Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Proses gasifkasi telah dikenal sejak abad lalu untuk mengolah batubara,
gambut. Atau kayu menjadi bahan bakar gas yang kini mulai dimanfaatkan. Pada
tahun-tahun terakhir ini. Proses gasifikasi mendapat perhatian kembali di seluruh
dunia, terutama untuk mengolah biomassa sebagai sumber energi alternatif yang
terbaharukan.
Secara sederhana proses gasifikasi dapat dikatakan sebagai reaksi kimia pada
temperatur tinggi antara biomassa dengan udara.
Tahap pengeringan. Akibat pengaruh panas, biomassa mengalami pengeringan
pada temperatur sekitar100C.
Tahap pirolisis. Bila temperatur mencapai 250C., biomassa mulai mengalami
proses pirolisis yaitu perekahan molekul besar menjadi molekul-molekul kecil
akibat pengaruh temperatur tinggi. Proses ini berlangsung sampai temperatur
500C.. Hasil proses pirolisis ini adalah arang, uap air, uap tar, dan gas- gas.
Tahap reduksi. Pada temperatur di atas 600C. arang bereaksi dengan uap air
dan karbon dioksida. Untuk menghasilkan hidrogen dan karbon monoksida
sebagai komponen utama gas hasil.
Tahap oksidasi. Sebagian kecil biomassa atau hasil pirolisis dibakar dengan
udara untuk menghasilkan panas yang diperlukan oleh ketiga tahap tersebut di
atas. Proses oksidasi (pembakaran) ini dapat mencapai temperatur 1200C., yang
berguna untuk proses perekahan tar lebih lanjut.

1.2 Tujuan Pratikum
Adapun beberapa tujuan praktikum yang ingin dicapai dari praktikum adalah
sebagai berikut:
1. Mengetahui waktu tercepat dalam proses pernanasan.
2. Mendapat pengaruh variasi kecepatan udara masuk dan bahan bakar yang
digunakan pada saat pengujian.
3. Mengetahui temperatur api tertinggi pada saat pengujian reaktor.







BAB II
DASAR TEORI



2.1 Teori Umum

Prinsip Dasar Gasikasi Biomassa
Gasikasi adalah proses untuk mengkonversi bahan baku biomassa padat
menjadi bahan bakar gas atau bahan baku kimia (syngas). Proses pernbakaran
menggunakan oksigen yang melebihi kebutuhan stokiometrik, selain itu produk
yang dihasilkan berupa energi panas dan gas yang tidak terbakar. Sementara itu,
proses gasikasi sangat bergantung pada reaksi kirnia yang terjadi pada
temperamr di atas 700C. Hal inilah yang membedakannya dengan proses
biologis seperti proses anaerobik yang menghasilkan biogas.
Gasikasi disebut juga proses pengubahan materi yang mengandung
karbon seperti batubara, minyak bumi, maupun biomassa ke dalam bentuk karbon
monoksida (CO), metana (CH4) dan hidrogen (H2) dengan mereaksikan bahan
baku yang digunakan pada temperatur tinggi dengan jumlah oksigen yang diatur.
Tujuan dari proses ini adalah umuk mengubah unsur-unsur pokok dari bahan
bakar yang digunakan kedalam bentuk gas yang lebih mudah terbakar, sehingga
hanya menyisakan abu dan sisa-sisa material yang tidak terbakar.
Proses gasikasi biomassa dilakukan dengan cara melakukan permbakaran
secara tidak sempurna di dalam sebuah ruangan yang mampu menahan temperatur
tinggi yang disebut reaktor gasikasi. Agar pembakaran tidak sempurna dapat
terjadi, udara dengan jumlah yang lebih sedikit dari kebutuhan stokiometrik
pembakaran dialirkan ke dalam reaktor untuk mensuplai kebutuhan oksigen
menggunakan fan /blower. Proses pembakaran yang terjadi menyebabkan reaksi
termo-kimia yang menghasilkan CO,H2, dan gas metan (CH4). Selain itu, dalam
proses ini juga dihasilkan uap air (H20) dan karbon dioksida (CO2) yang tidak
terbakar.

