Anda di halaman 1dari 9

Diabetes Mellitus

Diabetes mellitus (DM) adalah suatu penyakit multisistem yang menyebabkan


berbagai perubahan biokimiawi dan struktural dalam tubuh. DM merupakan penyakit
kronis yang didasari oleh adanya gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan
protein. Gangguan metabolisme ini disebabkan oleh kerja hormon insulin yang tidak
adekuat.
3
Penyebab diabetes mellitus terdiri atas beberapa faktor yang saling
berinteraksi, antara lain faktor genetik, faktor lingkungan, dan gaya hidup. alah satu
karakteristik penyakit diabetes mellitus adalah hiperglikemia. !aktor" faktor yang
memi#u terjadinya hiperglikemia men#akup penurunan sekresi insulin, penurunan
utilisasi glukosa, dan peningkatan produksi glukosa. $iperglikemia kronis disertai
gangguan metabolime lainnya dapat menyebabkan perubahan patofisiologis pada
berbagai sistem organ, terutama ginjal, mata, persarafan, dan pembuluh darah.
%,3
Diagnosis Diabetes Mellitus
&adar glukosa darah normal dipertahankan dalam rentang yang sempit, yaitu
sekitar '( sampai )%( mg*dl. Diagnosis diabetes dilakukan dengan pemeriksaan kadar
glukosa darah yang meningkat melalui salah satu dari tiga kriteria+

Glukosa darah sewaktu , %(( mg*dl, dengan gejala"gejala klinis klasik

Glukosa darah puasa , )%- mg*dl lebih dari beberapa kali

$asil uji toleransi glukosa oral yang abnormal, yaitu kadar glukosa darah , %((
mg*dl dua jam setelah pemberian glukosa oral standar.
%
&elainan kadar glukosa darah ini terjadi berkelanjutan. .ika kadar glukosa
darah puasa / ))( mg*dl, atau kurang dari )0( mg*dl setelah uji toleransi glukosa
oral, maka seseorang dapat dikatakan euglikemik. .ika kadar glukosa puasa sekitar
))(")%- mg*dl, atau sekitar )0("%(( mg*dl, maka dianggap terdapat toleransi glukosa
yang terganggu. 1rang dengan gangguan toleransi glukosa mempunyai risiko lebih
tinggi terkena penyakit kardio2askular, karena metabolisme karbohidrat yang
terganggu disertai adanya faktor risiko seperti kadar $D3 yang rendah,
hipertrigliseridemia, dan peningkatan plasminogen activator inhibitor-1 (P45")).
%
)
Klasifikasi Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu DM primer dan
DM sekunder.
DM primer terdiri atas empat tipe, yaitu+ ()) DM tipe 5 atau 5DDM atau
juvenile-onset DM, (%) DM tipe 55 atau 65DDM atau maturity-onset DM, (3) DM tipe
555 oleh defek genetik pada sekresi atau kerja insulin, dan (0) DM tipe 57 atau DM
gestasional (terjadi pada masa kehamilan).
3
DM sekunder biasanya terjadi karena adanya gangguan pankreas yang
mnyeluruh, misalnya pankreatitis kronis dan hemokromatosis, atau karena adanya
sekresi hormon yang kerjanya berlawanan dengan efek insulin, misalnya sindrom
8ushing dan akromegali.
3
Fisiologi Insulin Normal
$omeostasis glukosa normal diatur oleh produksi glukosa di hati, pemasukan
dan penggunaan glukosa oleh jaringan, dan kerja hormon insulin dan hormon"
hormon yang fungsinya berlawanan dengan insulin, seperti glukagon.
%
5nsulin dan glukagon mempunyai fungsi regulasi yang berlawanan terhadap
homeostasis glukosa. elama masa puasa, kadar insulin yang rendah dan kadar
glukagon yang tinggi memi#u proses glukoneogenesis dan glikogenolisis, serta
mengurangi proses sintesis glikogen untuk menghindari terjadinya hipoglikemia.
etelah makan, kadar insulin meningkat dan kadar glukagon turun untuk memi#u
pemasukan dan penggunaan glukosa dalam jaringan.
