Anda di halaman 1dari 10

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Iklim merupakan peluang statistik berbagai keadaan atmosfer anatara lain suhu,
tekanan, angin, kelembaban yang terjadi di suatu daerah selama kurun waktu yang panjang.
Perubahan iklim bisa terjadi karena proses alam internal maupun kekuatan dan
tingkah laku aktivitas manusia yang terus menerus mengubah komposisi atmosfer dan tata
guna lahan. Perubahan iklim ini merupakan ancaman bagi bumi, karena dapat memengaruhi
semua aspek kehidupan. Dan tentu saja akan merusak keseimbangan kehidupan bumi.

1.2 Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud dengan Perubahan Iklim
Apa penyebab Perubahan Iklim
Apa dampak dari Perubahan Iklim
Bagaimanakah Perubahan Iklim di Indonesia

1.3 Tujuan Penulisan
Menjelaskan Pengertian dari Perubahan Iklim
Menjelaskan Penyebab dari Perubahan Iklim
Menjelaskan Dampak dari Perubahan Iklim
Menjelaskan Perubahan Iklim di Indonesia



2

BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pengertian Perubahan Iklim
Perubahan iklim mengacu pada perubahan apapun pada iklim dalam satu kurun
waktu, baik karena variabilitas alami atau sebagai hasil dari aktivitas manusia. Sejak lama
iklim bumi terus berubah, namun perubahan yang terjadi sekarang jauh lebih cepat daripada
sebelumnya. Jika berbicara tentang perubahan iklim, kuncinya adalah (karbon). Sebagian
besar atmosfer bumi mengandung nitrogen (sekitar 78%) dan oksigen (sekitar 21%). Sisa 1%
gas di atmosfer terdiri dari berbagai gas, salah satunya adalah karbon dioksida atau CO2.
Saat batubara, minyak dan gas bumi dibakar, dan juga saat (deforestasi) atau
kerusakan hutan terjadi, (karbon dioksida) dilepas ke udara. Peningkatan (karbon dioksida)
adalah penyebab utama perubahan pada iklim.
Karbon dioksida adalah faktor terbesar penyebab perubahan iklim. Namun, gas-gas
lain juga dilepaskan, mengotori atmosfir, seperti uap air (H2O), Methane, N2O dan O3
(ozone). Semua gas-gas ini disebut Gas Rumah Kaca. Karbon dioksida adalah salah satu gas
rumah kaca yang dilepas ke atmosfer karena proses industri. Emisi gas rumah kaca terus
meningkat. Dampaknya tidak hanya lokal tetapi juga ke seluruh dunia. Semakin banyak
emisi, semakin besar perubahan iklim.

2.2 IKLIM
Iklim meliputi statistik suhu , kelembaban , tekanan udara , angin , curah hujan ,
jumlah partikel atmosfer dan meteorologi pengukuran unsur di dalam wilayah tertentu dalam
waktu lama. Iklim dapat dibandingkan dengan cuaca , yang merupakan kondisi sekarang dari
unsur-unsur dan variasi mereka selama masa pendek.
3

Sebuah iklim daerah yang dihasilkan oleh sistem iklim, yang memiliki lima
komponen: atmosfer , hidrosfer , kriosfer , permukaan tanah, dan biosfer . Iklim lokasi
dipengaruhi oleh nya lintang , medan , dan ketinggian , serta dekat badan air dan arus mereka.
Iklim dapat diklasifikasikan sesuai dengan rata-rata dan kisaran khas variabel yang berbeda,
paling sering suhu dan curah hujan. Skema klasifikasi yang paling umum digunakan pada
awalnya dikembangkan oleh Wladimir Koppen . Sistem Thornthwaite, digunakan sejak 1948,
menggabungkan evapotranspirasi bersama dengan suhu dan informasi curah hujan dan
digunakan dalam mempelajari keanekaragaman spesies hewan dan potensi dampak
perubahan iklim. Para Bergeron dan Tata Ruang Sinoptik sistem Klasifikasi fokus pada asal-
usul massa udara yang menentukan iklim suatu wilayah.
Paleoclimatology adalah studi tentang iklim kuno. Sejak pengamatan langsung dari
iklim tidak tersedia sebelum abad ke-19, paleoclimates yang disimpulkan dari variabel proxy
yang termasuk non-biotik bukti seperti sedimen ditemukan di tempat tidur danau dan inti es ,
dan bukti biotik seperti cincin pohon dan karang. Model iklim adalah matematika . model
iklim masa lalu, sekarang dan masa depan Perubahan iklim dapat terjadi lebih dari rentang
waktu panjang dan pendek dari berbagai faktor; pemanasan terakhir dibahas dalam
pemanasan global .

