Anda di halaman 1dari 38

Pengantar Medikolegal

Hubungan Dokter-Pasien
Yuli Budiningsih
Dedi Afandi
Budi Sampurna
MEMAHAMI PRAKTIK
KEDOKTERAN
ILMU KEDOKTERAN
EMPIRIS
PROBABILITAS
PELUANG BIAS & UNKNOWN
REASONABLE MEDICAL CERTAINTY
EVIDENCE BASED
HUBUNGAN DOKTER-PASIEN BERDASAR
UPAYA : KONTRAK TERAPEUTIK
(INSPANNINGSVERBINTENNIS)
COMPLEX AND TIGHTLY COUPLED
SYSTEM
SPESIALISASI & INTERDEPENDENSI
PRONE TO ACCIDENT
Praktik Kedokteran
Menurut UU nomor 29 tahun 2004
Pasal 1 ayat 1 :
Praktik kedokteran adalah rangkaian
kegiatan yang dilakukan oleh dokter dan
dokter gigi terhadap pasien dalam
melaksanakan upaya kesehatan
HUBUNGAN
PROFESIONAL KESEHATAN
DENGAN PASIEN
PROFESI
SYARAT UTAMA :
PELATIHAN EKSTENSIF
KOMPONEN INTELEKTUAL TINGGI
PELAYANAN PENTING
SYARAT UMUM :
SERTIFIKASI - proficiency check
ORGANISASI PROFESI
OTONOMI KERJA - self regulation
PROFESI (2)
CONSULTANT :
HUBUNGAN INDIVIDU - PROFESIONAL
FEE FOR SERVICE
CONTOH : dokter, pengacara
SCHOLAR :
HUBUNGAN INDIVIDU - INSTITUSI
GAJI / HONOR
CONTOH : guru, perawat
TREND
BERGESER KE ARAH SCHOLAR (?)
PRAKTEK PRIBADI BERGESER KE
RUMAH SAKIT / KLINIK
HUBUNGAN DWIPARTIT BERGESER KE
TRI / MULTIPARTIT
FEE FOR SERVICE BERGESER KE PRE-
PAID
HUBUNGAN
PROFESIONAL-KLIEN
ISSUE : LETAK KEWENANGAN (SIAPA YANG
BERWENANG MEMUTUSKAN APA)
ALTERNATIF HUBUNGAN :
AGEN
KONTRAK
FRIENDSHIP
PATERNALISTIK
FIDUCIARY : VIRTUE BASED
HUBUNGAN
DOKTER-PASIEN
DIPENGARUHI OLEH ETIKA PROFESI DAN
KEWAJIBAN PROFESI
PRINSIP MORAL :
AUTONOMY, BENEFICENCE, NON
MALEFICENCE, JUSTICE
VERACITY, FIDELITY, PRIVACY,
CONFIDENTIALITY
SALING PERCAYA
HUB. DOKTER - PASIEN
PATERNALISTIK
SEJAK HIPPOCRATES
DIANGGAP DASARNYA : SALING PERCAYA
PRINSIP MORAL UTAMA : BENEFICENCE
MENIADAKAN HAK PASIEN (CONSENT)
MULAI DIKRITIK TAHUN 1956
KONTRAKTUAL
MULAI TAHUN 1972-1975 (social contract)
PRINSIP MORAL UTAMA : AUTONOMY
INSPANNINGSVERBINTENNIS
KONTRAK TERAPEUTIK
SALAH SATU HUBUNGAN HUKUM
DOKTER-PASIEN
TIDAK SEIMBANG / SETARA
DOKTER TIDAK MENJANJIKAN HASIL
(RESULTAATSVERBINTENNIS), TETAPI
MENJANJIKAN UPAYA YANG SEBAIK-
BAIKNYA (INSPANNINGSVERBINTENNIS)
reasonable care
HARUS DIJAGA DENGAN ATURAN
HUB. DOKTER-PASIEN (cont..)
KRITIK TERHADAP KONTRAKTUAL :
TAK ADA NEGOSIASI EKSPLISIT
TAK ADA EKSPEKTANSI EKSPLISIT
TERLALU MATERIALISTIK, BUKAN ETIK
MELUPAKAN FAKTOR SISTEM SOSIAL
TERLALU LEGALISTIK : PERATURAN
TERFOKUS PADA PRINSIP AUTONOMY
CENDERUNG MEMINIMALKAN MUTU
DISEBUT : BOTTOM-LINE ETHICS
HUB. DOKTER-PASIEN (cont..)
FIDUCIARY : VIRTUE BASED ETHICS
PRINSIP : MORAL KEUTAMAAN
BUKAN SEKEDAR KEWAJIBAN DAN
PERATURAN, TETAPI JUGA BAGAIMANA
SIKAP SEBAIKNYA
EMPATHY, COMPASSION, PERHATIAN,
KERAMAHAN, KEMANUSIAAN, SALING
PERCAYA, ITIKAD BAIK, dll
HUBUNGAN : BERTUMBUH-KEMBANG,
BERTUJUAN MENSEJAHTERAKAN PASIEN
KOMUNIKASI HARUS BAIK
ASPEK
HUKUM
HAK DAN
KEWAJIBAN
DOKTER
HAK DAN
KEWAJIBAN
PASIEN
HUBUNGAN HUKUM DOKTER-
PASIEN
IUS DELICTU : AKIBAT PERATURAN
PERUNDANGUNDANGAN
MIS : RAHASIA KEDOKTERAN

