Anda di halaman 1dari 2

Berpuasa

Berpuasa adalah syariat dahulu kala yang diwarisi oleh para nabi dan rasul sampai kepada nabi
kita Muhammad shallahu alihi wasalam. Berpuasa menyimpan keberkatan dan kemanfaatan
yang banyak sekali, baik dari sisi agama maupun kehidupan. Oleh karena itu, islam
mensyariatkan amalan yang mulia ini bukan hanya pada bulan suci ramadhan. Selain puasa
ramadhan disana masih terdapat puasa-puasa yang lainnya, Ada yang wajib dan ada pula yang
sunnah. Yang wajib, misalnya seperti puasa qadha`, puasa kaffarah, dan puasa nadzar. Adapun
yang sunnah, misalnya seperti puasa nabi Daud yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka, Puasa
hari senin dan kamis, puasa hari-hari putih yaitu tanggal tiga belas, empat belas, dan limas belas
dari setiap pertengahan bulan hijriyah dan lain sebagainya.
Berpuasa disyariatkan oleh Allah melalui Rosul-Nya adalah dalam rangka meningkatkan mutu
ketakwaan kita. Disamping itu, berpuasa dapat menghindarkan kita dari segala gejolak hawa
nafsu dan syahwat yang menyesatkan. Singkatnya, dengan berpuasa, kita bisa menyelamatkan
diri dari amukan api neraka. Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, (yang artinya):
Berpuasa itu adalah tameng yang dengannya seorang hamba bisa membentengi diri dari amukan
api neraka. (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan yang selain keduanya, dari Abu Hurairah
radhiyallahu anhu, dengan sanad yang hasan)
Ya, berpuasa adalah tameng yang membentengi kita dari amukan api neraka. Bagaimana tidak?
Dengan berpuasa, kita telah menutup pintu-pintu syaithan yang berada dalam tubuh kita.
Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, (yang artinya):
Sesungguhnya syaithan itu mengalir pada diri seorang anak Adam laksana aliran darah. (HR.
Al Bukhari dan Muslim dari Shafiyyah radhiyallahu anha)
Maka dengan berpuasa, kita telah menutup pintu syaithan untuk menyelusup ke dalam diri kita.
Sebab kita telah meninggalkan makan, minum, dan syahwat kita selama berpuasa karena Allah.
Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah Taala berfirman, (yang artinya):
Setiap amalan anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu
adalah untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya. Dia meninggalkan makan, minum, dan
syahwatnya karena Aku. (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu)
Wahai segenap kaum muslimin, ketahuilah, bahwa lambung yang penuh merupakan sarang
syaithan yang paling kotor. Dari lambung yang penuh itu, dia akan menggoda seorang manusia
untuk durhaka kepada Allah. Seorang hamba yang lambungnya penuh memiliki tenaga,
kekuatan, daya, dan potensi yang cukup besar untuk berbuat apa saja. Maka syaithan
menggunakan peluang emas ini untuk menggodanya agar memuaskan segenap hawa nafsu dan
syahwat dunia yang diinginkannya tanpa harus memperdulikan syariat Allah. Oleh karena itu,
barangsiapa yang ingin mampu mengendalikan berbagai dorongan hawa nafsu dan syahwat
kesenangan dunia yang sedang bergejolak hebat dalam dirinya, maka hendaklah dia berpuasa.
Maka dengan berpuasa, dia akan terbebas dari segala ajakan hawa nafsu dan syahwat yang bisa
menjerongkokkannya ke dalam berbagai lembah hitam yang rendah lagi nista. Termasuk
syahwat dunia yang bisa dia redam dengan berpuasa adalah syahwat terhadap wanita-wanita
yang diharamkan atasnya. Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, (yang artinya):
Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa diantara kalian yang sudah mampu, maka hendaklah
dia segera menikah, karena yang demikian itu lebih menundukkan pandangannya dan menjaga
kehormatannya, dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena yang
demikian itu buat dirinya adalah tameng. (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Ibnu Masud
radhiyallahu anhu)
Betapa banyak para pria yang terjungkal ke dalam lembah neraka jahannam disebabkan oleh
fitnah wanita. Intinya, bahwa berpuasa adalah senjata ampuh guna meredam dan mengendalikan
hawa nafsu dan syahwat yang durjana. Jika kita telah mengetahui hal ini, maka berpuasa bukan
hanya amalan rutinitas pada bulan suci ramadhan. Akan tetapi lebih daripada itu, berpuasa
adalah kebutuhan rohani yang semestinya ditunaikan sesuai prosedur syariat islam yang benar
demi menggapai kebaikan dunia dan akherat, sehingga kita menjadi manusia-manusia yang lebih
bertakwa dan berkualitas di mata Allah Subhanahu wa Taala. Wallahu alam bish shawab
Bahwa Ash-Shaum berfungsi sebagai perisai.