepada
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


16
penurunan jumlah. Kita bisa sebut sebagai contoh antara
lain Spanyol, India, Amerika Utara, serta negeri-negeri
di Eropa Timur.
Dahulu umat Islam pernah bertahta selama 7 abad di
Spanyol, di bawah pemerintahan Khilafah Bani Umayah
II. Lewat masa perebutan yang panjang, Reconquista,
akhirnya umat Islam terpojok dan harus angkat kaki
dari semenanjung Iberia, berganti kepemimpinan di
bawah kekuasaan Kristen. Dewasa ini muslim di
Spanyol tercatat hanya 2,3% dari penduduk negeri itu.
India pernah menjadi kerajaan Islam terbesar di masa
lalu. Mughal merupakan kerajaan Islam di anak benua
India, dengan Delhi sebagai ibukotanya, berdiri antara
tahun 1526-1858 M. Kemudian kerajaan Islam itu
mengalami kemunduran dan berganti penguasa Hindu.
Saat ini India berpenduduk 1,1 milyar, muslim di India
hanya 13,4 % atau kira-kira 150-an juta. Minoritas tapi
cukup besar.
Benua Amerika sebelum masa kedatangan bangsa
Eropa telah mengenal agama Islam. Beberapa penelitian
terkahir menyebutkan bahwa suku Indian sudah banyak
yang memeluk agama Islam. Kemudian budak-budak
Afrika yang beragama Islam didatangkan ke benua
Amerika dalam jumlah besar. Namun saat ini dari 300-
an juta penduduk Amerika Serikat, umat Islam tercatat
hanya sekitar 3 jutaan, atau 1% saja. Angka ini temasuk
sangat minoritas.
Kedua, minoritas muslim yang memang sejak awal
memang minoritas. Sejak awal sejarah tidak mencatat
keberadaan orang-orang muslim dalam jumlah yang
banyak. Kita bisa sebut sebagai contoh adalah negara-
negara di Eropa Barat, Australia, Amerika Latin dan
lainnya.
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

17
Data Prosentase Penduduk Muslim Minoritas
Beberapa sumber data penduduk menyebutkan data
prosentase pemeluk agama Islam di tiap negara. Berikut
adalah salah satu perkiraan data yang bisa dijadikan
rujukan.
1


Negara Wilayah Penduduk Muslim %
Amerika Serikat Amerika Utara
301,139,947 3,011,399 1%
Angola Afrika Selatan
12,263,596 85,845 0.70%
Argentina Amerika Selatan
40,301,927 604,529 1.5%
Australia Oseania
20,434,176 347,381 1.7%
Austria Eropa Tengah
8,199,783 344,391 4.2%
Belarus Eropa Timur
9,724,723 9,724 0.1%
Belgia Eropa Barat
10,392,226 415,689 4%
Belize Amerika Tengah
294,385 1,707 0.58%
Benin Afrika Barat
8,078,314 1,615,663 20%
Bhutan Asia Selatan
2,327,849 11,639 0.5%
Bolivia Amerika Selatan
9,119,152 912 0.01%
Bosnia Balkan
4,552,198 1,820,879 40%
Botswana Afrika Selatan
1,815,508 3,631 0.2%
Brazil Amerika Selatan
190,010,647 30,402 0.016%
Bulgaria Balkan
7,322,858 893,389 12.2%
Burundi Afrika Tengah
8,390,505 839,051 10%
Camboja Asia Tenggara
13,995,904 489,857 3.5%
Camerun Afrika Barat
18,060,382 3,612,076 20%
Canada Amerika Utara
33,390,141 667,803 2%
Chad Penulis Afrika Tengah
9,885,661 5,041,678 51%
Chili Amerika Selatan
16,284,741 3,257 0.02%
China Asia Timur
1,321,851,888 19,827,778 1.5%
Colombia Amerika Selatan
44,379,598 10,651 0.024%
Kongo Afrika Tengah
3,800,610 76,012 2%
Congo Afrika Tengah
65,751,512 3,287,576-
6,575,151
5% - 10%
Kosta Rika Amerika Tengah
4,133,884 4,134 0.1%
Cte d'Ivoire Afrika Barat
18,013,409 6,304,693 35%
Croasia Balkan
4,493,312 58,413 1.3%
Cuba Amerika Utara
11,394,043 912 0.008%
Ciprus Timur Tengah
788,457 141,922 18%

1
Sumber : id.wikipedia.com/wiki/islam_menurut_negara
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


18
Ceko Eropa Tengah
10,228,744 10,229 0.1%
Denmark Eropa Barat
5,468,120 109,362 2%
Dominika Karibia
9,365,818 1,873 0.02%
Timor Timur Asia Tenggara
1,084,971 10,850 1%
Ekuador Amerika Selatan
13,755,680 275 0.002%
El Salvador Amerika Tengah
6,948,073 2,084 0.03%
Estonia Eropa Timur
1,315,912 5,264 0.4%
Ethiopia Afrika Timur
76,511,887 25,095,899 32.8%
Fiji Oseania
918,675 64,307 7%
Finlandia Eropa Barat
5,238,460 20,654 0.40%
Franch Eropa Barat
63,718,187 6,371,819 10%
Gabon Afrika Barat
1,454,867 14,549 1%
Georgia Kaukasus
4,646,003 459,954 9.9%
German Eropa Barat
82,400,996 3,213,639 3.9%
Ghana Afrika Barat
22,931,299 3,577,283 15.6%
Greek (Yunani) Balkan
10,706,290 139,182 1.3%
Grenada Karibia
89,971 270 0.3%
Guatemala Amerika Tengah
12,728,111 1,018 0.008%
GuineaBissau Afrika Barat
1,472,780 662,751 45%
Guyana Amerika Selatan
769,095 55,375 7.2%
Haiti Karibia
8,706,497 1,741 0.02%
Honduras Amerika Tengah
7,483,763 2,994 0.04%
Hungaria Eropa Tengah
9,956,108 9,956 0.1%
Islandia Eropa Barat
301,931 302 0.1%
India Asia Selatan
1,129,866,154 151,402,065 13.4%
Inggris Eropa Barat
60,776,238 1,640,958 2.7%
Irlandia Eropa Barat
4,109,086 20,135 0.49%
Israel Timur Tengah
6,426,679 1,028,269 16%
Italia Eropa Barat
58,147,733 814,068 1.4%
Jamaika Karibia
2,780,132 5,560 0.2%
Jepang Asia Timur
127,433,494 121,062 0.095%
Kenya Afrika Timur
36,913,721 3,691,372 10%
Korea Selatan Asia Timur
49,044,790 35,000 0.071%
Laos Asia Tenggara
6,521,998 424 0.0065%
Latvia Eropa Timur
2,259,810 384 0.017%
Lesotho Afrika Selatan
2,125,262 21,256 >1%
Liberia Afrika Barat
3,195,931 639,186 20%
Lithuania Eropa Timur
3,575,439 2,682 0.075%
Luxemburg Eropa Barat
480,222 9,604 2%
Makedonia Balkan
2,055,915 657,893 32%
Madagaskar Afrika Selatan
19,448,815 1,361,417 7%
Malawi Afrika Selatan
13,603,181 2,720,636 20%
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

19
Mauritius Afrika Selatan
1,250,882 212,650 17%
Meksiko Amerika Utara
108,700,891 282,622 0.26%
Moldova Eropa Timur
4,328,816 3,030 0.07%
Mongolia Asia Tengah
2,951,786 177,107 6%
Montenegro Balkan
684,736 143,795 21%
Mozambik Afrika Selatan
20,905,585 4,181,117 20%
Myanmar Asia Tenggara
47,373,958 1,894,958 4%
Namibia Afrika Selatan
2,055,080 20,055 1 %
Nepal detial Asia Selatan
28,901,790 1,156,072 4%
Nedherland Eropa Barat
16,570,613 994,237 6%
New Caledonia Oseania
221,943 8,878 4%
New Zeadland
Oseania
4,115,771 23,871 0.58%
Nikaragua Amerika Tengah
5,675,356 454 0.008%
Nigeria Afrika Barat
135,031,164 67,515,582 50%
Norwegia Eropa Barat
4,627,926 83,303 1.8%
Panama Amerika Tengah
3,242,173 9,727 0.3%
Papua Nugini Oseania
5,795,887 2,029 0.035%
Paraguay Amerika Selatan
6,669,086 534 0.008%
Peru Amerika Selatan
28,674,757 860 0.003%
Filipina Asia Tenggara
91,077,287 4,553,864 5%
Polandia Eropa Tengah
38,518,241 3,852 0.01%
Portugal Eropa Barat
10,642,836 35,121 0.33%
Romania Balkan
22,276,056 44,552 0.2%
Rusia Eropa Timur
141,377,752 19,792,885 14%
Rwanda Afrika Timur
9,907,509 455,745 4.6%
Serbia Balkan
10,150,265 324,808 3.2%
Seychelles Afrika Timur
81,895 172 0.21%
Singapura Asia Tenggara
4,553,009 682,951 15%
Slovakia rEropa Tengah
5,447,502 3,051 0.056%
Slovenia Eropa Tengah
2,009,245 48,222 2.4%
Kep. Solomon Oseania
566,842 >200 0.04%
South Africa Afrika Selatan
43,997,828 659,967 1.5%
Spanyol Eropa Barat
40,448,191 930,308 2.3%
Sri Langka Asia Selatan
20,926,315 1,464,842 7%
Suriname Amerika Selatan
470,784 92,274 19.6%
Swaziland Afrika Selatan
1,133,066 11,331 -
113,307
1% - 10%
Swedia Eropa Barat
9,031,088 270,933 3%
Switzerland Eropa Barat
7,554,661 324,850 4.3%
Taiwan Asia Timur
22,858,872 45,717 0.3%
Tanzania Afrika Timur
39,384,223 15,753,689 40%
Thailand Asia Tenggara
65,068,149 2,993,135 4.6%
Togo Afrika Barat
5,701,579 781,116 13.7% - 20%
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


20
1,140,316
Trinidad Amerika Tengah
1,056,608 61,283 5.8%
Uganda Afrika Timur
30,262,610 3,661,775 12.1%
Ukraina Eropa Timur
46,299,862 787,098 1.7%
Puerto Rico Karibia
3,944,259 5,128 0.13%
Uruguay Amerika Selatan
3,460,607 346 0.01%
Vanuatu Oseania
208,900 209 0.1%
Venezuela Amerika Selatan
26,023,528 91,082 0.35%
Vietnam Asia Tenggara
85,262,356 67,357 0.079%
Zambia Afrika Selatan
11,477,447 114,774 < 1%
Zimbabwe Afrika Selatan
12,311,143 123,111 < 1%

Pertumbuhan Muslim di Barat
Setelah cukup lama Barat menjajah dan menyebarkan
agama Kristen ke dunia Islam, akhir-akhir ini muncul
anomali yang tidak diduga sebelumnya. Dunia semakin
hari menyaksikan fenomena pertumbuhan jumlah
pemeluk agama Islam di Eropa khususnya dan di negeri
Barat umumnya. Semua tentunya atas izin dan
kehendak Allah.
Tidak sedikit para pengamat yang memprediksi
bahwa angka pertumbuhan populasi muslim di Eropa
akan terus naik pesat dalam beberapa dekade
mendatang.
Daily Telegraph Inggris melaporkan bahwa
penduduk muslim di Eropa tahun 2050 diperkirakan
akan naik menjadi 20% dari seluruh populasi benua
tersebut. karena meningkatnya imigrasi dan
berkurangnya angka kelahiran penduduk Eropa asli.
Populasi muslim dari total populasi 27 negara di
Eropa akan meningkat menjadi 20%, pada tahun 2050.
Dari 27 negara tersebut yang diindikasikan akan
memiliki proporsi Muslim lebih tinggi dalam waktu
dekat adalah Inggris, Spanyol, dan Belanda.
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

21
Inggris, yang saat ini memiliki jumlah penduduk 20
juta, lebih sedikit dari Jerman. Jerman juga
diproyeksikan akan menjadi negara terpadat di Eropa
pada tahun 2060 dengan jumlah penduduk 77 juta jiwa.
Di tahun 2009, jumlah muslim di Perancis mencapai
9% dari total populasi. Penduduk muslim di Marseilles
dan Rotterdam, angkanya mencapai 25%.
Di London dan Copenhagen, penduduk Muslim
berjumlah 10% dari total populasi.
Spanyol adalah negara dengan peningkatan jumlah
populasi Muslim terbesar dengan masuknya satu juta
imigran Moroko ke negara itu dalam beberapa tahun
terakhir.
Sementara, di Belgia, nama-nama yang paling banyak
ditemukan adalah nama Islami seperti Muhammad,
Adam, Royan, Ayyub, Mahdi, Amin, dan Hamzah.
Data demografis tentang tingkat pertumbuhan Islam
menunjukkan bahwa meningkatnya jumlah Muslim di
negara-negara non-Muslim disebabkan terutama oleh
imigrasi (di negara-negara Barat) dan angka kelahiran
yang lebih tinggi (di seluruh dunia).
Tahun 2006, negara-negara dengan penduduk
mayoritas Muslim memiliki angka pertumbuhan
penduduk rata-rata 1.8% per tahun. Bandingkan dengan
angka pertumbuhan penduduk dunia yang hanya 1.12%
per tahun.
Bom Waktu Demografis Bernama Islam
Hasil survei yang dilansir Daily Telegraph tersebut
telah memicu tuduhan bahwa para penyusun kebijakan
gagal melawan tantangan-tantangan dari bom waktu
demografis. Para ahli mengatakan kurang ada diskusi
mengenai bagaimana perubahan populasi akan
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


22
mempengaruhi wilayah-wilayah kehidupan mulai dari
pendidikan dan perumahan hingga kebijakan luar
negeri dan pensiun.
Diperkirakan, para politisi Uni Eropa terutama
kelompok kanan akan mengupayakan adanya
pemberhentiaan masuknya imrigran Muslim dalam
waktu dekat demi menjaga keseimbangan atsmosfer
negara-negara Uni Eropa.
"Uni Eropa sangat memerlukan kebijakan politis
untuk masalah imigran demi kemajuan tanpa adanya
duri yang akan menjadi masalah di kemudian hari," ujar
Angel Goergia, Sekjen Organisasi Bantuan dan
Pertumbuhan Ekonomi.
Menurut Carnegie Endowment for International
Peace, Database Kristen Dunia pada tahun 2007
memperkirakan enam agama dengan pertumbuhan
paling cepat adalah Islam (1.8%), aliran keyakinan
Bahaii (1.7%), Sikhisme (1.62%), Jainisme (1.57%),
Hinduisme (1.52%), dan Kristen (1.32%). Tingginya
angka kelahiran disebut sebagai penyebab pertumbuhan
tersebut.
Monsignor Vittorio Formenti, yang menyusun buku
tahunan Vatikan, mengatakan dalam sebuah wawancara
dengan koran Vatikan, LOsservatore Romano, bahwa
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kita tidak lagi
berada di puncak, Muslim telah menggeser posisi kita.
Ia mengatakan bahwa jumlah umat Katolik adalah 17.4%
dari total populasi dunia, sedangkan Muslim mencapai
19.2%. Benar bahwa keluarga-keluarga Muslim, seperti
yang telah diketahui, terus melahirkan banyak
keturunan, sebaliknya, keluarga Kristen semakin sedikit
memiliki anak, ujarnya.
Juga disebutkan dalam sejumlah klaim bahwa
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

23
peningkatan jumlah Muslim disebabkan semakin
banyaknya orang yang masuk agama Islam. Namun,
data jumlah mualaf ini sulit untuk diverifikasi.
Contohnya, New York Times telah mengklaim bahwa
25% Muslim Amerika adalah mualaf. Di Inggris, juga
ada klaim bahwa sekitar 10.000 hingga 20.000 orang
masuk Islam tiap tahunnya.
Umat Islam di Negeri Minoritas Butuh Syariah
Dengan munculnya fenomena menarik ini, dan
memang telah diberikan kabar gembira oleh Rasulullah
SAW bahwa Eropa pada akhir zaman akan jatuh ke
tangan umat Islam, maka dalam proses kembali kepada
syariah, umat Islam di negeri-negeri minoritas itu sangat
membutuhkan pedoman untuk hidup sesuai dengan
ajaran Islam.
Pedoman itu tidak lain adalah sistem syariah Islam,
yang terkenal universal dan abadi, selalu sesuai dengan
zaman dan keadaan. Tentunya karena punya sifat tsabat
dan tathawwur yang harmonis. Tidak kehilangan
originalitasnya sehingga dijamin keasliannya, namun
juga tidak kehilangan kelenturannya, karena memang
didesain oleh Allah SWT, tuhan semua umat manusia
sepanjang zaman.
Syariah Islam yang turun kepada Nabi Muhammad
SAW adalah syariah yang terakhir, tidak ada lagi
syariah yang turun dari langit. Tidak akan ada lagi nabi
yang turun, juga tidak akan ada lagi kitab suci yang
dibawa dari langit.
Namun sungguh luar biasa. Meski telah melewati 14
abad usianya, syariah Islam tetap masih paten dan
luwes untuk bisa diterapkan di dalam berbagai keadaan,
wilayah geografi, beragam budaya dan bangsa, serta
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


24
lintas peradaban.

Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

25
Bab Kedua
Karekteristik Fiqih Minoritas
Di antara karakteristik fiqih minoritas yang harus
dipahami dan tidak mungkin diabaikan antara lain :
1. Ijtihad Kontemporer
Fiqih adalah produk ijtihad. Tidak ada fiqih tanpa
ijtihad. Dan ijtihad itu adalah mengaitkan antara dalil-
dalil syariah dengan realitas yang ada. Ijtihad tidak
pernah sama hasilnya di tiap tempat yang berbeda.
Sebab realitasnya dan persoalannya bisa saja berbeda.
Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah bahkan mendirikan
dua mazhab dalam hidupnya, padahal beliau hidup
hanya selama 54 tahun (150-204 H).
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


26
Dalam mazhab yang kedua (qaul jadid), beliau
banyak sekali mengoreksi pendapat dirinya sendiri dari
mazhab sebelumnya (qaul qadim).
Demikian juga para mujtahid ghairub mustaqil dalam
satu mazhab, meski tetap menggunakan manhaj dari
gurunya, namun mereka tetap berijtihad dengan bebas.
Sehingga sering kali antara seorang mujtahid ghairu
mustaqil dengan gurunya yang mujtahid mutlak, punya
pendapat yang berbeda.
Setiap zaman dibutuhkan mujtahid yang hidup
bersama zamannya. Setiap wilayah negeri muslim butuh
mutjatahid yang hidup bersama dengan realitas wilayah
tersebut. Ijtihad yang baru tidak harus selalu
bertentangan dengan ijtihad yang lama. Terkadang
malah menguatkan hasil ijtihad yang lama. Namun ada
kalanya hasil ijtihad yang baru lebih kuat dan lebih tepat
dengan realitas yang ada.
Hasil ijtihad Abu Hanifah tentunya terasa lebih pas
dan mengena dengan masalah muamalah. Hal itu
karena Abu Hanifah selain sebagai mujtahid, beliau juga
seorang pedagang kain, yang setiap hari bergumul
dengan berbagai macam persoalan muamalah dan jual
beli di dalam pasar.
Setiap hutan memiliki macannya sendiri-sendiri.
Setiap negeri membutuhkan mujtahid yang ahli dan
mengerti realitas sosial serta masalah yang lebih
kontemporer.
2. Kontektual bukan Tektual
Teks dan dalil syariah itu sangat banyak. Terkadang
kalau kita tidak tahu asal-usul turunnya (asbabun-
nuzul), atau sebab dikeluarkannya (asbabul wurud),
boleh jadi kita bingung sendiri.
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

27
Apalagi bila kita tidak mengerti ilmu nasakh wal
mansukh, dimana dalil-dalil itu ternyata ada yang
dihapus keberlakuannya, maka kita akan kebingungan
sendiri.
Di satu ayat, suatu masalah diwajibkan, tetapi di ayat
lain malah diharamkan. Di satu hadits, sebuah masalah
dianjurkan, tetapi di hadits lain, justru diperintahkan
untuk mengindarinya.
Maka penerapan suatu dalil dalam suatu masalah
tentu tidak bisa dilakukan, kecuali setelah mengetahui
latar belakang dalil itu, serta mengetahui juga latar
belakang masalah yang ingin diketahui hukumnya.
Suatu hari datang seorang tua kepada Nabi SAW dan
bertanya tentang hukum mencumbi istri di siang hari
bulan Ramadhan. Beliau SAW pun mengizinkan dan
membolehkan laki-laki tua itu mencumbu istrinya di
siang hari bulan Ramadhan, asalkan tidak sampai jima'.
Setelah itu datang lagi seseorang kepada beliau SAW.
Kali ini seorang pemuda. Pertanyaannya sama, bolehkah
dirinya mencumbu istri di siang hari bulan Ramadhan.
Ternyata kali ini jawaban Rasullah SAW berbeda. Beliau
tidak membolehkan pemuda itu mencumbu istri di
siang hari bulan Ramadhan.
Dari dua kisah itu, kita bisa menyimpulakn bahwa
hukum dan fatwa yang beliau SAW keluarkan
dipengaruhi oleh konteks, bukan semata-mata aturan
yang kaku dan baku.
3. Memudahkan bukan Memberatkan
Sejak masa shahabat memang sudah ada dua
kecenderungan dalam masalah fatwa. Pertama, adalah
mazhab mudhayyiqin, yang umumnya diwakili oleh
Ibnu Umar radhiyallahu anhu. Kedua, adalah mazhab
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


28
muyassirin yang umumnya diwakili oleh Ibnu Abbas
radhiyallahu anhu. Kedua shahabat ini sangat mencintai
Rasululllah SAW dan beliau pun sangat mencintai
keduanya.
Namun ketika masing-masing punya pendekatan
yang khas dalam berfatwa dan mengambil kesimpulan
hukum, kita tidak bisa mengunggulan yang satu dan
menjelekkan yang lain. Sebab tiap shahabat punya latar
belakang sendiri-sendiri yang membawanya sampai
kepada suatu pendapat.
Maka kalau syariah Islam memberikan kedua pilihan
itu dengan peluang yang sama besarnya, sama
benarnya, serta sama keberkahannya, kita akan
merasakan betapa luasnya syariah Islam itu.
Buat mereka yang suka bersusah-susah dalam agama,
karena iman dan taqwa, lalu lebih senang mengambil
pendapat yang lebih berat dan sulit, sudah ada contoh
dan panutannya sendiri.
Sebaliknya, buat mereka yang dalam keadaan terjepit,
darurat, atau baru masuk Islam, atau berada pada situasi
yang tidak memungkinkan, maka tidak berarti dia harus
menyerah dengan keadaan lantas meninggalkan
agamanya. Sebab syariah Islam ternyata juga
memberikan peluang untuk tetap bisa setia tanpa
kehilangan originalitas dan ikatan hukum.
Masih ada pendapat-pendapat Ibnu Abbas
radhiyallahu anhu yang telah didoakan oleh Rasulullah
SAW :

Ya Allah, jadikanlah dia orang yang ahli dalam ilmu
fiqih agama dan ajarkan padanya ilmu takwil (tafsir).
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

29
Shahabat sekaliber Ibnu Abbas radhiyallahu anhu
bukan shahabat biasa. Beliau telah menjadi imam shalat
bagi kaumnya ketika belum baligh, baru mumayyiz. Hal
itu karena ilmu beliau yang sudah tertanam sejak kecil,
dan kebagusan bacaan Quran yang beliau kuasai.
Ada begitu banyak shahabat Nabi SAW yang jauh
lebih senior dari segi usia atau pun masa keislaman,
namun mereka menjadikan Ibnu Abbas radhiyallahu anhu
sebagai rujukan dalam ilmu agama.
4. Pendapat Jumhur bukan Pribadi
Karena masalah yang berkembang di negeri
minoritas muslim ini sangat komplek, bukan hanya
terdiri dari satu masalah yang bisa diselesaikan secara
parsial, maka kajian fiqih minoritas ini pun juga harus
melibatkan banyak kalangan. Tidak cukup fatwa satu
orang untuk menyelesaikan masalah yang komplek.
Dibutuhkan ijtihad bersama (jama`i) dari berbagai
ulama dengan latar belakang yang berbeda, seusai
dengan realitas sosial yang ada.
Sehingga fatwa yang dihasilkan akan lebih dekat
kepada keadaan sesungguhnya. Tidak seperti asap yang
jauh dari api.
Di berbagai belahan dunia ini, terutama di negeri
minoritas muslim, banyak ulama yang mendirikan
majma' fiqih, khusus dibuat untuk memenuhi
kebutuhan fatwa di negeri tertentu dengan keadaan
yang khusus.
5. Beda Keadaan Beda Fatwa
Salah satu karakter fiqih Islam adalah bahwa sebuah
fatwa bisa saja berbeda antara satu dengan yang lainnya.
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


30
Tergantung dari banyak hal, baik yang menyangkut
individu seseorang atau pun yang terkait dengan
keadaan dimana suatu masyarakat berada.
Fatwa fiqih yang berlaku pada seorang yang sehat
tentu tidak sama dengan fatwa yang berlaku buat orang
yang sakit. Fatwa yang berlaku buat musafir juga tidak
sama persis dengan fatwa buat orang yang muqim.
Orang yang terpaksa menerima fatwa yang berlainan
dengan orang yang puya banyak pilihan.
Umar bin Abdul Aziz ketika menjadi amir di kota
Madinah menerima kesaksian dari satu orang. Tetapi
ketika beliau menjadi khalifah di Damaskus, beliau
menetapkan bahwa kesaksian atas suatu perkara harus
datang minimal dari dua orang. Sebab beliau melihat
perbedaan yang signifikan antara penduduk Madinah
dan Damaskus.
Dalam hal ini, beliau punya kalimat yang terkenal :
Katakanlah kepada manusia perkara sesuai dengan
tingkat kejahatan yang terjadi.
Ada ungkapan khas tentang perbedaan fatwa yang
datang dari beberapa ulama, yaitu ikhtilaful ashri waz-
zaman, bukan ikhtilaf hujjah dan dalil. Ikhtilaful ashri waz-
zaman adalah ikhtilaf yang timbul akibat perbedaan
zaman dan masa, bukan karena perbedaan dalam
mengambil hujjah dan dalil.
Karena itulah kita seringkali mendapati para ulama
dari suatu mazhab menyelisihi pendapat imam mazhab
mereka sendiri. Apa yang dikatakan oleh Al-Imam Abu
Hanifah belum tentu persis sama dengan yang
difatwakan oleh kedua muridnya, Abu Yusuf dan
Muhammad. Demikian juga fatwa Imam An-Nawawi
terkadang tidak sama persis dengan fatwa imam
mazhabnya sendiri, Al-Imam Asy-Syafi'i.
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

31
6. Menerima Kedaruratan
Karakter yang paling khas dari fiqih minoritas adalah
mengakui realitas adalah kedaruratan yang tidak bisa
dinafikan. Karena semua orang mengalami langsung
kedaruratan itu.
Dalam keadaan normal, laki-laki diharamkan
memakai pakaian yang terbuat dari sutra. Namun
karena alasan darurat (sakit), Az-Zubair bin Al-Awwam
dan Abdurrahman bin Auf radhiyallahuanhuma
dibolehkan oleh Rasulullah SAW untuk mengenakan
pakaian yang terbuat dari sutera, sebagai keringanan
hukum.
Para ulama mempunyai beberapa kaidah tentang
hukum fiqih dalam keadaan darurat ini. Di antara
kaidah-kaidah itu adalah :

Kedaruratan itu membolehkan hal-hal yang dilarang
Maksudnya, keadaan darurat yang dialami oleh
seseorang dalam kasus tertentu dapat membuat apa-apa
yang tadinya terlarang menjadi boleh hukumnya.
Bila dalam keadaan tersesat di tengah padang pasir,
sudah 7 hari tidak makan, satu-satunya yang masih
mungkin dimakan adalah bangkai yang hukumnya
najis, maka dimungkinkan untuk memakan bangkai
yang haram itu, karena keadaan darurat.
Namun keadaan darurat itu bisa saja berbeda-beda
bagi tiap orang dan juga tidak sama levelnya untuk
setiap kasus. Karena itu setiap kedaruratan harus diukur
kadarnya, sebagaimana kaidah berikut ini :
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


32

Kedaruratan itu harus diukur sesuai dengan
tingkatan kedaruratannya.
Ini berarti tidak mentang-mentang ada satu masalah
yang berbau darurat, lantas kita menghalalkan semua
yang haram.
Di padang pasir itu selama kita masih bisa bertahan
dengan memakan tumbuhan atau rumput, maka masih
belum dihalalkan memakan bangkai. Demikian juga bila
seseorang masih bisa bertahan hidup dalam waktu yang
lebih lama, maka baginya belum dibenarkan untuk
memakan bangkai.
Sehingga ukuran kedaruratan antara satu orang
dengan orang lain sangat berbeda, tidak bisa dipukul
rata.
Karena itu ada semacam kaidah yang sangat
membuat hukum agama itu menjadi sedemikian
fleksible. Intinya, bila keadaan menjadi sempit dan sulit,
maka hukumnya menjadi lebih luas. Artinya, hukumnya
menjadi lebih mudah. Sebaliknya, bila keadaan yang
kita miliki lebih luas, dalam arti tidak ada unsur
daruratnya, atau kalau pun ada kedaruratan, sangat
sedikit, maka hukumnya menjadi sempit. Maksudnya,
hukumnya menjadi lebih tegas.

Apabila suatu masalah menjadi sempit, maka
hukumnya menjadi luas. Dan bila suatu masalah
luas, maka hukumnya menjadi sempit.

Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

33
Kesulitan itu membuahkan kemudahan
Maksudnya, bila keadaan sangat sulit sehingga tidak
dimungkinkan menjalankan hukum secara ideal, maka
untuk kasus tertentu dimungkinkan hukumnya menjadi
lebih mudah.
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

35
Problem Fiqih Minoritas
Umat Islam yang tinggal di negeri dimana mereka
adalah kelompok minoritas, seringkali menghadapi
banyak kendala besar terkait dengan hukum-hukum
syariah.
Hal itu terjadi karena pada umumnya hukum-hukum
syariah yang sudah tertulis di berbagai literatur disusun
di zaman tegaknya negara-negara Islam. Intinya,
keadaan sosial politik yang melatar-belakangi penulisan
hukum fiqih di masa itu tidak secara tepat tercermin
dalam realitas kehidupan umat Islam minoritas di masa
sekarang ini.
Empat imam mazhab yang menjadi rujukan ijtihad
para ulama sedunia adalah orang-orang yang hidup di
zaman kekuasaan Islam, bukan negeri dimana umat
Islam justru menjadi minoritas.
Imam Abu Hanifah (70-150H) dan Imam Malik (80-
179 H) rahimahumallah hidup di dua zaman keemasan
kekuasaan Islam, yaitu Khilafah Bani Umayyah di
Damaskus dan Khilafah Bni Abbasiyah di Baghdad.
Kitab-kitab fiqih yang tersusun umumnya
memberikan jawaban masalah dengan kondisi sosial
yang ideal, dimana umat Islam berada dalam keadaan
aman, dipimpin oleh sultan (penguasa) yang shalih,
serta kedaulatan Islam yang penuh.
Hal ini memang wajar, karena selama 14 abad
berturut-turut, umat Islam memegang supremasi dunia.
Selama itu umat Islam selalu hidup dalam satu kesatuan
dunia yang kuat, di bawah pemerintahan yang adil,
kuat, serta berfungsi mengayomi semua lapisan.
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


36
Namun ketika memasuki abad 20, secara de-facto dan
de-jure, umat Islam mengalami kemunduran yang
sangat besar. Tahun 1924 Khilafah Islamiyah Turki
Utsmani yang terakhir pun diruntuhkan, wilayahnya
yang sangat luas itu dibagi-bagi di antara para penjajah
Barat.
Maka begitu banyak persoalan fiqih yang
memerlukan kajian yang lebih mendalam dengan
melihat kepada realitas yang ada, tidak sekedar
memfoto-kopi dari kitab-kitab fiqih klasik yang terlanjur
dianggap sebagai satu-satunya rujukan.
Tidak seperti umumnya penerapan fiqih di dunia
Islam, keberadaan umat Islam di negeri yang minoritas
tentunya sulit dihindarkan dari berbagai kenyataan
yang ada.
Karena itu fiqih yang digunakan boleh jadi memiliki
kaidah yang spesifik, namun tetap original dan asli
sebagaimana diturunkan di dalam Al-Quran dan As-
Sunnah.
Di setiap negeri dimana jumlah muslim minoritas
muncul begitu banyak pertanyaan yang sulit untuk bisa
dijawab begitu saja, kecuali dengan kajian yang lebih
komprehensif, mendalam, melihat realitas sosial politik,
serta memahami nilai-nilai yang dianut oleh tiap negeri.
Bolehkah Muslim Tinggal di Negeri Kafir
Misalnya pertanyaan yang paling mendasar adalah :
Apakah boleh seorang muslim tinggal dan hidup
menjadi warga negara dari negeri yang tidak berhukum
kepada hukum Allah?
Tentu saja pertanyaan seperti ini bisa saja dijawab
dengan satu kata, haram. Lalu dalilnya adalah surat Al-
Maidah ayat 44,45 dan 47, dimana orang yang tidak
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

37
berhukum dengan hukum Allah berarti dia kafir, fasik
dan zhalim.
Atau juga dengan dalil dari hadits Nabi SAW yang
sekilas melarang seorang muslim hidup di tengah
orang-orang non muslim.

Aku berlepas diri dari setiap muslim yang hidup di
belakang orang-orang musrik.

Siapa yang bercampur dengan orang musyrik, maka
dia termasuk dari kelompok mereka.
Tetapi masalahnya tidak sesederhana itu mengatakan
bahwa orang yang tinggal di negeri minoritas muslim
lantas dianggap kafir, dengan menggunakan dalil-dalil
di atas.
Bagaimana kalau orang itu memang asli penduduk
negeri itu, dimana dia hidup, mencari penghidupan,
makan dan minum di negeri kelahirannya?
Lalu jika kebetulan dia mendapat hidayah dari Allah
SWT untuk memeluk agama Islam, apakah dia harus
hijrah dan meninggalkan kampung halamannya,
sebagaimana dulu para shahabat meninggalkan Mekkah
Al-Mukarramah meninggalkan kampung halaman?
Selain itu, kita juga melihat realitas di masa
Rasulullah SAW ketika mengutus para shahabat ke
berbagai negeri non muslim, mereka justru
meninggalkan Madinah Al-Munawwarah dan Masjid
An-Nabawi, juga meninggalkan Rasulullah SAW dan
para shahabat yang mulia, untuk hidup sendiri sebagai
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


38
muslim di negeri asing yang saat itu belum ada umat
Islam disana.
Tugas para shahabat ini justru untuk menyebarkan
agama Islam di negeri yang masih belum mengenal
agama Allah. Sehingga tidak bisa dihindari mereka pun
mengalami hidup sebagai kelompok minoritas, juga
mengalami hidup di bawah kekuasaan hukum yang
selain hukum Allah.
Perintah hijrah ke Madinah bukan semata karena di
Mekkah saat itu tidak berlaku hukum syariah. Tetapi
saat itu memang sedang dibutuhkan pemusatan
kekuatan di Madinah untuk membangun masyarakat
Islam pertama. Maka ada perintah untuk berhijrah ke
Madinah. Tetapi hanya berselang beberapa tahun,
tepatnya telah Perjanjian Hudaibiyah di tahun ke-6
hijriyah, Rasulullah SAW sudah mulai mengutus para
shahabat ke berbagai negeri, berpencar-pencar menuju
negeri yang justru sama sekali belum mengenal agama
Islam. Tentu juga tidak atau belum berhukum dengan
hukum Allah.
Apakah kita akan mengatakan bahwa para shahabat
Nabi SAW yang diutus itu secara meninggalkan negeri
yang berhukum dengan hukum Islam, menuju negeri
yang berhukum dengan hukum manusia? Dan apakah
mereka berdosa melakukannya?
Bolehkah Menjadi Bagian Dari Pemerintahan
Sebagian ulama mengharamkan umat Islam yang
tinggal di negeri minoritas muslim (baca:kafir) untuk
ikut serta dalam pemerintahan, yang secara tegas tidak
menggunakan hukum Allah. Bahkan juga
mengharamkan umat Islam untuk mengikuti pemilihan
umum untuk memilih calon pemimpin.
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

39
Alasannya, kira-kira tidak jauh berbeda dengan dalil-
dalil di atas, yaitu bahwa negara itu adalah negara kafir.
Dan seorang muslim tidak boleh memiliki pemimpin
yang kafir dan tidak berhukum dengan hukum Allah.
Sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat berikut ini :

Dan sekali-kali Allah tidak akan pernah memberi
jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai
orang-orang Mukmin. (QS An-Nisa :141)



Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
jadikan wali (pemimpin)-mu, orang-orang yang
menjadikan agamamu sebagai bahan ejekan dan
permainan, (yaitu) dari orang-orang yang diberi kitab
sebelummu dan orang-orang kafir (QS. Al-Maidah :
57)


Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani
menjadi walimu (pemimpinmu); sesungguhnya
sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain.
Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


40
menjadi wali (pemimpin), maka sesungguhnya orang
itu termasuk golongan mereka. (QS. Al-Maidah : 51)
Umat Islam hanya diperbolehkan taat kepada
pemimpin yang beragama Islam dari kalangan internal
sendiri. Dimana hukum yang diterapkan adalah hukum
yang datang dari Allah dan Rasul-Nya.



Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan
ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang
sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al
Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-
benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang
demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya. (QS An-Nisa :59)
Karena itu haram hukumnya ikut pemilu, karena hal
itu berarti umat Islam mengakui kepemimpinan yang
menentang hukum Islam.
Dengan dalil-dalil di atas, maka begitu banyak umat
Islam di negeri-negeri minoritas melepaskan haknya
dalam pemilihan yang diselenggarakan. Dengan
demikian, hak-hak mereka sebagai warga dan juga
sebagai manusia, ternyata juga tidak bisa mereka
dapatkan. Karena tidak ada yang memperjuangkan hak-
hak dan aspirasi mereka di parlemen dan perwakilan
rakyat.
Sebagai perbandingan, Di Inggris, jumlah anggota
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

41
parlemen dari kalangan yahudi 52 anggota, padahal
jumlah warga Yahudi di sana tidak lebih dari 300 ribu
orang. Di saat yang sama, kaum muslimin yang
jumlahnya mencapai lima kali lipat dari Yahudi hanya
memiliki satu orang perwakilan di parlemen Inggris.
Di Amerika Serikat jumlah anggota Kongres Amerika
dari Yahudi berjumlah 13 orang dari 101 total anggota
Kongres Amerika. Padahal persentase Yahudi di sana di
bawah 2%. Sementara di parlemen Amerika Yahudi
memiliki perwakilan 30 orang. Dan jangan tanya berapa
banyak mereka yang loyal kepada Yahudi dan
kepentingannya.
Di Perancis, Yahudi memiliki 18 kursi di parlemen
padahal jumlah warga Yahudi di sana tidak melebihi 1%
penduduk. Demikian halnya di Ukraina. Angka-angka
di atas memberikan kesimpulan betapa besar lobi
Yahudi di negara-negara besar.
Maka kalau arah kebijakan negara-negara itu
cenderung untuk membela kepentingan yahudi
termasuk negara Israel, tentu sangat masuk akal.
Sebaliknya, bila umat Islam yang jumlahnya sekarang
cukup besar dan terus bertambah, tetapi nasibnya tidak
pernah membaik, karena terus menerus ditekan baik
oleh pemerintah atau oleh opini publik yang diciptakan,
maka sedikit banyak karena adanya fatwa yang
mengharamkan umat Islam masuk parlemen dan
memperjuangkan kepentingan umat Islam sendiri.
Tentu dengan dalil-dalil di atas.
Masalahnya, apakah dalil-dalil di atas tadi sudah
sesuai dengan konteks dan realitas yang ada? Ini yang
menjadi bahan diskusi panjang di kalangan ulama.
Mereka yang tidak mengharamkan pemilihan umum
dan menjadi bagian dari parlemen mengajukan dalil,
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


42
bahwa tujuan mereka hanya untuk memperjuangkan
nasib umat Islam di negeri itu. Sama sekali tidak ada
kaitannya dengan pengakuan atas kepemimpinan non
muslim atau hukum-hukum selain hukum Allah.
Pendapat Yang Membolehkan Ikut Parlemen
a. Syekh Shaleh Alfauzan
Syekh Shaleh Alfauzan, salah seorang ulama di Saudi
Arabia pernah ditanya tentang hukum seorang muslim
memasuki parlemen. Syekh Fauzan balik bertanya, Apa
itu parlemen? Salah seorang peserta menjawab
Dewan legislatif atau yang lainnya Syekh, Masuk
untuk berdakwah di dalamnya? Salah seorang peserta
menjawab, Ikut berperan serta di dalamnya Syekh,
Maksudnya menjadi anggota di dalamnya? Peserta,
Iya.
Syeikh menerangkan: Apakah dengan keanggotaan
di dalamnya akan menghasilkan kemaslahatan bagi
kaum muslimin? Jika memang ada kemaslahatan yang
dihasilkan bagi kaum muslimin dan memiliki tujuan
untuk memperbaiki parlemen ini agar berubah kepada
Islam, maka ini adalah suatu yang baik, atau paling
tidak bertujuan untuk mengurangi kejahatan terhadap
kaum muslimin dan menghasilkan sebagian
kemaslahatan, jika tidak memungkinkan kemaslahatan
seluruhnya meskipun hanya sedikit.
b. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Majalah Al-Ishlah pernah bertanya kepada Syeikh
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, yang pernah menjadi
Mufti Kerajaan Saudi Arabia tentang hukum masuknya
para ulama dan duat ke DPR, parlemen serta ikut dalam
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

43
pemilu pada sebuah negara yang tidak menjalankan
syariat Islam. Bagaimana aturannya?
Syaikh Bin Baz menjawab:
Masuknya mereka berbahaya, yaitu masuk ke
parlemen, DPR atau sejenisnya. Masuk ke dalam
lembaga seperti itu berbahaya, namun bila seseorang
punya ilmu dan bashirah serta menginginkan kebenaran
atau mengarahkan manusia kepada kebaikan,
mengurangi kebatilan, tanpa rasa tamak pada dunia dan
harta, maka dia telah masuk untuk membela agama
Allah swt. berjihad di jalan kebenaran dan
meninggalkan kebatilan. Dengan niat yang baik seperti
ini, saya memandang bahwa tidak ada masalah untuk
masuk parlemen. Bahkan tidak selayaknya lembaga itu
kosong dari kebaikan dan pendukungnya.
Namun bila motivasinya untuk mendapatkan dunia
atau haus kekuasaan, maka hal itu tidak diperbolehkan.
Seharusnya masuknya untuk mencari ridha Allah,
akhirat, membela kebenaran dan menegakkannya
dengan argumen-argumennya, niscaya majelis itu
memberinya ganjaran yang besar.
c. Pendapat Syaikh Al Utsaimin
Pada bulan Zul-Hijjah 1411 H. bertepatan dengan
bulan Mei 1996 Majalah Al-Furqan melakukan
wawancara dengan Syaikh Utsaimin. Majalah Al-
Furqan: Apa hukum masuk ke dalam parlemen?
Syaikh Al-Utsaimin menjawab:
Saya memandang bahwa masuk ke dalam majelis
perwakilan (DPR) itu boleh. Bila seseorang bertujuan
untuk mashlahat, baik mencegah kejahatan atau
memasukkan kebaikan. Sebab semakin banyak orang-
orang shalih di dalam lembaga ini, maka akan menjadi
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


44
lebih dekat kepada keselamatan dan semakin jauh dari
bala.
Sedangkan masalah sumpah untuk menghormati
undang-undang, maka hendaknya dia bersumpah untuk
menghormati undang-undang selama tidak
bertentangan dengan syariat. Dan semua amal itu
tergantung pada niatnya di mana setiap orang akan
mendapat sesuai yang diniatkannya.
Namun, tindakan meninggalkan majelis ini sehingga
diisi oleh orang-orang bodoh, fasik dan sekuler adalah
merupakan perbuatan ghalat (rancu) yang tidak
menyelesaikan masalah. Demi Allah, seandainya ada
kebaikan untuk meninggalkan majelis ini, pastilah kami
akan katakan wajib menjauhinya dan tidak
memasukinya. Namun keadaannya adalah sebaliknya.
Mungkin saja Allah swt. menjadikan kebaikan yang
besar di hadapan seorang anggota parlemen. Dan dia
barangkali memang benar-benar menguasai masalah,
memahami kondisi masyarakat, hasil-hasil kerjanya,
bahkan mungkin dia punya kemampuan yang baik
dalam berargumentasi, berdiplomasi dan persuasi,
hingga membuat anggota parlemen lainnya tidak
berkutik. Dan menghasilkan kebaikan yang banyak.
(lihat majalah Al-Furqan Kuwait hal. 18-19)
d. Pendapat Imam Al-Izz Ibnu Abdis Salam
Dalam kitab Qawaidul Ahkam karya Al-Izz bin
Abdus Salam tercantum:
Bila orang kafir berkuasa pada sebuah wilayah yang
luas, lalu mereka menyerahkan masalah hukum kepada
orang yang mendahulukan kemaslahatan umat Islam
secara umum, maka yang benar adalah merealisasikan
hal tersebut. Hal ini mendapatkan kemaslahatan umum
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

45
dan menolak mafsadah. Karena menunda masalahat
umum dan menanggung mafsadat bukanlah hal yang
layak dalam paradigma syariah yang bersifat kasih.
Hanya lantaran tidak terdapatnya orang yang sempurna
untuk memangku jabatan tersebut hingga ada orang
yang memang memenuhi syarat.
e. Pendapat Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah (691- 751 H) dalam
kitabnya At-Turuq al-Hukmiyah menulis:
Masalah ini cukup pelik dan rawan, juga sempit dan
sulit. terkadang sekelompok orang melampoi batas,
meng hilangkan hak-hak, dan mendorong berlaku
kejahatan, kerusakan serta menjadikasn syariat itu
sempit sehingga tidak mampu memberikan jawaban
kepada pemeluknya. Serta menghalangi diri mereka dari
jalan yang benar, yaitu jalan untuk mengetahui
kebenaran dan menerapkannya. Sehingga mereka
menolak hal tersebut, pada hal mereka dan yang lainnya
tahu secara pasti bahwa hal itu adalah hal yang wajib
diterapkan namun mereka menyangkal bahwa hal itu
bertentangan dengan qowaid syariah.
Mereka mengatakan bahwa hal itu tidak sesuai yang
dibawa Rasulullah. Yang menjadikan mereka berpikir
seperti itu adalah kurangnya memahami syariah dan
pengenalan kondisi lapangan atau keduanya, sehingga
begitu mereka melihat hal tersebut dan melihat orang-
orang melakukan hal yang tidak sesuai yang
dipahaminya, mereka melakukan kejahatan yang
panjang, kerusakan yang besar, maka permasalahannya
jadi terbalik.
Di sisi lain ada kelompok yang berlawanan
pendapatnya dan menafikan hukum Allah dan Rasul-
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


46
Nya. Kedua kelompok di atas sama-sama kurang
memahami risalah yang dibawa Rasulullah SAW
padahal Allah telah mengutus Rasul-Nya dan
menurunkan kitab-Nya agar manusia menjalankan
keadilan, yang dengan keadilan itu bumi dan langit ini
di tegakkan. Bila ciri-ciri keadilan itu mulai nampak dan
wajahnya tampil dengan beragam cara, maka itulah
syariat Allah dan agama-Nya. Allah swt. Maha Tahu
dan Maha Hakim untuk memilih jalan menuju keadilan
dan memberinya ciri dan tanda. Apapun jalan yang bisa
membawa tegaknya keadilan maka itu adalah bagian
dari agama, dan tidak bertentangan dengan agama.
Maka tidak boleh dikatakan bahwa politik yang adil
itu berbeda dengan syariat, tetapi sebaliknya justru
sesuai dengan syariat, bahkan bagian dari syariat itu
sendiri. Kami menamakannya sebagai politik sekedar
mengikuti istilah yang Anda buat, tetapi pada
hakikatnya merupakan keadilan Allah dan Rasul-Nya.
Dan tidak ada keraguan, bahwa siapa yang menjabat
sebuah kekuasaan maka ia harus menegakkan keadilan
yang sesuai dengan syariat. Dan berlaku ihsan, bekerja
untuk kepentingan syariat meskipun di bawah
pemerintahan kafir.

Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

47

Bab Kedua
Islam vs Barat
Barat Lebih Islami dari Umat Islam?
Di Amerika, saya menemukan banyak orang yang
berbuat baik, bahkan boleh dikatakan lebih Islami dari
pada orang-orang yang mengaku beragama Islam itu
sendiri. Bedanya, mereka tidak melakukan Rukun Islam.
Mereka tidak pernah mendapat pengetahuan mengenai
Islam itu sendiri, bahkan jikapun mendapat masukan
tentang Islam, masukannya yang tidak benar.
Rasa-rasanya kasihan mereka jika harus masuk ke
neraka karena ketidakmengertiannya.
Bagaimana mendapat Ustadz?
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


48
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Memang pernyataan seperti yang anda sampaikan itu
dalam beberapa hal ada benarnya. Bahkan kalimat yang
sama pernah muncul dari salah satu tokoh
pembaharuan Islam berkebangsaan Mesir, Muhammad
Abduh, saat berkunjung ke Eropa. Beliau mengatakan
bahwa di sana ada Islam tanpa orang Islam, sedang di
Mesir banyak orang Islam tapi tanpa Islam.
Namun pernyataan seperti ini sebenarnya agak
berbau hyperbol, lantaran mengatakan tidak ada
penerapan ajaran Islam di tengah umat Islam. Atau
mengatakan ada pelaksanaan ajaran Islam di tengah
orang kafir. Padahal sesungguhnya tidak demikian.
Namun selama ungkapan ini sebuah gaya bahasa yang
punya titik tekan tertentu dan bukan hakikat secara
aqidah, rasanya kita tidak bisa menolaknya.
Seperti penyataan seorang penceramah yang sedang
menggambarkan betapa dahsyatnya penghancuran
kepada umat Islam di Andalusia, sampai beliau
mengatakan hari ini tidak tersisa seorang pun muslim di
sana.
Di Barat Ada Sebagian Kecil Ajaran Islam Tapi Terlalu
Banyak Yang Bertentangan
Dibandingkan dengan ajaran Islam yang secara tidak
sengaja terjadi di barat, sebenarnya tetap saja ajaran
Islam tidak terjadi di sana. Benar bahwa di barat itu
orang-orang menegakkan disiplin, jujur, bersih, sehat
dan teratur. Namun jangan lupa barat di barat begitu
banyak terjadi hal-hal yang bertentangan dengan
aqidah, syariah dan akhlaq Islam.
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

49
a. Zina
Di barat orang bebas melakukan perzinaan kapan saja
di mana saja dan dilindungi undang-undang. Seorang
ayah tidak berhak melarang puterinya berzina dengan
temannya, sebagaimana seorang suami tidak berhak
melarang isterinya berzina dengan tetangganya. Semua
atas nama kebebasan yang mereka agungkan.
Pemerintahan militer Prancis terus menerus
kekurangan pemuda-pemuda yang laik menjadi
sukarelawan dari segi kesehatan badan. 75 ribu orang
tentara yang terpaksa harus diberhentikan dan
dimasukkan ke rumah sakit karena mengidap penyakit
kotor (spilis). Dalam satu tangsi tentara ada 242 orang
terjangkit penyakit kotor ini. Penyakit ini akan
mempengaruhi keturunannya secara mengerikan.
Fenomena seperti ini terjadi pula di kalangan
pemuda-pemuda Amerika. Presiden Amerika pernah
mengumumkan, lebih satu juta dari sekitar enam juta
pemuda Amerika yang harus mengikuti wajib militer
tidak laik menjadi tentara. Hal itu menunjukkan
merosotnya sumber daya manusia Amerika secara
umum akibat kehidupan seks bebas yang digelutinya
dan penyakit kelamin.
Ada sekitar 30 sampai 40 ribu anak mati karena
korban penyakit kotor orang tuanya dalam setiap
tahunnya. Hakim Lancy mengatakan, "Di Amerika
sekurang-kurangnya satu juta kehamilan dalam satu
tahun dan beribu-ribu anak lahir langsung dibunuh."
Yang lebih rusak lagi bahwa di Jerman gadis-gadis
akan merasa malu jika ketika menikah masih perawan.
Dan alat-alat pencegah kehamilan tersedia di setiap
pinggir jalan.
Dengan semua fakta di atas, masih kita ingin
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


50
mengatakan bahwa di barat terlaksana ajaran Islam?
b. Bebas Merusak Diri dan Mencelakakannya
Di barat yang katanya maju dalam ilmu pengetahuan
dan dunia kesehatannya, seseorang masih dibebaskan
untuk merusak tubuhnya dan meracuninya.
Padahal para dokter telah ijma' bahwa khamar dan
rokok itu merusak kesehatan. Orang-orang dibolehkan
minum khamar bahkan dilindungi undang-undang.
Termasuk merokok dan mengkonsumi obat-obat
terlarang.
Barat yang katanya menjunjung tinggi nilai-nilai
kemanusiaan, ternyata membebaskan siapa saja
melakukan prostitusi dengan moral yang bejad, asal
bayar pajak dan tanpa paksaan.
Benarkah di barat ada penerapan ajaran Islam?
c. Penginjak-injak HAM
Bahkan lebih konyol lagi, barat yang konon
menjunjung tinggi HAM, justru punya sejarah berdarah-
darah dengan penjajahan dunia selama ratusan tahun.
Jutaan nyawa manusia telah melayang sia-sia.
Barat bertanggung-jawab atas semua pembantaian
orang-orang kulit hitam di Amerika dan Afrika Selatan.
Barat juga bertanggung-jawab atas pembantaian suku
bangsa Indian di benua Amerika dan suku Aborigin di
Australia. Barat juga bertanggung-jawab atas
pembantaian rakyat vietnam, peledakan bom atom di
Hiroshima dan Nagasaki, pembantaian muslim Bosnia
dan Kosovo, pembantaian terhadap Muslim India.
Dan ingatlah bahwa yang menemukan bom atom dan
hidrogin serta menjalankan perang dunia pertama dan
kedua juga barat.
Masihkah kita mengatakan bahwa di barat ada
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

51
pelaksanaan ajaran Islam?
d. Pengekang Kebebasan Beragama
Sejarah barat penuh dengan pemaksaan agama.
Hilangnya umat Islam di Spanyol adalah bukti bahwa
barat itu suka memaksakan agama.
Bahkan pemaksaaan agama bukan hanya terhadap
umat Islam tetapi juga antara sesama aliran dalam
sebuah agama. Di Inggris, jika di antara rakyat ada yang
berbeda aliran mazhabnya walaupun sesama pemeluk
kristen, akan ditangkap dan diadili. Bila dalam
pengadilan dia bertaubat dan pindah aliran, akan
diberikan ampunan berupa membunuhnya dengan
pedang. Bila tidak bertaubat, maka dia dibakar hidup-
hidup.
Kasus pelarangan jilbab di Perancis dan tuduhan
negatif bahwa umat Islam pelaku terorisme sudah
membuktikan hal ini. Benarkah di barat ada penerapan
ajaran Islam?
e. Makan Uang Haram
Orang barat yang sering diisukan jujur dan baik,
ternyata menghalalkan uang haram. Barat sangat
bersikukuh dengan sistem ekonomi yang berlandaskan
pada sistem riba. Padahal riba itu amat
menyengsarakan. Bahkan tingkatan keharaman riba
yang paling ringan sama dengan dosa berzina dengan
ibu sendiri.
Barat juga bertanggung-jawab atas penjarahan
kekayaan alam negeri-negeri jajahannya, bahkan sampai
hari ini tetap masih berlangsung. Lewat politik pasar
bebas dan globalisasi, intinya barat sedang merampas
harta dengan cara tidak halal.
Aneksasi sebuah negara seperti Iraq, tidak lebih dari
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


52
libido penjarahan harta milik orang lain atas nama
pasukan perdamaian dan recovery ekonomi.
Termasuk penjeratan hutang-hutang pihak barat
kepada negeri miskin, yang lebih jorok dari ulah para
rentenir. Hutang yang menjerat dan mencekik disebut
dengan bantuan lunak. Sebuah istilah basi yang sangat
menipu.
f. Hukum Bisa Dibeli dengan Uang
Di barat hukum bisa dibeli dengan uang. Bahkan
hukum dibuat oleh para pemegang uang. Sehingga
orang yang benar di dalam kasus hukum adalah orang
yang punya uang. Sedangkan orang yang bersalah
dalam pandangan hukum adalah orang yang tidak
punya uang.
Kalau pun di dunia Islam hal yang sama terjadi, tentu
semua itu adalah hasil impor dari dunia barat.
Bukankah barat telah menjajah dunia Islam selama
ratusan tahun?
g. Barat Tidak Bertuhan dan Menghinanya
Atas nama kemajuan berpikir dan kebebasan, barat
sejak dulu sudah ingkar kepada adanya tuhan. Uni
Sovyet yang komunis itu dilahirkan oleh barat dengan
berlandaskan pemikiran Karl Marx dengan buku Das
Kapitalnya. Mereka dengan terang-terangan
mengingkari tuhan dan agama. Bahkan melarangnya
serta mengatakan bahwa agama adalah candu dan
kejahatan.
Sementara penduduk eropa barat, Amerika dan
Australia, juga mengingkari keberadaan tuhan, meski
tidak terang-terangan. Namun mereka telah mengobrak-
abrik risalah nabi Isa alaihissalam sesuai dengan selera,
kepentingan, serta kesukaan mereka sendiri. Bahkan
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

53
mencampur-aduknya dengan kepercayaan syirik dan
keberhalaan.
Injil yang aslinya merupakan firman Allah SWT
kepada nabi Isa, juga merka kotori dengan tangan-
tangan mereka sendiri. Sehingga tidak layak lagi
menjadi sebuah kitab suci.
Masihkah kita menuduh mereka melakukan ajaran
Islam?
Barat Butuh Islam
Namun kita sadari bahwa tidak semua orang barat
jahat. Banyak juga di antara mereka yang baik.
Sayangnya, selama ini mereka kurang mendapat jatah
informasi tentang Islam.
Karena itu, menjadi tugas kita untuk menyampaikan
informasi ajaran Islam kepada mereka. Maka berbagai
Islamic center didirikan para ulama di barat. Dan
terbukti bahwa orang barat banyak yang awam
terhadap ajaran Islam.
Begitu mereka mengenal hakikat Islam, maka
berbondong-bondonglah mereka masuk Islam. Tak
terkecuali setelah peledakan WTC, justru orang semakin
penasaran dengan ajaran Islam. Di Australia tercatat
25.000 orang yang masuk Islam, justru pasca ledakan itu.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.
Boikot Amerika Berarti Juga Boikot Tahu dan Tempe
Assalamualaikum.w.w
Pak Ustad yang kami hormati, kita semua tahu
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


54
bahwa fatwa ketua forum ulama sedunia, yaitu Dr
Qardhawi dan pendapat dari para alim-ulama lainnya
bahwa kita wajib membantu perjuangan bangsa
Palestine.
Salah satu caranya adalah dengan memboikot
produk-produk Amerika, karena dari sanalah Israel
tetap kokoh berdiri
Yang saya tanyakan adalah ternyata Tahu dan Tempe
yang selama ini menjadi "makanan pokok" orang
Indonesia yang terbuat dari kedelai, sebagian besar
bahan baku kedelai di-Impor dari Amerika Serikat,
apakah kita juga perlu memboikotnya? Bagaimana sikap
kita mengenai hal ini?
Wassalamu'alaikum.w.w
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Urusan tempe dan tahu akhirnya jadi sebuah ironi
tersendiri. Selama ini kita tidak tahu, ternyata tempe dan
tahu yang kita kirabenar-benar produk umat Islam,
setidaknya produk dalam negeri, justru kedelainya
ditanam di Amerika.
Ternyata kita baru tahu bahwa bahan baku tempe,
tahu bahkan nasi yang kita makan, nyaris semua harus
kita beli dari 'musuh-musuh' kita sendiri.
Kalau bangsa ini dilarang makan American Food,
mungkin masih masuk akal. Sebab selain kebanyakan
orang tidak doyan makan ayam yang cuma digoreng,
harganya pun oleh rakyat desa kebanyakan, masih
menjadi problem tersendiri.
Tapi kami tidak bisa membayangkan kala bangsa ini
dilarang maka tahu dan tempe. Sebab keduanya adalah
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

55
makanan kebangsaan. Selain tentunya, karena harganya
yang amat terjangkau.
Menjadi Pribadi Yang Anti Amerika
Umat Islam boleh marah besar kepada Amerika. Dan
ulamanya boleh saja berfatwa untuk memboikot produk
negara itu. Dalam beberapa hal, kebijakan itu memang
efektif.
Tapi yang ingin kami katakan adalah yang namanya
boikot itu adalah bagian dari sebuah strategi perang
modern. Ketika kita boikot, bukan berarti hukumnya
mutlak. Namanya saja perang psikologis, jadi
kebijakannya tidak kaku.
Intinya sederhana, jangan sampai yang memboikot
justru yang tertekan. Di mana-mana, yang memboikot
itu adanya di atas angin, sedangkan pihak yang diboikot
adalah pihak yang ditekan. Tapi kalau kita 'haramkan'
bangsa ini dari tempe, rasanya perlu bicara panjang
lebar sebelumnya.
Sekarang coba Anda bayangkan seandainya anda
lahir di Amerika. Anggaplah keluarga anda mendapat
hidayat dan kebetulan beragama Islam, tetapi Anda
tetap tidak bisa melepaskan diri dari segala yang berbau
Amerika.
Mulai dari rumah sakit tempat anda lahir itu milik
Amerika, dokternya dokter Amerika, semua susu dan
makanan yang anda makan, diproduksi oleh Amerika.
Yang menarik untuk kita jadikan pertanyaan, apakah
dengan adanya seruan boikot itu maka seorang muslim
tidak boleh menjadi warga negara Amerika? Apakah
negara Amerika itu seluruhnya kafir sehingga haram
bagi seorang muslim menjadi penduduknya? Dan
apakah bila ada warga asli Amerika tiba-tiba masuk
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


56
Islam, mereka diwajibkan hijrah ke Arab Saudi atau
negara Islam lainnya?
Tentu semua akan semakin membingungkan, bukan?
Bukankah ketika anda sedang membaca tulisan ini,
banyak komponen di dalam komputer anda yangjuga
diproduksi oleh mereka? Bukankah perusahaan yang
memproduksi HP setia anda juga buatan mereka?
Bukankah saham perusahaan operatornya juga dimiliki
oleh mereka?
Kebijakan Rezim
Biar bagaimaa pun Amerika adalah sebuah negara,
yang dipimpin oleh sebuah rezim. Secara nalar, warna
kebijakan negara adidaya itu sangat ditentukan oleh
rezim yang berkuasa. Ketika ada kebijakan untuk
membantu Israel dan membunuh muslimin Palestina,
tentu ini menjadi tanggung jawab rezimnya, dan siapa
saja dari rakyatnya yang ikut menyetujui kebijakan
rezim itu.
Tapi kita juga tahu bahwa tidak semua rakyat
Amerika setuju dengan kebijakan yang tidak bijak.
Banyak di antara mereka yang menentangnya. Bahkan
banyak rakyat yang anti lobi yahudi yang terlanjur
menjadi jamur yang merongrong negara super power
itu.
Maka kita pun tidak bisa menggeneralisir masalah,
seolah apa pun yang datang dari Amerika berarti harus
diboikot dan diperangi. Karena alasan bahwa kebijakan
luar negeri Amerika yang zalim.
Ketika kemudian akhirnya kita tahu bahwa tempe
dan tahu yang kita makan itu toh ditanam di negara itu,
maka barulah sekarang ini kita mikir. Oh iya ya, kita
tidak bisa asal pukul rata.
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

57
Tentunya Dr. Yusuf Al-Qaradawi pun kalau tahu
bahwa bangsa Indonesia yang 200 juta ini makan tempe
dan tahu, dan ternyata kedelainya ditanam di Amerika,
tentu beliau juga tidak lantas main haramkan juga. Bisa
pada mati kelaparan bangsa ini.
Maka setiap kebijakan boikot itu tidak berlaku
mutlak, mungki akan ideal untuk diterapkan di suatu
negeri, namun belum tentu tepat untuk diterapkan di
negeri lain. Setidaknya, perlu ada studi yang panjang
dan mendalam.
Di beberapa negera Teluk dan sekitarnya, di mana
kehidupan bangsa muslim di sana telah menjadi
American minded, seruan boikot itu memang cukup
berhasil.
Akan tetapi kalau bangsa Indonesia disuruh berhenti
makan tahu dan tempe, tentu masalahnya tidak
sederhana. Sudah daging dan ikan tak kuat beli, tinggal
ada tahu dan tempe, masih mau dilarang pula. Nanti
kalau kita tahu bahwa beras pun kita masi impor, dan
ternyata impornya dari negara yang kita anggap musuh
Islam, akhirnya kita kembali makan singkong.
Kasihan juga bangsa ini.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Haruskah Kita Boikot Produk Asing?
Assalamu'alaikum wr, wb.
Beberapa minggu yang lalu di kuliah PAI, teman
sekelas saya bertanya tentang haram-tidaknya produk-
produk amerika yang diduga menysihkan sebagian
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


58
labanya untuk mendanai Israel.
Saya sudah sejak lama mendengar wacana ini. Saya
jelas menentang tindakan perusahaan-perusahaan
tersebut. namun yang masih menjadi ganjalan di hati
saya ialah, selama ini saya hanya mendengar ajakan
untuk memboikot produk-produk tersebut saja.
Belum pernah saya melihat bukti bahwa perusahaan-
perusahaan tersebut mendonasikan labanya untuk
israel. Kalau yang dimaksuk dana untuk israel adalah
pajak yang dibayarkan perusahaan-perusahaan tersebut
untuk pemerintah AS lantas oleh AS uang tersebut
diberikan sebagian untuk Israel, bukankah kalo begitu
berarti kita harus memboikot seluruh produk AS?
Tapi apakah mungkin INDONESIA memboikot
seluruh produk AS, menilik ketergantungan ekonomi
kita yang sangat besar pada AS?
Sekiranya bapak ahmad sarwat berkenan menjawab
pertanyaan saya. Terimakasih sebelumnya.
Wassalaamu'alaikum wr, wb.
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Seruan untuk memboikot produk Israel dan Amerika
memang sangat terkait dengan politik perang ekonomi.
Boleh jadi sebenarnya secara hukum thaharah, produk
makanan atau minuman itu halal. Karena dibuat tanpa
melanggar aturan dalam syariah.
Namun yang menjadi titik masalah adalah efek
priskologis di bidang ekonomi. Dan konon di beberapa
negara Arab yang sebelumnya masyarakat sangat
konsumtif terhadap produk Israel, begitu para ulama
mengumandangkan ajakan boikot, banyak yang merugi
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

59
dan gulung tikar.
Kenapa di negeri ini kita tidak tahu? Ada banyak
sebab. Salah satunya memang produk-produk Israel itu
memang tidak beredar di negeri kita. Sehingga kita tidak
merasakan langsung pengaruh dari pemboikotan itu.
Apalagi seruan itu ternyata bukan hanya disambut
oleh umat Islam di Timur Tengah saja, tetapi beberapa
kelompok masyarakat di Eropa yang nota bene bukan
muslim, juga ikut memboikot produk Israel itu.
Motivasinya tentu karena kemanusiaan. Sebab apa yang
dilakukan Israel benar-benar bertentangan denga nilai-
nilai kemanusiaan, bukan hanya sekedar tidak suka
kepada umat Islam.
Adapun produk negara Amerika yang memang
sangat banyak itu, memang kita di Indonesia belum
menyaksikan langsung gonjang-ganjing akibat
pemboikotan. Sebab seperti yang anda sebutkan, jumlah
item produk merekabegitu banyak dan bukan hanya
yang dikonsumsi oleh masyarakat. Bahkan negara kita
pun menjadi salah satu konsumennya.
Beberapa jenis pesawat terbang, senjata, mesin serta
alat berat masih kita beli dari Amerika. Dan nyaris saat
ini kelihatan tidak mungkin bila tiba-tiba kita tidak
membeli dari mereka. Kalau melihat kondisi ini,
sebenarnya yang butuh bukan Amerika tetapi kita.
Lihatlah bagaimana TNI AUpernah diboikot oleh
pabrikan pesawat terbang di Amerika, sehingga mereka
tidak mau menjual spare-part pesawat. Akibatnya,
begitu banyak pesawat kita yang tidak bisa terbang.
Namun seruan untuk boikot itu tetap sangat efektif
dan ampuh. Sebab memboikot adalah hak kita sebagai
konsumen. Tinggal kita pilih-pilih mana yang lebih
strategis untuk diboikot. Tentu tidak semua produk
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


60
Amerika bisa dengan mudah diboikot. Ada banyak
produk yang nyaris kita bisa memboikotnya, karena
kenyataanya kita memang butuh. Lucunya, kita pun
masih belum berniat untuk memproduk sendiri.
Dahulu bangsa Indonesia bisa bangga punya industri
pesawat terbang, tapi kini semua tinggal kenangan.
Entah salah urus atau salah kebijakan, yang jelas ribuan
pegawai pabrik pesawat terbang di negeri ini jadi
pengangguran. Konon pabrik itu sekarang hanya
memproduksi panci untuk kebutuhan perlengkapan
dapur. Sungguh mengenaskan.
Sebenarnya, bangsa ini bukan tidak punya putera
terbaik yang bisa bikin produk canggih dan murah.
Masalahnya terletak pada kebijakan penguasa yang
tidak bijak dan kurang berjiwa nasionalisme. Barangkali
otak mereka sudah teracuni dengan doktrin ekonomi
barat yang kapitalis. Sehingga kurang memberi ruang
dan kesempatan kepada produk dalam negeri sendiri
untuk berkembang.
Akibatnya terjadi braindrain, sebuah istilah untuk
mengungkapkan fenomena perginya ilmuwan dan
tenaga ahli dari negeri sendiri ke luar negeri, akibat
tidak dihargainya peran mereka oleh bangsa sendiri.
Tiap tahun ribuan putera-puteri terbaik bangsa ini
yang hijrah ke negeri lain dan bekerja untuk
kepentingan pembangunan di negeri itu. Alasannya
sangat klasik, di sana mereka digaji tinggi sementara di
sini, gaji mereka hanya terpaut tipis dengan para buruh
kasar.
Walhasil negeri ini miskin produksi, tidak punya
SDM, tidak punya modal untuk mengembangkan
sendiri industri dalam negeri. Bahkan SDM yang berada
di level paling dasar sekalipun, antri untuk bekerja
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

61
menjadi buruh apa saja di luar negeri.
Ketika datang seruan untuk memboikot produk
yahudi dan Amerika, barulah kita sadar. Rupanya
semua yang kita makan, minum dan pakai, mulai dari
ujung rambut hingga ujung kaki, semua produk musuh
Islam. Dan kita seolah baru bangun dari tidur, ternyata
kita tidak bisa hidup kecuali menjadi konsumen setia
industri musuh Allah.
Masalah ini menjadi pelajaran bagi kita bangsa
muslim, untuk mulia berpikir lebih jauh. Jangan sampai
hidup kita bergantung dari membeli produk orang lain.
Sementara produk bangsa sendiri tidak dipikirkan.
Untuk itu, marilah kita mulia dari yang paling
mudah dan sederhana. Kita belum bisa terlalu ideal
memang, tetapi bukan berarti apa yang tidak bisa
dikerjakan semuanya lalu ditinggalkan semuanya.
Pepatah Arab sering mengungkapkan dengan
untaian kalimat: maa laa yudraku kulluhu laa yutraku
julluhu. Sesuatu yang tidak bisa didapat semuanya,
tidak harus ditinggalkan semuanya.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Hukum Wisata ke Negeri Non Muslim
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Saya pernah baca bahwa kaum muslimin tidak
diperbolehkan mengunjungi tempat-tempat yang
pernah di-azab Allah hingga jika sampai
melewatinyapun diperintah untuk istighfar dan
Rasulullahpun pernah menghancurkan sarana
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


62
kemusyrikan (patung-patung) di Mekah/ Ka'bah.
Bagaimana hukum mengunjungi/ wisata (dg alasan
tadabur alam) ke negeri non Muslim ? Bukankah disana
sentralnya kemusyrikan ? Mohon penjelasan dan
solusinya, sukron.
Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Menurut mufti Dr. Muhammad Al-Faqih, khabar
bahwaRasulullah SAW pernah melewati Laut Mati (the
Death Sea) dalam perjalanan perang dan melarang
umatnya mendekatinya karena merupakan negeri yang
pernah dihancurkan atau diadzab Allah pada zaman
dahulu, adalah khabar yang tidak shahih.
Dan kalau kita teliti dalam Sirah Nabawiyah,
Rasulullah SAW tercatat hanya 3 kali saja seumur
hidupnya datang ke negeri Syam. Pertama dan kedua,
saat beliau belum diangkat menjadi Nabi, dimana beliau
melakukan perjalanan niaga kesana, baik bersama
pamannya atau pun bersama Maisarah bekerjasama
dengan Khadijah sebagi pemilik modal. Ketiga, adalah
saat peristiwa Isra' dan Mi'raj.
Dan meski beliau SAW ikut serta dalam perang
Tabuk, dimana arahnya memang ke Syam, posisinya
masih sangat jauh dari Laut Mati yang ada di Syam.
Tabuk kini adalah kota yang masih dalam wilayah
Kerajaan Saudi Arabia.
Selebihnya, tidak ada riwayat yang shahih yang
menyebutkan bahwa beliau datang ke Syam yang disana
terdapat Laut Mati. Dan tentunya, isyu adanya larangan
beliau untuk tidak mendatangi Laut Mati karena
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

63
merupakan arean adzab Allah pun tidak kuat dasarnya.
Intinya, tidak semua negeri yang pernah dihancurkan
lantas berarti kita tidak boleh mengunjunginya hari ini.
Bukankah dahulu Firaun (Ramses II) pernah
berkuasa dan menjadi penguasa lalim di Mesir, lalu
Allah hancurkan dia dan bala tentaranya. Lantas,
apakah haram hukumnya kita tinggal di Mesir, hanya
karena Firaun pernah tinggal disana? Dan apakah kita
haram melintasi Laut Merah karena dahulu Firaun dan
balatentaranya mati tenggelam di Laut Merah.
Kaum Tsamud juga pernah dibinasakan Allah,
padahal mereka pernah membangun peradaban besar.
Salah satu peninggalan mereka adalah bukit yang diukir
menjadi bangunan yang tinggi dan megah. Manusia di
zaman sekarang ini pun belum tentu mampu
membangunnya. Lalu kaum Tsamud dimusnahkan
Allah. Lantas apakah kita diharamkan tinggal di negeri
yang dulunya ada bangsa yang diadzab Allah?
Lalu bagaimana dengan banjir di zaman Nabi Nuh?
Bukankah banjir itu konon menenggelamkan sekian
banyak wilayah di bumi. Apakah kita diharamkan
tinggal di negeri yang pernah ada banjir Nabi Nuh?
Tentu jawaban dari semua itu adalah : TIDAK.
Nabi Menghancurkan Berhala
Raslullah SAW memang pernah menghancurkan
patung dan berhala yang ada di sekitar Ka'bah. Ini kisah
yang benar dan tidak bisa dipungkiri.
Namun peristiwa ini terjadi setelah Rasullah SAW
berdakwah selama 13 tahun di Mekkah. Beliau setiap
hari shalat di depan ka'bah, ditemani 360-an berhala.
Sepanjang 13 tahun itu beliau sama sekali tidak pernah
diriwayatkan menghancurkan berhala di depan Ka'bah.
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


64
Penghancuran berhala baru terjadi saat penduduk
Mekkah masuk Islam secara berbondong-bondong.
Bahkan penduduk Mekkah ikut serta dalam proses
penghancuran Ka'bah, karena mereka sudah masuk
Islam.
Tentu hukumnya beda dengan sikap kita kepada
rumah ibadah agama lain. Di dalam syariah Islam,
haram hukumnya umat Islam menghancurkan rumah
ibadah agama lain. Terutama rumah ibadah yang ada di
negeri muslim, dimana para pemeluk agamanya sudah
terikat perjanjian damai dengan penguasa muslim.
Betlehem yang diyakini sebagai tempat suci umat
Kristiani, ketika jatuh ke tangan umat Islam lewat
penaklukan, juga tidak dihancurkan oleh Amirul
Mukminin Umar bin Al-Khattab radhiyallahu anhu.
Demikian juga gereja-gereja yang ada di Mesir, tidak
dirusak oleh Amr bin Al-Ash tatkala menaklukkannya.
Gereja megah Aya Sofia pun tetap masih berdiri
kokoh hingga hari ini di Istambul. Padahal umat Islam
berkuasa disana hingga 800-an tahun. Pagoda, Vihara
dan Kuil yang ada di India pun masih utuh hingga hari
ini, padahal umat Islam berkuasa disana ratusan tahun.
Para wali songo pun juga tidak pernah merusak candi
Borobudur atau Prambanan serta ratusan candi lainnya.
Sebab syariah Islam tidak diturunkan untuk merusak
atau merobohkan tempat ibadah agama lain.
Dan menghancurkan candi, gereja, biara, kuil, di
negeri kita juga termasuk haram hukumnya.
Muslim Masuk Tempat Ibadah Orang Kafir
Pada dasarnya tempat yang diharamkan untuk
dimasuki oleh seorang muslim bukanlah tempat-tempat
ibadah agama lain. Yang diharamkan untuk dihadiri
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

65
tempat ibadah agama lain bila di dalamnya sedangkan
dilakukan peribadatan,
Dalilnya adalah firman Allah SWT

Katakanlah,"Hai orang kafir, Aku tidak menyembah


apa yang kamu sembah. Kamu bukan penyembah
tuhan yang kami sembah. Dan Aku bukan
penyembah tuhan yang kamu sembah. Dan kamu
bukan penyembah tuhan yang aku sembah. Bagimu
agamamu dan bagiku agamaku. (QS. Al-Kafirun : 1-
6)
Sedangkan hukum memasuki rumah ibadah agama
lain, apabila sedang tidak dilakukan ritual ibadah, pada
dasarnya tidak ada larangan.
Diriwayatkan bahwa Umar bin Al-Khattab
radhiyallahu anhu berkata,"Janganlah kalian masuk
ke rumah ibadah agama lain pada saat hari perayaan
ibadah mereka. Karena murka Allah turun kepada
mereka. (HR Al-Baihaqi dalam As-Sunan 9/234,
Abdurrazaq dalam Al-Mushannif, no. 1609)
Lihat Iqtidha Shirath Al-Mustaqim karya Syaikhul
Islam 1/455 dan juga kitab Al-Adab Asy-Syar'iyah jilid 3
halaman 442.
Diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Abu Musa
radhiyallahu anhuma dalam kitab Asy-Syarh, bahwa
tidak ada larangan untuk melakukan shalat di dalam
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


