Anda di halaman 1dari 15

Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi ISO 9 ISO 9 ISO 9 ISO 9001 001 001

001, ,, , ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001
Berdasarkan lampipran A table A.1 OHSAS 18001:2002


1 11 1 | | | | dikombinasikan berdasarkan lampiran A table A.1 OHSAS 18001:2007 oleh Widiatmoko, Ignatius (ISO Dept. PT. Titan Petrokimia Nusantara)
ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO ISO ISO ISO 1 11 14001:2004 4001:2004 4001:2004 4001:2004 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 18001:2007 8001:2007 8001:2007 8001:2007 PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI
1 Lingkup 1 Lingkup 1 Lingkup 1 Lingkup
1.1 Umum 1.1 Umum 1.1 Umum 1.1 Umum
Standar ini menetapkan persyaratan sistem manajemen
mutu, apabila sebuah organisasi:
a) perlu untuk mendemonstrasikan secara konsisten
kemampuannya dalam menyediakan produk yang
memenuhi persyaratan pelanggan, regulasi dan
peraturan perundangan,
b) dan bertujuan untuk meningkatkan kepuasan
pelanggan melalui penerapan sistem yang efektif
termasuk proses untuk koreksi sistem secara
berkesinambungan dan jaminan kesesuaian dengan
persyaratan pelanggan, regulasi dan peraturan
perundangan yang berlaku.
CATATAN 1 Dalam Standar ini, istilah produk hanya
berlaku untuk
a) suatu produk diperuntukkan, atau dipersyaratkan
oleh pelanggan,
b) setiap keluaran yang diharapkan sebagai hasil dari
proses realisasi produk.
CATATAN 2 Persyaratan peraturan perundangan dan
regulasi, dapat dinyatakan sebagai persyaratan yang sah.
1 Ruang lingkup 1 Ruang lingkup 1 Ruang lingkup 1 Ruang lingkup
Standar ini menetapkan persyaratan sistem manajemen
lingkungan untuk memungkinkan organisasi mengem-
bangkan dan menerapkan kebijakan dan tujuan yang
memperhitungkan persyaratan peraturan perundang-
undangan dan ketentuan lain yang diikuti organisasi dan
informasi mengenai aspek lingkungan penting. Standar ini
berlaku untuk aspek lingkungan yang diidentifikasi oleh
organisasi sebagai aspek yang dapat dikendalikan dan
aspek yang dapat dipengaruhi. Standar ini tidak
menetapkan kriteria kinerja lingkungan tertentu.
Standar ini berlaku untuk organisasi apapun yang
bermaksud untuk:
a) menetapkan, menerapkan, memelihara dan
meningkatkan sistem manajemen lingkungan;
b) memastikan kesesuaian organisasi dengan kebijakan
lingkungannya;
c) menunjukkan kesesuaian dengan standar ini melalui:
1. melakukan penetapan sendiri (self-determination)
dan swa-deklarasi (selfdeclaration); atau
2. memperoleh konfirmasi kesesuaian dari pihak-
pihak yang berkepentingan terhadap organisasi
tersebut, seperti pelanggan; atau
3. memperoleh konfirmasi terhadap swa-deklarasi
dari pihak eksternal; atau
4. memperoleh sertifikasi / registrasi untuk sistem
manajemen lingkungannya dari organisasi lain
Semua persyaratan dalam standar ini dimaksudkan untuk
digabungkan dengan sistem manajemen lingkungan yang
manapun. Cakupan penerapan standar ini akan
tergantung pada faktor-faktor seperti kebijakan
lingkungan organisasi, sifat kegiatan, produk dan jasa,
serta lokasi dan kondisi organisasi. Standar ini juga
memberikan panduan informative mengenai penggunaan
standar di Lampiran A.
1 Ruang lingkup 1 Ruang lingkup 1 Ruang lingkup 1 Ruang lingkup
Seri persyaratan Penilaian Kesehatan dan Keselamatan
Kerja (OHSAS) ini menyatakan persyaratan system
manajemen kesalamatan dan kesehatan kerja (K3), agar
organisasi mampu mengendalikan risiko-risiko K3 dan
meningkatkan kinerjanya. Secara spesifik persyaratan ini
tidak menyatakan kriteria kinerja, ataupun memberikan
persyaratan secara lengkap dalam merancang system
manajemen.
Persyaratan OHSAS ini dapat diaplikasikan kepada
organisasi yang berniat untuk:
1. membuat suatu sistem manajemen K3 untuk
menghilangkan atau meminimalkan risiko kepada
personel dan pihak-pihak terkait lain yang mungkin
ditimbulkan oleh risiko K3 yang terkait dengan
aktivitas kerja organisasi;
2. menerapkan, memelihara dan secara berkelanjutan
meningkatkan sistem manajemen K3;
3. menentukan persyaratan tersebut sesuai dengan
kebijakan K3 yang ditetapkan;
4. memperlihatkan kesesuaian dengan standar OHSAS:
a) menentukan sendiri ketentuan dan deklarasi
kesesuaian, atau
b) mendapatkan konfirmasi kesesuaiannya oleh
pihak lain yang mempunyai hubungan,
misalnya pelanggan, atau
c) mendapatkan pernyataan deklarasi sendiri
oleh pihak luar, atau
d) mendapatkan sertifikat atau registrasi atas
system manajemen K3 oleh organisasi
eksternal.
Semua persyaratan dalam Standar OHSAS ini
dimaksudkan agar dapat digabungkan dengan system
manajemen K3 apapun. Luasnya aplikasi akan tergantung
pada faktorfaktor seperti kebijakan K3 organisasi, sifat
dari aktivitas tersebut dan risiko-risiko serta kompleksitas
dari operasioperasinya.
Standar OHSAS ini ditujukan untuk mengelola aspek
kesehatan dan keselamatan kerja, dan bukan ditujukan
untuk mengelola area-area kesehatan dan keselamatan
lain seperti program-program kesejahteraan/kesehatan
karyawan, keselamatan produk, kerusakan property
ataupun dampak lingkungan.

4. Sistem manajemen mutu 4. Sistem manajemen mutu 4. Sistem manajemen mutu 4. Sistem manajemen mutu
4.1 Persyaratan umum 4.1 Persyaratan umum 4.1 Persyaratan umum 4.1 Persyaratan umum
Organisasi harus menetapkan, mendokumentasikan,
penerapan menerapkan, dan memelihara sistem
manajemen mutu dan terus menerus memperbaiki
efektifitasnya sesuai dengan persyaratan Standar ini.
Organisasi harus:
a) menentukan proses yang diperlukan untuk sistem
manajemen mutu dan aplikasinya pada seluruh organisasi
(lihat 1.2),
4 Persyaratan sistem manajemen lingkungan 4 Persyaratan sistem manajemen lingkungan 4 Persyaratan sistem manajemen lingkungan 4 Persyaratan sistem manajemen lingkungan
4.1 Persyaratan umum 4.1 Persyaratan umum 4.1 Persyaratan umum 4.1 Persyaratan umum
Organisasi harus menetapkan, men-dokumentasikan,
menerapkan, meme-lihara dan memperbaiki sistem
manajemen lingkungan secara berkelanjutan sesuai
dengan persyaratan standar ini dan menentukan
bagaimana organisasi akan memenuhi persyaratan
tersebut. Organisasi harus menetapkan dan men-
dokumentasikan lingkup sistem manajemen
lingkungannya.
4 Persyaratan sistem manajemen K3 4 Persyaratan sistem manajemen K3 4 Persyaratan sistem manajemen K3 4 Persyaratan sistem manajemen K3
4.1 Persyaratan umum 4.1 Persyaratan umum 4.1 Persyaratan umum 4.1 Persyaratan umum
Organisasi harus membuat, men-dokumentasikan,
memelihara dan meningkatkan secara berkelanjutan
sistem manajemen K3 sesuai dengan persyaratan Standar
OHSAS ini dan menetapkan bagaimana memenuhi
persyaratanpersyaratan ini.
Organisasi harus menentukan dan men-dokumentasikan
ruang lingkup sistem manajemen K3 organisasi.

Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi ISO 9 ISO 9 ISO 9 ISO 9001 001 001 001, ,, , ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001
Berdasarkan lampipran A table A.1 OHSAS 18001:2002


2 22 2 | | | | dikombinasikan berdasarkan lampiran A table A.1 OHSAS 18001:2007 oleh Widiatmoko, Ignatius (ISO Dept. PT. Titan Petrokimia Nusantara)
ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO ISO ISO ISO 1 11 14001:2004 4001:2004 4001:2004 4001:2004 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 18001:2007 8001:2007 8001:2007 8001:2007 PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI
b) menetapkan urutan dan interaksi proses tersebut,
c) menetapkan kriteria dan metode yang diperlukan
untuk memastikan bahwa baik operasi maupun kendali
proses tersebut efektif,
d) memastikan tersedianya sumber daya dan informasi
yang diperlukan untuk mendukung operasi dan
pemantauan proses tersebut,
e) memantau, mengukur bila dapat dilakukan, dan
menganalisis proses tersebut, dan menerapkan tindakan
yang diperlukan untuk mencapai hasil yang direncanakan
f) dan koreksi berkesinambungan dari proses tersebut.
Proses tersebut harus dikelola oleh organisasi sesuai
dengan persyaratan Standar ini.
Apabila organisasi memilih untuk menyerahkan kepada
pihak lain, proses apa pun yang mempengaruhi
kesesuaian produk terhadap persyaratan, maka organisasi
harus memastikan adanya kendali pada proses itu.
Jenis dan cakupan pengendalian dapat diterapkan
terhadap proses yang diserahkan kepada pihak lain harus
ditetapkan dalam sistem manajemen mutu.
CATATAN 1 Proses yang diperlukan untuk sistem
manajemen mutu yang disebutkan di atas mencakup
proses untuk kegiatan manajemen, penyediaan sumber
daya, realisasi produk, pengukuran, analisa dan koreksi.
CATATAN 2 Suatu proses yang diserahkan kepada pihak
lain adalah proses yang diperlukan organisasi untuk
sistem manajemen mutunya dan yang dipilih organisasi
untuk dilaksanakan oleh pihak luar.
CATATAN 3 Pemastian pengendalian atas proses yang
dilakukan pihak lain tidak melepaskan tanggung jawab
organisasi atas kesesuaian terhadap persyaratan
pelanggan, peraturan perundangan dan regulasi. Jenis dan
cakupan pengendalian yang akan diterapkan terhadap
proses yang diserahkan kepada pihak lain dapat
dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut;
a) dampak potensial proses yang diserahkan kepada pihak
lain terhadap kemampuan organisasi dalam menyediakan
produk yang sesuai dengan persyaratan,
b) tingkat pembagian pengendalian terhadap proses,
c) kemampuan untuk mencapai pengendalian yang
diperlukan melalui penerapan klausul 7.4.
5.1 Komitmen Manajemen 5.1 Komitmen Manajemen 5.1 Komitmen Manajemen 5.1 Komitmen Manajemen
Pimpinan puncak harus memberi bukti komitmennya
pada penyusunan dan penerapan sistem manajemen mutu
serta efektifitas koreksi berkesinam-bungannya efektifitas
dengan:
a) mengkomunikasikan ke organisasi tentang pentingnya
memenuhi persyaratan pelanggan dan peraturan
perundangan,
b) menetapkan kebijakan mutu,
c) memastikan sasaran mutunya ditetapkan,
d) melakukan tinjauan manajemen, dan
4.2 Kebijakan lingkungan 4.2 Kebijakan lingkungan 4.2 Kebijakan lingkungan 4.2 Kebijakan lingkungan
Manajemen puncak harus menetapkan kebijakan
lingkungan organisasi dan memastikan bahwa kebijakan
dalam lingkup sistem manajemen lingkungannya:
a) sesuai dengan sifat, ukuran dan dampak lingkungan
dari kegiatan, produk dan jasanya;
b) mencakup komitmen pada perbaikan berkelanjutan
dan pencegahan pencemaran;
c) mencakup komitmen untuk menaati peraturan
perundang-undangan yang berlaku dan persyaratan
lain yang diikuti organisasi, yang terkait dengan aspek
lingkungannya;
4.2 Kebijakan K3 4.2 Kebijakan K3 4.2 Kebijakan K3 4.2 Kebijakan K3
Manajemen puncak harus mendefinisikan dan menyetujui
kebijakan K3 dan memastikan bahwa di dalam ruang
lingkup dari sistem manajemen K3:
a. sesuai dengan sifat dan skala risiko-risiko K3
organisasi;
b. mencakup suatu komitmen untuk pencegahan cidera
dan sakit penyakit dan peningkatan berkelanjutan
manajemen dan kinerja K3;
c. mencakup suatu komitmen untuk paling tidak
mematuhi peraturan K3 dan persyaratan lain yang
relevan yang biasa dilakukan oleh organisasi yang
Pan Pan Pan Panduan Komitmen dan Kebijakan K3LH duan Komitmen dan Kebijakan K3LH duan Komitmen dan Kebijakan K3LH duan Komitmen dan Kebijakan K3LH
Komitmen: Komitmen: Komitmen: Komitmen:
Organisasi harus menunjukkan komitmennya dengan:
Struktur organisasi K3LH pada posisi yang dapat
menentukan keputusan;
Penunjukkan personel penanggung jawab K3LH
(Sekretaris, dokter, paramedic, regu darurat, dll)
Adanya fasilitas dan sarana bidang K3LH;
Kebijakan: Kebijakan: Kebijakan: Kebijakan:
Komitmen organiasi dapat terhadap K3LH dapat
dituangkan dengan membuat pernyataan secara tertulis
Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi ISO 9 ISO 9 ISO 9 ISO 9001 001 001 001, ,, , ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001
Berdasarkan lampipran A table A.1 OHSAS 18001:2002