),%
5nsulin diproduksi oleh sel"sel 9 pada pulau"pulau 3angerhans pankreas.
timulus yang paling penting untuk memi#u sintesis dan pelepasan insulin adalah
glukosa. Peningkatan kadar glukosa darah memungkinkan pemasukan glukosa ke
dalam sel"sel 9 pankreas dengan diperantarai oleh suatu protein transporter glukosa,
yaitu G3:;"%. Metabolisme glukosa melalui glikolisis menghasilkan 4;P, sehingga
terjadi peningkatan rasio perbandingan 4;P*4DP. $al ini menghambat akti2itas
channel kalium pada membran sel 9, sehingga terjadi depolarisasi membran dan
pemasukan kalsium ekstraselular melalui channel kalsium. Peningkatan kadar
kalsium intraselular merangsang sekresi insulin, yang diduga berasal dari tempat
penyimpanannya yaitu granula sel 9. <at"=at lain men#akup hormon intestinal dan
%
beberapa asam amino (leusin dan arginin) hanya merangsang pelepasan dan bukan
sintesis insulin.
%,3
Gambar ). 5nsulin diproduksi dalam pulau 3angerhans pankreas (bagian yang berwarna pu#at).
!ungsi metabolik utama insulin adalah meningkatkan ke#epatan transpor
glukosa ke dalam sel"sel tertentu dalam tubuh, terutama sel"sel otot skelet dan sel"sel
otot jantung. Dalam sel"sel otot, glukosa kemudian disimpan sebagai glikogen atau
dimetabolisme menjadi 4;P, terutama melalui jalur fosforilasi oksidatif dan daur
&rebs.
),%
Gambar %. Daur asam sitrat atau dikenal dengan nama daur &rebs.
3
Patogenesis Diabetes Mellitus Tipe I
Diabetes mellitus tipe 5 merupakan suatu penyakit autoimun yang menyerang
organ spesifik. >iasanya, penyakit ini mulai timbul pada masa kanak"kanak atau masa
remaja, di mana terjadi gangguan biokimiawi dalam metabolisme sehingga
menyebabkan hiperglikemia dan ketoasidosis diabetik.
3
Pada DM tipe 5, terjadi kerusakan pulau 3angerhans pankreas karena terdapat
antibodi terhadap sel"sel endokrin di tempat tersebut, termasuk juga sel"sel yang
mensekresi insulin. &erusakan ini disebabkan oleh reaksi limfosit ; terhadap
perubahan antigen sel"sel 9. 3imfosit ; yang berperan dalam proses ini adalah sel ;
8D0? yang mengakti2asi makrofag dan sel ; sitotoksik 8D@? yang membunuh sel"
sel 9 dan mensekresikan sitokin (5!6"A). Makrofag yang terakti2asi juga
mengeluarkan sitokin, yaitu ;6! dan 53"). itokin"sitokin ini dianggap berperan
dalam menginduksi apoptosis sel"sel 9. &erusakan luas sel"sel pulau 3angerhans ini
menyebabkan defisiensi insulin dan selanjutnya menyebabkan berbagai gangguan
metabolisme.
%,3
&ejadian DM tipe 5 juga dipengaruhi oleh aspek genetik, yaitu pada lokus
yang mengkode molekul M$8 kelas 55 ($34"D). ebagian besar penderita DM tipe 5
mempunyai $34"DB3 dan*atau $34"DB0. Peran molekul M$8 dalam penyakit
autoimun ini masih belum jelas, tetapi diduga mempunyai hubungan erat dengan
peran limfosit ; dalam penyakit ini.
%,3
!aktor yang diduga dapat memi#u reaksi autoimun pada DM tipe 5 adalah
infeksi 2irus, misalnya pada penyakit gondongan, #ampak, dan #oCsa#kie >. 5nfeksi
2irus diduga dapat menyebabkan kerusakan struktural ringan pada sel"sel 9 pankreas
sehingga mengubah antigenisitasnya dan meman#ing reaksi dari limfosit ;.
elanjutnya, terjadi proses autoimunitas seperti yang telah disebutkan sebelumnya.
%,3
Patogenesis Diabetes Mellitus Tipe II
Patogenesis DM tipe 55 masih belum dapat dijelaskan se#ara pasti. ;etapi,
faktor lingkungan, gaya hidup, dan kebiasaan makan telah diketahui mempunyai
peran penting dalam perkembangan penyakit ini. !aktor genetik juga mempunyai
pengaruh pada penyakit ini. >erbeda dengan DM tipe 5, DM tipe 55 tidak
menunjukkan adanya proses autoimunitas.
