Anda di halaman 1dari 5

1. 1.

Pengertian Istishab
Istishab menurut etimologi berasal dari kata istishaba dalam sighat istifal(

) yang
bermakna: . Kalau kata diartikan dengan sahabat atau teman
dan diartikan selalu atau terus menerus, maka istishab secara lughawi artinya selalu
menemani atau selalu menyertai. Atau diartikan dengan minta bersahabat, atau membandingkan
sesuatu dan mendekatkannya, atau pengakuan adanya perhubungan atau mencari sesuatu
yang ada hubunganny [11].Dan disebutkan juga bahwa istishab berasal dari kata shuhbah
artinya menemani atau menyerta, dalam artian menurut kebersamaan atau terus menerusnya
bersama.sebagaimana yang dikatakan oleh para ahli bahasa dengan mengatakan:
1.


Artinya: Segala sesuatu yang menetapi pada sesuatu, maka ia menemani atau
menyertainya.

Dari pengertian yang lain, menurut bahasa perkataan Istishab diambil dari perkataan Istishhabtu
maa kaana fil maadhi, artinya saya membawa serta apa yang telah ada waktu yang lampau
sampai sekarang.
Menurut Istilah Usul, Istishhab ialah melanjutkan berlakunya hukum yang telah ada dan yang
telah ditetapkan karena sesuatu dalil, sampai ada dalil lain yang mengubah kedudukan hukum
tersebut. Atau dengan perkataan lain; Istishhab ialah menganggap hukum sesuatu soal yang
telah ada menyertai tetap soal tersebut, sampai ada dalil yang memutuskan adanya penyertaan
tersebut. Kalau sesuatu dalil syara` menetapkan adanya sesuatu hukum pada sesuatu waktu
yang telah lewat dan menetapkan pula berlakunya untuk seterusnya, maka hukum tersebut tetap
berlaku, tanpa diragukan lagi. Seperti firman Allah:Jangan kamu terima persaksian mereka
selamanya.. Akan tetapi kalau dalil tersebut hanya menetapkan adanya hukum saja, pada
waktu yang telah lampau, tanpa menyinggung-nyinggung tetap berlakunya, maka apakah hukum
tersebut dianggap telah berlaku atau tidak?.Sedang menurut istilah ditemukan beberapa redaksi
dari para ahli yang mendefinisikannya, diantaranya adalah:
Imam al- Asnawy:


Istishab adalah melanjutkan berlakunya hukum yang sudah ada dan sudah ditetapkan
ketetapan hukumnya, lantaran sesuatu dalil sampai ditemukan dalil lain yang mengubah
ketentuan hukum tersebut
Istishab diartikan Hasby Ash-Shiddiqy dengan:


