Anda di halaman 1dari 10

J UNI 2011, VOLUME 3 NOMOR 2

299
ASPEK HUKUM PENDIRIAN YAYASAN

Rinawati Agustini

Fakultas HukumUniversitas Islam Kalimantan(UNISKA) M.A.B Banjarmasin
J alan Adhiyaksa No. 2 RT. 26 Kayu Tangi Banjarmasin Telp. 0155-3304592

Abstract:Foundation as social organization, was not a new thing, it exist since
colonial age. But the released, works and broke out process only based on habitual
that happened in civilians and Supreme Court J urisprudential. Within Foundation
regulations no. 16 year 2001 J o no. 28 year 2004, it said that foundation is
corporation. The purpose that social, humanity and religious turned the foundation
as non profit corporation. Within Foundation regulations, foundation law status
turned become a corporation, and as the consequence all of the right and duty as
corporation also bring in a foundation, also in stewardship.

Kata Kunci:aspek hukum, yayasan


PENDAHULUAN

PembukaanUndang-undangDasar 1945
alinea ke 4 (empat) menyebutkan bah-wa
salah satu tujuan kemerdekaan bangsa
Indonesia adalah mencapai kesejahteraan rak-
yat. Namun, Walaupun Indonesia sudah 62
tahun merdeka, namun tetap saja kesejah-
teraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
masih belum terwujud secara merata, ini
dikarenakan pertumbuhan penduduk yang be-
gitu pesat, yang akhirnya menjadi beban bagi
pembangunan nasional, selain itu dalam be-
berapa tahun terakhir ini Indonesia sering di-
timpa malapetaka yang datang beruntun.
Bencana dan musibah yang menimpa negeri
ini dapat menimbulkan permasalahan yaitu,
pengangguran baru, dan kemiskinan baru.
Dalam konteks yang lebih luas, jawaban
atas berbagai permasalahan diatas adalah
penting, karenanya Indonesia sangat mem-
butuhkan organisasi atau badan hukum ya-
ng bersifat sosial,(Chatamarrasjid, 2000, 12-
13) untuk membantu mewujudkan cita-cita
bangsa tersebut. Untuk memberikan gamba-
ran yang jelas mengenai kebutuhan ini, dapat
kita lihat beberapa Pasal dari Undang-undang
Dasar 1945, antara lain:
Pasal 27 ayat (2) menyebutkan bahwa,
Tiap-tiap warga negara berhak atas peker-
jaan dan penghidupan yang layak bagi ke-
manusiaan.Ayat ini memberikan dorongan
bagi yayasan atau badan apapun untuk be-
kerja bagi tujuan-tujuan kemanusiaan, karena
Pemerintah masih belum mampu untuk mem-
berikan pekerjaan dan penghidupan yang la-
yak bagi seluruh warganya.
Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa,
Tiap-tiap warga negara berhak mendapat
pengajaran. Selanjutnya di dalam ayat (2)
menyebutkan bahwa, Pemerintah mengusa-
hakan dan menyelenggarakan satu sistem
pengajaran nasional, yang diatur dengan Un-
dang-undang.
Pasal ini memberikan kesempatan bagi
yayasan atau badan sosial lainnya untuk be-
kerjasama dengan Pemerintah dalam mem-
berikan beasiswa bagi semua warganya untuk
memperoleh pendidikan yang sebaik-baik-
nya.
Pasal 34 menyebutkan bahwa, Fakir
miskin dan anak-anak yang terlantar dipeli-

