Anda di halaman 1dari 11

Pengertian UpacaraPotong Gigi

Di dalam Lontar Dharma Kahuripan, Ekapratama, dan lontar Puja Kalapati, upacara
potong gigi disebut atatah. Sampai kini ada tiga istilah di Bali yang lazimnya
digunakan untuk menyebut Upacara Potong Gigi ; matatah, mepandas,
mesangih. Kata atatah berarti pahat. Istilah metatah ini dihubungkan dengan
suatu tatacara pelaksanaan upacara putong gigi yaitu kedua taring atas dan empat gigi
seri pada rahang atas dipahat tiga kali secara simbolis sebelum pengasahan (perataan)
giginya dilakukan lebih lanjut. Rupa rupanya dari hal itulah muncul istilah matatah.
Mengenai istilah Mesangih, rupa rupanya dimunculkan dari pada mengasah gigi
seri dan taring atas dengan pengasah yaitu kikir dan sangihan pengilap, sehingga
gigi seri dan taring menjadi rata dan mengkilap. Katamesangih adalah bahasa Bali
biasa dan Bali halusnya disebut Mepandes. Maka dari itulah muncul tiga istilah
upacara potong gigi di Bali.
Upacara potong gigi merupakan merupakan salah satu bagian dari upacara Manusa-
Yadnya yang patut untuk dilaksanakan oleh umat Hindu. Upacara ini mengandung
pengertian yan dalam bagi kehidupan umat Hindu yaitu :
1. Pergantian prilaku untuk menjadi manusia sejati yang telah dapat
mengendalikan diri dari godaan pengaruh sadripu.
2. Memenuhi kewajiban orang tuanya pada anaknya untuk menemukan hakekat
manusia yang sejati
3. Untuk bertemu kembali di Sorga antara anak dengan orang tuanya setelah sama
sama meninggal dunia.
Dari pengertian ini dapatlah, bahwa upacara potong gigi adalah suatu upacara
penting dalam kehidupan umat Hindu, karena bermakna menghilangkan kotoran diri
(nyupat) sehingga menemukan hakekat manusia sejati dan terlepas dari belenggu
kegelapan dari pengaruh Sad Ripu dalam diri manusia.
Lontar Atmaprasangsa menyebutkan bahwa, apabila tidak melakukan upacara
potong gigi maka ronya akan mendapat hukuman dari betara Yamadipati di dalam
neraka (Kawah Candragomuka ) yaitu mengigit pangkal bambu petung.
Terlaksananya upacara ini merupakan kewajiban orang tua terhadap anaknya,
sehingga anaknya menjadi manusia sejati yang di sebut dengan Dharmaning Darma-
Rena Ring Putra. Maka itulah orang tua di kalangan umat Hindu berusaha semasa
hidupnya menunaikan kewajiban terhadap anaknya dengan melaksanakan upacara
potong gigi. Guna membalas jasa Orang tuanya maka anak berkewajiban upacara
Pitra Yadnya atau Ngaben saat orang tuanya meninggal dunia, sesuai
dengan Dharmaning Putra Ring Rama Rena. Berbakti kepada orang tuanya sesuai
ajara Putra Sesana.



