Anda di halaman 1dari 11

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Ida Jean Orlando
2.1 1 Deskripsi Teori dan Model
Bagi Ida Orlando (1961), klien adalah individu dengan suatu kebutuhan,
dimana bila kebutuhan tersebut dipenuhi maka stress akan berkurang, meningkatkan
kepuasan atau mendorong pencapaian kesehatan optimal. Teori Orlando secara radikal
mengubah fokus keperawatan dari diagnosa medis klien dan kegiatan-kegiatan otomatis
keprilakuan klien menurut kebutuhan klien yang mendesak dan ditentukan jika kebutuhan
dapat di penuhi dengan tindakan keperawatan.
Teori Orlando menggambarkan mengenai fungsi dari keperawatan secara
profesional sebagai salah satu upaya memenuhi kebutuhan pasien akan pertolongan. Teori
Orlando di fokuskan pada bagaimana menciptakan kemsjusn pada tindakan dari seorang
pasien. Setelah perawat melakukan kebutuhan klien, mereka mendapatkn dampak
kebutuhan pada tingkst kesehatsn klien dan akan bertindak secara otomatis atau
direncanakan untuk memenuhi kebutuhan, yang pada akhirnya untuk menurunksn
tekananatau stres yang di alami oleh klien. Teori Jean Orlando mengandung konsep
kerangka kerja untuk perawat profesional untuk membantu 3 elemen yaitu: perilaku klien,
reaksi dan tindakan keperawatan, mengubah situasi perawat setelah perawat
memperkirakan kebutuhan klien, perawat mengetahui penyebab yang mempengaruhi
derajat kesehatan, lalu bertindak secara spontan atau berkolaborasi untuk memberikan
pelayanan kesehatan. Teori Orlando mendeskripsikan model keperawatannya sebagai
pengembangan dari 5 faktor konsep yang berhubungan yaitu: fungsi dari keperawatan
yang profesional, tingkah laku yang ditujukan oleh pasien selama proses keperawatan,
respon langsung dan respon internal yang diberikan oleh perawat, disiplin dari proses
keperawatan, dan improfisasi dalam melakukan proses keperawatan.

2.1 2 Kelebihan dan Kekurangan Teori Ida Jean Orlando
Kelebihan dari teori Jean Orlando adalah teorinya mengandung konsep
kerangka kerja untuk perawat profesional untuk membantu 3 elemen, yaitu:
1. Perilaku klien, reaksi dan tindakan keperawatan, mengubah situasi perawat setelah
perawat memperkirakan kebutuhan klien
2. Perawat mengetahui penyebab yang mempengaruhi derajat kesehatan
3. Bertindak secara spontan atau berkolaborasi untuk memberikan pelayanan
kesehatan
Lalu mendeskripsikan model keperawatannya sebagai pengembangan dari 5 faktor konsep
yang berhubungan yaitu:
1. Fungsi dari keperawatan yang profesional
2. Tingkah laku yang ditujukan oleh pasien selama proses keperawatan
3. Respon langsung dan respon internal yang diberikan oleh perawat
4. Disiplin dari proses keperawatan
5. Improfisasi dalam melakukan proses keperawatan

Kekurangan dari teori Jean Orlando adalah teorinya secara radikal mengubah
fokus keperawatan dari diagnosa medis klien dan kegiatan-kegiatan otomatis perilaku
klien menurut kebutuhan klien yang mendesak dan ditentukan jika kebutuhan dapat di
penuhi dengan tindakan keperawatan.

2.2 Pender
2.2 1 Konsep Teori dan Model
Perubahan paradigma ini menempatkan perawat pada posisi kunci dalam peran
dan fungsinya. Hampir semua pelayanan promosi kesehatan dan pencegahan penyakit
baik di rumah sakit maupun tataan pelayanan kesehatan lain yang dilakukan oleh
perawat. Perubahan paradigma pelayanan kesehatan dari kuratif ke arah promotif dan
peventif ini telah di respon oleh ahli teori keperawatan Pender dengan menghasilkan
karya tentang Health Promotion Model atau model promosi kesehatan. Model ini
menggabungkan 2 (dua) teori yaitu teori nilai harapan (expectancy value) dan teori
kognitif sosial ( social cognitive theory) yang konsisten dengan semua teori yang
memandang pentingnya promosi kesehatan dan pencegahan penyakit dalam suatu hal
logis dan ekonomis.

