Anda di halaman 1dari 22

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
1. MORBILI
1.1 Definisi
Morbili (campak) adalah penyakit akut yang sangat menular, disebabkan oleh
infeksi virus yang pada umumnya menyerang anak. Morbili memiliki gejala klinis khas
yaitu terdiri dalam 3 stadium yang masing masing mempunyai ciri khusus, yaitu :
. !tadium masa tunas, diperkirakan " # hari,
#. !tadium prodromal, yang menunjukkan gejala pilek dan batuk yang meningkat dengan
ditemukan enantema pada mukosa pipi$bucal (bercak koplik), faring, dan mukosa
konjunctiva meradang,
3. !tadium akhir, keluarnya ruam dimulai dari belakang telinga menyebar ke muka,
badan, lengan dan kaki. %uam timbul didahului dengan suhu badan meningkat,
selanjutnya ruam menjadi menghitam dan mengelupas.
(,#)
1.2 Epidemiologi
&i 'ndonesia, menurut survai (esehatan %umah )angga, morbili menduduki
tempat ke*+ dalam urutan " macam penyakit utama pada bayi (",,-) dan tempat ke*+
dalam urutan " macam penyakit utama pada anak umur . tahun (",,,-).
Morbili merupakan penyakit endemis, terutama di negara sedang berkembang. &i
'ndonesia penyakit morbili (campak) sudah dikenal sejak lama. &i masa lampau morbili
dianggap sebagai suatu hal yang harus dialami setiap anak, sehingga anak yang terkena
morbili tidak perlu diobati, mereka beranggapan bah/a penyakit morbili dapat sembuh
sendiri bila ruam sudah keluar.
&ari penelitian retospektif dilaporkan bah/a morbili di 'ndonesia ditemukan
sepanjang tahun.
()
1. E!iologi
0enyebabnya ialah virus morbili (termasuk golongan paramyxovirus) yang berada
di sekret nasofaring dan di dalam darah, minimal selama masa tunas dan dalam /aktu
yang singkat sesudah timbulnya ruam. 1ara penularan dengan droplet dan kontak.
",#,3#
1.$ Sif%! An!igeni& 'i()s Mo(*ili
2irus morbili menunjukkan antigenesitas yang homogen, berdasarkan penemuan
laboratorik dan epidemiologik. 'nfeksi dengan virus morbili merangsang pembentukan
Neutralizing antibody, complement fixing antibody, dan Haemagglutinine inhibition
antibody. 'munoglobulin kelas 'gM dan 'g3 distimulasi oleh infeksi morbili, muncul
bersama*sama diperkirakan # hari setelah infeksi dan mencapai titer tertinggi sekitar #
hari. kemudian imunoglobulin kelas 'gM menghilang dengan cepat sedangkan
imunoglobulin kelas 'g3 tinggal tidak terbatas dan jumlahnya terukur. (eberadaan
imunoglobulin kelas 'gM menunjukkan petanda baru terkena infeksi atau baru
mendapatkan vaksinasi, sedangkan 'g3 menunjukkan bah/a pernah terkena infeksi
/alaupun sudah lama. 4ntibodi 'g4 sekretori dapat dideteksi dari sekret nasal dan tidak
diragukan keberadaannya pada seluruh saluran nafas.
&aya efektivitas vaksin virus morbili yang hidup dibandingkan dengan virus
campak yang mati adalah ter/ujudnya 'g4 sekretori yang hanya dapat ditimbulkan oleh
vaksin virus campak hidup.
"1#
1.+ P%!ogenesis
0enularannya sangat efektif, dengan sedikit virus yang infeksius sudah dapat
menimbulkan infeksi pada seseorang. 0enularan morbili terjadi secara droplet melalui
udara, terjadi antara # hari sebelum timbul gejala klinis sampai . hari setelah timbul
ruam. &itempat a/al infeksi, penggandaan virus sangat minimal dan jarang dapat
ditemukan virusnya.
2irus masuk kedalam limfatik lokal, bebas maupun berhubungan dengan sel
mononuklear mencapai kelenjar getah bening lokal. &isini virus memperbanyak diri
dengan sangat perlahan dan disitu mulailah penyebaran ke sel jaringan limforetikuler
seperti limpa. !el mononuklear yang terinfeksienyebabkan terbentuknya sel raksasa
berinti banyak dari 5arthin, sedangkan limfosit ) meliputi klas penekanan (sel )
supresor) dan penolong (sel ) helper) yang rentan terhadap infeksi, aktif membelah.
