Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
Pada awalnya, insiden dari keganasan kolon dan rektal tidak diperhitungkan
sebelum tahun 1900. Akan tetapi, sejak kemajuan ekonomik dan industri
berkembang, angka kejadian keganasan ini meningkat. Pada saat ini, kanker
kolorektal merupakan penyebab ketiga kematian dari pria dan wanita akibat kanker di
Amerika Serikat.
1

Insidens kanker kolorektal di Indonesia cukup tinggi, demikian juga angka
kematiannya.

Pada tahun 00 kanker kolorektal menduduki peringkat kedua pada


kasus kanker yang terdapat pada pria, sedangkan pada wanita kanker kolorektal
menduduki peringkat ketiga dari semua kasus kanker.
!
"eskipun belum ada data
yang pasti, tetapi dari berbagai laporan di Indonesia terdapat kenaikan jumlah kasus,
data dari #epkes didapati angka 1,$ per 100.000 penduduk.
%
Pada kebanyakan kasus kanker, terdapat &ariasi geogra'ik pada insiden yang
ditemukan, yang mencerminkan perbedaan sosial ekonomi dan kepadatan penduduk,
terutama antara negara maju dan berkembang. #emikian pula antara (egara )arat
dan Indonesia, terdapat perbedaan pada 'rekuensi kanker kolorektal yang ditemukan.
#i Indonesia 'rekuensi kanker kolorektal yang ditemukan sebanding antara pria dan
wanita* banyak terdapat pada seseorang yang berusia muda* dan sekitar +,- dari
kanker ditemukan pada kolon rektosigmoid, sedangkan di (egara )arat 'rekuensi
kanker kolorektal yang ditemukan pada pria lebih besar daripada wanita* banyak
terdapat pada seseorang yang berusia lanjut* dan dari kanker yang ditemukan hanya
sekitar ,0- yang berada pada kolon rektosigmoid.


.etak kanker kolorektal paling sering terdapat pada kolon rektosigmoid.
!
/eluhan pasien karena kanker kolorektal tergantung pada besar dan lokasi dari tumor.
/eluhan dari lesi yang berada pada kolon kanan dapat berupa perasaan penuh di
abdominal, symptomatic anemia dan perdarahan, sedangkan keluhan yang berasal
dari lesi pada kolon kiri dapat berupa perubahan pada pola de'ekasi, perdarahan,
konstipasi sampai obstruksi.

1
0enis kanker yang paling sering ditemukan ialah adenokarsinoma yaitu
sebanyak 9$-, sedangkan lainnya yang lebih jarang ialah carcinoid 10,%-2, lim'oma
11,!-2 dan sarkoma 10,!-2.
1

BAB II
KUNJUNGAN PRA ANESTESI
2.1 Identitas Pasien
(ama 3 Parjo
4mur 3 5! tahun
0enis /elamin 3 laki6laki
Pekerjaan 3 7iraswasta
Alamat 3 Sungai )ahar )lok 1
Agama 3 Islam
"8S 3 11 0uli 01%
2.2 Anamnesis (Autoanamnesis dan aoanamnesis! t" 1# Jui 2$1%&
/eluhan 4tama 3
2
Susah )A) dan perut kembung sejak 9 bulan yang lalu
8iwayat Penyakit Sekarang 3
Pasien datang ke I:# 8S 8aden "attaher dengan keluhan awal susah )A)
disertai dengan perut kembung. Pasien juga mengeluhkan )A) tidak lancar,bab
berwarna hitam kecil6kecil, kentut 1;2, mual 1;2, muntah 1;2, na'su makan
menurun, )A/ lancar.
/eluhan yang dirasakan pasien saat ini adalah perut nyeri di seluruh perut seperti
ditusuk6tusuk dan hilang timbul dan bab berwarna hitam.