J URNAL SOCIOSCIENTIA KOPERTIS WILAYAH XI KALIMANTAN

ASPEK HUKUM PENDIRIAN YAYASAN


Rinawati Agustini

300
hara oleh Negara. Rakyat Indonesia semakin
hari semakin bertambah banyak. Ledakan pe-
ndudukan dalam berapa dasawarsa ini tidak
bisa dihindarkan lagi oleh karena itu Pasal ini
sangat sulit diwujudkan oleh Negara.
Beberapa Pasal diatas menunjukkan
baik Pemerintah maupun masyarakat mem-
butuhkan organisasi/badan hukum yang ber-
tujuan sosial. Yayasan sebagai organisasi ya-
ng bertujuan sosial, keberadaannya bukanlah
suatu hal yang baru, bahkan sudah ada sejak
zaman kolonial.
Dalam lalu lintas hukum di Indonesia,
keberadaan yasan sudah diakui oleh masya-
rakat Indonesia. Berbagai macam yayasan
dengan berbagai karakteristiknya dapat di-
jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dalam
kenyataannya keberadaan yayasan tumbuh
dan berkembang begitu pesat dengan ber-
bagai kegiatan, maksud, dan tujuannya.
Selama ini keberadaan yayasan mulai
dari proses berdiri, kinerja dan pembuba-
rannya dilakukan berdasarkan atas kebiasaan
yang terjadi dalam masyarakat maupun yu-
risprudensi dari Mahkamah Agung. Kondisi
demikian terjadi karena selama itu belum ada
hukum positif yang mengatur tentang kebe-
radaan yayasan.
Pada waktu itu ada kecendrungan ma-
syarakat memilih bentuk yayasan antara lain
karena alasan:(Setiawan, 1992, 201)proses
pendiriannya sederhana, tanpa pengesahan
dari Pemerintah, adanya persepsi dari masya-
rakat bahwa yayasan bukan merupakan sub-
yek pajak.
Yayasan adalah suatu lembaga yang
bertujuan sosial kemanusiaan. Dalam prak-
teknya, sebelum berlakunya Undang-undang
Nomor 16 Tahun 2001, yayasan itu ada yang
didirikan oleh lembaga Pemerintah, ada pula
yang didirikan oleh swasta, dan kegiatan
yayasan banyak digunakan sebagai salah satu
sarana atau bentuk usaha untuk memini-
malisir kewajiban perpajakan. Selain itu ya-
yasan seringkali dipakai untuk memperoleh
dan mendistribusikan keuntungan sebesar-
besarnya bagi Pendiri, Pembina, Pengurus,
maupun Pengawas yayasan. Bahkan untuk
memenuhi keuntungan pribadi seseorang atau
sekelompok orang.
Sejalan dengan kecendrungan tersebut,
maka akibatnya timbul berbagai masalah
yang berkaitan dengan kegiatan yayasan yang
tidak sesuai dengan maksud dan tujuan se-
perti yang disepakati dalam Anggaran dasar
dan Anggaran Rumah Tangga yayasan ter-
sebut. Bahkan kegiatannya sulit dibedakan
dengan kegiatan usaha yang bertujuan untuk
memperoleh keuntungan. Bahkan pernah
dialami dimana keberadaan yayasan dapat
menikmati fasilitas, melalui kebijakan Pe-
merintah maupun peraturan perundang-
undangan, baik dalam bentuk Peraturan
Pemerintah, maupun Keputusan
Presiden.Terhadap BUMN pungutan itu
bahkan di-lembagakan melalui SK Menkeu
Nomor 333/KMK.01/1987 yang intinya
mewajibkan sumbangan lima persen
keuntungan BUMN ke yayasan Dharmais dan
Supersemar(Ismawan, 2007, 77).
Dengan kondisi yang demikian akhir-
nya banyak menimbulkan sengketa dalam
penyelenggaraan kegiatan yayasan(Djumadi,
2006,1-2). Sengketa tersebut dapat terjadi
antara para Pendiri dengan Pengurus atau
dengan pihak ketiga lainnya. Selain itu bahwa
keberadaan yayasan digunakan untuk me-
nampung kekayaan yang berasal dari pendiri
yayasan atau pihak lain yang diperoleh
dengan cara melawan hukum. Bahkan ada
pula kecendrungan, keberadaan yayasan di-
pakai sebagai sarana.
Kegiatan politik. Kesemua masalah itu
belum dapat diselesaikan secara hukum, ka-
rena pada waktu itu belum ada hukum positif
yang mengatur secara khusus tentang yaya-
san, sebagai landasan yuridis dalam penye-
lesaian masalah.
Karena tidak ada aturan yang jelas. Aki-
batnya sudah bisa ditebak, banyak yayasan

J UNI 2011, VOLUME 3 NOMOR 2


301
yang disalahgunakan dan menyimpang dari
tujuan semula yaitu sebagai lembaga yang
nirlaba dan bertujuan sosial, keagamaan dan
kemanusiaan. Sedangkan status hukumnya
sebagai badan hukum masih sering diper-
tanyakan oleh banyak pihak, bagaimana sebe-
narnya status hukum yayasan sebelum dan
sesudah adanya Undang-undang yayasan No-
mor 16 Tahun 2001 J o Undang-undang
Nomor 28 Tahun 2004, dan bagaimana kon-
sekuensinya terhadap wewenang dan tang-
gung jawab Pengurus yayasan,karena kebe-
radaan yayasan sebagai subyek hukum belum
mempunyai kekuatan hukum yang tegas dan
kuat.