%,3
0
Gangguan metabolisme yang menjadi #iri"#iri DM tipe 55 adalah resistensi
insulin dan sekresi insulin yang tidak adekuat. Pada awalnya, kadar insulin dalam
darah normal atau sedikit meningkat, kemudian akan turun hingga di bawah kadar
insulin normal.
3
Besistensi insulin didefinisikan sebagai resistensi terhadap efek insulin pada
proses pemasukan, metabolisme, dan penyimpanan glukosa. $al ini menyebabkan
penurunan pemasukan glukosa ke dalam jaringan otot dan jaringan lemak, disertai
ketidakmampuan hormon tersebut untuk menekan proses glukoneogenesis. Besistensi
insulin diduga merupakan akibat dari gangguan fungsi reseptor insulin pada
permukaan sel target. Pada obesitas (terutama obesitas sentral), resistensi insulin
dapat terjadi karena timbunan lemak yang berlebihan, terutama asam lemak bebas.
%,3
Disfungsi sel 9 pada DM tipe 55 dapat merupakan disfungsi kualitatif maupun
disfungsi kuantitatif. Disfungsi kualitatif menunjukkan hilangnya pola osilasi sekresi
insulin yang selanjutnya akan mempengaruhi seluruh fase sekresi insulin. Dalam hal
ini, masih terdapat sekresi insulin basal tetapi tidak men#ukupi kebutuhan. Disfungsi
kuantitaif menunjukkan adanya pengurangan massa sel 9, degenerasi pulau
3angerhans, dan penimbunan protein amyloid (amylin) pada pulau 3angerhans.
Penimbunan amylin berhubungan dengan berkurangnya massa sel 9, tetapi tidak
diketahui apakah penimbunan amylin menyebabkan pengurangan massa sel 9 atau
sebaliknya.
%,3
Patogenesis Komplikasi Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang
penting karena berbagai komplikasinya. &omplikasi diabetes mellitus yang terutama
adalah+
"
Predisposisi terhadap infeksi
"
4terosklerosis berat
"
Gangguan pembuluh darah ke#il
"
Gangguan glomerulus ginjaD
"
Gangguan 2askular retina
"
&erusakan saraf perifer.
3
4kibatnya, penderita DM mempunyai risiko lebih tinggi untuk terkena penyakit
jantung iskemik, gangguan serebro2askular, gangren ekstremitas bawah, penyakit
E
ginjal kronis, penurunan tajam penglihatan sampai dengan kebutaan, dan neuropati
perifer.
3
Predisposisi terhadap infeksi
Penderita diabetes jauh lebih rentan terkena infeksi, misalnya infeksi pada kulit,
paru"paru dan ginjal, serta #enderung mengalami gejala"gejala yang lebih berat.
$al ini mungkin disebabkan oleh imunitas selular dan fungsi fagosit yang
abnormal yang berhubungan dengan hiperglikemia dan 2askularisasi yang
terganggu. 5nfeksi yang sering terjadi pada kulit adalah infeksi folikular oleh
bakteri stafilokokus, yang lebih berat pada penderita diabetes daripada orang non"
diabetik. Penyakit kulit lain yang umum terjadi pada penderita diabetes adalah
infeksi jamur superfisial (misalnya, infeksi mukosa oral atau genital oleh jamur
Candida), selulitis, dan erisipelas. Penyakit tuberkulosis paru sering ditemukan
pada penderita diabetes. 5nfeksi saluran kemih pada penderita diabetes paling
sering disebabkan oleh Fs#heri#hia #oli. &omplikasi infeksi saluran kemih dapat
berupa sistitis yang mengenai kandung kemih dan pielonefritis jika mengenai
ginjal.
%,3
Aterosklerosis berat
Penderita diabetes dapat mengalami aterosklerosis yang lebih berat daripada orang
non"diabetik pada usia dan gender yang sama. Patogenesis terjadinya
aterosklerosis meliputi beberapa faktor, antara lain adanya 4GF (advanced
glycation and product), dislipidemia, dan disfungsi platelet. Protein plasma yang
dimodifikasi oleh 4GF kemudian berikatan dengan reseptor 4GF yang terdapat
pada sel endotel dan sel otot polos dapat menyebabkan pelepasan sitokin
proaterogenik dan faktor pertumbuhan, kemudian menyebabkan kerusakan
endotel yang akan mempermudah kejadian aterosklerosis. Dislipidemia, termasuk
peningkatan kadar trigliserida dan 3D3 serta penurunan kadar $D3 (faktor
protektif), meningkatkan risiko terjadinya aterosklerosis. Dislipidemia mungkin
disebabkan oleh gangguan metabolisme dan utilisasi glukosa oleh sel yang
memi#u peningkatan metabolisme lemak menjadi trigliserida dan kolesterol.
