Anda di halaman 1dari 8

Tujuan : Untuk menginvestigasi hubungan antara tipe geometri dari episiotomi da

n injuri spinter anal obstetrik (OASIS) karena sudut episiotomi 40-60 berhubunga
n
dengan kejadian OASIS yang lebih sedikit daripada episiotomi dengan sudut tajam.
Desain : Casecontrol study.
Setting : University Hospital of North Norway, Troms and Nordland Hospital, Bod, N
orway.
Sample : tujuh puluh empat wanita yang melahirkan pervaginam dan dilakukan epis
iotomi. Kasus (n = 37) mendapatkan OASIS pada saat melahirkan,
sementara kontrol (n = 37) tidak. kelompok ini telah disesuaikan dengan instrume
n persalinan.
metode : dua grup yang dibandingkan adalah wanita yang hanya melakukan persalin
an pervaginam. Scar dari episiotomi diidentifikasi dan difoto dan pengukuran yan
g
relevan diambil. data dianalisis menggunakan analisis kondisional logistik.
Outcome utama: pengukuran rata-rata sudut episiotomi, panjang dan dalamnya insis
i.
Hasil : risiko terjadinya OASIS menurun 70% (odds ratio [OR] 0.30; 95% CI 0.140
.66) untuk setiap peningkatan 5.5 mm kedalaman episiotomi, menurun 56% (OR 0.44;
95% CI 0.230.86)
untuk setiap 4.5 mm peningkatan jarak dari midline sampai titik insisi episiotom
i, dan penurunan 75% (OR 0.25;95% CI 0.100.61) untuk setiap 5.5 mm
peningkatan panjang episiotomi. Akhirnya, tidak ada perbedaan sudut rata-rata an
tara dua grup tetapi
ada hubungan U-shaped antara sudut dan OASIS (OR 2.09; 95% CI 1.024.28) dengan pening
katan risiko (OR 9.00;
95% CI 1.171.0) terjadinya OASIS ketika sudutnya lebih kecil daripada 15 atau >60
.
Kesimpulan : PEnelitian ini menunjukkan bahwa scar episiotomi
dengan kedalaman > 16 mm, panjang > 17 mm, titik insisi > 9 mm
ke lateral dari midpoint and kisaran sudut 3060 secara signifikan
berhubungan dengan rendahnya risiko OASIS. Pengurangan/Penyusutan jaringan harus
dipertimbangkan.
Pendahuluan
Injuri spincter anal obstetrik (OASIS) adalah penyebab terbanyak inkontinensia a
nal pada wanita
OASIS adalah robekan berat pada perineal selama persalinan pervaginam, menyebabk
an rupture spincter anal parsial atau pun total.
kurang lebih 30-50% wanita yang mengalami OASIS akan menderita inkontinensia ana
l setelah perbaikan primer.
hal ini akan menganggu secara fisik dan mental seseorang. Beberapa faktor obstet
rik berkaitan dengan peningkatan risiko OASIS telah diidetifikasi dan
sering diperdebatkan, episiotomi sering dianggap satu-satunya penyebab.
kebanyakan di negara-negara barat, episiotomi hanya direkomendasikan atas indika
si. Hal ini juga direkomendasikan oleh pedoman di Norwegia dan jumlah rata-rata
episiotomi saat ini pada kelahiran diantara 12-15%. tujuan dari episiotomi adala
h untuk mempercepat persalinan pada kasus fetal distress, peningkatan area jalan
lahir
seperti pada kasus distokia bahu, atau untuk meminimalisir risiko OASIS.
Ada beberapa variasi dari episotomi, dan tiga jenis yang digambarkan. (1) medial
episiotomi dilakukan dengan insisi membagi jaringan perineal pada midline ke ba
wah
menuju kanal anal. (2) Mediolateral episiotomi dilakukan dengan point insisi pad
a midline dengan sudut meningkat antara 40-60 ke arah kiri atau pun kanan dari k
anal anal.
(3) Lateral Episiotomi dilakukan dengan point insisi menuju kiri atau kanan dari
midline, pada arah jam 4-5 atau 7-8 dan sudut potongnya adalah 40-60 dari midli
ne.