Faktor Yang Mempengaruhi Proses Gasikasi
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses gaslkasi biomassa pada bahan
bakar yang digunakan antara lain adalah:
1. Kandungan energi bahan bakar yang digunakan
Bahan bakar dengan kandungan energi yang tinggi akan
memberikanpembakaran gas yang lebih baik.
2. Kandungan air bahan bakar yang digunakan
Bahan bakar dengan tingkat kelembaban yang lebih rendah akan
lebih mudah digasiknsikan dari pada bahan bakar dengan tingkat
kelembaban yang lebihtinggi.
3. Bentuk den ukuran bahan bakar
Ukuram bahan bakar yang !ebih kecil memerlukanfan/ blower
dengan teknanyang lebih tinggi. V
4. Disuibusi ukuran bahan bakar
Distribusi ukuran bahan bakar yang tidak seragam akan
menyebabkan bahambakar yang lebih sulit terkarbonisasi, dan
mempengaruhi prosesgasikasi.
5. Temperatur reaktor gasikasi
Temperatur reaktor ketika proses gasikasi berlangsung sangat
mempengaruhiproduksi gas yang dihasilkan. Untuk itu reaktor gasikasi
perlu diberi insuiasiuntuk mempermhankan temperatur di dalam reaktot
temp tinnggi.

Secara umum, urutan dan susunan proses gasikasi dapat dilihat pada
gamabar :



Gambar 2.1 Susunan Proses Gasikasi Biomassa

Perpindahan Panas I Kalor
Konduksi

Pada proses konduks energi termal dipindahkan lewat tumbukan antara
atom- atom dan molekul, walaupun atom-atom atau molekulnya sendiri tidak
berpindah Ketika salah satu ujung sebuh benda dipanaskan molekul-molekul di
ujung tersebut bergerak lebih cepat Kemudian bertumbukan dengan tetangganya
yang bergerak lebih lambat, dan terjadi perpindahan sebagian energi sehingga
lajunya semakin benambah.


Kouveksi

Pada konveksi, kalor dipindahkan lewat perpindahan massa. Walaupun zat
cair dan gas bukan merupakan penghantar kalor yang baik, namun dapat
memindahkan kalor cukup cepat. dengan konveksi. Konveksi melibatkan
pergerakan molekul dalam jamlah yang besar.

Radiasi

Pada proses radiasi, energi dipancarkan dan diserap oleh benda-benda
dalam benluk radiasi gelombang elektromagnetik. Radiasi ini bergerak melalui
ruang dengan kecepatan cahaya. Gelombang radio, gelombang televisi, dan sinar-
X semuanya adalah bentuk radiasi elektro magnetik. Bila benda dalam keadaan
kesetimbangan termal dengan sekitar, maka benda akan memancarkan dan
menyerap energi pada laju yang sama. Namun, apabila benda dipanaskan sampai
temperatur yang lebih tinggi dari pada sekitarnya, maka benda meradiasi keluar
lebih banyak dari pada yang diserap.

Analisa Energi

Aspek penting dalam pembahasan energi adalah hukum termodinamika.
Termodinamika adalah cabang ilmu yang mempelajari perubahan energi dari satu
bentuk energi ke bentuk energi lainnya. Kesetimbangan energi pada suatu sistem
didasarkan pada prinsip amu hukum kekekalan energi yaitu energi tidak dapat
diciptakan atau dimusnahkan. Proses pengolahan pangan melibatkan berbagai
jenis bahan, baik tunggal maupun kombinasi yang masuk maupun keluar dari
suatu tahapan proses.

Kesetimbangan Massa

Di dalam hukum konservatif kekekalan massa diketahui bahwa materi
tidak dapat diciptakan atau dihilangkan, tetapi hanya bentuk dari suatu wujud ke
wujud yang lain. Prinsip ini pun berlaku dalam proses pengolahan pangan, dimana
total input bahan yang masuk ke dalam suatu proses pengolahan akan sama
dengan total outputnya, yang

terjadi adalah perubahan wujud dari bahan yang masuk dan yang keluar. Prinsip
ini dikenal dengan istilah kesetimbangan massa / materi (mass / material balance).
Prinsip dari kesetimbangan massa adalah total berat yang masuk (input) ke
dalam suatu tahap proses atau proses keseluruhan akan sama dengan total berat
dari outpumya. Perubahan yang terjadi adalah perubahan Wujud dari input
menjadi bentuk intinnya. Dalam suatu proses apapun jika tidak ada akurnulasi
dalam peralatanprosesnya, maka jumlah bahan yang masuk akan sama dengan
jumlah yang keluar.
Dengan kata Iain, dalam suatu sistem apapun jumlah materi dalam sistem
akan tetap walaupun terjadi perubahan bentuk atau keadaan sik. Oleh sebab itu,
jumlah bahan yang masuk dalam suam proses pengolahan jumlahnya akan sama
dengan jumlah bahan yang keluar sebagai produk yang dikehendaki ditambah
jumlah yang hilang dan yang terakumulasi dalam peralatan pengolahan. Secara
matematis, perinsip kesetimbangan massa tersebut dapat dinyatakan dengan
persarnaan 2.1 berikut:
Minput = Moutput+ Makumulasi

