Anda di halaman 1dari 23

1

*Mahasiswi semester 7 fakultas kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jalan Arjuna Utara no.6, Jakarta
gusna.ridha@yahoo.com



Occupational Medicine:
Cor Pulmonale ec komplikasi TB yang diperberat oleh Pekerjaan

Gusna Ridha*
Fakultas kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Abstrak: Penyakit Akibat Kerja (PAK), menurut KEPPRES RI No. 22 Tahun 1993, adalah
penyakit yang disebabkan pekerjaan atau lingkungan kerja. Penyakit akibat kerja terjadi
sebagai pajanan faktor fisik, kimia, biologi, ataupun psikologi di tempat kerja. Tidak selalu
pekerjaan merupakan penyebab langsung suatu penyakit, kadang-kadang pekerjaan hanya
memperberat suatu kondisi yang telah ada sebelumnya. Hal ini perlu dibedakan pada waktu
menegakkan diagnosis. Suatu pekerjaan/pajanan dinyatakan sebagai penyebab suatu penyakit
apabila tanpa melakukan pekerjaan atau tanpa adanya pajanan tertentu, pasien tidak akan
menderita penyakit tersebut pada saat ini. Sedangkan pekerjaan dinyatakan memperberat
suatu keadaan apabila penyakit telah ada atau timbul pada waktu yang sama tanpa tergantung
pekerjaannya, tetapi pekerjaannya/pajanannya memperberat/mempercepat timbulnya
penyakit.




TINJAUAN PUSTAKA
2


Pendahuluan


Cor pulmonale kronis didefinisikan sebagai kelainan sirkulasi yang berlangsung lama
dengan hambatan pembuluh paru yang terjadi intermiten atau permanen disebabkan oleh
penyakit fungsional maupun struktural pada paru dan rongga toraks. Tekanan pada pembuluh
nadi paru mula-mula meningkat hanya pada pergerakan, namun belakangan pada saat sedang
beristirahat pun meningkat.
1
Bentuk kronik cor pulmonale (dengan atau tanpa gagal jantung) ditandai dengan
hipertrofi dan dilatasi ventrikel kanan karena meningkatnya tekanan dalam sirkulasi
pulmonal. Ini mungkin disebabkan oleh gangguan vaskular paru dalam perjalanan reaksi
fibrotik terhadap debu seperti silika, asbes, batubara dan bahan-bahan organik. Juga dapat
disebabkan hipoventilasi pada penderita bronkitis kronik atau emfisema dengan atau tanpa
kelainan paru akibat kerja lainnya.
2
Effect of Hypertension on Stroke
Gusna Ridha
Medicine Faculty of Kristen Krida Wacana University

Abstract: Occupational Diseases (PAK), according to Presidential Decree No. RI. 22
of 1993, is a disease caused by a job or work environment. Occupational disease
occurs as exposure to physical factors, chemistry, biology, or psychology in the
workplace. Does not always work is a direct cause of a disease, sometimes work only
aggravate a pre-existing condition. This needs to be distinguished at the time of
diagnosis. A job / exposure expressed as the cause of an illness if without doing the
work or in the absence of specific exposures, the patient will not suffer from the disease
at this time. While work is stated to aggravate an existing condition or disease if raised
at the same time without depending on his job, but his job / exposure to exacerbate /
accelerate the onset of disease.
3

Pembahasan

1. Anamnesis

Anamnesis merupakan wawancara medis yang merupakan tahap awal dari rangkaian
pemeriksaan pasien, baik secara langsung pada pasien atau secara tidak langsung. Tujuan dari
anamnesis adalah mendapatkan informasi menyeluruh dari pasien yang bersangkutan.
Informasi yang dimaksud adalah data medis organobiologis, psikososial, dan lingkungan
pasien, selain itu tujuan yang tidak kalah penting adalah membina hubungan dokter pasien
yang profesional dan optimal.
3

Anamnesis terdiri dari identitas, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat
penyakit dahulu, riwayat keluarga dan sosial ekonomi.
3,4
1. Mengidentifikasi Data Pribadi Pasien
4

Nama : Tn. IM
Usia : 46 tahun
Jenis kelamin : laki-laki
Status pernikahan : menikah
Tempat tinggal : Cililitan
Status pendidikan : -
Pekerjaan : pedagang bakso
Agama : Islam

2. Keluhan Utama dan Riwayat Penyakit Sekarang
5

Keluhan utama yang sering dirasakan pada gangguan kardiovaskular berupa nyeri
dada, berdebar-debar dan sesak napas. Keluhan-keluhan lainnya mungkin menyertai keluhan
utama, ialah perasaan cepat lelah, kemampuan fisik menurun, dan badan sering berasa lemas,
sinkope, kaki berasa berat atau bengkak, perut kembung atau buncit, kencing berkurang,
cyanotic spells, batuk, hemoptisis, keringat dingin dan tidak enak pada perut bagian atas.

Perlu ditanyakan pula secara terperinci menganai keluhan-keluhan yang ada, yaitu
kapan keluhan itu terjadi, apakah bersifat hilang timbul, jika keluhannya hilang timbul berapa
lama terjadinya, adakah pencetus, apakah ada keluhan penyerta yang lain, berapa berat
keluhannya dirasakan, dan apakah keadaan yang dapat mengurangi keluhan.

4

1.2.1 Nyeri dada
5
Dalam pengertian umum, nyeri dada ialah perasaan nyeri atau tidak enak yang
menganggu di daerah dada dan seringkali merupakan rasa nyeri yang diprojeksikan pada
dinding dada.
Nyeri yang diproyeksikan pada dinding dada ialah rasa sakit yang berasal dari
serangan alat viseral dalam rongga dada yang disalurkan melalui saraf pusat ke dinding dada.
Informasi penting yang perlu diketahui mengenai nyeri dada koroner, antara lain: (1)
Lokasi nyeri: umumnya nyeri dada koroner mulai di daerah sternal dan menjalar ke leher
terus ke dagu atau menjalar ke bahu sampai lengan kiri bagian ulnar; (2) Sifat nyeri: berupa
rasa penuh, rasa berat, rasa seperti kejang, meremas, menususk, mencekik, atau rasa terbakar,
dan lain-lain; (3) Ciri rasa nyeri: perlu diketahui derajat nyeri dan lamanya serta berapa kali
serangan timbul dalam jangka waktu tertentu; (4) Kronologis nyeri: awal timbulnya nyeri
serta perkembangannya secara berurutan, perubahan yang terjadi pada waktu tertentu, baik
yang mengenai derajat atau lama, maupun frekuensi serangan; (5) Keadaan pada saat
serangan: apakah serangan timbul pada waktu atau kondisi tertentu dari pasien; (6) Faktor
pemberat; dan (7) Gejala lain yang mungkin ada.

