Anda di halaman 1dari 26

1

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sejarah dan perkembangan Ilmu Forensik tidak dapat dipisahkan dari
sejarah dan perkembangan hukum acara pidana. Sebagaimana diketahui
bahwa kejahatan yang terjadi di muka bumi ini sama usia tuanya dengan
sejarah manusianya itu sendiri. Luka merupakan salah satu kasus tersering
dalam kedokteran Forensik. Luka bisa terjadi pada korban hidup maupun
korban mati. ( Herlambang, 2010)
Traumatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang luka dan cidera serta
hubungannya dengan berbagai kekerasan (rudapaksa), sedangkan yang
dimaksudkan dengan luka adalah suatu keadaan ketidaksinambungan jaringan
tubuh akibat kekerasan. (Budiyanto, 1997)
Dalam sebuah survey di sebuah rumah sakit di selatan tenggara kota
London dimana didapatkan 425 pasien yang dirawat oleh karena kekerasan
fisik yang disengaja. Beberapa jenis senjata digunakan pada 68 dari 147 kasus
penyerangan di jalan raya, terdapat 12 % dari penyerangan menggunakan
besi batangan dan pemukul baseball atau benda benda serupa dengan itu,
lalu di ikuti dengan penggunaan pisau 18%, terdapat nilai yang sangat berarti
dari kasus penusukan, sekitar 47% kasus yang masuk rumah sakit dan 90%
mengalami luka yang serius. (Herlambang, 2010)
Hal yang harus dicatat bahwa terdapat 2 dari 3 penyerangan terjadi di
dalam tempat tinggal atau klub-klub dengan menggunakan pisau, kaca, dan
bermacam-macam senjata. 40% kasus penikaman terjadi di jalan raya dan
23% di dalam tempat tinggal dan klub-klub , 50% pasien sedang mabuk atau
minum pada saat sebelum waktu penyerangan, 27% pasien tersebut adalah
penganguran. Luka-luka yang disebabkan oleh pukulan (46%), tendangan
(17%) bermacam-macam senjata (17%), pisau dan pecahan kaca (15%)
sisanya disebabkan oleh gigitan manusia dan penyebab-penyebab lain yang
tidak diketahui. (Herlambang, 2010)
Pada tahun 2006, jumlah kejahatan di Indonesia meningkat 15 %. Rata-
rata orang terkena kejahatan pun naik di tahun ini. Selama 2006, jumlah
2

kejahatan meningkat dari 256.543 (tahun 2005) menjadi 296.119. Inilah
peningkatan kejahatan yakni sekitar 15,43 persen. Jumlah penduduk yang
beresiko terkena kejahatan rata-rata 123 orang per 100.000 penduduk
Indonesia di 2006. Bila dibandingkan tahun 2005 terjadi kenaikan 1,65
persen. ( Herlambang, 2010)
Pada pasal 133 ayat (1) KUHAP dan pasal 179 ayat (1) KUHAP
dijelaskan bahwa penyidik berwenang meminta keterangan ahli kepada ahli
kedokteran kehakiman atau dokter atau bahkan ahli lainnya. Keterangan ahli
tersebut adalah Visum et Repertum, dimana di dalamnya terdapat penjabaran
tentang keadaan korban, baik korban luka, keracunan, ataupun mati yang
diduga karena tindak pidana. (Dahlan, 2003)
Bagi dokter yang bekerja di Indonesia perlu mengetahui ilmu kedokteran
Forensik termasuk cara membuat Visum et Repertum. Seorang dokter perlu
menguasai pengetahuan tentang mendeskripsikan luka, tujuannya untuk
mempermudah tugas-tugasnya dalam membuat Visum et Repertum yang baik
dan benar sehingga dapat digunakan sebagai alat bukti yang bisa meyakinkan
hakim untuk memutuskan suatu tindak pidana. Pada kenyataannya dalam
praktek, dokter sering mengalami kesulitan dalam membuat Visum et
Repertum karena kurangnya pengetahuan tentang luka. Padahal Visum et
Repertum harus di buat sedemikian rupa, yaitu memenuhi persyaratan formal
dan material , sehingga dapat dipakai sebagai alat bukti yang sah di sidang
pengadilan. (Dahlan, 2003) (Herlambang, 2010)


3

BAB 2
PEMBAHASAN

A. Pengertian Traumatologi
Pengertian trauma dari aspek medikolegal sedikit berbeda dengan
pengertian medis. Pengertian medis menyatakan trauma atau perlukaan adalah
hilangnya kontinuitas dari jaringan. Dalam pengertian medikolegal trauma
adalah pengetahuan tentang alat atau benda yang dapat menimbulkan
gangguan kesehatan seseorang. Artinya orang yang sehat, tiba-tiba terganggu
kesehatannya akibat efek dari alat atau benda yang dapat menimbulkan
kecederaan. Aplikasinya dalam pelayanan kedokteran forensik adalah untuk
membuat terang suatu tindakan kekerasan yang terjadi pada seseorang. (Amir,
2005)

B. Klasifikasi Trauma
Di tinjau dari berbagai sudut dan kepentingan, luka dapat diklasifikasikan
berdasarkan (Amir, 2005), (Budiyanto, 1997):
A. Etiologi
I. Trauma Mekanik
1. Kekerasan Tumpul
a. Luka memar (bruise, contusion)
b. Luka lecet (abrasion)
c. Luka robek (Laceration)
d. Patah Tulang (Fracture)
e. Pergeseran sendi (Dislocation)
2. Kekerasan Tajam
a. Luka sayat (incised wound)
b. Luka tusuk, tikam (punctured wound)
c. Luka bacok (choped wound)
3. Luka Tembak (firearm wound)


4

II. Luka Termis (Suhu)
1. Temperatur Panas
a. Terpapar suhu panas (heat stroke, heat exhaution, heat
cramps)
b. Benda panas (luka bakar dan scalds)
2. Temperatur Dingin
a. Terpapar dingin (hipotermia)
b. Efek lokal (frost bite)
III. Luka Kimiawi
1. Zat Korosif
2. Zat Iritasi
IV. Luka Listrik, Radiasi, Ledakan dan Petir.

