Anda di halaman 1dari 14

Page | 1

Plexus brachialis

Plexus brachialis adalah anyaman (Latin: plexus) serat saraf yang berjalan dari tulang belakang
C5-T1, kmeudian melewati bagian leher dan ketiak, dan akhirnya ke seluruh lengan (atas dan
bawah). Serabut saraf yang ada akan didistribusikan ke berberapa bagian lengan.
Anatomi
Plexus brachialis dimulai dari lima rami ventral dari saraf spinal. Rami (tunggal: ramus yang
berarti "akar") akan bergabung membentuk 3 trunkus yaitu: trunkus superior (C5 dan C6),
trunkus inferior (C7) dan trunkus medialis (C8 dan T1).
Setiap trunkus akan bercabang membentuk dua divisi yaitu divisi anterior dan divisi posterior.
Enam divisi yang ada akan kembali menyatu dan membentuk fasciculus. Tiap fasciculus diberi
nama sesuai letaknya terhadap arteri axillaris.
Fasciculus posterior terbentuk dari tiga divisi posterior tiap trunkus.
Fasciculus lateralis terbentuk dari divisi anterior trunkus anterior dan medalis.
Fasciculus medalis adalah kelanjutan dari trunkus inferior.
Cabang-cabang plexus brachialis

3 Cabang dari ramus
1. Nervus dorsalis scapulae
o bersal dari ramus C5, mempersarafi otot rhomboideus major dan minor serta
otot levator scapulae.
2. Nervus ke subclavius
o berasal dari ramus C5 dan C6, mempersarafi otot subclavius.
3. Nervus thoracicus longus
o berasal dari ramus C5, C6, dan C7, mempersarafi otot serratus anterior.
1 Cabang dari trunkus
1. Nervus suprascapularis
o berasal dari trunkus superior, mempersarafi otot supraspinatus dan
infraspinatus.

3 Cabang dari fasciculus lateralis
1. Nervus pectoralis lateralis
o mempersarafi otot pectoralis major dan otot pectoralis minor.
2. Nervus musculocutaneus
Page | 2

o berasal dari C5 dan C6, mempersarafi otot coracobrachialis, otot brachialis, dan
otot biceps brachii. Selanjutnya cabang ini akan menjadi nervus cutaneus lateralis
dari lengan atas.
3. Cabang lateral nervus medianus
o memberikan cabang C5, C6, C7 untuk nervus medianus.
5 Cabang dari fasciculus posterior
1. Nervus subscapularis superior
o mempersarafi otot subscapularis.
2. Nervus thoracodorsalis
o mempersarafi otot latissimus dorsi.
3. Otot sibscapularis superior
o mempersarafi bagian bawah otot subscapularis dan otot teres major.
4. Nervus axillaris
o mempersarafi otot deltoideus, otot ters minor, sendi bahu, dan kulit di atas bagian
inferior deltoideus.
5. Nervus radialis
o mempersarafi otot triceps brachii, otot anconeus, otot brachioradialis dan otot
ekstensor lengan bawah.
o mempersarafi kulit bagian posterior lengan atas dan lengan bawah.
o merupakan saraf terbesar dari plexus.
5 Cabang dari fasciculus medialis
1. Nervus pectoralis medialis
o berasal dari C8 dan T1, mempersarafi otot pectoralis major dan otot pectoralis
minor.
2. Cabang medial nervus medianus
o memberikan cabang C8 dan T1 untuk nervus medianus.
3. Nervus cutaneus brachii medialis
o mempersarafi kulit sisi medial lengan atas.
4. Nervus cutaneus antebrachii medialis
o mempersarafi kulit sisi medial lengan bawah.
5. Nervus ulnaris
o mempersarafi satu setengah otot fleksor lengan bawah dan otot-otot kecil tangan,
dan kulit tangan di sebelah medial.
Type Paralysis / kelumpuhan
Kelumpuhan satu anggota tubuh / monoplegi tanpa atrofi musculus diduga karena sebab cortical
biasanya karena stroke atau trauma
Monoplegi dengan atrofi musculus sering di jumpai pada Multiple sclerosis dan injury plexus
brachialis atau poliomyelitis.
Hemiplegi/lumpuh separo merupakan kelumpuhan yang paling sering di temui disebabkan oleh
tractus desendents corticospinalis bisa karena stroke atau tumor.
Weber syndrome => lesi midbrain dengan manifestari ipsilateral palsy N III dan kontralateral
hemiplegia.
Millard-Gruber syndrome => lesi di pons inferior bermanifestasi palsy N VI dan VII serta
contralateral hemilpegi.
Paraplegi/ lumpuh kedua anggota gerak ( kaki saja atau tangan saja) => gangguan di perifer nerve
disease yang paling ujung( bukan SGB atau neuropatic diabetes)
Quadriplegi / ke empat empatnya lumpuh biasanya karena lesi di MS cervicalis, Morquio
syndrome
Page | 3

Jejas Lahir
Jejas lahir merupakan istilah untuk menunjukkan trauma mekanik yang dapat dihindari atau
tidak dapat dihindari, serta trauma anoksia yang dialami bayi selama kelahiran dan persalinan.
Beberapa macam jejas persalinan yang akan dibahas, antara lain :
1. Caput Suksadenum
Caput suksadenum adalah pembengkakan yang edematosa atau kadang-kadang ekimotik dan
difus dari jaringan lunak kulit kepala yang mengenai bagian yang telah dilahirkan selama
persalinan verteks. Edema pada caput suksadenum dapat hilang pada hari pertama, sehingga
tidak diperlukan terapi. Tetapi jika terjadi ekimosis yang luas, dapat diberikan indikasi
fototerapi untuk kecenderungan hiperbilirubin.
Kadang-kadang caput suksadenum disertai dengan molding atau penumpangan tulang
parietalis, tetapi tanda tersebut dapat hilang setelah satu minggu.

