Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tendo patella yang berinsersi pada tuberositas tibia, merupakan perluasan epifisis
tibia proksimal. Daerah ini rentan terhadap mikro fraktur selama masa anak akhir atau
remaja, terutama pada mereka yang sering berolahraga, menimbulkan penyakit Osgood
Schlatter. Penyakit ini lazim terjadi pada anak laki-laki. Pada tahun !"#, $obert Osgood
%&'#-!()*, seorang ahli bedah ortopedi dari +merika Serikat, dan ,arl Schlatter %.&)--
.!#-*, seorang ahli bedah dari S.iss, secara bersamaan menggambarkan penyakit yang
sekarang menyandang nama mereka. Osgood-Schlatter disease %OSD* merupakan salah satu
penyebab paling umum nyeri lutut pada remaja yang aktif. OSD merupakan fenomena yang
dihasilkan dari kontraksi paha depan yang berulang-ulang melalui tendon patella pada insersinya di
tuberositas tulang tibia yang belum matur. Osgood-Schlatter disease yang juga dikenal
sebagai cedera tuberositas tibialis traksi apophyseal adalah pecahnya lempeng pertumbuhan
dituberositas tibia.
/ondisi tersebut terjadi pada anak laki-laki aktif dan perempuan usia !-) bertepatan
dengan periode pertumbuhan yang cepat. 0al ini terjadi lebih sering pada anak laki-laki
daripada perempuan, dengan laporan rasio untuk laki 1 laki dan .anita mulai dari #2 sampai
setinggi '2. Perbedaannya adalah terkait dengan partisipasi yang lebih besar pada anak laki-
laki dalam olahraga sehingga resikonya lebih besar daripada anak perempuan. /ondisi ini
biasanya terbatas pada keadaan yang disebabkan oleh tekanan pada tendon patella yang
melekat pada otot 3uadricep femoris dibagian depan paha ke tuberositas tibialis. Dengan
adanya lonjakan pertumbuhan pada remaja, stres berulang dari kontraksi 3uadriceps femoris
melalui tendon patella ke tuberositas tibial menyebabkan beberapa a4ulsi subakut bersama
dengan peradangan tendon yang menyebabkan pertumbuhan tulang kelebihan dalam
tuberositas dan menimbulkan benjolan yang sangat menyakitkan saat ditekan. Penyakit ini
mungkin berkembang tanpa trauma atau penyebab lainnya yang belum jelas, namun,
beberapa studi melaporkan sampai dengan ("5 dari pasien berhubungan dengan ri.ayat
timbulnya trauma. Dalam sebuah penelitian retrospektif remaja, atlet muda aktif dan sering
berolahraga menunjukkan frekuensi 65 melaporkan sindrom dibandingkan dengan hanya
-,(5 dari yang jarang atau tidak berolahraga. 7yeri lutut biasanya timbul selama kegiatan
seperti berlari, melompat, jongkok, dan terutama naik turun tangga dan selama berlutut. Pada
fase akut nyeri terasa berat. $asa sakit bisa timbul dengan ekstensi lutut, menekan paha depan
atau menekan lutut.
8ejala biasanya dapat di atasi dengan pengobatan tetapi dapat berulang untuk 6 1 6-
bulan sebelum resolusi lengkap setelah jatuh atau terbentur pada tuberositas tibia. Dalam
beberapa kasus gejala terus muncul sampai pasien sepenuhnya menjadi de.asa. Sekitar "5
dari pasien gejalanya akan terus berlanjut sampai de.asa, meskipun semua langkah
konse4atif telah dilakukan.
.6 9dentifikasi :asalah
+. 8angguan atau hilangnya fungsi motorik
;. 8angguan pada fungsi sensorik
,. 8angguan kemampuan fungsional
.# Pembatasan :asalah
:engingat banyaknya permasalahan yang timbul pada kasus Osgood schlatter disease
dan karena terbatanya .aktu kami, maka dalam laporan kasus ini kelompok kami hanya
membatasi masalah pada <Penatalaksanaan =isioterapi pada 8angguan 8erak dan =ungsi
akibat Osgood Schlatter Disease>.
.- Perumusan :asalah
;erdasarkan uraian diatas kami merumuskan masalah yaitu <;agaimana
Penatalaksanaan =isioterapi pada 8anggua 8erak dan =ungsi akibat Osgood Schlatter
Disease>.
.( Tujuan Penulisan
. Tujuan ?mum
:engetahui proses penatalaksanaan fisioterapi pada gangguan gerak dan fungsi akibat
osgood schlatter disease.
6. Tujuan /husus
a. ?ntuk mengetahui cara melakukan assasment pada osgood schlatter disease.
b. ?ntuk mengetahui problem dan diagnosa fisioterapi pada gangguan gerak dan
fungsi akibat osgood schlatter disease.
c. ?ntuk mengetahui inter4ensi tepat yang dapat diberikan pada gangguan
osgood schlatter disease.
.( :anfaat Penulisan
. :anfaat Teoritis
a. ?ntuk menambah pemahaman dalam mempelajari dan menerapkan proses
penatalaksanaan fisioterapi pada gangguan osgood schlatter disease.
b. ?ntuk menambah .a.asan masyarakat mengenai penangan pada kasus osgood
schlatter disease.
6. :anfaat Praktis
a. ?ntuk bahan kajian dan diskusi pada pelaporan akhir praktek yang akan datang.
;+; 99
/+@9+7 TAO$9
A. Osgood Schlatter Disease
1. Anatomi lutut
a* @enis Sendi Butut
Persendian pada sendi lutut termasuk dalam jenis sendi syno4ial %syno4ial joint*,
yaitu sendi yang mempunyai cairan sino4ial yang berfungsi untuk membantu
pergerakan antara dua buah tulang yang bersendi agar lebih leluasa. Secara anatomis
persendian ini lebih kompleks daripada jenis sendi fibrous dan sendi cartilaginosa.
Permukaan tulang yang bersendi pada syno4ial joint ini ditutupi oleh lapisan hyaline
cartilage yang tipis yang disebut articular cartilage , yang merupakan bantalan pada
persambungan tulang. Pada daerah ini terdapat rongga yang dikelilingi oleh kapsul
sendi. Dalam hal ini kapsul sendi merupakan pengikat kedua tulang yang bersendi
agar tulang tetap berada pada tempatnya pada .aktu terjadi gerakan.
