Anda di halaman 1dari 35

Kimia Dasar

SUBSCRIBE TO RSS FEED



Air sebagai Pelarut
Tuesday, May 17, 2011 15:45
Pelarut yang sering digunakan adalah air. Hal ini disebabkan karena air merupakan zat yang mudah di dapat
dan mempunyai kemampuan tinggi untuk melarutkan zat. Jika kita sedang memasak sayur,
bermacammacam bumbu kita masukkan untuk mendapatkan rasa yang sedap. Rasa tersebut merupakan
kombinasi rasa dari beberapa macam bumbu yang telah terlarut ...
Baca Selengkapnya | 7 Komentar

Macam-macam Konsentrasi
Saturday, March 6, 2010 15:33
Konsentrasi didefinisikan sebagai jumlah zat terlarut dalam setiap satuan larutan atau pelarut. Pada
umumnya konsentrasi dinyatakan dalam satuan fisik, misalnya satuan berat atau satuan volume dan satuan
kimia, misalnya mol, massa rumus, dan ekivalen. 1. Persen Konsentrasi Dalam bidang kimia sering
digunakan persen untuk menyatakan konsentrasi larutan. Persen konsentrasi dapat dinyatakan dengan ...
Baca Selengkapnya | 19 Komentar
kata kunci: fraksi mol, konsentrasi larutan, massa rumus, molaritas, parts per billion, parts per million,persen
konsentrasi, satuan kimia, satuan larutan, zat terlarut

Hubungan Tingkat Keasaman dengan pH
Friday, March 5, 2010 15:29
Bila Anda perhatikan, nilai pH merupakan eksponen negatif dari konsentrasi ion hidronium. Sebagai contoh,
larutan basa kuat dengan konsentrasi ion hidronium 10-11 M mempunyai pH 11. Larutan asam kuat dengan
pH 1 mempunyai konsentrasi ion hidronium 10-1 M. Hal ini dikarenakan asam/basa kuat terionisasi
sempurna, maka konsentrasi ion H+ setara ...
Baca Selengkapnya | 4 Komentar
kata kunci: eksponen negatif, konsentrasi ion hidronium, larutan asam, larutan basa

Konsep pH, pOH dan pKw
Thursday, March 4, 2010 15:24
Ingat bahwa ion hidrogen (ion hidronium) dan ion hidroksida ada dalam setiap larutan encer. Larutan
bersifat basa bila konsentrasi ion hidroksida lebih besar dari konsentrasi ion ...
Baca Selengkapnya | 5 Komentar
kata kunci: ion hidrogen, ion hidroksida, konsentrasi ion hidronium

Reaksi Penetralan/Penggaraman Asam Basa
Wednesday, March 3, 2010 15:02
Dari televisi, Anda sering melihat iklan yang menggambarkan bagaimana efektifnya antasid (obat maag)
dalam menetralkan asam lambung. Apa yang dikandung obat-obatan antasid tersebut? Ternyata obat-
obatan tersebut mengandung basa, karena hanya basa yang dapat menetralkan pengaruh asam. Umumnya
zat-zat dengan sifat yang berlawanan, seperti asam dan basa cenderung bereaksi satu sama ...
Baca Selengkapnya | 5 Komentar
kata kunci: asam lambung, larutan asam, obat-obatan

Cara membuat larutan dengan kemolaran tertentu
Tuesday, March 2, 2010 15:27
Misalnya larutan yang akan dibuat adalah CuSO4 dengan molaritas 1 M sebanyak 250 mL. Terlebih dahulu
kita harus menghitung massa CuSO4 yang terlarut dalam larutan tersebut, dengan cara sebagai berikut:5.
Molalitas (m) Molalitas (m) menyatakan ...
Baca Selengkapnya | 9 Komentar
kata kunci: ekivalen zat dalam larutan, jumlah mol zat terlarut, kimia fisika, molalitas, normalitas, sifat koligatif

Asam dan Basa Bersifat Korosif
Monday, March 1, 2010 15:45
2. Asam dan Basa Bersifat Korosif Beberapa asam bereaksi sangat kuat pada beberapa logam, marmer dan
berbagai bahan lain. Gambar 15 menunjukkan bagaimana logam besi dapat bereaksi cepat dengan asam
klorida (HCl) membentuk besi (II) klorida (FeCl2) dan gas hidrogen (H2). Sifat ini dapat menjelaskan
mengapa asam ...
Baca Selengkapnya | 7 Komentar
kata kunci: asam dan basa, asam klorida, gas hidrogen, indikator asam-basa, ion karbonat

Sifat-sifat Asam, Basa dan Garam
Sunday, February 28, 2010 15:35
Asam, basa dan garam merupakan zat kimia yang memiliki sifat-sifat yang dapat membantu kita untuk
membedakannya. Karena pada umumnya asam bersifat masam dan basa berasa agak pahit. Akan tetapi
rasa sebaiknya jangan dipergunakan untuk menguji adanya asam atau basa, karena Anda tidak boleh begitu
saja mencicipi zat-zat kimia yang belum ...
Baca Selengkapnya | 28 Komentar
kata kunci: asam dan basa, basa dan garam, zat kimia, zat-zat kimia

