Anda di halaman 1dari 9

1

UNIVERSITAS ISLAM
INDONESIA
FAKULTAS KEDOKTERAN

DEPARTEMEN ILMU BEDAH
STATUS PASIEN UNTUK UJIAN
Untuk Dokter Muda
Nama Dokter Muda Rizka Triadiati I P Tanda Tangan
NIM 09711151
Tanggal Presentasi
Rumah sakit RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata
Gelombang Periode

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. S
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 76 tahun
Alamat : Tegalpingen 2/2 Pengadegan, Purbalingga
Agama : Islam
Mondok di bangsal : Dahlia
Pekerjaan : Petani
Tanggal masuk : 19 Juni 2014
Nomer CM : 569480

II. ANAMNESIS
Diberikan oleh :
Pasien di kamar rawat inap, 20 Juni 2014
Keluhan Utama :
Nyeri pada kaki kiri bagian atas

Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang dengan keluhan post jatuh di kamar mandi sejak 5 hari yang
lalu. Nyeri pada paha sebelah kiri, nyeri dirasakan dari atas lutut kiri sampai
2

dengan panggul kiri. Kaki sulit digerakkan, bila digerakkan terasa sakit.
Riwayat pernah dipijat setelah jatuh.

Riwayat Penyakit Dahulu :
Keluhan serupa disangkal
Riwayat hipertensi disangkal
Riwayat diabetes melitus disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga :
Riwayat hipertensi disangkal
Riwayat diabetes melitus disangkal

Kebiasaan dan Lingkungan :
Sehari-hari makan biasa, sayur, tahu dan tempe, namun makan hanya dalam
porsi sedikit.

III. Anamnesis Sistem
Sistem Cerebrospinal : Demam (-), sakit kepala (-)
Sistem Cardiovaskuler : Nyeri dada (-), berdebar-debar (-), gemetar (-),
Sistem Respiratorius : Batuk (-), sesak napas (-)
Sistem Gastrointestinal : Mual (-), muntah (-), BAB lancar (+)
Sistem Urogenitale : BAK dalam batas normal
Sistem Integumentum : Gatal (-), ruam-ruam kulit (-)
Sistem Muskuloskeletal : Edema (+) pada paha bagian kiri, pergerakan
terbatas, nyeri (+).

3

IV. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis (GCS E4V5M6)
Vital Sign : Tekanan Darah : 160/90 mmHg
Nadi : 84x/menit
Respirasi : 18 x/menit
Suhu : 37
0
C (aksial)

STATUS GENERALIS
Kulit : Warna kulit sawo matang, ikterik (-), sianosis (-), pucat
(-)
Kepala : Simetris, konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-),
exopthalmus (-), deviasi septum nasi (-), mukosa bibir
tidak kering.
Leher : Pembesaran kelenjar tiroid (-), JVP tidak meningkat
Thorax :
- Cor :
Inspeksi : Dinding dada simetris, ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis tidak kuat angkat
Perkusi : Batas atas : SIC II LPS dextra
Batas kiri : SIC V LMC sinistra
Batas kanan : SIC IV LPS dextra
Auskultasi : S1-S2 reguler
- Pulmo :
Inspeksi : Dinding dada simetris, retraksi (-), tidak ada
ketertinggalan gerak
Palpasi : Simetris, vokal fremitus kanan=kiri, ketinggalan
gerak (-)
Perkusi : Sonor kedua lapang paru
Auskultasi : Suara dasar vesikuler, suara tambahan (-)
Abdomen :
4

Inspeksi : Perut tidak membuncit, sikatrik (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Palpasi : Nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba, tidak teraba
massa, defans muscular (-)
Perkusi : Timpani diseluruh lapangan abdomen
Ekstremitas : Keterbatasan gerak (+), deformitas pada paha bagian
kiri (+), edem (+)

V. RESUME
Seorang perempuan berusia 76 tahun datang dengan keluhan nyeri paha
bagian kiri hingga ke panggul. Pasien datang dengan keluhan post jatuh di
kamar mandi sejak 5 hari yang lalu. Nyeri pada paha sebelah kiri, nyeri
dirasakan dari atas lutut kiri sampai dengan panggul kiri. Kaki sulit
digerakkan, bila digerakkan terasa sakit. Riwayat pernah dipijat setelah jatuh.
Terdapat keterbatasan gerak pada kaki sebelah kiri dan terdapat edem pada
paha kiri.

