Anda di halaman 1dari 14

W O R K S H O P III - 1

Peningkatan Kemampuan Teknis Anggota BK PRD Provinsi Lampung, 22-25 April 2013




W O R K S H O P


PENINGKATAN KEMAMPUAN
TEKNIS ANGGOTA BKPRD

KABUPATEN/ KOTA SE- PROVINSI
LAMPUNG
22-25 April 2013


M O D U L:
PENYUSUNAN RENCANA SISTEM
JARINGAN PRASARANA


DINAS PENGAIRAN DAN PERMUKIMAN
P R O V I N S I L A M P U N G
W O R K S H O P III - 2
Peningkatan Kemampuan Teknis Anggota BK PRD Provinsi Lampung, 22-25 April 2013


D a f t a r I s I


3.1. PENGANTAR ...................................................................................................... III-3
3.2. SISTEM JARINGAN PERGERAKAN .................................................................. III-3
3.2.1. Rencana Jaringan Jalan Primer .......................................................... III-4
3.2.1.1. Jalan Arteri Primer................................................................... III-4
3.2.1.2. Jalan Kolektor Primer .............................................................. III-4
3.2.1.3. Jalan Lokal Primer ................................................................... III-5
3.2.1 Rencana Jaringan Jalan Sekunder ..................................................... III-5
3.2.1.1 Jalan Kolektor Sekunder ......................................................... III-5
3.2.1.2 Jalan Lokal Sekunder .............................................................. III-6
3.2.2 Rencana Jaringan Jalan Linkungan ...................................................... III-6

Contoh 2 Peta Sistem Jaringan Pergerakan ........................................................... III-8
Contoh 3 Peta Sistem Jaringan Kereta Api ............................................................. III-10
Tabel 1 Standar Kebutuhan Parkir Minimal............................................................. III-13
W O R K S H O P III - 3
Peningkatan Kemampuan Teknis Anggota BK PRD Provinsi Lampung, 22-25 April 2013


3.3. SISTEM JARINGAN PERGERAKAN LAINNYA ............................................... III-9
3.1. PENGANTAR
Rencana jaringan prasarana merupakan pengembangan hierarki sistem jaringan
prasarana yang ditetapkan dalam rencana struktur ruang yang termuat dalam RTRW
kabupaten/kota. Rencana sistem jaringan prasarana terdiri dari Rencana Sistem jaringan
pergerakan, rencana sistem jaringan energi/kelistrikan, rencana pengembangan jaringan
telekomunikasi, rencana pengembangan jaringan air minum, rencana pengembangan
jaringan drainase, rencana pengembangan jaringan air limbah, dan rencana pengembangan
prasarana lainnya.
3.2. SISTEM JARINGAN PERGERAKAN
Berdasarkan permen PU No.20/2011 sistem jaringan pergerakan merupakan seluruh
jaringan primer dan jaringan sekunder pada BWP yang meliputi jalan arteri, jalan kolektor,
jalan lokal, jalan lingkungan, dan jaringan jalan lainnya yang belum termuat dalam RTRW
kabupaten/kota, yang terdiri atas:
1. jaringan jalan arteri primer dan arteri sekunder;
2. jaringan jalan kolektor primer dan kolektor sekunder;
3. jaringan jalan lokal primer dan lokal sekunder;
4. jaringan jalan lingkungan primer dan lingkungan sekunder; dan
5. jaringan jalan lainnya
Perencanaan sistem jaringan pergerakan didasaikan pada beberapa aspek, yakni:
Rencana struktur ruang dalam RTRW Kabupaten;
Kebutuhan pelayanan dan pengembangan bagi wilayah perencanaan;
Rencana pola ruang dalam RDTR;
Sistem pelayanan dan pergerakan sesuai fungsi dan peran Perkotaan dalam RTRW
Kabuapten;
Ketentuan peraturan perundang-undangan terkait.
Rencana jaringan pergerakan (orang, barang dan kendaraan) di wilayah Perkotaan
akan mengikuti rencana pola ruang. Karena perubahan fungsi tata guna lahan akan
berpengaruh terhadap lokasi daerah pembangkit pergerakan (trip production zone) dan
daerah penarik pergerakan (trip attraction zone).
Perubahan pola pergerakan akan sangat berpengaruh terhadap lalu lintas, yang
pada akhirnya akan berpengaruh pula terhadap penyediaan sarana transportasi angkutan
W O R K S H O P III - 4
Peningkatan Kemampuan Teknis Anggota BK PRD Provinsi Lampung, 22-25 April 2013