METODE PENELITIAN

Dalam penulisan ini, penulis menggu-
nakan metode penelitian hukum yang sifatnya
yuridis normatif, yaitu suatu penelitian yang
bertujuan untuk memperoleh data sekunder,
berupa bahan hukum dengan cara mengum-
pulkan dan menganalisis bahan hukum pri-
mer, sekunder, maupun tersier, berdasarkan
studi kepustakaan, yang relevan dengan po-
kok bahasan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Status Hukum YayasanSebelum dan
Sesudah Adanya Undang-undang Yayasan
Nomor 16 tahun 2001 Jo Undang-undang
Nomor 28 Tahun 2004
Tidak adanya Undang-undang yayasan
tidaklah menghalangi pertumbuhan dan per-
kembangan yayasan di Indonesia. Setiap ta-
hun ratusan yayasan didirikan,hanyalah
berdasarkan kebiasaan dalam masyarakat dan
Yurisprudensi Mahkamah Agung. Oleh kare-
na tidak ada aturan yang jelas, akibatnya,
banyak yayasan yang disalahgunakan dan
menyimpang dari tujuan semula. Sedangkan
status hukumnya sebagai badan hukum masih
sering dipertanyakan oleh banyak pihak, ka-
rena keberadaan yayasan sebagai subyek hu-
kum belum mempunyai kekuatan hukum
yang tegas dan kuat.
Pada waktu itu ada kecendrungan ma-
syarakat memilih bentuk yayasan antara lain
karena alasan(Setiawan, 1992, 201). Seperti
Proses pendiriannya sederhana, tanpa penge-
sahan dari Pemerintah, adanya persepsi dari
masyarakat bahwa yayasan bukan merupakan
subyek pajak.Walaupun demikian, harus di-
catat bahwa yayasan sebagai badan hukum
telah diterima dalam suatu Yurisprudensi ta-
hun 1882. Hoge Raad yang merupakan Ba-
dan Peradilan Tertinggi di negeri Belanda,
berpendirian bahwa yayasan sebagai badan
hukum adalah sah menurut hukum dan
karenanya dapat didirikan. Pendapat Hoge
Raad ini diikuti oleh Hoog-gerechtshof di
Hindia Belanda (sekarang Indonesia) dalam
putusannya dari tahun 1884. Pendirian Hoge
Raad di Negeri Belanda tersebut dikukuhkan
dengan diundangkannya Wet op Stichting
Stb.Nomor 327 Tahun 1956, dimana pada
Tahun 1976 Undang-undang tersebut diin-
korporasikan ke dalam buku kedua Burgerlijk
Wetboek yang mengatur perihal Badan Hu-
kum (buku kedua titel kelima Pasal 285 sam-
pai dengan 305 BW Belanda)(Suhardiadi,
2002, 18-19).
Disamping itu Yurisprudensi di Indo-
nesia dalam putusan Mahkamah Agung RI
tanggal 27 J uni 1973 No.124 K/Sip/1973 da-
lam pertimbangannya bahwa pengurus ya-
yasan dalam mewakili yayasan di dalam dan
di luar pengadilan, dan yayasan mempunyai
harta sendiri antara lain harta benda hibah,
maka Mahkamah Agung memutuskan bahwa
yayasan tersebut merupakan suatu badan hu-
kum.J ika yayasan dapat dikatakan sebagai
badan hukum, berarti yayasan adalah subyek
hukum. Yayasan sebagai subyek hukum ka-
rena memenuhi hal-hal sebagai
berikut(Syawie, 1993, 89):
1. Yayasan adalah perkumpulan orang;

J URNAL SOCIOSCIENTIA KOPERTIS WILAYAH XI KALIMANTAN

ASPEK HUKUM PENDIRIAN YAYASAN


Rinawati Agustini

302
2. Yayasan dapat melakukan perbuatan hu-
kum dalam hubungan-hubungan hukum;
3. Yayasan mempunyai kekayaan sendiri;
4. Yayasan mempunyai pengurus;
5. Yayasan mempunyai maksud dan tujuan;
6. Yayasan mempunyai kedudukan hukum;
7. Yayasan mempunyai hak dan kewajiban;
dan,
8. Yayasan dapat digugat dan menggugat di
muka pengadilan.
Selanjutnya dapat dikemukakan,bahwa untuk
adanya yayasan perlu(Ali, 1991,88-89):
1. Adanya pemisahan modal yang nyata
sedemikian rupa, hingga orang yang
menghendaki pemisahan itu atau para ahli
warisnya tidak lagi mempunyai keku-
asaan secara nyata atas kekayaan yang
dipisahkan itu;
2. Adanya perumusan secara jelas dari tu-
juan yang diperkenankan, dan sedikit
banyak ditentukan untuk tujuan mana
modal dan penghasilannya disediakan se-
cara kekal atau sedikit banyak kekal;
3. Adanya pengisian atau penunjukkan
pengurus dalam penguasaan kekayaan
dan penghasilannya dalam batas-batas
yang ditetapkan dalam point 1 dan 2,
kecuali bila dapat diatur dengan jalan lain
berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam
perundang-undangan;dan,
4. Bahwa untuk mencapai tujuannya itu ada
kehendak tidak sekedar menyerahkan
pengurusannya itu kepada suatu badan
hukm yang telah ada, tetapi untuk me-
wujudkan suatu badan hukum baru guna
keperluan tersebut.
Meskipun belum ada Undang-undang
yang secara tegas menyatakan yayasan seba-
gai badan hukum namun beberapa pakar
hukum Indonesia, diantaranya Setiawan, SH,
Prof. Soebekti dan Prof Wijono Prodjodikoro
berpendapat bahwa Yayasan merupakan ba-
dan hukum (Ali, 1991, 88-89).
Dalam kesempatan lain Setiawan dalam
tulisannya yang berjudul Status hukum ya-
yasan dalam kaitannya dengan Penataan
Badan-badan Usaha di Indonesia; Makalah
Seminar yayasan; Status hukum dan sifat
Usahanya: (Fakultas Hukum UI,1989) me-
nyatakan pula bahwa, walaupun tidak ada
peraturan tertulis mengenai yayasan, praktek
hukum dan kebiasaan membuktikan bahwa di
Indonesia itu: (a) Dapat didirikan suatu yaya-
san; dan, (b) Yayasan berkedudukan sebagai
badan hukum.
Prodjodikoro dalam bukunya yang ber-
judul Hukum Perdata tentang Persetujuan-
persetujuan tertentu berpendapat bahwa ya-
yasan adalah badan hukum. Dasarnya adalah
suatu yayasan mempunyai harta benda/ke-
kayaan, yang dengan kemauan pemilik dite-
tapkan guna mencapai tujuan tertentu.
Meskipun belum diatur dalam suatu
Undang-undang, tetapi dalam pergaulan hi-
dup yayasan diakui keberadaannya, sebagai
badan hukum yang dapat turut serta dalam
pergaulan hidup di masyarakat artinya dapat
melakukan jual beli, sewa menyewa dan lain-
lain.
Dari uraian diatas dapatlah disimpul-
kan bahwa status hukum yayasan sebelum
adanya Undang-undang yayasan, diakui se-
bagai badan hukum yang menyandang hak
dan kewajibannya sendiri, yang dapat digugat
dan menggugat di muka pengadilan, serta
memiliki status yang dipersamakan dengan
orang perorangan sebagai subyek hukum dan
keberadaannya ditentukan oleh hukum.
Pengakuan yayasan sebagai badan hu-
kum dalam suatu peraturan perundang-un-
dangan, baru ada dengan diundangkannya
Undang-undang Nomor 16 Tahun 2001 yang
kemudian dirubah dan ditambah dengan Un-
dang-undang Nomor 28 Tahun 2004. Peng-
akuan keberadaan yayasan dalam sebuah
Undang-undang yayasan adalah dilatarbela-
kangi oleh adanya kekosongan hukum dan
ingin mengembalikan fungsi yayasan ke tu-
juan semula.

