Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pembangunan di Indonesia harus didasarkan pada konsep pembangunan
berkelanjutan dan perlindungan lingkungan seperti tercantum dalam GBHN.
Pembangunan yang merusak lingkungan bukanlah pembangunan, melainkan
bencana yang tertunda. Untuk itu industri-industri di Indonesia haruslah
menjalankan industrinya dengan tetap memperhatikan keseimbangan lingkungan.
Berdasarkan data statistik International tudy Group !I"G#, dari
tahun $%&' sampai $%%' produksi karet alam dunia telah meningkat
dengan rata-rata tingkat pertumbuhan pertahun sebesar (,)' persen hingga
mencapai),)* juta ton pada tahun $%%'. Berdasarkan laporan Badan Pusat
tatistik !BP#, harga karet alam selama semester I tahun +,,' mengalami
peningkatan mencapai (- persen, sementara .olume ekspornya mencapai
$*,- persen. Hal ini membuktikan bah/a produksi karet alam di Indonesia
mengalami peningkatan setiap tahunnya. 0eningkatnya produksi karet
alam Indonesia tidak terlepas dari meningkatnya permintaan akan karet
alam untuk digunakan sebagai bahan baku pada industri otomoti1.
0eningkatnya produksi karet alam Indonesia juga tidak terlepas
dari peran perusahaan yang membudidayakan karet dan menghasilkankaret
alam olahan. Industri karet alam yang diperankan oleh Perkebunan"akyat
!P"#, Perkebunan Besar Negara !PBN# yang biasa dikenal dengan
P2.Perkebunan Nusantara, serta Perkebunan Besar /asta
!PB#membudidayakan tumbuhan karet dan memproduksi berbagai jenis
produk karet alam, antara lain "ibbed moked heet !"#, lateks pekat,
block rubber,tyre rubber, reclaimed rubber,dan crumb rubber atau sering
disebut tandard Indonesia "ubber !I"#.
Industri karet memiliki proporsi yang jauh lebih besar dari industri
lainnya di Indonesia, maka pengendalian limbah pabrik perlu
mendapatkan perhatian serius agar dapat dicapai optimalisasi daya dukung
lingungan tanpa menimbulkan pencemaran. Industri berpotensi
menimbulkan pencemaran, karena selama proses produksinya industri
karet menghasilkan limbah padat, cair dan gas. 3imbah cair merupakan
limbah yang terbanyak terbentuk dari ketiga jenis limbah tersebut.
0enurut 2ampubolon !$%%(# limbah cair yang dihasilkan dari proses
produksi pabrik karet perkebunan besar mencapai kurang lebih +',* m(
per ton karet kering. 2ingginya limbah cair tersebut disebabkan karena
selama proses produksinya air merupakan sumber daya yang terbanyak
dibutuhkan untuk proses pengenceran dan untuk pencucian peralatan dan
lantai pabrik.
Produksi bersih adalah suatu pendekatan penanganan limbah yang
bersi1at pre.enti1 dan terpadu, sehingga dapat mengurangi dampak negati1
terhadap lingkungan melalui pengurangan jumlah limbah yang dihasilkan.
Pendekatan penanganan limbah ini dilakukan melalu penanganan siklus produksi
dari penyediaan bahan baku sampai produk,dengan cara reduce, recycle, reuse
dan recovery. 4ari pendekatan ini akan diperoleh limbah dalam jumlah yang
sedikit sehingga akan mengurangi dampak negati.e bagi lingkungan. elain
memberikan man1aat bagi lingkungan. Produksi bersih ini juga menghemat
pengeluaran perusahan karena adanya e1isiensi produksi dan pengelolaan limbah.
B. TUJUAN
0akalah ini bertujuan untuk mempelajari dan mengkaji
potensi penerapan produksi bersih pada pabrik karet tanpa mempengaruhi
mutu produk yang dihasilkan. 0akalah ini diharapkan dapat mengurangi
jumlah limbah sehingga akan dapat mengurangi dampak negati.e terhadap
lingkungan yang ditimbulkan dari proses produksi, mengurangi
penggunaan sumber daya dan energi serta dapat memperbaiki e1isiensi
proses produksi yang secara langsung dapat memberikan keuntungan
ekonomi bagi perusahaan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Industri Karet
2.1.1 Perkeman!an Industri Karet
eiring dengan meningkatnya konsumsi karet dalam negeri, industri
barang jadi karet menjadi industri yang diminati oleh para in.estor untuk
dikembangkan. Pertumbuhan rata-rata konsumsi karet alam sejak tahun $%%(
sampai tahun +,,+ rata-rata mengalami peningkatan sebesar (,%5, sedangkan
pertumbuhan rata-rata konsumsi karet sintetik berkembang lebih lambat yaitu
+,+5 pada periode yang sama. Pertumbuhan total konsumsi karet alam dan
karet sintetik adalah +,(5 pada periode tersebut, yaitu dari +$%.,,, ton
menjadi +)(.,,, ton !Honggokusumo, +,,*#.
