Anda di halaman 1dari 18

ASKEP TEORITIS CHIKUNGUNYA

A. Definisi
Chikungunya adalah penyakit yang disebabkan oleh virus chikungunya yang disebarkan
ke manusia melalui gigitan nyamuk. Sebagai penyebar penyakit adalah nyamuk Aedes aegypti;
juga dapat oleh nyamuk Aedes albopictus.
Nama penyakit berasal dari bahasa Swahili yang berarti yang berubah bentuk atau
bungkuk, mengacu pada postur penderita yang membungkuk akibat nyeri sendi yang hebat
Masa inkubasi berkisar 1-4 hari, merupakan penyakit yang self-limiting dengan gejala akut yang
berlangsung 3-10 hari.
Nyeri sendi merupakan keluhan utama pasien, yang kadang-kadang berlangsung
beberapa minggu sampai bulan. Meskipun tidak pernah dilaporkan menyebabkan kematian,
masyarakat sempat dicemaskan karena penyebaran penyakit yang mewabah, disertai dengan
keluhan sendi yang mengakibatkan pasien lumpuh. Untuk memahami lebih mendalam, dilakukan
review terhadap penyakit ini.

B. Etiologi
Virus chikungunya merupakan anggota genus Alphavirus dalam family Togaviridae.
Strain asia merupakan genotype yang berbeda dengan yang di afrika. Virus Chikungunya disebut
juga Arbovirus A Chikungunya Type CHIK, CK. Virus Chikungunya masuk keluarga
Togaviridae, genus alphavirus.
Virions mengandung satu molekul single standed RNA. Virus dapat menyerang manusia
dan hewan. Virions dibungkus oleh lipid membrane; plemorfik; spherical; dengan diameter 70
m. Pada permukaan envelope didaptkan glycoprotein spikes (terdiri atas 2 virus protein
membentuk heterodimer).
Nucleopapsids isometric; dengan diameter 40 m. Nyamuk Aedes aegypti berukuran
kecil disbanding nyamuk lain: ukuran badan 3-4 mm, berwarna hitam dengan hiasan titik-titik
putih dibadannya; dan pada kakinya warna putih melingkar. Nyamuk dapat hidup berbulan-
bulan.
Nyamuk jantan tidak menggigit manusia, ia makan buah. Hanya nyamuk betina yang
menggigit; yang diperlukan untuk membuat telur. Telur nyamuk aedes diletakkan induknya
menyebar; berbeda dengan telur nyamuk lain yang dikeluarkan berkelompok. Nyamuk bertelur
di air bersih. Telur menjadi pupa dalam beberapa minggu.
Nyamuk bila terbang hampir tidak mengeluarkan bunyi; sehingga manusia yang diserang
tidak mengetahui kehadirannya; menyerang dari bawah atau dari belakang; terbang sangat cepat.
Telur nyamuk Aedes dapat bertahan lama dalam kekeringan (dapat lebih dari 1 tahun). Virus
dapat masuk dari nyamuk ke telur; nyamuk dapat bertahan dalam air yang chlorinated.
Nyamuk Aedes aegypti merupakan vector Chikungunya (CHIK) virus (alpha virus).
Beberapa nyamuk resisten terhadap CHIK virus namun sebagian susceptible. Ternyata
Susceptbility gene berada di kromosom 3. Vektor Chikunguya di Asia adalah Aedes aegypti,
Aedes albopticus. Di Afrika adalah Aedes furcifer dan Aedes africanus.

C. Patofisiologi
Demam Chikungunya mempunyai masa inkubasi (periode sejak digigit
nyamuk pembawa virus hingga menimbulkan gejala sekitar 2 hingga 4 hari. Pada saat virus
masuk ke dalam sel secara endositosis virus tersebut menuju sitoplasma dan
reticulumendoplasma. Di dalam sitoplasma terjadi proses sisntesis DNA dan sisntsesis RNA
virus, sedangkan di dalam reticulum endoplasma terjadi proses sintesis protein virus. Setetah
masa inkubasi tersebut virion matang di sel endothelial di limfonodi, sumsum tulang, limfa dan
sel kuffer, lalu virus tersebut di keluarkan melewati sel membrane maka virus beredar dalam
darah. Demam chikungunya salah satunya dapat menginfekasi sel hati sehingga sel hati
mengalami degenerasi dan dapat menyebabkan nekrosis pada sel hati tersebut yang akan
mempengaruhi metabolisme pada sel hati yang mempengaruhi peningkatan bilirubin sehingga
seseorang yang mengalami demam ini biasanya terdapat ikterus. Gejala yang paling menonjol
pada kasus ini adalah nyeri pada setiap persendian (poliarthralgia) terutama pada sendi lutut,
pergelangan kaki dan tangan, serta sendi-sendi tulang punggung. Radang sendi yang terjadi
menyebabkan sendi susah untuk digerakkan, bengkak dan berwarna kemerahan. Itulah sebabnya
postur tubuh penderita menjadi seperti membungkuk dengan jari-jari tangan dan kaki menjadi
tertekuk. Gejala lain adalah munculnya bintik-bintik kemerahan pada sebagian kecil anggota
badan, serta bercak-bercak merah gatal di daerah dada dan perut. Muka penderita bisa menjadi
kemerahan dan disertai rasa nyeri pada bagian belakang bola mata. Meskipun gejala penyakit itu
bisa berlangsung 3-10 hari (kemudian sembuh dengan sendirinya), tetapi tidak dengan nyeri
sendinya yang bisa berlangsung berminggu-minggu bahkan berbulan- bulan.