66
tempat ibadah agama lain, asalkan suci atau bersih dari
najis.
Mazhab Al-Hanabilah membolehkan seorang muslim
melakukan shalat di dalam rumah ibadah agama lain,
tanpa karahah.
Al-Kasani dari mazhab Al-Hanafiyah mengatakan
bahwa tidak terlarang hukumnya bagi seorang muslim
untuk shalat di dalam rumah ibadah agama lain, asalkan
bukan dengan berjamaah.
Kalau pun Al-Hanafiyah memakruhkan seorang
muslim masuk ke rumah ibadah agama lain,
penyebabnya bukan karena keberadaan rumah ibadah
itu, melainkan mereka meyakini bahwa di dalamnya
banyak syetan yang berkumpul. Namun tetap saja
mereka tidak sampai mengharamkannya.
Sedangkan mazhab Asy-Syafi'iyah ketika melarang
umat muslim memasuki rumah ibadah agama lain,
alasannya hanya bila hal itu tidak mendapat izin dari
pemeluk agama yang bersangkutan. Sebaliknya, bila
mereka sendiri mengizinkan, maka tidak ada larangan
untuk memasukinya.
Sedangkan Al-Imam Ibnu Tamim menegaskan bahwa
tidak ada larangan buat seorang muslim untuk
memasuki rumah ibadah agama lain, bahkan untuk
shalat di dalamnya, selama tidak ada patung yang
disembah.
Berbeda dengan semua fatwa di atas, Lajnah Daimah
Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta milik Kerajaan Saudi
Arabia saat ditanya tentang hukum masuknya seorang
muslim ke gereja, baik itu untuk menghadiri
sembahyang mereka atau mendengarkan ceramah,
mereka mengatakan bahwa seorang muslim tidak boleh
masuk ke tempat-tempat ibadah kaum kuffar karena
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

67
banyaknya keburukan mereka.
Lalu Wisata ke negeri Non Muslim, Haramkah?
Setelah berputar-putar kesana kemari, sekarang
mungkin antum akan bertanya to the point, kalau begitu
berwisata ke negeri non muslim buat seorang muslim,
haram apa tidak?
Jawabannya pada dasarnya berwisata kesana tidak
terlarang, karena tidak semua objek wisata di negara itu
selalu negatif dan maksiat. Disana ada wisata alam yang
indah, baik pegunungan dengan hamparan sawah
menghijau, atau laut lepas dengan pasir yang nyaman
untuk melepas lelah dan kepenatan. Bahkan juga
tersedia arena bemain anak-anak yang positif dan
mendidik. Ini bukan promosi tapi ini realita.
Wisata ke negeri non muslim baru terlarang dan
haram bila selama disana kita melakukan hal-hal yang
nyata-nyata diharamkan. Misalnya, ikut berbagai ritual
peribadatan agama lain, seperti ikut memberikan sesaji,
termasuk ikut mempercayai tahayul dan kepercayaan-
kepercayaan mereka. Ini jelas haram hukumnya secara
mutlak.
Juga termasuk haram bila disana kita melakukan
wisata dengan melanggar ketentuan Allah seperti
mabuk, minum khamar, pesta seks, berzina, cuci mata
menonton aurat wanita, atau ikut mengumbar aurat
juga. Walau pun tempatnya di pantai, bukan berarti
lantas mengumbar aurat jadi boleh.
Apalagi bila wisata itu menggunakan uang hasil nilep
uang negara yang haram hukumnya, seperti hasil
korupsi, uang sogokan, apa pun namanya. Tentu
hukumnya haram 2 kali lipat.
Selama berwisata, sebagai muslim tetap wajib shalat
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


68
fardhu, walau pun dijama' atau qashar. Dan haram
hukumnya kita makan di sembarang tempat kecuali kita
yakin kehalalannya.
Urusan oleh-oleh, tetap haram buat kita beli oleh-oleh
berupa patung, walau pun sekedar buat hiasan. Karena
Islam mengharamkan patung dari makhluk bernyawa
atau benda hidup, mulai dari jual-belinya sampai
memajangnya di dalam rumah. kalau merupakan
representasi dari setan atau dewa dan sejenisnya, juga
termasuk hal yang haram dimiliki buat seorang muslim.
Kalau mau beli souvenir, carilah yang gambarnya
pemandangan alam, baik laut atau pohon-pohon. Jangan
yang gambar maksiat atau tempat ibadah agama lain.
Lepas dari semua itu, berwisata ke wilayah Islam
tentu tetap lebih utama, apalagi bila bisa sekalian
Umroh ke tanah suci. Misalnya berwisata ke Spanyol
untuk melihat bagaimana megahnya peradaban Islam
berjaya lebih dari 500 tahun lamanya. Atau ke Turki
yang juga masih menjadi saksi kejayaan khilafah Islam
terakhir.
Tapi buat saya dan teman-teman yang pas-pasan,
wisata ke masjid Istiqlal di Jakarta pun jadilah. Murah,
meriah, bahkan tidak bayar alias gratis. Jadi mungkin ini
lebih cocok buat saya. Cukup bawa nasi bungkus dari
rumah, kita bisa berwisata seharian sambil i'tikaf dan
menyelesaikan bacaan Quran. Paling-paling orang
bilang, wisata kok gratisan. Kita jawab, biarin aja, yang
penting hati senang. Ya, nggak?
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc

Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

69

Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

71
Bab Ketiga
Agama & Aqidah
Ahli Kitab Sekarang dan di Masa Nabi Sama?
Dalam penjelasan ustadz mengenai perbedaan agama
dalam perkawinan disebutkan sebagai berikut:
"Jumhur ulama memang menghalalkan pernikahan
beda agama, asalkan yang laki-laki muslim dan yang
perempuan wanita ahli kitab (baca: Nasrani atau
Yahudi). Adapun bila yang laki-laki bukan muslim dan
yang wanita muslimah, hukumnya haram."
Yang menjadi pertanyaan adalah pengertian ahli
kitab, apakah sama dengan kaum Nasrani dan Yahudi,
mengingat ahli kitab yang dimaksudkan adalah ahli
kitab atas kitab Taurat dan Injil yang masih asli (seperti
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


72
paman dari Khadijah waktu meyakini kenabian Nabi
Muhammad bukan para pendeta atau rahib) sedangkan
kaum Nasrani dan Yahudi saat ini keaslian akan Taurat
dan Injilnya sudah diragukan keasliannya. Mohon
penjelasan ustadz mengenai pengertian saya ini. Atas
penjelasan ustadz saya ucapkan terimakasih dan
sebelumnya mohon maaf apabila pengertian saya
tersebut salah.
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Kehalalan laki-laki muslim menikahi wanita ahli
kitab itu bukan hal yang mengada-ada, melainkan
kesimpulan hukum yang dikemukakan oleh para ulama
besar. Bahkan para pendiri mazhab yang empat itu
sepakat membenarkannya.
Salah besar bila dituduhkan bahwa kebolehan itu
dikatakan sebagai pemikiran keliru atau mengada-ada,
justru kitab-kitab fiqih yang muktamad dan menjadi
rujukan para ulama memang menuliskannya dengan
tegas tentang kebolehan laki-laki muslim menikahi
wanita ahli kitab. Mereka yang berpikiran seperti itu
perlu lebih banyak lagi membaca dan mendalami ilmu
syariah, agar tidak dengan mudah menuduh dan
terlanjur mencaci maki siapapun, padahal dia sendiri
tidak punya ilmunya.
Bahkan Al-Quran Al-Kariem pun secara tegas
membolehkannya.
Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik.
Makanan orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal
bagimu, dan makanan kamu halal bagi mereka.
wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

73
wanita yang beriman dan wanita-wanita yang
menjaga kehormatan di antara orang-orang yang
diberi Al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah
membayar mas kawin mereka dengan maksud
menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak
menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang
kafir sesudah beriman maka hapuslah amalannya dan
ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi. (QS.
Al-Maidah: 5)
Lagi pula bila disebutkan hukumnya halal, tidak
berarti kita harus melakukannya. Yang namanya halal
itu hanya sekedar boleh dan bukan sebuah keharusan.
Dan di balik kehalalan hukumnya, tetap saja ada
pertimbangan-pertimbangan taktis dan strategis yang
juga perlu diperhitungkan. Di situ para ulama dan
pemimpin Islam punya hak untuk membuat kebijakan-
kebijakan yang populis dan produktif.
Maka kita pun mendukung fatwa Majelis Ulama
Indonesia (MUI) yang cenderung melarangnya.
Mengingat kondisi kita di Indonesia, pernikahan
campur memang sudah sangat merugikan umat Islam.
Sebab proses pemurtadan yang selama ini berlangsung
memang di antaranya melalui nikah beda agama.
Sebuah fenomena yang berbebeda dengan keadaan
umat Islam di Barat. Pernikahan campur di sana
ternyata malah bernilai positif, karena dengan
menikahnya laki-laki muslim dengan wanita ahli kitab,
terjadilah proses Islamisasi yang dahsyat.
Yang kedua adalah berkaitan dengan pendidikan
anak. Sebagaimana kita tahu orang yang paling
berpengaruh dalam pendidikan anak adalah ibu, karena
umumnya ibu lebih dekat dengan mereka. Kalau ibu
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


74
mereka bukan muslimah, pendidikan Islam seperti apa
yang akan mereka terima. Belum lagi kalau anak-anak
itu belajar aqidah yang intinya akan menyimpulkan
bahwa orang yang bukan muslim akan masuk neraka.
Bagaimana perasaan mereka bila tahu bahwa ibu
mereka pasti masuk neraka karena bukan muslimah?
Apalagi ada resiko anak-anak akan diperkenalkan
dengan budaya Nasrani, seperti ke gereja, natalan dan
menyembah nabi Isa as. Maka akan semakin parah
kondisi anak-anak anda nantinya.
Siapakah Ahli Kitab?
Masalahnya kini tinggal kita perlu menjawab
pertanyaan, siapakah yang dimaksud dengan ahli kitab?
Benarkah ahli kitab itu hanya terbatas pada mereka yang
beriman kepada Taurat dan Injil yang asli saja?
Tentu saja para ulama berbeda pendapat dalam
diskusi yang cukup panjang dan melelahkan. Bahkan
sebagian lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud
ahli kitab hanyalah mereka yang punya darah asli dari
keturunan yahudi dan nasrani saja. Maksudnya dari
keturunan Bani Israil saja. Sedangkan ras manusia di
luar keturunan Bani Israil, tidak termasuk ahli kitab.
Tentu saja kita perlu menghargai berbagai pendapat
dan hujjah yang dikemukakan banyak pihak. Meski pun
perlu juga kita cermati dengan jujur bahwa masing-
masing pendapat itu sulit untuk terlepas dari celah
kelemahan.
Tidak Sucinya Kitab Mereka Sekarang Ini
Sebagian pendapat mengatakan bahwa ahli kitab di
zaman sekarang ini sudah tidak ada lagi, seiring dengan
sudah tidak murninya kitab suci umat kristiani.
Pendapat ini benar dan banyak juga yang
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

75
mendukungnya.
Namun perlu juga diketahui bahwa perbuatan
memalsu isi kitab suci, memutar-balik ayat dan bahkan
menyelewengkannya sudah terjadi sejak sebelum nabi
Muhammad dilahirkan. Bahkan salah satu hikmah
diutusnya Nabi Muhammad SAW justru karena sudah
dipalsukannya kitab-kitab suci yang turun sebelumnya.
Ketika Al-Quran mengatakan bahwa yahudi dan
nasrani sesat, memang karena di zaman itu sudah sesat
sebelumnya. Al-Quran tidak berbicara tentang kesesatan
mereka untuk masa sekarang ini saja. Ketika Al-Quran
mengancam mereka karena merusak keaslian kitab suci,
juga bukan yang terjadi di masa kita sekarang ini,
melainkan karena hal itu sudah terjadidi masa nabi
Muhammad SAW dan bahkan sebelum lahirnya beliau.
Artinya, tidak tepat kalau kita menyimpulkan bahwa
Yahudi dan Nasrani di masa nabi tidak memalsukan
kitab suci, sehingga wanita mereka halal dinikahi. Dan
juga tidak tepat bila dikatakan bahwa wanita Yahudi
dan Nasrani di zaman sekarang ini haram dinikahi
karena baru sekarang ini mereka memalsu kitab suci.
Yang benar adalah Yahudi dan Nasrani sudah
memalsu kitab suci, merusak isinya, menodainya,
bahkan menjualnya dengan harga yang sedikit sejak
sebelum Al-Quran diturunkan, namun bersama dengan
itu Al-Quran membolehkan laki-laki muslim menikahi
wanita mereka.
Adapun Paman Khadijah yang disebut-sebut masih
menggunakan Injil yang asli, tentu tidak mencerminkan
bahwa semua pemeluk Nasrani di masa itu masih
memegang injil asli. Sebab di masa sekarang ini pun
masih ada kelompok Nasrani tertentu yang disebut-
sebut masih menggunakan injil yang 'asli'. Sebutlah
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


76
misalnya Injil Barnabas sebagai contoh. Keberadaan
pemeluk kristen di zaman sekarang yang
berinjilbarnabas itu tidak bisa dijadikan kesimpulan
bahwa sekarang ini semua orang Kristen masih
menggunakan Injil asli.
Sementara Al-Quran dengan tegas mengkafirkan
pemeluk agama Nasrani, lepas dari urusan keaslian Injil
mereka, yaitu karena mereka telah menuhankan nabi Isa
as atau telah mengatakan bahwa tuhan itu tiga.
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang
berkata, "Sesungguhnya Allah itu ialah Al-Masih
putera Maryam". (QS. Al-Maidah: 17)
Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang
mengatakan, "Bahwasanya Allah salah seorang dari
yang tiga", padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain
dari Tuhan Yang Esa. (QS. Al-Maidah: 73)
Sejak masa Nabi SAW masih hidup, orang-orang
kristen di masa itu sudah mengubah injil, menyembah
nabi Isa dan menganut tirinitas. Dan bersama dengan
itu, Al-Quran membolehkan laki-laki muslim menikahi
wanita kristen. Jadi nyaris tidak ada bedanya antara
kerusakan kristen di masa Nabi SAW dengan sekarang.
Yang sekarang pun mengubah injil, menyembah nabi Isa
dan menganut tirinitas. Lalu mengapa hukumnya harus
dibedakan?
Yahudi dan Nasrani Musyrik?
Sebagian orang berpendapat bahwa laki-laki muslim
diharamkan menikahi wanita yahudi dan nasrani,
karena mereka justru melakukan kemusyrikan.
Sedangkan Al-Quran mengharamkan laki-laki muslim
menikahi wanita musyrik.
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

77
Pendapat ini juga benar dan banyak didukung oleh
umat Islam. BahkanIbnu Umar mengatakan bahwa
pemeluk agama ahli kitab itu pada dasarnya musyrik
dan haram dinikahi. Sebab tidak ada kemusyrikan yang
melebihi perbuatan seorang menyembah nabi Isa. Selain
itu ada Ibnu Hazm yang mengatakan bahwa tidak ada
yang lebih musyrik dari orang yang mengatakan bahwa
tuhannya adalah Isa.
Kita pun perlu menghargai pendapat ini dan
memang dalam banyak hal, tetap ada nilai-nilai
kebenarannya.
Namun perlu juga dicermati bahwa penggunaan
istilah orang musyrik itu tidak selalu identik dengan
orang yang melakukan praktek syirik. Kalau kita lihat
pengistilahan Al-Quran, ternyata istilah orang musyrik
itu memang dibedakan dengan ahli kitab. Meski dua-
duanya sama-sama kafir dan pasti masuk neraka.
Tetapi orang yang mengerjakan perbuatan syirik
tidak otomatis menjadi orang musyrik. Sebab ketika Al-
Quran menyebut istilah 'orang musyrik', yang
dimaksudadalah orang kafir, bukan sekedar orang
yangmelakukan perbuatan syirik.Apakah kalau ada
seorang muslim datang ke kuburan karena dia kurang
ilmunya, lalu meminta kepada kuburan, lantas dia
langsung jadi kafir? Apakah seorang yang percaya
dengan ramalan bintang (zodiak) itu juga bukan
muslim? Bukankah ketika seorang bersikap riya juga
merupakan bagian dari syirik juga?
Tentu tidak, orang yang terlanjur berlaku riya tentu
tidak bisa disamakan dengan orang musyrik penyembah
berhala yang pasti masuk neraka.
Bukankah bila seorang datang kepada dukun,
percaya pada ramalan bintang, percaya kepada burung
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


78
yang terbang melintas, percaya bahwa ruh dalam kubur
bisa mendatangkan bahaya dan sejenisnya juga
merupakan perbuatan syirik? Dan berapa banyak umat
Islam yang hingga hari ini masih saja berkutat dengan
hal itu?
Tentu saja mereka tidak bisa dikatakan kafir, non
muslim atau pun dikatergorikan sebagai pemeluk
agama paganis dan penyembah berhala.
Sebab ayat yang mengharamkan muslim menikahi
wanita musyrik itu maksudnya adalah wanita yang
belum masuk Islam. Bukan orang yang pernah
melakukan perbuatan yang termasuk kategori syirik.
Dan perbuatan syirik yang mereka lakukan itu tidaklah
membuat mereka keluar dari Islam.
Bukan Ahli Kitab: Yahudi atau Nasrani
Yang dimaksud dengan orang musyrik yang tidak
boleh dinikahi juga bukan non muslim ahli kitab
(nasrani atau yahudi). Tetapi yang dimaksud adalah
mereka yang beragama majusi yang menyembah api,
atau agama para penyembah berhala seperti kafir
Quraisy di masa lalu. Dan bisa juga agama para
penyembah matahari seperti agamanya orang jepang
dan lainnya.
Musyrikin itu dalam hukum Islam dibedakan dengan
ahli kitab, meski sama-sama kafirnya. Pemeluk agama
ahli kitab itu secara hukum masih mendapatkan
perlakuan yang khusus ketimbang pemeluk agama
berhala lainnya. Misalnya tentang kebolehan bagi laki-
laki muslim untuk menikahi wanita ahli kitab. Juga
tentang kebolehan umat Islam memakan daging
sembelihan mereka. Sesuatu yang secara mutlak
diharamkan bila terhadap kafir selain ahli kitab.
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

79
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.
Saudara Non Muslim sebagai Ahli Waris
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Pak Ustaz, kami sembilan bersaudara, 5 orang kakak
kami beragama Nasrani, dan 4 orang termasuk saya
muslim, kebetulan saya anak bungsu. Ibu bapak kami,
keduanya muslim, sudah meninggal dunia beberapa
tahun yang lalu. Orang tua kami meninggalkan 1 buah
rumah cukup besar, dan saat ini agak terlantar karena
tidak terawat. Dan kami semuanya sudah memiliki
rumah masing-masing.
Kami saudara yang muslim sepakat untuk menjual
rumah tersebut, kemudian hasilnya akan dibagikan
sebagai waris, kepada ahli warisnya. Namun saudara
yang Nasrani menolaknya, dengan alasan sebelum
Bapak wafat, pernah berwasiat (katanya) bahwa rumah
tersebut jangan dijual.
1. Apakah rumah tersebut boleh dijual atau tidak,
karena kata kakak saya yang Nasrani bapak pernah
berwasiat untuk tidak menjual rumah tersebut,
walaupun pada ahirnya tidak ada manfaat dari rumah
tersebut.
2. Apakah saudara yang Nasrani (kakak-kakak saya)
masih berhak sebagai ahli waris, mengingat bahwa
kedua orang tua kami adalah muslim?
Demikian, terima kasih atas jawabannya.
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatulahi wabarakatuh,
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


80
Setiap seorang yang wafat dan memiliki harta benda,
maka harta benda miliknya akan berubah status pemilik.
Dalam hal ini menjadi milik ahli warisnya.
Kalau rumah peninggalan dari ayah itu sudah dibagi
waris, maka ahli waris sepenuhnya sudah jadi pemilik.
Dan sebagai pemilik, tentu saja berhak untuk melakukan
apa pun atas hak miliknya. Mau dijual, disewakan, di
tempati sendiri atau mau dirobohkan, semua
merupakan hak sepenuhnya dari pemilik baru.
Orang yang sudah wafat, tidak punya lagi hak atas
harta benda yang selama ini menjadi miliknya.
Kematian telah memisahkan dirinya dengan harta benda
miliknya.
Ahli Waris Bukan Muslim
Ada tiga yang menjadi penghalang warisan. Atau
dikenal dengan istilah mawani'. Yang pertama adalah
pembunuhan. Yang keduanya adalah beda agama. Dan
yang ketiga adalah perbudakan.
Dalam mawani' yang kedua, yaitu beda agama,
pengertiannya adalah bila seorang muwarrist (orang
yang meninggal dunia dan memiliki harta untukdibagi
waris) dan ahli waris berbeda agama, maka tidak terjadi
pewarisan antara kedua. Beda agama di sini maksudnya
salah satunya muslim dan satunya lagi bukan muslim.
Maka kakak anda yang kafir itu tidak berhak atas
harta muwarrits-nya (ayah atau ibunya). Karena ayah
dan ibunya muslim, sedangkan dirinya bukan muslim.
Maka gugurlah haknya untuk mendapatkan warisan.
Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW:

Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

81
Tidaklah berhak seorang muslim mewarisi orang
kafir, dan tidak pula orang kafir mewarisi muslim.
(Bukhari dan Muslim)
Kekafiran bukan saja memutuskan jalur pewarisan,
juga memutus jalur nasab secara hukum. Misalnya,
seorang wanita yang muslimah dan ayahnya kafir selain
ahli kitab, maka secara hukum syariah, ayahnya itu
tidak memenuhi syarat sebagai wali nikah atas dirinya.
Sebab salah satu syarat untuk seorang wali nikah
adalah bahwa orang itu harus beragama Islam.
Bila Muwarrits Kafir dan Ahli Waris Muslim
Apabila muwarrits-nya kafir sedangkan ahli
warisnya muslim, ada perbedaan pendapat di kalangan
ulama. Sebagian ulama mengatakan bahwa ahli waris
muslim tetap mendapat harta warisan dari muwarrits
yang kafir. Mereka mengaku bersandar pada pendapat
Mu'adz bin Jabal r.a. yang mengatakan bahwa seorang
muslim boleh mewarisi orang kafir, tetapi tidak boleh
mewariskan kepada orang kafir. Alasan mereka adalah
bahwa al-Islam ya'lu (unggul, tidak ada yang
mengunggulinya).
Sebagian ulama lainnya mengatakan tidak bisa
mewariskan. Jumhur ulama termasuk yang berpendapat
demikian, termasuk keempat imam mujtahid, yaitu
Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-syafi'i dan
Imam Ahmad bin Hanbal.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatulahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


82
Baru Masuk Islam Lantas Meninggal Dunia...
Asslamu 'alaikum.wr wb
Tahun lalu ana pernah baca di suratkabar bahwa ada
seorang mantan agen intelijen Rusia yang tinggal di
Inggris diracun oleh pemerintahnya sendiri karena
membeberkan kepada pers tentang kejahatan tentara
Rusia terhadap muslim Chechnya. Dua hari sebelum
meninggal ia menyatakan memeluk Islam,
Alhamdulillah.
Yang ana ketahui kalo ada orang kafir masuk Islam
maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu selama ia
masih kafir meskipun ia seorang agen intelijen yang
kemungkinan besar suka membunuh atas nama negara.
Yang ingin ana tanyakan, kalo dia baru masuk Islam
seperti cerita di atas terus 2 hari kemudian ia meninggal,
ada kemungkinan dosanya kan masih sedikit karena
baru beriman, apakah lebih cepat hisabnya diakhirat
kelak? Dan kemungkinan masuk surga besar?
Wassalam.wr wb
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Yang namanya untung tak dapat diraih dan malang
tak dapat ditolak. Kalau Allah SWT berkehendak ingin
memberi hidayah kepada seseorang, pasti tidak ada
yang bisa membuat orang itu tetap sesat selamanya.
Sebaliknya, kalau Allah SWT berkehendak membuat
seseorang sesat, maka tidak ada lagi hidayah baginya.
Dan barangsiapa yang ditunjuki Allah, dialah yang
mendapat petunjuk dan barangsiapa yang Dia
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

83
sesatkan maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat
penolong-penolong bagi mereka selain dari Dia. (QS.
Al-Isra': 97)
Maka beruntunglah orang yang telah diberi hidayah
oleh Allah SWT, lalu masuk Islam dan setelah itu
langsung dipanggil Allah untuk menghadap-Nya.
Maka tentu saja dosanya masih sedikit, sebab dengan
keIslamannya, Allah SWT menghapus dosa-dosanya
yang pernah dikerjakan sebelumnya.
Hal itu pernah ditanyakan oleh seorang shahabat
nabi, 'Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhu saat beliau
masuk Islam.
Dari Amr bin Al-Ash ra. berkata, "Ketika Allah azza
wa jalla memasukkan Islam ke dalam hatiku, aku
mendatangi Rasulullah SAW untuk memba'iatku.
Beliau SAW menjulurkan tangannya kepadaku.
Namun aku berkata, "Aku tidak akan berbai'at
dengan Anda, ya Rasulallah hingga Anda mintakan
aku ampunan atas dosaku." Rasulullah SAW
menjawab, "Ya Amr, tidakkah kamu tahu bahwa
hijrah itu menghapus dosa-dosa sebelumnya? Ya
Amr, tidakkah kamu tahu bahwa masuk Islam itu
menghapus dosa-dosa sebelumnya?" (HR Ahmad)
Jadi memang benar bahwa seorang non muslim yang
masuk Islam akan diampuni dosa-dosanya oleh Allah
SWT, seolah-olah bayi yang baru saja dilahirkan oleh
ibunya.
Kalau belum lama berselang dari keIslamannya dia
meninggal, logika dan nalar kita akan membenarkan
bila kesempatan orang tersebut masuk surga akan
sangat besar. Mengingat dari segi dosa, barangkali kita
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


84
yang sudah lama jadi umat Islam malah lebih banyak
dari dosa-dosa yang dimilikinya.Maka boleh jadi proses
masuk surganya jauh lebih cepat dari kita.
Tapi kita pun juga jangan dulu berkecil hati. Atau
malah punya pikiran ngeres, misalnya, kalau gitu kita
murtad saja dulu, terus masuk Islam lagi, kan dosa-
dosanya akan diampunkan.
Itu namanya 'piktor', alias pikiran kotor. Ngapain
harus pake murtad dulu, kan untuk menghapus dosa
bisa dengan bertaubat? Ya kalau pas lagi murtad tidak
dicabut nyawanya oleh Allah, gimana kalau pas lagi
murtad jadi orang kafir itu, tiba-tibaIzrail datang dan
main betot nyawa di dada? Kan malah rugi dunia
akhirat.
Taubat Menghapus Dosa
Bagi seorang muslim, bila ingin dosa-dosanya
dihapus, tidak perlu murtad dulu. Sebab dosa-dosa bisa
gugur seperti daun di musim gugur dengan taubat.
Ingatlah taubat seorang wanita Ghamidiyah yang
pernah berzina dan minta dirajam. Allah SWT menerima
taubatnya bahkan lewat lisan Rasulullah SAW dikatakan
bahwa bila taubatnya itu dibagikan lagi kepada orang
lain, maka cukuplah untuk 70 orang penduduk
Madinah.
Tapi jangan 'piktor' lagi, misalnya ada yang bilang,
pak ustadz, kalau begitu biar taubatnya tambah seru,
apakah harus berzina dulu?
Hah? No comment lah
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

85
Apa yang Harus Dilakukan Kalau Masuk Islam?
Assalammualaikum wr wb,
Ustadz status saya saat ini non muslim. Saya ada
keinginan unttk memeluk agama Islam. Saya sudah baca
tentang bisanya masuk Islam secara online, hanya
dengan meyakini 2 hal yaitu mengingkari semua bentuk
Tuhan kecuali Allah Swt dan meyakini Muhammad
adalah nabi yang diutus oleh Allah. Dan dengan
mengucapkan kalimat syahadat saja tanpa disaksikan
oleh orang lain, kita sudah bisa memeluk Islam.
Yang ingin saya tanyakan....setelah resmi menjadi
muslim, apa lagi yang harus saya lakukan? Apakah saya
harus belajar mengaji terlebih dahulu atau belajar cara-
cara sholat?
Itu yang saya bingungkan Ustadz....maka dari itu
saya mohon penjelasan dr Ustadz.
Terima kasih.
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Mungkin perlu diluruskan bahwa kami tidak
mengatakan bisa masuk Islam secara online. Karena dua
kalimat syahadat itu adalah ikrar untuk diri sendiri,
bukan akad antara dua belah pihak.
Bilal bin Rabah dahulu masuk Islam tanpa harus
dilihat oleh siapa-siapa, bahkan beliau merahasiakan
keIslamannya. Hal itu bisa terjadi karena untuk masuk
Islam tidak dibutuhkan ritual seperti pembaptisan atau
akad antara dua belah pihak.
Jadi kalau mau masuk Islam, ya ucapkan saja di
dalam diri sendiri dua kalimat syahadat dengan
mengerti dan meyakini makna keduanya. Kalau hal itu
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


86
dilakukan, pada hakikatnya seseorang sudah menjadi
muslim, tanpa harus online atau berkaitan dengan orang
lain. Sebab ikrar masuk Islam pada hakikatnya tidak
mensyaratkan saksi, kecuali nanti dalam urusan
muamalah.
Kewajiban Setelah Masuk Islam
Kami sebenarnya ingin mengatakan bahwa jauh
sebelum seseorang menyatakan diri masuk Islam, dia
sudah wajib untuk mempelajari agama Islam. Dan inilah
bedanya umat Islam di masa Nabi dengan di masa
sekarang.
Orang Arab Quraisy atau non muslim lainnya, sudah
mengenal agama yang dibawa Muhammad SAW
sebelum mereka menyatakan diri masuk Islam. Semua
prinsip dasar agama Islam begitu terang di mata
mereka. Karena kalau kita kaitkan dengan ayat tidak ada
paksaan masuk Islam, menjadi sangat relevan.
Tidak ada paksaan untuk masuk agama Islam, karena
sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan
yang sesat. (QS. Al-Baqarah: 256)
Perhatikan pada bagian lafadz: telah jelas jalan yang
benar dari jalan yang sesat. Inilah yang menjadi kunci
keberhasilan dakwah nabi Muhammad SAW. Tidak ada
seorang kafir pun yang tidak dibuat paham dengan
agama Islam. Apalagi orang yang sudah masuk Islam,
pasti sangat paham dengan agama Islam.
Dakwah nabi sebelum mengajak orang masuk Islam
adalah menjelaskan kisi-kisi dan detail ajaran Islam,
justru kepada semua orang yang bukan muslim.
Sehingga para gembong Quraisy menjadi sangat paham
dan mengerti apa maunya agama Islam, bahkan hingga
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

87
masalah yang sangat detail dan rinci.
Maka kalau merek mau masuk Islam, urusannya
cuma tinggal hidayah saja. Secara logika dan
pemahaman, mereka telah berhasil dibuat paham dan
mengerti agama Islam.
Bahkan yang lebih menarik, ketika saat itu Abu
Sufyan belum masuk Islam, beliau sudah bisa menjadi
narasumber tentang kajian agama Islam. Tidak
tanggung-tanggung, yang menjadi audience-nya adalah
seorang Kaisar Heraklius, raja Romawi yang juga telah
mendengar tentang agama Islam.
Sang Kaisar penasaran dan ingin mengerti isi dan
esensi ajaran agama Islam, maka dia pun mengundang
Abu Sufyan yang kebetulan sedang berdagang di Syam.
Kebetulan juga Abu Sufyan ini punya jabatan sebagai
'Wali Kota Makkah'. Maka pemandangannya menjadi
menarik, karena seorang yang belum memeluk agama
Islam sudah bisa menjadi nara sumber yang mampu
menjelaskan detail ajaran agama Islam.
Coba kita bercermin ke hari ini, janganlah orang non
Islam, justru umat Islam sendiri malah banyak yang
tidak mengerti apa-apa tentang ajaran agamanya.
Berapa banyak umat Islam yang tidak mengerti
bagaimana cara wudhu' atau shalat. Sedikit sekali di
antara mereka yang tahu bahwa shalat lima waktu wajib
dilaksanakan.
Sebagai bukti, saat ini di salah satu stasiun TV swasta
nasional ada sebuah acara yang amat digemari oleh
semua umur. Acara itu live disiarkan secara langsung,
mulai tepat jam 18.00 hingga selesai beberapa jam
kemudian. Anehnya, acara live yang dimulai beberapa
menit sebelum waktu Maghrib itu tidak dibreak untuk
shalat, padahal dilangsungkan di teater Tanah Air yang
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


88
menampung sekian banyak pengunjung.
Kita lihat langsung ada sekian ratus muslim yang ada
di gedung itu tidak shalat Maghrib. Padahal banyak juga
yang pakai kerudung atau haji.
Begitu juga ketika terjadi pertandingan sepak bola di
stadion, kita lihat waktu maghrib masuk, tetapi pemain
terus saja main bola dan ribuan penonton tetap terus
asyik bersorak sorai, sampai waktu Maghrib lewat.
Begitu juga kalau kita dalam perjalanan malam naik
kendaraan umum antara kota, kita lihat hanya satu atau
dua orang saja dari penumpang yang shalat Shubuh.
Selebihnya entah mereka tahu atau tidak bahwa shalat
shubuh itu wajib.
Entah mereka tahu apa tidak bahwa shalat Maghrib
dan Shubuh itu wajib, yang jelas faktanya mereka tidak
shalat pada waktunya.
Berapa banyak dari mereka tidak tahu bahkan yang
tidak menyakini adanya hari kiamat, surga, neraka,
yaumul hisab bahkan termasuk alam kubur. Berapa
banyak dari mereka yang tidak tahu bagaimana sikap
dan tindakan yang wajib kita lakukan terhadap
Rasulullah SAW.
Dan yang paling memprihatinkan, nyaris mayoritas
kaum muslimin di negeri ini tidak ada yang bisa
memahami ayat-ayat Al-Quran yang mereka lantunkan.
Karena mereka tidak paham bahasa Arab. Padahal 17
rakaat yang tiap hari mereka lakukan dan baca ayat
Quran di dalamnya, tidak sah kalau tidak pakai bahasa
Arab.
Kewajiban Tiap Muslim
Kewajiban setiap muslim adalah mempelajari isi dan
esensi agama. Baik lewat majelis taklim, pengajian,
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

89
diskusi, baca buku, browsing di internetatau dalam
bentuk sebuah perkuliahan khusus tentang agama
Islam. Perkuliahan adalah bentuk pelajaran agama Islam
yang paling ideal.
Dibandingkan dengan yang lainnya seperti pengajian
yang hanyadilakukan paling intensif hanya seminggu
sekali, jelaslah perkuliahan itu lebih baik,
karenadilakukan tiap hari. Dalam satu hari bisa jadi ada
beberapa mata kuliah yang berbeda. Otomatis belajar
Islam lewat perkuliahan jauh lebih intensif dari pada
lewat pengajian atau majelis taklim.
Selain itu, dalam sebuah perkuliahan, biasanya dosen
atau nara sumbernya adalah ada banyak dan masing-
masing adalah orang yang berkualitas. Masing-masing
datang dengan keahliannya dan spesifikasi keahlian
bidang ilmunya.
Ada dosen khusus yang mengajar mata kuliah
Aqidah, Fiqih, Ushul Fiqih, Quran, Tafsir, Hadits,
Tarikh, Tsaqafah, Bahasa Arab, Sastra Arab, Logika
(manthiq), Hukum Waris, Qawa'id Fiqhiyah dan
seterusnya.
Jadi dengan ikut menjadi mahasiswa pada sebuah
perkuliahan syariah Islam, seseorag akan mendapatkan
begitu banyak materi pelajaran yang tidak akan bisa
didapatnya kalau hanya sekedar ikut pengajian.
Bayangkan kalau ada seorang muallaf masuk Islam,
lalu diwajibkan untuk ikut kuliah syariah seperti di atas,
selama 8 semester untuk mendapatkan setidaknya 144
SKS, kalau dia sampai lulus, setidaknya ilmu
pengetahuannya sudah bisa melebihi seorang ustadz
kondang.
Nah, kalau mau online bukan masuk Islamnya, tapi
kuliahnya yang bisa online. Silahkan kuliah di Kampus
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


90
Eramuslim.Kuliah yang bisa dilakukan jarak jauh ini
tentu bukan cuma buat mereka yang baru masuk Islam,
buat mereka yang sejak lahir sudah secara tidak sengaja
tiba-tiba jadi muslim pun tetap berlaku. Sebab ya itu
tadi, betapa miskinnya umat Islam ini dengan ilmu-ilmu
yang terkait dengan ajaran agama Islam.
Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Mencela Agama Orang Lain
Apakah di dalam agama muslim diperbolehkan
mencela agama orang lain, bukankah seharusnya saling
menghargai tanpa mencari - cari kebenaran agama siapa
yang paling benar
jawaban
Asssalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Islam adalah agama santun dan penuh adab. Di
dalam Islam tidak dikenal istilah mencela, apalagi
mencaci maki. Islam tidak membenarka apabila ada
pemeluknya yang mencela dan mencaci maki pemeluk
agama lain.
Bahkan Islam mengancam orang yang kerjanya
mencela dan mengumpat dengan neraka Wail,
sebagaimana Allah SWT berfirman:
Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela
(QS. Al-Humazah:1)
Dan kita pun dilarang memaki berhala-berhala yang
disebah oleh orang kafir. Kita dibenarkan untuk
memberikan penjelasan bahwa berhala itu tidak layak
disembah. Dan bahwa benda yang tidak bisa bergerak,
tidak makan tidak minum itu tidak pantas dijadikan
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

91
sesembahan manusia.
Namun caranya bukan dengan memaki berhala-
berhala itu, sebab para penyembah berhala akan sakit
hati dan akan balas memaki Allah SWT. Itulah yang
dilarang Al-Quran.
Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan
yang mereka sembah selain Allah, karena mereka
nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas
tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap
umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian
kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia
memberitakan kepada mereka apa yang dahulu
mereka kerjakan.(QS. Al-An'am: 108)
Diskusi Perbandingan Agama
Memang ada sebagian pemeluk agama yang terbiasa
didoktrin dengan dogma-dogma oleh tokoh agama
mereka, sehingga mereka sangat anti dengan diskusi
masalah perbandingan agama. Bagi mereka, mau masuk
akal atau tidak, pokoknya itulah dogma yang harus
ditelan bulat-bulat.
Berbeda dengan agama Islam yang sangat terbuka
dengan diskusi dan dialog antar agama. Semua bisa
dijawab, baik dengan cara logika apalagi dengan dalil-
dalil wahyu.
Dan namanya diskusi agama, tentu kita bicara
tentang argumentasi yang mendasari kenapa kita
memilih dan memeluk suatu agama. Kalau dibilang
tidak boleh mencari-cari kebenaran, tentu kurang tepat.
Justru diskusi itu bertujuan untuk mencari konsep yang
benar tentang sebuah agama.
Tentu tidak sama antara berdiskusi tentang agama
dengan mencela suatu agama. Sebagai muslim, kita
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


92
diwajibkan menjelaskan kebenaran agama, sesuai
dengan logika dan kebenaran yang turun dari Allah.
Kita tidak salah ketika melakukan studi komparasi
titik kebenaran antara satu agama dengan agama lain.
Bukan dalam rangka menjelekkan atau menghina, tetapi
dalam rangka menjelaskan anatomi agama Islam. Sebab
kita memang diwajibkan untuk menjelaskan seperti
apakah Islam itu. Tapi kita tidak pernah diwajibkan
untuk memastikan orang-orang untuk masuk Islam.
Maka tentu saja diskusi memberikan penjelasan
tentang sistem ketuhanan dalam agama Islam adalah hal
yang wajar, masuk akal, logis dan santun. Kita
diwajibkan untuk mengenalkan konsep Islam kepada
orang di luar Islam, tanpa diharuskan agar mereka
masuk Islam.
Menjelaskan Disangka Mencela
Namun terkadang orang-orang kafir ada yang merasa
terganggu ketika mereka dijelaskan tentang agama
Islam. Entah karena takut orang-orang jadi masuk Islam
atau karena pengaruh dengki atau boleh jadi
argumentasi mereka memang lemah.
Lalu merekamenuduh orang yang mempresentasikan
konsep ajaran Islam sebagai pencela agama mereka.
Padahal yang dilakukan bukan pencelaan, melainkan
diskusi yang logis dan masuk akal, berdasarkan fakta
dan realita.
Akan tetapi karena mereka belum apa-apa sudah
anti-pati duluan, akhirnya siapa pun yang menjelaskan
konsep agama Islam denganaqidah yang lurus, pasti
dikatakannya sebagai celaan terhadap agama atau
berhala mereka.
Di dalam Al-Quran, hal seperti itu memang
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

