Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hukuman atau sangsi yang diatur oleh hukum pidana yang mana membedakan
hukum pidana dengan hukum yang lain. Hukuman dalam hukum pidana ditujukan dalam
rangka memelihara keamanan dan pergaulan hidup yang teratur. Sedangkan yang dijadikan
dasar diadakannya hukuman dalam hukum pidana menimbulkan teori yang diantaranya
adalah teori imbalan, maksud atau tujuan serta gabungan, yang mana ketiga teori tersebut
masih menjadi perdebatan para pakar hukum. Berdasarkan teori maksud atau tujuan hukuman
dijatuhkan adalah untuk memperbaiki ketidak puasan masyarakat sebagai akibat kejahatan
itu. Selain itu terdapat pula tentang teori gabungan yang pada dasar nya bertujuan untuk
mempertahankan tata tertib hukum dalam masyarakat dan memperbaiki pribadi si penjahat.
Dari semua teori yang telah ada demi timbulnya tata tertib hukum diperlukan telah
teori tentang bagaimana tujuan pemidanaan dan hukuman dapat seimbang. Dari teori diatas
dapat dibahas lebih lanjut mengenai bagaimana hukum pidana tersebut dapat bersifat
fleksibel dalam artian dapat diringankan, diberatkan bahkan dihapuskan yang tentunya tetap
diberlakukan adanya syarat yang menjadi jaminan kepastian hukum. Tetapi dalam
pembahasan ini akan fokus membahas tentang pola pemberatan pidana saja di lima Undang-
Undang; UU tipikor, UU penuian uang, UU pornografi, UU narkotika, UU perdagangan
orang.
B. Rumusan Masalah
!. Bagaimana pola anaman pemberatan pidana di lima Undang-Undang tersebut"
#. $apan pola anaman pemberatan pidana di lima Undang-Undang dapat dilaksanakan"
C. Tujuan penulisan
!. %engetahui pola anaman pemberatan pidana di lima Undang-Undang tersebut.
#. %engetahui pola anaman pemberatan pidana di lima Undang-Undang dapat
dilaksanakan.
1
BAB II
PEMBAHAAN
A! Dalam Un"ang#un"ang tentang Pem$erantasan Tin"ak Pi"ana %&rupsi
Penjelasan pola ancaman pemberatan pidana:
Dalam pasal # ayat &#' mengatakan bah(a pola pemberatan pidana bagi pelaku tindak pidana
korupsi yaitu apabila tindak pidana tersebut dilakukan terhadap)
!' *. dana-dana yang diperuntukkan bagi penanggulangan keadaan bahaya,
b. benana alam nasional, penanggulangan akibat kerusuhan sosial yang meluas,
. penanggulangan krisis ekonomi dan moneter, dan
d. pengulangan tindak pidana korupsi.
#' +engulangan tindak pidana korupsi
$apan terjadi keadaan benana alam nasional atau kerusuhan sosial yang meluas atau
krisis ekonomi dan moneter seperti disebutkan dalam penjelasan +asal # ayat &#'
tersebut, sampai saat sekarang belum ada peraturan perundang-undangan yang dapat
dijadikan sebagai dasar hukum untuk menyatakan keadaan tersebut.
!
Sedangkan apa yang dimaksud dengan ,pengulangan- dalam penjelasan +asal # ayat
&#' adalah sama artinya dengan apa yang dimaksud dengan reidi.e dalam ilmu
hukum pidana.
#
+idana pokok yang dapat dijatuhkan adalah pidana denda dengan
ketentuan maksimum ditambah !/0 &sepertiga'.
0
1
1. 2iyono, Pembahasan Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, 3akarta) Sinar 4rafika, #556,
hal. 70.
2
Ibid., hal. 77.
3
8.i Hartanti, Tindak Pidana Korupsi, 3akarta) Sinar 4rafika, #556, hal.!9.
2
B! Dalam Un"ang#un"ang tentang Pen'egahan "an Pem$erantasan Tin"ak Pi"ana
Pen'u'ian Uang
+asal :
&!' Dalam hal tindak pidana +enuian Uang sebagaimana dimaksud dalam +asal 0, +asal 7,
dan +asal 9 dilakukan oleh $orporasi, pidana dijatuhkan terhadap $orporasi dan/atau
+ersonil +engendali $orporasi.