2.2 2 Komponen Teori Model Promosi Kesehatan
Adapun komponen elemen dari teori ini adalah sebagai berikut:
1. Teori Nilai Harapan (Expectancy Value Theory)
Menurut teori nilai harapan, prilaku sehat bersifat rasional dan ekonomis.
Seseorang akan mulai bertindak dari perilakunya yang akan tetap digunakan
dalam dirinya, ada dua hal pokok yaitu:
a. Hasil tindakan bersifat positif
b. Pengambilan tindakan untuk menyempurnakan hasil yang diinginkan
2. Teori Kognitif Sosial (Social Cognitive Theory)
Teori model interaksi yang meliputi lingkungan, manusia dan perilaku yang
saling mempengaruhi. Teori ini menekankan pada pengarahan diri (self
direction), pengaturan diri (self regulation), persepsi terhadap kemajuan diri
(self efficacy).

Teori ini mengemukakan bahwa manusia memiliki kemampuan dasar, yaitu:
1) Simbolisasi yaitu proses dan transformasi pengalaman sebagai petunjuk untuk
tindakan yang akan datang.
2) Pikiran ke depan, mengantisipasi kejadian yang akan muncul dan
merancangnya tindakan untuk mencapai tujuan yang bermutu.
3) Belajar dari pengalaman oranglain. Menempatkan peraturan untuk generasi dan
mengatur perilaku melalui observasi tanpa perlu melakukan trial and error.
4) Pengaturan diri menggunakan standar internal dan reaksi evaluasi diri untuk
memotivasi dan mengatur perilaku, mengatur lingkungan eksternal untuk
menciptakan motivasi dalam bertindak.
5) Refleksi diri, berfikir tentang proses seorang dengan secara aktif
memodifikasinya. Menurut teori ini kepercayaan diri dibentuk melalui
observasi dan refleksi diri. Kepercayaan diri terdiri dari:
a. Pengenalan diri (self atribut)
b. Evaluasi diri (self evaluation)
c. Kemajuan diri (self efficacy)

2.2.3 Kekurangan dan Kelebihan Teori Pender

2.3 Madeleine Leininger
2.3.1 Deskripsi Teori dan Model
Keperawatan transkultural merupakan suatu area utama dalam keperawatan
yang berfokus kepada studi komparatif dan analisis tentang kebudayaan dan sub-budaya
yang berbeda di dunia yang menghargai perilaku caring, layanan keperawatan, nilai-nilai,
keyakinan tentang sehat sakit, serta pola-pola tingkah laku yang bertujuan
mengembangkan body of knowladge yang ilmiah dan humanistik guna memberi tempat
praktik keperawatan pada budaya tertentu dan budaya universal (Marriner-Tomey, 1994).
Teori keperawatan transkultural ini menekankan pentingnya peran perawat dalam
memahami budaya klien.
Peran perawat pada trankultural nursing theory ini adalah menjembatani antar
sistem perawatan yang dilakukan masyarakat awam dengan sistem perawatan profesional
melalui asuhan keperawatan. Oleh karena itu perawat harus mampu membuat keputusan
dan rencana tindakan keperawatan yang akan diberikan kepada masyarakat. Jika di
sesuaikan dengan proses keperawatan, hal tersebut merupakan perenanaan, tindakan
keperawatan. Tindakan keperawatan yang diberikan kepada klien harus tetap
memperhatikan 3 (tiga) prinsip asuhan keperawatan, yaitu:
1) Culture care preservation/maintenance, yaitu prinsip membantu, memfasilitasi,
atau mmeperhatikan fenomena budaya guna membantu individu menentukan
tingkat kesehatan dan gaya hidup yang diinginkan.
2) Culture care accommodation/negotiation, yaitu prinsip membantu, memfasilitasi,
atau memperhatikan fenomena budaya yang ada, yang merefleksikan budaya
untuk beradaptasi, bernegosiasi, atau mempertimbangkan kondisi kesehatan dan
gaya hidup individu atau klien.
3) Culture care repatterning/restructuring, yaitu prinsip merekonduksi atau
mengubah desain untuk membantu memperbaiki kondisi kesehatan dan pola
hidup klien ke arah yang lebih baik.