umum, pola dan dimensi jaringan jalan yang merupakan akses ke lokasi permukiman, dan
sebagainya.
3.2.1. Rencana Jaringan Jalan Primer
Rencana jaringan jalan primer di Perkotaan terdiri dari jalan arteri primer, jalan
kolektor primer serta jalan lokal primer.
3.2.1.1. Jalan Arteri Primer
Jalan arteri primer merupakan jalan yang menghubungkan secara berdaya guna
antar pusat kegiatan nasional atau antar pusat kegiatan nasional dengan pusat kegiatan
wilayah. Jalan arteri primer berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2006 tentang
Jalan adalah sebagai berikut :
Jalan arteri primer didesain berdasarkan kecepatan rencana minimal 60 Km/jam
dengan lebar badan jalan minimal 11 meter;
Jalan arteri primer mempunyai kapasitas yang lebih besar dari volume lalu lintas rata-
rata;
Pada jalan arteri primer lalu lintas jarak jauh tidak boleh terganggu oleh lalu lintas
ulang alik, lalu lintas lokal dan kegiatan lokal;
Jumlah jalan masuk ke jalan arteri primer dibatasi;
Persimpangan sebidang pada jalan arteri primer dengan pengaturan tertentu; serta
Jalan arteri primer yang memasuki kawasan perkotaan dan/atau kawasan
pengembangan perkotaan tidak boleh terputus.
Rencana jaringan jalan arteri primer di BWP Situbondo adalah pada ruas jalan utama
di BWP Situbondo yaitu Jalan PB Sudirman Jalan WR Supratman Jalan Kenanga
Jalan Wijaya Kusuma Jalan Sucipto Jalan A Yani, dimana Sub BWP yang
dilalui oleh ruas jalan arteri primer ini adalah Sub BWP II, III, dan IV.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam rencana jaringan jalan arteri primer adalah
sebagai berikut :
1. Mengatur pola penggunaan lahan di sekitar jalan arteri primer untuk dibatasi
perkembangan lahan terbangunnya karena ruas jalan ini merupakan kawasan yang
cukup padat.
2. Mengatur sistem pergerakan sesuai dengan fungsi jalan; dan
3. Penetapan median jalan sesuai dengan fungsi jalan.
3.2.1.2. Jalan Kolektor Primer
W O R K S H O P III - 5
Peningkatan Kemampuan Teknis Anggota BK PRD Provinsi Lampung, 22-25 April 2013

