Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN SISTEM PERTANIAN

BERKELANJUTAN KONSERVASI
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Sistem Pertanian Berkelanjutan Konservasi (SPBK)


Oleh:
GARETHA DAMAYANTI
150510100115











PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2013
Kegiatan Praktikum Sistem Pertanian Berkelanjutan Konservasi (SPBK)
Kegiatan praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 18 Mei 2013. Lokasi praktikum
dilaksanakan di daerah Ciparanje, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Desa Cikeruh,
Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Kegiatan yang dilakukan meliputi
pengamatan di 7 titik dengan berbagai metode konservasi lahan dalam mengatasi erosi yang
dapat terjadi dan meningkatkan sistem pertanian bekelanjutan. Pos yang di amati diantaranya:
1. Hutan Mahoni
Titik pengamatan pertama adalah hutan mahoni. Pada titik ini ditemukan metode
konservasi dengan menggunakan tanaman tahunan ialah pohon mahoni dan semak-
semak belukar yang jatuh ke tanah sehingga menutupi permukaan tanah. Kemiringan
lereng pada pos pertama ini diperkirakan 100% atau setara dengan 45
o
.
a) Penggunaan lahan : pada titik ini tidak ditemukan adanya budidaya tanaman
hanya sekedar pohon mahoni dan pohon bambu serta banyaknya semak belukar.
b) Sistem pertanian : pada titik ini tidak ditemukan sistem pertanian apapun.
c) Apakah terdapat erosi : pada titik ini tidak ditemukan gejala erosi. Hal ini dapat
disebabkan karena adanya tanaman tahunan yang berkanopi luas sehingga
menghalangi jatuhnya air hujan ke permukaan tanah, selain itu didukung juga
dengan terdapatnya cukup banyak semak belukar serta serasah di permukaan
tanah yang dapat mengurangi laju erosi pleh aliran permukaan ataupun karena
hujan. Selain itu serasah dapat melapuk menjadi bahan organik sehingga tanah
memiliki agregat yang besar, dan menyerap air lebih banyak maka dapat
menghalangi terjadinya erosi.
d) Usaha Konservasi Tanah dan Air : usaha konservasi yang dilakukan di titik ini
adalah dengan penanaman tanaman tahunan (metode vegetatif).
e) Rekomendasi : usaha konservasi yang ada pada titik pertama sudah cukup efektif
untuk menghalangi erosi yang dapat terjadi pada lahan tersebut. Rekomendasi
yang mungkin dapat dilakukan pada lahan ini dengan cara budidaya agroforesty,
yaitu budidaya dengan menggabungkan tanaman tahunan dan budidaya tanaman
semusim.







Hutan mahoni

2. Teras Bangku sempurna (teras persawahan)
Titik kedua adalah metode konservasi dengan menggunakan teras bangku
sempurna (teras persawahan), metode ini termasuk kedalam salah satu metode
konservasi secara mekanik. Titik kedua ini sebelumnya berupa dam pengendali yang
berfungsi penahan air dan sedimentasi yang kemudian terjadi erosi sehingga terjadi
sedimentasi maka akhirnya oleh warga sekitar digunakan sebagai areal persawahan.
Dan untuk menghalangi terjadi erosi pada titik ini, digunakan metode konservasi ialah
metode teras bangku.
a) Penggunaan lahan : titik yang sebelumnya dijadikan dam pengendali ini berubah
menjadi areal persawahan dengan metode teras bangku.
b) Sistem pertanian : titik ini dijadikan areal persawahan dengan sistem pertanian
monokultur (pada lahan basah) yang ditanami padi dan sistem pertanian polikultur
(pada lahan percobaan) yang ditanami jewawut dan padi. Pada areal persawahan
juga digunakan saluran irigasi sederhana.
c) Apakah terdapat erosi : pada titik ini terdapat gejala erosi akan tetapi masih
rendah.
d) Usaha Konservasi Tanah dan Air : usaha konservasi pada titik ini adalah dengan
menggunakan teras bangku, rumput digunakan sebagai penguat teras.
e) Rekomendasi : metode konservasi yang dilakukan sudah efektif untuk
menghalangi terjadinya erosi mungkin hanya tinggal dilakukan pemeliharaan yang
intensif sehingga ketahanan dari teras bangku sempurna lebih terjaga.