D. Manifestasi Penyakit
Masa inkubasi dari demam Chikungunya 2-4 hari. Viremia dijumpai kebanyakan dalam
48 jam pertama, dan dapat dijumpai sampai 4 hari pada beberapa pasien. Manifestasi penyakit
berlangsung 3-10 hari. Virus ini termasuk self limiting diseases alias hilang dengan sendirinya.
Namun rasa nyeri sendi mungkin masih tertinggal dalam hitungan minggu sampai bulan.
Gejala demam Chikungunya mirip dengan demam berdarah dengue yaitu demam tinggi,
menggigil, sakit kepala, mual-muntah, sakit perut, nyeri sendi dan otot, serta bintik-bintik merah
dikulit terutama badan dan lengan.
Bedanya dengan demam berdarah dengue, pada Chikungunya tidak ada perdarahan hebat,
renjatan (syock) maupun kematian. Nyeri sendi ini terutama mengenai sendi lutut, pergelangan
kaki serta persendian jari tangan dan kaki.
Gejala utama Chikungunya adalah demam tinggi, sakit kepala, punggung, sendi yang
hebat, mual, muntah, nyeri mata dan timbulnya rash/ruam kulit. Ruam kulit berlangsung 2-3 hari,
demam berlangsung 2-5 hari dan akan sembuh dalam waktu 1 minggu sejak pasien jatuh sakit.
Sakit sendi (arthralgia atau arthritis; sendi tangan dan kaki) sering menjadi keluhan utama pasien.
Keluhan sakit sendi kadang-kadang masih terasa dalam 1 bulan setelah demam hilang.
Penyakit ini merupakan penyakit yang bersifat self limiting (sembuh dengan sendirinya) dan
tidak brakibat kematian. Peranh dilaporkan terjadi kerusakan sendi yang dikaitkan dengan infeksi
Chikungunya.

E. Epidemiologi
Sejarah Penyakit yang pertama kali ditemukan di Afrika Barat ini berlaku pada tahun
1952 hingga 1953. Sejurus kemudian, epidemik berlaku di Filiphina(1954, 1956, dan 1968)
Thailand, Kamboja, Vietnam, India, Myanmar, Sri Lanka, dan mulai ditemukan di Indonesia
pada tahun 1973.
Namun sekarang telah tersebar luas di Afrika daerah sebelah selatan Sahara, Asia
Selatan, dan Asia Tenggara. Demam Chikungunya di Indonesia dilaporkan pertama kali di
Samarinda, kemudian berjangkit di Kuala Tungkal, Martapura, Ternate, Yogyakarta,
selanjutanya berkembang ke wilayah-wilayah lain. Jumlah kasus chikungunya tahun 2001
sampai bulan Februari 2003 mencapai 9318 tanpa kematian.
Sejak tahun 2003, terdapat beberapa wabah yang berlaku di kepulauan Pasifik termasuk
Madagaskar, Comoros, Mauritius dan La Reunion, dengan jumlah meningkat terlihat selepas
bencana tsunami pada Desember 2004.
Penularanya Penularan demam Chikungunya terjadi apabila penderita yang sakit digigit
oleh nyamuk penular , kemudian nyamuk penular tersebut menggigit orang lain.
Virus menyerang semua usia, baik anak-anak maupun dewasa di daerah endemis (berlaku
dengan kerap di suatu kawasan atau populasi dan senantiasa ada). Selain manusia, primata
lainnya diduga dapat menjadi sumber penularan. Selain itu, pada uji hemaglutinasi inhibisi,
mamalia, tikus, kelelawar, dan burung juga bisa mengandung antibodi terhadap virus
Chikungunya.
Seseorang yang telah dijangkiti penyakit ini tidak dapat menularkan penyakitnya itu
kepada orang lain secara langsung. Proses penularan hanya berlaku pada nyamuk pembawa.
Masa inkubasi dari demam Chikungunya berlaku di antara satu hingga tujuh hari, biasanya
berlaku dalam waktu dua hingga empat hari. Manifestasi penyakit berlangsung tiga sampai
sepuluh hari.

F. Tanda dan Gejala
Gejala penyakit ini sangat mirip dengan demam berdarah. Hanya saja kalau Chikungunya
akan membuat semua persendian terasa ngilu.
1. Demam : Biasanya demam tinggi, timbul mendadak disertai menggigil dan muka kemerahan.
Demam penyakit ini ditandai dengan demam tinggi mencapai 39-40 derajat C.
2. Sakit persendian : Nyeri sendi merupakan keluhan yang sering muncul sebelum timbul demam
dan dapat bermanifestasi berat, sehingga kadang penderita merasa lumpuh sebelum berobat.
Sendi yang sering sering dikeluhkan: sendi lutut, pergelangan, jari kaki dan tangan serta tulang
belakang.
3. Nyeri otot : Nyeri bisa pada seluruh otot atau pada otot bagian kepala dan daerah bahu. Kadang
terjadi pembengkakan pada otot sekitar mata kaki.
4. Bercak kemerahan (ruam) pada kulit Bercak kemerahan ini terjadi pada hari pertama demam,
tetapi lebih sering pada hari ke 4-5 demam. Lokasi biasanya di daerah muka, badan, tangan, dan
kaki, terutama badan dan lengan. Kadang ditemukan perdarahan pada gusi.
5. Sakit kepala Sakit kepala merupakan keluhan yang sering ditemui, conjungtival injection dan
sedikit fotophobia.
6. Kejang dan penurunan kesadaran Kejamg biasanya pada anak karena panas yang terlalu tinggi,
jadi bukan secara langsung oleh penyakitnya.
7. Gejala lain Gejala lain yang kadang dijumpai adalah pembesaran kelenjar getah bening di bagian
leher dan kolaps pembuluh darah kapiler.

Gejala yang timbul pada anak-anak sangat berbeda seperti nyeri sendi tidak terlalu nyata
dan berlangsung singkat. Ruam juga lebih jarang terjadi. Tetapi pada bayi dan anak kecil timbul:
1. Kemerahan pada wajah dan munculnya ruam kemerahan dalam bentuk papel-papel
(maculopapular) atau erupsi seperti biduran (urtikaria).
2. Rasa linu di persendian tangan dan kaki serta pergelangan lutut.
3. Demam tinggi disertai muntah-muntah, menggigil, sakit kepala, sakit perut, serta bintik merah
pada kulit seperti penderita demam berdarah.
4. Mimisan bisa terjadi pada pasien anak-anak.
5. Pada umumnya pada anak hanya berlangsung selama 3 hari.
Bedanya dengan demam berdarah dengue, pada Chikungunya tidak ada perdarahan hebat,
renjatan (shock) maupun kematian. Pada virus DBD akan ada produksi racun yang menyerang
pembuluh darah dan menyebabkan kematian. Sedangkan pada virus penyebab chikungunya akan
memproduksi virus yang menyerang tulang.