2. Sefalhematoma
Sefalhematoma merupakan perdarahan subperiosteum. Sefalhematoma terjadi sangat
lambat, sehingga tidak nampak adanya edema dan eritema pada kulit kepala. Sefalhematoma
dapat sembuh dalam waktu 2 minggu hingga 3 bulan, tergantung pada ukuran perdarahannya.
Pada neonatus dengan sefalhematoma tidak diperlukan pengobatan, namun perlu dilakukan
fototerapi untuk mengatasi hiperbilirubinemia. Tindakan insisi dan drainase merupakan
kontraindikasi karena dimungkinkan adanya risiko infeksi. Kejadian sefalhematoma dapat
disertai fraktur tengkorak, koagulopati dan perdarahan intrakranial.

3. Trauma pleksus brakialis
Jejas pada pleksus brakialis dapat menyebabkan paralisis lengan atas dengan atau tanpa
paralisis lengan bawah atau tangan, atau lebih lazim paralisis dapat terjadi pada seluruh
lengan. Jejas pleksus brakialis sering terjadi pada bayi makrosomik dan pada penarikan lateral
dipaksakan pada kepala dan leher selama persalinan bahu pada presentasi verteks atau bila
lengan diekstensikan berlebihan diatas kepala pada presentasi bokong serta adanya penarikan
berlebihan pada bahu.
Trauma pleksus brakialis dapat mengakibatkan paralisis Erb-Duchenne dan paralisis Klumpke.
Bentuk paralisis tersebut tergantung pada saraf servikalis yang mengalami trauma.
Pengobatan pada trauma pleksus brakialis terdiri atas imobilisasi parsial dan penempatan
posisi secara tepat untuk mencegah perkembangan kontraktur.

4. Fraktur klavikula
Tanda dan gejala yang tampak pada bayi yang mengalami fraktur klavikula antara lain : bayi
tidak dapat menggerakkan lengan secara bebas pada sisi yang terkena, krepitasi dan
ketidakteraturan tulang, kadang-kadang disertai perubahan warna pada sisi fraktur, tidak
adanya refleks moro pada sisi yang terkena, adanya spasme otot sternokleidomastoideus yang
disertai dengan hilangnya depresi supraklavikular pada daerah fraktur.

5. Fraktur humerus
Pada fraktur humerus ditandai dengan tidak adanya gerakan tungkai spontan, tidak adanya
reflek moro.
Penangan pada fraktur humerus dapat optimal jika dilakukan pada 2-4 minggu dengan
imobilisasi tungkai yang mengalami fraktur.
Page | 4

Trauma pada Pleksus Brakialis
ANATOMI PLEKSUS BRAKIALIS
Ramus anterior saraf spinal C5 sampai T1 bergabung membentuk pleksus brakialis. C5 dan C6
bergabung membentuk trunk superior, C7 membentuk trunk medial, dan C8 dan T1
bergabung membentuk trunk inferior. Cord medial merupakan divisi anterior dari trunk
inferior. Divisi anterior yang berasal dari upper dan middle trunk membentuk cord lateral.
Divisi posterior berasal 3 trunk membentuk posterior cord. Dari ketiga cord tersebut keluar
cabang saraf yang menginervasi anggota gerak atas antara lain n muskulokutaneus berasal dari
cord lateral, n medianus berasal dari cord lateral dan medial, n radialis dari cord posterior, n
aksilaris dari cord posterior dan n ulnaris dari cord medial. Long thorasic dan dorsal scapular
berasal langsung dari root saraf spinal. Hanya n suprascapular (C5 C6) yang berasal dari trunk.
Saraf spinal keluar dari foramina vertebralis dan melewati scalenus anterior dan medial,
kemudian antara klavikula dan rusuk pertama didekat coracoid dan caput humerus. Pleksus
pada bagian praosimal bergabung di prevertebral dan oleh axillary sheath di mid arm.

PENYEBAB
Ada banyak kemungkinan penyebab lesi pleksus brakialis. Trauma adalah penyebab yang
paling sering, selain itu juga kompresi lokal seperti pada tumor, idiopatik, radiasi, post operasi
dan cedera saat lahir.

PATOFISIOLOGI
Bagian cord akar saraf dapat terjadi avulsi atau pleksus mengalami traksi atau kompresi. Setiap
trauma yang meningkatkan jarak antara titik yang relatif fixed pada prevertebral fascia dan
mid fore arm akan melukai pleksus. Traksi dan kompresi dapat juga menyebabkan iskemi, yang
akan merusak pembuluh darah. Kompresi yang berat dapat menyebabkan hematome
intraneural, dimana akan menjepit jaringan saraf sekitarnya.

KLASIFIKASI LESI
1. Lesi Upper Plexus
Erb-Duchenne Paralysis (C5 C6)
Kelemahan atau paralisis pada bahu dan bicep, kadang disertai trauma pada root C7
yang menyebabkan paralisa lengan bawah.
2. Lesi Lower Plexus
Dejerine-Klumpkes Paralysis (C8 T1)
Kadang disertai kerusakan root C7, paralisis pada otot intrisik tangan dan fleksor jari
yang menyebabkan kehilangan fungsi tangan dan lengan bawah. Sering terjadi
sympathetic palsy Horners syndrome
3. Lesi Total Brachial
Erb-Klumpke Paralysis (C5 T1)
Komplet paralisis dan anestesi dari lengan
4. Lesi Posterior Cord
Mengenai root C5 C6 C7 C8, paralisis pada deltoid, ekstensor elbow, ekstensor wrist,
extensor fingers.