3 33 3 | | | | dikombinasikan berdasarkan lampiran A table A.1 OHSAS 18001:2007 oleh Widiatmoko, Ignatius (ISO Dept. PT. Titan Petrokimia Nusantara)
ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO ISO ISO ISO 1 11 14001:2004 4001:2004 4001:2004 4001:2004 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 18001:2007 8001:2007 8001:2007 8001:2007 PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI
e) memastikan tersedianya sumber daya.
5.3 Kebijakan mutu 5.3 Kebijakan mutu 5.3 Kebijakan mutu 5.3 Kebijakan mutu
Pimpinan puncak harus memastikan bahwa kebijakan
mutu:
a) sesuai dengan sasaran organisasi,
b) mencakup komitmen untuk memenuhi persyaratan
dan terus-menerus memperbaiki efektifitas sistem
manajemen mutu,
c) menyediakan kerangka kerja untuk menetapkan dan
meninjau sasaran mutu,
d) dikomunikasikan dan dipahami dalam organisasi, dan
e) ditinjau kesesuaiannya secara terus-menerus.
8.5.1 Perbaikan berkesinambungan 8.5.1 Perbaikan berkesinambungan 8.5.1 Perbaikan berkesinambungan 8.5.1 Perbaikan berkesinambungan
Organisasi harus terus-menerus memperbaiki efektifitas
sistem manajemen mutu melalui penggunaan kebijakan
mutu, sasaran mutu, hasil audit, analisis data, tindakan
korektif dan pencegahan dan tinjauan manajemen.
d) menyediakan kerangka untuk menentukan dan
mengkaji tujuan dan sasaran lingkungan;
e) didokumentasikan, diterapkan dan dipelihara;
f) dikomunikasikan kepada semua orang yang bekerja
pada atau atas nama organisasi; dan
g) tersedia untuk masyarakat.
terkait dengan risiko-risiko K3;
d. memberikan kerangka kerja untuk menetapkan dan
meninjau tujuan-tujuan K3;
e. didokumentasikan, diterapkan, dan dipelihara;
f. dikomunikasikan ke seluruh personel dalam kendali
organisasi dengan tujuan bahwa personel menyadari
kewajiban K3 masing-masing;
g. tersedia untuk pihak-pihak terkait; dan
h. dikaji secara periodik untuk memastikan kebijakan
tetap relevan dan sesuai untuk organisasi.
(Kebijakan K3LH) yang ditanda tangani oleh direktur dan
perwakilan karyawan.
Kebijakan organisasi memuat komitmen untuk:
pencegahan cidera dan sakit penyakit;
mematuhi peraturan K3 atau lingkungan dan;
persyaratan lain yang relevan yang biasa dilakukan
oleh organisasi yang terkait dengan risiko-risiko K3
dan aspek lingkungannya;
peningkatan berkelanjutan sistem manajemen dan
kinerja K3, pencegahan pencemaran;
Kebijakan diinformasikan ke seluruh personel melalui
media yang tersedia (papan pengumuman, intranet,
safety meeting, dll), yang digunakan sebagai kerangka
untuk mengendalikan resiko dalam mencapai tujuan dan
sasaran yang telah ditetapkan.
Kebijakan dikaji secara berkala untuk melihat apakah
masih tetap relevan dengan visi dan misi organisasi.
5.4 Perencanaan 5.4 Perencanaan 5.4 Perencanaan 5.4 Perencanaan
5.2 Fokus pada pelanggan 5.2 Fokus pada pelanggan 5.2 Fokus pada pelanggan 5.2 Fokus pada pelanggan
Pimpinan puncak harus memastikan bahwa persyaratan
pelanggan ditetapkan dan dipenuhi dengan sasaran untuk
meningkatkan kepuasan pelanggan (lihat 7.2.1 dan 8.2.1).
7.2.1 Penetapan persyaratan yang berkaitan dengan 7.2.1 Penetapan persyaratan yang berkaitan dengan 7.2.1 Penetapan persyaratan yang berkaitan dengan 7.2.1 Penetapan persyaratan yang berkaitan dengan
produk produk produk produk
Organisasi harus menetapkan:
a) persyaratan yang ditetapkan oleh pelanggan,
termasuk persyaratan untuk penyerahan dan kegiatan
pasca penyerahan,
b) persyaratan yang tidak dinyatakan oleh pelanggan
tetapi perlu untuk penggunaan yang ditetapkan atau
yang dimaksudkan, bila diketahui,
c) persyaratan peraturan perundangan yang dapat
diterapkan terhadap produk, dan
d) persyaratan tambahan apa pun yang dianggap perlu
oleh organisasi.
CATATAN Kegiatan pasca penyerahan termasuk, sebagai
contoh, tindakan atas adanya jaminan, kewajiban dalam
kontrak seperti jasa pemeliharaan dan jasa tambahan
seperti daur ulang atau pembuangan akhir.
7.2.2 Ti 7.2.2 Ti 7.2.2 Ti 7.2.2 Tinjauan persyaratan yang berkaitan dengan njauan persyaratan yang berkaitan dengan njauan persyaratan yang berkaitan dengan njauan persyaratan yang berkaitan dengan
produk produk produk produk
Organisasi harus meninjau persyaratan berkaitan dengan
produk. Tinjauan ini harus dilakukan sebelum komitmen
organisasi untuk memasok produk kepada pelanggan
(misalnya penyampaian penawaran, penerimaan kontrak
atau pesanan, penerimaan perubahan pada kontrak atau
pesanan) dan harus memastikan bahwa:
a) persyaratan produk ditetapkan,
b) persyaratan kontrak atau pesanan yang berbeda dari
yang dinyatakan sebelumnya, diselesaikan, dan
c) Organisasi memiliki kemampuan untuk memenuhi
persyaratan yang ditetapkan.
Rekaman hasil tinjauan dan tindakan yang timbul dari
4.3 4.3 4.3 4.3 PERENCANAAN PERENCANAAN PERENCANAAN PERENCANAAN
4.3.1 Aspek lingkungan 4.3.1 Aspek lingkungan 4.3.1 Aspek lingkungan 4.3.1 Aspek lingkungan
Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan
memelihara prosedur untuk:
a) mengidentifikasi aspek lingkungan kegiatan, produk
dan jasa dalam lingkup sistem manajemen
lingkungan, yang dapat dikendalikan dan yang dapat
dipengaruhi dengan memperhitungkan pem-
bangunan yang direncanakan atau baru; kegiatan,
produk dan jasa yang baru atau yang diubah; dan
b) Menentukan aspek yang mempunyai atau dapat
mempunyai dampak penting terhadap lingkungan
(yaitu aspek lingkungan penting).
Organisasi harus mendokumentasikan informasi ini dan
memelihara kemutakhirannya.
Organisasi harus memastikan bahwa aspek lingkungan
penting diperhitungkan dalam penetapan, penerapan dan
pemeliharaan sistem manajemen lingkungannya.
4.3 Perencanaan 4.3 Perencanaan 4.3 Perencanaan 4.3 Perencanaan
4.3.1 Identifikasi bahaya, penilaian risiko dan penetapan 4.3.1 Identifikasi bahaya, penilaian risiko dan penetapan 4.3.1 Identifikasi bahaya, penilaian risiko dan penetapan 4.3.1 Identifikasi bahaya, penilaian risiko dan penetapan
pengendalian. pengendalian. pengendalian. pengendalian.
Organisasi harus membuat, menerapkan dan memelihara
prosedur untuk mengidentifikasi bahaya yang ada,
penilaian risiko, dan penetapan pengendalian yang
diperlukan.
Prosedur untuk mengidentifikasi bahaya dan menilai risiko
harus memperhatikan:
a) aktivitas rutin dan tidak rutin;
b) aktivitas seluruh personel yang mempunyai akses ke
tempat kerja (termasuk kontraktor dan tamu);
c) perilaku manusia, kemampuan dan faktor-faktor
manusia lainnya;
d) bahaya-bahaya yang timbul dari luar tempat kerja
yang berdampak pada kesehatan dan keselamatan
personel di dalam kendali organsisasi di lingkungan
tempat kerja;
e) bahaya-bahaya yang terjadi di sekitar tempat kerja
hasil aktivitas kerja yang terkait di dalam kendali
organisasi;
CATATAN 1 akan lebih sesuai penilaian bahaya-
bahaya dinilai seperti aspek lingkungan.
f) Prasarana, peralatan dan material di tempat kerja,
yang disediakan baik oleh organisasi ataupun pihak
lain.
g) Perubahan-perubahan atau usulan perubahan di
dalam organisasi, aktivitas-aktivitas atau material;
h) modifikasi sistem manajemen K3, termasuk
perubahan sementara, dan dampaknya kepada
operasional, proses-proses dan aktivitas-aktivitas;
i) adanya kewajiban perundangan yang relevan terkait
dengan penilaian risiko dan penerapan pengendalian
yang dibutuhkan (lihat juga CATATAN 3.12)
j) rancangan area-area kerja, proses-proses, instalasi-
instalasi, mesin atau peralatan, prosedur operasional
dan organisasi kerja, termasuk adaptasinya kepada
Panduan Id Panduan Id Panduan Id Panduan Identifikasi Potensi Bahaya & Aspek Penting entifikasi Potensi Bahaya & Aspek Penting entifikasi Potensi Bahaya & Aspek Penting entifikasi Potensi Bahaya & Aspek Penting
Lingkungan Lingkungan Lingkungan Lingkungan
Organisasi harus membuat prosedur untuk
mengidentifikasi potensi bahaya yang ada, penilaian
risiko, dan penetapan pengendalian yang diperlukan.
Potensi bahaya ini bisa berdampak terhadap berdampak
pada kesehatan dan keselamatan personel di dalam
kendali organsisasi di lingkungan tempat kerja (K3) dan
juga lingkungan sekitar organisasi (masyarakat).
Identifikasi potensi bahaya dilakukan terhadap pekerjaan
yang sifatnya rutin atau tidak rutin dalam kondisi normal,
abnormal maupun emergensi dengan mempertimbangkan
bahaya (pisik, kimia, biologi, psikologi) terhadap pekerja
dan dampak pada lingkungan (air, udara, tanah).
Identifikasi potensi bahaya sebaiknya mempertimbangkan
hal berikut:
1. Kegiatan rutin dan non rutin ( keadaan gawat
darurat, bencana alam, kegiatan pemeliharaan yg
diluar jadwal, pembersihan, pengoperasian mesin,shut
down/ start up, visit dari kontraktor/pelanggan,
keadaan lain yg memang tidak rutin dilakukan oleh
organisasi)
2. Semua kegiatan yang memungkinkan seluruh
pekerja/orang mempunyai akses masuk di area kerja
(termasuk kontraktor, tamu).
3. Perilaku manusia, kemampuan, dan juga faktor
manusia. (sifat, kesalahan dari pihak manusia,
perilaku, kebiasaan, stress dll).
4. Bahaya yang berasal dari luar tempat kerja yang
dapat menimbulkan efek buruk ke kesehatan dan
keselamatan pekerja di organisasi.
5. Hazard/bahaya yg timbul dari kegiatan yg berkaitan
dengan pekerjaan atau aktivitas yg berada dibawah
kendali dilingkungan kerja dan organisasi.
6. infrastruktur/sarana/prasarana, peralatan dan material
di tempat kerja, yg disediakan oleh pihak organisasi
Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi ISO 9 ISO 9 ISO 9 ISO 9001 001 001 001, ,, , ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001
Berdasarkan lampipran A table A.1 OHSAS 18001:2002


4 44 4 | | | | dikombinasikan berdasarkan lampiran A table A.1 OHSAS 18001:2007 oleh Widiatmoko, Ignatius (ISO Dept. PT. Titan Petrokimia Nusantara)
ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO ISO ISO ISO 1 11 14001:2004 4001:2004 4001:2004 4001:2004 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 18001:2007 8001:2007 8001:2007 8001:2007 PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI
tinjauan harus dipelihara (lihat 4.2.4).
Apabila pelanggan tidak memberikan pernyataan tertulis
tentang persyaratan maka persyaratan pelanggan harus
ditegaskan oleh organisasi sebelum diterima.
Apabila persyaratan produk diubah, organisasi harus
memastikan bahwa dokumen yang sesuai diubah dan
personel yang sesuai dibuat peduli tentang persyaratan
yang diubah.
CATATAN Dalam beberapa hal, seperti penjualan melalui
internet, tinjauan resmi tidak dapat dipraktekan bagi tiap
pesanan.
Sebagai pengganti, tinjauan dapat mencakup informasi
produk yang sesuai seperti catalog atau bahan iklan.
kemampuan manusia.
Metodologi organisasi dalam melakukan identifikasi
bahaya dan penilaian risiko harus:
a) ditetapkan dengan memperhatikan ruang lingkup,
sifat dan waktu untuk memastikan metodenya
proaktif; dan
b) menyediakan identifikasi, prioritas dan dokumentasi
risiko-risiko, dan penerapan pengendalian, sesuai
keperluan.
Untuk mengelola perubahan, organisasi harus
mengidentifkasi bahaya-bahaya K3 dan risiko-risiko K3
terkait dengan perubahan di dalam organisasi, system
manajemen K3, atau aktivitas-aktivitasnya, sebelum
menerapkan perubahan tersebut.
Organisasi harus memastikan hasil dari penilaian ini
dipertimbangkan dalam menetapkan pengendalian.
Saat menetapkan pengendalian, atau mempertimbangkan
perubahan atas pengendalian yang ada saat ini,
pertimbangan harus diberikan untuk menurunkan risiko
berdasarkan hirarki berikut:
a) eliminasi;
b) substitusi;
c) pengendalian teknik;
d) rambu/peringatan dan/atau pengendalian
administrasi;
e) alat pelindung diri.
Organisasi harus mendokumentasikan dan memelihara
hasil identifikasi bahaya, penilaian risiko dan penetapan
pengendaian selalu terbaru.
Organisasi harus memastikan bahwa risiko-risiko K3 dan
penetapan pengendalian dipertimbangkan saat membuat,
menerapkan dan memelihara sistem manajemen K3
perusahaan
CATATAN Pedoman lebih lanjut dalam identifikasi
bahaya, penilaian risiko dan pengendalian risiko dapat
dilihat pada standar OHSAS 18002.
atau pihak luar.
7. perubahan atau rencana perubahan pada organisasi,
kegiatannya, dan bahan yg digunakan.
8. modifikasi dari SMK3, termasuk yg bersifat sementara,
dan pengaruhnya terhadap kegiatan operasi, proses
atau aktivitas.
9. Semua peraturan yg mengikat yg berkaitan dengan
penilaian risiko dan pengendalian yg dibutuhkan.
10. Disain dari area kerja, proses, instalasi,
mesin/peralatan, termasuk kemampuan adaptasi dari
pekerja/manusia
11. Pencemaran terhadap lingkungan (air, tanah, udara,
limbah B3)
12. Penggunaan bahan baku dan sumber daya alam,
13. Penggunaan energy.
Identifikasi potensi bahaya dan aspek penting lingkungan
yang dilakukan oleh organisasi dikaitkan dengan
peraturan perundangan yang relevan dengan risiko K3
dan aspek penting lingkungan.
Organisasi melakukan penilaian dan menetapkan
pengendalian dampak potensi bahaya dan aspek penting
lingkungan. Penentuan untuk pengendalian bahaya dan
risiko (mempertimbangkan hierarki dari pengendalian
(eliminasi, subtitusi, isolasi, engineering control,
penandaan / peringatan / administrative control, PPE).
Identifikasi potensi bahaya dan aspek penting lingkungan
yang dilakukan oleh organisasi dapat diintegrasikan
menjadi satu.
Identifikasi potensi bahaya dan aspek penting lingkungan
dikaji secara berkala minimal satu kali dalam setahun.
5.2 Fokus pada pelanggan 5.2 Fokus pada pelanggan 5.2 Fokus pada pelanggan 5.2 Fokus pada pelanggan
Pimpinan puncak harus memastikan bahwa persyaratan
pelanggan ditetapkan dan dipenuhi dengan sasaran untuk
meningkatkan kepuasan pelanggan (lihat 7.2.1 dan 8.2.1).
7.2.1 Penetapan persyaratan yang berkaitan dengan 7.2.1 Penetapan persyaratan yang berkaitan dengan 7.2.1 Penetapan persyaratan yang berkaitan dengan 7.2.1 Penetapan persyaratan yang berkaitan dengan
produk produk produk produk
Organisasi harus menetapkan:
a) persyaratan yang ditetapkan oleh pelanggan,
termasuk persyaratan untuk penyerahan dan kegiatan
pasca penyerahan,
b) persyaratan yang tidak dinyatakan oleh pelanggan
tetapi perlu untuk penggunaan yang dittapkan atau
yang dimaksudkan, bila diketahui,
c) persyaratan peraturan perundangan yang dapat
diterapkan terhadap produk, dan
d) persyaratan tambahan apa pun yang dianggap perlu
oleh organisasi.
4.3.2 Persyaratan peraturan perundang 4.3.2 Persyaratan peraturan perundang 4.3.2 Persyaratan peraturan perundang 4.3.2 Persyaratan peraturan perundang- -- -undangan dan undangan dan undangan dan undangan dan
lainny lainny lainny lainnya aa a
Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan
memelihara prosedur untuk:
a) mengidentifikasi dan memperoleh informasi tentang
persyaratan peraturan perundang-undangan yang
berlaku dan persyaratan lainnya yang diikuti
organisasi, yang terkait dengan aspek lingkungannya;
dan
b) menentukan bagaimana persyaratan tersebut berlaku
terhadap aspek lingkungannya.
Organisasi harus memastikan bahwa persyaratan
peraturan perundang-undangan yang berlaku dan
persyaratan lainnya yang diikuti organisasi tersebut
diperhitungkan dalam penetapan, penerapan dan
pemeliharaan sistem manajemen lingkungannya.
4.3.2 Peraturan perundangan dan persyaratan lain. 4.3.2 Peraturan perundangan dan persyaratan lain. 4.3.2 Peraturan perundangan dan persyaratan lain. 4.3.2 Peraturan perundangan dan persyaratan lain.
Organisasi harus membuat, menerangkan dan memelihara
suatu prosedur untuk mengidentifikasi dan mengakses
peraturan perundangan dan persyaratan K3 lain yang
diaplikasikan untuk K3.
Organisasi harus memastikan bahwa peraturan
perundangan dan persyaratan lain yang relevan di mana
organisasi mendapatkannya harus dipertimbangkan dalam
membuat, menerapkan dan memelihara system
manajemen K3 organisasi.
Organisasi harus selalu memutakhirkan informasi ini.
Organisasi harus mengkomunikasikan peraturan
perundangan dan persyaratan lain yang relevan kepada
orang yang bekerja di dalam kendali organisasi dan pihak-
pihak terkait lain.
Panduan Identi Panduan Identi Panduan Identi Panduan Identifikasi Peraturan Perundangan fikasi Peraturan Perundangan fikasi Peraturan Perundangan fikasi Peraturan Perundangan
Organisai harus membuat prosedur untuk mengakses
peraturan perundang-udangan dan persyaratan lain baik
K3 maupun lingkungan yang relevan dengan kegiatan
organisasi.
Prosedur harus mencakup bagaimana organisasi:
Mengakses (mengidentifikasi dan memperoleh
informasi);
Memelihara secara berkala (memutakhirkan
informasi);
Menentukan relevansinya dengan potensi bahaya dan
aspek penting lingkungan.
Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi ISO 9 ISO 9 ISO 9 ISO 9001 001 001 001, ,, , ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001
Berdasarkan lampipran A table A.1 OHSAS 18001:2002