1.2.2 Sesak Napas
5
Sesak napas adalah perasaan tidak enak yang berhubungan dengan kesulitan
pernapasan yang disadari dan dirasakan perlu upaya tambahan bernapas dalam mengatasi
kekurangan udara.
Pada kerja fisis, kebutuhan metabolisme jaringan badan akan meningkat disertai
peningkatan kebutuhan oksigen, sehingga jantung dirangsang untuk bekerja lebih berat dalam
memenuhi suplai kebutuhan metabolisme tesebut. Keadaan ini diikuti oleh peningkatan reflek
pernapasan agar dapat menangkap oksigen lebih banyak. Bila ada gangguan atau hambatan
sirkulasi paru akibat gagal jantung, jantung kurang mampu untuk memenuhi kebutuhan
metabolisme, terjadilah kesukaran bernapas dengan tanda-tanda dispnoe.
Tanda-tanda objektif, ialah cuping hidung kembang kempis, otot pernapasan
pembantu turut berkontraksi frekuensi pernapasan meningkat 24 kali permenit dalam keadaan
sukar bernapas, serta tidal volume atau amplitudo pernapasan bertambah.



5

3. Riwayat Penyakit Dahulu
Bertujuan untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan adanya hubungan antara
penyakit yang pernah di derita dengan penyakitnya sekarang. Tanyakan pula apakah pasien
pernah mengalami kecelakaan, menderita penyakit yang berat dan menjalani operasi tertentu,
riwayat alergi obat dan makanan, lama perawatan, apakah sembuh sempurna atau tidak. Obat-
obatan yang pernah diminum pasien dan bila pasien pernah melakukan berbagai pemeriksaan,
termasuk hasilnya, maka harus di catat dengan seksama.
6
4. Riwayat Penyakit Keluarga dan Riwayat Sosial
Riwayat keluarga sangat penting pada anamnesa penyakit jantung karena berbagai
penyakit jantung mempunyai predisposisi genetik (mis, hiperlipidemia). Tanyakan apakah
orang tua masih hidup, dan bila sudah meninggal, tanyakan penyebab kematiannya. Misalnya
kematian karena stroke mendadak menunjukkan adanya hipertensi dalam keluarga. Pekerjaan
pasien juga dapat berhubungan dengan penyakit jantung: misalnya bila timbul aritmia atau
penyakit jantung koroner, maka pasien tidak dapat bekerja sebagai pilot atau sopir truk.
Jangan lupa menanyakan kebiasaan merokok, minum alkohol dan obat-obat yang sekarang
dikonsumsi.
7
5. Riwayat Pekerjaan
Pengetahuan mengenai pajanan yang dialami oleh seorang tenaga kerja adalah esensial
untuk dapat menghubungkan suatu penyakit dengan pekerjaannya. Untuk ini perlu dilakukan
anamnesis mengenai riwayat pekerjaannya secara cermat dan teliti, yang mencakup:
penjelasan mengenai semua pekerjaan yang telah dilakukan oleh penderita secara kronologis,
lamanya melakukan masing-masing pekerjaan, bahan yang diproduksi, materi (bahan baku)
yang digunakan, jumlah pajanannya, pemakaian APD, pola waktu terjadinya gejala,
informasi mengenai tenaga kerja lain yang mengalami gejala serupa, informasi tertulis yang
ada mengenai bahan-bahan yang digunakan (MSDS, label, dan sebagainya).
8

2. Pemeriksaan Fisik
9
2.1 Tanda-tanda Vital:
3
Tekanan darah : 140/90 mmHg
Denyut nadi : 88x/menit
Frekuensi nafas : 28x/menit
Suhu : 36,4
o
C
6

2.2 Jantung
2.2.1 Inspeksi dan Palpasi Jantung
9
Posisi dan karakteristik denyut apeks jantung harus diperhatikan. Posisi denyut apeks
biasanya berada pada bagian terbawah dan terluar denyutan yang mudah diraba. Pada pasien
dengan bentuk dada normal dan dalam posisi duduk 45
o
, denyut apeks jantung biasanya
teraba pada ruang interkostalis ke lima pada garis midklavikula. Denyut apeks jantung yang
normal sebaiknya dirasakan oleh jari.
2.2.2 Palpasi Denyut Jantung
9
Untuk melakukan palpasi denyut jantung, jari tangan kanan pemeriksa seharusnya
menekan dengan ringan dinding dada pasien sepanjang sumbu iga, dengan bantalan jari
tengah yang berada lebih lateral dan inferior dari ruang interkostalis ke lima pada garis
midaksilaris. Jari secara perlahan digeser ke arah medial untuk mencapai posisi yang
diinginkan. Bantalan jari tengah digunakan untuk menentukan bagian denyut apeks terluar
dan terbawah, sedangkan jari telunjuk dapat digunakan untuk memastikan apakah denyut
yang lebih jelas tidak teraba diatasnya. Jari manis dan kelingking dapat digunakan untuk
memastikan bahwa denyut apeks yang lebih jelas tidak teraba di sebelah lateral atau inferior
dari denyut apeks yang teraba oleh jari tengah.
Denyut apeks seharusnya teraba lebih ke arah dalam dari apeks jantung yang
diperkirakan karena jantung merupakan tempat masuknya pembuluh-pembuluh besar dari
bagian atas mediatinum, tetapi pada kenyataannya denyut apeks bergerak ke arah luar karena
jantung mengalami rotasi ke arah anterior pada saat sistol ventrikel.
Getaran (murmur yang teraba) yang dirasakan tangan yang sedang melakukan palpasi
terutama menunjukkan adanya turbulensi aliran darah. Getaran sistolik biasanya berhubungan
dengan adanya kelainan pada bagian kiri jantung karena tekanan yang terbentuk lebih besar.
Getaran yang dirasakan di atas jantung dapat disebabkan oleh stenosis aorta, VSD, atau mitral
insufisiensi. Kadang-kadang, murmur diastolic pada stenosis mitral dapat teraba.