B. Derajat Kualifikasi Luka
I. Luka Ringan
II. Luka Sedang
III. Luka Berat

C. Medikolegal
I. Perbuatan Sendiri ( Bunuh diri)
II. Perbuatan Orang Lain (Pembunuhan )
III. Kecelakaan
IV. Luka Tangkis
V. Dibuat (Fabricated)

D. Waktu Kematian
I. Ante- mortem
II. Post-mortem




5


C Trauma Mekanik
Trauma atau luka mekanik terjadi karena alat atau senjata dalam berbagai
bentuk, alami atau dibuat manusia. Senjata atau alat yang dibuat manusia seperti
kapak, pisau, panah, martil dan lain-lain. Bila ditelusuri, benda benda ini telah
ada sejak zaman prasejarah dalam usaha manusia mempertahankan hidup sampai
dengan pembuatan senjata senjata masa kini seperti senjata api, bom dan senjata
penghancur lainnya. Akibatnya pada tubuh dapat dibedakan darin
penyebabnya.(Amir, 2005)
1. Kekerasan Tumpul
Benda tumpul yang sering mengakibatkan luka antara lain: batu, besi,
sepatu, tinju, lantai, jalan dan lain-lain. Kekerasan tumpul dapat terjadi karena 2
sebab:
- Alat atau senjata yang mengenai atau melukai orang yang relatif tidak
bergerak.
- Orang bergerak kearah objek atau alat yang tidak bergerak.
Dalam bidang medikolegal kadang-kadang hal ini perlu dijelaskan walaupun
terkadang sulit dipastikan .(Amir, 2005)
Benda tumpul bila mengenai tubuh dapat menyebabkan luka, yaitu luka
lecet, memar, dan luka robek atau luka terbuka. Dan bila kekerasan benda tumpul
tersebut sedemikian hebatnya dapat pula menyebabkan patah tulang.( Idries,
1997)
a. Luka Memar
Luka memar adalah suatu keadaan dimana terjadi pengumpulan darah
dalam jaringan yang terjadi sewaktu orang masih hidup, dikarenakan
pecahnya pembuluh darah kapiler akibat kekerasan benda tumpul.(Idries,
1997)
Perdarahan atau ekimosis ini berwarna biru kehitaman dan kadang-
kadang disertai pembengkakan. Pada orang kulit gelap warna biru kehitaman
akibat memar kadang kadang sulit terlihat, sehingga pembengkakan bisa
dipakai sebagai petunjuk.(Amir, 2005)
6

Bila kekerasan benda tumpul yang mengakibatkan luka memar terjadi
pada jaringan longgar, seperti didaerah mata, leher, atau pada orang lanjut
usia, maka luas memar yang tampak seringkali tidak sebanding dengan
kekerasan, dalam arti seringkali lebih luas, dan adanya jaringan longgar
tersebut memungkinkan berpindahnya memar kedaerah yang lebih rendah,
berdasarkan gravitasi.(Idries, 1997)
Salah satu bentuk luka memar yang dapat memberikan informasi
mengenai bentuk dari benda tumpul, ialah apa yang dikenal dengan dengan
istilah Perdarahan tepi (marginal hemorrhages), misalnya bila tubuh korban
terlindas ban kendaraan, dimana pada tempat dimana terdapat tekanan justru
tidak menunjukkan kelainan, perdarahan akan menepi sehingga terbentuk
perdarahan tepi yang bentuknya sesuai dengan bentuk celah antara kedua
kembang ban yang berdekatan.(Idries, 1997)
Hal yang sama misalnya bila seseorang dipukul dengan rotan atau
benda yang sejenis, maka akan tampak memar yang memanjang dan sejajar
yang membatasi darah yang tidak menunjukkan kelainan, darah antara kedua
memar yang sejajar dapat menggambarkan ukuran lebar dari alat pemukul
yang mengenai tubuh korban.(Idries, 1997)
Luka Memar di punggung tangan dan jari memberi petunjuk suatu luka
tangkis (defensif, bertahan) pada perkelahian. Luka memar di leher bisa
sebagai petunjuk pencekikan.(Amir, 2005)
Bersamaan dengan perjalanan waktu, luka memar menyembuh dan
terjadi perombakan zat warna hemoglobin. Dalam 4-5 hari menjadi hijau, lalu
kekuningan dalam beberapa hari kemudian dan menghilang dalam 10-14 hari.
Perubahan warna ini tidak dapat dipakai secara tepat untuk menentukan
lamanya perlukaan, karena dipengaruhi banyak faktor. Perubahan warna
dalam penyembuhan bergerak dari tepi ke tengah, artinya perlukaan tampak
makin mengecil.(Amir, 2005)




7

b. Luka Lecet (abrasi)
Luka pada kulit yang superfisial dimana epidermis bersentuhan
dengan benda yang kasar permukaannya. Arah luka dapat ditentukan dari
penumpukan epidermis yang terseret ke satu posisi. Bentuk luka lecet
kadang-kadang dapat menunjukkan bentuk alat yang dipakai. (Amir, 1997)
Luka lecet pada kasus penjeratan atau penggantungan , akan tampak
sebagai suatu luka lecet yang berwarna merah-coklat, perabaan seperti
perkamen, lebarnya dapat sesuai dengan alat penjerat dan memberikan
gamabaran/ cetakan yang sesuai dengan bentuk permukaan alat penjeratnya,
seperti jalinan tambang, tali pinggang . luka lecet tekan dalam kasus
penjeratan sering juga dinamakan jejas jerat, khususnya bila alat penjerat
masih tetap berada pada leher korban. (Idries, 2005)
c. Luka Robek (laserasi)
Luka robek adalah luka luka terbuka akibat trauma tumpul yang kuat.
Mudah terbentuk bila dekat ke dasar bagian yang bertulang. Luka ini
umumnya tidak menggambarkan bentuk dan ukuran alat yang digunakan.
Ciri-cirinya berbentuk tidak teratur, pinggir tidak rata, bengkak, sering kotor
(sesuai benda penyebab), perdarahan tidak banyak dibanding luka sayat ,
terdapat jembatan jaringan, antara kedua tepi luka (otot, pembuluh darah,
serabut saraf), rambut tebenam kedalam luka, sering disertai memar dan
luka lecet.(Amir, 2005)
Bila luka robek tersebut salah satu tepinya membuka kekanan
misalnya, maka kekerasan atau benda tumpul datang dari arah kiri. Jika
membuka kedepan maka kekerasan benda tumpul datang dari arah belakang.
Perlukisan yang cermat dari luka terbuka akibat benda tumpul dengan
demikian dapat sangat membantu penyidik khususnya sewaktu dilakukannya
rekonstruksi, demikian pula sewaktu dokter dijadikan saksi di muka hakim.
(Idries, 1997)


