Anda di halaman 1dari 41

SIDANG SKRIPSI

“OPTIMASI HIDROLISIS JERAMI PADI MENJADI GLUKOSA UNTUK BAHAN BAKU BIOFUEL MENGGUNAKAN SELULASE DARI TRICHODERMA REESEI DAN ASPERGILLUS NIGER.

Oleh :

Wayan Sanjaya (2305.100.017) Shelyria Adrianti (2305.100.115)
Wayan Sanjaya (2305.100.017)
Shelyria Adrianti (2305.100.115)
Pembimbing : Dr. Ir. Arief Widjaja, M.eng
Pembimbing : Dr. Ir. Arief Widjaja, M.eng
(2305.100.115) Pembimbing : Dr. Ir. Arief Widjaja, M.eng Laboratorium Teknik Biokimia Jurusan Teknik Kimia FTI-ITS

Laboratorium Teknik Biokimia

Jurusan Teknik Kimia FTI-ITS

(2305.100.115) Pembimbing : Dr. Ir. Arief Widjaja, M.eng Laboratorium Teknik Biokimia Jurusan Teknik Kimia FTI-ITS

Latar Belakang

Peningkatan energi dan penurunan jumlah bahan bakar fosil

menyebabkan perlu mencari energi alternatif pengganti yaitu

biofuel.

Biohidrogen dapat diproduksi dari glukosa yang berasal dari jerami padi yang banyak mengandung selulosa.

Jerami padi merupakan limbah pertanian yang banyak terdapat di Indonesia.

Trichoderma reesei mampu menghasilkan endo-β-1,4-glukanase dan ekso-β-1,4- glukanase sampai 80% tetapi β-glukosidasenya

rendah (Martins dkk,2008) sedangkan Aspergillus niger dapat

menghasilkan β-glukosidase tinggi tapi endo-β-1,4-glukanase dan ekso-β-1,4-glukanasenya rendah.

niger dapat menghasilkan β -glukosidase tinggi tapi endo- β -1,4-glukanase dan ekso- β -1,4-glukanasenya rendah.
niger dapat menghasilkan β -glukosidase tinggi tapi endo- β -1,4-glukanase dan ekso- β -1,4-glukanasenya rendah.

Rumusan Masalah

Rumusan Masalah :

1.

Persediaan bahan bakar fosil yang semakin menurun,

maka diperlukan energi alternatif pengganti bahan

bakar fosil yaitu biofuel yang berasal dari bahan yang kesediaannya melimpah, murah dan dapat diperbaharui. Bahan tersebut adalah jerami padi.

2.

Produksi biofuel membutuhkan bahan baku yang berasal

dari monosakarida terutama glukosa murni sehingga

tidak sesuai dengan ekonomi, sehingga perlu dipelajari

apakah glukosa hasil hidrolisis akan menghasilkan

biofuel dengan perolehan yang tinggi.

ekonomi, sehingga perlu dipelajari apakah glukosa hasil hidrolisis akan menghasilkan biofuel dengan perolehan yang tinggi.
ekonomi, sehingga perlu dipelajari apakah glukosa hasil hidrolisis akan menghasilkan biofuel dengan perolehan yang tinggi.

3.

Enzim selulase dari T. reesei mampu menghasilkan

3. Enzim selulase dari T. reesei mampu menghasilkan endo- β -1,4-glukanase dan ekso- β -1,4- glukanase

endo-β-1,4-glukanase dan ekso-β-1,4- glukanase

sampai

sedangkan A. niger dapat menghasilkan β-

glukosidase tinggi tapi endo-β-1,4-glukanase dan

ekso-β-1,4-glukanasenya rendah. Oleh karena itu

perlu mengkombinasikan mikroorganisme

penghasil enzim selulase tersebut.

80% tetapi β-glukosidasenya rendah

karena itu perlu mengkombinasikan mikroorganisme penghasil enzim selulase tersebut. 80% tetapi β -glukosidasenya rendah

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan :

1. Menyediakan glukosa sebagai bahan baku untuk produksi biofuel dari jerami padi.

2. Menentukan kondisi optimum pada proses hidrolisis enzimatik jerami padi menggunakan enzim selulase dari

T.reesei dan A.niger.

Manfaat :

1.

Memberikan informasi pemaanfatan limbah jerami padi

2.

Memberikan informasi cara mendapatkan enzim selulase

untuk mendegradasi jerami padi untuk menghasilkan glukosa

2. Memberikan informasi cara mendapatkan enzim selulase untuk mendegradasi jerami padi untuk menghasilkan glukosa
2. Memberikan informasi cara mendapatkan enzim selulase untuk mendegradasi jerami padi untuk menghasilkan glukosa

Penelitian Terdahulu

Nama

Peneliti

Penelitian

Tujuan

Penelitian

Bahan Baku

Jamur

Hasil

Penelitian

Tujuan Penelitian Bahan Baku Jamur Hasil Penelitian A.Sharma dkk B.O.Aderemi dkk Ming Chen dkk (2000)

A.Sharma dkk

B.O.Aderemi dkk

Ming Chen dkk

(2000)

(2008)

(2007)

Men-crosslink selulase

Merekayasa pengolahan awal

Pengolahan awal jerami jagung

A.niger dengan glutaraldehyde.

jerami padi, konsentrasi substrat

dengan penambahan NaOH 2% pada 80 o C selama 1 jam. Penambahan tween-80

dan jumlah sel A.niger

Mendapatkan preparat enzim

Menghasilkan glukosa dengan

Menghasilkan gula pereduksi

dengan suhu panas yang

memanfaatkan A.niger yang

dari polisakarida jerami jagung

stabil untuk hidrolisis

diisolasi dari biji jagung

melalui hidrolisis enzimatik

selulosa

Sekam padi.

Jerami padi.

Jerami jagung.

Aspergillus niger

Aspergillur niger

 

hasil hidrolisisnya lebih efektif yaitu berupa 2.2

hasil percobaan menunjukkan akurasi yang baik terhadap model

Hasil hidrolisis dari proses fed- batch memiliki 56.7gram/liter

mg/ml glukosa dan

teoritis, yakni dengan deviasi

glukosa, 23.6 gram/liter xilose

saccharifikasi lainnya sebanyak 38 % lebih besar dari enzim bebas pada

absolut rata-rata sebesar 0,2. Berdasarkan penelitian tersebut, dapat ditunjukkan pada temperatur 50 o C dan PH 4.5-5, proses berjalan dengan optimal.

dan 5.7 gram/liter arabinose.

kondisi yang sama.

50 o C dan PH 4.5-5, proses berjalan dengan optimal. dan 5.7 gram/liter arabinose. kondisi yang

Tinjauan Pustaka

Glukosa

Tinjauan Pustaka Glukosa Berdasarkan bentuknya, molekul glukosa dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu molekul D-Glukosa
Tinjauan Pustaka Glukosa Berdasarkan bentuknya, molekul glukosa dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu molekul D-Glukosa

Berdasarkan bentuknya, molekul glukosa dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu molekul D-Glukosa dan L-

Glukosa.