Page | 5

GAMBARAN KLINIS
Terdapat riwayat trauma yang melibatkan ekstensi servikal, rotasi, lateral bending, dan
depresi atau hiperabduksi dari bahu. Pasien juga mengeluhkan kelemahan, kehilangan
sensori, parasetesia pada lengan. Mekanisme trauma dapat berupa tarikan, luka tembus,
hantaman atau kompresi. Pemeriksaan dilakukan pada tulang leher, bahu, kalvikula, skapula
serta sendi untuk luas gerak sendi, alignment, dan tender point. Pemeriksaan neurologis
meliputi pemeriksaan motorik, pemeriksaan sensorik dan reflek tendon dalam. Pemeriksaan
sensorik dapat berupa light touch sensation, pinprick sensation, 2-point discrimination, vibrasi
dan proprioseptif. Evaluasi juga dilakukan untuk memeriksa joint instability, dan winging
skapula, pola atrofi otot dibandingkan dengan sisi yang sehat, tanda-tanda sindrom Horner,
serta pemeriksaan untuk spinal cord dan brain injury.

DIAGNOSA BANDING
Guilain-Barre Syndrome
Multiple Sclerosis
Spinal Cord Injury
Traumatic Brain Injury

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Radiografi
1. Foto vertebra servikal untuk mengetahui apakah ada fraktur pada vertebra servikal.
2. Foto bahu untuk mengetahui apakah ada fraktur skapula, klavikula atau humerus.
3. Foto thorak untuk melihat disosiasi skapulothorak serta tinggi diafragma pada kasus
paralisa saraf phrenicus.
EMG NVC
1. Pemeriksaan NCV untuk mengetahui system motorik dan sensorik, kecepatan hantar
saraf serta latensi distal. SNAPs (sensory nerve action potentials) berguna untuk
membedakan lesi preganglionic atau lesi postganglionic. Pada lesi postganglionic,
SNAPs tidak didapatkan tetapi positif pada lesi preganglionic.
2. Pemeriksaan EMG dengan jarum pada otot dapat tampak fibrilasi, positive sharp wave
(pada lesi axonal), amplitudo dan durasi. SSEP (Somatosensory evoked potensials).
Berguna untuk membedakan lesi proksimal misalnya pada root avulsion. MRI dan CT
SCAN. Untuk melihat detail struktur anatomi dan jaringan lunak saraf perifer.

PENATALAKSANAAN
BEDAH
Regangan dan memar pada pleksus brakialis diamati selama 4 bulan, bila tidak ada perbaikan,
pleksus harus dieksplor. Nerve transfer (neurotization) atau tendon transfer diperlukan bila
perbaikan saraf gagal.
1. Pembedahan Primer
Pembedahan dengan standart microsurgery dengan tujuan memperbaiki injury pada
plexus serta membantu reinervasi. Teknik yang digunakan tergantung berat ringan lesi.
1. Neurolysis: Melepaskan constrictive scar tissue disekitar saraf.
2. Neuroma excision: Bila neuroma besar, harus dieksisi dan saraf dilekatkan kembali
dengan teknik end-to-end atau nerve grafts.
Page | 6

3. Nerve grafting: Bila gap antara saraf terlalu besar, sehingga tidak mungkin
dilakukan tarikan. Saraf yang sering dipakai adalah n suralis, n lateral dan medial
antebrachial cutaneous, dan cabang terminal sensoris pada n interosseus posterior.
4. Neurotization: Neurotization pleksus brachialis digunakan umumnya pada kasus
avulsi pada akar saraf spinal cord. Saraf donor yang dapat digunakan: hypoglossal
nerve, spinal accessory nerve, phrenic nerve, intercostal nerve, long thoracic nerve dan
ipsilateral C7 nerve. Intraplexual neurotization menggunakan bagian dari root yang
masih melekat pada spinal cord sebagai donor untuk saraf yang avulsi.
2. Pembedahan Sekunder
Tujuan untuk meningkatkan seluruh fungsi extremitas yang terkena. Ini tergantung
saraf yang terkena. Prosedurnya berupa tendon transfer, pedicled muscle transfers,
free muscle transfers, joint fusions and rotational, wedge or sliding osteotomies.

REHABILITASI PASKA TRAUMA PLEKSUS BRAKIALIS

Paska operasi Nerve repair dan graft
Setelah pembedahan immobilisasi bahu dilakukan selama 3-4 minggu. Terapi
rehabilitasi dilakukan setelah 4 minggu paska operasi dengan gerakan pasif pada semua sendi
anggota gerak atas untuk mempertahankan luas gerak sendi. Stimulasi elektrik diberikan pada
minggu ketiga sampai ada perbaikan motorik. Pasien secara terus menerus diobservasi dan
apabila terdapat tanda-tanda perbaikan motorik, latihan aktif bisa segera dimulai. Latihan
biofeedback bermanfaat bagi pasien agar otot-otot yang mengalami reinnervasi bisa
mempunyai kontrol yang lebih baik.