7

2.2.3 Keadaan dan Karakteristik Denyut Apeks Tidak Normal
9
Jika denyut apeks bergeser ke arah bawah atau luar, keadaan ini menunjukkan adanya
deformitas dada, pergeseran mediastinum, kelainan pleura atau paru-paru, atau perbesaran
jantung.
Heaves (pengangkatan) adalah terangkatnya jemari pemeriksa yang sedang meraba
apeks jantung. Pengangkatan atau pendorong denyut apeks ini bersifat terus-menerus dan kuat
serta mengangkat jari pemeriksa yang sedang meraba. Keadaan ini dapat ditemukan (terutama
pada perbesaran ventrikel kiri) akibat hipertrofi otot jantung atau dilatasi jantung. Denyut
apeks yang tidak teraba bisa diakibatkan karena: obesitas, dinding dada yang tebal, emfisema,
dan perikarditis konstriktif.
2.2.4 Perkusi
9
Perkusi jantung jarang memberikan informasi yang bermanfaat. Kadang-kadang efusi
pericardial yang besar atau atrium kiri yang besar, dapat diperkusi (pada stenosis mitral yang
lama dan berat).
2.2.5 Auskultasi
9
Diafragma dan sungkup stetoskop harus digunakan untuk mendengar bunyi jantung,
yaitu bagian diafragma untuk mendengar murmur bernada tinggi dan sungkup untuk
mendengar murmur bernada rendah. Sebelum mengenal bunyi jantung klinis akibat berbagai
lesi katup, bunyi jantung utama, dan kedua sebaiknya dikenali terlebih dahulu, bunyi jantung
ketiga dan keempat dicari secara mendalam, dan murmur (jika ada) dikenali.
2.2.6 JVP
9,10
Tekanan vena sentral (JVP= Jugularis Vein Pressure) yang sama dengan tekanan
atrium kanan, tanda penting yang menggambarkan fungsi kardiovaskular. TVS (tekanan vena
sentral) dapat diperkirakan dengna melihat puksasi vena jugularis. Biasanya yang
dipergunakan vena jugularis interna kanan. Tetapi dapat pula vena jugularis interna kiri atau
vena jugularis eksterna kanan atau kiri. Tekanan atrium kanan normal sekitar 5mmHg atau
sama dengan kolom darah setinggi 7 cm, batas distensi vena jugularis terlihat apabila posisi
setengah duduk 30
O
- 45
O
dengan garis horizontal.

8

Peningkatan TVS dapat disebabkan oleh beberapa keadaan yaitu:
1. Payah jantung kanan apapun sebabnya. Yaitu jantung sebelah kanan tidak mampu
mengatasi darah vena yang kembali ke jantung sehingga darah kembali masuk ke
dalam vena jugularis. Peningkatan vena jugularis ini akan memperbesar tekanan
pengisian jantung yang dapat menyebabkan kegagalan jantung.
2. Beban cairan berlebihan (fluid / overload)
3. Obstruksi inflow atrium kanan: vena cava superior sindrom
4. Obstruksi inflow ventrikel kanan:
Perikarditis konstriktifa dan tamponade pericardial
Pneumothoraks atau efusi pleura yang massif
Tricuspid stenosis
5. Veno konstriksi oleh karena aktivitas simpatis yang berlebihan.
TVS dikatakan meningkat apabila lebih dari 8-9 cm atau lebih 3-4 cm diatas angulus
ludovici.
Test lain untuk mengetahui adanya payah jantung kanan adalah hepatojugular refluks.
Posisi penderita sedemikian rupa sehingga batas pulsasi jelas terlihat. Kemudian dilakukan
penekanan dengan tangan pada hipokondrium kanan selama 30 60 detik. Apabila terdapat
kenaikan TVS lebih dari 1cm meninjukkan adanya payah jantung kanan meskipun TVS
normal.

2.3 Paru
2.3.1 Inspeksi
11
Pertama, tentukan dimensi statik dada (diameter lateral dan AP), kemudian
kesimetrisannya. Dada yang asimetris dapat disebabkan oleh kelainan pada sruktur tulang
atau isi thoraks. Perhatikan apakah sela iga sama lebar satu dengan yang lainnya pada kedua
sisi, lalu perhatikan kesimetrisan ruang supraklavikula.
Kemudian periksa dinamika pernafasan. Inspirasi biasanya dilakukan secara aktif,
sedangkan ekspirasi pasif. Inspirasi maksimum yang dilakukan oleh orang normal
9

mempergunakan otot-otot tambahan di leher yang mengangkat iga pertama dan kedua dan,
sedikit mengangkat klavikula.
Dengarkanlah suara pasien. Pasien dengan paralisis pita suara mungkin datang dengan
suaara mendesah. Pasien dengan kapasitas vital yang sangat berkurang mungkin berhenti
beberapa kali selama mengucapkan suatu kalimat. Jika pasien mengeluarkan sputum,
periksalah secara makroskopis dan kemudian mikroskopis.
2.3.2 Palpasi
11
Rabalah bentuk yang asimetris dan kontur abnormal untuk menilai kontur dan
konsistensinya yang tepat.
Lalu palpasilah peristiwa dinamik pada proses pernafasan. Letakkan satu tangan pada
tiap sisi dada dan minta pasien untuk bernapas dalam-dalam. Apakah gerakan tiap sisi
berjalan secara sinkron baik dari segi waktu maupun perluasannya? Ulangilah di bagian
posterior dan superior.
Suara tambahan bernada rendah dapat diperiksa secara lebih baik dengan palpasi
ketimbang dengan auskultasi. Suara yang diucapkan secara normal menimbulkan resonansi
yang dapat dipalpasi fremitus raba. Pakailah sisi ulnar jari ke lima atau telapak tangan pada
tempat yang sama di atas tiap paru dan mintalah pasien untuk mengucapkan sembilan puluh
sembilan. Penyimpangan dari suara-suara ini mengikuti prinsip-prinsip yang sama seperti
saat auskultasi. Fremitus lebih jelas pada pria ketimbang pada wanita karena suara bernada
rendah lebih mendekati resonansi alamiah dada. Fremitus pada anak menonjol karena dada
anak-anak mempunyai frekuensi alamiah yang lebih tinggi, mendekati suara anak-anak yang
berfrekuensi lebih tinggi.
Kini palpasilah trakea selama inspirasi dalam. Trakea dapat mengalami deviasi yang
terus-menerus atau hanya selama inspirasi. Kalau perlu, ukurlah pengembangan dada dengan
pita pengukur pada inspirasi dan ekspirasi penuh.
2.3.3 Perkusi
11
Tujuan perkusi adalah untuk memperlihatkan keadaan pekak pada tempat-tempat
dimana seharusnya ada resonansi. Jaringan yang mengandung udara lebih resonan ketimbang
10