Ada bukti kuat yang melawan midline episiotomi, menunjukan hubungan yang jelas d
engan peningkatan risiko OASIS. Konsensus kurang berperan dalam
mediolateral episiotomi. penelitian akhir-akhir ini mengindikasikan bahwa mediol
ateral episiotomi adalah suatu proteksi mencegah OASIS dalam tindakan operatif
persalinan pervaginam dan wanita primipara. bagaimanapun, andrew et al melakukan
penelitian prospektif yang menunjukan bahwa mediolateral episiotomi adalah
faktor risiko yang kuat untuk terjadinya trauma perineal. dua penelitian kohort
mengindikasikan bahwa mediolateral episiotomi adalah pencegahan pada persalinan
pervaginam pertama.
sebaliknya tidak untuk persalinan pervaginam kedua atau lebih.
Pertanyaan tentang teknik spesifik dari mediolateral episiotomi bermunculan. Kal
is et al mengungkapkan bagaimana mediolateral episiotomi digunakan di beberapa
rumah sakit eropa
mendapatkan sedikit persetujuan dan penilaian individual sangat dilebih-lebihkan
. Penelitian lain menunjukan bagaimanan para ahli kesehatan melakukan mediolater
al episiotomi
secara berbeda, menyebabkan beberapa potongan episiotomi yang lebih dekat ke mid
line daripada yang diharapkan. ketidaksesuaian definisi dan teknik menjadi pokok
pertanyaan
apakah ketidaktepatan kesimpulan mungkin telah diambil dan mungkin hal ini menye
satkan dalam membandingkan laporan.
bagaimanapun, penelitian - penelitian yang mengevaluasi teknik episiotomi menuju
kan bahwa suatu sudut secara signifikan berkaitan dengan OASIS
dan cidera ini tampaknya lebih sering terjadi pada mediolateral episiotomi denga
n sudut < 40.
kami memutuskan untuk menginvetigasi karakteristik episiotomi berdasarkan sudut,
panjang, kedalaman dan titik insisi. Tujuan dari penelitian adalah untuk menetu
kan hubungan adntara
bebrapa karakteristik episiotomi ini dengan kejadian OASIS.
Metode
desain dan populasi penelitian
penelitian ini diadakan di Rumah Sakit Universitas Norwegia Utara dan Rumah Saki
t Nordland, Norwegia. kami melakukan rancangan penelitian case control menggunak
an
the electrnic patient journal sustem partus (CSAM Health AS, Lysaker, Norway), y
ang mengidentifikasi peserta yang memenuhi syarat. informasi OBstetrik untuk sem
ua kelahiran
yang diperoleh selama pencarian dari tahun 2004-2011. wanita dimasukan dalam pen
elitian jika mereka telah melakukan sekali persalinan pervaginam dan dilakukan e
pisiotomi.
Grup ini telah dibagi lebih lanjut menggunakan klasifikasi Sultan untuk episioto
mi.
Wanita yang secara klinis teridentifikasi robekan perineal derajat 3 atau 4 saat
melahirkan. digolongkan menjadi 3a, 3b,3c atau 4, yang diklasifikasikan sebagai
kasus,
sebaliknya kontrolnya adalah wanita tanpa OASIS. Wanita pada grup kasus dan kont
rol dimana menggunakan ventouse/forceps dikelompokkan karena berkaitan kuat anta
ra OASIS
dengan persalinan instrumental. perhitungan Power menggunakan hasil dari Andrews
et al. telah mengerjakan sudut episiotomi, dengan antisipasi selisih 11 diantar
a grup-grup,
dengan standar deviasi 13, memberikan suatu tingkat power yang signifikan 5% dan
90%. Ukuran sample yang dibtuhkan 37 wanita pada setiap grup.
sebanyak 53 wanita dengan OASIS dan 75 wanita kontrol dihubungi dan diajak untuk
berpartisipasi melalui surat dan panggilan telepon. total 5 wanita yang diekslu
si karena
bahasa atau kehamilannya dan 49 wanita menolak untuk berpartisipasi( 16 kasus OA
SIS dan 33 Kontrol yang sesuai). 74 wanita memenuhi syarat yang ingin berpartisi
pasi
dalam penelitian. wanita yang diinklusi menandatangani surat informed consent da
n dipanggil untuk pemeriksaan fisik.