G. Diagnosis Banding dan Diagnosis Pasti
Viral arthropaty diketahui dan dijumpai pada beberapa infeksi virus: dengue, Onyong-
nyong, chikungunya, Mayaro, Ross River, Sindbis dan Bermah Forest. Gejala sendi akibat virus
ini biasanya hanya berlangsung singkat seminggu, kecuali pada beberapa kasus Chikungunya.
Penyakit ini banyak kemiripan dengan demam dengue/DHF; hanya saja: serangan demam lebih
singkat; sakit sendi lebih lama dan tidak terjadi kematian.
Chikungunya dicurigai bila seseorang menderita demam mendadak, dengan beberapa
gejala berikut: sakit sendi, sakit kepala, sakit pinggang/punggung, fotofobia dan rash/ruam kulit;
serta dalam seminggu terakhir berada didaerah terjangkit Chikungunya. Diagnosis pasti bila
terdapat salah satu hal berikut:
1. Pemeriksaan titer antibody naik 4 kali lipat
2. Isolasi virus
3. Deteksi virus dengan PCR

H. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
a) Isolasi Virus (paling akurat)
2-5 ml darah dalam minggu I perjalanan penyakit
Virus CHIK (efek sitopatik) dikonfirmasi dengan antiserum CHIK spesifik
Hasil didapat dalam 1-2 minggu
b. Pemeriksaan Serologi
10-15 ml darah pada fase akut (segera setelah onset klinik terjadi) dan padafase penyembuhan
(10-14 hari) setelah sampel I diambil.
Pemeriksaan IgM dilanjutkan MAC-ELISA, hasil dalam 2-3 hari
Reaksi silang sering terjadi, konversi dengan uji neutralisasi dan HIA
Diagnosa (+):
o Peningkatan antibody 4x pada fase akut dan fase penyembuhan
o Antibody IgM spesifik CHIKV (+)
a) Polymerase Chain Reaction (PCR)
Melalui enzim reserve transcriptase = tes RT-PCR
Specimen sama dengan untuk isolasi virus
Hasil didapat dalam 1-2 hari I

I. Pengobatan
Tidak ada vaksin maupun obat khusus untuk Chikungunya. Pengobatan terhadap
penderita ditujukan terhadap keluhan dan gejala yang timbul. Perjalanan penyakit ini umumnya
cukup baik, karena bersifat self limited disease, yaitu akan sembuh sendiri dalam waktu
tertentu. Tetapi apabila kecurigaan penyakit adalah termasuk campak atau demam berdarah
dengue, maka perlu kesiapsiagaan tatalaksana yang berbeda, penderita perlu segera dirujuk
apabila terdapat tanda-tanda bahaya.
Bagi penderita sangat dianjurkan makan makanan yang bergizi, cukup karbohidrat dan
terutama protein dapat meningkatkan daya tahan tubuh, serta minum air putih sebanyak mungkin
untuk menghilangkan gejala demam. Perbanyak mengkonsumsi buah-buahan segar (sebaiknya
minum jus buah segar). Vitamin peningkat daya tahan tubuh juga bermanfaat untuk untuk
menghadapi penyakit ini, karena daya tahan tubuh yang bagus dan istirahat cukup bisa membuat
rasa ngilu pada persendian cepat hilang.
Belum ditemukan imunisasi yang berguna sebagai tindakan preventif. Namun pada
penderita yang telah terinfeksi timbul imunitas / kekebalan terhadap penyakit ini dalam jangka
panjang.
Pengobatan yang diberikan umumnya untuk menghilangkan atau meringankan gejala
klinis yang ada saja (symptomatic therapy), seperti pemberian obat panas, obat mual/muntah,
maupun analgetik untuk menghilangkan nyeri sendi.
Contoh: Penurunan panas atau penghilang nyeri adalah obat non steroid anti inflamasi
(NSAI), pilih salah satu contoh dibawah ini:
Arasetamol, antalgin
Natrium diklofenat
Piroxicam atau ibuprofen.

J. Pencegahan
Pencegahan ditujukan untuk mengendalikan nyamuk dan menghindari gigitan nyamuk.
Pada saat ini belum ada vaksin di pasaran untuk mencegah Chikungunya. Tindakan pencegahan
Chikungunya di daerah dimana terdapat nyamuk Aedes aegypti adalah menghilangkan tempat
dimana nyamuk dapat meletakkan telurnya, terutama pada tempat penyimpanan air buatan,
misalnya bak mandi, kolam ikan, ban mobil atau kaleng kosong. Tempat penyimpanan air hujan
atau penyimpanan air (kontainer plastik, drum) hendaknya tertutup rapat. Ban mobil bekas,
kaleng kosong sebaiknya dimusnahkan. Tempat minum hewan peliharaan/burung dan vas bunga
hendaknya dikosongkan atau diganti setidaknya seminggu sekali.
Semua upaya tersebut diharapkan dapat membasmi telur nyamuk dan mengurangi jumlah
nyamuk di daerah tersebut. Pada wisatawan atau juga penduduk di daerah terjangkit
Chikungunya, resiko digigit nyamuk akan berkurang dengan pemasangan air conditioning atau
memasang kasa pada jendela atau pintu. Memakai repelen yang mengandung 20-30% DEET
pada kulit tubuh yang terbuka atau pakaian akan mengurangi kemungkinan tergigit nyamuk.
Pencegahan Chikungunya ditekankan pada usaha terus-menerus, berkesinambungan, community
based, integrated mosquito control, tidak boleh terlalu mengandalkan insektisida baik untuk
jentik nyamuk maupun nyamuk dewasa (chemical larvicide atau adulticide).
Pencegahan wabah penyakit memerlukan peran serta masyarakat yang terkoordinasi
dalam usaha meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit Chikungunya, serta bagaimana
mengenali penyakit dan bagaimana mengendalikan nyamuk yang dapat
menularkan/menyebarkan penyakit.
Cara sederhana yang sering dilakukan masyarakat misalnya: Menguras bak mandi, paling
tidak seminggu sekali. Mengingat nyamuk tersebut berkembang biak dari telur sampai dewasa
dalam kurun waktu 7-10 hari.
Menutup tempat penyimpanan air
Mengubur sampah
Menaburkan larvasida.
Memelihara ikan pemakan jentik
Pengasapan
Pemakaian anti nyamuk
Pemasangan kawat kasa di rumah.
Jadi kita semua sebagai calon tenaga kesehatan harus bisa memberikan penyuluhan ke
masyarakat tentang pentingnya Perilaku Hidup bersih dan Sehat (PHBS) untuk menghindari
gigitan nyamuk penyebab Chikungunya. Selain itu, nyamuk juga menyenangi tempat yang gelap,
lembab, dan pengap. Pintu dan jendela rumah dibuka setiap hari mulai dari pagi hingga sore,
agar udara segar dan sinar matahari dapat masuk, sehingga terjadi pertukaran udara dan
pencahayaan yang sehat.
Insektisida yang digunakan untuk membasmi nyamuk ini adalah dari golongan malation,
sedangkan themopos untuk mematikan jentik-jentiknya. Malation dipakai dengan cara
pengasapan, bukan dengan menyemprotkan ke dinding. Hal ini dikarenakan nyamuk Aedes
aegypti tidak suka hinggap di dinding, melainkan pada benda-benda yang menggantung.