93
disebutkan:
Dan apabila orang-orang kafir itu melihat kamu,
mereka hanya membuat kamu menjadi olok-olok.,
"Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhan-mu?",
padahal mereka adaIah orang-orang yang ingkar
mengingat Allah Yang Maha Pemurah.(QS. Al-
Anbiya': 36)
Bahkan dahulu saat nabi Ibrahim alaihissalam
berdakwah dan menjelaskan tentang konsep agama
tauhid serta yang tidak menyembah patung, beliau
malah dituduh mencela berhala.
Mereka berkata, "Kami dengar ada seorang pemuda
yang mencela berhala-berhala ini yang bernama
Ibrahim ."(QS. Al-Anbiya': 60)
Jadi kasus di mana bicara tentang sesuatu yang
ilmiyah, logis dan masuk akal tentang konsep agama
Islam, lalu orang kafir sakit hati dan menuduh kita
mencela agama mereka, bukan cerita yang baru. Cerita
seperti itu sudah lama ada sejak zaman dahulu.
Kita tidak mencaci tidak memaki, tetapi dituduh
demikian. Maka kita perlu klarifikasi dengan cara yang
baik. Sebab dalam Islam memang diharamkan mencaci
maki, termasuk mencaci maki suatu agama.
Dalam berdakwah untuk mengajak ke jalan yang
benar, kita hanya bertugas menjelaskan kebenaran.
Tidak ada celaan, makian, hinaan apalagi paksaan.
Tidak ada paksaan untuk agama; sesungguhnya telah
jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (QS.
Al-Baqarah: 256)
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


94
Wallahu a'lam bishshawab, wasssalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh
Ahmad Sarwat, Lc
Mendoakan Non Muslim
Dalam pergaulan saya dengan non Islam, sering
dihadapkan kepada persoalan-persoalan yang sangat
prinsip. Misalnya kepada rekan non Islam, saya:
- menjenguk yang sakit
- menjenguk yang melahirkan
- memberikan pertolongan kepada yang mengalami
bencana, dan lain sebagainya.
Lalu bagaimana, cara kita sebagai umat Islam
mendoakan rekan non Islam untuk sehubungan dengan
hal-hal di atas.
Kemudian jika mendengar rekan non Islam yang
meninggal, ucapan yang bagaimana bisa disampaikan
sebagai rasa belasungkawa kita.
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Mendoakan orang lain hukumnya tentu baik dan
berpahala. Termasuk juga mendoakan hal-hal yang baik
buat seorang non muslim sekalipun. Misalnya
mendoakan kesembuhannya bila sakit atau bisa terbebas
dari kesulitan duniawi lainnya. Dan yang paling utama
adalah mendoakannya agar mendapat hidayah dari
Allah sehingga bisa memeluk Islam.
Tentu doa ini tidak ada kaitannya dengan aqidah,
melainkan lebih merupakan sebuah doa yang bersifat
kemanusiaan, di mana sebagai sesama manusia,
wajarlah bila kita saling tolong dengan sesama.
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

95
Bahkan sebagai muslim diwajibkan kepada kita
untuk melindungi kafir zimmi segala hal
yangmencelakakan mereka. Bahkankalau sampai
adapihak umat Islam yang menyakiti kafir zimmi yang
berada dalam perlindungan umat Islam, maka yang
memerangi itu harus diperangi. Maka mendoakan
kebaikan duniawi buat mereka tentu saja merupakan hal
yang wajar dan diperbolehkan.
Batas yang tidak boleh adalah memohonkan
ampunan bagi orang yang kafir dan mati dalam
kekafirannya. Meski pun yang kafir itu masih saudara
kita sendiri. Dan dalam konteks itulah Allah SWT
melarang Nabi Ibrahim mendoakan dan memintakan
ampunan bagi ayahnya yang kafir.
Berkata Ibrahim, "Semoga keselamatan dilimpahkan
kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu
kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik
kepadaku." (QS. Maryam:47)
Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang
beriman memintakan ampun bagi orang-orang
musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah
kaum kerabat, sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya
orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka
jahanam. (QS. At-Taubah: 113)
Dan permintaan ampun dari Ibrahim untuk
bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang
telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka,
tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah
musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari
padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


96
yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (QS. At-
Taubah: 114)
Ungkapan innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'un bukan
doa dan sama sekali tidak bermaksud mendoakan orang
yang wafat, melainkan ungkapan zikir biasa yang
dikaitkan dalam konteks bila ada yang wafat.
Sedangkan yang wafat itu beragama apapun, tidaklah
menjadi masalah. Sebab makna lafaz dari hanyalah
ungkapa bahwa kita ini semua milik Allah dan kita pasti
akan kembali kepadan-Nya. Bahwa seorang mati dalam
keadaan beriman atau tidak beriman, itu urusan masing-
masing.
Selama lafaz itu tidak bermakna doa atau
memohonkan ampunan, tentu tidak terkena larangan.
Namun bila diteruskan dengan ungkapan lain, seperti:
"semoga arwahnya diterima di sisi tuhan", tentu saja
haram hukumnya. Sebab siapapun yang meninggal
bukan sebagai muslim, sudah pasti arwahnya tidak akan
diterima Allah. Tapi bukan gentayangan, melainkan
tidak diterima sebagai hamba yang baik, sebaliknya
diterima sebagai hamba yang kafir, ingkar dan sudah
pasti 100% masuk neraka. Dan tanpa kemungkinan
untuk diampuni lagi dosanya.
Demikian juga bila harapan kita adalah: "Semoga
arwahnya tenang di sisi-Nya", tentu saja tidak boleh.
Sebab dalam pandangan aqidah kita, seorang yang mati
dalam keadaan kafir, arwahnya tidak akan tenang.
Sebab mereka harus berhadapan dengan malaikat azab.
Jadi tidak layak kalau dimakamnya ditulis: RIP (rest in
peace), yang benar adalah RIF (rest in fire).
Apa yang kami sampaikan ini bukan berarti kita
harus membenci non muslim. Sama sekali tidak. Namun
tema ini adalah bagian dari aqidah seorang muslim,
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

97
untuk membedakan bahwa agama Islam itu tidak sama
dengan agama lain. Bedanya jelas, yang muslim kalau
mati masuk surga sedangkan yang bukan muslim
matinya pasti masuk neraka. Jadi ungkapan bahwa
semua agama itu sama adalah ungkapan yang sesat dan
menyesatkan.
Tetapi kalau kita sampaikan rasa bela sungkawa
kepada keluarga yang ditinggalkan, misalnya dengan
ucapan turut berduka cita, seperti yang umumnya
tertulis di karangan bunga, tentu tidak menjadi masalah.
Toh, ungkapan ini juga bukan doa melainkan hanya
ungkapan rasa simpati sebagai sesama manusia biasa.
Bahkan kalaupun kita mohon kepada Allah SWT agar
keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan
kesabaran, tentu saja tidak mengapa.
Wallahu a'lam bish-shawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.
Haruskan Ijin Orang Tua untuk Masuk Islam?
Assalamualaikum Wr Wb
Saya Pria berusia 26 tahun dan sudah memiliki
rencana untuk menikah. Yang jadi masalah adalah calon
saya berasal dari keluarga non-Muslim dan tidak ada
satupun dari keluarganya yang memeluk Agama Islam.
Calon saya tersebut sudah lama tertarik untuk memeluk
Agama Islam jauh sebelum mengenal saya. Saya kagum
dengan semangatnya yang menggebu untuk
mempelajari Agama Islam.
Yang ingin saya tanyakan adalah:
1. Apakah calon saya tersebut harus meminta izin
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


98
Orang Tua nya jika ingin masuk Islam? Bagaimana jika
tidak diizinkan?
2. Jika sang Ayah calon saya tersebut tidak
menyetujui hubungan kami karena alasan saya adalah
seorang muslim, apakah sah jika saya tetap ingin
menikah dengannya tanpa izin Orang Tua nya yang
Non-Muslim? Siapa yang berhak menjadi wali nikahnya
berhubung tidak ada satupun dari keluarganya yang
Muslim?
Terima kasih atas jawabannya.
Wassalamu'alaikum wr. Wb.
Jawaban
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sebenarnya tanpa harus minta izin, setiap orang
sudah menjadi muslim secara asalnya. Ketika ruh setiap
manusia akan ditiupkan ke dalam jasadnya, Allah SWT
telah meminta kesaksian dan pengakuan atas keIslaman
mereka.
Danketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-
anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil
kesaksian terhadap jiwa mereka, "Bukankah Aku ini
Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul, kami menjadi
saksi." agar di hari kiamat kamu tidak mengata-kan,
"Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang
lengah terhadap ini " (QS. Al-A'raf: 172)
Kemudia Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa
setiap bayi yang lahir di muka bumi ini terlahir sebagai
muslim.
Dari Abu Hurairah ra bahwa RasulullahSAW
bersabda, "Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

99
fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya
menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun
seorang Majusi. Sebagaimana seekor binatang yang
melahirkan seekor anak tanpa cacat, apakah kamu
merasakan terdapat yang terpotong hidungnya? (HR
Muslim)
Jadi kita bisa simpulkan bahwa asal agama setiap
manusia adalah Islam. Mereka menjadi kafir karena
godaan syetan dan kawanannya. Sehingga bila ada
hidayah Allah SWT berikan kepada siapa saja yang
masih kafir untuk kembali ke pangkuan Islam, langsung
saja kembali. Tidak perlu izin ini dan itu dari siapapun.
Karena kembali kepada hidayah Allah SWT adalah
hak paling asasi setiap insan yang bernyawa. Menjadi
seorang muslim adalah hak yang tidak pernah bisa
dihalangi.
Meski ada kekuatan yang ingi menghalangi,
mencegah, melarang, bahkan mengancam, namun
keIslaman seseorang terlepas dari semua halangan itu.
Sebab iman itu adanya di dalam hati, bukan di wajah
atau pakaian, juga bukan di selembar KTP. Bukankah
Bilal bin Rabah sudah menjadi muslim, meski tuannya,
Umayyah bin Khalaf melarangnya?
Maka masuklah ke dalam Islam kapan saja dan di
mana saja, jangan ditunda-tunda lagi. Tak seorang pun
yang bisa menghalangi hidayah itu.
Menikahi Wanita Muallaf
Apa yang akan Anda lakukan saat ini adalah sesuatu
yang sangat alamiyah dan bersejarah. Salah satu metode
pengembangan dan perluasan agama Islam di nusantara
adalah lewat pernikahan.
Dahulu para wali dan penyebar agama Islam
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


100
menikahi gadis-gadis pribumi yang ayahnya masih
beragama Hindu atau Budha. Bahkan kerajaan
Majapahit yang amat digjaya dan punya kekuasaan
sangat luas, berhasil diIslamkan oleh para wali. Salah
satunya dengan menikahi puteri penguasa kerajaan ini.
Tentu saja sang puteri sudah masuk Islam terlebih
dahulu, karena haram hukumnya seorang laki-laki
muslim menikahi wanita yang bukan muslim. Kecuali
bila agama wanita itu nasrani atau yahudi. Sedangkan
kerajaan Majapahit beragama watsaniyah (penyembah
berhala).
Lalu bagaimana teknis untuk menikahi wanita yang
hanya dirinya sendiri saja yang beragama Islam,
sedangkan ayah kandungnya dan semua orang yang
bisa menjadi walinya non muslim? Dan lebih penting,
bolehkah wanita itu dinikahi tanpa izin dari orang tua
kandungnya?
Izin Wali Untuk Menikah
Di dalam syariat Islam, seorang wanita tidak menikah
kecuali wali atau ayahnya yang menikahkan. Tidak ada
cerita seorang wanita menikahkan dirinya sendiri. Juga
tidak ada cerita seorang wanita meminta orang yang
ditemukannya di pinggir jalan untuk menjadi wali atas
dirinya.
Hak untuk menjadi wali hanya ada di tangan ayah
kandungnya. Selama ayah kandungnya masih hidup,
maka si ayah kandung itulah yang punya otoritas untuk
menikahkan anak gadisnya.
Namun ketika seorang ayah kehilangan syarat-syarat
mendasar untuk menjadi seorang wali, maka dia pun
tidak berhak menjadi wali. Salah satu di antara syarat
mendasar itu adalah status keIslaman. Ini adalah syarat
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

101
mendasar dan mutlak. Mustahil seorang non muslim
menjadi wali bagi anak gadisnya yang muslimah. Walau
pun anak gadis itu darah dagingnya sendiri. Perbedaan
agama dan keimanan telah memisahkan hubungan
syar'i antara si gadis dengan ayah kandungnya.
Maka pada saat itu, si gadis kehilangan wali dari diri
ayahnya yang masih kafir. Hak si Ayah untuk menjadi
wali bagi si buah hatinya sendiri menjadi gugur dengan
sendiri.
Kehilangan hak untuk menjadi wali itu diikuti juga
kehilangan hak bagi si ayah untuk memberi izin
menikah kepada anak gadisnya. Dan hukumnya akan
ikut terus ke mana-mana, termasuk si anak gadis
nantinya akan kehilangan hak untuk mendapatkan
warisan dari ayahnya, karena urusan berbeda agama ini.
Lalu siapa yang menjadi wali bagi si gadis muslimah
yang ayahnya masih kafir?
Pertanyaan ini telah dijawab oleh Rasulullah SAW 14
abad yang lalu. Ya, jawabnya adalah penguasa Islam
yang sah. Atau sering juga disebut dengan sultan atau
hakim. Istilah hakim sebenarnya mengacu kepada istilah
di masa lalu yang identik dengan penguasa. Hakimu
Andalus berarti penguasa Andalusia. Hakimu Syam
berarti penguasa wilayah Syam.
Sedangkan 'hakim-hakiman' yang dipungut di
pinggir jalan tidak boleh dijadikan wali, karena
sebenarnyadia bukan penguasa. Menikah dengan wali
hakim berarti yang menjadi wali adalah penguasa resmi
yang kekuasaannya diakui di wilayah tersebut. Kalau di
Indonesia, maka SBY adalah hakim resmi. Jadi SBY
adalah wali hakim yang berhak untuk menikahkan
wanita muslimah yang tidak punya wali lantaran
ayahnya non muslim.
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


102
Dalam pelaksanannya, SBY boleh mewakilkan
wewenangnya kepada para pejabat di bawahnya,
misalnya pak Menteri Agama. Dan begitulah, pak
Menteri yang sibuk itu boleh juga mewakilkan
wewenangnya kepada bawahannya dan bawahannya
lagi hingga ke tingkat Kantor Urusan Agama (KUA).
Jadi kesimpulanya, yang berhak jadi wali bagi gadis
itu adala Kepala Kantor Urusan Agama resmi tempat di
mana mereka berdomilisi. Datang dan merujuklah ke
sana. Insya Allah akan dibantu.
Wallahu a'lam bishshawab, Assalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Para Nabi & Rasul Beragama Islam?
Assalaamu'alaikum wr. wb
Apa betul Nabi Isa adalah nabinya orang nasrani dan
Nabi Musa adalah nabinya orang yahudi? Apa
agamanya nabi Isa dan Nabi Musa? Apakah Nasrani
dan Yahudi digolongkan sebagai agama atau suku
bangsa?
Wassalaamu'alaikum wr. wb
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Benar bahwa Nabi Isa alaihissalam adalah nabi resmi
utusan Allah kepada umat nasrani. Dan benar pula
bahwa Nabi Musa alaihissalam adalah nabi utusan
resmi dari Allah kepada umat yahudi. Apa yang mereka
berdua ajarkan kepada masing-masing umatnya adalah
semata-mata agama yang berasal dari Allah SWT juga.
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

103
Dan di beberapa ayat Al-Quran, agama yang
diajarkan oleh para nabi terdahulu itu juga bernama
ISLAM. Sebagaimana pernyataan bapak tiga agama
besar dunia, Nabi Ibrahim alaihissalam
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada
anak-anaknya, demikian pula Ya'qub.: "Hai anak-
anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama
ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam
memeluk agama Islam."(QS. Al-Baqarah: 132)
Nabi Yusuf alaihissalam yang juga keturunan Bani
Israil menyebut agamanya sebagai Islam. Perhatikan doa
beliau seperti disebutkan di dalam firman Allah SWT
berikut ini
Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah
menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan
telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi.
Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di
dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan
Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang
yang saleh.(QS. Yusuf: 101)
Hanya bedanya, para nabi terdahulu itu diutus secara
limited khusus hanya kepada satu umat saja secara
eksklusif. Sedangkan Nabi Muhammad SAW diutus
kepada semua makhluk yang bernama manusia secara
massal. Perbedaan kedua, nabi-nabi terdahulu punya
expire date dalam risalahnya. Kalau sudah lewat masa
expirenya, sudah tidak berlaku lagi. Sedangkan risalah
Nabi Muhammad SAW punya life time warranty,
sehingga aman digunakan sampai selesainya panggung
dunia ini.
Namun intisari ajaran yang dibawa oleh semua nabi
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


104
termasuk nabi Muhammad SAW sama saja. Yaitu
mengimani bahwa tidak ada tuhan selain Allah SWT.
Dan menjalankan semua perintah Allah SWT yang telah
dibawa oleh para nabi itu.
Kalau pun ada perbedaan, biasanya seputar detail
teknis ibadah. Di mana secara umum, beban buat umat
nabi Muhammad SAW diringankan Allah SWT
seringan-ringannya.
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak
menghendaki kesukaran bagimu.(QS. Al-Baqarah:
185)
Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari
Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang
melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa
yang sangat pedih. (QS. Al-Baqarah: 178)
Kalau umat Islam wajib shalat, zakat dan puasa,
ternyata Allah SWT juga mewajibkan yahudi dan
nasrani untuk melakukannya, meski ada sedikit variasi
dalam teknisnya. Kalau Allah SWT mengharamkan
umat Islam dari pembunuhan, perzinaan, pencurian,
minum khamar, perjudian, ternyata hal yang sama
dahulu juga diberlakukan kepada yahudi dan nasrani,
namun dengan jenis hukuman yang lebih berat.
Kebetulan yahudi itu asal muasalnya adalah satu
keturunan. Dan sering juga disebut dengan istilah Bani
Israil. Makna bani adalah anak keturunan sedangkan
Israil adalah nama lain dari Nabi Syu'aib. Beliau punya
12 orang anak, yang kesebelas bernama Yusuf
alaihissalam dan kedua belas bernama Bunyamin. Ke-12
orang anak ini kemudian menjadi sebuah klan yang
sangat besar dan disebut dengan anak-anak Israil (Bani
Israil). Kepada mereka diutus para nabi dan rasul
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

105
dengan jumlah yang sangat banyak, salah satu di
antaranya yang paling besar adalah nabi Musa
alaihissalam.
Jadi bisa dikatakan bahwa agama yang turun kepada
mereka itu khusus untuk mereka saja, baik sebagai
sebuah keluarga, keturunan, klan, umat, bangsa atau
apapun istilahnya.
Wallahu a'lam bishshawab wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc

Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

107
Bab Keempat
Shalat & Puasa

Shalat Seorang di Luar Negeri dan Musafir
Assalamualakum wr. wb.
Bapak ustadz yang budiman, yang diridlhai Allah.
Saya ingin bertanya mengenai shalat dalam keadaan
musafir. Sebelumnya akan saya jelaskan tentang kondisi
saya agar lebih jelas. Saya seorng mahasiswa yang
alhamdulillah mendapat karunia Allah untuk studi di
Jerman. Saya tinggal di sini sudah lebih dari 2 tahun.
Pertanyaannya:
1. Bagaimana sebaiknya saya menjalankan shalat?
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


108
Apakah saya sebaiknya bershalat seperti layaknya
seorang musafir, karena memang saya tidak pernah
terlintas di fikiran, apabila telah selesai kuliah, untuk
menetap atau bekerja di Jerman.
2. Apakah ada batasan waktu untuk menjadi seorang
musafir?
3. Apa syarat yang mengizinkan seseorang untuk
dapat menjama' dan mengqashar shalatnya?
4. Bagaimana perilaku shalat Rasulullah saw dan para
sahabat ketika beliau dalam keadaan musafir?
5. Apakah bila seseorang telah menjama' dan
mengqashar shalatnya dalam keadaan musafir,
dapat pula melaksanakan shalat sunat lainnya
seperti halnya shalat sunat rawatib?
6. Tolong bapak ustadz yang budiman dijelaskan juga
pendapat para imam madzhab berkenaan dengan
hal ini (Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafii dan
Imam Hambali).
Hal ini penting untuk dapat menjelaskan kepada
kawan-kawan saya yang di Jerman akan ketentuan ini.
Teman saya ada yang dari Maroko dan Mesir
bermadzhab Maliki, dari Uzbekistan dan Turki
bermadzhab Hanafi, dari Saudi Arabia bermazhab
Hambali dan saya sendiri menganggap bermazhab
Syafi'i.
Terimakasih banyak, Jajakallahu khairan.
Wassalam,
jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
1. Batasan antara Musafir dengan Muqim
Beda antara safar dengan muqim (menetap) adalah
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

109
seseorang bergerak di muka bumi. Atau disebut dengan
adh-dharbu fi ardh. Yaitu anda terus bergerak ke sana
ke mari setiap harinya dalam format perjalanan luar
kota, bukan berputar-putar di dalam kota.
Bila anda sudah berniat untuk menetap -meski
sementara- di suatu tempat, maka status anda bukan
musafir lagi. Batasan musafir dan tidak adalah bila anda
terus bergerak tanpa menetap di suatu titik di muka
bumi. Begitu anda berdiam di suatu tempat, maka ada
jatah waktu tunggu maksimal, yaitu 4 hari atau 15 hari,
tergantung pendapat para ulama yang nanti akan kami
jelaskan.
Anggaplah kita pakai pendapat yang 4 hari, maka
begitu anda menginap di suatu tempat selama lebih dari
4 hari, anda sudah bukan musafir lagi. Dan tentunya
anda harus segera shalat lengkap bukan jama' dan
bukan qashar.
2. Syarat yang mengizinkan seseorang untuk dapat
menjama dan mengqashar shalatnya.
Di antara penyebab dibolehkannya jama` dan qashar
adalah safar adalah:
a. Bepergian atau safar
Syarat yang harus ada dalam perjalanan itu menurut
ulama fiqih antara lain harus berniat safar, memenuhi
jarak minimal dibolehkannya safar yaitu 4 burd atau 88,
656 km(sebagian ulama berbeda dalam menentukan
jarak minimal),keluar dari kota tempat tinggalnya
dansafar yang dilakukan bukan safar maksiat
b. Sakit
Imam Ahmad bin Hanbal membolehka jama` karena
disebabkan sakit. Begitu juga Imam Malik dan sebagian
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


110
pengikut Asy-Syafi`iyyah.
Sedangkan dalam kitab Al-Mughni karya Ibnu
Qudamah dari mazhab Al-Hanabilah menuliskan bahwa
sakit adalah hal yang membolehkan jama` shalat. Syeikh
Sayyid Sabiq menukil masalah ini dalam Fiqhussunnah-
nya.
Sedangkan Al-Imam An-Nawawi dari mazhab Asy-
Syafi`iyyah dalam Syarah An-Nawawi jilid 5 219
menyebutkan, Sebagian imam berpendapat
membolehkan menjama` shalat saat mukim (tidak safar)
karena keperluan tapi bukan menjadi kebiasaan.
Pendapat ini antara lain dikemukakan oleh Ibnu Sirin
dan Asyhab dari kalangan Al-Malikiyah. Begitu juga Al-
Khattabi menceritakan dari Al-Quffal dan Asysyasyi al-
kabir dari kalangan Asy-Syafi`iyyah.
Begitu juga dengan Ibnul Munzir yang menguatkan
pendapat dibolehkannya jama` ini dengan perkataan
Ibnu Abbas ra, Beliau tidak ingin memberatkan
ummatnya.
Allah SWT berfirman:
Allah tidak menjadikan dalam agama ini kesulitan.
(QS Al-Hajj: 78)
Dan bagi orang sakit tidak ada kesulitan. (QS Annur:
61)
c. Haji
Para jamaah haji disyariatkan untuk menjama` dan
mengqashar shalat zhuhur dan Ashar ketika berga di
Arafah dan di Muzdalifah dengan dalil hadits berikut
ini:
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

111
Dari Abi Ayyub al-Anshari ra. Bahwa Rasulullah
SAW menjama` Maghrib dan Isya` di Muzdalifah
pada haji wada`. (HR Bukhari 1674).
d. Hujan
Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW shalat di
Madinah tujuh atau delapan; Zuhur, Ashar, Maghrib
dan Isya`. Ayyub berkata, Barangkali pada malam
turun hujan? Jabir berkata, Mungkin. (HR
Bukhari 543 dan Muslim 705)
Dari Nafi` maula Ibnu Umar berkata, Abdullah bin
Umar bila para umara menjama` antara maghrib dan
isya` karena hujan, beliau ikut menjama` bersama
mereka. (HR Ibnu Abi Syaibah dengan sanad
Shahih).
Hal seperti juga dilakukan oleh para salafus shalih
seperti Umar bin Abdul Aziz, Said bin Al-Musayyab,
Urwah bin az-Zubair, Abu Bakar bin Abdurrahman dan
para masyaikh lainnya di masa itu. Demikian dituliskan
oleh Imam Malik dalam Al-Muwattha` jilid 3 halaman
40.
Selain itu ada juga hadits yang menerangkan bahwa
hujan adalah salah satu sebab dibolehkannya jama`
qashar.
Dari Ibnu Abbas ra. Bahwa Rasulullah SAW
menjama` zhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya` di Madinah
meski tidak dalam keadaan takut maupun hujan. (HR
Muslim 705).
e. Keperluan Mendesak
Bila seseorang terjebak dengan kondisi di mana dia
tidak punya alternatif lain selain menjama`, maka
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


112
sebagian ulama membolehkannya. Namun hal itu tidak
boleh dilakukan sebagai kebiasaan atau rutinitas.
Dalil yang digunakan adalah dalil umum seperti
yang sudah disebutkan di atas.
Allah SWT berfirman:
Allah tidak menjadikan dalam agama ini kesulitan.
(QS. Al-Hajj: 78)
Dari Ibnu Abbas ra, beliau tidak ingin memberatkan
ummatnya.
Dari Ibnu Abbas ra. Bahwa Rasulullah SAW
menjama` zhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya` di
Madinah meski tidak dalam keadaan takut maupun
hujan. (HR. Muslim 705).
3. Bila menjama dan mengqashar shalatnya dalam
keadaan musafir, adakah shalatsunnah rawatib?
Umumnya para ulama memandang tidak perlu lagi
adanya shalat sunnah qabliyah maupun ba'diyah yang
mengiringi shalat qashar atau jama'. Sebab esensi shalat
ini adalah meringankan, baik dengan digabungkan
dalam satu waktu atau pun dikurangi bilangan
rakaatnya.
Kalau masih melakukan shalat qabliyah dan ba'diyah,
maka esensinya malah hilang. Demikian menurut
umumnya para ulama.
4. Masa Bolehnya Shalat Safar
Batasan berapa lama seseorang boleh tetap menjama`
dan mengqashar shalatnya, ada beberapa perbedaan
pendapat di antara para fuqoha.
a. Imam Malik dan Imam As-Syafi`i
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

113
berpendapat bahwa masa berlakunya jama` dan
qashar bila menetap disuatu tempat selama 4 hari, maka
selesailah masa jama` dan qasharnya. Dasarnya adalah
praktek jama' qahar di dalam hajimulai tanggal 10, 11,
12, 13 bulan Dzulhijjah.
b. Imam Abu Hanifah dan At-Tsauri
Mereka berpendapat bahwa masa berlakunya jama`
dan qashar bila menetap disuatu tempat selama 15 hari,
maka selesailah masa jama` dan qasharnya.
c. Dan Imam Ahmad bin Hanbal dan Daud
Mereka berpendapat bahwa masa berlakunya jama`
dan qashar bila menetap disuatu tempat lebih dari 4
hari, maka selesailah masa jama` dan qasharnya.
Adapun musafir yang tidak akan menetap maka ia
senantiasa mengqashar shalat selagi masih dalam
keadaan safar.
Ibnul Qoyyim berkata bahwa Rasulullah SAW tinggal
di Tabuk 20 hari mengqashar shalat.
Disebutkan Ibnu Abbas: Rasulullah SAW
melaksanakan shalat di sebagian safarnya 19 hari,
shalat dua rakaat. Dan kami jika safar 19 hari, shalat
dua rakaat, tetapi jika lebih dari 19 hari, maka kami
shalat dengan sempurna. (HR. Bukhari)
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.
Shalat Jumat di Negara Mayoritas Non Muslim
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


114
Saya mau bertanya mengenai sholat Jum'at di negara
yang penduduknya mayoritas bukan muslim. Saya
bekerja di perusahaan Jepang, saat ini ada promosi
training ke Jepang untuk belajar Reseach And
Development selama 2 tahun. Saya sudah minta
informasi kepada rekan yang sudah training di sana
mengenai keadaan dan kondisi di sana. Adapun kondisi
di sana (Hamamatsu City) tidak ada masjid, adapun
masjid ada di Tokyo, Dari Hamamatsu ke Tokyo naik
kereta cepat memakan waktu 3 jam. Jadi tidak mungkin
terkerjar untuk sholat Jum'at.
Yang jadi pertanyaan saya:
1. Bagaimana solusi untuk saya apabila tidak sholat
Jum'at berjamaah di masjid?
2. Bolehkah sholat Jum'at dilaksanakan oleh dua orang
atau lebih, bukan di masjid dan apakah harus ada
khutbah?
3. Apabila saya tidak mendapati teman untuk
berjamaah Jum'at, bolehkah diganti dengan sholat
zuhur?
Wassalamulaikum Wr.Wb
Jawaban
Assalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sebenarnya kewajiban shalat Jumat itu sendiri baru
ada kalau ada sejumlah syarat tertentu. Bila salah satu
syarat itu tidak terpenuhi, maka tidak ada kewajiban
untuk melakukan shalat Jumat. Misalnya berkaitan
dengan apa yang ada pada diri seseorang, bisa saja
membuatnya tidak wajib menjalankan shalat Jumat,
misalnya wanita, anak-anak yang belum baligh, orang
sakit dan juga orang yang dalam perjalanan (safar).
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

115
Sedangkan yang terkait dengan kondisi lainnya, salah
satunya adalah adanya jumlah tertentu untuk bisa
dilakukan shalat Jumat. Khusus dalam masalah jumlah
jamaah, memang para fuqaha berbeda pendapat. Ada
yang mengatakan minimal jumlahnya 40 orang, namun
ada juga yang mengatakan tidak harus sejumlah itu. Al-
Hafiz Ibnu Hajar mencatat paling tidak ada sekitar 15
pendapat yang berbeda dalam ketentuan masalah batas
minimal jamaah Jumat. Termasuk pendapat yang
mengatakan bahwa boleh dilakukan walau hanya
berdua saja, karena shalat jamaah itu minimal dilakukan
oleh 2 orang
Sehingga bila menggunakan salah satu dari pendapat
itu, Anda berdua atau bertiga tetap bisa mendirikan
shalat Jumat di tempat perantauan Anda.
Tentang tempat dilakukannya shalat Jumat, memang
ada yang mengatakan harus di dalam masjid. Namun
sebenarnya shalat Jumat tetap syah dan bisa dilakukan
di mana pun di dalam suatu gedung.
Namun bila Anda cenderung untuk berpendapat
bahwa minimal harus ada 40 orang yang hadir agar bisa
dilaksanakan shalat Jumat, maka Anda tidak termasuk
yang wajib menjalankan shalat Jumat. Dengan catatan
bahwa di wilayah tersebut memang tidak ada lagi
orang-orang muslim, atau sama sekali Anda tidak
mengetahui adanya masjid di mana di situ dilaksanakan
shalat Jumat.
Masing-masing pendapat itu tentu punya latar
belakang dan dasar yang kuat sehingga pendapat-
pendapat itu berjalan abadi sepanjang masa.
1. Pendapat Kalangan Al-Hanafiyah
Al-Hanafiyah mengatakan bahwa jumlah minimal
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


116
untuk syahnya shalat Jumat adalah tiga orang selain
imam. Nampaknya kalangan ini berangkat dengan
pengertian lughawi (bahasa) tentang sebuah jamaah.
Yaitu bahwa yang bisa dikatakan jamaah itu adalah
minimal tiga orang.
Bahkan mereka tidak mensyaratkan bahwa peserta
shalat Jumat itu harus penduduk setempat, orang yang
sehat atau lainnya. Yang penting jumlahnya tiga orang
selain imam atau khatib.
Selain itu mereka juga berpendapat bahwa tidak ada
nash dalam Al-Quran Al-Karim yang mengharuskan
jumlah tertentu kecuali perintah itu dalam bentuk jama`.
Dan dalam kaidah bahasa arab, jumlah minimal untuk
bisa disebut jama? adalah tiga orang.
Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk
menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kalian
kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.
Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu
mengetahui. (QS. Al-Jumu'ah: 9)
Kata 'kalian' menurut mereka tidak menunjukkan 12
atau 40 orang, tetapi tiga orang pun sudah mencukupi
makna jama'.
2. Pendapat kalangan Al-Malikiyah
Al-Malikiyah menyaratkan bahwa sebuah shalat
Jumat itu baru syah bila dilakukan oleh minimal 12
orang untuk shalat dan khutbah.
Jumlah ini didapat dari peristiwa yang disebutkan
dalam surat Al-Jumu'ah yaitu peristiwa bubarnya
sebagian peserta shalat Jumat karena datangnya
rombongan kafilah dagang yang baru pulang berniaga.
Serta merta mereka meninggalkan Rasulullah SAW yang
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

117
saat itu sedang berkhutbah sehingga yang tersisa hanya
tinggal 12 orang saja.
Dan apabila mereka melihat perniagaan atau
permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya
dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri.
Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik
daripada permainan dan perniagaan", dan Allah
Sebaik-baik Pemberi rezki. (QS. Al-Jumu?ah: 11)
Oleh kalangan Al-Malikiyah, tersisanya 12 orang
yang masih tetap berada dalam shaf shalat Jum'at itu itu
dianggap sebagai syarat minimal jumlah peserta shalat
Jumat. Dan menurut mereka, Rasulullah SAW saat itu
tetap meneruskan shalat Jumat dan tidak menggantinya
menjadi shalat zhuhur.
3. Pendapat kalangan Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah
Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah menyaratkan
bahwa sebuah shalat Jumat itu tidak sah kecuali dihadiri
oleh minimal 40 orang yang ikut shalat dan khutbah dari
awal sampai akhirnya. Dalil tentang jumlah yang harus
40 orang itu berdasarkan hadits Rasulullah SAW:
Dari Ibnu Mas'ud ra. bahwa Rasulullah SAW shalat
Jum'at di Madinah dengan jumlah peserta 40 orang.
(HR. Al-Baihaqi).
Inil adalah dalil yang sangat jelas dan terang sekali
yang menjelaskan berapa jumlah peserta shalat Jumat di
masa Rasulullah SAW. Menurut kalangan Asy-
Syafi'iyah, tidak pernah didapat dalil yang shahih yang
menyebutkan bahwa jumlah mereka itu kurang dari 40
orang. Tidak pernah disebutkan dalam dalil yang shahih
bahwa misalnya Rasulullah SAW dahulu pernah shalat
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


118
Jumat hanya bertiga saja atau hanya 12 orang saja.
Karena menurut mereka ketika terjadi peristiwa
bubarnya sebagian jamaah itu, tidak ada keterangan
bahwa Rasulullah SAW dan sisa jamaah meneruskan
shalat itu dengan shalat Jumat.
Dengan hujjah itu, kalangan Asy-Syafi'iyah meyakini
bahwa satu-satu keterangan yang pasti tentang
bagaimana shalat Rasulullah SAW ketika shalat Jumat
adalah yang menyebutkan bahwa jumlah mereka 40
orang.
Bahkan mereka menambahkan syarat-syarat lainnya,
yaitu bahwa keberadaan ke-40 orang peserta shalat
Jumat ini harus sejak awal hingga akhirnya. Sehingga
bila saat khutbah ada sebagian peserta shalat Jumat yang
keluar sehingga jumlah mereka kurang dari 40 orang,
maka batallah Jumat itu. Karena didengarnya khutbah
oleh minimal 40 orang adalah bagian dari rukun shalat
Jumat dalam pandangan mereka.
Seandainya hal itu terjadi, maka menurut mereka
shalat itu harus dirubah menjadi shalat zhuhur dengan
empat rakaat. Hal itu dilakukan karena tidak
tercukupinya syarat syah shalat Jumat.
Selain itu ada syarat lainnya seperti:
1. Ke-40 orang itu harus muqimin atau orang-orang
yang tinggal di tempat itu (ahli balad), bukan orang
yang sedang dalam perjalanan (musafir), Karena
musafir bagi mereka tidak wajib menjalankan shalat
Jumat, sehingga keberadaan musafir di dalam shalat
itu tidak mencukupi hitungan minimal peserta shalat
Jumat.
2. Ke-40 orang itu pun harus laki-laki semua,
sedangkan kehadiran jamaah wanita meski
dibenarkan namun tidak bisa dianggap mencukupi
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

119
jumlah minimal.
3. Ke-40 orang itu harus orang yang merdeka, jamaah
yang budak tidak bisa dihitung untuk mencukupi
jumlah minimal shalat Jumat.
4. Ke-40 orang itu harus mukallaf yang telah aqil
baligh, sehingga kehadiran anak-anak yang belum
baligh di dalam shalat Jumat tidak berpengaruh
kepada jumlah minimal yang disyaratkan.
Silahkan pilih pendapat yang menurut Anda paling
sesuai dengan kondisi Anda dan paling sesuai dengan
jiwa Anda sendiri. Pada dasarnya Islam itu agama yang
mudah dan bisa tetap dilaksanakan di mana pun dan
kapanpun.
Wassalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.
Hanya 7 Muslim, Shalat Jumatnya Bagaimana?
Assalamualaikum wr. wb.,
Saat ini saya sedang berada di luar negeri yang tidak
ada komunitas umat Islamnnya. Kami berangkat dengan
7 orang teman. Bagaimna kami melaksanakan shalat
Jumat?
Demikian, terima kasih atas jawabannya.
Wassalam
jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Shalat Jumat adalah fardhu yang wajib dikerjakan
oleh semua laki-laki muslim yang memenuhi syarat.
Secara sengaja meninggalkan kewajiban shalat Jumat
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


120
tanpa udzur syar'i, maka Allah akan menutup hatinya.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut ini.
Dari Abi Al-Ja`d Adh-dhamiri ra. berkata bahwa
Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang
meninggalkan 3 kali shalat Jumat karena lalai, Allah
akan menutup hatinya." (HR Abu Daud, Tirmizy,
Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad).
Namun semua itu hanya ditegakkan manakala
syarat-syaratnya sudah terpenuhi. Sebaliknya, bila
syaratnya tidak terpenuhi, atau dalam keadaan tertentu,
tentu tidak ada kewajiban untuk mengerjakannya.
Sehingga yang wajib dikerjakan adalah shalat Dzhuhur
biasa.
Di antara 'udzur syar'i yang dibenarkan dalam ikut
shalat Jumat adalah safar. Bila kepergian anda ke luar
negeri ini masih termasuk kategori safar, maka anda
dibolehkan untuk tidak melakukan shalat jumat.
Bahkan sebagian ulama justru menyatakan bahwa
bila suatu shalat Jumat dikerjakan hanya oleh mereka
yang sedang safar, maka hukumnya tidak sah. Mereka
mensyaratkan bahwa shalat jumat itu hanya untuk
mereka yang muqim (mustauthin) di suatu tempat,
bukan orang yang sedang safar dan kebetulan ikut
shalat Jumat.
Namun demikian, yang juga jadi masalah adalah
status keberadaan anda sebagai musafir. Pada saat ini,
apakah anda musafir atau anda termasuk mustathin?
Para ulama memberi batasan bahwa yang namanya
musafir adalah orang yang sedang dalam perjalanan.
Bukan orang yang diam dan tinggal di suatu tempat,
meski jauh dari negerinya. Dan batasan berdiamnya
seorang musafir adalah 4 hari di suatu tempat, di luar
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