J UNI 2011, VOLUME 3 NOMOR 2


303
Dengan berlakunya Undang-undang ya-
yasan Nomor 16 Tahun 2001 J o Nomor 28
tahun 2004, Pasal 1 ayat (1) menyebutkan
bahwa, yayasan adalah badan hukum yang
terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan
diperuntukkan untuk mencapai tujuan ter-
tentu di bidang sosial, keagamaan dan kema-
nusiaan, yang tidak mempunyai anggota.
Disini terlihat secara tegas Undang-un-
dang yayasan menyebutkan bahwa yayasan
adalah Badan Hukum, namun tidak secara
tegas menyatakan bahwa, yayasan adalah se-
buah badan hukum non profit, namun tujuan
yayasan yang bersifat sosial, keagamaan dan
kemanusiaan itulah yang membatasi yayasan
menjadi sebuah badan hukum yang tidak
mengejar keuntungan, yang menjadikannya
sebagai suatu badan hukum non profit/nir-
laba.
Kemudian pasal 3 ayat (1) menyebut-
kan yayasan dapat melakukan kegiatan usa-
ha untuk menunjang pencapaian maksud dan
tujuannya dengan cara mendirikan badan usa-
ha dan/atau ikut serta dalam suatu badan
usaha. Ini berarti Undang-undang ini juga ti-
dak melarang yayasan sebagai badan hukum
non profit melakukan kegiatan usaha, karena
itu ada kecendrungan yayasan bergerak da-
lam bidang usaha yang bersifat komersial,
sehingga menimbulkan kesan telah terjadi
pergeseran nilai yayasan, seolah-olah yayasan
telah meninggalkan tujuan semula yaitu yang
besifat sosial, keagamaan dan kemanusiaan.
Akibatnya timbul berbagai masalah yang ber-
kaitan dengan kegiatan yayasan yang tidak
sesuai dengan maksud dan tujuan seperti
yang disepakati dalam Ang-garan Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga yayasan, karena
kegiatannya sulit dibedakan dengan kegiatan
usaha yang bertujuan untuk memperoleh ke-
untungan. Dengan kondisi yang demikian
akhirnya banyak menimbulkan sengketa/kon-
flik dalam penyelenggaraan kegiatan yaya-
san, yang semuanya bermuara pada hasil usa-
ha yayasan.
Mengingat pendirian yayasan mempu-
nyai syarat formil, maka status badan hu-kum
yayasan baru dapat diperoleh pada saat akte
pendiriannya disahkan oleh Menteri Keha-
kiman sebagaimana yang disebutkan dalam
Pasal 11 ayat (1).
Pasal 11 ayat (1) menyebutkan bah-
wa,yayasan memperoleh status badan hu-
kum setelah akta pendirian disahkan oleh
Menteri Kehakiman, maka pada saat akte
pendirian yayasan disahkan oleh Menteri Ke-
hakiman, detik itulah status hukum yayasan
berubah menjadi sebuah badan hukum, dan
sebagai konsekwensinya segala hak dan ke-
wajiban sebagai badan hukum juga melekat
pada sebuah yayasan, tidak terkecuali dalam
hal kepengurusan.
Bagi yayasan yang telah ada sebelum
adanya Undang-undang yayasan, berlaku
Pasal 71 Undang-undang Nomor 28 Tahun
2004 yang merupakan ketentuan peralihan,
menyatakan bahwa: Pada saat Undang-un-
dang ini mulai berlaku, yayasan yang telah
didaftarkan di Pengadilan Negeri dan di-
umumkan dalam Tambahan Berita Negara RI
atau yang telah di daftarkan di Pengadilan
Negeri dan mempunyai ijin melakukan kegi-
atan dari instansi terkait, tetap diakui sebagai
badan hukum dalam jangka waktu paling
lambat 3 (tga) tahun terhitung sejak tanggal
Undang-undang ini mulai berlaku. yayasan
tersebut wajib menyesuaikan Anggaran Da-
sarnya dengan ketentuan Undang-undang ini.
yayasan yang telah menyesu-aikan Anggaran
Dasarnya wajib memberitahukan kepada
Menteri Kehakiman paling lambat 1 (satu) ta-
hun setelah pelaksanaan penyesuaian.
Yayasan yang telah didirikan dan tidak
memenuhi ketentuan sebagaimana diatas da-
pat memperoleh status badan hukum dengan
cara menyesuaikan Anggaran Dasarnya deng-
an ketentuan Undang-undang ini, dengan
mengajukan permohonan kepada Menteri
dalam jangka waktu paling lambat 1 (satu)

