Anda di halaman 1dari 25

Makalah Rancangan Desaign Komunikasi Microwave

PERENCANAAN DAN PERANCANGAN DIGITAL RADIO LINK


UNTUK
JARINGAN KOMUNIKASI MIKROWAVE TERRESTRIAL

BANDUNG (R26) CIMAHI (R25A) & BANDUNG (R26) NAGREK (R27)


Disusun oleh:

Adi Mulyadi
Devi Rosauli
Elza Chaerunnisa
Erna Sitorus
Ferry Sugiro
Haitami
Hanum Fatonah H
Taufik Hidayat
Vera Kresnawati


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK TELEKOMUNIKASI
INSTITUT SAIND DAN TEKNOLOGI NASIONAL
2014

DAFTAR ISI

1. LATAR BELAKANG 1
1.1 Tujuan
1.2 Manfaat
1.3 Aplikasi

2. RUANG LINGKUP PEKERJAAN ..... 2

3. METODOLOGI ... 3

4. SPESIFIKASI PERANCANGAN ... 3

5. DATA TOPOGRAFI DAN LINGKUNGAN ... 5

6. PERHITUNGAN BUDGET LINK .... 8
6.1 Free Space Loss (FSL)
6.2 Received Signal Level (RSL)
6.3 Fade Margin
6.4 Transmission Line Loss
6.5 BER
6.5.1 BER saat kondisi normal
6.5.2 BER saat kondisi fading 40dB
6.6 Tabel Perhitungan Budget Link

7. SIMULASI PERANCANGAN RADIO PATH PROFILE ......... 16
7.1 Hasil Simulasi Path Loss 5
7.2 Analisa Hasil Simulasi

8. PERHITUNGAN PERFORMANCE OBJECTIVE .... 21
8.1 Quality
8.2 Availability
8.3 Outage time

9. KESIMPULAN ... 24
KEPUSTAKAAN
Perencanaan dan Perencangan Digital Radio Link Jaringan Komunikasi Microwave Terrestrial | 1

PERENCANAAN DAN PERANCANGAN DIGITAL RADIO LINK
BANDUNG (R26) CIMAHI (R25A) & BANDUNG (R26) NAGREK (R27)

1. LATAR BELAKANG
Untuk membuat infrastruktur jaringan telekomunikasi dengan jarak yang cukup jauh,
System Digital Radio Link Line Of Sight dapat dijadikan solusinya. Sistem radio link line of
sight (LOS) adalah hubungan telekomunikasi (jarak jauh) pita-lebar (broadband ), yang
menggunakan perangkat radio pada frekuensi gelombang mikro (microwave). Oleh karena itu
dengan menggunakan system ini, akan mudah membentuk jaringan telekomunikasi terrestrial
hingga berjarak 80 Km (dengan kondisi trek tertentu).
Aplikasi secara umum, hubungan radio LOS ini merupakan subsistem dari jaringan
telekomunikasi pada umumnya, yakni berupa jaringan terrestrial di daratan. Jaringan tersebut
akan membawa salah satu ataupun gabungan dari kanal -kanal telepon, data , telegraph/teleks ,
faksimil, video, telemetri atau kanal-kanal program lainnya.
Perangkat pendukung untuk membuat suatu Sistem radio digital link adalah perangkat
baseband atau perangkat RF transceiver antena indoor dan outdoor juga antenna. Masing-
masing terminal (site) mengirim dan menerima informasi ke dan dari terminal (site) secara
bersamaan (full duplex). Lintasan radio (radio path) yang tidak dirancang secara baik akan
menghasilkan system outage secara periodik dalam durasi waktu tertentu yang pada gilirannya
akan mengakibatkan kegagalan sistem dari keseluruhan jaringan.
Oleh karena itu, suatu system radio digital link (microwave) memerlukan perencanaan dan
analisa yang matang. Dengan harapan, perancang dapat menemukan suatu rancangan digital
radio link yang sesuai dengan kebutuhan dan syarat dalam propagasi radio yang telah
ditentukan. Seperti, radio link tidak mengalami outage, Fresnel loss pada radio link mencapai
paling sedikitnya 60%, antara Tx dan Rx saling pandang (Line of Sight) serta fade margin
dapat dihasilkan sesuai dengan batas seharusnya oleh perancang. Tentunya, pada perencanaan
dan perancangannya, perlu memperhatikan factor lingkungan dan perangkat radio itu sendiri.