K. Diagnosa keperawatan yang Muncul
a. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan inflamasi ditandai dengan peningkatan suhu tubuh
(>37
o
C)
b. Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan pengeluaran keringat yang berlebihan di
tandai kulit kering dan kasar
c. Nyeri akut berhubungan dengan terjadi reaksi implamasi, merangsang saraf di tandai dengan
nyeri tekan, meringis kesakitan
d. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual,
muntah, anoreksia.
e. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit





I. DEFINISI
Chikungunya berasal dari bahasa Swahili berdasarkan gejala pada penderita, yang berarti posisi
tubuh meliuk atau melengkung (that which contorts or bends up),mengacu pada postur
penderita yang membungkuk akibat nyeri sendi hebat (arthralgia). Nyeri sendi ini, menurut
lembar data keselamatan (MSDS) Kantor Keamanan Laboratorium Kanada, terutama terjadi
pada lutut, pergelangan kaki, persendian tangan dan kaki.
Chikungunya ialah sejenis demam dan boleh dikatakan bersaudara dengan demam berdarah,
karena ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypty maupun albopictus. Bedanya, jika virus demam
berdarah menyerang pembuluh darah, sedangkan virus Chikungunya menyerang sendi dan
tulang. Penyakit demam Chikungunya ini merupakan penyakit endemik. Wabah penyakit ini
pertama kali menyerang di Tanzania, Afrika pada tahun 1952.
II. ETIOLOGI
Penyakit chikungunya disebabkan oleh sejenis virus yang disebut virus Chikungunya. Virus ini
termasuk keluarga Togaviridae, genus alphavirus atau group A antropho borne viruses. Virus
ini telah berhasil diisolasi di berbagai daerah di Indonesia. Sejarah Chikungunya di Indonesia
Penyakit ini berasal dari daratan Afrika dan mulai ditemukan di Indonesia tahun 1973.
Vektor penular utamanya adalah Aedes aegypti (the yellow fever mosquito), nyamuk yang sama
juga menularkan penyakit demam berdarah dengue. Meski masih bersaudara dengan demam
berdarah, penyakit ini tidak mematikan, namun virus ini juga dapat diisolasi dari nyamuk Aedes
africanus, Culex fatigans dan Culex tritaeniorrhynchus. Aedes albopictus (the Asian tiger
mosquito) mungkin juga berperanan dalam penyebaran penyakit ini di kawasan Asia. Dan
beberapa jenis spesies nyamuk tertentu di daerah Afrika juga ternyata dapat menyebarkan
penyakit Chikungunya. Akan tetapi, nyamuk yang membawa darah bervirus didalam tubuhnya
akan kekal terjangkit sepanjang hayatnya. Tidak ada bukti yang menunjukkan virus
Chikungunya dipindahkan oleh nyamuk betina kepada telurnya sebagaimana virus demam
berdarah.
III. PATOFISIOLOGI
Demam Chikungunya mempunyai masa inkubasi (periode sejak digigit nyamuk pembawa virus
hingga menimbulkan gejala) sekitar 2 hingga 4 hari. Setelah masa inkubasi tersebut, gejala yang
ditimbulkan -mirip dengan gejala penyakit Demam Berdarah- adalah demam tinggi (39 40
derajat Celsius), menggigil, dan sakit kepala.
IV. NURSING PATHWAY
Aedes Aegypty
(Virus Cikungunya)
Masuk ke darah
Trombnosit
Leukosit
Suhu
Nyeri Sendi Nyeri Otot Mual Muntah
Anoreksia
V. CARA PENULARAN
Penularan demam Chikungunya terjadi apabila penderita yang sakit digigit oleh nyamuk penular
, kemudian nyamuk penular tersebut menggigit orang lain. Virus menyerang semua usia, baik
anak-anak maupun dewasa di daerah endemis (berlaku dengan kerap di suatu kawasan atau
populasi dan senantiasa ada). Selain manusia, primata lainnya diduga dapat menjadi sumber
penularan. Selain itu, pada uji hemaglutinasi inhibisi, mamalia, tikus, kelelawar, dan burung juga
bisa mengandung antibodi terhadap virus Chikungunya.
Seseorang yang telah dijangkiti penyakit ini tidak dapat menularkan penyakitnya itu kepada
orang lain secara langsung. Proses penularan hanya berlaku pada nyamuk pembawa. Masa
inkubasi dari demam Chikungunya berlaku di antara satu hingga tujuh hari, biasanya berlaku
dalam waktu dua hingga empat hari. Manifestasi penyakit berlangsung tiga sampai sepuluh hari.
VI. GEJALA
Gejala penyakit ini sangat mirip dengan demam berdarah. Hanya saja kalau Chikungunya akan
membuat semua persendian terasa ngilu.
1. Demam
Biasanya demam tinggi, timbul mendadak disertai menggigil dan muka kemerahan. Demam
penyakit ini ditandai dengan demam tinggi mencapai 39-40 derajat C. Secara mendadak
penderita akan mengalami demam tinggi selama lima hari, sehingga dikenal pula istilah demam
lima hari.
2. Sakit persendian
Nyeri sendi merupakan keluhan yang sering muncul sebelum timbul demam dan dapat
bermanifestasi berat, sehingga kadang penderita merasa lumpuh sebelum berobat. Sehingga
ada beberapa orang yang menamainya sebagai demem tulang atau flu tulang. Sendi yang sering
sering dikeluhkan: sendi lutut, pergelangan , jari kaki dan tangan serta tulang belakang.
3. Nyeri otot
Nyeri bisa pada seluruh otot atau pada otot bagian kepala dan daerah bahu. Kadang terjadi
pembengkakan pada otot sekitar mata kaki.
4. Bercak kemerahan (ruam) pada kulit
Bercak kemerahan ini terjadi pada hari pertama demam, tetapi lebih sering pada hari ke 4-5
demam. Lokasi biasanya di daerah muka, badan, tangan, dan kaki, terutama badan dan lengan.
Kadang ditemukan perdarahan pada gusi.
5. Sakit kepala
Sakit kepala merupakan keluhan yang sering ditemui, conjungtival injection dan sedikit
fotophobia.
6. Kejang dan penurunan kesadaran
Kejang biasanya pada anak karena panas yang terlalu tinggi, jadi bukan secara langsung oleh
penyakitnya.
Gejala lain
Gejala lain yang kadang dijumpai adalah pembesaran kelenjar getah bening di bagian leher dan
kolaps pembuluh darah kapiler. Selain itu, kadang dijumpai mata merah yang diikuti dengan
gejala flu. Sehingga banyak orang awam yang mengira ini adalah penyakit demam biasa.
Gejala yang timbul pada anak-anak sangat berbeda seperti nyeri sendi tidak terlalu nyata dan
berlangsung singkat. Ruam juga lebih jarang terjadi. Tetapi pada bayi dan anak kecil timbul
Bedanya dengan demam berdarah dengue, pada Chikungunya tidak ada perdarahan hebat,
renjatan (shock) maupun kematian. Pada virus DBD akan ada produksi racun yang menyerang
pembuluh darah dan menyebabkan kematian. Sedangkan pada virus penyebab chikungunya akan
memproduksi virus yang menyerang tulang
VII. DIAGNOSIS
Untuk memperoleh diagnosis akurat perlu beberapa uji serologik antara lain uji hambatan
aglutinasi (HI), serum netralisasi, dan IgM capture ELISA. Tetapi pemeriksaan serologis ini
hanya bermanfaant digunakan untuk kepentingan epidemiologis dan penelitian, tidak bermanfaat
untuk kepentingan praktis klinis sehari-hari.
Demam Chikungunya dikenal sebagai flu tulang (break-bone fever) dengan gejala mirip dengan
demam dengue, tetapi lebih ringan dan jarang menimbulkan demam berdarah. Artralgia,
pembuluh darah konjungtiva tampak nyata, dengan demam mendadak yang hanya berlangsung
2-4 hari. Pemeriksaan serum penderita untuk uji netralisasi menunjukkan adanya antibodi
terhadap virus Chikungunya.
Gejala utama terkena penyakit Chikungunya adalah tiba-tiba tubuh terasa demam diikuti dengan