2.3.2 Kerangka Konsep
Tujuan keperawatan dari Leininger yaitu untuk memberikan perawatan yang konsisten
dengan ilmu dan pengetahuan keperawatan dengan caring sebagai fokus sentral (chinn dan
jacobs,1995). Hasil akhir yang diperoleh melalui pendekatan keperawatan transkultural pada
usaha keperawatan adalah tercapainya culture congruent nursing care health and well being,
yaitu asuhan keperawatan yang berkompeten berdasarkan budaya dan pengetahuan kesehatan
yang sensitif, kreatif, serta cara-cara yang bermakna guna mencapai tingkat kesehatan dan
kesejahteraan bagi masyarakat. Kerangka kerja teori ini adalah teori transkultural, caring
merupakan sentral dan menggabungkan pengetahuan dan praktek keperawatan
(leininger,1980).

2.3.3 Kekurangan dan Kelebihan Teori Madeleine Leininger
Kelebihan dari teori leininger, yaitu:
1) Teori ini bersifat komprehensif dan holistik yang dapat memberikan
pengetahuan kepada perawat dalam pemberian asuhan dengan latar
belakang budaya yang berbeda.
2) Teori ini sangat berguna pada setiap kondisi perawatan untuk
memaksimalkan pelaksanaan model-model teori lainnya (teori orem,
king, roy, dll).
3) Penggunaan teori ini dapat mengatasi hambatan faktor budaya yang
akan berdampak terhadap pasien, staf keperawatan, dan terhadap rumah
sakit.
4) Penggunaan teori transkultural dapat membantu perawat untuk
membuat keputusan yang kompeten dalam memberikan asuhan
keperawatan.
5) Teori ini banyak digunakan sebagai acuan dalam penelitian dan
pengembangan praktek keperawatan.
Kelemahan dari teori leininger, yaitu :
1) Teori transkultural bersifat sangat luas sehingga tidak bisa berdiri
sendiri dan hanya digunakan sebagai pendamping dari berbagai macam
konseptual model lainnya.
2) Teori transkultural ini tidak mempunyai intervensi spesifik dalam
mengatasi masalah keperawatan sehingga perlu dipadukan dalam model
teori lainnya.


2.4 Newman
2.4.1 Teori Newman
1. Konsep Keperawatan
Pusat ilmu perawatan pada fasilitas kesehatan seseorang.
2. Konsep Individu
Seseorang merupakan sumber energi yang merupakan bagian dari proses hidup.
3. Alasan Tindakan Keperawatan
Praktek keperawatan membantu seseorang menggunakan sumber untuk mencapai
tingkat kasadaran yang tinggi.
4. Konsep Sehat
Sehat sebagai bagian dari proses hidup, gambaran dari penyakit atau bukan penyakit
yang merupakan pola dasar yang unik bagi manusia yang lambat laun meluar menuju
kesadaran.
5. Konsep Lingkungan
Lingkungan merupakan tempat energi yang merupakan bagian dari proses hidup, yang
berada diluar manusia.

2.4.2 Kerangka Konsep
Tujuan keperawatan Newman yaitu untuk membantu individu, keluarga dan kelompok
untuk mendapatkan dan mempertahankan tingkat kesehatan maksimalnya melalui intervensi
tertentu. Model Neuman mencakup intrapersonal, interpersonal dan stres extrapersonal.
Kerangka kerja teori ini adalah Penurunan atau status adaptasi terhadap stress. Tindakan
keperawatan meliputi tindakan preventif tingkat primer, sekunder, atau tersier yang berfokus
pada variabel yang mempengaruhi respons klien terhadap stresor.