Elektrolit Kuat dan Elektrolit Lemah
Saturday, February 27, 2010 15:29
Daya hantar listrik larutan elektrolit bergantung pada jenis dan konsentrasinya. Beberapa larutan elektrolit
dapat menghantarkan arus listrik dengan baik meskipun konsentrasinya kecil, larutan ini dinamakan
elektrolit kuat. Sedangkan larutan elektrolit yang mempunyai daya hantar lemah meskipun konsentrasinya
tinggi dinamakan elektrolit lemah.Perhatikan hasil uji elektrolit yang ditunjukkan pada Gambar 8. Pada ...
Baca Selengkapnya | 19 Komentar
kata kunci: arus listrik, daya hantar listrik, larutan elektrolit

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kelarutan
Friday, February 26, 2010 15:26
Suhu Suhu mempengaruhi kelarutan suatu zat. Bayangkan dalam gedung bioskop yang banyak penonton
sedang asyik menonton film dan tiba-tiba gedung tersebut terbakar. Pasti keadaan orang-orang tersebut
akan berbeda, dari keadaan tenang menjadi saling berdesakan dan menyebar. Demikian pula pada suhu
tinggi partikel-partikel akan bergerak lebih cepat dibandingkan pada suhu rendah. Akibatnya ...


STOIKIOMETRI: rumus kimia, Rumus Empiris dan Rumus Molekul,
persamaan reaksi, Hipotesis Avogadro
& KomentarPosted by Emel Seran pada 31 Oktober 2010
!!!!!!!!!TULISANNYA TIDAK BEGITU RAPI HARAP MAKLUM!!!!!!!!!!!!!!!
Rumus Kimia
Seperti yang telah disinggung rumus kimia merupakan salah satu ciri khas senyawa kimia. Rumus kimia suatu
senyawa menyatakan lambang dan jumlah atom unsur yang menyusun suatu senyawa tanpa menyebut
senyawa tersebut termasuk senyawa ionik atau kovalen. Rumus kimia sendiri terbagi menjadi rumus empiris dan
rumus molekul.
Rumus molekul dan rumus empiris suatu senyawa hanya terjadi perbedaan jumlah atom, sedangkan atom
unsur penyusun senyawa tetap. Namun demikian beberapa senyawa memiliki rumus molekul dan rumus empirisnya yang
sama, misalnya H
2
O (air) dan NH
3
(amoniak).
Jumlah atom dalam suatu rumus kimia menyatakan jumlah mol dari unsur terkait, jadi rumus kimia suatu
senyawa merupakan perbandingan mol atom unsur penyusun senyawa tersebut. Dari perbandingan atom atau perbandingan
mol ini dapat ditentukan perbandingan massa dan % massa dari unsur-unsur yang menyusun senyawa tersebut.
Untuk memperjelas hal ini perhatikan contoh berikut! misalnya vitamin C yang
mengandung asamaskorbat dengan rumus molekul C
6
H
8
O
6
, maka:
Rumus molekul C
6
H
8
O
6

Perbandingan mol atom unsur
C : H : O = 6 : 8 : 6
Perbandingan massa unsur
C : H : O = 6 x Ar. C : 8 x Ar.H : 6 x Ar.O
= (6 x 12) : (8 x 1) : (6 x 16)
= 72 : 8 : 96
Jumlah perbandingan = Mr
72 + 8 + 96 = 176
% massa masing-masing unsur



Berikut adalah rumus untuk menghitung % massa unsur dalam senyawa

Contoh soal menentukan kadar unsur dalam senyawa
Berapa persen (%) C, O, N dan H yang terdapat dalam urea, CO(NH
2
)
2
, jika diketahui Ar.C = 12, Ar.O = 16, Ar.N = 28 dan
Ar.H =1?
Jawab
Langkah penyelesaian
1. Tentukan mol masing unsur-unsur dalam senyawa
Atom C = 1 mol
Atom O = 1 mol
Atom N = 2 mol
Atom H = 4 mol
2. Dari mol atom tentukan massa masing-masing unsur dalam senyawa dengan cara: kalikan dengan atom relatif (Ar)
masing-masing atom
Atom C = 1 mol x 12 g/mol = 12 g
Atom O = 1 mol x 16 g/mol = 16 g
Atom N = 2 mol x 14 g/mol = 28 g
Atom H = 4 mol x 1 g/mol = 4 g
3. Jumlahkan massa semua atom yang telah diperoleh untuk memperoleh massa molekul (massa molekul
relatif)
Atau dengan cara
H


4. Tentukan % massa masing-masing unsur dengan cara:
Massa masing-masing atom dibagi dengan massa semua atom dalam senyawa (massa molekul relatif) kemudian dikali
100%.
Dengan cara ini diperoleh:




Jika terdapat 120 Kg urea maka massa N adalah sebesar = 46, 67% x 120 Kg = 56 Kg.
Rumus Empiris dan Rumus Molekul
Rumus Empiris
Rumus empiris adalah rumus kimia yang menyatakan perbandingan terkecil jumlah atom-atom pembentuk
senyawa. Misalnya senyawa etena yang memiliki rumus molekul C
2
H
4
, maka rumus empiris senyawa tersebut adalah CH
2
.
Dalam menentukan rumus empiris yang dicari terlebih dahulu adalah massa atau persentase massa dalam
senyawa, kemudian dibagi dengan massa atom relatif (Ar) masing-masing unsur. artinya untuk menentukan rumus empiris
yang perlu dicari adalah perbandingan mol dari unsur-unsur dalam senyawa tersebut.