8iwayat penyakit dahulu 3
8iwayat operasi sebelumnya 162
8iwayat batuk lama disangkal, riwayat asma dan sesak na'as disangkal, riwayat
#" 162, <ipertensi 162,
8iwayat alergi obat 162,
Pasien tidak sedang dalam pengobatan suatu penyakit tertentu dan tidak
mengkonsumsi obat6obat apapun
8iwayat penyakit keluarga 3
/eluarga pasien tidak ada yang mengalami keluhan serupa seperti yang dialami oleh
pasien. 8iwayat penyakit #", <ipertensi, Asma, pada anggota keluarga disangkal.
8iwayat Sosial3
Pasien merupakan seorang petani
2.# Peme'i(saan )isi( (Tan""a 1# Jui 2$1%&
Status P'esent
6 /eadaan 4mum3 .emah
6 /esadaran3 =omsposmentis
6 >ital Sign3 ?#3 110@$0 mm<g
(adi3 $0 A@i
883 A@m
?3 !5,,B=
Status Gene'a*
/epala 3 normocephali
"ata 3 =A 6@6, SI 6@6, Pupil Isokhor, 8= ;@;
3
?<? 3 discharge 162, dbn
"ulut 3 "ukosa tidak anemis, lidah kotor 162, dbn
.eher 3 0>P ,6 cm<C, /:) tidak teraba membesar
?horaA3
Paru3
6 Inspeksi 3 Simetris kanan kiri, retraksi 162
6 Palpasi 3 >ocal Dremitus normal, kanan kiri sama
6 Perkusi 3 Sonor di kedua lapangan paru
6 Auskultasi3 >esikuler 1;@;2, ronkhi 16@62, 7heeEing 16@62
0antung 3
6 Inspeksi 3 Ictus =ordis tidak terlihat
6 Palpasi 3 ?hrill tidak teraba
6 Perkusi 3 )atas jantung normal
6 Auskultasi3 )0 I@II regular, murmur 162, gallop 162
Abdomen 3
6 Inspeksi 3 #istensi 1;2, darm contour 162, darm stei'ung 162
6 Auskultasi 3 )4 1;2 "eningkat, metalicsound 1;2, borborygmi 162
6 Palpasi 3 (yeri ?ekan 1;2, nyeri lepas 162, massa 162
6 Perkusi 3 ?impani, asites 162
Fkstremitas3
Superior 3 akral hangat, sianosis 16@62, edema 16@62
In'erior 3 akral hangat, sianosis 16@62, edema 16@62
2.% Peme'i(saan Penun+an"
1. .aboratorium
a. #arah rutin
7)= 3 $.1 10
!
@mm
!
1!,,610,0 10
!
@mm
!
2
8)= 3 ,.05 10
5
@mm
!
1!,$06,,$0 10
5
@mm
!
2
<:) 3 11, g@dl 111,0615,, g@dl2
<=? 3 !+.! - 1!,,06,0-2
P.? 3 19, 10
!
@mm
!
11,06!90 10
!
@mm
!
