Anda di halaman 1dari 32

i

PENELITIAN FISIK DAYA DUKUNG SUMBERDAYA LAHAN


DI KENAGARIAN LIMAU GADANG LUMPO KECAMATAN IV JURAI
KABUPATEN PESISIR SELATAN

LAPORAN





OLEH
YAN ANDIKA
1101564/2011



JURUSAN GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2013
ii


KATA PENGANTAR


Segala puji bagi Tuhan YME yang telah memberikan restunya kepada penulis
sehingga laporan KKL (Kuliah Kerja Lapangan) untuk penelitian fisik dapat
terselesaikan tepat pada waktunya. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada
dosen pembimbing Penelitian Fisik yaitu Drs. Sutarman Karim, M.Si dan kepada
seluruh pihak yang telah membantu dalam proses pengerjaan laporan ini.
Penulis juga menyadari, masih banyak kekurangan dalam penyusunan
makalah ini. Oleh karena itu, demi kesempurnaan laporan ini, penulis sangat
membutuhkan saran dan kritikan yang membangun dari seluruh pihak. Semoga karya
tulis ini dapat bermanfaat bagi para pengamat beserta pihak lain yang membutuhkan.













Padang, Juni 2013


iii

Penulis

DAFTAR ISI


Kata Pengantar. i
Daftar Isi . ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan Penelitian 4

BAB II PEMBAHASAN
A. Kerangka Teori.. 5
B. Hasil dan Pembahasan 8

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 22

DAFTAR PUSTAKA.. 23

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kuliah Kerja Lapangan (KKL) merupakan kegiatan wajib bagi mahasiswa
Jurusan Geografi di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang, baik pada
pendidikan geografi maupun non kependidikan yang secara eksplisit tercantum dalam
kurikulum dengan bobot 2 SKS untuk progam S1 (Pedoman Akademik, 2009-2010).
Program ini merupakan salah satu kegiatan penunjang pengembang materi kuliah
dalam kelas yang memiliki peran cukup penting. Geografi merupakan ilmu
pengetahuan yang mengkaji persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dalam
konteks keruangan, kelingkungan dan kewilayahan. Menurut Bintarto (1987), bahwa
objek material yang umum dan luas dari geografi, yaitu geosfer yang meliputi
litosfer, atmosfer, hidrosfer, pedosfer, biosfer dan antroposfer. Semua komponen ini
membentuk satu kesatuan yang saling berpengaruh, dan berkaitan satu sama lain dan
berlangsung secara alami pada alam nyata.
Daerah Aliran Sungai yang selanjutnya disebut DAS adalah suatu wilayah
daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang
berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan
ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis
dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas
daratan (Pemerintah Republik Indonesia No. 37 tahun 2012).
Daerah aliran sungai (DAS) adalah daerah yang dibatasi punggug-punggung
gunung/pegunungan diamana air hujan yang jatuh di daerah tersebut akan mengalir
menuju sungai utama pada suatu titik/stasiun. (Triatmodjo, 2008).
2

Pertambahan jumlah penduduk membutuhkan perluasan lahan sebagai wadah
aktivitas yang nantinya tumbuh dan berkembang. Apabila perkembangan tersebut
tidak dikendalikan dengan baik akan terjadi konversi lahan untuk aktivitas yang tidak
sesuai dengan fungsi dan daya dukungnya yang akan berdampak pada penurunan
daya dukung lingkungan. Pertambahan penduduk yang tidak diimbangi dengan
ketersediaan lahan menyebabkan banyak penduduk yang memanfaatkan lahan yang
rawan bencana sebagai lahan permukiman. Pemanfaatan lahan daerah rawan bencana
sebagai permukiman merupakan suatu bentuk ketidaksesuaian dalam pemanfaatan
lahan.
Perubahan penggunaan lahan, utamanya di pedesaan, dari tahun ke tahun
semakin meningkat seiring dengan pertambahan penduduk dan perkembangan suatu
daearah pedesaan. Awalnya perubahan penggunaan lahan tersebut terjadi di daerah
datran, lama kelamaan, ketika pennduduk bertambah dengan cepat penggunaan lahan
sudah tidak lagi memperhatikan kaedah-kaedah kelestarian lingkunga, akhirnya
mengarah ke daerah perbukitan dengan lereng yang terjalm. Hal ini akan berakibat
semakin banyaknya lahan pertanian ataupun hutan yang berubah menjadi kawasan
permukiman, peladangan liar, serta pengerusakan hutan lindung.
Permasalahan mengenai lingkungan yang kerap ditemui dalam kaitannya
dengan bidang penataan ruang antara lain dapat ditemukan dalam contoh kasus
sebagai berikut:
1. Alih fungsi lahan pertanian produktif menjadi lahan non pertanian seperti
industri, permukiman, prasarana umum, dan lain sebagainya. Secara
keseluruhan, alih fungsi lahan dari kawasan lindung menjadi kawasan
budidaya (pertanian, industri, permukiman, dan sebagainya) mencapai 50.000
ha/tahun.
2. Penurunan secara signifikan luas hutan tropis sebagai kawasan resapan air.
Pengurangan ini terjadi baik akibat kebakaran maupun akibat penjarahan/
penggundulan. Apabila tidak diambil langkah-langkah tepat maka kerusakan
3

