Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peran perawat sangat penting karena sebagai ujung
tombak di rawat inap dan merupakan tenaga yang paling
lama kontak atau berhubungan dengan pasien yaitu selama
24 jam, hal ini akan menyebabkan stresor yang kuat
pada perawat didalam lingkungan pekerjaannya (Anna
keliat, 1999). Stres kerja terjadi karena adanya
tekanan-tekanan dalam pekerjaan melebihi ambang
kewajaran dan disertai dengan kurangnya dukungan yang
dibutuhkan seseorang dari berbagai pihak (Hartini
2003).
Di Amerika (1997) stres yang berhubungan dengan
pekerjaan menghabiskan dana sebesar $ 200 - 300
Milyar/tahun, Angka kejadian stres kerja 60 % - 90 %
terjadi pada masalah medis dan California Workers
Compensation Institut melaporkan kejadian stres kerja
meningkat 70 % dari tahun 1979 dan mempunyai resiko
tujuh kali terjadi cedera dibanding yang tidak
mengalami stres. Adapun faktor-faktor yang dapat
menimbulkan stres perawat adalah berhadapan dengan
kematian pasien, beban kerja yang berlebihan, konflik
dengan rekan kerja termasuk profesi lain persiapan yang
kurang matang saat berhubungan dengan pasien dan
keluarga, kurangnya dukungan dan ketidak pastian
instruksi perawatan (ICN, 2002).
Berdasarkan survai di Amerika oleh Dewe (1989)
bahwa kesulitan menjalin hubungan dengan staf lain,
konflik dengan teman sejawat, kesulitan dalam merawat
pasien kritis, merawat pasien yang gagal untuk membaik,
bekerja dengan dokter yang tidak memahami kebutuhan
sosial dan emosional klien merupakan sumber stres kerja
bagi perawat (Abraham & Shanley 1997).
Menurut Hardjana (1997), mengatakan lingkungan
kerja dapat menjadi sumber stres antara lain disebabkan
tuntutan kerja, tanggung jawab kerja, lingkungan fisik
kerja, rasa kurang memiliki pengendalian, hubungan
interpersonal yang buruk dan kurang pengalaman,
peningkatan jenjang karier dan kurang aman dalam
lingkungan kerja. Sedangkan stres yang di alami oleh
karyawan akan mengganggu situasi kerja dan konsentrasi
2
dalam mnyelesaikan tugas yang dapat mengakibatkan
menurunnya prestasi kerja (Anoraga, 2001).
Perawat dituntut harus mampu melakukan pekerjaan
dengan tingkat kesulitan yang tinggi, memiliki
pengetahuan dan ketrampilan hubungan interpersonal yang
baik yang diperlukan untuk dapat melakukan pekerjaannya
dengan baik. Fawcett (1984), menyampaikan bahwa
hubungan interpersonal perawat mempunyai pengaruh utama
pada kesejahteraan klien dan merawat pada dasarnya
merupakan hubungan timbal balik yang dinamis antara
perawat dan klien dan merupakan faktor penentu utama
bagi keefektifan intervensi keperawatan (Abraham &
Shanley 1992). Sedangkan hubungan interpersonal
termasuk faktor yang dominan menimbulkan stres kerja
perawat dilingkungan pekerjaannya (Purwandari, 2000).
Pelayanan kesehatan di instalasi rawat inap Ruang
Cendana RSUD Dr. Moewardi Surakarta merupakan salah
satu jenis pelayanan kesehatan yang sangat komplek
karena pasien yang dirawat diruang Cendana ini
berbagai macam penyakit yaitu: bedah, dalam, kebidanan,
gerontik, pediatrik untuk semua jenis kelamin. Klien
yang dirawat berbagai macam kondisi dari tingkat sedang
3
sampai yang berat dan juga klien yang akut maupun
kronis. Perawatan pasien di ruangan ini tidak
diklasifikasikan secara khusus berdasarkan jenis kasus
penyakit, golongan umur, dan jenis kelamin. Ruang
Cendana adalah ruang perawatan yang diklasifikasikan
berdasarkan kelas perawatan yaitu : klas utama, VIP A,
VIP B, dan klas VVIP jadi semua pasien dapat dirawat
diruangan ini (Bidang Perawatan).
Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan
kordinator Cendana dan beberapa perawat pada hari
Selasa, tanggal 26 April 2004 mengatakan bahwa hubungan
interpersonal kurang baik dan kurang kekompakan dalam
bekerja, sulit berkolaborasi atau menghubungi dokter
terutama pada malam hari bila ada pasien yang
kondisinya memburuk secara tiba-tiba, belum ada
hubungan kemitraan yang baik antara perawat-dokter dan
juga disampaikan untuk motivasi dan semangat yang
tinggi untuk bekerjasama belum dimiliki oleh semua
anggota tim kerja. Situasi yang demikian dapat
menimbulkan sumber konflik interpersonal antara
perawat - dokter. Sedangkan konflik interpersonal
merupakan sumber stres yang utama (Smet, 1994).
4
Akibat dari permasalahan yang telah diuraikan
diatas akan dapat menimbulkan kualitas kerja dan
disiplin kerja menurun serta kualitas pelayanan
memburuk. Hal inilah yang mendorong penulis untuk
meneliti tentang korelasi antara hubungan interpersonal
perawat - dokter dengan stres kerja perawat di Ruang
rawat inap Cendana RSUD. Dr. Moewardi Surakarta.
2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut penulis dapat
merumuskan masalah penelitian: adakah hubungan antara
persepsi hubungan interpersonal perawat - dokter dengan
stres kerja perawat di ruang rawat inap Cendana RSUD.
Dr. Moewardi Surakarta ?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara persepsi hubungan
interpersonal perawat - dokter dengan stres kerja
perawat di ruang rawat inap Cendana RSUD. Dr. Moewardi
Surakarta.
5
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui gambaran tentang hubungan
interpersonal perawat - dokter di Ruang rawat
inap Cendana RSUD. Dr. Moewardi Surakarta.
b. Mengetahui gambaran tingkat stres kerja perawat
di ruang rawat inap Cendana RSUD. Dr. Moewardi
Surakarta.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi penulis : menerapkan pengetahuan dan
meningkatkan ketrampilan dalam melaksanakan
penelitian.
2. Bagi pembaca : penelitian ini diharapkan dapat
memberikan manfaat yang baik dan menambahkan
pengetahuan tentang pengaruh hubungan interpersonal
perawat - dokter terhadap stres kerja perawat.
3. Bagi perawat : Mengenalkan tentang pengaruh
hubungan interpersonal terhadap stres kerja perawat
serta membantu mengatasi bila terjadi stres kerja
pada perawat.
6
4. Bagi institusi pendidikan : dapat memberikan dasar
untuk pengembangan penelitian selanjutnya.
5. Bagi rumah sakit : memberikan masukan dalam upaya
meningkatkan dan pengembangan keperawatan dalam
mencegah dan mengatasi stres kerja bagi perawat.
5. Keaslian Penelitian
Penelitian yang pernah dilakukan oleh Purwandari (2000)
dengan judul faktor-faktor yang mempengaruhi stres
kerja perawat di instalasi rawat intensif RSUP. Dr.
Sardjito Yogyakarta. Subyek penelitian adalah perawat
instalasi rawat intensif menggunakan total sampling
yaitu 20 responden. Penelitiannya menggunakan metode
diskriptif dengan rancangan cros sectional. Hasil
penelitian menemukan lima faktor yang mempengaruhi
stres kerja perawat yaitu : beban kerja, hubungan
interpersonal, lingkungan fisik, macam penyakit,
pembuatan keputusan dan karir.
Penelitian yang dilakukan oleh Kusmiati (2003)
dengan judul hubungan persepsi beban kerja dengan stres
kerja perawat di instalasi perawatan intensif RSUD. Dr.
Moewardi Surakarta. Menggunakan metode diskriptif
7
dengan rancangan cros sectional. Populasi perawat
pelaksana di ruang instalasi perawatan intensif dewasa
RSUD. Dr. Moewardi Surakarta dengan total sampel yaitu
sebanyak 30 responden. Penelitian ini melanjutkan
penelitian Purwandari untuk mengetahui hubungannnya
beban kerja dengan tingkat stres kerja perawat di
instalasi perawatan intensif. Hasil penelitian :
Ada hubungan positif antara beban kerja dengan stres
kerja perawat.
Sedangkan penelitian yang akan dilakukan oleh
penulis adalah faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat
stres kerja perawat khususnya Hubungan interpersonal
perawat-dokter yang mempengaruhi stres kerja perawat.
Variabel penelitian adalah persepsi hubungan
interpersonal perawat-dokter dan stres kerja perawat.
Subyek penelitian adalah perawat pelaksana di ruang
rawat inap (ruang perawatan penyakit umum) Cendana
RSUD. Dr. Moewardi Surakarta besar sampel diambil
dengan total sampel dengan rancangan cross-sectional.
8