2
P=? 3 .1++ - 10,10060,,00 -2
:#S 3 10 mg@dl
=t@)t 3 %G@!G
b. /imia #arah .engkap
4
Daal <ati
)ilirubin ?otal3 1,1 mg@dl 1H1,02
)ilirubin #irek3 0,5 mg@dl 1H0,2
)ilirubin Indirek3 0,, mg@dl
Protein ?otal 3 +,! g@dl 15,%6$,%2
Albumin 3 %,$ g@dl 1!,,6,,02
:lobulin 3 ,, g@dl 1!,06!,52
S:C? 3 !0 4@. 1H%02
S:P? 3 1 4@. 1H%12
Daal :injal
4reum 3 1!, mg@dl 11,6!92
/reatinin 3 0,5 mg@dl 10,561,12
Asam 4rat 3 1,, mg@dl 1,565,02
c. Flektrolit
(a 3 1!+,+ mmol@. 11!,61%$ mmol@.2
/ 3 ! mmol@. 1!,,6,,! mmol@.2
=l 3 10%,+ mmol@. 19$6110 mmol@.2
. 8adiologi
Ronsen t,o'a-
0antung dan paru6paru normal
8ongent Abdomen
)(C@I>P
?ampak gambaran 'illing de'ect pada colon desenden
2.. Ren/ana Tinda(an Anestesi
#iagnosis Pra )edah 3 ca colon
?indakan bedah 3 .aparatomi
Status ASA 3 III
2.0 Jenis 1 Tinda(an Anest,esi
Anestesi 4mum 3 Intubasi
Premedikasi 3 Cndansentron %mg, 8anitidin ,0 mg, Sul'as Atropin 0,,mg,
Phentanyl ,0 Ig
Induksi 3 8eco'ol 1Propo'ol2 100 mg
5
8elaksasi 3 8oculaA 0,, mg
Pemeliharaan 3 Se&o'luran 3 C
8espirasi 3 >entilator J ?idal >olume ,00 ml
'rekuensi 3 1% A@menit
K
BAB III
STATUS ANESTESI
#.1 Identitas Pasien
?anggal 3 1! 0uli 01%
(ama 3 Parjo
0enis /elamin 3 .aki6laki
4mur 3 5! tahun
))@ ?) 3 %, kg@ 15! cm
8uang 3 Pa&iliun pinang masak
#iagnosis 3 =a =olon
?indakan 3 .aparatomi
#.2 Kete'an"an P'aBeda,
1. /eadaan 4mum3 .emah
/esadaran3 =omsposmentis
>ital Sign3 ?#3 110@$0 mm<g
(adi3 $0 A@i
883 A@m
?3 !5,,B=
. Pemeriksaaaan Penunjang
F/: 3 /esan (ormal
Doto ?horaA 3 =or dan Pulmo (ormal
)(C6I>P 3 ?erdapat gambaran 'illing de'ect
.aboratorium
#arah rutin
7)= 3 $.1 10
!
@mm
!
1!,,610,0 10
!
@mm
!
2
6
8)= 3 ,.05 10
5
@mm
!
1!,$06,,$0 10
5
@mm
!
2
<:) 3 11, g@dl 111,0615,, g@dl2
<=? 3 !+.! - 1!,,06,0-2
P.? 3 19, 10
!
@mm
!
11,06!90 10
!
@mm
!
2
P=? 3 .1++ - 10,10060,,00 -2
:#S 3 10 mg@dl
=t@)t 3 %G@!G
/imia #arah .engkap
Daal <ati
)ilirubin ?otal3 1,1 mg@dl 1H1,02
)ilirubin #irek3 0,5 mg@dl 1H0,2
)ilirubin Indirek3 0,, mg@dl
Protein ?otal 3 +,! g@dl 15,%6$,%2
Albumin 3 %,$ g@dl 1!,,6,,02
:lobulin 3 ,, g@dl 1!,06!,52
S:C? 3 !0 4@. 1H%02
S:P? 3 1 4@. 1H%12
Daal :injal
4reum 3 1!, mg@dl 11,6!92
/reatinin 3 0,5 mg@dl 10,561,12
Asam 4rat 3 1,, mg@dl 1,565,02
Flektrolit
(a 3 1!+,+ mmol@. 11!,61%$ mmol@.2
/ 3 ! mmol@. 1!,,6,,! mmol@.2
=l 3 10%,+ mmol@. 19$6110 mmol@.2
!. Penyakit Penyerta 3 6
%. Status Disik 3 ASA III
,. Pengobatan Prabedah 3 162
5. "alampati 3 !