1.1. TUJUAN
Tujuan dari perancangan system digital radio link kali ini adalah:
Membuat suatu perencanaan dan perancangan digital radio link (microwave) yang
memenuhi syarat, sehingga outage tidak terjadi.
Mampu membuat table perhitungan link budget dan menentukan perhitungan-perhitungan
lainnya secara manual, sehingga hasil perhitungan dapat dibandingkan denganhasil
simulasi menggunakan software radio Path Loss 5.
Perencanaan dan Perencangan Digital Radio Link Jaringan Komunikasi Microwave Terrestrial | 2

1.2 MANFAAT
Manfaat dari perancangan radio link ini adalah untuk mendapatkan solusi dan kinerja
terbaik dalam membuat jaringan komunikasi. Sehingga dalam realisasi nyata, hasil dari
perancangan akan menghasilkan desain yang memuaskan. Dimana system telekomunikasi
yang dibuat, dapat bekerja maksimal, sesuai dengan yang diharapkan. Dalam dunia
telekomunikasi, penggunaan system digital radio link merupakan infrastruktur yang sangat
umum digunakan. Selain karena penggunaannya yang tidak rumit, dalam hal perawatan dan
daya tahanpun tidak perlu diragukan.

1.3 APLIKASI
Aplikasi dari perancangan radio link adalah sistem untuk pelayanan transmisi data
terus menerus baik berupa gabungan kanal-kanal telepon, data , telegraph/teleks , faksimil,
video, telemetri atau kanal-kanal program lainnya. Sistem radio link ini sangat dirasakan
keberadaannya jika dipakai untuk kebutuhan yang mendesak. Seperti pada jaringan
komunikasi microwave terrestrial yang di terapkan antar stasiun kereta api sepanjang pulau
Jawa.

2. RUANG LINGKUP PEKERJAAN.
Ruang lingkup yang dikerjakan oleh perancang yaitu melakukan perencanaan dan
perancangan digital radio link yang menghubungkan R26 Bandung R25A Cimahi dan R26
Bandung R27 Nagrek. Perencanaan dan perancangan jaringan, diperlukan untuk membangun
semua simpul-simpul (nodes) dalam suatu jaringan yang memerlukan link transmisi antara simpul-
simpul tersebut. Pekerjaan ini tentu saja memerlukan langkah-langkah yang menjadi ruang lingkup
perancang selama melakukan perencanaan dan perancangan terhadap radio link desain tersebut.
Pada perancangan kali ini digunakan software Path Loss 5 untuk mensimulasikan path
profile. Dimana perancang dapat mensimulasikan ketinggian antenna ideal, penggunaan
spesifikasi antenna yang dibutuhkan, jenis feeder yang digunakan, dan seluruh parameter yang
dijadikan acuan untuk merancang system radio link, hingga mendapatkan data transmission
analyze sementara, selain data perhitungan manual.
Setelah melakukan simulasi pada Path loss 5, dilakukan analisa dan perhitungan link
budget untuk jaringan Bandung Cimahi dan Bandung - Nagrek. Hasil simulasi pada Path Loss 5
tersebut akan dibandingkan dengan hasil perhitungan secara manual. Yang pada akhirnya akan
menghasilkan perancangan jaringan radio yang optimal. Dan dari hasil analisatersebut perancang
bisa menentukan secara tepat spesifikasi peralatan yang dibutuhkan dalam perancangan.

Perencanaan dan Perencangan Digital Radio Link Jaringan Komunikasi Microwave Terrestrial | 3

3. METODOLOGI
Berikut flowchart awal penentuan langkah-langkah yang akan dilakukan untuk
menyelesaikan perancangan desain digital radio link. Dimana secara keseluruhan,
langkah-langkah tersebut akan mengacu pada tujuan yang telah di buat.
START
Mempelajari cara melakukan
perancangan radio link
Merancang path profile
Mensimulasikan radio link
dengan software Path Loss 5
Analisa Link (LOS)
Analisa dan
kesimpulan
Menghitung link budget
END
Pemilihan frekuensi dan
pemilihan lokasi
LOS
Y
N


4. SPESIFIKASI PERANCANGAN
R26 Bandung R25A Cimahi
Nama Stasiun Menghadap ke
R26 Bandung
Altitude : 715.2 m
Latitude : 6 54 50 S
Longitude : 107 36 19 E
R25A Cimahi
Altitude : 740.2 m
Latitude : 6 53 9 S
Longitude : 107 32 6 E
Perencanaan dan Perencangan Digital Radio Link Jaringan Komunikasi Microwave Terrestrial | 4


No Item / Parameter Spesifikasi Ket
1. Digital radio equipment :

1. Transmitter
Frekuensi Tx
Tx Power
Tipe Modulasi
Data Rate
2. Receiver
Frekuensi Rx
Receiver Threshold Level
BER
Digital Microwave Radio
NOKIA DR240