Paska operasi free muscle transfer
Setelah transfer otot, ekstremitas atas diimobilisasi dengan bahu abduksi 30, fleksi 60
dan rotasi internal, siku fleksi 100. Pergelangan tangan posisi neutral, jari-jari dalam posisi
fleksi atau ekstensi tergantung jenis rekonstruksinya. Ekstremitas dibantu dengan arm brace
dan cast selama 8 minggu, selanjutnya dengan sling untuk mencegah subluksasi sendi
glenohumeral sampai pulihnya otot gelang bahu. Statik splint pada pergelangan tangan
dengan posisi netral dan ketiga sendi-sendi dalam posisi intrinsik plus untuk mencegah
deformitas intrinsik minus selama rehabilitasi. Dilakukan juga latihan gerak sendi gentle pasif
pada sendi bahu, siku dan semua jari-jari, kecuali pada pergelangan tangan.
Pemberian elektro stimulasi pada transfer otot dan saraf yang di repair dilakukan pada
target otot yg paralisa seperti pada otot gracilis, tricep brachii, supraspinatus dan
infraspinatus. Elektro stimulasi intensitas rendah diberikan mulai pada minggu ketiga paska
operasi dan tetap dilanjutkan sampai EMG menunjukkan adanya reinervasi. Enam minggu
paska operasi selama menjaga regangan berlebihan dari jahitan otot dan tendon, dilakukan
ekstensi pergelangan tangan dan mulai dilatih pasif ekstensi siku. Sendi metacarpal juga
digerakkan pasif untuk mencegah deformitas claw hand. Ortesa fungsional digunakan untuk
mengimobilisasi ekstremitas atas. Dapat digunakan tipe airbag (nakamura brace) untuk
imobilisasi sendi bahu dan siku. Sembilan minggu paska operasi, ortesa airbag dilepas dan
ortesa elbow sling dipakai untuk mencegah subluksasi bahu.



Page | 7

Setelah Reinervasi
Setelah EMG menunjukkan reinervasi pada transfer otot, biasanya 3 - 8 bulan paska
operasi, EMG biofeedback dimulai untuk melatih transfer otot menggerakkan siku dan jari.
Teknik elektromiografi feedback di mulai untuk melatih otot yang ditransfer untuk
menggerakkan siku dan jari dimana pasien biasanya kesulitan mengkontraksikan ototnya
secara efektif. Pada alat biofeedback terdapat level nilai ambang yang dapat diatur oleh
terapis atau pasien sendiri. Saat otot berkontraksi pada level ini, suatu nada berbunyi, layar
osciloskop akan merekam respons ini. Level ini dapat diatur sesuai tujuan yang akan dicapai.
Lempeng elektroda ditempelkan pada otot, kemudian pasien diminta untuk mengkontraksikan
ototnya. Pada saat permulaan biasanya EMG discharge sulit didapatkan, tetapi dengan latihan
yang kontinu, EMG discharge otot akan mulai tampak.
Latihan EMG biofeedback dilakukan 4 kali seminggu dan tiap sesi selama 10 - 70 menit,
dan latihan segera dihentikan bila ada tanda-tanda kelelahan. Efektivitas latihan biofeedback
tidak dapat dicapai bila pasien tidak mempunyai motivasi dan konsentrasi yang cukup.
Reedukasi otot diindikasikan saat pasien menunjukkan kontraksi aktif minimal yang tampak
pada otot dan group otot. Tujuan reedukasi otot untuk pasien adalah mengaktifkan kembali
kontrol volunter otot. Ketika pasien bekerja dengan otot yang lemah, intensitas aktivitas
motor unit dan frekuensi kontraksi otot akan meningkat. Waktu sesi terapi seharusnya pendek
dan dihentikan saat terjadi kelelahan dengan ditandai penurunan kemampuan pasien
mencapai tingkat yang diinginkan. Pemanasan, ultrasound diatermi, TENS, interferensial
stimulasi, elektro stimulasi dapat dipergunakan sesuai indikasi. Dilakukan juga penguatan otot-
otot leher dan koreksi imbalans otot-otot ekstremitas atas.

Terapi Okupasi
Terapi okupasi terutama diperlukan untuk:
Memelihara luas gerak sendi bahu, membuat ortesa yg tepat untuk membantu fungsi tangan,
siku dan lengan, mengontrol edema defisit sensoris. Melatih kemampuan untuk menulis,
mengetik, komunikasi. Menggunakan teknik-teknik untuk aktivitas sehari-hari, termasuk
teknik menggunakan satu lengan, menggunakan peralatan bantu serta latihan penguatan
dengan mandiri.

Terapi Rekreasi
Terapi ini sebagai strategi dan aktivitas kompensasi sehingga dapat menggantikan berkurang
dan hilangnya fungsi ekstremitas.

Ortesa pada paska Trauma Pleksus Brakialis
Pada umumnya penderita dengan injury pleksus brakialis akan menggunakan lengan disisi
kontralateral untuk beraktivitas. Pada beberapa kasus, penderita memerlukan kedua tangan
untuk melakukan aktivitas yang lebih kompleks. Untuk itu orthosis didesain sesuai kebutuhan
penderita. Orthosis untuk penderita injury pleksus brakialis dibuat terutama untuk mensuport
bagian bahu dan siku. Sedangkan untuk prehension tangan, umumnya terbatas pada metode
kontrolnya sehingga tidak banyak didesain. Beberapa orthosis digerakkan menggunakan
sistem myoelektrik, sehingga penderita mampu melakukan gerakan pada pergelangan tangan
dan pinch pada jari-jarinya. Orthosis ini dapat membantu penderita paska trauma untuk
melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan dan minum dari gelas atau botol, menyisir
rambut, menggosok gigi, menulis menggambar, membuka dan menutup pintu, membawa
barang-barang.
Page | 8