IUS CONTRACTU : AKIBAT ADANYA
HUBUNGAN KONTRAKTUAL
MIS : UPAYA SESUAI STANDAR
TERTINGGI
HAK PASIEN
Declaration of Lisbon (1991) : The Rights
of the patient
UU No 23 tahun 1992 tentang Kesehatan :
pasal 53 : hak pasien
UU No.29 tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran, Pasal 52 dan 53.
SE Ditjen Yanmed Depkes RI No
YM.02.04.3.5.2504 : Pedoman Hak dan
kewajiban pasien, dokter dan RS
Deklarasi Muktamar IDI : Hak dan
kewajiban pasien dan dokter
Declaration of Lisbon
Hak memilih dokter
Hak dirawat dokter yang bebas
Hak menerima / menolak pengobatan setelah
menerima informasi
Hak atas kerahasiaan
Hak mati secara bermartabat
Hak atas dukungan moral / spiritual
UU Kesehatan
Hak atas Informasi
Hak atas second opinion
Hak atas kerahasiaan
Hak atas persetujuan tindakan medis
Hak atas pelayanan kesehatan
Hak atas ganti rugi
KEWAJIBAN PASIEN
Itikad baik
Beri informasi yang adekuat
Melaksanakan nasehat dokter dalam rangka
perawatan / pengobatan
Menghormati hak dokter
Memberi imbalan & ganti rugi
Berterus terang apabila timbul masalah
HAK DOKTER
HAK UNTUK BEKERJA BEBAS, PROFESIONAL
HAK MENOLAK MELAKUKAN PEKERJAAN YG DI
LUAR STANDAR PROFESI ATAU MELANGGAR
ETIK
HAK MEMILIH PASIEN DAN MENGAKHIRI HUB
DR-PASIEN, KECUALI GAWAT DARURAT MEDIS
HAK ATAS PRIVACY
HAK ATAS IMBALAN
KEWAJIBAN DOKTER
KEWAJIBAN PROFESI :
SUMPAH DOKTER
KODEKI
STANDAR PERILAKU
STANDAR PROSEDUR
STANDAR PELAYANAN MEDIS
KEWAJIBAN AKIBAT HUB. DOKTER-PASIEN
MEMENUHI HAK PASIEN
KEWAJIBAN SOSIAL
IMPLIKASI HUKUM-ETIK
PIDANA
PERDATA
DISIPLIN
ETIK
Pelanggaran Etika Kedokteran
Sanksi = moral adminsitratif
- teguran
- penghentian tugas/kewenangan tertentu
untuk sementara
- pengalihan tugas
- re-edukasi
- pencabutan ijin praktik
TUNTUTAN PIDANA
KELALAIAN : 359-361 KUHP
KETERANGAN PALSU : 267-268 KUHP
ABORSI ILEGAL : 347-349 KUHP
PENIPUAN : 382 BIS KUHP
PERPAJAKAN : 209, 372 KUHP
EUTHANASIA : 344 KUHP
PENYERANGAN SEKS : 284-294 KUHP
TUNTUTAN PERDATA
PS 1365 KUH PERDATA :
Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa
kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang
karena salahnya menerbitkan kerugian itu, menggantinya
PS 1366 KUH PERDATA : Juga akibat kelalaian
PS 1367 KUH PERDATA : Juga respondeat superior
Ps 55 UU KESEHATAN :
Setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau
kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan

UNSUR-UNSUR KELALAIAN
sebagai salah satu malpraktek

ADA KEWAJIBAN

PELANGGARAN
KEWAJIBAN TSB

HUB. KAUSAL

CEDERA /
KERUGIAN

DUTY

BREACH OF DUTY

CAUSAL
RELATIONSHIP

DAMAGE

ADANYA KEWAJIBAN
AKIBAT ADANYA HUBUNGAN DR-PASIEN
TIDAK MELAWAN HAK PASIEN (Consent)
REASONABLE COMPETENCE
REASONABLE CARE : SESUAI NORMA /
STANDAR PROFESI
PERBUATAN ATAU KELALAIAN
TAK PERSOALKAN : SEMAMPUNYA & NIAT
BAIK
YANG PENTING : PROSEDUR dan
REASONABLE COMMUNICATION


REASONABLE COMPETENCE
SKILL & KNOWLEDGE SESUAI KATALOG
PENDIDIKAN
DIBANDINGKAN DENGAN DOKTER RATA-
RATA
PADA SITUASI DAN KEADAAN TERTENTU
REASONABLE CARE :
SESUAI STANDAR PROFESI
STANDAR PERILAKU : UNIVERSAL
STANDAR PROSEDUR :
TERGANTUNG SARANA KESEHATAN SETEMPAT
STANDAR PELAYANAN MEDIS
TERGANTUNG SARANA KESEHATAN SETEMPAT
TERGANTUNG SITUASI KONDISI TERTENTU
TERGANTUNG SUMBER DAYA

DPT DISIMPULKAN DARI DOKUMEN TERTULIS
ATAU DARI SAKSI AHLI

PELANGGARAN KEWAJIBAN
HARUS DIBUKTIKAN DAHULU
TIDAK BISA GUNAKAN STRICT LIABILITY
STRICT LIABILITY HANYA BERLAKU BAGI PRODUK
BUKAN JASA
KADANG FAKTA SUDAH MENUNJUKKAN
ADANYA KELALAIAN : RES IPSA LOQUITUR
(The thing speaks for it self)
AKIBAT ALATNYA DOKTER
TIDAK ADA KONTRIBUSI PASIEN
KEADAAN NORMAL : TAK TERJADI
mis : gunting / tampon tertinggal
HUBUNGAN KAUSAL
DICARI : LEGAL CAUSE / PROXIMATE CAUSE
PENGUJIAN :
CAUSATION IN FACT : BUT FOR TEST kalau tidak /
(Conditio sine qua non theory)
Mis. Kalau gunting tak tertinggal, tak akan terjadi
perforasi peritonitis
Mis. Kalau diagnosis tak salah atau terlambat, pasien
dapat tertolong ( ? )
Terlalu menyederhanakan hubungan kausalitas
FORESEEABILITY (Adequate theory)
Bahwa cedera adalah akibat yang dapat diperkirakan
sebelumnya dari tindakan substandar oleh dokter yang
layak


CEDERA / DAMAGE
HARUS SEBAGAI AKIBAT
PELANGGARAN KEWAJIBAN
JENIS KERUGIAN :
GENERAL DAMAGE : NON-EKONOMIK
SPECIAL DAMAGE :
PAST AND FUTURE COSTS & EXPENSES
LOSS OF INCOME, LOSS OF EARNING
CAPACITY
PUNITIVE DAMAGE : sengaja, culpa lata,
kekerasan, penipuan dll
GANTI RUGI
DITAGIHKAN SATU KALI
TUNAI / ANGSUR (dapat berbunga)
KEHILANGAN KESEMPATAN SUKAR
DIHITUNG, PREDIKTIF, TIDAK PASTI
JUMLAH DAN LAMANYA
MEMPERTIMBANGKAN KEDUDUKAN DAN
KEMAMPUAN KEDUA PIHAK
CONTOH
DOKTER LALAI AMPUTASI
KERUGIAN :
BIAYA :
BIAYA PERAWATAN HINGGA SEMBUH
BIAYA FISIOTERAPI & KAKI PALSU
BIAYA NON MEDIS
KEHILANGAN KESEMPATAN
SELAMA PERAWATAN
KETERBATASAN PELUANG KERJA
IMMATERIEL
Pencegahan
UPAYA CEGAH PELANGGARAN
REASONABLE COMPETENCE, REASONABLE CARE,
REASONABLE COMMUNICATION
PROFESIONALISME : ETIK, STANDAR, PENGAWASAN,
KOREKSI
UPAYA CEGAH RISIKO
PRODUCT LIABILITY PREVENTION, QUALITY ASSURANCE,
RISK MANAGEMENT
SIAPKAN LEGAL DEFENCE
MEDICAL EVIDENCE : REKAM MEDIK, INFORMED CONSENT
ALIHKAN RISIKO :
ASURANSI PROFESI
NO FAULT COMPENSATION
Pencegahan (2)
Pendidikan etika kedokteran sejak dini
Sikap etis dan profesional
UU Praktik Kedokteran
Good clinical governance
Evidence Based Medicine