2.5 Resemarie Rizzo Parse
2.5.1 Deskripsi Teori dan Model
Resemarie Rizzo Parse dengan teori human becoming, teori keparawatan yang
memadu perawat untuk pokus pada kualitas hidup dari sudut pandang setiap orang sebagai
tujuan keperawatan. Ingin memberikan alternatif bagi sebagian besar teori-teoeri lain dari
keperawatan, yang mengambil pendekatan bio-medis atau bio-psiko-sosial-spiritual. Teori
human becoming adalah kombinasi dari faktor biologis, fisikologi, sosiologi, spiritual dan
menyatakan bahwa seseorang adalah makhlik kesatuan dalam interaksi terus-menerus dengan
lingkungannya itu.
Hal ini berpusat disekitar tiga tema: makna, rhytmicity, dan transsendensi. Dalam hal
keperrawatan, teori human becoming menjelaskan bahwa seseorang lebih dari pada bagian-
bagian, lingkungan dan orang tidak dapat dipisahkan, dan keperawtan yang merupakan ilmu
pengetahuan manusia dan seni yang menggunakan sebuah badan abstrak pengetahuan untuk
membantu orang. Teori ini memungkinkan perawat untuk menciptakan hubungan perawat
pasien kuat karena perawat tidak pokus kepada memperbaiki masalah, tetapi melihat pasien
sebagai manusia seutuhnya yang hidupnya atau pengalaman melalui lingkunganya.
Teori keperawatan human becoming adalah model yang berfokus pada kualitas hidup
pasien dan melihat pasien bukan sebagai aspek yang berbeda dari keseluruhan, tetapi sebagai
pribadi. Hal ini berbeda dari pada banyak teori-teori keperawatan lainnya, dan memungkinkan
perawat untuk melakukan apa yang begitu banyak dari mereka pergi kebidang keperawtan
untuk membantu orang.

2.6 Teori Erickson, Evelyn M. Tomlin, dan Mary Ann p. Swain
Sebuah teori yang dikembangkan oleh para ahli teori keperawatan Helen C. Erickson,
Evelyn M. Tomlin, dan Mary Ann p. Swain. Buku, permodelan dan Role Modeling mereka:
sebuah teori yang paradigma untuk keperawatan, diterbitkan pada tahun 1983 dari sebuah
sintesis, beberapa konsep yang berhubungan dengan kebutuhan dasar, tugas perkembangan,
lampiran objek, dan potensi mengatasi adaptif, mereka mengembangkan peran mereka sangat
abstrak permodelan teori. Permodelan merujuk pada pengembangan pemahaman tentang
dunia klien. Peran permodelan adalah intervensi keperawatan, atau pemeliharaan yang
membutuhkan penerimaan tanpa syarat. Erickson, Tomlin, dan Swain percaya bahwa,
meskipun orang yang sama persis karena holisme mereka (subsistem berinteraksi ganda),
pertumbuhan seumur hidup, dan perkembangan, mereka juga berbeda karena dana abadi yang
melekat, adaptasi, dan perawatan diri pengetahuan.peran permodelan menyediakan kerangka
kerja untuk memahami cara klien struktur dunia mereka. Erickson, Tomlin dan Swain
keperawatan pandang sebagai model keperawatan diri berdasarkan persepsi klien tentang
dunia dan adaptasi terhadap stressor.


2.7 Husted and Husted
2.7.1 Teori Husted and Husted
Teori keperawatan yang mengembangkan tentang teori bioetika symphonologycal dan
model symphonologycal untuk pengambilan keputusan etis. Symphonology adalah sistem
etika yang melekat dalam komitmen bersama dan kewajiban yang disepakati oleh ahli
kesehatan dan pasien. Pusan untuk perjanjian ini implisit adalah kebutuhan pasien standar
bioetika termasuk otonomi, kebaikan, kesetiaan, kebebasan, objektifitas, dan tuntutan hidup.
Modelini dirancang untuk menyediakan perawat dan proesional kesehatan lainnya dengan
pedoman teoritis untuk pengiriman etika pelayanan.

Symphonology merupakan Sebuah sistem berbasis praktek etika dimaksudkan untuk
menjadi sesuai dengan tujuan pengaturan perawatan kesehatan, peran perawat, dan
kesejahteraan pasien. Hal ini didasarkan pada kesepakatan inplinsit sebuah negara bersama
kesadaran yang interaksi bioetika antara profesional dan pasien. Perawat dimotivasi oleh
sistem kontemporer non berbasis praktek, dipandu oleh motivasi eksternal menjauh dari
pasien dan profesi. Mereka meninggalkan kepedulian terhadapn pasien demi sebuah tugas
yang tidak terkait atau mereka berspekulasi mengenai harapan masyarakat atau mereka
tenggelam