Contoh
Suatu senyawa mengandugn 64,6 g natrium, 45,2 g belerang dan 90 g oksigen. Jika diketahui Ar.N = 23, Ar.S = 32, ddan
Ar.O = 16. Maka tentukan rumus empiris senyawa tersebut?
Jawab

Jadi rumus empiris senyawa tersebut adalah Na
2
SO
4
.
Rumus Molekul
Rumus molekul adalah rumus kimia yang menyatakan jenis dan jumlah atom yang menyusun suatu senyawa.
Misalnya: C
2
H
4
(etena), CO(NH
2
)
2
(urea) dan asam asetat atau asam cuka (CH
3
COOH). Rumus molekuldapat didefinisikan
sebagai rumus kimia yang menyatakan perbandingan jumlah dan jenis atom sesungguhnya dari suatu senyawa.
Dari rumus molekul asam cuka diketahui bahwa rumus molekul tersebut tidak ditulis C
2
H
4
O
2
. Beberapa alasan
rumus molekul asam cuka tidak ditulis demikian yaitu
1. Untuk membedakan dengan senyawa lain yang memiliki jumlah atom penyusun yang sama misalnya metil format
(HCOOCH
3
).
2. Rumus molekul menggambarkan struktur molekul. Artinya dari rumus molekul kita dapat menunjukan atom-atom saling
berikatan. Pada molekul asam cuka atom C yang pertama mengikat 3 atom H dan 1 atom C berikutnya dan atom C
berikunya mengikat 2 atom O kemudian 1 atom O mengikat 1 atom H.
Contoh soal menentukan rumus molekul dari rumus empiris
200 g senyawa organik mempunyai massa molekul relatif = 180, senyawa ini terdiri dari 40% karbon, 6,6%
hidrogen dan sisanya adalah oksigen. Jika diketahui Ar.C = 12, Ar.H = 1, dan Ar.O = 16. Maka tentukan rumus molekul
senyawa ini?
Jawab




Jadi rumus empiris senyawa tersebut adalah CH
2
O
Dari rumus molekul yang telah diperoleh maka rumus molekul dapat ditentukan sbagai berikut
CH
2
O)n
(Ar C x n) + (2.Ar H x n) + (Ar.O) = Mr senyawa
12n + 2n + 16n = 180
30n = 180
n = 6
jadi rumus molekulnya adalah C
6
H
12
O
6
.
Menentukan Rumus Empiris dan Rumus Molekul Berdasarkan Ar dan Mr
Tentukan rumus molekul yang dimiliki senyawa dengan umus empiris CH, jika diketahui Mr senyawa tersebut
adalah 78?
Jawab
Mr senyawa = (CH)n
78 = (12 + 1)n
78 = 13n
n = 6
jadi rumus molekul yang dimiliki senyawa tersebut adalah (CH)n = C
6
H
6
.

Contoh Soal
Massa molekul relatif suatu senyawa organik yang memiliki rumus empiris CH
2
O adalah 180, jika diketahui Ar.C=
12, Ar.H =1 Ar.O = 16, tentukan rumus molekul senyawa tersebut?
Jawab
Mr senyawa = (CH
2
O)n
180 = (12 + 2+ 16)n
180 = 30n
n = 6
jadi rumus molekul yang miliki senyawa tersebut adalah (CH
2
O)n = C
6
H
12
O
6

Persamaan Reaksi
Seperti yang telah disinggung pada bab sebelumnya, bahwa perubahan kimia yang terjadi pada materi disebut
juga reaksi kimia. Reaksi kimia yang terjadi dapat berlangsung secara eksoterm dan endoterm. Reaksi berlangsung
secara eksoterm bila reaksi yang terjadi disertai pembebasan sejumlah energi, sedangkan kebalikan dari reaksi eksoterm
disebut reaksi endoterm. Energi yang terlibat dapat berupa energi cahaya, energi panas dan energi-energi yang lainnya.
Pada reaksi kimia terdapat zat awal yang belum mengalami perubahan yang disebut reaktan atau pereaksi dan
zat yang telah mengalami perubahan yang disebut produk atau zat hasil reaksi. Zat-zat yang terlibat dalam reaksi kimia
dapat berupa unsur dan senyawa. Rekasi yang dimaksud disini bukan reaksi fisi atau reaksi fusi, sehingga zat-zat sebelum
dan sesudah reaksi adalah zat-zat yang sama.
Reaksi kimia yang terjadi biasanya tulis dalam bentuk persamaan reaksi. Persamaan reaksi merupakan
pernyataan yang mengungkapkan atau menggambarkan suatu proses kimia dengan menggunakan rumus kimia. Karena itu
penulisan persamaan reaksi harus dapat menyatakan fenomena kimia yang sebenarnya, dimana zat-zat yang bereaksi dan
zat-zat hasil reaksi harus tergambarkan dengan jelas. Agar lebih jelas perhatikan reaksi yang terjadi antara gas hidrogen dan
gas oksigen untuk membentuk air, yang digambarkan sebagai berikut:

Keterangan:
tanda panah menunjukan arah reaksi. Dibaca membentuk atau menghasilkan atau bereaksi menjadi.
Huruf kecil dalam tanda kurung yang setelah rumus kimia (yang ditulis miring) menyatakan wujud zat. Wujud zat
dinyatakan dengan singkatan yakni
s (solid) untuk zat berwujud padat
l (liquid) untuk zat berwujud cair
g untuk zat berwujud gas
aq (aqueous, baca: akues) untuk zat yang larut dalam air.
Bilangan yang mendahului rumus kimia (2 pada H
2
, 1 pada O
2
dan 2 pada H
2
O) disebut koefisien reaksi. Koefisien reaksi
untuk menyetarakan jumlah atom atau jumlah molekul atau jumlah ion sebelum dan sesudah reaksi.