/apsul sendi ini terdiri dari 6 lapisan 2
* Bapisan luar
Disebut juga fibrous capsul , terdiri dari jaringan connecti4e yang kuat yang tidak
teratur Dan akan berlanjut menjadi lapisan fibrous dari periosteum yang menutupi
bagian tulang. Dan sebagian lagi akan menebal dan membentuk ligamentum.
6* Bapisan dalam
Disebut juga syno4ial membran, bagian dalam membatasi ca4um sendi dan bagian
luar merupakan bagian dari articular cartilage. :embran ini tipis dan terdiri dari
kumpulan jaringan connecti4e. :embran ini menghasilkan cairan syno4ial yang
terdiri dari serum darah dan cairan sekresi dari sel syno4ial. ,airan syno4ial ini
merupakan campuran yang kompleks dari polisakarida protein, lemak dan sel sel
lainnya. Polisakarida ini mengandung hyaluronic acid yang merupakan penentu
kualitas dari cairan syno4ial dan berfungsi sebagai pelumas dari permukaan sendi
sehingga sendi mudah digerakkan +da 6 condylus yang menutupi bagian ujung
ba.ah sendi pada femur dan 6 tibial condylus yang menutupi meniscus untuk
stabilitas artikulasi femorotibial. Patella yang merupakan jenis tulang sesamoid
terletak pada segmen inferior dari tendon 3uadriceps femoris, bersendi dengan
femur, dimana patella ini terletak diantara 6 condylus femoralis pada permukaan
anteroinferior. :enurut arah gerakannya sendi lutut termasuk dalam sendi engsel
% mono aCial joints *yaitu sendi yang mempunyai arah gerakan pada satu sumbu.
Sendi lutut ini terdiri dari bentuk con4eks silinder pada tulang yang satu yang
digunakan untuk berhubungan dengan bentuk yang conca4e pada tulang lainnya.
b* +natomi Sendi Butut
Sendi lutut merupakan persendian yang paling besar pada tubuh manusia. Sendi ini
terletak pada kaki yaitu antara tungkai atas dan tungkai ba.ah. Pada dasarnya sendi
lutut ini terdiri dari dua articulatio condylaris diantara condylus femoris medialis dan
lateralis dan condylus tibiae yang terkait dan sebuah sendi pelana , diantara patella
dan fascies patellaris femoris. Secara umum sendi lutut termasuk kedalam golongan
sendi engsel, tetapi sebenarnya terdiri dari tiga bagian sendi yang kompleks yaitu 2
* condyloid articulatio diantara dua femoral condylus dan meniscus dan
berhubungan dengan condylus tibiae
6* satu articulatio jenis partial arthrodial diantara permukaan dorsal dari patella dan
femur.

Pada bagian atas sendi lutut terdapat condylus femoris yang berbentuk bulat, pada
bagian ba.ah terdapat condylus tibiae dan cartilago semilunaris. Pada bagian ba.ah
terdapat articulatio antara ujung ba.ah femur dengan patella. =ascies articularis
femoris. tibiae dan patella diliputi oleh cartilago hyaline. =ascies articularis condylus
medialis dan lateralis tibiae di klinik sering disebut sebagai plateau tibialis medialis
dan lateralis.
c* Bigamentum Sendi Butut
a. ligamentum eCtracapsular
* Bigamentum Patellae
:elekat %diatas* pada tepi ba.ah patella dan pada bagian ba.ah melekat pada
tuberositas tibiae. Bigamentum patellae ini sebenarnya merupakan lanjutan
dari bagian pusat tendon bersama m. 3uadriceps femoris. Dipisahkan dari
membran syno4ial sendi oleh bantalan lemak intra patella dan dipisahkan
dari tibia oleh sebuah bursa yang kecil. ;ursa infra patellaris superficialis
memisahkan ligamentum ini dari kulit.
6* Bigamentum ,ollaterale =ibulare
Bigamentum ini menyerupai tali dan melekat di bagian atas pada condylus
lateralis dan dibagian ba.ah melekat pada capitulum fibulae. Bigamentum ini
dipisahkan dari capsul sendi melalui jaringan lemak dan tendon m. popliteus.
Dan juga dipisahkan dari meniscus lateralis melalui bursa m. poplitei.
#* Bigamentum ,ollaterale Tibiae
Bigamentum ini berbentuk seperti pita pipih yang melebar dan melekat
dibagian atas pada condylus medialis femoris dan pada bagian ba.ah melekat
pada margo infraglenoidalis tibiae. Bigamentum ini menembus dinding capsul
sendi dan sebagian melekat pada meniscus medialis. Di bagian ba.ah pada
margo infraglenoidalis, ligamentum ini menutupi tendon m.
semimembranosus dan a. inferior medialis genu .
-* Bigamentum Popliteum Obli3uum
:erupakan ligamentum yang kuat, terletak pada bagian posterior dari sendi
lutut, letaknya membentang secara obli3ue ke medial dan ba.ah. Sebagian
dari ligamentum ini berjalan menurun pada dinding capsul dan fascia m.
popliteus dan sebagian lagi membelok ke atas menutupi tendon m.
semimembranosus.
(* Bigamentum Trans4ersum 8enu
Bigamentum ini terletak membentang paling depan pada dua meniscus , terdiri
dari jaringan connecti4e, kadang- kadang ligamentum ini tertinggal dalam
perkembangannya , sehingga sering tidak dijumpai pada sebagian orang.
b. Bigamentum 9ntra ,apsular
Bigamentum cruciata adalah dua ligamentum intra capsular yang sangat kuat,
saling menyilang didalam rongga sendi. Bigamentum ini terdiri dari dua bagian
yaitu posterior dan anterior sesuai dengan perlekatannya pada tibiae. Bigamentum
ini penting karena merupakan pengikat utama antara femur dan tibiae.
* Bigamentum ,ruciata +nterior
Bigamentum ini melekat pada area intercondylaris anterior tibiae dan berjalan
kearah atas, kebelakang dan lateral untuk melekat pada bagian posterior
permukaan medial condylus lateralis femoris. Bigamentum ini akan mengendur
bila lutut ditekuk dan akan menegang bila lutut diluruskan sempurna.
Bigamentum cruciatum anterior berfungsi untuk mencegah femur.