1720.5 MHz
(+) 30.5 dBm
4PSK
8x2 Mbps

1839.5 MHz
(-) 86 dBm
10
-6



2. Antenna dan feeding system
Tipe

Gain
Feeder




Antena Parabola Andrew
FPX12-17 (TR)
34.0 dBi
Andrew LDF5-50A Heliax
coaxial cable, redaman kabel
6.11dB/100m (diasumsikan
frekuensi maksimum 2GHz)
Diameter antenna
parabola 3 m,
polarisasi
vertikal

R26 Bandung R27 Nagrek
Nama Stasiun Menghadap ke
R26 Bandung
Altitude : 715.2 m
Latitude : 6 54 50 S
Longitude : 107 36 19 E
R27 Nagrek
Altitude : 879.2 m
Latitude : 7 01 32.1 S
Longitude : 107 53 40.9 E

No Item / Parameter Spesifikasi Ket
1. Digital radio equipment :

Transmitter
Frekuensi Tx
Tx Power
Digital Microwave Radio
NOKIA DR240

1790.5 MHz
(+) 30.5 dBm

Perencanaan dan Perencangan Digital Radio Link Jaringan Komunikasi Microwave Terrestrial | 5

Tipe Modulasi
Data Rate
Receiver
Frekuensi Rx
Receiver Threshold Level
BER
4PSK
8x2 Mbps

1909.5 MHz
(-) 86 dBm
10
-6

2. Antenna dan feeding system
Tipe

Gain
Feeder




Antena Parabola Andrew
FP12F-17 (TR)
34.3dBi
Andrew LDF5-50A Heliax
coaxial cable, redaman kabel
6.11dB/100m (diasumsikan
frekuensi maksimum 2GHz)
Diameter antenna
parabola 3 m,
polarisasi vertikal


5. DATA TOPOGRAFI DAN LINGKUNGAN
R26 Bandung R25A Cimahi
Bandung degree: -6.91388888888889, 107.605277777778
Cimahi degree: -6.88583333333333, 107.535
Jarak Cimahi Bandung = 8.2 Km
Kondisi : Pemukiman penduduk, dan gedung

Gambar 1. Peta Bandung Cimahi dalam Google Map
Perencanaan dan Perencangan Digital Radio Link Jaringan Komunikasi Microwave Terrestrial | 6


Gambar 2. Peta Topografi Bandung - Cimahi dalam Path Loss 5

Gambar 3. Peta Lingkungan Bandung Cimahi dalam Google Earth

R26 Bandung R27 Nagrek
Bandung degree : -6.91388888888889, 107.605277777778
Nagrek degree : -7.02558333333333, 107.894694444444
Jarak Bandung Nagrek = 34.5 Km
Kondisi : Bandung hingga Cicalengka pemukiman penduduk dan gedung gedung
Cicalengka Nagrek masuk dataran tinggi, minim gedung.

Perencanaan dan Perencangan Digital Radio Link Jaringan Komunikasi Microwave Terrestrial | 7


Gambar 5. Peta Bandung Nagrek dalam Google Map


Gambar 6. Peta Topografi Bandung Nagrek dalam Path Loss


Gambar 7. Peta Lingkungan Bandung Nagrek dalam Google Earth
Perencanaan dan Perencangan Digital Radio Link Jaringan Komunikasi Microwave Terrestrial | 8


6. PERHITUNGAN BUDGET LINK
6.1 Free Space Loss
Free Space Loss merupakan redaman yang umum dialami setiap gelombang yang
merambat yang berpropagasi di ruang, yang dinyatakan dengan:

() () ()
dimana :
d = distance (km)
f = frequency (GHz)

Link R26 Bandung R25 Cimahi
d = 8.2 km
f = 1.7205 GHz
FSL (dB) = 92.4 + 20 log d (km) + 20 log f (GHz)
= 92.4 + 20 log 8.2 + 20 log 1.7205
= 115.389 dB
Link R26 Bandung R27 Nagrek
d = 34. 5 km
f = 1.7905 GHz
FSL (dB) = 92.4 + 20 log d (km) + 20 log f (GHz)
= 92.4 + 20 log 34.5 + 20 log 1.7905
= 128.21587 dB

6.2 Transmission Line Loss
Transmission Line loss merupakan total loss saluran feeder di Tx dan Rx. Panjang total
saluran feeder adalah ketinggian antenna (m) + 10


dimana :
T
XL
= panjang saluran feeder (m)
L
X
= rugi-rugi saluran feeder (dB)

Link R26 Bandung R25 Cimahi
Loss feeder untuk R26 Bandung R25 Cimahi = 5.56 dB/100m (Andrew LDF5-50A
Heliax coaxial cable, dengan asumsi frekuensi maksimum 2GHz).
Perencanaan dan Perencangan Digital Radio Link Jaringan Komunikasi Microwave Terrestrial | 9