Proses kelahiran sangat dipengaruhi oleh kehamilan. Dalam kehamilan yang tidak ada
gangguan, diharapkan kelahiran bayi yang normal, di mana bayi dilahirkan cukup bulan,
pengeluaran dengan tenaga ibu mengedan denga cara tidak dipaksakan dan kontaraksi
kandung ramin tanpa mengalami akfiksi yang berat maupun trauma lahir seperti trauma pada
fleksus brachialis. Macam-macam pleksus brachialis yaitu:

1. Paralis wajah dan cedera pleksus brachialis

Cedera pada wajah termasuk memar karena penggunaan forsep atau paralis wajah yang
disebabkan oleh forsep maupun tekanan sakkrum ibu. Tanda-tanda paralis wajah termasuk
wajah asimetris. Salah satu mata mungkin tetap terbuka. Tindakan kebidanan dapat meliputi
konsultasi penggunaan pelindung mata (eye patch) dan tetesan mata untuk lubrikasi. Paralis
ini bersifat sementara. Cedera fleksus brachialis dapat terjadi saat prenatal atau selama
proses kelahiran saat traksi digunakan di leher. Cedera tersebut dapat terjadi pada kelahiran
persentasi bokong atau kelahiran yang diperberat distosia bahu. Bahu baru lahir yang
mengalami cedera fleksus brachialis rewel dan merasa nyeri. Manifentasi cedera bergantung
pada radiks saraf yang terkena dan derajat cedera. Radiks saraf dapat terkena adalah radiks
saraf servikal C5 dan C6(paralis Erb-Duchenne), radiks C8 dan T1 (paralis Klumpke), atau
keduanya.
Tanda-tanda fisik paralisis Erb-Duchenne termasuk hilangnya pergerakan secara pada lengan
yang terkena dengan aduksi pada bagian bawah lengan tersubut. Hal ini menyebabkan
karakteristik tanda tip pelayanan (waiter's tip) yang ditandai denga totasi iternal bagian
bawah lengan dengan jari dan pergelangan tangan fleksi. Refles menggenggam tidak
terganggu, tetapi reflex moro lemah pada sisi yang terkena. Pada paralisis Klumpke, refles
genggam hilang dan tangan bayi dalam postur seperti mencakar. Paralisis Dukchenne atau Erb
meliputi paralisis mulkulus deltoideus dan infraspinatus disamping lengan tanpak lemas dan
tergantung disisi tubuh, dengan lengan bawah dalam keadaan ekstensi serta rotasi ke dalam.
Fungsi jari-jari tangan biasanya tidak terganggu.
Lesi ini terjadi akibat regangan atau robekan pada radiks superior pleksus brachialis yang
mudah mengalami tegangan ekstrim akibat tarikan kepala ke lateral, sehingga denag tajam
memfleksikan pleksus tersebut kea rah salah satu bahu. Mengingat traksi dengan arah ini
sering dilakukan untuk melahirkan bahu pada presentasi verteks yang normal, paralisis Erb
dapat tejadi pada persalinan yang tampak mudah. Karena itu, dalam melakukan ekstraksi
kedua bahu bayi, kita harus berhati-hati agar tidak melakukan flaksi lateral leher yang
berlebihan. Yang paling sering terjadi, pada kasus dengan persentasi kepala, janin yang
menderita paralisis ini memiliki ukuran khas abnormal yang besar, yaitu denga berat 4000
gram atau lebih.
Pada ekstraksi bokong, kita harus memberikan perhatian terutama untuk mencegah ekstensi
kedua lengan lewat kepala. Lengan yang ektensi bukan saj memperlambat persalinan bokong
namun juga meningkatkan resiko paralisis. Prognosis keadaan ini biasanya baik bial dilakukan
fisioterapi segera dan tepat. Namun, demikian kadangkala terdapat kasus yag tidak berhasil
diatasi denagn segalah tindakan dan lengan bayi mengalami paralisis permanen. Yang lebih
jarang terjadi, trauma terbatas pada nervus bagian distal dari pleksus brachialis yang
menimbulkan paralisis tangan atau paralisis Klumpke.

Page | 9

Penatalaksanaan kebidanan meliputi rujukan untuk membebat yang terkena dekat dengan
tubuh dan konsultasi dengan tim pediatric. Orang tua harus dianjurkan untuk sebisa mungkin
menghindari menyentuh ekstremitas yang tekena selama minggu pertama karena adanya
nyeri. Orang tua dapat diyakinkan bahwa pada mayoritas kasus, paralisis hilang dalam 3-6
bulan, dengan perbaikan awal dibuktikan dalam beberapa minggu. Terapi ini bermanfaat
setelah pembengkakan pertama berkurang.
Cedera pada radiks lebih tinggi, yaitu pada pleksus brachialis (C3-C5) dapat menyebabkan
tanda gangguan pernapasan yang signifikan karena paralisis saraf frenikus dan gangguan
diafragma. Bayi baru lahir yang mengalami tipe cedera saraf ini bernapas sangat dangkal
dengan ekskursi pernapasan dan memerlukan dukungan pernapsan agresif saat lahir.