3ambaran kejadian a/al di jaringan limpoid masih belum diketahui secara
lengkap, tetapi + 6 hari sesudah infeksi a/al, fokus infeksi ter/ujud yaitu ketika virus
masuk kedalam pembuluh darah dan menyebar ke permukaan epitel orofaring,
konjunctiva, saluran nafas, kulit, kandung kemih dan usus.
0ada hari ke 7 " fokus infeksi yang berada di epitel saluran nafas dan
konjunctiva, satu sampai dua lapisan mengalami nekrosis. 0ada saat itu virus dalam
jumlah banyak masuk kembali ke pembuluh darah dan menimbulkan manifestasi klinis
dari sistem saluran nafas dia/ali dengan keluhan batuk pilek disertai selaput konjunctiva
yang tampak merah. %espon imun yang terjadi adalah proses peradangan epitel pada
sistem saluran pernafasan diikuti dengan manifestasi klinis berupa demam tinggi, anak
tampak sakit berat dan ruam yang menyebar keseluruh tubuh, tampak suatu ulsera kecil
pada mukosa pipi yang disebut koplik spot, merupakan tanda pasti untuk menegakkan
diagnosis.
4khirnya muncul ruam makulopapular pada hari ke*. sesudah a/al infeksi dan
pada saat itu antibodi humoral dapat dideteksi. !elanjutnya daya tahan tubuh menurun,
sebagai akibat respons delayed hipersensitivity terhadap antigen virus terjadilah ruam
pada kulit, kejadian ini tidak tampak pada kasus yang mengalami defisit sel*). fokus
infeksi tidak menyebar jauh ke pembuluh darah. 2esikel tampak secara mukroskopik di
epidermis tetapi virus tidak berhasil tumbuh di kulit. 0enelitian dengan imunofluoresens
dan histologik menunjukkan bah/a antigen morbili dan gambaran histologik pada kulit
diduga suatu reaksi arthus. &aerah epitel yang nekrotik di nasofaring dan saluran
pernafasan memberikan kesempatan serangan infeksi bakteri sekunder.
(ekebalan terhadap campak diperoleh setelah vaksinasi, infeksi aktif dan
kekebalan pasif pada seorang bayi yang lahir ibu yang telah kebal (berlangsung selama
tahun).
"1#
8rang*orang yang rentan terhadap campak adalah:
. 9ayi berumur lebih dari tahun.
#. 9ayi yang tidak mendapatkan imunisasi.
3. %emaja dan de/asa muda yang belum mendapatkan imunisasi kedua.
"$#
!eorang anak penderita morbili.
%uam makulopapular pada daerah dahi dan /ajah.
"$#
1., M%nifes!%si Klinis
&iagnosis morbili biasanya dapat dibuat atas dasar kelompok gejala klinis yang
sangat berkaitan, yaitu kori:a dan mata meradang disertai batuk dan demam tinggi dalam
beberapa hari dan diikuti timbulnya ruam yang memiliki ciri khas, yaitu dia/ali dari
belakang telinga untuk kemudian menyebar kemuka, dada, tubuh, lengan dan kaki
bersamaan dengan meningkatnya suhu tubuh dan selanjutnya mengalami hiperpigmentasi
dan mengelupas.
0ada stadium prodromal dapat ditemukan enantema di mukosa pipi yang
merupakan tanda patogomonis morbili, yaitu bercak koplik, meskipun demikian,
menentukan diagnosis perlu ditunjang data epidemiologi. )idak semua kasus
manifestasinya sama dan jelas. !ebagai contoh, pasien yang mengidap gi:i kurang,
ruamnya dapat berdarah dan mengelupas atau pasien sudah meninggal tapi ruamnya
belum timbul. (asus yang mengidap gi:i kurang dapat menderita diare yang
berkelanjutan.
"1#
Koplik's spots resemble grains of salt on the oral mucosa
"$#
;adi, dapat disimpulkan bah/a diagnosis morbili dapat ditegakkan secara klinis,
sedangkan beberapa pemeriksaan penunjang seperti pada pemeriksaan sitologik
ditemukan sel raksasa pada lapisan mukosa hidung dan pipi dan pada pemeriksaan
serologik didapatkan 'gM spesifik. Morbili dapat bermanifestasi tidak khas disebut
morbili atipikal.
"1#
Precede the skin rash. . !he rash of measles can be
extensive.
"$#
)ampak ruam makulopapular pada punggung penderita
morbili.
"$#
1.- Di%gnosis
(riteria yang digunakan dalam pendekatan diagnosis adalah mengenal ri/ayat
penyakit, masa prodromal, karakteristik kelainan kulit, adanya tanda patognomonik serta
uji laboratorik.