jaringan padat. Nada resonansi harus sama di kedua sisi dada dari seorang pasien. Nada
perkusi menjadi pekak jika ruang pleura berisi cairan.
2.3.4 Auskultasi
11
Pada dinding dada dapat terdengar suara yang berasal dari berbagai macam sumber.
Gerakan udara melalui bronkus dan alveolus menimbulkan getaran suara. Adanya kelainan di
dalam paru mengubah suara-suara yang timbul secara alamiah atau penghantaran suara-suara
yang diucapkan.
Dalam melakukan auskultasi pada dada pakailah diafragma stetoskop, dan mintalah
pasien untuk menarik napas dan mengeluarkan napas secara perlahan-lahan melalui mulutnya.
Pernafasan melalui mulut sangat meningkatkan intensitas suara yang akan terdengar. Mulailah
di bagian anterior dan di bagian atas dada. Bandingkanlah satu sisi dengan sisi lainnya sambil
bergerak turun. Lakukanlah auskultasi di bagian posterior dada dan terutama perhatikanlah
basis paru. Basis paru merupakan tempat yang paling mungkin untuk timbulnya akumulasi
cairan dalam jumlah kecil di dalam alveolus. Pada pasien geriatrik tidak jarang ditemukan
beberapa ronki basah di tempat ini.
Biasanya terdengar tiga bunyi pernafasan normal. Bunyi pernafasan vesikuler timbul
karena berpusarnya udara di dalam alveolus dan merupakan bunyi pernafasan normal. Bunyi
ini terdengar pada waktu inspirasi, bernada rendah, halus, dan terdengar paling jelas di bagian
perifer paru.
Bunyi pernafasan bronkial timbul karena turbulensi udara di dalam bronkus
kartilaginosa. Bunyi ini lebih kasar dan nadanya lebih tinggi daripada bunyi vesikuler dan
tidak dapat didengar di bagian perifer paru normal. Bunyi ini dapat mempunyai komponen
inspirasi dan ekspirasi.
Bunyi pernafasan bronkovesikuler merupakan campuran kedua unsur ini. Bunyi ini
dapat didengar pada tempat-tempat dimana ada bronkiolus besar yang ditutupi oleh satu
lapisan tipis alveolus, misalnya di daerah infraklavikuler kanan dekat sternum.
Fremitus vokal dipakai untuk memastikan terjadinya perubahan dalam densitas paru.
Untuk memeriksa paru dengarkanlah suara yang diucapkan dan dibisikkan. Mintalah pasien
untuk membisikkan berulang-ulang sembilan puluh sembilan ketika anda sedang
11

mendengarkan. Suara yang diucapkan menjadi tidak jelas dan melemah pada saat ia mencapai
bagian perifer paru. Biasanya, suara yang dibisikkan tidak dapat didengar di bagian perifer.
Faktor tunggal terpenting yang menimbulkan bunyi abnormal di dalam paru adalah
cairan. Cairannya dapat berupa transudat edema, eksudat purulen, atau mukus dalam jumlah
abnormal.

3. Pemeriksaan Penunjang

3.1 Elektrokardiogram (EKG)

Alat ini merekam aktivitas listrik sel di atrium dan ventrikel serta mernbentuk
gelombang dan kompleks yang spesik. Aktivitas listrik tersebut didapat dengan
menggunakan elektroda di kulit yang dihubungkan dengan kabel ke mesin EKG. Jadi EKG
merupakan voltmeter yang merekarn aktivitas listrik akibat depolarisasi sel otot jantung.
12
Pada EKG terdapat tanda-tanda hipertrofi ventrikel kanan dan pembesaran atrium
kanan, P pulmonal, aksis QRS ke kanan, atau RBBB, voltase rendah karena hiperinflasi, RS-T
sagging II, III, aVF, tetapi kadang-kadang EKG masih normal. Gelombang S yang dalam
pada V6. EKG sering menyerupai infark miokard yaitu adanya gelombang Q pada II, III, aVF
namun jarang dalam dan lebar seperti pada infark miokard inferior.
13

3.2 Film Polos

Film polos dapat rnengevaluasi ukuran jantung dan pembesaran ruang jantung. Pada
proyeksi Foto PA dada standar, rasio diameter jantung dengan diameter interna maksimal dari
dada harus tidak lebih besar dari 50% pada lm dengan inspirasi penuh. Film saat ekspirasi
dapat memberikan kesan yang salah tentang adanya kardiomegali dan kongesti pulmonal.
Film pada posisi supine juga memberikan gambaran yang serupa.
14
Pada cor pulmonale, tampak kelainan paru disertai pembesaran ventrikel kanan,
dilatasi arteri pulmonal, dan atrium kanan yang menonjol. Kardiomegali sering tertutup oleh
hiperinflasi paru yang menekan diafragma sehingga jantung tampaknya normal. Pembesaran
12

ventrikel kanan lebih jelas pada posisi oblik atau lateral. Harus diteliti adanya kelainan
parenkim paru, pleura atau dinding, dan rongga toraks.
13


3.3 Ekokardiografi
15
Ekokardiografi memanfaatkan gelombang ultrasonografi yang diarahkan ke dinding
dada kemudian dianalisis oleh komputer saat gelombang dikembalikan dari dada. Komputer
menghasilkan gambaran yang digunakan utnuk menghitung ukuran dan pergerakan ruang
jantung, performa katup, dan aliran darah yang melewati jantung. Pemeriksaan ini memiliki
sensitivitas tinggi dan tidak invasif, serta memberi gambaran visual denyut jantung.