121
hari kedatangan dan hari keberangkatan.
Batasan ini menurut sebagian ulama, terutama di
kalangan mazhab As-Syafi'iyyah, didapat dari praktek
nabi SAW ketika beliau melakukan serangkaian ibadah
haji, di mana beliau selalu menjama' dan mengqashar
shalatnya selama 4 hari. Yaitu tanggal 10, 11, 12, dan 13
Dzulhijjah.
Jadi bila anda berada di suatu tempat di luar negeri,
untuk masa waktu lebih dari 4 hari, maka anda sudah
tidak dihitung musafir lagi. Dengan demikian, anda
sudah wajib melakukan shalat Jumat, juga tidak boleh
menjama' dan mengqashar shalat. Namun dengan
pengecualian bila anda tidak pernah tahu mau berapa
lama akan berdiam dan berada di suatu tempat. Juga
bila anda berpindah-pindah meski hanya dekat
jaraknya, termasuk dikatakan anda tidak berdiam di
suatu tempat.
Dari segi status, memang anda sudah dianggap
muqim yang wajib shalat Jumat. Tapi dari segi jumlah,
karena jumlah anda kurang dari 40 orang, maka tidak
terpenuhi syarat kedua dalam penyelenggaraan shalat
jumat. Sehingga menurut mazhab As-Syafi'i, anda tetap
tidak diwajibkan untuk shalat Jumat karena tidak
adanya shalat Jumat di tempat itu.
Sedangkan bila Anda menggunakan mazhab lain
yang tidak mensyaratkan jumlah minimal 40 orang
dalam shalat Jumat, maka anda bertujuh bisa saja
melakukan shalat Jumat sendiri. Seperti pendapat Al-
Malikiyah menyaratkan bahwa sebuah shalat jumat itu
baru syah bila dilakukan oleh minimal 12 orang untuk
shalat dan khutbah.
Bahkan Al-Hanafiyah mengatakan bahwa jumlah
minimal untuk syahnya shalat jumat adalah tiga orang
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


122
selain imam.
Wallahu a'lam bishshawab wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.
Status Puasa Ketika dalam Pesawat 18 Jam Perjalanan
Assalamu'alaikum wr. wb.
Pada Ramadhan kali ini, saya mendapat tugas dari
kantor untuk training selama 2 minggu ke sebuah
negara Eropa.
Menurut jadwal yang ada keberangkatan saya
(menggunakan pesawat terbang) pada hari Senin, pukul
20:00 WIB (GMT+7) dan sampai di Eropa hari Selasa
pukul 06:00 waktu setempat (GMT+1).
Kepulangan saya berangkat dari Eropa hari Kamis
pukul 22:00 waktu setempat (GMT+1) dan sampai di
Jakarta hari Jum'at pukul 19:30 WIB(GMT+7).
Walaupun ada keringanan untuk tidak berpuasa
selama dalam perjalanan, tapi saya berniat untuk tetap
berpuasa.
Yang ingin saya tanyakan adalah:
1. Dalam keberangkatan ke Eropa, apakah ketika
sampai di sana saya bisa meneruskan berpuasa dengan
sebelumnya sahur di pesawat dengan mengikuti waktu
Eropa (GMT+1)?
2. Apakah dalam kepulangan dari Eropa, saya sahur
dahulu sebelum berangkat, kemudian selama di pesawat
saya berpuasa dan ketika sampai di Jakarta (GMT+7)
saya berbuka bisa dianggap sebagai puasa pada hari
Jum'at di Jakarta?
3. Perlukah saya mengganti puasa di bulan Syawwal
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

123
untuk pertanyaan no. 1 dan no. 2 walaupun saya sudah
berusaha berpuasa (khawatir dengan kesempurnaan)?
Atau cukupkah dengan berpuasa 6 hari di bulan
Syawwal bisa menyempurnakan puasa saya selama
perjalanan pergi dan pulang tersebut?
Jazakumullah Khairon Katsiron atas kesempatan
untuk menjawab pertanyaan ini, semoga Allah SWT
membalas kebajikan yang anda perbuat dengan balasan
yang berlimpah.
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Yang dijadikan acuan dalam menentukn jadwal
berpuasa adalah keadaan alam yang disaksikan oleh
pelaku. Maksudnya, waktu Shubuh dan waktu Maghrib
yang berlaku pada diri seseorang adalah yang secara
real dialaminya. Bukan berdasarkan jadwal puasa pada
tempat asal atau tempat tujuan, sementara dirinya tidak
ada di tempat itu.
Anda boleh makan sahur selama anda belum
mengalami masuknya waktu shubuh. Boleh anda
perkirakan atau malah sebaiknya anda tanyakan kepada
awak pesawat, di mana dan kapan kira-kira anda akan
memasuki waktu shubuh.
Maka patokannya bukan jadwal shubuh di negeri
tujuan, juga bukan negeri asal, tetapi negeri di mana
pada saat itu anda berada. Boleh jadi anda masih ada di
atas Laut Merah atau Laut Mediterania, pada saat masuk
waktu shalat shubuh.
Begitu anda sampai di negara tujuan, berbuka
puasalah sesuai dengan jadwal puasa negeri setempat.
Sangat dimungkin dengan adanya perjalanan ini,
masa berpuasa anda akan semakin singkat atau semakin
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


124
panjang. Meski pun lamanya terbang anda relatif sama,
antara pergi dan pulangnya. Tetapi karena jadwal puasa
di tiap negara berbeda-beda, maka masa puasa anda
sendiri otomatis ikut berbeda.
Tetapi yang selalu harus anda perhatikan, mulailah
berpuasa sesuai dengan jadwal puasa di mana anda
berada dan berbukalah sesuai dengan jadwal buka
puasa di mana anda berada.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh
Ahmad Sarwat, Lc.
Berpuasa dalam Musim Dingin?
Assalamualaikum Pak Ustadz,
Saya sekarang sedang berada di AS, pak ustadz. Ini
pertama kalinya saya akan menghadapi bulan suci
Ramadhan di luar Indonesia. Untuk saat ini saya bekerja
di mana ritme kerjanya menurut saya bisa untuk
berpuasa dengan lancar (karena kerjanya indoor/dalam
ruangan). Tetapi menurut rencana saya akan pindah
kerja di luar ruangan/*outdoor di mana menurut
estimasi puasa di sini akan dilalui dalam musim dingin/
salju. Dan saya berniat sekali untuk bisa berpuasa
sebulan penuh nantinya.
Yang jadi pertanyaan saya:
1. Bagaimana jika nantinya dalam menjalankan
ibadah puasa di tengah jalan saya tidak kuat, mengingat
kerjanya tidak ada libur dan dalam musim dingin/salju,
apakah saya harus membayar dam/denda atau cukup
mengganti saja di lain hari setelah habis masa
Ramadhan?
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

125
2. Apakah sholat saya bisa saya gabung nantinya
contohnya: Zhuhur dengan Azhar.Mengingat kerjanya
cukup berat dan susah untuk mengatur waktu sholat.
Terimakasih atas jawabannya Pak Ustadz
Wa'alaikumsalam wr. wb.
jawaban
Asalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Seseorang yang karena kondisi tertentu tidak mampu
berpuasa, dibolehkan untuk berbuka. Sebab pada
hakikatnya agama Islam itu tidak memberatkan
umatnya.
Namun untuk itu diperlukan syarat mutlak, yaitu
ketidak-mampuannya itu memang sudah sampai titik
perjuangan terakhir. Sehingga bila diteruskan puasanya,
akan mengakibatkan masalah yang fatal atau bersifat
madharrat. Adapun bila masih sanggup untuk
diteruskan, tentu saja hukumnya haram bila
membatalkan secara sengaja.
Dengan demikian, anda wajib berniat sejak malam
hari untuk berpuasa dan melakukan puasa terlebih
dahulu. Kalau di dalam hari itu ternyata tidak kuat lagi
meneruskan puasa, maka barulah pada saat itu saja
anda boleh berbuka. Anda tidak boleh sejak awal sudah
berniat tidak puasa.
Hal yang sama juga berlaku buat mereka yang kerja
kasar, entah kuli angkut di pelabuhan atau penarik
becak dan sejenisnya. Boleh berbuka bila memang pada
akhirnya tidak mampu, namun syaratnya sejak semula
harus berniat puasa dan menjalankannya terlebih
dahulu.
Pengganti Puasa
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


126
Bila seseorang tidak mampu meneruskan puasa
karena kondisi yang payah, maka sebagai penggantinya
adalah dengan berpuasa di hari lain sebanyak hari yang
ditinggalkannya. Bukan dengan membayar fidyah.
Sebab pengganti dalam bentuk fidyah hanya berlaku
buat orang yang sudah sama sekali tidak akan mampu
berpuasa seumur hidupnya. Seperti orang yang sudah
lanjut usia atau jompo.
Sementara orang sakit yang masih bisa diharapkan
kesembuhannya, maka dia harus mengganti dengan
puasa di lain hari. Sebagaimana firman Allah SWT:
Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit
atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka
(wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang
ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib
bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika
mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu):
memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang
dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka
itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih
baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS Al-Baqarah:
184)
Syarat Menjama' Shalat
Kita memang mengetahui adanya syariat untuk
menjama' shalat, yaitu mengerjakan dua shalat wajib
yang berbeda di dalam satu waktu. Namun untuk itu
harus ada syarat tertentu agar 'fasilitas' ini bisa
digunakan.
Di antaranya adalah bila seseorang dalam keadaan
safar, atau ketika turun hujan. Sedangkan menjama'
shalat karena kesibukan, apalagi terjadi setiap hari, tentu
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

127
saja tidak boleh dilakukan begitu saja.
Sebab setiap orang pasti sibuk setiap hari, bukan
hanya di Amerika saja. Di mana pun kalau mau dituruti
selalu ada kesibukan. Kalau begitu maka shalat pun
pasti akan dijama' semuanya.
Maka kami berpandangan bahwa menjama' shalat
tidak boleh dilakukan hanya karena alasan sibuk.
Kecuali bila memang sekali waktu seseorang karena
kondisi yang di luar perkiraannya dipaksa oleh keadaan
untuk tidak bisa shalat. Maka bolehlah saat itu dia
menjama'nya. Itu pun tidak boleh tiap hari.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.


Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

129
Bab Kelima
Makanan
Keharaman Makanan di Negara Minoritas Muslim
Assalamu'alaikum,
1. Yang dirahmati Allah, Ust. Ahmad Sarwat, Lc.
Saya seorang mahasiswa dan pada kesempatan kali
ini saya bermukim di luar negeri untuk
menyelesaikan studi saya. Kebetulan saya berada
di satu negeri yang muslim minoritas, sehingga
permasalahan makan halal menjadi kendala saya.
Pertanyaan saya:
2. Apakah saya termasuk mengkonsumsi makanan
yang tidak halal jika saya makan di tempat yang
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


130
tidak jelas kehalalanya walaupun menu yang saya
pilih tidak mengandung subsatansi haram (babi,
alkohol dll.), sementara saya tidak mengetahui
proses memasaknya apakah ada bahan tambahan
yang sekiranya masuk kategori haram?
3. Pada satu kesempatan saya mengkonsumsi satu
makan, dan ternyata belakangan baru saya tahu
jika dalam makakan tersebut terkandung bahan
yang dalam kategori haram, dalam hal ini apakah
saya telah berdosa?
4. Bagaimakah sikap saya seharusnya agar bisa
selamat dari hal makanan haram ini? Mohon
masukannya.
Demikian ustadz permasalahan saya, mohon saya
diberikan pencerahan atas kebimbangan saya ini.
Jazakumullah khoiron katsiroo atas segala
jawabannya.
Jawaban
Assalamu 'alakum warahmatullahi wabarakatuh,
Adalah merupakan sebuah keutamaan bagi seorang
muslim untuk selalu bersifat wara', yaitu berhati-hati
dalam menjaga diri agar jangan tercebur ke dalam hal-
hal yang diharamkan Allah SWT.
Jangan sampai kita terlalu memudahkan masalah dan
menganggap sepele, padahal masalah itu di sisi Allah
SWT boleh jadi sangat besar. Sebagaimana firman Allah
SWT:
... Dan kamu menganggapnya suatu yang ringan
saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. (QS.
An-Nur: 15)
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

131
Sifat wara' ini merupakan sifat yang utama bagi
seorang muslim dan merupakan jalan menuju menjadi
orang yang berderajat muttaqin. Sebagaimana sabda
nabi SAW:
Dari 'Athiyyah bin 'Urwah As-Sa'diy berkata bahwa
Rasulullah SAW bersabda, "Seorang hamba tidak
akan sampai sebagai bagian dari orang bertaqwa
hingga dia meninggalkan hal-hal yang tidak haram,
karena takut sesuatu yang tidak haram itu menjadi
haram. (HR. Tirmizy dan beliau mengatakan hasan)
Demi mengamalkan kedua dalil di atas, maka bila
ada seorang hamba yang sangat berhati-hati dalam
masalah memakan makanan tertentu, lalu dia memilih
untuk memasak dan mengolah sendiri semua makanan
yang dikonsumsinya, jangan diejek dulu. Sebab sesuai
dengan ijtihadnya, dia ingin bersikap hati-hati sesuai
dengan suara hatinya.
Namun sampai di mana rasa kehati-hatian ini masih
dianggap wajar? Apakah semua muslim yang tinggal di
negeri minoritas Islam, harus memasak dan mengolah
sendiri semua makanannya, dan meninggalkan semua
jenis makanan yan tersedia? Dan benarkah rasa hati-hati
ini boleh digeneralisir hingga merubah status
hukumnya? Mari kita bahas masalah ini.
"Yang halal itu jelas, yang haram juga jelas,
sedangkan di tengah-tengahnya ada hal-hal yang
mutasyabihat, yaitu hal-hal yang hukumnya belum
jelas. Orang kebanyakan tidak mengetahui
hukumnya... (HR. Muttafaq 'alaihi)
Hadits ini tegas sekali menyatakan bahwa ada hal-hal
yang hukumnya tidak banyak diketahui oleh
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


132
kebanyakan orang. Namun hadits ini juga menyiratkan
pengertian bahwa tetap ada kalangan orang yang
mengerti hukumnya dengan pasti.
Tapi siapakah yang mengetahuinya? Yang
mengetahuinya adalah kalangan ahli syariah yang
melakukan berbagai penyelidikan, upaya tak kenal
lelah, serta proses penyelidikan kepada berbagai macam
dalil yang ada. Mereka inilah yang mengetahui hukum
di balik hal-hal yang syubhat di mata awam.
Mereka inilah yang menetapkan suatu makanan itu
haram atau halal hukumnya. Tentu dengan
menggunakan standar pengambilan keputusan hukum
yang valid. Termasuk dalam melakukan penyelidikan
dalam masalah makanan.
Namun karena jumlah makanan itu sangat banyak,
dan tidak mungkin semuanya harus dijatuhkan
hukumnya sebagai haram, hanya berdasaran asumsi
dan dugaan, maka idealnya penyelidikan dimulai dari
memeriksa makanan-makanan yang dianggap sangat
berpotensi mengandung unsur yang haram. Hasilnya
adalah sebuah kepastian hukum atas haramnya
makanan tersebut.
Kalau sudah divonis haram, maka makanan itu
haram untuk dikonsumsi. Sedangkan kalau belum
dilakukan penyelidikan, hukumnya tidak bisa langsung
dijatuhkan haram. Sebab tidak semua makanan yang
dimakan oleh non muslim itu pasti semuanya haram.
Dan kita pun akan jatuh kepada dosa manakala kita
sampai menjatuhkan vonis haram kepada makanan-
makanan yang pada dasarnya tidak haram.
Namun tidak salah bila seseorang dengan niat
menjaga diri, tidak memakannya. Selama dia tidak
memvonis bahwa makanan itu hukumnya langsung
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

133
haram.
Menjaga diri dari kemungkinan jatuh kepada yang
haram sangat berbeda dengan memvonis suatu
makanan hukumnya haram.
Islam Agama yang Mudah
Kita tahu bahwa Islam adalah agama yang mudah,
ringan dan tidak merupakan beban buat umatnya.
Termasuk dalam masalah makanan. Dalam syariah
Islam, kita diperintahkan untuk melakukan segala
sesuatu berdasarkan dalil yang kuat, bukan dengan
asumsi dan perasaaan.
Ketika kita shalat dan yang kita lihat secara pisik
bahwa pakaian kita bersih, tempat shalatnya juga bersih,
maka kita harus meyakini bahwa keduanya suci dan
bersih. Kita diharamkan bersikap was-was yang
berlebihan, seperti was-was kalau-kalau ada setitik najis
pada pakaian kita atau tempat shalat yang tidak kita
sadari. Sehingga kemudian malah menyusahkan kita
sendiri.
Sikap berlebihan seperti ini justru dilarang dalam
Islam. Sikap wara' (berhati-hati) tidak bisa disamakan
dengan sikap was-was dan ragu-ragu. Maka untuk
membedakannya, ada kaidah yang berbunyi:
Nahnu nahkumu biz-zhowahir, wallahu yatawallas-
sarair. Kita memutuskan hukum berdasarkan bentuk
zahirnya, sedangkan masalah yang tersembunyi menjadi
urusan Allah.
Keterkaitannya dengan hukum makanan di negeri
minorita muslim, maka kita patut berhati-hati, tetapi
juga tidak boleh was-was berlebihan. Sehingga malah
menyusahkan diri sendiri. Kalau kita selalu curiga
kepada orang lain, maka hidup ini akan semakin sempit,
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


134
dan agama ini juga akan semakin menyulitkan.
Wallahu a'lam bishshwab, wassalamu 'alakum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.
Minum Dari Bekas Minum Orang Kafir, Najiskah?
Assalamu'alaikum.
Ada seorang teman Nasrani minum dari botol air
mineral. Kemudian teman saya yang muslim
menggunakan botol kosong tersebut untuk minum.
Salah seorang teman saya mengatakan seorang muslim
tidak boleh seperti itu (berbagi wadah minum).
Bagaimana hukumnya menurut ustadz mengenai
berbagi wadah minum dengan orang kafir ahli kitab?
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bekas minum manusia baik kafir maupun muslim
tidak najis. Yang najis adalah bekas minum hewan yang
air liurny najis, seperti anjing atau babi. Dalam istilah
fiqih disebut dengan sebutan su'ru.
Para ulama sepakat bahwa su'ru manusia hukumnya
tidak najis, meski manusia itu bukan muslim. Adapun
dalil yang menyebutkan bahwa orang-orang musyrik itu
najis, bukan dalam makna hakiki, melainkan makna
majazi.


Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

135

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya
orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah
mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini.
Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah
nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari
karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS
At-Taubah: 28)
Karena itulah maka ayat ini hanya melarang orang-
orang non muslim masuk ke wilayah haram Makkah.
Dan aturan ini sudah diterapkan oleh penguasa Saudi
Arabia.
Tapi ayat ini sama sekali tidak melarang orang kafir
masuk ke masjid lantaran tubuhnya najis secara hakiki.
Dahulu orang-orang kafir yang datang kepada
Rasulullah SAW bercampur baur dengan umat Islam.
Bahkan ada yang masuk ke dalam masjid. Namun
Rasulullah SAW tidak pernah diriwayatkan
memerintahkan untuk membersihkan bekas sisa orang
kafir.
Sedangkan dalil yang secara langsung menyebutkan
tidak najisnya bekas minum orang kafir, adaah hadits
Abu Bakar berikut ini:
Rasulullah SAW diberikan susu lalu beliau
meminumnya sebagian, lalu disodorkan sisanya itu
kepada seorang a`rabi (kafir) yang ada di sebelah
kanannya dan dia meminumnya, lalu disodorkan
kepada Abu Bakar dan beliau pun meminumnya (dari
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


136
wadah yang sama) lalu beliau berkata,`Ke kanan dan
ke kanan`. (HR Bukhari)
Hadits shahih ini menyebutkan tanda tedeng aling-
aling bahw Rasulullah SAW, orang kafir dan Abu Bakar
ra minum dari gelas yang sama. Seandainya bekas
minum orang kafir itu najis, maka tidak mungkin Abu
Bakar minum dari gelas bekas orang kafir, sementara
Rasulullah SAW ada bersama mereka.
Kecuali bila manusia itu baru saja meminum khamar,
maka hukum ludah atau su`ru-nya mejadi haram,
lantaran kekhawatiran masih adanya sisa-sisa khamar.
Tapisekali bukan karena kekafirannya, sebab mungkin
saja ada orang Islam yang minum khamar. Dan minum
dengan gelas bekas minum khamar hukumnya haram,
lantaran menghindari sisa khamarnya.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.
Halalkan Makan dari Piring Non-muslim
Saya bekerja dilingkungan non muslim. Yang
mengganjal di diri saya adalah saya sering diundang
pada acara-acara tertentu yang akhirnya disuguhi
makanan. Sering saya tidak datang, tapi kalau di gedung
dan nasinya nasi box dari rumah makan padang,
biasanya saya baru akan makan. Mereka selalu bilang,
tenang bu.. ga ada babinya kok. Sajian babi di pisah
sama ayam koq. Ih, saya sudah bergidik mendengarnya.
Saya pernah baca, barang-barang yang pernah kena
najis besar seperti anjing dan babi, jika belum disama'
tetap saja bernajis. Tidak hanya itu, saya juga bingung,
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

137
menempatkan fikih atau akhlak toleransi, karena setiap
hari teman dikantor sering bawa makanan yang
dimasak dirumahnya (teman saya non-Islam), sering
berbagai alasan saya tolak tetapi beberapa kali saya
makan juga karena sungkan selalu menolak. Sepertinya
saya tidak konsekuen, mereka tahu babi dan anjing
haram buat kita muslim, tetapi apakah makanan yang
mereka masak juga jadi haram semuanya. Mereka malah
membuat kesimpulan, bahwa makanan yang dimasak
oleh orang kristen adalah haram bagi orang Islam.
bagaimana ustaz.
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Kalau teman-teman non muslim anda menawarkan
makanan kepada Anda, itu berarti mereka adalah kawan
anda. Buktinya, mereka sampai mau berbagi dalam
masalah makanan.
Dan yang namanya kawan pasti tidak mau
menjerumuskan, atau tidak akan melecehkan diri anda.
Termasuk tidak ingin menghalangi anda dari
menjalankan agama anda dengan baik. Dan rasanya,
hampir tidak ada orang non muslim yang tidak tahu,
bahwa babi dan anjing itu hukumnya haram dimakan
oleh muslim. Demikian juga dengan khamar.
Kita tidak boleh memperlaukan seorang non muslim
seolah sebagai orang yang ingin menjerumuskan,
menjebak atau menelikung kita. Memang ada kalangan
non muslim yang demikian, namun tidak semuanya.
Wadah Makanan Bekas Najis
Yang anda khawatirkan barangkali kalau-kalau
teman non muslim itu pernah memasak dan memakan
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


138
makanan yang termasuk najis. Sebenarnya najis itu ada
tiga macam, mulai dari yang ringan, sedang dan berat.
Najis yang ringan sering dicontohkan dengan air
kencing bayi laki-laki yang belum minum atau makan
apapun kecuali air susu ibunya. Di tengah-tengahnya
ada najis sedang seperti darah, nanah, bangkai dan
lainnya. Cara mensucikannya cukup dengan dicuci
pakai air hingga hilang warna, rasa dan aroma najisnya.
Adapun najis yang terakhir adalah najis yang berat
(mughalladzhah). Najis seperti ini memang tidak bisa
menjadi suci hanya dengan dicuci pakai air saja. Sucinya
dengan mencucinya 7 kali salah satunya dengan air.
Ritual ini mengacu kepada sabda Rasulullah SAW
ketika menyebutkan cara mencuci wadah yang berisi air
namun sempat diminum atau dimasuki moncong anjing.
Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW
bersabda, "Bila anjing minum dari wadah air
milikmu, harus dicuci tujuh kali.(HR Bukhari dan
Muslim).
Rasulullah SAW bersabda, "Sucinya wadah
minummu yang telah diminum anjing adalah dengan
mencucinya tujuh kali dan salah satunya dengan
tanah.(HR Muslim dan Ahmad)
Oleh para ulama, ketentuan pensucian najis air liur
anjing ini disamakan dengan pensucian babi yang
keduanya dikelompokkan sebagai najis berat.
Maka bila kita mengacu kepada pengelompokan
najis, piring milik saudara kita yang non muslim itu
belum tentu semuanya harus dicuci dengan air 7 kali
dan salah satunya dengan tanah. Karena tidak selalu
mereka memasak anjing atau babi.
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

139
Mungkin saja mereka hanya memakan bangkai
hewan yang tidak disembelih sesuai dengan syariah.
Hukumnya buka najis berat tapi najis sedang, jadi
najisnya akan hilang saat piring-piring itu dicuci biasa.
Adapun bila kita hanya berpraduga secara umum,
misalnya kita bilang, 'jangan-jangan piring ini pernah
digunakan untuk wadah daging anjing atau babi',
sebetulnya dugaan itu belum mengubah status hukum.
Karena sebuah status hukum itu harus didasarkan
pada sesuatu yang nyata dan terbukti, tidak cukup
hanya dengan dugaan. Kalau kita pernah lihat langsung,
atau si non muslim itu jujur mengatakan bahwa piring
itu pernah dipakai untuk wadah anjing atau babi,
barulah saat itu status hukumnya menjadi pasti. Dan
barulah saat itu kita diharamkan menggunakan piring
itu sebelum kita sucikan sesuai syariah.
Namun selama kita masih menduga-duga, apalagi
bahkan si pemilik piring pun menampik bahwa piring
itu pernah digunakan untuk wadah anjing atau babi,
maka status hukum piring itu masih sesuai asalnya,
yaitu tidak najis. Atau minimal sesuai dengan keadaan
pisik yang anda lihat, bersih dan suci.
Kita tidak akan dimintai pertanggung-jawaban dari
Allah SWT atas segala hal yang di luar yang nyata di
hadapan kita. Kalau secara lahiriyah piring itu suci,
maka hukumnya suci. Seandainya diam-diam teman
kita yang non muslim itu secara sengaja berbohong
untuk menjebak kita, insya Allah kita terbebas dari dosa.
Kesimpulan jawaban ini bisa kita ringkas dalam
sebuah kaidah: nahnu nahkumu didzdzhawahir wallahu
yatawallas-sarair. Kita menetapkan hukum berdasarkan
lahiriyah, sedangkan yang tersembunyi menjadi urusan
Allah.
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


140
Wallahu a'lam bishshwab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Ragu Diundang Makan di Rumah Non Muslim
Assalamu'alaikum wr. wb.
Ustadz, saya memiliki kawan non -muslim, kami
mengadakan pertemuan setiap 2 bulan sekali semacam
reuni, di mana dalam acara tersebut kami mengadakan
acara makan-makan yang biasanya diadakan di rumah
teman saya yang non muslim tersebut. Saya pernah
bertanya pada khadimatnya bahwa di rumah itu sering
dimasak daging babi sebagai menu masakannya. Saya
menjadi ragu setiap makan di acara tersebut, karena
pasti tuan rumah memasak menggunakan alat memasak
yang pernah dipakai untuk memasak daging babi.
Daging babi itu haram dan termasuk najis besar kalau
saya tidak salah, sehingga untuk membersihkannya
bukankah harus dilakukan pencucian sebanyak tujuh
kali yang salah satunya dicampur dengan tanah seperti
membasuh sesuatu yang terjilat anjing?
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahamatullahi wabarakatuh,
Kalau mau diikuti logika fiqihnya memang demikian.
Maka solusinya sederhana saja sebenarnya, yaitu anda
perlu sedikit terbuka dengan kawan anda yang bukan
muslim itu. Sampaikan saja dengan baik-baik dan sopan
bahwa sebagai muslim, anda tidak boleh makan babi.
Namun meski teman anda itu tidak menghidangkan
babi, namun dalam kepercayaan anda tetap saja alat
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

141
masak yang pernah digunakan untuk memasak babi
perlu disucikan secara benar.
Sebenarnya kalau kita melihat secara aturan umum,
setiap muslim tidak diwajibkan sampai menanyakan
sejauh itu, apalagi sampai bertanya kepada
pembantunya. Seharusnya kita cukup berhusnudzdzan
dengan apa yang dihidangkan, tanpa dibebani dengan
kewajiban untuk bertanya terlalu jauh.
Paling tidak sebagian ulama berpandangan demikian,
terutama bila dikaitkan dengan masalah hukum. Sebab
kita mengenal ungkapan: Nahnu nahkumu bizh-
zhawahir wallahu watawallas-sarair. Kita menetapkan
hukum berdasarkan apa yang nampak, sedangkan yang
tidak nampak menjadi urusan Allah. Sehingga kalau
mengikuti kaidah itu, kita tidak dibebani untuk terlalu
mendalami asal usul makanan yang dihidangkan.
Namun kita pun mengakui adanya kecenderungan
sikap hati-hati (wara') dari sebagian muslim. Yaitu
mereka yang berupaya secara maksimal untuk menjaga
diri dari hal-hal yang diharamkan Allah SWT, meski
sudah melampaui batas-batas yang tersembunyi
sekalipun dan di luar kelaziman.
Sikap hati-hati seperti ini memang baik bahkan perlu
dipupuk, asalkan diiringi juga dengan mentalitas yang
kuat. Paling tidak, dia harus kuat menahan diri untuk
tidak makan di suatu jamuan makan, di mana dia
merasa kurang sreg dengan kehalalannya. Atau dia
harus kuat mental untuk tidak malu menanyakan status
kehalalan makanan kepada tuan rumah, sebagaimana
saran kami di atas.
Sikap mental ini penting untuk dipelihara dan
dipupuk. Tidak ada alasan kurang etis atau kurang
sopan. Sebab ini masalah halal dan haram, tidak boleh
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


142
asal-asalan. Terutama bila seseorang cenderung untuk
berhati-hati dalam kehalalan makanan. Sikap kehati-
hatian itu harus diiringi dengan resiko siap mental.
Namun bila tidak siap mental, sebaiknya kembali saja
kepada dasar yang sudah baku, yaitu kita melihat
lahiriyah saja, tidak perlu terlalu merepotkan diri
dengan hal-hal yang di luar jangkauan.
Wallahu a'lam bishshawab, Wassalamu 'alaikum
warahamatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.
Makanan Parcel Natal Apakah Halal?
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
Ustad, banyak perusahaan rekanan yang
mengrimkan parcel Natal ke tempat saya bekerja.
Apakah makanan-makanan itu halal untuk dimakan
oleh kita sebagai seorang muslim? Mohon penjelasannya
ustad.
wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Haramnya makanan kembali kepada hukum fiqih,
bukan hukum aqidah. Secara aqidah, kita tidak bisa
kompromi dengan tahayyul umat Kristiani yang
mengatakan tuhan ada tiga, salah satu di antaranya
adalah Nabi Isa 'alaihisalam.
Karena itu dalam aqidah kita, teman-teman kita yang
tetap memeluk agama nasrani itu hanya akan jadi teman
selama di dunia ini saja, begitu mereka mati, mereka
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

143
akan langsung berpisah dari kita untuk selama-lamanya.
Sebab mereka semua masuk neraka dan kekal selama-
lamanya di sana.
Yang baik atau yang jahat, semua masuk neraka.
Karena satu saja sebabnya, mereka tidak mentauhidkan
Allah dan ingkar kepada kenabian Muhammad SAW.
Urusan Muamalah
Tapi kalau urusannya bukan aqidah, tetapi urusan
muamalah, lain lagi hukumnya. Setidaknya menurut
jumhur ulama. Kepada para non-muslim, kita tetap
wajib menjaga hak-hak mereka. Maksudnya kepada
kafir dzimmi yang tidak ada peperangan fisik antara
kita dengan mereka.
Bahkan kita diwajibkan untuk menjaga harta benda
serta keluarga mereka. Nyawa mereka pun wajib kita
jamin agar tidak tersia-sia. Jadi tidak ada salahnya kalau
kita berbaik-baik dengan mereka selama masih di dunia
ini. Anggap saja sebagai cendera mata sebelum mereka
nanti digebukin malaikat di neraka kekal.
Islam tidak melarang kita bertukar hadiah dan
penghormatan kepada pemeluk Kristiani. Baik terkait
dengan hari besar mereka atau pun hari besar kita.
Bahkan para ulama berijtihad bahwa dana baitul mal
pun dibolehkan diserahkan kepada umat Kristiani,
kalau mereka miskin dan tidak mampu.
Dan dana zakat yang mustahiqnya ada 8 kelompok
itu, salah satunya pun ditetapkan untuk diberikan
kepada mereka, yaitu orang kafir yang diharapkan akan
takluk hatinya. Kalau pun tidak masuk Islam,
setidaknya tidak menjadi musuh yang merugikan umat
Islam.
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


144
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk
orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-
pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya,
untuk budak, orang-orang yang berhutang, untuk
jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam
perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan
Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana. (QS. At-Taubah: 60)
Istilah wal-muallafati qulubuhum salah satu
maknanya adalah mereka yang masih kafir dan hatinya
ingin ditaklukkan. Selain makna muallaf yaitu orang
kafir yang sudah masuk Islam.
Maka hadiah yang mereka berikan kepada kita, lepas
dari masalah pengaruh psikologisnya, sebenarnya
bukan benda yang haram untuk dikonsumsi, selama
bukan benda yang secara dzatnya haram dimakan,
seperti benda najis atau berupa khamar.
Kecuali yang diberikan itu berupa hewan yang
disembelih bukan karena Allah, misalnya untuk berhala,
maka kita diharamkan untuk memakannya.
Sebagaimana firman Allah SWT:
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu
bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang
disebut selain Allah . (QS. Al-Baqarah: 173)
Katakanlah, "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu
yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang
diharamkan bagi orang yang hendak memakannya,
kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang
mengalir atau daging babi karena sesungguhnya
semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas
nama selain Allah. (QS Al-An-'am: 145)
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

145
Demikian juga bila yang diberikan itu berupa
khamar, maka haram hukumnya untuk dikonsumsi.
Atau makanan lain yang sekiranya mengandung
khamar.
Selebihnya, bila makanan itu pada hakikatnya
makanan halal, maka tidak ada dalil atau hujjah untuk
mengharamkannya dari sudut pandang fiqih. Kecuali
kalau kita mau memandang dari sudut yang lain,
misalnya secara politis atau strategis. Di mana kalau kita
makan, akan memberikan dampak psikologis yang
meresahkan umat misalnya. Maka yang kita tetapkan
bukan hukum halal atau haramnya, melainkan unsur
psikologisnya.
Yang Mengharamkan
Di balik dari pendapat umumnya ulama, ada juga
pendapat yang mengharamkan semua bentuk
penerimaan hadiah dalam rangka hari raya agama lain,
wabil khusus Kristen.
Sebutlah misalnya pendapat Ibnu Umar radhiyallahu
'anhu yang sangat benci kepada kenasranian. Beliau
sampai mengatakan tidak ada orang yang lebih syirik
daripada pemeluk agama Nasrani. Sebab mereka telah
mengatakan Allah punya anak dan nabi Isa sebagai anak
Allah.
Sampai beliau mengharamkan laki-laki muslim
menikahi wanita ahli kitab, dan juga mengharamkan
hewan sembelihan mereka.
Aspek Psikologis
Selain adanya pendapat yang mengharamkan, kita
juga tidak boleh bermain-main dengan aspek psikologis.
Dan inilah yang telah berlangsung lama di negeri
tercinta ini. Murtadnya sekian juta muslim di berbagai
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


146
pelosok, disinyalir bermula dari diterimanya hadiah,
bantuan, santunan, beasiswa, biaya rumah sakit sampai
renovasi rumah dan seterusnya, dari kalangan penginjil
kepada rakyat muslim yang miskin.
Bantuan dan hadiah ini pada gilirannya akan
menaklukkan hati umat Islam, sehingga pendirian
rumah ibadah Kristen di tengah pemukiman muslim
jadi dibolehkan. Padahal rumah ibadah ini jelas-jelas
sebuah agen kristenisasi yang sangat dahsyat
memurtadkan umat Islam.
Sehingga untuk periode berikutnya, banyak
masyarakat yang akhirnya melego imannya, murtad dan
jadi kafir serta bersiap-siap menjadi bahan bakar api
neraka. wal 'iyadhzu billah.
Kekhawatiran ini tidak berlebihan, mengingat bangsa
Indonesia adalah bangsa yang berada dalam nomor urut
satu sebagai bangsa yang dijadikan objek kristenisasi
level dunia. Maka kalau ada tokoh yang bersikeras
melarang kita menerima atau makan parcel dari umat
kristiani, harus dilihat dari sudut pandang ini.
Walaupun kalau kita kembali kepada hukum dasar
makanan, secara pisik makanan itu tidak selalu haram.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Non Muslim Menanyakan Kenapa Babi Haram?
Assalamualikum wr. wb.
Ustadz, ada teman saya non muslim menanyakan
kenapa dalam Islam babi itu haram dimakan? Saya
hanya bisa menjawab bahwa hal itu dilarang dan tersirat
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

147
dalam al-Quran tapi dia kurang puas atas jawaban saya.
Apakah ada kisah atau riwayat yang menjelaskan
sehingga babi itu haram dimakan?
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Perbedaan antara seorang mukmin dengan kafir
dalam amal perbuatannya terutama didasarkan dari
niatnya. Seorang yang beriman ketika mengerjakan
sesuatu atau meninggalkannya, selalu mendasarkan
tindakannya itu atas perintah dan larangan dari Allah
SWT. Sebaliknya seorang kafir tidak pernah menjadikan
perintah dan larangan Allah SWT sebagai landasan
amalnya.
Misalnya, ketika seorang muslim melakukan shalat
dan ditanyakan kepadanya, mengapa dia shalat?, maka
jawabannya adalah bahwa karena Allah SWT telah
memerintahkannya untuk shalat. Tentang shalat itu ada
manfaatnya buat kesehatan atau ketenangan jiwa dan
sebagainya, tidaklah menjadi landasan dasar atas
shalatnya. Dan di situlah peran niat yang sesungguhnya.
Demikian juga ketika seorang mukmin meninggalkan
khamar, zina, judi dan makan babi, niatnya semata-mata
karena dia tunduk, taat dan patuh kepada larangan dari
Allah SWT. Bukan sekedar mengejar hikmah dan tujuan
yang bersifat duniawi. Tidak minum khamar bukan
karena sekedar tidak mau mabuk, melainkan semata-
mata karena Allah SWT mengharamkannya. Tidak mau
zina bukan karena takut kena sipilis atau HIV, tetapi
karena ada larangan dari Allah SWT. Demikian juga,
tidak makan babi bukan karena takut ada cacing pita,
melainkan karena Allah SWT sudah mengharamkannya.
Adapun orang kafir tidak pernah mendasarkan
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


148
tindakannya itu karena iman dan ketundukan kepada
aturan yang datang dari Allah SWT. Paling jauh,
landasannya sekedar logika dan penemuan ilmiyah.
Padahal, sesuatu yang ilmiyah itu justru bersifat nisbi
dan sangat mudah berubah.
Kalau kita amati saat ini, banyak juga non muslim
yang atas penemuan ilmiyahnya ikut-ikutan berpuasa
sebagaimana seorang mukmin. Misalnya, karena
kesimpulan ilmiyah membuktikan bahwa dengan
mengosongkan perut, tubuh akan semakin sehat. Maka
mereka pun berpuasa sebagaimana orang mukmin.
Tetapi disisi Allah SWT, puasa non muslim itu sama
sekali tidak ada nilainya.
Mengapa?
Karena puasanya buka lantaran taat kepada Allah
SWT, melainkan semata-mata karena kesimpulannya
sendiri.
Penelitian ilmiyah dan beragam hikmah serta rahasia
ibadah seperti ini buat seorang mukmin tidak menjadi
dasar mengapa dia berpuasa. Sebab dasar ibadah
hanyalah semata-mata karena perintah dari Allah,
bukan karena ingin sehat atau sebab-sebab lainnya.
Jadi kalau teman non muslim anda itu kurang puas
dengan jawaban anda yang memang sudah benar itu,
jangan kecewa dulu. Sebab memang hal itulah yang
membedakan anda dengan teman anda. Anda adalah
seorang muslim yang taat pada perintah dan larangan
Allah SWT, sedangkan teman anda itu orang kafir yang
ingkar -bukan hanya pada perintah dan larangan Allah-
bahkan keberadaan dan kebenaran Allah SWT sebagai
tuhan pun diingkarinya. Bagaimana mungkin seorang
yang mengingkari eksistensi Allah bisa menerima dan
memahami aturan-aturan dari-Nya?
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

149
Kalau kita buat perumpamaan, seorang yang tidak
mengakui eksistensi suatu negara, tidak akan mungkin
mau mematuhi aturan-aturan yang ada di dalam negara
itu. Seorang gembong pemberontak di Papua misalnya,
tentu tidak mau menerima dan tunduk kepada
peraturan pemerintah RI. Dan seorang yang
mengingkari kebenaran ajaran Islam, tentu saja tidak
bisa menerima perintah puasa dan selalu bilang tidak
puas.
Jawaban seperti itu bukan berarti kita menafikan
adanya manfaat dan hikmah di balik setiap perintah dan
larangan dari Allah SWT. Tentu manfaat dan hikmahnya
banyak sekali kalau mau diungkap, bahkan selalu ada
penemuan baru yang bersifat ilmiyah dan mampu
membuktikan kebenaran agama Islam. Termasuk
hikmah di balik pelarangan makan babi. Selain karena
babi hidup lebih jorok dari hewan ternak lainnya, juga
semua agama samawi baik yahudi, nasrani dan Islam,
sepakat memposisikan babi sebagai lambang kebusukan
dan kenajisan.
Banyak orang mengungkapkan bahwa babi itu kalau
terpaksa, mau makan kotorannya sendiri. Sementara
hewan lainnya masih punya harga diri. Mendingan mati
dari pada makan kotorannya sendiri.Juga banyak yang
mengatkan bahwa daging babi terlalu banyak
mengandung zat-zat yang berbahaya bagi tubuh
manusia. Karena makannya tidak terkontrol, apa saja
dimakannya, sehingga tubuhnya pun mengandung
segala jenis penyakit.
Dan masih banyak lagi rahasia dan hikmah di balik
pelarangan makan babi yang bisa dapatkan. Namun
semua itu sekedar menambah keyakinan yang sudah
ada di dalam hati kita. Bukan sebagai landasan utama.
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


150
Dan buat kita, apakah di balik larangan makan babi itu
ada hikmah atau tidak, sama sekali tidak ada
hubungannya dengan ketaatan kita kepada Allah SWT
yang telah melarang kita makan babi.
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu
bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang
disebut selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam
keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya
dan tidak melampaui batas, maka tidak ada dosa
baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah: 173)
Wallahu a'lam bishshawab wassalamu 'laikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.

Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

151
Bab Keenam
Etika Pergaulan

Menghadiahkan Quran kepada Keluarga Non Muslim
Bolehkah saya memberi hadiah kepada saudara saya
yang masih beragama Nasrani sebuah Al-Qur'an
Terjemahan dengan niat agar saudara saya dapat
mempelajari dan semoga Ia mendapat hidayah?
jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Kalau tujuannya adalah untuk dakwah dan bisa
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


152
dijamin bahwa kitab suci Al-Quran itu tidak akan dihina
atau dirusak, tentu saja boleh hukumnya. Sebab pada
hakikatnya, apa yang ada di dalam Al-Quran itu bukan
semata-mata perintah kepada umat Islam semata,
melainkan juga untuk seluruh manusia.
Bukankah Umar bin Al-Khattab masuk Islam
lantaran setelah diperdengarkan bacaan ayat Al-Quran?
Beliau yang dahulu masih kafir itu tiba-tiba mendadak
menangis tersedu-sedu begitu mendengar ayat-ayat Al-
Quran dibacakan. Tiba-tiba hatinya lapang dan
pandangannya luas. Saat itu juga beliau minta
dipertemukan dengan nabi Muhammad SAW, hingga
beliau menyatakan ke-Islamannya.
Allah SWT berfirman:
Bulan Ramadhan bulan yang di dalamnya
diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi
manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai
petunjuk itu dan pembeda. (QS. Al-Bawarah: 185)
Bahkan bukan sekedar petunjuk, isi Al-Quran adalah
hukum yang harus dilaksanakan oleh semua umat
manusia.
Manusia itu adalah umat yang satu, maka Allah
mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan
Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang
benar, untuk memberi keputusan di antara manusia
tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah
berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang
telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah
datang kepada mereka keterangan-keterangan yang
nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka
Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

153
kepada kebenaran tentang hal yang mereka
perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah
selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-
Nya kepada jalan yang lurus. (QS. Al-Baqarah: 213)
Maka keinginan Anda untuk menghadiahkan kitab
suci Al-Quran kepada keluarga anda yang masih belum
mendapat hidayah merupakan bentuk hadiah yang tak
ternilai harganya. Sebab dengan hadiah itu, anda telah
mengundangnya untuk masuk surga. Sebab siapa pun
yang mati tapi tidak dalam keadaan muslim, semua
usahanya akan sia-sia belaka, bila mati masuk neraka.
Di tahun 80-an, ada seorang musikus kondang asal
Inggris mendapat hadiah Al-Quran terjemah, padahal
dia seorang Kristen. Karena penasaran, sesekali
dibacanya kitab itu, yang saaat itu dia masih belum tahu
bahwa buku itu adalah Al-Quran, kitab suci milik umat
Islam. Beberapa kali membacanya, dia seakan
mendapatkan begitu banyak jawaban atas pertanyaan-
pertanyaan yang selama tak terjawab sepanjang hayat.
Semakin penasaran dan akhirnya dia bertanya
kepada yang memberi hadiah. Barulah dia tahu
akhirnya bahwa yang telah dibacanya selama ini
ternyata sebuah firman Allah. Maka semakin menggebu
saja keinginannnya untuk mengenal agama Islam lebih
dalam. Dan akhirnya, dia menyatakan masuk Islam dan
berganti nama menjadi Yusuf Islam, setelah sebelumnya
bernama Cat Steven.
Silahkan saja memberikan hadiah berupa Al-Quran,
tetapi kami sarankan kalau bisa yang ada terjemahnya.
Syukur kalau bisa dilengkapi dengan buku penjelasan
lainnya, terutama buku tentang kebenaran agama Islam.
Di pasaran saat ini cukup banyak beredar buku bahkan
VCD yang intinya menjelaskan kebenaran agama Islam.
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


154
Serta memberikan perbandingan ilmiyah yang amat
logis dan adil tentang kebenaran agama Islam
dibandingkan agama lainnya.
Semoga keluarga Anda diberikan hidayah dan
diterangi jalannya menuju surga dengan sebab upaya
yang anda lakukan. Amien.
Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.
Memberi Salam Lebih Dahulu kepada Non Muslim
Assalamu'alaikum ustadz.
Bagaimana hukumnya orang Islam yang
mengucapkan assalamu'alaikum kepada teman/orang
yang bukan Islam?
Saya pernah berselisih pendapat dengan teman saya
karana saya menyatakan kita tidak boleh mengucapkan
salam (assalamu'alaikum warramatullahi wa barakatuh)
kepada teman non muslim.
Teman saya membantah dengan argumen bahwa kita
diperbolehkan mengucapkan assalamu'alaikum kepada
teman non muslim jika tidak diiringi dengan kalimat
warramatullahi wa barakatuh.
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ada beberapa sudut pandang yang sedikit berbeda
dari para ulama tentang masalah ini. Sebagian ada yang
mengharamkan dan sebagian membolehannya dengan
syarat.
Sebagian ulama ada yang punya harga diri tinggi di
depan kaum kafir. Sehingga beberapa dari mereka
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

155
bersemangat untuk mengharamkan memberikan salam
kepada orang kafir. Terutama kalau memulai memberi
salam.
Syeikh Ibnu Utsaimin ketika ditanyakan masalah ini,
secara tegas menjawab haram dan tidak boleh. Dalilnya
adalah sabda Rasulullah SAW:
Janganlah kalian memberi salam terlebih dahulu
kepada yahudi dan nasrani. Kalau kalian bertemu
mereka di jalanan, maka pepetlah mereka ke tempat
yang sempit'. (Al-Hadits)
Namun Syeikh Utsaimin mewajibkan umat Islam
menjawab salam orang kafir dengan jawaban yang
setimpal. Lantaran Allah SWT sudah berfirman:


Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu
penghormatan, maka balaslah penghormatan itu
dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah
penghormatan itu. Sesungguhnya Allah
memperhitungankan segala sesuatu. (QS. An-Nisa':
86)
Yang dimaksud dengan jawaban yang setimpal
seperti ucapan: 'wa'alaikum', yang artinya kira-kira: dan
demikian juga dengan anda. Hal itu karena
diriwayatkan bahwa dahulu ada seorang yahudi yang
memberi salam kepada nabi dengan ucapan: 'assaamu
'alaika ya Muhammad'. Dan kata assaamu artinya
kematian. Kata ini pelesetan dari 'assalaamu 'alaikum'.
Maka nabi berkata, "Kalau orang kafir mengatakan
padamu assaamu 'alaikum, maka jawablah dengan wa
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


156
'alaikum."
Dan syeikh mengatakan bahwa seandainya mereka
memberi salam dengan lafadz yang benar seperti
'assalamu 'alaikum', maka kita wajib membalasnya
dengan lafadz yang sama.
Pendapat yang Tidak Mengharamkan Secara Mutlak
Namun sebagian ulama memandang bahwa
penyampaian salam dikembalikan kepada niatnya.
Kalau niatnya berupa rasa rendah diri di depan orang
kafir, haram hukumnya. Tetapi kalau penghormatan
yang tidak menunjukkan kerendahan umat Islam, tidak
menjadi soal.
Dalilnya adalah salam yang dituliskan nabi
Muhammad SAW ketika berkirim surat kepada raja-raja
dunia yang bukan muslim. Surat-surat nabi itu dimulai
dengan basmalah dan salam. Lengkapnya berbunyi:
salamun 'alaa man ittaba'al-huda (salam kepada orang
yang mengikuti petunjuk).
Meski bukan lafadz assalamu 'alaikum, namun
kalimat pembuka surat nabi itu juga tetap mengandung
kata-kata 'salam. Meski pun juga sifatnya masih
mu'allaq (tergantung), tidak langsung mendoakan orang
kafir penerima surat itu secara pasti, tetapi
mendoakannya bila dia mengikuti petunjuk (masuk
Islam).
Juga tidak mengapa bila berbasa-basi dengan orang
kafir yang tidak memusuhi kita dan mulai dengan
menyapa mereka, asalkan dengan lafaz yang tidak
mengandung rasa rendah diri sebagai muslim. Terutama
bila memang dirasa perlu. Seperti ucapan ahlan wa
sahlan dan kaifa haluka. Ucapan ahlan wa sahlan kalau
diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi 'selamat
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

157
datang'. Selamat yang dimaksud dalam idiom ini sama
sekali berbeda makna dan esensinya dengan lafadz
assalamu 'alaikum.
2

Demikian juga kita boleh menyapa mereka dengan
lafaz shabahul khair, atau shabahus surur, yang
terjemahan bebasnya adalah selamat pagi atau selamat
sore. Tapi makna selamat di sini berbeda dengan makna
assalamu 'alaikum.
Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma'aad jilid
2 halaman 424 menuliskan bahwa sebagian ulama
membolehkan untuk mendahului orang kafir dalam
memberi salam demi kemashlahatan yang kuat dan
nyata dibutuhkan. Atau karena alasan takut dari ulah
orang kafir itu. Atau karena adanya hubungan
kekerabatan denganmereka. Atau karena sebab-sebab
lain yang seperti itu.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.
Membagi Daging Kurban Buat Non Muslim
Assalamu'alaikum wr. wb.
Ustadz.mohon penjelasan lebih lanjut tentang
membagikan daging hewan kurban pada Non Muslim.
Kondisi di tempat tinggal kami sangat heterogen dan
dapat dikatakan mampu (perumahan). Ada hal yang
menarik karena setiap Idul Adha semua warga, tak
terkecuali Non Muslim, mendapat daging kurban.
Untuk tahun ini, jumlah penerimaan hewan kurban
agak menurun dibanding tahun sebelumnya. Sebagian

2
Al-Mausu'ah Al-Fiqqhiyah Al-Kuwaitiyah jiid 25 halaman 168
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


158
masyarakat ada yang berpendapat yang Non Muslim
tidak usah diberi, tetapi sebagian masyarakat
berpendapat untuk tetap memberi pada Non Muslim
karena sudah kebiasaan dari tahun sebelumnya dan
takut timbul perasaankecewa dari warga Non Muslim.
Mohon solusinya?
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Apa yang anda tanyakan itu memang menjadi silang
pendapat di kalangan para ulama di masa lalu. Sebagian
membolehkan kita memberikan daging qurban untuk
non muslim (ahlu zimah), sebagian lainnya tidak
membolehkan.
Kalau kita telusuri lebih dalam literatur syariah, kita
akan menemukan beberapa variasi perbedaan pendapat,
yaitu:
Ibnul Munzir sebagaimana diriwayatkan oleh Al-
Imam An-Nawawi mengatakan bahwa umat Islam telah
berijma' (sepakat) atas kebolehan memberikan daging
qurban kepada umat Islam, namun mereka berselisih
paham bila diberikan kepada fakir dari kalangan non
muslim.
Imam Al-Hasan Al-Basri, Al-Imam Abu Hanifah dan
Abu Tsaur berpendapat bahwa boleh daging qurban itu
diberikan kepada fakir miskin dari kalangan non
muslim.
Sedangkan Al-Imam Malik berpendapat sebaliknya,
beliau memakruhkannya, termasuk memakruhkan bila
memberi kulit dan bagian-bagian dari hewan qurban
kepada mereka.
Al-Laits mengatakan bila daging itu dimasak dulu
kemudian orang kafir zimmi diajak makan, maka
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

159
hukumnya boleh.
Al-Imam An-Nawawi mengatakan bahwa umumnya
ulama membedakan antara hukum qurban sunnah
dengan qurban wajib. Bila daging itu berasal dari
qurban sunnah, maka boleh diberikan kepada non
muslim. Sedangkan bila dari qurban yang hukumnya
wajib, hukumnya tidak boleh.
Syeikh Ibnu Qudamah mengatakan bahwa boleh
hukumnya memberi daging qurban kepada non muslim.
Karena daging itu makan mereka juga dan dibolehkan
mereka memakan daging. Kebolehannya sebagaimana
kita dibolehkan memberi makanan bentuk lainnya
kepada mereka. Dan karena memberi daging qurban
kepada mereka sama kedudukannya dengan sedekah
umumnya yang hukumnya boleh.
Kesimpulan dari pendapat-pendapat yang agak
saling berbeda ini adalah bahwa secara umum para
ulama cenderung kepada pendapat yang pertama, yaitu
pendapat yang membolehkan. Khususnya bila non
muslim itu termasuk faqir yang sangat membutuhkan
bantuan, atau tinggal di tengah-tengah masyarakat
muslim seperti cerita anda. Siapa tahu dengan kebaikan
yang kita berikan, dia akan masuk Islam. Atau paling
tidak, ada nilai tambah tersendiri dalam pandangannya
tentang Islam dan umatnya, sehingga tidak memusuhi,
bahkan berbalik menjadi simpati.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc

Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


160
Menyapa Non Muslim dengan Ucapan Selamat Pagi
Assalamualaikum.
Apa hukumnya kita menyapa seseorang yang non
muslim dengan mengucapkan "selamat pagi, selamat
siang, selamat malam"? Karena saya pernah mendengar
seorang penceramah yang mengatakan bahwa itu tidak
boleh dengan alasan ada kata-kata "selamat" yang
berarti kita mendoakan keselamatan bagi mereka.
Jika memang itu tidak boleh, lalu bagaimana
seharusnya kita menyapa orang-orang non muslim?
wassalamualaikum wr. Wb.
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Apa yang anda tanyakan Ini sebenarnya masalah rasa
bahasa dan problem penerjemahan dari budaya dan
bahasa asing. Memangdalam bahasa Indonesia, sapaan
atau greeting seperti itu seringkali diterjemahkan secara
bebas menjadi ucapan "Selamat", bisa menjadi"Selamat
Pagi", "Selamat Petang", "Selamat Jalan", "Selamat Tidur"
dan seterusnya. Semuanya diterjemahkan dengan kata
"Selamat."
Maka tidak heran bila ucapan atau sapaan "Selamat
Pagi" atau "Selamat Sore", kalau dilihat secara selintas,
memang seolah-olah merupakan doa keselamatan.
Padahal kalau kita mau rujuk dari mana asal muasal
sapaan seperti itu, maka kita tahu bahwa maksud asli
dan yang sebenarnya bukan berupa doa keselamatan,
tetapi hanya sebuah sapaan yang bersifat umum.
Menurut hemat kami, sapaan seperti itu kita adaptasi
dari tata cara bergaul orang Barat, di mana yang
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

161
sebenarnya mereka ucapkan dalam bahasa asli mereka
adalah kata "Good Morning", yang artinya memang
bukan mendoakan selamat, melainkan sekedar basa basi
dan sopan santun.
Coba terjemahkan kata "Good Morning" secara baku,
maka Anda akan mengetahui bahwa sapan itu bukan
doa keselamatan. "Good" artinya baik dan "Morning"
artinya pagi. Jadi terjemahan bakunya adalah "pagi yang
baik", dan bukan "Selamat Pagi." Kalau pun
diterjemahkan secara salah menjadi "Selamat Pagi", yang
salah adalah penerjemahannya.
Hal yang sama juga kita temukan dalam bahasa lain,
Arab misalnya. Di dalam bahasa Arab, kita mengenal
juga sapaan serupa. Tetapi orang Arab
menterjemahkannya dengan benar sesuai bahasa
aslinya. Ucapan "Good Morning" itu tidak mereka
terjemahkan menjadi "Assalamu 'alaika fi hadzash-
shabah", tetapi mereka terjemahkan dengan tepat sesuai
aslinya, menjadi "Shabahul Khair."
Kata "Shabah" itu artinya pagi dan kata "Khair" itu
artinya baik. Maknanya memang bukan selamat pagi,
melainkan pagi yang baik.
Lalu di mana titik masalahnya?
Masalahnya ada pada penerjemahan yang kita
gunakan. Kita ini yang salah menerjemahkan kata "Good
Morning"menjadi "Selamat Pagi." Sehingga ketika orang
yang tidak tahu menahu asal usul penggunaan
ungkapan itu mengotak-atik, jadinya seolah ucapan itu
merupakan doa keselamatan. Lalu diharamkan begitu
saja.
Padahal maksudnya pasti bukan mendoakan orang
yang kita sapa itu dengan doa keselamatan. Ketika
mengucapkan "selamat pagi", niatnya sama sekali tidak
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


162
pernah mendoakan dan tidak pernah ada dalam
benak"Semoga Allah memberikan keselamatan kepada
Anda." Tetapi semata-mata sapaan atau dikenal dengan
istilah greeting.
Menyapa Orang Kafir dan Berbasa-basi
Dalam hukum Islam, kita tidak diharamkan untuk
bersopan santunatauberbasa-basi dengan orang kafir.
Dan juga tidak ada salahnya kita menyapa orang kafir.


Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu
penghormatan, maka balaslah penghormatan itu
dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah
penghormatan itu. Sesungguhnya Allah
memperhitungankan segala sesuatu. (QS. An-Nisa':
86)
Dan ketika kita menyapa atau berbasa basi dengan
orang kafir, tentunya tidak bisa disamakan dengan
mendoakan keselamatan atasnya. Ketika kita menyapa
mereka dengan 'Good Morning' atau 'Shabahul Khair",
sama sekali tidak ada unsur doa keselamatan kepada
mereka. Jadi hukumnya tidak haram.
Tinggal kita ganti saja kata 'Selamat Pagi' itu dengan
ungkapan greeting yang lebih tepat, bahkan pakai saja
dalam bahasa Inggris atau bahasa Arab sekalian, biar
tidak ada salah tafsir dan dianggap mendoakan.
Atau tidak usah diucapkan kata "selamat", cukup
disingkat menjadi "Pagi." Walaupun kalau diucapkan
juga, asal niatnya bukan mendoakan keselamatan, tentu
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

163
juga tidak mengapa. Karena masalah ini hanya kesilapan
bahasa dan keterbatasan cara pengungkapan dan
kekakuan terjemahan.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Bersentuhan dengan Orang Kafir, Batalkah Wudhu?
Assalamualaikkum, ustadz.
Ana ingin bertanya, apakah batal apabila kita telah
berwudhu, berjabatan tangan dengan orang non
muslim?
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Di dalam ayat Al-Quran memang ada disebutkan
lafadz yang kalau diartikan secara dzahir, kita akan
menyimpulkan bahwa orang-orang musyrik itu najis.
Sedangkan salah satu di antara hal-hal yang
menyebabkan batalnya wudhu' adalah tersentuh dengan
benda-benda yang najis.
Ayat itu adalah:
Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya
orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah
mereka mendekati Masjidil haram sesudah tahun ini.
Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah
nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari
karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS.
At-Taubah: 28)
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


164
Namun umumnya para ulama tafsir mengatakan
bahwa yang dimaksud dengan lafadz najis dalam ayat
ini adalah secara maknawi, bukan secara zhahir atau
jasadi.
Dasarnya adalah bahwa dahulu orang-orang kafir
yang datang kepada Rasulullah SAW bercampur baur
dengan umat Islam. Bahkan ada yang masuk ke dalam
masjid. Namun Rasulullah SAW tidak pernah
diriwayatkan memerintahkan untuk membersihkan
bekas sisa orang kafir.
Juga ada hadits yang menegasakan bahwa ludah
mereka pun tidak najis. Karena Rasulullah SAW dan
Abu Bakar pernah minum bersama orang-orang kafir
dari wadah yang sama. Seperti hadits berikut ini:
Rasulullah SAW diberikan susu lalu beliau
meminumnya sebagian, lalu disodorkan sisanya itu
kepada a`rabi (kafir) yang ada di sebelah kanannya dan
dia meminumnya, lalu disodorkan kepada Abu Bakar
dan beliau pun meminumnya (dari wadah yang sama)
lalu beliau berkata,`Ke kanan dan ke kanan`. (HR
Bukhari)
Kalau ludah atau bekas air minum mereka tidak najis,
maka tentu saja tubuh mereka pun bukan termasuk
benda najis. Kecuali bila orang kafir itu baru saja
meminum khamar, maka hukum ludahnya menjadi
najis. Tetapi tubuhnya tetap bukan najis.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

165
Tetangga yang Beragama Lain
Assalammualaikum wr. wb.
Batasan apa saja yang perlu diperhatikan dalam
berhubungan dengan tetangga yang beragama lain?
Sebagai contoh dalam hal tolong menolong. Misalkan si
tetangga minta diantar ke rumah sakit, minta tolong
jemput mertua ke bandara (kadang kadang sekali).
Apabila si tetangga tersebut melahirkan, boleh atau
tidak kalau kita menjenguk dan memberi kado berisi
pakaian bayi atau sebangsanya (hal seperti ini sering
kami lakukan terhadap tetangga sesama muslim atau
kerabat jauh)?
Wassalammualaikum wr. wb.
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarkatuh,
Islam adalah agama rahmatan lil 'alamin, bukan
agama eksklusif dan 'ashabiyah. Manfaat agama Islam
tidak terbatas hanya kepada pemeluknya saja, tetapi
juga buat pemeluk agama selain Islam.
Di sisi lain, tidak semua orang non muslim itu harus
diperangi. Mereka yang termasuk kafir harbi memang
wajib diperangi, akan tetapi mereka yang termasuk ahlu
zimmah, yang tinggal dengan rukun dan damai bersama
sesama umat Islam, haram hukumnya untuk diganggu,
diperangi atau dilecehkan. Bahkan sudah menjadi
kewajiban bahwa umat Islam wajib membantu mereka,
serta menghormati hak-hak mereka.
Sebagai tetangga, tidak mentang-mentang agamanya
bukan Islam, lantas tetangga kita itu kita cabut hak-
haknya dari hak sebagai tetangga. Sebaliknya, kita harus
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


166
berbagi dengan mereka, baik dalam kebahagian maupun
dengan dalam masalah materi.
Kalau kita punya makanan yang lebih, tidak ada
salahnya bila kita hadiahkan kepada mereka.
Sebagaimana kita pun tidak haram bila menerima
pemberian makan mereka. Selama tidak ada maksud-
maskud yang tercela di balik kebaikan mereka, seperti
ingin memurtadkan atau menikah beda agama.
Anjuran untuk Menyantuni Orang Kafir
Menyatuni orang kafir zimmi yang hidup damai
dengan muslimin dengan harta sedekah hukumnya
boleh, bahkan dianjurkan. Dasarnya adalah firman Allah
SWT berikut ini:


Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan
berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada
memerangimu karena agama dan tidak (pula)
mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS Al-
Mumtahanah: 8)
Selain ayat Al-Quran di atas, dasarnya juga riwayat
di mana Rasulullah SAW memerintahkan kepada
iparnya, Asma' binti Abu Bakar agar menyambung tali
silaturrahim dengan ibunya yang saat itu bukan muslim.
Caranya dengan memberikan santunan dan bantuan
material kepadanya.
Sebagian Ulama Membolehkan Memberi Zakat
kepada Orang Kafir
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

167
Ada khilaf di antar ulama tentang kebolehan
memberi harta zakat kepada orang kafir zimmi. Meski
jumhur ulama berpendapat bahwa zakat itu hanya boleh
untuk umat Islam saja, namun sebagian ulama seperti
Abu Hanifah, Az-Zuhri dan Muhammad bin Syrubmah
berpendapat bahwa boleh hukumnya memberi zakat
fitrah kepada orang kafir.
Mereka berpendapat demikian, selain berdasarkan
ayat Quran di atas, juga meriwayatkan bahwa
Rasulullah SAW pernah memberikan harta dari baitul-
mal kepada orang kafir. Yaitu harta zakat yang
dikumpulkan dari kaum muslimin. Sebagaimana
disebutkan dalam riwayat berikut ini:
Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Abi Maysarah
bahwa Rasulullah SAW memberikan para rahib
(pemuka agama lain) zakat fitrah. (Al-Mushannaf: 4/39)
Kebolehan memberi harta zakat buat orang kafir
karena alasan bahwa orang kafir itu termasuk mustahiq
zakat juga. Yaitu selama pada diri orang kafir itu ada
kriteria mustahiq zakat.
Misalnya, orang kafir itu miskin dan fakir. Maka
setelah fakir miskin dari kalangan muslimin
mendapatkan pembagian harta zakat, giliran berikutnya
tentu saja fakir miskin dari pemeluk agama selain Islam.
Kemiskinan dan kefakiran mereka telah membuat
mereka menjadi mustahiq zakat, meski pun agama
mereka bukan Islam.
Muallaf Non Muslim Mendapat Zakat
Dari sisi lain, Rasulullah SAW juga pernah memberi
harta zakat kepada orang kafir yang bukan miskin.
Sebab mereka termasuk kriteria 'wal mu'allafati
qulubuhum', yaitu orang-orang yang dilunakkan
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


168
hatinya.
Selama ini kita seolah membatasi bahwa asnaf
mu'allaf itu hanya buat mereka yang sudah masuk
Islam, padahal di masa lalu, mereka yang belum masuk
Islam pun berhak menerima, bila dipertimbangkan akan
membawa manfaat.
Bahkan mereka yang sulit diharapkan masuk Islam
lantaran kerasnya permusuhan dan selalu mengusik
ketenangan kaum muslimin, oleh Rasulullah SAW pun
diberi juga. Targetnya mungkin bukan untuk masuk
Islam, tetapi sekedar bisa melunakkan sikap kasarnya
kepada umat Islam. Itu pun sudah termasuk kriteria wal
muallafati qulubuhum. Mereka boleh diberikan harta
dari dana zakat, sebagaimana Al-Quran telah
menetapkannya.
Ibnul Munzir berkata,"Umumnya para ulama sepakat
(ijma') bahwa zakat tidak boleh diberikan kepada orang
kafir, namun dikecualikan bila dia termasuk al-
muallafati qulubuhum."
Maka kalau zakat boleh diberikan kepada mereka,
apalagi masalah hadiah, bantuan, santunan dan lainnya.
Tentu saja hukumnya boleh dan juga berpahala.
Tetapi tentu saja selama dipertimbangkan bahwa
semua itu akan membawa manfaat buat kepentingan
Islam. Misalnya, hati mereka semakin terpaut dan
tertarik serta bersimpati kepada umat Islam. Karena
mereka tidak dikucilkan dan dibeda-bedakan. Siapa
tahu suatu saat Allah SWT akan memberikan hidayah
kepada mereka, lewat sikap santun kita kepada mereka.
Kalau para misionaris berhasil membujuk jutaan
umat Islam murtad dan masuk agama mereka, lewat
berbagai macam bujukan dan bantuan kemanusiaan,
maka sesungguhnya di dalam syariat Islam pun
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

169
diberikan ruang untuk 'membujuk' mereka agar masuk
Islam. Meski pun kita tidak menamakannya dengan
istilah menyogok, tetapi melunakkan hati orang kafir
termasuk bagian dari cara dakwah yang efektif dan
dianjurkan. Bahkan meski harus lewat pemberian
materi.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarkatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.
Selamat Natal dan Hari Raya Agama Lain
Assalamualaikum wr wb.,
Pak ustadz yth, sebagaimana kita ketahui bahwa ada
beberapa di antara kita tinggal dalam lingkungan yang
majemuk terutama dengan agama/kepercayaan lain.
Pada saat Idul Fitri mereka mengucapkan selamat
hari raya pada kita namun bolehkah apabila pada hari
raya mereka kita juga melakukan hal yang sama?
Kalau tak salah dalam Perjanjian Lama pd Surat
Paulus II atau Yohanes II (saya lupa) ada ajaran nasrani
yang melarang mengucapkan salam pada agama lain.
Benarkah demikian mohon penjelasan lebih lanjut dan
terima kasih.
Wassalamualaikum wr. Wb.
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Di masa lalu umat Islam jauh lebih kuat dan besar
dari umat Kristiani. Bahkan tempat-tempat bersejarah
yang dianggap sebagai tempat lahirnya nabi Isa sejak
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


170
masa khalifah Umar bin Al-Khattab radhiyallahu
'anhusudah berada di tangan umat Islam bahkan hingga
pertengahan abad 20.
Sebaliknya, umat kristiani tidak pernah lebih besar
dari umat Islam. Kemajuan barat di dua abad terakhir
ini tidak bisa diklaim sebagai prestasi agama kristen,
bahkan justru sebaliknya. Barat bisa maju peradabannya
ketika mereka terbebas dari kungkungan gereja.
Maka sepanjang 14 abad, pandangan muslim kepada
pemeluk agama nasrani agak berbeda dengan di masa
sekarang ini. Di masa kejayaan umat Islam, umat
nasrani dipandang sebagai umat yang minoritas, lemah,
tak berdaya dan perlu dikasihani.
Bahkan di Eropa yang sebagiannya dikuasai umat
Islam saat itu, begitu banyak pemeluk kristiani yang
dilindungi dan disubsidi oleh pemerintah Islam.
Pandangan ini kemudian berubah ketika Barat
mengekspansi negeri-negeri muslim di bawahbendera
salib. Dan kekuatan salib berhasil menyelinap di balik
misi ipmerialisme yang tujuannya Gold, Gospel and
Glory. Gospel adalah penyebaran agama kristiani ke
dunia Islam.
Sejak saat itulah gambaran umat kristiani berubah
dalam perspektif umat Islam. Yang tadinya dianggap
umat yang lemah dan perlu dikasihani, tiba-tiba
berubah menjadi agresor, penindas, penjajah dan
perusak akidah.
Di masa kekuasaan Islam, ayat-ayat Al-Quran dan
hadits nabi untuk menyayangi dan berempati kepada
pemeluk nasrani kelihatan lebih sesuai dengan
konteksnya. Misalnya ayat berikut ini:

Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

171


Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat
persahabatannya dengan orang-orang yang beriman
ialah orang-orang yang berkata, "Sesungguhnya
kami ini orang Nasrani." Yang demikian itu
disebabkan karena di antara mereka itu terdapat
pendeta-pendeta dan rahib-rahib, karena
sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.
(QS. Al-Maidah: 82)
Al-Quran menggambarkan bahwa orang-orang
nasrani adalah orang yang paling dekat
persahabatannya dengan umat Islam. Sebab mereka
masih mengakui Allah SWT sebagai Allah, juga
mengakui keberadaan banyak nabi dan malaikat.
Mereka juga percaya adanya kehidupan sesudah
kematian (akhirat).
Apalagi di masa kejayaan Islam, umat nasrani sangat
sedikit, lemah dan tertindas. Maka di berbagai pusat
peradaban Islam, umat nasrani justru disebut dengan
zimmy. Artinya adalah orang-orang yang dilindungi
oleh umat Islam. Nyawa, harta, keluarga dan hak-hak
mereka dijamin oleh pemerintah Islam.
Bahkan suasana itu juga terasa cocok dengan ayat
Allah SWT yang lain lagi, yaitu tentang halalnya
sembelihan mereka dan dinikahinya wanita ahli kitab
oleh laki-laki muslim.

Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


172


Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik.
Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-
Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal bagi
mereka. wanita yang menjaga kehormatan di antara
wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita
yang menjaga kehormatan di antara orang-orang
yang diberi Al-Kitab sebelum kamu(QS. Al-Maidah:
5)
Umat Islam mengizinkan mereka mendirikan geraja
dan haram hukumnya untuk mengusik ibadah mereka.
Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi bahwa mempersilahkan
umat kristiani untuk merayakan misa natal di tempat-
tempat yang dianggap bersejarah.
Semua itu adalah gambaran suasana kerukunan umat
beragama yang sesungguhnya, hasil dari kemajuan
peradaban Islam.
Hubungan Islam Nasrani di Zaman Kolonialisme
Tetapi semua itu menjadi hancur berantakan gara-
gara kolonialisme. Keserasian umat Islam dengan
pemeluk nasrani berubah menjadi perang tiada
habisnya. Darah para syuhada membasahi bumi Islam
tatkala umat kristiani membonceng mesin perang Barat
menjajah negeri, merampas harta benda, membunuh
muslim dan membumi hangus peradaban.
Umat kristiani yang tadinya umat lemah tak berdaya
dan dilindungi, tiba-tiba berubah menjadi kekuatan
yang congkak dan berbalik menjadi penindas umat
Islam. Khilafah Islamiyah yang menyatukan umat Islam
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

173
sedunia dicabik-cabik dan dibelah menjadi puluhan
negara jajahan.
Akibat dari kolonilisme itu, pandangan umat Islam
terhadap bangsa kristiani pun mulai mengalami
pergeseran. Yang tadinya lebih banyak menyebut ayat-
ayat tentang kedekatan antara dua agama, sekarang
yang lebih terasa justru ayat-ayat yang
mempertentangkan keduanya.
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang
kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.
Katakanlah, "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah
petunjuk." Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti
kemauan mereka setelah pengetahuan datang
kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung
dan penolong bagimu. (QS. Al-Baqarah: 120)
Juga ayat ini:
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti
sebahagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab,
niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi
orang kafir sesudah kamu beriman. (QS. Ali Imran:
100)
Maka umat Islam berperang melawan nasrani dan
menolak bila negerinya dipimpin oleh mereka.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi
pemimpin-pemimpin; sebahagian mereka adalah
pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di
antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin,
maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


174
mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-Maidah: 51)
Imbas Kepada Hukum Memberi Ucapan Selamat Natal
Melihat realitas di atas, maka di dalam tubuh umat
Islam berkembang dua cara pandang yang berbeda.
Di satu sisi, ada kalanganyang menganggap bahwa
nasrani itu bukan musuh, tidak boleh dibunuh atau
diperangi. Justru harus dianggap sebagai komunitas
yang harus ditolong. Kepada mereka tidak dipaksakan
untuk memeluk Islam. Bahkan tidak terlarang untuk
hidup berdampingan, saling tolong dan saling hormat,
sampai saling memberi tahni'ah (congratulation) kepada
masing-masing kepercayaan.
Di sisi lain, ada kalangan yang tetap berprinsip
bahwa nasrani adalah umat yang harus dimusuhi,
diperangi dan tidak bisa dipercaya. Maka
kecenderungannya dalam fatwa yang berkembang
adalah haram untuk saling mengucapkan tahni'ah di
hari raya masing-masing.
Untuk lebih tegasnya bagaimana perbedaan
pandangan itu, kami kutipkan fatwa-fatwa dari berbagai
ulama terkemuka.
Fatwa Haram Ibnul Qayyim
Pendapat anda yang mengharamkan ucapan selamat
natal difatwakan oleh Ibn al-Qayyim Al-Jauziyah. Beliau
pernah menyampaikan bila pemberian ucapan Selamat
Natal atau mengucapkan Happy Christmas kepada
orang-orang kafir hukumnya haram.
Dalam kitabnya 'Ahkm Ahl adz-Dzimmah', beliau
berkata, Adapun mengucapkan selamat berkenaan
dengan syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi mereka
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

175
adalah haram menurut kesepakatan para ulama.
Alasannya karena hal itu mengandung persetujuan
terhadap syiar-syiar kekufuran yang mereka lakukan.
Sikap ini juga sama pernah disampaikan oleh Syaikh
Muhammad bin Shalih al-Utsaimin sebagaimana
dikutip dalam Majma Fatawa Fadlilah Asy-Syaikh
Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, (Jilid.III, h.44-46,
No.403).
Di negeri kita, tidak sedikit umat Islam yang
mengharamkan ucapan selamat natal ini.
Fatwa Yang Membolehkan
Memang pendapat yang membolehkan ini kurang
populer di banyak kalangan. Namun kalau kita mau
agak teliti dan jujur, rupanya yang menghalalkan tidak
sedikit. Bukan hanya Dr. Quraisy Syihab saja, tetapi
bahkan Majelis Ulama Indonesia, Dr. Yusuf Al-
Qaradawi dan beberapa ulama dunia lainnya, ternyata
kita dapati pendapat mereka membolehkan ucapan itu.
Rasanya agak kaget juga, tetapi itulah yang kita dapat
begitu kita agak jauh menelitinya. Kami uraikan di sini
petikan-petikan pendapat mereka, bukan dengan tujuan
ingin mengubah pandangan yang sudah ada. Tetapi
sekedar memberikan tambahan wawasan kepada kita,
agar kita punya referensi yang lebih lengkap.
Fatwa MUI Tentang Haramnya Natal Bersama, Bukan
Ucapan Selamat Natal
Satu yang perlu dicermati adalah kenyataan bahwa
MUI tidak pernah berfatwa yang mengharamkan
ucapan selamat natal. Yang ada hanyalah fatwa
haramnya melakukan natal bersama.
Majelis Ulama Indonesia pada 7 Maret 1981,
sebagaimana ditandatangani K.H. M. Syukri Ghozali,
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


176
MUI telah mengeluarkan fatwa:perayaan natal bersama
bagi ummat Islam hukumnya haram
Hal ini juga ditegaskan oleh Sekretaris Jenderal MUI,
Dr. Dien Syamsudin MA, yang juga Ketua Umum
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah itu menyatakan
bahwa MUI tidak melarang ucapan selamat Natal, tapi
melarang orang Islam ikut sakramen/ritual Natal.
"Kalau hanya memberi ucapan selamat tidak
dilarang, tapi kalau ikut dalam ibadah memang
dilarang, baik orang Islam ikut dalam ritual Natal atau
orang Kristen ikut dalam ibadah orang Islam, " katanya.
Bahkan pernah di hadapan ratusan umat Kristiani
dalam seminar Wawasan Kebangsaan X BAMAG Jatim
di Surabaya, beliau menyampaikan, "Saya tiap tahun
memberi ucapan selamat Natal kepada teman-teman
Kristiani."
Fatwa Dr. Yusuf Al-Qaradawi
Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradawi mengatakan bahwa
merayakan hari raya agama adalah hak masing-masing
agama. Selama tidak merugikan agama lain. Dan
termasuk hak tiap agama untuk memberikan tahni'ah
saat perayaan agama lainnya.
Maka kami sebagai pemeluk Islam, agama kami tidak
melarang kami untuk untuk memberikan tahni'ah
kepada non muslim warga negara kami atau tetangga
kami dalam hari besar agama mereka. Bahkan perbuatan
ini termasuk ke dalam kategori al-birr (perbuatan yang
baik). Sebagaimana firman Allah SWT:
Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan
berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada
memerangimu karena agama dan tidak mengusir
kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