hutan akan menyebabkan run-off yang besar pada kawasan hulu-hilir,
meningkatkan risiko pendangkalan dan banjir pada wilayah hilir, mengganggu
siklus hidrologis, dan memperluas kelangkaan air bersih dalam jangka
panjang.
3. Meningkatnya satuan wilayah sungai (SWS) yang kritis. Pada tahun 1984,
tercatat dari total 89 SWS yang ada di Indonesia, 22 SWS berada dalam
kondisi kritis. Kondisi ini terus memburuk dimana pada tahun 1992 jumlah
SWS yang kritis meningkat menjadi 39 SWS dan pada tahun 1998
membengkak menjadi 59 SWS.
Kerusakan DAS sering disebabkan oleh perubahan penggunaan lahan yang
tidak sesuai dengan fungsi pemanfaatan lahan akan memberi tekanan terhadap
ekosistem sumberdaya alam yang ada. Apabila tekanan tersebut melampaui daya
dukung yang ada maka akan terjadi permasalahan degradasi lingkungan, seperti
terjadinya banjir, erosi, tanah longsor dan kerusakan lingkungan lainnya. Akibat
semua ini akan terganggu keseimbangan ekosistem Daerah Aliran Sungai, untuk itu
dikaji tentang daya dukung lingkungannya.
Daya dukung lingkungan suatu wilayah menjadi faktor penting yang harus
diperhatikan agar proses pembangunan yang dilaksanakan dapat berkelanjutan dalam
arti mampu memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengabaikan kemampuan generasi
mendatang dalam memenuhi kebutuhannya, oleh karena itu setiap upaya pemanfaatan
sumberdaya alam untuk kegiatan pembangunan haruslah berwawasan lingkungan
(Soemarwoto, 1987). Salah satu cara pemanfaatan sumberdaya alam yang
berwawasan lingkungan adalah menggunakan pendekatan satuan wilayah ekologis
seperti Daerah Aliran Sungai (DAS).
Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan untuk
mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Pengertian (konsep)
dan ruang lingkup daya dukung lingkungan Menurut UU no 23/ 1997, daya dukung
lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung
4

perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain. Menurut Soemarwoto (2001), daya
dukung lingkungan pada hakekatnya adalah daya dukung lingkungan alamiah, yaitu
berdasarkan biomas tumbuhan dan hewan yang dapat dikumpulkan, ditangkap per
satuan luas dan waktu di daerah itu. Menurut Khanna (1999), daya dukung
lingkungan hidup terbagi menjadi 2 (dua) komponen, yaitu kapasitas penyediaan
(supportive capacity) dan kapasitas tampung limbah (assimilative capacity)
Salah satu faktor yang berpengaruh besar dan juga sangat dipengaruhi oleh
pembangunan adalah faktor sumber daya alam dan daya dukung lingkungan. Sumber
daya alam dan daya dukung lingkungan ini salah satunya adalah lingkungan,fisik
yang merupakan tempat dilaksanakannya pembangunan. Kenyataan tersebut
diperlukan adanya keserasian antara pembangunan yang dilakukan dengan daya
dukung fisik. Untuk mencapai keserasian tersebut, hal yang perlu dilakukan adalah
mengetahui kemampuan daya dukung lingkungan fisik. Dengan diketahuinya daya
dukung lingkungan fisik, maka dapat ditentukan juga kegiatan pembangunan yang
sesuai dengan daya dukung tadi.
B. Tujuan Penelitian Fisik
Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan diatas maka dapat kita ambil
kesimpulan bahwa tujuan penelitian fisik di KKL ini ialah:
1. Mengetahui bagaimana daya dukung sumber daya lahan di daerah penelitian
2. Mengetahui kemampuan sumber daya lahan di daerah penelitian
3. Sekaligus membantu instansi pemerintahan dalam mengembangkan daerah IV
Jurai dalam ruang lingkup daya dukung Lingkungan




5

BAB II
PEMBAHASAN

A. Kerangka Teori
Lahan diartikan sebagai lingkungan fisik yang terdiri atas iklim, relief, tanah, air
dan vegetasi serta benda yang ada diatasnya sepanjang ada pengaruhnya terhadap
penggunaan lahan (Arsyad, 2006). Lahan merupakan sumberdaya pembangunan
yang memiliki karakteristik unik, yakni (1) Luas relatif tetap karena perubahan luas
akibat proses alami (sedimentasi) dan proses artifisial (reklamasi) sangat kecil. (2)
Memiliki sifat fisik (jenis batuan, kandungan mineral, topografi dsb.) dengan
kesesuaian dalam menampung kegiatan masyarakat yang cenderung spesifik. Oleh
karena itu lahan perlu diarahkan untuk dimanfaatkan bagi kegiatan yang paling
sesuai dengan sifat fisiknya serta dikelola agar mampu menampung kegiatan
masyarakat yang terus berkembang (Dardak, 2005). Kemampuan lahan adalah
kapasitas suatu lahan untuk berproduksi (Yudoyono dkk, 2006). Kemampuan ini
sering diartikan sebagai potensi lahan untuk penggunaan pertanian secara umum
dengan kemampuan produksi dari tanah tersebut didasarkan pada fakta-fakta iklim,
drainase, dan kemiringan.
Pada dasarnya sistem klasifikasi kemampuan lahan yang banyak digunakan
diberbagai negara adalah pengembangan dari sistem USDA (united States
Departement of Agriculture). Dalam USDA lahan dibagi menjadi kelas kemampuan ,
sub kelas kemampuan, dan satuan pengelolaan. Klasifikasi kemampuan lahan
merupakan suatu proses penilaian lahan secara sistematik dan pengelompokanya
dalam berapa kategori merupakan atas sifat-sifat yang merupakan potensi dan
pembatas dalam penggunaanya secara lestari. Pembatas tersebut dibedakan menjadi
dua macam, yakni pembatas permanen dan pembatas sementara. Pembatas permanen
adalah pembatas lahan yang tidak mudah diatasi hanya dengan perbaikan sedikit,
seperti kemiringan lereng, kedalaman tanah, banjir dan iklim. Adapun pembatas