Tujuan Upacara Potong Gigi
1. Menghilangkan kotoran diri dalam wujud kala, bhuta, pisaca dan raksasa dalam
arti jiwa dan raga diliputi oleh watak Sad Ripu sehingga dapat menemukan
hakekat manusia yang sejati.
2. Untuk dapat bertemu kembali dengan bapa dan ibu yang telah berwujud suci.
3. Untuk menghindari hukuman didalam neraka nanti yang dijatuhkan oleh
Bhatara Yamadipati berupa mengigit pangkal bambu petung.
4. Untuk memenuhi kewajiban orang tua kepada anaknya untuk menjadi manusia
yang sejati.
# TATACARA PELAKSANAAN
Berdasarkan ketentuan dalam lontar Dharma Kahuripan dan lontar Puja
Kalapati, bahwa tahapan upacara potong gigi adalah :
1. Magumi padangan, Upacara ini juga di sebut mesakapan kepawon dan
dilaksanakan di dapur.
2. Nekeb, Upacara ini dilakukan di meten atau di gedong
3. Mabyakala, Ini dilakukan di halaman rumah di depan meten atau gedong.
4. Ke Merajan, atau tempat suci di dalam rumah.Urut urutan upacara di
merajan adalah :
Mohon penugrahan kepada Bhatara Hyang Guru, Menyembah Ibu dan Bapak,
Ngayab caru ayam putih, Mohon tirtha (air suci) kepada Bhatara Hyang Guru,
Ngerajah gigi (Menulis gigi dengan wijaksara) dan Di pahat taringnya secara
tiga kali.
5. Menuju ketempat potong gigi, Urut urutan upacaranya : Sembahyang
kepada Bhatara Surya dan kepada Bhatara Semara dengan Bhatarai Ratih,
Mohon tirtha kepada Bhatara Samara dan Bhatari Ratih. Ngayab banten
pengawak di bale dangin, Metatah atau memotong / mengasah dua buah
taring dan empat buah gigi seri pada rahang atas dan Turun dari tempat
potong gigi, jalannya ke hilir dengan menginjak banten paningkeb.
6. Kembali ke meten/ gedong tempat ngekeb. Bila ingin berganti pakaian,
sekarang bias dilakukan
7. Mejaya jaya di merajan. Urutan upacaranya :
o Mabyakala
o Sembahyang kepada : Bhatara Surya, Leluhur dan Bhatara Samudaya.
o Menuju ke hadapan Sang Muput Upacara, disini dilakukan meeteh eteh
persediaan : Mapyrascita, Pangrabodan, Ngayab pungun pungun dan
pajejiwan, Matirtha penglukatan, pebersihan dan kekuluh, Mejaya jaya,
Ngayab benten oton, Ngayab banten pawinten-digunakan dan Mapadamel
o Kembali ke meten/gedong tempat ngekeb.
8. Mapinton ke Pura Khayangan Tiga, ke Pura Kawitan dan ke Pura
lainnya yang menjadi pujaannya.
Goa Gajah

Asal-usul Goa Gajah belum dapat diketahui secara pasti. Menurut kitab Jawa Kuno,
Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi, nama Goa
Gajah berasal dari kata "Lwa Gajah", Lwa berasal dari lwah atau loh yang berarti air
atau sungai dan Gajah adalah nama sungai yang sekarang disebut sungai Petanu.
Pendapat lain mengatakan nama Goa Gajah berasal dari arca Ganesha yang berada di
dalam gua pada sudut barat laut di mana arca Ganesha tersebut kepalanya memakai
belalai seperti gajah. Pada prasasti Dawan tahun 975 Saka dan prasasti Pandak
Bandung menyebutkan nama pertapaan "Antakunjarapada". Bila ditinjau dari arti kata
'kunjara' yang berarti gajah, dan 'anta' yang berarti akhir atau batas, sedangkan 'pada'
berarti tempat atau wilayah. Dengan demikian Antakunjarapada berarti tempat
pertapaan yang terletak pada perbatasan wilayah Air Gajah, yang sekarang disebut
Goa Gajah. Pertapaan Goa Gajah yang dalam bahasa Sansekerta disebut
Antakunjarapada dapat dihubungkan dengan pertapaan Kunjarakunja yang berada di
India selatan di lereng Gunung Kunjara, tempat kediaman Rsi Agastya yang sekarang
disebut Agastya-malai. Lingkungan sekitar pertapaan Kunjarakunja yang berada di
pegunungan di tepi aliran sungai Tamraparni yang diperkirakan menjadi konsep
penamaan pertapaan Goa Gajah.
Di bagian luar gua ini terdapat kolam dengan pancuran yang merupakan tempat
mengambil air suci untuk keperluan upacara. Kolam yang pada mulanya tertimbun,
baru ditemukan pada tahun 1954 oleh Krijgsman dari Dinas Purbakala saat itu. Dan
arca-arca yang terdapat pada pancuran merupakan arca bidadari-bidadari yang
mungkin jumlah sebenarnya ada 7 buah tetapi hanya ditemukan 5 buah. Arca-arca itu
terbagi dalam 2 kelompok, yang masing-masing ada 3 pancuran berjejer dan satu di
tengah-tengah tidak ada. Tujuh pancuran sebagai tempat mengambil air suci
mengambil konsep 'sapta tirta' yaitu 7 air suci yang memiliki nilai kesucian sama
dengan 'sapta nadi' yaitu 7 sungai yang disucikan di India antara lain sungai Gangga,
sungai Sindhu, sungai Saraswati, sungai Yamuna, sungai Godawari, sungai Serayu, dan
sungai Darmada. Pada saat ini, peninggalan purbakala Goa Gajah menjadi sebuah pura
yaitu Pura Goa Gajah yang diayomi oleh masyarakat setempat.