6* Bigamentum ,ruciatum Posterior
Bigamentum cruciatum posterior melekat pada area intercondylaris posterior
dan berjalan kearah atas , depan dan medial, untuk dilekatkan pada bagian
anterior permukaan lateral condylus medialis femoris. Serat-serat anterior akan
mengendur bila lutut sedang ekstensi, namun akan menjadi tegang bila sendi
lutut dalam keadaan fleksi. Serat-serat posterior akan menjadi tegang dalam
keadaan ekstensi. Bigamentum cruciatum posterior berfungsi untuk mencegah
femur ke anterior terhadap tibiae. ;ila sendi lutut dalam keadaan fleksi ,
ligamentum cruciatum posterior akan mencegah tibiae tertarik ke posterior.
d* ,artilago Semilunaris %:eniscus*
,artilago semilunaris adalah lamella fibrocartilago berbentuk ,, yang pada potongan
melintang berbentuk segitiga. ;atas perifernya tebal dan cembung, melekat pada
bursa. ;atas dalamnya cekung dan membentuk tepian bebas . Permukaan atasnya
cekung dan berhubungan langsung dengan condylus femoris. =ungsi meniscus ini
adalah memperdalam fascies articularis condylus tibialis untuk menerima condylus
femoris yang cekung.
a. ,artilago Semilunaris :edialis
;entuknya hampir semi sirkular dan bagian belakang jauh lebih lebar daripada
bagian depannya. ,ornu anterior melekat pada area intercondylaris anterior tibiae
dan berhubungan dengan cartilago semilunaris lateralis melalui beberapa serat
yang disebut ligamentum trans4ersum. ,ornu posterior melekat pada area
intercondylaris posterior tibiae. ;atas bagian perifernya melekat pada simpai dan
ligamentum collaterale sendi. Dan karena perlekatan inilah cartilago semilunaris
relatif tetap.
b. ,artilago Semilunaris Bateralis
;entuknya hampir sirkular dan melebar secara merata. ,ornu anterior melekat
pada area intercondylaris anterior, tepat di depan eminentia intercondylaris.,ornu
posterior melekat pada area intercondylaris posterior, tepat di belakang eminentia
intercondylaris. Seberkas jaringan fibrosa biasanya keluar dari cornu posterior dan
mengikuti ligamentum cruciatum posterior ke condylus medialis femoris. ;atas
perifer cartilago dipisahkan dari ligamentum collaterale laterale oleh tendon m.
popliteus, sebagian kecil dari tendon melekat pada cartilago ini. +kibat susunan
yang demikian ini cartilago semilunaris lateralis kurang terfiksasi pada tempatnya
bila di bandingkan dengan cartilago semilunaris medialis.
e* ,apsula +rticularis
,apsula articularis terletak pada permukaan posterior dari tendon m. 3uadriceps
femoris dan didepan menutupi patella menuju permukan anterior dari femur diatas
tubrositas sendi. /emudian capsula ini berlanjut sebagai loose membran yang
dipisahkan oleh jaringan lemak yang tebal dari ligamentum patellae dan dari bagian
tengah dari retinacula patellae menuju bagian atas tepi dari dua meniscus dan ke
ba.ah melekat pada ligamentum cruciatum anterior . Selanjutnya capsula articularis
ini menutupi kedua ligamentun cruciatum pada sendi lutut sebagai suatu lembaran
dan melintasi tepi posterior ligamentum cruciatum posterior. Dari tepi medial dan
lateral dari fascies articularis membentuk dua tonjolan , lipatan syno4ial, plica alares
yang terkumpul pada bagian ba.ah. /esemuanya hal ini membentuk suatu syno4ial
4illi.
Plica syno4ialis patellaris, membentang pada bagian belakang yang mengarah pada
bidang sagital menuju ca4um sendi dan melekat pada bagian paling ba.ah dari tepi
fossa intercondyloidea femoris. Plica ini merupakan lipatan sagital yang lebar pada
syno4ial membran. Bipatan ini membagi ca4um sendi menjadi dua bagian ,
berhubungan dengan dua pasang condylus femoris dan tibiae.
Bipatan capsul sendi pada bagian samping berjalan dekat pinggir tulang ra.an.
Sehingga regio epicondylus tetap bebas. /apsul sendi kemudian menutupi permukaan
cartilago , dan bagian permukaan anterior dari femur tidak ditutupi oleh cartilago.
Pada tibia capsul sendi ini melekat mengelilingi margo infraglenoidalis, sedikit bagian
ba.ah dari permukaan cartilago, selanjutnya berjalan keba.ah tepi dari masing-
masing meniscus.
f* ;ursa Sendi Butut
;ursa sendi merupakan suatu tube seperti kantong yang terletak di bagian ba.ah
dan belakang pada sisi lateral didepan dan ba.ah tendon origo m. popliteus. ;ursa
ini membuka kearah sendi melalui celah yang sempit diatas meniscus lateralis dan
tendon m. popliteus. ;anyak bursa berhubungan sendi lutut. Ampat terdapat di
depan, dan enam terdapat di belakang sendi. ;ursa ini terdapat pada tempat
terjadinya gesekan di antara tulang dengan kulit, otot, atau tendon.
;ursa +nterior
* ;ursa Supra Patellaris
Terletak di ba.ah m. 3uadriceps femoris dan berhubungan erat dengan
rongga sendi.
6* ;ursa Prepatellaris
Terletak pada jaringan subcutan diantara kulit dan bagian depan belahan
ba.ah patella dan bagian atas ligamentum patellae.
#* ;ursa 9nfrapatellaris Superficialis
Terletak pada jaringan subcutan diantara kulit dan bagian depan belahan
ba.ah ligamentum patellae
-* ;ursa 9nfapatellaris Profunda
Terletak di antara permukaan posterior dari ligamentum patellae dan
permukaan anterior tibiae. ;ursa ini terpisah dari ca4um sendi melalui
jaringan lemak dan hubungan antara keduanya ini jarang terjadi.
;ursa posterior
* $ecessus Subpopliteus
Ditemukan sehubungan dengan tendon m. popliteus dan berhubungan dengan
rongga sendi.
6* ;ursa :. Semimembranosus
Ditemukan sehubungan dengan insertio m. semimembranosus dan sering
berhubungan dengan rongga sendi.