1

sementara adalah pembatas lahan yang dapat diatasi atau diperbaiki dengan dengan
pengololaan lahan seperti kandungan unsur hara dengan cara pemupukan dan
drainase.
Menurut klasifikasi kemampuan lahan dari Arsyad (2006), terdapat empat kelas
(kelas I sampai IV) yang sesuai untuk usaha pertanian tanaman pangan dan kelas (V
sampai VIII) untuk tanaman keras. Berdasarkan kriteria kemampuan lahan yang
mengacu pada Arsyad (2006) maka untuk mengetahuinya digunakan berbagai
indicator yaitu :
1. Kemiringan Lereng
Tabel .1. Kriteria kemiringan lereng
Kelas kemiringan lereng Keterangan
0 3 % Datar
4 8 % Landai atau berombak
9 15% Bergelombang
16-30% Miring agak berbukit
31-45% Agak curam
46-65% Curam
>65% Sanagat curam
Sumber : Van Zuidam (1979)









2

2. Kepekaan Erosi
Tabel .2. Klasifikasi Kepekaan Erosi
Kode Kepekaan erosi
Tanah (Nilai K)
Klasifikasi
KE
1
0,00-0,10 Sangat rendah
KE
2
0,11-0,20 Rendah
KE
3
0,21-0,32 Sedang
KE
4
0,33-0,43 Agak tinggi
KE
5
0,44-0,55 Tinggi
KE
6
0,56-0,64 Sangat tinggi
Sumber; Arsyad (1989)
3. Tingkat Erosi
Tabel .3. Klasifikasi Tingkat Erosi
Kode Kriteria Klasifikasi
e
0
Tidak ada erosi Sangat rendah
e
1
Kurang dariu 25% lapisa atas hilang Rendah
e
2
Kurang dari 25% sampai 75% lapisan atas hilang Sedang
e
3
Lebih dari 75% lapisan atas sampai kurang dari 25% lapisan
bawah hilang
Agak tinggi
e
4
Lebih dari 25% lapisan bawah hilang Tinggi
e
5
Erosi parit Sangat tinggi
Sumber; Arsyad (1989)
4. Kedalaman Efektif Tanah
Tabel .4. Klasifikasi Kedalam Efektif Tanah
Kode Solum Tanah (cm) Klasifikasi
K
0
>90 Dalam
K
1
50-90 Sedang
K
2
25-50 Dangkal
K
3
<25 Sangat dangkal
Sumber; Arsyad (1989)


3

5. Tekstur Tanah
Tabel .5. Klasifikasi Tekstur Tanah
Kode Kriteria Klasifikasi
t
1
Lempung, lempung pasiran, lempung debuan Halus
t
2
Geluh lempung pasiran, geluh lempungan, geluh lempung
debuan
Agak halus
t
3
Geluh, geluh debuan, debu Sedang
t
4
Geluh pasiran, geluh pasir halus, geluh pasir sangat halus Agak kasar
t
5
Lebih dari 25% lapisan bawah hilang kasar
Sumber; Arsyad (1989)
6. Permeabilitas Tanah
Tabel.10. Klasifikasi permeabilitas tanah
Kode Kriteria (cm/jam) Klasifikasi
P
1
<0,5 Lambat
P
2
0,5-2,0 Agak lambat
P
3
2,0-6,25 Sedang
P
4
6,25-12,5 Agak cepat
P
5
>12,5 Cepat
Sumber; Arsyad (1989)
7. Drainase
Tabel .7. Klasifikasi Drainase
Kode Kriteria Klasifikasi
d
0
Air lebih cepat keluar, sangat sedikit air yang ditahan oleh tanah, tanaman,
akan segera mengalami kekurangan air
Berlebihan
d
1
Tanah mempunyai peredaran udara baik seluruh profil tanah (150 cm)
berwarna terang yang seragam, tidak terdapat bercak-bercak kuning, coklat,
dan kelabu
Baik
d
2
Tidak terdapat bercak-bercak berwarna kunng, coklat atau kelabu pada lapisan
atas dan bagian atas lapisan bawah (sampai 60 cm dari permukaan tanah)
Agak baik
d
3
Terdapat bercak-bercak pada seluruh lapisan bawah (40 cm dari permukaan
tanah)
Agak buruk
d
4
Bagian bawah lapisan atas terdapat warna atau bercak-bercak berwarna kelabu,
coklat, dan kekuningan
Buruk
d
5
Seluruh lapisan tanah berwarna kelabu atau terdapat bercak-bercak berwarna
kebiruan, atau terdapat air yang menggenang di permukaan tanah dalam waktu
lama
Sangat buruk
Sumber; Arsyad (1989)





4

8. Batuan Lepas
Tabel .8. Klasifikasi Batuan Lepas
Kode Kriteria (%) Klasifikasi
b
0
<2 Tidak ada
b
1
2-10 Sedikit
b
2
10-50 Sedang
b
3
50-90 Banyak
b
4
>90 Sangat banyak
Sumber; Arsyad (1989)
9. Ancaman Banjir
Tabel .9. Klasifikasi Ancaman Banjir
Kode Kriteria Klasifikasi
O
0
Dalam periode 1 tahun tanah tidak pernah banjir untuk waktu lebih dari
24 jam
Tidak pernah
O
1
Banjir yang menutupi tanah lebih dari 24 jam terjadinya tidak teratur
dalam periode kurang dari satu bulan
Jarang
O
2
Satu bulan dalam 1 tahun tanah secara teratur tertutup banjir untuk
jangka waktu lebih dari 24 jam
Sering
O
3
Selama waktu 2 sampai 5 bulan dalam setahun, secara teratur dilanda
banjir yang lamanya lebih dari 24 jam
Sering sekali
O
4
Selama waktu 6 bulan atau lebih tanah selalu dilanda banjir secara
teratur yang lamanya lebih dari 24 jam
Sangat sering sekali
Sumber; Arsyad (1989)