J URNAL SOCIOSCIENTIA KOPERTIS WILAYAH XI KALIMANTAN

ASPEK HUKUM PENDIRIAN YAYASAN


Rinawati Agustini

304
tahun terhitung sejak tanggal Undang-undang
ini mulai berlaku.
Yayasan yang tidak menyesuaikan Ang-
garan Dasarnya dalam jangka waktu yang
ditentukan, tidak dapat menggunakan kata
yayasan di depan namanya dan dapat dibu-
barkan berdasarkan Putusan Pengadilan atas
permohonan Kejaksaan atau pihak yang ber-
kepentingan.

Konsekuensiterhadap Wewenang dan
Tanggung Jawab Pengurus Yayasan
Wewenang Pengurus
Dengan adanya Undang-undang yaya-
san, status hukum yayasan berubah menjadi
sebuah badan hukum, dan sebagai konse-
kuensinya segala hak dan kewajiban sebagai
badan hukum juga melekat pada sebuah
yayasan, tidak terkecuali dalam hal kepeng-
urusan.
Segala wewenang dan tanggung jawab
pengurus dalam sebuah badan hukum sama
dengan wewenang dan tanggung jawab peng-
urus dalam sebuah yayasan. Padahal dalam
sebuah yayasan tidak dikenal adanya pemilik
modal seperti halnya Perseroan Terbatas, ka-
rena dana awal yang berupa uang atau benda
yang diserahkan kepada yayasan, pada waktu
pendirian, merupakan harta kekayaan yang
sudah dipisahkan dari pendirinya, dan yaya-
san tidak mempunyai anggota. Dalam hal ini
pengurus bukan anggota yayasan, dengan de-
mikian segala hasil usaha kegiatan yayasan
tidak dapat diberikan kepada pengurusnya.
Sebenarnya Inilah yang membedakan yaya-
san sebagai badan hukum dengan badan hu-
kum lainnya.
Sebagai suatu lembaga yang diakui se-
cara resmi sebagai suatu badan hukum, yang
dapat menyelenggarakan sendiri kegiatannya,
dengan harta kekayaan yang terpisah dan ber-
diri sendiri, yayasan mempunyai kewajiban
untuk menyelenggarakan sendiri dokumen-
dokumen kegiatannya, termasuk kegiatan
pembukuan, pelaporan keuangan dan peme-
nuhan kewajiban perpajakan. Semua itu di-
laksanakan oleh pengurus yayasan. Ini berarti
Pengurus yayasan adalah peran kunci bagi ja-
lannya yayasan. Yayasan tidak mungkin da-
pat menjalankan kegiatannya tanpa adanya
pengurus, demikian juga keberadaan pengu-
rus bergantung sepenuhnya pada eksistensi
yayasan.
Adalah menarik bahwa hukum mem-
berikan status badan hukum bagi organisasi
dengan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan
yang bersifat tidak mencari keuntungan se-
perti yayasan, karena ternyata yayasan mem-
punyai perbedaan yang karakteristik dengan
badan hukum lainnya.
Salah satu unsur yang lemah dalam
konstruksi yayasan adalah bahwa semua ke-
kuasaan dan kewenangan dapat terkonsen-
trasi pada Pengurus yayasan. Namun yayasan
tidak mempunyai anggota, dan Pengurus bu-
kanlah anggota yayasan. Di dalam yayasan
juga tidak ada istilah rapat Pengurus. Susunan
Pengurus sekurang-kurangnya terdiri atas se-
orang Ketua, seorang Sekretaris dan seorang
Bendahara.
Permasalahan akan timbul jika dari ke-
wenangan yang diberikan kepada Pengurus
yayasan ada tindakan-tindakan yang dilaku-
kan Pengurusnya merugikan pihak ketiga.
Dalam hal Pengurus yayasan, berwenang un-
tuk mewakili badan hukum yayasan, maka
ada 2 pengertian yang berkenaan dengan ke-
wenangan yaitu: (1)Pengurus dapat mewa-
kili, guna bertindak untuk serta atas nama
suatu yayasan/badan hukum pada
umumnya;dan, (2)mencerminkan
kewenangan mewa-kili ataupun kewenangan
Pengurus bertindak dengan segala
persyaratan serta pembatasan-nya
sebagaimana ditentukan dalam Anggaran
Dasar.
Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa,
Pengurus adalah organ yayasan yang me-
laksanakan kepengurusan yayasan. J adi di-
sini terlihat kekuasaan pengurus sangatlah