Pura Besakih

Pura Besakih adalah sebuah komplek pura yang terletak di Desa Besakih, Kecamatan
Rendang Kabupaten Karangasem, Bali, Indonesia. Komplek Pura Besakih terdiri dari 1
Pura Pusat (Pura Penataran Agung Besakih) dan 18 Pura Pendamping (1 Pura
Basukian dan 17 Pura Lainnya). Di Pura Basukian, di areal inilah pertama kalinya
tempat diterimanya wahyu Tuhan oleh Hyang Rsi Markendya, cikal bakal Agama Hindu
Dharma sekarang di Bali, sebagai pusatnya. Pura Besakih merupakan pusat kegiatan
dari seluruh Pura yang ada di Bali. Di antara semua pura-pura yang termasuk dalam
kompleks Pura Besakih, Pura Penataran Agung adalah pura yang terbesar, terbanyak
bangunan-bangunan pelinggihnya, terbanyak jenis upakaranya dan merupakan pusat
dan semua pura yang ada di komplek Pura Besakih. Di Pura Penataran Agung terdapat
3 arca atau candi utama simbol stana dari sifat Tuhan Tri Murti, yaitu Dewa Brahma,
Dewa Wisnu dan Dewa Siwa yang merupakan perlambang Dewa Pencipta, Dewa
Pemelihara dan Dewa Pelebur/Reinkarnasi. Pura Besakih masuk dalam daftar
pengusulan Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1995.
Keberadaan fisik bangunan Pura Besakih, tidak sekedar menjadi tempat pemujaan
terhadap Tuhan YME, menurut kepercayaan Agama Hindu Dharma, yang terbesar di
pulau Bali, namun di dalamnya memiliki keterkaitan latar belakang dengan
makna Gunung Agung. Sebuah gunung tertinggi di pulau Bali yang dipercaya sebagai
pusat Pemerintahan Alam Arwah, Alam Para Dewata, yang menjadi utusan Tuhan
untuk wilayah pulau Bali dan sekitar. Sehingga tepatlah kalau di lereng Barat Daya
Gunung Agung dibuat bangunan untuk kesucian umat manusia, Pura Besakih yang
bermakna filosofis.
Makna filosofis yang terkadung di Pura Besakih dalam perkembangannya mengandung
unsur-unsur kebudayaan yang meliputi:
1. Sistem pengetahuan,
2. Peralatan hidup dan teknologi,
3. Organisasi sosial kemasyarakatan,
4. Mata pencaharian hidup,
5. Sistem bahasa,
6. Religi dan upacara, dan
7. Kesenian.
Ketujuh unsur kebudayaan itu diwujudkan dalam wujud budaya ide, wujud budaya
aktivitas, dan wujud budaya material. Hal ini sudah muncul baik pada masa pra-Hindu
maupun masa Hindu yang sudah mengalami perkembangan melalui tahap mitis, tahap
ontologi dan tahap fungsional.
Pura Besakih sebagai objek penelitian berkaitan dengan
kehidupan sosial budaya masyarakat yang berada di Kabupaten Karangasem Provinsi
Bali.
Berdasar sebuah penelitian, bangunan fisik Pura Besakih telah mengalami
perkembangan dari kebudayaan pra-hindu dengan bukti
peninggalan menhir, punden berundak-undak,arca, yang berkembang menjadi
bangunan berupa meru, pelinggih, gedong, maupun padmasana sebagai hasil
kebudayaan masa Hindu.
Latar belakang keberadaan bangunan fisik Pura Besakih di lereng Gunung Agung
adalah sebagai tempat ibadah untuk menyembah Dewa yang dikonsepsikan gunung
tersebut sebagai istana Dewa tertinggi.
Pada tahapan fungsional manusia Bali menemukan jati dirinya sebagai manusia homo
religius dan mempunyai budaya yang bersifat sosial religius, bahwa kebudayaan yang
menyangkut aktivitas kegiatan selalu dihubungkan dengan ajaran Agama Hindu.
Dalam budaya masyarakat Hindu Bali, ternyata makna Pura Besakih diidentifikasi
sebagai bagian dari perkembangan budaya sosial masyarakat Bali dari mulai pra-Hindu
yang banyak dipengaruhi oleh perubahan unsur-unsur budaya yang berkembang,
sehingga memengaruhi perubahan wujud budaya ide, wujud budaya aktivitas, dan
wujud budaya material. Perubahan tersebut berkaitan dengan ajaran Tattwa yang
menyangkut tentang konsep ketuhanan, ajaran Tata-susila yang mengatur bagaimana
umat Hindu dalam bertingka laku, dan ajaran Upacara merupakan pengaturan dalam
melakukan aktivitas ritual persembahan dari umat kepada TuhanNya, sehingga ketiga
ajaran tersebut merupakan satu kesatuan dalam ajaran Agama Hindu Dharma di Bali.

