10. Kadar Garam/Salinitas

Tabel .10. Klasifikasi garam/Salinitas
Kode Kriteria Klasifikasi
g
0
0-0,15% garam larut
0-4 (EC x 10
3
) mmhos pada suhu 25
0
C
Bebas
g
1
0,15-0,35 % garam larut
4-8 (EC x 10
3
) mmhos pada suhu 25
0
C
Terpengaruh sedikit
g
2
0,35-0,65% garam larut
8-15 (EC x 10
3
) mmhos pada suhu 25
0
C
Terpengaruh
sedang
g
3
Lebih 0,65% garam larut
Lebih dari 15 (EC x 10
3
) mmhos pada suhu 25
0
C
Terpengaruh hebat
Sumber; Arsyad (1989)









5

Contoh : Tabel .11. Kemampuan Lahan dan Faktor-Faktor Pembatas
Faktor Pembatas Data Kelas Kemampuan Lahan
I II III IV V VI VII VIII
Tekstur
Lapisan Atas (40 cm) gl t
2

Lapisan Bawah L t
1

Kelerengan (%) 15% l
2

Drainase baik d
0

Kedalaman Efektif 30 k
2

Keadaan erosi 25% e
e
4


Kerikil/batuan 25% b
4

Ancaman Banjir 2-3 o
0

Catatan: (*) : dapat mempunyai sebaran sifat faktor pembatas dari kelas yang
lebih rendah
(**): permukaan tanah selalu tergenang air

Berdasarkan klasifikasi tabel kelas kemampuan lahan maka kemampuan
lahan pada contoh di atas termasuk pada kelas IV dengan faktor pembatas
kedalaman efektif tanah, erosi yang kuat dan banyaknya kerikil serta batuan di
bagian atas lahan, sehingga diperlukan perlakuan khusus jika lahan dimanfaatkan
untuk lahan pertanian, maka kelas kemampuan lahan tersebut adalah IV,k
2
,e
4
,b
4.
Tabel. 12. Klasifikasi Kelas Kemampuan Lahan dan Penggunaanya.
Kelas Kriteria Penggunaan
I Lahan ini mempunyai sedikit hambatan yang
membtasi penggunaanya.lahan kelas I sesuai untuk
berbagai penggunaan pertanian
Karakteristik lahanya antara lain : topografi hampir
datar, ancaman erosi kecil, kedalaman efektif dalam,
drainase baik, mudah diolah, kapasitas menahan air
baik, subur dan responsif, terhadap pemupukan, tidak
terancam banjir, dan berada dibawah iklim setempat
yang sesuai bagi pertumbuhan secara umum.
Tanaman pertanian semusim, tanaman
rumput, hutan dan cagar alam.
Simbul warna: hijau
II Lahan ini mempunyai beberapa hambatan atau
ancaman kerusakan yag mengurangi pilihan
penggunaanya atau memerlukan tindakan konservasi
yang sedang. Pengololaan perlu hati-hati , termasuk
tindakan konsevasi untuk mencegah kerusakan atau
memperbaiki hubungan air dan udara jika tanah
diusahakan untuk pertanian
Tanaman semusim, tanaman rumput,
padang pengembalaan, hutan
produksi, hutan lindung dan cagar
alam.
Simbol warna : kuning

6

III Lahan ini mempunyai hambatan berat yang
mengurangi pilihan penggunaan lahan dan
memerlukan tindakan konservasi khusus. Lahan ini
mempunyai pembatas lebih berat dari kelas II dan jika
dipergunakan untuk tanaman akan memerlukan
pengelolaan tanah dan tindakan konservasi yang lebih
sulit dan dipelihara. Hambatan ini membatasi lama
penggunaan bagi tanaman semusim, waktupengolahan,
pilihan tanaman, atau kombinasi dari pembatas-
pembatas tersebut.
Tanaman semusim, tanaman yang
memerlukan pengolahan tanah,
tanaman rumput, padang rumput,
hutan produksi, hutan lindung, dan
cagar alam
Simbol warna: merah
IV Hambatan dan ancaman kerusakan tanah lebih besar
dari III, dan pilihan tanaman juga terbatas.perlu
pengolahaan hati-hati untuk tanaman semusim,
tindakan konservasi lebih sulit diterapkan dan
dipelihara, seperti teras bangku, saluran bervegetasi,
dam penghambat, serta tindakan untuk menjaga
kesuburan dan kondisi fisik tanah
Tanaman semusim dan tanaman
pertanian pada umumnya, tanaman
rumput, hutan produksi,
pengembalaan, hutan lindung, dan
hutan alam.
Simbol warna: Biru
V Lahan kelas ini tidak terancam erosi tetapi mempunyai
hambatan lain yang tidak mudah untuk dihilangkan,
sehingga membatasi pilihan penggunaanya. Tanah ini
juga mempunyai hambatan yang membatasi pilihan
macam penggunaan dan pilihan tanaman, serta
menghambat pengolaan tanah bagi tanaman semusim.
Tanah ini biasanya terletak pada topografi datar-
hampir datar tetapi sering terlanda banjir, berbatu, dan
atau iklim yang kurang sesuai.
Tanaman rumput, padang
pengembalaan, hutan produksi, hutan
lindung dan suaka alam.
Simbol warna: hijau tua
VI Lahan ini mempunyai hambatan berat yang
menyebabkan tanah-tanah ini tidak sesuai untuk
penggunaan pertanian, penggunaan sangat terbatas
karena mempunyai hambatan atau ancaman kerusakan
yang tidak dapat dihilangkan
Umumnya terdapat pada lereng yang agak curam,
sehingga jika digunakan untuk pengembalaan dan
hutan produksi harus dikelola dengan baik untuk
menghindari erosi.
Beberapa lahan ini mempunyai peraaran dalam, tetapi
karena lerengnya berat perlu konservasi yang berat
untuk tanaman semusim.
Tanaman rumput, padang
pengembalaan, hutan produksi, hutan
lindung dan suaka alam.
Simbol warna : jingga
VII Lahan tidak sesuai untuk pertanian. Apabila digunakan
untuk rumput dan hutan produksi harus dilakukan
pencegahan erosi yang berat. Perlu dibuat teras bangku
Padang rumput dan hutan produksi
dengan konservasi berat