Jalan kolektor primer adalah jalan yang menghubungkan antar kabupaten/kota.
Ketentuan teknis tentang jalan kolektor primer dijelaskan dalam Pasal 14 Peraturan
Pemerintah No. 34 Tahun 2006 tentang Jalan, yang memaparkan bahwa :
Jalan kolektor primer didesain berdasarkan kecepatan rencana minimal 40 Km/jam
dengan lebar badan jalan minimal 9 meter;
Jalan kolektor primer mempunyai kapasitas yang lebih besar dari volume lalu lintas
rata-rata;
Jumlah jalan masuk dibatasi dan direncanakan
Persimpangan sebidang pada jalan kolektor primer dengan pengaturan tertentu;
serta
Jalan kolektor primer yang memasuki kawasan perkotaan dan/atau kawasan
pengembangan perkotaan tidak boleh terputus.
3.2.1.3. Jalan Lokal Primer
Jaringan jalan lokal primer adalah jaringan jalan yang menghubungkan antara
kawasan perkotaan dengan kawasan perkotaan lainnya, atau kawasan perkotaan dengan
kawasan pedesaan pendukungnya
Ketentuan teknis tentang jalan Lokal primer dijelaskan dalam Pasal 15 Peraturan
Pemerintah No. 34 Tahun 2006 tentang jalan, memaparkan bahwa :
Jalan lokal primer di desain berdasarkan kecepatan rencana menimal 20 Km/jam
dengan lebar badan jalan minimal 7,5 meter; dan;
Jalan lokal primer yang memasuki kawasan perdesaan tidak boleh terputus.
3.2.1 Rencana Jaringan Jalan Sekunder
Jaringan jalan sekunder yang direncakan dalam kawasan perkotaan terdiri dari jalan
kolektor sekunder dan lokal sekunder.
3.2.1.1 Jalan Kolektor Sekunder
Syarat dan ketentuan teknis jaringan jalan kolektor sekunder adalah sebagai berikut :
Jalan kolektor sekunder didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 20
Km/jam dengan lebar badan jalan minimal 9 meter;
Jalan kolektor sekunder mempunyai kapasitas yang lebih besar daripada volume lalu
lintas rata-rata;
Pada jalan kolektor sekunder lalu lintas cepat tidak boleh terganggu oleh lalu lintas
lambat;
Persimpangan sebidang pada jalan kolektor sekunder dengan pengaturan tertentu.
W O R K S H O P III - 6
Peningkatan Kemampuan Teknis Anggota BK PRD Provinsi Lampung, 22-25 April 2013



3.2.1.2 Jalan Lokal Sekunder
Syarat dan ketentuan teknis jalan lokal sekunder adalah sebagai berikut Jalan lokal
sekunder didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 10 Km/jam dengan lebar
badan jalan paling sedikit 7,5 meter.

3.2.2 Rencana Jaringan Jalan Linkungan
Rencana jaringan jalan lingkungan I diarahkan kepada ruas jalan yang terdapat
dalam zona lingkungan serta jalan penghubung antara zona permukiman dengan jalan
sistem sekunder
Jalan lingkungan didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 10 Km/jam
dengan lebar badan jalan minimal 6,5 meter;
Persyaratan teknis jalan lingkungan diperuntukkan bagi kendaraan bermotor beroda
tiga atau lebih;
Jalan lingkungan primer yang tidak diperuntukkan bagi kendaraan bermotor beroda
tiga atau lebih harus mempunyai lebar badan jalan paling sedikit 3,5 meter.
Berdasarkan rencana fungsi jalan yang telah ada, maka dapat direncanakan dimensi
jalan untuk masing-masing fungsi jalan. Berdasarkan UU No. 38 Tahun 2004 terkait dengan
pengembangan dimensi jalan, berikut ini definisi dari Rumaja (ruang manfaat jalan), Rumija
(ruang milik jalan) dan Ruwasja (ruang pengawasan jalan) :
Rumaja (ruang manfaat jalan) adalah suatu ruang yag dimanfaatkan untuk konstruksi
jalan dan terdiri atas badan jalan, saluran tepi jalan, serta ambang pengamannya.
Badan jalan meliputi jalur lalu lintas, dengan atau tanpa jalur pemisah dan bahu jalan,
termasuk jalur pejalan kaki. Ambang pengaman jalan terletak di bagian paling luar,
dari ruang manfaat jalan, dan dimaksudkan untuk mengamankan bangunan jalan.
Rumija (ruang milik jalan) adalah sejalur tanah tertentu di luar ruang manfaat jalan
yang masih menjadi bagian dari ruang milik jalan yang dibatasi oleh tanda batas
ruang milik jalan yang dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan keluasan
keamanan penggunaan jalan antara lain untuk keperluan pelebaran ruang manfaat
jalan pada masa yang akan datang.
Ruwasja (ruang pengawasan jalan) adalah ruang tertentu yang terletak di luar ruang
milik jalan yang penggunaannya diawasi oleh penyelenggara jalan agar tidak
W O R K S H O P III - 7
Peningkatan Kemampuan Teknis Anggota BK PRD Provinsi Lampung, 22-25 April 2013