Faktor yang menjadi penentu dari

bentuk glukosa ini adalah posisi

gugus hidrogen (-H) dan alkohol (

OH) dalam struktur molekulnya.

Rumus bangun glukosa : C 6 H 12 O 6

Glukosa juga kadang-kadang di

sebut sebagai gula darah.

molekulnya. Rumus bangun glukosa : C 6 H 1 2 O 6 Glukosa juga kadang-kadang di

Tinjauan Pustaka

Jerami Padi

Tabel 1. Kandungan Jerami Padi

 

Komponen

Komposisi (%)

Kandungan nutrisi dlm basis kering (%)

 

(Dewi, 2002)

(Dobermann dan Fairhurst, 2002)

Selulosa

37,71

 

Hemiselulosa

21,99

 

Lignin

16,62

 

N

 

0,5-0,8

P

2 O 5

 

0,16-0,27

K

2 O

 

1,4-2,0

S

 

0,05-0,1

Si

 

4,0-7,0

P 2 O 5   0,16-0,27 K 2 O   1,4-2,0 S   0,05-0,1 Si  
P 2 O 5   0,16-0,27 K 2 O   1,4-2,0 S   0,05-0,1 Si  

Tinjauan Pustaka

Enzim Selulase

Tinjauan Pustaka Enzim Selulase Exo β-1,4-cellobiohydrolase Crystaline cellulose Cellobiohydrolase + Endo
Exo β-1,4-cellobiohydrolase Crystaline cellulose Cellobiohydrolase + Endo β-1,4-glucanase
Exo β-1,4-cellobiohydrolase
Crystaline cellulose
Cellobiohydrolase +
Endo β-1,4-glucanase

Cellobiose

β-glucosidase

Glucose

+ Endo β-1,4-glucanase Cellobiose β -glucosidase Glucose Exo β-1,4-glucan glucohydrolase Endo β -1,4-glucanase
Exo β-1,4-glucan glucohydrolase
Exo β-1,4-glucan glucohydrolase

Endo β-1,4-glucanase

Amorphous cellulose, Swollen cellulose,

Soluble derivative of cellulose,

Cellodextrin

cellulose, Soluble derivative of cellulose, Cellodextrin Tiga komponen yang telah teridentifikasi dalam selulase

Tiga komponen yang telah teridentifikasi dalam selulase adalah endoglukanase (endo- -1,4- D-glukan-4-glukanohidrolase, E.C. 3.2.1.4) yang memecah ikatan -1,4 pada rantai selulosa secara acak, eksoglukanase ( -1,4-D-glukan-selobiohidrolase, E.C. 3.2.1.91) yang memecahkan satuan selobiosa

E.C. 3.2.1.91) yang memecahkan satuan selobiosa dari ujung rantai dan -glukosidase (E.C. 3.2.1.21) yang
E.C. 3.2.1.91) yang memecahkan satuan selobiosa dari ujung rantai dan -glukosidase (E.C. 3.2.1.21) yang

dari ujung rantai dan -glukosidase (E.C. 3.2.1.21) yang memecahkan selobiosa menjadi glukosa

(Dahot dan Noomrio,1996).

Trichoderma reesei

Trichoderma reesei Ciri – ciri :  Trichoderma reesei mampu menghasilkan endo- β -1,4-glukanase dan ekso-

Ciri ciri :

Trichoderma reesei mampu menghasilkan endo-β-1,4-glukanase dan

ekso-β-1,4- glukanase sampai 80% tetapi β-glukosidasenya rendah

(Martins dkk,2008).

Tumbuh pada kisaran suhu optimal 22-30 o C (Pelczar dan Chen, 1986) sedangkan menurut (Enari, 1983) suhu optimal untuk pertumbuhan adalah 32-35 o C, pH optimal sekitar 4,0

Chen, 1986) sedangkan menurut (Enari, 1983) suhu optimal untuk pertumbuhan adalah 32-35 o C, pH optimal
Chen, 1986) sedangkan menurut (Enari, 1983) suhu optimal untuk pertumbuhan adalah 32-35 o C, pH optimal

Aspergillus niger

Aspergillus niger Ciri – ciri :  Tumbuh pada suhu 35-37 o C (optimum), 6-8 o

Ciri ciri :

Tumbuh pada suhu 35-37 o C (optimum), 6-8 o C (minimum), 45-47 o C( maksimum)

Memerlukan oksigen yang cukup (aerobik)

Aspergillus niger dapat menghasilkan β-glukosidase tinggi tapi endo-β-1,4-glukanase dan ekso-β-1,4-glukanasenya rendah.

niger dapat menghasilkan β -glukosidase tinggi tapi endo- β -1,4-glukanase dan ekso- β -1,4-glukanasenya rendah.
niger dapat menghasilkan β -glukosidase tinggi tapi endo- β -1,4-glukanase dan ekso- β -1,4-glukanasenya rendah.

Media Fermentasi

Media Fermentasi berfungsi sebagai sumber nutrisi bagi pertumbuhan jamur.

Unsur-unsur yang terkandung dalam media fermentasi :

Karbon : berfungsi sebagai unsur utama dalam pembentukan sel.

Nitrogen : berfungsi dalam pembentukan asam amino, DNA, RNA dan ATP.

Hidrogen : berfungsi dalam pembentukan sel.

Oksigen : berfungsi dalam pembentukan sel.

Phospor : berfungsi sebagai kofaktor enzim dan pembentukan asam nukleat.

Sulfur : berfungsi sebagai kofaktor enzim.

Kalium : berfungsi sebagai kofaktor enzim.