J UNI 2011, VOLUME 3 NOMOR 2


305
besar, karena Undang-undang yayasan tidak
mengatur secara tegas apa saja yang menjadi
wewenang Pengurus, penjelasan pasal 31
ayat (1) hanya mengatakan cukup jelas un-
tuk pernyataan ini, sehingga dapat dikatakan
jalannya yayasan semata-mata bergantung
pada pengurus, maka pengurus yang beriti-
kad buruk, dapat dengan mudah menyimpang
dari tujuan semula yayasan.
Gejala penyimpangan dirasakan dari
banyaknya usaha-usaha yang dilakukan oleh
berbagai yayasan untuk memperoleh keun-
tungan, karena hal ini tidak dilarang oleh Un-
dang-undang yayasan, sebagaimana yang
disebutkan dalam Pasal 3 ayat (1) bahwa,
yayasan dapat melakukan kegiatan usaha
untuk menunjang pencapaian maksud dan tu-
juannya dengan cara mendirikan badan usaha
dan/atau ikut serta dalam suatu badan usaha.
Pasal ini sering dijadikan alat bagi yayasan
untuk memperoleh keuntungan yang ditafsir-
kan berbeda dengan mengejar keuntungan,
alasannya karena, kegiatan usaha itu, semua
untuk membiayai operational yayasan. Hal
inilah yang sering menimbulkan konflik,
yang semua itu bemuara pada perebutan ha-
sil usaha yayasan.
Dengan adanya Undang-undang yaya-
san diharapkan dapat menertibkan dan men-
dudukkan kembali yayasan pada tempatnya
semula serta memberikan porsi yang benar
bagi kepengurusan dan pengelolaan yayasan.
Untuk mencegah terjadinya penyimpangan,
haruslah bermula dari perumusan kewenang-
an bertindak pengurus yayasan, yang biasa-
nya dirumuskan dalam Anggaran Dasarnya.
Anggaran Dasar merupakan hukum positif
yang mengikat semua organ yayasan. Hal
yang sama dapat dilihat pada Anggaran Dasar
Perseroan Terbatas. Sebagaimana dikemukan
oleh Tumbuan, bahwa Anggaran Dasar me-
rupakan hukum positif dan karenanya meng-
ikat semua pemegang saham, anggota Direksi
dan anggota Komisaris(Tumbuan, 3).Mak-
sud dan tujuan yayasan juga dapat berlaku
sebagai pembatas kewenangan bertindak dari
Pengurus Yayasan yang bersangkutan.
Dengan adanya sifat sosial, kemanu-
siaan dan keagamaan, menjadikan yayasan ti-
dak mengejar keuntungan, sehingga hasil
usaha yayasan juga tidak dapat dibagikan
kepada semua organ yayasan, seperti yang
disebutkan dalam Pasal 3 ayat (2) Undang-
undang Nomor 16 Tahun 2001 bahwa, ya-
yasan tidak boleh membagikan hasil kegiatan
usaha kepada Pembina, Pengurus dan Peng-
awas, kemudian pasal 5 juga menyebutkan
bahwa, Kekayaan yayasan baik berupa uang,
barang maupun kekayaan lainnya yang dipe-
roleh yayasan berdasarkan Undang-undang
ini, dilarang dialihkan atau dibagikan secara
langsung atau tidak langsung kepada Pem-
bina, Pengurus dan Pengawas, karyawan atau
pihak lain yang mempunyai kepentingan
terhadap yayasan. Namun dari penelitian
Chatamarrasjid dari 150 yayasan, hanya 5
yayasan yang mencantumkan di dalam Ang-
garan dasarnya bahwa semua organ yayasan
tidak menerima imbalan/keuntungan bersifat
materi dari yayasan, selebihnya ada 145 ya-
yasan yang tidak mencantumkan bahwa or-
gan yayasan tidak boleh menerima imbalan
dari yayasan.
Ketentuan ini banyak menimbulkan
protes dikalangan Pengurus yayasan yang su-
dah eksis, karena tidaklah masuk akal, karena
orang yang sudah bekerja keras, tidak men-
dapatkan apa-apa. Dalam hal ini pengurus
yayasan memang dianggap melakukan peker-
jaan sosial, namun seharusnya juga berhak
memperoleh gaji walaupun bukan dalam ben-
tuk suatu bagi hasil keuntungan dari hasil
usaha yang telah dilakukan. Adalah sangat
ironis, jika Undang-undang yayasan membe-
rikan wewenang dan tanggung jawab yang
sangat besar kepada Pengurusnya, akan tetapi
dilain pihak menerapkan pembatasan terha-
dap manfaat yang mereka terima dari hasil
usaha yayasan. Dengan adanya ketentuan Pa-
sal 5 tersebut diatas tentunya akan banyak

J URNAL SOCIOSCIENTIA KOPERTIS WILAYAH XI KALIMANTAN

ASPEK HUKUM PENDIRIAN YAYASAN


Rinawati Agustini

306
pengurus yayasan yang merasa enggan untuk
melanjutkan kepengurusan yayasan, yayasan
akan kesulitan mencari Pengurus yang benar-
benar mau melakukan pekerjaannnya dengan
suka rela dan selanjutnya dengan ketiadaan
Pengurus, yayasan akan sulit melakukan akti-
vitasnya untuk mencapai maksud dan tujuan
yayasan, karena organ Pengurus ini meru-
pakan kunci bagi jalannya kegiatan yayasan.
Hal inilah yang menjadi perdebatan banyak
pihak.
Untuk merespon adanya perdebatan ter-
sebut Undang-undang Nomor 16 Tahun 2001
kemudian dirubah dan ditambah menjadi
Undang-undang Nomor 28 Tahun 2004, di-
mana Undang-undang yayasan yang baru ini
menegaskan bahwa pada dasarnya kekayaan
yayasan tidak dapat dibagi, namun pengurus
dapat diberikan honor atau gaji, dengan me-
nambah klausula dalam Anggaran Dasarnya
sebagaiberikut: pengurus dapat menerima
gaji, upah atau honorarium, dalam hal Peng-
urus yayasan(a) Bukan pendiri yayasan dan
tidak terafiliasi dengan pendiri, pembina dan
pengawas; dan, (b) Melaksanakan kepenguru-
san yayasan secara langsung dan penuh. Se-
bagaimana yang disebutkan dalam Pasal 5
ayat (2) Undang-undang Nomor 28 tahun
2004. Sehubungan dengan hal tsb diatas se-
lanjutnya dalam Pasal 31 ayat (3) Undang-
undang Nomor 16 Tahun 2001 disebutkan
bahwa, pengurus tidak boleh merangkap se-
bagai pembina atau pengawas.