8

d. Patah Tulang (fracture)
Pada trauma tumpul yang kuat dapat terjadi patah tulang. Pada anak-
anak dan orang muda tulang masih lentur dan dapat menyerap tekanan yang
kuat. Tekanan berat (misalnya dilindas mobil) pada dada anak-anak dapat
menyebakan hancurnya organ dalam tanpa patah tulang iga. Pecahan tulang
dapat menunjukkan arah trauma. Patah tulang dapat menimbulkan perdarahan
luar dan perdarahan dalam.
2. Kekerasan Tajam
Kekerasan tajam disebabkan pisau, pedang, silet, gunting, kampak,
bayonet dan lain-lain. Senjata ini dapat menyebabkan luka sayat, luka tikam dan
luka bacok. (Amir, 2005)
Pada Kematian yang disebabkan oleh benda tajam, walaupun tetap harus
difikirkan kemungkinan karena suatu kecelakaan, tetapi pada umumnya karena
suatu peristiwa pembunuhan atau peristiwa bunuh diri.(Idries, 1997)
Luka yang disebabkan oleh benda tajam dapat dibedakan dari luka yang
disebabkan oleh benda lainnya, yaitu dari keadaan sekitar luka yang tenang tidak
ada luka lecet atau luka memar, tepi luka yang rata dan dari sudut-sudutnya yang
runcing seluruhnya atau hanya sebagian yang runcing serta tidak adanya jembatan
jaringan.(Idries, 1997)
a. Luka Sayat
Luka karena irisan senjata tajam yang menyebabkan luka terbuka
dengan pinggir rata, menimbulkan perdarahan banyak, jarang disertai memar
di pinggir luka, semua jaringan otot, pembuluh darah, saraf dalam luka
terputus, juga rambut. Dalam pemeriksaan ini dibedakan dengan luka robek,
sebab pada luka robek jaringan ini masih ada yang utuhdan disebut jembatan
jaringan. Ukuran lebar luka sayat lebih dari pada ukuran dalamnya luka.
(Idries, 1997)
9

Luka sayat tidak begitu berbahaya, kecuali luka sayat mengenai
pembuluh darah yang dekat ke permukaan seperti di leher, siku bagian dalam,
pergelangan tangan dan lipat paha.(Idries, 1997)
b. Luka Tusuk (Luka tikam)
Luka yang mengenai tubuh melalui ujung pisau dan benda tajam
lainnya, dimana dalamnya luka melebihi lebar luka. Pinggir luka dapat
menunjukkan bagian yang tajam (sudut lancip) dan tumpul (sudut tumpul) dari
pisau berpinggir tajam satu sisi. (Amir, 2005)
Bentuk dari luka yang disebabkan oleh pisau yang mengenai tubuh
korban, dipengaruhi oleh faktor- faktor sebagai berikut.:
1. Sifat sifat dari pisau :
Bentuk, ketajaman dari ujung dan ketajaman dari kedua tepinya, bermata satu
atau bermata dua. (Amir, 2005)
2. Bagaimana pisau itu mengenai dan masuk kedalam tubuh.(Idries, 1997)
Bila luka masuk dan keluar melalui alur yang sama maka lebar luka sama
dengan lebar alat. Tetapi yang sering terjadi lebar luka melebihi lebar pisau
karena tarikan kesamping sewaktu menusukkan dan waktu menarik pisau.
Demikian juga bila pisau masuk ke jaringan dengan posisi miring.(Amir,
1997)
Begitu pula dalamnya luka tidak menggambarkan panjang senjata kecuali bila
mengenai organ padat seperti hati. Umumnya dalam luka lebih pendek dari
panjang senjata, karena jarang ditusuk sampai ke pangkal senjata. Tetapi
dalamnya luka bisa melebihi panjang dari senjata karena elastisitas jaringan,
misalnya luka tusuk pada perut.
3. Tempat dimana terdapat luka.
Kulit memiliki elastisitas yang besar dan besarnya ketengangan kulit tidak
sama pada seluruh tubuh. Pada daerah dimana serat serat elastiknya sejajar
yaitu pada lipatan-lipatan kulit, maka tusukan yang sejajar dengan lipatan
10

tersebut akan mengakibatkan luka yang tertutup, sempit dan berbentuk celah.
Akan tetapi bila tusukan pisau itu melintasi serta memotong lipatan kulit,
maka luka yang terjadi akibat tusukan pisau tersebut akan terbuka lebar.
c. Luka Bacok
Senjata tajam yang berat dan diayunkan dengan tenaga akan
menimbulkan luka menganga yang lebar disebut luka bacok. Luka ini sering
sampai ke tulang. Bentuknya hampir sama dengan luka sayat tapi dengan
derajat luka yang lebih berat dan dalam. Luka terlihat terbuka lebar atau
ternganga. Perdarahan sangat banyak dan sering mematikan.
d. Luka Tembak
Luka tembak ialah luka yang disebabkan adanya penetrasi anak peluru
atau persentuhan peluru dengan tubuh. Untuk memahami akibat luka tembak
pada tubuh harus dimulai dari pengetahuan tentang apa yang keluar dari mulut
laras pada waktu senjata api meletus. Yang keluar dari mulut laras adalah:
- Anak Peluru
- Sisa mesiu yang tidak terbakar
- Api
- Asap
- Gas
1