VI. DIAGNOSIS BANDING
- Fraktur Intertrochanter Femur Sinistra
- Fraktur Collum Femur Sinistra
- Fraktur Femur Sinistra

VII. DIAGNOSIS KERJA
Fraktur Intertrochanter Femur Sinistra

VIII. PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Rontgen pelvis
5



IX. TERAPI
Open Reduction Internal Fixation (ORIF)

X. PROGNOSIS
Ad vitam : bonam
Ad sanam : bonam
Ad fungsionam : bonam
Ad cosmeticam : bonam
6

TINJAUAN PUSTAKA

FRAKTUR INTERTROCHANTER FEMUR

A. Definisi
Fraktur merupakan suatu peristiwa terputusnya kontinuitas jaringan
tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa.
Trauma yang menyebabkan fraktur dapat berupa trauma langsung maupun
trauma tidak langsung. Fraktur juga lebih sering terjadi pada laki-laki
daripada perempuan dengan umur dibawah 45 tahun dan sering
berhubungan dengan mobilitas yang aktif seperti bekerja, olahraga, dan
lain-lain. Mobilisasi yang lebih banyak dilakukan oleh laki-laki
menyebabkan tingginya risiko fraktur pada laki-laki. Sedangkan pada
orang tua, perempuan lebih sering mengalami fraktur yang dihubungkan
dengan hormone pada menopause yang dapat menyebabkan osteoporosis.
Fraktur intertrochanter femur merupakan salah satu dari 3 tipe fraktur
panggul, yaitu fraktur dari tulang femur proksimal yang terletak di antara
trochanter mayor dan trochanter minor (Sjamsuhidajat, 2011).

B. Anatomi Femur
Os Femur atau tulang paha merupakan tulang terpanjang dan
terberat dalam tubuh manusia, menghubungkan tubuh dari os coxae
kepada tibia sewaktu kita berdiri. Femur terdiri dari bagian caput femur
(kepala tulang paha) dan collum femur (leher tulang paha) pada bagian
proksimal dan dua condylus pada bagian distal. Caput femur mengarah ke
arah craniomedial dan agak ke ventral sewaktu bersendi dengan
acetabulum. Ujung proksimal femur terdiri dari sebuah caput femur, dan 2
trochanter (trochanter mayor dan trochanter minor) yang menjadi tempat
perlekatan otot. Pada bagian proksimal posterior terdapat tuberositas
glutea yakni permukaan kasar tempat melekatnya muskulus gluteus
maximus dan di dekatnya terdapat bagian linea aspera tempat melekatnya
7

muskulus biceps femoris. Salah satu fungsi penting dari caput femoris
ialah tempat produksi sel darah merah pada sumsum tulangnya.

C. Sa
D. Sa
E. S
F. As
G. a
Mekanisme Cedera
Fraktur disebabkan oleh jatuh langsung pada trokanter mayor atau oleh cedera
pemuntiran tak langsung. Retak berada di antara trokanter mayor dan minor, dan
fragmen proksimal cenderung bergeser dalam varus. Mungkin terdapat kominusi
pada korteks posteromedial. Fraktur intertrochanter terbagi atas tipe yang stabil
dan yang tak stabil. Fraktur yang tak stabil adalah fraktur yang korteks medialnya
hancur, sehingga terdapat fragmen besar yang bergeser yang mencakup trochanter
minor; fraktur ini sangat sukar ditahan dengan fiksasi internal.

Terapi
Fraktur intertrochanter hampir selalu diterapi dengan fiksasi internal dini agar
memperoleh posisi sebaik mungkin dan agar pasien dapat pulih secepat mungkin
(mobilisasi baik) sehingga mengurangi risiko komplikasi akibat terlalu lama
tiduran.
8

9

Daftar Pustaka


Mansjoer, A., Suprohaita, Wardhani, W., Setiowulan, W. (editor), 2000, Kapita
Selekta Kedokteran, Media Aesculapius, Jakarta.
Sjamsuhidajat, R., Karnadihardja, W., Prasetyono, T., Rudiman, R (editor), 2011,
Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat-De Jong Ed.3, EGC, Jakarta.
Yip, K., dr, 2014, Intertrochanteric Hip Fracture, Klinik Olahraga dan Orthopedi
Singapura, http://indonesian.orthopaedicclinic.com.sg/?p=1073, diakses
pada 08 Juli 2014.