#.# Tinda(an Anestesi
1. "etode 3 Anestesi 4mum
. Premedikasi 3 6 8anitidine ,0 mg
6 Cndasentron % mg
6 SA 0,, mg
6 Dentanyl ,0 Lg
7
#.% Anestesi Umum
a. Induksi 3 Sempurna
b. "edikasi 3 6 Dentanyl ,0 Lg 6 ketorolac !0 mg
6 Propo'ol 100 mg 6 ?ramadol 100 mg
6 8ocuronium , mg 6 ketorolak suup 00 mg
6 Atropin 0,, mg 6 #eAametason 1 mg
#.. Keadaan Pende'ita Seama 23e'asi
12 Posisi Penderita 3 Supine
2 Penyulit waktu anestesi 3 tidak ada
!2 .ama Anestesi 3! jam
%2 0umlah =airan
Input 3 8. % /ol' 000ml
Dima <FS 1 /ol' ,00ml
(a=l ,00ml
P8=, kantong ,00 ml ;
?otal !,00 ml
Cutput 3 9 500 cc
Perdarahan 3 9 +,0 cc
,2 "onitoring
?# awal3 100@+0 mm<g, (3 $+ A@I, 883 15A@i
0am ?# 1mm<g2 (adi 1A@i2 88 1A@i2
10.!0 90@,, 9 1%
10.%, 110@5 10, 1%
11.00 110@50 10, 1%
11.1, 9$@,$ 10 1%
11.!0 95@,, 100 1%
11.%, 9,@5 9$ 1%
1.00 100@5, 9+ 1%
1.1, 100@+ 9+ 1%
1.!0 11,@5$ 99 1%
1!.00 110@5, 9$ 1%
1!.1, 110@+0 95 1%
1!.!0 110@5, 9+ 1%
#.0 Ruan" Pemui,an (RR&
12 "asuk 0am 3 1.!0
8
2 /eadaan 4mum 3 /esadaran =", :=S31,
!2 ?anda >ital 3 ?#3 110@50 mm<g, (3 9A@I, 883 A@i
%2 Perna'asan 3 baik
,2 Skoring Alderate 3
Akti'itas 3 1
Perna'asan 3
7arna /ulit 3
Sirkulasi 3
/esadaran 3
0umlah 3 9
#.4 Inst'u(si Anestesi
Cbser&asi keadaan umum dan &ital sign tiap 1, menit selama % jam
pertama post operasi
Pantau balance cairan dan output
=ek <b post op dan trans'usi
Ikuti instruksi selanjutnya
8awat bersama dengan bedah
#.5 Dia"nosa Post6o3
Post. op .aparatomy ; hemicolectomi sinistra a@i ca colon
BAB I7
TE2RI DAN PE8BAHASAN
9
%.1 Pe'sia3an 3'aanestesi
Pasien yang akan menjalani anestesi dan pembedahan 1elekti'@darurat2 harus
dipersiapkan dengan baik. /unjungan pra anestesi pada bedah elekti' dilakukan 16
hari sebelumnya, sedangkan pada bedah darurat sesingkat mungkin. /unjungan pra
anestesi bertujuan mempersiapkan mental dan 'isik pasien secara optimal,
merencanakan dan memilih teknik dan obat6obat anestesi yang sesuai, serta
menentukan klasi'ikasi yang sesuai 1berdasarkan klasi'ikasi ASA2.
,,5
%.2 Kasi9i(asi ASA
/lasi'ikasi ini penting untuk menilai keadaan penderita sebelum operasi3
,,+
ASA I 3 Pasien sehat organik, 'isiologik, psikiatrik, biokimia.
ASA II 3 Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang
ASA III 3 Pasien dengan penyakit sistemik berat hingga akti'itas rutin terbatas.
ASA I> 3 Pasien dengan penyakit sistemik berat tak dapat melakukan akti'itas
rutin penyakitnya merupakan ancaman kehidupannya setiap saat.
ASA > 3 Pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa pembedahan
hidupnya tidak akan lebih dari % jam.
Pada kasus ini, pasien ini tergolong kepada ASA III F, yaitu pasien dengan
penyakit sistemik berat sehingga akti&itas rutin terbatas. Pada pasien ini terdapat
kelainan sistemik berupa3
.eukopenia, yaitu didapatkan hasil pemeriksaan laboratorium 1leukosit2 terakhir
yaitu3 ,9.10
!
@mm
!
. Penurunan leukosit bisa terjadi pada berbagai keadaan
misalnya pada penderita in'eksi tertentu, terutama &irus, malaria, alkoholik, S.F,
reumaotid artritis, dan penyakit hemopoetik 1anemia aplastik, anemia perisiosa2.