0ada umumnya penyakit penyakit eksantema akut pada anak memberikan
imunitas seumur hidup pada penderitanya, dengan konsekuensi adanya ri/ayat penyakit
tersebut akan dapat menyingkirkan penyakit tersebut.
1.. Kompli&%si
0ada penyakit morbili terdapat resistensi umum yang menurun sehingga dapat
terjadi anergi (uji tuberkulin yang semula positif berubah menjadi negatif). (eadaan ini
menyebabkan mudahnya terjadi komplikasi sekunder akibat infeksi sekunder seperti
8titis Media 4kut, <ncefalitis, 9ronkopneumonia.
"1#
1./ Pengo*%!%n
0asien morbili tanpa penyulit dapat berobat jalan. 4nak harus diberikan cukup
cairan dan kalori, sedangkan pengobatan bersifat simtomatik, dengan pemberian
antipiretik, antitusif, ekspektoran, dan antikonvulsan bila diperlukan. !edangkan pada
morbili dengan penyulit, pasien perlu dira/at inap. &i rumah sakit pasien morbili dira/at
dibangsal isolasi sistem pernafasan, diperlukan perbaikan keadaan umum, dengan
memperbaiki keadaan cairan, diet yang memadai. 2itamin 4 "".""" '= per oral satu kali
pemberian, apabila terdapat malnutrisi dilanjutkan +"" '= tiap hari.
"1#
4pabila terdapat penyulit, maka dilakukan pengobatan untuk mengatasi penyulit
yang timbul, yaitu :
. 9ronkopneumonia
&iberikan antibiotik ampicilin "" * #"" mg$kgbb$hari dalam 3 . dosis
intravena dikombinasikan dengan kloramfenikol +" "" mg$kgbb$hari dalam 3
. dosis intravena, sampai gejala sesak berkurang dan pasien dapat minum obat
peroral. 4ntibiotik diberikan sampai 3 hari demam reda. 4pabila dicurigai infeksi
spesifik, maka uji tuberkulin dilakukan setelah anak sehat kembali ( 3 . minggu
kemudian).
#. <nteritis.
0ada keadaan berat anak mudah jatuh dalam dehidrasi. 0emberian cairan
intravena dapat dipertimbangkan apabila terdapat enteritis dengan dehidrasi.
3. 8titis Media.
!eringkali disebabkan oleh karena infeksi sekunder, maka perlu mendapat
antibiotik kotrimoksa:ol sulfametok:asol ()>0) . mg$kgbb$hari dibagi dalam #
dosis.
.. <ncefalopati.
0erlu direduksi jumlah pemberian cairan ? kebutuhan untuk mengurangi edema
otak disamping pemberian kortikosteroid. 0erlu dilakukan koreksi elektrolit dan
gangguan gas darah.
"1#
1.10 P(ognosis
0rognosis baik pada anak dengan keadaan umum baik, tetapi prognosis buruk bila
keadaan umum buruk, anak yang sedang menderita penyakit kronis atau bila ada
komplikasi.
"1#
2. BRON12OPNEUMONIA
2.1 Definisi
9ronchopneumonia merupakan salah satu bagian dari penyakit pneumonia.
9ronchopneumonia adalah suatu infeksi$radang saluran pernafasan akut bagian ba/ah
dari parenkim paru yang melibatkan bronchus$bronchiolus yang berupadistribusi
berbentuk bercak*bercak.
2.2 E!iologi
9erbagai bentuk klinis pneumonia seringkali diklasifikasikan berdasarkan
pembagian serta penyebaran anatominya dan etiologinya.
'. 9erdasarkan anatominya pneumonia dibagi atas :
a. 0neumonia lobaris
b. 0neumonia lobularis (9ronchopneumonia)
c. 0neumonia interstitialis (9ronchiolitis).
''. 9erdasarkan etiologinya dibagi atas :
a. 9akteri : &iplococcus pneumoniae, 0neumococcus, !treptococcus
hemolyticus, !terptococcus aureus, @emophylus influen:a, 9acillus
friedlander, Mycobacterium tuberculosis.
b. 2irus : %espiratory syncytial virus, virus influen:a, adenovirus, virus
sitomegalik.
c. ;amur : @istoplasma capsulatum, 1ryptococcus neoformans, 9lastomyces
dermatitides, 4spergillus spacies, 1andida albicans.
d. 4spirasi : makanan, kerosen ( bensin, minyak tanah), cairan amnion, benda
asing.
e. 0neumonia hipostatik.
f. !indrom loeffler.
!ecara klinis biasa, berbagai etiologi ini sukar dibedakan. =ntuk pengobatan yang
tepat, pengetahuan tentang penyebab pneumonia perlu sekali, sehingga pembagian secara
etiologi lebih rasional daripada pembagian secara anatomis.