3.4 Kateterisasi Jantung

Pada kateterisasi jantung, yang juga dikenal coronary angiogram, selang yang bersifat
fleksibel (kateter) dimasukkan melalui vena perifer (femoralis atau brakialis) ke dalam sisi
kanan jantung, atau melalui arteri perifer (femoralis atau brakialis) ke dalam sisi kiri jantung.
Melalui kateter tersebut, ruangan jantung dapat divisualisasikan, serta dapat mengukur
tekanan ruang dan kandungan oksigen jantung. Pewarna radioaktif mungkin diinjeksikan
melalui kateter dan kemampuan zat warna untuk bergerak melewati ruang jantung dan
pembuluh darah dapat diamati dengan menggunakan teknik sinar X. Gerakan katup dapat
diamati. Karena kateterisasi jantung merupakan prosedur invasive, komplikasi mungkin saja
terjadi. Termasuk robeknya dinding pembuluh darah. Setelah selesai prosedur, pasien harus
tetap berbaring selama 4-6 jam sampai pembuluh darah tungkai menutup (merapat kembali).
15
Pada kateterisasi jantung ditemukan peningkatan tekanan jantung kanan dan tahanan
pembuluh paru. Tekanan atrium kiri dan tekanan baji kapiler paru normal, menandakan
bahwa hipertensi pulmonal berasal dari prakapiler dan bukan berasal dari jantung kiri.
13

3.5 Tes Fungsi Paru
1
Evaluasi fungsi paru memberikan informasi tentang status fungsional yang membantu
menetapkan derajat kebugaran atau kelemahan. Hal yang paling mendasar pada tes ini adalah
13

kapasitas vital (FVC), volume ekspirasi paksa detik pertama (FEV1), dan perbandingan kedua
hasil tersebut (FEV1/FVC). FVC adalah seluruh volume udara yang bisa dikeluarkan secara
paksa dari paru setelah dilakukan ekspirasi maksimum dan FEV1 adalah volume udara yang
dikeluarkan pada detik pertama manuver tersebut.
Nilai tes ini memberikan hasil yang berbeda menurut jenis kelamin, umur, tinggi
badan, dan ras. Umumnya, FEV1 bertambah dengan pertumbuhan paru sampai dengan usia
20-25 tahun, selanjutnya menurun 25-30 ml/tahun. Perokok dan kelompok pekerja terpajan
iritan debu atau gas tertentu menunjukkan adanya percepatan penurunan FEV1. Nilai FVC
atau FEV1 sebesar 80% atau melebihi nilai yang diperkirakan biasanya dianggap normal.
Penyakit yang menyebabkan inflamasi dan penebalan dinding alveoli, seperti pada
alveolitis fibrosis, asbestosis, dan pneumonia hipersensitif menyebabkan paru menjadi kaku
dengan terganggunya proses transfer udara. Pada paru yang bertambah kaku, volume udara
yang bisa dimasukkan ke dalam paru akan berkurang tapi bukan kecepatan udara yang dapat
dikeluarkan. Tentu saja rasio FEV1/FVC sering lebih dari normal (>90%), karena FVC
berkurang lebih banyak dibandingkan FEV1. Aliran maksimal pada volume paru yang kecil
juga bertambah. Kecepatan aliran yang berada di atas nilai normal mungkin disebabkan oleh
bertambahnya daya elastisitas pengembangan paru yang merupakan ciri penyakit paru
interstitialis. Gangguan proses transfer udara yang terkait dapat ditunjukkan oleh
berkurangnya pengambilan karbonmonoksida dari udara yang dihirup.

3.6 Analisa Gas Darah Arteri (AGD)
16
Pemeriksaan ini digunakan untuk mengukur tekanan parsial oksigen arteri (Pa O
2
),
tekanan parsial karbondioksida (Pa CO
2
), dan pH dari sampel arteri. Nilai kandungan oksigen
(O
2
CT), saturasi oksigen arteri (SA O
2
), dan bikarbonat (HCO
3
-
) juga diukur. Sampel darah
untuk pemeriksaan ini dapat diambil dari pungsi arteri perkutan atau dari jalur arteri.
Tujuan:
- Untuk menilai efisisensi pertukaran gas paru
- Menilai integritas system pengendalian ventilasi
- Menentukan

kadar asam basa darah
- Memantau terapi pernapasan.
14

Nilai Rujukan:
Nilai GDA yang normal berkisar sebagai berikut:
- Pa O
2
: 80-100 mmHg (SI 10,6-13,3 kPa)
- Pa CO
2
: 35-45 mmHg (SI 4,7- 5,3 kPa)
- pH: 7,35-7,45
- O
2
CT: 15-23% (SI 0,15-0,23)
- SaO
2
: 94-100% (SI 0,94-100)
- HCO
3
-
: 22-25 mEq/L (SI, 22-25 mmol/L)

3.7 Hitung Sel Darah Putih
16
Hitung sel darah putih (SDP) menunjukkan jumlah sel darah putih dalam mikroliter
dari keseluruhan darah. Hitung SDP mungkin bervariasi sebanyak 2000 sel/l setiap hari
akibat olahraga berat, stres, atau pencernaan.
Hitung SDP mungkin meningkat atau menurun secara bermakna pada penyakit
tertentu, tapi secara diagnostik berguna hanya apabila hitung jenis SDP dan status klinis
dipertimbangkan juga.
Nilai Rujukan: Hitung SDP berkisar dari 4.000 sampai 10.000/l.
Temuan Abnormal:
Hitung SDP yang tinggi (leukositosis) seringkali menandakan adanya infeksi, seperti
suatu abses, meningitis, apendisitis, atau tonsilitis. Hitung yang tinggi juga diakibatkan oleh
leukimia dan nekrosis jaringan pada luka bakar, infark miokard, atau gangren.
Hitung SDP yang rendah (leukopenia) menunjukkan depresi sumsum tulang yang
mungkin diakibatkan oleh infeksi virus atau reaksi toksik. Seperti halnya pengobatan dengan
antineoplastik, menelan air raksa atau logam berat lainnya, juga pajanan dengan benzena atau
arsenik. Leukopenia secara khas menyertai influenza, demam tifoid, campak, hepatitis
infeksiosa, mononukleosis, dan rubela.