.eukopenia dapat juga disebabkan penggunaan obat terutama asetamino'en,
sul'onamide, P?4, barbiturate, kemoterapi kanker, diaEepam, diuretika,
antidiabetika oral, indometasin, metildopa, ri'ampisin, 'enotiaEin, dan antibiotika
jangka lama. Pada pasien ini kemungkinan disebabkan karena penggunaan
antibiotik jangka lama, karena mengingat bahwa pasien ini telah dirawat di
bangsal selama 9 1 bulan. (amun, penurunan ini tidak begitu signi'ikan
10
dikarenakan pada pemeriksaan laboratorium sebelumnya 1! kali pemeriksaan2
tidak didapatkan penurunan kadar leukosit.
Penurunan kadar globulin, ureum, dan asam urat, namun tidak begitu bermakna.
<ipokalemia, yaitu terjadi penurunan kadar kalium, yaitu3 ! mmol@. 1!@10@12.
pada pemeriksaan laboratorium sebelumnya, terjadi penurunan kadar natrium,
yaitu3 1!0 mmol@. 11@1012. Pada pasien ini telah terjadi gangguan elektrolit,
disebabkan karena dehidrasi sehingga &olume F=D menurun dan terjadi
kehilangan air dan elektrolit
Pemeriksaan radiologi seperti )(C6=olon in .oop dan 4S: menunjukkan ada
kelainan dengan kesan inflammatory bowel disease
Pada pasien ini juga telah terpasang (:?, terhitung sejak dari awal pasien masuk
rumah sakit. >olume (:? terakhir yaitu 9 00cc dengan warna hijau kekuningan.
<al ini disebakan karena pasien ini mengalami distensi abdomen oleh obstruksi
mekanik dan menyebabkan tekanan intra luminal dan intra abdomen meningkat,
dan terjadi re'luks dari cairan isi lambung.
/ondisi pasien ini juga cukup lemah, dimana pada pemeriksaan 'isik abdomen
didapatkan perut semakin membesar dan nyeri yang dirasakan hampir diseluruh
bagian perut. Pasien juga tidak bisa melakukan akti&itas, seperti duduk dan
berjalan.
%.# P'emedi(asi
Premedikasi adalah pemberian obat 16 jam sebelum induksi anestesi
dilakukan, dengan tujuan melancarkan induksi, rumatan, dan ketika pasien bangun
dari anestesi.
%6+
?ujuan Premedikasi sangat beragaman, diantaranya3
,
6 "engurangi kecemasan dan ketakutan
6 "emperlancar induksi dan anesthesia
6 "engurangi sekresi ludah dan broncus
6 "eminimalkan jumlah obat anesthetic
6 "engurangi mual dan muntah pada pasca bedah
6 "enciptakan amnesia
6 "engurangi isi cairan lambung
6 "engurangi re'lek yang membahayakan
11
Pada pasien ini diberikan 8anitidine ,0 mg 1golongan antagonis reseptor <
<istamin2, tujuannya adalah untuk mengurangi isi cairan lambung sehingga
mencegah pneumonitis asam, sebab cairan lambung bersi'at asam dengan P< ,,
dapat menyebabkan keadaan tersebut. Pada pasien ini juga diberikan ondancentron %
mg 1golongan antiemetik2 untuk mengurangi mual dan muntah pasca pembedahan.
Pemberian sul'as atro'in 0,,0 mg disini sebagai antisialogogue 1antikolinergik2 untuk
mengurangi sekresi ludah dan bronkus dengan dosis 0,0160,0% mg@kg)). Serta
diberikan juga 'entanyl 50Lg 1golongan opioid2 untuk mengurangi kecemasan dan
ketakutan pasien dan menciptakan kenyamanan bagi pasien dan mengurangi rasa
sakit saat penyuntikan obat induksi 1propo'ol2 secara intra&ena.