linu di persendian. Bahkan, karena salah satu gejala yang khas adalah timbulnya rasa pegal-
pegal, ngilu, juga timbul rasa sakit pada tulang-tulang, ada yang menamainya sebagai demam
tulang atau flu tulang. Dalam beberapa kasus didapatkan juga penderita yang terinfeksi tanpa
menimbulkan gejala sama sekali atau silent virus chikungunya.
Virus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini akan berkembang biak di dalam tubuh
manusia. Virus menyerang semua usia, baik anak-anak maupun dewasa di daerah endemis.
Secara mendadak penderita akan mengalami demam tinggi selama lima hari, sehingga dikenal
pula istilah demam lima hari.
Pada anak kecil dimulai dengan demam mendadak, kulit kemerahan. Ruam-ruam merah itu
muncul setelah 3-5 hari. Mata biasanya merah disertai tanda-tanda seperti flu. Sering dijumpai
anak kejang demam. Gejala lain yang ditimbulkan adalah mual, muntah kadang disertai diare.
Pada anak yang lebih besar, demam biasanya diikuti rasa sakit pada otot dan sendi, serta terjadi
pembesaran kelenjar getah bening. Pada orang dewasa, gejala nyeri sendi dan otot sangat
dominan dan sampai menimbulkan kelumpuhan sementara karena rasa sakit bila berjalan.
Kadang-kadang timbul rasa mual sampai muntah. Pada umumnya demam pada anak hanya
berlangsung selama tiga hari dengan tanpa atau sedikit sekali dijumpai perdarahan maupun syok.
Penyakit ini tidak sampai menyebabkan kematian. Nyeri pada persendian tidak akan
menyebabkan kelumpuhan. Setelah lewat lima hari, demam akan berangsur-angsur reda, rasa
ngilu maupun nyeri pada persendian dan otot berkurang, dan penderitanya akan sembuh seperti
semula. Penderita dalam beberapa waktu kemudian bisa menggerakkan tubuhnya seperti sedia
kala. Meskipun dalam beberapa kasus kadang rasa nyeri masih tertinggal selama berhari-hari
sampai berbulan-bulan. Biasanya kondisi demikian terjadi pada penderita yang sebelumnya
mempunyai riwayat sering nyeri tulang dan otot. Pada pendertita demam Chikungunya akut
tipikal mengalami gejala klinis dalam beberapa hari hingga 2 minggu. Tetapi seperti infeksi
dengue, West Nile fever, onyong-nyong fever dan demam arbovirus lainnya, beberapa penderita
mengalami kelelahan berkepanjangan (prolonged fatigue) dalam beberapa minggu. Dalam
beberapa literatur tidak pernah dilaporkan kejadian kematian, kasus neuroinvasive, dan kasus
perdarahan dalam penyakit ini.
Meskipun ditularkan oleh nyamuk yang sama dengan penyakit demam berdarah, tetapi
karakteristik penyakit ini berbeda. Bedanya pada Chikungunya tidak ada perdarahan hebat,
renjatan (shock) maupun kematian.
Setelah terjadi infeksi virus ini tubuh penderita akan membentuk antibodi yang akan membuat
mereka kebal terhadap wabah penyakit ini di kemudian hari. Dengan demikian, dalam jangka
panjang penderita relatif kebal terhadap penyakit virus ini.
VIII. PENATALAKSANAAN
Tidak ada vaksin maupun obat khusus untuk Chikungunya. Pengobatan terhadap penderita
ditujukan terhadap keluhan dan gejala yang timbul. Perjalanan penyakit ini umumnya cukup
baik, karena bersifat self limited disease, yaitu akan sembuh sendiri dalam waktu tertentu.
Tetapi apabila kecurigaan penyakit adalah termasuk campak atau demam berdarah dengue, maka
perlu kesiapsiagaan tatalaksana yang berbeda, penderita perlu segera dirujuk apabila terdapat
tanda-tanda bahaya.
Demam Chikungunya termasuk ?Self Limiting Disease? atau penyakit yang sembuh dengan
sendirinya. Tak ada vaksin maupun obat khusus untuk penyakit ini. Pengobatan yang diberikan
hanyalah terapi simtomatis atau menghilangkan gejala penyakitnya, seperti obat penghilang rasa
sakit atau demam seperti golongan parasetamol. Sebaiknya dihindarkan penggunaan obat sejenis
asetosal.
Antibiotika tidak diperlukan pada kasus ini. Penggunaan antibiotika dengan pertimbangan
mencegah infeksi sekunder tidak bermanfaat.
Untuk memperbaiki keadaan umum penderita dianjurkan makan makanan yang bergizi, cukup
karbohidrat dan terutama protein serta minum sebanyak mungkin. Perbanyak mengkonsumsi
buah-buahan segar atau minum jus buah segar.
Pemberian vitamin peningkat daya tahan tubuh mungkin bermanfaat untuk penanganan penyakit.
Selain vitamin, makanan yang mengandung cukup banyak protein dan karbohidrat juga
meningkatkan daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh yang bagus dan istirahat cukup bisa
mempercepat penyembuhan penyakit. Minum banyak juga disarankan untuk mengatasi
kebutuhan cairan yang meningkat saat terjadi demam.
IX. CARA PENCEGAHAN
Satu-satunya cara mencegah penyakit ini adalah membasmi nyamuk pembawa virusnya,
termasuk memusnahkan sarangpembiakan larva untuk menghentikan rantai hidup dan
penularannya. Cara sederhana yang sering dilakukan masyarakat misalnya:
- Menguras bak mandi, paling tidak seminggu sekali. Mengingat nyamuk tersebut berkembang
biak dari telur sampai dewasa dalam kurun waktu 7-10 hari.
- Menutup tempat penyimpanan air
- Mengubur sampah
- Menaburkan larvasida.
- Memelihara ikan pemakan jentik
- Pengasapan
- Pemakaian anti nyamuk
- Pemasangan kawat kasa di rumah.
Selain itu, nyamuk juga menyenangi tempat yang gelap, lembab, dan pengap. Pintu dan jendela
rumah dibuka setiap hari mulai dari pagi hingga sore, agar udara segar dan sinar matahari dapat
masuk, sehingga terjadi pertukaran udara dan pencahayaan yang sehat.
Insektisida yang digunakan untuk membasmi nyamuk ini adalah dari golongan malation,
sedangkan themopos untuk mematikan jentik-jentiknya. Malation dipakai dengan cara
pengasapan, bukan dengan menyemprotkan ke dinding. Hal ini dikarenakan nyamuk Aedes
aegypti tidak suka hinggap di dinding, melainkan pada benda-benda yang menggantung.
Halaman atau kebun di sekitar rumah harus bersih dari benda-benda yang memungkinkan
menampung air bersih, terutama pada musim hujan seperti sekarang. Pintu dan jendela rumah
sebaiknya dibuka setiap hari, mulai pagi hari sampai sore, agar udara segar dan sinar matahari
dapat masuk, sehingga terjadi pertukaran udara dan pencahayaan yang sehat. Dengan demikian,
tercipta lingkungan yang tidak ideal bagi nyamuk tersebut.
Pencegahan individu dapat dilakukan dengan cara khusus seperti penggunaan obat oles kulit
(insect repellent) yang mengandung DEET atau zat aktif EPA lainnya. Penggunaan baju lengan
panjang dan celana panjang juga dianjurkan untuk dalam keadaan daerah tertentu yang sedang
terjadi peningkatan kasus.
ASUHAN KEPERAWATAN CHIKUNGUNYA
I. PENGKAJIAN
1. Identitas klien
2. Keluhan utama
3. Riwayat keluhan saat ini
4. Riwayat kesehatan masa lalu
a. Penyakit yang pernah diderita
b. Hospitalisasi/tindakan operasi
5. Riwayat sosial
6. Pengkajian pola kesehatan klien saat ini
a. Pemeliharaan dan persepsi terhadap kesehatan
b. Nutrisi
c. Cairan
d. Aktivitas
e. Tidur dan istirahat
II. DIADNOSSA KEPERAWATAN
1. Gangguan volume cairan tubuh kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
peningkatan permeabilitas kapiler, muntah dan demam.
2. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan



Gejala Chikungunya
Gejala penyakit ini sangat mirip dengan demam berdarah. Hanya saja kalau Chikungunya
akan membuat semua persendian terasa ngilu.
a) Demam
Biasanya demam tinggi, timbul mendadak disertai menggigil dan muka kemerahan.

Demam penyakit ini ditandai dengan demam tinggi mencapai 39-40 derajat C

b) Sakit persendian
Nyeri sendi merupakan keluhan yang sering muncul sebelum timbul demam dan dapat
bermanifestasi berat, sehingga kadang penderita merasa lumpuh sebelum berobat. Sendi yang
sering sering dikeluhkan: sendi lutut, pergelangan , jari kaki dan tangan serta tulang belakang.
c) Nyeri otot
Nyeri bisa pada seluruh otot atau pada otot bagian kepala dan daerah bahu. Kadang
terjadi pembengkakan pada otot sekitar mata kaki.
d) Bercak kemerahan (ruam) pada kulit
Bercak kemerahan ini terjadi pada hari pertama demam, tetapi lebih sering pada hari ke
4-5 demam. Lokasi biasanya di daerah muka, badan, tangan, dan kaki, terutama badan dan
lengan. Kadang ditemukan perdarahan pada gusi.
e) Sakit kepala
Sakit kepala merupakan keluhan yang sering ditemui, conjungtival injection dan sedikit
fotophobia.
f) Kejang dan penurunan kesadaran
Kejang biasanya pada anak karena panas yang terlalu tinggi, jadi bukan secara langsung
oleh penyakitnya.
g. Gejala lain
Gejala lain yang kadang dijumpai adalah pembesaran kelenjar getah bening di bagian
leher dan kolaps pembuluh darah kapiler.
Gejala yang timbul pada anak-anak sangat berbeda seperti nyeri sendi tidak terlalu nyata
dan berlangsung singkat. Ruam juga lebih jarang terjadi, tetapi pada bayi dan anak kecil timbul.
Bedanya dengan demam berdarah dengue, pada Chikungunya tidak ada perdarahan hebat,
renjatan (shock) maupun kematian.

Pada virus DBD akan ada produksi racun yang menyerang
pembuluh darah dan menyebabkan kematian. Sedangkan pada virus penyebab chikungunya akan
memproduksi virus yang menyerang tulang.