Masing - masing komponen akan menimbulkan akibat pada sasaran
(manusia). Anak peluru akan menyebabkan terjadinya luka (luka masuk dan
bisa luka keluar) dengan saluran luka didalam tubuh. Sisa mesiu yang tidak
terbakar akan menyebabkan terjadinya penyebaran tatto disekitar luka masuk.
Pada jarak tembak yang sangat dekat dengan sasaran akan api dapat
menyebabkan luka bakar. Begitu pula asap akan meninggalkan jelaga disekitar
luka masuk. Gas hanya menimbulkan akibat bila mulut laras kontak
menempel pada dengan jaringan tubuh. Bila luka tembak tempel dekat ke
permukaan tulang dimana kulit dan otot dekat ke tulang, maka gas akan
memantul keluar dan membuat luka masuk menjadi luas, sering pecah seperti
bintang (stellate). Bila jaringan ditempat luka masuk hanya jaringan lunak ,
11

efek yang ditimbulkan tekanan gas tidak sehebat yang dekat ke tulang. (Amir,
2005)
Dengan memahami akibat dari kelima komponen di atas, maka dokter
dapat melaporkan hasil pemeriksaan dan kesimpulannya dalam VeR.
1. Luka Tembak Masuk
Bagian yang penting dalam pemeriksaan luka tembak adalah
pemeriksaan luka tembak masuk. Karena pengertian luka tembak adalah
penetrasi anak peluru kedalam tubuh, maka perlu dikaji tentang yang terjadi
pada waktu peluru menembus kulit. (Amir, 2005)
Selain luka masuk yang merobek tubuh, maka di pinggir luka akan
terbentuk cincin memar di sekeliling luka masuk (contusion ring). Sebetulnya
ini lebih tepat disebut luka lecet. Diameter luka memar ini menggambarkan
kaliber peluru yang menembus. Oleh karena itu perlu diukur dengan teliti.
Bila cincin memar bulat berarti peluru menembus tegak lurus. Bila lonjong
maka peluru menembus miring. Arah dan sudut kemiringan luka tembak
masuk dapat ditentukan dari bagian yang lebih lebar dari cincin memar.
(Amir, 2005)
Bentuk cincin memar bisa tidak teratur. Ini bisa dihubungkan dengan
kemungkinan peluru yang menembus kulit tidak bulat lagi karena berubah
bentuk, misalnya peluru rikoset karena mengenai benda lain dulu seperti
dinding, pohon dan lain lain atau peluru mekar/memuai karena panas atau
peluru yang ujungnya sengaja dibelah (peluru dum dum). (Amir, 2005)
Pada penembakan yang mengenai tulang gepeng misalnya tulang
tengkorak, sternum, ilium, lubang luka berbentuk corong dimana luka masuk
lebih kecil dari luka keluar. Luka tembak masuk pada tulang tengkorak terlihat
lubang luka pada tabula eksterna lebih kecil dibanding luka pada tabula
interna. Bila peluru keluar lagi maka lubang luka tabula interna lebih kecil
dari pada lubang luka pada tabula eksterna.(Amir, 2005)
Tembakan pada tulang panjang walaupun tidak memberi gambaran
yang khas tetap dapat merupakan petunjuk dari mana peluru datang, yaitu
12

dengan melihat fragmen tulang yang terangkat atau terdorong, bila peluru
datang dari sebelah kanan maka peluru akan terdorong ke sebelah kiri.
2. Luka Tembak Keluar
Bila tidak ditemukan cincin memar disekitar lubang luka, maka ini
merupakan patokan sebagai luka keluar. Pada luka keluar bisa didapati
jaringan lemak menghadap keluar, walaupun kadang-kadang sulit
memastikannya. Bentuk dan besar luka keluar beragam, tergantung posisi
peluru keluar dan kecepatan menembus kulit. Lebih mudah memastikan bila
didapati serpihan tulang apalagi bila dibantu foto rontgent.(Amir, 2005)
Beberapa kemungkinan dapat terjadi:
1.1 Luka tembak masuk lebih kecil dari luka keluar
Ini lebih sering karena waktu keluar, daya tembus mengebor dari peluru
berkurang oleh adanya hambatan jaringan, sehingga membuat luka lebih
besar. Apalagi bila serpihan tulang ikut melukai.
1.2 Luka masuk dan keluar sama besar
Terjadi bila daya tembus peluru masih tinggi dan hanya mengenai jaringan
lunak.
1.3 Luka masuk lebih besar dari luka keluar.
Dapat terjadi dimana sesuadah peluru menembus masuk ke tubuh, daya
tembusnya sangat berkurang dan tenaga peluru keluar hanya cukup untuk
menembus kulit. (Amir, 2005)
3. Jarak Luka Tembak
Peluru yang menembus tubuh bisa ditembakkan dari berbagai jarak.
Untuk kepentingan medikolegal penentuan jarak luka tembak ini sangat
penting, jarak luka tembak ini dibagi atas 4 yaitu:


13

- Luka tembak tempel
Terjadi bila laras senjata menempel pada kulit. Luka masuk biasanya
berbentuk bintang (stellate). Pada luka didapati jejas laras yaitu bekas ujung
laras yang ditempelkan pada kulit. Gas dan mesiu yang tidak terbakar didapati
dalam jaringan luka. Didapati kadar CO yang tinggi dalam jaringan luka. Luka
tembak tembel biasanya didapati pada kasus bunuh diri. Oleh karena itu sering
didapati adanya kejang mayat (cadaveric spasme). Luka tembak tempel sering
ditemui dipelipis, dahi atau dalam mulut. (Amir, 2005)
- Luka tembak sangat dekat
Luka tembak masuk jarak sangat dekat (close wound) sering disebabkan
pembunuhan. Dengan jarak sangat dekat ( 15 cm), maka akan didapati cincin
memar, tanda-tanda luka bakar, jelaga dan tatto disekitar lubang luka masuk.
(Amir, 2005)
- Luka tembak dekat
Luka dengan jarak dibawah 70 cm akan meninggalkan lubang luka, cincin
memar dan tatu di sekitar luka masuk. Biasanya karena pembunuhan.(Amir,
2005)
- Luka tembak jauh
Disini tidak ada kelim tatto, hanya ada luka tembus oleh peluru dan cincin
memar. Jarak penembakan sulit atau hampir tdk mungkin ditentukan secara
pasti. Tembakan dari jarak lebih dari 70 cm dianggap sebagai tembakan jarak
jauh, karena partikel mesiu biasanya tidak mencapai sasaran lagi. (Amir,
2005)
3. Luka Termis (suhu)
a. Terpapar Suhu Panas
1. Heat Cramps (Kram karena panas)
Adalah kejang otot hebat akibat keringat berlebihan, yang terjadi selama
melakukan aktivitas pada cuaca yang sangat panas.Heat cramps disebabkan
14