&#' +idana dijatuhkan terhadap $orporasi apabila tindak
pidana +enuian Uang)
a. dilakukan atau diperintahkan oleh +ersonil
+engendali $orporasi;
b. dilakukan dalam rangka pemenuhan maksud dan
tujuan $orporasi;
. dilakukan sesuai dengan tugas dan fungsi pelaku
atau pemberi perintah; dan
d. dilakukan dengan maksud memberikan manfaat
bagi $orporasi.
+asal ;
&!' +idana pokok yang dijatuhkan terhadap $orporasi adalah pidana denda paling banyak
1p!55.555.555.555,55 &seratus miliar rupiah'.
&#' Selain pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat
&!', terhadap $orporasi juga dapat dijatuhkan pidana tambahan berupa)
a. pengumuman putusan hakim;
b. pembekuan sebagian atau seluruh kegiatan usaha
$orporasi;
. penabutan i<in usaha;
d. pembubaran dan/atau pelarangan $orporasi;
e. perampasan aset $orporasi untuk negara; dan/atau
f. pengambilalihan $orporasi oleh negara.
Penjelasan pola ancaman pemberatan pidana)
3
Dalam +asal ; diantumkannya anaman hukuman pidana denda yang berat dan denda yang
tinggi itu tentu maksudnya untuk menakuti setiap orang supaya jangan berani melakukan
tindak pidana, dengan kata lain adalah merupakan suatu usaha untuk memberantas atau
mengurangi terjadinya pelanggaran hukum tindak pidana penuian uang ini.
7
3ika +=S
melakukan tindak pidana penuian uang maka anaman hukuman pidana diatur oleh +asal
9# $UH+ maksimum hukuman ditambah dengan sepertiga, dalam hal seorang pega(ai negeri
dengan melakukan suatu tindak pidana melalaikan suatu ke(ajiban jabatan khusus, atau
dalam melakukan tindak pidana mempergunakan kekuasaan, kesempatan, atau sarana, yang
diperolehnya dalam jabatannya.
9

C! Dalam Un"ang#un"ang tentang P&rn&gra(i
+ada +asal 0; berbunyi Setiap orang yang melibatkan anak dalam kegiatan dan/atau sebagai
objek sebagaimana dimaksud dalam +asal !! dipidana dengan pidana yang sama dengan pidana
sebagaimana dimaksud dalam +asal #>, +asal 05, +asal 0!, +asal 0#, +asal 07, +asal 09, dan
+asal 0:, ditambah !/0 &sepertiga' dari maksimum anaman pidananya.
Penjelasan pola ancaman pemberatan pidana:
$etentuan pasal ini merupakan anaman pemidanaan terhadap pelanggaran dari +asal !!.
Dimana ditegaskan di dalam +asal !! bah(a ,Setiap orang dilarang melibatkan anak dalam
kegiatan dan/atau sebagai objek sebagaimana dimaksud dalam +asal 7, +asal 9, +asal :, +asal 6,
+asal >, atau +asal !5.-
Sehingga bila didalam setiap perilaku atau perbuatan yang menghasilkan barang pornografi
sesuai dengan ketentuan mulai dari +asal 7, +asal 9, +asal :, +asal 6, +asal >, atau +asal !5,
maka akan dianam pemidanaannya melalui +asal #>, +asal 05, +asal 0!, +asal 0#, +asal 07,
+asal 09, dan +asal 0: disesuai dengan unsur-unsur yang terpenuhi.
4
$. 2antjik Saleh, Tindak Pidana Korupsi dan Suap, 3akarta) 4halia ?ndonesia, !>60, hal. 97.
5
2irjono +rodjodikoro, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia, Bandung) +T. 8reso, !>6:, hal. >9.
4
$eterlibatan anak di dalam Tindak +idana +ornografi merupakan tindak pidana yang diperberat
sehingga anaman hukumannya ditambah !/0 dari pidana pokoknya. Dari pasal tersebut pola
anaman pemberatan pidana itu jika pelaku melibatkan anak dalam kegiatan dan/atau sebagai
objek dari tindak pidana pornografi.
D! Dalam Un"ang#un"ang tentang Nark&tika
Dari pasal-pasal berikut ini)
+asal !!#
&#' Dalam hal perbuatan memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan =arkotika
4olongan ? bukan tanaman sebagaimana dimaksud pada ayat &!' beratnya melebihi 9 &lima'
gram, pelaku dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 9
&lima' tahun dan paling lama #5 &dua puluh' tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana
dimaksud pada ayat &!' ditambah !/0 &sepertiga'.