%.% Indu(si Anestesi
Induksi anestesia adalah tindakan untuk membuat pasien dari sadar menjadi
tidak sadar, sehingga memungkinkan dimulainya anestesia dan pembedahan. Sebelum
memulai induksi anestesia sebaiknya disiapkan peralatan dan obat6obatan yang
diperlukan, sehingga seandainya terjadi keadaan gawat dapat diatasi dengan lebih
cepatdan lebih baik.
%6+
4ntuk persiapan anestesi sebaiknya kita ingat kata S?A?I=S3
%6+
Scope 3 .aringoscope dan Stetoscope
?ubes 3 Pipa trakea yang diplih sesuai usia
Airway 3 Crotracheal airway, untuk menahan lidah pasien saat pasien tidak
sadar, untuk menjaga agar lidah tidak menutup jalan na'as.
?ape 3 Plaster untuk mem'iksasi orotracheal airway.
Introducer3 "andrain atau stilet dari kawat untuk memandu agar pipa trakea
mudah untuk dimasukkan.
=onector 3 Penyambung antara pipa dan alat anesthesia
Suction 3 Penyedot lendir.
Induksi intra&ena hendaknya dikerjakan dengan hari6hati, perlahan6lahan,
lembut dan terkendali. Cbat induksi bolus disuntikan dengan dalam kecepatan antara
!0650 detik. Selama induksi anestesia, pernapasan pasien, nadi, dan tekanan darah
harus diawasi dan selalu diberi oksigen.
,
12
Pada kasus ini obat induksi yang digunakan adalah propo'ol dengan dosis
100 mg 110 cc2. Cbat ini dipilih karena e'ek depresi pernapasannya lebih sedikit, juga
mempunyai e'ek@kemampuan menurunkan tekanan darah sehingga cocok untuk
pasien dengan tekanan darah tinggi.
%.. Rumatan Anestesi
8umatan anestesi dapat dikerjakan secara intra&ena, inhalasi dan campuran
keduanya. 8umatan anestesia bertujuan menciptakan keadaan hypnotis, anelgesia
cukup dan relaksasi otot lurik yang baik.
,
Pada pasien ini rumatan anestesi dipilh secara inhalasi, yaitu menggunakan (C 3 C
dengan 131 1!.@i 3 !.@i2 dan ditambah se&o'lurane 1 M &ol-.
%.0 Intu:asi T'a(ea
%64
a. Indikasi Intubasi 3
6 "enjaga jalan na'as dari gangguan apapun.
6 "empermudah &entilasi dan oksigenisasi
6 Pencegahan terhadap aspirasi dan regurgitasi
b. /esulitan Intubasi 3
6 .eher pendek berotot
6 "andibula "enonjol
6 "aksila menonjol
6 4&ula tidak terlihat 1malampati ! atau %2
6 :erakan sendi temporo mandibula terbatas
6 :erakan &ertebra cer&ical terbatas
c. /omplikasi Intubasi3
1. Selama Intubasi 3
6 ?rauma gigi geligi
6 .aserasi bibir, gusi dan laring
6 "erangsang simpatis
6 Aspirasi
6 Spasme bonchus
. Selama FAtubasi 3
6 Spasme laring
6 Aspirasi :angguan 'onasii
6 Fdema glottis6subglotis
6 In'eksi laring, 'aring, trakea.
13
/riteria "alampati3
:radasi Pilar Daring 4&ula Palatum "ole
1 ; ; ;
6 ; ;
! 6 6 ;
% 6 6 6
Pada pasien ini dilakukan intubasi karena intubasi dapat menjaga potensi
jalan na'as oleh sebab apapun. /elainan anatomi, bedah khusus, bedah posisi khusus,
pembersihan secret jalan na'as, dan lain6lain. "empermudah &entilasi positi' dan
oksigenasi, mencegah terhadap aspirasi dan regurgitasi. Intubasi pada pasien ini
menggunakan Fndotracheal ?ube 1F??2 no.+ sesuai dengan postur tubuh pasien.