2. P%!ogenesis
&alam keadaan sehat pada paru tidak terjadi pertumbuhan microorganisme,
keadaan ini disebabkan oleh adanya mekanisme pertahanan paru.
Masuknya mikroorganisme ke dalam saluran nafas dan paru dapat melalui berbagai cara,
antara lain :
. 'nhalasi langsung dari udara.
#. 4spirasi dari bahan*bahan yang ada di nasofaring dan orofaring.
3. 0erluasan langsung dari tempat*tempat lain.
.. 0enyebaran secara hematogen.
Mekanisme daya tahan tractus respiratorius bagian ba/ah sangat efisien untuk
mencegah infeksi dan terdiri dari :
. !usunan anatomis rongga hidung.
#. ;aringan limfoid di naso*oro*faring.
3. 9ulu getar yang meliputi sebagian besar epitel tractus respiratorius dan sekret yang
dikeluarkan oleh sel epitel tersebut.
.. %efleks batuk.
+. %efleks epiglotis yang mencegah terjadinya aspirasi sekret yang terinfeksi.
6. &rainase sistem limfatik dan fungsi menyaring kelenjar limfe regional.
,. Aagositosis, aksi en:imatik dan respons imuno*humoral terutama dari imunoglobin 4
('g 4).
9ila pertahanan tubuh tidak kuat maka mikroorganisme penyebab terisap ke paru
perifer melalui saluran nafas menyebabkan reaksi jaringan berupa edema yang
mempermudah proliferasi dan penyebaran kuman.
0roses radang bronchopneumonia dapat dibagi atas . stadium yaitu :
. !tadium kongesti : kapiler melebar dan kongesti serta di dalam alveolus terdapat
eksudat jernih, bakteri dalam jumlah banyak, beberapa neutrophil dan makrofag.
#. !tadium hepatisasi merah : lobus dan lobulus yang terkena menjadi padat dan tidak
mengandung udara, /arna menjadi merah dan pada perabaan seperti hepar. &alam
alveolus didapatkan fibrin, leukosit, neutrophil, eksudat, eritrosit, dan kuman.
!tadium ini berlangsung sangat pendek.
3. !tadium hepatisasi kelabu : kelanjutan proses infeksi, lobus masih tetap padat dan
/arna merah menjadi pucat kelabu. 0ada stadium ini ditandai oleh terjadinya deposisi
fibrin di atas permukaan pleura serta adanya fibrin dan leukosit*leukosit
polimorphonuclear dalam ruangan alveolus dimana fagositosis berlangsung cepat.
(apiler tidak lagi kongestif.
.. !tadium resolusi : eksudat berkurang. &alam alveolus makrofag bertambah dan
leukosit mengalami nekrosis dan degenerasi lemak. Aibrin diresorbsi dan menghilang.
2.$ 3e4%l% Klinis
9ronchopneumonia biasanya didahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas
selama beberapa hari. !uhu dapat naik sangat mendadak sampai 37*."B1 dan mungkin
disertai kejang karena demam yang tinggi. 4nak mengalami kegelisahan, kecemasan,
kesukaran pernafasan. (esukaran pernafasan di/ujudkan dalam bentuk nafas cepat dan
dangkal, pernafasan cuping hidung, retraksi pada daerah supraclavikuler, ruang*ruang
intercostal. !ianosis sekitar mulut dan hidung. (adang*kadang disertai muntah dan diare.
0ada a/alnya batuk jarang ditemukan tetapi dapat dijumpai pada perjalanan penyakit
lebih lanjut, mula*mula batuk kering kemudian menjadi produktif.
0ada pemeriksaan fisik didapatkan :
'nspeksi : 0ernafasan cuping hidung(C), sianosis sekitar hidung dan
mulut, retraksi sela iga.
0alpasi : !tem fremitus yang meningkat pada sisi yang sakit.
0erkusi : !onor memendek sampai beda
4uskultasi : !uara pernafasan mengeras ( vesikuler mengeras )disertai
ronki basah gelembung halus sampai sedang.
(.)
0ada bronchopneumonia hasil pemeriksaan fisik tergantung pada luas daerah yang
terkena. 0ada perkusi thoraks sering tidak ditemukan kelainan. 0ada auskultasi mungkin
hanya terdengar ronchi basah nyaring halus atau sedang.
2.+ Peme(i&s%%n L%*o(%!o(i)m
. 3ambaran darah menunjukkan jumlah sel meningkat (leukositosis) mencapai +."""
.".""" $mmD dengan pergeseran ke kiri. ;umlah leukosit uang kurang dari
(leukopenia) +""" $mmD sering berhubungan dengan prognosis penyakit yang buruk.