5 55 5 | | | | dikombinasikan berdasarkan lampiran A table A.1 OHSAS 18001:2007 oleh Widiatmoko, Ignatius (ISO Dept. PT. Titan Petrokimia Nusantara)
ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO ISO ISO ISO 1 11 14001:2004 4001:2004 4001:2004 4001:2004 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 18001:2007 8001:2007 8001:2007 8001:2007 PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI
CATATAN Kegiatan pasca penyerahan termasuk, sebagai
contoh, tindakan atas adanya jaminan, kewajiban dalam
kontrak seperti jasa pemeliharaan dan jasa tambahan
seperti daur ulang atau pembuangan akhir.
5.4.1 Sasaran mutu 5.4.1 Sasaran mutu 5.4.1 Sasaran mutu 5.4.1 Sasaran mutu
Pimpinan puncak harus memastikan bahwa sasaran mutu
termasuk yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan
produk [lihat 7.1 a)], ditetapkan pada fungsi dan tingkat
sesuai dalam organisasi. Sasaran mutu harus terukur dan
konsisten dengan kebijakan mutu.
5.4.2 Perencanaan sistem manajemen mutu 5.4.2 Perencanaan sistem manajemen mutu 5.4.2 Perencanaan sistem manajemen mutu 5.4.2 Perencanaan sistem manajemen mutu
Pimpinan puncak harus memastikan bahwa:
a) perencanaan sistem manajemen mutu dilakukan
untuk memenuhi persyaratan yang diberikan dalam
4.1, seperti juga sasaran mutu, dan
b) apabila perubahan sistem manajemen mutu
direncanakan dan diterapkan maka integritas sistem
manajemen mutu dipelihara. penerapan diterapkan
8.5.1 Perbaikan berkesinambungan 8.5.1 Perbaikan berkesinambungan 8.5.1 Perbaikan berkesinambungan 8.5.1 Perbaikan berkesinambungan
Organisasi harus terus-menerus memperbaiki efektifitas
sistem manajemen mutu melalui penggunaan kebijakan
mutu, sasaran mutu, hasil audit, analisis data, tindakan
korektif dan pencegahan dan tinjauan manajemen.
4.3.3 Tujuan, sasaran dan program 4.3.3 Tujuan, sasaran dan program 4.3.3 Tujuan, sasaran dan program 4.3.3 Tujuan, sasaran dan program
Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan
memelihara tujuan dan sasaran lingkungan yang
terdokumentasi, pada fungsi dan tingkatan yang sesuai
dalam organisasi tersebut.
Tujuan dan sasaran tersebut harus dapat diukur bila
memungkinkan dan konsisten dengan kebijakan
lingkungannya, termasuk komitmen pada pencegahan
pencemaran, penaatan persyaratan peraturan perundang-
undangan yang berlaku dan persyaratan lainnya yang
diikuti organisasi, serta perbaikan berkelanjutan. Saat
menetapkan dan mengkaji tujuan dan sasaran, organisasi
harus memperhitungkan persyaratan peraturan
perundang-undangan dan persyaratan lainnya yang
diikuti organisasi serta mempertimbangkan aspek
lingkungan penting, pilihan teknologi, keuangan,
persyaratan operasional dan bisnis; serta pandangan pihak
yang berkepentingan.
Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan
memelihara program untuk mencapai tujuan dan
sasarannya. Program harus mencakup:
a) pemberian tanggungjawab untuk mencapai tujuan
dan sasaran pada fungsi dan tingkatan yang sesuai
dalam organisasi tersebut; dan
b) cara dan jangka waktu untuk mencapai tujuan dan
sasaran tersebut.
4.3.3 Tujuan dan program 4.3.3 Tujuan dan program 4.3.3 Tujuan dan program 4.3.3 Tujuan dan program
Organsasi harus membuat, menerapkan dan memelihara
tujuan dan sasaran K3 yang tedokumentasi, pada setiap
fungsi dan tingkat yang relevan di dalam organisasi.
Tujuan-tujuan harus dapat diukur, bila memungkinkan,
dan konsisten dengan kebijakan K3, termasuk komitmen
untuk mencegah cidera dan sakit penyakit, memenuhi
peraturan perundangan yang relevan dan persyaratan lain
di mana organisasi mendapatkan dan untuk peningkatan
berkelanjutan.
Pada saat membuat dan meninjau tujuan-tujuan tersebut,
organisasi harus mem-pertimbangkan peraturan
perundangan dan persyaratan K3 lainnya di mana
organisasi mendapatkan, dan risiko-risiko K3. Juga
mempertimbangkan aspek teknologi, aspek keuangan,
persyaratan operasional dan bisnis, dan pandangan dari
pihak-pihak terkait.
Organisasi harus membuat, menerapkan dan memelihara
suatu program untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi.
Program minimum harus memasukkan:
a. penunjukan penanggung jawab dan kewenangan untuk
mencapai tujuan pada setiap fungsi dan tingkat organisasi;
dan
b. cara-cara dan jangka waktu untuk mencapai tujuan.
Program manajemen K3 harus dikaji pada interval waktu
yang teratur dan terencana, dan dirubah sesuai
kebutuhan, untuk memastikan tujuan-tujuan tercapai.
Panduan Panduan Panduan Panduan Tujuan, Sasaran dan Program Tujuan, Sasaran dan Program Tujuan, Sasaran dan Program Tujuan, Sasaran dan Program
Organisasi harus menetapkan tujuan, sasaran dan
program sesuai dengan komitmen untuk perbaikan
berkelanjutan.
Penetapan TSP ini mempertimbangkan pilihan teknologi,
keuangan, kelangsungan bisnis, hasil identifikasi potensi
bahaya dan aspek lingkungan, analisa insiden, peraturan
perundangan, pandangan pihak yang berkepentingan,
serta metoda pengendalian risiko.
TSP yang ditetapkan harus dapat menjelaskan bagaimana
cara pencapaiannya, sumber daya yang diperlukan,
personel yang bertanggung jawab dan waktu pencapaian
TSP tersebut.
TSP sebaiknya jelas arahnya (spesifik), dapat diukur,
mudah dicapai, dapat dilaksanakan oleh personel yang
bertanggung jawab, waktu pelaksanaannya tidak terlalu
lama.

7 Realisasi produk 7 Realisasi produk 7 Realisasi produk 7 Realisasi produk
5.5 Tanggung jawab, wewenang dan 5.5 Tanggung jawab, wewenang dan 5.5 Tanggung jawab, wewenang dan 5.5 Tanggung jawab, wewenang dan
komunikasi komunikasi komunikasi komunikasi
5.5.1 Tanggung jawab dan wewenang 5.5.1 Tanggung jawab dan wewenang 5.5.1 Tanggung jawab dan wewenang 5.5.1 Tanggung jawab dan wewenang
Pimpinan puncak harus memastikan bahwa tanggung
jawab dan wewenang ditetapkan dan dikomunikasikan
dalam organisasi.
5.5.2 Wakil manajemen 5.5.2 Wakil manajemen 5.5.2 Wakil manajemen 5.5.2 Wakil manajemen
Pimpinan puncak harus menunjuk seorang anggota
manajemen organisasi yang di luar tanggung jawab lain,
harus memiliki tanggung jawab dan wewenang yang
meliputi:
a) memastikan proses yang diperlukan untuk sistem
manajemen mutu ditetapkan, diterapkan dan
dipelihara,
b) melaporkan kepada pimpinan puncak tentang kinerja
sistem manajemen mutunya dan kebutuhan apa pun
untuk koreksi, dan
c) memastikan promosi kepedulian tentang persyaratan
pelanggan di seluruh organisasi.
CATATAN Tanggung jawab wakil manajemen dapat
4.4 PENERAPAN & OPERASI 4.4 PENERAPAN & OPERASI 4.4 PENERAPAN & OPERASI 4.4 PENERAPAN & OPERASI
4.4.1 Sumber daya, peran, tanggung jawab dan 4.4.1 Sumber daya, peran, tanggung jawab dan 4.4.1 Sumber daya, peran, tanggung jawab dan 4.4.1 Sumber daya, peran, tanggung jawab dan
kewenangan kewenangan kewenangan kewenangan
Manajemen harus memastikan ketersediaan sumberdaya
yang diperlukan untuk menetapkan, menerapkan,
memelihara dan meningkatkan sistem manajemen
lingkungan.
Sumberdaya termasuk sumberdaya manusia dan
ketrampilan khusus, sarana operasional, teknologi dan
sumberdaya keuangan.
Peran, tanggungjawab dan kewenangan harus ditentukan,
didokumentasikan dan dikomunikasikan guna
memfasilitasi manajemen lingkungan yang efektif.
Manajemen puncak organisasi harus menunjuk satu orang
atau lebih wakil manajemen tertentu, yang tidak
tergantung pada tanggungjawab lainnya, yang harus
mempunyai peran, tanggungjawab dan kewenangan yang
ditetapkan untuk:
a) memastikan bahwa sistem manajemen lingkungan
ditetapkan, diterapkan dan dipelihara sesuai dengan
persyaratan standar ini;
4.4 Penerapan dan operasi 4.4 Penerapan dan operasi 4.4 Penerapan dan operasi 4.4 Penerapan dan operasi
4.4.1 Sumberdaya, peran, tanggung jawab, akuntabilitas 4.4.1 Sumberdaya, peran, tanggung jawab, akuntabilitas 4.4.1 Sumberdaya, peran, tanggung jawab, akuntabilitas 4.4.1 Sumberdaya, peran, tanggung jawab, akuntabilitas
dan wewenang dan wewenang dan wewenang dan wewenang
Manajemen puncak harus menjadi penanggung jawab
tertinggi untuk sistem manajemen K3
Manajemen puncak harus memperlihatkan komitmennya
dengan:
a) memastikan ketersediaan sumberdaya yang esensial
untuk membuat, menerapkan, memelihara dan
meningkatkan system manajemen K3;
CATATAN 1 Sumberdaya termasuk sumberdaya
manusia dan ketrampilan khusus, infrastruktur,
teknologi dan finansial.
b) menetapkan peranperan, alokasi tanggung jawab dan
akuntabilitas, dan delegasi wewenang, untuk
memfasilitasi efektivitas sistem manajemen K3;
peran, tanggung jawab, akuntabilitas dan wewenang
harus didokumentasikan dan dikomunikasikan.
Organisasi harus menunjuk seorang anggota manajemen
puncak dengan tanggung jawab khusus K3, di luar
tanggung jawabnya, dan menetapkan peranperan dan
Panduan Sumber Daya Panduan Sumber Daya Panduan Sumber Daya Panduan Sumber Daya
Organisasi harus membuat prosedur untuk memantau dan
mengkomuni-kasikan setiap perubahan tanggung jawab
dan tanggung gugat.
Organisasi harus menetapkan uraian tugas & tanggung
jawab personel (job responsibility) dari setiap level fungsi
manajemen (MR, Manager, Supervisor, operator).
Organisasi harus menetapkan satu atau lebih wakil
manajemen untuk memastikan bahwa sistem manajemen
K3LH ditetapkan, diterapkan dan dipelihara.
Organisasi harus menyediakan prasaran yang diperlukan
oleh personel untuk mengelola sistem manajemen.
Organisasi harus melakukan pengukuran & pemantauan
terhadap lingkungan kerja.



Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi ISO 9 ISO 9 ISO 9 ISO 9001 001 001 001, ,, , ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001
Berdasarkan lampipran A table A.1 OHSAS 18001:2002


6 66 6 | | | | dikombinasikan berdasarkan lampiran A table A.1 OHSAS 18001:2007 oleh Widiatmoko, Ignatius (ISO Dept. PT. Titan Petrokimia Nusantara)
ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO ISO ISO ISO 1 11 14001:2004 4001:2004 4001:2004 4001:2004 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 18001:2007 8001:2007 8001:2007 8001:2007 PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI
mencakup sebagai penghubung dengan pihak luar dalam
masalah yang berkaitan dengan sistem manajemen mutu.
6.1 Penyediaan sumber daya 6.1 Penyediaan sumber daya 6.1 Penyediaan sumber daya 6.1 Penyediaan sumber daya
Organisasi harus menetapkan dan menyediakan sumber
daya yang diperlukan:
a) untuk menerapkan dan memelihara sistem
manajemen mutu dan terus-menerus memperbaiki
efektifitas-nya, dan
b) untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dengan
memenuhi persyaratan pelanggan.
6.3 Prasarana 6.3 Prasarana 6.3 Prasarana 6.3 Prasarana
Organisasi harus menetapkan, menyediakan dan
memelihara prasarana yang diperlukan untuk mencapai
kesesuaian pada persyaratan
produk. Prasarana mencakup, jika berlaku:
a) gedung, ruang kerja dan sarana penting terkait,
b) peralatan proses, (baik perangkat keras maupun
perangkat lunak), dan
c) jasa pendukung (seperti angkutan, komunikasi atau
sistem informasi).
6.4 Lingkungan kerja 6.4 Lingkungan kerja 6.4 Lingkungan kerja 6.4 Lingkungan kerja
Organisasi harus menetapkan dan mengelola lingkungan
kerja yang diperlukan untuk mencapai kesesuaian
persyaratan produk.
CATATAN Istilah lingkungan kerja berhubungan
dengan kondisi dimana pekerjaan dilaksanakan termasuk
faktor fisik, lingkungan dan faktor lainnya (seperti suara,
suhu, kelembaban, pencahayaan atau cuaca).
b) melapor kepada manajemen puncak mengenai
kinerja sistem manajemen lingkungan untuk kajian,
termasuk rekomendasi perbaikan.
wewenang untuk:
a) menjamin sistem manajemen K3 dibuat, diterapkan,
dan dipelihara sesuai dengan standar OHSAS ini;
b) melaporkan kinerja sistem manajemen K3 kepada
manajemen puncak untuk dikaji dan sebagai dasar
untuk peningkatan system manajemen K3.
CATATAN 2 Anggota manajemen puncak yang ditunjuk
(mis. Dalam organisasi besar, seorang anggota Direksi atau
komite eksekutif) dapat mendelegasikan beberapa
tugastugasnya kepada wakil manajemen bawahannya
sementara tetap memegang akuntabilitasnya.
Penunjukan anggota manajemen puncak harus tersedia
kepada seluruh orang yang bekerja di dalam kendali
organisasi.
Semuanya dengan tanggung jawab manajemen harus
memperlihatkan komitmennya untuk meningkatkan
kinerja K3.
Organisasi harus memastikan bahwa - yang berada di
tempat kerja bertanggung jawab untuk aspekaspek K3 di
dalam kendali mereka, termasuk kepatuhan pada
persyaratan K3 organisasi yang relevan.
6.2.1 Umum 6.2.1 Umum 6.2.1 Umum 6.2.1 Umum
Personel yang melaksanakan pekerjaan
yang mempengaruhi kesesuaian terhadap persyaratan
produk harus memiliki kompetensi atas dasar pendidikan,
pelatihan, ketrampilan dan pengalaman yang sesuai.
CATATAN Kesesuaian terhadap persyaratan produk dapat
dipengaruhi secara langsung maupun tidak langsung oleh
personel yang melaksanakan tugas dalam sistem
manajemen mutu.
6.2.2 Kompetensi, pelatihan, dan 6.2.2 Kompetensi, pelatihan, dan 6.2.2 Kompetensi, pelatihan, dan 6.2.2 Kompetensi, pelatihan, dan
kepedulian kepedulian kepedulian kepedulian
Organisasi harus:
a) menetapkan kompetensi yang diperlukan bagi
personel yang melaksanakan pekerjaan yang
mempengaruhi kesesuaian terhadap persyaratan
produk,
b) bila diperlukan, menyediakan pelatihan atau
melakukan tindakan lain untuk mencapai kompetensi
yang diperlukan,
c) menilai efektifitas tindakan yang dilakukan,
d) memastikan bahwa personelnya peduli akan
kesesuaian dan pentingnya kegiatan mereka dan
bagaimana sumbangan mereka bagi pencapaian
sasaran mutu, dan
4.4.2 Kompetensi, pelatihan dan kesadaran 4.4.2 Kompetensi, pelatihan dan kesadaran 4.4.2 Kompetensi, pelatihan dan kesadaran 4.4.2 Kompetensi, pelatihan dan kesadaran
Organisasi harus memastikan setiap orang yang bertugas
untuk atau atas nama organisasi yang berpotensi
menyebabkan satu atau lebih dampak lingkungan penting
yang diidentifikasi oleh organisasi, mempunyai
kompetensi yang berasal dari pendidikan, pelatihan atau
pengalaman yang memadai dan organisasi harus
menyimpan rekaman yang terkait dengan kompetensi
tersebut.
Organisasi harus mengidentifikasi keperluan pelatihan
yang terkait dengan aspek lingkungan dan sistem
manajemen lingkungan. Organisasi harus memberikan
pelatihan atau cara lain untuk memenuhi keperluan
tersebut dan menyimpan rekaman yang terkait.
Organisasi harus menetapkan, menerapkan, dan
memelihara prosedur untuk memastikan orang yang
bekerja untuk atau atas nama organisasi memahami
tentang:
a) pentingnya kesesuaian dengan kebijakan lingkungan
dan prosedur, serta dengan persyaratan sistem
manajemen lingkungan;
b) aspek lingkungan penting dan dampak yang nyata
atau potensial terjadi yang terkait dengan
pekerjaannya dan manfaat peningkatan kinerja
perorangan terhadap lingkungan;
4.4.2 Kompetensi, pelatihan dan kepedulian 4.4.2 Kompetensi, pelatihan dan kepedulian 4.4.2 Kompetensi, pelatihan dan kepedulian 4.4.2 Kompetensi, pelatihan dan kepedulian
Organisasi harus memastikan bahwa setiap orang dalam
pengendalilannya yang melakukan tugas-tugas yang
mempunyai dampak pada K3 harus kompeten sesuai
dengan tingkat pendidikan, pelatihan
dan/ataupengalaman, dan menyimpan catatan-
catatannya.
Organisasi harus mengidentifikasi kebutuhan pelatihan
sesuai dengan risikorisiko K3 terkait dan system
manajemen K3. Organisasi harus menyediakan pelatihan
atau mengambil tindakan untuk memenuhi kebutuhan
tersebut, melakukan evaluasi efektivitas pelatihan atau
tindakan yang diambil, dan menyimpan catatan-
catatannya.
Organisasi harus membuat, menerapkan dan memelihara
prosedur untuk memastikan semua orang yang bekerja
dalam pengendaliannya peduli akan:
a) konsekuensi-konsekuensi K3, yang aktual atau
potensial, kegiatan kerjanya, perilakunya, serta
manfaat-manfaat K3 untuk peningkatan kinerja
perorangan;
b) peranan dan tanggung jawabnya dan pentingnya
dalam mencapai kesesuaiannya dengan kebijakan dan
prosedur-prosedur K3 dan dengan persyaratan sistem
manajemen K3, termasuk persyaratan kesiapsiagaan
Panduan Kompetensi & Pelatihan Panduan Kompetensi & Pelatihan Panduan Kompetensi & Pelatihan Panduan Kompetensi & Pelatihan
Organisasi harus membuat prosedur untuk
mengidentifikasi standar kompetensi & pelatihan terkait
dengan potensi bahaya/aspek lingkungan.
Organisasi harus mengidentifikasi kebutuhan pelatihan
yang diperlukan oleh personel yang bertanggung jawab
terkait dengan potensi bahaya dan aspek lingkungan.
Organisasi harus mengembangkan dan mengevaluasi
program pelatihan sesuai dengan hasil penilaian
identifikasi kebutuhan pelatihan.
Progam pelatihan seperti:
Ahli K3, Operator forklift, Ahli K3 Kimia, Ahli K3
Listrik, Operator ketel uap, regu kebakaran, Dokter &
Paramedis Hiperkes, Auditor Internal, Alat Pelindung
Diri, P2K3, Proteksi Radiasi.
Awarenes ISO 14001, Identifikasi bahaya, SMK3,
Emergensi respon, pengendalian dokumen, mapping
bisnis proses, identifikasi aspek & potensi bahaya, dll.
Proses produksi, HRD
Organisasi harus mendokumentasikan catatan pelatihan
(matriks TNA, matriks kompetensi, materi, absensi,
evaluasi program pelatihan).


Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi ISO 9 ISO 9 ISO 9 ISO 9001 001 001 001, ,, , ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001
Berdasarkan lampipran A table A.1 OHSAS 18001:2002


7 77 7 | | | | dikombinasikan berdasarkan lampiran A table A.1 OHSAS 18001:2007 oleh Widiatmoko, Ignatius (ISO Dept. PT. Titan Petrokimia Nusantara)
ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO ISO ISO ISO 1 11 14001:2004 4001:2004 4001:2004 4001:2004 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 18001:2007 8001:2007 8001:2007 8001:2007 PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI
e) memelihara rekaman yang sesuai tentang pendidikan,
pelatihan, ketrampilan dan pengalaman (lihat 4.2.4).
c) peran dan tanggungjawab mereka dalam mencapai
pemenuhan persyaratan sistem manajemen
lingkungan; dan
d) akibat yang mungkin terjadi bila prosedur tidak
dilaksanakan.
dan tanggap darurat (lihat 4.4.7);
c) konsekuensi potensial dari penyimpangan dari
prosedur yang telah ditetapkan.
Prosedur pelatihan harus mempertimbangkan tingkat
perbedaan dari:
a) tanggung jawab, kemampuan, bahasa dan
ketrampilan; dan
b) risiko
5.5.3 Komunikasi internal 5.5.3 Komunikasi internal 5.5.3 Komunikasi internal 5.5.3 Komunikasi internal
Pimpinan puncak harus memastikan bahwa proses
komunikasi yang sesuai telah ditetapkan dalam organisasi
dan bahwa terjadi komunikasi mengenai efektifitas sistem
manajemen mutu.
7.2.3 Komunikasi pelanggan 7.2.3 Komunikasi pelanggan 7.2.3 Komunikasi pelanggan 7.2.3 Komunikasi pelanggan
Organisasi harus menetapkan dan menerapkan
pengaturan yang efektif untuk komunikasi dengan
pelanggan berkaitan dengan:
a) informasi produk,
b) pertanyaan, penanganan kontrak atau pesanan,
termasuk perubahan, dan
c) umpan balik pelanggan, termasuk keluhan pelanggan.
4.4.3 Komunikasi 4.4.3 Komunikasi 4.4.3 Komunikasi 4.4.3 Komunikasi
Berkaitan dengan aspek lingkungan dan sistem
manajemen lingkungan, organisasi harus menetapkan,
menerapkan dan memelihara prosedur untuk:
a) komunikasi internal antara tingkatan dan fungsi yang
beragam di organisasi tersebut;
b) menerima, mendokumentasikan dan menanggapi
komunikasi yang terkait dari pihak eksternal yang
berkepentingan.
Organisasi harus memutuskan apakah akan melaksanakan
komunikasi kepada pihak eksternal mengenai aspek
lingkungannya dan harus mendokumentasikan keputusan
tersebut. Bila keputusan organisasi adalah melaksanakan
komunikasi eksternal tersebut, maka organisasi harus
menetapkan dan menerapkan metode untuk komunikasi
eksternal tersebut.
4.4.3 Komunikasi, partisipasi da 4.4.3 Komunikasi, partisipasi da 4.4.3 Komunikasi, partisipasi da 4.4.3 Komunikasi, partisipasi dan konsultasi n konsultasi n konsultasi n konsultasi
4.4.3.1 Komunikasi 4.4.3.1 Komunikasi 4.4.3.1 Komunikasi 4.4.3.1 Komunikasi
Sesuai dengan bahaya-bahaya K3 dan sistem manajemen
K3, organisasi harus membuat, menerapkan dan
memelihara prosedur untuk:
a) komunikasi internal antar berbagai tingkatan dan
fungsi dalam organisasi
b) komunikasi dengan para kontraktor dan tamu lainnya
ke tempat kerja
c) menerima, mendokumentasikan dan merespon
komunikasi yang relevan dari pihakpihak eksternal
terkait
4.4.3.2 Partisipasi dan konsultasi 4.4.3.2 Partisipasi dan konsultasi 4.4.3.2 Partisipasi dan konsultasi 4.4.3.2 Partisipasi dan konsultasi
Organisasi harus membuat, menerapkan dan memelihara
prosedur untuk:
a) partisipasi pekerja melalui:
keterlibatannya dan identifikasi bahaya, penilaian
risiko dan penetapan pengendalian;
keterlibatannya dalam penyelidikan insiden;
keterlibatannya dalam pengembangan dan
peninjauan kebijakan dan tujuan K3;
konsultasi di mana ada perubahan yang
berdampak pada K3;
diwakilkan dalam hal-hal terkait K3.
b) Pekerja harus diinformasikan terkait pengaturan
partisipasi, termasuk siapa yang menjadi wakil mereka
dalam halhal terkait K3.
Konsultasi dengan para kontraktor atas
perubahanperubahan yang terjadi dan berdampak pada
K3.
Organisasi harus memastikan, sesuai keperluan,
pihakpihak terkait yang relevan dikonsultasikan terkait
hal-hal K3.
Panduan Komunikasi Panduan Komunikasi Panduan Komunikasi Panduan Komunikasi
Organisasi harus membuat prosedur komunikasi baik
secara internal maupun eksternal terkait bagaimana
informasi K3LH disampaikan ke seluruh tenaga kerja
mapun di luar perusahaan yang memerlukannya.
Komunikasi ditetapkan untuk menjalin manajemen,
tenaga kerja, dan kontraktor untuk saling terlibat dalam
pengendalian bahaya di tempat kerja.
Informasi disampaikan melalui berbagai media seperti
papan pengumuman, spanduk, pamflet, poster, foto, dll.
Informasi K3LH dapat berupa:
Identifikasi bahaya atau aspek penting lingkungan;
Peraturan perundangan K3LH;
Hasil pemantauan & pengukuran lingkungan kerja;
Hasil audit;
Hasil kajian manajemen (P2K3/Safety meeting);

4.2 Persyaratan dokumentasi 4.2 Persyaratan dokumentasi 4.2 Persyaratan dokumentasi 4.2 Persyaratan dokumentasi
4.2.1 Umum 4.2.1 Umum 4.2.1 Umum 4.2.1 Umum
Dokumentasi sistem manajemen mutu harus mencakup:
a) pernyataan terdokumentasi dari kebijakan mutu dan
sasaran mutu,
b) pedoman mutu,
c) prosedur dan rekaman terdokumentasi yang
disyaratkan oleh Standar ini, dan
d) dokumen, termasuk rekaman yang ditetapkan oleh
organisasi perlu untuk memastikan efektifitas
perencanaan, operasi dan kendali prosesnya.
4.4.4 Dokumentasi 4.4.4 Dokumentasi 4.4.4 Dokumentasi 4.4.4 Dokumentasi
Dokumentasi sistem manajemen lingkungan harus
mencakup:
a) kebijakan, tujuan dan sasaran lingkungan;
b) penjelasan lingkup sistem manajemen lingkungan;
c) penjelasan unsur-unsur utama sistem manajemen
lingkungan dan keterkaitannya serta rujukan kepada
dokumen terkait;
d) dokumen, termasuk rekaman, yang disyaratkan oleh
standar ini;
e) dokumen, termasuk rekaman, yang ditentukan oleh
organisasi sebagai dokumen penting untuk
4.4.4 Dokumentasi 4.4.4 Dokumentasi 4.4.4 Dokumentasi 4.4.4 Dokumentasi
Dokumentasi sistem manajemen K3 harus termasuk:
a) kebijakan K3 dan sasaran-sasaran;
b) penjelasan ruang lingkup sistem manajemen K3;
c) penjelasan elemen-elemen inti system manajemen
dan interaksinya, dan rujukannya ke dokumen-
dokumen terkait;
d) dokumen - dokumen, termasuk catatan -catatan, yang
disyaratkan oleh Standar OHSAS ini;
e) dokumen - dokumen, termasuk catatan-catatan, yang
ditetapkan oleh organisasi yang dianggap penting
untuk memastikan perencanaan, operasi dan
Panduan Dokumentasi Panduan Dokumentasi Panduan Dokumentasi Panduan Dokumentasi
Dokumentasi dibuat sesuai dengan keperluan organisasi
agar dapat digunakan, dikendalikan dan dipelihara secara
efektif.
Dokumentasi yang diperlukan dalam sistem manajemen
adalah:
1. Peraturan perundangan yang relevan dengan kegiatan
organisasi;
2. Persyaratan lain yang diacu oleh organisasi;
3. Kebijakan;
4. Manual K3LH;
Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi ISO 9 ISO 9 ISO 9 ISO 9001 001 001 001, ,, , ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001
Berdasarkan lampipran A table A.1 OHSAS 18001:2002