Ketcrangan : I
M input = massa yang masuk
M output = massa yang keluar
M akumulasi = massa yang terakumulasi

Untuk dapat melakukan evaluasi kesetirnbangan massa dalam suatu tahap proses
atau keseluruhan proses, maka perlu dilakukan identikasi dan spesikasi
seluruhmetode yang masuk kedalam proses tersebut dan dimasukkan dalam
perhitungan. Prinsip ini dapat digunakan dalam menghitung rendemen demi
proses ekstraksi atau sortasi, kehilangan dalam proses, komposisi bahan awal dan
akhir, dan sebagainya.

Kesetimbangan Energi
Kesetimbangan energi pada suatu sistem didasarkan pada prinsip / hukum
kekekalan energi, yaitu bahwa energi tidak dapat diciptakan awn dimusnahkan.
Kesetimbangan energi akan berkesinambungan dengan prinsip kesetimbangan
massa, sehingga prinsip perhitungan yang digunakan kesetimbangan energi mirip
dengan kesetimbangan massa.
Perhitungan kesetimbangan panas hampir sama dengan kesetimbangan
massa,dimana jumlah panas yang rnasuk kedalam sistem harus sama dengan
panas yang meninggalkan sistern. Seperti halnya perhitungan kesetimbangan
massa, penyelesaian masalah kesetimbangan panas juga akan lebih mudah
diilustrasikan dalam bentuk diagram aliran proses yang melibatkan panas, mulai
dari panas masuk kedalam sislem hingga meninggalkan sistcm. Secara sederhana,
prinsip dasar kesetimbangan energi dapat dinyatakan dengan persamaan 2.2
berikut:

E in = E out + E st F. Kusnandar, dan E.
Syamsir

Keterangan :
E in = Energi yang masuk
E out = Energi yang keluar
Est = akumulisi di dalam sistem

Dalam kondisi steady state dimana tidak terjadi akumulasi energi di dalam sistem,
maka persamaan di atas dapat disederhanakan lagi sebagai berikut:

Energi yang rnasuk = energi yang keluar F. Kusnandar, dan E.
Syamsir

Rugi - Rugi Panasl Heat Loss ,
Heatlossdalam instalasi merupakan kerugian energi yang diakibatkan perpindahan
panas dari reaktor sebagai contol volume menuju udara Sekita. Perpindahan panas
terjadi akibat perbedaan temperatur dimana energi berpindah dari energi tinggi ke
energi yang lebih rendah, yang dalam hal ini dapat dirasakan dari temperaturnya.
Heatloss yang diperhitungkan dalam analisa berupa perpindahan panas
secarakonveksi. Perpindahan panas secara konveksi merupakan proses
perpindahan panas pada media dengan fluida mengalir yang terjadi akibat adanya
pergerakan acak atau
tolakan dari molekul uida yang mengalir pada media.

Laju perpindahan panas secara konveksi dirumuskan sebagai berikut :
q conv = h (Ts-Tw) J.P. Holman
1995, 11

dimana:
q"conv = uks panas konveksi (W/ml)
Ts = temperatur permukaan (K)
T = temperatur uida (K)
H = koesien konveksi (W/mz.K)

Dalam menentukan koesien perpindahan panas secara konveksi dipengaruhioleh
beberapa hal, yakni:
Reynolds number (Re)
Reynolds number adalah parameter non-dimensi yang menunjukkan perbandingan
antara gaya inersia dengan gaya gesek yang terjadi Secara umum, bilangan
Reynolds dirumuskan sebagai berikut :
Re = V.L
v
Perpanl. 1983 :96
dimana :
V = kecepatan fluida (rn/s)
L = panjang lintasan (m)
v = koesien gesek kinematis (m/s)
Atau untuk aliran di dalam pipa
Re = V.D
orianto;M.1984 =29
Dimana :
D = diameter pipa (m).