Magnesium : berfungsi untuk menjaga kestabilan ribosom, membran sel

dan

asam nukleat; sebagai kofaktor enzim, sebagai komponen dari klorofil

Kalsium : berfungsi sebagai kofaktor enzim.

dan asam nukleat; sebagai kofaktor enzim, sebagai komponen dari klorofil  Kalsium : berfungsi sebagai kofaktor
dan asam nukleat; sebagai kofaktor enzim, sebagai komponen dari klorofil  Kalsium : berfungsi sebagai kofaktor

Media Fermentasi

Tabel 2. Komposisi media untuk produksi enzim selulase

Bahan

Konsentrasi (gr/L dalam buffer asetat 0,1 M pH

5,5)

Ekstrak yeast

2,5

(NH 4 ) 2 SO 4

0,35

KH 2 PO 4

0,5

CaCl 2 .2H 2 O

0,1

MgSO 4 .7H 2 O

0,075

FeSO 4 .7H 2 O

0,00125

MnSO 4 .H 2 O

0,004

ZnSO 4 .7H 2 O

0,00035

O 0,075 FeSO 4 .7H 2 O 0,00125 MnSO 4 .H 2 O 0,004 ZnSO 4
O 0,075 FeSO 4 .7H 2 O 0,00125 MnSO 4 .H 2 O 0,004 ZnSO 4

Variabel Penelitian

Kondisi Operasi :

Volume cairan

=

150 mL

Tekanan operasi

=

1 atm

Jenis substrat

=

Jerami padi

Pengadukan

=

Pitch blade

Laju pengadukan

=

160 rpm

pH Awal

= 5,5

Berat substrat

=

5 gram

Temperatur operasi Ukuran partikel substrat

= 40 C = 100-120 mesh

Variabel Penelitian :

Ratio enzim/substrat jerami padi = 70; 93; 116,5; 139,5 IU/5 gr jerami padi (Rasio Enzim dari T.reesei/ A.niger)/ gr substrat = (2/1)/ 5 gr; (2/2)/ 5 gr;

(1/2)/5 gr; (0/2)/ 5 gr; dan enzim komersial (0/2)/5 gr.

T.reesei / A.niger )/ gr substrat = (2/1)/ 5 gr; (2/2)/ 5 gr; (1/2)/5 gr; (0/2)/
T.reesei / A.niger )/ gr substrat = (2/1)/ 5 gr; (2/2)/ 5 gr; (1/2)/5 gr; (0/2)/

Metode Penelitian

Metode Penelitian dibagi dalam 3 tahap, yaitu:

1.

Tahap pre-treatment jerami padi.

2. Tahap produksi enzim selulase dari jamur

Trichoderma reesei dan Aspergillus niger .

3. Tahap hidrolisis jerami padi.

Tahap produksi enzim selulase dari jamur Trichoderma reesei dan Aspergillus niger . 3. Tahap hidrolisis jerami
Tahap produksi enzim selulase dari jamur Trichoderma reesei dan Aspergillus niger . 3. Tahap hidrolisis jerami
Tahap pre-treatment jerami padi di bagi dalam beberapa tahap : 1. Tahap pre-treatment jerami padi

Tahap pre-treatment jerami padi di bagi dalam beberapa tahap :

1.

Tahap pre-treatment jerami padi secara mekanik.

2.

Tahap pre-treatment jerami padi secara kimiawi.

1. Tahap pre-treatment jerami padi secara mekanik :

Mengeringkan jerami padi dengan bantuan sinar matahari selama 12 jam.

jerami padi dengan bantuan sinar matahari selama 12 jam. Memotong jerami padi dengan ukuran ± 1

Memotong jerami padi dengan ukuran ± 1 cm.

selama 12 jam. Memotong jerami padi dengan ukuran ± 1 cm. Menggiling jerami padi dengan mesin

Menggiling jerami padi dengan mesin penggiling.

± 1 cm. Menggiling jerami padi dengan mesin penggiling. Mengoven jerami padi yang telah di giling

Mengoven jerami padi yang telah di giling pada suhu 104°C selama 4 jam.

padi yang telah di giling pada suhu 104°C selama 4 jam. Mengayak jerami padi dengan menggunakan

Mengayak jerami padi dengan menggunakan screener.

selama 4 jam. Mengayak jerami padi dengan menggunakan screener. Mengambil serbuk jerami padi yang berukuran 100-120

Mengambil serbuk jerami padi yang berukuran 100-120 mesh.

selama 4 jam. Mengayak jerami padi dengan menggunakan screener. Mengambil serbuk jerami padi yang berukuran 100-120
selama 4 jam. Mengayak jerami padi dengan menggunakan screener. Mengambil serbuk jerami padi yang berukuran 100-120

2. Tahap pre-treatment jerami padi secara kimiawi :

Menimbang 60 gr serbuk jerami padi 100-120 mesh dan memasukkan kedalam Erlenmeyer 1000 ml.

padi 100-120 mesh dan memasukkan kedalam Erlenmeyer 1000 ml. Memasukkan 900 ml aquadest ke dalam erlenmeyer

Memasukkan 900 ml aquadest ke dalam erlenmeyer dan menambahkan NaOH 1% ke dalam erlenmeyer.

erlenmeyer dan menambahkan NaOH 1% ke dalam erlenmeyer. Memanaskan dan mengaduk dengan stirer selama 8 jam

Memanaskan dan mengaduk dengan stirer selama 8 jam pada suhu 80°C.

dan mengaduk dengan stirer selama 8 jam pada suhu 80°C. Larutan dipisahkan dengan pompa vakum dan

Larutan dipisahkan dengan pompa vakum dan kertas saring.

Larutan dipisahkan dengan pompa vakum dan kertas saring. Padatan jerami padi yang telah terpisah lalu di

Padatan jerami padi yang telah terpisah lalu di bilas dengan air hangat

Sampai pH 7.

terpisah lalu di bilas dengan air hangat Sampai pH 7. Padatan jerami padi di oven pada

Padatan jerami padi di oven pada suhu 100°C selama 2 jam.

Padatan jerami padi di oven pada suhu 100°C selama 2 jam. Padatan jerami padi dihaluskan dengan

Padatan jerami padi dihaluskan dengan blender dan di ayak.

Padatan jerami padi dihaluskan dengan blender dan di ayak. Padatan jerami padi yang sudah halus di

Padatan jerami padi yang sudah halus di simpan dalam kemasan tertutup

jerami padi dihaluskan dengan blender dan di ayak. Padatan jerami padi yang sudah halus di simpan
jerami padi dihaluskan dengan blender dan di ayak. Padatan jerami padi yang sudah halus di simpan
1. Tahap pembiakan strain T. reesei dan A. niger. Menimbang 3,9 gr PDA (potato dextrose

1. Tahap pembiakan strain T. reesei dan A. niger.

Menimbang 3,9 gr PDA (potato dextrose agar) dan memasukkan kedalam

Beaker glass 250 ml

dextrose agar) dan memasukkan kedalam Beaker glass 250 ml Menambahkan 100 ml aquadest ke dalam beaker

Menambahkan 100 ml aquadest ke dalam beaker glass.

250 ml Menambahkan 100 ml aquadest ke dalam beaker glass. Memanaskan dan mengaduk dengan stirer sampai

Memanaskan dan mengaduk dengan stirer sampai larutan menjadi bening.

dan mengaduk dengan stirer sampai larutan menjadi bening. Menuangkan 5 ml larutan PDA kedalam tabung reaksi.