Untuk Tx,


( ) )



Untuk Rx,


( ) )



Link R26 Bandung R27 Nagrek
Loss feeder untuk R26 Bandung R27 Nagrek = 6,11 dB/100m (Andrew LDF5-50A
Heliax coaxial cable, dengan asumsi frekuensi maksimum 2GHz).
Untuk Tx,


( ) )



Untuk Rx,


( ) )




6.3 Received Signal Level (RSL)
(

) (

)
dimana :
R
SL
= Received Signal Level L
RX
= Loss saluran feeder di RX
P
TX
= Daya Output pemancar (Tx) L
TX
= Loss saluran feeder di TX
G
TX
= Gain antena pemancar L
CONN
= Loss konektor
G
RX
= Gain antena penerima L
D/C
= Loss Divider/Combiner
L
EQ
= Loss Equip Tolererance FSL = Free Space Loss
L
DIFF
= Difraction Loss

RSL untuk link R26 Bandung R25A Cimahi
(

) (

)
( ) ( )
()
Perencanaan dan Perencangan Digital Radio Link Jaringan Komunikasi Microwave Terrestrial | 10


RSL untuk link R26 Bandung R27 Nagrek
(

) (

)
( ) ( )
()

6.4 Fade Margin
Fade margin merupakan perhitungan rasio antara unfaded RSL dan received level
thresholdnya.

() ()

()
dimana :
FM = Fade Margin
C
min
= Receiver Sensitivity Threshold Level

Berdasarkan spesifikasi perangkat yang digunakan untuk radio link R25A Cimahi R26
Bandung R27 Nagrek yaitu Digital Radio Microwave NOKIA DR240, receiver sensitivity
threshold levelnya adalah sebesar -86 dBm @ BER 10
-3
dan menggunakan tipe modulasi
4PSK.

Fade margin untuk link R26 Bandung R25A Cimahi
() ()

()
()


Fade margin untuk link R26 Bandung R25A Cimahi
() ()

()
()







Perencanaan dan Perencangan Digital Radio Link Jaringan Komunikasi Microwave Terrestrial | 11

6.5 BER (Bit Error Rate)
6.5.1 BER pada saat kondisi normal (BER > 10
-3
)
Untuk sistem 4PSK, error rate atau error probability dinyatakan sebagi berikut:



Dimana :
C = sinyal yang diterima
No = kerapatan daya noise (spectral noise density)
D = digital rate

R26 Bandung R25A Cimahi
( )

No = 10log KT + 7dB = -174dBm + 7 = -167dBm


( )


Error rate dianggap 0 karena S/N > 15dB

R26 Bandung R27 Nagrek
( )

No = 10log KT + 7dB = -174dBm + 7 = -167dBm


( )


Perencanaan dan Perencangan Digital Radio Link Jaringan Komunikasi Microwave Terrestrial | 12


Error rate dianggap 0 karena S/N > 15dB

6.5.2 Pada saat kondisi tidak normal (fading 40 dB)

( (

))

R26 Bandung R25A Cimahi


( )


Error rate dianggap 0 karena S/N > 15dB



R26 Bandung R27 Nagrek


( )


Error rate dianggap 0 karena S/N > 15dB

6.6 Tabel Perhitugan Budget Link
R26 Bandung R25A Cimahi
Ref.
NO
DESCRIPTION

UNIT REMARK
1 2 3 4 5
1 Site Name : R26 Bandung
Altitude : 715.2 m
Latitude : 6 54 50 S

Perencanaan dan Perencangan Digital Radio Link Jaringan Komunikasi Microwave Terrestrial | 13

Longitude : 107 36 19 E
2 Facing Name : R25A Cimahi
Altitude : 740.2 m
Latitude : 6 53 9 S
Longitude : 107 32 6 E

3 Site A Antenna Height (AGL) 66 m
4 Site B Antenna Height (AGL) 34 m
5 Antenna Type Andrew FPX12-17(TR)
6 Antenna Gain 34.0 dBi
7 Transmission Line Type Andrew LDF5-50A
Heliax coaxial cable



8 Transmission Line loss 6.11 dB/100
m

9 Transmission Line Length

Tx = 76
Rx = 44
m
10 Transmission Line loss

Tx = 2.69
Rx = 4.64

dB

11 Connector Loss 1 dB
12 Splitter 0 dB
13 Path Length 8.14 Km
14 Frequency 1.7205 GHz
15 Free Space Loss 115.39 dB
16 Difraction Loss - dB
17 Radio Type Digital Microwave
Radio NOKIA DR240