8 88 8 | | | | dikombinasikan berdasarkan lampiran A table A.1 OHSAS 18001:2007 oleh Widiatmoko, Ignatius (ISO Dept. PT. Titan Petrokimia Nusantara)
ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO ISO ISO ISO 1 11 14001:2004 4001:2004 4001:2004 4001:2004 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 18001:2007 8001:2007 8001:2007 8001:2007 PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI
CATATAN 1 Bila dijumpai istilah prosedur
terdokumentasi dalam Standar ini, berarti bahwa
prosedur itu ditetapkan, didokumen-tasikan, dan
dipelihara. Satu dokumen mungkin memenuhi
persyaratan dari satu atau lebih prosedur. Suatu
persyaratan dari prosedur terdokumentasi mungkin dapat
dicakup oleh lebih dari satu dokumen.
CATATAN 2 Cakupan dokumentasi sistem manajemen
mutu dapat berbeda antara sebuah organisasi dengan
organisasi yang lain karena:
a) besarnya organisasi dan jenis kegiatannya,
b) kerumitan proses dan interaksinya, dan
c) kompetensi personelnya.
CATATAN 3 Dokumentasi dapat dalam bentuk atau jenis
media apapun.

memastikan perencanaan, operasi dan pengendalian
proses secara efektif, yang terkait dengan aspek
lingkungan penting.
pengendalian proses yang berhubungan dengan
pengendalian risiko-risiko K3 efektif.
CATATAN Penting diperhatikan bahwa dokumentasi
harus proporsional dilihat dari tingkat kompleksitas,
Bahaya-bahaya dan risiko-risiko dan dibuat seminimum
mungkin untuk efektivitas dan efisiensi.
5. Sasaran & Program K3LH;
6. Struktur organisasi;
7. Identifikasi potensial bahaya & aspek penting
lingkungan;
8. Tugas & tanggung jawab personel;
9. Prosedur/instruksi;
10. Rekaman hasil kegiatan (pemantauan, pengukuran,
inspeksi, kalibrasi, sertifikasi, pelatihan, pemeliharaan,
inciden, kesiagaan darurat, hasil audit, hasil safety
meeting, rapat P2K3, evaluasi penaatan, komunikasi
dengan pihak terkait, daftra hadir, materi pelatihan,
evaluasi pelatian, identifikasi kebutuhan pelatihan,
laporan, job des, dll).
4.2.3 Pengendalian dokumen 4.2.3 Pengendalian dokumen 4.2.3 Pengendalian dokumen 4.2.3 Pengendalian dokumen
Dokumen yang disyaratkan oleh sistem manajemen mutu
harus dikendalikan. Rekaman adalah jenis khusus dari
dokumen dan harus dikendalikan menurut persyaratan
dalam 4.2.4. Harus dibuat suatu prosedur terdokumentasi
untuk menetapkan pengendalian yang diperlukan untuk:
a) menyetujui kecukupan dokumen sebelum diterbitkan,
b) meninjau dan memutakhirkan seperlunya serta untuk
menyetujui ulang dokumen,
c) memastikan bahwa perubahan dan status revisi
terkini dari dokumen diidentifikasi,
d) memastikan bahwa versi yang sesuai dari dokumen
yang berlaku tersedia di tempat penggunaan,
e) memastikan dokumen selalu dapat dibaca dan
mudah dikenali,
f) memastikan bahwa dokumen yang berasal dari luar
yang ditetapkan oleh organisasi perlu untuk
perencanaan dan operasi dari sistem manajemen
mutu, diidentifikasi dan distribusinya dikendalikan,
dan
g) mencegah penggunaan dokumen kadaluarsa yang tak
disengaja dan memberi identifikasi sesuai dengan
dokumen tersebut, apabila disimpan untuk maksud
tertentu.
4.4.5 Pengendalian dokumen 4.4.5 Pengendalian dokumen 4.4.5 Pengendalian dokumen 4.4.5 Pengendalian dokumen
Dokumen yang diperlukan oleh sistem manajemen
lingkungan dan standar ini harus dikendalikan. Rekaman
adalah jenis dokumen khusus dan harus dikendalikan
mengikuti persyaratan pada butir 4.5.4.
Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan
memelihara prosedur untuk:
a) menyetujui dokumen sebelum diterbitkan;
b) meninjau dan memutakhirkan seperlunya serta
menyetujui-ulang (reapprove) dokumen;
c) memastikan agar perubahan dan status revisi
dokumen terakhir dapat diidentifikasi;
d) memastikan agar versi dokumen yang berlaku tersedia
di tempat penggunaan;
e) memastikan agar dokumen tetap terbaca dan dapat
segera diidentifikasi secara mudah;
f) memastikan agar dokumen yang berasal dari pihak
eksternal yang ditetapkan oleh organisasi sebagai
dokumen penting untuk perencanaan dan operasi
sistem manajemen lingkungan, diidentifikasi dan
penyebarannya dikendalikan;
g) mencegah penggunaan dokumen kadaluwarsa dan
menerapkan identifikasi yang cocok pada dokumen
tersebut bila masih disimpan untuk maksud tertentu.
4.4.5 Pengendalian dokumen 4.4.5 Pengendalian dokumen 4.4.5 Pengendalian dokumen 4.4.5 Pengendalian dokumen
Dokumen-dokumen yang disyaratkan untuk system
manajemen K3 dan Standar OHSAS ini harus terkendali.
Catatan merupakan jenis khusus dokumen dan harus
terkendali sesuai dengan persyaratan yang dinyatakan di
4.5.4.
Organisasi harus membuat, menerapkan dan memelihara
prosedur untuk:
a) menyetujui kecukupan - sebelum diterbitkan;
b) meninjau dokumen secara berkala, dirubah bila
diperlukan dan disetujui kecukupannya;
c) memastikan perubahan-perubahan dan status revisi
saat ini dalam dokumen terindetifikasi;
d) memastikan versi yang relevan dari dokumen yang
diterapkan tersedia di tempat penggunaan;
e) memastikan bahwa dokumen-dokumen dapat terbaca
dan dengan cepat teridentifikasi;
f) memastikan bahwa dokumen-dokumen yang berasal
dari luar dan dianggap penting oleh organisasi untuk
perencanaan dan operasi system manajemen K3
diidentifikasikan dan distribusinya terkendali; dan
g) mencegah penggunaan dokumen kadaluarsa dan
menetapkan identifikasi jika dipertahankan untuk
tujuan tertentu.
Panduan Pengendalian Dokumen Panduan Pengendalian Dokumen Panduan Pengendalian Dokumen Panduan Pengendalian Dokumen
Organisasi harus membuat prosedur untuk mengendalikan
dokumen yang diperlukan dalam kegiatannya. Prosedur
mencakup bagaimana organisasi membuat, menyetujui,
meninjau ulang, memelihara dokumen tersebut.
Prosedur yang harus dibuat:
1. Prosedur pengendalian dokumen
2. Prosedur identifikasi bahaya & aspek penting
lingkungan, penilaian risiko dan pengendalian
bahaya;
3. Prosedur identifikasi peraturan perundangan K3LH;
4. Prosedur pelatihan & cara mengevaluasinya;
5. Prosedur komunikasi;
6. Prosedur pengendalian operasi;
7. Prosedur kesiaagaan & tanggap darurat;
8. Prosedur penanganan bahan (kebocoran, tumpahan,
kerusakan, kadaluarsa, dll);
9. Prosedur pengelolaan bahan berbahaya (penerimaan,
pemindahan, penyimpanan, pembuangan);
10. Prosedur pelaporan kecelakaan & penyakit akibat
kerja;
11. Prosedur penyelidikan kecelakaan & penyakit akibat
kerja yang diaporkan;
12. Prosedur pemeliharaan alat, sarana produksi;
13. Prosedur penjaminan sarana produksi dapat
digunakan dengan aman;
14. Prosedur kalibrasi alat yang digunakan untuk
melakukan pemeriksaan, ukur & uji mengenai K3;
15. Prosedur pamantauan & pengukuran;
16. Prosedur pengujian & inspeksi;
17. Prosedur pengendalian produk tidak sesuai;
18. Prosedur evaluai penaatan;
19. Prosedur tindakan pencegahan;
20. Prosedur tindakan perbaikan;
21. Prosedur pengendalian rekaman;
22. Prosedur audit internal;
7. Realisasi Produk 7. Realisasi Produk 7. Realisasi Produk 7. Realisasi Produk 4.4.6 Pengendalian operasional 4.4.6 Pengendalian operasional 4.4.6 Pengendalian operasional 4.4.6 Pengendalian operasional 4.4.6 Pengendalian operasional 4.4.6 Pengendalian operasional 4.4.6 Pengendalian operasional 4.4.6 Pengendalian operasional Panduan pengendalian Operasional: Panduan pengendalian Operasional: Panduan pengendalian Operasional: Panduan pengendalian Operasional:
Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi ISO 9 ISO 9 ISO 9 ISO 9001 001 001 001, ,, , ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001
Berdasarkan lampipran A table A.1 OHSAS 18001:2002


9 99 9 | | | | dikombinasikan berdasarkan lampiran A table A.1 OHSAS 18001:2007 oleh Widiatmoko, Ignatius (ISO Dept. PT. Titan Petrokimia Nusantara)
ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO ISO ISO ISO 1 11 14001:2004 4001:2004 4001:2004 4001:2004 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 18001:2007 8001:2007 8001:2007 8001:2007 PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI
7 77 7. .. .1 11 1 P PP Pe ee er rr re ee en nn nc cc ca aa an nn na aa aa aa an nn n R RR Re ee ea aa al ll li ii is ss sa aa as ss si ii i P PP Pr rr ro oo od dd du uu uk kk k
7 77 7. .. .2 22 2 P PP Pr rr ro oo os ss se ee es ss s y yy ya aa an nn ng gg g B BB Be ee er rr rk kk ka aa ai ii it tt ta aa an nn n d dd de ee en nn ng gg ga aa an nn n P PP Pe ee el ll la aa an nn ng gg gg gg ga aa an nn n
7 77 7. .. .3 33 3 D DD De ee es ss sa aa ai ii in nn n d dd da aa an nn n P PP Pe ee en nn ng gg ge ee em mm mb bb ba aa an nn ng gg ga aa an nn n
7 77 7. .. .4 44 4 P PP Pe ee em mm mb bb be ee el ll li ii ia aa an nn n
7 77 7. .. .5 55 5 P PP Pr rr ro oo od dd du uu uk kk ks ss si ii i d dd da aa an nn n P PP Pe ee en nn ny yy ye ee ed dd di ii ia aa aa aa an nn n J JJ Ja aa as ss sa aa a
7 77 7. .. .6 66 6 P PP Pe ee en nn ng gg ge ee en nn nd dd da aa al ll li ii ia aa an nn n S SS Sa aa ar rr ra aa an nn na aa a P PP Pe ee em mm ma aa an nn nt tt ta aa au uu ua aa an nn n d dd da aa an nn n P PP Pe ee en nn ng gg gu uu uk kk ku uu ur rr ra aa an nn n
Organisasi harus mengidentifikasi dan merencanakan
operasi yang terkait dengan aspek lingkungan penting
yang telah diidentifikasi, sesuai dengan kebijakan, tujuan
dan sasaran lingkungan agar operasi tersebut dilaksanakan
pada kondisi tertentu, dengan:
a) menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur
terdokumen-tasi untuk mengendalikan situasi yang
tidak sesuai dengan kebijakan, tujuan dan sasaran
lingkungan apabila prosedur tersebut tidak ada; dan
b) menetapkan kriteria operasi dalam prosedur; dan
c) menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur
yang terkait dengan aspek lingkungan penting yang
telah diidentifikasi pada barang dan jasa yang
digunakan oleh organisasi serta mengkomuni-kasikan
prosedur dan persyaratan yang berlaku kepada
pemasok, termasuk kontraktor.
Organisasi harus mengidentifikasi operasio-perasi dan
kegiatankegiatan yang berkaitan dengan bahaya-bahaya
yang teridentifikasi di mana kendali pengukuran perlu
dilakukan untuk mengendalian risikorisiko K3. Hal ini
harus termasuk manajemen perubahan (lihat 4.3.3).
Untuk operasioperasi dan kegiatan-kegiatan tersebut,
organisasi harus menerapkan dan memelihara:
a) kendali-kendali operasional, sesuai keperluan
organisasi dan aktivitas-aktivitasnya; organisasi harus
mengintegrasikan kendali-kendali operasionalnya ke
dalam sistem manajemen K3 secara keseluruhan;
b) pengendalian terkait pembelian material, peralatan
dan jasa-jasa;
c) pengendalian terkait para kontraktor dan tamu-tamu
lain ke tempat kerja;
d) mendokumentasikan prosedur-prosedur, mencakup
situasi-situasi di mana ketiadaannya dapat
menyebabkan penyimpangan-penyimpangan dari
kebijakan dan tujuan-tujuan K3;
e) kriteria - kriteria operasi yang telah ditetapkan di
mana ketiadaannya dapat menyebabkan
penyimpangan-penyimpangan dari kebijakan dan
tujuan-tujuan K3.