2.3 Klasifikasi Iklim
Ada beberapa cara untuk mengklasifikasikan iklim di rezim yang sama. Awalnya,
iklim didefinisikan dalam Yunani Kuno untuk menggambarkan cuaca tergantung pada lintang
lokasi itu. Metode klasifikasi iklim modern secara luas dapat dibagi menjadi metode genetik,
yang fokus pada penyebab iklim, dan metode empiris, yang berfokus pada efek dari iklim.
Contoh klasifikasi genetik meliputi metode berdasarkan frekuensi relatif yang berbeda massa
udara jenis atau lokasi dalam sinoptik gangguan cuaca. Contoh empiris klasifikasi termasuk
zona iklim didefinisikan oleh tanaman tahan banting ,evapotranspirasi, atau lebih umumnya
iklim Kppen klasifikasi yang pada awalnya dirancang untuk mengidentifikasi iklim
dihubungkan secara pasti dengan bioma . Kelemahan umum dari skema klasifikasi adalah
bahwa mereka menghasilkan batas-batas jelas antara zona mereka menentukan, bukan
transisi bertahap dari sifat iklim yang lebih umum di alam.

4

2.4 Perubahan Iklim di Indonesia
Indonesia mempunyai karakteristik khusus, baik dilihat dari posisi, maupun
keberadaanya, sehingga mempunyai karakteristik iklim yang spesifik. Di Indonesia terdapat
tiga jenis iklim yang mempengaruhi iklim di Indonesia, yaitu iklim musim (muson), iklim
tropica (iklim panas), dan iklim laut.

1. Iklim Musim (Iklim Muson)
Iklim jenis ini sangat dipengaruhi oleh angin musiman yang berubah-ubah setiap
periode tertentu. Biasanya satu periode perubahan angin muson adalah 6 bulan. Iklim musim
terdiri dari 2 jenis, yaitu Angin musim barat daya (Muson Barat) dan Angin musim timur laut
(Muson Tumur). Angin muson barat bertiup sekitar bulan Oktober hingga April yang basah
sehingga membawa musim hujan/penghujan. Angin muson timur bertiup sekitar bulan April
hingga bulan Oktober yang sifatnya kering yang mengakibatkan wilayah Indonesia
mengalami musim kering/kemarau.
2. Iklim Tropis/Tropika (Iklim Panas)
Wilayah yang berada di sekitar garis khatulistiwa otomatis akan mengalami iklim
tropis yang bersifat panas dan hanya memiliki dua musim yaitu musim kemarau dan musim
hujan. Umumnya wilayah Asia tenggara memiliki iklim tropis, sedangkan negara Eropa dan
Amerika Utara mengalami iklim subtropis. Iklim tropis bersifat panas sehingga wilayah
Indonesia panas yang mengundang banyak curah hujan atau Hujan Naik Tropika.
3. Iklim Laut
Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak wilayah laut
mengakibatkan penguapan air laut menjadi udara yang lembab dan curah hujan yang tinggi.
Edvin Aldrian (2003), membagi Indonesia terbagi menjadi 3 (tiga) daerah iklim, yaitu daerah
Selatan A, daerah Utara Barat B dan daerah Moluccan C..
Wilayah Indonesia terletak di daerah tropis yang dilintasi oleh garis Khatulistiwa,
sehingga dalam setahun matahari melintasi ekuator sebanyak dua kali. Matahari tepat berada
di ekuator setiap tanggal 23 Maret dan 22 September. Sekitar April-September, matahari
berada di utara ekuator dan pada Oktober-Maret matahari berada di selatan. Pergeseran posisi
5