Mengekalkan apa yang telah ada atas keadaan yang telah ada, karena tidak ada yang
mengubah hukum, atau karena sesuatu hal yang belum diyakini.
Dari pengertian yang lain juga disebutkan, istishab berasal dari bahasa Arab ialah: pengakuan
adanya perhubungan. Sedangkan dari kalangan ulama` (ahli) ushul fiqih Istishab menurut istilah
adalah menetapkan hukum atas sesuatu berdasarkan keadaan sebelumnya, sehingga ada dalil
yang menunjukkan atas perubahan keadaan tersebut. Atau menetapkan hukum yang telah tetap
pada masa yang lalu dan masih tetap pada keadaannya itu, sehingga ada dalil yang
menunjukkan atas perubahannya. Adapun definisi Istishab menurut Al Ghazali adalah
berpegang pada dalil akal atau syara`, bukan didasarkan karena tidak mengetahui adanya dalil,
tetapi setelah dilakukan pembahasan dan penelitian cermat, diketahui tidak ada dalil yang
mengubah hukum yang telah ada. Atau tetap berpegang kepada hukum yang telah ada dari
suatu peristiwa atau kejadian sampai ada dalil yang mengubah hukum tersebut, atau
menyatakan tetapnya hukum pada masa yang lalu, sampai ada dalil yang mengubah ketetapan
hukum itu.
Menurut Ibnu Qayyim, istishab adalah menyatakan tetap berlakunya hukum yang telah ada dari
suatu peristiwa, atau menyatakan belum adanya hukum suatu peristiwa yang belum pernah
ditetapkan hukumnya. Menurut Asy Syatibi,istishab adalah segala ketetapan yang telah
ditetapkan pada masa yang lampau dinyatakan tetap berlaku hukumnya pada masa sekarang.
Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat ditarik sebuah ikhtisar bahwaistishab adalah:
1. Segala hukum yang telah ditetapkan pada masa lampau, dinyatakan tetap berlaku pada
masa sekarang, kecuali kalau telah ada yang mengubahnya. Contohnya adalah sebagai
berikut: Seseorang yang mulanya ada wudhu, kemudian datang was-was dalam hatinya,
bahwa boleh jadi dia telah mengeluarkan angin yang membatalkan wudhunya. Dalam
kondisi begini, hendaklah ia menetapkan hukum semula, yaitu ada wudhu. Dan was-was
yang datang belakangan itu, tidak boleh mengubah hukum yang semula.
2. Segala hukum yang ada pada masa sekarang, tentu telah ditetapkan pada masa yang lalu
Contohnya adalah sebagai berikut: Telah terjadi perkawinan antara laki-laki A dengan
perempuan B, kemudian mereka berpisah dan berada di tempat berjauhan selama 15 tahun.
Karena telah lama berpisah itu, maka B ingin kawin dengan laki-laki C. Karena dalam hal ini B
belum dapat kawin dengan C karena ia telah terikat tali perkawinan dengan A dan belum ada
perubahan hukum tali perkawinan walaupun mereka telah lama berpisah. [12]
1. 2. Macam-macam Istishab
Para ulama ushul Fiqih mengemukakan bahwa istishab itu ada lima macam.[13]Yaitu:
1. Istishab hukm al- ibahah al ashliyah. Maksudnya, menetapkan hukum sesuatu yang
bermanfaat bagi manusia adalah boleh, selama belum ada dalil yang menunjukkan
keharamannya. Contohnya: seluruh pepohonan yang ada dihutan merupakan milik
bersama manusia dan masing-masing berhak menebang dan mengambil manfaatkan
pohon dan buahnya, sampai pada bukti yang menunjukkan bahwa hutan itu telah menjadi
milik orang.
2. Istishab Al-Bara`at Al Ashliyat. Yaitu kontinuitas hukum dasar ketiadaan berdasarkan
argumentasi rasio dalam konteks hukum-hukum syari. Maksudnya memberlakukan
kelanjutan status ketiadaan dengan adanya peniadaan yang dibuat oleh akal lantaran tidak
adanya dalil syari yang menjelaskannya. Dalam objektivitasnya, istishab tersebut
bereferensi kepada hukum akal dalam hukum ibadah atau baraatul ashliyah (kemurnian
menurut aslinya). Akal menetapkan bahwa dasar hukum pada segala yang diwajibkan
adalah dapat diwajibkan sesuatu, kecuali apabila datang dalil yang tegas mewajibkannya.
Contoh: hukum wudhu seseorang dianggap berlangsung terus sampai adanya penyebab
yang membatalkannya.
3. Istishab Al-Umumi. Istishab terhadap dalil yang bersifat umum sebelum datangnya dalil
yang mengkhususkannya dan istishab dengan nash selama tidak ada dalil yang naskh
(yang membatal-kannya). Suatu nashyang umum mencakup segala yang dapat dicakup
olehnya sehingga datang suatu nash lain yang menghilangkan tenaga pencakupannya itu
dengan jalan takhsish. Atau sesuatu hukum yang umum, tidaklah dikecualikan sesuatupun
daripadanya, melainkan dengan ada suatu dalilyang khusus. Contohnya: kewajiban puasa
di Bulan Ramadhan yang berlaku bagi umat sebelum Islam, tetap wajib wajib bagi umat
Islam (QS.Al-Baqarah : 183) selama tidak ada nash lain yang membatalkannya.
1. Istishab An-Nashshi (Istishab Maqlub/Pembalikan). Yaitu istishab pada kondisi
sekarang dalam menentukan status hukum pada masa lampau, sebab istishab pada
bentuk-bentuk sebelumnya, merupakan penetatapan sesuatu pada masa kedua
berdasarkan ketetapannya pada masa pertama lantaran tidak ditemukannya dalil
secara spesifik. Urgensinya, dalam suatu dalil (nash) terus-menerus berlaku