oleh hilangnya banyak cairan dan garam ( termasuk natrium, kalium dan
magnesium ) akibat keringat yang berlebihan, yang sering terjadi ketika
melakukan aktivitas fisik yang berat. Jika tidak segera diatasi, Heat Cramps
bisa menyebabkan Heat Exhaustion. Gejalanya kram yang tiba tiba mulai
timbul di tangan, betis atau kaki. Otot menjadi keras, tegang dan sulit untuk
dikendurkan, terasa sangat nyeri. (Afandi, 2010)
2. Heat Exhausion (Kelelahan karena panas)
Adalah suatu keadaan yang terjadi akibat terkena atau terpapar panas
selama berjam jam, dimana hilangnya banyak cairan karena berkeringat
menyebabkan kelelahan, tekanan darah rendah dan kadang pingsan.Jika tidak
segera diatasi, Heat Exhaustion bisa menyebabkan Heat Stroke. Gejalanya
kelelahan, kecemasan yang meningkat, serta badan basah kuyup karena
berkeringat, jika berdiri penderita akan merasa pusing karena darah
terkumpul di dalam pembuluh darah tungkai yang melebar akibat panas.
Denyut jantung menjadi lambat dan lemah. Kulit menjadi dingin, pucat dan
lembab. Penderita menjadi linglung atau bingung terkadang pingsan. (Afandi,
2010)
3. Heat Stroke
Heat Stroke adalah suatu keadaan yang bisa berakibat fatal, yang terjadi
akibat terpapar panas dalam waktu yang sangat lama, dimana penderita tidak
dapat mengeluarkan keringat yang cukup untuk menurunkan suhu tubuhnya.
Jika tidak segera diobati, Heat Stroke bisa menyebabkan kerusakan yang
permanen atau kematian. Suhu 41 Celsius adalah sangat serius, 1 derajat
diatasnya seringkali berakibat fatal.

(Afandi, 2010)
Kerusakan permanen pada organ dalam, misalnya otak bisa segera terjadi
dan sering berakhir dengan kematian. Gejalanya sakit kepala, Perasaan
berputar ( vertigo ), kulit teraba panas, tampak merah dan biasanya kering.
Denyut jantung meningkat dan bisa mencapai 160-180 kali/menit ( normal
60-100 kali / menit ). Laju pernafasan juga biasanya meningkat, tetapi
tekanan darah jarang berubah.Suhu tubuh meningkat sampai 40 41 Celsius,
15

menyebabkan perasaan seperti terbakar.Penderita bisa mengalami disorientasi
( bingung ) dan bisa mengalami penurunan kesadaran atau kejang. (Afandi,
2010)
b. Benda Panas
1. Luka bakar
Luka bakar terjadi akibat kontak kulit dengan benda bersuhu tinggi.
Kerusakan kulit yang terjadi bergantung pada tinggi suhu dan lama kontak.
Kontak kulit dengan uap air panas selama 2 detik mengakibatkan suhu kulit
pada kedalaman 1 mm dapat mencapai 66 derajat celcius, sedangkan pada
ledakan bensin dalam waktu singkat mencapai suhu 47 derajat Celcius. Luka
bakar sudah dapat terjadi pada suhu 43-44 derajat celcius bila kontak terjadi
cukup lama. Luka bakar dapat dikategorikan menjadi 4 derajat yaitu :
- Derajat I eritema
- Derajat II vesikel dan bullae
- Derajat III nekrosis koagulatif
- Derajat IV karbonisasi
Kematian pada luka bakar dapat terjadi melalui berbagai mekanisme :
- Syok neurogen, commotio neuro-vascularis
- Gangguan permeabilitas akibat pelepasa histmin dan kehilangan NaCl
kulit yang cepat (dehidrasi). (Budiyanto, 1997)
c. Terpapar suhu dingin
Kekerasan oleh benda bersuhu dingin biasanya dialami oleh bagian
tubuh yang terbuka; seperti misalnya tangan, kaki, telinga atau hidung.
Mula-mula pada daerah tersebut akan terjadi vasokonstriksi pembuluh
darah superfisial sehingga terlihat pucat, selanjutnya akan terjadi paralise
dari vasomotor kontrol yang mengakibatkan daerah tersebut menjadi
kemerahan. Pada keadaan yang berat dapat menjadi gangren.
4. Luka kimiawi
Trauma kimia sebenarnya hanya merupakan efek korosi dari asamkuat dan
basa kuat. Asam kuat sifatnya mengkoagulasikan protein sehingga menimbulkan
16

luka korosi yang kering, keras seperti kertas perkamen, sedangkan basa kuat
bersifat membentuk reaksi penyabunan intra sel sehingga menimbulkan luka yang
basah, licin dan kerusakan akan terus berlanjut sampai ke dalam. Karena biasanya
bahan kimia asam atau basa terdapat dalam bentuk cair (larutan pekat), maka
bentuk luka biasanya sesuai dengan mengalirnya bahan cair tersebut.
5. Luka Listrik dan Petir
Sengatan oleh benda bermuatan listrik dapat menimbulkan luka bakar
sebagai akibat berubahnya energi listrik menjadi energi panas. Besarnya
pengaruh listrik pada jaringan tubuh tersebut tergantung dari besarnya
tegangan (voltase), kuatnya arus (ampere), besarnya tahanan (keadaan kulit
kering atau basah), lamanya kontak serta luasnya daerha terkena kontak.
Bentuk luka pada daerah kontak (tempat masuknya arus) berupa
kerusakan lapisan kulti dengan tepi agak menonjol dan disekitarnya terdapat
daerah pucat dikelilingi daerah hiperemis. Sering ditemukan adanya metalisasi.
Pada tempat keluarnya arus dari tubuh juga sering ditemukannya luka.
Bahkan kadang-kadang bagian dari baju atau sepatu yang dilalui oleh arus
listrik ketika meninggalkan tubuh juga ikut terbakar.
Kematian dapat terjadi akibat fibrilasi ventrikel, kelumpuhan otot
pernapasan atau pusat pernapasan. Sedang faktor yang sering memperngaruhi
kefatalan adalah kesadaran seseorang akan adanya arus listrik pada benda yang
dipegangnya.
Petir terjadi karena adanya loncatan arus listrik di awan yang
tegangannya dapat mencapai 10 mega Volt dengan kuat arus sekitar 100.000 A
ke tanah. Luka-luka karena sambaran petir pada hakekatnya merupakan luka-
luka gabungan akibat listrik, panas dan ledakan udara. Luka akibat panas
berupa luka bakar dan luka akibat ledakan udara berupa luka-luka yang mirip
dengan akibat persentuhan dengan benda tumpul.
Dapat terjadi kematian akibat efek arus listrik yang melumpuhkan
susunan syaraf pusat, menyebabkan fibrilasi ventrikel. Kematian juga dapat
terjadi karena efek ledakan atau efek dari gas panas yang ditimbulkannya. Pada
17