18 Transmitter Power 30.5 dBm
19 Received Signal Level - dBm
20 Receiver Sensitivity Threshold level
Criteria
< 10
-6
BER
21 Receiver Sensitivity Threshold Level -86 dBm
22 Fade margin dB
Perencanaan dan Perencangan Digital Radio Link Jaringan Komunikasi Microwave Terrestrial | 14

23 Worst Month Availability
Dihitung berdasarkan ITU-R P.530
99,9999999 %
24 Worst Month Outage Time
Dihitung berdasarkan ITU-R P.530
0.01232 detik /
bulan

25

Annual Availability
Dihitung berdasarkan ITU-R P.530
99,99999999 %
26 Annual Outage Time
Dihitung berdasarkan ITU-R P.530
0.003751 detik /
tahun

27 Bit error rate, BER pada kondisi
NORMAL.
0
28 Bit error rate, BER pada kondisi
TIDAK NORMAL. (fading 40 dB)
0



R26 Bandung R27 Nagrek
Ref.
NO
DESCRIPTION

UNIT REMARK
1 2 3 4 5
1 Site Name : R26 Bandung
Altitude : 715.2 m
Latitude : 6 54 50 S
Longitude : 107 36 19 E

2 Facing Name : R27 Nagrek
Altitude : 879.2 m
Latitude : 7 1 32,1 S
Longitude : 107 53 40,9 E

3 Site A Antenna Height (AGL) 40 m
4 Site B Antenna Height (AGL) 60 m
5 Antenna Type Andrew FP12F-17 (TR)
6 Antenna Gain 34.3 dBi
Perencanaan dan Perencangan Digital Radio Link Jaringan Komunikasi Microwave Terrestrial | 15

7 Transmission Line Type Andrew LDF5-50A
Heliax coaxial cable



8 Transmission Line loss 6.11 dB/100
m

9 Transmission Line Length

Tx = 50
Rx = 70

meter

10 Transmission Line loss Tx = 3.06
Rx = 4.28
dB


11 Connector Loss 1 dB
12 Splitter 0 dB
13 Path Length 34.51 Km
14 Frequency 1.7905 GHz
15 Free Space Loss 128.21587
16 Difraction Loss - dB
17 Radio Type Digital Microwave
Radio NOKIA DR240

18 Transmitter Power 30.5 dBm
19 Received Signal Level -38.056 dBm
20 Receiver Sensitivity Threshold level
Criteria
< 10
-6
BER
21 Receiver Sensitivity Threshold Level -86 dBm
22 Fade margin dB
23 Worst Month Availability
Dihitung berdasarkan ITU-R P.530
99,99992918 %
24 Worst Month Outage Time
Dihitung berdasarkan ITU-R P.530
1.8357 detik /
bulan

25

Annual Availability
Dihitung berdasarkan ITU-R P.530
99,999999822 %
26 Annual Outage Time
Dihitung berdasarkan ITU-R P.530
5.5857 detik /
tahun

27 Bit error rate, BER pada kondisi 0
Perencanaan dan Perencangan Digital Radio Link Jaringan Komunikasi Microwave Terrestrial | 16

NORMAL.
28 Bit error rate, BER pada kondisi
TIDAK NORMAL. (fading 40 dB)
0

7. SIMULASI PERANCANGAN RADIO PATH PROFILE
7.1 Hasil Simulasi Path Loss 5
Pada simulasi perancangan yang dilakukan menggunakan software simulasi Path Loss 5, site
yang akan di simulasikan berlokasi di Cimahi (R25A), Bandung (R26) dan Nagrek (R27). Dalam
simulasi ini akan di sesuaikan spesifikasi perangkat dengan kondisi juga situasi di lokasi, agar
sitem komunikasi radio yang dirancang dapat bekerja dengan baik. Berikut capture perancangan
menggunakan path loss 5.
Cimahi (R25A) passing Bandung (R26)
Berikut pada gambar 8, Path Profile kondisi topografi site Bandung passing Cimahi.
Dimana dalam pencitraan yang didapat dari google earth, hanya ada bangunan perumahan,
pemukiman penduduk, dan gedung-gedung saja. Sehingga structure yang di tambakan dalam
terrain data hanyalah building yang tinggi rata-ratanya di kalkulasikan kurang lebih 5 meter,
dan 2 Km menuju bandung tinggi gedung diperkirakan mencapai 10 meter.