#. >ilai @b biasanya tetap normal atau sedikit menurun.E<& Meningkat
3. (uman penyebab dapat dibiakkan dari usapan tenggorokan dan 3"- dari darah.
.. =rin biasanya ber/arna lebih tua mungkin terdapat albuminuria ringan karena suhu
yang naik dan sedikit thoraF hialin.
+. 0ada pemeriksaan radiologis terdapat bercak*bercak infiltrat pada satu atau beberapa
lobus.
2., Peme(i&s%%n R%diologis
0ada pemeriksaan radiologist memberikan gambaran yang bervariasi berupa
bercak konsolidasi yang merata.
foto 04.
3ambaran radiologi
0><=M8>'4.
)ampak daerah radio*
opak pada segmen paru
tengah berupa suatu
proses
konsolidasi$peradangan.
foto lateral.
2.- Di%gnosis B%nding
. 9ronchopneumonia.
#. 9ronchiolitis.
3. )91 0aru.
.. 4telektasis.
+. 4bses 0aru.
2.. Pen%!%l%&s%n%%n
!ebaiknya pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi, tetapi
berhubung hal ini tidak selalu dapat dikerjakan dan memerlukan /aktu yang lama, maka
dalam praktek diberikan pengobatan polifragmasi. 0enisilin diberikan +"."""
iu$kgbb$hari dan ditambah dengan kloramfenikol +" ,+ mg$kgbb$hari atau diberikan
antibiotika yang mempunyai spectrum luas seperti ampicilin. 0engobatan diteruskan
sampai anak bebas demam selama . + hari. 4nak yang sangat sesak nafasnya
memerlukan pemberian cairan intravena dan oksigen. ;enis cairan yang diberikan adalah
campuran glukosa + - dan >a1l ",7- dengan perbandingan 3 : , ditambah larutan (1E
" m<G$+"" ml botol infuse.
(arena ternyata sebagian besar penderita jatuh ke dalam asidosis metabolic
akibat kurang makan dan hipoksia, dapat diberikan koreksi dengan perhitungan *+ m<G.
0emilihan antibiotika berdasarkan etilogi ( kultur ).
Mikroorganisme 4ntibiotika
!treptokokus
!tafilokokus
M. pneumonia
@ . 'nfluen:ae
(lebsiela
0. aeruginosa
0enisilin 3 "".""" unit$kg$hari$iv.
0enisilin semisintetik (>afsilin #"" mg$kg$hari$iv atau
4mpisilin "" mg$kgbb$hari$ atau
!eftriakson ,+*#"" mg$kgbb$hari.
<ritromisin + mg$kgbb$hari.
(loramfenikol "" mg$kgbb$hari atau
(anamisin ,,+ mg$kgbb$# jam atau gentamisin.
(arbenisilin ditambah sefalosporin.
2./ P(ognosis
&engan pemberian antibiotika yang tepat dan adekuat yang dimulai secara dini
pada perjalanan penyakit tersebut maka mortalitas selama masa bayi dan masa kanak*
kanak dapat diturunkan sampai kurang dari - dan sesuai dengan kenyataan ini
morbiditas yang berlangsung lama juga menjadi rendah.
4nak dalam keadaan malnutrisi energi protein dan yang datang terlambat
menunjukkan mortalitas yang lebih tinggi.
DA5TAR PUSTAKA
. 0oor/o !oedarmo !. !., 3arna @., @adinegoro !. %. !., 9uku 4jar 'lmu (esehatan
4nak, 'nfeksi &an 0enyakit )ropis, <d. , 9alai 0enerbit A(=', ;akarta, #""# H #+
3,.
#. 9ehrman %.<, 2aughan 2.1, >elson, 'lmu (esehtan 4nak, ;ilid #, 0enerbit 9uku
(edokteran <31, ;akarta, 77#.
3. !taf 0engajar 'lmu (esehatan 4nak A(=', 9uku (uliah 'lmu (esehatan 4nak, 2ol. #
dan 3, 9alai 0enerbit A(=', ;akarta, 77, H 6#. I(2ol.#), ##I 3+(2ol.3)
.. Mansjoer 4, 5ardhani 5', (apita !elekta (edokteran, <d. 3, 2ol. #, 0enerbit Media
4esculapius A( =', ;akarta, #""".
S!%!)s O(%ng S%&i!
An%mnes% P(i*%di OS.
>ama : Josua @otman >apitupulu.
=mur : . tahun bulan.
;enis kelamin : laki*laki.
4gama : (risten.
9erat badan masuk : #,+ kg.
)inggi badan : 7" cm.