Pada contoh di atas dapat diketahui bahwa jumlah atom sebelum dan sesudah reaksi adalah sama, hal ini
disebut persamaan setara. Berikut adalah penjumlahannya:
Jumlah atom H di ruas kiri = jumlah atom H di ruas = 4
Jumlah atom O di ruas kiri = jumlah atom O di ruas = 2
Untuk keperluan tertentu, persamaan reaksi dibubuhkan atribut lain. Berikut adalah beberapa atribut yang biasa ditemukan
pada persaaman reaksi:
Warna zat
ada bawah atau atas anak panah= tanda proses pemanasan
= tanda kesetimbangan
H = harga perubahan entalpi
E = harga potensial elektrode
Tujuan dan Penyetaraan Persamaan Reaksi
Tujuan dari penyetaran persamaan reaksi yaitu untuk memenuhi hukum kekekalan massa atau hukum Lavoisier
dan teori atom Dalton. Hukum kekealan massa berbunyi dalam sistem tertutup massa zat sebelum dan setelah
reaksi adalah tetap dan tori atom dalton menyatakan dalam reaksi kimia tidak ada atom yang hilang atau
tercipta tetapi hanya terjadi penataan ulang. Artinya jumlah dan jenis atom dalam reaksi kimia adalah tetap atau
sama.
Agar jumlah dan jenis atom yang terdapat pada reaktan dan produk tetap maka pada persamaan reaksi masing-
masing spesi yang terlibat dalam reaksi kimia diberi koefisien yang sesuai. Seperti pada contoh pembentukan H
2
O koefisien
reaksi menyatakan jumlah atom, jumlah ion ataupun jumlah molekul, namun selain itu kofisien reaksi juga menyatakan mol
zat yang terlibat dalam reaksi kimia. Misalnya contoh pembentukan air:

Koefisien yang dimiliki menyetakan 2 mol gas hidrogen bereaksi dengan 1 mol gas oksigen membentuk 2 mol air
atau 2 molekul gas hidogen bereaksi dengan 1 molekul gas oksigen membentuk 2 molekul air.

Berikut adalah langkah-langkah menulis persamaan reaksi dan penyetaraannya
Misalnya logam aluminium bereaksi dengan gas O
2
membentuk aluminium oksida. Tulislah persamaan reaksi dan
penyetaraannya?
1) Menulis rumus kimia atau lambang unsur dari reaktan dan produk dengan wujud masing-masing spesies.

2) Tetapkan koefisien salah satu spesi sama dengan 1 (biasanya spesi yang rumus kimianya lebih kompleks).
Pada reaksi di atas spesi yang lebih kompleks adalah Al
2
O
3
= 1
3) Setarakan unsur yang terkait langsung dengan zat yang telah diberi koefisien 1.
Koefisien Al
2
O
3
= 1
Maka Al diruas kanan = 2
Al diruas kiri = 1
Agar jumlah atom Al pada kedua ruas sama maka Al pada ruas kiri diberi kofisien 2. Mka persamaan reaksinya menjadi:

Atom O
Koefisien Al
2
O
3
= 1
Maka atom O diruas kanan = 3
Jumlah atom O diruas kiri = 2
Agar jumlah atom O pada kedua ruas sama maka atom O pada ruas kiri diberi koefisien 3/2. Persamaan reaksinya menjadi:

Agar koefisien tidak dalam bentuk pecahan koefisien pada kedua ruas dikalikan dengan satu bilangan sehingga memberikan
suatu bilangan bulat. Agar diperoleh bilangan bulat maka kedua ruas dikali 2, sehingga diperoleh persamaan reaksi yang
setara dengan koefisien dalam bentuk bilangan bulat:

4) Biasanya oksigen disetarakan paling terakhir jika masih terdapat unsur-unsur lain.
Contoh
Reaksi gas metana (CH
4
) dengan gas oksigen membentuk gas karbon dioksida dan uap air. Tulislah persamaan reaksi dan
setarakan persamaan reaksi tersebut?
Jawab
1. Menulis rumus kimia atau lambang unsur dari reaktan dan produk dengan wujud masing-masing spesies.

2. Tetapkan koefisien salah satu spesi sama dengan 1 (biasanya spesi yang rumus kimianya lebih kompleks). Sedangkan
koefisien yang lainnya disetarakan huruf sebagai kofisien sementara.
CH
4
= 1, koefisien zat yang lain disetarakan dengan huruf, maka persamaan reaksinya menjadi:

3. Setarakan unsur yang terkait langsung dengan zat yang telah diberi koefisien 1.
Dari reaksi tersebut unsur yang beriktan langsung dengan zat telah diberi koefisien 1 adalah C dan H.
penyetaraan atom C
Atom C diruas kiri = 1
Atom C diruas kanan = b
Maka jumlah atom C diruas kanan = b = 1
Penyetaraan atom H
Jumlah atom H di ruas kiri = 4
Jumlah atom H di ruas kanan = 2c
Maka jumlah atom H di ruas kanan atau harga koefisien c = 2c = 4, c = 2
Dari penyetaraan ini maka persamaan reaksi menjadi

4. Setarakan atom O
Jumlah atom O di ruas kanan = 2 + 2 = 4
Jumlah atom O di ruas kiri = 2a
Maka jumlah atom O di ruas kiri atau harga koefisien a = 2a = 4, a = 2
Maka persamaan reaksinya menjadi:

Catatan: koefisien 1 biasanya tidak ditulis, penulisan du atas dan untuk penyetaraan reaksi selanjutnya hanya untuk
memberikan gambaran mengenai tahap-tahap penyetaraan saja.