matahari setiap tahunnya menyebabkan sebagian besar wilayah Indonesia mempunyai dua
musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Pada saat matahari berada di utara ekuator,
sebagian wilayah Indonesia mengalami musim kemarau, sedangkan saat matahari ada di
selatan, sebagaian besar wilayah Indonesia mengalami musim penghujan.
Unsur iklim yang sering dan menarik untuk dikaji di Indonesia adalah curah hujan,
karena tidak semua wilayah Indonesia mempunyai pola hujan yang sama. Diantaranya ada
yang mempunyai pola munsonal, ekuatorial dan lokal. Pola hujan tersebut dapat diuraikan
berdasarkan pola masing-masing. Distribusi hujan bulanan dengan pola monsun adalah
adanya satu kali hujan minimum. Hujan minimum terjadi saat monsun timur sedangkan saat
monsun barat terjadi hujan yang berlimpah. Monsun timur terjadi pada bulan Juni, Juli dan
Agustus yaitu saat matahari berada di garis balik utara. Oleh karena matahari berada di garis
balik utara maka udara di atas benua Asia mengalami pemanasan yang intensif sehingga Asia
mengalami tekanan rendah. Berkebalikan dengan kondisi tersebut di belahan selatan tidak
mengalami pemanasan intensif sehingga udara di atas benua Australia mengalami tekanan
tinggi. Akibat perbedaan tekanan di kedua benua tersebut maka angin bertiup dari tekanan
tinggi (Australia) ke tekanan rendah (Asia) yaitu udara bergerak di atas laut yang jaraknya
pendek sehingga uap air yang dibawanyapun sedikit.
Dapat diamati bahwa hujan maksimum terjadi antara bulan Desember, Januari dan
Februari. Pada kondisi ini matahari berada di garis balik selatan sehingga udara di atas
Australia mengalami tekanan rendah sedangkan di Asia mengalami tekanan tinggi. Akibat
dari hal ini udara bergerak di atas laut dengan jarak yang cukup jauh sehingga arus udara
mampu membawa uap air yang banyak (monsun barat atau barat laut). Akibat dari hal ini
wilayah yang dilalui oleh munson barat akan mengalami hujan yang tinggi. Atas dasar sebab
terjadinya angin munson barat ataupun timur yang mempengaruhi terbentuknya pola hujan
munsonal di beberapa wilayah Indonesia dapat dikatakan wilayah yang terkena relatif tetap
selama posisi pergeseran semu matahari juga tetap. Namun, perubahan diperkirakan akan
terjadi terhadap jumlah, intensitas dan durasi hujannya. Untuk mempelajari hal ini diperlukan
data curah hujan dalam seri yang panjang. Kaimuddin (2000) dengan analisa spasial bahwa
curah hujan rata-rata tahunan kebanyakan di daerah selatan adalah berkurang atau menurun
sedangkan dibagian Utara adalah bertambah.
Iklim di Indonesia telah menjadi lebih hangat selama abad 20. Suhu rata-rata tahunan
telah meningkat sekiitar 0,3 oC sejak 1900 dengan suhu tahun 1990an merupakan dekade
6

terhangat dalam abad ini dan tahun 1998 merupakan tahun terhangat, hampir 1oC di atas rata-
rata tahun 1961-1990. Peningkatan kehangatan ini terjadi dalam semua musim di tahun itu.
Curah hujan tahunan telah turun sebesar 2 hingga 3 persen di wilayah Indonesia di abad ini
dengan pengurangan tertinggi terjadi selama perioda Desember- Febuari, yang merupakan
musim terbasah dalam setahun. Curah hujan di beberapa bagian di Indonesia dipengaruhi
kuat oleh kejadian El Nino dan kekeringan umumnya telah terjadi selama kejadian El Nino
terakhir dalam tahun 1082/1983, 1986/1987 dan 1997/1998

2.5 Penyebab Perubahan Iklim
Perubahan iklim sekarang disebabkan oleh berbagai aktivitas manusia seperti
ekstraksi bahan bakar fosil skala besar (batubara, minyak bumi dan gas alam), perubahan
pemanfaatan lahan (pembukaan lahan untuk penebangan kayu, peternakan dan pertanian)
serta konsumerisme. Saat pengambilan dan penggunaan sumberdaya ini, gas rumah kaca
dilepas secara besar-besaran ke atmosfir.
Gaya hidup yang berkembang selama 100 tahun ini bergantung pada bahan baku dari
sumberdaya alam. Untuk keperluan makan, transportasidan perumahan, semua bahannya
bergantung pada sumberdaya alam bumi ini. Kita hidup sangat dipengaruhi bahan bakar fosil.
Tipe manusia modern yang bepergian mengendarai mobil, tinggal di kota-kota. Kita sangat
dipengaruhi dan tak bisa hidup tanpanya. kita mengorbankan diri kita, anak kita dan masa
depan kita karena kebiasaan ini. Selama 100 tahun terakhir, negara industri maju seperti
Amerika Serikat, Inggris dan Jepang bertanggung jawab atas sebagian besar emisi penyebab
perubahan iklim. Sekarang, penggunaan energi besar-besaran, gaya hidup tinggi, ditiru oleh
negara negara berkembang seperti Cina, India dan Indonesia.

2.6 Dampak Perubahan Iklim
Perubahan iklim berpengaruh terhadap semua sisi kehidupan masyarakat adat di
hampir semua wilayah di Indonesia. Di Kalimantan Barat, pada 2006 dua desa di Kecamatan
Tanjung Lokang dilaporkan mengalami kekurangan pangan akibat kemarau yang membuat
ladang mereka gagal panen dan juga serta membuat pasokan bahan pangan terhenti akibat
sungai-sungai yang mengering. Masih di Kalimantan Barat, pertengahan 2010 Orang Iban
7