7

yang ditunjang dengan cara vegetasi untuk konservasi
tanah, disamping pemupukan.
Lahan ini mempunyai hambatan dan ancaman berat,
serta tidak dapat dihilangkan.
Simbol warna: coklat
VIII Lahan ini tidak sesuai untuk pertanian, tetapi
sebaiknya dibiarkan secara alami. Pembatas dan
ancaman sangat berat dan tidak mungkin dilakukan
tindakan konservasi, sehingga perlu dilindungi.
Hutan lindung, rekreasi alam dan
cagar alam
Simbol warna : putih.


B. Alat dan Bahan

a. Alat
1. Pisau lapang
2. Munsell Soil Colour Charts
3. Botol film
4. pH meter (lakmus)
5. Alat pembidik ketinggian tempat
6. Kamera
7. Aneka alat tulis
8. GPS

b. Bahan
1. Plastik
2. Label
3. Air
4. Kertas lakmus




8

C. Hasil dan Pembahasan

a. Titik sampel 1
Penelitian dilakukan pada hari ketiga KKL yaitu tanggal 11 Mei 2013 dan
sampel pertama di ambil pada Betuk lahan Kipas Aluvial dengan penggunaan lahan
kebun campuran berupa coklat, durian, karet, kelapa dsb, dan titik koordinat 01 15
40,3 LS dan 100 36 51,1 BT didapat hasil sebagai berikut :
- Kemiringan Lereng
Pengambilan data kemiringan lereng dilakukan dengan menggunakan alat
yaitu abney level yang di arahkan ke muka lereng dan didapat hasil
kemiringan lereng 9 15 % dengan keterangan lereng bergelombang.

- Kepekaan Erosi
Erodibilitas tanah (ketahanan tanah) dapat ditentukan dengan aturan rumus
menurut, perhitungan nilai K dapat dihitung dengan persamaan Weischmeier, et
all, 1971)
K = 1,292{ 2,1 M 1,14 (10 -4) (12-a) + 3,25 (b-2) + 2,5 (c-3)}
100
Dimana :
M = ukuran partikel (% pasir sangat halus+ % debu x (100-% liat)
% pasir sangat halus = 30 % dari pasir (Sinukaban dalam
Sinulingga,1990)
a = kandungan bahan organik (% C x 1,724)
b = harkat struktur tanah
c = harkat permeabilitas tanah

Maka didapat dari data lapangan nilai kepekaan erosi ialah 0,21 0,32 dengan
klasifikasi sedang.

9


- Tingkat Erosi
Sebelum pengambilan data tingkat erosi kita harus melakukan penggalian
tanah berbentuk persegi 100x100 cm dengan kedalaman juga 100 cm untuk
pengambilan agregat tanah. Setelah penggalian dilakukan amati lapisan atas
tanah yang kita lakukan penggalian dan didapati hasil kurang dari 25%
lapisan atas hilang dengan klasifikasi rendah dikarenakan adanya rerumputan.
- Kedalaman efektif tanah
Berdasarkan dari penggalian profil tanah tadi kita dapat mengukur kedalaman
efektif tanah dengan meteran sehingga didapatkan hasil 50 cm kedalamannya
jadi termasuk kedalam 25 50 cm pada tabel dengan klasifikasi dangkal.
- Tekstur Tanah
Diterminasi (cara penentuan) klas terstruktur di lapangan dikerjakan dengan
cara menggosok-gosokkan tanah diantara ibu jari dengan telunjuk atau jari
lainnya (Jawa = menguli). Untuk mempermudah pengamatan contoh tanah,
biasanya dibahasahi sampai kadar airnya mencapai kapasitas lapangan.
- Fraksi pasir di jari terasa keras, tajam dan ngeres (kasar).
- Fraksi debu, waktu kering terasa seperti talk (bedak), bila lembab terasa
agak licin seperti sabun, masih dapat sedikit mengumpal.
- Fraksi lempung, bila kering menepung atau bongkah keras, bila basah
melekat di jari dan liat (plastik).
Maka didapatkan hasil termasuk kriteria lempung, lempung pada bagian atas
dengan klasifikasi halus dan geluh lemung pasiran pada bagian bawah
dengan klasifikasi agak halus.
- Drainase
Berdasarkan pengamatan pada dinding profil tanah yang kita gali tadi kita
perhatikan daerah pinggirannya sambil kita lakukan pembersihan dengan

10

menggunakan pisau lapangan dan didapatkan hasil berwarna terang yang
seragam, tidak terdapat bercak bercak kuning, coklat, dan kelabu sehingga
dapat diklasifikasikan drainasenya baik
- Batuan Lepas
Dari profil tanah yang digali didapati batuan lepas yang ada di dalam profil
tanah sekitar 50 90% dengan klasifikasi banyak.
- Ancaman Banjir
Dari hasil diskusi dengan warga daerah setempat di dekat lokasi penelitian
sampel I didapati informasi bahwasannya dalam periode 1 tahun tanah tidak
pernah banjir untuk waktu lebih dari 24 jam dengan klasifikasi tidak pernah.
- Kadar garam/salinitas
Daerah penelitian jauh daripada lautan itu menyebabkan kadar garam
didaerah penelitian sedikit.
- Kadar keasaman
Berdasarkan sampel tanah yang kami uji dengan zat kimia yang
mengandung kapur maka dan juga menggunakan universal indicator didapat
derajat keasamannya 4.8 di bagian bawah dan dibagian atas 5.