177
orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-
Mumtahanah: 8)
Kebolehan memberikan tahni'ah ini terutama bila
pemeluk agama lain itu juga telah memberikan tahni'ah
kepada kami dalam perayaan hari raya kami.
Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu
penghormatan, maka balaslah penghormatan itu
dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah
penghormatan itu. Sesungguhnya Allah
memperhitungankan segala sesuatu.(QS. An-Nisa':
86)
Namun Syeikh Yusuf Al-Qaradawi secara tegas
mengatakan bahwa tidak halal bagi seorang muslim
untuk ikut dalam ritual dan perayaan agama yang
khusus milik agama lain.
Fatwa Dr. Mustafa Ahmad Zarqa'
Di dalam bank fatwa situs Islamonline.com, Dr.
Mustafa Ahmad Zarqa', menyatakan bahwa tidak ada
dalil yang secara tegas melarang seorang muslim
mengucapkan tahniah kepada orang kafir.
Beliau mengutip hadits yang menyebutkan bahwa
Rasulullah SAW pernah berdiri menghormati jenazah
Yahudi. Penghormatan dengan berdiri ini tidak ada
kaitannya dengan pengakuan atas kebenaran agama
yang diajut jenazah tersebut.
Sehingga menurut beliau, ucapan tahni'ah kepada
saudara-saudara pemeluk kristiani yang sedang
merayakan hari besar mereka, juga tidak terkait dengan
pengakuan atas kebenaran keyakinan mereka,
melainkan hanya bagian dari mujamalah (basa-basi) dan
muhasanah seorang muslim kepada teman dan
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


178
koleganya yang kebetulan berbeda agama.
Dan beliau juga memfatwakan bahwa karena ucapan
tahni'ah ini dibolehkan, maka pekerjaan yang terkait
dengan hal itu seperti membuat kartu ucapan selamat
natal pun hukumnya ikut dengan hukum ucapan
natalnya.
Namun beliau menyatakan bahwa ucapan tahni'ah
ini harus dibedakan dengan ikut merayakan hari besar
secara langsung, seperti dengan menghadiri perayaan-
perayaan natal yang digelar di berbagai tempat.
Menghadiri perayatan natal dan upacara agama lain
hukumnya haram dan termasuk perbuatan mungkar.
Majelis Fatwa dan Riset Eropa
Majelis Fatwa dan Riset Eropajuga berpendapat yang
sama dengan fatwa Dr. Ahmad Zarqa' dalam hal
kebolehan mengucapkan tahni'ah, karena tidak adanya
dalil langsung yang mengharamkannya.
Fatwa Dr. Abdussattar Fathullah Said
Dr. Abdussattar Fathullah Said adalah profesor
bidang tafsir dan ulumul quran di Universitas Al-Azhar
Mesir. Dalam masalah tahni'ah ini beliau agak berhati-
hati dan memilahnya menjadi dua. Ada tahni'ah yang
halal dan ada yang haram.
Tahni'ah yang halal adalah tahni'ah kepada orang
kafir tanpa kandungan hal-hal yang bertentangan
dengan syariah. Hukumnya halal menurut beliau.
Bahkan termasuk ke dalam bab husnul akhlaq yang
diperintahkan kepada umat Islam.
Sedangkan tahni'ah yang haram adalah tahni'ah
kepada orang kafir yang mengandung unsur
bertentangan dengan masalah diniyah, hukumnya
haram. Misalnya ucapan tahniah itu berbunyi, "Semoga
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

179
Tuhan memberkati diri anda sekeluarga." Sedangkan
ucapan yang halal seperti, "Semoga tuhan memberi
petunjuk dan hidayah-Nya kepada Anda."
Bahkan beliau membolehkan memberi hadiah kepada
non muslim, asalkan hadiah yang halal, bukan khamar,
gambar maksiat atau apapun yang diharamkan Allah.
25 Desember Bukan Hari Lahir Nabi Isa
Lepas dari perdebatan seputar fatwa haramnya
mengucapkan selamat natal, ada masalah yang lebih
penting lagi. Yaitu kesepakatan para ahli sejarah bahwa
Nabi Isa sendiri tidak lahir di tanggal tersebut.
Tidak pernah ada data akurat pada tanggal
berapakah beliau itu lahir. Yang jelas 25 Desember itu
bukanlah hari lahirnya karena itu adalah hari kelahiran
anak Dewa Matahari di cerita mitos Eropa kuno. Mitos
itu pada sekian ratus tahun setelah wafatnya nabi Isa
masuk begitu saja ke dalam ajaran kristen lalu diyakini
sebagai hari lahir beliau. Padahal tidak ada satu pun ahli
sejarah yang membenarkannya.
Bahkan British Encylopedia dan American
Ensyclopedia sepakat bahwa 25 bukanlah hari lahirnya
Isa as.
Jadi kalau pun ada sebagain kalangan yang tidak
mengharamkan ucapan selamat natal, ketika diucapkan
pada even natal, ucapan itu mengandung sebuah
kesalahan ilmiyah yang fatal.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc

Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


180
Muslim Pakai Topi Natal, Haramkah?
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
ustad,nabi bersabda."bararangsiapa menyerupai
suatu kaum,maka dia akan menjadi bagian dari kaum
itu"(mohon dibetulkan kalo salah).
1. Apa yg dimaksud dg tasyabuh?apa memakai
jas,topi natal termasuk tasyabuh?
2. Apa orang yg menyerupai orang kafir otomatis
jadi kafir menurut hadis diatas?
Mohon penjelasan.terima kasih
Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Yang dikatakan sebagai 'menyerupai orang kafir'
tentu tidak asal serupa. Tidak mentang-mentang ada
sedikit kemiripan pada hal tertentu, lantas seorang
muslim tiba-tiba dianggap jadi kafir.
Kita ambil perumpamaan sederhana. Orang non
muslim di negeri kita ini makan nasi. Dan umat Islam di
Indonesia juga makan nasi. Tentu tidak bisa dikatakan
bahwa umat Islam telah salah karena telah menyerupai
tindakan orang kafir, yaitu makan nasi. Masak sih hanya
gara-gara memakan makanan yang sama dengan
makanan yang kebetulan dimakan orang kafir, seorang
muslim harus divonis menjadi kafir juga.
Kita ambil contoh lain. Kebanyakan orang Jepang
bukan muslim. Kalau orang Jepang makan shushi,
makanan yang sudah jadi ciri khas mereka, lalu ada
umat Islam makan shushi juga, tentu tidak bisa
dikatakan orang Islam itu sudah kafir, gara-gara makan
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

181
meniru orang Jepang yang kafir. Walau pun umumnya
orang Jepang bukan pemeluk agama Islam, namun
shushi tidak bisa diidentikkan dengan makanan orang
kafir.
Jadi ada wilayah yang merupakan batas teritori dari
kekafiran, dimana suatu tindakan atau sikap memang
hanya dimiliki oleh orang kafir itu secara unik.
Tindakan itu bukan merupakan tindakan yang menjadi
milik publik, namun orang kafir ikut share
melakukannya.
Jas : Pakaian Khas Orang Kafir?
Sebenarnya jas yang umum dipakai laki-laki baik
untuk pesta atau peremuan resmi, bukan pakaian khas
agama tertentu. Sehingga tidak tepat kalau dikatakan
bahwa jas adalah pakaian orang kafir. Yang
sesungguhnya, jas adalah pakaian yang asalnya khas
dikenakan oleh orang-orang di Eropa.
Tapi kalau jas merah yang dikenakan oleh Sinterklas,
meski asalnya hanya model iklan Cocacola, namun
sudah lazim dianggap bagian dari khas atribut natal.
Maka saya memandang seorang muslim tidak
dibenarkan mengenakannya, kalau dia tahu duduk
masalahnya.
Topi Natal
Namanya saja sudah 'topi natal'. Kalau disebut kata
itu, yang terbetik di benak kita adalah atribut yang
dikenakan dalam suasana natal. Walau pun mungkin
tidak ada hubungan sama sekali antara kelahiran Isa
alaihissalam dengan topi natal, namun karena topi itu
sudah identik dengan perayaan dan suasana natal, maka
secara umum bisa kita katakan bahwa topi natal itu
memang khas busana atau atribut agama Kristiani.
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


182
Dalam pandangan saya, seorang muslim tidak
dibenarkan secara sadar dan sengaja mengenakan topi
natal. Karena termasuk tindakan tasyabbuh bil kuffar,
atau menyerupai ciri khas agama tertentu, yaitu Kristen.
Sayangnya, sering kali sebuah perusahaan
mengharuskan sebagain karyawannya mengenakan topi
khas agama Kristen ini, meskipun para direksinya tahu
bahwa para karyawan itu beragama Islam.
Saya sangat menyayangkan hal ini. Meski tidak ada
kaitannya dengan aqidah dan kepercayaan, tetapi sulit
dipungkiri bahwa topi natal itu memang khas atribut
agama Kristen. Dan buat seorang muslim, haram
hukumnya menyerupai atribut khas agama lain.
Lambang Salib
Dalam pandangan saya, tindakan lain yang juga khas
dimilik oleh umat Kristiani misalnya memakai lambang
salib, baik sebagai hiasan rumah maupun kalung yang
dikenakan di leher. Mereka juga terbiasa menghias
rumah dengan pohon natal. Kalau ada umat Islam yang
secara sadar dan sengaja mengenakan kalung salib khas
umat Kristiani, maka tindakan ini dilarang serta haram
dikerjakan. Karena lambang salib itu memang khas
identitas umat Kristiani.
Palang Merah
Tapi ketika sebuah lambang tertentu tidak terlalu
kentara, misalnya lambang milik Palang Merah
Indonesia (PMI). Kalau kita mau usut sampai ke asal
sejarahnya, banyak para ahli yang menyatakan bahwa
lambang palang merah itu berasal dari kayu salib.
Konon pasukan Kristen dalam perang salib diperkuat
dengan barisan dokter dan perawat yang memakai
lambang salib di baju mereka.
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

183
Tetapi lambang ini kemudian mengalami
generalisasi, sehingga kesan salibnya mulai pudar,
walau masih tetap sulit ditepis. Saya memandang ketika
ada seorang muslim menjadi anggota PMI, dan
kebetulan seragamnya berlambang mirip salib, dia tidak
dalam keadaan sengaja dan sadar mengenakan atribut
khas umat Kristiani.
Meski kalau boleh usul, sebaiknya PMI yang nota
bene punya banyak anggota yang beragama Islam,
sebaiknya melakukan koreksi atas lambangnya, lantaran
asal muasalnya memang dari syiar umat Kristiani.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

185
Bab Ketujuh
Pernikahan

Pernikahan Beda Agama
Assalamu'alaikum wr. wb.
Saya telah membaca uraian ustadz bahwa Islam
secara tegas menghalalkan pernikahan antara laki-laki
muslim dengan wanita Yahudi dan seterusnya dengan
judul "Hikmah Halalnya Pernikahanan Wanita Kristen
dengan Pria Muslim" atas pertanyaan bapak Munawir.
Yang ingin saya tanyakan: bagaimana dengan bunyi
ayat "walaa tankihul musyrikaati,... dan seterusnya.
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


186
Wassalam,
jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Halalnya laki-laki muslim menikahi wanita ahli kitab
bukan semata-mata pendapat atau ijtihad buatan kami,
melainkan merupakan firman Allah SWT yang tegas
disebutkan di dalam Al-Quran.
Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik.
Makanan orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal
bagimu, dan makanan kamu halal bagi mereka.
wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-
wanita yang beriman dan wanita-wanita yang
menjaga kehormatan di antara orang-orang yang
diberi Al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah
membayar mas kawin mereka dengan maksud
menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak
menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang
kafir sesudah beriman maka hapuslah amalannya dan
ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi. (QS.
Al-Maidah: 5)
Para ulama baik salaf maupun khalaf ketika
menjelaskan makna ayat tersebut, juga menyimpulkan
demikian. Bahwa laki-laki muslim dihalalkan menikahi
wanita ahli kitab, dengan berdasarkan ayat ini. Dan itu
adalah pendapat mayoritas ulama.
Khilaf Ulama tentang Makna Musyrik
Sebenarnya ketika Al-Quran menyebut istilah
musyrik, yang dimaksud bukanlah ahli kitab, melainkan
pemeluk agama berhala. Seperti kafir Quraisy yang
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

187
beragama non samawi dan menyembah berhala. Atau
orang-orang majusi yang menyembah api. Wanita-
wanita dari kalangan inilah yang diharamkan untuk
dinikahi oleh laki-laki muslim. Adapun wanita-wanita
dari pemeluk agama samawi, atau yang sering pula
diistilahkan dengan wanita ahli kitab (kitabiyyah),
seluruh shahabat mengakui kehalalannya dan mereka
pun mempraktekkannya.
Namun ada juga sebagian dari ulama yang tidak
sejalan dengan apa yang telah diyakini oleh jumhur
ulama. Yaitu mereka mengatakan bahwa Yahudi dan
Nasrani itu pun harus dikategorikan sebagai orang
musyrik. Karena mereka menyembah Nabi Isa bahkan
punya 3 tuhan sekaligus. Sebagaimana pendapat anda.
Maka sebenarnya pendapat anda itu sudah ada yang
mengatakannya. Pendapat anda sangat sesuai dengan
pendapat Ibnu Umar yang mengharamkan wanita
kitabiyah dan juga mengharamkan sembelihan ahli
kitab.
Pendapat yang senada juga dilontarkan oleh ulama
pada masa berikutnya yaitu Ibnu Hazm. Ibnu Hazm
jelas-jelas mengatakan bahwa tidak ada orang yang
paling musyrik melebihi dari ahli kitab. Karena mereka
telah menjadikan Nabi Isa sebagai Tuhan.
Sehingga menurut mazhab ini, sembelihan ahli kitab
tidak halal dan demikian juga dengan tidak halal
menikahi wanita kitabiyah (ahli kitab).
Meski demikian, pendapat Ibnu Umar dan Ibnu
Hazm bukan pendapat mayoritas ulama (jumhur).
Karena jumhur ulama tetap menganggap bahwa orang
Nasrani itu ahli kitab yang halal sembelihannya dan
halal pula mengawini wanitanya.
Bahwa mereka menyembah Isa dan sebagainya,
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


188
bukanlah fenomena yang terjadi pada masa sekarang
saja. Sejak awal mula lahirnya Islam, Al-Quran sudah
menyatakan bahwa mereka menjadikan Isa sebagai anak
tuhan dan tuhan itu tiga. Begitu juga dengan Yahudi
yang mengatakan bahwa Uzair anak tuhan. Sehingga
tidak ada bedanya antara kemusyrikan ahli kitab hari ini
dengan pada masa nabi SAW.
Namun demikian, para shahabat tetap menyantap
sembelihan ahli kitab dan menghalalkan menikahi
wanitanya. Di antara adalah Umar bin Al-Khattab ra,
Ustman bin Affan ra, Jabir ra, Thalhah ra, Huzaifah ra.
Bersama dengan para shahabat Nabi juga ada para
tabiin seperti Atho, Ibnul Musayib, Al-Hasan, Thawus,
Ibnu Jabir Az-Zuhri. Pada generasi berikutnya ada
Imam Asy-Syafii, juga ahli Madinah dan Kufah.
Anda bebas untuk berpendapat seperti itu dan anda
punya panutan antara lain Ibnu Umar dan juga Ibnu
Hazm. Argumen yang anda ajukan pun lumayan kuat.
Apalagi bila mengingat di zaman ini banyak sekali
orang Islam yang dimurtadkan karena pengaruh agama.
Pendapat anda cukup bisa dipertimbangkan meski
kurang populer di kalangan jumhur ulama.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.
Pengantin Pria di Luar Negeri
Assalamu'alaikum wr. wb.
Maaf Ustadz, saya punya saudari sepupu yang
menikah dengan sepupu laki-laki yang ada di luar
negeri (Arab Saudi). Akadnya dilakukan di Indonesia,
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

189
yang diwakilkan kepada paman yang merupakan suami
dari bibi sepupu laki-laki.
Bagaimana status pernikahan tersebut? Sefahaman
saya, syarat sahnya adalah adanya pengantin laki-laki.
Ketika saya tanyakan kepada orang tua, dijawab
pernikahannya akan diulang di Saudi, padahal, sepupu
tidak ada walinya, karena keluarga kandung berada di
Indonesia.
Jazakallah khairan jaza'
jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Pada prinsipnya, setiap akan nikah itu dilakukan oleh
dua orang laki-laki. Yang pertama adalah ayah kandung
calon isteri sebagai wali. Sedangkan yang kedua adalah
calon suami. Mereka berdua inilah yang melakukan ijab
dan qabul.
Asalkan akad itu disaksikan oleh minimal 2 orang
laki-laki yang muslim, aqil, baligh, merdeka dan adil,
maka akad itu sah secara hukum.
Kemudian, keberadaan masing-masing pihak itu
masih boleh diwakili oleh orang lain. Asalkan atas izin
dan persetujuan dari yang memberi mandat. Seorang
calon suami boleh mewakilkan dirinya kepada orang
lain, sebagaimana seorang wali boleh mewakilkan
dirinya kepada orang lain. Lalu masing-masing wakil itu
melakukan akad nikah atas nama dan atas seizin dari
masing-masing pihak yang diwakilinya.
Dan hal ini sangat lazim kalau kita lihat dari sudut
pandang hukum. Bukankah dalam sebuah persidangan,
baik terdakwa maupun penuntut sangat lazim
menggunakan jasa lawyer (pengacara) profesional? Para
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


190
pengacara ini kemudian bukan saja memberikan
masukan dan advisnya, bahkan ikut berbicara di depan
sidang pengadilan. Mereka berfungsi sebagai kuasa
hukum.
Maka hal yang sama juga berlaku dalam masalah
akad nikah. Masing-masing pihak, baik calon suami atau
pun wali, sama-sama berhak mengangkat orang lain
untuk bertindak atas nama dirinya dalam sebuah akad
nikah. Dan akad itu bisa sah secara hukum.
Kecuali para saksi, justru mereka tidak boleh
diwakilkan, karena fungsi saksi justru sangat penting
peranannya sehingga tidak bisa diwakilkan. Tapi yang
memudahkan, para saksi ini boleh siapa saja, tidak harus
yang masih punya hubungan famili dengan masing-
masing pihak.
Maka dengan demikian, asalkan masing-masing
pihak sudah terwakili secara sah, maka akad nikah itu
bisa dilakukan secara sah, baik dalam hukum agama
maupun dalam hukum negara. Baik akad itu dilakukan
di Indonesia maupun di Saudi Arabia.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.
Nikah dengan Wanita Non Muslim
Saya lajang usia tahun 2007 ini memasuki 41 th, saat
ini saya berpacaran dengan wanita keturunan(China)
danNon Muslim, saya berniat menikah dengan nya
begitu juga dengan Dia, tapi kami bersikukuh pada
agama kami masing-masing. Dia takut masuk Islam krn
Dia menyaksikan sendiri, betapa brutalnya orang-orang
Islam mengobrak abrik kios majalah yang pedagangnya
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

191
orang "kecil" muslim pula dan tayangan TV yang
memojokan Islam.
Saya berharap setelah menikah dengan saya, Dia mau
memeluk Islam, karena saya ingin menunjukan bahwa
Islam itu adalah agama yang sempurna dan tidak seperti
yang diperkirakan.
Yang saya ingin tanyakan bolehkan laki-laki Muslim
menikah dengan wanita Non Muslim (Protestan)?
Adakah ayat Al-Quran yang berbicara tgg masalah
perkawainan ini?? Kalau boleh bagaimana caranya?
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Secara tegas Al-Quran sejak 14 abad lampau telah
memberikan kehalalan bagi laki-laki muslim untuk
menikahi wanita ahli kitab. Silahkan baca surat Al-
Maidah:


(dihalalkan bagimu menikahi wanita) wanita yang
menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang
beriman dan wanita-wanita yang menjaga
kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-
Kitab sebelum kamu. (QS. Al-Maidah: 5)
Semua ulama ahli syariah pun sepakat membenarkan
tentang halalnya pria muslim menikahi wanita ahli
kitab. Demikian juga dengan pendapat 4 imam mazhab,
semua menghalalkannya.
Namun ada beberapa hal yang perlu kiranya
dijadikan bahan pertimbangan, antara lain:
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


192
1. Masalah beda pendapat tentang pengertian ahli
kitab
Harus diakui di balik dari tegasnya ayat Al-Quran
dan sepakatnya jumhur ulama, ternyata masih ada
pendapat sebagian ulama yang membatasi pengertian
dan batasan ahli kitab.
Di antaranya ada yang menyebutkan bahwa wanita
kristen itu tidak lain adalah wanita musyrikah, karena
menyembah Yesus. Atau ada yang mengatakan bahwa
yang masuk dalam kriteria ahli kitab hanyalah mereka
yang keturunan langsung dari bani Israil. Bukan bangsa-
bangsa lain yang dikristenkan.
Rupanya pendapat mereka mengembalikan
pengertian ahli kitab kepada unsur keturunan, bukan
kepada status. Di antara yang berpendapat demikian
antara lain Dr. Salim Segaf Al-Jufri, sebagaimana pernah
kami tanyakan hal ini saat kami masih kuliah dulu.
Beliau membatasi pengertian wanita ahli kitab pada
keturunan (sulalah) bani Israil saja, sedangkan wanita
kritsten dari bangsa di luar itu, tidak termasuk hukum
wanita ahli kitab.
Kalau menggunakan batasan ini, maka calon isteri
anda yang keturunan cina itu tidak termasuk wanita ahli
kitab. Tapi kalau kita menggunakan pendapat jumhur
ulama yang tidak membedakan berdasarkan keturunan
atau nasab, maka hukumnya boleh secara syariah. Yang
jadi ukuran semata-mata status yang telah diikrarkan
oleh yang bersangkutan.
Testnya mudah saja untuk membedakan apakah
seseorang itu termasuk ahli kitab atau bukan, yaitu kita
tanyakan kepadanya tentang agamanya, apakah anda
seorang nasrani? Kalau dia menjawab 'ya', maka dia
adalah seorang nasrani. Urusan dia percaya atau tidak
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

193
percaya kepada bible, gereja, yesus atau doktrin-doktrin
lainnya, tidak perlu kita risaukan. Pokoknya, begitu
seseorang mengaku beragama kristen, maka secara
hukum syariah kita perlakukan sebagai pemeluk agama
itu.
Kalau seandainya dia meninggal, kita tidak perlu
wawancara dulu tentang detail-detail doktrin
agamanya, langsung saja kita kuburkan di pekuburan
kristen, selesai.
2. Masalah styreotype umat Islam
Hal kedua yang jadi bahan pertimbangan adalah cara
pandang sebagian umat Islam atas pernikahan model
begini.
Kenyataan yang sulit dihindari adalah bahwa
sebagian masyarakat kita ini meski mengaku muslim,
tapi sangat awam dengan agamanya. Lihatlah Aa Gym
yang berpoligami secara 100% halal, tapi habislah beliau
dihujani hujatan, makian, cemooh, cibiran, bahkan
fitnah berkepanjangan. Sementara Maria Eva yang jelas
berzina dan menggugurkan bayi, malah mendapat
simpati.
Aa Gym pasti sudah tahu resiko dicibirkan oleh
orang yang dahulu memuja dirinya. Sangat
menyakitkan pastinya.
Tinggal semua kembali kepada anda, tentunya panen
kritik dan hal-hal sejenis pun akan terjadi. Padahal Al-
Qruan dan syariah Islam sudah 100% menghalalkannya.
Tetapi anda harus berhadapan dengan keawaman
mereka plus sikap anarkisnya juga.
3. Masalah Fitnah dan Politik
Masalah ketiga adalah masalah fitnah di dalam tubuh
umat Islam, lebi tepatnya di dalam lingkungan wanita
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


194
muslimah. Masih banyak wanita muslimah yang sudah
paten, shalihah, qanitah, berketurunan baik-baik dan
lainnya, mengapa harus jauh-jauh mencari wanita yang
masih belum jelas agamanya?
Hal ini juga yang dahulu jadi motivasi mengapa
khalifah Umar bin Al-Khattab ra berkirim surat kepada
bawahannya yang menikahi wanita ahli kitab.
Konon surat khalifah itu sangat tegas, "Jangan kamu
letakkan suratkku ini sebelum kamu ceraikan dulu
isterimu yang ahli kitab itu."
Tentu perintah khalifah itu bukan untuk menentang
kehalalan yang sudah jelas di dalam Al-Quran,
melainkan sebagai politisi, beliau punya kebijakan-
kebijakan internal demi mendapatkan tujuan-tujuan
yang lebih besar.
Mungkin beliau berpandangan lebih baik
memerintahkan bawaannya untuk menceraikan isteri
dari ahli kitab, dari pada timbul gelombang fitnah besar
di dalam negeri, yang tentunya akan berimbas pada
ketidak-stabilan politik lebih besar. Toh para
bawahannya itu sudah punya isteri sebelumnya.
4. Masalah Pendidikan Anak dan Keluarga
Masalah ini juga perlu untuk dipertimbangkan
matang-matang. Sebab masalah hidayah masuk Islam
kan urusan Allah SWT. Meski pernikahan anda tetap
halal untuk selamanya tanpa ada syarat masuk Islamnya
isrti, namun bagaimana dengan pendidikan anak-anak
anda.
Pastinya anda berkewajiban punya keturunan yang
beragama Islam, bukan beragama sebagaimana agama
ibunya. Kecuali bila anda memang tidak berniat punya
keturunan dari isteri anda itu.
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

195
Tapi normalnya semua orang menikah pasti
menginginkan anak keturunan.
Wallahu 'alam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc

Foto Perkawinan Non-Muslim
Assalumualaikum wr wb
Saya bekerja di bidang komputer graphic, dan salah
satu teman saya mengajak saya untuk bergabung untuk
mengerjakan sebuah proyek sampingan mengedit foto
perkawinan, dan kadang perkawinan non muslim, baik
itu foto di dalam gereja atau di luar dengan segala
upacaranya. Walaupun saya hanya mengedit foto tapi
saya ragu apakah boleh kita ikut serta di dalam
pekerjaan itu? Dan apa batasanya bila kita hendak
bekerja sama dengan orang non muslim?
Wassalamualaikum, wr. wb.
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sebagai muslim yang taat, tentu anda akan
merasakan sebuah keragunan yang beratketika harus
mengerjakan tugas yang kurang sejalan dengan iman
anda. Boleh jadi anda akan berkata, mendingan
mengerjakan proyek yang berbau dakwah walaudibayar
murah, ketimbang dibayar mahal tetapi harus
mengerjakan proyek yang kurang sejalan dengan isi
hati.
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


196
Ketahuilah bahwa problematika seperti ini bukan
dirasakan oleh anda seorang. Tetapi ada berjuta muslim
seperti anda di dunia ini yang merasakan hal yang sama,
terjebakpada perangkapyang sama.
Dan ini merupakan salah satu bagian dari
problematika umat Islam dewasa ini, di mana begitu
banyak umat Islam 'harus dan terpaksa' mengerjakan
sesuatu yang tidak disukainya. Demi sekedar
menyambung hidupnya, mereka harus dibenturkan
dengan realita yang keras, yang tidak sejalan dengan isi
hati dan aqidahnya.
Khusus dalam masalah anda, karena baru sekedar
usaha sampingan, di mana anda sudah punya kerja
pokok dengan penghasilan yang cukup, maka pada
hakikatnya anda masih punya pilihan. Anda bisa
menerima job itu atau menolaknya.
Tinggal anda pertimbangkan, apa saja keuntungan
yang anda dapat dari mengerjakan projek sampingan
itu. Sedangkan kerugiannya sudah jelas, yaitu anda
mengerjakan hal-hal yang kurang sejalan dengan iman
anda.
Foto Perkawinan Agama Lain
Sebenarnya ketika anda mengerjakan projek poto
pernikahan biasa, yang tidak terkait dengan agama
tertentu, tidak ada masalah dengan hal itu.
Namun ceritanya memang akan menjadi lain tatkala
pernikahan itu dilakukan di gereja. Tentu potografer
harus ikut masuk ke gereja. Entah kalau anda yang
kerjanya sekedar melakukan editing.
Tentang hukum masuk gereja, sebenarnya tidak ada
nash yang mengharamkannya. Dan hukumnya memang
tidak haram, asalkan di luar acara keagamaan yang
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

197
sedang dilangsungkan.
Hukumnya menjadi haram tatkala seorang muslim
ikut dalam ritual keagamaan agama lain. Baik dilakukan
di dalam rumah ibadah mereka atau di luar rumah
ibadah. Jadi yang menjadi titik masalah bukan
tempatnya, namun ritual acaranya. Umat Islam
diharamkan hadir dan ikut dalam sebuah ritual
keagamaan selain agama Islam.
Tinggal kita nilai sekarang, apakah sebuah ritual
pernikahan di gereja itu bagian dari ritual ibadah atau
bukan. Kalau termasuk ritual ibadah, maka umat Islam
haram untuk menghadirinya. Sedangka bila di luar
ibadah, maka boleh menghadirinya.
Adapun bila anda bekerja di dalam studio dan hanya
melakukan editing, anda tidak akan terkena hukum
haramnya menghadiri acara agama lain. Kira-kira sama
dengan kasus sopir taksi muslim yang berpenumpang
jamah yang mau ke gereja. Di sini muncul sebuah
perbedaan, apakah hal itu termasuk ke dalam kriteria
tolong menolong dalam kebaikan ataukah tolong
menolong dalam keburukan?
Dan apakah mengerjakan editing foto wedding di
gereja atau yang berbau syiar agama lain termasuk
menolong dalam hal keburukan, para ulama pun masih
berdebat panjang.
Yang jelas, keberadaan seorang non muslim di dalam
negeri Islam sangat djamin. Mereka berhak membangun
rumah ibadah, serta mendapatkan kebebasan untuk
menjalankan agamanya.
Dan menolong orang lain, apapun agamanya, selama
tidak bertentangan dengan prinsip dasar Islam, juga
dianjurkan dalam agama Islam.
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


198
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc

Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

199
Bab Kedelapan
Non Muslim Najis?

Hukum Transplantasi Organ dari Non Muslim
Assalamu 'alaikum wr wb
Pak ustaz, saya ingin bertanya tentang donor anggota
tubuh. Apakah terlarang bila seorang muslim
mendapatkan donor transplatasi organ tubuh dari
seorang non muslim? Dan bagaimana dengan firman
Allah SWT yang menyebutkan bahwa orang musyrik itu
najis?
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


200
Wassalamu'alaikum wr, wb.
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Mencangkok (transplantasi) organ dari tubuh seorang
nonmuslim kepada tubuh seorang muslim pada
dasarnya tidak terlarang. Mengapa? Karena organ tubuh
manusia tidak diidentifikasi sebagai Islam atau kafir, ia
hanya merupakan alat bagi manusia yang
dipergunakannya sesuai dengan akidah dan pandangan
hidupnya.
Apabila suatu organ tubuh dipindahkan dari orang
kafir kepada orang Muslim, maka ia menjadi bagian dari
wujud si muslim itu dan menjadi alat baginya untuk
menjalankan misi hidupnya, sebagaimana yang
diperintahkan Allah SWT.
Hal ini sama dengan orang muslim yang mengambil
senjata orang kafir. Dan mempergunakannya untuk
berperang fi sabilillah. Bahkan sesungguhnya semua
organ di dalam tubuh seorang kafir itu adalah pada
hakikatnya muslim (tunduk dan menyerah kepada
Allah). Karena organ tubuh itu adalah makhluk Allah, di
mana benda-benda itu bertasbih dan bersujud kepada
Allah SWT, hanya saja kita tidak mengerti cara mereka
bertasbih.
Kekafiran atau keIslaman seseorang tidak
berpengaruh terhadap organ tubuhnya, termasuk
terhadap hatinya (organnya) sendiri. Memang AL-
Quran sering menyebut istilah hati yang sering
diklasifikasikan sehat dan sakit, iman dan ragu, mati
dan hidup.
Namun sebenarnya yang dimaksud di sini bukanlah
organ tubuh yang dapat diraba (ditangkap dengan
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

201
indra), bukan yang termasuk bidang garap dokter
spesialis dan ahli anatomi. Sebab yang demikian itu
tidak berbeda antara yang beriman dan yang kafir, serta
antara yang taat dan yang bermaksiat.
Tetapi yang dimaksud dengan hati orang kafir di
dalam istilah Al-Quran adalah makna ruhiyahnya, yang
dengannya manusia merasa, berpikir, dan memahami
sesuatu, sebagaimana firman Allah:
"Lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu
mereka dapat memahami "(QS. Al-Hajj: 46)
"Mereka mempunyai hati, tetapi tidak
dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)
"(QS. Al-A`raf: 179)
Orang Musyrik Najis?
Lalu bagaimana dengan firman Allah SWT yang
menyebutkan bahwa Orang musyrik itu najis?
Benar bahwa Allah SWT telah menyebutkan bahwa
orang musyrik itu najis, sebagaimana disebutkan di
dalam Al-Quran:

"Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis" (QS.
At-Taubah: 28)
Namun para ulama sepakat mengatakan bahwa 'najis'
dalam ayat tersebut bukanlah dimaksudkan untuk najis
indrawi yang berhubungan Dengan badan, melainkan
najis maknawi yang berhubungan dengan hati dan akal
(pikiran). Karena itu tidak terdapat larangan bagi orang
muslim untuk memanfaatkan organ tubuh orang
nonmuslim, apabila memang diperlukan.
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


202
Wallahu a'lam bishshawab,
wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Hukum Menerima Transfusi Darah dari Non Muslim
Assalamu Alaikum Wr Wb
Ustad, bagaimanakah hukumnya apabila seorang
muslim sakit kemudian harus mentransfusi darah tetapi
yang tersedia adalah darah dari orang selain muslim.
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Para ulama sepakat bahwa darah adala benda najis.
Semua imam mazhab menyatkan hal yang sama dalam
hal ini.
Namun mereka mengatakan bahwa darah yang najis
itu adalah darah yang keluar dari dalam tubuh kita.
Sedangkan darah yang ada di dalam tubuh dan sedang
bekerja menyebarkan makanan, oksigen dan lainnya,
tidak dikatakan sebagai najis.
Sebab kalau darah di dalam tubuh kita dinyatakan
najis, berarti tubuh kita pun najis juga jadinya. Dan
kalau tubuh kita najis, bagaimana kita shalat, thawaf dan
sebagainya?
Di sisi lain, para ulama juga menyatakan bahwa
tubuh manusia, kafir atau muslim, tidak termasuk benda
najis. Kalau pun ada ungkapan di dalam Al-Quran
tentang kenajisan orang kafir, maka para ulama sepakat
bahwa yang dimaksud dengan najis di dalam ayat itu
bukan najis secara hakiki, namun najis secara majazi.
Mengapa para ulama mengatakan demikian?
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

203
Karena melihatkonteks ayat itu yang sedang
menjelaskan keharaman orang kafir memasuki wilayah
tanah haram di Makkah. Maka ketika orang-orang
musyrik itu dikatakan najis, adalah makna majazi.
Seolah-olah mereka itu benda najis yang tidak boleh
memasuki wilayah yang suci.
Tapi pada hakikatnya tubuh orang kafir bukan benda
najis. Buktinya mereka tetap dibolehkan masuk ke
dalam masjid-masjid mana pun di dunia ini, kecuali
masjid di tanah haram.
Kalau tubuh orang kafir dikatakan najis, maka tidak
mungkin Abu Bakar minum dari satu gelas bersama
dengan orang kafir. Kalau kita belajar fiqih thaharah,
maka kita akan masuk ke dalam salah satu bab yang
membahas hal ini, yaitu Bab Su'ur.
Di sana disebutkan bahwa su'ur adami (ludah
manusia) hukumnya suci, termasuk su'ur orang kafir.
Maka hukum darah orang kafir yang dimasukkan ke
dalam tubuh seorang muslim tentu bukan termasuk
benda najis. Ketika darah itu baru dikeluarkan dari
tubuh, saat itu darah itu memang najis. Dan kantung
darah tentu tidak boleh dibawa untuk shalat, karena
kantung darah itu najis.
Namun begitu darah segar itu dimasukkan ke dalam
tubuh seseorang, maka darah itu sudah tidak najis lagi.
Dan darah orang kafir yang sudah masuk ke dalam
tubuh seorang muslim juga tidak najis.
Sehingga hukumnya tetap boleh dan dibenarkan
ketika seorang muslim menerima transfusi darah dari
donor yang tidak beragama Islam.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


204
Ahmad Sarwat, Lc
Makan Pemberian non Muslim dan Menjabat Tangan
Apakah boleh kita memakan makanan pemberian
dari non muslim? Saya seorang akhwat, apakah boleh
berjabat tangan dengan perempuan non muslim?
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Halal haramnya makanan tidak diukur dari siapa
yang memberikan, melainkan dar itolok ukur yang
sudah baku. Yang pertama adalah dari cara
mendapatkannya, sedangkan yang kedua dari zatnya.
Dari cara mendapatkannya, suatu makanan bisa
menjadi haram untuk dimakan. akan tetapi titik
keharamannya bukan pada makanan itu, tetapi dari
hukum cara mendapatkannya. Misalnya makanan yang
dibeli dari uang hasil mencuri, korupsi, manipulasi,
memeras, menipu, menyogok, membungakan uang dan
seterusnya.
Dari keharaman zatnya, pada dasarnya semua
makanan itu halal, kecuali yang namanya atau
kriterianya disebutkan di dalam nash-nash suci, baik Al-
Quran maupun As-Sunnah.
Kalau kita kaitkan kehalalan makanan orang kafir
(non muslim), selama tidak ada penyimpangan dari dua
tolok ukur di atas, hukumnya adalah halal. Maka
makanan pemberian non muslim, selama bukan dari
hasil-hasil kejahatan di atas, hukumnya halal. Demikian
juga, makanan pemberian orang kafir yang tidak
disebutkan keharamannya secara tegas di dalam dua
sumber hukum Islam, baik namanya atau pun
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

205
kriterianya, hukumnya halal.
Di antara jenis makanan orang kafir yang
diharamkan adalah daging hewan yang disembelih oleh
mereka yang beragama selain Nasrani dan Yahudi.
Sedangkan sembelihan Nasrani dan Yahudi hukumnya
halal bagi umat Islam, meski tanpa menyebut nama
Allah. Sebab kebanyakan ulama tidak menjadikan
penyebutan nama Allah SWT sebagai syarat sahnya
penyembelihan.
Juga hewan yang ketika disembelih, diniatkan untuk
dipersembahkan kepada dewa atau roh atau
sesembahan lainnya. Misalnya hewan-hewan yang
disembelih untuk sesajen makhluk halus, karena
mengharapkan bantuannya. Atau syarat yang diberikan
oleh dukun tertentu, sebagai penolak bala bencana dan
sejenisnya.
Nampaknya halal haramnya jenis makanan yang
terkait dengan makanan dari non muslim hanya seputar
kedua hal ini saja. Yaitu bila disembelih oleh orang kafir
selain ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) atau disembelih
secara sengaja sebagai persembahan dewa atau berhala.
Selebihnya, halal haramnya makanan bersifat umum,
tidak dipengaruhi apakah sumbernya dari orang kafir
atau muslim.
Apakah Wanita Muslimah Diharamkan Berjabat
Tangan dengan Wanita non Muslim?
Buat seorang wanita muslimah ketika bergaul dengan
wanita kafir, yang diharamkan adalah terlihat sebagian
auratnya, meski sesama wanita. Sebab kedudukan
wanita kafir itu setara dengan laki-laki asing (ajnabi)
yang bukan mahram. Di hadapan sesama wanita tapi
bukan wanita muslimah, diharamkan untuk melepas
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


206
kerudung atau jilbab. Sedangkan bila dengan sesama
wanita muslimah, dibolehkan untuk terlihat sebagian
aurat, seperti rambut, tangan dan kaki (aurat kecil).
Sedangkan masalah sentuhan dengan wanita kafir,
tidak ada masalah. Karena mereka pada dasarnya juga
perempuan. Dalam hal ini hukumnya tidak bisa
disamakan dengan hukum melihat aurat.
Juga perlu diketahui bahwa sesungguhnya tubuh
orang kafir itu tidak najis, tidak sebagaimana najisnya
benda-benda. Maka sentuhan kulit antara muslim
dengan non muslim tidaklah membatalkan wudhu', juga
tidak mengharuskan pencucian atau pensucian.
Adapun ayat Al-Quran yang menyebutkan bahwa
orang-orang musyrik itu najis, oleh para ahli tafsir
disebutkan bahwa kenajisan yang dimaksud ayat itu
bukanlah najis hakiki, melainkan najis hukmi.
Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya
orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah
mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini.
Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah
nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari
karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS.
At-Taubah: 28)
Najis hakiki adalah benda-benda yang kita kenal
sebagai najis, seperti darah, nanah, kotoran, air kencing,
bangkai dan lainnya. Sedangkan najis hukmi adalah
kondisi seseorang yang sedang dalam keadaan janabah,
di mana dia dilarang melakukan shalat, menyentuh
mushaf, masuk masjid dan sejenisnya. Seolah-olah dia
terkena najis, namun bukannajis secara hakiki
melainkan secara hukmi.
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

207
Untuk mensucikan najis hakiki, dilakukan pencucian
dengan air hingga hilang rasa, aroma dan warna.
Sedangkan untuk menghiangkan najis hukmi, cukup
dengan melakukan mandi janabah. Karena itulah ayat
ini dijadikan oleh para ulama sebagai landasan
kewajiban bagi orang kafir yang masuk Islam untuk
mandi janabah.
Hal itu bisa kita lihat di dalam tafsir ayat ini pada
kitab Jami' li Ahkamil Quran (Tafsir Al-Qurthubi). Di
dalam kitab itu disebutkan oleh Qatadah, Ma'mar bin
Rasyid, Abu Tsaur dan Ahmad, bahwa orang yang
masuk Islam diwajibkan untuk mandi janabah dengan
ayat ini. Sedangkan As-Syafi'i tidak mewajibkan mandi
janabah, beliau hanya menyunnahkan saja.
Jadi ayat ini bukan dalil yang menunjukkan bahwa
orang kafir itu sama najisnya dengan kotoran manusia,
darah, nanah, bangkai atau babi. Ayat ini tidak
menyatakan kenajisan mereka secara hakiki, melainkan
menegaskan kenajisan mereka secara hukmi, yaitu
bahwa mereka dalam keadaan janabah yang
mewajibkan mereka mandi janabah, bila masuk Islam.
Juga menegaskan bahwa mereka diharamkan masuk ke
tanah haram atau masjid Al-Haram di Makkah. Adapun
bila masuk ke dalam masjid selain Al-Haram di Makkah,
para ulama berbeda pendapat.
Wallahu a'lam bishshawab, Wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Ahmad Sarwat, Lc.

Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

209
Bab Kesembilan
Pekerjaan
Manual Menjalankan Agama Islam di Jepang
Assalamu 'alaikum, ustadz
Kami mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya
atas kedatangan ustadz ke Jepang, sungguh begitu
banyak persoalan fiqih yang selama ini kami hadapi dan
alhamdulillah dengan kedatangan ustadz, kami lebih
tercerahkan.
Namun kalau kami perhatikan, di antara kendala
masalah syariah yang paling berat kami hadapi justru
datang dari kami sendiri. Ternyata kami yang muslim
dari Indonesia ini datang dari latar belakang
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


210
pemahaman syariah yang berbeda-beda. Sehingga
terkadang yang terjadi justru kami ini yang bertengkar
urusan halal dan haram.
Sebagai gambaran, ada teman-teman yang
sedemikian ekstrem, sehingga dalam memilih makanan,
mereka nyaris mengharamkan semua makanan yang
tersedia. Disisi lain, ada teman yang justru terlalu
memudah-mudahkan, seolah semua makanan di Jepang
ini halal.
Jadi kami mohon kepada ustadz sebagai ahli syariah
yang sudah sering kami baca kajiannya di situs ini,
untuk membuat semacam manual atau guide book yang
secara khusus menyelesaikan perbedaan pendapat di
antara kami.
Agar kami bisa dengan mudah menjalani hidup
secara syariah di negeri non Islam ini. Semoga Allah
SWT memudahkan perjalanan ustadz selama di Jepang
ini.
Wassalam
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sangat kami akui bahwa masalah fiqih di dalam
kehidupan masyarakat Jepang sangat complicated.
Mengingat bangsa Jepang memang secara mayoritas
bukan beragama Islam, juga bukan pemeluk agama ahli
kitab. Bahkan terkadang agak sulit juga memposisikan
mereka, karena agamanya ternyata juga tidak jelas.
Tentu saja semua akan berpengaruh kepada bentuk
teknis dari kehidupan, mulai dari masalah kehalalan
makanan dan minuman, sampai urusan muamalah
ekonomi dan lainnya. Semua memang membutuhkan
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

211
kajian yang mendalam, serta solusi yang komprehensip.
Keberadaan buku manual Islami seperti yang anda
usulkan itu mutlak diperlukan. Tentu saja kami akan
sangat berbahagia bila dapat membantu terlahirkan
buku manual seperti itu. Walau pun kami yakin bahwa
buku seperti itu tidak mungkin dikerjakan oleh
seseorang saja, tanpa melibatkan berbagai pihak.
Sebenarnya yang bisa kami lakukan hanyalah sebatas
memberikan penjelasan terkait dengan solusi syariah
atas berbagai permasahalan menyangkut kehidupan di
Jepang. Itu pun sebenarnya masih bisa didiskusikan lagi,
sesuai dengan latar belakang manhaj fiqih yang memang
beragam itu.
Barangkali dengan sedikit tambahan di sana-sini
tentang adanya beberapa variasi manhaj fiqih dari
beberapa mazhab. Sebab kita memang harus akui bahwa
ada beberapa perbedaan teknis dalam tiap mazhab saat
memandang dan menginterpretasikan suatu hukum dari
dalil-dali yang sebegitu banyak.
Sehingga meski namanya buku manual, tetapi
karakteristik fiqih yang selalu bisa multi-tafsir dan
penuh dengan beragam pandangan, menjadi hal yang
tidak bisa dihindarkan.
Dan realitas seperti itu bukan hanya karena kita
hidup di masa modern ini saja. Bahkan sejak awal mula
lahirnya fiqih Islam yang dibukukan, para mujtahid
mazhab sudah merasakan hal yang sama.
Fiqih Manual Book di Masa Imam Malik
Itulah mengapa Al-Imam Malik rahimahullah
menolak saat kitabnya yang legendaris itu diminta
untuk dijadikan manual book resmi khilafah Islamiyah
saat itu. Konon, sang Khalifah memandang akan jauh
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


212
lebih baik apabila perbedaan-perbedaan pendapat yang
berkembang di tengah umat diselesaikan dengan cara
khilafah turun tangan untuk membuat satu pedoman.
Biarla khalifah memilih satu kitab yang resmi
dijadikan manhaj negara dalam berfikih. Dan pilihan itu
jatuh pada kitab yang memang sangat fenomenal di
masa itu, Al-Muwaththa' yang disusun oleh ulama tanpa
tanding di zamannya, Al-Imam Malik rahimahullah.
Sebenarnya sangat layak dan wajar serta memang
masuk akal seandainya Al-imam Malik menerima
tawaran itu. Bahkan tujuannya pun mulia, yaitu ingin
menyatukan umat Islam agar tidak pecah belah. Dan
tidak ada seorang pun yang menolak keulamaan dan
kepakaran seorang Imam Malik.
Beliau adalah imam dari penduduk Madinah, kota
yang dahulu nabi Muhammad SAW pernah tinggal di
dalamnya selama sepuluh tahun. Dan ilmu serta
kapasitas beliau memang telah sampai kepada derajat
mujtahid mutlak, yaitu derajat tertinggi dalam hirarki
para mujtahid.
Di masa beliau hidup, boleh dibilang hanya beliau
seorang saja yang menduduki tempat itu, setelah
sebelumnya Al-Imam Abu Hanifah yang tinggal di
Kufah wafat pada tahun 150 masehi.
Namun,
Betapa agungnya akhlaq dan kerendahan hati
seorang mujtahid mutlak yang satu ini. Alih-alih merasa
pintar dan benar sendiri, justru beliau menolak dengan
halus kalau kitabnya yang legendaris itu dijadikan
manual book buat umat Islam sedunia.
Beliau tetap menganggap bahwa apa yang ditulisnya
di dalam kitab itu hanyalah hasil ijtihad, yang sementara
beliau menganggapnya benar, namun punya ihtimal
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

213
(kemungkinan) juga mengalami kesalahan-kesalahan.
Subhanallah, seorang dengan level mujtahid mutlak
ternyata masih juga tawaddhu' dengan ilmunya.
Sungguh benar-benar sebuah teladan yang sulit kita
temukan di zaman sekarang ini. Yang lebih sering kita
saksikan justru sebaliknya, kumpulan orang-orang
dengan ilmu yang terbatas, namun memposisikan
dirinya sebagai orang yang ilmunya tidak pernah salah.
Yang lebih sering kita baca justru orang-orang
dengan wawasan terbatas, namun dengan sebegitu pe-
denya, telah mengangkat dirinya sebagai mufti yang
tidak pernah salah. Bahkan dalam fatwa-fatwanya, lebih
sering menyalah-nyalahkan orang lain yang sekiranya
tidak sepaham dengan dirinya.
Lebih aneh lagi, kita malah lebih sering bertemu
dengan para taqlider (tukang taklid) dari para mufti
yang ilmunya terbatas ini. Kadang suara mereka jauh
lebih keras dan kata-kata mereka jauh lebih tajam dari
sebilah pedang. Dengan sadisnya, ditusukkannya
pedang itu di dada setiap saudara muslim.
Hatinya akan bahagia manakala hati saudara-saudara
muslimnya itu tertusuk dengan lisan yang kotor dan
wajah yang bengis. Wajahnya akan semakin
menampakkan keriangan manakala telah berhasil
melontarkan sumpah serapah dan tudingan bid'ah yang
menempatkan saudaranya itu sebagai penduduk neraka
jahannam, lantaran dianggapnya saudaranya itu telah
melakukan bid'ah. Padahal yang diributkan sebagai
bid'ah itu ternyata hanyalah wilayah khilafiyah yang
sejak zaman dahulu sudah selesai disepakati oleh para
ulama.
Namun pemandangan buruk yang memilukan itu
tidak kita temukan dari seorang Al-Imam Malik. Beliau
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


214
menolak dengan halus tawaran agar kitab yang berisi
pendapat beliau dijadikan manual book standar yang
berlaku buat seluruh wilayah khilafah Islamiyah.
Beliau masih sempat mengatakan bahwa selain
dirinya, masih banyak para mujtahid lain yang punya
kesimpulan hukum yang tidak sejalan dengan dirinya.
Dengan segala kedalaan ilmu dan keluasan wawasan,
beliau memberikan kesempatan kepada mujtahid
lainnya untuk berpendapat yang sekiranya tidak sama
dengan pendapat beliau.
Alangkah indahnya, bila di masa sekarang ini, kita
menemukan kembali sosok seperti Al-Imam Malik ini.
Maka tawaran untuk membuat manual book khusus
untuk kehidupan seorang muslim di Jepang ini
bukannya kami tolak, namun barangkali istilahnya
bukan manual book. Yah, sekedar sekelumit pendapat
selintas yang sekiranya masih mungkin juga berubah.
Sekedar sebuah logika alur berfikir fiqhiyah yang
menjadi salah satu dari sekian banyak alternatif yang
bisa disuguhkan.
Sehingga kami agak kurang setuju seandainya
dijadikan sebagai satu-satunya pedoman dalam berfiqih
di Jepang. Dan kalau pun buku itu akhirnya tercetak
pula, maka pasti isinya merupakan dialog dari berbagai
manhaj dan mazhab fiqih.
Isinya pasti bukan fatwa kaku yang tidak punya
landasan alur logika. Sebaliknya, kami terbiasa
membawakan berbagai macam pendapat dan dilengkapi
dengan latar belakang istidlalnya. Itulah yang kami
pelajari dari Dr. Salim Segaf Al-Jufri, MA dan para
doktor syariah saat dahulu duduk di LIPIA sebagai
mahasiswa fakultas Syariah S-1.
Semoga keinginan atau tepatnya kebutuhan adanya
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

215
sebagai guide book itu bisa terlaksana. Tentunya dengan
bantuan semua pihak, wabil khusus para warga negara
Indonesia di Jepang.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Kerja di Luar Negeri = Membantu Orang Kafir?
Assalamu'alaikum,
Pak Ustadz, saya seorang karyawati berjilbab di
perusahaan Indonesia. Perusahaan saya sering
kerjasama dengan perusahaan asing. Saya sering
diperbantukan karena alhamdulillah saya menguasai
bahasa asing (Inggris). Saya juga berteman dengan
partner asing perusahaan dari luar negeri. Sudah
sebulan ini saya sedang mencari pekerjaan lain karena
suasana kerja yang kurang mendukung walaupun
mayoritas Muslim.
Yang jadi pertanyaan, teman saya tersebut
menawarkan untuk kerja di kantor pusatnya di luar
negeri, tepatnya di New Zealand. Dia meminta saya
berbicara dengan suami karena kalau kami setuju kami
diperbolehkan pergi bersama dan suami juga akan
bekerja di sana. Menurut teman saya karyawati di sana
juga ada yang berjilbab seperti saya ketika dia ditanya
mengenai identitas saya yang seorang Muslimah.
Suami saya setuju dengan pertimbangan tidak terlalu
lama kemungkinan kita di sana hanya 2 tahun saja, ada
komunitas muslim di kota tersebut dan 5 masjid sudah
berdiri lengkap dengan kajian ke-Islaman, shalat Jumat
berjamaah dan lain-lain. Di samping itu kita belum
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


216
dikaruniai anak dan juga untuk menambah modal usaha
ketika kembali ke Indonesia pada sisi ekonomi.
Yang jadi kekhawatiran saya, apakah boleh kita
membantu dalam kata lain bekerja untuk orang non
Muslim karena mereka adalah musuh-musuh kita umat
Islam dan mereka tidak akan ridho pada Muslim sampai
kita ikut agama mereka (QS 2: 120)? Di sisi lain, dalam
bekerja saya lihat mereka lebih profesional dan disiplin
yang ini bisa kita contoh untuk kebaikan dan inilah
suasana kerja yang saya cari. Seringkali saya lihat orang
Muslim sendiri tidak bekerja disiplin. Apakah boleh
dengan alasan tersebut kita belajar pada perusahaan
orang asing yang lebih profesional?
Mohon pak Ustadz memberikan solusi dalam Islam
dan atas jawabannya saya ucapkan banyak terima kasih.
Wassalamu'alaikum wr. wb.
jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Tidak semua orang kafir itu musuh umat Islam,
hanya kafir harbi saja yang harus dimusuhi. Itu sifatnya
tidak abadi, maksudnya tidak selamanya orang kafir
harbi itu akan jadi kafir harbi. Bila terjadi perdamaian
dan ta'ahud antara mereka dengan pemimpin umat
Islam, maka statusnya turun menjadi kafir zimmi, kafir
mu'ahid atau kafir muamman.
Di Madinah pada masa Rasulullah SAW, jumlah kafir
zimmi ini cukup banyak. Dan tidak ada pemboikotan
apapun dengan mereka, karena selama ini mereka setiap
dengan perjanjian yang telah disepakati. Yaitu Piagam
Madinah. Kecuali setelah terbukti kecurangan mereka
dan gugurnya piagam itu, maka dimaklumatkan perang
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

217
kepada mereka dan jadilah mereka kafir harbi.
Selama masih dalam mu'ahadah, kehidupan di
Madinah cukup tenang. Bahkan dalam banyak hal,
Rasulullah SAW terlibat dengan banyak akad dan
transaksi dengan orang Yahudi. Demikian juga dengan
para shahabat, mereka tetap bermuamalah dengan
orang yahudi di Madinah.
Kalau pun kita tidak suka dengan sikap mereka, lalu
secara perasaan yang bersifat individu kita tidak mau
bekerjasama atau bekerja dengan mereka, tentu sikap itu
merupakan hak kita masing-masing. Sama saja kasusnya
bila anda menolak bekerja dengan sebuah perusahaan di
negeri sendiri, lantaran bosnya kurang anda sukai.
Tetapi kita bisa membuat sebuah fatwa begitu saja
yang mengharamkan bekerja dengan suatu perusahaan
tertentu hanya karena masalah yang bersifat subjektif.
Manfaat dan Madharat
Dalam pandangan kami selama bukan kepada orang
kafir harbi, kita masih dibenarkan untuk berhubungan
bahkan bermuamalah dengan mereka.
Pertimbangannya tinggal masalah seberapa besar
manfaat dan madharat yang bisa kita dapat dari
bermuamalat dengan mereka.
Barangkali di antara manfaat yang bisa anda dapat
adalah gaji yang lebih besar. Dan pertimbangan ini tentu
manusiawi sekali dan juga dibenarkan dalam syariah.
Banyak sekali para aktifis dakwah dari negara Arab
yang kini tinggal di negara barat, di mana salah satu
pertimbangan mereka memang pertimbangan ekonomi
selain masalah peluang dakwah.
Dan memang peluang berdakwah ini pun bisa
menjadi faktor penguat juga. Sebab negara-negara barat
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


218
termasuk juga New Zealand miskin dan minim dakwah,
padahal mereka juga berhak untuk mendapatkannya.
Apalagi mengingat sekarang ini sampai bisa membuat
mereka berbondong-bondong masuk Islam. Pasca
meledaknya bom WTC 11 September 2001, paling tidak
sudah ada 25.000 orang Australia yang masuk Islam.
Tentunya mereka butuh nara sumber dari kalangan
muslim, selain juga perlu bertemua langsung dengan
orang-orang Islam yang menjadi teman mereka serta
membuat citra yang positif. Semua ini kami anggap
sebagai bagian dari dakwah yang sangat urgen.
Dakwah bukan hanya terbatas di negeri Islam saja,
tetapi justru di barat sekarang ini sangat dibutuhkan
tenaga dakwah.
Selain urusan ekonomi dan dakwah, di beberapa
negara barat juga ada manfaat lainnya yang bisa kita
ambil, misalnya teknologi dan aplikasinya, juga
penerapan kedisiplinan, kebersihan, ketertiban bahkan
termasuk law enforcement.
Tetapi di balik beberapa manfaat, pasti juga ada
madharat. Misalnya dekadensi moral yang akut di
negeri mereka, kebebasan seks, termasuk resiko tertular
AIDS. Kerusakan dalam bidang pemikiran juga sangat
parah, baik lewat ideologi kapitalis, sosialis bahkan
atheis. Selain juga liberalis dan sekuleris yang bersarang
di sana.
Resiko lainnya masalah ketidaknyamanan anda
disikapi dengan stereotype negatif oleh bangsa itu.
Akibat kebijakan pers yang sangat timpang. Mungkin
juga anda akan menerima sindiran, cacian, sinisme, atau
bahkan provokasi negatif dari bangsa itu.
Semua manfaat dan madharat itu perlu anda
pertimbangkan sebaik-baiknya. Kalau manfaatnya
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

219
dirasa lebih besar, apa salahnya anda berangkat ke sana
dengan suami. Tapi kalau madharatnya jauh lebih besar,
buat apa ke sana. Tidak ada salahnya bila anda banyak
cari informasi kepada teman-teman yang sudah pernah
ke sana sebelumnya. Atau kalau anda punya jalur
tertentu dengan para aktifis dakwah di sana, tentu akan
lebih lagi. Sebab sejak awal anda akan dimasukkan ke
dalam barisan aktifis dakwah di sana.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.
Wanita Ke Luar Negeri Tanpa Mahram
Assaalamu'alaikum,
Bapak Ustadz yang semoga selalu sehat dan
dirahmati ALLAH. Pertanyaan saya, bolehkah seorang
wanita pergi haji tanpa saudara, anak, atau suami yang
menyertai?
Wassalamu'alaikum,
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bila kita menilik dalil-dalil syar'i, kita akan
menemukan lafadz yang tidak memperkenankan para
wanita untuk keluar rumah lebih dari tiga hari kecuali
ditemani oleh mahram atau suaminya. Larangan ini
bersifat umum dan jelas berdasarkan sabda Rasulullah
SAW. Namun ketika menarik kesimpulan hukum, para
ulama berbeda pendapat dalam detail rinciannya.
Di antara dalil nash yang paling masyhur di kalangan
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


220
kita tentang masalah ini adalah sabda nabi SAW berikut
ini
`Tidak halal bagi wanita muslim bepergian lebih dari
tiga hari kecuali bersama mahramnya`. (HR
Muttafaq 'alaihi)
Namun para ulama berbeda pendapat bila tujuannya
adalah untuk pergi haji. Dalam masalah mahram bagi
wanita dalam pergi haji, ada dua pendapat yang
berkembang.
1. Mengharuskan ada mahram secara mutlak.
Seorang wanita yang sudah akil baligh tidak
diperbolehkan bepergian lebih dari tiga hari kecuali ada
suami atau mahram bersamanya. Hal itu sudah
ditekankan oleh Rasulullah SAW sejak 14 abad yang lalu
dalam sabda beliau.
Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada
Allah dan hari kiamat untuk bepergian lebih dari tiga
hari, kecuali bersama mahramnya atau suaminya.
(HR Muttafaq 'alaihi)
Dari Ibnu Abbas ra. berkata bahwa Rasulullah SAW
berkhutbah, "Dan janganlah seorang wanita
bepergian kecuali bersama mahramnya." Ada seorang
bertanya,`Ya Rasulullah SAW, aku tercatat untuk
ikut pergi dalam peperangan tertentu namun isteriku
bermaksud pergi haji. Rasulullah SAW
bersabda,"Pergilah bersama isterimu untuk haji
bersama isterimu." (HR Bukhari, Muslim dan
Ahmad.)
Dengan dua dalil di atas dan dalil-dalil lainnya,
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

221
sebagian ulama berpendapat wanita diharamkan
bepergian sejauh perjalanan 3 hari, kecuali harus benar-
benar ditemani oleh mahramnya atau suaminya. Dan di
antara yang berpendapat demikian antara lain: Al-Imam
Abu Hanifah, Al-Imam Ahmad bin Hanbal, An-Nakha`i,
Al-Hasan, At-Tsauri dan Ishaq rahimahumullah.
Buat kalangan ini, keberadaan mahram atau suami
adalah syarat mutlak yang harus terpenuhi bila seorang
wanita ingin bepergian. Tanpa keberadaan salah satu
dari keduanya, maka tidak halal bagi wanita untuk
bepergian keluar rumah lebih dari tiga hari lamanya.
Abu Hanifah menggunakan hadits ini sebagai dalil
bahwa seorang wanita yang tidak punya mahram atau
tidak ada suami yang menemaninya, maka tidak wajib
untuk menunaikan ibadah haji yang wajib atasnya. Hal
itu juga diungkapkan oleh Ibrahim An-Nakha`i ketika
seorang wanita bertanya via surat bahwa dia belum
pernah menjalankan ibadah haji karena tidak punya
mahram yang menemani. Maka Ibrahim An-Nakha`i
menjawab bahwa anda termasuk orang yang tidak wajib
untuk berhaji.
2. Tidak mengharuskan secara mutlak
Sebagian ulama memahami hadits yang digunakan
oleh pendapat di atas bukan sebagai syarat mutlak,
melainkan sebagai sebagai gambaran tentang perhatian
Islam kepada para wanita dan upaya melindungi
mereka dari ketidak-amanan perjalanan.
Hal itu lantaran di masa itu memang belum ada
jaminan keamanan bagi wanita yang bepergian
sendirian. Sehingga keberadaan mahram atau suami
adalah antisipasi dari buruknya keadaan di masa lalu,
khususnya dalam perjalanan menembus padang pasir
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


222
jauh dari peradaban.
Namun ketika keadaan masyarakat sudah jauh lebih
baik, tidak ada lagi ancaman dan bahaya yang
menghadang di tengah jalan, maka tidak lagi diperlukan
mahram atau suami. Hal itu tergambar dalam sabda
nabi SAW yang lainnya, seperti berikut ini:
`Wahai Adi, Pernahkah kamu ke Hirah? Aku
menjawab, belum tapi hanya mendengar tentangnya.
Beliau bersabda, "Apabila umurmu panjang, kamu
akan melihat wanita bepergian dari kota
Hirahberjalan sendirian hinggabisa tawaf di Ka`bah,
dengan keadaan tidak merasa takut kecuali hanya
kepada Allah saja`. Adi berkata, "Maka akhirnya aku
menyaksikan wanita bepergian dari Hirah hingga
tawaf di ka'bah tanpa takut kecuali hanya kepada
Allah." (HR Bukhari).
Dari hadits yang dishahihkan oleh Al-Imam Al-
Bukhari ini, para ulama pendukung pendapat kedua
mengambil kesimpulan bahwa syarat kesertaan mahram
itu bukan syarat mutlak, melainkan syarat yang
diperlukan pada saat perjalanan keluar kota yang tidak
terjamin keamanannya, baik dari kejahatan maupun dari
fitnah lainnya.
Dan jelas sekali digambarkan bahwa Rasulullah SAW
mengatakan bahwa suatu saat nanti akan ada wanita
yang bepergian dari Hirah ke Makkah sendirian tanpa
takut dari ancaman apapun. Dan bahwa seorang wanita
akan berjalan sendirian, menembus gelapnya malam
dan melintasi padang pasir tak bertepi, tetapi dia sama
sekali tidak takut atas ancaman apapun.
Dengan amat jelasnya penggambaran nabi SAW ini,
menurut para ulama, hal itu tidak lain menunjukkan
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

223
hukum kebolehan seorang wanita bepergian sendirian
ke luar kota, tanpa mahramatau juga suami. Dengan
demikian, keberadaan mahram atau suami dibutuhkan
hanya pada saat tidak adanya keamanan saja.
Ini adalah pendapat yang didukung oleh Al-Imam
Malik. Al-Imam Asy-Syafi`i, Daud Azh-Zhahiri, Hasan
Al-Bashri, Al-Mawardi dan lainnya. Bahkan Al-Imam
Asy-syafi'i dalam salah satu pendapat beliau tidak
mengharuskan jumlah wanita yang banyak tapi boleh
satu saja wanita yang tsiqah. Semua mensyaratkan satu
hal saja, yaitu amannya perjalanan dari fitnah.
Al-Imam Malik rahimahullah mengatakan bila aman
dari fitnah, para wanita boleh bepergian tanpa mahram
atau suami, asalkan ditemani oleh sejumlah wanita yang
tsiqah (bisa dipercaya).
Sedangkan Al-Mawardi dari ulama kalangan As-
Syafi'iyah mengatakan bahwa sebagian dari kalangan
pendukung mazhab As-syafi'i berpendapat bahwa bila
perjalanan itu aman dan tidak ada kekhawatiran dari
khalwat antara laki dan perempuan, maka para wanita
boleh bepergian tanpa mahram bahkan tanpa teman
seorang wanita yang tsiqah.
Namun semua itu hanya berlaku untuk haji atau
umrah yang sifatnya wajib. Sedangkan yang hukumnya
sunnah,hukum kebolehannyatidak berlaku. Pendapat ini
didasarkan pada sabda Nabi yang menyebutkan bahwa
suatu ketika akan ada wanita yang pergi haji dari kota
Hirah ke Makkah dalam keadaan aman.
Selain itu pendapat yang membolehkan wanita haji
tanpa mahram juga didukung dengan dalil bahwa para
isteri nabi pun pergi haji di masa Umar setelah diizinkan
oleh beliau. Saat itu mereka ditemani Utsman bin Affan
dan Abdurrahman bin Auf. Demikian disebutkan dalam
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


224
hadits riwayat Al-Bukhari.
Ibnu Taimiyah sebagaimana yang tertulis dalam kitab
Subulus Salam mengatakan bahwa wanita yang berhaji
tanpa mahram, hajinya syah. Begitu juga dengan orang
yang belum mampu bila pergi haji maka hajinya syah.
Perjalanan di Luar Haji
Semua perbedaan pendapat di atas masih dalam
koridor pergi haji bagi wanita tanpa mahram. Lalu
bagaimana dengan bepergiannya wanita tanpa mahram
tapi bukan untuk haji. Dalam hal ini para ulama sekali
lagi berbeda pendapat.
Sebagian ulama yang membolehkan wanita
bepergian sendirian, hanya membolehkan untuk haji
yang wajib. Sedangkan haji yang hukumnya sunnah,
bukan wajib, maka hukumnya tetap tidak boleh.
Sebagian lainnya mengatakan bahwa kebolehan
wanita bepergian tanpa mahram itu hanya khusus
untuk ibadah haji saja, sedangkan bila di luar
kepentingan pergi haji, maka hukumnya tetap tidak
boleh kecuali harus dengan mahram
Sebagian lainnya lagi mengqiyaskan kebolehan pergi
yang bukan haji dengan kebolehan haji di atas.
Sehingga bagi mereka, semua bentuk perjalanan
yang hukumnya halal, wania boleh bepergian tanpa
mahram atau suami, asalkan aman dari fitnah, atau
ditemani oleh sejumlah wanita yang tsiqah.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

225
Menjadi TKI Ilegal, Halalkah Rejeki Saya?
Assalamualaikum wr wb...
Pak ustadz..saya mau bertanya
Saya sudah tiga tahun bekerja di korea.Awalnya saya
resmi karna merasa belum cukup pendapatan saya, saya
terus bertahan di negara ini dengan status ilegal.
Sebenarnya bukan hal itu saja yang selama ini menjadi
beban fikiran saya. Selama ini saya bekerja di negara
yang mayoritas non Islam bahkan banyak yang tidak
beragama...
Dengan ini saya mohon penjelasan Pak Ustadz
1.apakah nilai rizki yang saya dapatkan sedangkan
saya bekerja dan mengabdi kepada orang non muslim?
Halalkah?
2. Apa nilai rizki yang saya dapatkan kalau saya
berstatus ilegal? Halalkah?
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih...
Wassalam....
Jawaban
Assasalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Islam pada hakikatnya tidak melarang kita
bermuamalah dengan orang kafir. Selama orang kafir itu
tidak memerangi umat Islam.
Dahulu Rasulullah SAW seringkali melakukan
praktek muamalah dengan menggadaikan baju besinya
kepada orang Yahudi yang tinggal di Madinah. Karena
si Yahudi itu termasuk orang kafir ahlu zimmah yang
hidup di bahwa perlindungan dan keamanan dari umat
Islam.
Syarat Bekerja Dengan Orang Kafir
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


226
Agar harta yang kita terima menjadi halal, memang
ada beberapa syarat utama, di samping syarat
tambahan, yang harus dipenuhi. Syarat-syarat itu antara
lain:
1. Tidak Menghalangi Agama
Pimpinan atau pemilik perusahaan memberikan
kebebasan kepada kita untuk menjalankan agama kita,
tidak melarang kita menutup aurat, tidak melarang kita
shalat dan intinya tidak melarang kita menjalankan
agama dengan benar.
Tentunya juga tidak berkampanye untuk mengajak
kita masuk ke dalam agama mereka. Karena ada
indikasi beberapa misionaris sengaja mendorong
pegawainya yang muslim untuk murtad dari agama
Islam, dengan kedok membuka peluang kerja.
2. Bentuk Usahanya Halal
Tentunya jenis usaha yang dilakukan perusahaan itu
adalah usaha yang halal juga. Setidaknya, patuh pada
peraturan dan perundangan yang berlaku.
Jangan sampai perusahaan itu merupakan mafia yang
kerjanya mengambil hak orang lain. Bukan perusahaan
yang memproduksi khamar sehingga membuat orang
mabuk.
Juga bukan perusahaan yang mempekerjakan wanita
tuna susila (baca: pezina) sehingga selalu bergelimang
dengan maksiat.
3. Bekerja Dengan Halal
Dan yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa kita
bekerja di perusahaan itu secara halal, dengan
mengeluarkan tenaga dan keringat kita sendiri. Bukan
mendapatkan rizki dengan jalan menipu, menilep,
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

227
menggelapkan dan menyikat harta yang haram.
Tentunya tanpa korupsi waktu, tanpa membuat surat
dinas perjalanan fiktif seperti yang sering dilakukan
oleh sebagian saudara kita sendiri.
Menjadi TKI Ilegal
Menjadi TKI ilegal memang merupakan kendala
utama dari tenaga kerja kita. Tapi kami yakin, pada
dasarnya tidak ada seorang pun yang mau jadi TKI
ilegal, karena tentu sangat tidak nyaman.
Semua TKI pasti ingin menjadi TKI yang resmi,
diakui hak-haknya, dijamin keamanannya dan dijamin
pula harta penghasilannya. Kalau sampai ada yang pada
akhirnya menjadi TKI tidak resmi, tentunya ada begitu
banyak faktor yang memojokkan mereka. Misalnya
karena ulah oknum yang ada di PJTKI yang mau untung
sendiri tanpa memikirkan kesejahteraan para TKI itu
sendiri.
Tapi biar bagaimana pun, sesuatu yang namanya
ilegal sudah pasti merupakan pelanggaran. Setidaknya,
pelanggaran menurut versi kalangan yang membuat
peraturan (baca: negara).
Namun apakah segala yang ilegal itu lantas menjadi
dosa dan berakibat pada keharaman rejeki yang
didapat?
Jawabnya belum tentu. Sebab masalahnya harus
dibedah satu per satu. Tidak bisa asal gebuk bahwa
segala yang termasuk ke dalam kategori ilegal langsung
haram.
Kita perlu melihat kasusnya, bagaimana kok sesuatu
itu bisa menjadi ilegal? Adakah unsur-unsur keharaman
yang terjadi? Adakah unsur pemaksaan yang melatar-
belakanginya? Adakah sikap yang merugikan pihak
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


228
lain? Adakah unsur pengkhianatan, pengambilan hak
orang lain dan penggelapan serta penzaliman yang
terjadi di dalamnya?
Yang pasti, menjadi TKI ilegal tidak seharam dan
senista menjadi pelacur ilegal. Yang namanya jadi
pelacur, mau legal atau tidak legal, tetap saja dosa di sisi
Allah.
Penjajahan Belanda
Ketika dulu Belanda menjajah negeri kita, pergerakan
para pemuda dianggap ilegal. Bahkan para pejuang itu
dianggap ekstrimis. Jadi semua bentuk perang
kemerdeakaan bahkan perjuangan anak bangsa itu
dianggap ilegal oleh penguasa Hindia Belanda.
Nah, apakah sesuatu yang ilegal di mata Belanda kita
anggap dosa?
Tentu tidak demikian. Bahkan para ulama malah
turun tangan memberi semangat untuk berjihad
melawan Belanda. Mereka berpidato lengkap dengan
takbir yang membahana, membakar emosi jiwa bangsa
untuk bangun melawan sang penjajah.
Maka sesuatu yang ilgeal di mata Belanda, justru
menjadi jihad bagi para ulama. Dan jihad itu tidak ada
balasannya kecuali surga. Bahkan masuk surga tanpa
hisab.
Kesimpulan:
Selama seorang TKI terpaksa atau dipaksa oleh
aturan sehingga dia pada akhirnya terpojok menjadi TKI
ilegal, maka apa yang dikerjakannya tetap halal. Harta
dan rizkinya tetap halal.
Namun kalau pada dasarnya seorang TKI nekat
menabrak aturan yang sudah dibuat, tanpa
keterpaksaan, tanpa terpojokkan, maka pada dasarnya
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

229
memang dia sendiri yang mengambil resiko, kalau
terjadi apa-apa nantinya.
Ada pun halal atau tidaknya rezeki yang
didapatkannya, selama syarat-syarat di atas sudah
terpenuhi, sebenarnya secara hukum syariah tidak
menjadi masalah. Pelanggaran yang dilakukannya
mungkin sebatas pelanggaran administratif saja. Kalau
mau disebut melanggar, memang melanggar.
Tapi kalau dikaitkan dengan dosa, pada dasarnya
hanya dosa yang bersifat administratif saja. Tentu
nilainya beda dengan dosa besar zina dan seterusnya.
Dan rasanya tidak ada kaitannya dengan kehalalan rizki
yang didapatnya dengan keringatnya.
Namun mohon jangan jadikan jawaban ini sebagai
dasar untuk menghalalkan TKI ilegal, karena pada
dasarnya kami pun tidak setuju dengan TKI yang
bekerja secara ilegal.
Karena kasus tiap masalah keilegalan TKI sangat
berbeda antara satu kasus dengan lainnya, maka setiap
kasus perlu dikaji satu persatu. Tidak bisa hanya
menggunakan opini umum yang tertuang di dalam
jawaban ini saja.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

231



Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

233

Penutup
Semoga apa yang disampaikan dalam buku ini dapat
menjadi solusi dalam detail kehidupan kita, terutama
buat para muslim yang ada di negeri minoritas.
Semoga Allah SWT menjadikan para pembaca buku
ini dan juga penulis termasuk orang-orang yang telah
mendengarkan perintah-Nya dan menjalankan apa yang
diperintahkan itu dengan sebaik-baiknya. Serta
dijadikan pemberat amal timbangan kebaikan di akhirat
kelak.
Insya Allah ke depan, buku ini tentu akan lebih
disempurnakan lagi dengan tambahan disana-sini,
termasuk bab-bab yang belum sempat dituliskan dalam
edisi ini.
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


234
Akhirnya, marilah kita sampaikan shalawat dan
salam serta penghargaan yang setinggi-tingginya
kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW
beserta para shahabat, keluarga dan orang-orang yang
menjadi pengikutnya hingga akhir zaman. Dan semoga
Allah matikan kita nantinya dalam keadaan Iman dan
Islam,berserah diri kepada-Nya serta dalam keadaan
husnul khatimah, Amien Ya Rabbal Alamin.
Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
al-faqir ilallah
Ahmad Sarwat, Lc
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

235
Tentang Penulis
Nama
Ahmad Sarwat, Lc
T/Tgl Lahir
Cairo, 19 September 1969
Alamat
DU CENTER (Yayasan Daarul-Uluum Al-Islamiyah)
Jl. Karet Pedurenan no 53 Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Koordinat :
Telp
085694461792
Website
www.ustsarwat.com
Email
ustsarwat@yahoo.com
Pendidikan :
S1 - Fakultas Syariah Universitas Islam Muhammad Ibnu Suud Kerajaan
Saudi Arabia cabang Jakarta (LIPIA)
S2 - Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Konsentrasi Ulumul Quran dan Ulumul
Hadits (belum selesai)
Pekerjaan :
Dosen Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)
Pengasuh Rubrik Syariah dan Kehidupan di www.warnaislam.com
Dosen Kampus Syariah (kuliah syariah online via internet)
www.kampussyariah.com
Aktifitas :
Ketua Umum/Nadzir Yayasan Daarul-Uluum Al-Islamiyah
Ketua Umum Forum Komunikasi Majelis Taklim dan Umara
Experience
Rais Syu'un Ijtima'iyah LPPD Khairu Ummah - 1992
Jam'iyah Dakwah wa At-Taklim (Eldata) - 1999
Konsultasi Syariah : Pusat Konsultasi Syariah (www.syariahonline.com) -
2001
Pemred dan General Manager Eramuslim 2004
Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat, Lc


236
Karya Tulis

1. Fiqih Tahahrah 2. Fiqih Shalat 3. Fiqih Puasa


4. Fiqih Zakat 5. Fiqih Muamalat 6. Fiqih Nikah



7. Fiqih Kontemporer 8. Fiqih Kuliner 9. Fiqih Ikhtilaf


10. Fiqih Wanita 11. Fiqih Politik 12. Fiqih Mawaris
Buku-buku ini dalam versi softcopy bisa diunduh secara
gratis di www.ustsarwat.com
Ahmad Sarwat, Lc Fiqih Mawaris

237