Gambar 8. Kondisi Terrain Data Cimahi Bandung

St Cimahi
Latitude 06 53 09.00 S
Longitude 107 32 06.00 E
Azimuth 112.42
Elevation 740 m ASL
Antenna CL 34.0 m AGL
St Bandung
Latitude 06 54 50.00 S
Longitude 107 36 11.00 E
Azimuth 292.41
Elevation 714 m ASL
Antenna CL 66.0 m AGL
Frequency (MHz) = 1720.5
K = 1.33
%F1 = 100.00
Path length (8.14 km)
0 1 2 3 4 5 6 7 8
E
l
e
v
a
t
i
o
n

(
m
)
710
720
730
740
750
760
770
780
790
Perencanaan dan Perencangan Digital Radio Link Jaringan Komunikasi Microwave Terrestrial | 17


Gambar 9. Simulasi Perancangan Data Transmission Cimahi Bandung

Untuk data transmission berdasar hasil simulasi Path Loss 5 Cimahi Bandung secara detail,
dapat dilihat pada table data berikut.
Table 3. Transmission Detail (St. Cimahi St. Bandung)
St Cimahi St Bandung
Latitude 06 53 09.00 S 06 54 50.00 S
Longitude 107 32 06.00 E 107 36 11.00 E
True azimuth () 112.42 292.41
Vertical angle () 0.02 -0.07
Elevation (m) 740.00 714.22
Antenna model FPX12-17 (TR) FPX12-17 (TR)
Antenna file name 6211 6211
Antenna gain (dBi) 34.00 34.00
Antenna height (m) 34.00 66.00
TX line unit loss (dB/100 m) 6.11 6.11
TX line length (m) 50.00 75.00
TX line loss (dB) 3.06 4.58
Frequency (MHz) 1720.50
Polarization Vertical
Path length (km) 8.14
Free space loss (dB) 115.39
Atmospheric absorption loss (dB) 0.05
Net path loss (dB) 55.07 55.07
TX power (dBm) 30.50 30.50
EIRP (dBm) 61.45 59.92
RX threshold level (dBm) -86.00 -86.00
Receive signal (dBm) -24.57 -24.57
Thermal fade margin (dB) 61.43 61.43
Dispersive fade margin (dB) 40.00 40.00
Dispersive fade occurrence factor 1.00
Effective fade margin (dB) 39.97 39.97
C factor 4.00
Average annual temperature (C) 10.00
Fade occurrence factor (Po) 2.224E-003
Worst month multipath availability (%) 99.99998 99.99998
Perencanaan dan Perencangan Digital Radio Link Jaringan Komunikasi Microwave Terrestrial | 18

Worst month multipath unavailability (sec) 0.59 0.59
Annual multipath availability (%) 99.99999 99.99999
Annual multipath unavailability (sec) 1.77 1.77
Annual 2 way multipath availability (%) 99.99999
Annual 2 way multipath unavailability (sec) 3.53


Bandung (R26) passing Nagrek (R27)
Berikut pada gambar 10, Path Profile kondisi topografi site Bandung passing Nagrek.
Dimana dalam pencitraan yang didapat dari google earth, terdapat bangunan perumahan,
pemukiman penduduk, dan gedung-gedung pada wilayah bandung. Sedangkan wilayah
Cicalengka hingga Nagrek yang kurang lebih berjarak 10Km, merupakan dataran tinggi, yang
dominan ditutupi oleh pepohonan. Sehingga structure yang di tambakan dalam terrain data
adalah building dan Tree yang tinggi rata-ratanya di kalkulasikan kurang lebih 15 meter.

Gambar 10. Kondisi Terrain Data Bandung - Nagrek

Gambar 11. Simulasi Perancangan Data Transmission Bandung - Nagrek
St Bandung
Latitude 06 54 50.00 S
Longitude 107 36 11.00 E
Azimuth 110.99
Elevation 714 m ASL
Antenna CL 40.0 m AGL
St Nagrek
Latitude 07 01 32.10 S
Longitude 107 53 40.90 E
Azimuth 290.95
Elevation 885 m ASL
Antenna CL 60.0 m AGL
Frequency (MHz) = 1720.5
K = 1.33
%F1 = 60.00
Path length (34.51 km)
0 5 10 15 20 25 30
E
l
e
v
a
t
i
o
n

(
m
)
660
700
740
780
820
860
900
940
980
Perencanaan dan Perencangan Digital Radio Link Jaringan Komunikasi Microwave Terrestrial | 19