+asal !!0
&#' Dalam hal perbuatan memproduksi, mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan =arkotika
4olongan ? sebagaimana dimaksud pada ayat &!' dalam bentuk tanaman beratnya melebihi !
&satu' kilogram atau melebihi 9 &lima' batang pohon atau dalam bentuk bukan tanaman beratnya
melebihi 9 &lima' gram, pelaku dipidana dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau
pidana penjara paling singkat 9 &lima' tahun dan paling lama #5 &dua puluh' tahun dan pidana
denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat &!' ditambah !/0
&sepertiga'.
+asal !!7
&#' Dalam hal perbuatan mena(arkan untuk dijual, menjual, membeli, menjadi perantara dalam
jual beli, menukar, menyerahkan, atau menerima =arkotika 4olongan ? sebagaimana dimaksud
pada ayat &!' yang dalam bentuk tanaman beratnya melebihi ! &satu' kilogram atau melebihi 9
5
&lima' batang pohon atau dalam bentuk bukan tanaman beratnya 9 &lima' gram, pelaku dipidana
dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat : &enam'
tahun dan paling lama #5 &dua puluh' tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud
pada ayat &!' ditambah !/0 &sepertiga'.
+asal !!9
&#' Dalam hal perbuatan memba(a, mengirim, mengangkut, atau mentransito =arkotika
4olongan ? sebagaimana dimaksud pada ayat &!' dalam bentuk tanaman beratnya melebihi !
&satu' kilogram atau melebihi 9 &lima' batang pohon beratnya melebihi 9 &lima' gram, pelaku
dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 9 &lima' tahun
dan paling lama #5 &dua puluh' tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada
ayat &!' ditambah !/0 &sepertiga'.
+asal !!:
&#' Dalam hal penggunaan narkotika terhadap orang lain atau pemberian =arkotika 4olongan ?
untuk digunakan orang lain sebagaimana dimaksud pada ayat &!' mengakibatkan orang lain mati
atau aat permanen, pelaku dipidana dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau
pidana penjara paling singkat 9 &lima' tahun dan paling lama #5 &dua puluh' tahun dan pidana
denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat &!' ditambah !/0 &sepertiga'.
+asal !!;
&#' Dalam hal perbuatan memiliki, menyimpan, menguasai, menyediakan =arkotika 4olongan ??
sebagaimana dimaksud pada ayat &!' beratnya melebihi 9 &lima' gram, pelaku dipidana dengan
pidana penjara paling singkat 9 &lima' tahun dan paling lama !9 &lima belas' tahun dan pidana
denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat &!' ditambah !/0 &sepertiga'.
+asal !!6
&#' Dalam hal perbuatan memproduksi, mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan =arkotika
4olongan ?? sebagaimana dimaksud pada ayat &!' beratnya melebihi 9 &lima' gram) pelaku
dipidana dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 9
6
&lima' tahun dan paling lama #5 &dua puluh' tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana
dimaksud pada ayat &!' ditambah !/0 &sepertiga'.
+asal !!>
&#' Dalam hal perbuatan mena(arkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi
perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan =arkotika 4olongan ?? sebagaimana
dimaksud pada ayat &!' beratnya melebihi 9 &lima' gram, pelaku dipidana dengan pidana mati,
pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 9 &lima' tahun dan paling lama
#5 &dua puluh' tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat &!'
ditambah !/0 &sepertiga'.
+asal !#5
&#' Dalam hal perbuatan memba(a, mengirim, mengangkut, atau mentransito =arkotika
4olongan ?? sebagaimana dimaksud pada ayat &!' beratnya melebihi 9 &lima' gram maka pelaku
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 9 &lima' tahun dan paling lama !9 &lima belas'
tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat &!' ditambah !/0
&sepertiga'.
+asal !#!
&#' Dalam hal penggunaan =arkotika terhadap orang lain atau pemberian =arkotika 4olongan ??
untuk digunakan orang lain sebagaimana dimaksud pada ayat &!' mengakibatkan orang lain mati
atau aat permanen, pelaku dipidana dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau
pidana penjara paling singkat 9 &lima' tahun dan paling lama #5 &dua puluh' tahun dan pidana
denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat &!' ditambah !/0&sepertiga'.
+asal !##
&#' Dalam hal perbuatan memiliki, menyimpan, menguasai, menyediakan =arkotika 4olongan
??? sebagaimana dimaksud pada ayat &!' beratnya melebihi 9 &lima' gram, pelaku dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 0 &tiga' tahun dan paling lama !5 &sepuluh' tahun dan
pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat &!' ditambah !/0 &sepertiga'.