)anggal masuk : 3" ;uli #""6
4lamat : ;ln. 0elangi, 3g. )ape >auli, >o. +, Medan.
An%mnes% Mengen%i O(%ng !)% OS.
4yah 'bu
>ama : Marihat >apitupulu. : 9eta !iregar.
=mur : 3" tahun. : 3" tahun.
4gama : (risten. : (risten.
0ekerjaan : 5iras/asta. : '%).
0endidikan : !M4. : !M0.
0erka/inan : . : .
0enyakit : * : *
4lamat : ;ln. 0elangi, 3g. )ape >auli, >o. +, Medan.
Ri6%7%! Kel%8i(%n OS.
)anggal lahir : #I ;uni #""#.
)empat lahir : %!= &r. 0irngadi, Medan.
9erat badan lahir : #.,"" gram.
0anjang lahir : +" cm.
1ara lahir : >ormal, !pontan.
&itolong oleh : &okter.
Pe(&em*%ng%n 5isi&.
Eahir : Menangis kuat.
. bulan : 9elajar tengkurap dan mengangkat kepala.
6 bulan : * !udah bisa tengkurap dan membalikkan badan.
* !udah bisa mengangkat kepala.
I bulan : &apat duduk tanpa dibantu dan merangkak.
tahun : 9erdiri sendiri tanpa dibantu, berjalan dengan
dituntun.
thn s$d sekarang : &apat berdiri, berjalan dan berbicara.
An%mnes% M%&%n%n.
Eahir : 4!' semaunya.
. bulan : 4!' semaunya C bubur susu 3F sehari.
I bulan : 4!' semaunya C nasi saring 3F sehari.
tahun : 4!' C nasi biasa ( nasi lunak C lauk pauk ) C buah
C biscuit.
# tahun s$d sekarang : >asi C lauk pauk.
9uah C biscuit C !usu kaleng.
Im)nis%si.
&0) : *
@epatitis 4 : *
@epatitis 9 : *
1ampak : *
0olio : #F.
913 : F.
(esan 'munisasi : )idak lengkap.
Pen7%&i! 7%ng pe(n%8 dide(i!% : *
Ke!e(%ng%n mengen%i s%)d%(% OS.
. K 6 tahun, sehat.
#. K . tahun bulan , sehat.
3. K . tahun bulan, 8!.
An%mnes% mengen%i pen7%&i! OS. 9
(eluhan utama : &emam.
)elaah :
* &emam dialami 8! sejak 3 hari yang lalu, bersifat terus*menerus, turun
dengan obat penurun panas tapi timbul lagi, menggigil ( * ), kejang ( * ).
* 9atuk ( C ), pilek ( C ), dialami 8! bersamaan dengan demam. 9atuk
berdahak ( C), ber/arna kuning, konsistensi agak kental, disertai sakit
menelan ( C ) dan nafsu makan yang menurun ( C ).
* !esak ( C ), dialami 8! sejak hari yang lalu, yang tidak dipengaruhi oleh
cuaca dan aktivitas.
* Mata merah ( C ), dialami 8! sejak hari yang lalu.
* Muntah ( * ), 94( ( C ) normal, 949 ( C ) normal, mencret ( * ).
* 8! tinggal serumah dengan kakeknya yang menderita penyakit &M dan
batuk*batuk yang lama.
%0) : *
%08 : 8bat penurun panas.
Peme(i&s%%n 5isi&.
. !tatus present.
(=$(0$(3 : !edang$sedang$baik. 4nemis
: ( * ).
!ensorium : 1ompos Mentis. 1yanosis : ( * ).
@% : 36 F$i,reguler. &yspneu : ( C ).
%% : +#F$i,reguler. 8edem : ( * ).
)emperatur : 3I,+
o
1 . 'kterik
: ( * ).
99 masuk : #,+ kg.
)inggi badan : 7" cm.
)ekanan darah :
""
$
6"
Mm@g
#. !tatus Eokalisata
a. (epala.
Mata : 1onjuntiva 8&! hiperemis ( C ),
%eflek cahaya C$C, 0upil isokor kanan L kiri, cekung ( * ).
@idung : 0ernafasan cuping hidung ( C ).
)elinga : )idak ada kelainan.
Mulut : Mukosa bibir hiperemis ( C ), )onsil normal, Aaring
hiperemis.
b. Eeher : 0embesaran (39 ( * ), kaku kuduk ( * ).
c. )horaks
'nspeksi : !imetris Ausiformis, %etraksi intercostal ( C ).
0alpasi : !tem fremitus kanan L kiri, kesan meningkat.
0erkusi : 0aru : !onor memendek.
9atas jantung : 4tas : '1% '' kanan.