5. CARA PENULARAN
Penularan demam Chikungunya terjadi apabila penderita yang sakit digigit oleh nyamuk
penular , kemudian nyamuk penular tersebut menggigit orang lain. Virus menyerang semua usia,
baik anak-anak maupun dewasa di daerah endemis (berlaku dengan kerap di suatu kawasan atau
populasi dan senantiasa ada).

Selain manusia, primata lainnya diduga dapat menjadi sumber
penularan. Selain itu, pada uji hemaglutinasi inhibisi, mamalia, tikus, kelelawar, dan burung juga
bisa mengandung antibodi terhadap virus Chikungunya.
Seseorang yang telah dijangkiti penyakit ini tidak dapat menularkan penyakitnya itu
kepada orang lain secara langsung. Proses penularan hanya berlaku pada nyamuk pembawa.
Masa inkubasi dari demam Chikungunya berlaku di antara satu hingga tujuh hari, biasanya
berlaku dalam waktu dua hingga empat hari. Manifestasi penyakit berlangsung tiga sampai
sepuluh hari.

6. KOMPLIKASI
a. myelomeningoensefalitis
b. indrom guillain Barre
c. hepatitis fulminan
d. Miokarditis
e. perikarditis (jarang)
f. Infeksi asimptomatik sering terjadi dan ini menyebabkan terbentuknya imunitas terhadap virus
(tidak ada serangan kedua).

7. DIAGNOSIS
Untuk memperoleh diagnosis akurat perlu beberapa uji serologik antara lain uji hambatan
aglutinasi (HI), serum netralisasi, dan IgM capture ELISA. Tetapi pemeriksaan serologis ini
hanya bermanfaant digunakan untuk kepentingan epidemiologis dan penelitian, tidak bermanfaat
untuk kepentingan praktis klinis sehari-hari.
Pemeriksaan serum penderita untuk uji netralisasi menunjukkan adanya antibodi terhadap
virus Chikungunya.

8. CARA PENGOBATAN
Tidak ada vaksin maupun obat khusus untuk Chikungunya. Pengobatan terhadap
penderita ditujukan terhadap keluhan dan gejala yang timbul.

Perjalanan penyakit ini umumnya
cukup baik, karena bersifat self limited disease, yaitu akan sembuh sendiri dalam waktu
tertentu. Tetapi apabila kecurigaan penyakit adalah termasuk campak atau demam berdarah
dengue, maka perlu kesiapsiagaan tatalaksana yang berbeda, penderita perlu segera dirujuk
apabila terdapat tanda-tanda bahaya.
Bagi penderita sangat dianjurkan makan makanan yang bergizi, cukup karbohidrat dan
terutama protein dapat meningkatkan daya tahan tubuh, serta minum air putih sebanyak mungkin
untuk menghilangkan gejala demam. Perbanyak mengkonsumsi buah-buahan segar (sebaiknya
minum jus buah segar). Vitamin peningkat daya tahan tubuh juga bermanfaat untuk untuk
menghadapi penyakit ini, karena daya tahan tubuh yang bagus dan istirahat cukup bisa membuat
rasa ngilu pada persendian cepat hilang.
Belum ditemukan imunisasi yang berguna sebagai tindakan preventif. Namun pada
penderita yang telah terinfeksi timbul imunitas / kekebalan terhadap penyakit ini dalam jangka
panjang. Pengobatan yang diberikan umumnya untuk menghilangkan atau meringankan gejala
klinis yang ada saja (symptomatic therapy), seperti pemberian obat panas, obat mual/muntah,
maupun analgetik untuk menghilangkan nyeri sendi.

9. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan demam Chikungunya secara umum dibagi dua, yaitu tata laksana
periode akut dan kronik.
a. Tatalaksana Periode Akut
1). Rawat jalan
Pada perawatan di rumah, yang harus dilakukan adalah istirahat yang cukup, membatasi
kegiatan fisik, kompres dingin (membantu mengurangi kerusakan sendi), minum banyak air
dengan elektrolit ( setidaknya 2 liter cairan dalam 24 jam), bila mungkin produksi kencing
harus diukur dan lebih dari satu liter dalam 24 jam. Demam diatasi dengan paracetamol pada
pasien tanpa penyakit ginjal dan hati. Bila demam lebih dari lima hari, nyeri tidak tertahankan,
ketidakseimbangan postural dan ekstremitas dingin, penurunan output urin, perdarahan kulit atau
melalui lubang manapun dan muntah terus menerus, pasien harus datang ke sarana kesehatan
primer.

2). Sarana kesehatan primer
Kemungkinan diagnosis banding yang lain misalnya leptospira, demam dengue, malaria
dan penyakit lain harus disingkirkan dengan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
laboratorium dasar. Harus dicari tanda dehidrasi dan dilakukan rehidrasi dengan adekuat.
Dilakukan pemeriksaan darah untuk melihat lekosit dan trombosit. Pengobatan lain merupakan
simptomatis dengan paracetamol sebagai antipiretik. Manifestasi kulit dapat diatasi dengan obat
topical atau sistemik. Bila hemodinamik tidak stabil, oligouria ( urin < 500 cc/24 jam),
perubahan kesadaran atau manifestasi perdarahan, pasien harus segera dirujuk ke sarana
kesehatan yang lebih tinggi. Demam dapat memperburuk nyeri sendi, sehingga sebaiknya
dihindari dalam fase akut. Aktivitas ringan dan fisioterapi direkomendasikan bagi pasien yang
mengalami perbaikan klinis.

3). Sarana kesehatan sekunder
Harus diperiksa sampel darah untuk serologi IgM ELISA. Sebagai alternative dapat
diperiksa IgG diikuti dengan pemeriksaan sampel kedua dengan jarak 2-4 minggu. Tanda gagal
ginjal harus diperhatikan (jumlah urin, kreatinin, natrium dan kalium), fungsi hati (transaminase
dan bilirubi), EKG, malaria (hapusan darah tepi) dan trombositopenia. Pemeriksaan cairan
serebrospinal harus dilakukan bila dicurigai terdapat meningitis. Dapat digunakan sistem scoring
CURB 65 untuk penentuan perlu tidaknya rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi.