7
+asal !#0
&#' Dalam hal perbuatan memproduksi, mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan =arkotika
4olongan ??? sebagaimana dimaksud pada ayat &!' beratnya melebihi 9 &lima' gram) pelaku
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 9 &lima' tahun dan paling lama !9 &lima belas'
tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat &!' ditambah !/0
&sepertiga'.
+asal !#7
&#' Dalam hal perbuatan mena(arkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi
perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan =arkotika 4olongan ???
sebagaimana dimaksud pada ayat &!' beratnya melebihi 9 &lima' gram, pelaku dipidana dengan
pidana penjara paling singkat 9 &lima' tahun dan paling lama !9 &lima belas' tahun dan pidana
denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat &!' ditambah !/0 &sepertiga'.
+asal !#9
&#' Dalam hal perbuatan memba(a, mengirim, mengangkut, atau mentransito =arkotika
4olongan ??? sebagaimana dimaksud pada ayat &!' beratnya melebihi 9 &lima' gram maka pelaku
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 0 &tiga' tahun dan paling lama !5 &sepuluh' tahun
dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat &!' ditambah !/0 &sepertiga'.
+asal !#:
&#' Dalam hal penggunaan =arkotika terhadap orang lain atau pemberian =arkotika 4olongan ???
untuk digunakan orang lain sebagaimana dimaksud pada ayat &!' mengakibatkan orang lain mati
atau aat permanen, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling singkat 9 &lima' tahun dan
paling lama !9 &lima belas' tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat
&!' ditambah !/0 &sepertiga'.
+asal !05
&!' Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam +asal !!!, +asal !!#, +asal !!0, +asal
!!7, +asal !!9, +asal !!:, +asal !!;, +asal !!6, +asal !!>, +asal !#5, +asal !#!, +asal !##, +asal
8
!#0, +asal !#7, +asal !#9, +asal !#:, dan +asal !#> dilakukan oleh korporasi, selain pidana
penjara dan denda terhadap pengurusnya, pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi
berupa pidana denda dengan pemberatan 0 &tiga' kali dari pidana denda sebagaimana dimaksud
dalam +asal-+asal tersebut.
+asal !0#
&#' Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud dalam +asal !!!, +asal !!#, +asal !!0, +asal
!!7, +asal !!9, +asal !!:, +asal !!;, +asal !!6, +asal !!>, +asal !#5, +asal !#!, +asal !##, +asal
!#0, +asal !#7, +asal !#9, +asal !#:, dan +asal !#> dilakukan seara terorganisasi, pidana
penjara dan pidana denda maksimumnya ditambah !/0 &sepertiga'.
+asal !77
&!' Setiap orang yang dalam jangka (aktu 0 &tiga' tahun melakukan pengulangan tindak pidana
sebagaimana dimaksud dalam +asal !!!, +asal !!#, +asal !!0, +asal !!7, +asal !!9, +asal !!:,
+asal !!;, +asal !!6, +asal !!>, +asal !#5, +asal !#!, +asal !##, +asal !#0, +asal !#7, +asal !#9,
+asal !#:, +asal !#; ayat &!', +asal !#6 ayat &!', dan +asal !#> pidana maksimumnya ditambah
dengan !/0 &sepertiga'.
&#' *naman dengan tambahan !/0 &sepertiga' sebagaimana dimaksud pada ayat &!' tidak
berlaku bagi pelaku tindak pidana yang dijatuhi dengan pidana mati, pidana penjara seumur
hidup, atau pidana penjara #5 &dua puluh' tahun.
Penjelasan pola ancaman pemberatan pidana:
Terhadap pelaku kejahatan =arkotika terdapat alasan-alasan tertentu untuk memberatkan
hukumannya, karena perbuatan yang dilakukan tergolong sangat membahayakan kepentingan
masyarakat. Tujuan dari pemberatan hukuman tersebut bukan dipandang sebagai pembalasan
terhadap pelakunya, akan tetapi dimaksudkan untuk mendidik pelakunya supaya menjadi insyaf
dan jera sehingga tidak lagi mengulangi perbuatannya.
Dalam Undang-undang =arkotika terdapat tiga alasan sebagai dasar untuk memberatkan
hukuman, yaitu ) karena perbuatannya didahului dengan permufakatan kejahatan, karena
9
dilakukan seara terorganisasi, pernah dilakukan oleh korporasi dan karena pelakunya
reidi.ies.