Contoh
Reaksi besi(III) oksida dengan larutan asam sulfat membentuk besi(III) sulfat dan air. Tulislah persamaan reaksi
dan setarakan persamaan reaksi tersebut?
Jawab
1. Menulis rumus kimia atau lambang unsur dari reaktan dan produk dengan wujud masing-masing spesies.

2. Tetapkan koefisien salah satu spesi sama dengan 1 (biasanya spesi yang rumus kimianya lebih kompleks). Sedangkan
koefisien yang lainnya disetarakan huruf sebagai kofisien sementara.
Koefisien Fe
2
(SO
4
)
3
= 1 dan koefisien yang lain menggunakan huruf. Persamaan reaksi menjadi:

3. Setarakan unsur yang terkait langsung dengan zat yang telah diberi koefisien 1.
Dari reaksi tersebut unsur yang beriktan langsung dengan zat telah diberi koefisien 1 adalah Fe, S dan O. Namun O
disetarakan terakhir karena unsur O terdapat di lebih dari dua zat.
Penyetaraan atom Fe
Jumlah atom Fe di ruas kiri = 2a
Jumlah atom Fe di ruas kanan = 2
Maka jumlah atom Fe diruas kiri atau harga koefisien a = 2a = 2, a = 1
Penyetaraan atom S
Jumlah atom S di ruas kiri = b
Jumlah atom S di ruas kanan = 3
Maka jumlah atom S di ruas kiri atau harga koefisien b = 3
Persamaan reaksinya menjadi:

4. Setarakan atom lainnya. Atom O disetarakan setelah semua atom setara.
Penyetaraan atom H
Jumlah atom H di ruas kiri = 6
Jumlah atom H di ruas kanan = 2c
Maka jumlah atom H di ruas kanan atau harga koefisien b = 2c = 6, c = 3
Persamaan reaksinya menjadi:

5. Setarakan atom O. Karena semua atom telah setara, maka oksigen seharusnya telah setara juga. Untuk meyakinkan
jumlah atom O pada kedua ruas telah setara, maka dilakukan penjumlahan atom O pada kedua ruas.
Jumlah atom O di ruas kiri = 3 + 12 = 15
Jumlah atom O di ruas kanan = 12 + 3 = 15.
Dari penjumlahan ini, terbukti jumlah atom O pada ruas kiri dan ruas kanan telah setara. Jadi persamaan reaksi setaranya
adalah sebagai beriktu:


Contoh
Reaksi antara tembaga dengan larutan asam nitrat encer menghasilkan tembaga(II) sulfat, gas nitrogen oksida
dan air. Tulislah persamaan reaksi dan setarakan persamaan reaksi tersebut?
Jawab
1. Menulis rumus kimia atau lambang unsur dari reaktan dan produk dengan wujud masing-masing spesies.


2. Tetapkan koefisien salah satu spesi sama dengan 1 (biasanya spesi yang rumus kimianya lebih kompleks). Sedangkan
koefisien yang lainnya disetarakan huruf sebagai kofisien sementara.
Koefisien Cu(NO
3
)
2
= 1, dan koefisien yang lain menggunakan huruf. Persamaan reaksi menjadi:

3. Setarakan unsur yang terkait langsung dengan zat yang telah diberi koefisien 1.
Pada reaksi di atas, hanya Cu yang dapat langsung disetarakan yaitu a = 1. Untuk unsur yang lainnya walaupun terkait
langsung dengan Cu(NO
3
)
2
tetapi tidak dapat langsung disetarakan karena terdapat di lebih dari dua zat yang belum
mempunyai harga korfisien. Maka untuk menyetarakannya ikuti persamaan-persamaan berikut:
Menyetarakan atom N : b = 2 + c (1)
Menyetarakan atom H : b = 2d . (2)
Menyetarakan atom O : 3b = 6 + c + d (3)
Dari persamaan-persamaan di atas nyatakan nilai c dan d dalam b, sebagai berikut:
Dari persamaan (1), b = 2 + c berarti c = b 2
Dari persamaan (2), b = 2d berarti d = 0,5 b
Substitusikan nilai c cdan d ke dalam persamaan (3)
3b = 6 + c + d
3b = 6 + b 2 + 0,5 b
1,5b = 4
b =
nilai b yang telah diperoleh di substitusikan ke persamaan (1) dan (2) untuk memperoleh nilai c dan d. Maka nilai c dan d
berturut-turut adalah
Maka persamaan reaksinya menjadi:

karena masih dalam bentuk pecahan maka dikalikan 3 sehingga diperoleh koefisien dalam bentuk bilangan bulat.

Sifat persamaan reaksi
a. Jenis unsur-unsur sebelum dan sesudah reaksi selalu sama
b. Jumlah masing-masing atom sebelum dan sesudah reaksi selalu sama
c. Perbandingan koefisien reaksi menyatakan perbandingan mol. Khusus untuk yang berwujud gas perbandingan koefisien
menyatakan perbandingan volume pada suhu den tekanannya sama.
Stoikiometri Reaksi
Hubungan mol dengan koefisien reaksi
Seperti yang telah dijelaskan pada bagian-sebelumnya, koefisien zat dalam suatu persamaan reaksi menyatakan
jumlah mol zat itu. Oleh sebab itu jumlah mol zat atau massa zat yang terlibat dalam suatu reaksi dapat ditentukan. Aspek
kuantitatif zat-zat yang terlibat dalam dalam reaksi inilah yang disebut stoikiometri reaksi. Stoikiometri reaksi ini sangat
diperlukan terutama dalam merencanaakan banyaknya zat yamg akan dihasilkan dari suatu reaksi kimia dalam industri
maupun dalam laboratorium.
Dengan mengeahui koefisien persamaan reaksi maka jumlah mol suatu zat dalam persamaan
reaksi telah diketahui. Mol zat yang telah diketahui dapat digunakan untuk menentukan massa zat yang
diperlukan dalam suatu reaksi. Karena hal tersebut koefisien reaksi disebut sebagai dasar stoikiometri reaksi.