- Warna
Dari sampel tanah yang kami ambil diketahui warna tanahnya ialah Value 5,
Chrome 3 jadi 5/3 dengan hue Reddish brown (merah kecoklatan) pada
bagian bawah dan Value 3, Chrome 2 dengan hue Dark reddish brown
(Merah gelap kecoklatan) dengan menggunakan buku Munsell Soil Color
Chart



.

11

b. Titik sampel II
Penelitian dilanjutkan pada sampel kedua yang diambil pada bentuk lahan lereng
kaki vulkanik dengan pengguanaan lahan kebun karet dan titik koordinat 01 15
44,1 LS dan 100 36 57,4 BT, didapat hasil sebagai berikut :
- Kemiringan Lereng
Pengambilan data kemiringan lereng dilakukan dengan menggunakan alat
yaitu abney level yang di arahkan ke muka lereng dan didapat hasil
kemiringan lereng 16 - 30 % dengan keterangan lereng miring agak berbukit.

- Kepekaan Erosi
Erodibilitas tanah (ketahanan tanah) dapat ditentukan dengan aturan rumus
menurut, perhitungan nilai K dapat dihitung dengan persamaan Weischmeier, et
all, 1971)
K = 1,292{ 2,1 M 1,14 (10 -4) (12-a) + 3,25 (b-2) + 2,5 (c-3)}
101
Dimana :
M = ukuran partikel (% pasir sangat halus+ % debu x (100-% liat)
% pasir sangat halus = 30 % dari pasir (Sinukaban dalam
Sinulingga,1990)
a = kandungan bahan organik (% C x 1,724)
b = harkat struktur tanah
c = harkat permeabilitas tanah

Maka didapat dari data lapangan nilai kepekaan erosi ialah 0,21 0,32 dengan
klasifikasi sedang.



12

- Tingkat Erosi
Sebelum pengambilan data tingkat erosi kita harus melakukan penggalian
tanah berbentuk persegi 100x100 cm dengan kedalaman juga 100 cm untuk
pengambilan agregat tanah. Setelah penggalian dilakukan amati lapisan atas
tanah yang kita lakukan penggalian dan didapati hasil kurang dari 25%
lapisan atas hilang dengan klasifikasi rendah dikarenakan adanya rerumputan.
- Kedalaman efektif tanah
Berdasarkan dari penggalian profil tanah tadi kita dapat mengukur kedalaman
efektif tanah dengan meteran sehingga didapatkan hasil 100 cm
kedalamannya jadi termasuk kedalam >90cm pada tabel dengan klasifikasi
dalam.
- Tekstur Tanah
Diterminasi (cara penentuan) klas terstruktur di lapangan dikerjakan dengan
cara menggosok-gosokkan tanah diantara ibu jari dengan telunjuk atau jari
lainnya (Jawa = menguli). Untuk mempermudah pengamatan contoh tanah,
biasanya dibahasahi sampai kadar airnya mencapai kapasitas lapangan.
- Fraksi pasir di jari terasa keras, tajam dan ngeres (kasar).
- Fraksi debu, waktu kering terasa seperti talk (bedak), bila lembab terasa
agak licin seperti sabun, masih dapat sedikit mengumpal.
- Fraksi lempung, bila kering menepung atau bongkah keras, bila basah
melekat di jari dan liat (plastik).
Maka didapatkan hasil termasuk kriteria Geluh lempung pada bagian atas
dan bawah.
- Drainase
Berdasarkan pengamatan pada dinding profil tanah yang kita gali tadi tidak
terdapat bercak bercak kuning, coklat, dan kelabu pada bagian atas

13

maupun dibawah (sampai 60 cm dari permukaan tanah) sehingga dapat
diklasifikasikan drainasenya agak baik.
- Batuan Lepas
Dari profil tanah yang digali tidak ditemukannya batuan lepas sampai
kedalaman 100 cm sehingga di kriteriakan dan table <2% dengan klasifikasi
tidak ada.
- Ancaman Banjir
Dikarenakan daerah pada sampel II ialah daerah yang berlereng miring jadi
kecil kemungkinan pernah terjadi banjr pada daerah tersebut, jado termasuk
dalam klasifikasi tidak pernah.
- Kadar garam/salinitas
Daerah penelitian jauh daripada lautan itu menyebabkan kadar garam
didaerah penelitian sedikit.
- Kadar keasaman
Berdasarkan sampel tanah yang kami uji dengan zat kimia yang
mengandung kapur maka dan juga menggunakan universal indicator didapat
derajat keasamannya dibagian atas 5.

c. Titik Sampel III
Penelitian untuk sampel ketiga yaitu sampel terakhir di ambil pada Punak
perbukitan Vulkanik dengan penggunaan lahan hutan dan titik koordinat 1 15 44,8
LS dan 100 37 01,2 didapat hasil sebagai berikut :
- Kemiringan Lereng
Pengambilan data kemiringan lereng dilakukan dengan menggunakan alat
yaitu abney level yang di arahkan ke muka lereng dan didapat hasil
kemiringan lereng 31 - 45% dengan keterangan lereng agak curam.