ementara itu menurut Budiman !+,,*#, kebutuhan untuk karet alam
dan karet sintetis di dunia secara kasar akan meningkat sebanyak dua kali lipat
pada (, tahun ke depan. Pada tahun +,,, kebutuhan akan elastomer berkisar
sejumlah $& juta ton, sedangkan pada tahun +,() diyakini akan meningkat
hingga (' juta ton dengan perbandingan jumlah karet sintetik terhadap karet
alam sebanyak ', 6 *,. 7umlah kebutuhan yang besar ini tentunya akan diikuti
dengan peningkatan jumlah produk berbahan baku elastomer, antara lain ban
kendaraan, komponen kendaraan, selang, pipa, alas kaki, karpet, bola
olahraga, rol, belts, sarung tangan, dan lain-lain. Hal ini mencirikan besarnya
peluang ekspor yang dapat diambil oleh industri barang jadi karet di
Indonesia, sehingga pertumbuhan jumlah industri barang jadi yang berbahan
baku elastomer dapat terus meningkat.
2.1.2 Jenis"Jenis Karet
8da dua jenis karet, yaitu karet alam dan sintetis. etiap jenis karet ini
memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga keberadaannya saling
melengkapi. 9elemahan karet alam bisa diperbaiki oleh karet sintetis dan
sebaliknya, sehingga kedua jenis karet tersebut tetap dubutuhkan.
$. 9aret 8lam
9aret alam adalah polimer hidrokarbon yang terkandung pada
lateks beberapa jenis tumbuhan. umber utama produksi karet dalam
perdagangan internasional adalah para atau He.ea brasiliensis !suku
:uphorbiaceae#. Beberapa tumbuhan lain juga menghasilkan getah lateks
dengan si1at yang sedikit berbeda dari karet, seperti anggota suku ara-
araan !misalnya beringin#, sa/o-sa/oan !misalnya getah perca dan sa/o
manila#, :uphorbiaceae lainnya, serta dandelion. ekarang, getah perca
dipakai dalam kedokteran !guttapercha#, sedangkan lateks sa/o manila
biasa dipakai untuk permen karet !chicle#.
9aret alam mengandung seratus persen cis-$,*-poliisoprena, yang
terdiri dari rantai polimer lurus dan panjang dengan gugus isoprenik yang
berulang, seperti pada tabel berikut 6
2abel $. 9omposisi 3ateks
Banyak si1at-si1at karet alam ini yang dapat memberikan
keuntungan atau kemudahan dalam proses pengerjaan dan pemakaiannya,
baik dalam bentuk karet atau kompon maupun dalam bentuk .ulkanisat.
4alam bentuk bahan mentah, karet alam sangat disukai karena mudah
menggulung pada roll se/aktu diproses dengan penggiling terbuka dan
dapat mudah bercampur dengan berbagai bahan-bahan yang diperlukan di
dalam pembuatan kompon. 4alam bentuk kompon, karet alam sangat
mudah dilengketkan satu sama lain sehingga sangat disukai dalam
pembuatan barang-barang yang perlu dilapis-lapiskan sebelum .ulkanisasi
dilakukan.
9eunggulan daya lengket inilah yang menyebabkan karet alam
sulit disaingi oleh karet sintetik dalam pembuatan karkas untuk ban radial
ataupun dalam pembuatan sol karet yang sepatunya diproduksi dengan
cara .ulkanisasi langsung.
Protein dalam karet alam dapat mempercepat .ulkanisasi atau
menarik air dalam .ulkanisat. Beberapa lipid ada yang merupakan bahan
pencepat atau antioksidan. Protein juga dapat meningkatkan heat build up
tetapi dapat juga meningkatkan ketahanan sobek.
9aret alam lama kelamaan dapat meningkat .iskositasnya atau
menjadi keras. 8da jenis karet alam yang sudah ditambah bahan garam
hidroksilamin sehingga tidak bisa mengeras dan disebut karet ;< !contant
.iscosity#. 9aret alam bisa mengkristal pada suhu rendah !misalkan -+'=;#
dan bila ini terjadi, diperlukan pemanasan karet sebelum diolah pabrik
barang jadi karet.
+. 9aret sintetis
7ika karet alam dibuat dari getah pohon karet, karet sintetis atau
karet buatan dibuat dari bahan baku minyak bumi. 9aret sintetis lebih
tahan terhadap berbagai bahan kimia. ;ontoh karet sintetis yang banyak
digunakan yaitu styrene butadiene rubber !B"#.