mengganggu pandangan pengemudi, konstruksi bangunan jalan apabila ruang milik
jalan tidak cukp luas, dan tidak mengganggu fungsi jalan. Terganggunya fungsi jalan
disebabkan oleh pemanfaatan ruang pengawasan jalan yang tidak sesuai dengan
peruntukkannya.
Agar ruas jalan yang terdapat di kawasan Perkotaan dapat berfungsi sesuai dengan
fungsi yang telah ditetapkan, maka perlu direncanakan dimensi untuk masing-masing fungsi
jalan. Berikut ini contoh 1 tebal penyajian rencana dimensi jalan di kawasan perkotaan dan
contoh 2 peta sistem jaringan pergerakan di kawasan perkotaan.
Contoh 1
Tabel Ketentuan Dimensi Jalan Minimal
Fungsi Jalan Rumaja (m) Rumija (m) Ruwasja (m)
Arteri Primer
Kolektor Primer
Lokal Primer
Kolektor Sekunder
Lokal Sekunder
Lingkungan

W O R K S H O P III - 8
Peningkatan Kemampuan Teknis Anggota BK PRD Provinsi Lampung, 22-25 April 2013

Contoh 2
Peta Sistem Jaringan Pergerakan
W O R K S H O P III - 9
Peningkatan Kemampuan Teknis Anggota BK PRD Provinsi Lampung, 22-25 April 2013

3.3. SISTEM JARINGAN PERGERAKAN LAINNYA
Sebagaimana tercantum dalam permen PU No.20/2011 bahwa rencana jaringan
pergerakan harus memuat rencana jaringan pergerakan lainnya seperti jalur kereta api, jalur
pelayaran, dan jalur pejalan kaki/sepeda.
3.3.1. Sistem Jaringan Kereta Api
Dalam pasal 1 Undang-Undang No.13 Tahun 1992 tentang Perkeretaapian,
dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan perkeretaapian adalah segala sesuatu yang
berkaitan dengan sarana, prasarana dan fasilitas penunjang kereta api untuk
penyelenggaraan angkutan kereta api yang disusun dalam satu sistem. Sarana kereta api
adalah segala sesuatu yang dapat bergerak di atas jalan rel. Prasarana kereta api adalah
jalur dan stasiun kereta api termasuk fasilitas yang diperlukan agar sarana kereta api dapat
dioperasikan. Sedangkan fasilitas penunjang kereta api adalah segala sesuatu yang
melengkapi rencana pengembangan jalur angkutan umum di kawasan perkotaan.
Perkeretaapian sebagai salah satu moda transportasi tidak dapat dipisahkan dari
moda-moda transportasi lain. Transportasi perkeretaapian mempunyai karakteristik
pengangkutan secara massal dan memakai ruang secara lebih efisien. Dalam rencana
sistem jaringan kereta api perlu dilengkapi dengan upaya perlindungan kawasan rel kereta
api. Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merencanakan kawasan rel
kereta api diantaranya:
1. Penataan kawasan rel kereta api, seperti melakukan relokasi, pegadaan taman, dll.
Disesuaikan dengan kondisi kawasan di sekitar rel kereta api.
2. Penataan/perbaikan lahan sempadan.
3. Memperhatika kawasan konservasi di sekitar rel kereta api.
4. Pemanfaatan sempadan rel kereta api untuk ruang terbuka hijau. Adapun manfaat
RTH pada kawasan konservasi jalur kereta api antara lain sebagai:
Sebagai peredam suara suara yang ditimbulkan oleh kereta api;
Mengurangi polusi, akibat polusi asap kereta api maupun kendaraan lain;
Untuk membatasi agar tidak dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk
kegiatan baik kegiatan berdagang maupun mendirikan bangunan lainnya.
5. Merencanakan pengembangan prasarana transportasi kereta api. Adapun beberapa
arahan untuk pengembangan prasarana transportasi meliputi:
Arahan penghidupan kembali jalur kereta api yang sudah ada;
Pengembangan jalur kereta api dari yang sudah ada menjadi lebih baik;
W O R K S H O P III - 10
Peningkatan Kemampuan Teknis Anggota BK PRD Provinsi Lampung, 22-25 April 2013

Revitalisasi jalur kereta api;
Pembukaan kembali jaringan rel kereta api; dll.
Berikut ini contoh penyajian peta rencana jaringan kereta api:
Contoh 3
Peta Sistem Jaringan Kereta Api