BAB III
PENUTUP

a. Kesimpulan
3.1 kesimpulan
1. Teori Orlando menggambarkan mengenai fungsi dari keperawatan secara
profesional sebagai salah satu upaya memenuhi kebutuhan pasien akan
pertolongan.
2. Teori Pender menghasilkan karya tentang Health Promotion Model atau
model promosi kesehatan. Model ini menggabungkan 2 (dua) teori yaitu
teori nilai harapan (expectancy value) dan teori kognitif sosial ( social
cognitive theory) yang konsisten dengan semua teori yang memandang
pentingnya promosi kesehatan dan pencegahan penyakit dalam suatu hal
logis dan ekonomis.
3. Teori Leininger kerangka kerja teori ini adalah teori transkultural, caring
merupakan sentral dan menggabungkan pengetahuan dan praktek
keperawatan.
4. Teori Newman terdiri dari konsep keperawatan, konsep individu, konsep
tindakan keperawatn, konsep sehat, konsep lingkungan.
5. Teori Parse adalah human becoming, teori keparawatan yang memadu
perawat untuk fokus pada kualitas hidup dari sudut pandang setiap orang
sebagai tujuan keperawatan. human becoming adalah kombinasi dari
faktor biologis, fisikologi, sosiologi, spiritual dan menyatakan bahwa
seseorang adalah makhlik kesatuan dalam interaksi terus-menerus dengan
lingkungannya itu.
6. Teori Erickson, Tomlin and Swain adalah paradigma untuk keperawatan,
diterbitkan pada tahun 1983 dari sebuah sintesis, beberapa konsep yang
berhubungan dengan kebutuhan dasar, tugas perkembangan, lampiran
objek, dan potensi mengatasi adaptif, mereka mengembangkan peran
mereka sangat abstrak permodelan teori. Permodelan merujuk pada
pengembangan pemahaman tentang dunia klien.
7. Teori Husted and Husted adalah teori keperawatan yang mengembangkan
tentang teori bioetika symphonologycal dan model symphonologycal untuk
pengambilan keputusan etis. Symphonology adalah sistem etika yang
melekat dalam komitmen bersama dan kewajiban yang disepakati oleh ahli
kesehatan dan pasien.

3.2 Saran
Diharapkan bagi para pembaca dapat membaca dan melengkapi makalah ini
karena makalah ini jauh dari sempurna, dan juga dengan adanya makalah ini
diharapkan pembaca dapat mengetahui tentang Evidence Based In Nursing khusunya
tentang teori keperawatan.








DAFTAR PUSTAKA
1. Hidayat, A.2004.pengantar konsep dasar keperawatan.jakarta:Salemba Medika.
2. http://selaputs.blogspot.com/2011/02/definisi-arti-pengertian.balai.html
3. http://rsob-online-net/informasi/pengertian-umum.html
4. http://www.depkes.go.id/downloads/pedoman_penilaian_edited.pdf
5. http://wikimedya.blogspot.com/2011/03/defini-fungsi-tujuan-dan-tugas.html
6. Azwar, DR.Dr Azrul.1996.Pengantar Administrasi Kesehatan.jakarta: Binarupa Aksara.
7. http://perpes-no.petunjuk-2006.html
8. http://www.depkes-go.id/downloods/pedomanpenilaian.edited.pdf
9. http://www.puskel.com/pelayanan/.html
10.http://www.tubasmedia.com/berita/sistem-kesehatan-nasional-siapa-yang-
bertanggungjawab/html
11. http://dokter-medis.blogspot.com/2009/07/uu-praktik-kedokteran-no-29-tahun-2004.html
12.http://www.gizikia.depkes.go.id/wp-content/upload/2011/04/permenkes-no-148-ttg-praktik-
pwt-2010.pdf .
13. www.Jamsosiaindonesia.com/jamsosda/detail/100
14. Creasoft.Wordpress.com/2008/04/17/Desa-siaga/.
15. http://mhs.blog,01.ac.id/rani.setrani/2009/11/1045/
16. http://www.bpmpd.baliprof.90.id/informasi/2010/10/landasan-hukum.
17. http://www.scribd.com/girls_lock/d/49834548-200610200948-pedoman-desa-siaga.
18. www.depsos.go.id/modules.php?nem=use&file+artioel&sid=555/
19. www.scribd.com/doc/86858363/resume/kasus/l