Contoh
Logam aluminium yang dilarutkan ke dalam asam sulfat menghasilkan aluminium sulfat dan gas hidrogen, sesuai reaksi
berikut:

Berapa mol mol gas hidrogen yang dihasilkan jika digunakan 0,5 mol aluminium yang dilarutkan dalam asam sulfat?
Jawab


artinya dengan melarutkan 0,5 mol aluminium menghasilkan 0,75 mol gas hidrogen.
Dari mol gas hidrogen yang telah diketahui dapat ditentukan massa hidrogen yang dihasilkan. Massa hidrogen dapat
ditentukan dengan cara mengalikan mol hidrogen yang diperoleh dengan Mr.H
2
.

Contoh
Perhatikan reaksi berikut:

Berapa volume gas hidrogen (STP) yang terbentuk jika digunakan 5,4 gram Al? (Ar Al = 27)
Jawab
a) Setarakan reaksi kimia yang terjadi jika persamaan reaksi belum setara. Pada persamaan reaksi di atas telah setara
sehingga tidak perlu disetarakan.

b) Menyatakan jumlah mol zat yang diketahui, yakni aluminium.

c) Menentukan jumlah mol zat yang ditanyakan yakni gas H
2
.


d) Menentukan volume gas H
2
yang dihasilkan
V = n x Vm
= 0,3 mol x 22,4 L mol
1
= 6,72 L.
Hipotesis Avogadro dan Hubungan Volume dengan Koefisien Reaksi
Pada tahun 1811, Ameo Avogadro mengemukakan sebuah hipotesis yang mengatakan: pada tekanan (P)
dan suhu (T) yang sama, gas-gas yang memiliki volume sama mengandung jumlah molekul (jumlah mol)
yang sama pula.
Artinya pada P dan T sama, perbandingan volume gas-gas yang terlibat dalam suatu reaksi sama dengan perbandingan
jumlah mol zat yang terlibat dalam reaksi tersebut. Karena pada persamaan reaksi, koefisien menyatakan jumlah mol zat,
maka volume gas yang terlibat dalam suatu reaksi sama dengan koefisien zat itu.
Hubungan antara koefisien suatu zat dengan volume dapat dirumuskan sebagai berikut:

Contoh
Pada suhu dan tekanan tertentu 0,5 mol gas oksigen volumenya adalah 2 liter. Hitunglah volume dari 1,5 mol gas
hidrogen pada suhu dan tekanan yang sama dengan gas oksigen tersebut
Jawab





Contoh
Tentukan berapa volume gas belerang trioksida (SO
3
) yang dihasilkan dan berapa volume gas O
2
yang dibutukan,
jika direaksikan 1 liter gas belerang dioksida (SO
2
) dengan gas oksigen?
Jawab
Persamaan reaksi
SO
2
(g) + O
2
(g) 2SO
3
(g)
SO
2
yang bereaksi = 1 liter



STRUKTUR ATOM,
SISTEM PERIODIK,
DAN IKATAN KIMIA
A. STRUKTUR ATOM DAN SIFAT PERIODIK UNSUR


Bagaimana partikel-partikel penyusun atom
(proton, netron, dan elektron) berada di dalam atom
digambarkan dengan struktur atom. Kedudukan
elektron di sekitar inti atom atau kongurasi elektron
di sekitar inti atom berpengaruh terhadap sifat sis dan kimia atom yang bersangkutan.
Model atom Ernest Rutherford (1871-1937) tahun 1911 yang menyatakan bahwa
atom terdiri dari inti kecil yang bermuatan positif (tempat konsentrasi seluruh massa
atom) dan dikelilingi oleh elektron pada permukaannya. Namun teori ini tidak dapat
menerangkan kestabilan atom. Sewaktu mengelilingi proton, elektron mengalami
percepatan sentripetal akibat pengaruh gaya sentripetal (Gaya Coulomb). Menurut
teori mekanika klasik dari Maxwell, yang menyatakan bahwa partikel bermuatan
bergerak maka akan memancarkan energi. Maka menurut Maxwell bila elektron
bergerak mengelilingi inti juga akan memancarkan energi. Pemancaran energi ini
menyebabkan elektron kehilangan energinya, sehingga lintasannya berbentuk spiral
dengan jari-jari yang mengecil, laju elektron semakin lambat dan akhirnya dapat
tertarik ke inti atom. Jika hal ini terjadi maka atom akan musnah, akan tetapi pada
kenyataannya atom stabil.
Maka pada tahun 1913, Niels Bohr menggunakan teori kuantum untuk
menjelaskan spektrum unsur. Berdasarkan pengamatan, unsur-unsur dapat
memancarkan spektrum garis dan tiap unsur mempunyai spektrum yang khas.
Menurut Bohr,


Spektrum garis menunjukkan elektron dalam atom hanya dapat beredar pada
lintasan-lintasan dengan tingkat energi tertentu. Pada lintasannya elektron dapat
beredar tanpa pemancaran atau penyerapan energi. Oleh karena itu, energi
elektron tidak berubah sehingga lintasannya tetap.
Elektron dapat berpindah dari satu lintasan ke lintasan lain disertai pemancaran
atau penyerapan sejumlah energi yang harganya sama dengan selisih kedua
tingkat energi tersebut.