Tari Gambuh

Gambuh adalah sebuah drama tari warisan budaya Bali, yang memperoleh
pengaruh dan drama tari zaman Jawa-Hindu di Jawa Timur, yang dikenal dengan
nama Rakt Lalaokaran. Drama tari klasik yang lahir di Puri pada masa lampau, masih
dilestarikan diberbagai daerah di Bali, yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan
kerajaan. Rakt telah mengalami perjalanan sejarah yang panjang, dan baru
disebutkan lagi dalam Kidung Warjban Wideya dari abad XVI. Rakt Lalaokaranyang
juga disebut Gambuh Ariar adalah pertunjukan berlakon yang merupakan perpaduan
antara Rakt dengan Gambuh. Gambuh abad XVI ini adalah tarian perang yang
merupakan kelanjutan dan Bhata Mapdtra Yuddha, yaitu tarian perang untuk menghibur
rakyat Majapahit yang melaksana upacara Shreiddha.
Penelitian yang mengkaji asal-usul Gambuh serta pengaruhnya pada
dramatariArja ini, merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan
etnokoreologi, yaitu sistem analisis yang memadukan penelitian tekstual dengan
penelitian kontekstual. Kedua drama tari ini memiliki aspek-aspek yang multilapis,
sehingga dalam kajiannya akan melibatkan pula metode, teori maupun konsep-konsep
disiplin lainnya. Penelitian untuk disertasi ini juga menyajikan pembahasan tekstual
secara lebih rinci, yaitu dengan melakukan perbandingan
antara Gambuh dengan Arja dilihat dari unsur-unsur yang membangun kedua drama
tari tersebut. Studi banding ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa banyak
persamaan yang dimiliki, serta seberapa jauh perbedaan yang ditunjukkan oleh kedua
drama tari tersebut.
Terwujudnya Gambuh sebagai dramatari istana yang adiluhung telah memberikan
pengaruh yang besar pada kehidupan seni pertunjukan di Bali. Gambuhyang terbentuk
di Bali tidak hanya memperkenalkan cerita sebagai lakon yang memunculkan adanya
struktur dramatik yang lengkap, akan tetapi memperkenalkan pula koreografi yang rumit
dan penampilan yang artistik, untuk hiburan raja dan para bangsawan kerajaan. Bentuk
pertunjukan Gambuh memiliki standar kualitas tertentu yang mencirikan Gambuh, yaitu
memiliki struktur pertunjukan dan koreografi serta iringan musik yang pasti,
perbendaharaan gerak yang lengkap dengan aturan-aturan yang ketat, yang tidak
dimiliki oleh Bali sebelumnya. Begitu pula kostum yang digunakan sangat megah,
berbeda dengan kostum yang digunakan oleh tarian-tarian sebelumnya yang sangat
sederhana. Itulah yang menyebabkan Gambuh dikatakan sebagai sumber drama tari
yang muncul kemudian di Bali.
Salah satu drama tari yang mendapat pengaruh dari Gambuh adalah drama tari
opera arja. Arja adalah dramatari opera yang menggunakan tembang dan dialog
sebagai media ungkap lakon yang ditampilkan. Dilihat dari bentuk
pertunjukkan arjayang sekarang dengan bentuk pertunjukan pada mulanya ketika
masih disebut dadap,tampak perbedaan yang sangat mencolok. Hal ini menunjukkan
perbedaan dramatari opera arja seperti sekarang ini telah melalui suatu proses
transformasi dengan rentangan waktu yang sangat lama. Dramatari arja yang muncul