yang tinggal di Sungai Utik-Kapuas Hulu melaporkan mengalami gagal panen akibat
tanaman padi mereka mati tanpa alasan yang jelas. Orang Sungai Utik juga melaporkan
bahwa siklus pertanian mereka terganggu akibat cuaca yang berubah-ubah sehingga
pergantian musim pun menjadi tidak jelas. Akibat dari peristiwa ini produksi beras mereka
menurun drastis dimana hasil panen 2010 mengalami penurunan hingga sekitar 70 %. Akibat
dari peristiwa ini mereka harus berkonsentrasi pada tanaman karet guna bisa menutup
kekurangan kebutuhan berasnya. Sejumlah kabupaten di provinsi Kalimantan Barat, terutama
Kapuas Hulu dan Sintang juga dilaporkan terendam banjir selama lebih dari delapan bulan
sehingga mengakibatkan ratusan ribu orang kehilangan harta bendanya dan juga mengalami
penurunan kualitas hidup (HuMa dan Kamar Masyarakat DKN, 2010).
Di Papua, untuk mengatasi kekeringan yang telah mengeringkan kolam ikan,
masyarakat petani ikan di Genyem berencana melapisi kolam ikan dengan terpal, sehingga air
kolam tidak terserap habis di tanah. Nelayan laut di Distrik Demta, mereka kesulitan melaut
karena cuaca yang tidak menentu, disamping juga gelombang laut yang semakin mengganas.
Kalaupun sempat melaut, hasil tangkapannya sangat kurang jika dibanding dengan waktu
yang lalu. Akibatnya, harga ikan dipasaran mengalami kenaikan. Di Sumba, masyarakat adat
yang tinggal di Kawasan Taman Nasional (TN) Wanggamenti dan Daerah Aliran Sungai
(DAS) Kambaniru mengaku bahwa perubahan iklim telah mengakibatkan hujan tidak
menentu, gelombang laut meningkat dan angin kencang. Akibatnya, musim tanam berubah,
meningkatnya peristiwa gagal panen, dan timbul penyakit tak dikenal yang menyerang
manusia, tanaman, dan hewan. Di Sulawesi Tengah, masyarakat adat Tompu mengalami
gagal panen akibat iklim yang tidak menentu dan merusak tanaman pangan mereka. Akibat
dari peristiwa ini mereka terpaksa harus beralih profesi menjadi tukang ojek, buruh tani di
desa lain, pemulung, dan atau penambang guna memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
Sejumlah orang yang mencoba bertahan untuk tetap menjadi petani, berusaha
mengembangkan bibit tanaman pangan lokal, namun upaya ini belum banyak membuahkan
hasil.
Sementara itu, dilaporkan juga berbagai peristiwa banjir dan tanah longsor terus
terjadi di berbagai wilayah di provinsi Kalbar dan juga mengakibatkan ratusan ribu orang
kehilangan harta benda. Di Kampar-Riau, Masyarakat Kampar juga mengalami gagal panen
atau penurunan hasil pertanian pangan mereka akibat hujan yang tidak menentu dan suhu
panas yang tinggi. Mereka mencoba melakukan adaptasi yakni dengan menanam bibit
tanaman pangan lokal dan membendung kanal 12 guna mencegah migrasi ikan di sungai
8

tersebut. Namun upaya-upaya ini tidak banyak membantu karena selain kondisi cuaca yang
tidak menentu, aktivitas penebangan hutan di Semenanjung Kampar masih terus berlanjut
yang menipiskan sumber bahan pangan masyarakat (HuMa dan Kamar Masyarakat DKN,
2010).



















9

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Perubahan iklim mengacu pada perubahan apapun pada iklim dalam satu kurun
waktu, baik karena variabilitas alami atau sebagai hasil dari aktivitas manusia. Sejak lama
iklim bumi terus berubah, namun perubahan yang terjadi sekarang jauh lebih cepat daripada
sebelumnya. Perubahan disebabkan oleh aktivitas manusia baik secara langsung maupun
tidak langsung yang mengubah komposisi atmosfer secara global dan mengakibatkan
perubahan variasi iklim yang dapat diamati dan dibandingkan selama kurun waktu tertentu.













10

DAFTAR PUSTAKA

Rumah Iklim. 2013. Apa Itu Perubahan Iklim. http://rumahiklim.org/masyarakat-adat-dan-
perubahan-iklim/apa-itu-perubahan-iklim/. Diakses : 31 Maret 2014
Rumah Iklim. 2013. Dampak Perubahan Iklim Pada MA. http://rumahiklim.org/masyarakat-
adat-dan-perubahan-iklim/perubahan-iklim-dan-masyarakat-adat/#more-109. Diakses : 31
Maret 2014
Rumah Iklim. 2013. Apa Itu Perubahan Iklim. http://rumahiklim.org/masyarakat-adat-dan-
perubahan-iklim/apa-itu-perubahan-iklim/mengapa-perubahan-iklim-terjadi/. Diakses : 31
Maret 2014
Sugiarta, R. 2013. Makalah Perubahan Iklim.
http://rhaymakalahperubahaniklim.blogspot.com/. Diakses : 31 Maret 2014