Teknik
Penelitian ini berusaha mengukur garis dan sudut diantara titik tepat pada poste
rior fourset, episiotomi dan bebrapa titik anterior dari epitelium anal, diberi
nama jarak
a, b, c, d, e dan sudut a (figure 1). jarak diukur dalam milimeter dan sudutnya
X/360 dari satu lingkaran penuh. Jarak a (midline) didefinisikan sebagai panjang
antara
posterior fourset sampai kanal anal, jarak b : kedalaman caudal end dari pintasa
n garis episiotomi 'a' secara tegak lurus, c: jarak terpendek dari titik caudal
episiotomi
sampai ke kanal anal, d: jarak dari posterior fourset sampai titik insisi episio
tomi. Panjang episiotomi 'e' didefinisikan sebagai panjang dari lingkaran terlua
r dari
labia, yang terekspos seluruhnya, tetapi tidak terlalu sering diregangkan dan su
dut (a), sebuah sudut antara (midline) dan episiotomi.
Pada pemeriksaan fisik, introitus/perineum vagina dinilai dari scar episiotomi,
dan diambil gambar. semua wanita pada posisi litotomi dengan lutut bersadar pada
holder.
Kamera nikon Coolpix S8000 digunakan. Kamera sudah terfiksir pada tripod dan kam
era sudah disetting horisontal, dengan 40cm jarak dari introitus vagina. fokus u
tama adalah
pembukaan vagina, dan anal dan pembukaan vagina akan dimasukan dalam foto disamp
ing episiotomi (figure 2). Untuk referensi pengukuran suatu pengaris surgeri (CO
DMAN) telah digunakan untuk pemotretan,
posisi vertikal terhadap episiotomi.
Scar episiotomi ditandai dengan pen surgeri (CODMAN) sebelum pengambilan foto. U
ntuk menambahkan keterangan pada foto dan menggambar semua garis antara fix poin
t seperti pada
gambar 1. Adobe Photoshop Ver CS5 (Adobe Systems Inc, San Jose, CA, USA) digunak
an. seluruh foto diambil oleh 1 orang dan 4 foto diambil dari setiap wanita. dua
pakar abstetrik
dibutakan untuk kasus dan kontrol melakukan seleksi dari foto, satu dari setiap
kasus dan kontrol. semua garis yang berkaitan dan sudut untuk pengukuran lebih l
anjut digambar dua kali
kedalam dua indentikal set dari foto tersebut. Garis-garis digambar oleh kompute
r drafter sewaan bersama dengan seorang investigator (MS) dan bersama ahli obste
trik yang berpengalaman
yang dibutakan. Seorang drafter mengukur dua set garis pada saat yang berbeda. P
enelitian ini disetujui oleh komite etik region norwegia utara (163/2008)
Statistik
Persetujuan antara dua bacaan telah dievaluasi menggunakan Bland-Altman plot, in
traclass correlation coefficient (ICC)
and coefficient of variation (CV). An ICC < 0.90 mengindikasikan kesepakatan yan
g sangat baik, CV < 15% dirasa cukup. 23-25 data dianalisis menggunakan SPSS ver
si 18 (SPSS Inc, Chicago, IL, USA).
Model regresi kondisional logistik digunakan untuk menilai selisih antara kasus
dan kontrol dan untuk menghitung odd ratio (OR) untuk OASIS. OR diperkirakan tia
p peningkatan SD
pada variabel kontinyu. sepasang kombinasi cara untuk karakteristik episiotomi s
ecara serempak dimasukan ke dalam model regresi untuk mengidentifikasi hubungan
karakteristik episiotomi yang lain.
tingkat yang sangat penting seluruhnya di set pada 0.05. Hubungan disesuaikan te
rhadap berat lahir.
untuk melihat hubungan antara OASIS dan kisaran sudut, dan sudut yang sangat sem
pit dan sangat lebar kami transformasikan dalam variabel kontinyu 'sudut' dalam
kategori
(0-15, 16-30, 31-45, 46-60, >60). keduanya OR mentah dan yang telah disesuaikan
telah diperkirakan. lebih lanjut, untuk menangkap kemungkinan 'U shape' hubungan
antara
variabel kontinyu dari sudut dan OASIS, hubungan linier dan kuadran diuji. Untuk
sensitifitas extreme value dari berat lahir diidentifikasi dan diekslusi. selur
uh analisis statistik kemudian dieksekusi.
