Anda di halaman 1dari 1

PENDAHULUAN : REALISASI IMAN DALAM KEHIDUPAN SOSIAL

+[6] Thalib, Muhammad. 50 Tuntunan bertetangga Islami.2002.Bandung: Irsyad Baitus Salam.


Hlm.125

Iman menjadi suatu hal yang amat penting dalam kehidupan manusia, hingga menjadi
bahasan utama dalam teks hadis ************* yang berada dalam konteks sosial iaitu
menghormati tetangga. Nabi Muhamad SAW menjelaskan bahwa seseorang yang
mennganggu tetangganya memberi erti telah berbuat dosa, sekalipun gangguan yang
dilakukannya itu ringan. Beliau juga menyatakan bahwa orang yang seperti ini bukan
termasuk dalam golongan mukmin sejati yang sesuai syariat Islam menurut Thalid &
Muhammad dalam bukunya 50 Tuntunan Bertetangga Islami.
Islam sangat menghargai persaudaraan. Persaudaraan yang datang dari hati nurani, yang
dasarnya adalah keimanan dan bukan hal-hal lain, sehingga betul-betul merupakan
persaudaraan murni dan suci. Persaudaraan yang akan abadi seabadi imannya kepada
Allah SWT dengan kata lain, persaudaraan yang didasarkan Illah.
Iman dalam bahasa Arab ( ) bermaksud 'percaya'. Perkataan iman ( ) diambil dari
kata kerja aamana () yukminu ( ) yang membawa maksud percaya atau
membenarkan. Perkataan iman yang berarti membenarkan itu disebutkan dalam al-Quran,
di antaranya dalam surah al-Taubah ayat 62 :
Maksudnya : Mereka bersumpah kepada kamu dengan nama Allah untuk mendapat
keredaan kamu, padahal Allah dan Rasul-Nya jualah yang lebih berhak mereka mendapat
keredaan-Nya, jika betul mereka orang-orang yang beriman.
Tokoh Islam juga turut menggariskan beberapa definisi istilah iman ini. Ali bin Abi Talib r.a.
telah menyatakan, Iman itu ucapan dengan lidah dan kepercayaan yang benar dengan hati
dan perbuatan dengan anggota. Aisyah r.a. berkata, Iman kepada Allah itu mengakui
dengan lisan dan membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota. Imam al-
Ghazali menguraikan makna iman sebagai pengakuan dengan lidah (lisan) membenarkan
pengakuan itu dengan hati dan mengamalkannya dengan rukun-rukun (anggota-anggota).
Berkaitan dengan iman ini, ia merupakan perkara yang abstrak. Tiada siapa yang boleh
mengetahui setakat mana tahap keimanan seseorang itu melainkan dirinya sendiri dan Allah
SWT. Lazimnya, kita boleh mengenalpasti tahap keimanan melalui kesan perbuatan atau
tingkah laku seseorang individu itu dalam kehidupannya sama ada baik ataupun buruk. Iman
tidak cukup dengan pengakuan hati tetapi iman perlu disinergikan atau disepadukan dalam
konteks sosial kita. Apabila baik perilaku individu terbabait maka baiklah imannya dan
sebaliknya. Berikut ini adalah sedikit pembahasan berkaitan dengan realisasi iman dalam
kehidupan sosial berdasarkan uswah Rasulullah SAW dalam sunah baginda SAW.