Tanggung Jawab Pengurus
Pasal 31 ayat (1) menyebutkan
bahwa,Pengurus adalah organ yayasan yang
melak-sanakan kepengurusan yayasan.
Kemudian pasal 35 ayat (1) menyebutkan
bahwa,Peng-urus yayasan bertanggung
jawab penuh atas kepengurusan untuk
kepentingan dan tujuan yayasan serta berhak
mewakili yayaan baik di dalam dan di luar
Pengadilan. Kalau melihat rumusan pasal-
pasal diatas, dimana Pengurus yayasan
berhak mewakili yayasan baik di da-lam dan
di luar Pengadilan, maka sebagai badan
hukum, yayasan dianggap cakap mela-kukan
perbuatan hukum sepanjang perbuatan
hukum itu ada, dalam maksud dan tujuan
yayasan yang dituangkan dalam Anggaran
Dasar yayasan. Dalam hal yayasan melaku-
kan perbuatan hukum, yang diluar batas
kecakapannya (ultra vires), maka perbuatan
hukum tersebut adalah batal demi hukum.
Kemudian, melihat Pasal 35 ayat 1 di-
atas, yang menyebutkan Pengurus yayasan
bertanggung jawab penuh atas kepengurusan
untuk kepentingan dan tujuan yayasan, maka
Pengurus mempunyai tugas yang sangat be-
rat, yaitu bertanggungjawab secara penuh dan
besar atas maju mundurnya dan terseleng-
garanya dengan baik suatu yayasan, bahkan
dalam Pasal 35 ayat (5) disebutkan bahwa,
setiap pengurus bertanggungjawab penuh se-
cara pribadi apabila yang bersangkutan dalam
menjalankan tugasnya tidak sesuai dengan
ketentuan Anggaran Dasar, yang mengakibat-
kan kerugian yayasan atau pihak ketiga.
Selanjutnya dalam Pasal 39 ayat (1) di-
sebutkan bahwa,Dalam hal kepailitan ter-
jadi karena kesalahan atau kelalaian pengurus
dan kekayaan yayasan tidak cukup untuk me-
nutup kerugian akibat kepailitan tersebut,
maka setiap anggota Pengurus secara tang-
gung renteng bertanggung jawab atas keru-
gian tersebut. Kemudian dalam ayat (2) nya
menyebutkan bahwa, anggota pengurus da-
pat membuktikan bahwa kepailitan bukan ka-
rena kesalahan atau kelalaiannya, tidak ber-
tanggung jawab secara tanggung renteng atas
kerugian sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1).
Kalau melihat dari rumusan Pasal 39
ayat (2) diatas dan jika dihubungkan dengan
ayat (1) nya, kelihatannya Undang-undang
yayasan ingin menerapkan sistem pembuk-
tian terbalik kepada pengurus yayasan. Bah-
wa dalam keadaan pailit pengurus dapat
membuktikan secara aktif bahwa dirinya

J UNI 2011, VOLUME 3 NOMOR 2


307
bukanlah yang menyebabkan yayasan pailit,
namun jika pengurus gagal membuktikan itu,
ia akan bertanggungjawab secara tanggung
renteng (sampai ke harta pribadinya).
Penerapan sistem pembuktian terbalik
pada pengurus yayasan terlihat tidak adil ka-
rena tidak sebanding dengan apa yang mere-
ka terima, kemudian juga jika sistem ini dila-
kukan untuk menjerat pengurus yayasan pada
masa lalu yang telah banyak melakukan
penyimpangan, kelihatannya tidak efektif ju-
ga, karena Pasal-pasal dari Undang-undang
yayasan ini tidak ada yang menyatakan ber-
laku surut.
Selanjutnya tanggung jawab pengurus
yayasan akan ditambah lagi dengan adanya
ketentuan tentang pelaksanaan akuntabilitas
publik, sebagai akibat keberadaan yayasan
sebagai organisasi publik.
Selain itu jika melihat wewenang dan
tanggung jawab yang besar dari pengurus ya-
yasan, maka diperlukan pengawasan tersen-
diri. Selama ini yayasan telah mempunyai
organ pengawas yang diangkat oleh pembina,
akan tetapi ini hanyalah Pengawasan internal.
Sehingga selama ini sanksi-sanksi yang ada
dalam Undang-undang yayasan kelihatannya
tidak dapat diterapkan secara efektif.