Lahan basah yang ditanami padi Lahan percobaan yang ditanami
jewawut dan padi

3. Alley Cropping (Budidaya Lorong)
Titik ketiga adalah pos yang menggunakan metode konservasi alley cropping
(budidaya lorong). Sistem pertanaman lorong (alley croping) adalah suatu sistem di
mana tanaman pangan ditanam pada lorong (alley) di antara barisan tanaman pagar.
Tanaman yang ditanam pada lahan ini adalah ubi jalar liar dan tanaman tahunan
(buah-buahan) yaitu pohon mangga yang ditanam dalam satu baris, apabila sudah
besar makan tamana yang tumbuh akan terlihat seperti membentuk lorong.
Kemiringan pada lahan ini diperkirakan 22%. Selain itu pada lahan itu juga
diterapkan teras bangku yang berfungsi untuk menahan potensi erosi pada lahan
tersebut.
a) Penggunaan lahan : titik ini digunakan sebagai kebun percobaan dan lahan
budidaya.
Perhitungan :
- Hi = 5 meter
- Vi = 0,73 meter
b) Sistem pertanian : pada titik ini diterapkan sistem pertanian tumpangsari atau
polikultur. Tanaman yang digubakan adalah tanaman ubi jalar liat dan tanaman
tahunan (buah-buahan) yaitu pohon mangga.
c) Apakah terdapat erosi : pada titik ini tidak ditemukan adanya gejala-gejala erosi
hal ini mungkin disebabkan kerapatan tanaman ubi jalar yang cukup rapat,
sehingga potensi erosi yang disebabkan oleh percikan hujan dan aliran permukaan
terhambat.
d) Usaha Konservasi Tanah dan Air : pada titik ini metode konservasi yang
digunakan adalah alley cropping. Tanaman yang digunakan adalah tanaman ubi
jalar liar dan tanaman mangga. Selain itu, metode terasering pada titik ini juga
sudah diterapkan untuk dapat mengendalikan terjadinya erosi.
e) Rekomendasi : pada titik ini teknik konservasi yang digunakan sudah dapat
dikatakan cukup efektif untuk menghalangi erosi. Akan tetapi, perlu usaha yang
cukup ketat untuk perawatan diantaranya adalah perawatan pada tanaman mangga,
dikarenakan tanaman mangga yang ditanam dalam keadaan yang sangat tidak baik
dan kanopi dari tanaman mangga tidak bisa menahan erosi yang disebabkan oleh
percikan air hujan.







Pohon mangga pada budidaya lorong Tanaman ubi pada budidaya lorong

4. Cek Dam
Titik keempat menggunakan metode konservasi yaitu cek dam pengendali.
Bendungan atau cek dam adalah konstruksi yang dibangun untuk menahan
laju air menjadi waduk atau danau. Seringkali bendungan juga digunakan untuk
mengalirkan air ke sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Air. Kebanyakan cek dam juga
memiliki bagian yang disebut pintu air untuk membuang air yang tidak diinginkan
secara bertahap atau berkelanjutan. Pada pos ini luas cek dam yang dibangun adalah
sekitar 30 m x 80 m x 3 m. Akan tetapi pada saat pengamatan cek dam telah beralih
fungsi menjadi kebun percobaan yaitu lahan yang ditanami jagung, hal ini disebabkan
karena ketinggian cek dam yang sudah semakin berkurang akibat sedimentasi akibat
tembok yang lebih rendah dari lahan percobaan.
a) Penggunaan lahan : titik ini yang sebelumnya merupakan cek dam lalu berubah
menjadi kebun percobaan yang ditanami jagung akibat sedimentasi.
b) Sistem pertanian : monokultur
c) Apakah terdapat erosi : pada titik ini ditemukan terjadi erosi yang ditandai dengan
adanya perubahan fungsi cek dam menjadi kebun percobaan.
d) Usaha Konservasi Tanah dan Air : pada titik ini sebelumnya terdapat usaha
konservasi yaitu dengan cek dam, akan tetapi setelah terjadinya sedimentasi dan
berubah menjadi kebun percobaan tidak ditemukan metode konservasi.
e) Rekomendasi : sebaiknya pada kebun percobaan ini diterapkan metode konservasi
vegetatif yaitu dengan melakukan budidaya lorong.