Peningkatan perlekatan platelet pada dinding pembuluh darah pada keadaan
-
resistensi insulin, mungkin karena peningkatan sintesis tromboksan 4
%
dan
penurunan prostasiklin, juga memper#epat terjadinya aterosklerosis.
),%,3
Gambar 3. kema perkembangan aterosklerosis
Penyakit mikrovaskular
Pada penderita diabetes, perubahan aterosklerotik dapat terjadi pada #abang arteri
yang lebih ke#il, yaitu arteriol dan kapiler. Pada arteriol dan kapiler, tampak
penebalan dinding pembuluh darah karena timbunan hasil metabolisme lemak
terutama kolesterol pada tunika intima. 3umen pembuluh darah akan menyempit
sehingga dapat terjadi sumbatan. Gangguan pembuluh darah ke#il ini tersebar di
seluruh tubuh dan dapat menyebabkan iskemi jaringan tubuh, terutama pada
ginjal, retina, otak, dan saraf perifer.
Pada ginjal, kapiler glomerulus menunjukkan adanya penebalan membran basalis
disertai kebo#oran dinding kapiler. $al ini menyebabkan kebo#oran protein
plasma ke dalam filtrat glomerular melebihi daya reabsorbsi tubulus ginjal,
sehingga protein akan keluar melalui urin (proteinuria). elanjutnya, dapat terjadi
hialinisasi glomerular yang pada akhirnya dapat berkembang menjadi gagal ginjal
kronis.
3
'
Pada retina, perubahan dinding pembuluh darah menyebabkan perdarahan retina
dan proliferasi 2askular. Pada otak, gangguan pembuluh darah dapat
menyebabkan infark lakunar dan degenerasi iskemik substansia alba. Pada saraf
perifer, perubahan dinding kapiler dianggap sebagai faktor utama yang
menyebabkan perkembangan neuropati perifer.
3
Neuropati perifer
6europati perifer yang paling umum adalah polineuropati perifer simetris, yang
mempengaruhi tangan dan kaki. Gangguan ini menyebabkan hilangnya kepekaan,
terutama terhadap rasa sakit. Befleks untuk menjauhi rasa sakit juga menghilang
sehingga terjadi kerusakan kulit karena trauma ringan yang berulang, misalnya
karena gesekan sepatu pada tumit. >entuk ulserasi trofik yang terjadi pada
gangguan ini akan menjadi kronis dan pemulihannya terganggu oleh trauma yang
berulang dan iskemi pada ekstremitas karena gangguan pembuluh darah pada
penderita diabetes.
3
Nefropati diabetik
elain predisposisi infeksi pada saluran kemih dan ke#enderungan terjadinya
iskemi kronis karena aterosklerosis pada kapiler glomerulus ginjal, terdapat juga
penebalan membran basalis pada glomerulus, glomerulosklerosis diabetik (difus
dan nodular), lesi eksudatif glomerular, dan nekrosis papilar. $asil akhir dari
gangguan ini adalah perkembangan ke arah gagal ginjal kronis.
3
Gangguan pada mata
Diabetes dapat mempengaruhi mata dengan beberapa #ara+
" Background retinopathy
Disebabkan oleh abnormalitas pembuluh darah ke#il pada retina yang
menimbulkan eksudat kasar, perdarahan, dan mikroaneurisme.
" Betinopati proliferatif
Disebabkan oleh proliferasi kapiler baru yang berlebihan pada retina.
Gangguan penglihatan disebabkan oleh perdarahan 2itreus dari pembuluh
darah baru atau karena lepasnya lapisan retina.
@
" Makulopati
Disebabkan oleh edema, eksudat, atau iskemi retina dan menimbulkan
penurunan ketajaman penglihatan.
" !ormasi katarak
" Glaukoma
;erjadi karena neo2askularisasi iris (rubeosis iridis).
3
Gambar 0. Gambaran retinopati pada penderita diabetes
G