8.3 Pengendalian produk yang tidak 8.3 Pengendalian produk yang tidak 8.3 Pengendalian produk yang tidak 8.3 Pengendalian produk yang tidak
sesuai sesuai sesuai sesuai
Organisasi harus memastikan bahwa produk yang tidak
sesuai dengan persyaratan produk diidentifikasi dan
dikendalikan untuk mencegah penggunaan atau
penyerahan yang tidak dikehendaki.
Prosedur terdokumentasi harus ditetapkan untuk
mendefinisikan pengendalian dan tanggung jawab terkait
dan kewenangan untuk menangani produk yang tidak
sesuai.
Apabila memungkinkan untuk diterapkan, organisasi
harus menangani produk yang tidak sesuai dengan satu
atau lebih dari cara berikut:
a) dengan melakukan tindakan untuk menghilangkan
ketidaksesuaian yang terdeteksi;
a) dengan membolehkan peng-gunaan, pelepasan atau
penerimaan melalui konsesi oleh pihak yang
berwenang dan apabila mungkin, oleh pelanggan;
b) dengan melakukan tindakan untuk mencegah
penggunaan atau aplikasi awal yang dimaksudkan;
b) dengan mengambil tindakan yang sesuai terhadap
pengaruh, atau pengaruh yang potensial, dari
ketidaksesuaian ketika produk yang tidak sesuai
dideteksi setelah penyerahan atau penggunaan telah
dimulai.
Apabila produk yang tidak sesuai dikoreksi maka harus
dilakukan verifikasi ulang untuk memperagakan
kesesuaian terhadap persyaratan tersebut.
Rekaman ketidaksesuaian dan tindakan berikutnya,
termasuk konsesi yang diperoleh, harus dipelihara (lihat
4.2.4).
4.4.7 Kesiagaan dan tanggap darurat 4.4.7 Kesiagaan dan tanggap darurat 4.4.7 Kesiagaan dan tanggap darurat 4.4.7 Kesiagaan dan tanggap darurat
Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan
memelihara prosedur untuk mengidentifikasi potensi
situasi darurat dan kecelakaan, yang dapat menimbulkan
dampak lingkungan serta bagaimana organisasi akan
menanggapinya.
Organisasi harus melakukan tindakan terhadap situasi
darurat dan kecelakaan yang terjadi serta mencegah atau
mengatasi dampak lingkungan negatif yang ditimbulkan.
Organisasi harus meninjau prosedur kesiagaan dan
tanggap darurat secara berkala dan apabila diperlukan
organisasi menyempurnakan prosedur tersebut, khususnya
setelah terjadinya kecelakaan atau situasi darurat.
Organisasi juga harus menguji prosedur tersebut secara
berkala apabila dapat dilaksanakan.
4.4.7 Kesiapsiagaan dan tanggap darurat 4.4.7 Kesiapsiagaan dan tanggap darurat 4.4.7 Kesiapsiagaan dan tanggap darurat 4.4.7 Kesiapsiagaan dan tanggap darurat
Organisasi harus membuat, menerapkan dan memelihara
prosedur:
a) untuk mengidentifikasi potensi keadaan darurat;
b) untuk menanggapi keadaan darurat.
Organisasi harus menanggapi keaadaan darurat actual dan
mencegah atau mengurangi akibat-akibat penyimpangan
terkait dengan dampakdampak K3.
Dalam perencanaan tanggap darurat organisasi harus
mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan pihak-pihak
terkait yang relevan, misal jasa keadaan darurat dan
masyarakat sekitar.
Organisasi harus pula secara berkala menguji prosedur
untuk menanggapi keadaan darurat, jika dapat dilakukan,
melibatkan pihak-pihak terkait yang relevan sesuai
keperluan.
Organisasi harus meninjau secara periodik dan, bila
diperlukan, merubah prosedur kesiap-siagaan dan tanggap
darurat, secara khusus, setelah pengujian periodik dan
setelah terjadinya keadaan darurat (lihat 4.5.3).
Pand Pand Pand Panduan kesiagaan & Keadaan Darurat uan kesiagaan & Keadaan Darurat uan kesiagaan & Keadaan Darurat uan kesiagaan & Keadaan Darurat
Organisasi harus membuat prosedur untuk
mengidentifikasi bahaya dan kecelakaan, yang dampat
menimbulkan kerugian harta benda, sakit, dan kerusakan
lingkungan, cara penang-gulangan serta pemulihan
kondisi darurat.


Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi ISO 9 ISO 9 ISO 9 ISO 9001 001 001 001, ,, , ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001
Berdasarkan lampipran A table A.1 OHSAS 18001:2002


10 10 10 10 | | | | dikombinasikan berdasarkan lampiran A table A.1 OHSAS 18001:2007 oleh Widiatmoko, Ignatius (ISO Dept. PT. Titan Petrokimia Nusantara)
ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO ISO ISO ISO 1 11 14001:2004 4001:2004 4001:2004 4001:2004 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 18001:2007 8001:2007 8001:2007 8001:2007 PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI
7.6 Peng 7.6 Peng 7.6 Peng 7.6 Pengendalian peralatan pemantauan dan pengukuran endalian peralatan pemantauan dan pengukuran endalian peralatan pemantauan dan pengukuran endalian peralatan pemantauan dan pengukuran
Organisasi harus menetapkan pemantauan dan
pengukuran yang dilakukan dan peralatan pemantau dan
pengukur yang diperlukan untuk memberikan bukti
kesesuaian produk terhadap persyaratan yang ditetapkan.
Organisasi harus menetapkan proses untuk memastikan
bahwa pemantauan dan pengukuran dapat dilakukan dan
dilaksanakan dengan cara konsisten dengan persyaratan
pemantauan dan pengukuran.
Apabila diperlukan untuk memastikan keabsahan hasil,
peralatan pengukuran harus:
a) dikalibrasi atau diverifikasi atau keduanya pada selang
waktu tertentu, atau sebelum digunakan terhadap
standar pengukuran yang tertelusur ke standar
pengukuran internasional atau nasional; apabila
standar tersebut tidak ada, dasar yang digunakan
untuk kalibrasi atau verifikasi harus direkam (lihat
4.2.4);
b) disetel atau disetel ulang secukupnya;
c) memiliki identifikasi guna menetapkan status
kalibrasinya;
d) dijaga keamanannya dari penyetelan yang dapat
membuat hasil pengukurannya tidak sah;
e) dilindungi dari kerusakan dan penurunan mutu
selama penanganan, perawatan dan penyimpanan.
Selain itu, organisasi harus menilai dan merekam
keabsahan hasil pengukuran sebelumnya bila peralatan
ditemukan tidak memenuhi persyaratan. Organisasi harus
melakukan tindakan yang sesuai pada peralatan dan
setiap produk yang terpengaruh.
Rekaman hasil kalibrasi dan verifikasi harus dipelihara
(lihat 4.2.4).
Apabila digunakan dalam pemantauan dan pengukuran
persyaratan tertentu maka kemampuan perangkat lunak
computer untukmemenuhi maksud penggunaannya harus
dikonfirmasi.
Hal ini harus dilakukan sebelum penggunaan awal dan
dikonfirmasi ulang sesuai kebutuhan.
CATATAN Konfirmasi kemampuan perangkat lunak
komputer untuk memenuhi maksud penggunaannya
biasanya mencakup verifikasi dan manajemen konfigurasi
untuk memelihara kesesuaian penggunaan-nya.
8 Pengukuran, analisis, dan perbaikan 8 Pengukuran, analisis, dan perbaikan 8 Pengukuran, analisis, dan perbaikan 8 Pengukuran, analisis, dan perbaikan
8.1 Umum 8.1 Umum 8.1 Umum 8.1 Umum
Organisasi harus merencanakan dan menerapkan proses
pemantauan, pengukuran, analisis dan perbaikan yang
diperlukan untuk:
a) memperagakan kesesuaian terhadap persyaratan
produk,
b) memastikan kesesuaian sistem manajemen mutu, dan
c) terus-menerus memperbaiki efektifitas sistem
manajemen mutu.
Hal ini harus mencakup penetapan metode yang berlaku
4.5 Pemeriksaan 4.5 Pemeriksaan 4.5 Pemeriksaan 4.5 Pemeriksaan
4.5.1 Pemantauan dan pengukuran 4.5.1 Pemantauan dan pengukuran 4.5.1 Pemantauan dan pengukuran 4.5.1 Pemantauan dan pengukuran
Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan
memelihara prosedur untuk secara berkala memantau dan
mengukur karakteristik pokok operasinya yang dapat
menimbulkan dampak lingkungan penting.
Prosedur tersebut harus termasuk pendokumentasian
informasi untuk memantau kinerja, pengendalian
operasional yang berlaku dan pemenuhan tujuan dan
sasaran lingkungan organisasi.
Organisasi harus memastikan agar peralatan pemantauan
dan pengukuran dikalibrasi atau diverifikasi, digunakan
dan dipelihara serta organisasi harus menyimpan rekaman
yang terkait.
4.5 Pemeriksaan 4.5 Pemeriksaan 4.5 Pemeriksaan 4.5 Pemeriksaan
4.5.1 Pemantauan dan pengukuran kinerja 4.5.1 Pemantauan dan pengukuran kinerja 4.5.1 Pemantauan dan pengukuran kinerja 4.5.1 Pemantauan dan pengukuran kinerja
Organisasi harus membuat, menerapkan dan memelihara
prosedur untuk memantau dan mengukur kinerja K3
secara teratur.
Prosedur ini harus dibuat untuk:
a) pengukuran kualitatif dan kuantitatif, sesuai dengan
keperluan organisasi;
b) memantau perluasan yang memungkinkan tujuan K3
organisasi tercapai;
c) memantau efektivitas pengendalian-pengendalian
(untuk kesehatan juga keselamatan);
d) mengukur kinerja secara proaktif untuk memantau
kesesuaian dengan program manajemen K3,
pengendalian dan kriteria operasional;
e) mengkur kinerja secara reaktif untuk memantau
kecelakaan, sakit penyakit, insiden (termasuk nyaris
terjadi, dll.) dan bukti catatan lain penyimpangan
kinerja K3;
f) mencatat data dan hasil pemantauan dan mengukur
kecukupan untuk melakukan analisis tindakan
perbaikan dan pencegahan lanjutan.
Jika peralatan pemantauan digunakan untuk mengukur
dan memantau kinerja, organisasi harus membuat dan
memelihara prosedur untuk kalibrasi dan pemeliharaan
peralatan tersebut, sesuai keperluan.
Catatan hasil kalibrasi dan pemeliharaan dan hasilhasil
harus disimpan.
Panduan Panduan Panduan Panduan Pe Pe Pe Pemantauan, pengukuran, mantauan, pengukuran, mantauan, pengukuran, mantauan, pengukuran, Inspeksi dan Inspeksi dan Inspeksi dan Inspeksi dan
Pengujian Pengujian Pengujian Pengujian
Organisasi membuat prosedur pemantauan, pengukuran,
inspeksi & pengujian terhadap peralatan yang digunakan.
Alat pemantauan dan pengukuran yang dimaksud adalah
alat yang digunakan untuk menentukan kesesuaian
produk, dan alat pengukuran lingkungan kerja. Hampir
semua perusahaan manufaktur menggunakan alat ukur,
paling tidak alat ukur dimensi.
Persyaratan ini dapat dipenuhi dengan membuat
pengaturan tentang bagaimana mengkalibrasi atau
memverifikasi alat ukur, frekwensi kalibrasi, membari
penandaan alat ukur yang layak pakai, penggunaan,
penyimpanan dan memelihara alat ukur agar terhindar
dari kerusakan.
Bila waktu mengkalibrasi ternyata penyimpangan hasil
pengukuran terlalu jauh, organisasi harus melakukan
evaluasi dengan suatu cara terhadap hasil aktifitas
pengukuran yang sudah terlanjur dilakukan menggunakan
alat yang tidak layak tersebut dan mengambil tindakan
yang diperlukan, baik terhadap alat maupun terhadap
produk yang terlanjur diukur oleh alat tersebut.
Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi ISO 9 ISO 9 ISO 9 ISO 9001 001 001 001, ,, , ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001
Berdasarkan lampipran A table A.1 OHSAS 18001:2002


11 11 11 11 | | | | dikombinasikan berdasarkan lampiran A table A.1 OHSAS 18001:2007 oleh Widiatmoko, Ignatius (ISO Dept. PT. Titan Petrokimia Nusantara)
ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO ISO ISO ISO 1 11 14001:2004 4001:2004 4001:2004 4001:2004 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 18001:2007 8001:2007 8001:2007 8001:2007 PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI
termasuk teknik statistik dan cakupan penggunaannya.
8.2 Pemantauan dan 8.2 Pemantauan dan 8.2 Pemantauan dan 8.2 Pemantauan dan pengukuran pengukuran pengukuran pengukuran
8.2.1 Kepuasan pelanggan 8.2.1 Kepuasan pelanggan 8.2.1 Kepuasan pelanggan 8.2.1 Kepuasan pelanggan
Sebagai salah satu pengukuran kinerja sistem manajemen
mutu, organisasi harus memantau informasi berkaitan
dengan persepsi pelanggan apakah organisasi telah
memenuhi persyaratan pelanggan. Metode untuk
memperoleh dan menggunakan informasi ini harus
ditetapkan.
CATATAN Pemantauan persepsi pelanggan dapat
mencakup perolehan masukan dari sumber seperti survei
kepuasan pelanggan, data pelanggan atas kualitas produk
yang diserahkan, survei pendapat pengguna, analisis
kehilangan usaha, bonus (compliment),
klaim jaminan, dan laporan agen.
8.2.3 Pemantauan dan pengukuran proses 8.2.3 Pemantauan dan pengukuran proses 8.2.3 Pemantauan dan pengukuran proses 8.2.3 Pemantauan dan pengukuran proses
Organisasi harus menerapkan metode pemantauan yang
sesuai jika memungkinkan dilaksanakan dengan
pengukuran proses sistem manajemen mutu. Metode ini
harus memperagakan kemampuan proses untuk mencapai
hasil yang direncanakan. Apabila hasil yang direncanakan
tidak tercapai, harus dilakukan koreksi dan tindakan
korektif, seperlunya.
CATATAN Ketika menetapkan metode yang sesuai,
organisasi dianjurkan untukmempertimbangkan jenis dan
cakupan dari pemantauan atau pengukuran yang sesuai
untuk setiap proses dalam hubungannya dengan dampak
terhadap kesesuaian atas persyaratan produk dan
efektifitas dari sistem manajemen mutu.
8.2.4 Pemantauan dan pengukuran produk 8.2.4 Pemantauan dan pengukuran produk 8.2.4 Pemantauan dan pengukuran produk 8.2.4 Pemantauan dan pengukuran produk
Organisasi harus memantau dan mengukur karakteristik
produk untuk melakukan verifikasi bahwa persyaratan
produk tersebut terpenuhi. Hal ini harus dilakukan pada
tahap yang sesuai dari proses realisasi produk menurut
pengaturan yang sudah terencana (lihat 7.1).
Bukti atas kesesuaian dengan kriteria keberterimaan harus
dipelihara.
Rekaman harus menunjukkan personel yang berwenang
melepas produk untuk diserahkan kepada pelanggan
(lihat 4.2.4).
Pelepasan produk atau penyerahan jasa kepada
pelanggan tidak boleh dilanjutkan sampai semua
pengaturan yang direncanakan (lihat 7.1) diselesaikan
secara memuaskan, kecuali jika disetujui oleh yang
berwenang dan
apabila memungkinkan disetujui oleh pelanggan.
8.4 Analisis data 8.4 Analisis data 8.4 Analisis data 8.4 Analisis data
Organisasi harus menetapkan, mengumpulkan, dan
menganalisis data yang sesuai untuk memperagakan
kesesuaian dan efektifitas sistem manajemen mutu serta
mengevaluasi apakah koreksi berkesinambungan dari
sistem manajemen mutu dapat dilakukan.
Hal ini harus mencakup data yang dihasilkan dari
Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi ISO 9 ISO 9 ISO 9 ISO 9001 001 001 001, ,, , ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001
Berdasarkan lampipran A table A.1 OHSAS 18001:2002