Menuangkan

5 ml larutan PDA kedalam tabung reaksi.

bening. Menuangkan 5 ml larutan PDA kedalam tabung reaksi. Mensterilisasi tabung reaksi yang berisi larutan PDA

Mensterilisasi tabung reaksi yang berisi larutan PDA pada suhu 121 C selama 15 menit.

yang berisi larutan PDA pada suhu 121 C selama 15 menit. Memiringkan tabung reaksi yang berisi

Memiringkan tabung reaksi yang berisi PDA hingga agar menjadi padat dan Menginokulasi jamur T.reesei dan A.niger.

menjadi padat dan Menginokulasi jamur T.reesei dan A.niger. Menginkubasi tabung reaksi yang berisi T.reesei dan A.niger

Menginkubasi tabung reaksi yang berisi T.reesei dan A.niger pada suhu 30 C selama

7 hari.

jamur T.reesei dan A.niger. Menginkubasi tabung reaksi yang berisi T.reesei dan A.niger pada suhu 30 C
jamur T.reesei dan A.niger. Menginkubasi tabung reaksi yang berisi T.reesei dan A.niger pada suhu 30 C

2. Tahap produksi enzim selulase dari jamur T.reesei dan A.niger.

Menimbang 5 gr jerami padi dan memasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml.

5 gr jerami padi dan memasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml. Menambahkan 25 ml larutan media

Menambahkan 25 ml larutan media fermentasi kedalam erlenmeyer tersebut.

25 ml larutan media fermentasi kedalam erlenmeyer tersebut. Mensterilisasi erlenmeyer yang berisi jerami padi pada suhu

Mensterilisasi erlenmeyer yang berisi jerami padi pada suhu 121 C selama 15 menit.

yang berisi jerami padi pada suhu 121 C selama 15 menit. Menginokulasi strain T.reesei dan A.niger

Menginokulasi strain T.reesei dan A.niger dari agar miring sebanyak 2 cm 2 ke dalam Erlenmeyer.

dari agar miring sebanyak 2 cm 2 ke dalam Erlenmeyer. Menginkubasi erlenmeyer yang berisi T.reesei dan

Menginkubasi erlenmeyer yang berisi T.reesei dan A.niger pada suhu 30 C selama 7 hari.

berisi T.reesei dan A.niger pada suhu 30 C selama 7 hari. Jerami padi yang telah di

Jerami padi yang telah di tumbuhi jamur T.reesei dan A.niger kemudian menambahkan

100 ml buffer asetat 0,1 M pH 5,5 yang berisi 0,1% tween 80.

100 ml buffer asetat 0,1 M pH 5,5 yang berisi 0,1% tween 80. Mengocok dengan shaker

Mengocok dengan shaker selama 135 menit dengan kecepatan 175 rpm.

dengan shaker selama 135 menit dengan kecepatan 175 rpm. Mensentrifugasi selama 1 jam dengan kecepatan 5000

Mensentrifugasi selama 1 jam dengan kecepatan 5000 rpm

rpm. Mensentrifugasi selama 1 jam dengan kecepatan 5000 rpm Melakukan filtrasi dengan kertas saring untuk memisahkan

Melakukan filtrasi dengan kertas saring untuk memisahkan filtrat dengan mycelia Beserta endapan media di dalamnya.

rpm Melakukan filtrasi dengan kertas saring untuk memisahkan filtrat dengan mycelia Beserta endapan media di dalamnya.
rpm Melakukan filtrasi dengan kertas saring untuk memisahkan filtrat dengan mycelia Beserta endapan media di dalamnya.

3. Tahap pengujian enzim selulase.

Tahap pengujian enzim selulase dilakukan dalam beberapa bagian :

1. Tahap pembuatan kurva standart glukosa untuk menguji keaktifan enzim selulase.

2. Tahap pengujian enzim selulase.

3.1 Tahap pembuatan kurva standart glukosa untuk menguji

keaktifan enzim selulase.

Menimbang 0,3639 gr glukosa dan memasukkan ke dalam labu takar 100 ml.

0,3639 gr glukosa dan memasukkan ke dalam labu takar 100 ml. Menambahkan 100 ml buffer asetat

Menambahkan 100 ml buffer asetat 0,1 M pH 5,5 ke dalam labu takar tersebut.

ml buffer asetat 0,1 M pH 5,5 ke dalam labu takar tersebut. Mengencerkan larutan induk standart

Mengencerkan larutan induk standart menggunakan buffer asetat 0,1 M pH 5,5 Hingga di peroleh variasi konsentrasi antara 0 sampai 2 µM

Hingga di peroleh variasi konsentrasi antara 0 sampai 2 µM Mengambil dan memasukkan 0,2 ml dari

Mengambil dan memasukkan 0,2 ml dari tiap konsentrasi larutan standart glukosa Dan menambahkan 1,8 ml CMC (carboxymetil cellulose) ke dalam tabung reaksi.

A
A
tiap konsentrasi larutan standart glukosa Dan menambahkan 1,8 ml CMC ( carboxymetil cellulose ) ke dalam
tiap konsentrasi larutan standart glukosa Dan menambahkan 1,8 ml CMC ( carboxymetil cellulose ) ke dalam
A
A

Menginkubasi pada suhu 35 C selama 10 menit

A Menginkubasi pada suhu 35 C selama 10 menit Menambahkan 3 ml DNS ( dinitrosalicylic acid)

Menambahkan 3 ml DNS (dinitrosalicylic acid) kedalam tabung reaksi.

3 ml DNS ( dinitrosalicylic acid) kedalam tabung reaksi. Memvortex larutan tersebut dan memanaskan di air

Memvortex larutan tersebut dan memanaskan di air mendidih selam 10 menit.

tersebut dan memanaskan di air mendidih selam 10 menit. Mendinginkan campuran tersebut dengan air es selama

Mendinginkan campuran tersebut dengan air es selama 5 menit.

Mendinginkan campuran tersebut dengan air es selama 5 menit. Mengukur absorbansi dengan panjang gelombang 540 nm.

Mengukur absorbansi dengan panjang gelombang 540 nm.

menit. Mengukur absorbansi dengan panjang gelombang 540 nm. Membuat kurva kalibrasi dengan mengeplot konsentrasi glukosa

Membuat kurva kalibrasi dengan mengeplot konsentrasi glukosa dengan absorbansi.

dengan panjang gelombang 540 nm. Membuat kurva kalibrasi dengan mengeplot konsentrasi glukosa dengan absorbansi.
dengan panjang gelombang 540 nm. Membuat kurva kalibrasi dengan mengeplot konsentrasi glukosa dengan absorbansi.

3.2 Tahap pengujian keaktifan enzim.

Larutan Blanko.

Memasukkan 2 ml buffer asetat 0,1 M pH 5,5 kedalam tabung reaksi.