:
E! Dalam Un"ang#un"ang tentang Pem$erantasan Tin"ak Pi"ana Per"agangan *rang
+ada pasal-pasal diba(ah ini )
+asal ; &!' 3ika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam +asal # ayat &#', +asal 0, +asal 7,
+asal 9, dan +asal : mengakibatkan korban menderita luka berat) gangguan ji(a berat, penyakit
menular lainnya yang membahayakan ji(anya, kehamilan, atau terganggu atau hilangnya fungsi
reproduksinya, maka anaman pidananya ditambah !/0 &sepertiga' dari anaman pidana dalam
+asal # ayat &#', +asal 0, +asal 7, +asal 9, dan +asal :.
+asal 6
&!' Setiap penyelenggara negara yang menyalahgunakan kekuasaan yang mengakibatkan
terjadinya tindak pidana perdagangan orang sebagaimana dimaksud dalam +asal #, +asal 0, +asal
7, +asal 9, dan +asal : maka pidananya ditambah !/0 &sepertiga' dari anaman pidana dalam
+asal #, +asal 0, +asal 7, +asal 9, dan +asal :.
+asal !:
Dalam hal tindak pidana perdagangan orang dilakukan oleh kelompok yang terorganisasi, maka
setiap pelaku tindak pidana perdagangan orang dalam kelompok yang terorganisasi tersebut
dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam +asal # ditambah !/0
&sepertiga'.
+asal !;
3ika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam +asal #, +asal 0, dan +asal 7 dilakukan terhadap
anak, maka anaman pidananya ditambah !/0 &sepertiga'.
6
4atot Supramono, Hukum Narkoba Indonesia, 3akarta) Djambatan, #557, hal. ##!.
10
Penjelasan pola ancaman pemberatan pidana:
Dalam hal penyertaan dalam Tindak +idana +erdagangan @rang diatur dalam +asal !: yang
menyebutkan bah(a ,Dalam hal tindak pidana perdagangan orang dilakukan oleh kelompok
yang terorganisir, maka setiap pelaku tindak pidana perdagangan orang dalam kelompok yang
terorganisir tersebut dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam +asal #
ditambah !/0 &sepertiga'-.
$elompok yang terorganisir dijelaskan dalam penjelasan Undang-undang nomor #! tahun #55;
tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang +asal !: yang dimaksud dengan
kelompok yang terorganisir adalah , $elompok terstruktur yang terdiri dari 0 &tiga' orang atau
lebih, yang eksistensinya untuk (aktu tertentu dan bertindak dengan tujuan melakukan satu atau
lebih tindak pidana yang diatur dalam Undang-undang ini dengan tujuan memperoleh
keuntungan materiil atau finanial baik langsung maupun tidak langsung.
;
BAB III
%EIMPULAN
+ola anaman pemberatan pidana dari lima Undang-undang diatas hampir sebagian besar
menggunakan penambahan !/0 pidana penjara dari pidana pokok dalam syarat tertentu. *dapun
7
Aarhana, Aspek Perdagangan Orang di Indonesia, 3akarta) Sinar 4rafika, #5!5, hal. !!6.
11
sisanya menggunakan anaman pemberatan pidana denda # kali lipat dari pidana pokok, seperti
dalam Undang-undang =arkotika.
*naman pemberatan pidana di lima Undang-Undang dapat dilaksanakan dengan alasan-alasan
diba(ah ini,
!. +asal :9 dan ::
Baitu dalam hal perbarengan beberapa perbuatan yang dipandang sebagai perbuatan yang
berdiri sendiri. Dalam hal ini ditambah sepertiga dan maksimum pidana yang dijatuhkan
ialah jumlah maksimum pidana yang dianamkan terhadap perbuatan itu tetapi tidak
boleh lebih dari maksimum pidana yang terberat ditambah sepertiga.
6
*pabila maksimum
hukuman dari salah satu tindak pidana itu adalah hukuman mati atau hukuman penjara
seumur hidup, jadi kalau misalnya bukan pembunuhan &D@@DSC*D' dari +asal 006
$UH+ yang dilakukan, tetapi pembunuhan berenana&%@@1D' dari +asal 075 $UH+,
maka menurut +asal :;, apabila dijatuhkan hukuman mati atau hukuman penjara seumur
hidup, ini hanya boleh ditambah dengan hukuman tambahan, yaitu penabutan hak
tertentu, perampasan barang yang telah disita, dan atau pengumuman putusan hakim.