2.2 Pr#ses Industri Karet
Bahan baku yang diperoleh industri karet berasal dari industri perkebunan, bahan
baku tersebut berbentuk lateks dan dari perkebunan rakyat berbentuk koagulum
yang sudah dia/etkan dengan asam sul1it. Bahan baku tersebut harus dibersihkan
dan juga harus dalam kondisi stabil. 4alam proses pencucian dan penstabilan
karet tersebut diperlukan bahan pencucinya adalah air bersih cukup banyak, dan
umumnya diambil dari air pemukaan sungai.
ebelum dilakukan proses pencacahan karet yang berbentuk koagulum terlebih
dahulu dilakukan pencucian dengan menyemprotkan air ke tumpukan koagulum
karet tersebut, selanjutnya dilakukan pemecahan !breaker#, dan pencacahan
re>tunderyang ditindaklanjuti dengan mi>ing tank. 9emudian dilakukan proses
penggilingan di crapper berulang-ulang sampai diperoleh karet yang benar-benar
murni atau berdih dan kondisi stabil. 9emudian dilakukan pengeringan selama
kurang lebih dari & jam, kemudian dipotong-potong.
Proses produksi karet meliputi hal-hal berikut 6
$. Bahan baku !lateks kebun#
+. Penerimaan lateks di gudang pabrik
(. Pengenceran 3ateks
*. Penambahan bahan kimia
). Penggumpalan
'. Penggilingan
-. Pengemasan
Pasokan air bagi proses produksi maupun untuk penunjang memerlukan jumah
yang besar?banyak dengan 1ungsinya sebagai pembersih atau pencuci. 8pabila air
yang diperoleh dari sumbernya sudah layak sebagai pencuci maka langsung
digunakan atau sebaliknya. Pembakuan air bertujuan untuk menghilangkan
kontaminan yang berada dala air baku berupa padatan tersuspensinya, padat
terlarutnya dan kontaminasi logam. 8pabila tidak ditemukan unsur logam, maka
pengbakuan air dilakukan secara 1isika saja yaitu cara 1iltrasi dan sedimentasi.
2.$ Lima% Industri Karet
2.$.1 Sumer Lima% Industri Karet
8pabila dilihat dari tahapan poduksi baik dari bahan baku berasal dari
lateks dan bahan olahan karet rakyat !bokar#, maka limbah yang terbentuk
pada industri karet dapat berupa limbah padat, limbah cair, dan limbah gas.
9ualitas bahan baku berpengaruh terhadap tingkat kuantitas dan kualitas
limbah yang akan terjadi dengan rincian sebagai berikut 6
$. makin kotor bahan karet olahan akan makin banyak air yang
diperlukan untuk proses pembersihannya, sehingga debit limbah
cairpun meningkat.
+. makin kotor dan makin tinggi kadar air dari bahan baku karet olahan,
akan makin mudah terjadinya pembusukan, sehingga kuantitas limbah
gas?bau pun meningkat.
(. bahan baku karet olahan yang kotor menyebabkan kuantitas lumpur,
tatal dan pasir relati1 tinggi.
Pembersihan dilakukan melalui pengecilan ukuran, proses ini juga
bertujuan untuk memperbesar luas pemukaan karet agar /aktu
pengeringan relati1 singkat. 4engan demikian, limbah yang terbentuk
dominan berbentuk limbah cair.
umber limbah cair dapat dikategorikan dari proses produksi dengan rincian
sebagai berikut6
$. Bahan baku olahan karet rakyat
Bahan baku karet rakyat berbentuk koagulum !bongkahan# yang telah
dibubuhi asam semut, dan banyak mengandung air dan unsur pengotor dari
karet baik disengaja maupun tidak disegaja oleh kebun rakyat. umber
limbahnya antara lain6
a# penyimpanan koagulum
b# sebelum produksi terlebih dulu karet disempot air sehingga
menghasilkan limbah
c# pencacahan koagulum lalu di cuci dengan air lagi
d# proses peremahan dengan hammer mill juga menghasilkan limbah cair,
/aaupun jumlahnya relati1 kecil
+. Bahan baku berasal dari lateks kebun
4alam proses produksi untuk meghasilkan karet digunakan air lebih
sedikit, tetapi mempunyai bahan kimia didalam air limbahnya. umber limbahnya
adalah dari proses pencacahan dan peremahan.