2 ml buffer asetat 0,1 M pH 5,5 kedalam tabung reaksi. Menginkubasi pada suhu 35 C

Menginkubasi pada suhu 35 C selama 10 menit.

tabung reaksi. Menginkubasi pada suhu 35 C selama 10 menit. Menambahkan 3 ml larutan DNS (

Menambahkan 3 ml larutan DNS (Dinitrosalicylic Acid)

Menambahkan 3 ml larutan DNS ( Dinitrosalicylic Acid ) Memanaskan campuran di air mendidih selama 10

Memanaskan campuran di air mendidih selama 10 menit dan mendinginkan

Campuran tersebut di air es selama 5 menit

mendinginkan Campuran tersebut di air es selama 5 menit Menggunakan larutan sebagai blanko (absorbansi = 0)

Menggunakan larutan sebagai blanko (absorbansi = 0)

Uji aktifitas sebelum di koreksi

Memipet 0,2 ml enzim selulase dan menambahkan 1,8 ml CMC.

Memipet 0,2 ml enzim selulase dan menambahkan 1,8 ml CMC. Mengocok dengan vortex dan menginkubasi pada

Mengocok dengan vortex dan menginkubasi pada suhu 35 C selama 10 menit.

vortex dan menginkubasi pada suhu 35 C selama 10 menit. Menambahkan 3 ml DNS dan memanaskan

Menambahkan 3 ml DNS dan memanaskan campuran tersebut di dalam air mendidih Selama 10 menit.

campuran tersebut di dalam air mendidih Selama 10 menit. Mendinginkan campuran tersebut di air es selama

Mendinginkan campuran tersebut di air es selama 5 menit dan mengukur absorbansi Dengan panjang gelombang 540 nm terhadap larutan blanko.

tersebut di air es selama 5 menit dan mengukur absorbansi Dengan panjang gelombang 540 nm terhadap

Larutan koreksi.

Memipet 0,2 ml enzim selulase dan menambahkan 3 ml DNS.

Memipet 0,2 ml enzim selulase dan menambahkan 3 ml DNS. Mengocok dengan vortex dan menginkubasi pada

Mengocok dengan vortex dan menginkubasi pada suhu 35 C selama 10 menit.

vortex dan menginkubasi pada suhu 35 C selama 10 menit. Menambahkan 1,8 ml CMC dan memanaskan

Menambahkan 1,8 ml CMC dan memanaskan campuran tersebut di air mendidih selama 10 menit.

campuran tersebut di air mendidih selama 10 menit. Mendinginkan campuran tersebut di air es selama 5

Mendinginkan campuran tersebut di air es selama 5 menit dan mengukur absorbansi Dengan panjang gelombang 540 nm terhadap larutan blanko.

tersebut di air es selama 5 menit dan mengukur absorbansi Dengan panjang gelombang 540 nm terhadap
tersebut di air es selama 5 menit dan mengukur absorbansi Dengan panjang gelombang 540 nm terhadap

Tahap Hidrolisis Jerami Padi

1. Tahap pembuatan kurva standart glukosa untuk hidrolisis

jerami padi menjadi glukosa.

Menimbang 0,3676 gr glukosa dan memasukkan ke dalam labu takar 100 ml.

0,3676 gr glukosa dan memasukkan ke dalam labu takar 100 ml. Menambahkan 100 ml buffer asetat

Menambahkan 100 ml buffer asetat 0,1 M pH 5,5.

takar 100 ml. Menambahkan 100 ml buffer asetat 0,1 M pH 5,5. Mengencerkan larutan standart glukosa

Mengencerkan larutan standart glukosa 20,42 mM sesuai dengan variabel 0-2 mM

dengan buffer asetat pH 5,5 kedalam tabung reaksi.

0-2 mM dengan buffer asetat pH 5,5 kedalam tabung reaksi. Mengambil dan memasukkan 0,2 ml dari

Mengambil dan memasukkan 0,2 ml dari tiap konsentrasi larutan standart glukosa

dan menambahkan 1,8 ml aquadest kedalam tabung reaksi.

dan menambahkan 1,8 ml aquadest kedalam tabung reaksi. Menambahkan 3 ml DNS (dinitrosalicylic acid) kedalam

Menambahkan 3 ml DNS (dinitrosalicylic acid) kedalam tabung reaksi dan

Memvortex campuran tersebut.

kedalam tabung reaksi dan Memvortex campuran tersebut. Memanaskan campuran tersebut di air mendidih selama 10 menit

Memanaskan campuran tersebut di air mendidih selama 10 menit dan mendinginkan

Campuran tersebut di air es selama 5 menit.

di air mendidih selama 10 menit dan mendinginkan Campuran tersebut di air es selama 5 menit.

Membuat kurva kalibrasi.

di air mendidih selama 10 menit dan mendinginkan Campuran tersebut di air es selama 5 menit.

2. Tahap hidrolisis jerami padi.

Menimbang 5 gr jerami padi yang sudah di delignifikasi (pre-treatment secara kimiawi) Dan memasukkan kedalam beaker glass 250 ml.

secara kimiawi) Dan memasukkan kedalam beaker glass 250 ml. Mencampurkan enzim selulase dari A.niger dan T.reesei

Mencampurkan enzim selulase dari A.niger dan T.reesei yang sudah diketahui Aktifitasnya dengan perbandingan rasio enzim T.reesei dan A.niger berdasarkan Variabel dan di panaskan pada suhu 40 C.

berdasarkan Variabel dan di panaskan pada suhu 40 C. Mencampurkan enzim selulase tersebut kedalam jerami padi.

Mencampurkan enzim selulase tersebut kedalam jerami padi.

C. Mencampurkan enzim selulase tersebut kedalam jerami padi. Menganalisa konsentrasi glukosa dalam hidrolisat dengan

Menganalisa konsentrasi glukosa dalam hidrolisat dengan metode DNS Dan setiap selang waktu tertentu.

3. Tahap analisa kadar glukosa .

Mengambil 0,2 ml sampel setiap selang waktu tertentu dan menambahkan 1,8 ml aquadest

setiap selang waktu tertentu dan menambahkan 1,8 ml aquadest Menambahkan 3 ml DNS dan memvortex campuran

Menambahkan 3 ml DNS dan memvortex campuran tersebut.

Menambahkan 3 ml DNS dan memvortex campuran tersebut. Memanaskan di air mendidih selama 10 menit dan

Memanaskan di air mendidih selama 10 menit dan mendinginkan di air es selama 5 menit.

mendidih selama 10 menit dan mendinginkan di air es selama 5 menit. Mengukur absorbansi dengan panjang

Mengukur absorbansi dengan panjang gelombang 540 nm.

mendidih selama 10 menit dan mendinginkan di air es selama 5 menit. Mengukur absorbansi dengan panjang

Hasil Penelitian

2.0 1.5 1.0 Temperatur 35 C Temperatur 40 C Temperatur 50 C 0.5 Temperatur 60
2.0
1.5
1.0
Temperatur 35 C
Temperatur 40 C
Temperatur 50 C
0.5
Temperatur 60 C
0.0
33
4
5
6
AKTIFITAS (IU/ml)

pH

Gambar I. Aktifitas Enzim

selulase dari T.reesei (IU/ml) dengan Temperatur pada

berbagai pH.