15

4. Diagnosis Klinis: Cor Pulmonale
13
Cor pulmonal merupakan penyakit paru dengan hipertrofi dan atau dilatasi ventrikel
kanan akibat gangguan fungsi dan atau struktur paru (setelah menyingkirkan penyakit jantung
kongenital atau penyakit lain yang primernya pada jantung kiri).
Etiologi
13
Penyakit ini disebabkan oleh:
Penyakit paru obstruktif kronik.
Emfisema.
Obstruksi pembuluh darah: emboli paru, atau penyakit yang menyebabkan kompresi
perivaskular atau destruksi jaringan pada fibrosis paru, granulomatosis, kanker paru.
Hipertensi pulmonal primer.
Vasokonstriksi pulmonal menyeluruh: dapat disebabkan oleh hipoksia, pirau
intrapulmonal kanan ke kiri.
Patofisiologi
Pada tuberculosis paru yang lanjut dengan fibrosis yang luas sering ditemukan atrofi
dan retraksi otot-otot interkostal. Bagian paru yang sakit jadi menciut dan menarik isi
mediastinum dan paru lainnya. Bila jaringan fibrotic amat luas yakni lebih dari setengah
jumlah jaringan paru-paru, akan terjadi pengecilan daerah aliran darah paru dan selanjutnya
meningkatkan tekanaan arteri pulmonalis (hipertensi pulmonal) diikuti terjadinya kor
pulmonal dan gagal jantung kanan.
17

Manifestasi Klinis
13
Perlu dilakukan anamnesis yang teliti ada tidaknya penyakit paru yang mendasari dan
jenis kelainan paru seperti batuk kronik yang produktif, sesak napas waktu beraktivitas, napas
yang berbunyi, mudah lelah, dan kelemahan. Pada fase awal berupa pembesaran ventrikel
kanan, tidak menimbulkan keluhan, jadi lebih banyak keluhan akibat penyakit parunya.
Keluhan akibat pembesaran ventrikel kanan baru timbul bila sudah ada gagal jantung kanan;
tekanan vena sentral meningkat tinggi sekali pada gagal jantung kanan, terlihat sebagai
distensi vena jugularis, dan menyebabkan akumulasi cairan di jaringan perifer (edema
perifer), peritoneum (asites) dan hepar, mengakibatkan hepatomegali. Pasien dapat
16

mengalami edema pitting di kaki yang berkurang ketika berbaring.
18
Infeksi paru sering
mencetuskan gagal jantung, hipersekresi bronkus, edema alveolar, serta bronkospasme yang
menurunkan ventilasi paru lalu timbul gagal jantung kanan.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan sianosis, jari tabuh, peningkatan tekanan vena
jugularis, heaving ventrikel kanan atau gallop, pulsasi menonjol di sternum bagian bawah atau
epigastrium (parasternal lift), pembesaran hepar dan nyeri tekan, asites, dan edema.

5. Pajanan yang Dialami

Urutan
kegiatan
Bahaya
Potensial
gangguan
kesehatan
Resiko
kesehatan
kerja
Fisik Kimia Biologi Ergonomi Psikososial
Perjalanan
rumah
pasar
-angin
-hujan
-gelap
--kabut -Bakteri
-Virus
-
serangga
-Lama
berdiri
-jalan jauh
-bawa
banyak
belanjaan
-Stres
-ngantuk

-gangguan
pernafasan
-kurang tidur


-
kecelakaan
lalulintas
-tindakan
kriminal
-terpleset

Belanja di
pasar
(daging,
sayur)
-dingin
-hujan
-
keramaian

-pestisida
-gas


-bakteri
-virus
-lama
berdiri
-bawa
banyak
belanjaan
-stres
-ngantuk
-duit
kurang
-barang
yang lupa
dibeli
-muskuloskletal
- low back pain
-pernafasan
-terjatuh ,
terpleset
Jualan
keliling
-panas
-sinar
terik
matahari
-kering
-debu
beterbangan
-asap
kendaraan
-bakteri
-virus
-lama
berdiri
-jalan jauh
-bawa
gerobak
-stres
-sepi
pembeli
-hujan
-
muskuloskeletal
-pernafasan
-low back pain
-luka
potong
-terjatuh ,
terpleset
-
17

-Tekanan
udara
rendah
-hujan
-jalanan
naik turun
terserempet
kendaraan

6. Hubungan Pajanan dengan Penyakit

Apapun yang kita hirup akan selalu melewati sistem respirasi terlebih dahulu dan pada
proses tersebut kontaminan dapat menyebabkan reaksi mendadak pada saluran udara atau
alveoli sehingga menyebabkan inflamasi. Hal ini dapat memberikan manifestasi seperti asma
atau alveolitis atau edema paru dengan mekanisme yang mungkin disebabkan oleh iritasi atau
alergi. Mekanisme lain yang mungkin terjadi berupa tertinggalnya kontaminan dalam jaringan
paru selama bertahun-tahun dan mengakibatkan fibrosis yang progresif atau bahkan
perubahan karsinogenik.
1
Pada kasus ini, fibrosis paru diperparah oleh gangguan vaskular
paru dalam perjalanan reaksi fibrotik terhadap debu seperti silika, asbes, batubara dan bahan-
bahan organik.
2
Dari factor fisiologis, jam kerja yang terlalu lama, dan kelelahan mempunyai
hubungan dengan kumatnya penyakit yang berhubungna dengan tekanan darah dan jantung.
kelelahan adalah kondisi tubuh akibat berkurangnya energi atau kekuatan akibat kerja yang
berlebihan, kurang tidur, khawatir, kebosanan, olahraga terlalu keras atau kurangnya
melakukan aktivitas fisik. Jika kondisi tubuh yang kelelahan ini diikuti dengan pola makan
dan tidur yang buruk seperti merokok, begadang dan mengonsumsi kopi maka bisa semakin
memperberat kerja dari jantung.
Saat tubuh mengalami kelelahan maka tubuh akan bernapas lebih cepat dan lebih
dalam untuk memasok oksigen lebih banyak. Kondisi ini tentu saja akan berpengaruh
terhadap kerja jantung yang semakin berat. Kondisi ini bisa menyebabkan terjadinya kram
otot dan kram jantung yang membuat seseorang terkena serangan jantung. Hal ini akan lebih
berisiko pada orang yang sudah memiliki gangguan jantung sebelumnya serta memiliki pola
hidup yang tidak sehat.
Serangan jantung atau yang juga dikenal dengan myocardial infraction adalah
kematian otot jantung mendadak karena halangan yang tiba-tiba pada arteri koroner akibat
adanya pembekuan darah atau penyumbatan. Penyumbatan pada arteri ini mengambil darah
18