W O R K S H O P III - 11
Peningkatan Kemampuan Teknis Anggota BK PRD Provinsi Lampung, 22-25 April 2013

3.3.2. Jalur Pedestrian (pedestrian way)
Rencana pengembangan jalur pejalan kaki di Kawasan Perkotaan dapat
dikembangkan pada :
Kawasan dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi;
Jalan-jalan yang memiliki rute angkutan umum yang tetap;
Kawasan yang memiliki aktivitas yang tinggi, seperti pasar dan kawasan
bisnis/komersial serta jasa;
Keberadaan jalur pedestrian sebagai prasarana utama bagi pejalan kaki sangat
dibutuhkan pada ruas-ruas jalan di mana pola penggunaan lahan di sekitarnya mempunyai
fungsi publik. Dalam pengembangan jalur pedestrian hendaknya dengan memperhatikan
kondisi lalu lintas (intensitas lalu lintas) serta fungsi lahan sekitarnya. Jangan sampai
pengembangan jalur pedestrian malah menimbulkan bangkitan atau tarikan terhadap
orientasi pergerakan pejalan kaki dan menimbulkan kemacetan.








Contoh 4 Ilustrasi Jalur Pedestrian
Selain pengembangan jaringan jalan, keberadaan fasilitas penunjang transportasi
seperti tempat penyeberangan, halte, marka jalan serta parkir sangat penting untuk
ditingkatkan pelayanannya. Adapun penjabaran lebih lanjut dari masing-masing fasilitas
penunjang transportasi adalah sebagai berikut :
1. Tempat Penyeberangan
Tempat penyebrangan atau zebra cross direncanakan [ada pada ruas-ruas jalan
utama yang memiliki aktifitas pejalan kaki yang tinggi, dimana penggunaan lahannya dapat
menimbulkan tarikan bagi masyarakat misalnya perdagangan dan jasa, perkantoran serta
sarana pelayanan umum.


W O R K S H O P III - 12
Peningkatan Kemampuan Teknis Anggota BK PRD Provinsi Lampung, 22-25 April 2013

2. Halte
Untuk pemilihan lokasi halte, harus memenuhi beberapa ketentuan sebagai berikut :
1. Tidak mengganggu kelancaran lalu-lintas kendaraan maupun pejalan kaki;
2. Dekat dengan lahan yang mempunyai potensi besar untuk pengguna angkutan
umum, misalnya pendidikan, perkantoran, perdagangan dan jasa serta pelayanan
umum lainnya;
3. Mempunyai aksesibilitas yang tinggi terhadap pejalan kaki;
4. Jarak satu halte dengan halte lainnya pada suatu ruas jalan minimal 300 meter dan
maksimal 700 meter;
5. Lokasi penempatan halte disesuaikan dengan kebutuhan.

Contoh 4 Perspektif design Halte
Rencana halte disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kawasan perkotaan
sesuai dengan tingkat kebutuhan masyarakat dalam sistem pergerakan.
3. Marka Jalan
Penataan marka jalan harus memperhatikan hal-hal sebagai beikut:
1. Marka jalan diarahkan pada sepanjang koridor jalan utama dan pada koridor jalan
rawan kecelakaan.
2. Khusus marka jalan berupa zebra cross dibuat di tempat-tempat ramai pejalan kaki
seperti perempatan atau pertigaan di kawasan pertokoan, di depan sekolah dengan
penerapan zona selamat, di depan halte dan sebagainya.
3. Untuk marka jalan yang kondisinya sudah tidak nampak lagi warna garisnya
diperlukan pengecatan ulang agar bisa berfungsi lebih efektif lagi.