12 12 12 12 | | | | dikombinasikan berdasarkan lampiran A table A.1 OHSAS 18001:2007 oleh Widiatmoko, Ignatius (ISO Dept. PT. Titan Petrokimia Nusantara)
ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO ISO ISO ISO 1 11 14001:2004 4001:2004 4001:2004 4001:2004 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 18001:2007 8001:2007 8001:2007 8001:2007 PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI
pemantauan dan pengukuran serta sumber lain yang
sesuai.
Analisis data harus memberikan informasi yang berkaitan
dengan:
a) kepuasan pelanggan (lihat 8.2.1),
b) kesesuaian pada persyaratan produk (lihat 8.2.4)
c) karakteristik dan kecenderungan proses dan produk
termasuk peluang untuk tindakan pencegahan (lihat
8.2.3 dan 8.2.4), dan
d) pemasok (lihat 7.4).
8.2.3 Pemantauan dan pengukuran proses 8.2.3 Pemantauan dan pengukuran proses 8.2.3 Pemantauan dan pengukuran proses 8.2.3 Pemantauan dan pengukuran proses
Organisasi harus menerapkan metode pemantauan yang
sesuai jika memungkinkan dilaksanakan dengan
pengukuran proses sistem manajemen mutu. Metode ini
harus memperagakan kemampuan proses untuk mencapai
hasil yang direncanakan. Apabila hasil yang direncanakan
tidak tercapai, harus dilakukan koreksi dan tindakan
korektif, seperlunya.
CATATAN Ketika menetapkan metode yang sesuai,
organisasi dianjurkan untuk mempertimbangkan jenis dan
cakupan dari pemantauan atau pengukuran yang sesuai
untuk setiap proses dalam hubungannya dengan dampak
terhadap kesesuaian atas persyaratan produk dan
efektifitas dari sistem manajemen mutu.
8.2.4 Pemantauan dan pengukuran produk 8.2.4 Pemantauan dan pengukuran produk 8.2.4 Pemantauan dan pengukuran produk 8.2.4 Pemantauan dan pengukuran produk
Organisasi harus memantau dan mengukur karakteristik
produk untuk melakukan verifikasi bahwa persyaratan
produk tersebut terpenuhi. Hal ini harus dilakukan pada
tahap yang sesuai dari proses realisasi produk menurut
pengaturan yang sudah terencana (lihat 7.1).
Bukti atas kesesuaian dengan kriteria keberterimaan harus
dipelihara.
Rekaman harus menunjukkan personel yang berwenang
melepas produk untuk diserahkan kepada pelanggan
(lihat 4.2.4).
Pelepasan produk atau penyerahan jasa kepada
pelanggan tidak boleh dilanjutkan sampai semua
pengaturan yang direncanakan (lihat 7.1) diselesaikan
secara memuaskan, kecuali jika disetujui oleh yang
berwenang dan apabila memungkinkan disetujui oleh
pelanggan.
4.5.2 Evaluasi Penaatan 4.5.2 Evaluasi Penaatan 4.5.2 Evaluasi Penaatan 4.5.2 Evaluasi Penaatan
Sesuai dengan komitmen terhadap penaatan, organisasi
harus menetapkan, menerapkan dan memelihara
prosedur untuk secara berkala mengevaluasi penaatan
terhadap persyaratan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
Organisasi harus mengevaluasi penaatan terhadap
ketentuan lain yang diikuti organisasi.
Organisasi dapat menggabungkan evaluasi tersebut
dengan evaluasi terhadap penaatan peraturan perundang-
undangan, atau menetapkan prosedur yang terpisah.
Organisasi harus menyimpan rekaman hasil evaluasi
berkala tersebut.
4.5.2 Evaluasi kesesuaian 4.5.2 Evaluasi kesesuaian 4.5.2 Evaluasi kesesuaian 4.5.2 Evaluasi kesesuaian
4.5.2.1 Konsisten dengan komitmen organisasi untuk
kepatuhan (lihat 4.2c)], organisasi harus menetapkan,
menerapkan dan memelihara prosedur untuk secara
periodik mengevaluasi kepatuhannya kepada peraturan
perundangan yang relevan (lihat 4.3.2).
Organisasi harus menyimpan catatan-catatan hasil dari
evaluasi kesesuaian periodiknya.
CATATAN Frekuensi evaluasi periodik bisa bervariasi
sesuai dengan peraturan perundangannya.
Organisasi harus mengevaluasi kepatuhannya dengan
persyaratan lain di mana mendapatkannya (lihat 4.3.2).
Organisasi dapat menggabungkan evaluasi ini dengan
evaluasi kepatuhannya kepada peraturan perundangan
sesuai dengan 4.5.2.1 atau membuat prosedur yang
terpisah.
Organisasi harus menyimpan catatan-catatan hasil dari
evaluasi periodiknya.
CATATAN Frekuensi evaluasi periodik bisa bervariasi
sesuai dengan persyaratan lain di mana organisasi
mendapatkannya.
Panduan Evaluasi Penaatan Panduan Evaluasi Penaatan Panduan Evaluasi Penaatan Panduan Evaluasi Penaatan
1. Evaluasi lingkungan dilakukan dengan
membandingkan hasil pemantauan dengan baku
mutu yang terdapat dalam peraturan lingkungan yang
relevan.
2. Evalluasi lkingkungan kerja juga harus dilakukan tidak
hanya mengenai lingkungan fisik saja, namun
termasuk juga pemenuhan secara administrasi.
3. Organisasi harus membuat prosedur untuk mengatur
bagaimana menangani produk yang tidak sesuai:
Bagamina penandaan atau pemisahannya,
kepada siapa harus dilaporkan, siapa yang
berwenang mengambil keputusan akhir
apakah aproduk harus diperbaiki atau
disingkirkan atau digunakan dengan konsesi.


N NN NA AA A N NN NA AA A 4.5.3 Penyelidikan insiden, ketidaksesuaian, tindakan 4.5.3 Penyelidikan insiden, ketidaksesuaian, tindakan 4.5.3 Penyelidikan insiden, ketidaksesuaian, tindakan 4.5.3 Penyelidikan insiden, ketidaksesuaian, tindakan
perbaikan dan pencegahan perbaikan dan pencegahan perbaikan dan pencegahan perbaikan dan pencegahan
4.5.3.1 Penyelidikan insiden 4.5.3.1 Penyelidikan insiden 4.5.3.1 Penyelidikan insiden 4.5.3.1 Penyelidikan insiden
Organisasi harus membuat, menerapkan dan memelihara
prosedur untuk mencatat, menyelidiki dan menganalisis
insiden-insiden untuk:
a) menetapkan penyebab penyimpangan K3 dan factor-
faktor lain yang dapat menyebabkan atau
berkontribusi atas terjadinya insiden;
b) mengidentifikasi kebutuhan untuk mengambil
tindakan perbaikan;
c) mengidentifikasi kesempatan melakukan tindakan
Panduan Panduan Panduan Panduan P PP Pe ee en nn ny yy ye ee el ll li ii id dd di ii ik kk ka aa an nn n I II In nn ns ss si ii id dd de ee en nn n
Organisasi harus membuat prosedur untuk menyelidiki,
menganalisa setiap kejadian kecelakaan untuk
menetapkan penyebab penyimpangan K3, sehingga dapat
memenuhi kebutuhan dalam pengambilan keputusan
tindakan perbaikan.

Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi ISO 9 ISO 9 ISO 9 ISO 9001 001 001 001, ,, , ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001
Berdasarkan lampipran A table A.1 OHSAS 18001:2002


13 13 13 13 | | | | dikombinasikan berdasarkan lampiran A table A.1 OHSAS 18001:2007 oleh Widiatmoko, Ignatius (ISO Dept. PT. Titan Petrokimia Nusantara)
ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO ISO ISO ISO 1 11 14001:2004 4001:2004 4001:2004 4001:2004 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 18001:2007 8001:2007 8001:2007 8001:2007 PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI
pencegahan;
d) mengidentifikasi kesempatan untuk melakukan
peningkatan berkelanjutan;
e) mengkomunikasikan hasil-hasil dari penyelidikan.
Penyelidikan ini harus dilakukan dalam waktu yang
terukur. Setiap tindakan perbaikan yang diambil atau
kesempatan untuk melakukan tindakan pencegahan harus
terkait dan sesuai dengan 4.5.3.2.
Hasil dari penyelidikan insiden harus didokumentasikan
dan dipelihara.
8.4 Analisis data 8.4 Analisis data 8.4 Analisis data 8.4 Analisis data
Organisasi harus menetapkan, mengumpulkan, dan
menganalisis data yang sesuai untuk memperagakan
kesesuaian dan efektifitas sistem manajemen mutu serta
mengevaluasi apakah koreksi berkesinambungan dari
sistem manajemen mutu dapat dilakukan.
Hal ini harus mencakup data yang dihasilkan dari
pemantauan dan pengukuran serta sumber lain yang
sesuai.
Analisis data harus memberikan informasi yang berkaitan
dengan:
e) kepuasan pelanggan (lihat 8.2.1),
f) kesesuaian pada persyaratan produk (lihat 8.2.4)
g) karakteristik dan kecenderungan proses dan produk
termasuk peluang untuk tindakan pencegahan (lihat
8.2.3 dan 8.2.4), dan
h) pemasok (lihat 7.4).
8.5.2 Tindakan Perbaikan 8.5.2 Tindakan Perbaikan 8.5.2 Tindakan Perbaikan 8.5.2 Tindakan Perbaikan
Organisasi harus melakukan tindakan untuk
menghilangkan penyebab ketidaksesuaian untuk
mencegah keterulangannya. Tindakan korektif harus
sesuai dengan pengaruh ketidaksesuaian yang dihadapi.
Harus ditetapkan prosedur terdokumentasi untuk
menetapkan persyaratan bagi :
a) peninjauan ketidaksesuaian (termasuk keluhan
pelanggan),
b) penetapan penyebab ketidaksesuaian,
c) penilaian kebutuhan tindakan untuk memastikan
bahwa ketidaksesuaian tidak terulang,
d) penetapan dan penerapan tindakan yang diperlukan,
e) rekaman hasil tindakan yang dilakukan (lihat 4.2.4),
dan
f) peninjauan efektifitas tindakan korektif yang
dilakukan.
8.5.3 Tindakan pencegahan 8.5.3 Tindakan pencegahan 8.5.3 Tindakan pencegahan 8.5.3 Tindakan pencegahan
Organisasi harus menetapkan tindakan untuk
menghilangkan penyebab ketidaksesuaian potensial untuk
mencegah terjadinya ketidaksesuaian. Tindakan
pencegahan harus sesuai dengan pengaruh masalah
potensial tersebut.
Harus ditetapkan prosedur terdokumentasi untuk
menetapkan persyaratan bagi:
a) penetapan ketidaksesuaian potensial dan
4.5.3 4.5.3 4.5.3 4.5.3 Ketidaksesuaian, tindakan perbaikan dan tindakan Ketidaksesuaian, tindakan perbaikan dan tindakan Ketidaksesuaian, tindakan perbaikan dan tindakan Ketidaksesuaian, tindakan perbaikan dan tindakan
pencegahan pencegahan pencegahan pencegahan
Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan
memelihara prosedur untuk menangani ketidaksesuaian
yang potensial maupun yang nyata terjadi serta
melaksanakan tindakan perbaikan dan tindakan
pencegahan.
Prosedur tersebut harus menjelaskan persyaratan untuk:
a) mengidentifikasi dan melaksanakan koreksi terhadap
ketidaksesuaian dan melaksanakan tindakan untuk
mengatasi dampak lingkungan yang timbul;
b) menyelidiki ketidaksesuaian, menemukan penyebabnya
dan melaksanakan tindakan untuk menghindari
terulangnya ketidak sesuaian;
c) mengevaluasi keperluan untuk melaksanakan tindakan
pencegahan ketidaksesuaian dan menerapkan tindakan
yang memadai untuk menghindari terjadinya ketidak
sesuaian;
d) merekam hasil tindakan perbaikan dan tindakan
pencegahan yang telah dilaksanakan; dan
e) meninjau efektivitas tindakan perbaikan dan tindakan
pencegahan yang telah dilaksanakan.
Tindakan yang dilaksanakan harus memadai terkait
dengan besarnya masalah dan dampak lingkungan yang
dihadapi.
Organisasi harus memastikan agar dokumentasi sistem
manajemen lingkungan disesuaikan.
4.5.3.2 Ketidaksesuaian, tindakan perbaikan dan tindakan 4.5.3.2 Ketidaksesuaian, tindakan perbaikan dan tindakan 4.5.3.2 Ketidaksesuaian, tindakan perbaikan dan tindakan 4.5.3.2 Ketidaksesuaian, tindakan perbaikan dan tindakan
pencegahan pencegahan pencegahan pencegahan
Organisasi harus membuat, menerapkan dan memelihara
prosedur untuk menangani ketidaksesuaian-
ketidaksesuaian yang aktual dan potensial dan untuk
melakukan tindakan perbaikan dan tindakan pencegahan.
Prosedur harus menetapkan persyaratan-persyaratan
untuk:
a) mengidentifikasi dan memperbaiki ketidaksesuan dan
mengambil tindakan perbaikan untuk mengurangi
dampak K3;
b) menyelidiki ketidaksesuaian, menetapkan penyebab-
penyebab dan mengambil tindakan-tindakan untuk
mencegah terjadi lagi;
c) evaluasi kebutuhan untuk melakukan tindakan
pencegahan dan menerapkan tindakan yang
dirancang untuk mencegah agar tidak terjadi;
d) mencatat dan mengkomunikasikan hasil-hasil tindakan
perbaikan dan tindakan pencegahan yang dilakukan;
e) meninjau efektivitas tindakan perbaikan dan tindakan
pencegahan yang dilakukan.
Bila tindakan perbaikan dan tindakan pencegahan
menimbulkan adanya bahaya-bahaya baru atau yang
berubah atau perlu adanya pengendalian baru atau
diperbaiki, prosedur ini harus mensyaratkan bahwa
tindakan-tindakan yang akan dilaksanakan sudah melalui
penilaian risiko sebelum diterapkan. Setiap tindakan
perbaikan dan tindakan pencegahan yang diambil untuk
menghilangkan akar penyebab ketidaksesuaian yang
aktual dan potensial harus sesuai dengan besarnya
masalah dan seimbang dengan risikorisiko K3 yang
dihadapi.
Organisasi harus memastikan bahwa setiap perubahan
yang timbul dari tindakan perbaikan dan pencegahan
dibuatkan dalam dokumentasi sistem manajemen K3.
Panduan Panduan Panduan Panduan Ketidaksesuaian, tindakan perbaikan dan Ketidaksesuaian, tindakan perbaikan dan Ketidaksesuaian, tindakan perbaikan dan Ketidaksesuaian, tindakan perbaikan dan
tinda tinda tinda tindakan pencegahan kan pencegahan kan pencegahan kan pencegahan
Organisasi harus membuat prosedur untuk mengatur alur
tindakan koreksi dan pencegahan, dimulai dari munculnya
atau teridentifikasinya masalah / potensi masalah,
bagaimana mencari penyebab masalah / potensi masalah
sampai pada peninjauan efektifitas tindakan.
Perhatikan bahwa tindakan koreksi berbeda dengan
penanganan produk tidak sesuai yang dibahas pada
klausul 8.3.
Klausul 8.3 fokus pada bagaimana menangani produk
tidak sesuai (pemisahan, perbaikan produk) sedangkan
tindakan koreksi pada klausul 8.5.2 fokus pada
bagaimana agar, misalnya, tingkat produk tidak sesuai
yang berelebihan (tidak wajar) tidak terulang lagi di masa
depan.
Perhatikan pula bahwa dalam versi 2008, secara ekslisit
peninjauan harus dilakukan atas efektifitas dari tindakan
koreksi, bukan lagi sekedar peninjauan tindakan yang
dilakukan.
Penanganan masalah yang efektif diperlukan agar suatu
masalah yang sama tidak berulang, tidak menjadi masalah
kronis yang menguras enerji dan sumber daya secara terus
menerus.
Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi ISO 9 ISO 9 ISO 9 ISO 9001 001 001 001, ,, , ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001
Berdasarkan lampipran A table A.1 OHSAS 18001:2002