Ampat bursa lainnya ditemukan sehubungan dengan 2
* tendon insertio m. biceps femoris
6* tendon m. sartorius, m. gracilis dan m. semitendinosus se.aktu berjalan ke
insertionya pada tibia.
#* di ba.ah caput lateral origo m. gastrocnemius
-* di ba.ah caput medial origo m. gastrocnemius
g* Persarafan Sendi Butut
Persarafan pada sendi lutut adalah melalui cabang-cabang dari ner4us yang yang
mensarafi otot-otot di sekitar sendi dan befungsi untuk mengatur pergerakan pada
sendi lutut.
Sehingga sendi lutut disarafi oleh 2
a. 7. =emoralis
b. 7. Obturatorius
c. 7. Peroneus communis
d. 7. Tibialis
h* Dascularisasi
Suplai darah pada sendi lutut berasal dari anastomose pembuluh darah disekitar
sendi ini. Dimana sendi lutut menerima darah dari descending genicular arteri
femoralis, cabang-cabang genicular arteri popliteal dan cabang descending arteri
circumfleCia femoralis dan cabang ascending arteri tibialis anterior. +liran 4ena pada
sendi lutut mengikuti perjalanan arteri untuk kemudian akan memasuki 4ena
femoralis.
i* Sistem Bymph
System limfe pada sendi lutut terutama terdapat pada perbatasan fascia subcutaneous.
/emudian selanjutnya akan bergabung dengan lymph node sub inguinal
superficialis. Sebagian lagi aliran lymph ini akan memasuki lymph node popliteal,
dimana aliran lymph berjalan sepanjang 4ena femoralis menuju deep inguinal lymph
node.
j* Pergerakan Sendi Butut
Pergerakan pada sendi lutut meliputi gerakan fleksi, ekstensi, dan sedikit rotasi.
8erakan fleksi dilaksanakan oleh m. biceps femoris, semimembranosus, dan
semitendinosus, serta dbantu oleh m.gracilis, m.sartorius dan m. popliteus. =leksi
sendi lutut dibatasi oleh bertemunya tungkai ba.ah bagian belakang dengan paha.
Akstensi dilaksanakan oleh m. 3uadriceps femoris dan dibatasi mula-mula oleh
ligamentum cruciatum anterior yang menjadi tegang. Akstensi sendi lutut lebih lanjut
disertai rotasi medial dari femur dan tibia serta ligamentum collaterale mediale dan
lateral serta ligamentum popliteum obli3uum menjadi tegang, serat-serat posterior
ligamentum cruciatum posterior juga di eratkan. Sehingga se.aktu sendi lutut
mengalami ekstensi penuh ataupun sedikit hiper-ekstensi, rotasi medial dari femur
mengakibatkan pemutaran dan pengetatan semualigamentum utama dari sendi, dan
lutut berubah menjadi struktur yang secara mekanis kaku. $otasio femur sebenarnya
mengembalikan femur pada tibia, dan cartilago semilunaris dipadatkan mirip bantal
karet diantara condylus femoris dan condylus tibialis. Butut berada dalam keadaan
hiper-ekstensi dikatakan dalam keadaan terkunci. Selama tahap a.al ekstensi,
condylus femoris yang bulat menggelinding ke depan mirip roda di atas tanah, pada
permukaan cartilago semilunaris dan condylus lateralis. ;ila sendi lutut di gerakkan
ke depan, femur ditahan oleh ligamentum cruciatum posterior, gerak menggelinding
condylus femoris diubah menjadi gerak memutar. Se.aktu ekstensi berlanjut, bagian
yang lebih rata pada condylus femoris bergerak keba.ah dan cartilago semilunaris
harus menyesuaikan bentuknya pada garis bentuk condylus femoris yang berubah.
Selama tahap akhir ekstensi, bila femur mengalami rotasi medial, condylus lateralis
femoris bergerak ke depan, memaksa cartilago semilunaris lateralis ikut bergerak ke
depan. Sebelum fleksi sendi lutut dapat berlangsung, ligamentum-ligamentum utama
harus mengurai kembali dan mengendur untuk memungkinkan terjadinya gerakan
diantara permukaan sendi. Peristi.a mengurai dan terlepas dari keadaan terkunci ini
dilaksanakan oleh m. popliteus, yang memutar femur ke lateral pada tibia. Se.aktu
condylus lateralis femoris bergerak mundur, perlekatan m. popliteus pada cartilago
semilunaris lateralis akibatnya tertarik kebelakang. Sekali lagi cartilago semilunaris
harus menyesuaikan bentuknya pada garis bentuk condylus yang berubah. ;ila sendi
lutut dalam keadaan fleksi !" derajat, maka kemungkinan rotasio sangat luas. $otasi
medial dilakukan m. sartorius, m. gracilis dan m. semitendinosus. $otasi lateral
dilakukan oleh m. biceps femoris. Pada posisi fleksi, dalam batas tertentu tibia secara
pasif dapat di gerakkan ke depan dan belakang terhadap femur, hal ini dimungkinkan
karena ligamentum utama, terutama ligamentum cruciatum sedang dalam keadaan
kendur. @adi disini tampak bah.a stabilitas sendi lutut tergantung pada kekuatan tonus
otot yang bekerja terhadap sendi dan juga oleh kekuatan kigamentum. Dari faktor-
faktor ini, tonus otot berperan sangat penting, dan menjadi tugas ahli fisioterapi
untuk mengembalikan kekuatan otot ini, terutama m. 3uadriceps femoris, setelah
terjadi cedera pada sendi lutut.
. De!inisi Osgood"schlatter
Penyakit Osgood-schlatter adalah suatu kondisi ketika terdapat pemisahan parsial
apofisis tibia dari tuberositas tibia %daerah sendi lutut*. Osgood schlatter disease
terjadi karena adanya inflamasi pada tuberositas tibia yang menyebabkan nyeri,
terutama saat akan melakukan ekstensi lutut. 0al ini terjadi akibat stres fisik pada
lutut selama periode pertumbuhan cepat pada a.al pubertas. Stres biasanya berkaitan
dengan olahraga seperti berlari, bersepeda, mendaki, atau hiking. /ondisi ini terutama
sering terjadi pada remaja laki-laki yang berusia antara sampai ( tahun, dan
remaja perempuan dari & sampai # tahun. 9nflamasi tendon patella %Tendonitis*
terjadi, seperti pada perkembangan kartilago yang mengalami osifikasi di tuberositas
tibia. /ondisi ini biasanya memiliki rentang .aktu tertentu dan gejala sembuh saat
terjadi penutupan lempeng pertumbuhan tibia di akhir pubertas.