dan oksigen dari otot jantung yang menyebabkan otot jantung mengalami cedera. Cedera pada
jantung ini menimbulkan sakit dada dan sensasi yang menyakitkan. Jika aliran darah tidak
dikembalikan ke otot jantung dalam 20-40 menit bisa menyebabkan kematian.
8

7. Pajanan Cukup Besar
Pada kasus ini, pajanan yang dialami pasien tidak diketahui secara spesifik baik secara
kualitatif maupun kuantitatif.

8. Faktor Individu

dan Faktor Lain di Luar Pekerjaan

8.1 Usia dan Jenis Kelamin
19
Pria di bawah usia 50 tahun memiliki resiko lebih tinggi dibandingkan dengan wanita
pada kelompok usia yang sama. Setelah menopause, resiko seorang wanita bertambah karena
penurunan yang tajam dari hormon estrogen yang bersifat melindungi.
8.2 Keturunan dari Keluarga
19
Penelitian menunjukkan bahwa jika terdapat riwayat gangguan jantung dalam
keluarga, keturunan mereka lebih cenderung mengembangkan problem yang serupa.
8.3 Diabetes Mellitus
19
Penderita diabetes dapat mengalami penyakit jantung akibat komplikasi dari penyakit
tersebut.
8.4 Merokok (Terkena Asap Rokok)
19
Merokok secara langsung bertanggung jawab atas kira-kira 20 persen dari semua
kematian karena penyakit jantung dan hampir 50 persen dari serangan jantung pada wanita
berusia di bawah 55 tahun. Merokok meningkatkan tekanan darah dan memasukkan zat-zat
kimia beracun, seperti nikotin dan karbon monoksida, ke dalam aliran darah. Selanjutnya, zat-
zat kimia ini akan merusak arteri. Para perokok juga membuat mereka yang ikut menghirup
asapnya beresiko mengalami masalah pada jantung. Penelitian menyingkapkan bahwa orang-
orang yang tidak merokok yang tinggal dengan para perokok memiliki tambahan resiko
19

serangan jantung. Oleh karena itu, dengan berhenti merokok seseorang dapat mengurangi
resikonya sendiri dan bahkan dapat menyelamatkan kehidupan orang-orang tercinta yang
tidak merokok.
8.5 Hipertensi
19
Hipertensi dapat melukai dinding arteri dan memungkinkan kolesterol LDL memasuki
saluran arteri dan meningkatkan penimbunan plak. Seraya timbunan plak meningkat, terjadi
lebih banyak penghalang terhadap aliran darah dan dengan demikian terjadilah peningkatan
tekanan darah yang meningkatkan resiko serangan jantung.
8.6 Obesitas
19
Kelebihan berat meningkatkan tekanan darah tinggi dan ketidaknormalan jumlah
lemak. Menghindari atau mengobati obesitas (kegemukan) adalah cara utama untuk
menghindari diabetes. Diabetes kemudian akan meningkatkan resiko penyakit jantung
koroner.

8.7 Gaya Hidup Kurang Gerak
19
Orang-orang yang tidak banyak bergerak memiliki resiko serangan jantung yang lebih
tinggi. Mereka menghabiskan sebagian besar dari hari mereka tanpa aktif secara fisik dan
tidak berolahraga dengan teratur. Serangan jantung sering kali terjadi pada orang-orang ini
setelah kegiatan-kegiatan yang berat seperti bekerja keras di kebun, jogging, mengangkat
beban berat, atau menyekop salju. Tetapi resikonya menurun di antara mereka yang
berolahraga dengan teratur. Jalan-jalan santai selama 20 hingga 30 menit sebanyak tiga atau
empat kali seminggu dapat menurunkan resiko serangan. Olahraga dengan teratur dapat
meningkatkan kemampuan jantung untuk memompa dan dapat menurunkan kadar kolesterol
serta menurunkan tekanan darah.
8.8 Stress
19
Berdasarkan penelitian, stres dapat menyebabkan penyempitan arteri dan ini
menurunkan aliran darah hingga 27 persen. Penyempitan yang berarti bahkan dapat terlihat
pada arteri yang terkena penyakit ringan. Penelitian lain mengesankan bahwa stres berat dapat
menyebabkan pecahnya dinding arteri yang memicu serangan jantung.
20


9. Diagnosis Okupasi
Cor pulmonale ec komplikasi TB yang diperberat oleh pekerjaan.
10. Penatalaksanaan

Pada dasarnya adalah mengobati penyakit dasarnya. Pengobatan terdiri dari: tirah
baring, diet rendah garam, dan medikamentosa berupa diuretik, digitalis, terapi oksigen, dan
pemberian antikoagulan. Digitalis diberikan terutama bila terdapat gagal jantung kanan, tetapi
yang paling penting adalah mengobati penyakit paru yang mendasarinya. Terapi oksigen
sangat penting, bahkan kadang-kadang perlu ventilator mekanik bila terjadi retensi CO
2
yang
berbahaya (gagal napas). Pada kasus eksaserbasi akut insufisiensi paru, sering pasien perlu
dirawat intensif untuk aspirasi sekret bronkus, pengobatan infeksi paru, bronkodilator,
kortikosteroid, keseimbangan cairan, dan pengawasan penggunaan sedatif. Kadang-kadang
diperlukan trakeostomi untuk membantu aspirasi sekret dan mengurangi ruang mati.
Antikoagulan dapat mencegah trombosis yang memperberat penyakit paru obstruktif kronik.
13

