Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang
Chronic Pelvic Pain Syndrome (CPPS) adalah rasa sakit nonmalignant yang
dirasakan dalam struktur yang terkait dengan panggul dari pria dan wanita. CPPS
merupakan masalah yang umum terjadi dengan dengan prevalensi 38 per 1000 pada
wanita berusia 15-73 sedangkan pada pria diperkirakan 2,7% - 6,3 % pada populasi
umum. Angka prevalensi pada pria yang mengalami CPPS didapatkan sekitar 16%
adalah dengan chronic prostatitis. Keadaan ini menjadi indikasi paling umum
terhadap rujukan ke klinik urologi, ginekologi, dan neurologi terhitung 20% dari
semua pasien rawat jalan yang ada di tingkat pelayanan sekunder di Amerika.
1

Beberapa studi telah berusaha untuk mengidentifikasi faktor risiko sindrom
nyeri panggul kronis tetapi seringkali dengan hasil yang bertentangan. Terdapat
banyak aspek penyebab timbulnya CPPS diantaranya aspek urological, ginekologikal,
gastrointestinal, saraf perifer, seksologikal, dasar panggul. Bahkan faktor-faktor
sosial dan psikologis turut berperan terhadap kejadian CPPS tersebut.
1

Sebesar 15% sampai 20% wanita yang berusia antara 18 dan 50 tahun,
mengalami CPPS dengan durasi lebih dari satu tahun.
kasus nyeri panggul kronis menempati 2%-10% dari semua konsultasi rawat jalan
ginekologi per tahun 3.
Pada umumnya setelah dirujuk ke ke ahli urologi dan kandungan sebagai
penyelidikan awal untuk mengungkap penyebab patologis misalnya, endometriosis
atau perlengketan, namun memiliki hasil negatif di lebih dari setengah kasus. Selain
itu, sejauh mana kondisi seperti itu menyebabkan rasa sakit tidak pasti karena ada
tumpang tindih dengan faktor psikososial dalam banyak kasus. Bahkan laparoskopi
mungkin memiliki efek menguntungkan melalui mekanisme psikologis. Jadi
pengobatan empiris semakin banyak direkomendasikan sebagai manajemen awal
standar.
2

Dampak yang dapat ditimbulkan oleh nyeri panggul kronis antara lain
turunnya status kesehatan secara umum serta kualitas hidup, depresi, membatasi
aktivitas dan penurunan produktivitas. Beberapa studi melaporkan bahwa faktor
umur, status ekonomi, ras dan tingkat pendidikan karyawan tidak mempunyai
hubungan yang signifikan terhadap kejadian CPPS. Dengan adanya dampak yang
timbulkan tersebut pengelolaan CPPS dihubungkan dengan manajemen nyeri untuk
perbaikan kualitas hidup pada pasien.