Osgood-schlatter disease dapat mereda dengan sendirinya. Sebuah studi oleh /rause
et al, !"5 dari pasien yang diobati dengan pera.atan konser4atif dapat mengatasi
semua gejala setelah sekitar tahun onset penyakit. Setelah mengalami pematangan
tulang, penderita mungkin tetap mengalami masalah pada lutunya, adanya nyeri tekan
karena fragmen tulang kecil yang tidak menyatu atau bursa mungkin memerlukan
reseksi pembedahan.
#. E$idemiologi
Penyakit ini ditemukan pada usia "-( tahun dan lebih sering terjadi pada anak laki-
laki, kadang-kadang dengan ri.ayat cedera yang mendahului. Penyakit ini biasanya
hanya menyerang satu tibia. Suatu studi di =inlandia menemukan bah.a Osgood-
Schlatter mempengaruhi #5 dari atlet. Osgood-Schlatter biasanya suatu kondisi
jinak dan self limiting disease yang gejalanya dapat bertambah dan berkurang tetapi
sering membutuhkan .aktu berbulan-bulan sampai bertahun-tahun untuk
penyembuhan total. Osgood-Schlatter terjadi lebih sering pada anak laki-laki,
mungkin karena lebih banyak anak laki-laki yang berpartisipasi dalam olahraga.
Osgood-Schlatter biasanya terlihat pada tahun-tahun remaja yang sedang dalam
proses pertumbuhan yang cepat.
/ejadian sebenarnya dari Osgood-Schlatter tidak diketahui. Studi /ujala dari -6
atlet yang disajikan ke klinik olahraga dengan (&) keluhan. Anam puluh delapan
pasien, dengan usia rata-rata #, tahun, yang didiagnosis dengan kondisi OS. Pasien-
pasien ini tidak berpartisipasi dalam kegiatan olahraga mereka selama kurang lebih #
bulan karena kondisi ini. /ebanyakan indi4idu melanjutkan akti4itas penuh oleh '
bulan. /ujala juga mempertanyakan #&! sis.a dan menemukan bah.a 6,!5
mengaku telah terkena OSD. Dalam kelompok ini, pasien yang tidak berpartisipasi
dalam olahraga memiliki insiden lebih rendah %-,!5* dibandingkan mereka yang
bermain olahraga.
%. Etiologi dan Pato!iologi
Penyakit ini kemungkinan timbul akibat adanya trauma mikro %biasanya cedera ringan
yang tidak terlalu dihiraukan akibat pemakaian berulang*.
meskipun penyebab Osgood-Schlatter %OSD* tidak diketahui, namun, teori
menyatakan bah.a kondisi ini adalah hasil dari ekstensi lutut yang mengalami
kontraksi berulang, mekanisme tersebut yang menyebabkan a4ulsi sebagian atau
microa4ulsi dari tubeositas tibia. OSD biasanya terjadi pada orang yang terlibat dalam
olahraga yang mengharuskan berlari dan melompat. Selama berlari, senam, dan
olahraga lain yang membutuhkan kontraksi berulang dari paha depan, beban yang
berlebihan menimbulkan mikroa4ulsi. Selama fase reparatif, terjadi pembentukan
tulang baru dalam ruang a4ulsi, yang dapat mengakibatkan tuberkulum tibialis
menyimpang dan menonjol. /etika seorang indi4idu dengan tuberositas tibialis
terluka, tetapi terus berolahraga, microa4ulsi akan terus berkembang, dan proses
reparatif dapat mengakibatkan penonjolan yang nyata pada tuberositas tibia, dalam
jangka panjang menimbulkan masalah kosmetik dan fungsional. Sebuah fragmen
terpisah dapat berkembang pada insersi tendon patela dan dapat menyebabkan nyeri
kronis, jenis non-union.
Skema patofisiologi Osgood-Schlatter Disease
&. =aktor risiko
=aktor risiko untuk OSD adalah sebagai berikut2
?sia antara & dan ( tahun
Pria
Dalam masa pertumbuhan tulang yang cepat
Olahraga melompat dan berlari
'. (ani!estasi )linis
8ejalanya berupa2
a. nyeri tungkai atau nyeri lutut
b. nyeri dirasakan pada salah satu maupun kedua lutut
c. nyeri semakin memburuk jika penderita melakukan akti4itas %terutama berlari,
melompat atau naik tangga*
d. nyeri semakin memburuk jika daerah lutut ditekan
e. pembengkakan pada tungkai bagian depan, tepat diba.ah lutut.
*. Diagnosis
Diagnosa dibuat berdasarkan analisis dari hasil pemerikasaan fisioterapi dan masalah
yang ada. Diagnosa harus menggambarkan anatomi jaringan spesifik, patologi dan
gangguan gerak dan fungsi.
a. Pemeriksaan fisik sangat spesifik, pada palpasi didapatkan daerah yang lembut dan
lunak di atas tuberositas tibialis. Temuan kemungkinan lain dari pemeriksaan fisik
adalah sebagai berikut2
Pembengkakan dan nyeri tekan daerah proksimal tibia
Pembesaran atau penonjolan dari tuberositas tibialis
Terasa nyeri jika dilakukan tekanan langsung atau melompat %kontraksi
3uadriceps femoris*
7yeri dengan tahanan saat ekstensi lutut
b. Diagnosis banding
,edera dan fraktur tulang paha
Osteochondritis lutut Dissecans
Patellofemoral joint Syndromes
Pes +nserine ;ursitis
=raktur tibia dan fibula
c. $adiografi
Tidak semua pasien dengan penyakit Osgood-Schlatter %OSD* perlu radiografi,
karena dapat didiagnosis secara klinis. 7amun, foto polos sangat membantu untuk
mengesampingkan etiologi lainnya, seperti neoplasma, fraktur tibialis apophyseal
akut, dan infeksi. Selain itu, radiografi dapat menunjukkan 2
Tulang kecil pada superficial tendon patela
Pengerasan irregular tuberositas tibia proksimal
Pengapuran dalam tendon patela
Penebalan tendon patela
Adema pada jaringan lunak tuberositas tibialis proksimal
Penatalaksanaan +isiotera$i $ada Osgood Schlatter Disease
?ntuk menentukan problem pada penderita Osgood schlatter terlebih dahulu harus
melakukan pemeriksaan dalam asuhan pelayanan fisioterapi yang terdiri atas2
a. +namnesa
+namnesa adalah metode pengumpulan data dengan .a.ancara baik langsung pada
pasien maupun dengan keluarganya. +namnesa mencangkup indentitas pasien,
keluhan utama, ri.ayat penyakit, serta tindakan medic yang pernah dilakukan .