korban mati sering ditemukan adanya arborescent mark (percabangan
pembuluh darah terlihat seperti percabangan pohon), metalisasi benda-benda
dari logam yang dipakai, magnetisasi benda-benda dari logam yang dipakai.
Pakaian korban terbakar atau robek-robek.Luka akibat radiasi dan trauma
akustik sangat jarang terjadi dan umumnya tidak berkaitan dengan ilmu
kedokteran forensik.
C. Derajat Kualifikasi Luka
Pengertian kualifikasi luka disini semata-mata pengertian Ilmu Kedokteran
Forensik sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Bab XX
pasal 351 dan 352 serta Bab IX pasal 90.
Pasal 351
(1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun
delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus
rupiah.
(2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam
dengan pidana penjara paling lama lima tahun.
(3) Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh
tahun.
(4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan.
(5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

Pasal 352
(1) Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang
tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan
jabatan atau pencarian, diancam, sebagai penganiayaan ringan, dengan
pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak
empat ribu lima ratus rupiah. Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang
yang melakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja padanya, atau
menjadi bawahannya.
(2) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.
Pasal 90
Luka berat berarti:
18

(1) Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh
sama sekali, atau yang menimbulkan bahaya maut
(2) Tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau
pekerjaan pencarian;
(3) Kehilangan salah satu pancaindera;
(4) Mendapat cacat berat;
(5) Menderita sakit lumpuh;
(6) Terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih;
(7) Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan.
D. Konteks peritiwa penyebab luka
Latar belakang terjadinya luka dapat disebabkan peristiwa permbunuhan,
bunuh diri, atau kecelakaan. (Dahlan, 2007)
a. Pembunuhan
Ciri-ciri lukanya adalah :
- Lokasi luka di sembarang tempat, yaitu di daerah mematikan maupun
tidak mematikan
- Lokasi tersebut didaerah yang dapat dijangkau maupun yang tidak dapat
dijangkau oleh korban
- Pakaian yang menutupi daerah luka ikut robek terkena senjata
- Dapat ditemukan luka tangkisan (defensive wounds), yaitu pada korban
yang sadar ketika mengalami serangan. Luka tangkisan tersebut terjadi
akibat refleks menahan serangan sehingga letak luka tangkisan biasanya
pada lengan bawah bagian luar.
b. Bunuh diri
Ciri-ciri lukanya adalah:
- Lokasi luka pada daerah yang dapat mematikan secara cepat
- Lokasi tersebut dapat dijangkau oleh tangan yang bersangkutan
- Pakaian yang menutupi luka tidak ikut robek oleh senjata
- Ditemukan luka-luka percobaan (tentative wounds)
Luka percobaan dapat terjadi karena yang bersangkutan massih ragu-ragu
atau karena sedang memilih letak senjata yang pas sambil mengumpulkan
keberaniaaannya, sehingga ciri-ciri luka percobaan adalah :
19

- Jumlahnya lebih dari satu
- Lokasinya disekitar luka yang mematikan
- Kualitas lukanya dangkal
- Tidak mematikan
c. Kecelakaan
Jika ciri-ciri luka yang ditemukan ridak menggambarkan pembunuhan atau
bunuh diri maka kemungkinannya adalah akibat kecelakaan. Untuk lebih
memastikannya perlu dilakukan pemeriksaan di tempat kejadian.
E. Waktu terjadinya kekerasan
Waktu terjadinya kekerasan merupakan hal yang sangat penting bagi
keperluan penuntutan oleh penuntut umum, pembelaan oleh penasehat
hukum terdakwa serta untuk penentuan keputusan oleh hakim. Dalam
banyak kasus informasi tentang waktu terjadinya kekerasan akan dapat
digunakan sebagai bahan analisa guna mengungkapkan banyak hal,
teerutama yang berkaitan dengan alibi seseorang. Masalahnya ialah, tidak
seharusnya seseorsng dituduh atau dihukum jika pada saat terjadinya
tindak pidana ia berada di tempat yang jauh dari tempat kejadian perkara.
Dengan melakukan pemeriksaan yang teliti akan dapat ditentukan :
- Luka terjadi ante mortem atau post mortem
- Umur luka
a. Luka ante mortem atau post mortem
Jika pada tubuh jenazah ditemukan luka maka pertanyaannya ialah luka
itu terjadi sebelum atau sesudah mati. Untuk menjawab pertanyaan
tersebut perlu dicari ada tidaknya tanda-tanda intravital. Jika ditemukan
berarti luka terjadi sebelum mati dan demikian pula sebaliknya.
Tanda intravital itu sendiri pada hakekatnya merupakan tanda yang
menunjukkan bahwa :
1. Jaringan setempat masih hidup ketika terjadi trauma.
Tanda-tanda bahwa jaringan yang terkena trauma masih dalam
keadaan hidup ketika terjadi trauma antara lain :
a. Retraksi jaringan
20

Terjadi karena serabut-serabut elastis di bawah kulit terpotong dan
kemudian mengkerut sambil menarik kulit di atasnya. Jika arah
luka memotong serabut secara tegak lurus maka bentuk luka akan
menganga, tetapi jika arah luka sejajar dengan serabut elastis maka
bentuk luka tidak begitu menganga.
b. Retraksi vaskuler.
Bentuk retraksi vaskuler tergantung dari jenis trauma, yaitu :
1. Pada trauma suhu panas, bentuk reaksi intravitalnya berupa:
Eritema (kulit berwarna kemerahan), Vesikel atau bulla.
2. Pada trauma benda keras dan tumpul, bentuk intravital berupa :
Kontusio atau memar.
c. Reaksi mikroorganisme (infeksi)
Jika tubuh dari orang masih hidup mendapat trauma maka pada
daerah tersebut akan terjadi aktivitas biokimiawi berupa :
Kenaikan kadar serotinin (kadar maksimal terjadi 10 menit
sesudah trauma). Kenaikan kadar histamine (kadar maksimal
terjadi 20-30 menit sesudah trauma). Kenaikan kadar enzime yang
terjadi beberapa jam sesudah trauma sebagai akibat dari
mekanisme pertahanan jaringan.