E = Ef Ei

Keterangan:
E = energi yang menyertai perpindahan elektron


Ef
Ei


= tingkat energi akhir
= tingkat energi awal


Namun teori Bohr ini memiliki kelemahan, yaitu:


Bohr hanya dapat menjelaskan spektrum gas hidrogen, tidak dapat menjelaskan
spektrum dari unsur yang jumlah elektronnya lebih dari satu.
Tidak dapat menjelaskan adanya garis-garis halus pada spektrum gas


hidrogen.

Kelemahan dari model atom Bohr dapat dijelaskan oleh Louis Victor de Broglie









pada tahun 1924 dengan teori dualisme partikel gelombang. Menurut de Broglie, pada
kondisi tertentu, materi yang bergerak memiliki ciri-ciri gelombang.


=

dengan:
= panjang gelombang


m


h


= massa partikel
= kecepatan
= tetapan Planck



Hipotesis tersebut terbukti benar dengan ditemukannya sifat gelombang dari
elektron. Elektron mempunyai sifat difraksi, maka lintasan elektron yang dikemukakan
Bohr tidak dibenarkan. Gelombang tidak bergerak melalui suatu garis, melainkan
menyebar pada daerah tertentu.
Pada tahun 1927, Werner Heisenberg mengemukakan bahwa posisi atau
lokasi suatu elektron dalam atom tidak dapat ditentukan dengan pasti. Yang dapat
ditentukan adalah hanya kemungkinan (kebolehjadian) menemukan elektron pada
suatu titik pada jarak tertentu dari intinya.


1. Model atom mekanika gelombang
Hipotesis Louis de Broglie dan azas ketidakpastian dari Heisenberg merupakan
dasar dari model Mekanika Kuantum (Gelombang) yang dikemukakan oleh Erwin
Schrodinger pada tahun1927, mengajukan konsep orbital untuk menyatakan
kedudukan elektron dalam atom. Orbital menyatakan suatu daerah dimana elektron
paling mungkin (peluang terbesar) untuk ditemukan.



Persamaan gelombang (


= psi) dari Erwin Schrodinger menghasilkan tiga


bilangan gelombang (bilangan kuantum) untuk menyatakan kedudukan (tingkat energi,
bentuk, serta orientasi) suatu orbital, yaitu:



a.


Bilangan kuantum utama (n)


Menentukan besarnya tingkat energi suatu elektron yang mencirikan ukuran
orbital (menyatakan tingkat energi utama atau kulit atom). Bilangan kuantum utama
memiliki harga mulai dari 1, 2, 3, 4,.dst (bilangan bulat positif). Biasanya dinyatakan
dengan lambang, misalnya K(n=1), L(n=2), dst.
Orbitalorbital dengan bilangan kuantum utama berbeda, mempunyai tingkat
energi yang berbeda. Makin besar bilangan kuantum utama, kulit makin jauh dari
inti, dan makin besar pula energinya.



b.


Bilangan kuantum azimut (l )


Menyatakan subkulit tempat elektron berada. Nilai bilangan kuantum ini
menentukan bentuk ruang orbital dan besarnya momentum sudut elektron. Nilai



3



















untuk bilangan kuantum azimuth dikaitkan dengan bilangan kuantum utama. Bilangan
kuantum azimuth mempunyai harga dari nol sampai (n 1) untuk setiap n.
Setiap subkulit diberi lambang berdasarkan harga bilangan kuantum l.








l
l
l
l


= 0 , lambang s (sharp)
= 1, lambang p (principal)
= 2, lambang d (diffuse)
= 3, lambang f (fundamental)


(Lambang s, p, d, dan f diambil dari nama spektrum yang dihasilkan oleh logam
alkali dari Li sampai dengan Cs).
v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
Normal
0
false
false
false
false
IN
X-NONE
X-NONE
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:Table Normal;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:Calibri,sans-serif;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Times New Roman;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
STRUKTUR ATOM,
SISTEM PERIODIK,
DAN IKATAN KIMIA
















Setelah mempelajari bab ini kamu diharapkan mampu:
Menjelaskan teori atom mekanika kuantum.
Menentukan bilangan kuantum (kemungkinan elektron berada)
Menggambarkan bentuk-bentuk orbital.
Menjelaskan kulit dan sub kulit serta hubungannya dengan bilangan kuantum
Menggunakan prinsip Aufbau, aturan Hund, dan azas larangan Pauli untuk
menuliskan kongurasi elektron dan diagram orbital.
Menghubungkan kongurasi elektron suatu unsur dengan letaknya dalam sistem
periodik
Menentukan bentuk molekul berdasarkan teori pasangan elektron.
Menentukan bentuk molekul berdasarkan teori hibridisasi.
Menjelaskan perbedaan sifat sik (titik didih, titik beku) berdasarkan perbedaan
gaya antar molekul (gaya Van Der Waals, gaya London, dan ikatan hidrogen).





