b. Dital Sign
Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat keadaan umum pasien seperti tekanan
darah, nadi, pernafasan, suhu.
c. 9nspeksi
9nspeksi adalah pemeriksaan secara 4isual tentang kondisi serta kemampuan gerak
dan fungsinya. +pakah ada oedem pada anggota gerak, pengecilan otot %atropi*,
.arna, dan kondisi kulit sekitarnya, kemampuan beraktifitas, alat bantu yang
digunakan untuk beraktifitas, posisi pasien, dll.
d. Palpasi
Palpasi adalah pemeriksaan terhadap anggota gerak dengan menggunakan tangan dan
membedakan antara kedua anggota gerak yang kanan dan kiri. Palpasi dilakukan
pertama pada kulit dan subcutaneus untuk mengetahui temperatur, oedem, spasme,
penonjolan, dll.
e. /ekuatan Otot
Pengukuran ini untuk melihat kekuatan otot dari keempat anggota gerak tubuh dan
dilakukan dengan menggunakan metode manual muscle testing %::T*.
7ilai ::T 2
" 2 tidak ada kontraksi
2 ada kontraksi, tidak ada gerakan
6 2 ada kontraksi, ada gerakan tanpa mela.an gra4itasi
# 2 ada kontraksi, ada gerakan dan mela.an gra4itasi
- 2 ada gerakan mela.an gra4itasi dan mela.an tahanan minimal
( 2 normal
f. $O: %Bingkup 8erak Sendi*
Pemeriksan $O: dilakukan dengan menggunakan goniometer dan dituliskan metode
9SO: %9nternational Standar Of :easurement*
g. +ntropometri
Pengukuran ini dilakukan untuk membuat perbandingan anatara sisi yang sehat
dengan sisi yang sakit untuk menentukan apakah ada oedem , perbedan panjang
tungkai, pengecilan otot. Pemeriksaan ini dilakukan dilakukan dengan menggunkan
mid line.
h. $efleC
Pemeriksaan refleC menggunakan hummer refleC dengan melakukan didaerah tendon
patella dan achiles. 0asil yang ditemukan berupa tidak ada respon, hipotonus, normal,
hipertonus. +dapun keterangan nilai refleC2
a. 7ilai " 2 tidak ada respon
b. 7ilai 2 hipotonus
c. 7ilai 6 2 normal
d. 7ilai # 2 hipertonus
i. Spastisitas
Spastisitas menggunakan pengukuran skala +s.orth. Skala as.orth mengemukakan
secara manual pergerakan anggota gerak melalui lingkup geraknya untuk
mereganggkan suatu group otot
:odifikasi skala as.ort dalam menilai spastisitas
Terdapar ( tingkatan skala 2
" tonus normal
ada sedikit kenaikan tonus,ada kenaikan tonus ketika anggota gerak yang
kenadigerakkan
6 ada kenaikan tonus otot ringan, anggota gerak yang terkena dapat digerakan
dengan mudah
# kenaikan tonus sedang gerakan pasif angota gerak yang terkena sulit dilakukan
- kenaikan otot berat, anggota gerak terkena kaku
( bagian yang terkena dalam gerakan fleksi atau ekstensi
j. Pemeriksaan =ungsional
Dalam pemeriksaan fungsional meliputi kemampuan pasien dalam melakukan
aktifitas fungsionalnya dengan menggunakan EE.
k. Problem =isioterapi
+suhan pelayan fisioterapi yang diberikan pada penderita Osgood schlatter dilakukan
secara bertahap sesuai dengan problem yang ditemukan pada saat melakukan
assessment. ?ntuk itu sebelum melakukan inter4ensi fisioterapi, harus mengetahui
secara dahulu problem pada penderita dengan Osgood schlatter.
. 7yeri pada lutut dan tungkai
6. /eterbatasan $O:
#. Oedem disekitar patella
6. Diagnosa =isioterapi
Diagnosa fisioterapi dibuat berdasarkan analisis dari hasil pemerikasaan fisioterapi dan
masalah yang ada. Diagnosa harus menggambarkan anatomi jaringan spesifik, patologi dan
gangguan gerak dan fungsi.
#. Program Prencanaan =isioterapi
Dalam menentukan perencanaan, harus ditentukan terlebih dahulu tujuan yang akan
dicapai yang mencakup tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang. +dapun
penentuan tujuan dilakukan berdasarkan problematic fisioterapi yang ditemukan
dalam proses assessment.
-. 9nter4ensi =isioterapi
;erdasrkan problem dapat ditentukan inter4ensi fisioterapi yang diperlukan dan
sesuai dengan kebutuhan pasien atau keluhan pasien agar tujuan akhir dan inter4ensi
dapat tercapai. 9nter4ensi fisioterapi terutama ditunjukkan untuk mengurangi atau
masalah- masalah yang belum ada namum berpontensi untuk terjadi pada penderita
tersebut. Selain itu inter4ensi juga ditunjukkan untuk meninggkatkan kemandirian
penderita. +dapun berbagai inter4ensi fisioterapi yang akan dilakukan antara lain2
a. =isioterapi pada fase akut
. :engurangi oedem
6. :engurangi nyeri
* +kut fase
;eberapa teknik dapat direkomendasikan untuk mengurangi ketidaknyamanan
dan mencegah kambuhnya penyakit. $ekomendasi pengobatan tergantung pada
tingkat keparahan kondisi.
a. 9stirahat dianjurkan bila nyeri timbul.
b. As harus diterapkan ke daerah selama 6" menit setelah akti4itas.
c. Peregangan paha depan dan otot hamstring membantu mencegah perkembangan
OSD.
d. @angka pendek istirahat dan imobilisasi lutut mungkin diperlukan.
e. ?ntuk fiksasi lutut digunakan untuk jangka panjang dalam imobilisasi %) minggu*
pada kasus yang berat %misalnya, nyeri berlangsung lama*

b. =isioterapi pada fase pemulihan
6* Tahap pemulihan
0amstring stretch on .all
Standing calf stretch
Fuadriceps stretch
Straight leg raise
Prone hip eCtension
/nee stabilization
(. A4aluasi
A4alusi dapat dilakukan secara berkala, dimana tujuan dari e4aluasi ini adalah untuk
mengetahui apakah terapi yang kita berikan bermanfaat atau berguna bagi
penyembuhan pasien ataukah harus diubah jika ada perubahan terhadap penyembuhan
masalah yang dihadapi pasein.