Pengaruh tiap parameter terhadap lingukungan dapat dijelaskan sebagai berikut6
a. B&D
B@4 merupakan salah satu parameter limbah yang memberi gambaran
atas tingkat polusi air. emakin tinggi nilai B@4 menunjukkan makin besar
oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme merubah organik. 0akin tinggi
kandungan bahan organik akan menyebabkan makn berkurangnya konsentrasi
oksigen terlarut di dalam air yang akhirnya berakibat kematian berbagai biota air.
Pengurangan konsentrasi oksigen terlarut menyebabkan kondisi aerob bergeser ke
kondisi anaerob.
. '&D
;@4 mirip dengan B@4, bedanya osigen yang diperlukan merupakan
oksigen kimia/i seperti @
+
atau oksidator lainnya untuk mengoksidasi secara
kimia bahan organik menjadi senya/a lain seperti gas metan, amoniak, dan
karbon dioksida. Nilai ;@4 selalu lebih tinggi daripada nilai B@4 karena hampir
seluruh jenis bahan organik dapat teroksidasi secara kimia termasuk bahan
organik yang teroksidasi secara biologis.
(. Padatan Terenda)
Padatan terendap menunjukkan jenis padatan yang terkandung di dalam
cairan limbah yang mampu mengendap di dasar cairan secara gra.itasi dalam
/aktu paling lama sekitar $ jam.
d. Padatan Tersus)ensi
Padatan tersuspensi adalah padatan yang membentuk suspensi atau koloid.
ecara kasat mata padatan ini terlihat mengapung atau mengambang serta
mengeruhkan air karena berat jenisnya relati1 rendah.
e. Padatan Ter*arut
Padatan ini bersama-sama dengan suspensi koloid tidak dapat dipisahkan
secara penyaringan. Pemisahannya hanya dapat dilakukan dengan proses oksidasi
biologis atau koagulasi kimia.
+. Kandun!an Nitr#!en
Bentuk senya/a nitrogen yang paling umum adlah protein amonia, nitrit
dan nitrat. 9etiga jenis terakhir ini dihasilkan dari perombakan protein, sisa
tanaman dan pupuk yang tersisa di dalam cairan limbah.
!. Dera,at Keasaman -)H.
uatu cairan dikatan bersi1at normal bila pH A - . makin rendah nilai pH
artinya air makin bersi1at asam, sebaliknya makin tinggi bersi1at basa.
2.$.2 Karakteristik dan Dam)ak Lima% Industri Karet
9arakteristik dan jumlah limbah yang dihasilkan dari proses produksi karet
dipengaruhi oleh bahan baku yang digunakan.
$. 3imbah ;air
Proses pengolahan karet tergolong proses basah, banyaknya kebutuhan air
untuk keperluan pngolahan akan menentukan banyaknya limbah cair yang
dihasilkan, sekaligus menetukan rancangan ukuran sarana pengolah
limbah. 7umlah air yang digunakan dalam proses produksi, hampir
seluruhnya menjadi limbah, karena karet baik berupa bahan baku maupun
setengah jadi tidak menyerap air. Pengaruh kebutuhan air adalah tingkat
kotoran yang ada dalam bahan baku, serta e1esiensi kinerja sarana
pengolahan. Nilai parameter limbah pada setiap bagian proses pengolahan
berbeda-beda. Nilai parameter B@4 atau ;@4 yang sangat besar dari air
buangan menunjukkan tingginya kadar bahan organiknya, peningkatan
kadar bahan organik akan makin mengganggu ekosistem lingkungan yang
menerima air buangan karena oksigen banyak digunakan oleh bakteri
pengurai untuk menghancurkan bahan organik tersebut. 2otal padatan
merupakan bahan yang berasal dari pemecahan komponen organik,
sedangkan padatan tersuspendi merupakan bahan yang tidak larut di dalam
air dan cenderung mengalami pembusukan jika suhu air meningkat
!musim panas#. 4ampak negati1 juga timbul jika air limbah langsung
dibuang ke sungai atau perairan umum. Bagi pabrik yang berlokasi di areal
perkebunan, penanganan limbah cair relati1 mudah, bahkan dapat
diman1aatkan menjadi pupuk tanaman karetnya.
+. 3imbah Padat
ecara umum limbah padat yang terbentuk pada pengolahan karet tidak
tergolong limbah beracun. 3imbah biasanya hanya berupa tatal, lumpur,
pasir rotan, kayu, daun, dan plastik bekas kemasan. Bokar yang kotor
merupakan sumber utama pemba/a limbah padat. Beberapa jenis padatan
dalam jumlah yang sudah sedemikian besar akan mengganggu
keseimbangan ekosistem. 3imbah tersebut jika dibuang ke sungai, dalam
jangka /aktu tertentu akan menyebabkan pendangkalan badan air. 3imbah
padat akan dikirim ke 2P8 dalam keadaan sudah cukup kering, lebih baik
lagi jika sudah bersi1at kompos, sehingga di 2P8 tinggal proses pelapukan
akhir.