2. Organ dalam masih berfungsi saat terjadi trauma
Jika organ dalam (jantung atau paru) masih dalam keadaan
berfuungsi ketika terjadi trauma maka tanda-tandanya antara lain :
a. Perdarahan hebat (profuse bleeding)
Trauma yang terjadi pada orang hidup akan menimbulkan
perdarahan yang banyak sebab jantung masih bekerja terus-
menerus memompa darah lewat luka.Berbeda dengan trauma yang
terjadi sesudah mati sebab keluarnya darah secara pasif karena
pengaruh gravitasi sehingga jumlah lukanya tidak banyak.
Perdarahan pada luka intravital dibagi 2, yaitu :
- Perdarahan internal
21

Mudah dibuktikan karena darah tertampung dirongga badan
(rongga perut, rongga panggul, rongga dada, rongga kepala dan
kantong perikardium) sehingga dapat diukur pada waktu otopsi.
- Perdarahan eksternal
Darah yang tumpah di tempat kejadian, yang hanya dapat
disimpulkan jika pada waktu otopsi ditemukan tanda-tanda anemis
(muka dan organ-organ dalam pucat) disertai tanda-tanda limpa
melisut, jantung dan nadi utama tidak berisi darah.
b. Emboli udara
Terdiri atas emboli udara venosa (pulmoner) dan emboli udara
arterial (sistemik). Emboli udara venosa terjadi jika lumen dari
vena yang terpotong tidak mengalami kolap karena terfiksir dengan
baik, seperti misalnya vena jugularis eksterna atau subclavia. Udara
akan masuk ketika tekanan di jantung kanan negatif. Gelembung
udara yang terkumpul di jantung kanan dapat terus menuju ke
daerah paru-paru sehingga dapat mengganggu fungsinya.
Emboli arterial dapat terjadi sebagai kelanjutan dari emboli udara
venosa pada penderita foramen ovale persisten atau sebagai akibat
dari tindakan pneumotorak artifisial atau karena luka-luka yang
menembus paru-paru. kematian dapat terjadi akibat gelembung
udara masuk pembuluh darah koroner atau otak.
c. Emboli lemak
Emboli lemak dapat terjadi pada trauma tumpul yang mengenai
jaringan berlemak atau trauma yang mengakibatkan patah tulang
panjang. Akibatnya jaringan jaringan lemak akan mengalami
pencairan dan kemudian masuk kedalam pembuluh darah vena
yang pecah menuju atrium kanan, ventrikel kanan dan dapat terus
menuju daerah paru-paru
d. Pneumotorak
Jika dinding dada menderita luka tembus atau paru-paru menderita
luka, sementara paru-paru itu sendiri tetap berfungsi maka luka
berfungsi sebagai ventil. Akibatnya, udara luar atau udara paru-
22

paru akan masuk ke rongga pleura setiap inspirasi.
Semakin lama udara yang masuk ke rongga pleura semakin banyak
yang pada akhirnya akan menghalangi pengembangan paru-paru
sehingga pada akhirnya paru-paru menjadi kolaps.
e. Emfisema kulit
Jika trauma pada dada mengakibatkan tulang iga patah dan menusuk pau-
paru maka pada setiap ekspirasi udara, paru-paru dapat masuk ke
jaringan ikat di bawah kulit. Pada palpasi akan terasa ada krepitasi
disekitar daerah trauma. Keadaan seperti ini tidak mungkin terjadi jika
trauma terjadi sesudah orang meninggal.
b) Umur Luka
Untuk mengetahui kapan kapan terjadi kekerasan, perlu diketahui umur
luka. Tidak ada satupun metode yang digunakan untuk menilai dengan
tepat kapan suatu kekerasan (baik pada korban hidup atau mati)
dilakukan mengingat adanya faktor individual, penyulit (misalnya
infeksi, kelainan darah, atau penyakit defisiensi).
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk memperkirakannya,
yaitu dengan melakukan :
1. Pemeriksaan Makroskopik
Pemeriksaan dengan mata telanjang atas luka dapat memperkirakan
berapa umur luka tersebut. Pada korban hidup, perkiran dihitung
dari saat trauma sampai saat diperiksa dan pada korban mati, mulai
dari saat trauma sampai saat kematiannya.
Pada kekerasan dengan benda tumpul, umur luka dapat diperkirakan
dengan mengamati perubahan-perubahan yang terjadi. Mula-mula
akan terlihat pembengkakan akibat ekstravasai dan inflamasi,
berwarna merah kebiruan. Sesudah 4 sampai 5 hari warna tersebut
berubah menjadi kuning kehijauan dan sesudah lebih dari seminggu
menjadi kekuningan. Pada luka robek atau terbuka dapat
diperkirakan umurnya dengan mengamati perubahan-perubahannya.
Dalam selang waktu 12 jam sesudah trauma akan terjadi
pembengkakan pada tepi luka. Selanjutnya kondisi luka akan
23