;+; 999
B+PO$+7 /+S?S
. +ssesment
a. +namnesa
7ama 2 Tn. 7
?mur 2 ( Tahun
@enis kelamin 2 Baki-laki
+lamat 2 Denpasar
+gama 2 /risten
Pekerjaan 2 Pelajar
0obi 2 ;asket
Tanggal pemeriksaan 2 selasa, ( juli 6"-
b. $i.ayat Penyakit
/eluhan utama
Sejak kemarin mengeluh nyeri pada lutut kanan, bengkak pada daerah lutut
bagian ba.ah.
$i.ayat Penyakit Sekarang
Pada tanggal - juli 6"- pasien bermain basket dan setelah melompat
memasukan bola ke ring pasien merasakan sakit dilutut bagian ba.ah. Sehari
setelah itu lutut bengkak. .
$i.ayat penyakit dahulu
Pasien pernah cedera ringan saat terjatuh bermain basket & buan yang lalu.
$i.ayat penyakit keluarga
Tidak ada ri.ayat penyakit keluarga.
$i.ayat Psikososial
Pasien adalah seorang pelajar kelas S:+, anak kedua dari # bersaudara.
6. Dital sign
- ;P 2 "G&" mm0g
- 0$ 2 '( kaliGmenit
- $$ 2 6 kaliGmenit
#. 9nspeksi
- Statis 2 Deformitas 2 %H*
Iarna kulit 2 nomal
- Dinamis 2 antalgic gait
-. Palpasi
- Spasme 2 %-*
- 7yeri gerak 2 %H*
- 7yeri tekan 2 %H*
- Oedema 2 %H*
- Tonus 2 ;aik
(. Tes 8erakan %P=8D* pada lutut kanan
- Pasif 2 =leksi 2 7yeri, keterbatasan $O:
Akstensi 2 7yei, keterbatasan $O:
- +ktif 2 =leksi 2 7yeri, keterbatasan $O:
Akstensi 2 7yei, keterbatasan $O:
- $esisted 2 =leksi 2 7yeri, keterbatasan $O:
Akstensi 2 7yei, keterbatasan $O:
). Pemeriksaan :otorik
-Pemeriksaan B8S
8erakan
/nee
+ktif Pasif
/anan /iri /anan /iri
Sagital "
"
-(
"
-""
"
(
"
-"
"
-#(
"
"
"
-(
"
-"
"
(
"
-"
"
-#(
"
). Pemeriksaan ::T
8erakan
/nee
::T
/anan /iri
=leksi ( (
Akstensi - (
'. Pemeriksaan Sensorik 2 nyeri pada le4el '
&. Pemeriksaan Spesifik 2
Pemeriksaan spesifik, pada palpasi didapatkan daerah yang lembut dan lunak di atas
tuberositas tibialis. Temuan kemungkinan lain dari pemeriksaan fisik adalah sebagai
berikut2
Pembesaran atau penonjolan dari tuberositas tibialis.
Terasa nyeri jika dilakukan tekanan langsung atau melompat %kontraksi
3uadriceps femoris*.
:embandingkan lutut kiri dan kanan dengan menekan ligament patela. Positif
apabila lutut kanan terasa nyeri saat ditekan.
Test khusus yang digunakan pada kasus ini adalah gerakan isometrik mela.an
tahanan pada gerakan eCtensi lutut, apabila ditemukan adanya rasa nyeri pada
daerah depan lutut maka positif terjadinya osgood schlatter.
!. Bingkar segmen tungkai ba.ah
Segment /anan /iri Selisih
/nee %-& cm dari
trochanter mayor*
#) cm ## cm # cm
". Problem =isioterapi
a. 9mpairment, meliputi
$asa nyeri akan timbul pada bagian ba.ah dan depan tempurung lutut terutama
ketika dilakukan gerakan menekan. 7yeri juga akan terjadi karena adanya
kontraksi dari otot paha depan atau group otot Fuadriceps.
+danya bengkak pada tendon yang terkena akibat adanya penumpukan cairan
dalam proses peradangan %fase akut*.
+danya kekakuan pada sendi akibat desakan cairan di sekitar jaringan yang
meradang.
b. =ungtional Bimitation
Dengan adanya peradangan pada tendon patella akan mengakibatkan ganguan
aktifitas jongkok ke berdiri, dan pola jalan akan terganggu.
- Diagnosa
+danya nyeri dan keterbatasan fungsional akibat inflamasi insersi tendon patella dan
a4ulsi pada tuberositas tibia.
( Program
a. @angka Pendek
- menghilangkan nyeri pada lutut kanan
- menghilangkan bengkak pada lutut kanan
- meningkatkan $O: pada ekstensi lutut kanan
b. @angka Panjang
- mengembalikan aktifitas fungsional seperti jongkok, jalan, lari, melompat
) 9nter4ensi
=ase +kut %-6 hari* 2
a. Protection 2 Protection pada daerah lutut menggunakan brace
b. $est 2 9stirahat dianjurkan bila nyeri timbul.
c. 9ce 2 As harus diterapkan ke daerah selama 6" menit.
d. ,ompression 2 /ompresi pada daerah lutut untuk menghindari penumpukan cairan
yang disebabkan oleh pembengkakan. Selain untuk menghindari pembengkakan
metode kompresi dapat juga sebagai penyangga atau peng-fiksasi gerakan
eCtremitas yang cedera agar tidak bergerak sehingga tidak meluasnya jaringan yang
rusak karena cedera.
e. Ale4asi 2 meninggikan posisi atau mengubah posisi ke yang lebih tinggi dari posisi
jantung sehingga terjadi aliran keba.ah yang akan memfasilitasi pembuluh darah
balik dalam bekerja yang menyebabkan lancarnya pembuluh darah balik sehingga
mengurangi bengkak.