(. 3imbah Gas
Pabrik karet dalam proses pengolahan menggunakan bahan kimia berupa
ammonia dan asam cuka serta dalam proses pengasapan menggunakan
kayu bakar. 8mmonia dan asam cuka yang digunakan berupa gas yang
dapat menguap dan dapat mencemari udara jika penggunaannya melebihi
ambang batas yang ditentukan. 4alam proses pengasapan penggunaan
kayu bakar sebagai bahan bakar juga dapat menyebabkan pencemaran
udara. 9ayu yang dibakar mengasilkan polutan berupa ;arbon 4ioksida,
Nitrogen @ksida dan Nitrogen 4ioksida.
BAB III
PEN/ELESAIAN 0ASALAH
Pen!e*#*a%an Lima% Industri
Pengolahan limbah dapat dikelompokkan kedalam pengolahan dari
sumbernya yang disebut sebagai proses produksi bersih, dan pengelolaan saat
limbah tersebut keluar dari proses produksi.
$.1 Pen!#*a%an *ima% dari sumern1a
1
Pengolahan limbah dapat dilakukan mulai dari sumber limbah itu
dihasilkan, yaitu dengan meminimalisasi limbah yang dihasilkan, reuse, reycling.
4alam industri karet meminimalisasi limbah cair dapat dilakukan dengan cara6
a. gudang penyimpanan bahan baku sebaiknya beratap dan air yang
keluar dari bahan baku berupa limbah dialirkan langsung ke IP83
b. limbah yang berasal dari pencucian a/al koagulum dan
pencacahan di mesin Pre Beaker, dan di Hammer Mill dipisahkan
saluran airnya serta diarahkan langsung ke IP83.
c. 8ir limbah yang berasal dari proses di tahap ke dua atau ketiga di
creper, tingkat kualitas air tersebut masih dapat digunakan pencucian
tanpa pengolahan.
d. Pemisahan dari saluran air limbah yang haus diolah terpisah
dengan air limbah yang masih dapat digunakan
e. 8ir yang keluar dari IP83 dapat digunakan kembali sebagai
pencuci di lantai gudang baha baku.
$.2 IPAL
4alam pengolahan limbah cair dari industri karet adalah karakteristik
limbahnya dan teknologi prosesnya serta jenis produk yang dihasilkan sehingga
dapat dihasilkan keandalannya, keamanan berproduksi.
4alam pengolahan limbah cair ini perlu diperhatikan menajemen
pengolahan limbah di perusahaanan pengolahan 1isik limbah sebagai e1luen dari
proses produksi.
(.+.$ Pengolahan limbah pendahuluan
Bertujuan untuk memisahkan Bat atau unsur padatan kasar yang
ada dalam air limbah dengan cara penyaringan untuk meminimalisasi
gangguan dalam proses pengolahan limbah berikutnya. Proses pengolaha
a/al ini juga disebut sebagai pengolahan proses 1isika
a. penyaringan
bertujuan untuk memisahkan pengotor yang berupa padatan kasar atau
serpihan yang terba/a oleh limbah cair.
b. sedimentasi
sedimentasi adalah proses pemisahan padatan dari cairannya dengan
cara mengendapkan secara gra.itasi. Proses ini juga dapat memisahkan
jenis padatan berupa 1lok hasil proses kimia/i dan hasil proses biologi
c. netralisasi
limbah cair industri pengolahan karet bersi1at asam, maka proses
penetralan perlu dilakukan terlebih daulu sebelum pengolahan
lanjutan.
d. :Cualisasi
Pross eCualisasi sangat dibutuhkan agar aliran relati1 konstan dan
kinerja proses operasi pada sistem pengolahan meningkat.
Pengelolahan limbah primer terhadap air limbah cair adalah
penghilangan bahan padat yang tidak melarut didalam air seperti sampah,
kotoran dll. 3angkah pertama yang dilakukan adalah skrining yaitu
menghilangkan bahan pencemar yang berukuran besar yang masuk kedalam
limbah cair dengan menggunakan jaring atau peralatan lain. 3angkah
selanjutnya adalah penghilangan partikel dengan ukuran yang lebih kecil yang
tidak dapat disaring dari dalam air dengan menggunakan grit remo.al, yaitu
bahan yang terbuat dari materi yang tidak dapat diurai oleh mikroorganisme
berbentuk sepeti pasir.
+
2ahapan selanjutnya adalah seimentasi primer untuk menghilangkan
benda padat yangn mengapung dan mengendap. Proses ini biasanya dilakukan
melalui penambahan senya/a kimia agar bahan pencemar dapat mengapung
atau mengendap berupa lemak dan dapat dikumpulkan.
