Anda di halaman 1dari 2

AKHLAK DAN KAITANNYA DENGAN

STATUS PRIBADI SEBAGAI


HAMBA ALLAH

Kenyatan di jagad raya (dunia) membuktikan bahwa ada kekuatan yang tidak tampak.
Dia mengatur dan memelihara alam semesta ini. Dalam pengaturan alam semesta ini terlihat
ketertiban, dan ada suatu peraturan yang berganti-ganti.
Semua kenikmatan tersebut bukan berarti supaya berarti Sang Pencipta mempunyai
maksud kepada manusia supaya membalas dengan sesuatu itu tidak baik, tetapi Allah SWT
memerintahkan manusia agar beribadah Kepada-Nya.
Sesuai Firman Allah SWT dalam QS Adhariyat ayat 6.



Artinya :..Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah.

Manusia sebagai hamba Allah harus tahu diri, bahwa hubungannya dengan Allah SWT
merupakan hubungan makhluk dengan Khaliqnya. Dalam masalah ketergantungan, hidup
manusia selalu mempunyai ketergantungan kepada yang lain. Tumpuan serta pokok
ketergantungan adalah ketergantungan kepada Yang Maha Sempurna, ialah Allah Rabbul
alamin, Allah Yang Maha Esa.
Ketergantungan manusia kepada Allah ini, difirmankan QS AL Ikhlash ayat dua :







Artinya : Allah adalah tempat bergantung segala sesuatu.(QS Al Ikhlas : 2)
Di dalam hidup sehari-hari untuk mencapai suatu tujuan tergantung kepada Sesuatu,
maka kita harus memperhatikan ketentuan dari Sesuatu itu, agar tujuan kita tercapai.
Kebahagian manusia dunia dan akhirat itu dengan sendirinya kita harus mengikuti ketentuan-
ketentuan dari Allah SWT. Dalam mengikuti ketentuan-ketentuan Allah SWT, berserah diri
kepada Allah SWT sebagai bukti dengan ucapan yang sesuai dengan Firman Allah SWT QS
Al Fatihah ayat 4 :



Artinya : Hanya kepada Engkaulah aku menyembah dan hanya kepada Engkaulah aku
mohon pertolongan.

Sebagai manusia normal yang mempunyai sifat kemanusiaan, harus berterima kasih
kepada segala pihak yang telah memberikan jasa kepada kita, kalau kita tidak mau dikatakan
tidak tahu diri. Begitu pula makhluk terhadap Khaliknya. Harus selalu bersyukur atas
nikmat-nikmat yang diberikan kepada kita dan tidak terhitung banyaknya.
Firman Allh SWT QS An Nahl : 18



Artinya : Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat
menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Pada garis besarnya kewajiban manusia kepada Allah menurut Hadits Nabi, yang
diriwayatkan dari sahabat Muadz bin Jabal, bahwa Nabi SAW, bersabda :














Artinya :
Adalah aku duduk dibelakang Nabi di atas sebuah keledai yang dinamai Ufair, maka
bersabda Nabi : Hai Muadz apakah engkau mengetahui hak Allah atas hamba-Nya dan apa
hak engkau mengetahui hak hamba terhadap Allah ? Menjawab aku, Allah & Rasul-Nya yang
lebih mengetahui. Bersabda : maka bahwasannya hak Allah atas para hamba, ialah : Mereka
menyembah-Nya dan tidak menserikatkan Dia dengan sesuatu dan hak para hamba terhadap
Allah. Tiada Allah mengazapkan orang yang tidak menserikatkan Dia dengan sesuatu. Maka
berkata aku. Ya Rasulullah, apa tidak lebih baik saya menggembirakan para manusia dengan
Dia? Bersabda Nabi, jangan kamu menggembirakan mereka yang menyebabkan mereka akan
berpegang kepada untung saja. (Al-Lula uwal Marjan 1:8).
Berdasar hadits di atas kewajiban manusia kepada Allah pada garis besarnya ada dua (2) :
1. Mentauhidkan-Nya yakni tidak memusrikkan-Nya kepada sesuatupun.
2. Beribadah kepada-Nya.