14



- Kepekaan Erosi
Erodibilitas tanah (ketahanan tanah) dapat ditentukan dengan aturan rumus
menurut, perhitungan nilai K dapat dihitung dengan persamaan Weischmeier, et
all, 1971)
K = 1,292{ 2,1 M 1,14 (10 -4) (12-a) + 3,25 (b-2) + 2,5 (c-3)}
102
Dimana :
M = ukuran partikel (% pasir sangat halus+ % debu x (100-% liat)
% pasir sangat halus = 30 % dari pasir (Sinukaban dalam
Sinulingga,1990)
a = kandungan bahan organik (% C x 1,724)
b = harkat struktur tanah
c = harkat permeabilitas tanah

Maka didapat dari data lapangan nilai kepekaan erosi ialah 0,33 0,43 dengan
klasifikasi agak tinggi.
- Tingkat Erosi
Sebelum pengambilan data tingkat erosi kita harus melakukan penggalian
tanah berbentuk persegi 100x100 cm dengan kedalaman juga 100 cm untuk
pengambilan agregat tanah. Setelah penggalian dilakukan amati lapisan atas
tanah yang kita lakukan penggalian dan didapati kurang dari 25% - 75%
lapisan atas hilang, dengan klasifikasi sedang.
- Kedalaman efektif tanah
Berdasarkan dari penggalian profil tanah tadi kita dapat mengukur kedalaman
efektif tanah dengan meteran sehingga didapatkan hasil 100 cm

15

kedalamannya jadi termasuk kedalam >90 cm pada tabel dengan klasifikasi
dalam.
- Tekstur Tanah
Diterminasi (cara penentuan) klas terstruktur di lapangan dikerjakan dengan
cara menggosok-gosokkan tanah diantara ibu jari dengan telunjuk atau jari
lainnya (Jawa = menguli). Untuk mempermudah pengamatan contoh tanah,
biasanya dibahasahi sampai kadar airnya mencapai kapasitas lapangan.
- Fraksi pasir di jari terasa keras, tajam dan ngeres (kasar).
- Fraksi debu, waktu kering terasa seperti talk (bedak), bila lembab terasa
agak licin seperti sabun, masih dapat sedikit mengumpal.
- Fraksi lempung, bila kering menepung atau bongkah keras, bila basah
melekat di jari dan liat (plastik).
Maka didapatkan hasil termasuk kriteria Geluh pasiran dengan klasifikasi
agak kasar di bagian bawah, dan geluh lempung pasiran dengan klasifikasi
agak halus dibagian atas.
- Drainase
Berdasarkan pengamatan pada dinding profil tanah yang kita gali tadi
ditemukan bahwa bagian bawah lapisan dan lapisan atas terdapat warna
bercak bercak berwarna kelabu, coklat, dan kekuningan dengan klasifikasi
buruk.
- Batuan Lepas
Dari profil tanah tadi didapati batuan lepas yang ada di dalam profil tanah
sekitar <2% dengan klasifikasi tidak ada.




16

- Ancaman Banjir
Dikarenakan daerah ini adalah daerah puncak perbukitan maka sangat kecil
kemungkinan untuk terjadinya banjir pada daerah ini maka termasuk klasifikasi
tidak pernah.
- Kadar garam/salinitas
Daerah penelitian jauh daripada lautan itu menyebabkan kadar garam
didaerah penelitian sedikit.

- Kadar keasaman
Berdasarkan sampel tanah yang kami uji dengan zat kimia yang
mengandung kapur maka dan juga menggunakan universal indicator didapat
derajat keasamannya 4.8 di bagian bawah dan dibagian atas 5.

- Warna
Dari sampel tanah yang kami ambil diketahui warna tanahnya ialah Value 6,
Chrome 8 jadi 6/8 dengan hue Reddish yellow (merah kekuningan) pada
bagian bawah dan Value 6, Chrome 6 dengan hue Dark reddish yellow
(merajh kekuningan) dengan menggunakan buku Munsell Soil Color Chart.

Dari ketiga titik sampel yang diambil di 3 daerah dengan bentuk lahan yang berbeda
yaitu kipas alluvial, lereng kaki vulkanik dan puncak perbukitan vulkanik didapatkan
hasil yang berbeda yang mana dari hasil tersebut dapat diturunkan untuk menentukan
kelas kemampuan lahan pada ke 3 titk sampel tersebut, dan didapati Kelas
kemampuan lahan tersebut ialah :
- Sampel I
Pada sampel I didapati termasuk kedalam kelas kemampuan lahan kelas III
dengan faktor pembatasan nya kedalaman efektif dan keadaan erosi yang
tinggi . dengan penggunan daerah tersebut adalah tanaman semusim ,tanaman
yang memerlukan pengolaan lahan,tanaman rumput ,padang rumput,hutan

17

produksi,hutan lindung dan cagar alam ,tanaman yang kami temui pada daerah
aluvial ini adalah kelapa,karet ,pohon jambat dan lain nya.

- Sampel II
Pada sampel ke II didapati hasil dengan kelas kemampuan lahan kelas III
dengan tanaman utama pohon karet dan rerumputan

- Sampel III
Pada sampel ke III didapati hasil dengan kemampuan lahan kelas VI dengan
erosi yang tinggi dengan penggunaan lahan tanaman rumput ,padang
penggembalaan hutan produksi,hutan lindung dan suaka alam.

Penerapam Kemampuan Lahan untuk daya dukung wilayah
Berbasis kemampuan lahan

IKLW=
Keterangan :
IKLW : Indeks Kemampuan lahan wilayah
LW k 1-4 : Luas kemampuan lahan I IV
LW : luas wilayah
0,3 : Koefisien minimal 30% fungsi lindung suatu wilayah (untuk
wilayah berkembang), sedangkan wilayah yang belum berkembang dapat
menggunakan indeks 0,4 atau lebih besar lagi.