2. Paralisis pleksus brachialis

Timbul akibat tarikan kuat pada leher bayi, misal pada distosia bahu atau persalinan sunsang.
Kelainan ini terdiri atas :
a. Paralisis Duchenne Erb. Kerusakan cabang-cabang C5 C6 dari pleksus biokialis
menyebabkan kelemahan dan kelumpuhan lengan untuk fleksi, abduksi, dan memutar
lengan keluar serta hilangnya refleks biseps dan moro. Lengan berada dalam posisi
abduksi, putaran ke dalam, lengan bawah dalam pronasi, dan telapak tangan ke dorsal.
Pada trauma lahir Erb, perlu diperhatikan kemungkinan terbukannya pula serabut saraf
frenikus yang menginervasi otot diafragma. Pada trauma yang ringan yang hanya berupa
edema atau perdarahan ringan pada pangkal saraf, fiksasi hanya dilakukan beberapa hari
atau 1 2 minggu untuk memberi kesempatan penyembuhan yang kemudian diikuti
program mobilisasi atau latihan.
Secara klinis di samping gejala kelumpuhan Erb akan terlihat pula adanya sindrom
gangguan nafas. Penanganan terhadap trauma pleksus brakialis ditujukan untuk
mempercepat penyembuhan serabut saraf yang rusak dan mencegah kemungkinan
komplikasi lain seperti kontraksi otot. Upaya ini dilakukan antara lain dengan jalan
imobilisasi pada posisi tertentu selama 1 2 minggu yang kemudian diikuti program
latihan. Pada trauma ini imobilisasi dilakukan dengan cara fiksasi lengan yang sakit dalam
posisi yang berlawanan dengan posisi karakteristik kelumpuhan Erg. Lengan yang sakit
difiksasi dalam posisi abduksi 900 disertai eksorotasi pada sendi bahu, fleksi 90: disertai
supinasi lengan bawah dan pergelangan tangan dalam ekstensi, selain 12 jam sehari,
disertai massege dan latihan gerak.

b. Paralisis Klumpke, yaitu Kerusakan cabang-cabang C8 T1 pleksus brakialis menyebabkan
kelemahan lengan otot-otot fleksus pergelangan, maka bayi kehilangan refleks mengepal.
Penyebabnya adalah tarikan yang kuat daerah leher pada kelahiran bayi menyebabkan
kerusakan pada pleksus brakialis. Sering dijumpai pada letak sungsang dan pada
persalinan presentasi kepala dapat terjadi pada janin berbahu lebar atau distosia bahu.
Secara klinis terlihat refleks pegang menjadi negatif, telapak tangan terkulai lemah,
sedangkan refleksi biseps dan radialis tetap positif. Jika serabut simpatis ikut terkena,
maka akan terlihat sindrom HORNER yang ditandai antara lain oleh adanya gejala prosis,
miosis, enoftalmus, dan hilangnya keringat di daerah kepala dan muka homolateral dari
trauma lahir tersebut. Penatalaksanaan trauma lahir klumpke berupa imbolisasi dengan
memasang bidang pada telapak tangan dan sendiri tangan yang sakit pada posisi netrak
yang selanjutnya diusahakan program latihan.
Page | 10


3. Brachialis palsi

a. Pengertian
Kelumpuhan pada fleksus brachialis.
b. Penyebab
1) Tarikan lateral pada kepala dan leher pada waktu melahirkan bahu presentasi kepada
2) Apabilah dengan entensi melewati kepala pada presentasi bokong atau terjadi tarikan
yang berlebihan pada bahu
c. Gejala
1) Gangguan motorik lengan atas
2) Lengan atas dalam kedudukan ekstansi dan abduksi
3) Jika anak diangkat maka lengan akan tergantung lemas
4) Refleks moro negatif
5) Hiperekstensi dan fleksi pada jari-jari
6) Refleks meraih dengan tangan tidak ada
7) Paralisis dari lengan atas dan lengan bawah
Gejala-gejala tersebut tergantung besar kecilnya kelumpuhan
d. Penatalaksanaan
1) Immobilisasi parsial dan penempatan lengan yang sesuai untuk mencegah terjadinya
kontraktur
2) Beri penguat atau bidai selama 1-2 minggu pertama kehidupannya. Caranya: letakkan
tangan bayi yang lumpuh disamping kepalanya yaitu dengan memasang perban pada
pergelangan tangan bayi kemudian dipanitikan dengan bantal atau seprei disamping
kepalanya
3) Rujuk segera ke rumah sakit

DAFTAR PUSTAKA

Hasan R., Alatas H., Ilmu Kesehatan Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI, Jakarta, 1985 :
1069-1071.
Wiknjosastro H., Perlukaan persalinan, dalam Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, Jakarta, 1997 : 716-722.
Behrman R., Vaughan V., Trauma lahir, dalam Nelson- Ilmu Kesehatan Anak, Ed. XII, EGC,
Jakarta, 1994 : 608-614.









Page | 11

Distosia Bahu

Pengertian Distosia Bahu
Menurut Smeltzer (1986) distosia bahu adalah kegagalan bahu dengan spontan melewati
pelvis, setelah kepala lahir. Distosia bahu sebenarnya terjadi ketika bahu depan tertahan di
belakang sympisis pubis (Kasser & Pallaske). Ini merupakan kelainan yang ditandai oleh situasi
dimana pelvis ibu baik pintu masuk atau pintu keluar tidak dapat mengakomodasikan lebar
bahu fetus (janin). Ketika kepala bayi telah lahir dan ada perlambatan putaran bahu kedalam
diameter antero-posterior atau ketidakmampuan bahu lahir dengan manuver tangan biasa.
Prosentase kejadian distosia bahu diperkirakan 0,2% - 0,6% dari semua persalinan
pervaginam (Baskett & Allen, 1995). Insidensi dapat meningkat dengan adanya peningkatan
ukuran badan bayi dan hampir mendekati 1 : 100 kelahiran di masyarakat eropa yg akan
berbeda di masyarakat lain. Insiden 2% akan meningkat pada persalinan bayi besar- 3%
jika berat lahir >4000 gr (Hansmann dan Hincker).