+
(.+.+ Pengolahan limbah lanjutan
4apat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu 6
a. pengolahan secara kimia/i
b. pengolahan secara sistim kolam?1lokulasi !aerob atau anaerob#
c. pengolahan secara lumpur akti1 !biologi#
d. pengolahan secara pemanenan ganggang

)en!#*a%an se(ara kimia


1
a. koagulasi
proses koagulasi adalah perlakuan kimia/i terhadap limbah cair
dengan cara penambahan bahan elektrolit yang berla/anan muatan
dengan koloid. Bahan kimia yang bisa digunakan sebagai koagulan
adalah ta/as? alum, 1ero sul1at, 1eri sul1at dan 1eri khlorida.
b. 1lokulasi
1lokulasi adalah proses pengadukan lambat dan terus meneris
terhadap air yang dikoagulasikan dengan tujuan membentuk 1lok.

Pen!#*a%an se(ara sekunder


Pengolahan secara sekunder juga disebut pengolahan secara
biologi yang bertujuan untuk mengirangi senya/a organik terlarut
dalam air limbah.
Pengolahan limbah sekunder adalah pengolahan air yang
berasal dari pemurnian air pada proses primer biasanya dilakukan
melalui proses biologi. Pengaruh yang paling berbahaya dengan
kehadiran senya/a organik bigegrable adalah B@H yaitu konsumsi
oksigen terlarut di dalam air oleh mikroorganisme pada saat
mendegradasi senya/a organik.
+
alah satu cara yang sering digunakan untuk pengolahan limba
cair secara biologi adalah trickling 1ilter yaitu dengan menyiramkan
limba pada permukaan batuan atau adah padat lainnya yang dipenuhi
oleh mikroorganisme sehingga limbah dikonsumsi oleh
mikroorganisme dalam terairisasi !kaya oksigen# dan jumlah oksigen
yang diperlukan oleh mikroorganisme tersebutu tidak terbatas
+
;ara lain untuk pengolahan limbah sekunder untuk proses
pengolahan limbah cair adalah melalui proses pengakti1an lumpur yaitu
dengan cara memasukkan mikroorganisme ke dalam tangki pengolahan
limba sehingga cara ini sangat e1ekti1 untuk mengolah limbah cair dan
produknya dapat dipergunakan sebagai gas atau bahan bakar dan
pupuk.
+

Pen!#*a%an se(ara k#*am +aku*tati+


1
Pabrik karet yang terletak di lokasi dengan ketersediaan lahan
terbuka yang masih luas seperti di P2 Perkebunan atau perkebunan
s/asta bes, sistem kolam arobik?anaerobik yang dilanjutkan dengan
kolam 1akultati1 dinilai merupakan sistem penanganan limbah yang
paling memadai.
a. proses aerob
bahan-bahan organik terlarut akan masuk ke dalam sel secara
absorpsi, sedangkan yang bersi1at koloid masuk secara adsorpsi.
Proses espirasi sel mengoksidasi senya/a organik dan menghasilan
senya/a 1os1at yang digunakan sebagai sumber tenaga.
$. kolam stabilisasi
proses pengolahan limbah cair dengan cara kolam
stabilisasi berdasarkan konsep pemurnian di alam. Proses biologis
dapat terjadi secara aerobik, 1akultati1 dan anaerobik.
3umpur-lumpur yang mengendap dan organik terlarut yang
berada di bagian ba/ah akan didegradasi oleh bakteri anaerobik
menghasilkan bahan-bahan anorganik dan komponen-komponen
lain yang berbau.
+. kolam aerasi
kolam aerasi merupakan engolahan degan sistem aerasi
dimana pelarutan oksige diperoleh dari alat-alat mekanis. 8lat-alat
untuk aerasi ada yang di permukaan dan ada pula ditempatkan di
dalam air. Pada bagian akhir kolam aerasi harus dilengkapi dengan
alat pengendapan untuk pemisahan lumpur yang dihasilkan dari
proses.
b. proses anaerob
pada kolam anaerobik berlangsung serangkaian reaksi seperti
hidrolisis senya/a organik D organik oleh enBym ekstraselular menjadi
organik terlarut, reaksi aeidogenesis terhadap produk hidrolisis oleh
bakteri 1akultati1?obligat anaerob menjadi molekul D molekul.