dikalangan masyarakat jelata sebagai sebuah pertunjukan yang sederhana pada
mulanya, telah berubah secara bertahap menjadi bentuk seni pertunjukan yang memiliki
unsur-unsur pokok Gambuh dalam bentuk yang lebih menarik.
Gambuh yang muncul sebagai drama tari istana telah berkembang sesuai dengan
kehidupan masyarakat Bali yang religius. Ditemukannya lontar Dharma
Pagambuhan dalam penelitian ini, menunjukan hubungan yang erat antara seni
pertunjukan dengan kehidupan ritual keagamaannya. Lontar Dharma
Pagambuhanmerupakan lontar tuntunan spiritual untuk dramatari Gambuh, yang berisi
pertunjukan berupa mantra-mantra yang harus diketahui oleh penari maupun Penabuh
Gambuh. Lontar ini juga memuat jenis-jenis sesajen yang harus dipersembahkan ketika
melakukan pementasan Gambuh. Digunakannya jenis-jenis sesajen yang dimuat
dalam Dharma Pagambuhan oleh genre seni pertunjukan lainnya di Bali merupakan
pertunjukan pula, bahwa Gambuh adalah sumber drama tari Bali yang tercipta
kemudian.
Penelitian ini telah menunjukkan bahwa Gambuh memang berasal dari zaman
Jawa-Hindu di Jawa Timur, yang telah mengalami perubahan dan perkembangan di
Bali. Kehadiran Gambuh tepat pada saat bali sedang mengalami kebangkitan kembali
dalam bidang seni, yaitu pada zaman pemerintahan Dalem Waturenggong (1460-
1550). Gambuh yang memiliki elemen-elemen dramatari yang sangat lengkap, telah
menjadikannya lengkap, telah menjadikannya sumber, yang kemudian mempengaruhi
bentuk-bentuk seni pertunjukanyang lahir kemudian. Arja merupakan
transformasiGambuh ke dalam bentuk pertunjukan yang memiliki nuansa baru serta
karakter yang berbeda dengan sumbernya. Arja memiliki unsur-unsur
pokok Gambuh dalam bentuk yang lebih menarik, dalam arti sesuai dengan jiwa
zamannya. Semua itu berkat peran para penari Gambuh yang terlibat dalam
pembentukannya, termasuk peran istana yang telah membangun arja sebagai arja due
purl (arja milik istana), yang juga turut memberikan pengaruh dan dampak yang
menguntungkan dalam dunia seni pertunjukan di Bali. Tari gambuh biasanya
dipentaskan pada saat Hari Raya Galungan dalam rangka mengiringi serangkaian
upacara pada Hari Raya Galungan tersebut selain itu juga dipergunakan pada saat
orang setempat melaksanakan acara pernikahan, selain itu juga banyak dicari atau
diundang oleh desa tetangga dalam rangka mengiringi upacara yadnya juga, orang
setempat menyebutnya Nunas Tirta Gambuh. Pada hari Raya Galungan, Tari Gambuh
ini dipentaskan pada sore atau malam hari H. Tokoh - tokoh dalam tari Gambuh
tersebut lumayan banyak juga. Awalnya tari Gambuh ini dimulai dengan mementaskan
2 penari dengan tokoh "Condong dan Galuh" biasanya disebut Salah satu keunikan
Gambuh adalah pada bentuknya, yang merupakan gabungan antara tari Jawa dan tari
Bali, dimana Gambuh memasukkan cerita dalam tarian Bali karena tarian Bali pada
zaman Pra-Hindu tidak memiliki cerita. Dalam perkembangannya, Gambuh yang
semula hanya mengambil cerita Panji kemudian dapat menampung berbagai cerita
klasik yang sesuai dengan struktur dramatikanya.