sehingga di-nasakh-kan oleh sesuatu nash, yang lain. Contoh: kasus adanya
seseorang yang sedang dihadapkan pertanyaan, apakah Muhammad kemarin
berada di tempat ini?, padahal kemarin ia benar-benar melihat Muhammad disini.
Maka ia jawab, benar ia berada disini kemarin.
2. Istishab Al-Washfi Ats-Tsabiti. Sesuatu yang telah diyakini adanya, atau tidak adanya
masa yang telah lalu, tetaplah hukum demikian sehingga diyakini ada perubahannya.
Disebut pula denganistishabul madhi bilhali yakni menetapkan hukum yang telah lalu
sampai kepada masa sekarang. Yaitu istishab terhadap hukum yang dihasilkan dari
ijma dalam kasus yang dalam perkembangannya memicu terjadinya perselisihan
pendapat. Contoh: Kasus orang yang bertayamum, dalam pertengahan shalat
melihat air. Menurut ijma ditetapkan shalatnya tidak batal, keabsahan shalat itu
ditentukan sebelum melihat air. Hal ini menunjukkan pula pada keberlanjutan
ketetapan hukum, sampai ditemukan adanya dalil yang menunjukkan batalnya
penetapan tersebut.
1. Kedudukan Istishab Sebagai Sumber Hukum Islam
Para Ulama Ushul Fiqih berbeda pendapat tentang kehujjahan Istishab ketika tidak ada dalil
syara yang menjelaskan suatu kasus yang dihadapi.[14]
Pertama, menurut mayoritas mutakallimin (ahli kalam), istishab tidak bisa dijadikan dalil. Karena
hukum yang ditetapkan pada masa lampau menghendaki adanya dalil. Demikian juga untuk
menetapkan hukum yang sama pada masa sekarang dan yang akan datang. Istishab bukanlah
dalil, karenanya menetapkan hukum yang ada pada masa lampau berlangsung terus untuk masa
yang akan datang, berarti menetapkan suatu hukum tanpa dalil. Hal ini sama sekali tidak
dibolehkan dalam syara.
Kedua, menurut mayoritas ulama Hanafiah, khususnya mutaakhirin, istishab bisa dijadikan
hujjah untuk menetapkan hukum yang telah ada sebelumnya dan menganggap hukum itu tetap
berlaku pada masa yang akan datang, tetapi tidak bisa menetapkan hukum yang akan ada.
Alasan mereka seorang mujtahid dalam meneliti hukum suatu masalah yang sudah ada,
mempunyai gambaran bahwa hukumnya sudah ada atau sudah di batalkan. Akan tetapi ia tidak
mengetahui atau tidak menemukan dalil yang menyatakan bahwa hukum itu sudah dibatalkan.
Dalam kaitan ini, mujtahid tersebut harus berpegang kepada hukum yang sudah ada, karena ia
tidak mengetahui adanya dalil yang membatalkan hukum itu. Namun penetapan ini hanya
berlaku pada kasus yang sudah ada hukumnya dan tidak berlaku bagi kasus yang akan
ditetapkan hukumnya. Artinya, stishab hanya bisa dijadikan hujjah untuk mempertahankan
hukum yang sudah ada, selama tidak ada dalil yang membatalkan hukum itu, tetapi tidak berlaku
untuk menetapkan hak yang baru muncul.
Ketiga, ulama Malikiyah, Syafiiyyah, Hanabilah, zhahiriyah dan syiah berpendapat bahwa
istishab bisa dijadikan hujjah secara mutlak untuk menetapkan hukum yang sudah ada, selama
belum ada dalil yang mengubahnya. Alasannya adalah, sesuatu yang telah ditetapkan pada
masa lalu, selama tidak ada dalil yang mengubahnya, baik secara qathi maupun zhanni, maka
semestinya hukum yang telah ditetapkan itu berlaku terus, karena di duga keras belum ada
perubahan. Alasan yang menunjukkan berlakunya berlakunya syariat di zaman Rasulullah Saw
sampai hari kiamat adalah menduga keras berlakunya syariat itu sampai sekarang, tanpa ada
dalil yang menasakh-kannya.
1. 4. Kaidah-kaidah Istishab
Para ulama fiqih menetapkan beberapa kaidah umum yang didasarkan kepada istishab,
diantaranya adalah:
1.
Maksudnya, pada dasarnya seluruh hukum yang sudah ada dianggap berlaku terus sampai
ditemukan dalil yang menunjukkan hukum itu tidak berlaku lagi. Contohnya: adalah kasus orang
yang hilang diatas.
1.
Maksudnya, pada dasarnya dalam hal-hal yang sifatnya bermanfaat bagi manusia hukumnya
adalah boleh dimanfaatkan. Melalui kaidah ini, maka seluruh akad dianggap sah, selama tidak
ada dalil yang menunjukkan hukumnya batal; sebagaimana juga pada sesuatu yang tidak ada
dalil syarayang melarangnya, maka hukumnya adalah boleh.
1.
Maksudnya, suatu keyakinan tidak bisa dibatalkan oleh sesuatu yang diragukan. Melalui kaidah
ini, maka seseorang yang telah berwudu, apabila merasa ragu akan wudunya itu apakah telah
batal atau belum, maka ia harus berpegang kepada keyakinanya bahwa ia telah berwudu, dan
wudunya tetap sah. Tetapi ulama Malikiyah melakukan pengecualian dalam masalah shalat.
Menurutnya apabila keraguan tersebut berkaitan dengan shalat, maka kaidah ini tidak berlaku.
Oleh sebab itu, apabila seseorang ragu dalam masalah wudunya, maka ia wajib berwudu
kembali.
1.
Maksudnya, pada dasarnya seseorang tidak dibebani tanggung jawab sebelum adanya dalil
yang menetapkan tanggung jawab seseorang. Oleh sebab itu, seseorang tergugat dalam kasus
apapun tidak bisa dinyatakan bersalah sebelum adanya pembuktian yang kuat dan meyakinkan
bahwa ia bersalah.[15]