Hasil
Gambaran Karakteristik pada kasus dan kontrol dilaporkan pada tabel 1. wanita de
ngan OASIS melahirkan bayi secara signifikan dengan berat lahir yang lebih tingg
i dibandingkan wanita yang tidak terdapat cidera.
(3764 vs 3377 g, P= 0.009). lingkar kepala rata-rata juga lebih tinggi secara si
gnifikan pada grup kasus dibandingkan kontrol (36.9 versus 35.9 cm, P = 0.036).
Reliabilitas interobserver didasarkan pada gambar yang direplikasi dan pengukura
n dari semua gambar. ICC 0,88 (95% CI 0.80-
0,92), dan CV 15,4% untuk jarak a; ICC 0.99 (95% CI 0,99-0,99) dan CV 6,7% untuk
jarak b; ICC 0,98 (95% CI 0,94-0,98) dan CV 9,7% untuk jarak c; ICC 0,92 (95% C
I 0,78-0,90) dan CV 29,9% untuk
jarak d; ICC 0,98 (95% CI 0,96-0,99) dan CV 8,5% untuk e; dan ICC 0,99 (95% CI 0
,99-0,99) dan CV 7,9% untuk sudut episiotomi. Untuk semua pengukuran, sebuah Bla
nd-Altman Plot telah dibuat.
Menggabungkan ICC, CV dan Bland-Altman Plot jarak b, c, d, e dan sudut memberika
n kesepakatan tingkat tinggi sedangkan jarak hanya menunjukkan tingkat kesepakat
an yang moderat.
Analisis regresi kondisional logistik univariabel menunjukkan perbedaan yang sig
nifikan antara kasus dan kontrol
(Tabel 2). Jarak rata-rata b lebih kecil pada kelompok kasus (11 mm) dibandingka
n dengan kelompok kontrol (16 mm). Ini juga
kasus untuk jarak rata-rata d (6 banding 9 mm) serta panjang episiotomi rata-rat
a e (13 vs 17 mm). sudut rata-rata tidak berbeda antara kedua kelompok. Namun,
signifikan pada 'U-shape' berhubungan antara sudut dan OASIS ditangkap (OR 2,09,
95% CI 1,02-4,28) dan ketika sudut berubah ke variabel dikotomis seperti
sudut sempit <15 atau lebih luas >60 dibandingkan kisaran sudut 15-60, ada perbe
daan yang signifikan antara kelompok. Hanya enam perempuan tanpa OASIS (16%) yan
g memiliki
sudut episiotomi <15 atau> 60, sedangkan 14 wanita dengan OASIS (38%) menunjukka
n sudut episiotomi <15
atau> 60.
Perkiraan Odds ratio menunjukkan bahwa ada 70% penurunan risiko (OR 0,30, 95% CI
0,14-0,66) ruptur spincter anal obstetrik untuk setiap kenaikan 5,5 mm
kedalaman episiotomi. Selain itu, dengan meningkatkan jarak dari fourchette post
erior ke titik insisi dari episiotomi sebesar 4,5 mm risiko untuk OASIS menurun
sebesar 56% (OR 0,44, 95% CI 0,23-0,86).
Ada juga penurunan risiko 75% (OR 0,25, 95% CI 0.10-0.61) OASIS untuk setiap ken
aikan 5,5 mm panjang episiotomi, dan ada peningkatan risiko cedera saat sudut <1
5 atau > 60 (OR 9,0, 95% CI 1,1-71,0).
Sudut dikategorikan dalam 0-15 (OR 10.03, 95% CI,68-147,64), 16-30 (OR 1.12,95%
CI 0,22-5,76), 31-45 (referensi), 46-60 (OR 0,75,95% CI 0,16-3,56) dan> 60 (OR 8
.88, 95% CI 0.59-133,83) tidak mencapai signifikansi.