Untuk data transmission berdasar hasil simulasi Path Loss 5 Bandung Nagrek secara detail,
dapat dilihat pada table data berikut.
Table 4. Transmission Detail (St. Bandung St. Nagrek)
St Bandung St Nagrek
Latitude 06 54 50.00 S 07 01 32.10 S
Longitude 107 36 11.00 E 107 53 40.90 E
True azimuth () 110.99 290.95
Vertical angle () 0.20 -0.43
Elevation (m) 714.22 885.40
Antenna model FP12F-17 (TR) FP12F-17 (TR)
Antenna file name 6223d 6223d
Antenna gain (dBi) 34.30 34.30
Antenna height (m) 40.00 60.00
TX line unit loss (dB/100 m) 6.11 6.11
TX line length (m) 50.00 70.00
TX line loss (dB) 3.06 4.28
Frequency (MHz) 1720.50
Polarization Vertical
Path length (km) 34.52
Free space loss (dB) 127.94
Atmospheric absorption loss (dB) 0.20
Net path loss (dB) 66.87 66.87
TX power (dBm) 30.50 30.50
EIRP (dBm) 61.74 60.52
RX threshold level (dBm) -86.00 -86.00
Receive signal (dBm) -36.37 -36.37
Thermal fade margin (dB) 49.63 49.63
Dispersive fade margin (dB) 40.00 40.00
Dispersive fade occurrence factor 1.00
Effective fade margin (dB) 39.55 39.55
C factor 4.00
Average annual temperature (C) 10.00
Fade occurrence factor (Po) 1.698E-001
Worst month multipath availability (%) 99.99812 99.99812
Worst month multipath unavailability (sec) 49.48 49.48
Annual multipath availability (%) 99.99953 99.99953
Annual multipath unavailability (sec) 148.43 148.43
Annual 2 way multipath availability (%) 99.99906
Annual 2 way multipath unavailability (sec) 296.86


7.2 Analisa Hasil Simulasi
Pada tahap perancangan awal setelah menentukan frekuensi dan lokasi, simulasi path profile
secara software yang dilakukan sebelum realisasi, merupakan langkah awal untuk mengetahui
bagaimana kondisi lapangan. Dalam simulasi perancangan ini, kita dapat mengetahui profil kontur
bumi yang tentu saja ini akan membuat perancang menyesuaikan spesifikasi radio yang akan
digunakan.
Perencanaan dan Perencangan Digital Radio Link Jaringan Komunikasi Microwave Terrestrial | 20

Sehingga parameter yang akan disesuaikan dalam simulasi ini adalah frekuensi system,
polarisasi antenna, jenis antenna dengan gain yang sesuai, redaman pada feeder, dan tentu tinggi
antenna yang akan direalisasikan, karena akan mempengaruhi nilai line loss, yang memungkinkan
kita mendapat hasil simulasi terbaik.
Dan pada hasil simulasi yang telah dilakukan pada link radio Cimahi Bandung Nagrek,
path profile yang didapat telah memenuhi syarat Line of Sight dengan worst Fresnel diatas 0.6,
dengan clearance diatas 60 % F1, hingga didapat tinggi antenna yang cukup sesuai. Cimahi
passing Bandung (Cimahi h=34 m dan Bandung h=64 m), sedangkan Bandung passing Nagrek
(Bandung h = 40 m dan Nagrek = 60 m).
Sehingga pada ketinggian antenna tersebut didapat hasil simulasi untuk link Cimahi
Bandung dengan gain antenna 34.0 dB didapat; RSL = -24.57 dBm, FSL = 115.39 dB, Tx Line
Loss = 3.06 dan 4.58. Dan untuk Bandung Nagrek dengan gain antenna 34.3 dB didapat; RSL =
-36.37 dBm, FSL = 127.94 dB, Tx Line Loss = 3.06 dan 4.28. Namun jika dibandingkan hasil
perhitungan link budget yang didapat yaitu, Cimahi Bandung RSL = - 25.219 dBm, FSL =
115.39 dB, Tx Line Loss = 2.69dan 4.64. Dan untuk Bandung Nagrek RSL = -38.056 dBm, FSL
= 128.216 dB, Tx Line Loss = 3.06 dan 4.28.
Dari data link budget tersebut dapat kita bandingkan, bahwa nilai hasil simulasi dengan hasip
perhitungan manual didapatkan hasil yang tidak terlalu terpaut jauh, bahkan hampir sebagian besar
nilai link budget Transmisson Line loss, dan FSL bernilai sama. Apalagi nilai RSL yang
didapatpun dari hasil keduanya, menyatakan nilai yang baik. Karena pada system link tersebut
masing-masing Rx level masih berada dalam kisaran -44 s/d -54 dBm, dengan fade margin diatas
40 dB.
Oleh karena itu, dalam hal perancangan radio microwave link hal sangat yang perlu
diperhatikan adalah kedua daerah sebisa mungkin harus bebas dari halangan pandangan (free of
sight obstruction), karena jika terhalang , akan menambah redaman. Fresnel zone juga
berpengaruh terhadap baik atau buruk dari sistem yang akan dirancang, karena besar jari-jari
Fresnel zone tergantung dari jarak antara Tx dan Rx dan juga frekuensi yang digunakan.