Mekanisme Distosia Bahu
Bahu melewati pap dalam posisi diameter antero-posterior daripada posisi normal (oblique)
menghasilkan :
Secara umum sering bahu depan menjadi tertahan di pap ketika bahu belakang melewati
promomtorium
Tidak umum, lebih serius konsekuensinya bahwa kedua bahu menjadi tertahan di pap.

Perbedaan Distosia Bahu
Distosia Bahu Anterior - Posterior Tinggi
Tampak kepala yang lahir terjepit vulva atau tertariknya kembali kepala kedalam vulva, hal ini
mencerminkan bahu terfiksasi pada pintu masuk pelvis. tidak akan terjadi rotasi eksterna pada
kepala.
Distosia Bahu Melintang Dalam
Bahu berakomodasi buruk terhadap oval panjang pelvis, sehingga bahu tidak mengalami rotasi
interna yang diharapkan dan tidak akan terjadi pula rotasi eksterna pada kepala.

Faktor Predisposisi dan Penyebab
Ada riwayat ibu pernah melahirkan distosia bahu
Bayi besar dan selalu ada riwayat bahu besar
Riwayat DM (diabetes melitus) pada wanita dan keluarga
Wanita dengan kontraktur pelvis terutama diameter anteroposterior
Kelainan abnormal: anenchepaly, microchepal
Tidak menunggu kepala melakukan putaran paksi luar pada saat menolong kelahiran bahu

Diagnosis Banding
Tali pusat yang sangat pendek
Kepala kecil yang lahir dengan cerviks yang belum membuka lengkap
Adanya lingkaran diuterus
Presentasi rangkap (kepala dan tangan)
Kembar siam, posisi terkunci
Hidrocephal, deformitas kepala bayi.


Page | 12

Komplikasi dan Bahaya Distosia Bahu
Maternal
Laserasi yang hebat : perineum, vagina, kk, rectum dan serviks
Rupture uteri
Traumatik perdarahan post partum perdarahan akibat atonia uteri
Syok
Infeksi
Trauma psikologi dan distress.
Fetal
Kematian bayi selama atau setelah persalinan
Trauma lahir, brachial palsi, fraktur clavikula, trauma spinal
Jika bayi hidup, ada bercak merah di muka beberapa hari setelah kelahiran
Gejala lanjut, kelainan neuro-psikiatrik.

Gambaran Klinis dan Diagnosis Distosia Bahu
Biasanya ada perlambatan kemajuan turunnya kepala pada kala II yang ditandai dengan
bidan kesulitan dalam melahirkan bahu
Biasanya ada kelahiran kepala yang perlahan, dengan ekstensi kepala mengambil waktu
lebih lama daripada biasanya
Sekali kepala lahir, kepala masuk lagi ke vagina dan kepala terlihat tidak mampu bergerak
Tidak terjadi restitusi dan putaran paksi luar
Kepala bayi dipenuhi dengan darah, dan wajah menjadi bengkak dan biru tua.

Manajemen 1
Bidan harus minta bantuan dokter kebidanan,anestesi, dokter pediatri dan asisten untuk
mencatat waktu
Ingat : 5 menit pertama, tindakan/ manuver dipilih untuk menurunkan luka/ trauma pada
ibu dan bayi
Ingat : selama 5 menit kedua, ketahuilah bahwa perlambatan lebih jauh dapat
menyebabkan kematian, jadi tindakan yang lebih dramatik dapat dilakukan dengan
mempertimbangkan kemungkinan trauma/ luka yang ditimbulkan dibandingkan dengan
kerusakan lebih berat jika tubuh bayi tidak dilahirkan dalam waktu 10 menit
Dalam 1 menit pertama manuver mc roberts
Dalam 2 menit asisten menekan supra simpisis, dan bersamaan bidan menarik kepala
kearah perineum
Dalam 3 menit, lahirkan bahu belakang
Dalam 4 menit, putar bahu bayi kedalam diameter oblik dengan menggunakan 2-3 jari
dari tangan yang dominan, ulangi tarikan kepala ke perineum
Dalam 5 menit, lakukan screw manuver.
Manajemen 2
Distosia bahu mengancam hidup
Bidan harus mengirim asistan untuk dokter secara darurat, ada waktu 4-5 menit waktu
yang tersedia untuk mengeluarkan bayi sebelum terjadinya kerusakan otak yang
irreversibel dan kematian bayi
Waktu dicatat dan ibu diberikan informed consent bahwa terdapat permasalahan dan ibu
diminta untuk kerjasama
Bidan harus tenang, bekerja cepat dan efisien, memanaj setiap langkah dengan percaya
diri dan menempatkan waktu 4-5 detik dalam setiap langkah sebelum beralih pada
langkah selanjutnya jika bahu belum masuk kembali
Page | 13

Pasien dalam posisi mc roberts
Episiotomy luas
Secara cepat bersihkan mulut dan hidung bayi untuk membebaskan jalan nafas.

Traksi Kepala kedepan dan kebawah
Bidan memegang kepala dengan kedua tangan melewati telinga bayi, lakukan tekanan
dan tarikan lembut kebawah kedepan menuju perineum
Putaran bahu pada diameter oblik.