%.4 E(stu:asi
Sejalan dengan berkurangnya e'ek anestesi, dilakukan suction pada pasien
dan F? dicabut setelah lebih dulu diberikan &entilasi tekanan positi' untuk memberi
kesempatan penngeluaran atau sekret keluar dari glotis. Fkstubasi ditunda sampai
pasien benar6benar sadar, jika intubasi kembali akan menemukan kesulitan dan
adanya resiko Aspirasi. Fkstubasi umumnya dikerjakan pada keadaan anestesi sudah
ringan, dengan catatan tidak akan terjadi spasme laring. Sebelum tindakan hendaknya
rongga mulut, laring, 'aring dibersihkan dari sekret dan cairan.
,
Pada pasien ini ekstubasi dilakukan ketika e'ek anestesi sudah ringan dan
pasien sudah mulai berna'as spontan. ?idak ditemukan kesulitan saat ekstubasi.
%.5 8edi(asi
Pada pasien ini medikasi yang dipakai sebagai berikut 3
a. Dentanyl
Pemberian Dentanyl bertujuan untuk mengurangi rangsang nyeri pada saat
operasi. #osis dapat diberikan 1 M Lg. Pada operasi ini diberikan 'entanyl ,0 Lg
sesuai berat badan pasien.
$,9
b. 8okuronium
14
?ermasuk pelumpuh otot nondepolarisasi. Nat ini merupakan analog &ekuronium
dengan awal kerja lebih cepat. /euntungannya adalah tidak mengganggu 'ungsi
ginjal, sedangkan kerugiannya adalah terjadi gangguan 'ungsi hati dan e'ek
kerjanya lebih lama. #osis intubasi 0,! 6 0,5 mg@ kg )). Cbat ini bekerja dengan
menghalangi asetilcholine menempati reseptornya dan tidak menyebabkan
depolarisasi, sehingga tidak terjadi 'asikulasi.
$,9
Pada pasien ini digunakan rocuronium sebagai obat pelumpuh otot dengan dosis
, mg.
c. Atropin
Atropin merupakan obat golongan antikolinergik sehingga meningkatkan sistem
sara' simpatis dan juga bekerja memblok asetilkolin endogen maupun eksogen.
Pada saluran na'as e'eknya adalah untuk mengurangi sekret hidung, mulut, 'aring
dan bronkus. Pada saluran cerna sebagai antispasmodik 1menghambat peristaltik
lambung dan usus2. F'ek samping atropin adalah mulut kering, gangguan miksi,
meteorismus, retensio urin dan muka merah. #osis Atropin 3 0,0160,0% mg.
$,9
d. #eAametason
Pada pasien ini diberikan deAametason 1 mg, tujuannya adalah mencegah syok
ana'ilaktik pasca trans'usi. Selain itu, pemberian deAametason juga dapat
digunakan untuk penanganan mual6muntah pasca operasi 1PC(>2.
$,9
e. /etorolak
=ara kerja ketrolac ialah menghambat sintesis prostaglandin di peri'er tanpa
menganngu reseptor opoid di sistem sara' pusat. /etorolac dapat diberikan secara
oral, im, atau i&. #osis awal 106 !0 mg dan dapat diulang setiap %65jam sesuai
kebutuhan. 4ntuk pasien normal dosis sehari6hari dapat dibatasi maksimal 90 mg
dan untuk berat H,0 kg, manula atau gangguan 'aal ginjal dibatasi maksimal 50
mg.
$,9
'. ?ramadol
?ramadol merupakan analgetik sentral dengan a'initas rendah pada reseptor mu.
#an kelemahan analgesinya 1060- dibandingkan mor'in. ?ramadol dapat
15
diberikan im atau i& dengan dosis ,06100 mg dn dapat diulang tip %65jam.
#engan dosis maksimal %00 mg perhari.