8. PERHITUNGAN PERFORMANCE OBJECTIVE
8.1 Quality
Availability merepresentasikan qualitas sebuah link hop, dan merupakan rasio waktu dari link
yang tersedia terhadap waktu total. Quality adalah parameter yang memperlihatkan kualitas dari
komunikasi radio link yang dapat ditinjau dari besarnya availability dan system outage time dari
link itu sendiri.

Perencanaan dan Perencangan Digital Radio Link Jaringan Komunikasi Microwave Terrestrial | 21

8.2 Availability
Availability dinyatakan dalam persentase. Ini menyatakan persentase waktu dimana link
dinyatakan beroperasi tanpa suatu outage yang disebabkan oleh kondisi propagasi . Standar Bell
untuk kehandalan propagasi jarak pendek (short haul propagation) adalah 99,995 %. Sementara
persyaratan untuk high capacity, long haul bisa sebesar 99,9999 %.
D
f
(dB) = 30 Log d + 10 Log ( 6 A B f (GHz) ) 10 Log (1 p) 70
dimana,
d = panjang lintasan (path length) (Km)
f = frekuensi (GHz)
p = system availability dan 1 p system outage
A = faktor kekasaran (roughness factor)
= 4 untuk permukaan yang sangat halus (smooth terrain), termasuk air
= 1 untuk permukaan bumi yang agak kasar
= 1/4 untuk pegunungan, permukaan yang sangat kasar.
B = faktor untuk mengkonversi dari worst - month probability ke annual probability.
= 1/2 untuk danau besar, atau daerah panas dan lembab
= 1/4 untuk daerah dataran
= 1/8 untuk daerah pegunungan atau daerah sangat kering

Annual Availability untuk link R26 Bandung R25A Cimahi
() (()) ( )
() () ( )

( )
( )
( )
( )






Availability x 100%

Annual Availability untuk link R26 Bandung R27 Nagrek
() (()) ( )
() () ( )

( )
( )
Perencanaan dan Perencangan Digital Radio Link Jaringan Komunikasi Microwave Terrestrial | 22

( )
( )






Availability x 100%

Worst Month Availability untuk link R26 Bandung R25A Cimahi
() (()) ( )
() () ( )

( )
( )
( )
( )






Availability x 100%

Worst Month Availability untuk link R26 Bandung R27 Nagrek
() (()) ( )
() () ( )

( )
( )
( )
( )






Availability x 100%


8.3 Outage time
Annual Outage Time
( )
( )

Annual Outage TimeR26 Bandung R25A Cimahi
= 31557600 (1-p)
= 31557600 (

)


= 0.003751 detik / tahun
Perencanaan dan Perencangan Digital Radio Link Jaringan Komunikasi Microwave Terrestrial | 23

Annual Outage TimeR26 Bandung R27 Nagrek
= 31557600 (1-p)
= 31557600 (

)


= 5.5857 detik / tahun
Wourst Mounth Outage Time
( )
( )
Worst Month Outage TimeR26 Bandung R25A Cimahi
= 2592000 (1-p)
= 2592000 (

)


= 0.01232 detik / bulan

Worst Month Outage TimeR26 Bandung R27 Nagrek
= 2592000 (1-p)
= 2592000 (

)


= 1.8357 detik / bulan

9. KESIMPULAN
Dari hasil perancangan yang sudah dilakukan dapat disimpulkan bahwa, untuk
mendapatkan kinerja sistem digital microwave radio link yang baik tanpa mengalai outage,
terdapat syarat-syarat tertentu yang harus dicapai seperti, memastikan bahwa antena pemancar dan
penerima saling melihat (LOS).
Tujuannya adalah untuk memperbesar availabilitas, dan mengetahui berapa ketinggian
antena yang ideal untuk suatu sistem pada daerah perancangan. Sehingga hal yang paling disoroti
dalam perencanaan sistem radio link digital diantaranya; Ketinggian antena yang diatur
sedemikian rupa agar syarat line of sight terpenuhi, Lintasan langsung antara pemancar dan
penerima perlu jarak ruang (clearance) diatas tanah paling sedikit 60% dari jari-jari fresnel zone
pertama untuk mencapai kondisi propagasi ruang bebas (free space propagation conditions), dan
Fade margin untuk sistem minimal bernilai 40 dB agar link tidak mengalami outage pada saat
terjadi gangguan propagasi.

KEPUSTAKAAN
Andrew 1.7-2.11 GHz Antenna System and Solutions datasheet
Andrew LDFS-50ohms datasheet
Sutrisno, MicrowaveLinkDesain-2003.ppt
Sutrisno, Perencanaan Jaringan Radio Microwave, course note