Putaran Bahu pada Diameter Oblik
Diusahakan membuat putaran bahu dalam diameter oblik 2 tangan masuh ke dalam
vagina ditempatkan didepan bahu belakang, dua tangan lagi ditempatkan dibelakang
bahu depan diatas abdomen, dilakukan putaran bahu pada diameter oblik, kemudian
lahirkan bahu depan secara normal, lalu bahu belakang menyusul.

Melahirkan Bahu Belakang
Jika pemutaran bahu tidak berhasil bidan harus berusaha melahirkan bahu belakang terlebih
dahulu dg cara
Melonggarkan bahu dengan elevasi kepala ke sympisis dan mendorong bahu ke pelvis
Masukan tangan ke dalam vagina belakang sepanjang curva sacrum dan dibelakang bahu
belakang (jika muka baui menghadap kearah kanan bidan) bidan menggunakan tangan
kanan,
Usahakan membuat tangan fleksi dan melahirkan lengan belakang dengan menempatkan
tekanan jari pada fossa antecubiti lengan belakang, maka lengan dipegang dilahirkan
melalui dada, muka bayi keluar vagina
Kepala dipegang, dengan tarikan lembut tarik kebawah ke perineum, ibu dianjurkan untuk
mengedan dan asisten menekan supra sympisis bidan melahirkan bahu depan dengan
lengan belakang sudah lahir.

Fraktur Klavikula
Bidan harus mematahkan klavikula (hal ini untuk mengurangi diameter bisacromial
sehingga diharapkan bahu dapat lahir), bidan menekan melawan klavikula anterior, dua
tangan diletakan dibelakang scapula, kemudian tekan dengan tekanan besar sehingga
klavikula patah.

Penatalaksanaan Posisi Anterior Akromion Tinggi
Anastesi umum segera
Episiotomi diperbesar dengan insisi melalui lantai pelvis (insisi schucardt)
Manuver tambahan dilakukan tanpa rotasi atau traksi tambahan pada kepala bayi,
melakukan itu dapat mentraumatisasi bayi secara serius terutama pada kolumna
vertebralis dan pleksuss brakhioalis
Fleksi akut paha ibu kearah dada (manuver mc robert)
Dorong gelang bahu bayi keatas dalam pelvis dan putarkan kearah miring atau melintang
sambil melakukan ini, tarikan kepala kearah kaudal dengan lembut
Ekstraksi lengan posterior
Merotasi gelang bahu dengan forseps shute
Patahkan klavikula.


Page | 14

Penatalaksanaan Posisi Akronion Melintang Dalam
Episiotomi diperbesar
Manuver Mc Robert
Ahli kebidanan menarik kepala datar, sedangkan asisten serentak memberi tekanan
fundus
Asisten memasukan jari tangan ke punggung bahu, merotasikannya kedalam diameter
anteroposterior, sewaktu operator menarik kepala.

Manajemen Setelah Melahirkan
Bidan harus siap resusitasi akibat aspiksia berat
Jika bayi hidup lakukan pemeriksaan lengkap untuk mendeteksi adanya luka/ trauma
Ibu harus periksa laserasi dan trauma alat genital, diobservasi perdarahan post partum,
kala III dimanaj aktif
Dokter akan mengeksplorasi uterus dan mengecheck adanya ruptur uteri
Bidan harus menunjukan perhatian pada perasaan ibu dan bapak bayi dan meluangkan
waktu sesuai dengan kebutuhannya untuk menjelaskan dengan singkat dan jelas masalah
yang sebenarnya, menjawab dengan benar setiap pertanyaan dimana mereka bertanya
ataupun meminta penjelasan mengenai kondisi bayi sebenarnya.

Presentasi Puncak kepala
Pada persalinan normal, saat melewati jalan lahir kepala janin dalam keadaan flexi dalam
keadaan tertentu flexi tidak terjadi, sehingga kepala deflexi. Presentasi puncak kepala disebut
juga preesentasi sinput terjadi bila derajat deflexinya ringan, sehingga ubun-ubun besar
merupakan bagian terendah. Pada presentasi puncak kepala lingkar kepala yang melalui jalan
lahir adalah sikumfrensia fronto oxipito dengan titik perputaran yang berada di bawah simfisis
adalah glabella.
Presentasi Dahi
Presentasi dahi adalah posisi kepala antara flexi dan deflexi, sehingga dahi merupakan bagian
terendah. Posisi ini biasanya akan berubah menjadi letak muka/letak belakang kepala.
Kepala memasuki panggul dengan dahi melintang/miring pada waktu putar paksi dalam, dahi
memutar kedepan depan dan berada di bawah arkus pubis, kemudian terjadi flexi sehingga
belakang kepala terlahir melewati perinerum lalu terjadi deflexi sehingga lahirlah dagu

Presentasi Occipito posterior
Pada persalinan presentasi belakang kepala, kepala janin turun melalui PAP dengan sutura
sagitalis melintang/miring, sehingga ubun-ubun kecil dapat berada di kiri melintang, kanan
melintang, kiri depan, kanan depan, kiri belakang/kanan belakang. Dalam keadaan flexi bagian
kepala yang pertama mencapai dasar panggul adalah Occiput. Occiput akan memutar kedepan
karena dasar panggul dan muculus levator aninya mementuk ruangan yang lebih sesuai
dengan occiput.
Presentasi muka
Disebabkan oleh terjadinya ekstensi yang penuh dari kepala janin. Yang teraba muka bayi,
mulut, hidung, dan pipi.
http://terselubung.cz.cc/