>
Sistem pemidanaan untuk dalam kasus yang anaman hukumannya ada pemberatan
pidana dalam hal perbarengan menggunakan salah satu sistem yang paling sering terjadi
sesuai dengan kasus fakta yang ada di pengadilan yaitu sistem absorbsi dipertajam yakni
tindak pidana yang lebih ringan anaman pidananya tidak dipidana, akan tetapi
dipandang sebagai keadaan yang memberatkan bagi tindak pidana yang lebih berat
anaman pidananya. +enentuan maksimum pidana hampir sama dengan komulasi
terbatas, yaitu pidana yang dianamkan terberat ditambah dengan sepertiganya.
!5
#. +asal 76:, 7;6 dan 766 $UH+
8
Soeharto 1%, Hukum Pidana Materii! Unsur-unsur Ob"ekti# Sebagai $asar $ak%aan, 3akarta) Sinar 4rafika,
!>>0, hal. 7;.
9
2irjono +rodjodikoro, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia, Bandung) +T. 1efika *ditama, #550, hal. !70-
!77.
10
8.B. $anter dan S.1. Sianturi, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapan"a, 3akarta) *lumni
*H%-+TH%, !>6#, hal. 759.
12
Baitu mengenai pengulangan terjadinya kejahatan jika yang bersalah ketika melakukan
kejahatan belum le(at 9 tahun sejak menjalani untuk seluruhnya atau sebagian dari
pidana penjara yang dijatuhkan padanya, maka hukuman dapat ditaambah sepertiga.
0. +asal 9# $UH+
Bilamana seorang pejabat karena melakukan perbuatan pidana melanggar suatu
ke(ajiban khusus dari jabatannya, atau pada (aktu melakukan perbuatan pidana
memakai kekuasan, kesempatan atau sarana yang diberikan padanya karena jabatannya,
pidananya dapat ditambah sepertiga.
7. +asal 9# &a' $UH+
Bilamana pada (aktu melakukan kejahatan digunakan bendera kebangsaan 1epublik
?ndonesia, pidana untuk kejahatan tersebut dapat ditambah sepertiga.
Tetapi ada pendapat lain menurut Dr.8. Utreht, S.H tentang alasan anaman pemberatan
hukuman akan lebih mengkeruut antara lain
a' $edudukan sebagai pejabat &*%BT8C?3$8 H@8D*=?4H8?D' &+asal 9#'
b' +reidi.e &perulangan' &titel DD? Buku ??'
' 4abungan &Sameenloop' &Tittle E? Buku ?'
!!
Dari dua uraian kesimpulan diatas sebenarnya sama saja, hanya saja kami menambahkan
berdasarkan buku-buku referensi yang kami temui.
11
8.Uthreht,Hukum Pidana I! Suatu Pengantar Hukum Pidana untuk Tingkat Pea&aran Sar&ana Muda Hukum,
Suatu Pembahasan Pea&aran Umum-, Bandung) +ustaka Tinta %as, !>6:, hal. 065.
13
DA+TAR PUTA%A
Aarhana' Aspek Perdagangan Orang di Indonesia. Sinar 4rafika. 3akarta. #5!5.
Hartanti, 8.i. Tindak Pidana Korupsi' Sinar 4rafika. 3akarta. #556.
$anter, 8.B. dan Sianturi S.1.. Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapan"a'
*lumni *H%-+TH%. 3akarta. !>6#.
14
+rodjodikoro, 2irjono' Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia. +T. 8reso. Bandung. !>6:.
+rodjodikoro, 2irjono' Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia' +T. 1efika *ditama. Bandung.
#550.
1%, Soeharto. Hukum Pidana Materii! Unsur-unsur Ob"ekti# Sebagai $asar $ak%aan' Sinar
4rafika. 3akarta. !>>0.
Saleh, $. 2antjik' Tindak Pidana Korupsi dan Suap. 4halia ?ndonesia. 3akarta. !>60.
Supramono, 4atot' Hukum Narkoba Indonesia. Djambatan. 3akarta. #557.
Uthreht, 8.' Hukum Pidana I! Suatu Pengantar Hukum Pidana untuk Tingkat Pea&aran
Sar&ana Muda Hukum, Suatu Pembahasan Pea&aran Umum. +ustaka Tinta %as. Bandung. !>6:.
2iyono, 1. Pembahasan Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi' Sinar
4rafika. 3akarta. #556.
LAMPIRAN
15