Hasil tetap sama setelah disesuaikan dengan berat lahir. Tidak termasuk dua nila
i ekstrim dari berat lahir (5254 dan 1922 g) dari perhitungan tidak mengubah tem
uan.
Dalam satu set terpisah dari model multivariabel kita memasukan kombinasi berpas
angan dari variabel kontinyu signifikan b, d dan e.
Pada model dengan d dan b, d tidak signifikan berkaitan dengan OASIS (P = 0,41),
sedangkan kedalaman b adalah (P = 0,01).
Pada model dengan d dan e, d tidak signifikan (P = 0,19), sedangkan panjang e ad
alah (P = 0,01) dan dengan model kedalaman b dan panjang e ada kecenderungan non
signifikan untuk kedua pengukuran
terhadap kaitannya dengan OASIS (b: P = 0,07, panjang: P = 0,06).
Diskusi
Studi kasus-kontrol ini menunjukkan bahwa titik insisi, panjang dan kedalaman se
rta sudut semua parameter berhubungan dengan cedera sfingter anal.
Insisi yang sangat dekat ke fourchette posterior, episiotomi pendek, sudut kecil
<15 atau >60 dan kedalaman pendek merupakan faktor
yang meningkatkan risiko derajat ketiga dan keempat robekan perineum. Dengan kat
a lain efek protektif tampaknya tergantung pada seluruh aspek geometris yang dib
uat
saat episiotomi dan fix point pada vagina dan lubang anus.
Selanjutnya, kedalaman dan panjang episiotomi adalah karakteristik yang paling s
ignifikan terkait dengan rendahnya risiko OASIS
bila dibandingkan dengan titik insisi. Temuan kami mungkin menunjukkan bahwa unt
uk membongkar perineum cukup dengan episiotomi yang harus pada panjang dan kedal
aman
tertentu.
Panjang (a) antara fourchette posterior dan pembukaan anal tidak berbeda secara
signifikan diantara kelompok, baik itu jarak c, panjang dari end caudal episioto
mi ke lubang anus.
Kurang signifikannya perbedaan antara kelompok untuk jarak a, menunjukkan bahwa
perbaikan primer setelah cedera telah berhasil menjaga perineal pada kelompok ka
sus.
Hubungan yang signifikan antara OASIS dan panjang episiotomi, titik insisi, keda
laman dan sudut bertahan tanpa penyesuaian dibuat untuk berat lahir atau ketika
outlier
dikeluarkan. Hal ini sesuai dengan temuan.
sebelumnya Hanya beberapa laporan yang mengontrol atau menggambarkan teknik epis
iotomi dan melaporkan perbandingan hasilnya.
Tincello et al, adalah orang pertama yang mempertanyakan teknik episiotomi medio
lateral dan untuk mengangkat isu tentang derajat bantuan pada perineum berkaitan
dengan sudut
episiotomi. Para peneliti berteori bahwa episiotomi sudut 30 atau kurang berfung
si sebagai insisi midline dimana tidak membongkar perineum yang cukup.
Penulis juga mengusulkan bahwa episiotomi dengan sudut sangat lebar dapat menyeb
abkan kurangnya tekanan pada perineum.
Dengan kuesioner bergambar penulis menunjukkan bahwa asumsi teknik episiotomi sa
ma untuk semua perawat tidaklah valid.
Mereka juga menemukan bahwa dokter menggunakan episiotomi lebih panjang dan lebi
h miring daripada bidan.
Selanjutnya, dalam sebuah studi observasional dengan Andrews et al, sudut episio
tomi diukur segera setelah perbaikan. hal itu menunjukkan bahwa episiotomi mirin
g lebih tajam
(26 versus 37) Dikaitkan dengan peningkatan signifikan dalam risiko OASIS. Sebua
h studi kasus-kontrol dengan total
100 primipara telah mendapatkan temuan serupa. Kasusnya adalah 54 wanita dengan
robekan derajat ketiga, dan 46 wanita tanpa cedera merupakan kelompok kontrol.
Para penulis menemukan bahwa sudut rata-rata secara signifikan lebih kecil dalam
kelompok kasus (30) dibandingkan pada kelompok kontrol (38).