(anan : linea parasternalis kanan.
(iri : cm medial linea midclavicularis
kiri.
4uskultasi : !uara pernafasan: vesikuler menguat.
!uara tambahan : ronkhi basah gelembung sedang ( C )
0ada lapangan paru tengah dan ba/ah depan.
%% : +# F$i, reguler.
@% : 36 F$i, reguler, desah ( * ).
d. 4bdomen
'nspeksi : !imetris, rata.
0alpasi : !oepel, @epar$Eimpa tidak teraba, turgor kulit kembali
cepat.
0erkusi : )ympani.
4uskultasi : peristaltic usus (C) normal.
e. <kstremitas
4tas : 0ols 36 F$i, reguler, )$2 cukup, ptechiae ( * ).
%umple Eeeds test ( * ).
9a/ah : oedema ( * ), ptekie ( * ).
f. 3enitalia : K, tidak ada kelainan.
Peme(i&s%%n L%*o(%!o(i)m.
&arah rutin :
@ematokrit : 3.,+ - 3,6 - 3#," -
@emoglobin : ,+ - ,, - ,, -
)rombosit : .#. "
3
$mm
3
.#. "
3
$mm
3
.#. "
3
$mm
3
Eeukosit : 3,.. "
3
$mm
3
3,+. "
3
$mm
3
3,6. "
3
$mm
3
Ring&%s%n.
. 4namnesa
* &emam dialami 8! sejak 3 hari yang lalu, bersifat terus*menerus, turun
dengan obat penurun panas tapi timbul lagi.
* 9atuk ( C ), pilek ( C ), dialami 8! bersamaan dengan demam. 9atuk
berdahak ( C), ber/arna kuning, konsistensi agak kental, disertai sakit
menelan ( C ) dan nafsu makan yang menurun ( C ).
* !esak ( C ), dialami 8! sejak hari yang lalu, yang tidak dipengaruhi oleh
cuaca dan aktivitas.
* Mata merah ( C ), dialami 8! sejak hari yang lalu.
* 94( ( C ) normal, 949 ( C ) normal.
* %i/ayat kontak dengan penderita )9 de/asa tidak jelas.
%0) : *
%08 : 8bat penurun panas.
#. 0emeriksaan Aisik
!tatus 0resent
(=$(0$(3 : sedang$sedang$baik.
!ensorium : 1ompos Mentis
@% : 36 F$i,reguler.
%% : +# F$i,reguler.
)emp : 3I,+
o
1.
99 masuk : #,+ (g.
)ekanan darah :
""
$
6"
mm@g.
!tatus Eokalisata.
a. (epala.
Mata : 1onjuntiva 8&! hiperemis ( C ),
@idung : 0ernafasan cuping hidung ( C ).
)elinga : )idak ada kelainan.
Mulut : Mukosa bibir hiperemis ( C ), tonsil normal, faring
hiperemis.
b. Eeher : 0embesaran (39 ( * ),
c. )horaks.
'nspeksi : %etraksi intercostal ( C ).
0alpasi : !tem fremitus kanan L kiri, kesan melemah.
0erkusi : 0aru : !onor memendek.
9atas jantung : 4tas : '1% '' kanan.
(anan : linea parasternalis kanan.
(iri : cm medial linea midclavicularis
kiri.
4uskultasi : !uara pernafasan: vesikuler menguat.
!uara tambahan : ronkhi basah gelembung sedang ( C )
0ada lapangan paru tengah dan ba/ah depan.
d. 4bdomen
'nspeksi : !imetris, rata.
0alpasi : !oepel, @epar$Eimpa tidak teraba, turgor kulit kembali
cepat.
0erkusi : )ympani.
4uskultasi : peristaltic usus (C) normal.
e. <kstremitas
4tas : 0ols 36 F$i, reguler, )$2 cukup, ptechiae ( * ).
%umple Eeeds test ( * ).
9a/ah : oedema ( * ), ptekie ( * ).
f. 3enitalia : K, tidak ada kelainan.
3. Eaboratorium.
&arah rutin :
@ematokrit : 3.,+ - 3,6 - 3#," -
@emoglobin : ,+ - ,, - ,, -
)rombosit : .#. "
3
$mm
3
.#. "
3
$mm
3
.#. "
3
$mm
3
Eeukosit : 3,.. "
3
$mm
3
3,+. "
3
$mm
3
3,6. "
3
$mm
3
Kes%n : . 0eningkatan @ematokrit M #" -.
#. Eeukosit menurun.
Diffe(en!i%l Di%gnos% : . 9ronkopneumonia C 1onjunctivitis C Aaringitis.