Pen!#*a%an se(ara *um)ur akti+


1
Proses lumpur akti1 banyak diterapkan karena mempunyai e1isiensi
pengolahan yang tinggi dan lahan yang diperlukan tidak seluas seperti
pengolahan sistem kolam. Biomassa lumpur dlam tangki sedimentasi akan
terpisah dan cairan sebagai endapan. ebagian lumpur tersebut didaur ulang
dan sisanya dibuang.
9onsentrasi oksigen terlarut dalam proses lumpur akti1 diperlukan
untuk kehidupan mikroorgansma, yaitu untuk melakukan oksidasi sumber
karbon !B@4# dan oksidasi senya/a nitrogen !nitri1ikasi#
Per*akuan *um)ur
3umpur yang dikeluarkan dari unit pengolahan limbah cair
dibedakan atas lumpur primer dan lumpur sekunder. 3umpur primer berasal
dari hasil perlakuan 1sika atau kimia, sedangkan lumpur sekunder berasal
dari perlakuan biologi. 3umpur sekunder umumnya masih memiliki kadar
air yang cukup tinggi. Perlakuan ini dengan pengurangan kadar air
danmeningkatkan kestabilan si1t lumpur menjadi lebih aik agar penanganan
selanjutnya tidak menimbulkan permasalahan baru dalam lingkungan
a. Pemekatan
b. tabilisasi
Peman+aatan s*ud!e
ludge merupakan padatan hasil pengolahan limbah cai yang perlu
dilakukan penangannya atau tempat penyimpanan. ludge ini selain
mengandung berbagai jenis mikroorganisme juga mengandung berbagai jenis
senya/a organik yang tidaj dapat diuraikan oleh mikroorganisme. 3umpur
yang dibiarkan di tempat terbuka tanpa penanganan lebih lanjut berpotensi
sebagai sumber pencemar.
Peman1aatan lumpur sebagai pupuk tanaman merupakan salah satu
alternati1 yang dapat dilakukan sebagai upaya untuk pengelolaan lingkungan.
Peman1aatan limbah lumpur sebagai pupuk juga harus memperhatikan
kondisi yang mendukung akti.itas mikroorganisme dalam proses melepaskan
nutrien yang dapat diman1aatkan untuk tanaman, yaitu kondisi lembab dan
hangat, serta kecukupan bahan makanannya.
0eski berpotensi sebagai pupuk, namun EsludgeE mempunyai
berbagai si1at yang kurang baikyaitu 6 tekstur yang halus, unsur hara.
Berdasarkan karateristik limbah, proses pengolahan dapat digolongkan
menjadi ( bagian yaitu proses 1isika, kimia dan biologi.
+
$. Pengolahan secara 1isika
Pada umumnya sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air
buangan, diinginkan agar baha-bahan tersuspensi berukuran besar dan mudah
mengendap atau bahan-bahan yang terapung disisihakan terlebih dahulu.
Penyaringan !screening# merupakan cara yang e1isien dan murah untuk
menyisikan bahan yang tersuspensi yang berukuran besar. Bahan tesuspensi yang
mudah mengendap dapat disisihkan secara mudah dengan proses pemgendapan.
Parameter desain yang utama untuk proses pengendapan ini adalah kecepatan
mengendap partikel dan /aktu detensi hidrolisis di dalam bak pengendap.
Proses 1lotasi banyak digunakan untuk menyisihkan bahan-bahan yang
mengapung seperti minyak dan lemak agar tidak mengganggu proses pengolahan
berikutnya. Flotasi juga dapat digunakan sebagai cara penyisihan bahan-bahan
tersuspensi !clari1ication# atau pemekatan endapan lumpur !sludge thickening#
dengan memberikan aliran udara ke atas !air 1lotation#
Proses 1iltrasi di dalam pengolahan air buangan, biasanya dilakukan
untuk mendahului proses adsorbsi atau proses re.erse osmosis nya, akan
dilaksanakan untuk menyisihkan sebanyak mugnkin partikel tersuspensi dari
dalam air agar tidak mengganggu proses adsorbsi atau menyu bat membran yang
dipergunakan dalam proses osmosa.
Proses adsorbsi biasanya dengan karbon akti1, dilakukan untuk
menyisihkan senya/a organik aromatik !misalnya 1enol# dan senya/a organik
terlarut lainnya, terutama jika diinginkan untuk menggunakan kembali air bungan
tersebut. 2eknologi membran !re.erse osmosis# biasanya diaplikasikan untuk unit-
unit pengolahan kecil.
+. Pengolahan secara kimia
Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk
menghilangkan partikel-partikel yang tidak mudah mengendap !koloid# logam-
logam berat, senya/a 1os1or, dan Bat organik beracun, dengan membubuhkan
bahan kimia tertentu yang diperlukan. Penyisihan bahan-bahan tersebut pada
prinsipnya berlangsung melalui perubahan si1at bahan-bahan tersebut, yaitu dari
tidak dapat diendapkan menjadi mudah diendapkan !1lokulasi-koagulasi# baik
dengan tau tanpa reaksi oksidasi reduksi dan juga berlangsung sebagai hasil reaksi
oksidasi.