2.0 1.5 1.0 0.5 0.0 60 35 40 50 AKTIFITAS (IU/ml)
2.0
1.5
1.0
0.5
0.0
60
35
40
50
AKTIFITAS (IU/ml)

TEMPERATUR (°C)

pH = 32.0 1.5 1.0 0.5 0.0 60 35 40 50 AKTIFITAS (IU/ml) TEMPERATUR ( °C) pH =

pH = 42.0 1.5 1.0 0.5 0.0 60 35 40 50 AKTIFITAS (IU/ml) TEMPERATUR ( °C) pH =

pH =52.0 1.5 1.0 0.5 0.0 60 35 40 50 AKTIFITAS (IU/ml) TEMPERATUR ( °C) pH =

pH =62.0 1.5 1.0 0.5 0.0 60 35 40 50 AKTIFITAS (IU/ml) TEMPERATUR ( °C) pH =

Gambar II. Aktifitas Enzim

selulase dari T.reesei (IU/ml) dengan pH pada berbagai

temperatur.

dari T.reesei (IU/ml) dengan pH pada berbagai temperatur. Pada Grafik I dan II dapat terlihat dimana

Pada Grafik I dan II dapat terlihat dimana enzim selulase dari T.reesei memiliki temperatur optimum sebesar 60°C

dan pH optimum sebesar 3,0.

dapat terlihat dimana enzim selulase dari T.reesei memiliki temperatur optimum sebesar 60°C dan pH optimum sebesar
2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0 3 4 5 6 AKTIFITAS (IU/ml)
2.5
2.0
1.5
1.0
0.5
0.0
3
4
5
6
AKTIFITAS (IU/ml)

pH

Temperatur 35 C2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0 3 4 5 6 AKTIFITAS (IU/ml) pH Temperatur 40 C

Temperatur 40 C2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0 3 4 5 6 AKTIFITAS (IU/ml) pH Temperatur 35 C

Temperatur 50 C2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0 3 4 5 6 AKTIFITAS (IU/ml) pH Temperatur 35 C

Temperatur 60 C2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0 3 4 5 6 AKTIFITAS (IU/ml) pH Temperatur 35 C

Gambar III. Aktifitas Enzim selulase dari A.niger (IU/ml) dengan Temperatur pada berbagai pH.

2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0 3 40 50 60 5 TEMPERATUR (°C) AKTIFITAS (IU/ml)
2.5
2.0
1.5
1.0
0.5
0.0
3
40
50
60
5
TEMPERATUR (°C)
AKTIFITAS (IU/ml)

pH =32.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0 3 40 50 60 5 TEMPERATUR (°C) AKTIFITAS (IU/ml) pH

pH =42.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0 3 40 50 60 5 TEMPERATUR (°C) AKTIFITAS (IU/ml) pH

pH =52.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0 3 40 50 60 5 TEMPERATUR (°C) AKTIFITAS (IU/ml) pH

pH = 62.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0 3 40 50 60 5 TEMPERATUR (°C) AKTIFITAS (IU/ml) pH

Gambar IV. Aktifitas Enzim selulase dari A.niger (IU/ml) dengan pH pada berbagai temperatur.

Pada Grafik III dan IV dapat terlihat dimana enzim selulase dari A.niger memiliki

temperatur optimum sebesar 50°C dan pH optimum sebesar 3,0.

dapat terlihat dimana enzim selulase dari A.niger memiliki temperatur optimum sebesar 50°C dan pH optimum sebesar
dapat terlihat dimana enzim selulase dari A.niger memiliki temperatur optimum sebesar 50°C dan pH optimum sebesar

Kadar selulosa jerami padi = 38,81 %

Kadar lignin jerami padi = 5,78 %

Kurva standart untuk menguji keaktifan enzim

2.5 2 y = 2.754x R² = 0.974 1.5 1 0.5 0 0 0.2 0.4
2.5
2
y = 2.754x
= 0.974
1.5
1
0.5
0
0
0.2
0.4
0.6
0.8
kONSENTRASI (µmol/ml)

ABSORBANSI

1 0.5 0 0 0.2 0.4 0.6 0.8 kONSENTRASI (µmol/ml) ABSORBANSI Kurva Standar Glukosa Linear (Kurva

Kurva Standar Glukosa

Linear (Kurva Standar Glukosa)

Aktifitas enzim selulase dari T.reesei = 1,6077 IU/ml Aktifitas enzim selulase dari A.niger = 1,6807 IU/ml

Glukosa) Aktifitas enzim selulase dari T.reesei = 1,6077 IU/ml Aktifitas enzim selulase dari A.niger = 1,6807

Kurva standart untuk hidrolisis jerami padi menjadi glukosa.

4 y = 10.40x R² = 0.803 3 2 1 0 0 0.1 0.2 0.3
4
y = 10.40x
R² = 0.803
3
2
1
0
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
C glukosa di sampel (g/L)

Absorbansi

glukosa. 4 y = 10.40x R² = 0.803 3 2 1 0 0 0.1 0.2 0.3
Perbandingan 2 T.reesei : 1 A.niger = 6,364 g/L Perbandingan 2 T.reesei : 2 A.niger

Perbandingan 2 T.reesei : 1 A.niger = 6,364 g/L

Perbandingan 2 T.reesei : 2 A.niger = 5,893 g/L Perbandingan 1 T.reesei : 2 A.niger = 4,208 g/L

Perbandingan 0 T.reesei : 2 A.niger = 3,557 g/L

Perbandingan 2 T.reesei : 0 A.niger = 5,888 g/L Enzim komersial 0 T.reesei : 2 A.niger = 4,244 g/L

Gambar V. Hidrolisis jerami padi dengan konsentrasi enzim 70 IU/ml dengan berbagai perbandingan enzim selulase T.reesei dan A.niger selama 7 jam.

padi dengan konsentrasi enzim 70 IU/ml dengan berbagai perbandingan enzim selulase T.reesei dan A.niger selama 7
Perbandingan 2 T.reesei : 1 A.niger = 6,634g/L Perbandingan 2 T.reesei : 2 A.niger =

Perbandingan 2 T.reesei : 1 A.niger = 6,634g/L

Perbandingan 2 T.reesei : 2 A.niger = 6,843 g/L Perbandingan 1 T.reesei : 2 A.niger = 5,350 g/L

Perbandingan 0 T.reesei : 2 A.niger = 4,094 g/L

Perbandingan 2 T.reesei : 0 A.niger = 5,763 g/L Enzim komersial 0 T.reesei : 2 A.niger = 4,692 g/L

Gambar VI. Hidrolisis jerami padi dengan konsentrasi enzim 93 IU/ml dengan berbagai perbandingan enzim selulase T.reesei dan A.niger selama 7 jam.