Dari hasil pembahasan diatas dan data tersebut diolah menjadi peta
kemampuan lahan maka di dapati :
LW k 1-4 : 98.31286 km
2

LW : 122.6644265 km
2


18

Jadi:
IKLW= 36,799326
= 2.671594

Karena ILKW = 2.671594 atau artinya IKLW > 1 berati
Wilayah DAS btg Lumpo memiliki kemampuan mengembangkan
potensi lahannya lebih optimal khususnya untuk berbagai ragam kawasan
budidaya, dengan tetap terjaganya keseimbangan lingkungan.

Indeks Kemampuan Lindung
Indeks kemampuan lindung yaitu peruntukan kawasan lindung terhadap luas
wilayah atau peruntukan lahan keseluruhan. Semakin luas kawasan lindung,
maka nilai indeks semakin tinggi. Indeks ini dapat dicari dengan
menggunakan formula :

IKLWwil

Keterangan :
LKLwil : Indeks kemampuan lindung wilayah
LKL : Luas kawasan lindung
LKB : luas kawasan budidaya LKL + LKB = LW (Luas wilayah)
LWDAS : Luas wilayah DAS
0.3 : kondisi minimal 30% luas wilayah terdiri atas kawasa lindung




19

Dari hasil pembahasan diatas dan data tersebut diolah menjadi peta
kemampuan lahan maka di dapati :
LKB : 53.93676 km2 (di ambil dari jumlah luas Kemampuan lahan I-III)
LKL : 68.72767 km2 ( di ambil dari luas jumlah kemampuan lahan IV dan
VII)

Maka :

IKLWwil

= 1.867634

Berdasarkan data di atas ILKWwil = 1.867634 atau artinya ILKWwil > 1
berati : Bahwa kemampuan Lindung DAS Lumpo berfungsi optimal untuk
melindungi kelestarian lingkungan hidup.

Daya Tampung Wilayah
Konsep daya tamping ini sebenarnya kebalikan dari kepadatan penduduk,
namun dengan menggunakan perbandinga atau standar yang ada mengenai kebutuhan
lahan. Menurut Yeates (1980) daya dukung lahan dapat didentifikasi dari daya
tamping dan daya dukung berdasarkan fungsi lahan dibagi dengan jumlah penduduk
existing dihitung ari kebutuhan lahan perkapita sebagai berikut:

A = L/P

20


Apabila nilai daya dukung lahan (A) tersebut melebihi nilai konsumsi lahan yang
ditentukan (standar Yeates) maka dikatakan populasi penduduk pada wilayah tersebut
sudah melebihi daya dukung lingkungannya ( diluar ambang batas ). Nilai daya
dukung lahan yang ditunjukan dengan konsusmsi lahan perkapita untuk berbagai
ukuran populasi kota menurut Yeates (1980), dalam mutali (2012) sebagai berikut :

No Populasi penduduk (jiwa) Konsumsi Lahan (ha/jiwa)
1 10.000 0.100
2 25.000 0.091
3 50.000 0.086
4 100.000 0.076
5 250.000 0.070
6 500.000 0.066
7 1.000.000 0.061
8 2.000.000 0.057
Sumber; Mutali, 2012










21

Dari hasil pembahasan diatas dan data tersebut diolah menjadi peta kemampuan lahan
dan data BPS didapat data :
L( Luas kemampuan lahan I II III IV ) : 9831.286 ha
P (jumlah penduduk dalam DAS) : 4.020 jiwa


A = 9.831,286 /40.020
= 0.24565932
Maka dikataulakan populasi penduduk DAS batang Lumpo mencukupi daya dukung
lingkungannya, karna lingkungannya yang menurut standar Yeates masih dapat
mentolerir jumlah penduduknya.


















22

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa :
1. Kemampuan lahan pada sampel 1 ialah tergolong kedalam kelas III dengan
faktor pembatasan nya kedalaman efektif dan keadaan erosi yang tinggi .
dengan penggunan daerah tersebut adalah tanaman semusim ,tanaman yang
memerlukan pengolaan lahan,tanaman rumput ,padang rumpt,hutan
produksi,hutan lindung dan cagar alam ,tanaman yang kami temui pada
daerah aluvial ini adalah kelapa,karet ,pohon jambat dan lain nya.
2. Kemampuan Lahan pada sampel 2 ialah tergolong kedalam kelas III dengan
tanaman utama pohon karet dan rerumputan
3. Kemampuan Lahan pada sampel 3 ialah tergolong kedalam termasuk kelas VI
dengan erosi yang tinggi dengan penggunaan lahan tanaman rumput ,padang
penggembalaan hutan produksi,hutan lindung dan suaka alam.
4. Wilayah DAS btg Lumpo memiliki kemampuan mengembangkan potensi
lahannya lebih optimal khususnya untuk berbagai ragam kawasan budidaya,
dengan tetap terjaganya keseimbangan lingkungan
5. Daya tampung DAS batang Lumpo ialah populasi penduduk DAS batang
Lumpo mencukupi daya dukung lingkungannya, karna lingkungannya yang
menurut standar Yeates masih dapat mentolerir jumlah penduduknya.








23

DAFTAR PUSTAKA

Mutaali, Lutfi, 2012,. Daya Dukung Lingkungan Untuk Perencanaan Pengembangan
Wilayah, Badan Penerbit Fakultas Geografi UGM, Yogyakarta

Darmawijaya, M.I. 1992. Klasifikasi Tanah. Dasar Teori Bagi Peneliti Tanah dan
Pelaksana Pertanian di Indonesia



2