KESIMPULAN
Tari Gambuh adalah tarian drama tari Bali yang dianggap paling tinggi mutunya dan
merupakan drama tari klasik Bali yang paling kaya akan gerak-gerak tari sehingga
sebagai sumber segala jenis tari klasik Bali. Diperkirakan Gambuh ini muncul sekitar
abad ke-15 yang lakonnya bersumber pada cerita Panji. Gambuh berbentuk total
theater karena dikarena di dalamnya terdapat jalinan unsur seni suara, seni drama dan
tari, seni rupa, seni sastra, dan lainnya. Pementasanya dalam upacara-upacara Dewa
Yadnya seperti odalan, upacara Manusa Yadnya seperti perkawinan keluarga
bangsawan, upacara Pitra Yadnya (ngaben) dan lainya sebagainya. Diiringi dengan
gamelan Penggambuhan yang berlaras pelog Saih Pitu. Tokoh-tokoh yang biasa
ditampilkan adalah Condong, Kakan-kakan, Putri, Arya atau Kadean-kadean, Panji
(Patih Manis), Prabangsa (Patih Keras), Demang, Temenggung, Turas, Panasar dan
Prabu. Dalam memainkantokoh-tokoh tersebut semua penari berdialog, umumnya
bahasa Kawi, kecuali tokoh Turas, Panasar dan Condong yang berbahasa Bali, baik
halus, madya dan kasar.
Gambuh yang masih aktif hingga kini terdapat di desa:
Batuan (Ginayar)
Padang Aji dan budakeling (Karangasem)
Pedungan (Denpasar)
Apit Yeh (Tabanan)
Anturan dan Naga Sepeha (Buleleng)






Tari Kecak

Siapa yang tidak tahu Tari kecak khas daerah Bali. Berapa tahun yang lalu tarian ini
pernah ditarikan sekitar lima ribu orang dan tercatat sebagai rekor dunia. Lantas siapa
yang menciptakan dan untuk apa diciptakan tarian tersebut. Tari kecak biasa
disebut tari Cak atau Api (Fire Dance) merupakan tari pertunjukan masal atau hiburan
dan cendrung sebagai sendratari yaitu seni drama dan tari karena seluruhnya
menggambarkan seni peran dari Lakon Pewayangan seperti Rama Sita dan tidak
secara khusus digunakan dalam ritual agama hindu seperti pemujaan, odalan dan
upacara lainnya.
Tari kecak dicptakan oleh Wayan Limbak dan Walter Spies seorang pelukis dari Jerman
sekitar tahun 1930. Sebenarnya tari Kecak berasal dari ritual sanghyang, yaitu tradisi
tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi
dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-
harapannya kepada masyarakat. Tidak sulit untuk mengambil definisi atau kenapa
disebut tari Kecak. Ketika penari laki-laki menarikan tarian tersebut, terdengar
kata cakcakcak dari sanalah kata Kecak diambil. Tarian kecak ini tidak seperti
tarian lainnya dari Bali, tari kecap tidak menggunakan alat bantu musik apapun, justru
alunan tercipta dari teriakan cakcakcak yang membentuk alunan musik murni dan
kincringn yang diikatkan di kaki para penari.