padi dengan konsentrasi enzim 93 IU/ml dengan berbagai perbandingan enzim selulase T.reesei dan A.niger selama 7
padi dengan konsentrasi enzim 93 IU/ml dengan berbagai perbandingan enzim selulase T.reesei dan A.niger selama 7
Perbandingan 2 T.reesei : 1 A.niger = 8,095 g/L Perbandingan 2 T.reesei : 2 A.niger

Perbandingan 2 T.reesei : 1 A.niger = 8,095 g/L Perbandingan 2 T.reesei : 2 A.niger = 7,553 g/L Perbandingan 1 T.reesei : 2 A.niger = 5,435 g/L

Perbandingan 0 T.reesei : 2 A.niger = 5,430 g/L

Enzim komersial 0 T.reesei : 2 A.niger = 5,495 g/L

Gambar VII. Hidrolisis jerami padi dengan konsentrasi enzim 116,5 IU/ml dengan berbagai perbandingan enzim selulase T.reesei dan A.niger selama 7 jam.

dengan konsentrasi enzim 116,5 IU/ml dengan berbagai perbandingan enzim selulase T.reesei dan A.niger selama 7 jam.
dengan konsentrasi enzim 116,5 IU/ml dengan berbagai perbandingan enzim selulase T.reesei dan A.niger selama 7 jam.

Konsentrasi glukosa (g/L)

10

8

6

4

2

0

Konsentrasi glukosa (g/L) 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 Waktu hidrolisis
Konsentrasi glukosa (g/L) 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 Waktu hidrolisis
Konsentrasi glukosa (g/L) 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 Waktu hidrolisis
Konsentrasi glukosa (g/L) 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 Waktu hidrolisis
Konsentrasi glukosa (g/L) 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 Waktu hidrolisis
Konsentrasi glukosa (g/L) 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 Waktu hidrolisis
Konsentrasi glukosa (g/L) 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 Waktu hidrolisis
Konsentrasi glukosa (g/L) 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 Waktu hidrolisis
Konsentrasi glukosa (g/L) 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 Waktu hidrolisis
Konsentrasi glukosa (g/L) 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 Waktu hidrolisis
Konsentrasi glukosa (g/L) 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 Waktu hidrolisis
Konsentrasi glukosa (g/L) 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 Waktu hidrolisis
Konsentrasi glukosa (g/L) 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 Waktu hidrolisis
Konsentrasi glukosa (g/L) 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 Waktu hidrolisis
Konsentrasi glukosa (g/L) 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 Waktu hidrolisis
Konsentrasi glukosa (g/L) 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 Waktu hidrolisis
Konsentrasi glukosa (g/L) 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 Waktu hidrolisis
Konsentrasi glukosa (g/L) 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 Waktu hidrolisis
Konsentrasi glukosa (g/L) 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 Waktu hidrolisis
Konsentrasi glukosa (g/L) 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 Waktu hidrolisis
Konsentrasi glukosa (g/L) 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 Waktu hidrolisis
Konsentrasi glukosa (g/L) 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 Waktu hidrolisis

0

2

4

6

8

Waktu hidrolisis (jam)

Komr - Tr:An = 0:2glukosa (g/L) 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 Waktu hidrolisis (jam)

Kasar - Tr:An = 0:28 6 4 2 0 0 2 4 6 8 Waktu hidrolisis (jam) Komr - Tr:An

Kasar - Tr:An = 1:28 6 4 2 0 0 2 4 6 8 Waktu hidrolisis (jam) Komr - Tr:An

Kasar - Tr:An = 2:28 6 4 2 0 0 2 4 6 8 Waktu hidrolisis (jam) Komr - Tr:An

Kasar - Tr:An = 2:18 6 4 2 0 0 2 4 6 8 Waktu hidrolisis (jam) Komr - Tr:An

Perbandingan 2 T.reesei : 1 A.niger = 8.978 g/L Perbandingan 2 T.reesei : 2 A.niger = 7,408 g/L Perbandingan 1 T.reesei : 2 A.niger = 5,312 g/L

Perbandingan 0 T.reesei : 2 A.niger = 5,052 g/L

Enzim komersial 0 T.reesei : 2 A.niger = 5,548 g/L

Gambar VIII. Hidrolisis jerami padi dengan konsentrasi enzim 139,5 IU/ml dengan berbagai perbandingan enzim selulase T.reesei dan A.niger selama 7 jam.

dengan konsentrasi enzim 139,5 IU/ml dengan berbagai perbandingan enzim selulase T.reesei dan A.niger selama 7 jam.
dengan konsentrasi enzim 139,5 IU/ml dengan berbagai perbandingan enzim selulase T.reesei dan A.niger selama 7 jam.

Kesimpulan

1. Kadar selulosa dalam jerami padi sebesar 38,81 % sedangkan kadar lignin dalam jerami padi sebesar 5,78 %.

2. Aktifitas enzim selulase dari T.reesei sebesar 1,6077 IU/ml sedangkan

aktifitas enzim selulase dari A.niger sebesar 1,6807 IU/ml.

3. Jerami padi yang akan di gunakan untuk hidrolisis perlu di pre-treatment

secara kimiawi yang bertujuan untuk menghilangkan struktur lignin dalam

jerami padi.

4. Pada hidrolisis dengan perbandingan 2 T.reesei dan 1 A.niger menghasilkan

konsentrasi glukosa yang lebih besar jika dibandingkan dengan

perbandingan T.reesei dan A.niger lainnya.

5. Hidrolisis jerami padi dengan konsentrasi enzim total 139,5 IU/ml

menghasilkan konsentrasi glukosa yang lebih besar dibandingkan dengan

konsentrasi enzim total lainnya.

total 139,5 IU/ml menghasilkan konsentrasi glukosa yang lebih besar dibandingkan dengan konsentrasi enzim total lainnya.

Sidang Skripsi Teknik Kimia ITS Surabaya

Sidang Skripsi Teknik Kimia ITS Surabaya Laboratorium Teknik Biokimia Jurusan Teknik Kimia FTI-ITS

Laboratorium Teknik Biokimia

Jurusan Teknik Kimia FTI-ITS

Sidang Skripsi Teknik Kimia ITS Surabaya Laboratorium Teknik Biokimia Jurusan Teknik Kimia FTI-ITS

Daftar Pustaka

Aderemi, B.O. , E. Abu, B. K. Highina (2008), “The Kinetics of

Glucose Production from Rice Straw by Aspergillus niger”, African Journal of Biotechnology Vol. 7 (11), 3 June, pp. 1745-1752.

Ahamed, A. P. Vermette (2008), “Culture-based Strategies to

Enhance Cellulase Enzyme Production from Trichoderma reesei

RUT-C30 in Bioreactor Culture Conditions”, Biochemical

Engineering Journal 40, 399407.