11. Pencegahan
1
Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas dini
dan sebagian besar dapat dicegah. Tempat kerja memberikan kesempatan unik untuk praktek
meningkatkan kesehatan, termasuk mencegah penyakit tersebut. Agar efektif, upaya
peningkatan kesehatan di tempat kerja membutuhkan komitmen sepenuh hati dari pimpinan.
Manfaat kemajuan produktivitas dan peningkatan rasa sehat serta moral para pekerja dapat
sangat memuaskan. Pada program peningkatan kesehatan, tekanan dapat diberikan pada hal
berikut:
11.1 Pengurangan atau Penghentian Kebiasaan Merokok
1
Kebiasaan merokok adalah faktor risiko utama penyakit jantung koroner, penyakit
pembuluh darah perifer, dan stroke. Penyuluhan yang informatif serta dapat memotivasi oleh
petugas kesehatan, konseling pribadi maupun kelompok, pembagian selebaran bagaimana
cara untuk berhenti merokok, dapat sangat efektif. Pekerja yang tidak merokok harus
21

dilindungi dengan peraturan seperti dilarang merokok di semua area bangunan atau hanya
diperbolehkan merokok di area yang telah disediakan.
11.2 Alkohol
1
Konsumsi alkohol dalam jumlah yang banyak meningkatkan risiko kardiovaskular.
Pernyataan bahwa alkohol yang diminum dalam jumlah yang tidak terlalu banyak dapat
mengurangi risiko penyakit jantung koroner, tidak dapat dibenarkan.
11.3 Olah Raga dan Fitness
1
Bukti menyatakan bahwa kegiatan fisik yang dilakukan secara teratur dapat membantu
proses penurunan berat badan, kadar lemak dalam darah, tekanan darah, dan faktor risiko
penyakit kardiovaskular lainnya. Program untuk menganjurkan olah raga aerobik di tempat
kerja, misalnya pada waktu istirahat makan siang, atau pada pagi hari sebelum memulai kerja,
harus digalakkan.
11.4 Program Penapisan
1
Program penapisan faktor risiko lain, seperti hiperlipidemia, tekanan darah tinggi dan
diabetes mellitus, harus dianjurkan.
11.5 Pengawasan Kantin Tempat Kerja
1
Tim kesehatan kerja harus aktif dan berminat menjamin bahwa makanan yang dijual
di kantin tempat kerja bergizi dan tidak meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular,
khususnya kandungan kalori dan lemak.

Penutup
Cor pulmonal terjadi karena hipertrofi dan dilatasi ventrikel kanan akibat fibrosis paru akibat
komplikasi TBC. Keluhannya berupa nyeri dada, sesak nafas, mudah lelah,JVP yang
meningkat. Hal ini dapat diperberat pada saat pasien sedang mengalami kelelahan dimana
kebutuhan oksigen meningkat sehingga menambah beban kerja jantung. Prinsip
penatalaksanaannya yaitu dengan mengobati penyakit dasarnya, terapi simptomatik sampai
terapi pembedahan dan menghindari faktor pemberat misalnya kelelahan.
22

Daftar Pustaka
1. Jeyaratnam J, Koh D. Buku ajar praktik kedokteran kerja. Jakarta: EGC, 2009.h.59-
63,70-4.
2. WHO. Deteksi dini penyakit akibat kerja. Jakarta: EGC, 1995.h.245-6.
3. Soegondo S. Penuntun anamnesis dan pemeriksaan fisis. Jakarta: Pusat Penerbit
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
2005.h.35-7.
4. Davey P. At a glance medicine. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2002.h.27-33,362-3.
5. Castellanos A, Kessler KM, Meyerburg RJ. The resting electrocardiogram. In: Hurst,
The heart. 8th edition. McGraw-Hill Inc, 2003.p.321-52.
6. Epi, Servasius. Anamnesis: cara melakukan wawancara untuk menegakkan diagnosis.
Diunduh dari http://sikkahoder/2012/12/anamnesis-cara-melakukan-wawancara.html.
Pada: Jumat, 4 oktober 2013. 22.59 WIB.
7. Waskito, budi arief. Anamnesa dan Pemeriksaan fisik kardiovaskular. FK UWKS :
2008.
8. Gray,Huon H,dkk.2005.Lecture Notes Kardiologi.Jakarta: Erlangga
9. Welsby PD. Pemeriksaan Fisik dan Anamnesis Klinis. Jakarta: EGC, 2009.h.36-7,40-
2, 53-4.
10. Joewoni BS. Ilmu penyakit jantung. Surabaya: FK Airlangga, 2003.h.16-17.
11. Burnside JW, McGlynn TJ. Adams diagnosis fisik. Edisi 17. Jakarta: EGC,
1995.h.195-207.
12. Dharma S. Sistematika interpretasi EKG: Pedoman praktis. Edisi ke-1. Jakarta: EGC,
2010.h.7,11-8.
13. Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, Wardhani WI, Setiowulan W. Kapita selekta
kedokteran. Edisi ke-3. Jilid 1. Jakarta: Media Aesculapius FKUI, 2008.h.453-4.
14. Patel PR. Lecture notes: radiologi. Edisi ke-2. Jakarta: Penerbit Erlangga. 2007.h.66-
70.
15. Corwin, Elizabeth J. Patofisiologi : buku saku. Ed 3. Jakarta: EGC, 2009.h.468-70.
16. Kowalak JP, Welsh W, editor. Buku pegangan uji diagnostik. Ed. 3. Jakarta: EGC,
2009.h.137-9,171-2,191-99.
17. Sudoyo AW, Setohadi B, Alwi I. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid III. Edisi V.
Jakarta: Interna Publishing, 2009.h.2230-8.
23

18. Aaronson PI, Ward JPT. The cardiovascular system at a glance. Third edition. UK:
Blackwell Publishing, 2007.p.101.
19. Magdalena, Maureen. Faktor faktor utama terkena resiko penyakit jantung. Diunduh
dari: http://www.deherba.com. pada 5 oktober 2013, 00.07 WIB.