1











A. STRUKTUR ATOM DAN SIFAT PERIODIK UNSUR


Bagaimana partikel-partikel penyusun atom
(proton, netron, dan elektron) berada di dalam atom
digambarkan dengan struktur atom. Kedudukan
elektron di sekitar inti atom atau kongurasi elektron
di sekitar inti atom berpengaruh terhadap sifat sis


Kata Kunci
atom, elektron, periodik,
kuantum, orbital,
kongurasi


dan kimia atom yang bersangkutan.
Model atom Ernest Rutherford (1871-1937) tahun 1911 yang menyatakan bahwa
atom terdiri dari inti kecil yang bermuatan positif (tempat konsentrasi seluruh massa
atom) dan dikelilingi oleh elektron pada permukaannya. Namun teori ini tidak dapat
menerangkan kestabilan atom. Sewaktu mengelilingi proton, elektron mengalami
percepatan sentripetal akibat pengaruh gaya sentripetal (Gaya Coulomb). Menurut
teori mekanika klasik dari Maxwell, yang menyatakan bahwa partikel bermuatan
bergerak maka akan memancarkan energi. Maka menurut Maxwell bila elektron
bergerak mengelilingi inti juga akan memancarkan energi. Pemancaran energi ini
menyebabkan elektron kehilangan energinya, sehingga lintasannya berbentuk spiral
dengan jari-jari yang mengecil, laju elektron semakin lambat dan akhirnya dapat
tertarik ke inti atom. Jika hal ini terjadi maka atom akan musnah, akan tetapi pada
kenyataannya atom stabil.
Maka pada tahun 1913, Niels Bohr menggunakan teori kuantum untuk
menjelaskan spektrum unsur. Berdasarkan pengamatan, unsur-unsur dapat
memancarkan spektrum garis dan tiap unsur mempunyai spektrum yang khas.
Menurut Bohr,










Spektrum garis menunjukkan elektron dalam atom hanya dapat beredar pada
lintasan-lintasan dengan tingkat energi tertentu. Pada lintasannya elektron dapat
beredar tanpa pemancaran atau penyerapan energi. Oleh karena itu, energi
elektron tidak berubah sehingga lintasannya tetap.
Elektron dapat berpindah dari satu lintasan ke lintasan lain disertai pemancaran
atau penyerapan sejumlah energi yang harganya sama dengan selisih kedua
tingkat energi tersebut.

E = Ef Ei

Keterangan:
E = energi yang menyertai perpindahan elektron


Ef
Ei


= tingkat energi akhir
= tingkat energi awal


Namun teori Bohr ini memiliki kelemahan, yaitu:







Bohr hanya dapat menjelaskan spektrum gas hidrogen, tidak dapat menjelaskan
spektrum dari unsur yang jumlah elektronnya lebih dari satu.
Tidak dapat menjelaskan adanya garis-garis halus pada spektrum gas


hidrogen.

Kelemahan dari model atom Bohr dapat dijelaskan oleh Louis Victor de Broglie



2












pada tahun 1924 dengan teori dualisme partikel gelombang. Menurut de Broglie, pada
kondisi tertentu, materi yang bergerak memiliki ciri-ciri gelombang.


=

dengan:
= panjang gelombang


m


h


= massa partikel
= kecepatan
= tetapan Planck



Hipotesis tersebut terbukti benar dengan ditemukannya sifat gelombang dari
elektron. Elektron mempunyai sifat difraksi, maka lintasan elektron yang dikemukakan
Bohr tidak dibenarkan. Gelombang tidak bergerak melalui suatu garis, melainkan
menyebar pada daerah tertentu.
Pada tahun 1927, Werner Heisenberg mengemukakan bahwa posisi atau
lokasi suatu elektron dalam atom tidak dapat ditentukan dengan pasti. Yang dapat
ditentukan adalah hanya kemungkinan (kebolehjadian) menemukan elektron pada
suatu titik pada jarak tertentu dari intinya.


1. Model atom mekanika gelombang
Hipotesis Louis de Broglie dan azas ketidakpastian dari Heisenberg merupakan
dasar dari model Mekanika Kuantum (Gelombang) yang dikemukakan oleh Erwin
Schrodinger pada tahun1927, mengajukan konsep orbital untuk menyatakan
kedudukan elektron dalam atom. Orbital menyatakan suatu daerah dimana elektron
paling mungkin (peluang terbesar) untuk ditemukan.



Persamaan gelombang (


= psi) dari Erwin Schrodinger menghasilkan tiga


bilangan gelombang (bilangan kuantum) untuk menyatakan kedudukan (tingkat energi,
bentuk, serta orientasi) suatu orbital, yaitu:



a.


Bilangan kuantum utama (n)


Menentukan besarnya tingkat energi suatu elektron yang mencirikan ukuran
orbital (menyatakan tingkat energi utama atau kulit atom). Bilangan kuantum utama
memiliki harga mulai dari 1, 2, 3, 4,.dst (bilangan bulat positif). Biasanya dinyatakan
dengan lambang, misalnya K(n=1), L(n=2), dst.
Orbitalorbital dengan bilangan kuantum utama berbeda, mempunyai tingkat
energi yang berbeda. Makin besar bilangan kuantum utama, kulit makin jauh dari
inti, dan makin besar pula energinya.



b.


Bilangan kuantum azimut (l )


Menyatakan subkulit tempat elektron berada. Nilai bilangan kuantum ini
menentukan bentuk ruang orbital dan besarnya momentum sudut elektron. Nilai



3



















untuk bilangan kuantum azimuth dikaitkan dengan bilangan kuantum utama. Bilangan
kuantum azimuth mempunyai harga dari nol sampai (n 1) untuk setiap n.
Setiap subkulit diberi lambang berdasarkan harga bilangan kuantum l.








l
l
l
l


= 0 , lambang s (sharp)
= 1, lambang p (principal)
= 2, lambang d (diffuse)
= 3, lambang f (fundamental)