didominasi oleh tanda-tanda inflamasi dan disusul tanda
penyembuhan.
2. Pemeriksaan mikroskopik
Perlu dilakukan pemeriksaan mikroskopik pada korban mati. Selain
berari guna bagi penentuan intravitalitas luka, juga dapat
menentukan umur luka secara lebih teliti dengan mengamati
perubahan-perubahan histologiknya.
Menurut Walcher, Robertson dan hodge, infiltrasi perivaskular dari
lekosit polimorfnuklear dapat dilihat dengan jelas pada kasus
dengan periode-periode survival sekitar 4 jam atau lebih. Dilatasi
kapiler dan marginasi sel lekosit mungkin dapat lebih dini lagi,
bahkan beberapa menit sesudah trauma.
Pada trauma dengan iinflamasi aseptik, proses eksudasi akan
mencapai puncaknya dalam waktu 48 jam.
Epitelisasi baru terjadi hati ketiga, sedang sel-sel fibroblas mulai
menunjukkan perubahan reaktif sekitar 15 jam sesudah trauma.
Tingkat proliferasi tersebut serta pembentukan kapiler-kapiler baru
sangat variatif, biasanya jaringan granulasi lengkap dengan
vaskularisasinya akan terbentuk sesudah 3 hari. Serabut kolagen
yang baru juga mulai terbentuk 4 atau 5 hari sesudah trauma.
Pada luka-luka kecil, kemungkinan jaringan parut tampak pada
akhir minggu pertama. Biasanya sekitar 12 hari sesudah trauma,
aktivitas sel-sel epitel dan jaringan di bawahnya mengalami regresi.
Akibatnya jaringan epitel mengalami atrofi, vaskularisasi jeringan
di bawahnya juga berkurang diganti serabut-serabut kolagen.
Sampai beberapa minggu sesudah penyembuhannya, serabut elastis
masih lebih banyak dari jaringan yang tidak kena trauma.
Perubahan histologik dari luka sangat dipengaruhi oleh ada tidaknya
infeksi karena infeksi akan menghambat proses penyembuhan luka
3. Pemeriksaan histokemik
Perubahan morfologik dari jaringan hidup yang mendapat trauma
adalah akibat dari fenomena fungsional yang sejalan dengan
24

aktifitas enzim, yaitu protein yang berfungsi sebagai katalisator
reaksi biologik.
Pemeriksaan histokemik ini didasarkan pada reaksi yang dapat
dilihat dengan pemeriksaan mikroskopik dengan menambahkan zat-
zat tertentu. Mula-mula luka atau bagian dari luka dipotong dengan
menyertakan jaringan di sekitarnya, kira-kira setengah inci. Separo
dari potongan itu difiksasi dengan mengunakan formalin 10% di
dalam refrigerator dengan suhu 4 derajat celcius sepanjang malam
untuk membuktikan adanya aktifitas esterase dan fosfatase.
Separonya lagi dibekukan dengan isopentane dengan menggunakan
es kering guna mendeteksi adanya adenosine triphosphatase dan
aminopeptidase.
Peningkatan aktifitas adenosine triphosphatase dan esterase dapat
dilihat lebih dini setengah jam setelah trauma. Peningkatan aktifitas
aminopeptidase dapat dilihat sesudah 2 jam, sedang peningkatan
acid phosphatase alkali phophatase sesudah 4 jam.
4. Pemeriksaan biokemik
Meskipun pemeriksaan histokemik telah banyak menolong, tetapi
reaksi trauma yang ditunjukkan masih memerlukan waktu yang
relatif panjang, yaitu beberapa jam sesudah trauma. Padahal yang
sering terjadi, korban mati beberapa saat sesudah trauma sehingga
belum dapat dilihat reaksinya dengan metode tersebut. Oleh sebab
itu perlu dilakukan pemeriksaan biokemik. Histamin dan serotinin
merupakan zat vasoaktif yang bertanggung jawab terhadap
terjadinya inflamasi akut, terutama pada stadium awal trauma.
Penerapannya bagi kepentingan forensik telah diplubikasikan
pertama kali pada tahun 1965 oleh Vazekas dan Viragos-Kis.
Mereka melaporkan adanya kenaikan histamin bebas pada jejas jerat
antemortem pada kasus gantung. Oleh peneliti lain kenaikan
histamin terjadi 20-30 menit sesudah trauma, sedang serotonin naik
setelah 10 menit,

25

BAB III
PENUTUP
Luka pada Ilmu Kedokteran Forensik merupakan salah satu bagian terpenting.
Luka bisa terjadi pada korban hidup maupun korban mati. Luka bisa terjadi akibat
kekerasan mekanik, kekerasan fisik, & kekerasan kimiawi. Luka dapat
diklasifikasikan berdasarkan jenis benda, yaitu akibat kekerasan benda tumpul,
akibat benda tajam, akibat tembakan senjata api, akibat benda yang muda pecah,
akibat suhu/temperatur, akibat trauma listrik, akibat petir, dan akibat zat kimia
korosif.
Selain itu, dari luka bisa diketahui waktu terjadinya kekerasan, apakah luka
terjadi antemortem atau postmortem. Terkadang dari luka kita bisa mengetahui
umur luka. Walaupun belum ada satupun metode yang digunakan untuk menilai
dengan tepat kapan suatu kekerasan dilakukan mengingat adanya berbagai
macam faktor yang mempengaruhinya; seperti faktor infeksi, kelainan darah, atau
penyakit defisiensi.
Dari deskripsi luka dokter juga dapat membantu pihak hukum untuk
menentukan kualifikasi luka sesuai dengan KUHP Bab XX pasal 351 dan 352
serta Bab IX pasal 90. Yang pada tindak pidana untuk menentukan hukuman
yang diberikan kepada pelaku kekerasan dengan melihat deskripsi luka yang kita
buat. Oleh karena itu diharapkan kita sebagai calon dokter yang nantinya sebagai
dokter di masyarakat umum akan banyak menemukan kasus kekerasan atau
penganiayaan yang menyebabkan luka baik pada korban hidup maupun korban
mati, bisa mendeskripsikan luka sebaik-baiknya dalam Visum et Repertum.







26

DAFTAR PUSTAKA

Afandi. 2010. Visum et Repertum pada Korban Hidup. Bagian Ilmu Kedokteran
Forensik dan Medikolegal: FK UNRI

Amir, Prof. Dr. Amri. 2005. Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Kedua.
Percetakan Ramadhan: Medan.

Budiyanto A, Widiatmaka W, sudiono S, dkk. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik.
Bagian Kedokteran Forensik Universitas Indonesia: Jakarta

Dahlan, Sofwan. Pembuatan Visum Et Repertum. Badan Penerbit
Universitas Diponegoro. Semarang : 2003.

Herlambang, Penggalih Mahardika. Mekanisme Biomolekuler Luka Memar
[online]. 2010. Available at:
http://sibermedik.files.wordpress.com/2008/10/biomol-memar_rev.pdf. [cited : 06
agustus 2014].

Idries, Dr. Abdul Munim. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi
Pertama. Binapura Aksara: Jakarta Barat.
.