Cek Dam

5. Cek dam Pengendali
Titik kelima merupakan pos bagian dari cek dam pengendali. Cek dam
pengendali ini dibangun sekitar tahun 1996. Sebelum dijadikan Cek dam, titik ini
merupakan dasar sungai. Cek dam ini berfungsi sebagai daerah pencegahan erosi dan
landslide yang terjadi akibat aliran permukaan (runoff). Air yang ditahan pada cek
dam ini dialirankan pada sungai kecil disebelah cek dam dengan menggunakan pintu
air yang dapat dibuka pada saat debit air sudah yang akan bermuara ke subdas Citarik
yang merupakan anak sungai dari sungai Citarum. Tanaman yang ditemukan disekitar
daerah cek dam adalah padi pada lahan basah dan tanaman palawija, tomat, cabe.
Pada titik ini juga terjadi sedimentasi, sekitar hampir 2 meter, akibat terjadinya
sedimentasi maka titik ini berubag menjadi areal persawahan.
a) Penggunaan lahan : pada titik ini digunakan sebagai areal persawahan yang
ditanami padi dan lahan yang ditanami palawija, tomat, dan cabe.
b) Sistem pertanian : monokultur (tanaman padi) pada lahan basah dan tanaman
palawija, tomat, dan cabe pada lahan kering.
c) Apakah terdapat erosi : pada titik ini menunjukkan bahwa terjadi erosi yang cukup
besar sehingga mengakibatkan adanya lahan kritis. Selain itu terdapat sedikit erosi
pada dinding teras bangku sempurna yang dibuat.
d) Usaha Konservasi Tanah dan Air : di titik ini diterapkan metode konservasi
berupa Cek dam yang dapat mengendalikan erosi dan tanah longsor. Akan tetapi
karena lahan cek dam yang telah beralih fungsi menjadi lahan budidaya terdapat
metode konservasi yaitu pembuatan teras bangku sempurna.
e) Rekomendasi : untuk titik ini lahan cek dam berubah menjadi lahan budidaya
seharusnya dapat dikembalikan lagi kepada fungsi yang semula, yaitu dengan cara
melakukan pengerukan sedimentasi. Dan dilakukan pemeliharaan yang intensif,
pada kenyataannya areal cek dam yang terdahulu kurang mengalami perawatan
oleh karena itu terjadi pendangkalan yang sangat signifikan sehingga dapat
digunakan sebagai lahan budidaya.

6. Agroforestry
Titik keenam adalah titik dengan metode konservasi agroforestry.
Agroforestry merupakan manajemen pemanfaatan lahan secara optimal dan lestari
dengan cara mengkombinasikan kegiatan kehutanan dan pertanian pada unit
pengelolaan lahan yang sama dengan memperhatikan kondisi lingkungan fisik, sosial
ekonomi dan budaya masyarakat yang berperan serta (Departemen Kehutanan, 1992).
Tujuan penggunaan agroforesty ini adalah memberikan kesempatan pada masyarakat
untuk mendapatkan hasil dari penanaman di lahan agroforesty dalam waktu yang
singkat. Dalam sistem agroforestry terdapat interaksi antara ekologi dan ekonomi
diantara komponen-komponen yang berbeda (VanNoordwijck, et al. 1994).
Kemiringan lahan yang teramati adalah 24
o
. Pada lahan Agroforestry yang kami amati
tanaman yang dipakai adalah tanaman mahoni, jati, dan tanaman tomat. Pada lahan
yang kami amati juga menggunakan metode konservasi teras bangku.
a) Penggunaan lahan : pada titik ini digunakan sebagai lahan agroforesty.
b) Sistem pertanian : tumpangsari antara tanaman hutan dan tanaman semusim
c) Apakah terdapat erosi : pada titik ini terjadi erosi akan tetapi pada jumlah yang
sedikit yaitu pada blok-blok tertentu. Pengamatan hanya terlihat sedikit erosi yang
disebabkan oleh percikan air hujan.
d) Usaha Konservasi Tanah dan Air : pada titik ini usaha konservasi yang dilakukan
adalah dengan menggunakan metode agroforestry dan teras bangku.
e) Rekomendasi : pada titik ini metode konservasi yang dilakukan ialah dengan
metode agroforesty dan teras bangku dapat dikatakan sudah cukup efektif untuk
menghalangi terjadinya erosi, akan tetapi perlu dilakukan perawatan yang lebih
intensif.







Agroforestry Pohon pisang pada agroforesty






Tanaman cabe pada agroforestry

7. Gully Erotion
Pada titik ini dilakukan pengamatan mengenai potensi erosi yang terjadi pada
lahan ini. Pada pengamatan ditemukan bahwa erosi yang terjadi adalah erosi parit
dengan kedalaman erosi 74 cm, panjang 550 cm, dan lebar dari erosi adalah 142 cm.
Pada pos ini tidak ditemukan metode konservasi yang dilakukan baik secara vegetatif,
mekanik, maupun kimiawi.
Perhitungan bidang yang tererosi :
V = 5.5 m x 0.74 m x 1. 42 m
= 5.779 m3 ~ 5.78 m3

Perhitungan kehilangan tanah dalam 1 ha
(10000 m3 )
= 5.78 m3/10000 m3 x 100 %
= 5.78 x 10-2 %









Titik tujuh yang mengalami gully erotion Saat pengukuran panjang erosi