#. )9 0aru C 1onjunctivitis C Aaringitis.
3. &engue @aemoragic Aever.
Di%gnos% Ke(4% : 9ronkopneumonia C 1onjunctivitis C Aaringitis.
Te(%pi :
. 9ed rest.
#. 8# *# Et$mt.
3. '2A& &eFtrose + - C >a1l ",.+ - 3+ gtt$i (mikro).
.. 'nj. 4mpicilin +"" mg$I jam$iv.
+. 'nj. (emicetin #+" mg$6 jam$iv.
6. 2itamin 4 "".""" '=$oral.
,. 0aracetamol 3 F +" mg (pulvis).
I. 4mbroFol # F cth N.
7. &iet M9 .#+" kkal C 3" gram protein.
Us)l : . Aoto toraks 04.
#. (ultur darah dan dahak.
3. MantouF test.
P(ognos% : 9aik.
5OLLO: UP
Peme(i&s%%
n
1 4)li 200, 01 Ag)s!)s 200, 02 Ag)s!)s 200, 0 Ag)s!)s 200,
An%mnes%
demam (C), demam (C), demam (*), demam (*),
batuk (C), batuk (C), batuk (C), batuk (C),
sesak nafas (C), sesak nafas (C), sesak nafas (C), sesak nafas (C),
conjuntiva hiperemis
(C).
conjuntiva hiperemis
(C).
conjuntiva hiperemis
(*).
conjuntiva hiperemis
(*).
sakit menelan (C), sakit menelan (C), sakit menelan (*), sakit menelan (*),
nafsu makan mnrun
(C),
nafsu makan mnrun
(C),
nafsu makan mnrun
(C),
nafsu makan mnrun
(C),
S!%!)s P(esen!
(=$(0$(3 !edang$!edang$9aik.
!ensorium 1ompos mentis
0ols "" F$mt #" F$mt "" F$mt "" F$mt
%% .. F$mt .6 F$mt .# F$mt .. F$mt
)emperatur 3I,I
o
1 37,"
o
1 36,6
o
1 36,6
o
1
dyspnoe ( C )
cyanosis
( * )
4nemia
ikterus
oedem
99 #,+ kg.
Kep%l%
5ajah
%uam makulopapular (C) %uam makulopapular (*)
pada periauricular dan dahi.
pd periauricular O dahi mPalami
hiperpigmentasi.
Mata
%efleks cahaya C$C, pupil isokor kaLki,
1onjunctiva 8&! hiperemis (C) 1onjunctiva 8&! hiperemis (*)
@idung 0ernafasan cuping hidung (C).
0ernfsan cuping hdng
(*)
)elinga !erumen (*), &alam batas normal
Mulut Mukosa bibir hiperemis (C) Mukosa bibir hiperemis (*)
Eeher
0embesaran kelenjar getah bening (*), kaku kuduk (*).
ruam (*) %uam makulopapular (C) @iperpigmentasi (C)
)8%4(!
!imetris fusiformis, !tem fremitus kaLki, (esan meningkat.
%uam makulopapular (C) @iperpigmentasi (C)
!onor memendek
%onki basah gelembung sedang (C) pada lapangan paru tengah, ba/ah, depan.
4bdomen
!imetris, !oepel, @$E tidak teraba, turgor kulit kembali normal, tympani, peristaltik (C)
normal.
%uam makulopapular (C)
<kstremitas
4tas : pols : "" F$mt 4tas : pols : #" F$mt 4tas : pols : "" F$mt 4tas : pols : "" F$mt
%eguler, )$2 cukup %eguler, )$2 cukup %eguler, )$2 cukup %eguler, )$2 cukup
ptekie (*). 0tekie (*), ruam makulopapular (C) @iperpigmentasi (C)
9a/ah : "edem (*), 0tekie (*).
%uam ( * ) %uam makulopapular (C) @iperpigmentasi (C)
3enitalia Eaki * laki, &alam batas normal
PEMERIKSAAN PENUNJAN3
Eaboratoriu
m
MantouF test dilakukan 3 . minggu setelah sembuh.
%adiologi Aoto toraks 04 : !uspek )9 0aru.
&iagnosa
9ronkopneumonia C
9ronkopneumonia C Morbili 1onjunctivitis C
Aaringitis
)@<%40J
9ed rest
8# * # lt$mt
'2A& &eFtrosa +- C >a1l ),.+- **Q 3+ gtt$mt (mikro).
'nj. 4mpicilin +"" mg$I jam$iv.
'nj. (emicetin #+" mg$6 jam$iv.
0aracetamol 3 F +" mg.
4mbroFol # F cth $#.
&iet M9 .#+" kkal C 3" gram protein.