=ase /ronik %setelah fase akut *2
a. :odalitas
?ltra Sound
- Afek :ekanik
8elombang suara masuk ke dalam jaringan tubuh, maka efek yang pertama
yang terjadi di dalam tubuh adalah efek mekanik. 8elombang ?ltra Sound
menimbulkan adanya peregangan dan pemampatan di dalam jaringan
dengan frekuensi yang sama dengan frekuensi dari ?ltra Sound. Oleh karna
itu terjadilah adanya 4ariasi tekanan di dalam jaringan.@adi adanya 4ariasi
tekanan inilah, kemudian timbul efek mekanik yang lebih dikenal dengan
istilah micromassage adanya 4ariasi-4ariasi tekanan tersebut akan
menimbulkan.
- Afek Panas
:icromassage yang ditimbulkan oleh ?ltra Soundakan menimbulkan efek
panas dalam jaringan. Afek panas yang diperoleh adalah tidak sama untuk
setiap jaringan, ini tergantung dari beberapa factor yang dapat ditentukan
seperti bentuk aplikasi ?ltra Sound% continue dan intermitten *, intensitas
dan lamanya terapi.
- Afek-efek ;iologis
- :eningkatkan sirkulasi darah
Terjadinya 4asodilatasi pembuluh darah yang diakibatkan oleh
adanya reaksi terhadap efek panas.
- $elaksasi otot
Perbaikan sirkulasi darah akan dapat menyebabkan terjadinya
relaksasi otot, oleh karena zat-zat pengiritasi jaringan akan diangkut.
Disamping itu 4ibrasi ?ltra Sound dapat mempengaruhi serabut
saraf afferent secara langsung dan akibatnya adalah relaksasi otot.
- :eningkatkan kemampuan regenerasi jaringan
Telah dapat ditunjukkan bah.a getaran ?ltra Sound dapat
memperbaiki proses regenerasi pada berbagai macam jaringan. 9ni
karena kekuatan mekanik ?ltra Sound dapat menyebabkan gerakan-
gerakan bebas molekul-molekul dalam jaringan tubuh.
- Pengurangan rasa nyeri
7yeri dapat dikurangi dengan menggunakan ultrasound, selain
dipengaruhi oleh efek panas juga berpengaruh langsung pada
saraf.0al ini disebabkan oleh karena gelombang pula dengan
intensitas rendah sehingga dapat menimbulkan pengaruh sedati4e
dan analgesi pada ujung saraf afferent 99 dan 999a sehingga diperoleh
efek terapeutik berupa pengurangan nyeri sebagai akibat blockade
akti4itas pada 0P, melalui serabut saraf tersebut. Dasar dari
pengurangan rasa nyeri diperoleh dari perbaikan sirkulasi darah
dalam jaringan, normalisasi dari tonus otot. berkurangnya tekanan
dalam jaringan, bekurangnya derajad keasaman, stimulasi pada
serabut saraf afferent.
- 9ndikasi
/elainan - kelainan pada jaringan seperti tulang, sendi, otot.
/eadaan post traumatic seperti contusion, distorsi, luCation, faraktur
dan kontraktur, ;ursitis, kapsulitis, tendinitis.
/elainan 1 kelainan sirkulasi darah seperti oedema dan lain - lain.
- /ontra indikasi
+bsolut 2
:ata 2 /arena dapat memberikan kemungkinan terjadinya ca4itasi di
dalam kelenjar air mata, yang bahkan dapat sampai terjadi kerusakan.
@antung
?terus pada .anita hamil 2:eskipun intensitas yang dapat mencapai
uterus sangatlah kecil tetapi dari segi keamanan, daerah perut pada
.anita hamil tidak boleh diberikan.
Testis 2 /arena pengaruh getaran ?ltra Sound pada jaringan ini belum
dipastikan, maka daerah ini tidak boleh diberikan ?ltra Sound.
$elatif
Post laminectomi, 0ilangnya sensibilitas, Tumor Post traumatic, Diabetes
melitus.
- Dosis
=rekuensi 2 :0z
9ntensitas 2 ",(-6 IGcm
6
Time 2 " menit selama kali terapi. Terapi dilakukan sebanyak )
kali selama 6 minggu
Type 2 continous
b. Terapi Batihan
0amstring stretch on .all
- Tidur terlentang didekat dinding. dinding digunakan untuk membantu
melakukan peregangan otot hamstring.
- Tahan selama "-#" detik dengan pengulangan 6-- kali.
Standing calf stretch
- ;erdiri dengan kaki kiri didepan, gunakan tembok untuk meopang tubuh
dengan tangan.
- Tekuk kaki kiri dan tangan kaki kanan tetap lurus serta kedua telapak
kaki tetap rata dengan permukaan lantai.
- Tekuk hingga merasakan kontraksi pada otot betis kaki belakang, tahan
selama #" detik dan lakukan pengulangan #-- kali pada masing-masing
kaki.
Fuadriceps stretch
- ;erdiri lalu tekuk kaki kanan kebelakang hingga tumit menyentuh
bokong.
- Pegang punggung kaki lalu tarik sampai merasakan kontraksi otot paha
depan.
- Tahan selama #" detik dan lakukan pengulangan sebanyak #-- kali.
Straight leg raise
- Pasien tidur terlentang dengan fleksi hip !"
"
dan fleksi knee !"
"
- /emudian ekstensikan knee dan tahan selama #" detik dan lakuakan
pengulangan sebanyak #-- kali.
Prone hip eCtension
- Tidur tengkurap kemudian angkat kaki.
- Tahan selama " detik dan lakukan pengulangan sebanyak #-- kali.
/nee stabilization
-

' A4aluasi
A4aluasi dilakukan setelah ) kali terapi dalam .aktu 6 minggu .
- nyeri pada lutut kanan menghilang
- bengkak pada lutut kanan menghilang
- terjadi peningkatan $O: pada ekstensi lutut kanan
8erakan
/nee
+ktif Pasif
/anan /iri /anan /iri
Sagital (
"
-"
"
-""
"
(
"
-"
"
-#(
"
(
"
-"
"
-"
"
(
"
-"
"
-#(
"
- bisa melakukan aktifitas fungsional berjalan