Ajayi, A.A, A.O. Adejuwon, O.K. Awojobi and P.O. Olutiola

(2007), “Effect of Cations and Chemicals on the Activity of Partially

Purified Cellulase from Tomato (Lycopersicon esculentum Mill) Fruits Deteriorated by Aspergillus”

Bailey, J.E., D.F. Ollis (1986), “Biochemical Engineering Fundamentals”, 2 nd Ed., McGraw-Hill International Edition, Singapore.

Ollis (1986), “ Biochemical Engineering Fundamentals ”, 2 n d Ed., McGraw-Hill International Edition, Singapore.

Daftar Pustaka

Bailey, M.J. and J. Tahtiharju (2003), “Efficient Cellulase Production by Trichoderma reesei in Continuous Cultivation on Lactose Medium with a Computer-Controlled Feeding Strategy”, Appl. Microbiol Biotechnology 62:156162.

Bak, J.S., J.K. Ko, Y.H. Han, B.C. Lee, I.G. Choi, K.H. Kim (2008), “Improved Enzymatic Hydrolysis Yield of Rice Straw Using Electron Beam Irradiation Pretreatment”, Bioresource Technology.

Bhat, M.K., and Bhat, S. (1997), “Cellulose Degrading Enzymes And

Their Potential Industrial Applications”, Biotechnology Advances, Vol. 15, Nos. 3/4, pp. 583-620.

Busto, M.D., N. Ortega & M. P. Mateos (1996), “Location, Kinetic and

Stability of Cellulases Induced in Trichoderma reesei

Cultures”, Bioresource Technology, 57, 187-192

Chen, S. and M. Wayman (1992), “Novel Inducers Derived from Starch for Cellulase Production by Trichoderma reesei”, Process

Biochemistry 27, 327-334

Novel Inducers Derived from Starch for Cellulase Production by Trichoderma reesei ”, Process Biochemistry 27, 327-334

Daftar Pustaka

Dahot, M.U., dan M.H. Noomrio (1996), “Microbial Production of

Cellulases by Aspergillus Fumigatus Using Wheat Straw as A Carbon

Source”, Journal of Islamic Academy of Sciences 9:4, 119-124.

Dewi (2002), “Hidrolisis Limbah Hasil Pertanian Secara

Enzimatik”, Akta Agrosia, Vol. 5, No. 2, hal. 67 – 71.

Dobermann, A., T.H. Fairhust (2002), “Rice Straw Management”, Better Crops International, Vol. 16, Special Supplement.

Hao, X.C., X.B. Yu and Zhong-Li Yan (2006), “Optimization of the

Medium for the Production of Cellulase by the Mutant Trichoderma

reesei WX-112 using Response Surface Methodology”, Food Technol. Biotechnol., 44 8994.

Haq, I., M. M. Javed, T. S. Khan and Z. Siddiq (2005), “Cotton

Saccharifying Activity of Cellulases Produced by Co-culture of Aspergillus niger and Trichoderma viride”, Research Journal of

Agriculture and Biological Sciences 1(3): 241-245.

of Aspergillus niger and Trichoderma viride ”, Research Journal of Agriculture and Biological Sciences 1(3): 241-245.

Daftar Pustaka

Juhasz, T., K. Kozma, Z. Szengyel, K. Reczey (2003), “Production of Glucosidase in Mixed Culture of Aspergillus niger BKMF 1305 and Trichoderma reesei RUT C30”, Food Technol. Biotechnol. 41 (1) 49–

-
-

53.

Lee, J.M. (1992), “Biochemical Engineering”, Prantice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey, hal. 83 94.

Li, C., M. Yoshimoto, N. Tsukuda, K. Fukunaga, K. Nakao

(2004),

Variety of Pulps for Its Enhancement with Continuous Ultrasonic

A Kinetic Study on Enzymatic Hydrolysis of a

Irradiation”, Biochemical Engineering Journal, 19, 155–164.

Martins, L.F., D. Kolling, M. Camassola, A.J.P. Dillon, L.P. Ramos

(2008), “Comparison of Penicillium echinulatum and Trichoderma

reesei Cellulases in Relation to Their Activity Against Various Cellulosic Substrates”, Bioresource Technology, 99, 1417–1424.

in Relation to Their Activity Against Various Cellulosic Substrates ”, Bioresource Technology, 99, 1417– 1424.

Daftar Pustaka

Milala, M.A., A. Shugaba, A. 1 1 1A. Gidado, 2A.C. Ene and 1J.A. Wafar

(2005), “Studies on the Use of Agricultural Wastes for Cellulase

Enzyme Production by Aspegillus niger”, Research Journal of Agriculture and Biological Sciences 1(4): 325-328.

Muthuvelayudham, R. and T. Viruthagiri (2006), “Fermentative

Production and Kinetics of Cellulase Protein on Trichoderma reesei Using Sugarcane Bagasse and Rice Straw”, African Journal of

Biotechnology Vol. 5 (20), 16 October, pp. 1873-1881.

Öhgren, K., R. Bura, J. Saddler, G. Zacchi (2007), “Effect of

Hemicellulose and Lignin Removal on enzymatic Hydrolysis of Steam

Pretreated Corn Stover”, Bioresource Technology, 98, 2503–2510

Ojumu, T. V., B.O. Solomon, B., E. Betiku, S.K. Layokun, and B.

Amigun (2003), “Cellulase Production by Aspergillus flavus Linn

Isolate NSPR 101 Fermented in Sawdust, Bagasse and Corncob”, African Journal of Biotechnology Vol. 2 (6), pp. 150–152.

NSPR 101 Fermented in Sawdust, Bagasse and Corncob ”, African Journal of Biotechnology Vol. 2 (6),

Daftar Pustaka

Raghavendra, B., Havnnavar, G.S., Geeta, “Pre-treatment of

Agroresidues for Release of Maximum Reducing Sugar”, Karnataka J.

Agric. Sci., 20 (4),

771-772.

Sabiham, S. and B. Mulyanto (2005), “Biomass Utilization in

Indonesia: Integration of Traditional and Modern Principles of

Organic Matter Management”, Paper is presented in APECATC Workshop on Biomass

Sehnem, N.T., L.R. de Bittencourt, M. Camassola . A.J. P. Dillon (2006), “Cellulase production by Penicillium echinulatum on

Lactose”, Appl Microbiol Biotechnol , 72: 163–167.

Xiang, Q., Y. Y. Lee, P.O. Pettersson, R.W. Torget (2003), “Heterogeneous Aspects of Acid Hydrolysis of

-
-

Cellulose”, Applied Biochemistry and Biotechnology, Vol. 105-

108, 505-514.

Aspects of Acid Hydrolysis of - Cellulose ”, Applied Biochemistry and Biotechnology, Vol. 105 - 108,