$,9

%.; Pem:e'ian <ai'an Pe'io3e'asi
)) 3 %, kg
6 #e'isit =airan karena Puasa 1P2
P O 5 A )) A cc
P O 5 A %, A cc O ,%0 cc
6 "aintenance 1"2
" O )) A cc
" O %, A cc O 90 cc
6 Stress Cperasi 1C2
C O )) A $cc 1operasi besar2
C O %, A $ O !50 cc
6 Perdarahan
?otal O Suction ; /assa ; duk
?otal O !00cc ; ,0 cc ; 00cc O +,0cc
/ebutuhan cairan selama operasi3
0am I 3 P 1,%02 ; 90 ; !50 ; O +0cc
0am II 3 Q 1,%02 ; 90 ; !50 O %$,cc
0am III 3 Q 1,%02 ; 90 ;!50 O %$,cc
?otal cairan3 +0cc ; %$,cc ;%$,cc ; +,0cc O %%0cc
Pada kasus ini pemberian cairan perioperasinya kurang lebih sudah sesuai
dengan kebutuhan pasien.
16
BAB 7
KESI8PULAN
Pemeriksaan pra anestesi memegang peranan penting pada setiap operasi yang
melibatkan anestesi. Pemeriksaan yang teliti memungkinkan kita mengetahui kondisi
pasien dan memperkirakan masalah yang mungkin timbul sehingga dapat
mengantisipasinya.
Pada makalah ini disajikan kasus penatalaksanaan anestesi umum pada
operasi laparatomi pada penderita laki6laki, usia 5! tahun, status 'isik ASA III dengan
diagnosis ca colon dengan menggunakan teknik general anestesi dengan F? no.+
respirasi terkontrol.
4ntuk mencapai hasil maksimal dari anestesi seharusnya permasalahan yang
ada diantisipasi terlebih dahulu sehingga kemungkinan timbulnya komplikasi anestesi
dapat ditekan seminimal mungkin. #alam kasus ini selama operasi berlangsung tidak
ada hambatan yang berarti baik dari segi anestesi maupun dari tindakan operasinya.
Selama di ruang pemulihan juga tidak terjadi hal yang memerlukan penanganan
serius. Secara umum pelaksanaan operasi dan penanganan anestesi berlangsung
dengan baik meskipun ada hal6hal yang perlu mendapat perhatian.
17
DA)TAR PUSTAKA
1. Sjamsuhidajat 8, editor. )uku ajar ilmu bedah. Fdisi ke6. ?erjemahan 0ong,
7#. ?eAtbook o' Surgery. 0akarta3 F:=* 00%. <al 1$9
. Sabiston #.=. )uku Ajar )edah. 0akarta 3 Penerbit )uku /edokteran F:=,
000
!. )asson, ".#.3 =olonic Cbstruction. Fditor3 Cchoa, 0.)., ?ala&era, D.,
"echaber, A.0., and /atE, 0. http3@@www.emedicine.com. .ast 4pdated, 0une
1%, 00%
%. :winnut =.. Anestesi /linis. Fdisi !. 0akarta3 F:=.01. hal !,
,. .atie', S.A., Suryadi, /.A. R #achlan, ".8. Fds. Petunjuk Praktis
Anestesiologi. Fdisi ke6. )agian Anestesiologi dan ?erapi Intensi' D/4I.
0akarta* 009. <al 3 %56%+
5. #obson "). Penuntun Praktis Anestesi. 0akarta.3 F:=. 199% hal. ,!
+. "angku :, Senaphati ?. )uku Ajar Ilmu Anestesi dan 8eanimasi. 0akarta3
Indeks 0akarta. 010.
$. Sadikin, N.#. R Flysabeth. Anestetik 4mum. #alam3 Darmakologi dan ?erapi.
:.:, Sulistia.Fd. ,th ed. )alai Penerbit D/4I. 0akarta* 009. hal3 16
1!$,1!96150
9. S.", #arto. R ?haib, 8. Cbat Anestetik Intra&ena. #alam3 Anestesiologi.
"uhiman, ". ?haib, 8. Fds. )agian Anestesiologi dan ?erapi Intensi' D/4I.
0akarta3 D/4I. 19$9. hal 3 5,6+1
18