PENUTUP

Simpulan
Yayasan sebagai organisasi sosial, ke-
beradaannya bukanlah suatu hal yang baru,
bahkan sudah ada sejak zaman kolonial. Na-
mun proses berdiri, kinerja dan pembuba-
rannya hanya berdasarkan kebiasaan yang
terjadi dalam masyarakat dan Yurisprudensi
Mahkamah Agung, karena belum ada hukum
positif yang mengatur secara khusus tentang
yayasan, sebagai landasan Yuridisnya. Mes-
kipun belum ada Undang-undang yang secara
tegas menyatakan yayasan sebagai badan hu-
kum namun beberapa pakar hukum Indo-
nesia, diantaranya Setiawan, Soebekti dan
Prodjodikoro berpendapat bahwa yayasan
merupakan badan hukum.
Dengan berlakunya Undang-undang ya-
yasan Nomor 16 Tahun 2001 J o Nomor 28
tahun 2004, secara tegas disebutkan bahwa
yayasan adalah Badan Hukum. Tujuannya
yang bersifat sosial, kemanusiaan dan ke-
agamaan menjadikan yayasan sebagai badan
hukum non profit/nirlaba. Mengingat pendi-
rian yayasan mempunyai syarat formil, maka
status badan hukum yayasan baru diperoleh
pada saat akte pendiriannya disahkan oleh
Menteri Kehakiman sebagaimana yang dise-
butkan dalam Pasal 11 ayat (1).
Undang-undang yayasan memberikan
wewenang dan tanggung jawab yang besar
kepada Pengurus yayasan, karena pengurus
yayasan adalah peran kunci bagi jalannya
yayasan. Yayasan tidak mungkin dapat men-
jalankan kegiatannya tanpa adanya Pengurus,
demikian juga keberadaan pengurus bergan-
tung sepenuhnya pada eksistensi yayasan.
Pengurus mempunyai tugas yang sangat be-
rat, yaitu bertanggungjawab secara penuh dan
besar atas maju mundurnya dan terselengga-
ranya dengan baik suatu yayasan, malah jika
terjadi pailit pengurus akan bertanggung ja-
wab secara tanggung renteng atas kerugian
yang diderita yayasan. Penerapan sistem
pembuktian terbalik pada pengurus yayasan
terlihat sangat berat karena tidak sebanding
dengan manfaat yang mereka terima,karena
ternyata Pengurus tidak mendapatkan im-
balan yang memadai sesuai dengan sifat-sifat
profesionalitas atas tugas-tugas dan tanggung
jawab yang diembannya tersebut. Selain itu
dalam sebuah yayasan tidak dikenal adanya
pemilik modal seperti halnya Perseroan Ter-
batas, karena dana awal yang berupa uang
atau benda yang diserahkan kepada yayasan,
pada waktu pendirian, merupakan harta keka-
yaan yang sudah dipisahkan dari pendirinya,
dan yayasan tidak mempunyai anggota. Da-
lam hal ini pengurus bukan anggota yayasan,
dengan demikian segala hasil usaha kegiatan

J URNAL SOCIOSCIENTIA KOPERTIS WILAYAH XI KALIMANTAN

ASPEK HUKUM PENDIRIAN YAYASAN


Rinawati Agustini

308
yayasan tidak dapat diberikan kepada peng-
urusnya.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Chidir, 2000. Badan Hukum.Alumni,
Bandung.
Chatamarrasjid, 2000. Tujuan Sosial Yayasan
dan Kegiatan Usaha Bertujuan Laba.
PTCitra Aditya Bakti, Bandung.
Ismawan, Indra, 2007. Harta dan Yayasan
Soeharto. Media Pressindo, Bandung.
Pramono, Nindyo, 2002. Kedudukan Hukum
Yayasan di Indonesia. Andi Offset,
Yogyakarta.
Setiawan, 1992. Aneka Masalah Hukum dan
Hukum Acara Perdata. Alumni, Ban-
dung.
Sujanto, FX, 2002. Perspektif Pengembangan
Manajemen Modern Yayasan sesuai
dengan Undang-undang Nomor 16 Ta-
hun 2001. Andi Offset, Yogyakarta.
Susanto, AB, dan Himawan Wijanarko, 2002.
Pengembangan Organisasi Yayasan.
Andi Offset, Yogyakarta.
Untung, H.Budi, 2002. Hukum Yayasan ten-
tang Beberapa Aspek Perubahan Ang-
garan Dasar. Andi offset, Yogyakarta.
________, 2002. Karakteristik Yayasan dan
Badan Hukum Hukum lain di Luar
Yayasan. Suatu Solusi. Andi offset,
Yogyakarta.
Widjaya, Gunawan, 2002. Yayasan di Indo-
nesia. Suatu Panduan Komprehensif.
PTElex Media Komputindo, J akarta.
Arie Kusumastuti Maria Suhardiadi, 2002.
Hukum Yayasan di Indonesia. PTAba-
di, J akarta.
Hasbullah Syawie, 1993. Aspek-aspek Hu-
kum mengenai Yayasan di Indonesia.
Varia Peradilan
Djumadi, 2006. Kedudukan Hukum Yayasan
dalam Sistem Hukum Indonesia. Diktat,
Banjarmasin.
________, 2002. Kontroversial Keberadaan
Yayasan. Barito Post, Banjarmasin.
Setiawan, Tiga Aspek Yayasan. Varia Pera-
dilan Tahun V Nomor 5 April 1990.
Tumbuan, FGB, 2001. Kedudukan Hukum
Yayasan dan Tugas serta Tanggung Ja-
wab Organ Yayasan. Makalah, J akarta.