Prandtl number (Pr)
Prandtl number merupakan parameter non-diimensi yang menunjukkan
perbandingan antara viskositas kinematis dengan difustivitas panas.
Pr =
Perpa19:42:95
dirnana :
= viskositas kinematis (m/s)
= diffusivitaspanas (m/s)

Nusselt number (Nu)
Nusselt number adalah parameter non-dimensi yang menunjukan
perbandingam antara koesien perpindahan panas konveksi (h) dengan koesien
perpindahan panas konduksi (k). Ketika aliran berada di dalam pipa, bilangan
Nusselt dipengaruhi oleh bilangan Reynolds yang dapat dicari mealui persamaan
Selain perumusan di atas, bilangan nusselt juga merupakan fungsi dari bilangan
Reynolds dan bilangan Prandtl.
Nu = h
K Perpan.l983:95


Perumusan Nusselt sebagai fungsi dari kedua parameter tersebut,
tergantungpada kondisi aliran. Aliran tergolong aliran external, atau intemal (di
dalam pembatas). Tipe aliran tergolong aliran laminar atau turbulen. Sehingga
perumusan ini digunakan untuk menentukan besarnya perpindahan panas yang
terjadi baik dari dinding luar reaktor maupun pipa tempat keluaran syngas.
Reaktor gasikasi dan pipa burner dimodelkan sebagai circular cylinder dengan
diameter tertentu mengalai perpindahan panas secara konveksi ke udara keliling
yang memiliki kecepatan tenentu. Sehingga perpindahan panas terjadi secara cross
ow terhadap dinding reaktur.
Terdapat dua lipe mode nyala api, yaitu :
Premixed Flame
Premixed ame adalah api yang dihasilkan ketika bahan bakar bercampur
dengan oksigen yang telah tercampur sempurna seluru pemberian sumber api.
Umumnya indikasi premixed flame dapat dilihat dari warna api yang berwarna
biru. Laju pertumbuhan api tergamung dari komposisi kimia bahan bakar yang
digunakan.

Gambar 2.16 Nyala Premixed (www.scielo.og.cc)

Disfusion Flame (Nan-premixed)
Diilsion Flame adalah api yang dihasilkan ketika bahan bakar dan
oksigen bercampur dan penyalaan dilakukan secara bersamaan. Laju difusi
reaktan bisa dipengaruhi oleh energi yang dimiliki oleh bahan bakar.

Gambar 2.17 Nyala Difusion

Selain itu kedua tipe di atas nyala api juga dibedakan berdasarkan jenis aliran
yang terjadi yaitu :
Api Laminar
Visualisasi api yang terlihat pada api tipe ini berbentuk secara
laminarmemiliki bentuk mengikuti streamline aliran tanpa membentuk
turbulensi atau gerakan tidak beraturan

Gambas 2.1 Api laminer

Api turbulen
Api turbulen menunjukan pola aliran nyala api yang tidaik beraturan atau
acak yang memberikan indikasi aliran yang bergerak sangat aktif.

Gambar 2.19 Api turbulen
Pada pembakaran gas hasil gasikasi menunjukan indikasi diskontinuitas
atau Produksi yang cenderung tidak konstan membuat api yang terbentuk juga
mengalamihambatan dalam pertumbuhannya. Gas sebagai reaktan akan
direaksikan bersama oksigen bersamaan dengan saat penyalaan. Kualitas dari
nyala api juga tak lepas dari nilai kalor yang terkandung dalam syngas yang
dihasilkan Oleh proses gasifkasi.
Semakin tinngi kandunganzat yang ammable maka kualitas api juga akan
Semakin tinggi.






















BAB III
METODOLOGI PENGUJIAN



3.1 Alat Dan Bahan
1. Reaktor bawah
2. Reaktor atas.
3. Blower tekan
4. blower hisap
5. Siklon
6. Pembakaran (Burner)
7. Tulup reaktor
8. Pipa keluar syngas
9. Tempat penampung abu
10.Tungku
11. Voltmeter
12. Dimmer
l3. Manometer U