4). Sarana kesehatan tersier
Harus diperiksa sampel darah untuk serologi/PCR/pemeriksaan genetic sesegera mungkin
bila fasilitas tersedia. Pertimbangkan kemungkinan penyakit rematik lain seperti rematoid
arthritis, gout, demam rematik pada kasus-kasus yang tidak biasa. Dapat diberikan terapi
NSAID. Pada komplikasi serius berupa perdarahan transfusi trombosit pada perdarahan dengan
trombosit kurang dari 50ribu, fresh frozen plasma atau injeksi vitamin K bila INR lebih dari dua.
Hipotensi diatasi dengan cairan atau intropik gagal ginjal akut dengan dialysis, kontraktur dan
deformitas dengan fisioterapi atau bedah dan manifestasi kulit dengan obat topical atau sistemik.
Pasien dengan mioperikarditis atau meningoensefalitis mungkin membutuhkan perawatan
intensif di ICU. Pada kasus atralgia yang refrakter terhadap obat lain dapat digunakan
hidroksiklorokuin 200mg per oral sekali sehari atau klorokuifosfat 300mg per oral tiap hari
selama 4 minggu. Perlu dinilai adakah kecacatan dan direncanakan prosedur rehabilitasi.

b. Tatalaksana Fase Kronik
1). Tatalaksana Masalah Osteoartikular
Masalah osteoartikular pada demam chikungunya biasanya membaik dalam satu sampai dua
minggu. Pada kurang dari 10% kasus, masalah ini dapat berlangsung dalam beberapa bulan.
Tatalaksana manifestasi osteoartikular mengikuti guideline yang telah dibahas sebelumnya.
Karena dapat terjadi proses imunologi pada kasus kronik dapat diberikan steroid jangka pendek.
Walaupun NSAID meringankan gejala pada sebagian besar pasien harus diperhatikan juga efek
samping pada ginjal, gastrointestinal, jantung, dan sumsum tulang. Kompres dingin dilaporkan
dapat mengurangi keluhan sendi.
2). Tatalaksana Masalah Neurologis
Sekitar 40% pasien dengan demam chikungunya akan mengeluhkan berbagai gejala neurologi
tetapi hanya 20% diantaranya mengalami manifestasi persisten. Keluhan paling umum adalah
neuropati perifer dengan komponen sensoris dominan. Obat antineuralgi (amitriptilin,
carbamazepin, gabapentin) dapat diberikan pada dosis standar untuk neuropati. Keterlibatan
ocular selama fase akut pada kurang dari 0.5% kasus dapat menyebabkan penurunan visus dan
nyeri mata. Penurunan visus karena uveitis atau retinitis dapat berespon terhadap steroid.
3). Tatalaksana Masalah Dermatologi
Manifestasi kulit demam chikungunya berkurang setelah fase akut terlewati. Namun apabila
terjadi lesi psoriatic dan lesi atopic diperlukan tatalaksana spesifik. Hiperpigmentasi dan erupsi
popular dapat diobati dengan krim zinc oxide. Jarang terjadi luka persisten.

10. CARA PENCEGAHAN
Cara mencegah penyakit ini adalah membasmi nyamuk pembawa virusnya, termasuk
memusnahkan sarangpembiakan larva untuk menghentikan rantai hidup dan penularannya. Cara
sederhana yang sering dilakukan masyarakat misalnya:
a. Menguras bak mandi, paling tidak seminggu sekali. Mengingat nyamuk tersebut berkembang
biak dari telur sampai dewasa dalam kurun waktu 7-10 hari.
b. Menutup tempat penyimpanan air
c. Mengubur sampah
d. Menaburkan larvasida.
e. Memelihara ikan pemakan jentik
f. Pengasapan
g. Pemakaian anti nyamuk
h. Pemasangan kawat kasa di rumah.
i. Membuka pintu dan jendela pada pagi hingga sore hari sehingga terjadi pertukaran udara dan
pencahayaan yang sehat untuk menghindari nyamuk yang menyukai daerah gelap, lembab dan
pengap.
j. Insektisida yang digunakan untuk membasmi nyamuk ini adalah dari golongan malation,
sedangkan themopos untuk mematikan jentik-jentiknya. Malation dipakai dengan cara
pengasapan, bukan dengan menyemprotkan ke dinding. Hal ini dikarenakan nyamuk Aedes
aegypti tidak suka hinggap di dinding, melainkan pada benda-benda yang menggantung.

11. PROGRAM PEMERINTAH
Kebanyakan dari masyarakat menganggap remeh program 3M (Mutup, Menguras, dan
Menimbun) pemerintah. 3M sudah sering digembar-gemborkan pemerintah, namun tak kunjung
diikuti oleh masyarakat, sehingga angka kejadian demam berdarah dan chikungunya tetaplah
tinggi.
Terkait adanya konferensi perubahan iklim di Bali, tampaknya 3M perlu diubah. Karena
salah satu M nya adalah menimbun barang-barang yang dapat menyebabkan air tergenang seperti
kaleng bekas, plastik, dll. Dan ini merupakan pencemaran lingkungan yang nyata. Karena
barang-barang tersebut (plastik, dll) sulit terurai oleh tanah. Dan akan terurai setelah berpuluh-
puluh tahun kemudian. Dan sudah sepatutnya pemerintah mulai merubah M yang ketiga
(mengubur), menjadi mendaur ulang atau bisa juga dengan merombeng (menjual) barang-barang
bekas.
3M pemerintah lalu dikembangkan menjadi 3M Plus. Yaitu dengan melakukan beberapa
plus seperti memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada
waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent,
memasang obat nyamuk, memeriksa jentik berkala, dll sesuai dengan kondisi setempat.

B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal yang dilakukan perawat untuk mendapatkan data
yang dibutuhkan sebelum melakukan asuhan keperawatan . pengkajian pada pasien dapat
dilakukan dengan teknik wawancara, pengukuran, dan pemeriksaan fisik.Tahapan-tahapannya
meliputi :
a. Mengidentifikasi sumber-sumber yang potensial dan tersedia untuk memenuhi kebutuhan
pasien.
b. Kaji riwayat keperawatan.
c. Kaji adanya peningkatan suhu tubuh ,tanda-tanda perdarahan, mual, muntah, tidak nafsu makan,
nyeri ulu hati, nyeri otot dan sendi, tanda-tanda syok (denyut nadi cepat dan lemah, hipotensi,
kulit dingin dan lembab terutama pada ekstrimitas, sianosis, gelisah, penurunan kesadaran).

2. Diagnosa keperawatan yang Muncul
1) Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan inflamasi
2) Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit.
3) Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual,
muntah, anoreksia.
4) Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding
kapiler.
5) Kurang pengetahuan tentang proses penyakit