14 14 14 14 | | | | dikombinasikan berdasarkan lampiran A table A.1 OHSAS 18001:2007 oleh Widiatmoko, Ignatius (ISO Dept. PT. Titan Petrokimia Nusantara)
ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO ISO ISO ISO 1 11 14001:2004 4001:2004 4001:2004 4001:2004 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 18001:2007 8001:2007 8001:2007 8001:2007 PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI
penyebabnya,
b) penilaian kebutuhan akan tindakan untuk mencegah
terjadinya ketidaksesuaian,
c) penetapan dan penerapan tindakan yang diperlukan,
d) rekaman hasil tindakan yang dilakukan (lihat 4.2.4),
dan
e) peninjauan efektifitas tindakan pencegahan yang
dilakukan.
4.2.4 4.2.4 4.2.4 4.2.4 Pengendalian rekaman Pengendalian rekaman Pengendalian rekaman Pengendalian rekaman
Rekaman yang ditetapkan untuk memberikan bukti
kesesuaian dengan persyaratan dan beroperasinya sistem
manajemen mutu secara efektif harus dikendalikan.
Organisasi harus menetapkan prosedur
terdokumentasi untuk menentukan pengendalian yang
diperlukan untuk identifikasi, penyimpanan,
perlindungan, pengambilan, masa simpan, dan
pemusnahan rekaman.
Rekaman harus tetap jelas dibaca, siap diidentifikasi,
mudah dicari dan didapatkan kembali.
4.5.4 Pengendalian rekaman 4.5.4 Pengendalian rekaman 4.5.4 Pengendalian rekaman 4.5.4 Pengendalian rekaman
Organisasi harus menetapkan dan memelihara rekaman
yang diperlukan untuk menunjukkan pemenuhan
persyaratan sistem manajemen lingkungannya dan standar
ini, serta hasil yang dicapai.
Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan
memelihara prosedur untuk pengidentifikasian,
penyimpanan, perlindungan, pengambilan, penahanan,
dan pembuangan rekaman.
Rekaman harus tetap terbaca, teridentifikasi dan terlacak.
4.5.4 Pengendalian catatan 4.5.4 Pengendalian catatan 4.5.4 Pengendalian catatan 4.5.4 Pengendalian catatan
Organisasi harus membuat dan memelihara catatan sesuai
keperluan untuk memperlihatkan kesesuaian dengan
persyaratan sistem manajemen K3 organisasi dan Standar
OHSAS ini, serta hasil-hasil yang dicapai.
Organisasi harus membuat, menerapkan dan memelihara
prosedur untuk mengidentifikasi, menyimpan,
melindungi, mengambil, menahan dan membuang
catatancatatan.
Catatan harus dan tetap dapat dibaca, teridentifikasi dan
dapat dilacak.
Panduan Rekaman Panduan Rekaman Panduan Rekaman Panduan Rekaman
Organisasi harus membuat prosedur pengendalian
rekaman yang mencakup peng-identifikasian,
penyimpanan, perlindungan, pengambilan, penyimpanan
dan pembuangan rekaman.
Rekaman meliputi:
1. Peraturan perundangan yang relevan dengan kegiatan
organisasi;
2. Persyaratan lain yang diacu oleh organisasi;
3. Kebijakan;
4. Manual K3LH;
5. Sasaran & Program K3LH;
6. Struktur organisasi;
7. Identifikasi bahaya/aspek lingkungan;
8. Tugas & tanggungjawab personel;
9. Prosedur/instruksi;
10. Izin kerja;
11. Hasil kegiatan pelatihan; inspeksi; kalibrasi;
pemeliharaan; pengukuran & pemantauan; sertifikasi,
inciden, kesiagaant darurat, hasil audit, hasil safety
meeting, rapat P2K3, evaluasi penaatan, komunikasi
dengan pihak terkait, daftra hadir, materi pelatihan,
evaluasi pelatian, identifikasi kebutuhan pelatihan,
laporan dll.
8.2.2 Audit internal 8.2.2 Audit internal 8.2.2 Audit internal 8.2.2 Audit internal
Organisasi harus melakukan audit internal pada selang
waktu terencana untuk menentukan apakah sistem
manajemen mutu
a) memenuhi pengaturan yang direncanakan (lihat 7.1),
terhadap persyaratan standar ini dan persyaratan
sistem manajemen mutu yang ditetapkan oleh
organisasi, dan
b) diterapkan dan dipelihara secara efektif.
Program audit harus direncanakan dengan
mempertimbangkan status serta pentingnya proses dan
area yang diaudit, termasuk hasil audit sebelumnya.
Kriteria, lingkup, frekuensi dan metode audit harus
ditetapkan. Pemilihan auditor dan pelaksanaan audit
harus memastikan objektifitas dan ketidakberpihakan
proses audit. Auditor tidak boleh mengaudit pekerjaan
mereka sendiri.
Prosedur terdokumentasi harus ditetapkan untuk
mendefiniskan tanggung jawab dan persyaratan untuk
perencanaan dan pelaksanaan audit, penetapan rekaman
dan pelaporan hasil.
4.5.5 Audit internal 4.5.5 Audit internal 4.5.5 Audit internal 4.5.5 Audit internal
Organisasi harus memastikan bahwa audit internal
terhadap sistem manajemen lingkungan dilaksanakan
pada jangka waktu yang direncanakan untuk:
a) menentukan apakah sistem manajemen lingkungan:
1. memenuhi pengaturan yang direncanakan untuk
manajemen lingkungan termasuk persyaratan
standar ini; dan
2. telah diterapkan dan dipelihara secara memadai,
serta
b) menyediakan informasi hasil audit bagi manajemen.
Program audit harus direncanakan, ditetapkan, diterapkan
dan dipelihara oleh organisasi, dengan mempertim-
bangkan tingkat kepentingan berbagai operasi dari sisi
lingkungan serta hasil audit sebelumnya.
Prosedur audit harus ditetapkan, diterapkan dan
dipelihara, yang memuat:
tanggungjawab dan persyaratan untuk perencanaan
dan pelaksanaan audit, pelaporan hasil dan penyimpanan
rekaman yang terkait;
penentuan kriteria, lingkup, frekuensi dan metode
4.5.5 Audit internal 4.5.5 Audit internal 4.5.5 Audit internal 4.5.5 Audit internal
Organisasi harus membuat dan memelihara program dan
prosedur untuk pelaksanaan audit sistem manajemen K3
secara berkala, agar dapat:
1. menentukan apakah sistem manajemen K3:
a) sesuai dengan pengaturan yang direncanakan
untuk manajemen K3, termasuk persyaratan
Standar OHSAS ini, dan
b) telah diterapkan dan dipelihara secara baik; dan
c) efektif memenuhi kebijakan dan tujuan-tujuan
organisasi;
2. memberikan informasi tentang hasil audit kepada
pihak manajemen.
a) Program audit harus direncanakan, dibuat,
diterapkan dan dipelihara oleh organisasi, sesuai
dengan hasil penilaian risiko dari aktivitas-
aktivitas organisasi, dan hasil audit waktu yang
lalu.
b) Prosedur audit harus dibuat, diterapkan dan
dipelihara yang menjelaskan:
tanggung jawab, kompetensi, dan persyaratan
untuk merencanakan dan melaksanakan audit,
Panduan Audit Panduan Audit Panduan Audit Panduan Audit
Organisasi harus membuat prosedur audit yang
mencakup tujuan, ruang lingkup, tim audit, program/
jadual audit, metodologi audit, laporan audit, proses
verifikasi dan kaitan audit internal dengan tinjauan
manajemen, tanggungjawab dan persyaratan untuk
perencanaan dan pelaksanaan audit, pelaporan hasil dan
penyimpanan rekaman yang terkait; penentuan kriteria,
lingkup, frekuensi dan metode audit.
Membuat program audit dan jadual Program
menggambarkan ruang lingkup audit seperti departemen,
klausa Standar, prosedur yang harus diperiksa; tim auditor
dan auditee pada area yang diaudit, waktu pelaksanaan.
Membuat daftar periksa (check list) sebagai panduan bagi
tim auditor.
Membuat laporan audit, memantau tindak lanjut hasil
audit dan melaporkan dalam rapat tinjauan manajemen.
Audit dilakukan secara berkala dan minimal satu kali
dalam setahun. Pastikan bahwa auditor telah mempunyai
kompetensi untuk melakukan audit.

Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi Panduan Implementasi ISO 9 ISO 9 ISO 9 ISO 9001 001 001 001, ,, , ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001 ISO 14001 dan OHAS 18001
Berdasarkan lampipran A table A.1 OHSAS 18001:2002


15 15 15 15 | | | | dikombinasikan berdasarkan lampiran A table A.1 OHSAS 18001:2007 oleh Widiatmoko, Ignatius (ISO Dept. PT. Titan Petrokimia Nusantara)
ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 ISO ISO ISO ISO 1 11 14001:2004 4001:2004 4001:2004 4001:2004 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 1 OHSAS 18001:2007 8001:2007 8001:2007 8001:2007 PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI PANDUAN IMPLEMENTASI

Rekaman audit dan hasilnya harus dipelihara (lihat 4.2.4).
Manajemen yang bertanggung jawab atas area yang
diaudit harus memastikan bahwa setiap koreksi dan
tindakan korektif yang perlu dilakukan tanpa ditunda
untuk menghilangkan ketidaksesuaian dan penyebab
ketidaksesuaian yang terdeteksi. Kegiatan tindak lanjut
harus mencakup verifikasi tindakan yang dilakukan dan
pelaporan hasil verifikasi (lihat 8.5.2).
CATATAN Lihat ISO 19011 untuk panduan.
audit.
Pemilihan auditor dan pelaksanaan audit harus
memelihara objektivitas dan kenetralan proses audit.
melaporkan hasil audit dan menyimpan catatan-
catatan terkait: dan
menetapkan kriteria, ruang lingkup, frekuensi dan
metode audit
Pemilihan auditor dan pelaksanaan audit harus
memastikan objektivitas dan independensinya selama
proses audit.
5.6 Tinjauan man 5.6 Tinjauan man 5.6 Tinjauan man 5.6 Tinjauan manajemen ajemen ajemen ajemen
5.6.1 Umum 5.6.1 Umum 5.6.1 Umum 5.6.1 Umum
Pimpinan puncak harus meninjau sistem manajemen mutu
organisasi pada selang waktu terencana untuk memastikan
kesesuaian, kecukupan dan efektifitasnya terus berlanjut.
Tinjauan ini harus mencakup penilaian peluang koreksi
dan keperluan akan perubahan pada sistem manajemen
mutu, termasuk kebijakan mutu dan sasaran mutu.
Rekaman tinjauan manajemen harus dipelihara (lihat
4.2.4).
5.6.2 Masukan untuk tinjauan manajemen 5.6.2 Masukan untuk tinjauan manajemen 5.6.2 Masukan untuk tinjauan manajemen 5.6.2 Masukan untuk tinjauan manajemen
Masukan untuk tinjauan manajemen harus mencakup
informasi tentang:
a) hasil audit,
b) umpan balik pelanggan,
c) kinerja proses dan kesesuaian produk,
d) status tindakan pencegahan dan tindakan korektif,
e) tindak lanjut tinjauan manajemen yang lalu,
f) perubahan yang dapat mempengaruhi sistem
manajemen mutu, dan
g) saran untuk koreksi.
5.6.3 Keluaran 5.6.3 Keluaran 5.6.3 Keluaran 5.6.3 Keluaran dari tinjauan manajemen dari tinjauan manajemen dari tinjauan manajemen dari tinjauan manajemen
Keluaran dari tinjauan manajemen harus mencakup setiap
keputusan dan tindakan yang berkaitan dengan:
a) koreksi pada efektifitas sistem manajemen mutu dan
prosesnya,
b) koreksi pada produk berkaitan dengan persyaratan
pelanggan, dan
c) sumber daya yang diperlukan.

4.6 Tinjauan manajemen 4.6 Tinjauan manajemen 4.6 Tinjauan manajemen 4.6 Tinjauan manajemen
Manajemen puncak harus meninjau sistem manajemen
lingkungan organisasi, pada jangka waktu tertentu, untuk
memelihara kesesuaian, kecukupan dan efektivitas sistem
yang berkelanjutan.
Tinjauan harus termasuk mengkaji kesempatan untuk
perbaikan dan keperluan untuk melakukan perubahan
pada sistem manajemen lingkungan, termasuk kebijakan
lingkungan, tujuan dan sasaran lingkungan.
Rekaman tinjauan manajemen harus disimpan.
Masukan kepada tinjauan manajemen harus termasuk:
a) hasil audit internal dan evaluasi penaatan terhadap
persyaratan peraturan perundangundangan dan
persyaratan lain yang diikuti organisasi;
b) komunikasi dari pihak eksternal yang berkepentingan,
termasuk keluhan;
c) kinerja lingkungan organisasi;
d) tingkat pencapaian tujuan dan sasaran;
e) status tindakan perbaikan dan pencegahan;
f) tindak lanjut tinjauan manajemen sebelumnya;
g) situasi yang berubah, termasuk perkembangan pada
persyaratan peraturan perundangundangan dan
persyaratan lain yang terkait dengan aspek
lingkungan; dan
h) rekomendasi perbaikan.
Keluaran tinjauan manajemen harus termasuk setiap
keputusan dan tindakan terkait dengan perubahan pada
kebijakan, tujuan dan sasaran lingkungan serta unsur lain.
4.6 Tinjauan manajemen 4.6 Tinjauan manajemen 4.6 Tinjauan manajemen 4.6 Tinjauan manajemen
Manajemen puncak harus meninjau sistem manajemen K3
organisasinya, secara terencana, untuk menjamin
kesesuaian, kecukupan dan keefektifannya secara
berkelanjutan. Proses tinjauan manajemen harus termasuk
penilaian kemungkinan-kemungkinan peningkatan dan
kebutuhan perubahan sistem manajemen K3, termasuk
kebijakan K3 dan tujuantujuan K3.
Catatan hasil tinjauan manajemen harus dipelihara.
Masukan tinjauan manajemen harus termasuk:
a) hasil audit internal dan evaluasi kesesuaian dengan
peraturan perundangan dan persyaratan
b) lain yang relevan di mana organisasi menerapkannya;
c) hasil-hasil dari partisipasi dan konsultasi (lihat 4.4.3);
d) komunikasi yang berhubungan dengan pihak-pihak
eksternal terkait, termasuk keluhan-keluhan;
e) kinerja K3 organisasi;
f) tingkat pencapaian tujuan-tujuan;
g) status penyelidikan insiden, tindakan perbaikan dan
pencegahan;
h) tindak lanjut dari tinjauan manajemen sebelumnya;
i) perubahan yang terjadi, termasuk perkembangan
dalam peraturan perundangan dan persyaratan lain
terkait K3; dan
j) rekomendasi peningkatan.
Hasil dari tinjauan manajemen harus konsisten dengan
komitmen organsisasi untuk peningkatan berkelanjutan
dan harus termasuk setiap keputusan dan tindakan yang
terkait dengan kemungkinan perubahan:
1) kinerja K3;
2) kebijakan dan tujuantujuan K3;
3) sumberdaya; dan
4) elemenelemen lain sistem manajemen K3
Hasilhasil yang relevan dengan tinjauan manajemen harus
disediakan untuk kebutuhan komunikasi dan konsultasi
(4.4.3)
Panduan Tinjauan Manajemen Panduan Tinjauan Manajemen Panduan Tinjauan Manajemen Panduan Tinjauan Manajemen
Organisasi harus melakukan tinjauan manajemen secara
berkala minimal satu kali dalam setahun untuk mengkaji
keefektifan sistem manajemen.
Pengkajian oleh organisasi ditujukan untuk peningkatan
perbaikan di dalam sistem manajemen untuk memenhui
kebijakan dan pencapaian tujuan dan sasaran perusahaan.