Hasil kami juga menunjukkan variasi dalam praktek. meskipun menyadari adanya per
ubahan perineum dan penyusutan setelah kelahiran kami masih terkejut dengan vari
asi dalam teknik episiotomi.
Gambar 2 menunjukkan beberapa Variasi: episiotomi pendek dekat dengan midline, d
ibandingkan dengan episiotomi dengan pengukuran terkait dengan sedikitnya risiko
OASIS.
Selain itu, mendukung teori Tincello et al, kami mengkonfirmasi bahwa sudut yang
sangat kecil (<15) dan sangat sudut besar (> 60) berkaitan OASIS.
Kami menemukan hubungan 'U-Shape' antara sudut dan OASIS, yang menunjukkan bahwa
sudut scar episiotomi mulai dari 30 sampai 60 memiliki resiko OASIS minimal.
Mengingat penyusutan dan perubahan jaringan perineal setelah kelahiran, hasil ka
mi mendukung temuan penelitian klinis lainnya.
Korelasi yang lemah antara sudut episiotomi pada waktu dipotong dan sudut scar e
pisiotomi diukur saat kunjungan postnatal dilaporkan dalam dua studi.
Menurut Kalis et al, ada penyusutan episiotomi sebesar rata-rata 12 setelah 6 bu
lan. Sebuah penyusutan yang sama diamati oleh van Dillen et al.
Para penulis memeriksa episiotomi pada 25 perempuan segera setelah kelahiran dan
membandingkannya dengan pengukuran yang dilakukan pada saat kontrol setelah mel
ahirkan.
Sudut rata-rata episiotomi berturut-turut adalah 38,6 7,8 dibandingkan dengan 31
,2 11,5. Menurut Andrews et al, sudut sebesar 26 secara bermakna berkaitan denga
n OASIS dibandingkan dengan sudut 37, yang diukur langsung setelah melahirkan.
Mengingat kedua hasil (26-12), Sebuah scar episiotomi dengan sudut 15 akan menye
rupai sudut episiotomi saat lahir berkaitan dengan peningkatan risiko OASIS.
Di sisi lain, sudut 60 mungkin akan menyerupai sudut episiotomi >70 di waktu kel
ahiran.
Untuk pengetahuan kita, ini adalah studi pertama yang menyelidiki apakah titik i
nsisi dari episiotomi yang jauh dari midline berkaitan dengan OASIS.
Di Finlandia, episiotomi lateral menjadi metode pilihan dalam beberapa dekade. d
ispekulasikan bahwa tradisi ini berkaitan dengan rendahnya jumlah kasus OASIS.
Namun, asumsi ini dibuat melalui penelitian besar kohort. Sebuah penurunan Freku
ensi OASIS yang signifikan terlihat setelah program intervensi dilakukan pada li
ma tempat persalinan di Norway.
Intervensi terdiri dari program pelatihan klinis yang bertujuan untuk membentuk
tim persalinan dengan empat tujuan pengajaran primer.
Salah satunya adalah untuk melakukan episiotomi lateral yang bukan mediolateral,
dan hanya atas indikasi.
Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa wanita dengan episiotomi dimana titik in
sisi pada lateral midline memiliki risiko OASIS rendah dibandingkan wanita denga
n titik insisi dekat dengan midline(Gambar 2).
Manfaat titik insisi yang berada jauh dari midline adalah mengarahkan tekanan ja
uh dari midline.
Tidak seperti penelitian kami, Andrews et al, tidak menemukan hubungan yang sign
ifikan antara panjang episiotomi dengan OASIS.
Mereka menyarankan bahwa episiotomi yang lebih panjang dengan sudut besar menjad
ikan jarak yang lebih jauh ke lubang anus, yang mana bisa mengurangi risiko OASI
S.
Studi ini menunjukkan bahwa jarak dari ujung episiotomi ke lubang anus (jarak c)
bukanlah karakteristik yang berhubungan dengan OASIS.
Di sisi lainKedalaman (jarak b), adalah karakteristik dengan berhubungan kuat de
ngan OASIS. Ketika mempertimbangkan struktur geometris midline,
pembukaan vagina, titik insisi episiotomi dan panjang episitomi, karakteristik k
edalaman b mungkin yang paling menjelaskan karena merupakan fungsi dari panjang
d dan e dan sudut a.