Pengendapan bahan tersuspensi tidak mudah larut dilakukan dengan
membubuhkan elktrolit yang menpunyai muatan yang berla/anan sengan muatan
koloidnya agar terjadi netralisasi muatan koloid tersebut sehingga khirnya dapat
diendapkan. Penyisihan logam berat dan senya/a 1os1or dilakukan dengan
membubuhkan larutan alkali sehingga terbentuk endapan hidroksida logam-logam
tersebut atau endapan hidroksiapatit.
Penyisihan bahan-bahan organik beracun seperti 1enol dan sianida pada
konsentrasi rendah dapat dilakukan dengan mengoksidasinya dengan ;l+, kalsium
permanganat, aerasi , oBon hidrogen peroksida. Pada dasarnya kita dapat
memperoleh e1isiensi tinggi dengan pengolahan secara kimia, akan tetapi biaya
pengolahan menjadi mahal karena memerlukan bahan kimia
(. Pengolahan secara biologi
emua air bungan yang biodegradable dapat diolah secara biologi.
ebagai pengolahan sekunder, pengolahan secara biologi dipandang sebagai
pengolahan yang paling murah dan e1isien. 4alam beberapa dasa/arsa telah
berkembang berbagai metode pengolahn biologi dengan segala modi1ikasinya,
pada dasarnya reaktor pengolahan secra biologi dapat dibedakan atas dua jenis
yaitu6
$. "eaktor pertumbuhan tersuspensi
+. "eaktor pertumbuhan lekat
BAB I2
KESI0PULAN DAN SARAN
Pembangunan Indonesia harus didasarkan pada konsep pembangunan
berkelanjutan dan perlindungan lingkungan sesuai dengan GBHN.
Produksi karet alam Indonesia meningkat tiap tahun, tak terlepas dari
meningkatnya permintaan karet alam sebagai bahan baku industri
otomoti1
Industri karet dapat menghasilkan beragam produk antara lain ban,
sarung tangan, interior kendaraan, bola olahraga, sepatu dan sandal
karet, selang dan pipa, maupun gelang dan berbagai aksesoris.
9aret dibagi menjadi dua jenis, yaitu karet alam dan sintetik. 9aret
alam berasal dari getah pohon yang mengandung $,,5 cis-$,*
poliisoprena. edangkan karet sintetik berasal dari bahan baku minyak
bumi contohnya B".
Proses industry karet meliputi bahan baku, pencucian dan penstabilan
bahan baku, pamecahan !breaker#, pencacahan !re>tunder#, mi>ing
tank, penggilingan, pengerngan dan pemotongan
3imbah industri karet terdiri dari tiga komponen, yaitu limbah padat,
cair dan gas. Pada prinsipnya makin kotor bahan baku, makin banyak
air yang diperlukan untuk proses pembersihan sehingga debit limbah
cair makin meningkat. 0akin kotor dan makin tinggi kadar air dalam
bahan baku, makin mudah terjadi pembusukan sehingga kuantitas
limbah gas meningkat. Bahan baku karet yang kotor akan
meningkatkan kuantitas lumpur, tatal dan pasir.
Parameter limbah cair terdiri dari B@4, ;@4, padatan terendap,
padatan tersuspensi, padatan terlarut, kandungan nitrogen, dan pH.
3imbah cair dapat menyebabkan B@4 dan ;@4 tinggi dan
mengganggu ekosistem lingkungan. Padatan tersuspensi cenderung
membusuk bila suhu meningkat. 3imbah padat tidak tergolong beracun
karena berupa tatal, lumpur, pasir, rotan , kayu, daun dan plastik.
Padatan dalam jumlah besar mengganggu ekosistem dan
mengakibatkan pendangkalan badan air. 3imbah gas berasal dari
ammonia, ;@+ dan asam cuka yang mudah menguap.
Pengolahan limbah dibagi menjadi dua, yakni pengolahan limbah dari
sumber dan pengelolaan limbah keluar dari proses produksi.
Pengolahan limbah dari sumber terdiri dari meminimalisasi limbah
yang dihasilkan, reuse dan recycle. Pengelolaan limbah keluar dari
proses produksi meliputi pengolahan limbah pendahuluan
!penyaringan, sedimentasi, netralisasi, dan eCualisasi# dan pengolahan
limbah lanjutan !secara kimia, sistem kolam?1lokulasi, lumpur akti1,
permanen ganggang#