4. Parkir
Semakin meningkatnya jumlah kendaraan pribadi mengakibatkan kapasitas jalan
menurun terlebih di sekitar kawasan perdagangan, biasanya hingga badan jalan digunakan
sebagai areal berdagang, yang berakibat pula kebutuhan akan lahan parkir juga meningkat.
PEMANFAATAN
REKLAME
DESIGN
W O R K S H O P III - 13
Peningkatan Kemampuan Teknis Anggota BK PRD Provinsi Lampung, 22-25 April 2013

Perencanaan sistem parkir selalui ditandai dengan sistem parker berupa off street
(parkir di luar badan jalan) dan on street (parkir di badan jalan). Pengendalian parkir dapat
dilakukan dengan penerapan sistem tariff progresif maupun parkir berlangganan.Tarif
progresif maupun tarif berlangganan yaitu pembebanan biaya parkir bagi pengemudi untuk
lebih efisien dalam menggunakan ruang parkir. Pemarkir kendaraan akan dikenakan tarif
yang lebih mahal dari pada parkir off street. Dengan penerapan rencana tarif progresif pada
beberapa parkir di pinggir jalan dan tidak mengganggu kelancaran arus lalu lintas. Rencana
tariff progresif lebih tepat di terapkan pada parkir di kawasan pusat perbelanjaan. Parkir
berlangganan yaitu pembebanan biaya parkir kepada para pemarkir untuk membayar parkir
di pihak pengelola secara kumulatif untuk jangka waktu tertentu.Sehingga pemarkir bisa
memarkir kendaraan di tempat tertentu tanpa harus membayar lagi. Rencana parkir
berlangganan bisa diterapkan untuk parkir di pusat perbelanjaan, fasilitas umum, tempat
peribadatan dll.
Sistem parkir di luar badan jalan berupa penyediaan taman parkir atau penyediaan
parkir oleh setiap bangunan. Dalam menentukan luas ruang parkir di suatu tempat yang
memiliki kegiatan tertentu seperti : tempat perbelanjaan, pendidikan, perkantoran dan lain
sebagainya dalam setiap luar areal yang tersedia dibutuhkan ruang parkir yang berbeda
antara kegiatan yang satu dengan kegiatan yang lainnya.
Tabel 1 Standar Kebutuhan Parkir Minimal

No Penggunaan
Bangunan
Kebutuhan Parkir Di
Pinggiran Kota (M)
Kebutuhan
Parkir Di Pusat
Kota (M)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
Perkantoran
Pergudangan
Apotik
Praktek Dokter
Auditorium
Restauran
Club
Hiburan
Kolam Renang
Lapangan
Tennis
Sekolah
Rumah Ibadah
Museum
Perpustakaan
Bank
Rumah Sakit
60
40
30
15
10
20
20
20
40
60
60
60
250
100
40
75
50
100
60
30
30
30
30
25
20
60
80
100
100
250
150
60
100
60
W O R K S H O P III - 14
Peningkatan Kemampuan Teknis Anggota BK PRD Provinsi Lampung, 22-25 April 2013

No Penggunaan
Bangunan
Kebutuhan Parkir Di
Pinggiran Kota (M)
Kebutuhan
Parkir Di Pusat
Kota (M)
18
19
20
Umum
Rumah Sakit
Swasta
Perdagangan
Swalayan
Bioskop
40
15
60
50
35
100
Sumber : Pembangunan kota : Tinjauan Regional dan Lokal, oleh : Ir. Budi D.
Sinulingga, Msi (1999), hal 175 - 176

Pembatasan Masuk, Parkir dan Stop bagi Kendaraan :
1. Pembatasan Masuk bagi Mobil Barang
Mobil Barang ( Truk ) dilarang masuk ke seluruh daerah pusat kota yang dibatasi oleh
Jaringan Lintasan Angkutan Barang, kecali pada jaringan lintas yang ditentukan.
2. Pembatasan Parkir Pinggir Jalan
Larangan Parkir Pinggir Jaln harus diberlakukan pada jaringan primer dengan Drajat
Kejenuhan yang sudah cukup tinggi atau yang mempunyai kecepatan lalu lintas yang
cukup tinggi.
3. Kawasan Larangan Stop bagi Angkutan Umum
Pada daerah persimpangan sampai pada jarak 50 m dari tepi persimpangan
diperlukan larangan berhenti bagi kendaraan Angkutan umum penumpang apapun.
Ketentuan ini mempengaruhi penempatan Halte Angkutan Umum sekitar persimpangan.