3.2 Gambar Kerja Prosedur Pengujian

instalasi pengujian


4. Gambar : reaklor gasikasi

Keterangan :
1. Reaktor bawah
Merupakan ternpat / media berlangsungnya proses proses
gasikasi (combustiondan reduction).
2. Reaktor atas
Merupakan tempat / media berlangsungnya proses - proses
gasikasi (dryingtlanpyrolysis).
3. Blower tekan
Berfungsi sebagai penyuplai udara ke dalam reaktor untuk
kebutuhan pembakaran
4. Blower hisap
Blower ini berfungsi sebagai penerus (menghisap) gas manpu
bakar atau syngas hasil dari proses gasikasi yang terjadi didalam reaktor
5. Siklon
Bagian yang berfungsi sebagai pemisah antara abu dan tar dengan
gas hasil gasikasi.
6. Pembakaran (Burner)
Alat yang digunakan untuk mereaksikan secara baik antara bahan
bakar dengan
oksidator sehingga dapat tenjadi proses pembakaran.
7. Tutup reaktor
Berfungsi sebagai pencegah keluarnya basil pembakaran hasil
proses gasikasi berlangsung.
8. Pipa keluar syngas
Berfungsi sebagai tempat penyalur gas gasikasi ke burner
(pembakar)
9. Tempai penampung abu
Berfungsi Sebagai penampung abu yang telah tersaring dan
tertampung pada penampung abu.
10. Tungku
Sebagai tempat pengujian memanaskan air.
11. Volmleter
Guna mengukur besar tegangan listrik dalam pengujian
berlangsung.
12. Dimmer
Mengatur voltase arus listrik yang berfungsi sebagi pengatur
kecepatan blower.
13. Manometer U
Guna mengetahu kecepatan udara masuk kedalam reaktor.


3.4 Tabel Data

NO Pembentukan
bara api
(menit ke)
Nyala api hasil
Gasifikasi(menit
ke)
Padam api hasil
gasifikasi(menit
ke)
Star
up
time
Waktu
operasi
Total
waktu
operasi
1
2
3
4


3.5 Analisa data
Data yang akan diambil pada penelitian berbahan baku tongkol jagung ini adalah
sebagai berikut:
1. Kecepatan Udara Masuk (m/s)
2. Waktu Penyalaan Awal (star up time)
Waktu yang dibutuhkan untuk menyalakan tongkol jagung untuk menghasikan
syngas yang sempurna. Parameter ini diukur dari waktu pembakaran kertas
kedalarn reaktor sarnpai syngas yang mudah terbakar di burner.
3. Waktu Opetasi (operation time)
Durasi dari waktu syngas yang mudah terbakar pada burner sarnpai tidak ada lagi
hasil pembakaran syngas pada burner mati.

4. Total Waktu Yang Digunakan (total time)
Adalah waktu total dari awal proses penyalaan awal sampai nyala api di reaktor
5.Fuel Consumtion Rate (F CR)
Jumlah bahan bakar tongkol jagung yang digunakan dalam mengoperasikan
reaktor dibagi dengan waktu operasi.

6.Spesik Gasication Rate (SGR)
Jumlah bahan bakar tongkol jagung yang digunakan per satuan waktu per satuan
luas reaktor.


7. Combustion Zone Rare (CZR)
Adalah waktu yang dibutuhkan untuk zona pembakaran untuk bergerak ke bawah
reaktor

8. uji proses memanaskan air
9. Panas Sensibel (Sh)
ini adalah jumlah energi panas yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu air.

di mana :
Sh = Panas sensible , kkal
MW =M.assaair,kg(1kg/liter) \
Cl, =Pa.m1sspesikair,(1kkal/kg-C)
Tf = Suhu air mendidih ( C)
Ti = Suhu ail sebelum direbus , 27~30 C















Tugas Sebelum Pratikum

1.Jelaskan apa yang dimaksud dengan gasifikasi ?
2.Jelaskan fungsi dari gasifikasi ?
3.Jenis perpindahan panas apa yang terjadi pada alat gasifikasi ?

Jawaban

1. Gasifikasi adalah proses untuk mengkonversi bahan baku biomassa padat
menjadi bahan bakar gas atau bahan baku kimia (syngas). Gasikasi
disebut juga proses pengubahan materi yang mengandung karbon seperti
batubara, minyak bumi, maupun biomassa ke dalam bentuk karbon
monoksida (CO), metana (CH4) dan hidrogen (H2) dengan mereaksikan
bahan baku yang digunakan pada temperatur tinggi dengan jumlah oksigen
yang diatur.

2. Fungsi dari gasifikasi Mengkonversi bahan baku biomassa padat menjadi
bahan bakar gas atau bahan baku kimia (syngas) dengan mereaksikan
bahan baku yang digunakan pada temperatur tinggi dengan jumlah oksigen
yang diatur.

3. Jenis perpindahan panas yang terjadi pada alat gasifikasi
Perpindahan panas secara konduksi
Perpindahan panas secara konveksi
Perpindahan panas secara radiasi
Analisa Energi
Kesetimbangan Massa
Kesetimbangan Energi