Perkembangan Tari Kecak Di Bali
Tari kecak di Bali mengalami terus mengalami perubahan dan perkembangan sejak
tahun 1970-an. Perkembangan yang bisa dilihat adalah dari segi cerita dan
pementasan. Dari segi cerita untuk pementasan tidak hanya berpatokan pada satu
bagian dari Ramayana tapi juga bagian bagian cerita yang lain dari Ramayana.
Kemudian dari segi pementasan juga mulai mengalami perkembangan tidak hanya
ditemui di satu tempat seperti Desa Bona, Gianyar namun juga desa desa yang lain di
Bali mulai mengembangkan tari kecak sehingga di seluruh Bali terdapat puluhan group
kecak dimana anggotanya biasanya para anggota banjar. Kegiatan kegiatan seperti
festival tari Kecak juga sering dilaksanakan di Bali baik oleh pemerintah atau pun oleh
sekolah seni yang ada di Bali. Serta dari jumlah penari terbanyak yang pernah
dipentaskan dalam tari kecak tercatat pada tahun 1979 dimana melibatkan 500 orang
penari. Pada saat itu dipentaskan kecak dengan mengambil cerita dari
Mahabarata.Namun rekor ini dipecahkan oleh Pemerintah Kabupaten Tabanan yang
menyelenggarakan kecak kolosal dengan 5000 penari pada tanggal 29 September
2006, di Tanah Lot, Tabanan, Bali.

Pola Tari Kecak
Sebagai suatu pertunjukan tari kecak didukung oleh beberapa factor yang sangat
penting, Lebih lebih dalam pertunjukan kecak ini menyajikan tarian sebagai pengantar
cerita, tentu musik sangat vital untuk mengiringi lenggak lenggok penari. Namun dalam
dalam Tari Kecak musik dihasilkan dari perpaduan suara angota cak yang berjumlah
sekitar 50 70 orang semuanya akan membuat musik secara akapela, seorang akan
bertindak sebagai pemimpin yang memberika nada awal seorang lagi bertindak sebagai
penekan yang bertugas memberikan tekanan nada tinggi atau rendah seorang
bertindak sebagai penembang solo, dan sorang lagi akan bertindak sebagai ki dalang
yang mengantarkan alur cerita. Penari dalam tari kecak dalam gerakannya tidak
mestinya mengikuti pakem-pakem tari yang diiringi oleh gamelan. Jadi dalam tari kecak
ini gerak tubuh penari lebih santai karena yang diutamakan adalah jalan cerita dan
perpaduan suara.












Ogoh Ogoh

Saat hari raya nyepi tiba selain menjadi sepi tanpa suara dan cahaya di bali juga ada
tradisi yang sangat ditunggu-tunggu masyarakat dan para wisatawan apalagi kalau
bukan arak-arakan ogoh-ogoh yaitu arak-arakan boneka raksasa yang menjadi
perlambang sang batara kala yang sering merusak alam dan mengganggu masyarakat.
Sejarah ogoh-ogoh sendiri berasal saat pada tahun 1983 hari raya nyepi ditetapkan
sebagai hari libur nasional. sejarah adanya ogoh ogoh juga tercantum dalam babad
yaitu tradisi barong landung yaitu cerita seorang putri dalem balingkang yang bernama
Sri Baduga yang menikah dengan Raden Datonta. pernikahan mereka diadakan di bali.
tradisi ini menjadikan diadakan arak-arakan 2 ogoh-ogoh mengitari desa setiap sasi ke
enam atau kesanga. ada juga yang mengatakan tradisi ndong-nding adalah asal ogoh-
ogoh yaitu pengusiran hama menggunakan orang-orangan sawah yang disebut Lelakut.
hama diibaratkan Butha Kala.
Berbagai macam ogoh-ogoh di tampilkan saat hari raya nyepi tiba, selain berwujudkan
bathara kala ada juga yang berwujud hewan seperti gajah, naga, garuda bahkan dewa.
sebenarnya ogoh-ogoh hanya sebagai simbolis perwujudtan antara kebaikan dan
keburukan. hal ini pulalah yang menjadikan ogoh-ogoh seperti rangkaian cerita.