Teknik Episiotomi adalah prosedur dimodifikasi, Oleh karena itu penting untuk me
mbuat catatan dari parameter yang dimaksud dalam penelitian ini.
Dengan ini dapat menjadi pertimbangan dan menolong mereka dalam praktek yang ber
potensi dapat menurunankan kejadian OASIS.
48% dari episiotomipada kelompok kasus dan 16% pada kelompok kontrol tidak memil
iki karakteristik seperti kedalaman >16 mm, panjang >17 mm, titik insisi > 9 mm
lateral midline dan berbagai sudut 30-60, yang secara signifikan terkait dengan
risiko OASIS yang rendah.
Hal ini kebutuhan pokok untuk pengawasan dan standarisasi hands-on training.
Penelitian ini memiliki keterbatasan. Dengan 37 wanita dalam setiap Kelompok itu
adalah sebuah penelitian kecil. Oleh karena itu hasilnya harus ditafsirkan deng
an hati-hati.
pengukuran dikumpulkan pada waktu setelah kelahiran, kita tidak tahu ukuran yang
benar dari episiotomi saat lahir.
Pada saat kelahiran distensi perineum dan edema yang disebabkan oleh tekanan kep
ala, menyebabkan perineum menjadi lebih besar daripada saat perbaikan dan kontro
l postnatal.
Oleh karena itu, pengukuran dalam Penelitian ini tentu akan lebih kecil daripada
saat episiotomi dilakukan. 100 dan 28 perempuan diminta untuk berpartisipasi da
lam penelitian ini,
16 (13%) perempuan dikelompok kasus dan 33 (26%) pada kelompok kontrol tidak ing
in dimasukkan dalam penelitian. Lebih banyak perempuan kontrol yang tidak mau be
rpartisipasi daripada wanita dalam kelompok kasus.
Hal ini mungkin mempengaruhi hasil kami, yang perlu dikonfirmasi dalam penelitia
n yang akan datang dan lebih baik dalam percobaan terkontrol acak.
kesimpulan
Studi kasus-kontrol ini mendukung penelitian Teknik episiotomi lain, menunjukka
n bahwa episiotomi dengan sudut sempit meningkatkan risiko OASIS.
Selain itu, Temuan kami menunjukkan bahwa pengukuran seperti titik insisi, panja
ng episiotomi dan kedalaman dapat mengurangi risiko OASIS.
Kedalaman dan panjang episiotomi adalah hal khusus yang penting. Ini adalah sebu
ah penelitian kecil, penelitian dengan teknik yang spesisifik dan sampel yang le
bih besar diperlukan untuk penelitian lebih lanjut
dalam menyelidiki pengaruh ukuran geometris pada OASIS.
Ucapan Terima Kasih
Kami berterima kasih kepada Mr Stein Erik Hansen atas kontribusinya terhadap men
gukur foto dan gambar, Mr Ba rd Kjersem untuk memberikan informasi berharga tent
ang fotografi medis dan Mrs Cathrine Annette Planke untuk koreksi cetakan bahasa
Inggris.
Pengungkapan kepentingan
Tidak ada konflik kepentingan.
Kontribusi terhadap kepenulisan
MS melakukan penelitian, melakukan analisis dan mepimpin penulisan artikel. EB b
erkontribusi untuk mempelajari desain, membantu dengan metode statistik dan memb
antu untuk menafsirkan
hasil serta mengawasi penelitian. TW membantu dengan metode statistik dan memban
tu untuk menginterpretasikan hasil. BV membantu dengan pengumpulan data. Po dan
JP memahami dan mengawasi penelitian.
Semua penulis membantu dalam kritik revisi naskah dan telah membaca dan menyetuj
ui versi terakhir dari artikel.
Rincian persetujuan etika
Persetujuan untuk studi ini diberikan oleh Etika Regional Komite North Norway (1
63/2008) dan semua peserta
memberikan persetujuan mereka untuk berpartisipasi.
Pendanaan
Penelitian ini didukung oleh hibah dari Lembaga Kesehatan wilayah Norwegia Utara
.